Anda di halaman 1dari 20

Laporan Praktikum Mikrobiologi

Morfologi Kapang dan Khamir

Oleh :
Nama : Ian Fadilah Nur

NIM : 1304617020

Kelompok : 02

Tanggal Praktikum : 21 Oktober 2019

Dosen : Dr. Tri Handayani K, M. Si

Pendidikan Biologi A 2017

Jurusan Biologi

Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Negeri Jakarta

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Tujuan Praktikum
1. Mengamati morfologi kapang dan khamir
2. Untuk mengamati morfologi kapang secara mikroskopis melalui teknik Henrici's Slide
Culture
3. Mengetahui perbedaan morfologi kapang dan khamir
4. Mengetahui macam-macam bentuk kapang dan khamir
5. Mengetahui perbedaan teknik pengamatan makroskopis, mikroskopis, dan henrici’s slide
culture

B. Tinjauan Pustaka

Di dalam dunia mikrobia, jamur termasuk divisio Mycota (fungi). Mycota berasal dari kata
mykes (bahasa Yunani), disebut juga fungi (bahasa Latin). Ada beberapa istilah yang dikenal
untuk menyebut jamur, (a) mushroom yaitu jamur yang dapat menghasilkan badan buah
besar, termasuk jamur yang dapat dimakan, (b) mold yaitu jamur yang berbentuk seperti
benang-benang, dan (c) khamir yaitu jamur bersel satu. Jamur merupakan jasad eukariot,
yang berbentuk benang atau sel tunggal, multiseluler atau uniseluler. Sel-sel jamur tidak
berklorofil, dinding sel tersusun dari khitin, dan belum ada diferensiasi jaringan. Jamur
bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari oksidasi senyawa organik.
Jamur memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik). Habitat (tempat hidup) jamur
terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau bersimbiosis, tumbuh sebagai saprofit
atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia.

Fungi (jamak) atau fungus (tunggal) adalah suatu organisme eukariotik yang mempunyai ciri-
ciri spesifik sebagai berikut :

1. Mempunyai inti sel

2. Memproduksi spora

3. Tidak mempunyai klorofil sehingga tidak dapat melakukan fotosintesis

4. Dapat berkembang biak secara aseksual maupun seksual


5. Beberapa mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dengan dinding sel yang
mengandung selulosa atau khitin, atau keduanya.

Jamur merupakan jasad eukariot, yang berbentuk benang atau sel tunggal, multiseluler atau
uniseluler. Sel-sel jamur tidak berklorofil, dinding sel tersusun dari khitin, dan belum ada
diferensiasi jaringan. Jamur bersifat khemoorganoheterotrof karena memperoleh energi dari
oksidasi senyawa organik. Jamur memerlukan oksigen untuk hidupnya (bersifat aerobik).
Habitat (tempat hidup) jamur terdapat pada air dan tanah. Cara hidupnya bebas atau
bersimbiosis, tumbuh sebagai saprofit atau parasit pada tanaman, hewan dan manusia
(Sumarsih, 2003).

Fungi adalah organisme kemoheterotrof yang memerlukan senyawa organik untuk nutrisinya
(sumber karbon dan energi). Bila sumber nutrisi tersebut diperoleh dari bahan organik mati,
maka fungi tersebut bersifat saprofit. Dalam hal ini, fungi bersifat menguntungkan sebagai
elemen daur ulang yang vital. Beberapa fungi yang bersifat menguntungkan karena
merupakan bahan makanan, misalnya cendawan (mushroom), dan beberapa fungi dapat
bersimbiosis dengan akar tanaman tertentu yang membantu penyerapan air dan mineral tanah
oleh akar. Simbiosis ini dikenal dengan nama mikoriza. Beberapa fungi dapat bersifat parasit
dengan memperoleh senyawa organik dari organisme hidup. Dalam hal ini, fungi bersifat
merugikan karena menimbulkan penyakit pada manusia, hewan, maupun tanaman. Pada fungi
ada dua istilah, yaitu kapang (mold) yang merupakan fungi yang berfilamen dan multiseluler,
dan khamir (yeast) yaitu bentuk fungi berupa sel tunggal dengan pembelahan sel melalui
pertunasan.

Kapang atau jamur termasuk golongan Emycetes atau fungi sejati yang terdiri atas empat
klasis yaitu Phycomycetes,Ascomycetes, Basidiocetes, dan Deuremycetes (Fungi interfecti).
Identifikasi kapang atau jamur apat dilakukan berdasarkan atas sifat – sifat morfologisnya.
Berdasarkan atas pengamatan secara mikroskopik, maka kapang atau jamur dapat ditentukan
sampai genusnya atau kadang dapat ditentukan sampai spesiesnya.

Kapang adalah organisme eukariotik yang tidak mempunyai klorofil dan mempunyai dinding
sel yang kaku. Kapang termasuk fungi multiseluler yang mempunyai filamen, dan
pertumbuhannya mudah dilihat karena berserabut seperti kapas. Ukuran kapang berkisar dari
2- 10 m kali beberapa mm. Cara reproduksi kapang yaitu dengan cara aseksual dan seksual
(Irianto, 2006). Kapang terdiri dari suatu thallus yang tersusun dari filamen yang bercabang
yang disebut hifa. Setiap hifa memiliki lebar 5-10 m dan membentuk suatu kumpulan yang
disebut miselium.

Pembentukan miselium merupakan sifat yang membedakan grup-grup didalam fungi. Hifa
dapat dibedakan menjadi dua macam yaitu hifa vegetatif/ hifa tumbuh dan hifa fertil yang
membentuk bagian reproduksi. Kapang dibedakan menjadi dua kelompok berdasarkan
struktur hifa yaitu hifa tidak bersekat/ nonseptat dan hifa bersekat/ septat yang membagi hifa
dalam ruangan-ruangan. Namun, dinding penyekat yang disebut septum tidak tertutup rapat
sehingga sitoplasma masih bebas bergerak dari suatu ruangan ke ruangan lain. Khamir (yeast)
merupakan fungi bersel satu (uniseluer), tidak berfilamen beebentuk oval atau bulat, tidak
berflagela, ddan berukuran lebih besar dibandingkan sel bakteri, dengan lebar berkisar 1-5
mm dan panjang berkisar 5-30 mm.

Secara umum kebutuhan akan air lebih sedikit dibandingkan dengan bakteri pada umumnya.
Beberapa jenis khamir membutuhkan air lebih banyak dibandingkan dengan kapang atau
jamur. Khamir tumbuh baik pada keadaan aerob, tetapi untuk jenis fermentative dapat
tumbuh dalam kedaan anarob, walaupun dengan cara yang lambat. Secara umum gula
merupakan sumber energy yang paling baik, untuk khamir dan hanya untuk jenis khamir
oksidatif dapat menggunakan asam organic dan alcohol sebagai sumber energy. Khamir
termasuk golongan fungi atau phylum Eumycetes. Jenis khamir sejati termasuk klas
Ascomycetes dan beberapa termasuk Basidiomycetes, sedangkan khamir yang tidak
membentuk spora tegolong dalam fungi inperfektif.
Kapang merupakan jamur berfilamen dan multinukleat yang tersusun oleh hifa. Hifa
merupakan struktur tabung bercabang yang berdiameter 2-10 µm yang biasanya dibagi-bagi
menjadi semacam unit sel oleh dinding yang melintang yang disebut septa. Kumpulan dari
hifa disebut miselium. Bagian dari miselium menjangkarkan kapang dan menyerap hara yang
dikenal dengan miselium vegetative yang tersusun oleh hifa vegetative; bagian spora
reproduktif, yaitu miselium aerial yang tersusun oleh hifa aerial. Organism inie disebut
kapang berlendir, karena memiliki tekstur seperti gelatin, basah, mengkilat, dan menyerupai
kapang. Beberapa spesies berwarna putih, namun sebagian besar berwarna kuning atau
merah. Pada kapang terdapat beberapa cirri-ciri hewan dan tumbuhan dalam daur hidupnya.
Fase vegetative atau somatic aselular yang merayap memiliki struktur dan fisiologi serupa
hewan dengan ciri adanya mobilitas (kemampuan berpindah tempat), kebiasaan memakan
yang serupa dengan amoeba, dan menelan bahan organic dan bakteri seperti halnya protozoa.
Sedangkan struktur reproduktifnya menyerupai tumbuhan yaitu menghasilkan spora yang
terbungkus dinding yang nyata. Ada tiga kelompok kapang lendir, yaitu kapang lendir sejati
atau kapang lendir plasmodial (Filum Myxomycota), kapang lendir jaring (Filum
Labyrinthulomycota), dan kapang lendir seluler (Filum Arcacsiomycota).
BAB II

METODE PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan


Alat: Peralatan Umum
 lampu spiritus dan korek gas  Korek kayu
 Rak tabung reaksi  kapas
 Mikroskop  Baki, plastik, spidol, kertas label,
 Kertas pembungkus kain lap/serbet
 Penjepit kayu

Alat: Peralatan Gelas


 Cawan petri  Pipet ukur dan pipet plastik
 Jarum Ose  Kaca benda dan kaca penutup

Bahan:
 Alkohol 70%
 Larutan Lactophenol Cotton Blue
 Larutan methylen blue
 Medium agar
 Biakan murni :

a) Saccaromyces cerevisiae
b) Aspergillus sp.
c) Rhizopus oryzae
d) Penicillum citrium
e) Fussarium sp.
f) Rhizopus arrhizus
B. Cara Kerja
 Morfologi Kapang
Langkah pertama dilakukan sterilisasi meja kerja dengan menggunakan alkohol 70%
sehingga lingkungan kerja tetap steril dan bebas mikroorganisme yang bisa mengkontaminasi
alat dan bahan, selain itu juga tangan praktikan disemprotkan dengan alkohol 70% agar tetap
steril. Setelah itu, objek glass dibersihkan dengan disemprotkan alkohol 70% hingga bebas
lemak, dan dipanaskan sekilas di atas nyala lampu. Setelah itu diteteskan sedikit larutan
Lactophenol Cotton Blue di atas permukaan gelas obyek, diambil sedikit koloni dari biakan
kapang dengan jarum inokulasi dan diletakkan dalam tetesan lactophenol cotton blue dan
uraikan dengan jarum preparat secara hati-hati, diusahakan seluruh misellium basah terkena
lactophenol. Kemudian gelas objek ditutup dengan kaca penutup dan diusahakan tidak ada
gelembung udara dalam preparat. Kemudian dibersihkan kelebihan lactophenol dengan
kertas hisap dan di amati dengan mikroskop, dengan perbesaran 10x, kemudian 40x. Dan
terakhir digambarkan morfologi kapang tersebut.

 Morfologi Khamir

Langkah pertama dilakukan sterilisasi meja kerja dengan menggunakan alkohol 70%
sehingga lingkungan kerja tetap steril dan bebas mikroorganisme yang bisa mengkontaminasi
alat dan bahan, selain itu juga tangan praktikan disemprotkan dengan alkohol 70% agar tetap
steril. Setelah itu, objek glass dan kaca penutup dibersihkan dengan alkohol 70% hingga
bebas lemak. Kemudian diteteskan sedikit larutan methylen blue pada gelas obyek. Diambil
sedikit biakan murni khamir dengan jarum ose dan diletakkan dalam tetesan methylen blue
dan ditutup dengan kaca penutup. Diamati dengan mikroskop dengan perbesaran 10x
kemudian 40x. Dan kemudian digambarkan morfologi khamir tersebut.

 Morfologi Kapang secara Henrici’s Slide Culture

Langkah pertama dilakukan sterilisasi meja kerja dengan menggunakan alkohol 70%
sehingga lingkungan kerja tetap steril dan bebas mikroorganisme yang bisa mengkontaminasi
alat dan bahan, selain itu juga tangan praktikan disemprotkan dengan alkohol 70% agar tetap
steril. Disiapkan cawan petri yang berisi kapas, objek glass, dua kaca penutup serta batang
korek api yang sebelumnya telah disterilkan. Dicairkan medium agar dan didinginkan sampai
temperatur 400 –450C, kemudian diinokulasi medium agar dengan spora -pora kapang yang
akan diamati. Diusahakan agar spora-spora kapang hanya mengenai pada bagian medium
agar yang telah memadat saja. Kemudian diinkubasi pada temperatur kamar 48 jam.
Kemudian diamati dibawah mikroskop kapang pada kaca objek tersebut dengan perbesaran
lemah kemudian dengan perbesaran kuat. Dan di gambarkan dan diberi keterangan yang
lengkap.
BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Pengamatan
 Khamir
Jenis Teknik Keterangan
No.
Pengamatan Jenis Khamir Deskripsi Gambar

Berbentuk oval
Teknik Saccaromyces
1. cerevisiae
Mikroskopis

 Kapang
Jenis Teknik Keterangan
No.
Pengamatan Jenis Kapang Deskripsi Gambar

Struktur seperti
serat berwarna
Teknik Aspergillus
1. coklat
Makroskopis sp.
Berserat-serat
Teknik Rhizopus
berwarna coklat
Makroskopis oryzae
2. terang

Penicillum
Teknik citrium
3. Makroskopis Kumpulan serat
berwarna coklat
tua

Fussarium
Bentuk abstrak
Teknik sp.
dan berwarna
Makroskopis coklat tua
4.

Teknik
5. Makroskopis Bentuk
bersekat-sekat
berwarna coklat
Rhizopus
arrhizus

Aspergillus
sp.

Teknik Bentuk
Mikroskopis memanjang dan
6.
terlihat spora

Rhizopus
oryzae
Bentuk
Teknik
memanjang
Mikroskopis
7. serta terlihat
sporanya

Teknik
Mikroskopis Bentuk tidak
8.
Penicillum
terlalu terlihat
citrium
namun bentuk
memanjang

Teknik Fussarium
Bentuk panjang
Mikroskopis sp.
9. lurus

Rhizopus Bentuk
arrhizus memanjang dan
Teknik memiliki spora
Mikroskopis
10.
Berwarna
coklat dan
Aspergillus
Teknik bersekat sekat
sp.
11. Henrici’s
Slide Culture

Rhizopus Bentuk
oryzae memanjang dan

Teknik terlihat spora

12. Henrici’s berwarna hitam

Slide Culture

Penicillum Bentuk
citrium berserat-serat
berwarna coklat
Teknik
13. Henrici’s
Slide Culture
Fussarium Bentuk
sp. menyerupai
rambut
Teknik
berwarna hitam
14. Henrici’s
dan cukup lebat
Slide Culture

Rhizopus Terlihat jelas


arrhizus dan bentuk
memanjang
Teknik
15. Henrici’s
Slide Culture

B. Pembahasan
 Morfologi Khamir
Pada pengamatan ini dilakukan menggunakan satu jenis khamir yaitu Saccaromyces
cerevisiae. Saccharaomyces cerevisiae termasuk dalam khamir yang berbentuk oval. Dinding
sel khamir pada sel-sel yang muda sangat tipis, namun semakin lama semakin menebal.
Saccharomyces cereviciae secara morfologi hanya membentuk blastospora berbentuk bulat
lonjong, silindris, oval, atau bulat telur yang dipengaruhi oleh strainnya. Berkembang biak
dengan membelah diri melalui “budding cell”. Pada dinding sel terdapat struktur yang
disebut bekas lahir (bekas yang timbul dari pembentukan oleh sel induk) dan bekas tunas
(bekas yang timbul akibat pembentukan anak sel). Setiap sel hanya dapat memiliki satu bekas
lahir, namun bisa membentuk banyak bekas tunas. Saccharomyces cerevisiae dapat
membentuk 9 sampai 43 tunas dengan rata-rata 24 tunas per sel.
 Morfologi Kapang (Makroskopis, Mikroskopis, dan Henrici’s Slide Culture)

Pada praktikum ini dilakukan dengan menggunakan teknik makroskopis, mikroskopis dan
juga teknik Henrici’s slide culture pada 5 jenis kapang yaitu Aspergillus sp., Rhizopus
oryzae, Penicillum citrium, Fussarium sp., Rhizopus arrhizus. Pada pengamatan makroskopis
bertujuan untuk melihat struktur makroskopis yang terbentuk dari koloni kapang tersebut.
sedangkan untuk pengamatan mikroskopis digunakan untuk mengamati struktur individu
kapang yang terbentuk. Selain itu pada praktikum ini juga diamati menggunakan teknik
Henrici’s slide culture. Slide Culture (Kultur Slide) merupakan teknik yang sangat penting
dalam identifikasi fungi. Slide culture adalah teknik menumbuhkan fungi pada slide dengan
perlakuan tertentu. Perlakuan yang dimaksud diantaranya adalah fungi ditumbuhkan pada
sepotong agar dan di letakkan di atas kaca benda, peletakan batang korek agar kaca benda
tidak bersentuhan langsung dengan kapas, dan pemberian aquades pada kapas untuk menjaga
kelembapan udara di dalam cawan Petri slide culture. Tujuan slide culture adalah melihat
morfologi mikroskopis fungi, yang terdiri dari bentuk hifa, sporangium, konidia, dll. Berikut
pembahasan dari hasil pengamatan morfologi kapang :

- Aspergillus sp.

Pada pengamatan makroskopis dengan Aspergillus sp. ini di dapatkan hasil bahwa koloni
kapang ini berbentuk serat serta berwarna kecoklatan. sedangkan pada pengamatan
mikroskopis menggunakan lactophenol cotton blue yang berfungsi mewarnai sel-sel kitin
kapang di dapatkan hasil bahwa kapang ini memiliki struktur morfologi yang terdiri dari
konidiofora, vesikel, fialid, dan konidiospora. Pada pengamatan menggunakan teknik
Henrici’s slide culture didapatkan hasil yang tidak terlalu jelas menggambarkan morfologi
seperti yang dikatakan pada literatur, hanya terlihat bahwa morfologi berwarna kecoklatan.
hal ini bisa terjadi karena ketidaktelitian praktikan ketika proses melakukan teknik ini
ataupun adanya faktor lain seperti kontaminasi dan lain-lain.

- Rhizopus oryzae

Pada pengamatan makroskopis Rhizopus oryzae di dapatkan hasil bahwa stuktur koloni
kapang ini menyerupai serat serat halus dan berwarna coklat. Sedangkan pada pengamatan
mikroskopis didapatkan hasil bahwa kapang ini berbentuk memanjang dengan terdapat
struktur menyerupai bulatan di salah satu sisinya. Kapang ini berwarna hitam dan hanya
dapat terlihat struktur sporangium serta sporangiofornya saja ketika pengamatan. Pengamatan
mikroskopis menggunakan larutan lactophenol cotton blue karena larutan ini dapat memberi
warna pada sel-sel kitin kapang. Rhizopus memiliki miselium yang bercabang banyak dan
tidak bersekat. Sekat/ septum hanya ditemukan pada saat sel bereproduksi. Reproduksi
dilakukan secara seksual dan aseksual. Secara seksual yaitu dengan cara konjugasi sedangkan
secara aseksual yaitu dengan spora nonmotil yang dihasilkan oleh sporangium. Miselium
pada hifa memiliki tiga tipe yaitu stolon, rhizoid, dan sporangiofor. Pada teknik Henrici’s
slide culture memperlihatkan morfologi Rhizopus sp secara utuh. Morfologi Rhizopus sp
terdiri dari stolon, rhizoid, sporangiofor, sporangium, dan sporangiospora. Kolumela yang
seperti tudung tidak jelas terlihat karena tertutup oleh sporangiospora dan karena perbesaran
yang terlalu kecil.

- Penicillum citrium
Pada pengamatan makroskopis koloni kapang ini terlihat memiliki struktur seperti serat-serat
berwarna coklat kehitaman sedangkan pada pengamatan mikroskopis menggunakan
lactophenol cotton blue yang berfungsi mewarnai sel-sel kitin kapang di dapatkan hasil
bahwa kapang ini bersel banyak dan mempunyai miselium bersekat- sekat. Penicilium sp
mempunyai ujung konidiofor yang tidak melebar, melainkan bercabang- cabang dengan
deretan konidium pada cabang- cabang. Penicilium sp termasuk dalam divisi Ascomycota.
Reproduksi seksual membentuk askospora di dalam askus. Reproduksi aseksualnya
dihasilkan spora konidium yang terbentuk pada ujung hifa khusus yang disebut konidiofor.
Pada teknik Henrici’s slide culture gambar terlihat buram namun masih dapat terlihat
morfologi yang berbentuk seperti sekat-sekat. Hasil pengamatan memperlihatkan/
menunjukan struktur morfologi dari kapang Penicilium sp. yang terdiri dari konidiofora,
metulae, konidia, septa, dan fialid.

- Fussarium sp

Pada pengamatan makroskopis koloni kapang ini terlihat berwarna coklat dengan bentuk
seperti serat-serat yang berkumpul. sedangkan pada pengamatan mikroskopis menggunakan
lactophenol cotton blue yang berfungsi mewarnai sel-sel kitin kapang di dapatkan hasil
bahwa kapang ini besekat banyak, terdapat makrokonidia dan mikrokonidia. Mikrokonidia
digunakan untuk reproduksi aseksual. Ciri utama kapang ini adalah strktur tubuh berupa
miselium bercabang, hialin, dan bersekat (septa). Kapang ini merupakan jamur berbahaya
karena dapat menyebabkan tumbuhan layu patologis dan mengalami kematian. Pada teknik
Henrici’s slide culture terlihat bahwa kapang ini berstruktur menyerupai akar berserat-serat
berwarna hitam dan cukup lebat.

- Rhizopus arrhizus

Pada pengamatan makroskopis koloni kapang ini terlihat berbentuk serat serat panjang
berwarna hitam sedangkan pada pengamatan mikroskopis menggunakan lactophenol cotton
blue yang berfungsi mewarnai sel-sel kitin kapang di dapatkan hasil bahwa kapang ini
memiliki miselium yang bercabang banyak dan tidak bersekat. Sekat/ septum hanya
ditemukan pada saat sel bereproduksi. Reproduksi dilakukan secara seksual dan aseksual.
Secara seksual yaitu dengan cara konjugasi sedangkan secara aseksual yaitu dengan spora
nonmotil yang dihasilkan oleh sporangium. Miselium pada hifa memiliki tiga tipe yaitu
stolon, rhizoid, dan sporangiofor. Pada teknik Henrici’s slide culture terlihat morfologi
kapang yang jelas dengan dapat diliat pula struktur penyusunnya seperti stolon, rhizoid,
sporangiofor, sporangium, dan sporangiospora.
BAB IV
KESIMPULAN

A. Kesimpulan
Pada praktikum morfologi kapang dan khamir ini bertujuan untuk mengamati morfologi
kapang dan khamir yang diamati. Pada pengamatan ini dilakukan pada khamir yaitu
Saccharaomyces cerevisiae, sedangkan kapang yaitu Aspergillus sp., Rhizopus oryzae,
Penicillum citrium, Fussarium sp., Rhizopus arrhizus. Teknik yang digunakan pada
praktikum ini adalah makroskopis, mikroskopis, dan Henrici’s slide culture. Pada teknik
makroskopis dilakukan untuk melihat morfologi koloni, sedangkan pada mikroskopis untuk
melihat morfologi satuan kapang dan khamir, dan pada teknik Slide dilakukan dengan
menumbuhkan fungi pada slide dengan perlakuan tertentu. Perlakuan yang dimaksud
diantaranya adalah fungi ditumbuhkan pada sepotong agar dan di letakkan di atas kaca benda,
peletakan batang korek agar kaca benda tidak bersentuhan langsung dengan kapas, dan
pemberian aquades pada kapas untuk menjaga kelembapan udara di dalam cawan Petri slide
culture. Tujuan slide culture adalah melihat morfologi mikroskopis fungi, yang terdiri dari
bentuk hifa, sporangium, konidia, dll. Dari hasil pengamatan dapat diperoleh hasil bahwa
bentuk khamir yaitu oval, sedangkan kapang berbentuk lebih kompleks dengan memanjang
dan berserat hingga bersekat.

B. Saran
Saran yang dapat saya berikan untuk praktikum morfologi kapang dan khamir ini adalah
diharapkan para praktikan sebelum memulai praktikum sudah membaca modul atau buku
panduan praktikum dengan baik dan benar agar dapat mengerjakan praktikum dengan lancar
dan meminimalisir kesalahan, selain itu praktikan juga perlu memakai alat-alat keselamatan
seperti jaslab dan tidak lupa mensterilisasikan tangan serta meja kerja dengan menggunakan
alkohol. Selain itu, praktikan diharapkan selalu mengikuti arahan dosen maupun asisten
laboratorium agar tidak ada kesalahan yang dapat mengganggu jalannya praktikum. Dalam
praktikum morfologi kapang dan khamir ini juga diperlukan ketelitian dan selalu
mengerjakan sesuatunya secara aseptis agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan
meskipun jamur yang diinokulasi bukan termasuk kedalam patogen. Selain itu, untuk
pengambilan kultur kapang dan khamir diharapkan tidak diambil terlalu banyak, dan diambil
hanya sebanyak 1 ose saja agar kapang dan khamir terlihat jelas ketika diamati.
DAFTAR PUSTAKA

Dwidjoseputro. (1998). Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Penerbit Djambatan.

Gozali, A. (2009). Pewarnaan Gram. Jakarta: PT Raja Grafindo.

Hadioetomo, R. S. (1993). Mikrobiologi Dasar dalam Praktek. Jakarta: Gramedia Pustaka


Utama.

Irianto, K. 2006, Mikrobiologi: Menguak Dunia Mikroorganisme Jilid 2, CV. Yrama Widya.
Bandung.

Pelczar. 1996. Dasar-Dasar Mikrobiologi. Jakarta: Universitas Indonesia.

Singleton, Paul dan Sainsbury, Diana. 2006. Dictionary of Microbiology and Molecular Biology
3rdEdition. England: John Wiley and Sons. Sussex.

Sumarsih, S., 2003. Mikrobiologi Dasar. Universitas Pembangunan Nasional Veteran,


Yogyakarta.

Volk, Wesley A. dan Wheeler, Margaret F. 1993. Mikrobiologi Dasar. Jakarta : Erlangga.