Anda di halaman 1dari 5

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM FARMASI RUMAH SAKIT

COPY RESEP

Disusun Oleh :

Hariyati

17.71.018061

PROGAM STUDI DIPLOMA-III FARMASI


FAKULTAS ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PALANGKA RAYA
TAHUN 2019
I. Tujuan
Mahasiswa mampu mengetahui dan melakukan copy resep di Instalasi Farmasi
Rumah Sakit.

II. Manfaat
Mahasiswa mengetahui dan melakukan copy resep di Instalasi Farmasi Rumah Sakit.

III. Uraian Kegiatan


Rumah sakit adalah salah satu dari sarana kesehatan tempat menyelenggarakan
upaya kesehatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan,bertujuan untuk
mewujudkan derajat kesehatan yang optimal bagi masyarakat (Siregar dan Amelia, 2003).
Tugas rumah sakit adalah menyediakan keperluan untuk pemeliharaan dan pemulihan
kesehatan. Rumah sakit mempunyai fungsi yaitu menyelenggarakan pelayanan medik,
pelayanan penunjang medik dan non medik, pelayanan dan asuhan keperawatan, pelayanan
rujukan, pendidikan dan pelatihan, penelitian dan pengembangan, serta administrasi umum
dan keuangan. Secara tradisional, maksud dasar keberadaan rumah sakit adalah mengobati
dan perawatan penderita sakit dan terluka (Siregar dan Amelia, 2003).
Instalasi Farmasi Rumah Sakit (IFRS) adalah suatu bagian/unit atau fasilitas
dirumah sakit, tempat penyelenggaraan semua kegiatan pekerjaan kefarmasian
yang ditujukan untuk keperluan rumah sakit itu sendiri (Siregar dan Amelia, 2003).
IFRS harus mempunyai sasaran jangka panjang yang menjadi arah dari
kegiatan sehari-hari dilakukan. Oleh karena itu, tujuan kegiatan harian IFRS
antara lain:
1. Memberi manfaat kepada penderita, rumah sakit dan sejawat profesi kesehatan
2. Membantu dalam penyediaan perbekalan yang memadai oleh apoteker rumah
sakit yang memenuhi syarat
3. Menjamin praktik professional yang bermutu tinggi melalui penetapan dan
pemeliharaan standar etika professional, pendidikan dan pencapaian, dan melalui
peningkatan kesejahteraan ekonomi
4. Meningkatkan penelitian dalam praktik farmasi rumah sakit dan dalam ilmu
farmasetik pada umumnya
5. Menyebarkan pengetahuan farmasi dengan mengadakan pertukaran informasi
antara para apoteker rumah sakit, anggota profesi, dan spesialis yang serumpun

6. Memperluas dan memperkuat kemampuan apoteker rumah sakit untuk mengelola,


mengembangkan, dan memberikan pelayanan klinik
7. Meningkatkan pengetahuan dan pengertian praktik farmasi rumah sakit bagi
masyarakat, pemerintah, industri farmasi, dan professional kesehatan lainnya
8. Membantu menyediakan personel pendukung yang bermutu untuk IFRS
9. Membantu dalam pengembangan dan kemajuan profesi kefarmasian (Siregar
dan Amelia, 2003).
Tugas utama IFRS adalah pengelolaan mulai dari perencanaan, pengadaan,
penyimpanan, penyiapan, peracikan, pelayanan langsung kepada penderita sampai
dengan pengendalian semua perbekalan kesehatan yang beredar dan digunakan
dalam rumah sakit baik untuk penderita rawat tinggal, rawat jalan maupun untuk
semua unit termasuk poliklinik rumah sakit (Siregar dan Amelia, 2003).
IFRS bertanggung jawab mengembangkan suatu pelayanan farmasi yang
terkoordinasi dengan baik dan tepat, untuk memenuhi kebutuhan berbagai
bagian/unit diagnosa dan terapi, unit pelayanan keperawatan, staf medik dan
rumah sakit keseluruhan untuk kepentingan pelayanan penderita yang lebih baik
(Siregar dan Amelia, 2003).
Resep adalah permintaan tertulis kepada Apoteker Pengelola Apotek (APA) untuk
menyediakan dan menyerahkan obat bagi penderita dari dokter, dokter gigi, atau dokter hewan
yang diberi izin berdasarkan peraturan perundang-undangan. Umumnya resep ditulis dalam
bahasa latin. Jika tidak jelas atau tidak lengkap, apoteker harus menanyakan kepada dokter
penulis resep tersebut. Resep ditulis dalam bahasa latin :
 Bahasa universal, bahasa mati, bahasa medical science
 Menjaga kerahasiaan
 Menyamakan persepsi (dokter dan apoteker)
Resep asli tidak boleh diberikan setelah obatnya diambil oleh pasien, hanya dapat
diberikan copy resep atau salinan resep. Resep asli tersebut harus disimpan di apotek dan tidak
boleh diperlihatkan kepada orang lain kecuali diminta oleh:
 Dokter yang menulisnya atau yang merawatnya.
 Pasien yang bersangkutan.
 Pegawai (kepolisian, kehakiman, kesehatan) yang ditugaskan untuk memeriksa dan
 Yayasan atau lembaga lain yang menggung biaya pasien.
Copy resep atau turunan resep adalah salinan resep yang dibuat oleh apoteker atau
apotek. Selain memuat semua keterangan obat yang terdapat pada resep asli. Istilah lain dari
copy resep adalah apograph, exemplum, afschrtif. Apabila Apoteker Pengelola Apoteker
berhalangan melakukan tugasnya, penandatanganan atau pencantuman paraf pada salinan
resep yang dimaksud atas dilakukan oleh Apoteker Pendamping atau Apoteker Pengganti
dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.
Salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis atau yang merawat
penderita-penderita sendiri dan petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang menurut
perundang-undangan yang berlaku. (contohnya petugas pengadilan bila diperlukan untuk
suatu perkara).
1. Salinan resep harus ditandatangani apoteker. Apabila berhalangan, penandatanganan
atau paraf pada salinan resep dapat dilakukan oleh apoteker pendamping atau apoteker
pengganti dengan mencantumkan nama terang dan status yang bersangkutan.
2. Resep harus dirahasiakan dan disimpan di apotek dengan baik selama 3 tahun.
3. Resep atau salinan resep hanya boleh diperlihatkan kepada dokter penulis resep,
pasien yang bersangkutan, petugas kesehatan atau petugas lain yang berwenang
menurut peraturan UU yang berlaku.
4. Apoteker pengelola apotek, apoteker pendamping atau pengganti diizinkan untuk
menjual obat keras yang disebut obat wajib apotek (OWA)
5. OWA ditetapkan oleh menteri kesehatan.
6. OWA obat keras yang dpt diserahkan oleh apoteker kepada pasien di apotek tanpa
resep dokter.
7. Pelaksanaan OWA tersebut oleh apoteker harus sesuai yang diwajibkan pd diktum
kedua SK. Menteri Kesehatan Nomor : 347/Menkes/SK/VII/1990 tentang OWA yaitu
sbb :
 Memenuhi ketentuan & batasan tiap jenis obat per pasien yang disebutkan
dalam OWA yang bersangkutan.
 Membuat catatan pasien serta obat yang telah diserahkan.Memberikan
informasi tentang obat yang diperlukan pasien
IV. KESIMPULAN
Copy resep atau turunan resep adalah salinan resep yang dibuat oleh apoteker atau
apotek. Selain memuat semua keterangan obat yang terdapat pada resep asli. Istilah lain
dari copy resep adalah apograph, exemplum, afschrtif.
V. DAFTAR PUSTAKA

Anief, M., 1996, Ilmu Meracik Obat Cetakan 6, Gajah Mada University Press, Yogyakarta

Departemen Kesehatan, 1981, Keputusan Menteri Kesehatan No. 280 tahun 1981 tentang
Ketentuan dan Tata Cara Pengelolaan Apotek, Jakarta

Direktorat Jenderal Pelayanan Kefarmasian dan Alat Kesehatan Departemen Kesehatan RI,
2006, Standar Pelayanan Kefarmasian di Apotek, Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1027/Menkes/SK/IX/2004, Jakarta

Siregar, C. J. P., Amalia, L., 2003, Farmasi Rumah Sakit, Teori dan Penerapan, 91-95, 101-
105, Penerbit buku kedokteran EGC, Jakarta.