Anda di halaman 1dari 2

Metode T Mid

Pada metode laju eksresi, diperoleh persamaan regresi linear y= 3,118,9 - 0,111x
dengan R sebesar -0,425, waktu paruh sebesar 6.243 jam. Waktu paruh tersebut
terbilang cukup singkat karena hanya dalam waktu 6.234 jam untuk siprofloksasin
berkurang menjadi setengah dari jumlah awal. Waktu paruh bisa menjadi gambaran
harus seberapa sering suatu obat diberikan. Semakin sigkat waktu paruh, maka
frekuensi pemberian obat juga akan semakin sering. Faktor yang mempengaruhi
ekskresi obat antara lain filtrasi oleh glomerulus, sekresi oleh tubulus maupun
reabsorpsi di tubulus nefron. Ke (eksresi) yang didapat sebesar 0,045/jam, K (eliminasi)
sebesar 0,111/jam. Nilai K menandakan bahwa tubuh memiliki kecepatan sebesar
0,111/jam untuk mengeliminasi siprofloksasin dari tubuh. Dimana semakin besar
kecepatan eliminasi, maka semakin besar pula laju perubahan obat. Dari nilai K dan
Ke yang diketahui, maka dapat ditentukan nilai Km (tetapan laju metabolisme) untuk
mengetahui seberapa besar obat yang termetabolisme sehingga strukturnya menjadi
berubah. Didapatkanlah nilai Km 0,086/jam. Fluktuasi pada kecepatan eliminasi obat
menyebabkan kurva tidak linear. Interval waktu pengambilan sampel sebaiknya lebih
pendek atau maksimal mendekati waktu paruh. Karena jika semakin panjang akan
menyebabkan tingkat kesalahan K dan Ke menjadi lebih besar. Metode ini lebih peka
terhadap perubahan eliminasi obat, misal terhadap perubahan pH atau volume urin. Dari
data yang didapatkan pada metode laju eksresi ini, siprofloksasin tidak diekskresikan
secara utuh. Karena nilai Ke lebih kecil dari nilai K yang menunjukkan bahwa obat tidak
diekresikan secara utuh, dengan nilai Km sebesar 0,066/jam.

Pada metode Sigma minus, diperoleh persamaan regresi linear y = 6.737 – 0,318x
dengan R sebesar -0,992 , K (eliminasi) sebesar 0.318/jam. Du adalah jumlah obat yang
diekskresi dalam urin. Du kumulatif adalah jumlah obat tidak berubah yang diekskresi
dalam urin. Du kumulatif yang didapat sebesar 366.244 mg, sedangkan dosis obat yang
diberikan adalah 500 mg secara oral. Hal ini menunjukkan bahwa obat dalam bentuk tak
berubah tidak terekskresikan seluruhnya. Sedangkan sisanya yaitu 133,756 mg, adalah
obat dalam urin yang dalam bentuk berubah.