Anda di halaman 1dari 60

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUM

SANITASI DI BANDAR UDARA, PELABUHAN,


STASIUN, DAN TERMINAL

OLEH
KELOMPOK 5

1. Shintia Febriani Safitri (1711211004)


2. Haqqi Ismah Latifah (1711211012)
3. Fajrice Febrila (1711211025)
4. Fauza El Izzati (1711211035)
5. Atika Zahira (1711211038)
6. Salsabila Syifa S (1711212006)
7. Annisa Fitri (1711212020)
8. Zilhasrati (1711212057)
9. Cynthia Cahya N (1711213007)

PROGRAM STUDI ILMU KESEHATAN MASYARAKAT


FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS ANDALAS
PADANG
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan
rahmat dan karunia-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang
berjudul “Sanitasi di Bandar Udara, Pelabuhan, Stasiun, dan Terminal” ini.
Penyusunan makalah ini ditujukan kepada Fakultas Kesehatan
Masyarakat sebagai pemenuhan syarat untuk menyelesaikan tugas makalah mata
kuliah Sanitasi Tempat-Tempat Umum. Penyusunan makalah ini dilaksanakan
atas kerja sama rekan kelompok serta bimbingan dari berbagai pihak. Terima
kasih kami ucapkan kepada dosen mata kuliah Sanitasi Tempat-Tempat Umum,
yang telah memberikan bimbingan materi dalam pembelajaran sehingga kami
dapat menyelesaikan makalah ini.
Kami menyadari makalah ini masih memiliki banyak kekurangan, oleh
karena itu, kami sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun agar
dapat mengoreksi kekurangan tersebut. Akhirnya kami berharap semoga makalah
ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Padang, 14 September 2019

Kelompok 5

1
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ 1

DAFTAR ISI ........................................................................................................... 2

BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 4

1.1 Latar Belakang ......................................................................................... 4

1.2 Rumusan Masalah .................................................................................... 5

1.3 Tujuan Penulisan ...................................................................................... 5

BAB II PEMBAHASAN ....................................................................................... 6

2.1 Sanitasi di Bandar Udara dan Pelabuhan ................................................. 6

2.1.1 Defenisi Bandar Udara dan Pelabuhan ............................................. 6

2.1.2 Peranan Bandara................................................................................ 6

2.1.3 Klasifikasi Bandara ........................................................................... 7

2.1.4 Tujuan Penyelenggaraan Sanitasi Bandara dan Pelabuhan ............... 7

2.1.5 Forum Pelabuhan Sehat dan Bandara Sehat...................................... 7

2.1.6 Lingkup Kegiatan STTU Pelabuhan dan Bandara .......................... 11

2.1.7 Kriteria dan Indikator STTU Pelabuhan dan Bandara .................... 12

2.2 Sanitasi di Stasiun .................................................................................. 23

2.2.1 Komponen Sanitasi Stasiun Kereta Api .......................................... 23

2.2.2 Peraturan Pedoman Instrumen Sanitasi Stasiun Kereta Api ........... 25

2.3 Sanitasi di Terminal................................................................................ 26

2.3.1 Pengertian Terminal ........................................................................ 26

2.3.2 Kategori Terminal ........................................................................... 27

2.3.3 Komponen dan Kriteria Sanitasi yang Baik di Terminal ................ 30

2
BAB III PENUTUP ............................................................................................. 37

3.1 Kesimpulan ............................................................................................. 37

3.2 Saran ....................................................................................................... 38

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................... 39

LAMPIRAN .......................................................................................................... 40

3
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pada zaman modern ini dengan alat angkut yang serba mesin, maka jarak
antara tempat yang satu dengan yang lainnya ataupun dari satu daerah ke daerah
yang lainnya tidak menjadi masalah yang berat lagi. Karena telah tersedia alat
tranportasi yang mampu berhubungan satu tempat ketempat yang lain dengan
cepat. Dalam rangka upaya peningkatan kesejahteraan rakyat dibidang ekonomi,
maka sejak perintah pertama pemerintah memprioritaskan pembangunan jaringan
sarana perhubungan baik darat, laut maupun udara. Dengan tersedianya sarana
angkutan umum tersebut. Maka arus barang maupun penumpang sangat
meningkat sehingga saat ini hanya tinggal sebagian kecil wilayah indonesia yang
masih menganggap kendaraan perhubungan sebagai penghambat.
Disamping hal yang menggembirakan itu, kemudahan dalam transportasi
dapat pula menimbulkan akibat sampingan berupa lebih mudahnya penyebaran
beberapa penyakit dari satu daerah ke daerah lainnya dan kemungkinan terjadinya
kecelakaan semakin besar (Persilia, 2011). Angkutan berarti pemindahan orang
dan atau barang dari satu titik ke titik lain dengan menggunakan kendaraan.
Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk
dipergunakan oleh umum dengan dipungut bayaran.
Pengertian ‘angkutan umum’ sendiri sebenarnya tidak terdapat dalam
perundang-undangan di Indonesia, karena yang dikenal adalah angkutan
penumpang umum. Stigma angkutan umum tidak terlepas dari definisi global
public transport atau kegiatan pengangkutan yang melayani publik atau
masyarakat umum (Winarso, 2010). Mencegah penularan penyakit dan terjdinya
kecelakaan di tempat-tempat angkutan umum, maka sarana tempat-tempat
angkutan umum wajib memenuhi syarat syarat undang-undang No.11 tahun 1962
tentang hygiene untuk usahausaha bagi umum.

4
1.2 Rumusan Masalah
1. Bagaimana sanitasi di Bandar Udara?
2. Bagaimana sanitasi di Pelabuhan?
3. Bagaimana sanitasi di Stasiun?
4. Bagaimana sanitasi di Terminal?

1.3 Tujuan Penulisan


1. Untuk mengetahui sanitasi di Bandar Udara.
2. Untuk mengetahui sanitasi di Pelabuhan.
3. Untuk mengetahui sanitasi di Stasiun.
4. Untuk mengetahui sanitasi di Terminal.

5
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Sanitasi di Bandar Udara dan Pelabuhan


2.1.1 Definisi Bandar Udara dan Pelabuhan
Bandara Udara adalah suatu tempat termasuk fasilitasnya, dimana umum
berkumpul untuk menunggu, naik/turun kapal/ pesawat udara. Bandar Udara atau
Bandara adalah kawasan di daratan dan/atau perairan dengan batas-batas tertentu
yang digunakan sebagai tempat pesawat untuk mendarat dan lepas landas, naik
turun penumpang, bongkar muat barang, dan tempat perpindahan intra dan antar
moda transportasi, yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan
penerbangan, serta fasilitas pokok, dan fasilitas penunjang lainnya.
Pelabuhan adalah tempat yang terdiri atas daratan dan/atau perairan dengan
batas-batas tertentu sebagai tempat kegiatan pemerintahan dan kegiatan
pengusahaan yang dipergunakan sebagai tempat kapal bersandar, naik turun
penumpang, dan/atau bongkar muat barang, berupa terminal dan tempat berlabuh
kapal yang dilengkapi dengan fasilitas keselamatan dan keamanan pelayaran dan
kegiatan penunjang pelabuhan serta sebagai tempat perpindahan intra dan
antarmoda transportasi.

2.1.2 Peranan Bandara


Peranan Bandar Udara antara lain yaitu :
1) Simpul dalam jaringan transportasi udara
2) Pintu gerbang kegiatan perekonomian
3) Tempat kegiatan alih moda transportasi
4) Pendorong dan penunjang kegiatan industri, perdagangan dan/atau pariwisata
5) Pembuka isolasi daerah
6) Pengembangan daerah perbatasan
7) Penanganan bencana

6
2.1.3 Klasifikasi Bandara
Berdasarkan kepentingan pelayanannya, bandara dibedakan menjadi 2
yaitu :
1. Bandar udara umum yaitu bandar udara yang dipergunakan untuk melayani
kepentingan umum.
2. Bandar udara khusus bandar udara yang hanya digunakan untuk melayani
kepentingan sendiri untuk menunjang kegiatan usaha pokoknya.

Berdasarkan rute penerbangan yang dilayani maka bandar udara dibagi


menjadi 2 yaitu:
1. Bandar Udara Domestik adalah bandar udara yang ditetapkan sebagai bandar
udara yang melayani rute penerbangan dalam negeri.
2. Bandar Udara Internasional adalah bandar udara yang ditetapkan sebagai
bandar udara yang melayani rute penerbangnan dalam negeri dan rute
penerbangan dari dan ke luar negeri.

2.1.4 Tujuan Penyelenggaraan Sanitasi Bandara dan Pelabuhan


Penyelenggaraan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat bertujuan untuk:
1. Mewujudkan wilayah Pelabuhan dan Bandar Udara yang tidak menimbulkan
risiko kesehatan masyarakat; dan
2. Mewujudkan kondisi wilayah Pelabuhan atau Bandar Udara yang bersih,
aman, nyaman, dan sehat untuk komunitas pekerja serta masyarakat
Pelabuhan dan Bandar Udara dalam melaksanakan aktifitasnya.

2.1.5 Forum Pelabuhan Sehat dan Bandara Sehat


Dalam proses mewujudkan Bandar udara dan Pelabuhan Sehat perlu
dibentuk forum yang dimaksudkan untuk :
a) Menjadi wadah untuk berbagi pengalaman seputar upaya menjadikan
pelabuhan dan bandar udara sehat;
b) Menjadi wadah berdiskusi tentang masalah, aspirasi masyarakat dan mencari
solusi guna mencapai Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat; dan
c) Menyatukan pemikiran dan langkah semua instansi dan elemen masyarakat
menuju Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat.

7
Forum Pelabuhan Sehat atau Bandar Udara Sehat beranggotakan berbagai
instansi terkait dan pelaku usaha serta perwakilan masyarakat atau asosiasi
kemasyarakatan yang ada di Pelabuhan atau Bandar Udara. Forum bertanggung
jawab kepada Otoritas masing-masing. Apabila di Pelabuhan atau Bandar Udara
sudah mempunyai forum yang mempunyai tujuan dan misi selaras dengan tujuan
Pelabuhan atau Bandar Udara Sehat maka perlu mengoptimalkan forum tersebut.
Forum perlu memiliki nama, tujuan, visi dan misi, serta program yang
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan masing-masing untuk mencapai
Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat. Dalam menyelenggarakan pelabuhan atau
Bandar udara sehat maka forum perlu:
a) Membuat komitmen/kesepakatan bersama antar instansi anggota forum;
b) Menyusun rencana kerja yang menjadi acuan bagi anggota forum;
c) Mengadakan pertemuan secara berkala;
d) Melaksanakan pemantauan kegiatan instansi, pelaku usaha dan masyarakat;
dan
e) Melakukan penilaian sendiri (self asessment).

Penilaian sendiri (Self Assessment) oleh forum dilakukan terhadap kondisi


lingkungan yang mencakup permasalahan kebersihan, keamanan, kenyamanan
dan meniadakan faktor risiko kesehatan masyarakat. Kegiatan self assessment
dapat dilaksanakan pada awal tahun atau sesuai dengan kesepakatan para anggota
forum.
Penilaian sendiri (Self Assessment) dilaksanakan dengan menggunakan
contoh formulir terlampir. Berdasarkan hasil penilaian sendiri (Self Asessment),
forum menyampaikan laporan hasil kegiatan kepada Otoritas Pelabuhan atau
Bandar Udara, untuk selanjutnya dilaporkan kepada Menteri Kesehatan melalui
Direktur Jenderal.
Forum juga berperan sebagai fasilitator, motivator dan dinamisator instansi
dan komunitas yang ada di Pelabuhan atau Bandar Udara dalam melaksanakan
langkah-langkah yang diperlukan untuk mewujudkan Pelabuhan atau Bandar
Udara Sehat.

8
Langkah-langkah untuk mewujudkan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat yaitu :
a) Promosi, Sosialisasi dan Adokasi
Promosi Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat merupakan upaya untuk
memberitahukan atau menawarkan konsep Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat
dengan tujuan mengajak instansi dan masyarakat untuk mengerti dan
melaksanakan kegiatan sesuai kewenangan masing-masing untuk menciptakan
Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat.
Sosialisasi Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat merupakan proses penanaman
atau transfer nilai dan kriteria Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat oleh KKP dan
Forum Pelabuhan Sehat atau Forum Bandar Udara Sehat kepada instansi lainnya
di lingkungan Pelabuhan atau Bandar Udara. Dalam proses sosialisasi
disampaikan peran-peran yang harus dijalankan oleh instasi lain agar tercipta
Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat.
Advokasi Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat oleh forum dan KKP
merupakan upaya untuk mencapai tujuan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat
yang dilakukan secara sistematik dan terorganisir untuk mempengaruhi dan
mendesak terjadinya perubahan kebijakan secara bertahap dan maju, melalui
semua saluran yang ada dan forum yang dibentuk.

b) Rencana Kerja Forum


Setelah Forum Pelabuhan atau Bandar Udara Sehat terbentuk, disusun
rencana kerja yang sinkron dengan aktifitas di kawasan Pelabuhan atau Bandar
Udara yang bersangkutan serta disesuaikan dengan prioritas yang ingin dicapai
oleh masing-masing instansi Pelabuhan atau Bandar udara.
Perencanaan forum baik jangka pendek maupun jangka panjang mengacu
kegiatan yang sedang dan akan diprogramkan oleh masing-masing instansi
anggota dalam menuju Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat. Prioritas aktivitas
dalam mewujudkan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat adalah meningkatkan
kebersihan, keamanan, kenyamanan dan meniadakan faktor risiko kesehatan
masyarakat yang meliputi:
 Penyelenggaraan kesehatan lingkungan;

9
 Penataan sarana dan fasilitas;
 Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat;
 Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja; dan
 Peningkatan keamanan dan ketertiban.

c) Koordinasi Pelaksanaan
Koordinasi pelaksanaan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat dimaksudkan
untuk memadukan tujuan dan aktivitas dari unit-unit yang ada, supaya tujuan
secara keseluruhan dapat tercapai. Dalam pertemuan koordinasi yang
dilaksanakan forum dapat diperoleh persamaan sikap dan pandangan, persamaan
dalam mengatur waktu, mempererat hubungan antar manusia dan keselarasan. Di
samping itu masalah pencapaian sasaran, permasalahan yang timbul dan
pemecahan problem berkaitan dengan faktor diluar kemampuan instansi ataupun
badan usaha bisa dibahas dalam suatu koordinasi forum pelabuhan dan bandar
udara sehat.
Wilayah penyangga (Buffer Zone) Pelabuhan atau Bandar Udara adalah
wilayah yang mengelilingi atau berdampingan dengan Daerah Lingkungan Kerja
(DLKr) Pelabuhan atau Bandar Udara. Daerah Lingkungan Kerja Pelabuhan atau
Bandar Udara adalah wilayah perairan dan daratan pada Pelabuhan atau terminal
khusus yang digunakan secara langsung untuk kegiatan pelabuhan. Penyehatan
lingkungan wilayah ini dimaksudkan untuk melindungi area Pelabuhan atau
Bandar Udara dari dampak negatif kegiatan manusia di sekitarnya serta
melindungi masyarakat sekitar dari faktor risiko kesehatan masyarakat akibat
kegiatan Pelabuhan atau Bandar Udara.
Upaya kegiatan untuk mencapai Pelabuhan atau Bandar Udara Sehat
dilakukan pula di wilayah penyangga. Kegiatan penyehatan lingkungan di
wilayah penyangga dilakukan bersama antara pemerintah kabupaten/kota
setempat dengan otoritas Pelabuhan atau otoritas Bandar Udara serta forum.
Pengembangan Pelabuhan sehat ataupun Bandar Udara sehat perlu disinkronkan
dan diintegrasikan dengan pengembangan kabupaten/kota sehat di mana
Pelabuhan atau Bandar Udara berada untuk selanjutnya melakukan kerja sama.

10
d) Jejaring Informasi
Dalam mewujudkan Pelabuhan dan Bandar Udara sehat perlu dikembangkan
jejaring informasi antar pemangku kepentingan yang mencakup pertukaran
informasi, profil, tenaga ahli, dan hal-hal lain yang diperlukan oleh forum
Informasi yang diperlukan oleh forum dalam menyelenggarakan Pelabuhan
dan Bandar Udara Sehat mencakup teknologi, sarana dan prasarana, pembiayaan,
ketenagaan, program dan kegiatan guna mendukung kinerja forum yang
terintegrasi.

2.1.6 Lingkup Kegiatan STTU Pelabuhan dan Bandara


Kegiatan dalam mewujudkan Pelabuhan dan Bandar Udara Sehat adalah
meningkatkan kebersihan, keamanan, kenyamanan dan meniadakan faktor risiko
kesehatan masyarakat yang meliputi:
a) Penyelenggaraan kesehatan lingkungan
Merupakan kegiatan pengawasan pada penyelenggaraan kesehatan
lingkungan terhadap media lingkungan di kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara
yang terdiri dari air, udara, tanah, makanan dan vektor.

b) Penataan sarana dan fasilitas


Merupakan kegiatan pengawasan pada penataan sarana dan fasilitas di
kawasan Pelabuhan dan Bandar Udara yang terdiri dari sarana dan bangunan,
tempat parkir kendaraan, terminal peti kemas, fasilitas kesehatan, toilet, sarana
cuci tangan dan saluran drainase.

c) Peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat


Merupakan kegiatan pengawasan pada peningkatan Perilaku Hidup Bersih
dan Sehat (PHBS) yang terdiri dari gerakan kebersihan dan pencegahan penyakit,
pengawasan daerah bebas rokok dan gerakan olahraga.

d) Peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja


Merupakan kegiatan pengawasan pada peningkatan keselamatan dan
kesehatan kerja yang terdiri dari sanitasi kapal dan pesawat udara, kesehatan dan
keselamatan kerja serta kesiapsiagaan kesehatan darurat.

11
e) Peningkatan keamanan dan ketertiban
Merupakan kegiatan pengawasan pada peningkatan keamanan dan ketertiban
yang terdiri kegiatan upaya pencegahan kriminalitas.

2.1.7 Kriteria dan Indikator STTU Pelabuhan dan Bandara


Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44
Tahun 2014 Tentang Penyelenggaraan Pelabuhan Dan Bandar Udara Sehat,
Pelabuhan atau Bandar Udara dapat dinyatakan sebagai suatu Pelabuhan atau
Bandar Udara Sehat apabila memenuhi kriteria dan indikator. Aspek-aspek dalam
kriteria dan indikator tersebut adalah sebagai berikut:
I. Aspek Kegiatan
NO INDIKATOR UPAYA URAIAN
A PENYELENGGARAAN KESEHATAN LINGKUNGAN
Media
1 Air
Penyediaan air - Ketersedian air untuk semua
keperluan pelabuhan
- Kualitas syarat fisik, kimia
dan mikrobiologi air
- Kran air siap minum
Pengelolaan - Air limbah domestik dan
limbah cair industri diolah di instalasi
pengolahan limbah
- Saluran limbah cair yang
tertutup
- Ceceran minyak di kawasan
Pelabuhan/Bandar Udara
- Genangan air limbah
2 Udara
Kualitas udara - Kualitas udara di lingkungan

12
dan Pelabuhan/Bandar Udara
kebisingan - Kualitas kebisingan di
Lingkungan Pelabuhan / Bandar
Udara
- Program pemantauan
kualitas udara dan
kebisingan secara teratur
Penghijauan - Mempunyai ruang terbuka
hijau
- Penghijauan di lingkungan
kantor instansi
- Penghijauan di jalan umum
Kendaraan - Baku mutu emisi kendaraan
angkutan di bergerak
Pelabuhan/ - Kendaraan laik jalan/operasi
Bandar Udara
3 Tanah
Pengelolaan - Sampah di tempat umum
sampah - Pencemaran oleh Tempat
penampungan sampah
sementara
- Ketersediaan bak/tempat
sampah terpisah di kantor
instansi
- Pangkutan sampah keluar

Penyediaan - Sarana Penampungan


sarana Limbah B3
Penampungan - Kapasitas SPL B3
Limbah B3 - Pengangkutan Limbah B3

13
4 Makanan
Pengawasan - Sertifikasi/laik higiene dan
jasaboga, sanitasi
restoran dan
Tempat
Pengelolaan
Makanan (TPM)

5 Vektor
Pengendalian - Lingkungan
vektor dan Pelabuhan/Bandar Udara
binatang bebas dari tikus dan kecoa
penular - House Indeks A. Aegypty
penyakit - MHD (Man Hour Density)
jumlah Anopheles yang
ditangkap setiap jam
- Kepadatan lalat di Tempat
Penampungan Sampah
Sementara
B PENATAAN SARANA DAN FASILITAS
Pemilihan - Faktor risiko kesehatan
sarana dan masyarakat berkaitan
bangunan dengan kualitas debu total,
asbes bebas; dan timah
hitam
Parkir - Risiko kesehatan masyarakat
kendaraan
Terminal - Risiko kesehatan masyarakat
Petikemas
Penyediaan - Tersedia ruang khusus dan

14
Fasilitas kegiatan untuk promosi
untuk kesehatan
program -
program
promosi
kesehatan
dalam
rangka
perubahan
perilaku
hidup
bersih dan sehat
Sarana toilet - Jumlah toilet dan peturasan
dan peturasan - Kebersihan toilet dan
peturasan
- Pemisahan toilet laki-laki
dengan perempuan
- Kecukupan ketersediaan air
Sarana Cuci - Sarana cuci tangan di semua
Tangan toilet
- Air yang cukup dan
pengaliran
- Sabun di sarana cuci tangan
Saluran - Saluran drainase air hujan
drainase dan saluran air limbah
- Genangan air hujan di jalan
- Air di saluran drainase saat
tidak ada hujan
- Kelancaran aliran air di
saluran drainase

15
C PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN SEHAT
Gerakan - Gerakan membersihkan
kebersihan (PSN) lingkungan
dan Pelabuhan/Bandar Udara
pencegahan - Penyuluhan tatap muka
penyakit - Poster/ leflet berperilaku
bersih dan sehat
- Promosi lewat
pengumuman/running teks
Pengawasan - Kebijakan larangan merokok
daerah bebas di sembarang tempat
rokok - Ruangan khusus untuk
merokok
- Iklan rokok
- Himbauan larangan merokok
Gerakan olah - Senam secara rutin di
raga perkantoran
- Lapangan olah raga
D PENINGKATAN KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
Pengawasan -Pemeriksaan sanitasi
sanitasi kapal kapal/pesawat
dan pesawat -Saran tindak lanjut hasil
udara pemeriksaan
Pengawasan -Penggunaan APD (Alat
Keselamatan Pelindung Diri) oleh pekerja
dan kesehatan bongkar muat barang
Kerja
Melaksanakan -Prosedur respon cepat
kesiapsiagaan terhadap kebakaran dan
kesehatan kondisi kedaruratan lainnya

16
darurat -Peralatan pemadam
kebakaran
-Kesiapan melakukan
penanganan kekarantinaan
E PENINGKATAN KEAMANAN DAN KETERTIBAN
Pencegahan - Kejadian kriminalitas
Kriminalitas - Kesiapsiagaan petugas
- Pos dan petugas keamanan
dilengkapi CCTV
- Operasi narkoba/obat
berbahaya
II. Aspek Kelembagaan
A FORUM
Kelembagaan Legal aspek Adanya Forum dengan SK
Rencana kerja Adanya dokumen rencana kegiatan /
kerja 2 tahun terakhir
Kegiatan Adanya kegiatan rutin
umum (triwulan, bulanan, dll)
Pendanaan Adanya dukungan dana dari
pemerintah dan sumber lain
Aktivitas Jumlah anggota aktif
anggota
Kantor Adanya kantor untuk
sekretariat sekretariat
Kelompok Adanya anggota berasal dari
masyarakat/ kelompok masyarakat
kader

Adapun persyaratan sanitasi lainnya dalam pelaksanaan Penyehatan


Lingkungan Bandara Udara berdasarkan Kep. Menkes 288/Menkes/SK/III/2003

17
tentang Pedoman Penyehatan Sarana dan Bangunan Umum dan KMK No.
424/MENKES/SK/IV/2007 tentang Pedoman Upaya Kesehatan Pelabuhan dalam
rangka Karantina Kesehatan, adalah sebagai berikut :

1. Tempat sampah
Di dalam ruang tunggu harus tersedia tempat sampah minimal I buah pada
radius 10 meter. Tempat sampah tersebut harus terbuat dari bahan yang kuat,
kedap air, ringan dan dilengkapi penutup. Disekitar bandara (ruang terbuka)
harus tersedia dengan jumlah yang cukup minimal 1 buah dalam radius 20 meter.
Tempat sampah harus dalam keadaan baik, terbuat dari bahan yang kuat, anti
karat, ringan, mudah dibersihkan dan dilengkapi penutup.
Sampah padat airside merupakan sampah padat yang terkumpul di sisi
bandara seperti apron dan taxi-way. Ada 27 ton sampah padat dari area tersebut.
Sedangkan 20 ton sampah lainnya berasal dari landside bandara seperti area
kargo, check-in, boarding, tenant, serta lokasi parkir kendaraan.

2. Pencahayaan dan kebisingan ruang tunggu

Pencahayaan harus lebih dari 100 Lux (=100 Lux), udara ruangan tidak
berbau dan pengap, tingkat kebisingannya harus kurang dari 55 Dba (<55 dBA).

3. Penyediaan air bersih


Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat penting dalan proses penyehatan
bandara maka air harus tersedia dengan kapasitas yang cukup untuk setiap kegiatan
dan kualitas fisik air harus dalam keadaan baik. Kualitas air bersih di bandara di
periksa ke lab. secara periodik.

4. Toilet & IPAL


Ketersediaan toilet di bandara minimal 2 toilet dan keadaanya harus bersih,
tidak berbau serta dihubungkan dengan sistem pengolahan limbah/IPAL atau
septictank.

18
5. Bandara wajib AMDAL
Menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup Republik Indonesia
Nomor 05 Tahun 2012 Tentang Jenis Rencana Usaha Dan/Atau Kegiatan Yang
Wajib Memiliki Analisis Mengenai Dampak Lingkungan Hidup salah satunya
adalah Pembangunan Bandar Udara.

6. Eco- airport
Eco-Airport adalah suatu bandar udara dimana telah dilakukan pengukuran
terhadap seluruh komponan yang dapat atau berpotensi menimbulkan dampak
terhadap lingkungan untuk menciptakan lingkungan yang sehat di bandara dan
lingkungannya.
Di Indonesia dapat kita lihat di Soekarno-Hatta International Airport dimana
limbah padat maupun cair dari terminal domestik dan internasional diolah
sehingga menjadi air bersih yang dapat dipergunakan untuk keperluan bandara.
Sebagai contoh, saat ini air tersebut di gunakan setiap hari untuk penyiraman
lapangan Golf Sarwana. PT.(Persero) Angkasa Pura I Cabang Juanda
mencanangkan slogan “ Go to an Eco-Airport ”. Adapun kegiatan dalam eco
airport yaitu :

 Penanaman pohon di seluruh area bandara


 Proses daur ulang limbah padat sebelum dibakar di incinerator.
 Pengolahan limbah cair sebelum di alirkan ke sungai.
 Konservasi energi listrik/mekanikal.
 Konservasi energi untuk pendingin ruangan.
 Pembuatan noise contour map guna mengendalikan dampak kebisingan.

Siklus ini terus dilakukan tanpa henti (never ending process) untuk perbaikan
mutu lingkungan hidup di bandar udara.

7. Kebisingan
Menurut PP RI no. 40 tahun 2012 tentang pembangunan dan pelestarian
lingkungan hidup bandar udara, maka terkait kebisingan antara lain :

19
 Badan Usaha Bandar Udara atau Unit Penyelenggara Bandar Udara wajib
menjaga ambang batas kebisingan dan pencemaran lingkungan di Bandar
Udara dan sekitarnya sesuai dengan ambang batas dan baku mutu yang
ditetapkan Pemerintah.
 Ambang batas kebisingan sebagaimana dimaksud ditetapkan dalam tingkat
kebisingan di Bandar Udara dan sekitarnya.
 Tingkat kebisingan di Bandar Udara dan sekitarnya ditentukan dengan indeks
kebisingan WECPNL atau nilai ekuivalen tingkat kebisingan di suatu area
yang dapat diterima terus menerus selama suatu rentang waktu dengan
pembobotan tertentu.
 Tingkat kebisingan sebagaimana dimaksud terdiri atas:
a. Kawasan kebisingan tingkat I;
b. Kawasan kebisingan tingkat II; dan
c. Kawasan kebisingan tingkat III

1) Zona kebisingan disekitar pesawat


 Zone A : Daerah dengan tingkatan bising antara 150 dB. Zone ini jangan
dimasuki sama sekali.
 Zone B : Daerah dengan tingkatan bising antara 135 –150 dB. Di daerah ini
orang harus berusaha sesingkat mungkin dan harus memakai ear muff.
 Zone C : Daerah dengan tingkatan bising antara 115 –135 dB. Semua orang
yang bekerja di sini harus memakai ear muff. Bila hanya sebentar boleh
memakai ear plug.
 Zone D : Daerah dengan tingkatan bising antara 100 –115 dB. Mereka yang
bekerja di sini harus mekakai ear plug terus menerus.

2) Kebisingan pada tenaga kerja di bandara


Akibat bising yang paling penting adalah menurunnya pendengaran dan dapat
terjadi tuli permanen (sensoric deafness). Hampir 15% dari awak darat airline

20
mengalami gangguan ini secara tak langsung. Dalam hubungannya dengan
pesawat tersebut karyawan dibagi dalam golongan, yaitu :
a. Golongan I : Mereka yang bekerja dekat sekali dengan pesawat (kurang dari 8
meter) selama runs up.
b. Golongan II : Mereka yang relatif dekat (8 –50 m) pesawat, misalnya
maintenance personnel, starting crew, dan trouble line personnel.
c. Golongan lII : Mereka yang kadang-kadang harus bekerja tidak jauh dari
pesawat (50 –120 m), misalnya pramugari darat, personel kargo, dsb.

3) Hearing Consevation Program


Untuk mencegah/mengurangi akibat gangguan bising perlu dilakukan Hearing
Conservation Program, dengan cara :
a. Pemeriksaan audiometris secara berkala pada karyawan tersebut di atas.
b. Dilakukan usaha-usaha pencegahannya, di antaranya ialah memakai :
 Helmet : Dipakai bila bekerja dekat sekali dengan pesawat yang run-up.
Diperkirakan sebagian bising diserap oleh tulang-tulang kepala, jadi perlu
helmet.
 Ear muff : Dibuat dari plastik atau karet dengan ukuran small, medium
dan large.
 Golongan I memakai helmet dan ear plug.
 Golongan II memakai ear muff.
 Golongan III cukup memakai ear plug.

8. Sumber Pencemaran di Bandara


Menurut PP RI no. 40 tahun 2012 tentang pembangunan dan pelestarian
lingkungan hidup bandar udara:
Sumber pencemaran lingkungan di bandara (Pasal 38):

1. Emisi gas buang dan kebisingan pengoperasian pesawat udara;


2. Emisi gas buang dan kebisingan dari peralatan dan/atau kendaraan bermotor;

21
3. Air limbah yang ditimbulkan dari pembangunan, operasional dan perawatan
Bandar Udara dan pesawat udara;
4. Limbah padat yang ditimbulkan dari pembangunan, operasional dan
perawatan Bandar Udara dan pesawat udara; dan
5. Zat kimia yang ditimbulkan dari pembangunan, operasional dan perawatan
Bandar Udara dan pesawat udara.

 Batas emisi gas buang dan kebisingan pengoperasian pesawat udara dan emisi
gas buang dan kebisingan dari peralatan dan/atau kendaraan bermotor
sebagaimana dimaksud dalam, merupakan bagian persyaratan sertifikat
kelaikan pesawat udara dan peralatan dan/atau kendaraan bermotor yang
dioperasikan di Bandar Udara.
 Limbah dan zat kimia yang ditimbulkan dari pembangunan, operasional dan
perawatan Bandar Udara dan pesawat udara sebagaimana dimaksud harus
dikelola terlebih dahulu sebelum dibawa ke luar Bandar Udara sesuai
dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
 Badan Usaha Bandar Udara atau Unit Penyelenggara Bandar Udara
menyediakan tempat dan menetapkan prosedur pengelolaan limbah dan zat
kimia pengoperasian pesawat udara dan Bandar Udara.
 Untuk menjaga ambang batas kebisingan dan pencemaran lingkungan
sebagaimana dimaksud, Badan Usaha Bandar Udara atau Unit
Penyelenggara Bandar Udara dapat membatasi waktu dan frekuensi, atau
menolak pengoperasian pesawat udara.
 Untuk menjaga ambang batas kebisingan dan pencemaran lingkungan, Badan
Usaha Bandar Udara atau Unit Penyelenggara Bandar Udara wajib
melaksanakan pengelolaan dan pemantauan lingkungan.

9. Syarat Higiene Sanitasi Makanan di Bandara


a. Makanan dan minuman harus dalam keadaan segar dan bersih,
b. Penyajiannya terhindar dari pengotoran lalat dan serangga lainnya.

22
c. Tersedianya tempat penampungan sampah sementara yang tertutup,
kedap air dengan jumlah yang cukup.
d. Air yang digunakan harus memenuhi syarat.
e. Karyawan harus memperhatikan kesehatan dan kebersihan dirinya
f. Disekitar tempat berjualan harus selalu dalam keadaan bersih.

10. Syarat musholla di bandara


a. Air wudhu harus bersih.
b. Kebersihan ditempat berwudhu.
c. Tikar atau alat sembahyang yang digunakan harus senantiasa bersih.
d. Ruang tempat sembahyang harus dalam keadaan bersih.
e. Tersedia alat dan perlengkapan untuk P3.K.
f. Terdapat alat pemadam kebakaran

2.2 Sanitasi di Stasiun


Stasiun kereta api adalah suatu tempat (termasuk fasilitasnya) yang
didatangi oleh masyarakat untuk menunggu, naik, dan turun dari kereta api.
Stasiun kereta api sangat penting keberadaannya bagi masyarakat karena
termasuk akses untuk sarana transportasi/perhubungan (walaupun hanya
untuk transit).
Menurut Peraturan Menteri Perhubungan Nomor : PM 9 tahun 2011
yang disebut dengan stasiun kereta api yaitu tempat pemberangkatan dan
pemberhentian kereta api. Oleh karenanya, sanitasi dan kebersihannya
harus selalu diupayakan.

2.2.1 Komponen Sanitasi Stasiun Kereta Api


Persyaratan yang harus dipenuhi berkaitan dengan sanitasi stasiun
kereta api, antara lain :
1) Bagian luar (lingkungan)
a. Tempat parkir
Terdapat tempat parkir kendaraan yang bersih

23
b. Penghijauan
Terdapat minimal satu pohon perindang, tanaman perdu, semak, dan rumput.
2) Bagian dalam
a. Ruang tunggu
 Ruangan bersih
 Tempat duduk bersih
 Lantai terbuat dari bahan kedap air, tidak licin, dan mudah dibersihkan
b. Peron
c. Kantor administrasi
d. Ruang ibadah
e. Ruangan ibu menyusui
f. Ruangan Bebas Merokok
g. Pertokoan
3) Sarana sanitasi
a. Toilet/WC
 Digunakan jamban tipe leher angsa
 Jamban untuk pria harus terpisah dengan jamban untuk wanita
 Jumlah jamban 1 buah untuk setiap 1 – 250 pengunjung pada suatu saat,
dengan jumlah minimal 2 buah
 Stasiun dengan kapasitas minimal 250 pengunjung harus memiliki 1
urinoir
b. Tempat cuci tangan
 Tersedia minimal 1 buah tempat cuci tangan untuk umum yang
dilengkapi dengan sabun dan serbet
c. Instalasi air bersih
 Sistem air bersih dipasang dengan mempertimbangkan sumber air
bersih,
 Kualitas air bersih, sistem distribusi dan penampungannya;
 Komponen dan peralatan air bersih sesuai ketentuan di bidang gedung
dan bangunan.

24
d. SPAL
 Memiliki sistem pembuangan yang baik, terhubung dengan saluran
umum atau septic tank tersendiri (untuk pembuangan air kotor)
e. Manajemen sampah
 Tersedianya tempat sampah yang tertutup dan kedap air
 Adanya sistem pembuangan sampah oleh petugas terkait secara rutin
4) Kesehatan dan keselamatan kerja
a. Ruang kesehatan
Tersedianya ruang kesehatan beserta tenaga medis/paramedis
b. Kotak P3K
Tersedia minimal 1 kotak P3K yang berisi obat-obatan lengkap untuk P3K
c. Instalasi pemadam kebakaran
 Tersedianya alat pemadam kebakaran yang dapat dilihat dan dicapai
dengan mudah oleh umum
 Terdapat SOP penggunaan alat PMK
d. Instalasi listrik
Terdapat instalasi listrik yang tertutup dan terdapat tanda bahaya
5) Penerangan
Di setiap ruangan dan tempat tertentu (area parkir, pintu keluar-masuk) harus
diberi penerangan yang cukup
6) Sirkulasi udara
Terdapat sarana sirkulasi udara (alami maupun buatan)
7) Media informasi
a. Papan informasi
b. Pengeras suara

2.2.2 Peraturan Pedoman Instrumen Sanitasi Stasiun Kereta Api


Identifikasi dalam penentuan komponen sanitasi stasiun kereta api
berlandaskan kepada :
1. Peraturan Menteri Perhubungan (PMP No. 29/ Tahun 2011 tentang
persyaratan teknis bangunan stasiun kereta api)

25
2. PMP No. 33/ Tahun 2011 tentang Jenis, Kelas, dan Kegiatan di Stasiun Kereta
Api
3. Peraturan Pemeritah Republik Indonesia (PPRI No. 56/ Tahun 2009 tentang
penyeleng-garaan perkeretaapian)
4. PPRI No. 69 Tahun 1998 tentang Prasarana dan Sarana Kereta Api
5. Keputusan Menteri Kesehatan RI nomor 852/MENKES/SK/IX/2008 tentang
strategi nasional sanitasi total berbasis masyarakat
6. Peraturan Menteri Perhubungan Nomor: PM 9 Tahun 2011 tentang standar
pelayanan minimum untuk angkutan orang dengan kereta api
7. Keputusan Menteri Kesehatan RINomor 288/MENKES/SK/III/2008 tentang
pedoman penyehatan sarana dan bangunan umum
8. Pedoman Umum Hygiene Sarana dan Bangunan Umum
9. Peraturan Menteri Perhubungan RI Nomor: PM 91 Tahun 2011 tentang
penyelenggaraan perkeretaapian khusus
10. Permen LH No.7 Tahun 2011
11. UU No.18 Tahun 2008 Tentang pengelolaan sampah

2.3 Sanitasi di Terminal


2.3.1 Pengertian Terminal
Terdapat beberapa terminologi tentang terminal. Berdasarkan Undang-
Undang No. 14 Tahun 1992 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, terminal
merupakan prasarana transportasi jalan untuk barang serta mengatur
kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu wujud
simpul jaringan transportasi. Berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 41 Tahun
1993 Tentang angkutan jalan umum, terminal adalah sarana transportasi untuk
keperluan memuat dan menurunkan orang atau barang serta mengatur
kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum yang merupakan satu simpul
jaringan transportasi.
Berdasarakan kedua terminologi diatas, terminal adalah prasarana
transportasi jalan untuk keperluan memuat dan menurunkan orang dan/atau
barang serta mengatur kedatangan dan pemberangkatan kendaraan umum, yang

26
merupakan salah satu wujud simpul jaringan transportasi (Kepmenhub
35/2003). Keberadaan terminal merupakan salah satu prasarana utama dalam
pelayanan angkutan umum. Keberadaan terminal berperan dalam menentukan
tingkat kinerja dari pelayanan angkutan umum dalam suatu wilayah (Menteri
Pekerjaan Umum, 2010).

2.3.2 Kategori Terminal


Terminal dipilah-pilah berdasarkan fungsi dan pelayanannya (PP No. 43
Tahun 1993) persyaratan tipe sebuah terminal yaitu:
1. Terminal Tipe A
Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar
provinsi dan/atau angkutan lintas batas negara, angkutan antar kota dalam
provinsi, angkutan kota dan angkutan pedesaan. Terminal tipe A merupakan
terminal penumpang yang memiliki fasilitas paling lengkap, disamping itu
pembangunannya membutuhkan lahan yang cukup luas sekurang-kurangnya 5
hektar.
Syarat lokasi terminal tipe A yaitu:
a. Terletak di ibu kota provinsi, kabupaten, dalam jaringan trayek antar kota
antar provinsi dan atau angkutan lintas batas negara.
b. Terletak antara dua terminal penumpang tipe A sekurang-kurangnya 20 km di
pulau Jawa, 30 km di pulau Sumatera dan 50 km di pulau lainnya.
c. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal
sekurang-kurangnya berjarak 100 meter di pulau Jawa dan 50 meter dipulau
lainnya.

2. Terminal Tipe B
Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota dalam
provinsi, angkutan kota dan/atau angkutan pedesaan. Terminal tipe B adalah
terminal penumpang yang berada setingkat di bawah terminal tipe A.
Pembangunan terminal tipe ini membutuhkan lahan sekurang-kurangnya 3 hektar
untuk terminal di pulau Jawa dan Sumatera dan 2 hektar di pulau lainnya.

27
Syarat lokasi terminal tipe B yaitu:
a. Terletak di ibu kota kabupataen atau kota dalam jaringan trayek antar kota
dalam provinsi.
b. Terletak di jalan kolekter dengan kelas jalan sekurang-kurangnya kelas III B.
c. Jarak antara dua terminal penumpang tipe B sekurang-kurnagnya 15 km
dipulau Jawa, 30 km di pulau lainnya.
d. Luas lahan yang tersedia sekurang-kurangnya 3 ha untuk terminal di pulau
Jawa dan Sumatra dan 2ha di pulau lainnya.
e. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal
sekurang-kurangnya berjarak 50 meter di Pulau Jawa dan 30 meter di pulau
lainnya.

3. Terminal Tipe C
Berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan pedesaan. Terminal
Tipe C adalah terminal penumpang yang berada setingkat dibawah terminal tipe
B.
Syarat lokasi terminal tipe C yaitu:
a. Terletak di dalam wilayah kabupaten dan dalam jaringan trayek angkutan
pedesaan.
b. Terletak dijalan kolektor atau lokal dengan kelas jalan paling tinggi III A.
c. Tersedia lahan yang sesuai dengan permintaan angkutan.
d. Mempunyai jalan akses masuk atau jalan keluar ke dan dari terminal. Sesuai
kebutuhan untuk kelancaran lalu lintas di sekitar terminal.

Terminal berdasar jumlah arus minimum kendaraan per satuan waktu.


1. Terminal tipe A: 50-100 kendaraan per jam.
2. Terminal tipe B: 25-50 kendaraan per jam
3. Terminal tipe C: < 25 kendaraan per jam.

28
Berdasarkan, Juknis LLAJ, 1995, Terminal dibedakan berdasarkan jenis
angkutan, menjadi:
1. Terminal Penumpang, adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan
menaikkan dan menurunkan penumpang, perpindahan intra dan/atau antar
moda transportasi serta pengaturan kedatangan dan pemberangkatan
kendaraan umum.
2. Terminal Barang, adalah prasarana transportasi jalan untuk keperluan
membongkar dan memuat barang serta perpindahan intra dan/atau antar moda
transportasi.

Berdasarkan keputusan Menteri No. 31 Tahun 1995 fasilitas terminal


penumpang harus dilengkapi dengan fasilitas utama dan fasilitas penunjang yang
terdiri atas:
a. Fasilitas Utama
1. Jalur pemberangkatan kendaraan umum.
2. Jalur kedatangan kendaraan umum.
3. Tempat parkir kendaraan umum selama menunggu keberangkatan termasuk
di dalamnya tempat tunggu dan tempat beristirahat kendaraan umum. (tidak
bersyaratkan bagi teminal tipe C).
4. Bangunan kantor terminal.
5. Tempat tunggu penumpang dan pengantar.
6. Menara pengawas (tidak disyaratkan bagi terminal tipe C).
7. Loket penjualan karcis (tidak disyaratkan bagi terminal tipe C).
8. Rambu-rambu dan papan informasi yang sekurang-kurangnya memuat
petunjuk jurusan, tarif dan jadwal perjalan.
9. Pelataran parkir kendaraan pengantar/taksi (tidak disyaratkan bagi terminal
tipe C).

b. Fasilitas Penunjang
1. Kamar kecil.
2. Mushola.
3. Kios/kantin.

29
4. Ruang pengobatan.
5. Ruang informasi dan pengaduan.
6. Telepon umum.
7. Tempat penitipan barang.
8. Taman.
Fasilitas teminal sebagaimana tersebut diatas harus dilengkapi dengan
fasilitas bagi penumpang penyandang cacat sesuai dengan kebutuhan.

2.3.3 Komponen dan Kriteria Sanitasi yang Baik di Terminal


Terminal adalah merupakan tempat-tempat umum, sehingga perlu
memenuhi syarat-syarat sanitasi tempat-tempat umum. Persyaratan minimal
sanitasi terminal yang perlu ditetapkan adalah sebagai berikut:
1. Letak Terminal
Menentukan letak untuk membangun terminal harus disesuaikan dengan
perencanaan tata kota
2. Bagian Luar Terminal
a. Tempat parkir
Persyaratan minimal hygiene sanitasi yang berlaku adalah sebagai berikut:
 Bersih dari sampah dan genangan – genangan air.
Tempat parkir yang bersih dari sampah dan genangan – genangan air akan
menguntungkan dari segi estetik dan kesehatan. Apabila tempat parkir kotor
dengan sampah –sampah dan genangan air, akan dapat menimbulkan kecelakaan
dan juga dapat menjadi sarang berbagai serangga dan tikus. Adanya genangan air
tersebut akan menciptakan tempat hidup dan berkembangnya nyamuk.
Sedangkan kita ketahui bahwa nyamuk merupakan serangga yang dapat
menyebarkan berbagai macam penyakit pada manusia seperti: malaria, demam
berdarah, penyakit kaki gajah dan sebagainya.

 Berlantai aspal dan beton.


Lantai aspal dan beton penting agar tempat tersebut tidak lekas rusak
sehingga tidak menimbulkan lubang – lubang yang dapat menjadi tempat
genangan – genangan air, juga agar menyenangkan bagi penumpang karena tidak

30
terjadi goncangan – goncangan kendaraan. Disamping itu, tempat parkir tidak
akan menjadi becek bila turun hujan, dan juga mudah dibersihkan dari sampah –
sampah yang mengotori tempat tersebut.

 Tersedia tanda – tanda yang jelas.


Adanya tanda – tanda akan memudahkan dalam pengaturan parkir kendaraan,
sehingga tidak terjadi kesemrawutan parkir kendaraan.

b. Pembuangan Sampah
 Tersedianya tong sampah di rempat-tempat tertentu yang mudah dijangakau
oleh setiap penumpang
 Tong sampah harus kedap air dan tertutup agar baunya tidak keluar dan tidak
merusak pemandangan atau estetika. Disamping itu bau tersebut bisa
mengundang kedatangan serangga dan tikus sebagai vektor penyakit menular.

c. Penerangan
 Penerangan di bagian luar bagunan terminal sangat lah penting. Khususnya
pada tempat parkir, pintu masuk dan pintu keluar terminal perlu di beri
penerangan yang cukup dan tidak menyilaukan. Sehingga hal – hal yang tidak
diinginkan seperti saling tabrakan/bersenggolan tidak terjadi.

3. Bagian Dalam Terminal


a. Ruang tunggu
Yang penting diperhatikan mengenai ruang tunggu terminal agar tidak
meninggalkan masalah – masalah kesehatan adalah:
 Lantai dibuat dari bahan kedap air dan tidak licin.
Hal tersebut dimaksudkan agar kotoran yang ada mudah dibersihkan juga
agar tidak membahayakan bagi orang karena kemungkinan terjadinya
kecelakaan akibat licinnyapermukaan lantai.
 Tempat duduk bersih
Tempat duduk tersebut jadi harus bebas dari kutu busuk akan membuat
orang senang mendudukinya karena orang tidak perlu cemas pakaiannya akan

31
kotor. Tempat duduk tersebut jadi harus bebas dari kutu busuk sebab orang
akan merasa terganggu dengan adanya gigitan kutu busuk.
 Ruang tunggu harus dan tersedia tempat – tempat sampah yang tertutup dan
kedap air.
Ruang tunggu yang bersih akan menyenangkan orang dan membuat orang
betah di tempat tersebut untuk menunggu keberangkatan dan kedatangan dari
terminal bus. Untuk itu perlu dijaga kebersihan dan perlu tersedia tempat
pengumpul sampah yang tertutup dan kedap air. Bila tempat tersebut tidak
bersih dan menimbulkan bau yang tidak sedap dapat menimbulkan
rangsangan pada penumpang untuk meludah/berdahak sembarangan di lantai.
Hal ini akan menyebabkan ruang tunggu tersebut akan menjadi kotor lagi.
Diantara mereka ini mungkin ada yang berpenyakit menular misalnya TBC
yang digilirannya akan dapat menular kepada orang lain. Disamping itu bau
tersebut bisa mengundang kedatangan serangga dan tikus sebagai vektor
penyakit menular.
 Penerangan yang cukup.
Di ruang tunggu terminal bus perlu diberi penerangan secukupnya
agar menerangi semua sudut ruang bagi orang – orang di tempat itu, sehingga
hal – hal yang tidak diinginkan seperti saling tabrakan/bersenggolan, barang –
barang tertukar, pencurian dan sebagainya tidak terjadi. Adapun penerangan
minimal yang disyaratkan adalah 5 foot candles.

b. Kantor dan Loket


Kantor merupakan tempat bekerja karyawan yang melakukan pekerjaan
ketata usahaan untuk pengelolaan terminal yang bersangkutan. Untuk itu perlu
dipenuhi syarat – syarat sanitasi yang berlaku. Adapun persyaratan minimal
hygiene sanitasi yang berlaku untuk kantor dan loket diterminal adalah:
 Keadaan bersih dan teratur.
Karena kantor merupakan tempat bekerja, maka kantor perlu dijaga
kebersihannya serta barang – barang seperti meja, kursi, lemari dan
sebagainya. Selain itu juga garus diatur dengan rapi. Hal ini disamping

32
memberikan pemandangan yang menyenangkan, juga dapat menambah
kegairahan kerja bagi karyawan.
 Tersedia kotak – kotak sampah.
Adanya kotak – kotak sampah dimaksudkan untuk menampung semua
sampah kantor berupa kertas – kertas dan sebagainya agar kertas – kertas
tersebut tidak berserakan di dalam kantor. Di samping itu juga dapat
menimbulkan kesan jorok. Sampah tersebut dapat pula menimbulkan
beberapa masalah seperti tempat persembunyian serangga dan tikus serta
bahaya kebakaran.
 Ventilasi udara yang baik.
Ventilasi udara baik dimaksudkan untuk mengadakan pertukaran cahaya
dalam ruang kantor sehingga udara di dalam ruangan tetap bersih. Apabila
ventilasi tidak baik, maka pertukaran udara dalam ruangan tidak baik
sehingga dapat kekurangan udara segar. Hal ini dapat mengakibatkan
menurunnya kegairahan kerja bahkan lebih parah lagi dapat mengakibatkan
“heat strook” dan pingsan. Untuk itu maka ventilasi harus diatur dengan baik
sehingga pertukaran udara dalam ruangan kantor tersebut dapat berjalan baik
pula.
 Loket berbatas kaca dengan lubang sempit.
Adanya kaca pada loket yang membatasi antara penjual dan pembeli
karcis dimaksudkan agar disamping memberikan cahaya yang cukup ke
dalam loket, juga untuk mencegah kemungkinan terjadinya penularan
penyakit secara langsung antara penjual dan pembeli karcis. Bila tidak
dibatasi kaca, maka dapat terjadi penularan penyakit melalui tetesan ludah
halus (droples infection) seperti penyakit Tuberculosa, Diptheri, Pertussis.
 Penerangan
Penerangan secukupnya di dalam kantor dan loket dimaksudkan agar
karyawan yang bekerja di lokasi dapat penerangan dengan baik, sehingga
pekerjaan dapat dilaksanakan dengan baik pula. Apabila penerangan kurang,
akan dapat menyebabkan kerusakan atau penyakit

33
mata pada karyawan. Penerangan minimal yang di ijinkan dalam kantor dan
loket adalah 10 – 20 food candles.
Untuk menghindari terjadinya penularan penyakit secara langsung dari
karyawan terminal terhadap masyarakat pengunjung, maka karyawan
terminal terutama karyawan loket harus dalam keadaan sehat, mempunyai
sertifikat kesehatan, yang menunjukkan tidak menderita penyakit jalan
pernafasan yang menular dan tidak berpenyakit kulit atau mata.

4. Sarana Sanitasi
a. Jamban dan Urinior
 Jamban harus memakai type laher angsa,karena dengan menggunakan leher
angsa tersebut, maka bau tidak bisa keluar karena ditahan oleh air yang tetap
ada disitu. Maka, tidak akan mengundang kedatangan lalat dan binatang
lainnya.
 Untuk pria harus terpisah dengan wanita, karena agar tidak terjadi hal-hal
yang tidak diinginkan bagi pengunjung.
 Jumlah minimal 2 buah kamar mandi, agar memudahkan pengunjung biar
tidak berdesakan atau tidak lama mengantri
 Urinoir bersih, tida berbau dan cukup adanya air pembesih.

b. Tempat cuci tangan


 Tersedia minimal 1 buah tempat cuci tangan untuk umum yang di lengkapi
dengan sabun dan serbet, agar memudahkan para pengunjung untuk
membersih kan tangan setelah membuang hajat mereka.

c. Pembuangan air hujan dan air kotor


 Dengan sistem yang baik berhubungan dengan saluran umum atau
pembuangan air kotor dapat menggunakan septick tank sendiri. Sekeliling
bangunan harus ada saluran pembuangan air kotor atau adanya gengan air di
terminal.

34
5. Kesehatan dan keselamatan kerja
a. Pemadam kebakaran
 Tersedianya alat pedam kebakaran yang dapat dilihat dan dicapai dengan
mudah oleh umum, pada alat ini harus terdapat cara penggunaannya.Untuk
mencegah kemungkinan terjadinya bahaya kebakaran diterminal,maka di
tempat tersebut perlu tersedia alat pemadam kebakaran yang selalu siap
digunakan

b. Peti P3K
Tempat umum seperti terminal kemungkinan terjadi kecelakaan besar sekali.
Untuk itu perlu tersedia fasilitas P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan),
minimal tersedia kotak P3K. . Adapun tujuan dari pertolongan ini adalah :
 Mencegah bahaya maut
 Mencegah kecelakaan
 Mencegah terjadinya infeksi.

Agar dapat memberikan pertolongan yang layak kepada orang yang


mengalami kecelakan,sebelum si korban di bawa ke Rumah Sakit, perlu
diperhatikan.
1) Adanya petugas yang terlatih dalam memberikan pertolongan pertama.
2) Adanya peralatan dan obat-obatan P3K yang baik dan cukup.
3) Adanya pengeras suara.

Ketersediaan pengeras suara penting di terminal guna memberikan


pengumuman-pengumuman atau perintah kepada karyawan terminal. Selain
itu pengemudi juga dapat menggunakannya untuk memberikan pengumuman.

c. Sirkulasi udara
 Ventilasi udara baik dimaksudkan untuk mengadakan pertukaran cahaya
dalam, sehingga udara di dalam ruangan tetap bersih..

35
6. Penunjang
a. Pengeras suara
 Terdapat alat pengeras suara yang dapat di pergunakan untuk memberikan
penerangan kebersihan dan sanitasi. Agar para petugas lebih mudah
mengetahui dan cepat membersihkan tempat-tempat yang kotor.

b. Lain-lainnya
 Bila di dalam terminal terdapat tempat-tempat penjualan
makanan/minuman, maka harus memenuhi persyaratn hygine dan sanitasi
yang berlaku. Agar para pengunjung yang membelinya pun merasa aman
dari penyakit.
 Karyawan terminal harus sehat, dan memiliki sertifikat kesehatan,
terutama tidak menunjukkan penderita penyakit menular, tidak
berpenyakit kulit dan mata.

36
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Bandar udara, pelabuhan, stasiun maupun terminal merupakan tempat-
tempat umum, sehingga perlu memenuhi syarat-syarat sanitasi tempat-tempat
umum. Persyaratan minimal sanitasi tempat-tempat umum tersebut telah
ditetapkan berdasarkan ketentuan tertentu agar tempat-tempat tersebut tidak
menimbulkan risiko kesehatan bagi masyarakat serta mewujudkan wilayah yang
bersih, aman, nyaman, dan sehat untuk komunitas pekerja maupun masyarakat
dalam melaksanakan aktivitasnya.
Kegiatan dalam mewujudkan pelabuhan dan bandar udara sehat adalah
meningkatkan kebersihan, keamanan, kenyamanan dan meniadakan faktor risiko
kesehatan masyarakat yang meliputi penyelenggaraan kesehatan lingkungan,
penataan sarana dan fasilitas, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat,
peningkatan keselamatan dan kesehatan kerja, serta peningkatan keamanan dan
ketertiban. Untuk stasiun kereta api, menurut Peraturan Menteri Perhubungan
Nomor : PM 9 Tahun 2011 dikatakan bahwa yang disebut dengan stasiun kereta
api adalah tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api. Oleh karenanya,
sanitasi dan kebersihannya harus selalu diupayakan, baik bagian luar maupun
bagian dalam seperti ruang tunggu, ruang administrasi, ruang ibadah, toilet, media
informasi dan sebagainya.
Tidak hanya bandar udara dan stasiun kereta api, tempat umum lainnya
yang berhubungan dengan transportasi yang perlu di perhatikan sanitasinya adalah
terminal. Keberadaan terminal berperan dalam menentukan tingkat kinerja dari
pelayanan angkutan umum dalam suatu wilayah (Menteri Pekerjaan Umum,
2010). Terminal dipilah-pilah dalam beberapa tipe berdasarkan fungsi dan
pelayanannya. Komponen dan kriteria yang baik pada sanitasi terminal meliputi
letak terminal, bagian luar (tempat parkir, pembuangan sampah, penerangan),
bagian dalam (ruang tunggu, kantor dan loket), sarana sanitasi (jamban, tempat
cuci tangan, pembuangan air hujan dan air kotor), kesehatan dan keselamatan

37
kerja (pemadam kebakaran, peti p3k) serta komponen penunjang seperti pengeras
suara dan lainnya.

3.2 Saran
Sanitasi tempat-tempat umum merupakan hal yang sangat penting. Oleh
karena itu pengelolaan, pengawasan, pemeliharan dan pengembangan sanitasi
tempat-tempat umum hendaknya dilakukan secara intensif dan didukung dengan
sarana dan prasarana yang memadai.

38
DAFTAR PUSTAKA

Form Inspeksi Sanitasi Terminal. Dalam https://id.scribd.com/document/3670305


55/Form-Inspeksi-Sanitasi-Terminal. Diakses pada 10 September 2019.

http://repository.usu.ac.id/bitstream/handle/123456789/37703/Chapter%20II.pdf;j
sessionid=B1B1CAB7B3F92BCF3EE44D15A1034430?sequence=4

Husna N. laporan Inspeksi Sanitas di Terminal. Dalam https://www.academia.edu/


32711364/LAPORAN_INSPEKSI_SANITASI_PADA_TERMINAL.
Diakses pada 10 September 2019.

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Bahan Ajar Kesehatan Lingkungan:


Sanitasi Transportasi, Pariwisata, dan Matra. Dalam
http://bppsdmk.kemkes.go.id/pusdiksdmk/wp-content/uploads/2018/09/
Sanitasi-Transportasi-Parawisata-dan-Matra_SC.pdf. Diunduh pada 10
September 2019.

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2014 Tentang


Penyelenggaraan Pelabuhan Dan Bandar Udara Sehat.

Wardhana WA. Dampak Pencemaran Lingkungan. Yogyakarta: Penerbit Andi;


2004.

39
LAMPIRAN
FORMULIR PENILAIAN SENDIRI (SELF ASESSMENT)
PELABUHAN/BANDAR UDARA SEHAT

I. UMUM

Nama Pelabuhan/Bandar Udara :


Jenis Pelabuhan/Bandar Udara :
Alamat Pelabuhan/Bandar Udara :

II. KHUSUS
A. ASPEK KEGIATAN

INDIKATOR DAN UPAYA SKOR NILAI


NO BOBOT
PENINGKATAN MEDIA MAKSIMUM (Skor x Bobot)

PENYELENGGARAAN KESEHATAN
A.
LINGKUNGAN
AIR

Penyediaan air ….. {4} …..


1
Tersedia air bersih yang cukup
1)
untuk semua 50
keperluan Pelabuhan

Kualitas air bersih memenuhi


2)
syarat fisik, 30
kimia dan mikrobiologi

3) Tersedia kran air siap minum 20

2 Pengelolaan limbah cair ….. {4} …..

Air limbah domestik dan industri


1)
diolah di 30
instalasi pengolahan limbah

2) Tersedia saluran limbah cair yang 20


tertutup

Kawasan Pelabuhan/Bandar Udara


3)
bebas dari 20
ceceran minyak

Tidak terdapat genangan air


4) 30
limbah

UDARA

1 Kualitas udara dan kebisingan ….. {4} …..

Kualitas udara di lingkungan


1)
Pelabuhan/ 40
Bandar Udara memenuhi syarat

2) Kualitas kebisingan di lingkungan


40
Pelabuhan/Bandar Udara
memenuhi syarat

Adanya program pemantauan


3)
kualitas udara 20
dan kebisingan secara teratur

2 Penghijauan ….. {4} …..

1) Tersedia ruang terbuka hijau 40

Lingkungan instansi/swasta
2)
terdapat 30
tanaman/penghijauan

3) Penghijauan di jalan umum 30

Kendaraan angkutan di
3 Pelabuhan/Bandar Udara ….. {4} …..

Memenuhi baku mutu emisi


1) kendaraan 50
bergerak

2) Mempunyai sertfikat laik jalan 50

TANAH

1 Pengelolaan sampah ….. {4} …..

Tidak terjadi sampah berserakan


1) di tempat
30
umum

Tempat penampungan sampah


2) sementara
25
tidak mencemari lingkungan

Semua instansi mempunyai


3) bak/tempat
15
sampah terpisah

Semua sampah setiap hari


4) diangkut
keluar/dimusnahkan/diolah 30
setempat

2 Pengelolan Limbah B3 ….. {4} …..

Tersedia Sarana Penampungan


1) Limbah B3 40

Kapasitas SPL B3 mencukupi


2) kebutuhan. 40

Pengangkutan Limbah B3
3) dilakukan teratur 20

MAKANAN

Pengawasan jasaboga, restoran dan


Tempat ….. {4} …..
Pengelolaan Makanan (TPM)

Semua Tempat Pengelolaan


1) Makanan/Rumah
Makan/Pusat makanan
jajanan/Penyedia
makanan serat penjamah makanan
yang ada 100
atau terdaftar bersertifikat/laik
higiene dan
sanitasi.

2) Sebagian Tempat Pengelolaan


Makanan/Rumah Makan/Pusat
makanan
jajanan/Penyedia makanan serat
penjamah 50
makanan yang ada atau terdaftar
bersertifikat/laik higiene dan
sanitasi.

Tempat Pengelolaan
3) Makanan/Rumah Makan/
Pusat makanan jajanan/Penyedia
makanan
serat penjamah makanan yang ada
atau 0
terdaftar tidak bersertifikat/laik
higiene dan
sanitasi.

VEKTOR

Pengendalian vektor dan binatang


penular
….. {4} …..
penyakit

Lingkungan pelabuhan/Bandar
1) udara bebas
40
dari tikus dan kecoa

2) House Indeks Ae. aegypti rendah/ 20


MHD (Man Hour Density)
3) Anopheles 10

Kepadatan lalat di Tempat


4) Penampungan 30
PENATAAN SARANA DAN
B FASILITAS
1. Pemilihan sarana dan bangunan ….. {4} …..

1) Semua sarana dan bangunan tidak


menimbulkan faktor risiko
kesehatan
masyarakat berkaitan dengan 100
kualitas debu
total, asbes bebas; dan timah hitam

Sebagian sarana dan bangunan


2) menimbulkan
faktor risiko kesehatan masyarakat
berkaitan
dengan kualitas debu total, asbes 50
bebas; dan
timah hitam

3) Hampir semua sarana dan bangunan


menimbulkan faktor risiko
kesehatan
masyarakat berkaitan dengan 0
kualitas debu
total, asbes bebas; dan timah hitam

2 Parkir kendaraan ….. {1} {2}* …..

1) Risiko kesehatan masyarakat rendah 100

2) Risiko kesehatan sedang 50

3) Risiko kesehatan tinggi 0

3 Terminal peti kemas ….. {1} ** …..

1) Risiko kesehatan masyarakat rendah 100


2) Risiko kesehatan sedang 50

3) Risiko kesehatan tinggi 0

Penyediaan Fasilitas untuk program-


4 program
promosi kesehatan dalam rangka
perubahan ….. {1} …..
perilaku hidup bersih dan sehat

Tersedia ruang khusus dan kegiatan


1) untuk
100
promosi kesehatan

Adanya ruang khusus atau kegiatan


2) untuk
kegiatan promosi kesehatan (salah 50
satunya)

Tidak tersedia ruang khusus dan


3) tidak ada
0
kegiatan promosi kesehatan

5 Sarana toilet dan peturasan ….. {4} …..

Toilet dan peturasan tersedia dengan


1) jumlah
30
yang cukup

Toilet dan peturasan bersih dan


2) memenuhi
30
syarat kesehatan

Toilet laki-laki terpisah dengan


3) perempuan 20

4) Tersedia air bersih yang cukup 20

6 Sarana Cuci Tangan ….. {4} …..


Tersedia sarana cuci tangan yang
1) berfungsi di
40
semua toilet

Tersedia air bersih yang cukup dan


2) mengalir
30
lancar di semua sarana cuci tangan

SKOR
NO INDIKATOR DAN UPAYA PENINGKATAN MEDIA MAKSIMUM BOBOT (Sko

3) Tersedia juga sabun sabun di semua sarana


30
cuci tangan

7 Saluran Drainase ….. {4}

1) Ada saluran drainase air hujan terpisah


30
dengan air limbah

2) Tidak terjadi genangan air hujan di jalan saat


30
tidak hujan

3) Tidak ada air di saluran drainase saat tidak


20
ada hujan

4) Aliran air di saluran drainase lancar 20

C PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN


SEHAT
1 Gerakan kebersihan dan pencegahan penyakit ….. {1}

1) Adanya gerakan untuk membersihkan sarang


nyamuk (PSN) lingkungan Pelabuhan/Bandar 30
Udara

2) Adanya penyuluhan kesehatan langsung tatap


muka 30
3) Adanya poster/leaflet berkaitan
20
lingkungan/kesehatan

4) Adanya penyebarluasan informasi/promosi


kesehatan/lingkungan melalui media running 20
teks/pengumuman

2 Pengawasan daerah bebas rokok ….. {4}

1) Adanya kebijakan larangan merokok di


30
sembarang tempat

2) Tersedia ruangan khusus untuk merokok 30

3) Bebas dari iklan rokok 20

4) Terdapat himbauan larangan merokok 20

3 Gerakan Olah raga ….. {2}

1) Adanya senam secara rutin minimal satu kali


seminggu di setiap perkantoran di 50
Pelabuhan/Bandar Udara

2) Ada sarana olah raga yang memadai 50

PENINGKATAN KESELAMATAN DAN


D KESEHATAN
KERJA
1 Pengawasan sanitasi kapal dan pesawat udara ….. {4}

1) Pemeriksaan sanitasi kapal/pesawat selalu


50
dilakukan

2) Rekomendasi hasil pemerikasaan selalu


50
ditindaklanjuti
2 …..
Pengawasan Keselamatan dan kesehatan Kerja {1}
SKOR
NO INDIKATOR DAN UPAYA PENINGKATAN MEDIA MAKSIMUM BOBOT (Sko

3) Tersedia juga sabun sabun di semua sarana


30
cuci tangan

7 Saluran Drainase ….. {4}

1) Ada saluran drainase air hujan terpisah


30
dengan air limbah

2) Tidak terjadi genangan air hujan di jalan saat


30
tidak hujan

3) Tidak ada air di saluran drainase saat tidak


20
ada hujan

4) Aliran air di saluran drainase lancar 20

C PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN


SEHAT
1 Gerakan kebersihan dan pencegahan penyakit ….. {1}

1) Adanya gerakan untuk membersihkan sarang


nyamuk (PSN) lingkungan Pelabuhan/Bandar 30
Udara

2) Adanya penyuluhan kesehatan langsung tatap


30
muka

3) Adanya poster/leaflet berkaitan


20
lingkungan/kesehatan

4) Adanya penyebarluasan informasi/promosi


kesehatan/lingkungan melalui media running 20
teks/pengumuman
2 Pengawasan daerah bebas rokok ….. {4}

1) Adanya kebijakan larangan merokok di


30
sembarang tempat

2) Tersedia ruangan khusus untuk merokok 30

3) Bebas dari iklan rokok 20

4) Terdapat himbauan larangan merokok 20

3 Gerakan Olah raga ….. {2}

1) Adanya senam secara rutin minimal satu kali


seminggu di setiap perkantoran di 50
Pelabuhan/Bandar Udara

2) Ada sarana olah raga yang memadai 50

PENINGKATAN KESELAMATAN DAN


D KESEHATAN
KERJA
1 Pengawasan sanitasi kapal dan pesawat udara ….. {4}

1) Pemeriksaan sanitasi kapal/pesawat selalu


50
dilakukan

2) Rekomendasi hasil pemerikasaan selalu


50
ditindaklanjuti

2 …..
Pengawasan Keselamatan dan kesehatan Kerja {1}
SKOR
NO INDIKATOR DAN UPAYA PENINGKATAN MEDIA MAKSIMUM BOBOT (Sko

3) Tersedia juga sabun sabun di semua sarana


30
cuci tangan
7 Saluran Drainase ….. {4}

1) Ada saluran drainase air hujan terpisah


30
dengan air limbah

2) Tidak terjadi genangan air hujan di jalan saat


30
tidak hujan

3) Tidak ada air di saluran drainase saat tidak


20
ada hujan

4) Aliran air di saluran drainase lancar 20

C PENINGKATAN PERILAKU HIDUP BERSIH DAN


SEHAT
1 Gerakan kebersihan dan pencegahan penyakit ….. {1}

1) Adanya gerakan untuk membersihkan sarang


nyamuk (PSN) lingkungan Pelabuhan/Bandar 30
Udara

2) Adanya penyuluhan kesehatan langsung tatap


30
muka

3) Adanya poster/leaflet berkaitan


20
lingkungan/kesehatan

4) Adanya penyebarluasan informasi/promosi


kesehatan/lingkungan melalui media running 20
teks/pengumuman

2 Pengawasan daerah bebas rokok ….. {4}

1) Adanya kebijakan larangan merokok di


30
sembarang tempat

2) Tersedia ruangan khusus untuk merokok 30


3) Bebas dari iklan rokok 20

4) Terdapat himbauan larangan merokok 20

3 Gerakan Olah raga ….. {2}

1) Adanya senam secara rutin minimal satu kali


seminggu di setiap perkantoran di 50
Pelabuhan/Bandar Udara

2) Ada sarana olah raga yang memadai 50

PENINGKATAN KESELAMATAN DAN


D KESEHATAN
KERJA
1 Pengawasan sanitasi kapal dan pesawat udara ….. {4}

1) Pemeriksaan sanitasi kapal/pesawat selalu


50
dilakukan

2) Rekomendasi hasil pemerikasaan selalu


50
ditindaklanjuti

2 Pengawasan Keselamatan dan kesehatan Kerja ….. {1}

Catatan:

1) Bobot Penilaian terdiri dari 70 % Aspek Kegiatan, dan 30 % Aspek


Kelembagaan.
2) * Untuk Pelabuhan bobot 1; untuk Bandar Udara bobot 2
3) ** Hanya berlaku untuk Pelabuhan Laut
FORM INSPEKSI SANITASI TERMINAL

Terminal merupakan suatu tempat termasuk fasilitasnya dimana umum


berkumpul untuk menunggu, naik dan turun bus.
NO KOMPONEN BOBOT NILAI SKOR
A. Bagian Luar
1. Tempat parkir 3 60
Terdapat tempar parkir kendaraan umum
yang bersih, tidak terdapat sampah
berserakan, genangan air dan lain-lain.
2. Pembuangan sampah 3 60
Tersedia nya tempat penggumpul sampah 20
sementara sebelum dibuang yang tertutup
dan kedap air
3. Penerangan 4 80
4. Pada tempat parkir, pintu masuk dan pintu 4 80
keluar terminal perlu diberi penerangan
Yang cukup dan tidak menyilaukan.
B. Bagian Dalam
Ruang Tunggu
 Ruangan dan Tempat duduk bersih dan 4 60
bebas dari kutu busuk
 Penerangan cukup 15 5 75
 Tersedia bak sampah yang tertutup dan 3 45
terbuat dari bahan yang kedap air.
 Lantai terbuat dari bahan kedap air, 4 60

tidak licin dan mudah dibersihkan


C. Sarana Sanitasi
1. Jamban dan Urinoir 35
 Jamban memakai type leher angsa 4 140
 Untuk pria harus terpisah dengan wanita. 3 105
 Jumlah jamban 1 buah untuk setiap 1- 4 140
250 pengunjung pada suatu saat, dengan
Jumlah minimal 2 buah
 Urinoir bersih, tidak berbau dan cukup 2 70
adanya air pembersih
2. Tempat cuci tangan 2 70
Tersedia minimal 1 buah tempat cuci tangan
untuk umum yang dilengkapi dengan Sabun
dan serbet
3. Pembuangan air hujan dan air kotor 1 35
Dengan sisitim yang baik berhubungan
dengan saluran umum atau untuk
Pembuangan air kotor dapat menggunakan
septick tank sendiri.

D. Kesehatan dan Keselamatan Kerja


1. Pemadam kebakaran 3 60
Tersedia alat pemadam kebakaran yang
dapat dilihat dan dicapai dengan mudah
Oleh umum, pada alat ini harus terdapat cara
penggunaannya. 0 0
2. Peti P3.K
20
Tersedia peti P3.K. minimal 1 buah yang
berisi lengkap dengan obatobatan pokok 3 60
Untuk P3.K
3. Sirkulasi Udara
Sirkulasi dalam stasiun kereta api harus
baik, tidak terdapat sudut-sudut ruangan
yang mengakibatkan udara terhenti
E. Penunjang
1. Pengeras suara 1 10
Terdapat alat pengeras suara yang dapat
dipergunakan untuk memberikan
penerangan kebersihan/ sanitasi
2. Kantin
 Bila di dalam terminal bus terdapat 3 30
tempat-tempat penjualan
makanan/minuman, maka harus
memenuhi persyaratan Hygine &
Sanitasi yang berlaku untuk itu. 3 30
10
 Karyawan terminal bus/kereta api harus
sehat mempunyai sertifikat kesehatan
Terutama menunjukan tidak menderita
penyakit yang menular, tidak
berpenyakit kulit dan mata. 2 20
3. Mushola 2 20
 Tempat harus saniter.
 Tersedia tempat wudhu yang memenuhi 3 30

syarat.
 Tikar/alas musholla harus bersih dan
sering dijemur
NILAI 1340
KRITERIA :
Memenuhi Syarat : 975 -1625
Tidak Memenuhi syarat : < 675

PETUGAS
Contoh LEMBAR OBSERVASI SANITASI PERHUBUNGAN (Stasiun
Gubeng Surabaya)
Nama Penilai :
Nama Tempat :
Alamat :
Hari/ Tanggal :

Tabel Komponen Yang Dinilai Bobot


Nilai Kriteria Skor
1 Lingkungan 30
a. Tempat parkir Kondisi 1 Ada tempat parkir
2 Ada dan terpakai
3 Ada, terpakai, bersih 4
4 Ada, terpakai, bersih, ada pemisahan roda
2&4
Lantai 1 Belum dipaving
2 Sudah dipaving, tapi rusak
4
3 Kondisi paving bagus
4 Dipaving, bagus, bebas sampah
b. Pembuangan Tempat 1 Tidak ada
Sampah sampah
2 Ada, tidak digunakan, tidak terpilah 2
3 Ada, tidak digunakan, terpilah
4 Ada, digunakan, terpilah
Kondisi 1 Kotor, terbuka
2 Kotor, tertutup
1
3 Bersih, terbuka
4 Bersih, tertutup
c. Penerangan Kondisi 1 Tidak ada penerangan
2 Ada penerangan, tapi redup
4
3 Ada penerangan, cukup terang
4 Ada penerangan, terang
Alat 1 Tidak memakai lampu
2 Lampu bohlam 4
3-4* Lampu neon
d. Ruang Terbuka Luasan 1 Tidak ada pohon peneduh
Hijau
2 Ada pohon peneduh di seperempat lokasi 2
3 Ada di ½ lokasi
4 Ada di ¾ lokasi
Penghijauan 1 Tidak ada penghijauan
2 Memenuhi fungsi penghijauan di 25%
lokasi
3 Memenuhi fungsi penghijauan di 50% 2
lokasi
4 Memenuhi fungsi penghijauan di 75%
lokasi
Kondisi 1 Tidak ada taman
2 Ada, tidak terawat 4
3-4* Ada, terawat
e. Pintu masuk & Kondisi 1 Ada 1 jalur untuk keluar sekaligus masuk
keluar untuk semua kendaraan 4
2 Ada 2 jalur untuk keluar sekaligus masuk
untuk semua kendaraan
3-4* Jalur keluar & masuk untuk semua
kendaraan sudah terpisah
Petunjuk arah 1 Tidak ada
2 Ada, tapi hanya pintu masuk
4
3 Ada, tapi hanya pintu keluar
4 Ada kedua-duanya
Total Skor 35
Bobot
2 Bangunan Pokok Nilai Kriteria Skor
20
a. Peron Lantai 1 Kondisi licin, tidak bersih
2 Kondisi licin, bersih
2
3 Tidak licin, kotor
4 Tidak licin & bersih
Tempat 1 Tidak ada
sampah
4
2 Ada, terbuka
3-4* Ada, tertutup
Tempat duduk 1 Ada tempat duduk
4
2-4* Tidak Ada tempat duduk
b. Ruang tunggu Lantai 1 Belum dikeramik
2 Dikeramik, licin, kotor
3
3 Dikeramik, tidak licin, kotor
4 Dikeramik, tidak licin, bersih
Tempat duduk 1 Tidak ada tempat duduk
2 Ada, terbuat dari besi memanjang
3 Ada, tempat duduk 1 orang 1 bangku,
4
kotor
4 Ada, tempat duduk 1 orang 1 bangku,
bersih
c. Kantor Kondisi 1 Tidak rapi, tidak ada tempat sampah,
administrasi kotor
2 Rapi, tidak ada tempat sampah, kotor 4
3 Rapi, ada tempat sampah, kotor
4 Rapi, ada tempat sampah, bersih
d. Kebersihan rel Kondisi 1 Ada sampah, berserakan, tidak ada
pembersihan
2 Ada sampah, berserakan, ada 2
pembersihan
3-4* Tidak ada sampah berserakan
e. Loket karcis Kondisi 1 Hanya ada 1 jalur loket untuk semua jenis
kereta api (ekonomi, bisnis, eksekutif)
2 Hanya ada 2 jalur loket untuk semua jenis
kereta api
3 Ada lebih dari 2 jalur untuk semua jenis 4
kereta api
4 Tiap jenis kereta api ada jalur masing-
masing
Layanan 1 Tidak ada batas antrian dan tidak teratur
2 Tidak ada batas antrian, tapi teratur 4
3-4* Sudah teratur dan ada batas antrian
Ventilasi 1 Tidak ada jendela
2 Ada jendela, tapi tidak difungsikan
3 Ada jendela dan berfungsi untuk 4
ventilator udara
4 Ada jendela, ada AC
f. Fasilitas umum Tempat ibadah 1 Tidak ada tempat ibadah
(kondisi)
2 Ada tempat ibadah, tapi tidak berfungsi,
4
kotor
3 Ada tempat ibadah, berfungsi, kotor
4 Ada tempat ibadah, berfungsi, bersih
Toilet/ WC 1 Kurang dari 6, tidak ada pemisahan laki-
(jumlah) laki/ perempuan
2 Kurang dari 6, ada pemisahan laki-laki/
perempuan
3 Lebih dari 6, tidak ada pemisahan laki- 2
laki/ perempuan
4 Lebih dari 6, ada pemisahan laki-laki/
perempuan
Kondisi 1 Kotor, berbau 3
2 Kotor, tidak berbau
3 Bersih, berbau
4 Bersih, tidak berbau
Urinoir 1 Tidak ada urinoir
2 Ada, lebih dari 2, kotor, bau
3
3 Ada, kurang dari 2, bersih, bau
4 Ada, lebih dari 2, bersih, tidak berbau
Bak Air 1 Timba saja, tidak ada air mengalir,
banyak jentik
2 Timba saja, ada air mengalir, tidak ada
jentik 4
3 Bak air, tidak ada air mengalir, banyak
jentik
4 Bak air, ada air mengalir, tidak ada jentik
Jamban 1 Jamban tipe leher angsa, tidak terpisah
laki-laki/ perempuan
2 Jamban tipe lain
3 Jamban tipe leher angsa, tepisah laki-laki/ 3
perempuan
4 Jamban tipe lain
Total Skor 54
Bobot
3 Bangunan Pendukung Nilai Kriteria Skor
15
a. Ruang merokok Kondisi 1 Tidak ada
2 Ada, tidak terpakai & kotor 1
3 Ada, terpakai, kotor
strategis
4 Ada, terpakai, bersih
b. Ruang ibu Kondisi 1 Tidak ada
menyusui
3
2 Ada , terbuka
3-4* Ada, tertutup
c. Kantin Kondisi 1 Tidak ada
2 Ada, tidak digunakan
4
3 Ada, digunakan, kotor
4 Ada, digunakan, bersih
d. Pertokoan Kondisi 1 Tidak ada
2 Ada, tidak terpakai 4
3-4* Ada, terpakai, bersih
e. Toilet bagi Kondisi 1 Tidak ada
penyandang
cacat 1
2 Ada, kotor
3-4* Ada, bersih
Jamban 1 Jamban tipe leher angsa, tidak terpisah
laki-laki/ perempuan
2 Jamban tipe lain
3 Jamban tipe leher angsa, tepisah laki-laki/ 3
perempuan
4 Jamban tipe lain
f. Tempat cuci Jumlah 1 Tidak ada
tangan
2 Minimal 1 buah, tidak dilengkapi sabun
& serbet
3
3 Minimal 1 buah, sudah dilengkapi sabun

4 Minimal 1 buah, sudah dilengkapi sabun


dan serbet
g. Ruang Kondisi 1 Tidak ada ruang kesehatan
kesehatan
2 Ada, tapi tidak terpakai dan kotor
3 Ada, terpakai, kotor
4
4 Ada, terpakai, bersih
Total Skor 23
Bobot
4 Media Informasi Nilai Kriteria Skor
15
a. Pengeras suara Kondisi 1 Ada pengeras suara, tapi tidak menyala
2 Ada pengeras suara, tapi tidak digunakan
3 Pengeras suara, tapi ada gangguan (suara 4
berisik)
4 Pengeras suara berfungsi baik
Kualitas suara 1 Suara informasi tidak jelas terdengar
2 Suara informasi putus-putus 3
3-4* Suara informasi terdengar jelas
b. Papan informasi Kondisi 1 Tidak ada papan informasi
4
2 Ada papan informasi, tidak terbaca, tidak
3 Ada, terbaca, tidak strategis
4 Ada, terbaca, dan letak strategis
Isi informasi 1 Tidak ada informasi
2 Hanya nama, nomor dan jadwal kereta api
3 Poin nomor 2 dilengkapi stasiun
keberangkatan, pemberhentian, dan 3
stasiun tujuan
4 Poin nomor 3 dilengkapi tarif dan kelas
pelayanan
Total Skor 14
Bobot
5 Instalansi Pendukung Nilai Kriteria Skor
20
a. Instalansi listrik Kondisi 1 Ada, tidak mencakupi kebutuhan, tanpa
pengamanan kelistrikan
2 Ada, mencakupi kebutuhan, tidak ada
sistem pengamanan kelistrikan
4
3 Ada, tidak mencakupi kebutuhan, ada
sistem pengamanan
4 Ada, mencakupi kebutuhan, ada sistem
pengamanan kelistrikan
b. Instalansi air Air bersih 1 Tidak tersedia air bersih
(kondisi)
2 Air bersih hanya untuk toilet saja
3 Tersedia air bersih, makan, minum dan 3
kegiatan lainnya
4 Tersedia, tapi terbatas
Air kotor 1 Saluran air limbah dari kamar mandi &
(kondisi) toilet/ WC terhubung dengan drainase
2 Saluran air limbah dari kamar mandi
terhubung dengan toilet/ WC
4
3 Saluran air limbah dari kamar mandi &
toilet/ WC terpisah
4 Saluran air dari semua pembuangan
terhubung
c. Komunikasi Kondisi 1 Tidak tersedia
(telepon umum)
3
2 Tersedia, rusak
3-4* Tersedia, terpakai
d. Instalansi Kondisi 1 Tidak tersedia instalansi kebakaran
pemadam
kebakaran
4
2 Tersedia, tidak berfungsi
3 Tersedia, berfungsi, sulit dijangkau
4 Tersedia, berfungsi, mudah dijangkau
Total Skor 18