Anda di halaman 1dari 16

PEMBELAJARAN IPA TERPADU

“Penerapan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Dengan Model


Networked Menggunakan Media Video Animasi Dan LKPD Pada Materi
Sistem Pernapasan”

Disusun Oleh :

Winda Amthari (P2A519005)

Ria Septiana (P2A519009)

Reza Elsinta Utami (P2A519013)

Delvi Dwi Sandra (P2A519017)

Estitika (P2A519019)

PROGRAM STUDI MAGISTER PENDIDIKAN IPA

UNIVERSITAS JAMBI

2019
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dunia pendidikan terus berkembang seiring dengan perkembangan zaman, perkembangan
ini bertujuan untuk meningkatkan mutu pendidikan khususnya di Indonesia. Perubahan penting
yang telah terjadi dalam dunia pendidikan di Indonesia salah satunya adalah perubahan
kurikulum, telah kita ketahuai bersama perubahan kurikulum juga diikuti perubahan perangkat
pembelajaran salah satunya RPP. Dalam rangka mengimplementasikan program pembelajaran
yang sudah dituangkan di dalam silabus, guru harus menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP).
RPP merupakan pegangan bagi guru dalam melaksanakan pembelajaran baik di kelas,
laboratorium, dan/atau lapangan untuk setiap Kompetensi dasar. Oleh karena itu, apa yang
tertuang di dalam RPP memuat hal-hal yang langsung berkait dengan aktivitas pembelajaran
dalam upaya pencapaian penguasaan suatu Kompetensi Dasar. Dalam menyusun RPP guru
harus mencantumkan Standar Kompetensi yang menjadi acuan Kompetensi Dasar yang akan
disusun dalam RPP-nya. Di dalam RPP secara rinci harus dimuat Tujuan Pembelajaran,Materi
Pembelajaran, Metode Pembelajaran, Langkah-langkah Kegiatan pembelajaran, Media
Pembelajaran yang digunakan, Sumber Belajar, dan Penilaian.
Networked adalah model pembelajaran berupa kerjasama antara siswa dengan media
elektronik dan media massa dalam mencari data, keterangan atau lainnya sehubungan dengan
mata pelajaran yang disukainya atau diminatinya sehingga siswa secara tidak langsung mencari
tahu dari berbagai sumber. Sumber dapat berupa buku bacaan, internet, saluran radio, ataupun
TV. Melalui pembelajaran dengan model ini peserta didik dapat memulai pencarian dan
mengikuti jalan yang baru dia temukan dengan kemampuanya sendiri. Peserta didik dirangsang
dengan informasi yang relevan, keterampilan, atau konsep yang diberikan di sepanjang proses
pembelajaran. Nilai tambahan dari model jaringan ini bagaimanapun tidak bisa dipaksakan pada
peserta didik melainkan harus muncul dari dalam diri masing-masing peserta didik. Namun,
mentor memberikan dan memberikan layanan yang diperlukan untuk mendukung tingkat
pembelajaran yang lebih tinggi. Pada model networked ini peserta didik terstimulasi oleh
informasi, ketrampilan atau konsep-konsep baru.
Media pembelajaran merupakan alat yang dapat mendukung pembelajaran agar
berlangsung lebih efektif dan efisien untuk mencapai tujuan pembelajaran. Video merupakan
media elektronik yang mampu menggabungkan teknologi audio dan visual secara bersama
sehingga menghasilkan suatu tayangan yang dinamis dan menarik. Melalui penayangan video,
pelajar dapat merasa seolah-olah mereka berada atau turut serta dalam suasana yang
digambarkan. Sebagai contoh, proses pernafasan manusia dapat ditunjukkan kepada pelajar
melalui video. Kiranya dapat membantu pelajar membayangkan cara kerja sistem pernafasan
manusia di samping memberi pengalaman kepada para pelajar secara visual. Lembar kerja
peserta didik (LKPD) merupakan salah satu sarana untuk membantu dan mempermudah dalam
kegiatan belajar mengajar sehingga akan terbentuk interaksi yang efektif antara peserta didik,
sehingga dapat meningkatkan aktivitas peserta didik dalam peningkatan prestasi belajar.
Berdasarkan uraian di atas maka penulis tertarik untuk membuat Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan Model Networked menggunakan Media Video Animasi dan LKPD
pada materi Sistem Pernapasan.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka yang menjadi rumusan masalah
adalah "Bagaimana penerapan RPP dgn model Networked menggunakan media Video Animasi
dan LKPD pada materi Sistem Pernapasan”

C. Tujuan
Untuk mengetahui penerapan RPP dgn model Networked menggunakan media Video
Animasi dan LKPD pada materi Sistem Pernapasan
BAB II
PEMBAHASAN

A. Model Pembelajaran Perpadu Networked


Model Networked atau jaringan merupakan model pemaduan pembelajaran yang
mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun
tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi,
kondisi, maupun konteks yang berbeda – beda. Belajar disikapi sebagi proses yang berlangsung
secara terus – menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan
yang dihadapi siswa. (Robin Fogarty.1991)
Model networked adalah model pembelajaran berupa kerjasama antara siswa dengan
seorang ahli dalam mencari data, keterangan, atau lainnya sehubungan dengan mata pelajaran
yang disukainya atau yang diminatinya sehingga siswa secara tidak langsung mencari tahu dari
berbagai sumber. Sumber dapat berupa buku bacaan, internet, saluran radio, TV, atau teman,
kakak, orangtua atau guru yang dianggap ahli olehnya. Siswa memperluas wawasan belajarnya
sendiri artinya siswa termotivasi belajar karena rasa ingin tahunya yang besar dalam dirinya.

B. Karakteristik Model Pembelajaran Terpadu Networked


Model networked ini terdengar seperti tiga atau empat arah konferensi yang memberikan
berbagai jalan eksplorasi dan penjelasan. Meskipun ide-ide yang beragam mungkin tidak datang
sekaligus, pelajar pada model jaringan ini terbuka untuk menerima beberapa input sebagai
komponen yang berbeda yang disaring dan diurutkan sesuai kebutuhan seorang pelajar. Model
ini terdengar seperti jaringan berita yang menarik yang tersaji dalam gambar dan cerita yang
berasal dari seluruh penjuru dunia. Model networked ini mirip dengan sinyal satelit yang
bertebaran dan menerima sinyal dariberbagai arah.
Model ini, seperti model yang tersamar, model jaringan sering memindahkan tanggung
jawab integrasinya lebih berat kepada pelajar daripada seorang desainer pembelajarannya.
Namun, itu adalah model yang sesuai untuk menyajikan motivasi kepada peserta didik. Tutor
atau mentor sering menyarankan model jaringan untuk memperluas cakrawala para pelajar atau
memberikan perspektif yang diperlukan. Sebagai jaringan berkembang, koneksi atau suatu
hubungan terkadang muncul secara kebetulan di sepanjang proses pembelajaran. Seringkali,
tanpa sengaja hal ini mendorong peserta didik menemukan kedalaman pengetahuan baru disuatu
bidang atau sebenarnya mengarah kepenciptaan bidang yang lebih khusus. Salah satu contoh
seperti di era modern sekarang, dalam bidang genetika yang telah mengembangkan sebuah
penemuan baru yang dikenal sebagai rekayasa genetik. Ini berlangsung dari lapangan yang
merupakan hasil dari pengembangan model jaringan seorang pelajar yang berbakat dengan
pelajar lainnya yang mendalami keahliannya tersebut.
C. Langkah-langkah Pembelajaran Terpadu Networked
Langkah-langkah pengembangan model jaringan adalah sebagai berikut.

1. Analisis perkembangan anak.

2. Tentukan konten kurikulum berdasarkan perkembangan anak dengan membuat standar


kompetensi, kompetensi dasar, indikator, dan hasil belajar.

3. Buat rancangan kegiatan mingguan (RKM).

4. Tentukan tema dan subtemanya, kaitkan dengan aspek-aspek perkembangan anak.

5. Kemudian tentukan indikator yang akan dikembangkan disetiap aspek kemampuan.

6. Desain model networked, lalu masukkan minat-minat anak sesuai dengan aspek
perkembangan anak.

7. Hasil dari rancangan model jaringan (networked) dimasukkan dalam Rancangan


Kegiatan Harian dengan berpijak pada tema dan subtema.

8. Tentukan media, fasilitas, strategi, pendekatan maupun metode langkah- langkah


kegiatan dalam pelaksanaan (pembukaan, kegiatan inti, dan penutup).

9. Langkah evaluasi terhadap kegiatan tersebut dengan menggunakan RKH yang telah
dibuat

D. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Terpadu Networked


Kelebihan dari model jaringan ini sangat beragam. Pendekatan pembelajaran terintegrasi
ini sangat pro-aktif dan alami, dengan model ini peserta didik memulai pencarian dan mengikuti
jalan yang baru dia temukan dengan kemampuanya sendiri. Peserta didik dirangsang dengan
informasi yang relevan, keterampilan, atau konsep yang diberikan di sepanjang proses
pembelajaran. Nilai tambahan dari model jaringan ini bagaimanapun tidak bisa dipaksakan pada
peserta didik melainkan harus muncul dari dalam diri masing-masing peserta didik. Namun,
mentor memberikan dan memberikan layanan yang diperlukan untuk mendukung tingkat
pembelajaran yang lebih tinggi. Pada model networked ini peserta didik terstimulasi oleh
informasi, ketrampilan atau konsep-konsep baru. Pada penelitian Asti dkk (2015) juga
menyatakan bahwa pada data kompetensi yaitu pengetahuan dan keterampilan dapat dinyatakan
bahwa penggunaan buku siswa IPA Terpadu model Networked dengan tema kelistrikan jantung
memberi kan pengaruh yang berarti terhadap kompetensi peserta didik kelas VIII MTsN 6 Model
Padang. Bahan ajar ini cocok untuk digunakan oleh guru-guru di sekolah untuk menunjang
pembelajaran IPA Terpadu sehingga dapat meningkatkan kompetensi peserta didik. peserta didik
dapat menggunakan buku ini untuk meningkatkan pemahaman terhadap materi IPA Terpadu.
Kelemahan model jaringan, jika diambil untuk perbedaan-perbedaan besar, dapat
menyebarkan minat yang terlalu tipis dan tidak terkonsentrasi atau memecah perhatian peserta
didik sehingga upaya-upaya pengajaran yang dilakukan menjadi tidak efektif. Selain itu motivasi
anak akan berubah sehingga kedalaman materi pelajaran menjadi dangkal secara tidak sengaja
karena mendapat hambatan dalam mencari sumber.
E. Tujuan Model Pembelajaran Terpadu Networked
Model networked dirancang untuk memaduan pembelajaran yang mengandaikan
kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun tuntutan bentuk
keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi, kondisi, maupun
konteks yang berbeda-beda. Belajar disikapi sebagai proses yang berlangsung secara terus-
menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan yang dihadapi
siswa. Dan untuk memotivasi peserta didik mendalami dan menguasai minatnya serta
mengaplikasikannya dalam kehidupan, dan memperluas cakrawala pelajar berdasarkan
perspektif yang diperlukan. Serta supaya peserta didik mendapatkan materi dengan lengkap dan
utuh dari berbagai ahli.

F. Perpaduan Model Networked dengan Materi Sistem Pernafasan Manusia


Model ini merupakan perpaduan konsep dari beberapa disiplin ilmu yang masih saling
berkaitan. Dalam pembelajaran menggunakan Model Networked akan ada ahli yang akan
menjadi acuan dalam pembelajaran. Adapun disiplin ilmu dan konsep-konsep yang terkait
adalah :
1. Biologi
- Sistem Pernapasan
- Organ-organ dan mekanisme Pernapasan pada manusia
- Gangguan Pada Sistem Pernapasan Manusia
2. Bahasa Indonesia
- Membaca Artikel
- Jenis-jenis Artikel
- Membuat Artikel
3. Matematika
- Membuat Diagram Kapasitas Pernapasan Manusia
- Menghitung jumlah Kapasitas Paru-Paru
- Menghitung Tekanan Udara pada Pernapasan Manusia
Bagan Model Networked Pada Materi Sistem Pernapasan

Ahli: Misi Siswa : Sistem Pernapasan pada


Guru Pendidikan Biologi manusia

Biologi Bahasa Indonesia

Organ-organ dan
mekanisme Membaca Artikel
Pernapasan pada
manusia

MTK

Membuat Diagram Ahli:


Kapasitas Pernapasan Guru Pendidikan Biologi
Manusia
Biologi Bahasa Indonesia

Sistem Pernapasan Jenis-jenis Artikel

MTK
Ahli:
Kedokteran
Menghitung jumlah
Kapasitas Paru-Paru
Biologi Bahasa Indonesia

Gangguan Pada
Membuat Artikel
Sistem Pernapasan
Manusia

MTK

Menghitung Tekanan
Udara pada
Pernapasan Manusia
I. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur
dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan
dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan
guru sebelum mengajar. Persiapan di sini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan
mental, situasi emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif termasuk
meyakinkan pembelajar untuk mau terlibat secara penuh. Kunandar (2011: 263)
1. Tujuan dan Fungsi Pelaksanaan Pembelajaran
Tujuan pelaksanaan pembelajaran adalah untuk:
a. Mempermudah, memperlancar dan meningkatkan hasil proses belajar mengajar
b. Dengan menyusun RPP secara profesional, sistematis dan berdaya guna, maka guru
akan mampu melihat, mengamati, menganalisis, dan memprediksi program
pembelajaran sebagai kerangka kerja yang logis dan terencana. Kunandar (2011: 264)
Fungsi RPP adalah sebagai acuan bagi guru untuk melaksanakan kegiatan belajar
mengajar (kegiatan pembelajaran) agar lebih terarah dan berjalan secara efektif dan efisien.
Dengan kata lain RPP berperan sebagai skenario proses pembelajaran. Oleh karena itu, RPP
hendaknya bersifat luwes (fleksibel) dan memberi kemungkinan bagi guru untuk
menyesuaikannya dengan respons siswa dalam proses pembelajaran sesungguhnya.
Kunandar (2011: 264)
2. Unsur-unsur yang Perlu Diperhatikan dalam Penyusunan RPP
a. Mengacu pada kompetensi dan kemampuan dasar yang harus dikuasai siswa, serta
materi dan submateri pembelajaran, pengalaman belajar yang telah dikembangkan di
dalam silabus
b. Menggunakan berbagai pendekatan yang sesuai dengan materi yang memberikan
kecakapan hidup (life skill) sesuai dengan permasalahan dan lingkungan sehari-hari
c. Menggunakan metode dan media sesuai, yang mendekatkan siswa dengan pengalaman
langsung
d. Penilaian dengan sistem pengujian menyeluruh dan berkelanjutan didasarkan pada
sistem pengujian yang dikembangkan selaras dengan pengembangan silabus. Kunandar
(2011: 265)
3. Komponen-komponen RPP menurut Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar
Proses adalah sebagai berikut.
a. Identitas mata pelajaran
Identitas mata pelajaran meliputi: satuan pendidikan, kelas, semester,
program/program keahlian, mata pelajaran, jumlah pertemuan.
b. Standar kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang
menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan ketrampilan yang diharapkan
dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran.
c. Kompetensi dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik
dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam
suatu pelajaran.
d. Indikator pencapaian kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk
menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata
pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja
operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan
keterampilan.
e. Tujuan pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan
dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar.
f. Materi ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis
dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.
g. Alokasi waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban
belajar.
h. Metode pembelajaran
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar suasana belajar dan
proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat
indikator yang telah ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan
situasi dan kondisi peserta didik, serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi
yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran.
i. Kegiatan pembelajaran
- Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran
yang ditunjukkan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian
peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Dalam kegiatan
pendahuluan, guru: menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti
proses pembelajaran, mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang mengaitkan
pengetahuan sebelumnya dengan materi yang akan dipelajari, menjelaskan tujuan
pembelajaran atau kompetensi dasar yang akan dicapai, dan menyampaikan materi
dan penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.
- Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan
pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang,
memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang
cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan
perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti ini dilakukan secara
sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi.
Dalam kegiatan eksplorasi, guru: melibatkan peserta didik mencari informasi
yang luas dan dalam tentang topik/tema materi yang akan dipelajari dengan belajar
dari aneka sumber; menggunakan beragam pendekatan pembelajaran, media
pembelajaran, dan sumber belajar lain; memfasilitasi terjadinya interaksi antarpeserta
didik serta antara peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya;
melibatkan peserta didik secara aktif dalam setiap kegiatan pembelajaran; dan
memfasilitasi peserta didik melakukan percobaan di laboratorium, studio, dan
lapangan.
Dalam kegiatan elaborasi, guru: membiasakan peserta didik membaca dan
menulis yang beragam melalui tugas-tugas tertentu yang bermakna; memfasilitasi
peserta didik melalui pemberian tugas, diskusi, dan lain-lain untuk memunculkan
gagasan baru baik secara lisan dan tertulis; memberi kesempatan untuk berpikir,
menganalisis, menyelesaikan masalah, dan bertindak tanpa rasa takut; memfasilitasi
peserta didik dalam pembelajaran kooperatif dan kolaboratif; memfasilitasi peserta
didik berkompetisi secara sehat untuk meningkatkan prestasi belajar, memfasilitasi
peserta didik membuat laporan eksplorasi yang dilakukan baik lisan maupun tertulis,
secara individual maupun kelompok; memfasilitasi peserta didik untuk menyajikan
hasil kerja individual maupun kelompok; memfasilitasi peserta didik melakukan
pameran, turnamen, festival serta produk yang dihasilkan; dan memfasilitasi peserta
didik melakukan kegiatan yang menumbuhkan kebanggaan dan rasa percaya diri
peserta didik.
Dalam kegiatan konfirmasi, guru memberikan umpan balik positif dan
penguatan dalam bentuk lisan, tulisan, isyarat, maupun hadiah terhadap keberhasilan
peserta didik, memberikan konfirmasi terhadap hasil eksplorasi dan elaborasi peserta
didik melalui berbagai sumber; memfasilitasi peserta didik melakukan refleksi untuk
memperoleh pengalaman belajar yang telah dilakukan; dan memfasilitasi peserta
didik untuk memperoleh pengalaman yang bermakna dalam mencapai kompetensi
dasar.
- Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan,
penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut. Dalam kegiatan penutup, guru:
bersama-sama dengan peserta didik dan/atau sendiri membuat rangkuman/simpulan
pelajaran; melakukan penilaian dan/atau refleksi terhadap kegiatan yang sudah
dilaksanakan secara konsisten dan terprogram; dan memberikan umpan balik
terhadap proses dan hasil pembelajaran; merencanakan kegiatan tindak lanjut dalam
bentuk pembelajaran remedi, program pengayaan, layanan konseling dan/atau
memberikan tugas baik tugas individual maupun kelompok sesuai dengan hasil
belajar peserta didik; dan menyampaikan rencana pembelajaran pada pertemuan
berikutnya.
j. Penilaian hasil belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan
indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada Standar Penilaian.
k. Sumber belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi
dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. e.
Prinsip-prinsip Penyusunan RPP Prinsip-prinsip penyusunan RPP menurut
Permendiknas Nomor 41 tahun 2007 tentang Standar Proses adalah sebagai berikut.
- Memerhatikan perbedaan individu peserta didik RPP disusun dengan memperhatikan
perbedaan jenis kelamin, kemampuan awal, tingkat intelektual, minat, motivasi
belajar, bakat, potensi, kemampuan sosial, emosi, gaya belajar, kebutuhan khusus,
kecepatan belajar, latar belakang budaya, norma, nilai, dan/atau lingkungan peserta
didik.
- Mendorong partisipasi aktif peserta didik Proses pembelajaran dirancang dengan
berpusat pada peserta didik untuk mendorong motivasi, minat, kreativitas, inisiatif,
inspirasi, kemandirian, dan semangat belajar.
- Mengembangakan budaya membaca dan menulis Proses pembelajaran dirancang
untuk mengembangakan kegemaran membaca, pemahaman beragam bacaan, dan
berekspresi dalam berbagai bentuk tulisan.
- Memberikan umpan balik dan tindak lanjut RPP memuat rancangan program
pemberian umpan balik positif, penguatan pengayaan, dan remedi.
- Keterkaitan dan keterpaduan RPP disusun dengan memerlihatkan keterkaitan dan
keterpaduan antara SK, KD, materi pembelajaran, kegiatan pembelajaran, indikator,
pencapaian kompetensi, dan sumber belajar dalam satu keutuhan pengalaman belajar.
RPP disusun dengan mengakomodasikan pembelajaran tematik, keterpaduan lintas
mata pelajaran, lintas aspek belajar, dan keragaman budaya.
- Menerapkan teknologi informasi dan komunikasi RPP disusun dengan
mempertimbangakan penerapan teknologi informasi dan komunikasi secara
terintegrasi, sistematis, dan efektif sesuai dengan situasi dan kondisi.

J. Langkah-Langkah Pemilihan Media


Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh dalam pemilihan media pembelajaran.
Pendapat. Anderson (1976) menyarankan langkah-langkah yang perlu ditempuh dalam pemilihan
media pembelajaran, yaitu:
1. Penerangan atau Pembelajaran
Langkah pertama menentukan apakah penggunaan media untuk keperluan informasi atau
pembelajaran. Media untuk keperluan informasi, penerima informasi tidak ada kewajiban
untuk dievaluasi kemampuan/keterampilannya dalam menerima informasi, sedangkan media
untuk keperluan pembelajaran penerima pembelajaran harus menunjukkan kemampuannya
sebagai bukti bahwa mereka telah belajar.
2. Tentukan Transmisi Pesan
Dalam kegiatan ini kita sebenarnya dapat menentukan pilihan, apakah dalam proses
pembelajaran akan digunakan ‘alat bantu pengajaran’ atau ‘media pembelajaran’. Alat bantu
pengajaran alat yang didesain, dikembangkan, dan diproduksi untuk memperjelas tenaga
pendidik dalam mengajar. Sedangkan media pembelajaran adalah media yang
memungkinkan terjadinya interaksi antara produk pengembang media dan peserta
didik/pengguna. Atau dengan kata lain peran pendidik sebagai penyampai materi
pembelajaran digantikan oleh media.
3. Tentukan Karakteristik Pelajaran
Asumsi kita bahwa kita telah menyusun desain pembelajaran, dimana kita telah melakukan
analisis tentang mengajar, merumuskan tujuan pembelajaran, telah memilih materi dan
metode. Selanjutnya perlu dianalisis apakah tujuan pembelajaran yang telah ditentukan itu
termasuk dalam ranah kognitif, afektif atau psikomotor. Masing-masing ranah tujuan tersebut
memerlukan media yang berbeda.
4. Klasifikasi Media
Media dapat diklasifikasikan sesuai dengan ciri khusus masing-masing media. Berdasarkan
persepsi dari manusia normal media dapat diklasifikasikan menjadi media audio, media
video, dan audio visual. Berdasarkan ciri dan bentuk fisiknya media dapat dikelompokkan
menjadi media proyeksi (diam dan gerak) dan media non proyeksi (dua dimensi dan tiga
dimensi). Sedangkan jika diklasifikasikan berdasarkan keberadaannya, media dikelompokkan
menjadi dua yaitu media yang berada di dalam ruang kelas dan media-media yang berada di
luar ruang kelas. Masing-masing media tersebut memiliki kelebihan dan kekurangan bila
dibandingkan dengan media lainnya.
5. Analisis karakteristik masing-masing media.
Media pembelajaran yang banyak macamnya perlu dianalisis kelebihan dan kekurangannya
dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Pertimbangan pula dari aspek
ekonomi dan ketersediaannya. Dari berbagai alternatif kemudian dipilih media yang paling
tepat.

K. Media Pembelajaran yang Dipilih


1. Media Video
Video merupakan media elektronik yang mampu menggabungkan teknologi audio dan
visual secara bersama sehingga menghasilkan suatu tayangan yang dinamis dan menarik.
Melalui penayangan video, pelajar dapat merasa seolah-olah mereka berada atau turut serta
dalam suasana yang digambarkan. Sebagai contoh, proses pernafasan manusia dapat ditunjukkan
kepada pelajar melalui video. Kiranya dapat membantu pelajar membayangkan cara kerja sistem
pernafasan manusia di samping memberi pengalaman kepada para pelajar secara visual.
Menurut Norhaziana (2005:22) menyatakan, sesuatu media berbentuk simulasi adalah
perisian yang memberi gambaran situasi sesuatu keadaan. Pengguna akan seolah-olah berada di
tempat kejadian dan boleh bertindak balas terhadap keadaan tersebut.
Media video memiliki fungsi sebagai media pembelajaran yaitu fungsi atensi, fungsi
afektif, fungsi kognitif dan fungsi kompensatoris (Arsyad 2003). Fungsi atensi yaitu media video
dapat menarik perhatian dan mengarahkan konsentrasi audiens pada materi video. Fungsi afektif
yaitu media video mampu menggugah emosi dan sikap audiens. Fungsi kognitif dapat
mempercepat pencapaian tujuan pembelajaran untuk memahami dan mengingat pesan atau
informasi yang terkandung dalam gambar atau lambang. Sedangkan fungsi kompensatoris adalah
memberikan konteks kepada audiens yang kemampuannya lemah dalam mengorgani- sasikan
dan mengingat kembali informasi yang telah diperoleh. Dengan demikian media video dapat
membantu audiens yaitu peserta didik yang lemah dan lambat menangkap suatu pesan menjadi
mudah dalam menerima dan memahami inovasi yang disampaikan, hal ini disebabkan karena
video mampu mengkombinasikan antara visual (gambar) dengan audio (suara).
Pemilihan video sebagai media penyebarluasan inovasi selain mampu mengkombinasikan
visual dengan audio juga dapat dikemas dengan berbagai bentuk, misalnya menggabungkan
antara komunikasi tatap muka dengan komunikasi kelompok, menggunakan teks, audio dan
musik. Menurut Sudjana dan Rivai (1992) manfaat media video yaitu: (1) dapat menumbuhkan
motivasi; (2) makna pesan akan menjadi lebih jelas sehingga dapat dipahami oleh peserta didik
dan memungkinkan terjadinya penguasaan dan pencapaian tujuan penyampaian
Pengaruh media video akan lebih cepat masuk ke dalam diri manusia dari pada media yang
lainnya. Karena penayanggannya berupa cahaya titik fokus, sehingga dapat mempengaruhi
fikiran dan emosi manusia. Dalam kegiatan belajar mengajar, fokus dan mempengaruhi emosi
dan psikologi anak didik sangat diperlukan. Karena dengan hal tersebut peserta didik akan lebih
mudah memehami pelajarannya. Tentunya media video yang disampaikan kepada anak didik
harus bersangkutan dengan tujuan pemebelajaran.
Menurut Azhar (2003: 15-16) Pemakaian media pengajaran dalam proses belajar mengajar
dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan stimulan
kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap peserta didik.
Penggunaan media pengajaran pada tahap orientasi pengajaran akan sangat membantu
keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
Pengalaman belajar yang diperoleh peserta didik dapat melalui proses perbuatan atau
mengalami sendiri apa yang dipelajari, proses mengamati dan mendengarkan melalui media
tertentu dan mendengarkan melalui bahasa. Semakin konkret peserta didik mempelajari bahan
pengajaran, maka semakin banyak pengalaman yang diperoleh peserta didik. Sebaliknya,
semakin abstrak peserta didik memperoleh pengalaman, maka semakin sedikit pengalaman yang
akan diperoleh peserta didik. Pada kelas eksperimen yang mana memanfaatkan media video
sebagai media pembelajaran sebelum praktikum dilakukan, membuat kegiatan praktikum peserta
didik lebih terarah (Dimyati, 2006: 9).
Penyampaian materi melalui media video dalam pembelajaran bukan hanya sekedar
menyampaikan materi sesuai dengan kurikulum. Akan tetapi ada hal lain yang perlu diperhatikan
yang dapat mempengaruhi minat peserta didik dalam belajar. Hal tersebut berupa pengalaman
atau situasi lingkungan sekitar, kemudian dibawakan ke dalam materi pelajaran yang
disampaikan melalui video. Selain itu juga dalam pelajaran peraktek peserta didik akan lebih
mudah melakukan apa yang dilihatnya dalam video daripada materi yang disampaikan melalui
buku atau gambar. Kegiatan seperti ini akan memudahkan peserta didik dan guru dalam proses
belajar mengajar.
2. Media LKPD
Pada pembelajaran saat ini, guru perlu melibatkan siswa secara aktif dalam proses
pembelajaran. Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk melibatkan siswa secara
aktif dalam proses pembelajaran ialah menggunakan media atau bahan ajar menarik yang dapat
membantu siswa dalam memahami konsep yang disajikan oleh guru. Salah satu bahan ajar yang
dapat digunakan yaitu LKPD yang digunakan sebagai sarana menyampaikan informasi.
Penggunaan bahan ajar yang diharapkan dapat membantu efektifitas dan kelancaran dalam
proses pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara optimal.
Menurut Prastowo (2011:16) bahan ajar merupakan segala bentuk bahan yang digunakan
untuk membantu guru atau instruktur dalam melaksanakan proses belajar dikelas. Bahan ajar
tidak saja memuat materi tentang pengetahuan tetapi juga berisi tentang keterampilan dan sikap
yang perlu dipelajari siswa untuk mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan oleh
pemerintah. Salah satu bentuk atau tipe bahan ajar yang sering digunakan oleh guru dalam
mengajar dikelas adalah lembar kerja peserta didik (LKPD). Menurut Majid (2014:371) Lembar
kerja (LK) atau lembar tugas (LT) dimaksudkan untuk memicu dan membantu siswa melakukan
kegiatan belajar dalam rangka menguasai suatu pemahaman, keterampilan dan sikap. Sedangkan
menurut Khotimah, dkk (2015), Lembar kerja peserta didik (LKPD) merupakan salah satu sarana
untuk membantu dan mempermudah dalam kegiatan belajar mengajar sehingga akan terbentuk
interaksi yang efektif antara peserta didik, sehingga dapat meningkatkan aktivitas peserta didik
dalam peningkatan prestasi belajar.
Keuntungan penggunaan LKPD adalah memudahkan pendidik dalam melaksanakan
pembelajaran, bagi peserta didik akan belajar mandiri dan belajar memahami serta menjalankan
suatu tugas tertulis. Media LKPD dibuat disesuaikan dengan karaktersitik peserta didik, situasi
kegiatan pembelajaran yang dihadapi, dan kondisi lingkungan sekolah. Melalui LKPD, peserta
didik dapat menuangkan ide-ide yang mereka peroleh dari pengamatan mereka di laboratorium.
Dan guru pun akan terbantu dengan adanya LKPD tersebut, karena dengan LKPD peserta didik
menjadi lebih aktif. Dengan demikian akan meningkatkan aktivitas belajar peserta didik,
sehingga akan berimplikasi terhadap hasil belajar peserta didik.
BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
Rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) adalah rencana yang menggambarkan prosedur
dan pengorganisasian pembelajaran untuk mencapai satu kompetensi dasar yang ditetapkan
dalam Standar Isi dan dijabarkan dalam silabus. Lingkup Rencana Pembelajaran paling luas
mencakup satu kompetensi dasar yang terdiri atas satu indicator atau beberapa indicator untuk
satu kali pertemuan atau lebih. RPP merupakan persiapan yang harus dilakukan guru sebelum
mengajar. Persiapan disini dapat diartikan persiapan tertulis maupun persiapan mental, situasi
emosional yang ingin dibangun, lingkungan belajar yang produktif, termasuk meyakinkan
pembelajar untuk mau terlibat secara penuh.
Model Networked atau jaringan merupakan model pemaduan pembelajaran yang
mengandalkan kemungkinan pengubahan konsepsi, bentuk pemecahan masalah, maupun
tuntutan bentuk keterampilan baru setelah siswa mengadakan studi lapangan dalam situasi,
kondisi, maupun konteks yang berbeda – beda. Belajar disikapi sebagi proses yang berlangsung
secara terus – menerus karena adanya hubungan timbal balik antara pemahaman dan kenyataan
yang dihadapi siswa. (Robin Fogarty.1991)
Penerapan RPP dengan model networked ini juga menggunakan media video dan LKPD.
Melalui penayangan video, pelajar dapat merasa seolah-olah mereka berada atau turut serta
dalam suasana yang digambarkan. Sebagai contoh, proses pernafasan manusia dapat
ditunjukkan kepada pelajar melalui video. Kiranya dapat membantu pelajar membayangkan cara
kerja sistem pernafasan manusia di samping memberi pengalaman kepada para pelajar secara
visual. Penggunaan LKPD dapat memudahkan pendidik dalam melaksanakan pembelajaran,
bagi peserta didik akan belajar mandiri dan belajar memahami serta menjalankan suatu tugas
tertulis. Media LKPD dibuat disesuaikan dengan karaktersitik peserta didik, situasi kegiatan
pembelajaran yang dihadapi, dan kondisi lingkungan sekolah. Melalui LKPD, peserta didik
dapat menuangkan ide-ide yang mereka peroleh dari pengamatan mereka di laboratorium. Dan
guru pun akan terbantu dengan adanya LKPD tersebut, karena dengan LKPD peserta didik
menjadi lebih aktif. Dengan demikian akan meningkatkan aktivitas belajar peserta didik,
sehingga akan berimplikasi terhadap hasil belajar peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA

Anderson, 1976. Media Pembelajaran. Jakarta: Erlangga

Arsyad, Azhar. 2003, Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.

Asti, S. A., Ratnawulan dan Gusnedi. 2018. Pengaruh Penggunaan Buku Siswa Terpadu Model
Networked dengan Tema Kelistrikan Jantung Terhadap Penugasan Materi IPA Peserta
Didik Kelas VIII MTSN 6 Nodel Padang. Pillar of Physic Education, 11, 121-128.

Dimyati dan Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Forgaty, R., & Pete, B. M. 2009. How to Integrate The Curricula. USA: Library of Congress
Cataloging-in-Publication Data.

Khotimah, H. Kamid. Marzal, J. 2015. Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berdasarkan Teori
APOS untuk Meningkatkan Efektivitas Pembelajaran Matematika. EDUMATICA. Vol.4,
p.26.
Majid, Abdul. 2014. Strategi Pembelajaran. Bandung: Rosda.

Mahmudah, Triastuti. 2015. Penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (Rpp). Universitas


Negeri Yogyakarta

Prastowo, Andi. 2011. Panduan Kreatif membuat Bahan Ajar Inovatif. Yogyakarta: Dira Press.

Sudjana, N & Rivai, A. 1992. Media Pembelajaran. Bandung: CV. Sinar Baru
Bandung.

Wahyuni, Dwi. 2018. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Terpadu Tipe Network.


Universitas Sanata Dharma

Widjayanti.2008. Media Lembar Kerja Peserta Didik. Jakarta: Rineka