Anda di halaman 1dari 30

PEREKONOMIAN INDONESIA (ESPA4314.

02)

SISTEM DAN REFORMASI EKONOMI INDONESIA

Sistem ekonomi adalah cara sebuah negara untuk mengatur jenis produk yang
dihasilkan, menghasilkan barang itu dan bagaimana barang tersebut didistribusikan kepada
masyarakat. Penentuan sistem ekonomi tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang diyakini oleh
negara. Pada dasarnya sistem ekonomi dapat dibagi menjadi dua titik ekstrim yaitu Sistem
Ekonomi Kapitalis dan Sistem Ekonomi Sosialis. Pada perkembangannya muncul Sistem
Ekonomi Campuran yang menggabungkan kedua sistem ekonomi sebelumnya.

1. Sistem Ekonomi Kapitalis


Didasari oleh pandangan liberalisme, individualisme, rasionalisme atau intelektualisme,
materialisme dan humanisme. Ciri-ciri Sistem Ekonomi Kapitalis adalah :
a. Penjaminan atas hak milik perseorangan
b. Mementingkan diri sendiri (self interest)
c. Pemberian kebebasan penuh
d. Persaingan bebas (free competition)
e. Harga sebagai penentu (price system)
f. Peran negara minimal

2. Sistem Ekonomi Sosialis


Dilandasi oleh falsafah kolektivisme dan organisme. Ciri-ciri Sistem Ekonomi Sosialis
adalah :
a. Negara sangat berkuasa dalam pemilikan bersama (kolektivitas) semua faktor produksi
b. Produksi dilakukan sesuai dengan kebutuhan (production for needs)
c. Perencanaan ekonomi (economic planning) dilakukan oleh negara

3. Sistem Ekonomi Campuran


Sistem Ekonomi Sosialis dan Kapitalis dianggap terlalu ekstrim sehingga John Maynard
Keynes mengajukan Sistem Ekonomi Campuran. Sistem ini merupakan penyatuan kebaikan
sistem ekonomi kapitalis dan sistem ekonomi sosialis yang melahirkan negara
kesejahteraan (welfare state) seperti yang dipraktikkan negara-negara Eropa Barat saat ini.
Dalam sistem ini tindakan yang dilakukan negara dapat dikelompokkan menjadi tiga hal :
a. Pengeluaran pemerintah untuk pembelian barang dan jasa yang digunakan untuk
operasional negara
b. Penarikan pajak, biasanya yang dikenakan pajak progresif
c. Subsidi, diberikan kepada pihak yang membutuhkan

Ketika Indonesia merdeka, para pemimpin bangsa berusaha merumuskan kembali Sistem
Ekonomi Indonesia yang dianggap ideal dengan kondisi bangsa. Muhammad Hatta
mengemukakan sebuah konsep Sistem Ekonomi Kerakyatan, tetapi karena gejolak
politik maka Indonesia menerapkan Sistem Ekonomi Etatisme (dominasi negara).
Setelah rezim Orde lama ditumbangkan, pemerintah Orde Baru bersandar pada “trilogi
pembangunan”, yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas ekonomi dan pemerataan
pembangunan. Meskipun pemerintah selalu mengklaim dirinya tidak menerapkan Sistem
Ekonomi Kapitalis, tetapi pada praktiknya Indonesia telah melakukan berbagai liberalisasi
ekonomi yang tidak berpihak pada ekonomi rakyat.
Saat ini sistem ekonomi yang diterapkan di Indonesia bersifat dualisme. Pada satu sisi
pemerintah mengambil kebijakan ala Sistem Kapitalisme tetapi sebagian besar rakyat
mempraktikkan Sistem Ekonomi Kerakyatan. Kenyataan model dualisme ekonomi ini
berpengaruh dalam pengambilan kebijkan ekonomi dan penyusunan strategi pembangunan.
Sudah seharusnya kita menggunakan Sistem Ekonomi Pancasila.
Sistem Ekonomi Pancasila digali berdasarkan pemikiran bahwa sistem ekonomi sangat
terkait dengan ideologi, sistem nilai dan sosial budaya (kelembagaan) masyarakat dimana
sistem itu dikembangkan.
Terdapat lima prinsip penerapan Sistem Ekonomi Pancasila, yaitu :
a. Roda kegiatan ekonomi bangsa digerakkan oleh rangsangan ekonomi, sosial dan moral
b. Ada kehendak kuat warga masyarakat untuk mewujudkan pemerataan sosial yaitu tidak
membiarkan terjadinya dan berkembangnya ketimpangan ekonomi dan kesenjangan
sosial
c. Semangat nasionalisme ekonomi; dalam era globalisasi makin jelas adanya urgensi
terwujudnya perekonomian nasional yang kuat, tangguh dan mandiri
d. Demokrasi ekonomi berdasarkan kerakyatan dan kekeluargaan : koperasi dan usaha-
usaha kooperatif menjiwai perilaku ekonomi perorangan dan masyarakat
e. Keseimbangan yang harmonis, efisien dan adil antara perencanaan nasional dengan
desentralisasi ekonomi dan otonomi yang luas, bebas dan bertanggung jawab menuju
perwujudan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Pada tahun 1997-1998 Indonesia mengalami krisis moneter yang membawa perubahan
drastis pada perekonomian, ditandai dengan melemahnya nilai tukar rupiah yang sangat
drastis. Krisis moneter ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di beberapa negara
tetangga seperti Malaysia dan Thailand.
Krisis moneter yang dialami oleh Indonesia disebabkan oleh faktor internal dan
eksternal.
Faktor internal adalah defisit transaksi berjalan Indonesia yang cenderung membesar dari
tahun ke tahun, tingkat akumulasi inflasi Indonesia yang sangat tinggi dan utang luar negeri
Indonesia yang terlalu banyak sehingga terjadi outflow negatif.
Faktor eksternal yang mendorong terjadinya krisis moneter adalah pergerakan finansial di
tiga kutub dunia (AS, Eropa dan Jepang), terdapat institusi finansial berbentuk negara dan
lembaga keuangan yang memiliki otoritas yang lebih besar daripada negara berkembang dan
spekulasi yang mengiringi gejolak finansial global.
Indonesia harus melaksanakan reformasi ekonomi, antara lain denga cara : memperbaiki
fundamental ekonomi yang bertitik tolak pada pemerataan ekonomi, melakukan tindakan
yang tegas dalam menentukan sistem kurs, menciptakan kestabilan politik dan keamanan,
melakukan reformasi institusi hukum dan birokrasi serta melakukan pemutihan utang luar
negeri.
Reformasi ekonomi tersebut hanya dapat dilakukan jika para pemegang keputusan ekonomi
mengubah paradikma liberal menjadi paradikma ekonomi kerakyatan yang berdasar pada
Pancasila dan UUD 1945. Melalui sistem ekonomi kerakyatan diharapkan pemerataan
ekonomi dapat berjalan sehingga fundamental ekonomi bertumpu pada kemampuan sendiri
bukan pada bantuan asing . Lebih lanjut kemiskinan dan praktik KKN dapat ditekan karena
semua pihak dilibatkan dalam perekonomian.
A. Perkembangan Pertanian Indonesia
Secara garis besar fase-fase penting perkembangan kondisi, sistem dan struktur pertanian
Indonesia adalah sebagai berikut :
1. Struktur pertanian Indonesia tidak lepas dari bentukan proses kolonialisme bangsa asing
yang berlangsung sangat lama.
2. Sistem kapitalis-liberal yang berlaku sesudahnya pun hanya menjadikan Indonesia
sebagai ondernamingbesar sekaligus sumber buruh murah bagi perusahaan-perusahaan
swasta Belanda.
3. Reformasi agraria melalui UU Pokok Agraria 1960 yang mengatur redistribusi tanah dan
UU Perjanjian Bagi Hasil (1964) yang mengubah pola bagi hasil untuk mengoreksi
struktur pertanian kolonial justru makin kehilangan vitalitasnya, terlebih di era Orde
Baru yang berorientasi mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi (dan
menganut developmentalisme)
4. Revolusi hijau yang mengimbas ke Indonesia ditandai dengan penggunaan bibit-bibit
baru dan teknologi (biologis dan kimiawi) pemberantasan hama dari luar negeri
Indonesia memang mampu melakukan swasembada beras tahun 1984. Namun revolusi
hijau ternyata lebih menguntungkan petani bertanah luas. Produksi naik tapi pendapatan
turun akibat mahalnya input pertanian, misalnya pupuk. Term of trade petani pun turun
dan distribusi pendapatan makin timpang.
5. Liberalisasi pertanian yang disyaratkan IMF dan WTO kini ditandai oleh bebas
masuknya produk-produk pertanian (pangan) seperti beras, gula, daging, ayam, jagung
dan buah-buahan yang memukul petani dalam negeri.

B. Permasalahan Struktural Pertanian Indonesia


Masalah struktural pertanian Indonesia adalah bagaimana mentransformasikan puluhan juta
kaum tani miskin marjinal ke dalam dunia pertanian yang lebih modern dan yang
memungkinkan mereka hidup layak (Setiawan, 2003).
Berbagai persoalan mendasar ekonomi pertanian di Indonesia, diantaranya adalah sebagai
berikut :
1. Jarak waktu yang lebar antara pengeluaran dan penerimaan pendapatan dalam pertanian
2. Pembiayaan Pertanian
3. Tekanan Penduduk
4. Pertanian Subsistem

C. Kebijakan-Kebijakan Pembangunan Pertanian


1. Kebijakan Harga : kebijakan pangan murah
2. Kebijakan Pemasaran
3. Kebijakan Struktural

D. Pertanian Indonesia di Era Liberalisasi


Liberalisasi sektor pertanian diawali dengan masuknya Indonesia ke dalam
Perjanjian Pertanian (Agriculture on Agreement/AoA) di tahun 1995 dan
diterimanya Letter of Intent (LoI) IMF tahun 1997. Liberalisasi pertanian secara
sederhana diwujudkan dengan menyerahkan sistem pertanian (dan nasib petani) kepada
mekanisme pasar (bebas), yang kemudian berlaku liberalisme pertarungan bebas (free fight
liberalism).
Liberalisasi pertanian telah merugikan pertanian Indonesia. Misalnya liberalisasi
pemberasan yang dilakukan IMF telah berdampak buruk pada kebijakan pembarasan.
Liberalisasi pertanian merupakan ekses penerapan pasar (perdagangan) bebas. Secara
teoritis pasar bebas pertanian hanya akan menguntungkan (menyejahterakan) kedua belah
pihak apabila dua asumsi utamanya terpenuhi, yaitu tingkat kemajuan ekonomi dan
teknologi antar kedua negara seimbang, dan modal tidak dapat bergerak lintas negara.

E. Pembangunan Pertanian Yang Menyejahterakan Petani


Secara spesifik Mubyarto menguraikan beberapa kebijakan komoditi pertanian yang
berorientasi pada kesejahteraan petani sebagai berikut :
1. Indonesia patut kembali mewujudkan swasembada beras. Indonesia harus terus-menerus
memberikan perangsang pada petani produsen beras dalam negeri agar terus bergairah
meningkatkan produksi, jika perlu melalui berbagai subsidi sarana produksi termasuk
subsidi kredit usaha tani
2. Kebijakan peningkatan produksi komoditi pertanian palawija yang selama ini relatif
terlantar sangat dianjurkan sehingga Indonesia tidak ‘terpaksa’ lagi mengimpor komoditi
pertanian tersebut.
3. Indonesia memerlukan pembaruan kebijakan usaha tani tebu dan industri gula yang
bersifat menyeluruh dan ‘nasionalistik’ yang tidak dapat dipisahkan dari kebijakan harga
dasar padi/beras.
4. Pemerintah harus merevitalisasi kebijakan harga dasar padi sekaligus dalam kaitannya
dengan harga gula, jagung, kedelai dan harga tertinggi bagi sarana produksi pupuk dan
obat-obatan (pestisida dan insektisida)

Industrialisasi di Indonesia mulai berkembang pada pemerintahan rejim Orde Baru yaitu
setelah UU No.1 Tahun 1967 tentang investasi asing ditetapkan. Sejak awal dekade 1970-an
hingga pertengahan dekade 1980-an pemerintah mengembangkan strategi Industri Substitusi
Impor (ISI). Meskipun strategi ISI diharapkan mampu menghemat devisa, namun yang
terjadi justru sebaliknya karena pemerintah menekankan pada produksi barang mewah yang
berteknologi tinggi dan padat modal serta sangat tergantung pada pasokan input dari negara
maju.
Didorong oleh keadaan tersebut dan jatuhnya harga minyak pada awal 1980-an, pemerintah
mengubah strategi industrialisasi dari Industri Substitusi Impor (ISI) menjadi Industri
Promosi Ekspor (IPE).
Struktur industri di Indonesia masih belum dalam (shallow) dan belum
seimbang (unbalanced). Kaitan ekonomis antara industri skala besar, menengah dan kecil
masih sangat minim, kecuali untuk subsektor makanan, produk kayu dan kulit. Ini
diperparah dengan struktur industri yang masih dikuasai monopolistik dan oligopolistik.
Industri besar di Indonesia dikuasai oleh perushaan-perusahaan besar yang dimiliki oleh
sedikit orang. Mereka mendapatkan berbagai fasilitas yang menguntungkan dari pemerintah.
Sebaliknya industri rakyat yang dikerjakan oleh lebih banyak orang tidak mendapatkan
fasilitas yang memadai.
Pertumbuhan industrialisasi di Indonesia relatif masih rendah dibandingkan beberapa negara
di ASEAN. Perhitungan tersebut didasarkan pada kemampuan ekspor di pasar internasional,
nilai tambah industri, dan penggunaan teknologi dalam kegiatan industri. Hal ini
menyebabkan kelesuan sektor industri dan sektor lainpun akan terhambat karena sulitnya
investasi baik dari dalam negeri maupun luar negeri.
Ada lima hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan pertumbuhan industri yaitu Petama,
peningkatan kemampuan sumber daya manusia (SDM). Kedua, pembangunan infrastruktur
yang memadai. Ketiga, Investasi asing langsung atau Foreign
Direct Investment (FDI). Keempat, pembayaran yang dihasilkan dari investasi
menarik. Kelima, peningkatan riset dan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
yang memadai.
Pada periode sebelum krisis yakni tahun 1983 sampai 1997, terdapat beberapa kebijakan
perbankan yang berpengaruh luas terhadap perekonomian. Paket kebijakan yang pertama
adalah Paket Kebijakan Juni 1983 (Pakjun’83) dan yang kedua adalah Paket Kebijakan
Oktober 1988 (Pakto’88).
Paket Kebijakan Juni 1983, ditujukan untuk mendorong ekspor non migas sebagai antisipasi
atas merosotnya penerimaan devisa dari minyak. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong
perbankan untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen yang berorientasi pada pasar.
Bentuk-bentuk subsidi bunga dibatasi dan hanya diberikan untuk skala prioritas tertentu,
sedangkan penentuan suku bunga kredit non prioritas diserahkan pada pasar.
Paket Kebijakan yang kedua (Pakto’88) dilakukan untuk pertama meningkatkan pengerahan
dana masyarakat, kedua memperluas jangkauan layanan bagi masyarakat teutama pelaku
ekspor, ketiga mendorong tercapainya efisiensi dan profesionalisme dalam pengelolaan
bank dengan kompetisi yang sehat.
Dengan demikian cakupan paket deregulasi ini tidak terbatas pada sektor perbankan saja,
akan tetapi juga pada sektor keuangan pada umumnya seperti perusahaan asuransi dan pasar
modal.
Krisis moneter 1997 berdampak luas dan lama terhadap perekonomian dan khususnya
perbankan di Indonesia. Sejak digulirkan Pakto’88 sudah dapat terindikasi lemahnya
perbankan Indonesia. Ciri-ciri yang memperkuat indikasi tersebut antara lain
: pertama, rendahnya rasio modal terhadap aktiva produktif, kedua rendahnya persyaratan
modal minimum untuk mendirikan bank di Indonesia (merupakan yang terendah di Asia
saat itu) dan faktor ketigaadalah tingginya jumlah kredit yang bermasalah.
Dampak terbesar krisis moneter bagi perbankan adalah menurunnya kepercayaan
masyarakat terhadap bank. Lumpuhnya sektor perbankan saat itu sangat berpengaruh dalam
kegiatan ekonomi masyarakat, terutama yang menggunakan fasilitas bank.
Dalam kondisi yang demikian pemerintah melakukan langkah pengetatan moneter sebagai
reaksi merosotnya nilai rupiah terhadap valuta asing. BI juga melakukan penghentian
transaksi Surat Berharga Pasar Uang (SBPU), menarik dana BUMN dan menaikkan suku
bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI).
Ada beberapa cara yang telah ditempuh pemerintah untuk menyehatkan perbankan
Indonesia, yaitu sebagai berikut :
1. Likuidasi Bank
2. Penggabungan Bank (Merger)
3. Restrukturisasi Perbankan
4. Rekapitalisasi Perbankan
Tahun 2004, perbankan nasional memasuki pertumbuhan tinggi. Konsolidasi perbankan
dapat dikatakan telah usai di tahun 2004. Pembubaran Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN) dan divestasi Bank Permata menjadi pertanda telah berakhirnya masa
krisis. Semua bank yang tadinya dibawah BPPN telah menyelesaikan program
restrukturisasi, terutama restrukturisasi kredit bermasalah (NPL). Konsolidasi lain yaitu
konsolidasi secara akuntansi, seperti halnya kuasi reorganisasi juga telah selesai.
Sekalipun Loan to Deposit Ratio (LDR) belum kembali ke masa sebelum krisis, tetapi
fungsi intermediasi perbankan nasional secara bertahap terus menunjukkan perbaikan.
Arsitektur Perbankan Indonesia (API) merupakan suatu kerangka dasar sistem perbankan
Indonesia yang bersifat menyeluruh dan memberikan arah, bentuk dan tatanan industri
perbankan untuk rentang waktu sampai sepuluh tahun kedepan. Arah kebijakan
pengembangan industri perbankan di masa datang oleh API dilandasi visi mencapai suatu
sistem perbankan yang sehat, kuat dan efisien guna menciptakan kestabilan sistem keuangan
dalam rangka membantu mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
Ada enam pilar sistem perbankan nasional dalam API, yaitu :
1. Struktur perbankan yang sehat
2. Sistem pengaturan yang efektif
3. Sistem pengawasan yang independen dan efektif
4. Industri perbankan yang kuat
5. Infrastruktur pendukung yang mencukupi
6. Perlindungan konsumen
Distribusi perkreditan yang dilakukan perbankan di tanah air hanya dinikmati sebagian kecil
rakyat. Sektor ekonomi rakyat banyak yaitu pertanian hanya menikmati sebagian kecil dari
porsi kredit yang ada. Sektor industri, perdagangan dan jasa-jasa, walaupun hanya
menampung relatif sedikit tenaga kerja, merupakan penyerap terbanyak dari kredit
perbankan nasional. Hal ini mengarahkan kita pada pentingnya alokasi kredit berskala
mikro dan kecil untuk memberdayakan para pelaku ekonomi.
Keuangan mikro dapat menjadi faktor kritikal dalam usaha penanggulangan kemiskinan
yang efektif. Peningkatan akses dan pengadaan sarana penyimpanan, pembiayaan dan
asuransi yang efisien dapat membangun keberdayaan kelompok miskin dan peluang mereka
untuk keluar dari kemiskinan.
Salah satu masalah yang banyak dihadapai oleh usaha mikro, kecil dan menengah adalah
berkaitan dengan permodalan. Sumber dana dari pihak luar umumnya berasal dari lembaga
keuangan informal.
Kebijakan yang membuka akses pada lembaga keuangan formal seharusnya dilakukan
secara menyeluruh di tanah air dengan cara (a) menyediakan lembaga keuangan non bank
yang memberi peluang usaha ekonomi rakyat untuk meminjam tanpa jaminan (b)
Pemerintah membeli premi resiko lembaga keuangan bank, dan dalam jangka panjang
kemungkinan mengkaji untuk mengamandemen UU Perbankan yang membuka peluang
memberikan pinjaman tanpa jaminan.
APBN sering diartikan sebagai daftar terinci mengenai penerimaan dan pengeluaran suatu
negara selama periode satu tahun. Untuk membiayai pencapaian tujuan nasional, pemerintah
yang memperoleh amanat dari rakyat, menggali sumber-sumber penerimaan seperti pajak,
penggalian sumber daya alam dan laba Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Pemerintah
juga menggunakan sumber penerimaan dari luar negeri seperti utang dan hibah. Dipandu
adanya tujuan nasional, pemerintah menentukan macam-macam pengeluaran (belanja) nega
seperti gaji pegawai, subsidi (pendidikan, kesehatan dan BBM), membiayai program
pembangunan, belanja daerah termasuk untuk membayar utang dalam dan luar negeri.
Dapat dipahami bahwa tujuan penyusunan APBN adalah untuk mendorong terwujudnya
tujuan-tujuan nasional. Dalam arti lain APBN berfungsi sebagai sarana (alat) untuk
membiayai pencapaian tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat.
Untuk memastikan bahwa alokasi APBN disesuaikan dengan tujuan tersebut, diperlukan
kebijakan anggaran. Jadi kebijakan anggaran dapat diartikan sebagai kebijakan untuk
mengatur penerimaan dan pengeluaran negara agar sesuai dengan tujuan untuk
meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak.
APBN yang berfungsi sebagai sarana peningkatan kesejahteraan rakyat seharusnya dapat
menekankan pada fungsi turunannya sebagai instrumen pemerataan (redistribusi)
pendapatan dan kekayaan. Dalam hal ini kebijakan anggaran mengatur dan memastikan
terjadinya aliran dana (anggaran) dari kelompok masyarakat mampu ke kelompok rakyat
kecil yang miskin, bukan sebaliknya. Kedua instrumen yang terkait secara spesifik dengan
fungsi ini adalah pajak di sisi penerimaan dan subsidi di sisi pengeluaran pemerintah.

1. Pajak
Pajak selain mempunyai fungsi budgeter juga berfungsi sebagai alat untuk melakukan
redistribusi pendapatan. Penerimaan pajak pemerintah hingga saat ini masih relatif rendah.
Hal ini disebabkan banyak faktor, diantaranya adalah (1) pemegang NPWP masih sedikit
dibandingkan populasi total (2) Tarif pajak masih relatif tinggi dan kurang kompetitif untuk
investor (3) Administrasi pajak masih kompleks dan belum optimal (4) Banyaknya kasus
penyelewengan pajak (tax evasion) karena sistem pengawasan perpajakan belum bekerja
optimal.
Insentif pajak berupa penurunan tarif pajak dapat menjadi salah satu altenatif untuk
meningkatkan penerimaan pajak. Secara teoritis, insentif pajak ini memungkinkan untuk
dilakukan. Salah satu teori insentif pajak mengemukakan bahwa pemotongan pajak (tax
cut) akan dapat meningkatkan penerimaan pajak pemerintah.
2. Subsidi
Dana subsidi diambil dari APBN yang sumber penerimaan utamanya berupa pajak yang
dibayar oleh masyarakat. Dengan begitu subsidi berfungsi sebagai salah satu alat untuk
melakukan redistribusi (pemerataan) pendapatan, terutama dari si kaya kepada si miskin
Subsidi bertujuan untuk memenuhi hak-hak, memberdayakan dan memberi kesempatan
kepada rakyat banyak (terutama penduduk miskin) di Indonesia untuk mengembangkan diri
dan ekonomi mereka. Subsidi diharapkan dapat memperkecil kesenjangan (ketimpangan)
ekonomi antar golongan dalam masyarakat.
Selama ini penetapan asumsi APBN seperti asumsi nilai tukar rupiah, pertumbuhan
ekonomi, inflasi dan harga minyak internasional selalu didahului dengan pertemuan anatara
pemerintah dan DPR. Penetapan asumsi APBN juga perlu melibatkan BI karena selama
ini inflation targeting yang ditetapkan BI belum tentu menjadi acuan pemerintah dalam
menetapkan besarnya inflasi. Frekuensi perubahan asumsi APBN yang tinggi akan
berdampak besar terhadap perubahan anggaran dan pada akhirnya akan mengganggu
fleksibilitas anggaran.
Investasi sering juga disebut penanaman modal atau pembentukan modal. Investasi dapat
diartikan sebagai pengeluaran penanam-penanam modal atau perusahaan untuk membeli
barang modal atau perlengkapan produksi untuk menambah kemampuan memproduksi
barang dan jasaa yang tersedia dalam perekonomian. Jadi sebuah pengeluaran dapat
dikatakan sebagai investasi jika ditujukan untuk menigkatkan kemampuan produksi.
Investasi merupakan hal yang penting dalam perekonomian.
Dalam pembangunan ekonomi, investasi mempunyai dua peran penting. Pertama, peran
dalam jangka pendek berupa pengaruhnya terhadap permintaan agregat yang akan
mendorong meningkatnya output dan kesempatan kerja. Kedua, efeknya terhadap
pembentukan kapital. Dalam jangka panjang, akan meningkatkan potensi output dan
mendorong pertumbuhan ekonomi secara berkelanjutan.
Secara teoritik paling tidak ada tiga faktor yang mempengaruhi keputusan seseorang untuk
melakukan investas. Pertama, revenues (pendapatan), yaitu sejauhmana ia akan
memperoleh pendapatan yang memadai dari modal yang ditanamkannya. Kedua,
cost (biaya) yang terutama ditentukan oleh tingkat suku bunga dan pajak, walaupun dalam
operasionalnya ditentukan juga oleh berbagai biaya lain yang ditemui di lapangan. Ketiga,
expectations(harapan-harapan), yaitu bagaimana harapan di masa datang dari investasinya.
Untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang diharapkan akan berdampak pada penciptaan
lapangan kerja dan secara langsung akan meningkatkan kesejahteraan (berarti mengurangi
kemiskinan), maka salah satu kebijakan yang penting adalah meningkatkan nilai investasi
baik melalui Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) maupun Penanaman Modal Asing
(PMA). Dalam rangka menarik para investor, diperlukan perbaikan lingkungan bisnis.
Berbagai survey membuktikan bahwa faktor utama yang mempengaruhi lingkungan bisnis
adalah : produktivitas tenaga kerja, perekonomian daerah, infrastruktur fisik, kondisi sosial
politik dan institusi.
Survey yang dilakukan oleh komite Pertimbangan Pelaksanaan Otonomi Daerah (KPPOD)
menunjukkan bahwa institusi merupakan faktor utama yang menentukan daya tarik investasi
di suatu daerah, diikuti oleh kondisi sosial politik, infrastruktur fisik, kondisi ekonomi
daerah dan produktivitas tenaga kerja.
Banyak studi menemukan bahwa pelaksanaan otonomi daerah sejak tahun 2001 telah
memperburuk iklim investasi di Indonesia. Masih rendahnya pelayanan publik, kurangnya
kepastian hukum dan berbagai Peraturan Daerah (Perda) yang tidak peka terhadap keadaan
dan kebutuhan dunia usaha diidentifikasikan sebagai bukti iklim bisnis yang tidak kondusif.
Alasan utama mengapa investor masih khawatir untuk melakukan bisnis di Indonesia adalah
ketidakstabilan ekonomi makro, ketidakpastian kebijakan, korupsi (oleh Pemda maupun
pemerintah pusat), perijinan usaha dan regulasi pasar tenaga kerja (World Bank, 2004).
Masyarakat harus selalu dirangsang untuk melakukan investasi melalui kebijakan dan
peraturan yang pro-ekonomi rakyat. Perlu dipahami benar bahwa PAD hanyalah derivasi
dari perkembangan ekonomi masyarakat daerah, yang salah satu unsur penggeraknya adalah
investasi, terutama yang berbasis sumber daya domestik. Dengan paradigma ini kegiatan
investasi di daerah akan berkembang dinamis dan makin memberi nilai tambah sosial
ekonomi bagi masyarakat daerah.
Investasi ekonomi rakyat perlu mendapat fasilitas yang memadai dari pemerintah karena
beberapa alasan. Pertama, ekonomi rakyat menyerap banyak tenaga kerja dan menggunakan
sumber daya alam lokal. Kedua,ekonomi rakyat memegang peranan penting dalam ekspor
non migas. Ketiga, ekonomi rakyat perlu dikembangkan dengan serius karena berdasarkan
hasil perhitungan PJPT I puncak piramida perekonomian masih diduduki oleh perusahaan
skala besar.
Jika dilihat dari penyebaran investasi di tanah air angka yang ada menunjukkan suatu
ketimpangan yang tinggi, yang menggambarkan konsentrasi investasi pada daerah-daerah
tertentu. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari adanya sentralisasi kebijakan pada masa lalu.
Mengubah konsentrasi investasi menjadi lebih terdiversifikasi secara regional, memang
tidak bisa dalam waktu singkat. Ini terkait dengan daya tarik (atau juga ‘kekuatan’) dari
daerah tertentu yang tercipta sejak lama.
Otoritas pusat untuk mengalokasikan sumber-sumber ekonomi yang ada memunculkan isu
ketidakmerataan dan ketidakpuasan dalam alokasi perimbangan antar daerah, serta
melahirkan tuntutan agar perhatian lebih banyak dicurahkan pada daerah luar jawa, terlebih
bagian Indonesia Timur.
Alokasi dana yang lebih besar untuk daerah tertentu, khususnya di Pulau Jawa, telah
menyebabkan pesatnya pembangunan berbagai sektor di daerah ini. Berbagai prasarana
yang dibangun telah memberikan daya tarik bagi para penanam modal, baik investor
domestik maupun asing, untuk menanamkan modalnya di daerah yang daya beli
penduduknya relatif tinggi dan prasarananya relatif lengkap.
Situasi demikian hendaknya diubah dengan mulai dilaksanakannya otonomi daerah sejak
2001. Sebagaimana diketahui, dengan dikeluarkannya UU No.22/1999 dan UU No.25/1999,
otoritas daerah untuk mengurus daerahnya semakin luas. Pemerintah pusat telah
menyerahkan sebagian kewenangannya kepada daerah, termasuk juga dalam urusan
investasi tertentu. Investasi ini dapat dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat luas.
Dalam era otonomi daerah ini untuk menarik investasi ke daerah, Pemda mempunyai
kewajiban untuk menggali segala potensi yang ada di daerahnya . Pemda harus
memprtemukan ‘keinginan daerah dan keinginan investor’. Bagi investor daya tarik ini tidak
hanya berupa endowment resources, tetapi juga variabel yang mendukungnya, seperti
regulasi daerah, sumber daya manusia dan sebaginya.
Kebijakan investasi yang digariskan oleh pemerintah belum memberikan iklim yang
kondusif bagi kehadiran investasi yang ditujukan untuk ekonomi rakyat. Pemerintah belum
menyusun peraturan yang mendorong terjadinya investasi rakyat. Hingga saat ini pelaku
ekonomi rakyat masih kesulitan mendapatkan bantuan modal dari bank dan pemerintah,
kebijakan kemitraan terbukti belum membuat perubahan yang berarti.
KPPOD menggunakan tujuh variabel yang dijadikan tolok ukur daya tarik investasi
regional, yaitu : (a) keamanan (b) potensi ekonomi (c) budaya daerah (d) sumber daya
manusia (e) keuangan daerah (f) infrastruktur (g) paraturan daerah.

John Madeley (2005), menyatakan bahwa para penganjur perdagangan bebas


(liberalisasi perdagangan), yang mayoritas berasal dari pemerintah dan perusahaan besar
di negara maju, beranggapan bahwa perdagangan bebas dapat meningkatkan kesejahteraan
penduduk dunia. Perdagangan bebas dipercaya dapat memberikan peluang bagi
pemanfaatan terbaik atas berbagai sumber daya yang ada atas dasar teori keuntungan
komparatif David Ricardo. Para penganut teori ini meyakini bahwa perdagangan bebas akan
mendatangkan keuntungan dan kemakmuran bagi kaum kaya dan miskin dan negara miskin
akan mendapatkan keuntungan lebih besar ketimbang negara yang tidak malakukan
perdagangan.
Dihilangkannya hambatan-hambatan perdagangan dipercaya dapat meningkatkan efisiensi
ekonomi, yang selanjutnya akan meningkatkan pendapatan produsen, menambah kepuasan
konsumen, sehingga kesejahteraan semua pihak meningkat. Kebijakan proteksi seperti tarif
(bea masuk) dianggap mendistorsi pasar karena telah menimbulkan ekonomi biaya tinggi.
Mekanisme pasar diyakini mampu melakukan fungsi alokasi secara optimal untuk
memenuhi kebutuhan masyarakat, daripada harus melakukan intervensi negara yang justru
mendistorsi pasar. Pera penganjur perdagangan bebas percaya bahwa dana yang diperoleh
dari kegiatan ekspor impor pangan memungkinkan masyarakat membeli lebih banyak lagi
pangan ketimbang yang mereka produksi sendiri.
Argumentasi para penganjur perdagangan bebas ini mendapat kritik (tantangan) dari
banyak pihak. Kenyataannya, perdagangan bebas telah mengakibatkan terjadinya dominasi
ekonomi oleh perusahaan-perusahaan (korporat-korporat) besar multi/trans-nasional
(MNC’s atau TNC’s) yang menguasai modal dan teknologi. Pasar bebas makin
menguntungkan negara maju dengan korban di negara terbelakang atau sedang berkembang,
yang telah dihisap kekayaan alamnya.
Perdagangan bebaas telah berubah menjadi perdagangan yang tidak adil karena
diberlakukan pada negara-negara yang tingkat kemajuan ekonominya tidak berimbang.
Pasar bebas telah mengancam kesejahteraan pelaku ekonomi rakyat, terutama petani di
negara sedang berkembang,termasuk Indonesia.
Pada beberapa tahun terakhir, perekonomian dunia telah tumbuh dengan pesat sekaligus
memainkan peranan yang besar dalam perekonomian global. Meningkatnya rasio ekspor
terhadap produk domentik bruto (PDB) suatu negara merupakan salah satu indikator
keterbukaan negara tersebut dalam perdagangan internasionalnya.
Terkait dengan masalah perdagangan luar negeri Indonesia (dalam hal ini masalah ekspor)
maka perlu dicermati beberapa indikator seperti ‘Unit Value Index’ yang menggambarkan
harga barang ekspor dan impor serta Term of Trade. Selain itu perlu dicermati pula daya
saing ekspor Indonesia di lingkungan Asean dan Cina.
Keunggulan komparatif produk Indonesia terutama berasal dari komoditi yang berbahan
baku lokal seperti hasil hutan, karet, coklat, kelapa sawait dan rempah-rempah. Kalau
dibanding dengan Cina, mereka mempunyai keunggulan komparatif pada komoditi industri
manufaktur dan industri kimia.
Sejalan dengan teori-teori yang berkaitan dengan integrasi ekonomi, liberalisasi
perdagangan menjadi ujung tombak globalisasi ekonomi. Perkembangan perdagangan dunia
memang sangat pesat sejak dibentuknya General Agreement on Trade and
Tariff (GATT). Dimasukkannya sektor jasa dalam liberalisasi ekonomi dunia, sebagai
implementasi General Agreement on Trade and Service (GATS), semakin menyudutkan
posisi banyak negara berkembang termasuk Indonesia yang umumnya semakin lemah dalam
sektor jasa.
Data menunjukkan ekspansi perdagangan terutama terjadi di negara maju. Konsentrasi
perdagangan dunia masih berpusat di negara-negara Utara seperti Amerika Utara, dan Eropa
Barat, sementara untuk negara Asia hanya dinikmati Jepang dan Cina. Liberalisasi
perdagangan yang merupakan turunan dari globalisasi ekonomi, lebih banyak menimbulkan
kerugian bagi negara berkembang.
KOPERASI INDONESIA

A. Prinsip Dasar Koperasi Indonesia


Menurut Muhammad Hatta, Bapak Koperasi Indonesia, koperasi dikonsepsikan sebagai
‘persekutuan kaum lemah untuk membela kepentingan hidupnya. Mencapai keperluan
hidupnya dengan ongkos yang semurah-murahnya, itulah yang dituju. Pada koperasi
didahulukan kepentingan bersama bukan keuntungan (Hatta, 1954)’.
Pengertian yang lain diungkapkan oleh Edilius dan Sudarsono ‘Koperasi adalah
perkumpulan orang, biasanya yang memiliki kemampuan ekonomi terbatas, yang melalui
suatu bentuk organisasi perusahaan yang diawasi secara demokratis, masing-masing
memberikan sumbangan yang setara terhadap modal yang diperlukan dan bersedia
menanggung resiko serta menerima imbalan yang sesuai dengan usaha yang mereka lakukan
(ILO, 1993).
Berdasar dua pengertian di atas, dapat dirumuskan unsur-unsur utama dalam koperasi yaitu :
1. Adanya sekelompok anggota masyarakat yang memiliki ‘kepentingan bersama’
2. Mereka bertemu secara sukarela dan terbuka
3. Mereka bersepakat bekerja sama menolong diri sendiri secara bersama-sama
4. Pembentukan koperasi bersifat bottom up
5. Koperasi adalah wadah bersama yang dimiliki secara bersama (koperasi adalah
kumpulan orang yang sama harkat dan martabatnya, satu orang satu suara)
6. Anggota koperasi merupakan pemilik sekaligus pelanggan
7. Koperasi tidak bertujuan mencari laba, tetapi mencari keuntungan untuk para
anggotanya
8. Kesadaran pribadi dan kesetiakawanan merupakan landasan mental koperasi
9. Koperasi bertujuan untuk menyatukan kekuatan-kekuatan kecil menjadi kekuatan
bersama yang bersifat mandiri

Koperasi memiliki prinsip-prinsip dasar yang menjadi pedoman pokok dalam menjalankan
koperasi. Di Indonesia, prinsip dasar koperasi dituangkan dalam UU No.25/1992, sebagai
berikut :
1. Keanggotaan Bersifat Suka Rela dan Terpadu
2. Prengelolaan Dilakukan secara Demokratis
3. Pembagian Sisa Hasil Usaha dilakukan dengan Adil
4. Pemberian Balas Jasa yang Terbatas pada Modal
5. Kemandirian

B. Sejarah Koperasi Indonesia


Koperasi pertama di dunia didirikan oleh para buruh di Rochdale, Inggris pada awal abad
19, sementara koperasi pertama di Indonesia didirikan pada tahun 1895 oleh seorang Patih
dari Purwokerto bernama R. Aria Wiriaatmaja untuk menolong para pegawai pamong praja
rendah agar tidak terjerat oleh lintah darat. Koperasi berbentuk bank tersebut diberi nama
Bank Penolong dan Tabungan (Hulp en Spaarbank). Koperasi ini kemudian melayani sektor
pertanian (Hulp-Spaar en Lanbouwcrediet Bank) dengan meniru koperasi pertanian yang
dikembangkan di Jerman, namun koperasi tersebut tidak dapat berkembang lebih lanjut
karena masih rendahnya kesadaran masyarakat tentang koperasi.
Budi Utomo (1908) juga mendirikan koperasi rumah tangga. Tahun 1913, Sarikat Dagang
Islam (SDI) yang berubah menjadi Sarikat Islam (SI) juga mendirikan koperasi industri
kecil. Usaha-usaha tersebut tidak juga berkembang dengan baik karena minimnya
pengetahuan masyarakat tentang koperasi dan tantangan dari pemerintah Hindia Belanda
dengan peraturan Koperasi No.431 tahun 1915.
Pemerintah Jepang mengharuskan koperasi menjadi kumikai. Kumikai diharuskan
mengumpulkan bahan kebutuhan pokok guna kepentingan Jepang melawan sekutu.
Keadaan tersebut menyebabkan koperasi tidak lagi dapat digunakan sebagai alat perjuangan
ekonomi sehingga semangat berkoperasi masyarakat Indonesia kembali melemah.
Setelah kemerdekaan, berdasarkan pasal 33 UUD 1945, koperasi merupakan bangun
perusahaan yang sesuai dengan sistem perekonomian yang hendak dikembangkan. Hingga
tahun 1959 koperasi mengalami perkembangan yang cukup pesat. Namun sejak diterapkan
demokrasi liberal, koperasi kembali dimanfaatkan untuk kepentingan politik.
Pemerintah Orde Baru membuat program koperasi yang diberi nama Koperasi Unit Desa
(KUD) yang membuat koperasi kembali berkembang. Walaupun KUD berjumlah banyak
dan diikiuti oleh ribuan anggota namun tidak semua KUD berjalan dengan baik. Berbagai
masalah timbul dalam KUD sebagai akibat peraturan pemerintah yang ternyata
kontraproduktif terhadap kinerja KUD sendiri.
Dari masa ke masa koperasi senantiasa memiliki tempat dalam perekonomian Indonesia,
meskipun selalu mengalami pasang surut akibat gejolak politik. Koperasi dalam bentuk
KUD mengalami perkembangan pesat sejak Pelita I hingga Pelita V. Berdasarkan data
secara kuantitatif kita dapat mengetahui bahwa jumlah KUD meningkat dari tahun ke tahun
sehinga koperasi memiliki peranan dalam perekonomian Indonesia, namun jika kita
bandingkan dengan badan ekonomi lain seperti BUMN dan sektor swasta maka kita dapat
menyimpulkan bahwa koperasi belum banyak berperan dalam perekonomian Indonesia.

C. Masalah Struktural Koperasi di Indonesia


Kegagalan koperasi menjadi soko guru perekonomian Indonesia disebabkan oleh berbagai
masalah struktural, sebagai berikut :
1. Deregulasi yang dilakukan oleh pemerintah pada tahun 1983-1988 memberikan prioritas
untuk sektor perbankan dan ekspor impor. Koperasi tidak dapat memanfaatkan
deregulasi tersebut. Hal yang diperlukan koperasi adalah debirokratisasi sehingga dapat
bergerak lebih lincah dan mandiri tanpa dibebani dengan peraturan dan pengaturan dari
pemerintah seperti kemudahan yang didapat sektor perbankan dan industri
2. Berkaitan dengan anggapan bahwa KUD adalah instansi pemerintah yang berfungsi
sebagai perpanjangan tangan pemerintah karena itu KUD dibebani banyak penugasan
yang secara ekonomis tidak menguntungkan sehingga KUD lebih sibuk menjalankan
penugasan tersebut daripada melayani anggotanya
3. Yang dihadapi koperasi di Indonesia adalah berkembangnya konglomerasi. Deregulasi
yang dibuat oleh pemerintah memungkinkan berdirinya asosiasi-asosiasi pengusaha
yang bertujuan ‘memperlancar’ hubungan dengan pemerintah. Keberadaan asosiasi
tersebut memberi dampak buruk terhadap koperasi, karena membuat pemerintah lebih
memperhatikan kepentingan pengusaha besar daripada koperasi.
D. Tantangan Koperasi di Era Korporatokrasi
Kegagalan koperasi menjadi soko guru perekonomian Indonesia selama ini disebabkan oleh
faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya adalah ketertinggalan koperasi dalam hal
profesionalitas pengelolaan lembaga, kualitas sumber daya manusia dan permodalan. Untuk
menyelesaikan masalah inetrnal seperti profesionalitas sumber daya manusia dan
permodalan, pemerintah harus ikut membantunya.
Sedangkan faktor eksternal meliputi iklim ekonomi politik nasional yang kurang kondusif
bagi perkembangan ekonomi rakyat termasuk koperasi. Koperasi menghadapi tantangan
yang cukup berat mengingat kebijakan ekonomi Indonesia yang semakin liberal.
Deregulasi memungkinkan koperasi menjadi besar karena dapat meningkatkan skala
produksi yang melibatkan banyak anggota. Koperasi yang besar dan kuat akan
memungkinkan memiliki saham perusahaan, tidak hanya saham perusahaan swasta tetapi
juga perusahaan pemerintah (BUMN). Hal ini dapat dilakukan mengacu pada prinsip Triple-
Co, yaitu pemilikan bersama (co-ownership), penentuan bersama (co-determinant) dan
tanggung jawab bersama (co-responsibility).

PRIVATISASI
DI INDONESIA

A. Pengertian dan Konsep Privatisasi


Dalam rangka meningkatkan kinerja perusahaan dan mengurangi beban pemerintah, Badan-
badan Usaha Milik Negara (governmentowned companies) diarahkan untuk melakukan
korporatisasi (corporation) dan privatisasi (privatization).
Korporatisasi dapat diartikan sebagai menerapkan pola-pola manajemen unit bisnis swasta
dalam badan-badan usaha milik negara tersebut dan menghapuskan pola-pola birokrat atau
pemerintahan yang sering mencemari manajemen BUMN. Privatisasi atau swastanisasi
adalah melepaskan sebagian atau seluruh saham kepada pihak swasta, baik itu secara
langsung maupun melalui pasar modal (go public).
Sementara itu dalam konteks pemberdayaan BUMN di Indonesia, reformasi BUMN
dilakukan dengan dua pendekatan yang berjalan simultan, yaitu restrukturisasi dan
privatisasi. Dalam hal ini restrukturisasi diartiakan sebagai upaya untuk peningkatan
kesehatan perusahaan dan pengembangan kinerja usaha atau privatisasi BUMN. Langkash
yang dilakukan antara lain dengan memperkuat posisi manajemen perusahaan sebesar-
besarnya kepada manajemen dan meminimalkan keterlibatan pemerintah.

B. Tujuan Privatisasi
Gagasan privatisasi (swastanisasi) sangat gencar dimasa perekonomian yang sedang dilanda
kesulitan. Paling tidak ada tiga kondisi atau faktor yang
melatarbelakanginya. Pertama, BUMN dilihat sebagai sosok unit usaha yang tidak efisien
dan belum optimal kinerjanya sehingga dianggap berpeluang untuk dibenahi dan ingin
menjadikannya sebagai unit usaha yang kinerjanya sesuai dengan kaidah-kaidah bisnis
umumnya. Kedua, membantu kesulitan keuangan negara dan problematik perekonomian
nasional umumnya. Ketiga, untuk menarik masuknya modal asing.

C. Studi Kasus Privatisasi


Dasar utama proses privatisasi ini terutama adalah adalah pemikiran bahwa aktifitas
ekonomi dan bisnis lebih baik diserahkan kepada swasta karena usaha yang dikelola swasta
umumnya lebih efisien. Privatisasi tidak saja terjadi di negara berkembang, tetapi juga di
negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Jepang, Jerman dll.
Reformasi BUMN di Indonesia antara lain wujudnya tercermin dari kebijakan privatisasi
(untuk selanjutnya istilah privatisasi disini mencakup korporatisasi atau restrukturisasi).
Usaha reformasi BUMN sebenarnya sudah dimulai sejak 1983, bersamaan dengan reformasi
perbankan, lembaga keuangan, serta sektor moneter secara keseluruhan. Pemikiran
reformasi BUMN di tanah air lebih diorientasikan pada penjualan saham BUMN melaui
pasar modal.
Proses swastanisasi ini sebenarnya dapat dilihat dari beberapa bentuk. Swastanisasi antara
lain bisa dilakukan dengan menjual penuh atau melepas sepenuhnya BUMN kepada
perusahaan swasta. Di sisi lain pemerintah selaku pemegang saham, bisa juga melepas
sebagian saja sahamnya kepada swasta baik melalui penawaran umum di pasar modal
maupun penempatan modal langsung (direct placement) atau kombinasi keduanya.
Perkembangan yang terjadi di tanah air dan global saat ini telah membuat langkah
privatisasi atas BUMN makin mendesak untuk dilakukan.
Di samping beberapa faktor yang sudah dikemukakan sebelumnya, paling tidak ada tiga
alasan lainnya, baik dilihat dari kondisi internal BUMN maupun kondisi eksternal dan
global yang ada, untuk melakukan privatisasi tersebut, yaitu :
1. BUMN di tanah air sebagian masih menampakkan sosok buram yang mencerminkan
kinerja yang tidak baik.
2. Perkembangan ekonomi dunia yang makin terbuka dan liberal menuntut setiap unit
usaha bertindak profesional dan menekankan kinerja yang berorientasi efisien
3. Kecenderungan demokratisasi dalam aktivitas ekonomi domestik agaknya juga akan
lebih menguntungkan bagi pemerintah untuk menanggalkan sebagian usahanya untuk
diserahkan kepada masyarakat/swasta.

Lima prinsip dasar privatisasi, yaitu : (a) kejelasan tujuan (b) otoritas dan otonomi (c) pantauan
kerja (d) sistem penghargaan dan hukun (e) persaingan yang netral

E. Dampak Politik-Ekonomi Privatisasi


Privatisasi bukanlah agenda yang berdiri sendiri, melainkan bagian dari agenda liberalisasi
ekonomi ala Washington Consensus yang bertujuan membuka seluas-luasnya perekonomian
Indonesia kepada masuknya korporat asing. Dampak ekonomi-politik pelaksanaan privatisasi di
Indonesia, yaitu :
1. Mengecilnya peranan negara dalam penyelenggaraan perekonomian nasional.
2. Memberi peluang kepada segelintir kaum berpunya untuk semakin melipat gandakan penguasaan
modal mereka, karena struktur penguasaan modal atau faktor-faktor produksi yang sangat
timpang
3. Privatisasi ditandai oleh terjadinya pemindahan penguasaan faktor-faktor produksi nasional dari
tangan negara kepada pemodal internasional, kondisi ini jika terus berlangsung maka
perekonomian Indonesia akan dipaksa di bawah suatu bentuk kolonialisme baru yaitu kekuatan
modal internasional.
4. Privatisasi cenderung memicu konflik politik yang membahayakan persatuan bangsa, misal
konflik antara pemilik saham dengan kelompok serikat pekerja BUMN.

E. Privatisasi atau Demokratisasi


Dengan dalih menggusur sentralisasi dengan liberalisasi, pemerintah harusnya konsisten
menegakkan amanah konstitusi untuk melakukan demokratisasi ekonomi. Demokrasi ekonomi
adalah alternatif konkrit selain melakukan liberalisasi atau privatisasi terhadap cabang-cabang
produksi yang menguasai hidup rakyat banyak. BUMN bisa di demokratisasi melalui pelepasan
sebagian sahamnya ke masyarakat (kelompok ekonomi rakyat/koperasi). Demokratisasi
ekonomi menuntut partisipasi luas masyarakat dalam menguasai dan terlibat dalam proses
produksi nasional.
Strategi alternatif untuk mengoptimalkan kinerja BUMN tanpa harus menggadaikan
kedaulatan ekonomi-politik bangsa, yaitu konsep demokratisasi ekonomi yang bertumpu pada
keterlibatan masyarakat luas dalam penguasaan dan pengelolaan aset-aset produktif yang
menguasai hajat hidup orang banyak. Konsep bangun usaha yang berjiwa koperasi ini disebut
sebagai Triple-Co, yaitu co-ownership (pemilikan bersama), co-determinant (penentuan
bersama) dan co-responsibility (tanggung jawab bersama)

A. Hakikat Utang Luar Negeri Indonesia


Utang luar negeri sebagian besar diberikan negara kaya kepada
negara berkembang di Asia dan Afrika. Para pendonor tersebut mau
memberikan utang dengan dua alasan. Pertama, dilandasi oleh
kepentingan ekonomi yang startegis. Kedua, dilandasi tangung jawab
moral penduduk negara kaya kepada negara miskin.
Utang luar negeri juga dapat digunakan secara politis. Negara-
negara maju memberikan utang yang berkedok bantuan untuk
menanamkan pengaruh politiknya kepada negara debitur. Pengakuan
John Perkins dalam bukunya Confession of an Economic
Hit Man menjadi bukti empirik bahwa utang luar negeri merupakan
upaya sistematis yang dilakukan negara kreditor untuk mengambil alih
penguasaan ekonomi (SDA dan asset-asset strategis) di negara debitor. Pemberian utang luar
negeri adalah sarana mereka untuk memperburuk perekonomian negara debitur ke dalam situasi
keterjebakan utang (debt-trap).

B. Jenis-Jenis Utang Luar Negeri


Sumber pendanaan dari luar negeri dapat berupa hibah dan utang. Hibah diberikan tanpa
persyaratan yang mengikat, sedangkan utang diberikan dengan berbagai persyaratan. Utang luar
negeri dibagi atas utang jangka panjang dan utang jangka pendek. Berikut berbagai jenis bantuan
luar negeri dari yang disusun berdasarkan tingkat paling mudah/lunak :
1. Hibah (grant) uang senilai $ 1 juta, tanpa ikatan dalam cara penggunaannya
2. Hibah beras senilai $ 1 juta suatu negara, yang hasil penjualannya digunakan untuk membiayai
proyek pembangunan tertentu di negara penerima hibah
3. Pinjaman (loan) sebesar $ 1 juta yang penggunaannya terbatas untuk membeli barang dan jasa
konsultasi dari perusahaan negara pemberi pinjaman. Lama pinjaman 20 tahun, masa
tenggang (gestation period) 1 tahun dengan bunga 1 persen
4. Pinjaman sebesar $ 1 juta dengan bunga 3 persen untuk membeli barang dari negara pemberi
pinjaman, masa pelunasan (amortisasi) 10 tahun
5. Pinjaman sebesar $ 1 juta juga dengan bunga 1 persen di bawah suku bunga yang berlaku di
pasar komersial, lama pinjaman 8 tahun

Mekanisme pencairan utang luar negeri sangat tergantung mekanisme yang dibuat oleh
kreditur. Berdasarkan mekanisme pencairan utang Bank Dunia dan IMF, ada beberapa hal yang
dapat disimpulkan, yaitu :
1. Kreditur sangat berkuasa dalam menentukan hal-hal yang boleh dibiayai melalui utang luar
negeri
2. Kreditur dengan sangat leluasa mengetahui data-data rahasia milik pemerintah seperti data
keuangan sehingga ia dapat menggunakan data-data ekonomi keuangan negara debitur yang
dapat digunakan untuk kepentingan ekonomi politik mereka
3. Utang luar negeri yang diberikan terus-menerus dalam jangka lama menciptakan
ketergantungan.

C. Indonesia Terjebak Utang Luar Negeri


Kebijakan utang luar negeri masa lalu membawa perekonomian Indonesia pada jebakan
utang (debt-trap) yang begitu besar sehingga terus membebani keuangan negara. Dari segi
jumlah utang luar negeri Indonesia seluruhnya adalah sebanyak US $ 99 miliar, yang jika
dibandingkan jumlah Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2005 hanya
berjumlah US $ 90 miliar, utang luar negeri Indonesia sudah setara dengan 110 persen PDB.
Pada tahun 2005 Indonesia mendapat penangguhan pembayaran utang sebesar Rp.25,1 triliun
menyusul terjadinya Tsunami di Aceh. Jumlah cadangan devisa kita sangat sedikit,
paling hanya dapat membiayai impor selama 3-4 bulan. Utang luar negeri yang berhasil
dicairkan pemerintah setiap tahunnya lebih kecil dari jumlah utang yang seharusnya dibayar
pemerintah kepada kreditur. Akibatnya terjadi defisit yang cenderung meningkat. Dampak lebih
buruk adalah cadangan devisa terus-menerus terkuras karena digunakan untuk membayar utang
luar negeri.

4. Solusi Utang Luar Negeri Indonesia


Setidaknya ada tiga solusi alternatif yang dapat ditempuh untuk mengurangi beban utang luar
negeri yang saat ini sedang melilit Indonesia, yaitu :
1. Penundaan pembayaran angsuran pokok utang (debt rescheduling)
2. Pengalihan kewajiban membayar angsuran pokok utang menjadi kewajiban melaksanakan suatu
program tertentu (debt swap)
3. Pengurangan pokok utang melalui suatu mekanisme yang dikenal sebagai Inisiatif untuk negara-
negara miskin yang terjebak utang (HIPC Inisiative)
Dari ketiga alternatif solusi tersebut, pemerintah Indonesia baru memanfaatkan alternatif yang
pertama. Di beberapa negara seperti Argentina dan Meksiko utang luar negeri diselesaikan
dengan cara yang lebih revolusioner. Mereka tidak meminta penjadwalan ulang tetapi
pemotongan utang (haircut).

A. Kondisi Korupsi dan Perkembangannya


Pada tahun 1999, riset tentang indeks korupsi dunia yang dilakukan oleh
lembaga Transparency International (IT) di 99 negara, telah menempatkan
Indonesia sebagai negara paling korup di Asia dan nomor tiga teratas di
dunia (dibawah Kamerun dan Nigeria). Tahun 2001, survey yang sama
masih menunjukkan bahwa dari 91 negara yang disurvey, Indonesia
menempati posisi keempat paling korup setelah Bangladesh, Nigeria dan
Uganda, Tahun 2003, dengan sampel negara lebih banyak, yaitu 133 negara,
Indonesia menempati peringkat keenam sebagai negara terkorup di dunia.
Saat ini korupsi menjadi masalah global, baik di negara maju maupun
berkembang, hanya di negara maju masalah ini tidak separah di negara
berkembang. Mar’ie Muhammad membedakan korupsi dalam dua kategori, yaitu korupsi yang
bersifat administratif dan yang bersifat struktural. Korupsi yang bersifat administratif adalah
korupsi yang dilakukan pegawai pemerintah atau pejabat negara dan tidak ada urusan dengan
politik, dia hanya mau hidup enak dalam waktu yang cepat. Korupsi seperti ini dapat dibagi dua
lagi yaitu yang bersifat terpaksa karena kebutuhan mendesak sedangkan yang kedua dilakukan
karena keserakahan. Model kedua ini tidak dapat diatasi dengan kenaikan gaji.
Praktek korupsi yang bersifat struuktural rumit dideteksi karena korupsi ini terkait erat
dengan struktur kekuasaan dan kolusi. Korupsi model ini merupakan kerjasama atau
persekongkolan dalam kerja yang tidak baik. Korupsi struktural juga dibagi dua yaitu income
corruption, yang jelas motifnya berupa materi dan policy corruptionyang cirinya membuat
peraturan sedemikian sehingga melegalisasi korupsi agar legitimated. Praktik korupasi jenis ini
susah dibongkar jika lembaga-lembaga perwakilan tidak bekerja sebagaimana mestinya, lebih-
lebih kalau Mahkamah Agung tidak mempunyai hak uji atas peraturan tersebut.
Di Indonesia tempat-tempat yang rawan korupsi adalah tender proyek besar, termasuk juga
yang pendanaannya dari luar negeri, kredit perbankan, penerimaan pajak, bea cukai, pemberian
ijin untuk berbagai usaha termasuk yang berkaitan dengan analisis dampak lingkungan (Amdal),
badan-badan peradilan dan pengusutan perkara serta pada transaksi dalam bidang pertanahan.
B. Dampak Korupsi Terhadap Perekonomian
Dampak korupsi jika dilihat dari perspektif ekonomi menunjukkan bahwa korupsi justru
memperlambat atau menurunkan pertumbuhan ekonomi, disamping juga menimbulkan
ketidakadilan dan kesenjangan pendapatan masyarakat. Temuan dari Murphy, Shleifer,dan
Vishny menunjukkan bahwa negara-negara yang banyak aktivitas korupsi atau ‘rent seeking
activities’ cenderung lambat pertumbuhan ekonominya. Pandangan ini lebih mudah dipahami
karena adanya korupsi berarti ada biaya lain-lain atau akan mempersulit suatu aktivitas ekonomi
yang akibatnya bisa meninggikan biaya atau memperkecil minat untuk melakukan investasi
sehinggga mengganggu kelancaran pertumbuhan ekonomi.
Dalam terminologi ilmu ekonomi, reformasi ekonomi didefinisiakan sebagai suatu proses
perubahan kelembagaan yang membawa pada peningkatan tingkat pertumbuhan produktivitas
input total (Total Factor Productivity, TFP). Adanya praktik korupsi, kolusi dan nepotisme telah
menimbulkan adanya pengalokasian sumber daya menjadi tidak optimal atau melahirkan ketidak
efisienan dalam proses produksi. Keluaran (output) dari suatu proses produksi menjadi lebih
kecil dari yang seharusnya terjadi jika tidak ada KKN. Dengan kata lain produksi barang dan jasa
tidak mencerminkan prinsip least cost combination atau kombinasi ongkos paling murah.
C. Pemberantasan Korupasi
Adanya sistem hukum yang kuat dan independent akan memberikan peluang munculnya
organisasi relawan swasta (private voluntary organizations) dan lembaga pengawasan umum
atau masyarakat (office of controller-general). Lembaga-lembaga ini akan memperkuat
kelembagaan pemerintah walaupun dengan intervensi yang minimal dalam mendukung jalannya
pembangunan ekonomi. Ini menunjukkan bahwa upaya pembangunan ekonomi tidak bisa
berjalan sendirian, melainkan juga secara simultan dibarengi dengan perkembangan bidang-
bidang lainnya seperti bidang politik dan hukum.
Beberapa faktor yang mendorong dan memberi peluang terjadinya ppraktik korupsi dalam
birokrasi antara lain : kekuasaan mutlak birokrasi untuk mengalokasikan sumber daya atau
pekerjaan pada pelaku ekonomi lainnya, kekuasaan untuk melakukan perijinan, rendahnya gaji
pegawai negeri, lemahnya pengawasan dan aturan hukum yang ada, lemahnya penegakan hukum
dan sebagainya. Oleh karena itu agenda reformasi dalam menghapus korupsi tidak cukup hanya
mengejar atau mengusut pelaku-pelaku korupsi tapi juga membenahi faktor-faktor penyebab dan
faktor yang memberi peluang terjadinya korupsi.
Pada periode jangka menengah ke panjang adalah mungkin untuk menurunkan korupsi dari
tingkat korupsi yang tinggi ke tingkat yang rendah, melalui pemberian jaminan adanya hak atas
kebutuhan dasar ekonomi dan kebebasan sipil, peningkatan kompetisi politik dan ekonomi dan
mendorong pertumbuhan masyarakat sipil yang kuat. Perombakan institusi dan perubahan aturan
yang selama ini mengekang dan menghambat proses reformasi saatnya untuk dikerjakan.
Pembentukan Komite pemberantasan Korupsi (KPK) dapat menjadi awal yang baik bagi upaya
pemberantasan korupsi asal dilakukan secara serius dan konsisten.

A. Kondisi Kemiskinan
Persoalan kemiskinan masih menjadi masalah yang belum selesai sampai tuntas. Perbedaan
kemiskinan pada masa lalu dan masa sekrang adalah situasinya dulu hampir semua penduduk
Indonesia miskin atau dikenal sebagai share poverty, sedangkan sekarang kemiskinan terjadi di
jaman modern dan ditengah-tengah sebagian masyarakat yang berlimpah (affluent society). Ada
beberapa indikator yang sering digunakan untuk mengukur kemiskinan, yaitu kemiskinan relatif,
kemiskinan absolut, kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural.
Badan Pusat Statistik (BPS) mengukur batas atau garis
kemiskinan (poverty line) di tanah air dengan pendekatan konsumsi.
Garis kemiskinan tersebut dilihat dari kemampuan membeli bahan
makanan ekuivalen dengan 2100 kalori per kapita per hari, dan biaya
untuk membeli kebutuhan minimal akan barang/jasa pakaian,
perumahan, kesehatan, transportasi dan pendidikan. Indikator
kemiskinan lain diungkapkan oleh Profesor Sayoga. Garis kemiskinan
untuk pedesaan ditetapkan setara dengan 240 kg beras per kapita per
tahun.Sedangkan untuk daerah perkotaan setara dengan 360 kg beras per kapita per tahun.
Secara sistematis SMERU (2001) mengartikan kemiskinan dengan melihat berbagai
dimensi,yaitu :
1. ketidak mampuan memenuhi kebutuhan konsumsi dasar (sandang, pangan, papan)
2. Tidak adanya akses terhadap kebutuhan hidup dasar lainnya (kesehatan, pendidikan, sanitasi, air
bersih dan transportasi)
3. Tidak adanya jaminan masa depan (karena tidak adanya investasi untuk pendidikan dan
keluarga)
4. Kerentanan terhadap goncangan yang bersifat individual maupun masal
5. Rendahnya kualitas sumber daya manusia dan keterbatasan sumber daya alam
6. Tidak dilibatkan dalam kegiatan sosial masyarakat
7. Tidak adanya akses terhadap lapangan kerja dan mata pencaharian yang berkesinambungan
8. Ketidakmampuan berusaha karena cacat fisik maupun mental
9. Ketidakmampuan dan ketidakberuntungan sosial (anak-anak terlantar, wanita korban kekerasan
rumah tangga, janda miskin, kelompok marjinal dan terpencil)
Secara umum perkembangan kemiskinan di Indonesia menunjukkan penurunan hingga tahun
1996 dan meningkat kembali tahun 1997 hingga 2000, baik ditinjau dari jumlah penduduk
miskin ataupun relatif terhadap jumlah penduduk Indonesia. Kondisi yang berbeda adalah tahun
2000 hingga 2003 dimana jumlah penduduk miskin secara absolut meningkat namun secara
relatif mengalami penurunan.

B. Sebab-Sebab Struktural Kemiskinan Indonesia

Kemiskinan di Indonesia bukan hanya karena masalah ketidakmampuan mengelola sumber


daya alam secara optimal tetapi juga karena kebijakan ekonomi yang tidak berkomitmen
terhadap penanggulangan kemiskinan dan semata-mata mengejar pertumbuhan ekonomi yang
tidak bisa serta merta menyelesaikan persoalan kemiskinan.
Pertumbuhan ekonomi tidak dengan sendirinya menjamin kemampuan mengatasi
pengangguran dan kemiskinan. Hal ini karena pertama, hal yang dapat mengatasi pengangguran
dan kemiskinan adalah pertumbuhan ekonomi yang dapat langsung melibatkan kegiatan ekonomi
rakyat yang pelakunya pada umumnya rakyat miskin, kedua pengangguran dan kemiskinan
adalah dua hal yang berbeda di Indonesia. Orang yang menganggur belum tentu miskin.
Secara umum kebijakan pemerintah dalam mengatasi kemiskinan dapat dilihat dampak
positifnya melalui adanya penurunan tingkat kemiskinan nasional. Pola kebijakan pembangunan
dan penanggulangan kemiskinan yang telah dilakukan masih mengandung beberapa kelemahan
yang perlu dikoreksi secara mendasar, antara lain : (1) masih berorientasi pada pertumbuhan
ekonomi makro daripada pemerataan (2) sentralisasi kebijakan daripada desentralisasi kebijakan
(3) lebih bersifat karikatif daripada transformatif (4) memposisikan masyarakat sebagai obyek
daripada sebagai subyek (5) cara pandang tentang penanggulangan kemiskinan masih
berorientasi pada ‘charity’ daripada ‘productivity’ (6) asumsi permasalahan dan solusi
kemiskinan sering dipandang sama daripada pluralistis.

C. Paradikma Baru Pemberantasan Kemiskinan


Proses pembangunan yang sebelumnya bersifat sentralistik (top down) tidak akan
memberdayakan penduduk miskin tetapi justru menghambat kreatifitas mereka sehingga
menumbuhkan sikap ketergantungan terhadap pemerintah. Peran lembaga
lokal (local wisdon) merupakan potensi besar untuk membantu percepatan penanggulangan
kemiskinan.
Program pemberantasan kemiskinan di Indonesia dapat secara efektif dijalankan melalui
berbagai langkah berikut :
1. Penerbitan undang-undang pemberantasan kemiskinan sehingga program pengurangan
kemiskinan lebih diprioritaskan oleh pemerintah dan masyarakat
2. Program pemberantsan kemiskinan harus bersifat multi-sektoral
3. Perencanaan dan pelaksanaan dilakukan bersama antara masyarakat dan pemerintah sehingga
program sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan potensi aktual masyarakat dapat lebih tergali
4. Masyarakat dijadikan subyek bukan sekedar obyek program
5. Pertanggung jawaban program tidak saja pada pemerintah tetapi juga pada masyarakat
6. Program yang berkesinambungan
7. Ukuran keberhasilan ditentukan berdasarkan kemampuan masyarakat ke luar dari belenggu
kemiskinan
Dalam pengertian statistik ketenagakerjaan, angkatan kerja adalah
semua penduduk yang berusia 10 tahun atau lebih yang bekerja dan
memperoleh penghasilan (income). Dengan adanya program wajib
belajar 9 tahun maka definisi ini menjadi tidak cocok lagi dan batas
usia minimal untuk masuk kategori angkatan kerja adalah 15 tahun.
Rendahnya tingkat upah di Indonesia ternyata tidak hanya terkait
dengan banyaknya tenaga kerja yang ada dan besarnya tambahan angkatan kerja baru yang
masuk bursa kerja. Faktor lain yang menyebabkan murahnya tingkat upah ini adalah tingkat
produktifitas yang rendah.
Kemiskinan yang menjadi masalah nasional saat ini tidak dapat dilepaskan dari
meningkatnya jumlah pengangguran. Pada masa krisis ekonomi bukan saja laju pertambahan
angkatan kerja baru tidak dapat diserap oleh pasar tenaga kerja di tanah air, melainkan juga
terjadi banyak PHK disektor formal yang berakibat bertambahnya angkatan kerja yang
menganggur, baik itu menganggur penuh atau sama sekali tidak bekerja (open
unemployment)maupun yang setengah menganggur atau bekerja di bawah jam kerja
normal (under employment). Dalam kondisi pasar kerja yang seperti ini maka tenaga kerja
tersebut banyak yang memasuki lapangan kerja di sektor informal, termasuk di sektor pertanian
yang pendapatannya relatif rendah, sehingga menambah pula penduduk yang masuk kategori
miskin.
Pengangguran memang tidak bisa dihilangkan sama sekali. Dalam perekonomian yang sudah
sangat mapan sekalipun pengangguran tetap ada, yang dikenal
dengan natural unemployment atau pengangguran alamiah. Misalnya karena adanya ketrampilan
penganggur yang tidak sesuai (structural unemployment), upah yang tidak
cocok (tuntutan reservation wage), menanti sementara waktu untuk bekerja (frictional
unemployment) dan sebagainya.
Dilihat dari kacamata pemerintah pengangguran adalah ‘beban ekonomi’. Suatu
perekonomian yang mempunyai banyak penganggur harus menyediakan dana amat besar untuk
menghidupi mereka. Di Indonesia dan banyak negara berkembang lain kesempatan kerja yang
lebih besar adalah kesempatan kerja mandiri (self-employment)bukan kesempatan kerja dengan
upah (wege-employment).
Jika masalah kesempatan kerja ini dilihat sebagai masalah pengangguran seperti di negara-
negara industri (dan teori yang sudah tersedia memang hanya itu), maka pemecahannya adalah
dengan pemberian iklim yang baik bagi pengembangan usaha, yang pada gilirannya akan mampu
menciptakan lapangan kerja atau dengan bahasa teori Neoklasik ‘menyerap tenaga kerja’ (labor
absorption). Maka suatu perekonomian harus tumbuh untuk mengatasi pengangguran, yang tidak
sesuai dengan dengan karakteristik ekonomi riil dan pengangguran yang ada di Indonesia.
Jika kita berbicara kebijakan ketenagakerjaan Indonesia maka arahnya paling tidak harus
menjawab tiga persoalan yaitu pertama, terus menciptakan kesempatan kerja baru sehingga
dapat mengimbangi laju pertambahan angkatan kerja yang ada serta dapat menyerap angkatan
kerja yang saat ini masih menganggur ataupun setengah menganggur, kedua, memberikan
tingkat upah yang layak untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia, ketiga, meningkatkan
produktifitas para pekerja yang ada, sehingga dapat menghasilkan produk yang kompetitif dan
mendorong produksi lebih lanjut.
Walaupun masalah pengangguran dan kemiskinan sangat kompleks, tidak berarti bahwa
masalah tersebut tidak dapat dipecahkan sama sekali. Yang ‘klasik’ adalah bagaimana kita
mengefektifkan dan mengefisienkan setiap dana yang ada baik itu yang dikelola pemerintah,
unit-unit ekonomi negara, maupun usaha swasta. Jadi ada suatu desain (by design) yang jelas
untuk menghapuskan kemiskinan dan pengangguran tersebut dan bukan hanya sekedar dampak
dari kebijakan lainnya (by accident).
Jika diamati ternyata unit-unit usaha rakyat, usaha kecil merupakan sektor yang dapat
menciptakan peluang kerja dengan biaya murah. Ini memberi gambaran bahwa alokasi dana ke
unit usaha kecil yang lebih besar akan sangat menolong penciptaan kesempatan kerja baru.
Salah satu masalah lain yang terkait dengan pengangguran yang tinggi adalah tingkat
pendidikan. Banyak tenaga kerja yang terdidik tidak terserap di bursa kerja. Hal ini memberi
penegasan tentang semakin mendesak perlunya man power planning tingkat nasional sehingga
lembaga pendidikan yang ada bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasar, baik itu pendidikan
maupun kejuruan.

A. Latar Belakang Otonomi Daerah


Kajian Shah dan Qureshi (1994) menunjukkan koefisien ketimpangan
fiskal vertikal di Indonesia sebesar 0,19 yang menggambarkan tingkat
kemandirian daerah di Indonesia yang rendah. Kondisi seperti di Indonesia
tersebut dapat terjadi karena adanya sentralisasi dalam keuangan, seperti
sentralisasi sistem perpajakan dengan alasan efisiensi. Sentralisasi kebijakan
tersebut tidak hanya dalam kebijakan fiskal namun juga pada hampir semua
bidang termasuk dalam perencanaan dan pelaksanaanpembangunan daerah.
Pertumbuhan ekonomi nasional relatif tinggi namun pola
pertumbuhannya timpang. Ketimpangan tersebut berupa ketimpangan antara kota dan desa, Jawa
dan luar Jawa, Kawasan Timur Indonesia dan Kawasan Barat Indonesia.
Propinsi-propinsi di pulau Jawa terkonsentrasi dalam satu kuadran yang tingkat pertumbuhan
dan pendapatannya tinggi (high growth, high income). Ditemukan pula konsentrasi industri di
propinsi-propinsi tersebut. Hal ini terjadi karena (1) fasilitas prasarana yang lebih baik dan
lengkap (2) ketersediaan tenaga dan tingkat upah yang relatif rendah (3)sentralisasi birokrasi dan
sistem perijinan yang berlebihan di Jawa, khususnya Jakarta (4) kebijakan perdagangan regional
dan kebijakan sektoral yang bias di Jawa

B. Desentralisasi Fiskal dan Pembangunan Daerah


Kajian-kajian ilmiah menunjukkan pentingnya pemberian peran yang lebih besar bagi daerah
dalam melaksanakan pembangunan ekonomi di daerahnya. Pendelegasian sebagian kewenangan
pemerintah pusat kepada propinsi dan kabupaten/kota dapat dilakukan tanpa mengganggu
kepentingan ekonomi nasional. Oleh karena itu Wuryanto (1996) merekomendasikan reformasi
kebijakan fiskal yang berlaku yang diarahkan pada sistem desentralisasi fiskal, termasuk di
dalamnya merestrukturisasi pembagian kewenangan di antara pemerintah pusat, propinsi dan
kabupaten/kota dalam hal penerimaan dan pengeluarannya.
Dalam konteks otonomi dan desentralisasi fiskal, Mardiasmo (2001:1) secara spesifik
mengemukakan tiga misi utama dari kebijakan tersebut, yaitu :
1. Meningkatkan kualitas dan kuantitas pelayanan publik dan kesejahteraan rakyat
2. Menciptakan efisiensi dan efektifitas pengelolaan sumber daya daerah
3. Memberdayakan dan menciptakan ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam proses
pembangunan.
Secara umum desentralisasi pemerintahan dan fiskal didorong oleh desakan untuk
menyediakan pelayanan-pelayanan pemerintah yang lebih efisien dan aspiratif. Namun demikian
dalam sistem perpajakan dan pengelolaan sumber di daerah sebagian masih diatur dan ditangani
di pusat, sumber dana dari pusat tetap penting untuk mendukung berbagai kegiatan di daerah.
Masalah transfer ini merupakan salah satu isu yang sangat penting dalam pelaksanaan
desentralisasi di Asia.
Dari pelaksanaan desentralisasi selama ini, ada beberapa permasalahan yang dihadapi oleh
banyak pemerintah daerah. Permasalahan yang paling banyak muncul adalah ketidakcukupan
sumber daya keuangan untuk menutup fiscal gab. Ada beberapa masalah mendasar yang
dihadapi pemerintah daerah yang terkait dengan kurangnya sumber daya keuangan, yaitu :
a. Tingginya tingkat kebutuhan daerah (fiscal need) sementara penerimaan
daerah (fiscal capacity) tidak cukup untuk mebiayai kebutuhan daerah, sehingga keadaan
tersebut menimbulkan fiscal gab.
b. Kualitas pelayanan publik yang masih memprihatinkan
c. Rendahnya kualitas sarana dan prasarana seperti jalan, pasar dan terminal
d. DAU dari pemerintah pusat yang tidak mencukupi
e. Belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil

Salah satu masalah politik-ekonomi dalam penerapan desentralisasi fiskal adalah


kecenderungan makin lestarinya ekonomi biaya tinggi di daerah. Salah satu penyebab terjadinya
ekonomi biaya tinggi adalah maraknya praktik-praktik politik uang (money pilitics) di daerah.
Ekonomi biaya tinggi juga terjadi karena biaya birokrasi daerah yang ditunjang adanya peraturan
daerah (Perda) yang berorientasi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Kebijakan desentralisasi pemerintahan (otonomi daerah) pada hakikatnya merupakan
tuntutan kemandirian daerah untuk menjalankanpembangunan dalam berbagai aspek. Aspek
penting yang akhir-akhir ini menjadi fokus dari tiap daerah adalah meningkatnya taraf ekonomi
masyarakat dan kemampuan keuangan daerah. Otonomi daerah diyakini sebagai jalan terbaik
dalam rangka mendorong pembangunan daerah.

Tugas 3
1. Jelaskan indikator gariskemiskinan yang diungkapkanoleh Profesor Sayoga !
2. Dalam perekonomian yang sudah sangat mapan sekalipun pengangguran tetap ada, yang dikenal
dengan naturalunemployment atau pengangguran alamiah. Jelaskan mengapa demikian !
3.Jelaskan beberapa masalah mendasar yang dihadapi pemerintah daerah yang terkait dengan
kurangnya sumber daya keuangan !

Indikator kenaikan pendapatan perkapita yang pada waktu lalu menjadi


ukuran utama keberhasilan pembangunan telah digugat bukan saja oleh
kalangan non-ekonom, tapi juga oleh para ekonom sendiri yang melihat
ketidak akuratan indikator tersebut dalam mengukur keberhasilan
pembangunan suatu masyarakat, yang kemudian memunculkan beberapa
alternatif dan pelengkap atas indikator pendapatan per kapita tersebut.
Di antara indikator yang belakangan ini banyak digunakan adalah
berkaitan dengan unsur pembangunan manusia. Cynthia Taft Morris memunculkan indeks yang
dikenal dengan The Physical Quality of Live Index (PQLI), sedangkan United Nation
Developmen Program (UNDP) secara komprehensif mengajukan Human Development
Index (HDI) atau Indeks Pembangunan Manusia (IPM) yang kini banyak digunakan oleh negara-
negara di dunia. Dalam publikasi UNDP, pembangunan manusia didefinisikan sebagai ‘a
process of enlarging people’s choices, atau proses yang meningkatkan aspek kehidupan
masyarakat. Aspek terpenting kehidupan ini dilihat dari usia yang panjang dan hidup sehat,
tingkat pendidikan yang memadai dan standar hidup yang layak.
Secara spesifik UNDP menetapkan 4 elemen utama dalam pembangunan manusia, yaitu
produktivitas (productivity), pemerataan (equity), keberlanjutan (sustainability) dan
pemberdayaan (empowerment). Indonesia juga banyak memanfaatkan IPM ini untuk melihat
kemajuan nasional maupun daerah.
Bagi Indonesia, perhatian pada variabel Indeks Pembangunan Manusia ini sangat penting
karena : (1) Pembangunan pada hakekatnya merupakan pembangunan manusia itu sendiri,
sehingga aspek ini perlu mendapatkan prioritas anggaran (2) Pembangunan manusia Indonesia
saat ini masih sangat tertinggal dibanding banyak negara lain di dunia. Laporan pembangunan
manusia dari UNDP menyimpulkan Indeks Pembangunan Manusia Indonesia tahun 1999 berada
pada peringkat 105 dari 174 negara yang disurvei dan merosot pada peringkat 110 dari 173
negara pada tahun 2002, sedangkan di tingkat ASEAN-6, Indonesia menempati peringkat
terendah. (3) Pengeluaran pemerintah yang dapat berpengaruh pada kualitas Sumber Daya
Manusia, yaitu untuk pendidikan dan kesehatan porsinya sangat kecil (4) Umumnya kajian
mengenai desentralisasi fiskal mengabaikan dampaknya pada pembangunan manusia.
Anggaran pendidikan yang rendah tentu saja mempengaruhi kualitas pendidikan. Pendidikan
yang rendah tersebut akan berdampak pada kemampuan dan kreatifitas peserta didik. Akibatnya
penduduk yang telah mendapatkan pendidikan menengah dan tinggi sekalipun tidak dapat siap
bekerja di berbagai sektor pekerjaan. Persoalan lain menyangkut pembangunan manusia adalah
masalah kesehatan. Sektor kesehatan juga hanya mendapat porsi yang minim dalam anggaran
pembangunan pusat dan daerah. Berdasarkan HDI tahun 1999, kondisi kesehatan masyarakat
Indonesia sangat buruk.

Dari perspektif ekonomi, globalisasi merupakan suatu


pengintegrasian ekonomi secara global. Dengan demikian, jika
globalisasi ekonomi terwujudnya dalam arti luas berarti tidak ada lagi
batas-batas negara dalam transaksi ekonomi. Lalu lintas barang dan jasa
menjadi bebas tanpa hambatan untuk berpindah dari satu negara ke
negara lain. Tidak ada lagu hambatan-hambatan bisnis atau perdagangan
internasional, baik itu tariff barriers maupun non tariff barriers.
Kebebasan lalu lintas ekonomi global ini tergantung kerelaan masing-masing negara. Apabila
suatu negara menolak membuka pasarnya secara bebas maka dengan segala konsekuensinya ia
dapat menghindar atau menunda proses globalisasi ekonomi.
Secara teoritik, globalisasi ekonomi dengan makna keterbukaan dan persaingan bebas
ekonomi dianggap merupakan suatu solusi terbaik dalam hubungan ekonomi antar negara dan
memakmurkan umat manusia. Persaingan akan memaksa masing-masing pihak mencari metode
produksi yang paling efisien, sehingga total output akan meningkat yang artinya kesejahteraan
masyarakat akan meningkat.
Dengan demikian ada persyaratan yang diperlukan untuk mewujudkan kenaikan total output
tersebut. Syaratnya adalah kekuatan ekonomi negara-negara yang membuka diri harus seimbang.
Pada kenyataannya persyaratan ini tidak bisa terpenuhi saat ini. Oleh karena itu sebelum ada
kesetaraan kekuatan ekonomi antar negara harus ada pemberdayaan ekonomi negara-negara yang
relatif lemah sebelum siap berkompetisi secara global. Artinya globalisasi ekonomi yang
dilakukan secara frontal, dalam keadaan belum terpenuhinya syarat globalisasi akan memakan
korban negara berkembang (miskin) seperti yang terjadi saat ini.

A. Proses Globalisasi Ekonomi Indonesia


Proses Globalisasi ekonomi ditandai dengan terjadinya transaksi antar negara (ekspor-impor).
Indonesia baru mulai menggencarkan perdagangannya tahun 1980an. Alasan Indonesia memicu
perdagangan luar negeri adalah jatuhnya harga minyak dunia yang menyebabkan Indonesia tidak
dapat mengandalkan devisa dari perdagangan minyak saja.
Menyusul upaya pemerintah melakukan diversifikasi ekspor non migas, Indonesia
mengambil keputusan untuk bergabung dengan berbagai organisasi perdagangan internasional
seperti APEC (1989), AFTA (1992) dan WTO/GATT (1996). Keikut sertaan Indonesia ke dalam
berbagai forum tersebut bukan saja berkaitan dengan masalah ekonomi yang berorientasi pada
globalisasi tetapi juga berkaitan dengan masalah tekanan politik. Indonesia memiliki
kekhawatiran besar jika tidak terlibat dalam globalisasi ekonomi, sehingga dapat terasing dari
perekonomian dunia.
Prinsip dan aturan perdagangan multilateral dalam GATT (General Agreement on Tariff and
Trade), pada dasarnya terdiri dari tiga hal pokok : pertama, prinsip resiprokal atau timbal balik,
artinya perlakuan yang diberikan suatu negara kepada negara lain harus diimbangi pula dengan
perlakuan yang sama dari negara lain ke mitra dagangnya. Kedua, prinsip non diskriminasi atau
perlakuan yang sama. Prinsip ini dikenal pula dengan sebutan most favored nation (MFN) yang
maknanya adalah apabila kita mengistimewakan suatu negara maka keistimewaan tersebut harus
kita berikan ke negara lain. Prinsip ketiga adalah kejelasan dan keterbukaan. Artinya perlakuan
dan kebijakan yang dilakukan suatu negara harus transparan, jelas dan dapat diketahui mitra
dagangnya.

B. Dampak Glonalisasi Ekonomi Bagi Indonesia


Keikutsertaan Indonesia dalam globalisasi ekonomi mungkin tidak berakibat buruk jika
Indonesia memang mampu secara cepat melakukan penyesuaian-penyesuaian ekonomi sehingga
perekonomian menjadi lebih efisien dan daya saingnya meningkat. Bahkan jika siap, pasar
Indonesia menjadi lebih luas yang akan mendorong kegairahan ekonomi domestik.
Berdasar hasil perhitungan Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia relatif tinggi
jauh di atas Singapura, Malaysia, Thailand atau Filipina. Penilaian ICOR tersebut
menggambarkan untuk memperoleh output yang sama kita membutuhkan input yang lebih besar.
Jadi jika pasar input juga bebas maka kita tidak dapat bersaing di pasar ASEAN terlebih pasar
dunia. Kita umumnya memiliki daya saing atas produk-produk primer atau industri karena
ditopang input yang murah seperti produk-produk yang bersifat padat karya karena upah buruh
murah.
Pukulan paling besar yang disebabkan oleh globalisasi ekonomi Indonesia diterima oleh
sektor jasa. Dengan berbagai proteksi selama ini saja sektor jasa sudah ‘menghapuskan’ surplus
dari nilai perdagangan Indonesia, terlebih jika sektor jasa tidak diproteksi akibat kesepakatan
GATS (General Agreement on Trade and Services) yang akan dilaksanakan secara bertahap.
Meskipun neraca perdagangan Indonesia surplus, namun dalam neraca berjalan (current
account) defisit, sebagai akibat ekspor jasa yang jauh lebih kecil daripada impornya sehingga
‘menyerap’ surplus pada neraca perdagangan tersebut. Dengan globalisasi ada ancaman bahwa
suatu negara tidak bisa lagi secara ekonomi menjadi tuan rumah di negerinya sendiri. Gambaran
tersebut melihat globalisasi dari perspektif pesimistik.
Proses transmisi dan reformasi yang sedang berjalan, jika berhasil, akan membuat dampak
globalisasi yang lebih menguntungkan bagi kita. Globalisasi akan memberikan akses pasar yang
lebih luas bagi produk Indonesia di luar negeri yang hingga saat ini sulit dimasuki karena
berbagai proteksi. Proses reformasi ekonomi diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dari
setiap sumber daya yang digunakan. Ini akan menimbulkan tingkat daya saing yang lebih tinggi
sehingga akan lebih memudahkan produk kita bersaing di pasar domestik maupun global. Makin
banyak permintaan atas produk nasional maka makin banyak permintaan tenaga kerja dan daya
beli masyarakat, artinya makin tinggi pula kemakmuran masyarakat.
Globalisasi tidak saja berdampak terhadap kondisi makro ekonomi, tetapi juga pada perilaku
masyarakat. Keterbukaan ekonomi mengakibatkan : pertama, makin ketatnya persaingan antar
individu yang memperkuat individualitas. Kedua, munculnya sifat hedonisme yang membuat
manusia selalu memaksa dirinya untuk mencapai kepuasan dan kenikmatan
pribadinya. Ketiga, sikap individualistis menimbulkan pula ketidakpedulian antar sesama.

C. Resistensi Terhadap Globalisasi Ekonomi


Globalisasi ekonomi yang dianggap merugikan negara miskin dan berkembang memicu
berbagai gerakan untuk menentangnya. Awal 2004 gugatan sudah muncul dalam tiga forum
internasional. Gugatan terhadap globalisasi dan perangkatnya tidak hanya datang dari negara
berkembang, melainkan juga oleh negara yang berpendapatan menengah atas seperti negara-
negara Amerika Latin.
Secara teoritik memang perdagangan bebas dunia akan dapat mendorong terjadinya
peningkatan efisiensi melalui spesialisasi produk. Dalam perdagangan bebas dunia asumsi yang
selalu didengungkan adalah bahwa semua negara dan pelaku ekonomi akan diuntungkan dari
adanya keterbukaan ekonomi tersebut. Oleh karena itu berbagai hambatan perdagangan, baik itu
yang berupa tarif yang tinggi (tarif barrier) maupun yang bukan tarif (non tariff barrier) seperti
quota, larangan impor, lisensi dan sebagainya harus diminimalkan atau dihilangkan. Melalui
WTO dan berbagai lembaga internasional hal itu selalu dijadikan tekanan untuk dilaksanakan.
Dalam realitas, pasar tidak bekerja seperti yang dinyatakan teori konvensional di atas.
Menurut Shipman (2002:61-98) tidak ada satu negarapun yang menjadi kaya melalui terjadinya
spesialisasi. Kekuatan-kekuatan besar yang dimiliki perusahaan raksasa dunia yang
mengendalikan pasar yang akan memberikan keuntungan pada mereka. Globalisasi juga dikecam
Shipman sebagai ‘Amerikanisasi’. Hal ini ditunjukkan dari menyebarnya perusahaan pengecer
Amerika seperti bank-bank dan restauran di seluruh dunia.
Dalam bukunya ‘The No-nonsens Guide to Globalization’ (2001) Wayne Ellwood,
mengecam globalisasi karena telah meningkatkan ketidakmerataan dan kemiskinan di seluruh
dunia. Hal ini terjadi karena pemerintah sudah kehilangan kemampuannya untuk mengontrol
strategi dan kebijakan pembangunannya. Oleh karena itu disarankan beberapa langkah konkret
untuk mengatasi hal tersebut. Langkah-langkah tersebut antara lain adalah :
1. Meningkatkan partisipasi warga negara melalui perombakan IMF.
2. Mendirikan lembaga keuangan global yang baru
3. Menghargai alam (honor the earth)

A. Kegagalan Ilmu Ekonomi Konvensional


Dunia sedang mengalami masalah besar pasca berkembang pesatnya
globalisasi ekonomi (pasar bebas). Ditengah arus kemajuan ekonomi
terselip tanda-tanda krisis global yang inheren dalam kemajuan tersebut.
Krisis tersebut meliputi makin parahnya degradasi moral (spiritualitas),
makin lebarnya ketimpangan sosial ekonomi dan makin rusaknya sistem
ekologis (lingkungan) penyangga kehidupan bumi. Krisis-krisis tersebut
tidak lain adalah manifestasi kegagalan sistem ekonomi global dalam menyejahterakan manusia
secara berkeadilan dan berkelanjutan. Di sisi lain, krisis tersebut merupakan refleksi kegagalan
ilmu ekonomi konvensional yang menjadi pondasi berkembangnya sistem ekonomi global.
Ilmu ekonomi yang mengedepankan pandangan rasionalisme, kompetitivisme, self
interest, orientasi pertumbuhan dan profit maximization ini telah mendorong perebutan
penguasaan sumber daya yang berujung pada eksploitasi satu negara terhadap negara lain beserta
kekayaan alam (lingkungan)nya. Ilmu ini makin bias pada (kepentingan) negara maju (kaya)
yang lebih memfokuskan perhatian pada ekonomi modern (usaha besar) sehingga mengabaikan
perhatian pada pemecahan masalah-masalah riil yang dihadapi pelaku ekonomi rakyat. Bahkan
teori-teori tentang ekonomi rakyat tidak dikembangkan karena asumsi pelaku produksi hanyalah
perusahaan (besar). Ilmu ekonomi inipun dikembangkan secara positivistik, sehingga
mengabaikan faktor-faktor kelembagaan sosial budaya dan nilai-nilai kerja sama, kebersamaan
dan moralitas/etika lokal yang dimiliki ekonomi rakyat. Jelas ilmu ekonomi seperti ini makin
tidak cocok untuk dikembangkan dan diterapkan di negra sedang berkembang seperti Indonesia.

B. Kebutuhan Ilmu Ekonomi Alternatif


Berbagai kritik mendasar terhadap ilmu ekonomi konvensional makin menunjukkan
kebutuhan akan adanya ilmu ekonomi alternatif. Kebutuhan inipun telah dirasakan oleh pakar-
pakar ekonomi di negara maju (Barat). Ini berkaitan dengan ditawarkannya mata kuliah
pengantar ekonomi alternatif di fakultas ekonomi terkemuka di dunia, seperti di Harvard
University. Asumsi dasar pengajaran ini bertolak belakang dengan yang diajarkan oleh ekonomi
neo-klasik. Dengan menggunakan pendekatan psikologi, para ekonom ini menolak
konsep homoekonomikus, yang selalu menganggap manusia bertindak rasional.
Letupan-letupan ketidakpuasan pada para ekonom konvensional itu, kemudian memunculkan
berbagai konsep ilmu ekonomi alternatif, seperti Ekonomi kelembagaan (Kenneth Building),
Ekonomika Strukturalis (Raul Prebisch), serta Ekonomi Islami yang digali oleh ekonom-ekonom
muslim. Di Indonesia sejak awal 1980-an ketidakpuasan atas teori ekonomi konvensional itu
sudah diwacanakan oleh Prof. Mubyarto dan kini dikembangkan melalui PUSTEP (Pusat Studi
Ekonomi Pancasila) UGM.

C. Perlunya Ilmu Ekonomi Pancasila


Ilmu ekonomi Pancasila adalah ilmu ekonomi kelembagaan (institutional economics) yang
menjunjung tinggi nilai-nilai kelembagaan Pancasila sebagai ideologi negara, yang ke-5 silanya
secara utuh maupun sendiri-sendiri menjadi rujukan setiap pelaku ekonomi orang Indonesia.
Ekonomi Pancasila merupakan ilmu ekonomi yang khas (berjati diri) Indonesia yang digali dan
dikembangkan berdasar kehidupan ekonomi riil (real-life economy) rakyat Indonesia. Ilmu
ekonomi Pancasila mengacu pada sila-sila dalam Pancasila yang terwujud dalam lima landasan
ekonomi yaitu ekonomi moralistik (ber-Ketuhanan), ekonomi kemanusiaan, nasionalisme
ekonomi, demokrasi ekonomi (ekonomi kerakyatan) dan diarahkan untuk mencapai keadilan
sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
Secara komprehensif Dawam Rahardjo menguraikan perlunya pengembangan ilmu
ekonnomi Pancasila, yaitu : Pertama, untuk mengembangkan lebih lanjut pemikiran-pemikiran
di sekitar Ekonomi Pancasila yang telah dirintis oleh Emil Salim sebagai sistem dan di
populerkan sebagai teori/ilmu oleh Mubyarto. Kedua, untuk melakukan sosialisasi gagasan, baik
ke lingkungan akademis, lingkungan biokrasi dan politik, maupun masyarakat pada umumnya,
dengan tujuan agar nalar ekomoni Pancasila dipakai sebagai pedoman pengembangan ilmu
ekonomi baru atau alternafit, dan agar lebih diterima dan diterapkan dalam praktek
pembangunan dan usaha. Ketiga, untuk menjawab kritik, keraguan, atau skeptisme terhadap
gagasan ekonomi Pancasila. Keempat, untuk menerapkan nalar ekonomi Pancasila dalam
menanggapi persoalan-persoalan ekonomi dan pembangunan, khususnya dalam menanggulani
krisis. Kelima, melakukan reformasi terhadap sistem ekonomi dan perekonomian
Indonesia. Keenam,menanggapi perkembangan pemikiran neo-liberalisme dan
globalisasi. Ketujuh, ikut memberikan jawaban terhadap persepsi mengenai krisis ilmu ekonomi
konvensional dan relevansi ilmu ekonomi. Kedelapan, menyediakan bahan pengajaran ilmu
ekonomi yang berdasarkan kerangka teori ekonomi Pancasila, yang berbeda dengan dan
merupakan alternatif terhadap teori ekonomi konvensional.

D. Filasafat Ilmu Ekonomi Pancasila


Tiga landasan filsafat ilmu ekonomi Pancasila yang sesuai dengan prosedur untuk
mendapatkan legitimasi ilmiah yaitu meliputi aspek ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi adalah wacana mengenai keperiadaan, epistemologi merupakan cara pemahaman atau
metode penelitian dan kajian, sedangkan aksiologi adalah pembahasan mengenai nilai,
khususnya nilai guna, sebagaimana dicerminkan oleh tujuan (aim, goal, dan visi), hasil atau
output dari suatu proses, dalam pelaksanaan Sistem Ekonomi Pancasila.
Ekonomi Pancasila sebenarnya merupakan istilah dan pengetahuan yang relatif baru dan
hingga kini masih dalam proses pengkajian dan uji coba (eksperimen). Dengan demikian maka
ekonomi Pancasila adalah sebuah gagasan yang masih harus diperjuangkan, tidak saja melalui
kajian dan pengajaran tetapi juga melaui praktek dan bahkan gerakan.

RANGKUMAN
Sistem ekonomi adalah cara sebuah negara untuk mengatur jenis produk yang dihasilkan,
menghasilkan barang itu dan bagaimana barang tersebut didistribusikan kepada masyarakat.
Penentuan sistem ekonomi tidak dapat dilepaskan dari ideologi yang diyakini oleh negara. Pada
dasarnya kita dapat membaginya menjadi dua titik ekstrim, yaitu Sistem Ekonomi kapitalis dan
Sistem Ekonomi Sosialis.
Kebijakan pemerintah dalam membangun pertanian bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu
kebijakan harga (harga pangan murah), kebijakan pemasaran, kebijakan struktural dan kebijakan
yang terkait dengan upaya penanggulangan kemiskinan. Kebijakan ini belum sepenuhnya
mampu memecahkan masalah struktural pertanian yang terkait intensifnya liberalisasi pertanian
yang merugikan petani dalam negeri. Liberalisasi pertanian meliputi pengurangan dukungan
domestik, pengurangan subsidi ekspor dan perluasan akses pasar.
APBN yang berfungsi sebagai sarana peningkatan kesejahteraan rakyat seharusnya dapat
menekankan pada fungsi turunannya sebagai instrumen pemerataan (redistribusi) pendapatan dan
kekayaan. Dalam hal ini kebijakan anggaran mengatur dan memastikan terjadinya aliran dana
(anggaran) dari kelompok masyarakat mampu ke kelompok rakyat kecil yang miskin, bukan
sebaliknya. Kedua instrumen yang terkait secara spesifik dengan fungsi ini adalah pajak di sisi
penerimaan dan subsidi di sisi pengeluaran pemerintah.
Investasi mempunyai dua peran penting dalam makro ekonomi. Pertama, pengaruhnya
terhadap permintaan agregat yang akan mendorong meningkatnya output dan kesempatan
kerja. Kedua efeknya terhadap pembentukan kapital. Konsep bangun usaha yang berjiwa
koperasi disebut sebagai Tripel-Co, yaitu co-ownership (pemilikan bersama), co-
determinant (penentuan bersama) dan co-responsibility (tanggung jawab bersama).
Selama ini pola kebijakan pembangunan dan penanggulangan kemiskinan yang telah
dilakukan masih mengandung beberapa kelemahan yang perlu dikoreksi secara mendasar melalui
perubahan paradikma. Jika selama ini program kengentasan kemiskinan dilakukan secara
terpusat maka sudah seharusnya diubah menjadi bottom up.Pola pikir ekonomi yang hanya
mengutamakan kepentingan pribadi diubah menjadi tindakan ekonomi yang didasarkan pada
moral dan etika.
Beberapa masalah mendasar yang dihadapi pemerintah daerah yang terkait dengan
kurangnya sumber daya keuangan adalah : fiscal gap kualitas pelayanan publik yang masih
memprihatinkan, rendahnya kualitas sarana dan prasarana, DAU dari pemerintah pusat yang
tidak mencukupi dan belum diketahui potensi PAD yang mendekati kondisi riil.
Deregulasi perdagangan yang ditetapkan pemerintah pada tahun 1980-an mendorong
terjadinya globalisasi ekonomi di Indonesia. Masuknya modal asing secara besar-besaran dan
berkurangnya hambatan perdagangan membuat Indonesia terbuka pada globalisasi. Selain itu,
Indonesia juga terlibat dengan berbagai perjanjian ekonomi yang mendukung globalisas