Anda di halaman 1dari 10

Jurnal Veteriner Jurnal Veteriner Maret 2019 Vol. 20 No.

140 :147
pISSN: 1411-8327; eISSN: 2477-5665 DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.1.140
Terakreditasi Nasional, Dirjen Penguatan Riset dan Pengembangan, online pada http://ojs.unud.ac.id/index.php/jvet
Kemenristek Dikti RI S.K. No. 36a/E/KPT/2016

Identifikasi Bakteri dan Efektivitas Antibiotik


dalam Pengencer untuk Mengontrol Pertumbuhan Bakteri
pada Semen Sapi Friesian Holstein
(BACTERIAL IDENTIFICATION AND EFFICACY OF ANTIBIOTICS IN EXTENDER
FOR CONTROLLING THE GROWH OF BACTERIA IN FRIESIAN HOSLTEIN SEMEN)

Muttaqinullah Rabusin1, Andriani 2,


Raden Iis Arifiantini 3, Ni Wayan Kurniani Karja3

Program Studi Biologi Reproduksi,


1

Balai Besar Penelitian Veteriner, Bogor,


2

3
Bagian Reproduksi dan Kebidanan,
Departemen Klinik Reproduksi dan Patologi,
Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor,
Jln. Agatis, Kampus IPB Dramaga, Bogor, Jawa Barat, Indonesia 16680,
E-mail: karjanwk13@gmail.com

Abstrak

Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri di dalam semen segar sapi Friesian
Holstein (FH) dan menguji efektivitas kombinasi antibiotik penisilin dan streptomisin (PS) atau
gentamisin, tilosin, linkomisin, dan spektinomisin (GTLS) di dalam pengencer semen terhadap
perkembangan bakteri. Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap. Tahap 1, dilakukan identifikasi
bakteri dalam semen segar segera setelah koleksi. Tahap 2, dilakukan identifikasi bakteri pada
pengencer yang digunakan untuk pembekuan semen. Tahap 3, dilakukan identifikasi bakteri
dalam semen beku. Dalam penelitian ini berhasil ditemukan tiga jenis bakteri dalam semen
segar, yaitu Klebsiella sp., Micrococcus sp., dan Pediococcus sp. Tiga jenis bakteri ditemukan di
dalam pengencer semen, yaitu Enterobacter cloacae, Pseudomonas diminuta dan Serratia plymutica
dan dua jenis bakteri ditemukan di dalam semen beku, yaitu Enterobacter cloacae dan Serratia
plymutica. Dari data tersebut dapat disimpulkan ditemukan bakteri yang umum terdapat pada
lingkungan dan antibiotik PS dan GTLS mempunyai efektifitas yang sama dalam menghambat
pertumbuhan bakteri dan tidak memengaruhi kualitas semen

Kata-kata kunci: bakteri; antibotik pengencer; semen sapi

ABSTRACT

This study was designed to investigate the presence of bacterial species in Friesian Holstein
(FH) bovine semen at the time of collection, processing and to assess the efficacy of two types of
antibiotics combinations; penicillin and streptomycin (PS) and gentamycin, tylosin, lincomycin
and spectinomycin (GTLS) in semen extender on bacterial control and quality of semen. For this
purpose, three experiments were conducted. In experiment 1, identification of bacterial content in
fresh semen which collected from 5 bovine ejaculates. In experiment 2, identification of bacterial
content in skimmilk-eggyolk extender which were prepared in artificial insemination center,
Lembang, Bandung. In experiment 3, identification of bacterial content in frozen thawed semen. In
the result, some of bacterial species were isolated from the bovine semen. The GTLS combination
of antibiotics may be incorporated into a freezing extender or protocol without compromising the
post-thawed semen quality of FH bull spermatozoa. Three types of bacteria were found in fresh
semen; Klebsiella sp., Micrococcus sp., and Pediococcus sp.. Three types of bacteria were found in
semen extender; Enterobacter cloacae, Pseudomonas diminuta and Serratia plymutica. Two types
of bacteria were found in frozen semen; Enterobacter cloacae and Serratia plymutica. In conclusion,
antibiotics PS and GTLS were effective for controlling the growth of bacteria in frozen semen.

Keywords: bacterial species; bovine semen; extender; antibiotic


140
PENDAHULUAN Balai IB nasional yang ada di Indonesia
sejak tahun 2013 telah mengekspor semen beku
Semen terdiri atas spermatozoa dan plasma ke Malaysia, Myanmar, Kamboja, Afganistan,
semen yang diejakulasikan hewan jantan dan Kirgystan, dan Kazakhstan (DJPKH 2015).
dapat digunakan untuk proses pembuahan. Mengacu pada ketentuan dunia internasional,
Semen yang dimaksud adalah semen dari hewan perlu dilakukan kajian terhadap penggunaan
jantan unggul sebagaimana disebutkan dalam jenis antibitik yang dapat diterima oleh dunia
Standar Nasional Indonesia (SNI) 2017 Tentang internasional sehingga produk semen beku
Semen Beku Sapi (BSN 2017). Semen Indonesia dapat bersaing dan berkembang secara
merupakan media yang mengandung nutrisi global. Penelitian mengenai isolasi dan
dan protein sehingga ideal bagi pertumbuhan identifikasi bakteri pada produksi semen sapi
mikroorganisme (Martin et al., 2010). Beberapa di Indonesia masih jarang dilakukan, sehingga
bakteri patogen serta bakteri saprophytic juga sulit mendapatkan informasi atau data
dapat mengontaminasi semen sapi (Gloria et al., mengenai jenis bakteri dalam semen. Oleh
2014). Bakteri yang terdapat dalam semen dapat karena itu, penelitian in bertujuan untuk
bersumber dari testis, kelenjar aksessoris, vas mengidentifikasi kandungan bakteri dalam
deferens, urethra, preputium atau penis (Thibier semen sapi dan kombinasi serta antibiotik
dan Guerin, 2000). alternatif yang tepat untuk mengontrol bakteri,
Mikroorganisme memberikan efek buruk sehingga menghasilkan semen beku sapi yang
secara langsung pada fungsi reproduksi, di berkualitas, aman dan bebas dari penyakit.
antaranya menyebabkan agglutinasi
spermatozoa, mengurangi kemampuan reaksi METODE PENELITIAN
akrosom, merusak morfologi spermatozoa dan
deoxyribonucleid acid (DNA) integrity Penelitian dilakukan dalam tiga tahap.
spermatozoa (Moretti et al., 2009; González- Tahap 1, dilakukan identifikasi bakteri dalam
Marín et al., 2011). Kontaminasi mikro- semen segar segera setelah koleksi. Tahap 2,
organisme juga dapat terjadi selama pengolahan dilakukan identifikasi bakteri pada pengencer
semen menjadi semen beku. Semen beku yang yang digunakan untuk pembekuan semen.
digunakan untuk IB apabila terkontaminasi oleh Tahap 3, dilakukan identifikasi bakteri dalam
mikroorganisme dalam jumlah di atas 5 000 semen beku. Koleksi semen dilakukan pada
colony form unit (cfu) per mililiter dapat lima ekor pejantan sapi FH di BIB Lembang,
menyebabkan penurunan angka kebuntingan Bandung, Jawa Barat . Semen dikoleksi dengan
dan penyebaran penyakit pada sapi betina vagina buatan yang telah disterilkan dan sapi
(Thibier dan Guerin, 2000). Beberapa bakteri pejantan digunakan sebagai teaser (pengusik).
yang umum ditemukan pada semen sapi yaitu Prosedur koleksi semen dilakukan sesuai
Escherichia, Staphylococcus, Campylobacter, standard operating procedure (SOP) BIB
Pseudomonas, Acinetobacter dan Citrobacter Lembang. Sampel semen yang dikoleksi, dari
(Shin et al., 1988; Abro et al., 2016). vagina buatan dimasukkan ke dalam tabung
Bakteri yang terkandung dalam semen steril, disimpan di dalam cold box suhu 4°C
dapat dikontrol dan dihambat pertumbuhannya kemudian dibawa ke laboratorium bakteriologi
dengan pemberian antibiotik (Gloria et al., Balai Besar Penelitian Veteriner (Bbalitvet)
2014). Antibiotik yang digunakan dalam Bogor untuk dilakukan isolasi, identifikasi dan
produksi semen beku di Balai Inseminasi Buatan penghitungan jumlah koloni bakteri.
(BIB) di seluruh Indonesia hingga saat ini adalah Isolasi, identifikasi dan penghitungan
kombinasi antibiotik penisilin dan streptomisin jumlah koloni bakteri dilakukan dengan
(PS). Banyak antibiotik yang telah diteliti baik mengacu pada SNI 2897: 2008. Sebanyak 200
dosis, metode pemberian, dan interaksinya μL sampel semen dimasukkan ke dalam media
dengan pengencer. Kombinasi antibiotik yang cair Brain Heart Infusion Broth (BHI) dan
lebih efisien telah dikembangkan oleh Shin et diinkubasikan pada suhu 37oC selama 24 jam,
al. (1988) yaitu gentamisin, tilosin, linkomisin, kemudian diinokulasikan pada permukaan
dan spektinomisin (GTLS) yang telah digunakan media selektif Mac Conkey Agar (MCA) dan
secara luas di Amerika dan Eropa (Morrell dan Eosin Metylene Blue (EMB) agar untuk isolasi
Wallgren, 2014). Pengencer semen beku dan identifikasi bakteri Gram negatif, sedangkan
komersial yang beredar luas di berbagai negara media Blood Agar (BA) untuk bakteri gram
telah menggunakan jenis antibiotik GTLS. positif. Media selektif agar yang telah diinokulasi

141
selanjutnya diinkubasikan pada suhu 37°C Tahap ketiga dilakukan untuk identifikasi
selama 24-48 jam dengan posisi cawan Petri bakteri dalam semen beku dan untuk melihat
terbalik. Isolasi dan identifikasi Campylobacter efektivitas antibiotik terhadap pertumbuhan
sp. dilakukan dengan memasukkan 200 μL bakteri dalam semen. Koleksi semen dilakukan
sampel semen ke dalam media cair Nutrient seperti pada tahap satu dari penelitian. Semen
Broth No. 2 (NB No. 2, Oxoid) yang telah yang dikoleksi segera diamati sesuai SOP di BIB
ditambahkan growth supplement (Oxoid SR Lembang. Pengamatan dilakukan secara
232E), kemudian diinkubasikan pada suhu 42oC makroskopik dan mikroskopik. Pengamatan
dalam kondisi mikroaerofilik (5% O2, 10% CO2, makroskopik meliputi volume, warna,
85% N2). Inkubasi dilakukan menggunakan jar konsistensi, dan pH. Pengamatan mikroskopik
yang telah diisi CampyGen (Oxoid). Selanjutnya yaitu gerakan massa, persentase spermatozoa
kultur diinokulasikan pada media CCDA yang motil (%), dan konsentrasi spermatozoa (juta mL-
mengandung CCDA selective supplement (Oxoid 1
). Semen selanjutnya dibagi tiga, masing-
SR 155E) dan diinukasikan kembali pada suhu masing diencer dengan pengencer skim kuning
42o C pada kondisi mikroaerofilik seperti telur sesuai dengan tahap kedua. Semen yang
tersebut selama 24-48 jam. Identifikasi bakteri sudah dicampurkan ke dalam bahan pengencer,
dari media agar selektif (MCA, BA, EMB dan dikemas dalam straw 0,25 mL (Minitube
CCDA) dilakukan dengan uji motilitas, Jerman) menggunakan mesin otomatis (Combo
pewarnaan Gram, uji katalase dan oksidase, uji System Minitube Jerman) dengan konsentrasi
terhadap gula-gula. 25 × 106 spermatozoa per straw. Semen dalam
Penghitungan jumlah bakteri dilakukan straw diekuilibrasi pada suhu 4 °C selama 4 jam.
dengan cara sebanyak 200 μL sampel semen Pembekuan semen dilakukan menggunakan
dimasukkan ke dalam buffer saline dan mesin otomatis (Digit Cool 5300 ZB 250 IMV
dilakukan pengenceran secara bertingkat. Prancis) selama 9 menit. Mesin diprogram
Selanjutnya sebanyak 100 μL dimasukkan ke dengan laju penurunan 3 °C per menit dari suhu
dalam cawan Petri steril kemudian +4 °C ke -10 °C, 40 °C per menit dari suhu -10
ditambahkan media plate count agar (PCA) °C ke -100 °C dan 20 °C per menit dari suhu -
sebanyak 15 mL yang telah dihangatkan pada 100 °C ke -140 °C. Semen yang telah dibekukan
suhu 44±2°C kemudian dihomogenkan dan dimasukkan ke dalam N2 cair suhu -196 °C
disimpan pada suhu ruang hingga agar dalam kontainer N2 cair.
memadat. Setelah agar memadat, cawan Petri Sampel semen beku dibawa ke labo-
yang telah berisi inoculum diinkubasikan pada ratorium bakteriologi BBLITVET Bogor untuk
suhu 37°C selama 24 jam. Kemudian jumlah dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri. Straw
koloni bakteri yang tumbuh dihitung. di-thawing pada suhu 37oC, selama 30 detik.
Tahap kedua dari penelitian ini adalah Isolasi, identifikasi, dan penghitungan jumlah
isolasi dan identifikasi bakteri dalam pengencer koloni bakteri pada semen beku dilakukan sama
sebelum digunakan. Pengencer yang digunakan dengan tahap pertama. Data jenis dan jumlah
dalam penelitian ini adalah pengencer skim bakteri yang diperoleh disajikan secara
kuning telur yang rutin digunakan di Balai IB deskriptif.
Lembang, yaitu pengencer. Pengencer semen
tersebut kemudian dibagi dalam tiga kelompok HASIL DAN PEMBAHASAN
(Tabel 1) yaitu; kelompok P-AB (-) pengencer
tanpa antibiotik, P-AB (PS) dengan kombinasi Hasil pemeriksaan sampel yang dilakukan,
antibiotik penisilin dan streptomisin, dan tidak ditemukan bakteri E. coli, Pseudomonas,
kelompok P-AB (GTLS) dengan kombinasi Stapylococcus, Streptococcus, dan Camphy-
antibiotik gentamisin, tilosin, linkomisin dan lobacter pada semen segar. Bakteri Klebsiella
spektinomisin menggunakan metode BIB sp. ditemukan tumbuh pada MCA. Bakteri
Lembang dan Shin et al. (1988). Sebanyak lima Micrococcus sp. dan Pediococcus sp. ditemukan
mililiter dari masing-masing pengencer pada media BA. Jumlah koloni bakteri atau
kemudian disimpan di dalam cold box (suhu 4 total plate count (TPC) pada kelima semen segar,
°C) dan dibawa ke laboratorium bakteriologi paling tinggi ditemukan pada semen segar dari
BBLITVET Bogor untuk diproses lebih lanjut. sapi no. 1 sebanyak 1,04 × 102 colony form unit
Isolasi, identifikasi, dan penghitungan jumlah (cfu)/mL. Bakteri Klebsiella sp., Micrococcus
koloni bakteri pada pengencer dilakukan sama sp., dan Pediococcus sp., ditemukan pada sapi
dengan tahap pertama. no. 1 tersebut. Sebanyak 8.00 × 101 cfu/mL koloni

142
bakteri ditemukan pada sapi no. 2. Dua ekor oksidase negatif diidentifikasikan sebagai
sapi yaitu no. 3 dan 5 memiliki jumlah bakteri bakteri Pediococcus sp. (Cowan et al., 1993).
yang sama yaitu 1.00 × 101 cfu/mL, namun A Bakteri Klebsiella sp. merupakan bakteri
memiliki jenis bakteri yang berbeda, masing- yang umum ditemukan di lingkungan, air,
masing sampel ditemukan bakteri Micrococcus tanah, dan tanaman. Bakteri Klebsiella sp. pada
sp., dan Pediococcus sp.. Semen segar dari sapi hewan, dapat menyerang tubuh ketika kondisi
no. 4 tidak ditemukan koloni bakteri yang pertahanan tubuh menurun. Bakteri Klebsiella
tumbuh. sp. pada semen merupakan bacteriospermia
Informasi mengenai bakteri dalam semen yang dapat memengaruhi kualitas semen
hewan ternak di Indonesia masih terbatas. (Ibadin dan Ibeh 2008). Bakteri Micrococcus
Publikasi mengenai keberadaan bakteri di sp. merupakan bakteri yang mirip dengan
dalam semen pernah dilaporkan tahun 1985 oleh staphylococci dan mudah ditemukan pada
Poeloengan (1985). Sebanyak 11 bakteri lingkungan dan jarang berhubungan dengan
dilaporkan dalam publikasi tersebut yaitu penyakit. Brown et al. (1974) juga melaporkan
Staphylococcus epidermidis, Staphylococcus di dalam penelitiannya telah ditemukan bakteri
aureus, Nocardia, Acinetobacter, Alkaligenes, Micrococcus sp. di dalam semen segar sapi.
Citrobacter, Pseudomonas, Crhomobacterium, Andrabi et al. (2016) melaporkan terdapat
Micrococcus, Corynebacterium, dan Proteus. bakteri Micrococcus sp. di dalam semen segar
Peraturan Menteri Pertanian Republik kerbau. Pediococcus sp. pada ternak merupakan
Indonesia Nomor 10/Permentan/PK.210/3/2016 microbial flora normal dan dapat ditemukan di
(Kementan 2016), tentang Penyediaan dan dalam feses (Fuquay et al. 2011).
Peredaran Semen Beku Ternak Ruminansia Jumlah koloni bakteri yang didapatkan
disebutkan bahwa semen beku ternak dalam penelitian ini jumlah yang paling tinggi
ruminansia yang diedarkan harus memenuhi sebesar 1,04 × 102 cfu/mL. Poeloengan (1985)
persyaratan kesehatan hewan pejantan unggul melaporkan jumlah koloni bakteri semen segar
dan bebas penyakit anthraks, brucellosis sapi sebesar 1,00 × 102 sampai dengan 3,60 ×
(Brucella abortus), Bovine Viral Diarrhea (BVD), 105. Brown et al. (1974) melaporkan hasil
Septicaemia epizootical (haemorrhagic penelitiannya bahwa jumlah koloni bakteri
septicaemia), Infectious Bovine Rhinotracheitis, semen segar sapi FH adalah 2,00 × 102 sampai
Enzootic Bovine Leucosis (EBL), Bovine dengan 5,34 × 10 5 . Sannat et al. (2015)
Tuberculosis, Paratuberculosis, Leptospirosis, melaporkan bahwa jumlah koloni bakteri pada
Camphylobacteriosis, Trichomoniasis, dan semen segar sapi yaitu sebesar 2,36 × 104 cfu/
penyakit jembrana untuk sapi bali. mL. Sementara itu Patel et al. (2011)
Dalam penelitian ini tidak ditemukan melaporkan ditemukannya koloni bakteri pada
bakteri patogen di dalam semen segar. Hal ini semen sapi Guernsey, FH, dan Jersey masing-
karena manajemen kesehatan hewan dan masing 2,.6 × 105;, 1,.3 × 105, dan 5,.3 × 104 cfu/
produksi semen di Balai IB sudah baik, sehingga mL. Berbedanya jumlah koloni bakteri,
kondisi kesehatan sapi pejantan tetap kemungkinan dapat dipengaruhi oleh
terkontrol. Bakteri yang ditemukan dalam lingkungan, kebersihan petugas dan alat koleksi
semen segar adalah bakteri yang umum semen yang digunakan serta dapat dipengaruhi
ditemukan pada lingkungan yang mungkin oleh breed (Patel et al., 2011). Perumal et al.
mencemari peralatan, dan atau proses (2013) menyatakan bahwa lubang preputium
penampungan sampai pembekuan semen. dapat menjadi sumber utama dari berbagai jenis
Bakteri Gram negatif dicirikan dengan bakteri yang berasal dari tanah, bedding, dan
koloni mukoid, berbentuk batang, tidak motil, feses.
begitu pula dalam Voges Proskaüer (VP) test Pengencer semen yang digunakan dalam
hasilnya negatif, katalase positif, oksidase penelitian ini adalah skim kuning telur.
negatif diidentifikasikan sebagai bakteri Pengencer dibagi tiga kelompok yaitu pengencer
Klebsiella sp. Bakteri Gram positif yang tanpa antibiotik (P-AB (-), pengencer dengan
berbentuk kokus, non motile, non sporing, menggunakan antibiotik penisilin dan
aerobik, katalase positif, oksidase positif streptomisin (P-AB (PS), dan pengencer dengan
diidentifikasikan sebagai bakteri Micrococcus menggunakan antibiotik gentamisin, tilosin,
sp., sedangkan yang berbentuk kokus yang linkomisin, dan spektinomisin P-AB (GTLS).
berpasangan dua atau empat, katalase positif, Ketiga kelompok pengencer semen ditanam pada
berbagai media agar untuk menumbuhkan

143
Tabel 1. Jenis dan dosis antibiotik dalam media pengencer

Kelompok Antibiotik Dosis


P-AB (-) P-AB (PS)* Tanpa antibiotikPenisilin (IU mL )-1
-1000
Streptomisin (mg mL-1) 1
P-AB (GTLS)** Gentamisin (μg mL-1) 500
Tilosin (μg mL-1) 100
Linkomisin (μg mL-1) 300
Spektinomisin (μg mL-1) 600

Keterangan: kelompok P-AB (-) pengencer tanpa antibiotik, P-AB (PS) dengan kombinasi antibiotik
penisilin dan streptomisin, dan kelompok P-AB (GTLS) dengan kombinasi antibiotik
gentamisin, tilosin, linkomisin dan spektinomisin. *BIB Lembang, ** Shin et al.
(1988)

Tabel 2. Jenis bakteri dan jumlah koloni bakteri di dalam pengencer

No Pengencer Jumlah bakteri (cfu/mL) Jenis bakteri


1 P-AB (-) 5,12 × 103 Enterobacter cloacae,
Pseudomonas diminuta dan
Serratia plymutica
2 P-AB (PS) 1,22 × 103 Serratia plymutica
3 P-AB (GTLS) 8,30 × 102 Enterobacter cloacae

Keterangan:P-AB (-) = Pengencer tanpa antibiotik, P-AB (PS) = Pengencer dengan antibiotik penisilin
dan streptomisin, P-AB (GTLS) = Pengencer dengan antibiotik gentamisin, tilosin,
linkomisin, dan spektinomisin

Tabel 3. Jenis bakteri dan jumlah koloni bakteri di dalam semen beku

No Semen beku Jumlah bakteri (cfu/mL) Jenis bakteri (n sapi)


1 P-AB (-) 7.76 × 103 Enterobacter cloacae (4)
Serratia plymutica (1)
2 P-AB (PS) 7.10 × 102 Enterobacter cloacae (5)
3 P-AB (GTLS) 4.90 × 102 Enterobacter cloacae (5)

Keterangan: P-AB (-) = Pengencer tanpa antibiotik, P-AB (PS) = Pengencer dengan antibiotik
penisilin dan streptomisin, P-AB (GTLS) = Pengencer dengan antibiotik gentamisin,
tilosin, linkomisin, dan spektinomisin

bakteri E. coli, Pseudomonas, Stapylococcus, diketahui jumlah koloni bakteri dalam


Streptococcus, dan Camphylobacter. Bakteri pengencer. Jumlah koloni bakteri pada
yang ditemukan adalah Pseudomonas, namun pengencer P-AB (-) yaitu sebanyak 5,12 × 103
empat bakteri lainnya tidak ditemukan. cfu/mL. Jumlah koloni pada pengencer P-AB
Ditemukan bakteri jenis lain yaitu bakteri (PS) ditemukan koloni sebanyak 1,22 × 103 cfu/
Enterobacter cloacae dan Serratia plymutica. mL, dan pengencer P-AB (GTLS) ditemukan
Pengencer P-AB (-) ditemukan adanya koloni sebanyak 8,30 × 102 cfu/mL. Pertum-
pertumbuhan bakteri Enterobacter cloacae, buhan jenis bakteri dan jumlah koloni bakteri
Pseudomonas diminuta dan Serratia plymutica. di dalam pengencer disajikan pada Tabel 2.
Pengencer P-AB (PS) hanya ditemukan bakteri Keberadaan bakteri pada pengencer semen
Serratia plymutica dan pada pengencer P-AB di Indonesia masih sulit ditemukan. Laporan
(GTLS) ditemukan bakteri Enterobacter Hoyos-Marulanda et al. (2017) pada pengencer
cloacae. Pengamatan terhadap media PCA semen sapi ditemukan berbagai jenis bakteri

144
seperti E. coli, Enterobacter aerogenes, Semen beku yang telah di-thawing
Staphylococcus aureus, Staphylococcus dilakukan uji identifikasi bakteri. Semen beku
warneri, Staphylococcus simulans, Staphy- ditanam di berbagai media agar seperti pada
lococcus sciuri, Staphylococcus capitis, tahap pertama. Hasil evaluasi bakteri pada
Rhizobium radiobacter, Enterococcus faecalis, semen beku, tidak ditemukan bakteri E. coli,
Leuconostoc mesenteroides ssp. cremoris, Pseudomonas, Stapylococcus, Streptococcus,
Sphigomonas paucimobilis, Aeromonas dan Camphylobacter, akan tetapi ditemukan
salmonicidae, Aerococcus viridans. bakteri jenis lain yaitu bakteri Enterobacter
Qadeer et al. (2013) meneliti bakteri dalam cloacae dan Serratia plymutica. Semen beku
pengencer Tris asam sitrat ditemukan jumlah dalam pengencer P-AB (-) memiliki jumlah
koloni bakteri sebanyak 3,00 × 103 sampai koloni bakteri 7,76 × 103 cfu/mL dan ditemukan
dengan 15,00 × 103 cfu/mL tanpa menyebutkan bakteri Enterobacter cloacae (ditemukan pada
jenis bakteri yang ditemukan di dalam pengencer empat ekor sapi) dan bakteri Serratia plymutica
tersebut. Meena et al. (2015) melaporkan dalam (ditemukan pada satu ekor sapi). Semen beku
pengencer Tris kuning telur memiliki jumlah dari pengencer P-AB (PS) memiliki jumlah
koloni bakteri dengan nilai rataan yaitu 3,80 × koloni bakteri 7,10 × 102 cfu/mL dan ditemukan
10 2 cfu/mL juga tidak menyebutkan jenis bakteri Enterobacter cloacae (ditemukan pada
bakteri yang ditemukan. Penelitian Akhter et lima ekor sapi). Selanjutnya kelompok semen
al. (2013) menggunakan PS dalam pengencer beku dari pengencer P-AB (GTLS) memiliki
Tris asam sitrat ditemukan jumlah koloni jumlah koloni bakteri sebanyak 4,90 × 102 cfu/
bakteri 7,00 × 102. Keberadaan bakteri di dalam mL dan ditemukan bakteri Enterobacter cloacae
pengencer semen bisa terjadi akibat kontaminasi (ditemukan pada lima ekor sapi). Hasil
saat proses pembuatan pengencer, karena dalam pertumbuhan jenis bakteri dan jumlah koloni
pengencer memiliki nutrisi bagi pertumbuhan bakteri di dalam pengencer disajikan pada Tabel
mikroorganisme (Morrel 2014). 3.
Bakteri enterobacter adalah bakteri Gram Najee et al., (2012) melaporkan telah
negatif, bentuk batang, motil, aerobik dan ditemukan bakteri Stenotrophomonas
anaerobik fakultatif, katalase positif, oksidase maltophilia dan Pseudomonas aeroginosa di
negatif, memecah fermentasi gula, memproduksi dalam semen beku sapi. Berbedanya jenis
gas, VP positif, gluconate positif, gelatin mencair bakteri yang ditemukan kemungkinan akibat
dengan perlahan, dan memproduksi ornithine pengaruh lingkungan dan peralatan yang
decarboxylase (Cowan et al., 1993). Kemudian digunakan dalam produksi semen beku. Patel
bakteri Pseudomonas merupakan Gram negatif, et al, (2012) melaporkan jumlah koloni bakteri
bentuk batang, motil (dengan flagella polar), semen beku sapi FH 1,62 × 102 cfu/mL. Namun,
aerobik, katalase positif, oksidase positif, pada penelitian Patel et al. (2011) pada sapi
memecah gula dengan oxidasi, fluorescent, crossbred ditemukan jumlah koloni bakteri
dapat mendifusi pigment kuning pada beberapa lebih tinggi yaitu sebesar 1,26 sampai dengan
spesies. Bakteri Serratia adalah bakteri Gram 5,90 × 104. Zampieri et al. (2013) melaporkan
negatif, bantuk batang, motil, aerobik dan bahwa ditemukan bakteri di dalam semen beku
anaerobik fakultatif, katalase positif, oxidase sapi yaitu Citrobacter freundii, Enterobacter
negatif, memecah fermentasi gula, sering spp. (kobei, asburiae, hormaechei), Steno-
menghasilkan gas pada beberapa spesies, trophomonas maltophilia, Enterococcus
umumnya VP positif, gluconate positif, beberapa faecium, Candida parapsilosis.
spesies menghasilkan ornithin decarboxylase, Penelitian ini menemukan penurunan
deoxyribonuclease positif, beberapa spesies jumlah bakteri pada semen beku yang
menghasilkan pigment merah saat tumbuh di menggunakan antibiotik kombinasi PS dengan
media (Cowan et al., 1993). Ketiga bakteri yang menggunakan antibiotik GTLS. Penggunaan
ditemukan merupakan tidak tergolong bakteri antibiotik GTLS menunjukkan jumlah bakteri
patogen dan banyak terdapat di lingkungan, yang lebih rendah dibandingkan dengan
kemungkinan bakteri yang ada di dalam kombinasi PS. Yániz et al. (2010) menyatakan
pengencer bersumber dari lingkungan dan alat bahwa PS yang digunakan dalam pengencer
yang digunakan pada saat pembuatan bahan semen pada beberapa bakteri telah mengalami
pengencer. resisten sebanyak 13%. Shin et al. (1988)
melaporkan bahwa antibiotik gentamisin,

145
linkomisin dan spektinomisin merupakan Akhter S, Ansari MS, Rakha BA, Andrabi
antibiotik broad spectrum dan lebih efektif SMH, Qadeer S, Iqbal R, Ullah N. 2013.
menghambat pertumbuhan bakteri Gram positif Efficiency of ciprofloxacin for bacterial
dan Gram negatif pada semen sapi. Keberadaan control, post-thaw quality, and In vivo
bakteri yang ada di dalam semen beku dapat fertility of buffalo spermatozoa. Therio-
disebabkan pada saat semen beku diproses, genology 80: 378-383
dikemas dan dibekukan (Andrabi et al., 2016). Andrabi SMH, Khan LA, Shahab M. 2016.
Beberapa bakteri dapat survive di dalam Isolation of bacteria in semen and evaluation
pembekuan dan mampu bertahan hidup dalam of antibiotics in extender for cryo-
penyimpanan pada suhu -196°C (Bielanski, 2012; preservation of buffalo (Bubalus bubalis) bull
Tedeschi dan De Paoli, 2011). spermatozoa. Andrologia 10: 1-9.
Bielanski A. 2012. A review of the risk of
SIMPULAN contamination of semen and embryos during
cryopreservation and measures to limit
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pada cross-contamination during banking to
semen segar, pengencer yang digunakan untuk prevent disease transmission in ET
pembekuan dan semen beku ditemukan bakteri practices. Theriogenology 77: 467-482.
yang umum terdapat pada lingkungan seperti Brown GV, Schollum LM, Jarvis BDW. 1974.
bakteri Klebsiella sp., Micrococcus sp., dan Microbiology of bovine semen and artificial
Pediococcus sp. Enterobacter cloacae, breeding practices under New Zealand
Pseudomonas diminuta dan Serratia conditions. NZ J Agric Res 17: 431-442.
Enterobacter cloacae dan Serratia plymutica. [BSN] Badan Standardisasi Nasional. 2017.
Antibiotik PS dan GTLS mempunyai efektifitas Semen Beku- Bagian 1: Sapi. Jakarta (ID):
yang sama dalam menghambat pertumbuhan BSN.
bakteri dan tidak memengaruhi kualitas semen. Cowan ST, Barrow GI, Steel KJ, Feltham RKA.
1993. Cowan and steel’s manual for the
SARAN identification of medical bacteria. (3rd ed.).
Cambridge UK: Cambridge University
Bakteri yang ditemukan pada penelitian ini Press.
merupakan bakteri yang umum ditemukan [DJPKH] Direktorat Jenderal Peternakan dan
pada lingkungan sehingga disarankan Kesehatan Hewan. 2015. Laporan Tahunan;
dilakukan penelitian lebih lanjut terkait Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan
identifikasi faktor faktor yang dapat Tahun 2014. Jakarta. Kementerian
menyebabkan keberadaan bakteri bakteri Pertanian Republik Indonesia.
tersebut selama produksi semen beku. Fuquay JW, Fox PF, McSweeney PL. 2011.
Encyclopedia of dairy sciences. Academic
UCAPAN TERIMA KASIH Press, UK.
Gloria A, Contri A, Wegher L, Vignola G,
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Dellamaria D, Carluccio A. 2014. The effects
Balai Inseminasi Buatan, Lembang, Balai Besar of antibiotic additions to extenders on fresh
Penelitian Veteriner, Bogor, dan Unit andfrozen–thawed bull semen. Anim Reprod
Reproduksi dan Rehabilitasi, Bagian Kebidanan Sci 150: 15-23.
dan Reproduksi, Departemen Klinik, Reproduksi González-Marín C, Roy R, Lüpez-Fernández C,
dan Patologi, Fakultas Kedokteran Hewan, Diez B, Carabaòo MJ, Fernández JL,
Institut Pertanian Bogor yang telah memberikan Kjelland ME, Moreno JF, Gosálvez J. 2011.
fasilitas selama penelitian ini dilaksanakan. Bacteria in bovine semen can increase sperm
DNA fragmentation rates: A kinetic
DAFTAR PUSTAKA experimental approach. Anim Reprod Sci
123: 139-148.
Abro SH, Abro R, Tunio MT, Rind R, Leghari Hoyos-Marulanda V, Goularte KL, Martins KR,
RA, Khatri P, Kamboh AA. 2016. Effect of Voloski F, Redü JFM, Duval EH, Vieira AD,
various antibiotics against the Mondadori RG, Lucia TJ. 2017. Bacterial
actinobacillus lignieresi, acinetobacter and resistance to antibiotics commonly included
citrobacter species isolated from the frozen in extenders for cryopreserved bull semen.
semen of cattle. Sindh Univ Res Jour (Sci Anim Reprod 14(1): 225.
Ser) 48(2): 353-358.
146
Ibadin OK, Ibeh IN. 2008. Bacteriospermia and Poeloengan M. 1985. Macam dan jumlah
sperm quality in infertile male patient at bakteria yang terdapat dalam semen
University of Benin Teaching Hospital, pejantan sapi Brahman di Lembang,
Nigeria. Malay J Microbiol 4: 65-67. Bandung. Media Peternakan 10(1): 12-19.
[Kementan] Kementerian Pertanian. 2016. Qadeer S, Batool A, Mehboob K, Ansari MS,
Peraturan Menteri Pertanian Republik Rakha BA, Andrabi SMH, Ullah N, Iqbal
Indonesia. Nomor 10/Permentan/Pk.210/3/ R, Akhter S. 2013. Comparison of traditional
2016 Tentang Penyediaan Dan Peredaran antibiotic streptomycin with neomycin,
Semen Beku Ternak Ruminansia. Republik polymyxin B, or colistin inextender for
Indonesia. buffalo (Bubalus bubalis) bull spermatozoa.
Martin LOM, Munoz EC, De Cupere F, Van J Appl Anim Res 41(3): 289-293.
Driessche E, Echemendia-Blanco D, Sannat C, Nair A, Sahu SB, Sahasrabudhe SA,
Rodríguez JMM, Beeckmans S. 2010. Kumar A, Gupta AK, Shende RK. 2015.
Bacterial contamination of boar semen affect Effect of species, breed, and age on bacterial
the litter size. Anim Reprod Sci 12: 95- load in bovine and bubaline semen. Vet
104. World 8(4): 461-466.
Meena GS, Raina VS, Gupta AK, Mohanty Shin SJ, Lein DH, Patten V, Ruhnke HL. 1988.
TK, Bhakat, Abdullah M, dan Bishist R. A new antibiotic combination for frozen
2015. Effect of preputial washing on bovine semen. 1. Control of Mycoplasmas,
bacterial load and preservability of semen Ureaplasmas, Campylobacter fetus subp.
in Murrah buffalo bulls, Vet World 8(6): venerealis and Haemophilus somnus.
798-803. Theriogenology 29(3): 577-591.
Moretti E, Capitani S, Figura N, Pammolli A, Tedeschi R, De Paoli P. 2011. Collection and
Grazia FM, Giannerini V, Collodel G. 2009. preservation of frozen microorganisms.
The presence of bacteria bacteria species in Methods Mol Biol 675: 313-326.
semen and sperm quality. J Assist Reprod Thieber M, Guerin B. 2000. Hygienic aspects of
Genet 26: 47-56. storage and use of semen for artificial
Morrell JM, Wallgren M. 2014. Alternatives to insemination. Anim Reprod Sci 62: 233-
antibiotics in semen extenders: a review. 251.
Pathogens 3: 934-946. Yániz JL, Marco-Aguado MA, Mateos JA,
Najee HB. Al-Shawii AM, Abd- Al Rahman LY. Santolaria P. 2010. Bacterial
2012. Bacterial Contamination of Imported contamination of ram semen, antibiotic
Bulls Frozen Semen. Al-Anbar J Vet Sci 5(1): sensitivities, and effects on sperm quality
54-62. during storage at 15 °C. Anim Reprod Sci
Patel DY, Patel RK. 2012. Estimation of 122: 142-149.
biochem-ical activities of microbial load Zampieri D, Santos VG, Braga PA, Ferreira CR,
isolated from the frozen semen of HF and Ballottin D, Tasic L, Basso AC, Sanches BV,
HF crossbred cattle bulls. Curr Trends Pontes JH, da Silva BP. 2013.
Biotechnol Pharm 6(3): 328 339. Microorganisms in cryopreserved semen
Patel HV, Patel RK, Chauhan JB. 2011. and culture media used in the in vitro
Biochemical properties of microbial load in production (IVP) of bovine embryos identified
frozen semen of cattle. Wayamba J Anim by matrix-assisted laser desorption
Sci 3: 117 121. ionization mass spectrometry (MALDI-MS).
Perumal P, Kumar KT, Srivastava SK. 2013. Theriogenology 80(4): 337-345.
Infectious causes of infertility in buffalo bull
(Bubalus bub alis). Buffalo Bull 32(2): 71
82.

147
148
149