Anda di halaman 1dari 27

BAB II

LANDASAN TEORI TENTANG METODE BANDONGAN MELALUI


PENGAJIAN KITAB TUHFATUL ATHFAL DAN KEMAMPUAN SANTRI
DALAM MEMPRAKTEKKAN ILMU TAJWID
A. Metode Bandongan
1. Pengertian dan Pelaksanaan Metode Bandongan
Metode berasal dari dua kata yaitu meta dan hodos. Meta berarti
melalui dan hodos berarti jalan atau cara. (Abuddin Nata, 1997: 97).
Sedangkan menurut Muhibbin Syah (1995: 202) mengemukakan bahwa
metode secara harfiah berarti “cara”. Dengan demikian metode adalah cara
atau jalan untuk mencapai sesuatu.
Kemudian dikemukakan oleh Abdul Majid (2013: 193) bahwa metode
adalah cara yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang
sudah disusun dalam kegiatan nyata agar tujuan yang telah disusun tercapai
secara optimal. Menurut J.R. David dalam Teaching Strategies for College
Class Room (1976) menyebutkan bahwa method is a way in achieving
something (cara untuk mencapai sesuatu).
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa metode
adalah cara kerja yang bersistem untuk memudahkan pelaksana kegiatan
guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Seiring dengan itu, oleh
Mahmud Yunus mengatakan metode adalah jalan yang hendak ditempuh
oleh seseorang supaya sampai kepada tujuan tertentu, baik dalam
lingkungan perusahaan atau perniagaan, maupun dalam kupasan ilmu
pengetahuan dan lainnya. (Armai Arief, 2002: 87).
Dari beberapa pengertian di atas maka dapat diambil kesimpulan
bahwa metode adalah suatu cara yang dilakukan seseorang untuk mencapai
suatu tujuan kegiatan yang telah ditentukan.
Metode bandongan adalah metode yang di mana kiyai menggunakan
bahasa daerah setempat, kiyai membaca, menerjemahkan, menerangkan
kalimat demi kalimat kitab yang dipelajarinya, santri secara cermat
mengikuti penjelasan yang diberikan oleh kiyai dengan memberikan
catatan-catatan tertentu pada kitabnya masing-masing dengan kode-kode
tertentu sehingga kitabnya disebut kitab jenggot karena banyaknya catatan
yang menyerupai jenggot seorang kiyai. Metode pengajaran yang demikian
adalah metode bebas, sebab absensi santri tidak ada, santri boleh datang
boleh tidak dan tidak ada pula system kenaikan kelas, santri yang dapat
menamatkan kitab dapat menyambung kitabnya yang lebih tinggi atau
mempelajari kitab yang lain. Metode ini seolah-olah mendidik anak untuk
kreatif dan dinamis. (Armai Arief, 2002: 154).
Sedangkan menurut Mujamil Qomar (tt: 143) bahwa metode
bandongan adalah metode yang paling utama di lingkungan pesantren.
Zamakhsyari Dhofier menerangkan bahwa metode bandongan ialah suatu
metode pengajaran dengan cara guru membaca, menerjemahkan,
menerangkan dan mengulas, buku Islam dalam bahasa Arab sedang
kelompok santri mendengarkannya. Mereka memperhatikan bukunya
sendiri dan membuat catatan-catatan (baik arti maupun keterangan) tentang
kata-kata atau buah pikiran yang sulit.
Kelompok kelas sistem bandongan ini disebut halaqah yang arti
bahasannya lingkaran murid, atau kelompok siswa yang belajar di bawah
bimbingan seorang guru. (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 54). Dinamakan
demikian, karena proses pembelajaran yang terjadi pada bentuk pendidikan
ini adalah posisi kiyai/ustadz duduk di suatu tempat yang keberadaan tempat
itu lebih tinggi dari para muridnya, atau berdiri di mimbar yang berada di
tengah-tengah para muridnya. Posisi para murid saat pembelajaran itu
adalah duduk dengan membentuk setengah lingkaran dan melingkari
kiyainya itu. (Taqiyuddin, 2011: 91).
Untuk melaksanakan kegiatan pembelajaran dengan menggunakan
metode bandongan biasanya dilakukan langkah-langkah berikut ini:
1. Seorang kiyai menciptakan komunikasi yang baik dengan para santri.
2. Memperhatikan situasi dan kondisi serta sikap para santri apakah sudah
siap untuk belajar atau belum.
3. Seorang kiyai atau ustadz dapat memulai kegiatan pembelajaran dengan
membaca teks Arab.
4. Pada pembelajaran tingkat tinggi, seorang kiyai atau ustadz terkadang
tidak langsung membaca dan menerjemahkan. Ia terkadang menunjuk
secara bergiliran kepada para santrinya untuk membaca dan
menerjemahkan sekaligus menerangkan suatu teks tertentu. Disini kiyai
atau ustadz berperan sebagai pembimbing yang membetulkan apabila
terdapat kesalahan dan menjelaskan bila ada hal-hal yang dipandang
oleh para santri sebagai sesuatu yang asing atau rumit.
5. Setelah melaksanakan pembacaan pada batasan tertentu, seorang kiyai
atau ustadz memberi kesempatan kepada para santri untuk menanyakan
hal-hal yang belum jelas. Jawaban dilakukan langsung oleh kiyai atau
ustadz atau memberi kesempatan terlebih dahulu kepada para santri
yang lain.
6. Sebagai penutup terkadang seorang kiyai atau ustadz menyebutkan
kesimpulan-kesimpulan yang dapat ditarik dari kegiatan pembelajaran
yang telah berlangsung. (Maksum, 2003: 15)
Bentuk lingkaran kegiatan pengajian para santri dengan menggunakan
metode bandongan pada prakteknya dilakukan dengan posisi secara
lingkaran, secara alamiah ditentukan atas dasar tinggi atau rendahnya kadar
ilmu yang telah dimiliki para muridnya. Semakin tinggi derajatatau kadar
ilmu yang dimiliki murid, maka ia duduk paling depan atau berdekatan
dengan kiyai atau ustadznya. (Taqiyuddin, 2011: 92).\
Penerapan metode bandongan tersebut mengakibatkan santri bersikap
pasif. Sebab kreativitas dalam proses belajar-mengajar didominasi ustadz
atau kiyai, sementara santri hanya mendengarkan dan memperhatikan
keterangannya. Dengan kata lain, santri tidak dilatih mengekspresikan daya
kritisnya guna mencermati kebenaran suatu pendapat. Metode bandongan
dalam prakteknya selalu berorientasi pada pemompaan materi tanpa melalui
control tujuan yang tegas. Dalam meetode ini, santri bebas mengikuti
pelajaran karena tidak diabsen. Kiyai sendiri mungkin tidak mengetahui
santri-santri yang tidak mengetahui pelajaran terutama jika jumlah mereka
puluhan atau bahkan ratusan orang. Ada peluang bagi santri untuk tidak
mengikuti pelajaran. Sedangkan santri yang mengikuti pelajaran melalui
metode bandongan ini adalah mereka yang berada pada tingkat menengah.
Metode yang disebut bandongan ini ternyata merupakan hasil adaptasi dari
metode pengajaran agama yang berlangsung di Timur Tengah terutama di
Mekah dan al- Azhar. Kedua tempat ini menjadi kiblat pelaksanaan metode
bandongan lantaran dianggap sebagai proses keilmuan bagi kalangan
pesantren sejak awal pertumbuhan hingga perkembangan yang sekarang ini.
(Mujamil Qomar, tt: 143-144).
Kebanyakan pesantren, terutama pesantren-pesantren besar, biasanya
menyelenggarakan bermacam-macam halaqah (kelas bandongan), yang
mengajarkan mulai dari kitab-kitab elementer sampai ke tingkatan tinggi,
yang diselenggarakan setiap hari (kecuali hari jum’at), dari pagi-pagi buta
setelah sembahyang subuh, sampai larut malam. Penyelenggaraan
bermacam-macam kelas bandongan ini dimungkinkan oleh suatu sistem
yang berkembang di pesantren di mana kiyai seringkali memerintahkan
santri-santri senior untuk membuka dan mengajar kelompok santri dalam
suatu halaqah. Santri senior yang melakukan praktik mengajar ini
mendapatkan gelar ustad (guru). Satu-dua ustdz senior yang sudah matang
dengan pengalaman mengajarkan kitab-kitab besar akan memperoleh gelar
“kiyai muda”. (Zamakhsyari Dhofier, 2011: 56-57).
2. Kelebihan Metode Bandongan
Diantara kelebihan metode bandongan yaitu:
a. Lebih cepat dan praktis untuk mengajar santri yang jumlahnya
banyak.
b. Lebih efektif bagi murid yang telah mengikuti sistem sorogan
secara intensif.
c. Materi yang diajarkan sering diulang-ulang sehingga memudahkan
anak untuk memahaminya.
d. Sangat efisien dalam mengajarkan ketelitian memahami kalimat
yang sulit dipelajari.
3. Kekurangan Metode Bandongan
a. Metode ini dianggap lamban dan tradisional, karena dalam
menyampaikan materi sering diulang-ulang.
b. Guru lebih kreatif dari pada siswa karena proses belajarnya
berlangsung satu jalur (momolog).
c. Dialog antara guru dan murid tidak banyak terjadi sehingga murid
cepat bosan.
d. Metode bandongan ini kurang efektif bagi murid yang pintar
karena materi yang disampaikan sering diulang-ulang sehingga
terhalang kemajuannya.
4. Syarat-syarat Penggunaan Metode Bandongan
a. Metode ini cocok diberikan kepada anak yang baru belajar kitab.
b. Murid yang diajarkan sekurang-kurangnya lima orang.
c. Tenaga guru yang mengajar sedikit sedangkan yang diajarkan
banyak.
d. Bahan yang akan diajarkan terlalu banyak, sedangkan alokasi
waktunya sedikit. (Armai Arief, 2002: 155-156).
B. Kemampuan Mempraktekkan Ilmu Tajwid
1. Pengertian Ilmu Tajwid
Menurut Ibrahim Eldeeb (2009: 91) Ilmu tajwid adalah salah satu ilmu
yang mulia karena berkaitan dengan firman-firman Allah SWT. Secara
bahasa, lafadz tajwid artinya membaguskan atau membuat bagus.
Sedangkan secara istilah yaitu mengeluarkan setiap huruf dari tempatnya
sesuai dengan hak dan mustahaknya. (Agus Talik, 2012: 1).
Haqqul huruf ialah shifatul huruf al lazimah; sifat-sifat bacaan huruf
yang menetap pada huruf-huruf yaitu sifat jahr, hams dan seterusnya sampai
sifat tafasysyi dan istitholah. Sedangkan yang dimaksud mustahaqqul huruf
ialah bacaan-bacaan yang timbul dari sifat lazimah tadi, seperti bacaan
tarqiq, tafkhim, termasuk juga izhhar, idghom, ghunnah, mad. (Maftuh
Basthul Birri, 2003: 56-57).
Kemudian Acep Iim Abdurahim (2003: 3) menuturkan bahwa tajwid
secara bahasa berasal dari kata jawwada, yujawwidu, tajwidan yang artinya
membaguskan atau membuat jadi bagus. Dalam pengertian lain menurut
lughah, tajwid dapat pula diartikan sebagai segala sesuatu yang
mendatangkan kebajikan. Sedangkan pengertian tajwid menurut istilah
adalah ilmu yang memberikan segala pengertian huruf, baik hak-hak huruf
(haqqul harf) maupun hukum-hukum baru yang timbul setelah hak-hak
huruf (mustahaqqul harf) dipenuhi, yang terdiri atas sifat-sifat huruf,
hukum-hukum mad, dan lain sebagainya. Sebagai contoh adalah tarqiq,
tafkhim, dan yang semisalnya.
2. Tujuan Mempelajari Ilmu Tajwid
Menurut Ibrahim Eldeeb (2009: 91) tujuan mempelajari ilmu tajwid
adalah untuk memelihara lidah dari kesalahan dalam membaca Al-Qur’an.
Sedangkan menurut Agus Talik (2012: 2) bahwa tujuan mempelajari ilmu
tajwid yaitu untuk memberikan tuntunan bagaimana cara pengucapan ayat
dengan tepat, sehingga lafadz dan maknanya terpelihara.
Sebagaimana diterangkan oleh Syaikh Muhammad al-Mahmud
rahimahullah: “ tujuan mempelajari Ilmu Tajwid ialah agar dapat membaca
ayat-ayat al-Qur’an secara betul (fasih) sesuai dengan yang diajarkan oleh
Nabi saw. dengan kata lain, agar dapat memelihara lisan dari kesalahan-
kesalahan ketika membaca kitab Allah ta’ala”. (Acep Iim Abdurahim, 2003:
6). Jadi, tujuan mempelajari ilmu tajwid yaitu untuk menjaga lisan
seseorang dalam membaca al-Qur’an agar baik dan benar sesuai dengan
yang di ajarkan oleh Rasulullah saw.
3. Hukum Mempelajari Ilmu Tajwid
Hukum mempelajari Ilmu Tajwid sebagai disiplin ilmu adalah fardu
kifayah atau merupakan kewajiban kolektif. Ini artinya, mempelajari Ilmu
Tajwid secara mendalam tidak diharuskan bagi setiap orang, tetapi cukup
diwakili oleh beberapa orang saja. Namun, jika dalam satu kaum tidak ada
seorang pun yang mempelajari Ilmu Tajwid, berdosalah kaum itu. (Acep
Iim Abdurahim, 2003: 6)
Sedangkan menurut Ibrahim Eldeeb (2009: 91) hukum mempelajari
ilmu tajwid adalah fardhu ‘ain (wajib individual) bagi setiap mukmin yang
ingin membaca al-Qur’an. Para ulama menganggap bahwa membaca al-
Qur’an tanpa hukum-hukum tajwid adalah dosa. Ibnu al-Jazri berkata:
mempelajari ilmu tajwid adalah suatu keharusan dan barang siapa yang
membaca al-Qur’an tanpa tajwid, maka ia telah berdosa. Karena seperti
itulah Allah menurunkan al-Qur’an dan begitu pulalah al-Qur’an sampai
kepada kita.
4. Materi Pelajaran Ilmu Tajwid
Pelajaran tajwid meliputi Tahsin, Talaqqi dan Tahfidz.
a. Tahsin
Pelajaran tajwid yang pertama adalah tahsin. Tahsin adalah
mempelajari hukum-hukum tajwid secara teori dan praktik. Namun
masih lebih banyak teori. Tahsin juga bisa diartikan dengan
“membaguskan atau memperbaiki”. (Agus Talik, 2012: 1). Yang
dipelajari di tahap tahsin yaitu makhorijul huruf (tempat keluarnya
huruf), shifatul huruf (sifat-sifat huruf), hukum nun mati, idghom
(lebur), mad, huruf tebal dan tipis, waqaf (berhenti bacaan), dan kaidah-
kaidah khusus.
Adapun beberapa penjelasannya sebagai berikut:
1. Makhorijul huruf
Makhraj ditinjau dari morfologi berasal dari fi’il madli yang
artinya “keluar”. Secara bahasa makhraj artinya tempat keluar.
Sedangkan menurut istilah yaitu suatu nama tempat, yang padanya
huruf dibentuk (atau diucapkan). Jadi, makhorijul huruf ialah tempat-
tempat keluarnya huruf pada waktu huruf-huruf tersebut dibunyikan.
Ketika membaca al-Qur’an (tadarus). Setiap huruf harus dibunyikan
sesuai dengan makhrajnya. Kesalahan yang terjadi dalam pengucapan
huruf dapat menimbulkan kesalahan arti atau perbedaan makna pada
bacaan yang tengah dibaca. Dalam kondisi tertentu, kesalahan
pembacaan ini bahkan bisa dikatakan sebuah bentuk kekafiran, jika
dilakukan dengan sengaja. (Acep Iim Abdurohim, 2003: 20). Secara
umum makhorijul huruf terbagi menjadi lima tempat, yaitu al-jauf
(rongga mulut), al-halq (tenggorokan), al-lisan (lidah), al-syafatain
(dua bibir), dan al-khoisyum (rongga hidung). (Agus Talik, 2012: 8-11).
2. Shifatul huruf
Sifat huruf adalah cara bagaimana huruf diucapkan dan dikeluarkan
dari makhrojnya, seperti dengan desis atau tidah dengan tebal atau
tipis, dan sebagainya. (Agus Talik, 2012: 11). Sifat huruf adalah
karakteristik atau peri keadaan yang melekat pada suatu huruf. Setiap
huruf hijaiyyah mempunyai sifat tersendiri yang bisa jadi berbeda atau
sama dengan huruf lain. Sifat ini muncul setelah suatu huruf
dikeluarkan secara tepat dari makhranya. Tujuan utama mempelajari
shifatul huruf (sifat-sifat huruf) adalah supaya setiap huruf yang
diucapkan sesuai dengan hurufnya baik sifat maupun tempatnya. (Acep
Iim Abdurohim, 2003: 32).
Tujuan mempelajari sifat-sifat huruf adalah agar pengucapan huruf
akan semakin sesuai dengan keaslian huruf-huruf al-Qur’an. Shifatul
huruf terbagi menjadi dua bagian, antara lain sebagai berikut:
1. Sifat yang memiliki lawan kata
a. Al Hams >< Al Jahr
b. Asy Siddyah >< Ar Rakhwah
c. Al Isti’la’ >< Al Istifal
d. Al Ithbaq >< Al Infitah
e. Al Idzlaq >< Al Ishmat
2. Sifat yang tidak memiliki lawan kata
a. Ash Shafir
b. Al Qalqalah
c. Al Lien
d. Al Inhiraf
e. At Tafasyi
f. Al Istithalah
(Agus Talik, 2012: 12).
b. Talaqqi
Talaqqi merupakan metode mempelajari sesuatu ilmu secara
langsung dengan guru. Dalam metode talaqqi al-Qur’an, seorang murid
harus bertemu atau berhadapan langsung dengan gurunya. Hal ini
dilakukan agar murid tersebut bukan hanya mendengar lafadz al-Qur’an
yang diucapkan oleh gurunya, melainkan juga melihat langsung cara
guru melafalkan lafadzh tersebut dari mulutnya. Pertemuan secara
langsung inilah yang menjadi inti dari metode talaqqi. Talaqqi ialah
metode paling utama yang dianjurkan dalam mempelajari ilmu tajwid.
Pada tahap talaqqi, bacaan diperlancar, teori-teori yang dipelajari
di tahap tahsin dipraktekkan lebih nyata. Kesalahan-kesalahan besar
dan kecil sudah tidak boleh terjadi lagi. Kesalahan besar di antaranya
salah makhraj, kurang huruf, kelebihan huruf, dan salah harakat,
sehingga mengakibatkan adanya perbedaan arti. Kesalahan kecil di
antaranya kurang ghunnah (dengung), kurang tebal, dan kurang tipis.
(www.anneahira.com/pelajaran-tajwid.htm. 24-04-15: 10.50 wib).
c. Tahfidz
Tahap terakhir pada pelajaran tajwid adalah tahfidz atau
menghafal Qur’an. Ketika akan menghafal al-Qur’an hendaknya
seseorang memiliki target akan menyelesaikan 30 juz dalam waktu
berapa tahun. Target tersebut kemudian dibagi lagi untuk mendapat
target-target jangka menengah dan jangka pendek sehingga diperoleh
per hari berapa halaman harus hafal. Menghafal sebaiknya dimulai dari
juz 30, karena umumnya seorang muslim sudah hafal beberapa surat
pada juz ini, sehingga awal akan menjadi mudah. Seterusnya naik ke
juz 29 kemudian 28. Setelah itu boleh lanjut ke juz 27 dan seterusnya,
atau ke depan ke juz 1 dilanjutkan juz 2 hingga juz 27. Karena kosa
kata pada juz-juz awal lebih familiar atau lebih mudah karena sering
dilafadzkan dalam do’a-do’a atau bahkan dalam sholat. Menghafal al-
Qur’an adalah sesuatu yang dimuliakan Allah, maka akan banyak sekali
godaan syaitan. Di antaranya masalah duniawi yang tak kunjung selesai
seperti keluarga yang sakit, masalah pekerjaan, malas, sering
mengantuk, sulit konsentrasi, hafalan sulit masuk, dan lain-lain.
Berjuanglah terus karena Allah memang sudah tegaskan bahwa syaitan
adalah musuh yang nyata bagi manusia. (QS. al-Baqarah: 208 dan
Fathir: 6) yang berbunyi:
 
  
  
 
   
  
“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam
keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan.
Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. al-Baqarah:
208).
  
   
  
  
 
“Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh bagimu, Maka
anggaplah ia musuh(mu), karena Sesungguhnya syaitan-syaitan itu
hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka
yang menyala-nyala”. (QS. Fathir: 6).
Setelah hafalan selesai, bukan berarti perjuangan anda
memuliakan Kitab Allah selesai sampai di situ. Tetaplah muroja’ah
(mengulang kembali yang sudah dihafal) hafalan anda, yang paling
mudah adalah membacanya dalam sholat. Setelah itu pahami, dalami,
dan amalkan isinya. Kemudian sampaikanlah ke seluruh umat manusia.
(www.anneahira.com/pelajaran-tajwid.htm. 24-04-15: 10.50 wib).
5. Metode Pembelajaran Ilmu Tajwid
Di atas telah disinggung bahwa metode adalah cara-cara yang praktis
dalam mencapai tujuan pengajaran. Sedangkan pembelajaran adalah suatu
kegiatan yang mengandung dua aktivitas yakni belajar disuatu sisi dan
mengajar disisi lain. Kedua aktivitas tersebut menyatu dalam suatu proses
yang disebut pembelajaran, yang tentu membutuhkan cara (metode).
(Syuaeb Kurdie dan Abdul Aziz, 2012: 17).
Jadi, yang dimaksud metode pembelajaran ilmu tajwid adalah suatu
cara yang sistematis yang dipergunakan untuk menyampaikan materi
pelajaran ilmu tajwid kepada peserta didik atau santri.
1. Metode pengajaran ilmu tajwid
Adapun beberapa metode yang dapat dipakai untuk mengajarkan
ilmu tajwid di antaranya:
a. Metode langsung
Metode langsung yaitu guru langsung mengajarkan huruf-
huruf atau lafadz al-Qur’an. Adapun ciri-ciri metode ini
diantaranya adalah:
1) Banyak latihan mendengarkan dan menirukan dengan
tujuan agar dapat dicapai penguasaan membaca secara
otomatis.
2) Aktifitas belajar banyak dilakukan di dalam kelas.
3) Bacaan mula-mula diberikan secara lisan.
(Mahmud Salahuddin, 1978: 33).
b. Metode Drill (Latihan)
Penggunaan istilah “latihan” sering disamakan artinya dengan
istilah “ulangan”. Padahal maksudnya berbeda. Latihan bermaksud
agar pengetahuan dan kecakapan tertentu dapat menjadi milik anak
didik dan dikuasai sepenuhnya, sedangkan ulangan hanyalah untuk
sekedar mengukur sejauh mana dia telah menyerap pengajaran
tersebut. (Zakiah Daradjat, 1995: 302).
Sedangkan menurut Mahmud Salahuddin (1978: 94) bahwa
metode drill atau biasa disebut dengan metode latihan siap atau
metode pembiasaan, adalah suatu kegiatan dalam melakukan hal
yang sama, secara berulang-ulang dan bersungguh-sungguh. Suatu
asosiasi atau menyempurnakan suatu keterampilan supaya menjadi
permanen.
Metode drill dapat digunakan:
1) Tujuan pengajaran memerlukan ketangkasan atau
keterampilan motorik atau gerak, seperti menulis,
membaca, mengucapkan, mempergunakan suatu alat dan
sebagainya.
2) Tujuan pengajaran, berbentuk kecakapan mental dalam
menggunakan suatu rumus, harokat, hubungan antar huruf,
panjang pendek bacaan, dan masalah memulai atau
menghentikan bacaan dalam ilmu tajwid, misalnya:
tasydid, madd, idghom, iklab, ikhfa, dan sebagainya.
(Depag RI, 1983: 49).
Dengan metode ini, pengajaran ilmu tajwid diberikan dengan
jalan melatih untuk membaca al-Qur’an. Metode ini dilakukan
sejak dulu, yaitu dimasa Nabi masih hidup, juga dilakukan metode
ini. Dalam menerapkan metode drill ini harus diperhatikan pula
antara lain:
1) Harus diusahakan latihan tersebut jangan sampai
membosankan anak didik, karena itu waktu yang
digunakan cukup singkat.
2) Latihan betul-betul diatur sedemikian rupa sehingga
latihan itu menarik perhatian anak didik, dalam hal ini
guru harus berusaha menumbuhkan motif untuk berpikir.
3) Agar anak didik tidak ragu maka anak didik lebih dahulu
diberikan pengertian dasar tentang materi yang akan
diberikan. (Zakiah Daradjat, 1995: 304).
c. Reading method
Sesuai dengan namanya, metode ini diperuntukkan bagi
sekolah-sekolah yang bertujuan mengajarkan kemahiran membaca
al-Qur’an. Adapun penerapan reading method dengan cara sebagai
berikut: “materi dibagi menjadi seksi-seksi pendek, setelah sampai
pada tahap tertentu murid telah menguasai kosa kata, diajarkan
bacaan tambahan. (Amirul Hadi, 1998: 35) dengan harapan
penguasaan murid terhadap kosa kata menjadi lebih mantap. Jadi
pada dasarnya reading method adalah suatu metode yang
mengutamakan kemampuan membaca al-Qur’an dengan secepat-
cepatnya.
d. Ponetik method
Metode ini terkenal juga dengan reform method atau oral
method dan erat hubungannya dengan direcy method atau metode
langsung. Pelajaran mula-mula dimulai dengan latihan
mendengarkan atau ear training, kemudian diikuti dengan latihan-
latihan mengucapkan bunyi huruf hijaiyyah terlebih dulu, setelah
itu kata, ayat pendek dan hingga ayat-ayat yang lebih panjang.
(Amirul Hadi, 1998: 35).
e. Metode Musyafahah
Metode musyafahah adalah proses belajar mengajar secara
langsung berhadap-hadapan antara guru dengan murid dan murid
melihat secara langsung contoh bacaan al-Qur’an dari seorang
guru, dan sang guru melihat langsung bacaan al-Qur’an si murid,
apakah sudah benar sesuai dengan tajwidnya atau belum. (Sayyid
Muhammad al-mahmud, tt: 4).
Demikian kiranya beberapa metode yang dapat dipakai dalam
pembelajaran ilmu tajwid. Namun perlu diingat tidak ada satu
metode pun yang tepat untuk semua materi dan segala keadaan.
Maka dari itu, hendaknya guru harus pandai mencari dan
mengkombinasikan berbagai macam metode dengan pertimbangan-
pertimbangan yang ada.
6. Kemampuan Mempraktekkan Ilmu Tajwid
Menurut Desi Anwar (2002: 287) dalam Kamus Lengkap Bahasa
Indonesia bahwa kemampuan berasal dari kata “mampu” yang artinya
kuasa, dapat, berada, kaya, atau sanggup melakukan sesuatu. Sedangkan arti
kemampuan itu sendiri yaitu kapasitas seseorang individu untuk melakukan
beragam tugas dalam suatu pekerjaan. Kemampuan atau ability juga
merupakan sebuah penilaian terkini atas apa yang dapat dilakukan
seseorang. (Robbin, 2007: 57).
Pada dasarnya kemampuan terdiri atas dua kelompok faktor, yaitu:
1. Kemampuan intelektual yaitu kemampuan yang dibutuhkan untuk
melakukan berbagai aktifitas mental berpikir, menalar dan
memecahkan masalah.
2. Kemampuan fisik yaitu kemampuan melakukan tugas-tugas yang
menuntut stamina, keterampilan, kekuatan, dan karakteristik
serupa. (Robbin, 2007: 57).
Mempraktekaan berasal dari kata praktek artinya menjalankan.
Sedangkan arti mempraktekkan adalah menjalankan atau melakukan
kegiatan secara nyata. (Desi Anwar. 2002: 362). Berarti kemampuan
mempraktekkan ilmu tajwid di sini dalam arti kemampuan fisik yaitu
melakukan kegiatan keterampilan ilmu tajwid dengan membaca al-Qur’an
dengan baik dan benar sesuai hukum ilmu tajwid. Kemudian kemampuan
mempraktekkan ilmu tajwid berarti kapasitas seseorang dalam melakukan
kegiatan membaca al-Qur’an berdasarkan penjelasan hukum tajwid dan tata
cara mempraktekkannya.
C. Pentingnya Pembelajaran Kitab Tuhfatul Athfal
1. Pembelajaran Kitab Tuhfatul Athfal
Pembelajaran berasal dari kata “belajar” yang artinya perubahan
perilaku yang relatif menetap sebagai hasil dari pengalaman. Belajar juga
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi dan berperan penting
dalam pembentukan pribadi dan perilaku individu. (Mahmud, 2012: 61).
Sedangkan pembelajaran adalah suatu konsep dari dua dimensi kegiatan
(belajar dan mengajar) yang harus direncanakan dan diaktualisasikan, serta
diarahkan pada pencapaian tujuan atau penguasaan sejumlah kompetensi
dan indikatornya sebagai gambaran hasil belajar. (Abdul Majid, 2013: 5).
Jadi, pembelajaran kitab Tuhfatul Athfal yaitu suatu kegiatan belajar
mengajar kitab tuhfatul athfal (ilmu tajwid) yang dilakukan oleh ustadz atau
kiyai dan santri untuk mencapai suatu tujuan tertentu yaitu supaya mampu
mempraktekkan Ilmu Tajwid dengan membaca al-Qur’an dengan baik dan
benar (fasih).
2. Isi dan Sistematika Penulisan Kitab Tuhfatul Athfal
Kitab Tuhfatul Athfal adalah kitab Ilmu Tajwid di atas Hidayatus
Sibyan, kitab ini di karang oleh Syaikh Sulaiman bin Husain bin
Muhammad Al-Jamzury yang berisi qaidah-qaidah tajwid yang isinya
sangat ringkas dan mudah dipahami. (Syeikh Sulaiman Abdullah bin Husain
bin Muhammad, 1412 H/1991 M: 3). Tuhfatul Athfal, memang merupakan
kitab dasar dalam kajian ilmu tajwid. Dan memang dimaksudkan sebagai
materi dasar bagi para pemula yang mempelajari kajian ini. Karenanya,
kitab ini cukup ringkas, kalau tidak yang paling ringkas dibandingkan
dengan kitab-kitab lain dalam bidang kajian yang sama. Bahkan kitab ini
ditulis dalam bentuk syair sebanyak 61 bait. Ini berarti, jika ditulis dalam
lembaran berformat setengah kwarto (seukuran buku tulis) maka 61 bait ini
hanya membutuhkan 4 halaman. Akan tetapi, meski cukup ringkas kitab ini
tidak bisa dipandang enteng, karena sudah cukup memadai untuk para
pemula yang belajar membaca al-Qur’an. Bahkan hampir semua pengajaran
Ilmu Tajwid menggunakan kitab ini sebagai literatur utama bagi para
pemula. Dalam pembagian pembukaan ini disebut juga nama kitab yang
dipilih oleh mu’allifnya. Tuhfatul Athfal yang menunjukkan bahwa kitab ini
memang diperuntukkan bagi anak-anak (al-atfal) pemula. Juga disinggung
tentang sumber asal keilmuan yang digunakan mu’allif untuk menyusun
kitab ini, yakni dari gurunya yang bernama Sayyid Nur al Din Ali bin
Ahmad bin Umar bin Naji Al Maihiy. Sebagaimana kitab-kitab yang ditulis
dalam bentuk syair, bagian penutup kitab ini tidak ditulis dalam bab atau
bagian tersendiri. Bagian penutupnya cukup disertakan dalam bagian
terakhir dari topik yang dibicarakan. Dimana dalam bagian penutup ini,
disebutkan pula penulisan syair ini, yang diselesaikan pada tahun 1198 H.
(Ibnu Husain sulaiman, tt: 30). Kitab ini disusun dengan bentuk Nadzoman
yang dikarang oleh Syekh Sulaiman Abdullah bin Husain bin Muhammad
Al jamzury, di mana terdiri dari lima belas (15) bab, yaitu:
1. Bab I tentang hukum nun bersukun dan tanwin
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah satu huruf
hijaiyyah, maka hukumnya ada empat bacaan, diantaranya yaitu:
a. Izhhar (Jelas)
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah satu
huruf halaq yakni hamzah, ha’, ‘ain, ghain, ha dan kha’. Maka
hukumnya dibaca izhhar halqi (tenggorokan). Contoh: َ‫ َم ْن آ َمن‬dan

‫ت ا َ ْلفَافًا‬
ٍ ‫ َجنَّا‬.
b. Idgham (memasukkan huruf satu ke dalam huruf yang lain)
Yakni nun bersukun dan tanwin dimasukkan dalam huruf-huruf
enam. Tetapi huruf enam itu dibagi menjadi dua, yaitu: (1) idgham
bi ghunnah dan (2) idgham bi ghairi ghunnah.
1) Idgham bighunnah (dengung)
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah
satu huruf ya’, nun, mim, dan wawu. Maka hukumnya dibaca
idgham bi ghunnah. Contoh: ‫ َم ْن يَقُ ْو ُل‬dan ‫صد ُُر‬
ْ َ‫يَ ْو َمئ ٍذ ي‬
2) Idgham bi ghairi ghunnah (tidak dengung)
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan huruf
‫ ل‬dan ‫ ر‬maka hukumnya wajib dibaca idgham bi ghairi ghunnah
(bi laa ghunnah). Contoh: ُ‫ م ْن لَد ُ ْنه‬dan ‫ش ٍة َراض َية‬
َ ‫ف ْي ع ْي‬
c. Iqlab (mengganti bacaan nun atau tanwin dengan bacaan mim
yang disamarkan dan mendengung)
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan huruf
‫ب‬, maka hukumnya dibaca iqlab. Contoh: ‫ ا َ ْنبَئ َ ُه ْم‬dan ‫علَيْه ْم بذَات‬
َ
‫صد ُْو ُر‬
ُّ ‫ال‬.
d. Ikhfa’ (samar)
Apabila ada nun bersukun atau tanwin bertemu dengan salah
satu dari huruf 15, maka hukumnya dibaca ikhfa’. Adapun huruf
ikhfa’ yaitu: ‫د‬-‫ط‬-‫ز‬-‫ف‬-‫ت‬-‫ض‬-‫ظ‬-‫ص‬-‫د‬-‫ث‬-‫ك‬-‫ج‬-‫ش‬-‫ق‬-‫س‬

ُ ‫ يَ ْن‬dan ‫صفًّا‬
Contoh: ‫ص ُر ُك ْم‬ َ ‫صفًّا‬
َ .
2. Bab II tentang hukum nun dan mim bertasydid
Apabila ada mim dan nun diberi tasydid, maka hukum bacaannya wajib
ghunnah (mendengung). Contoh: ‫ط ْينَاكَ ْال َكوث َ َر‬
َ ‫ انَّا ا َ ْع‬dan َ‫سآ َءلُ ْون‬
َ َ ‫ع َّم يَت‬
َ .
3. Bab III tentang hukum mim bersukun
Apabila ada mim bersukun bertemu dengan salah satu huruf hijaiyyah,
maka hukumnya ada tiga bacaan, yaitu:
a. Ikhfa’ syafawi
Apabila ada mim bersukun bertemu dengan huruf ‫ب‬, maka
hukumnya dibaca ikhfa’ syafawi. Contoh: ‫ا َ ْم به جنَّة‬.
b. Idgham mitslain ma’al ghunnah (idgham shaghir)
Apabila ada mim bersukun bertemu dengan ‫ميم‬, maka hukumnya
dibaca idgham mitslain ma’al ghunnah (idgham shaghir). Contoh:
ْ َ ‫ َولَ ُك ْم َما َك‬.
ٍ‫ اَط َع َم ُه ْم م ْن ُج ْوع‬dan ‫س ْبت ُ ْم‬
c. Izhhar syafawi
Apabila ada mim bersukun bertemu dengan salah satu huruf
hijaiyyah selain ‫ ب‬dan ‫م‬, maka hukumnya dibaca izhhar syafawi.

Contoh: ‫ فَلَ ُه ْم ا َجْ ر‬dan َ‫ َوا َ ْنت ُ ْم ت َ ْعلَ ُم ْون‬.


4. Bab IV tentang hukum lam ta’rif dan lam fi’il
Alif lam (Al) apabila dirangkaikan dengan kalimat isim (selain isim
isyarah dan isim alam) disebut al Ta’rif. Apabila ada Al dirangkaikan
dengan salah satu huruf hijaiyyah 14 yaitu: -‫ع‬-‫ق‬-‫ي‬-‫م‬-‫ه‬-‫ء‬-‫ب‬-‫غ‬-‫ح‬-‫ج‬-‫ك‬-‫و‬-‫خ‬

‫ ف‬maka hukumnya dibaca izhhar. Contoh: ‫ ا َ ْلَ ْبت َْر‬dan ‫ض‬


ُ ‫ا َ ْلَ ْر‬. Apabila ada Al
dirangkaikan dengan salah satu dari huruf hijaiyyah 14, yaitu: -‫ص‬-‫ر‬-‫ت‬-‫ض‬

‫د‬-‫ن‬-‫د‬-‫س‬-‫ط‬-‫ز‬-‫ش‬-‫ل‬-‫ط‬-‫ ث‬maka hukum bacaanya dibaca idgham. Contoh:


َّ dan ‫اس‬
‫الطار ُق‬ ُ َّ‫الن‬. Lam (Al Ta’rif) yang pertama (yakni yang dibaca izhhar)
itu dinamakan al-Qomariyah. Sedangkan Lam (Al Ta’rif) yang kedua (yakni
yang dibaca idgham) dinamakan al-Syamsiyah.
5. Bab V tentang idgham mitslain, mutaqaribain dan mutajanisain
a. Apabila ada dua huruf sama makhraj dan sifatnya bertemu menjadi
satu, sedang huruf yang pertama sukun dan huruf kedua hidup,
maka hukumnya dibaca idgham mitslain shaghir. Contoh: ْ‫إضْرب‬

َ َ‫ بع‬dan ‫ارت ُ ُهم‬


َ‫صاك‬ ْ ‫فَ َما َرب َح‬. Adapun cara membacanya, yaitu
َ ‫ت ت َج‬
huruf yang pertama dimasukkan ke huruf kedua, sehingga seperti
huruf yang ber-tasydid.
b. Apabila ada dua huruf yang sama makhrajnya, tetapi berlainan
sifatnya, sedang huruf pertama sukun maka hukumnya dibaca
َ ‫ت‬
idgham mutajanisain shaghir. Contoh: ‫طائفَة‬ ْ َ‫ َوقَال‬dan ‫اب‬
َ َ ‫لَقَ ْد ت‬.
Adapun cara membacanya yaitu huruf yang awal dimasukkan ke
huruf kedua.
c. Apabila ada dua huruf berdekatan makhraj dan sifatnya, sedangkan
huruf yang awal sukun, maka hukumnya dibaca idgham
ْ ‫ َي ْل َه‬dan ‫ا ْر َكبْ َم َعنَا‬.
mutaqaribain shaghir. Contoh: َ‫ث ذَلك‬
d. Apabila ada dua huruf sama makhraj dan sifatnya bertemu menjadi
satu, sedangkan keduanya hidup maka hukumnya dibaca idgham
mitslain kabir. Contoh: ‫الرحْ َمن الَّرح ْيم َمالك َي ْوم الديْن‬
َّ
e. Apabila ada dua huruf sama makhrajnya, tetapi berlainan sifatnya
dan kedua-duanya merupakan huruf hidup. Maka hukumnya dibaca
idgham mutajanisain. Contoh: َ‫ َوا ْذقَا َل َربُّك‬.
f. Apabila ada dua huruf yang berdekatan makhraj dan sifatnya, dan
keduanya hidup, maka hukumnya dibaca idgham mutaqaribain
ُ ‫ يُ َعذ‬dan ‫ َخلَقَ ُك ْم‬.
kabir. Contoh: ‫ب َم ْن يَشَا ُء‬
6. Bab VI tentang pembeagian madd yaitu hukum-hukum madd dan
pembagian madd lazim
Yang dinamakan madd yaitu memanjangkan suara karena ada huruf
madd. Madd itu dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Madd Thabi’i
Apabila ada huruf alif sebelumnya berupa harakat fathah, wawu,
sebelumnya berupa harakat dhammah dan ya’ sebelumnya berupa
harakat kasrah. Adapun bacaannya panjang satu alif atau dua harakat.
Contoh: ‫س َواس‬ َ , ُ‫ َولَ ْم ي ُْولَد‬, ‫ف ْي ديْن للا‬.
ْ ‫الو‬
b. Madd Far’i
Adapun madd far’i adalah madd yang luar biasa, yang bukan asli,
karena ada sebab-sebab sehingga tidak disebut asli. Sebab-sebabnya
adalah bermacam-macam, adakalanya karena bertemu dengan hamzah,
bertemu dengan sukun, bertemu dengan tasydid dan sebagainya.
Adapun huruf madd far’i itu ada tiga, yang berkumpul pada lafal: ‫واي‬.
Syaratnya yaitu: ya’ jatuh setelah harakat kasrah, wawu setelah harakat
dhammah dan alif setelah harakat fathah. Sebagaimana contoh: ‫نُ ْو ح ْي َها‬.
Apabila ada wawu bersukun dan sebelumnya berupa harakat
fathah, atau apabila ada ya’ sukun dan sebelumnya berupa harakat
fathah, maka huruf tersebut dinamakan huruf lain. Contoh: َ‫ا َ َر َء ْيت‬.
a. Hukum-hukum madd
Madd yang bertemu hamzah itu mempunyai hukum tiga, yaitu: (1)
wujub, (2) jawaz, dan (3) luzum.
1) Apabila ada huruf madd berkumpul dengan hamzah dalam
satu kalimat maka dinamakan madd wajib muttashil. Contoh:
‫ َجآ َء‬. Adapun bacaannya, panjang dua setengah alif atau lima
harakat.
2) Apabila ada huruf madd bertemu dengan hamzah, tetapi tidak
berkumpul dalam satu kalimat maka dinamakan madd jaiz
munfashil. Contoh: ‫ا َ ََلانَّ ُه ْم‬. Adapun bacaannya, ada dua macam:
a) Dibaca panjang seperti madd wajib muttashil, yaitu dua
setengah alif.
b) Dibaca pendek, seperti madd tabi’i, yaitu satu alif.
3) Apabila ada huruf madd jatuh sebelum huruf yang diwaqafkan
maka hukum bacaannya disebut madd aridhi. Contoh: ‫منَ ْالجنَّة‬

‫ َوالنَّاس‬, ‫نَ ْست َعي ُْن‬. Adapun bacaannya, ada tiga macam, yaitu:
a) Panjang 3 alif atau 6 harakat.
b) Sedang 2 alif atau 4 harakat.
c) Pendek 1 alif atau 2 harakat.
4) Apabila ada hamzah bertemu dengan madd, maka hukum
bacaannya disebut madd badal. Contoh: ‫ا َدَ ُم‬, ‫ا َ َمنُ ْوا‬. Adapun
bacaannya panjang satu alif atau dua harakat.
5) Apabila ada sukun asli dalam tingkah washal atau waqaf, jatuh
sesudah huruf madd, maka dinamakan madd lazim. Contoh:
ُ‫صآ َّخة‬ َّ ‫ َو َلال‬.
َّ ‫ال‬, َ‫ضآليْن‬
b. Pembagian madd lazim
Madd lazim itu dibagi menjadi empat, yaitu: (1) madd lazim kilmi
mukhaffaf; (2) madd lazim kilmi mutsaqqal; (3) madd lazim harfi
mukhaffaf; (4) madd lazim harfi mutsaqqal.
1) Apabila ada huruf ber-tasydid jatuh sesudah huruf madd dan
berkumpul dalam satu kalimat, maka hukum bacaannya disebut
madd lazim kilmi mutsaqqal. Contoh: ُ‫خة‬
َّ ‫صآ‬ َّ ‫ َو َلال‬.
َّ ‫ال‬, َ‫ضآليْن‬
2) Apabila ada huruf bersukun jatuh sesudah huruf madd, maka
hukum bacaannya disebut madd lazim kilmi mukhaffaf. Contoh:
َ‫ا َ ْلَن‬. Adapun bacaannya panjang 3 alif atau 6 harakat.
3) Apabila ada permulaan surah terdapat salah satu atau lebih dari
antara delapan huruf , yaitu: ‫سلُ ُك ْم‬
َ ‫ع‬ َ َ‫نَق‬. Hukum bacaannya
َ ‫ص‬
disebut madd lazim harfi mutsaqqal. Contoh: ‫يس‬. Adapun
bacaannya panjang 3 alif atau 6 harakat.
4) Apabila huruf yang terdapat pada permulaan surah berupa huruf
َ ‫ي‬
‫طاه ْر‬ ٌّ ‫ َح‬. Maka hukum bacaannya disebut madd lazim harfi
mukhaffaf. Contoh: ‫طه‬, ‫حم‬. Adapun bacaannya 1 alif atau 2
harakat.
5) Apabila ada huruf madd muqaddar (tersimpan) di dalam ha’
dhamir berupa huruf hidup, sedang sesudahnya tidak ada
hamzah washal atau hamzah qatha’, maka hukum bacaannya
disebut madd shilah qashirah. Contoh: ‫به‬, ُ‫لَه‬.
6) Apabila huruf yang sebelum ha’ dhamir berupa huruf yang
sukun, atau ha’ dhamir tadi dirangkaikan dengan kalimat
sesudahnya, maka bacaannya harus pendek. Contoh: ‫علَيْه‬
َ , ُ‫ع ْنه‬
َ
7) Apabila ada huruf madd muqaddar (tersimpan) pada ha’ dhamir
yang dibaca dhammah atau kasrah dan sebelumnya berupa
huruf hidup, sedang sesudahnya berupa hamzah qatha’, maka
hukum bacaannya disebut madd shilah thawilah. Contoh: ‫ا ْن لَ ْم‬

َ ‫به لَ ْن ي ُْو‬. Adapun bacaannya ada dua macam:


‫ َي َرهُ ا َ َحد‬, ‫ص َل‬
a) Dibaca panjang dua setengah alif atau lima harakat.
b) Dibaca panjang satu alif atau dua harakat.
8) Apabila ada waqaf berupa huruf yang bertanwin fathah, maka
hukum bacaannya disebut madd iwadh. Contoh: ً ‫ انَّهُ َكانَ ت ََّوابا‬.
Adapun bacaannya panjang satu alif atau dua harakat.
Di atas diterangkan bahwa madd itu ada yang namanya madd lazim
harfi mutsaqqal, tetapi di dalam kitab lain memakai istilah madd lazim
harfi musyabba’, yaitu huruf-huruf yang terdapat pada permulaan surah
berupa huruf: ‫سلُ ُك ْم‬
َ ‫ع‬ َ َ‫نَق‬. Contoh: ‫يس‬. Adapun bacaannya, panjang 3
َ ‫ص‬
alif atau 6 harakat.
Madd lazim harfi musyabba’ itu dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Madd lazim harfi musyabba’ mutsaqqal yaitu apabila huruf
permulaan surah itu diidghamkan pada huruf sesudahnya. Contoh:
‫الم‬.
2. Madd lazim harfi musyabba’ mukhaffaf, yaitu apabila huruf
permulaan surah itu tidak diidghamkan pada huruf sesudahnya.
Contoh: ‫عسق‬.
7. Bab VII tentang lam jalalah
Adapun yang dimaksud lam jalalah yaitu lam dari lafal Allah. Lam
jalalah itu mempunyai 2 hukum, yaitu bibaca tebal (tafkhim) dan dibaca
tipis (tarqiq).
a. Adapun tanda lam jalalah dibaca tafkhim yaitu apabila sebelum
ُ ‫قُ ْل‬
lam jalalah berupa harakat fathah atau dhammah. Contoh: ُ‫ه َو للا‬

‫ا َ َحد‬.
b. Adapun tandanya lam jalalah dibaca tarqiq yaitu apabila sebelum
lam jalalah berupa harakat kasrah. Contoh: ‫سم للا‬
ْ ‫ب‬.
8. Bab VIII tentang hukum ra’
Hukum huruf ra’ itu ada 3 macam, yaitu dibaca tebal (tafkhim); dibaca
tipis (tarqiq); dapat dibaca tebal dan dapat dibaca tipis. Adapun tanda huruf
ra’ dibaca tafkhim, yaitu manakala:
a. Huruf ra’ dibaca fathah, seperti lafal: َ‫يُ َرآ ُء ْون‬.
b. Huruf ra’ dibaca dhammah, seperti lafal: َ‫خ ْير لَك‬
َ .
c. Huruf ra’ sukun dan sebelumnya berupa harakat fathah, seperti lafal:

َ ‫ َوا َ ْر‬.
‫س َل‬
d. Huruf ra’ sukun dan sebelumnya berupa harakat dhammah, seperti
ُ ‫ا ُ ْن‬.
lafal: ‫ص ْرنَا‬
e. Hukum ra’ sukun dan sebelumnya berupa harakat kasrah, tetapi
kasrahnya tidak asli dari kalimat itu, seperti lafal: ‫ي‬
ْ ‫ا ْرجع‬, ‫ا ْر َح ْم‬.
f. Huruf ra’ sukun dan sebelumnya berupa harakat kasrah yang asli,
ْ ‫ض ْغطٍ ق‬
seperti sesudah ra’ berupa salah satu huruf: ‫ظ‬ َّ ‫ ُخ‬Seperti
َ ‫ص‬
lafal: ‫اس‬
ٍ ‫ط‬َ ‫ق ْر‬.
Huruf-huruf tersebut dinamakan huruf isti’la.
Adapun tanda huruf ra’ dibaca tarqiq yaitu manakala:
ْ ‫ َو ْال َع‬.
a. Huruf ra’ dibaca kasrah, seperti lafal: ‫صر‬

b. Huruf ra’ sukun jatuh sesudah ya’ sukun, seperti lafal: ‫ َبصيْر‬.
c. Hukum ra’ sukun sebelumnya berupa harakat kasrah asli, tetapi
sesudah ra’ tidak ada huruf isti’la, seperti lafal: َ‫ع ْون‬
َ ‫ف ْر‬.
Adapun tanda huruf ra’ dapat dibaca tafkhim atau tarqiq, yaitu
manakala ada ra’ sukun sebelumnya berupa harakat kasrah dan
sesudahnya berupa huruf isti’la yang berharakat kasrah. Seperti lafal:
‫ف ْرق‬.
9. Bab IX tentang hukum huruf qalqalah
Huruf qalqalah yaitu ‫ج ٍد‬
َ ‫ب‬ ْ ‫ َق‬. Adapun huruf qalqalah itu ada dua
ُ ‫ط‬
macam, yaitu qalqalah shughrah dan qalqalah kubra.
a. Adapun yang dinamakan qalqalah shughrah yaitu huruf qalqalah
yang sukun asli. Sedangkan bacaannya, harus terang dan memantul.
Contoh: َ ‫ا ْق َرأ‬.
b. Adapun yang dinamakan qalqalah kubra yaitu huruf qalqalah yang
matinya tidak asli, tetapi karena waqaf. Bacaannya harus lebih terang
dan nyata. Contoh: ‫م ْن َو َرآئه ْم ُمح ْيط‬.
10. Bab X tentang saktah
Adapun yang dimaksud dengan saktah yaitu berhenti sebentar dengan
tanpa bernapas. Di dalam al-Qur’an ada 4 surah yang harus dibaca saktah
yaitu:
a. Surah kahfi ayat 1 juz 15: ‫ قَي ًماليُ ْنذ َر‬-‫جا‬
ً ‫ع َو‬.
b. Surah yaa siin ayat 52 juz 23: ‫ َهذَا‬-‫م ْن َم ْرقَدنَا‬.

ٍ ‫ َرا‬-‫ َوق ْي َل َم ْن‬.


c. Surah qoyyimah ayat 27 juz 29: ‫ق‬

d. Surah muthaffifin ayat 14 juz 30: َ‫ َران‬-‫ َك ََّّلبَ ْل‬.


11. Bab XI tentang takbir
Apabila anda khataman al-Qur’an maka disunnahkan membaca takbir.
Adapun takbir itu dibaca mulai dari selesai membaca surah adh-Dhuha dan
seterusnya sampai sesudah membaca surah an-Naas. Adapun lafal takbir itu
ada tiga macam, yaitu:
1. ‫اَهللُ ا َ ْك َب ُر‬.
2. ‫ َلالَهَ ا َّل للاُ َوللاُ ا َ ْك َب ُر‬.
3. ُ ‫ح ْمد‬ َ ‫ َلالَهَ ا َّلللاُ َوللاُ ا َ ْكبَ ُر َو َّّلِل ْال‬.
12. Bab XII tentang sujud tilawah
Apabila anda membaca al-Qur’an sampai pada ayat sajadah, maka anda
disunnahkan melakukan sujud tilawah. Adapun surah-surah al-Qur’an yang
ada ayat-ayat sajadah, yaitu:
a. Pada akhir surah al-Anfal, juz 9 ayat 206.
b. Pada akhir surah ar-Ra’d, juz 12 ayat 15.
c. Pada akhir surah an-Nahl, juz 14 ayat 49.
d. Pada akhir surah al-Isra’, juz 15 ayat 109.
e. Pada akhir surah Maryam, juz 16 ayat 58.
f. Pada akhir surah al-Hajj, juz 17 ayat 18.
g. Pada akhir surah al-Hajj, juz 17 ayat 77.
h. Pada akhir surah al-Furqan, juz 19 ayat 60.
i. Pada akhir surah an-Naml, juz 19 ayat 26.
j. Pada akhir surah Sajadah, juz 21 ayat 15.
k. Pada akhir surah Shad, juz 23 ayat 24.
l. Pada akhir surah Fushshilat, juz 24 yat 37.
m. Pada akhir surah an-Najm, juz 27 ayat 62.
n. Pada akhir surah al-Insyiqaq, juz 30 ayat 21.
o. Pada akhir surah al-Alaq, juz 30 ayat 19.
Mengenai cara sujud tilawah ialah dengan menghadap kiblat dalam
keadaan suci, baik dengan berdiri ataupun duduk, lalu takbir dengan niat
melakukan sujud tilawah, kemudian sujud sekali saja. Adapun bacaannya
sebagai berikut:
‫س ُن‬ َ َ‫ص َرهُ ب َح ْوله َوقُ َّوته فَتَب‬
َ ْ‫اركَ للاُ اَح‬ َ ‫ص َّو َرهُ َوش ََّق‬
َ َ‫س ْمعَهُ َوب‬ ْ ‫ي للَّذ‬
َ ‫ي َخلَقَهُ َو‬ َ ‫س َجدَ َوجْ ه‬
َ
َ‫ْالخَالقيْن‬
Apabila tidak menghendaki melakukan sujud, maka yang dibaca:
‫س ْب َحانَ للاُ َو ْال َح ْمدُ َّّلِل َو َلالَهَ ا َّلللاُ َوللاُ ا َ ْك َب ُر‬
ُ
Ditambah: ‫ح ْو َل َو َل قُ َّوة َ ا َّل باهلل ْالعَليى ْالعَظيْم‬ َ ‫ َو َل‬.
13. Bab XIII tentang makhraj
Setiap orang yang hendak membaca al-Qur’an perlu sekali
memperhatikan ketentuan-ketentuan atau cara-cara mengeluarkan suara
huruf-huruf hijaiyyah dari mulut, atau yang terkenal dengan sebutan
makhraj. Adapun tempat asal keluar huruf itu ada lima tempat, yaitu:
a. Keluar dari lubang mulut.
b. Keluar dari tenggorokan.
c. Keluar dari lidah.
d. Keluar dari bibir.
e. Keluar dari pangkal hidung.
14. Bab XIV tentang waqaf (berhenti)
Waqaf (berhenti) itu mungkin karena ayat telah berakhir atau memang
disitu sudah ditentukan berhenti menurut pendapat qurra’ (para ahli
membaca al-Qur’an). Untuk itu, perhatikanlah ketentuan-ketentuan cara
menyembunyikan kalimat yang diwaqafkan, di bawah ini:
a. Jika akhir kalimat itu sukun atau berharakat, maka membacanya
harus disukun. Contoh: ‫لَ ْم َيل ْد َولَ ْم ي ُْولَ ْد‬.
b. Jika akhir kalimat berupa ta’ marbuthah, maka membacanya
menjadi ha’. Contoh: ‫ لُ َمزَ ة‬membacanya ‫لُ َمزَ ْه‬.
c. Jika akhir kalimat berupa ta’ mabsuthah, maka membacanya tetap.
Contoh ‫سيئ َات‬ ْ ‫سيئ‬
َّ ‫ ال‬Membacanya ‫َات‬ َّ ‫ال‬.
d. Jika akhir kalimat itu huruf yang berbaris fathah atau kasrah atau
dhammah, maka membacanya dengan mematikan. Contoh: َ‫خلَق‬
َ
ْ َ‫ َخل‬.
membacanya ‫ق‬
e. Jika akhir kalimat itu berupa huruf yang didahului dengan huruf
mati/sukun, maka membacanya dengan mematikan dua huruf dengan
suara pendek, atau dibunyikan sepenuhnya, tetapi huruf yang

َ ‫ا َ ْل‬. Membacanya ُ‫ا َ ْل َح ْمد‬


terakhir dibaca setengah suara. Contoh: ُ ‫ح ْمد‬

َ ‫ ا َ ْل‬dengan dal setengah.


atau ‫ح ْم ْد‬
f. Jika akhir kalimat itu berupa huruf yang didahului dengan madd atau
madd lain, maka membacanya dengan mematikan huruf yang
terakhir itu dengan memanjangkan maddnya 2 harakat, 4 harakat
ُ ‫ ْال ُم ْفل‬. Membacanya ‫ ْال ُم ْفل ُح ْو ْن‬.
atau 6 harakat. Contoh: َ‫ح ْون‬
g. Jika akhir kalimat itu berbaris fathatain (tanwin), maka membacanya
dengan membunyikan menjadi fathah yang dipanjangkan dua
ً ‫ ا َ ْف َوا‬Membacanya ‫ا َ ْف َوا َجا‬.
harakat. Contoh: ‫جا‬
15. Bab XV tentang bacaan-bacaan
Di antara bacaan-bacaan yang berlaku ketika membaca al-Qur’an yaitu:
a. Bila selesai membaca al-Qur’an surah Ghasyiyah, ayat 24:
‫اب ْالَ ْكبَ ُر‬
َ َ‫فَيُ َعذبُهُ للاُ اْل َعذ‬
َ ‫ع ْوذُبكَ م ْن‬
Disunnahkan membaca: َ‫عذَابك‬ ُ َ ‫ َرب ا‬.
b. Apabila selesai membaca al-Qur’an surah Ghasyiyah, ayat 26:
َ ‫ث ُ َّم ا َّن‬
َ ‫علَ ْينَا ح‬
‫سا َب ُه ْم‬
Disunnahkan membaca: ‫سابًا َيسي ًْرا‬
َ ‫َرب َحاسبْن ْي ح‬
c. Apabila selesai membaca al-Qur’an Surah at-Tin, ayat 8:
َ‫ْس للاُ باَحْ َكم ْال َحاكميْن‬
َ ‫اَلَي‬
َّ ‫علَى ذَلكَ منَ ال‬
Disunnahkan membaca: َ‫شاهديْن‬ َ ‫َبلَى َواَنَا‬
(Syeik Sulaiman Abdullah bin Husain bin Muhammad, 1991: 6-47).
3. Pentingnya Pembelajaran Kitab Tuhfatul Athfal
Kegiatan pembelajaran tidak akan berarti jika tidak menghasilkan
kegiatan belajar pada siswa. Kegiatan belajar hanya akan berhasil jika siswa
secara aktif mengalami sendiri proses belajar. (Ahmad Fauzi, 2014: 1).
Faktor-faktor penyebab kegagalan dan faktor-faktor pendukung
keberhasilan ditentukan oleh ketepatan kita dalam melaksanakan evaluasi
diri atau evaluasi diagnosis sebelumnya. (Zainal Arifin, 2011: 302-303).
Keberhasilan pembelajaran juga banyak dipengaruhi oleh berbagai
faktor. Salah satunya adalah faktor guru dapat melaksanakan pembelajaran.
Untuk itu, dalam melaksanakan pembelajaran, guru harus berpijak pada
prinsip-prinsip tetentu. (Zainal Arifin, 2011: 294). Jadi, proses pembelajaran
merupakan suatu aktivitas yang perlu dirancang secara baik dan benar agar
dapat mempengaruhi siswa dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah
ditetapkan. (Ahmad Fauzi, 2014: 1).
Tuhfatul Athfal, memang merupakan kitab dasar dalam kajian Ilmu
Tajwid. Dan memang dimaksudkan sebagai materi dasar bagi para pemula
yang mempelajari kajian ini. Karenanya, kitab ini cukup ringkas, kalau tidak
yang paling ringkas dibandingkan dengan kitab-kitab lain dalam bidang
kajian yang sama. Bahkan kitab ini ditulis dalam bentuk syair sebanyak 61
bait. (Syeik Sulaiman Abdullah bin Husain bin Muhammad. 1991: 2). Jadi,
Pembelajaran terhadap kitab-kitab klasik itu dipandang penting termasuk
dalam kitab Tuhfatul Athfal. Karena dapat menjadikan santri menguasai dua
materi sekaligus. Pertama, bahasa Arab yang merupakan bahasa kitab itu
sendiri. Kedua, pemahaman atau penguasaan muatan dari kitab tersebut.
Dengan demikian, seorang santri yang telah menyelesaikan pendidikannya
di pesantren diharapkan mampu memahami isi kitab secara baik, sekaligus
dapat menerapkan bahasa kitab tersebut menjadi bahasa kesehariannya.