Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN TERAPI BERMAIN PADA ANAK

Pokok Bahasan : Terapi Bermain Pada Anak

Sub Pokok Bahasan : Terapi Bermain Menyusun Lego

Tujuan : Meningkatkan gerak motorik pada anak

Tempat : Lab Keperawatan Anak

Waktu : Kamis, 23 Mei 2019

Sasaran : Anak usia prasekolah

I. Latar Belakang
Hasil survey yang dilakukan oleh Badan Pusat Statisik tahun 2010 dan
International Labour Organization (ILO), jumlah anak di Indonesia mencapai 58,8
juta jiwa. Jumlah anak di Jawa Tengah mencapai 8,19 juta pada usia 0-14 tahun
(Bappeda Jateng, 2010) merupakan jumlah yang tidak sedikit untuk mengupayakan
mereka menjadi anak-anak yang memiliki kualitas baik, sehingga anak perlu
mendapatkan dukungan dari berbagai pihak salah satunya adalah petugas kesehatan
bagi anak anak yang mengalami masalah kesehatan.
Anak yang mengalami masalah kesehatan perlu mendapatkan perhatian dan
perawatan. Banyak kasus yang menyebabkan anak-anak harus menjalani rawat inap di
rumah sakit. Pengalaman dirawat di rumah sakit (hospitalisasi) adalah pengalaman
yang penuh stres dan kecemasan bagi anak maupun keluarga. Respon anak selama
dirawat di rumah sakit yang paling menonjol adalah kecemasan. Menurut Handayani
dan Puspitasari (2010) perilaku tidak kooperatif anak yang dirawat di rumah sakit
dapat diatasi dengan bermain.
Bermain adalah salah satu aspek penting dari kehidupan anak dan salah satu
alat paling penting untuk menatalaksanakan stres karena hospitalisasi menimbulkan
krisis dalam kehidupan anak, dan karena situasi tersebut sering disertai stress
berlebihan, maka anak-anak perlu bermain untuk mengeluarkan rasa takut dan cemas
yang mereka alami sebagai alat koping dalam menghadapi stress. Bermain sangat
penting bagi mental, emosional dan kesejahteraan anak seperti kebutuhan
perkembangan dan kebutuhan bermain tidak juga terhenti pada saat anak sakit atau
anak di rumah sakit (Wong, 2009).
Melalui bermain akan semakin mengembangkan kemampuan dan
keterampilan motorik anak, kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia
nyata, menjadi eksis di lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi
manfaat lainnya (Martin, 2008). Kegiatan bermain mencerminkan kemampuan fisik,
intelektual, emosional, dan sosial anak. Salah satu fungsi bermain adalah sebagai
terapi. Aktivitas permainan mengandung motivasi instrinsik, memberi kesenangan
dan kepuasan bagi anak-anak yang terlibat (Mahon, 2009).
Permainan yang terapeutik dapat memperbaiki ganggguan emosional dan
penurunan kondisi selama dirawat di rumah sakit. Anak membutuhkan terapi bermain,
tetapi tidak semua permainan memiliki sifat terapeutik. Permainan terapeutik
hendaknya disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak (Mahon, 2009).
Permainan terapeutik berpengaruh terhadap penurunan kecemasan, kehilangan
kontrol, dan ketakutan pada anak prasekolah yang dirawat di rumah sakit (Subardiah,
2009).
Tahap perkembangan anak usia sekolah merupakan fase laten yang
membutuhkan teman sebaya dalam berhubungan sosial, dan pada fase ini anak juga
mulai berfikir logis. Periode perkembangan anak usia sekolah aktivitasnya mulai
menjauh dari kelompok keluarga dan lebih berfokus pada hubungan dengan teman
sebaya yang lebih luas dan mengutamakan kerja sama sosial (Wong et all, 2009).
Tingkat enguasaan anak pada tantangan perkembangan mempengaruhi kemampuan
akademik dan sosial. Ini berhubungandengan kompetensi membangun hubungan yang
efektif dengan teman sebaya (Bredecamo & Copple, 2009).
Menurut Solikhah, 2011 permainan terapeutik dengan teman sebaya dapat
disebut sebagai therapetic peer play. Therapetic peer play merupakan salah satu
intervensi tepat yang dapat diterapkan pada anak usia sekolah saat hospitalisasi.
Therapeutic peer play merupakan salah satu bentuk tindakan keperawatan yang dapat
membantu klien mengoptimalkan perkembangan anak saat berada di rumah sakit
(Solikhah, 2011).
Bagi anak usia sekolah, teman sebaya punya peranan sangat besar dan sangat
memberikan pengaruh bagi kehidupan anak. Hal ini sangat dibutuhkan selama anak
berada dalam masa hospitalisasi. Tidak tercapainya tahap ini akan sangat menganggu
coping individu dalam menghadapi permasalahan serta menganggu keseimbangan
antara ketergantungan dan ketidaktergantungan, hal ini sering tidak disadari oleh
orang tua dan petugas kesehatan di ruang rawat anak. Pendekatan therapeutic peer
play penting untuk direncanakan sebagai salah satu alternatif untuk menyelesaikan
masalah hospitalisasi pada anak usia sekolah (Sholikah, 2011).

II. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Meminimalisir dampak atau tindakan keperawatan yang traumatis
b. Setelah diajak bermain, diharapkan anak dapat melanjutkan tumbuh
kembangnya, mengembangkan aktifitas dan kreatifitas melalui pengalaman
bermain dan beradaptasi efektif
2. Tujuan Khusus
a. Menurunkan tingkat kecemasan anak usia sekolah
b. Meningkatkan kemandirian anak usia sekolah
c. Mengoptimalkan perkembangan anak usia sekolah
d. Gerakan motorik halus pada anak lebih terarah
e. Dapat membentuk lego yang disukai

III. Perencanaan
1. Jenis Program Bermain
Bermain bongkar pasang lego
2. Karakteristik bermain
a. Melatih motorik kasar
b. Melatik kesabaran dan ketelitian
3. Karakteristik peserta
a. Usia 3 – 6 tahun
b. Peserta anak dan didampingi orang tua
c. Keadaan umum mulai membaik
d. Klien dapat duduk
e. Peserta kooperatif
4. Metode: Demontrasi
5. Alat-alat yang digunakan (Media
Lego
IV. Perencanaan

Tahap Waktu Keg. Pengajar Keg. Audien Subjek terapi


Pra 10 menit  Perkenalan Mendengarkan Anak dan
Interaksi  Menjelaskan kegiatan yang penjelasan keluarga
akan dilakukan menjawab
 Menjelaskan manfaat terapi salam, anak dan
bermain keluarga

 Kontrak waktu memperhatikan

Interaksi 5 menit  Menjelaskan peraturan Mendengarkan Anak


permainan dan memperhatikan
 Memberikan contoh memperhatikan penjelasan dan
 Anak menyusun lego cerita yang melakukan

 Menceritakan lego yang disampaian kegiatannya

disusun
Terminasi 10 menit  Mengajukan pertanyaan Menjawab Anak dan
 Melakukan evaluasi pertanyaan keluarga
 Memberikan motivasi pada tampak senang
orang tua untuk
menerapkan terapi bermain

V. Hal-Hal Yang Perlu Diwaspadai


1. Keadaan anak yang tidak memungkinkan untuk bermain, seperti lemas, panas tinggi
(demam)
2. Anak tidak mematuhi peraturan yang telah ditetapkan
3. Anak merasa bosan

VI. Antisipasi Meminimalkan Hambatan


1. Memilih anak yang sesuai dengan target (usia 5-8 tahun)
2. Memilih anak yang aktif
3. Memilih anak yang tidak mengalami gangguan kognitif
4. Melihat kondisi kesehatan dari hari sebelumnya
VII. Kriteria Evaluasi
1. Evaluasi struktur
a. Menyiapkan preplanning, alat bantu
b.Kontrak waktu dengan peserta sebelum melakukan kegiatan
2. Evaluasi proses
a. Peserta kooperatif terhadap terpai bermain yang diberikan
b.Peserta menjawab pertanyaan yang diajukan
c. Kegiatan berjalan lancar
3. Evaluasi hasil
a. Peserta merasakan senang
b. Terapi bermain yang dilakukan sukses
Lampiran Materi

A. Definisi
Bermain adalah dunia anak-anak sebagai bahasa yang paling universal, meskipun
tidak pernah dimasukkan sebagai salah satu dari ribuan bahasa yang ada di dunia.
Melalui bermain, anak-anak dapat mengekspresikan apapun yang mereka inginkan.
Menurut Groos (Schaefer et al, 2009) bermain dipandang sebagai ekspresi insting untuk
berlatih peran di masa mendatang yang penting untuk bertahan hidup (Nuryanti, 2007).
Bermain juga menjadi media terapi yang baik bagi anak-anak bermasalah selain
berguna untuk mengembangkan potensi anak. Menurut Nasution (cit Martin, 2008),
bermain adalah pekerjaan atau aktivitas anak yang sangat penting. Melalui bermain
akan semakin mengembangkan kemampuan dan keterampilan motorik anak,
kemampuan kognitifnya, melalui kontak dengan dunia nyata, menjadi eksis di
lingkungannya, menjadi percaya diri, dan masih banyak lagi manfaat lainnya (Martin,
2008). Bermain adalah cerminan kemampuan fisik, intelektual, emosional dan sosial
dan bermain merupakan media yang baik untuk belajar karena dengan bermain, anak
akan berkata-kata, belajar memnyesuaikan diri dengan lingkungan, melakukan apa
yang dapat dilakukan, dan mengenal waktu, jarak, serta suara (Wong, 2009). Bermain
adalah kegiatan yang dilakukan sesaui dengan keinginanya sendiri dan memperoleh
kesenangan. (Foster, 2007).
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bermain adalah: “Kegiatan yang tidak
dapat dipisahkan dari kehidupan anak sehari-hari karena bermain sama dengan kerja
pada orang dewasa, yang dapat menurunkan stres anak, belajar berkomunikasi dengan
lingkungan, menyesuaikan diri dengan lingkungan, belajar mengenal dunia dan
meningkatkan kesejahteraan mental serta sosial anak.

B. Fungsi Bermain
1. Membantu Perkembangan Sensorik dan Motorik
Fungsi bermain pada anak ini adalah dilakukan dengan melakukan rangsangan
pada sensorik dan motorik melalui rangsangan ini aktifitas anak dapat
mengeksplorasikan alam sekitarnya sebagai contoh bayi dapat dilakukan rangsangan
taktil,audio dan visual melalui rangsangan ini perkembangan sensorik dan motorik
akan meningkat. Hal tersebut dapat dicontohkan sejak lahir anak yang telah
dikenalkan atau dirangsang visualnya maka anak di kemudian hari kemampuan
visualnya akan lebih menonjol seperti lebih cepat mengenal sesuatu yang baru
dilihatnya. Demikian juga pendengaran, apabila sejak bayi dikenalkan atau
dirangsang melalui suara-suara maka daya pendengaran di kemudian hari anak lebih
cepat berkembang di bandingkan tidak ada stimulasi sejak dini.
2. Membantu Perkembangan Kognitif
Perkembangan kognitif dapat dirangsang melalui permainan. Hal ini dapat
terlihat pada saat anak bermain, maka anak akan mencoba melakukan komunikasi
dengan bahasa anak, mampu memahami obyek permainan seperti dunia tempat
tinggal, mampu membedakan khayalan dan kenyataan, mampu belajar warna,
memahami bentuk ukuran dan berbagai manfaat benda yang digunakan dalam
permainan,sehingga fungsi bermain pada model demikian akan meningkatkan
perkembangan kognitif selanjutnya.
3. Meningkatkan Sosialisasi Anak
Proses sosialisasi dapat terjadi melalui permainan, sebagai contoh dimana
pada usia bayi anak akan merasakan kesenangan terhadap kehadiran orang lain dan
merasakan ada teman yang dunianya sama, pada usia toddler anak sudah mencoba
bermain dengan sesamanya dan ini sudah mulai proses sosialisasi satu dengan yang
lain, kemudian bermain peran seperti bermain-main berpura-pura menjadi seorang
guru, jadi seorang anak, menjadi seorang bapak, menjadi seorang ibu dan lain-lain,
kemudian pada usia prasekolah sudah mulai menyadari akan keberadaan teman
sebaya sehingga harapan anak mampu melakukan sosialisasi dengan teman dan orang.
4. Meningkatkan Kreatifitas
Bermain juga dapat berfungsi dalam peningkatan kreatifitas, dimana anak mulai
belajar menciptakan sesuatu dari permainan yang ada dan mampu memodifikasi objek
yang akan digunakan dalam permainan sehingga anak akan lebih kreatif melalui
model permainan ini, seperti bermain bongkar pasang mobil-mobilan.
5. Meningkatkan Kesadaran Diri
Bermain pada anak akan memberikan kemampuan pada anak untuk ekplorasi
tubuh dan merasakan dirinya sadar dengan orang lain yang merupakan bagian dari
individu yang saling berhubungan, anak mau belajar mengatur perilaku,
membandingkan dengan perilaku orang lain.
6. Mempunyai Nilai Terapeutik
Bermain dapat menjadikan diri anak lebih senang dan nyaman sehingga adanya
stres dan ketegangan dapat dihindarkan, mengingat bermain dapat menghibur diri
anak terhadap dunianya.
7. Mempunyai Nilai Moral
Pada Anak Bermain juga dapat memberikan nilai moral tersendiri kepada
anak, hal ini dapat dijumpai anak sudah mampu belajar benar atau salah dari budaya
di rumah, di sekolah dan ketika berinteraksi dengan temannya, dan juga ada beberapa
permainan yang memiliki aturan-aturan yang harus dilakukan tidak boleh dilanggar

C. Manfaat Bermain
Manfaat yang didapat dari bermain, antara lain:
1. Membuang ekstra energi.
2. Mengoptimalkan pertumbuhan seluruh bagian tubuh, seperti tulang, otot dan
organ-organ.
3. Aktivitas yang dilakukan dapat merangsang nafsu makan anak.
4. Anak belajar mengontrol diri.
5. Berkembanghnya berbagai ketrampilan yang akan berguna sepanjang hidupnya
6. Meningkatnya daya kreativitas.
7. Mendapat kesempatan menemukan arti dari benda-benda yang ada disekitar anak.
8. Merupakan cara untuk mengatasi kemarahan, kekuatiran, iri hati dan kedukaan.
9. Kesempatan untuk bergaul dengan anak lainnya.
10. Kesempatan untuk mengikuti aturan-aturan
11. Dapat mengembangkan kemampuan intelektualnya

D. Macam-macam Bermain
1. Bermain aktif
Pada permainan ini anak berperan secara aktif, kesenangan diperoleh dari apa
yang diperbuat oleh mereka sendiri.Bermain aktif meliputi :
a. Bermain mengamati/menyelidiki (Exploratory Play)
Perhatian pertama anak pada alat bermain adalah memeriksa alat permainan
tersebut, memperhatikan, mengocok-ocok apakah ada bunyi, mencium,
meraba, menekan dan kadang-kadang berusaha membongkar
b. Bermain konstruksi (Construction Play)
Pada anak umur 3 tahun dapat menyusun balok-balok menjadi rumah-
rumahan.
c. Bermain drama (Dramatic Play)
Misalnya adalah bermain sandiwara boneka, main rumah-rumahan dengan
teman-temannya.
d. Bermain fisik
Misalnya bermain bola, bermain tali dan lain-lain.
2. Bermain pasif
Pada permainan ini anak bermain pasif antara lain dengan melihat dan mendengar.
Permainan ini cocok apabila anak sudah lelah bernmain aktif dan membutuhkan
sesuatu untuk mengatasi kebosanan dan keletihannya. Contoh ; Melihat gambar di
buku/majalah.,mendengar cerita atau musik,menonton televisi dsb

E. Alat Permainan Edukatif (APE)


Alat Permainan Edukatif (APE) adalah alat permainan yang dapat mengoptimalkan
perkembangan anak, disesuaikan dengan usianya dan tingkat perkembangannya, serta
berguna untuk :
1. Pengembangan aspek fisik, yaitu kegiatan-kegiatan yang dapat menunjang atau
merangsang pertumbuhan fisik anak, trediri dari motorik kasar dan halus. Contoh alat
bermain motorik kasar : sepeda, bola, mainan yang ditarik dandidorong, tali, dll.
Motorik halus : gunting, pensil, bola, balok, lilin, dll.
2. Pengembangan bahasa, dengan melatih berbicara, menggunakan kalimat yang
benar.Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, majalah, radio, tape, TV,
dll.
3. Pengembangan aspek kognitif, yaitu dengan pengenalan suara, ukuran, bentuk.
Warna, dll. Contoh alat permainan : buku bergambar, buku cerita, puzzle, boneka,
pensil warna, radio, dll.
4. Pengembangan aspek sosial, khususnya dalam hubungannya dengan interaksi ibu dan
anak, keluarga dan masyarakat.Contoh alat permainan : alat permainan yang dapat
dipakai bersama, misal kotak pasir, bola, tali, dan lain-lain.

F. Hal-Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Bermain


1. Bermain/alat bermain harus sesuai dengan taraf perkembangan anak
2. Permainan disesuaikan dengan kemampuan dan minat anak.
3. Ulangi suatu cara bermain sehingga anak terampil, sebelum meningkat pada
keterampilan yang lebih majemuk.
4. Jangan memaksa anak bermain, bila anak sedang tidak ingin bermain.
5. Jangan memberikan alat permainan terlalu banyak atau sediki
DAFTAR PUSTAKA

1. Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Tengah dan BAPPEDA Provinsi Jawa Tengah.
2010. Jawa Tengah Dalam Angka 2010. Semarang: CV. Nabawi.
2. Handayani, R.D., & Puspitasari, N.P.D. 2010. Pengaruh terapi bermain terhadap tingkat
kooperatif selama menjalani perawatan pada anak usia pra sekolah (3—5 tahun) di
rumah sakit Panti Rapih Yogyakarta. Jurnal Kesehatan Surya Medika Yogayakarta.
Diakses pada tanggal 1 Maret 2017 dari http://www.skripsistikes.wordpress.com.
3. Mahon, L.M. 2009. The handbook of play therapy and theraupetik play (2nd ed). London:
Wiley Inter Science.
4. Solikhah, Umi. 2011. Theraupetic peer play sebagai upaya menurunkan kecemasan anak
usia sekolah selama hospitalisasi. Jurnal keperawatan soedirman. Fakultas Ilmu
Keperawatan Universitas Muhammadiyah Purwokerto.
5. Wong. 2009. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik. Jakarta: EGC