Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH KOMUNIKASI INFORMASI DAN EDUKASI

WAWANCARA OBAT

Dosen : Dr. Refdanita., M.Si., Apt

Disusun Oleh :

1. Erni Sampe Sakke (19340072)


2. Nurlinda Noveliya (19340073)
3. Tyas Kriesmawarni Marta (19340074)
4. Marsiwanti Pangalo (19340075)
5. Tri Indah Lestari (19340076)
6. Asri Oktafiyani (19340077)
7. Tria Putri Utami (19340078)
8. Latifah Megasari (193400129)
9. Abdul Husni (193400130)
10. Adhi Suprayitno (193400134)

PROGAM STUDI APOTEKER

INSTITUT SAINS DAN TEKNOLOGI NASIONAL

JAKARTA

2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha
Kuasa, karena akhirnya kami dapat menyelesaikan Makalah Komunikasi Informasi
Dan Edukasi Ini.

Makalah Komunikasi Informasi Dan Edukasi ini disusun berdasarkan hasil


penelitian yang telah kami laksanakan dan laporan ini kami buat mengacu dengan
Buku Panduan dan referensi yang ada yang semoga dapat dilaksanakan secara
terarah, teratur, tertib, efektif dan efisien.

Kami menyadari bahwa Makalah Komunikasi Informasi Dan Edukasi


tentang Wawancara Obat ini masih perlu disempurnakan, maka diharapkan pada
berbagai pihak untuk memberikan koreksi, baik segi bahasa, isi, maupun tata urutan
atau sistematikanya. Dan terimakasih kami sampaikan kepada pihak yang telah
membimbing kami sehingga Makalah Komunikasi Informasi Dan Edukasi ini telah
selesai.

Kami harap semoga Makalah Komunikasi Informasi Dan Edukasi tentang


Wawancara Obat ini berguna dan bermanfaat dalam hasil Pelaksanaan Belajar
Mengajar.

Jakarta, 4 November 2019

Tim Penyusun

i
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .................................................................................................... i
DAFTAR ISI.............................................................................................................. ii
BAB I ......................................................................................................................... 1
PENDAHULUAN ..................................................................................................... 1
1.1.Latar Belakang ................................................................................................. 1
1.2. Tujuan ............................................................................................................. 3
BAB II........................................................................................................................ 4
TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................................ 4
2.1. Alur Wawancara Riwayat Pengobatan............................................................ 4
2.1.1. Seleksi pasien ........................................................................................... 4
2.1.2. Diskusi Kondisi Kesehatan....................................................................... 5
2.1.3. Diskusi penggunaan obat-obatan ............................................................. 5
2.1.4. Diskusi Obat yang Tidak Diresepkan ....................................................... 8
2.1.5. Diskusi Tentang Sensitivitas Obat............................................................ 8
2.1.6. Diskusi Penggunaan Alkohol dan Rokok ................................................. 9
2.1.7. Penilaian dan Dokumentasi .................................................................... 10
2.1.8. Mengakhiri Wawancara.......................................................................... 11
2.2. Teknik Wawancara........................................................................................ 12
2.2.1. Teknik Wawancara yang Tepat .............................................................. 12
2.2.2. Kesalahan-Kesalahan Umum dalam Mewawancarai Pasien .................. 16
BAB III .................................................................................................................... 18
PEMBAHASAN ...................................................................................................... 18
3.1. Kasus 1 .......................................................................................................... 18
3.2. Kasus 2 .......................................................................................................... 19
3.3. Kasus 3 .......................................................................................................... 20
BAB IV .................................................................................................................... 23
PENUTUP ............................................................................................................... 23
4.1. Kesimpulan ................................................................................................... 23
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................. 24

ii
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pentingnya sejarah obat pasien yang terdokumentasi adalah jelas
sehubungan dengan begitu banyaknya obat berkhasiat keras, tersedia bagi
pasien dan seringnya terjadi reaksi obat merugikan dan penyalahgunaan obat.
Apoteker mempunyai kontribusi yang signifikan pada perawatan pasien
dengan menyelidiki sejarah obatnya secara seksama.
Keberhasilan untuk kerja pelayanan klinik oleh apoteker bergantung
pada ketrampilan komunikasi dan wawancara yang efektif. Berbagai kegiatan
klinik, seperti konseling dan konsultasi terapi obat, biasanya memerlukan
suatu data base, mencakup informasi yang diperoleh dari wawancara sejarah
obat. Komunikasi langsung pasien-apoteker dalam format wawancara, sering
kali memberikan data yang signifikan dan padanya bergantung berbagai
kegitan klinik lain.
Kemampuan apoteker unyuk memperoleh suatu gambaran obat secara
lengkap yang diterima dari pasien, bergantung pada pengetahuan tentang obat
dan ketrampilan komunikasinya. Dengan memadukan pengetahuan
kefarmasiannya dan pengetahuan terapi serta kebutuhan pasien, apoteker akan
mampu menentukan suatu strategi untuk mengajukan pertanyaan yang
berhubungan dan menginterpretasi data yang diperoleh. Kekhususan regimen
pengobatan pasien dipelajari. Pasien juga didorong untuk berbicara tentng
kekhawatirannya. Sebagai tambahan, proses untuk mengatakan berbagai
masalah pasien kepada seseorang yang mau mendengarkan mungkin akan
membantu mengurangi kecemasan yang dirasakan pasien.
Apoteker dapat memberikan kontribusi secara signifikan pada
perawatan pasien dengan memperoleh informasi tentang obat yang lalu dan
yang sekarang, sejarah alergi, efek samping, sikap terhadap obat, dan juga
penetapan perilaku kepatuhan serta respon terapi terhadap obat. Semua
kegiatan tersebut, bergantung pada pengertian apoteker terhadap hubungan

1
interpersonal dan menggunakan teknik wawancara serta ketrampilan
komunikasi yang tepat.
Wawancara adalah suatu komponen penting dalam proses manajemen
penyakit untuk pengambilan keputusan terapeutik. Wawancara yang efektif,
dengan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang tepat, memungkinkan
farmasis untuk dapat mengevaluasi kepatuhan pasien terhadap regimen
pengobatan. Apoteker harus memperoleh data riwayat kesehatan dan
pengobatan pasien secara akurat karena hal-hal tersebut merupakan bagian
yang tidak terpisahkan dari proses pengkajian awal pasien pada praktek
farmasi komunitas dan rawat jalan, setelah pasien masuk dan dirawat inap di
rumah sakit. Dokumentasi pengobatan, informasi alergi yang salah atau tidak
lengkap, dapat mengakibatkan terbuangnya waktu bahkan mengakibatkan
kesalahan- kesalahan terapi obat yang signifikan.
Salah satu langkah awal pada proses penilaian pasien adalah
mengetahui bukan hanya obat-obatan apa saja yang telah dikonsumsi pasien
melainkan juga apa yang telah dipahami pasien mengenai obat dan masalah
kesehatan-masalah yang mereka. Menentukan sejauh mana pengetahuan
pasien merupakan hal penting karena strategi untuk edukasi pasien berbeda-
beda tergantung pemahaman yang telah dimiliki pasien. Pasien yang sudah
sangat terbiasa dengan pengobatan mereka akan berbeda kebutuhan
informasinya dibanding pasien yang hanya tahu sedikit.
Farmasis akan menjadi lebih efisien jika mampu mengenali individu
yang memerlukan konseling tambahan. Dengan menggunakan teknik
penilaian awal, kita dapat menentukan informasi apa yang telah dikuasai
pasien dan kemudian memberikan informasi tambahan yang menurut kita
penting untuk pasien itu. Jenis pertanyaan berkisar mulai dari masalah
sederhana seperti menanyakan apakah pasien alergi terhadap penisilin, hingga
masalah yang lebih kompleks, seperti menentukan apakah pasien
menggunakan obat dengan benar.
Tenaga pelayanan kesehatan harus memahami riwayat penggunaan obat
pasien agar dapat menerapkan pengobatan yang aman dan mempunyai rasio
manfaat-biaya tinggi. Dalam pengambilan data riwayat penggunaan obat,

2
apoteker memegang peranan penting dengan cara melakukan wawancara
terhadap pasien.Selain itu, respon pasien terhadap obat terdahulu juga perlu
diketahui, misalnya apakah suatu obat menimbulkan reaksi alergi bagi pasien
atau tidak, apakah suatu obat memberikan efek terapi yang diinginkan atau
tidak.

1.2. Tujuan
1. Membuktikan reaksi alergi dan reaksi obat yang merugikan.
2. Memeriksa resep/order obat yang ditulis pada waktu masuk rumah sakit.
3. Menetapkan respon pasien terhadap obat.
4. Menetapkan kepatuhan pasien pada regimen obatnya.
5. Penapisan interaksi obat.
6. Mengkaji penyalahgunaan obat.
7. Memperoleh informasi tentang sikap umum pasien terhadap obat.
8. Mengevaluasi efektivitas pengobatan yang dulu dan sekarang.
9. Mengetahui diet/pembatasan makanan.
10. Mengetahui riwayat penggunaan nikotin, rokok, kafein dan alkohol.
11. Mengetahui sejarah reaksi obat merugikan yang telah lalu.
12. Memperhitungkan kebutuhan pasien akan perlu tidaknya konseling dan
pembelajaran di kemudian hari.

3
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Alur Wawancara Riwayat Pengobatan

2.1.1. Seleksi pasien


Sebelum memulai wawancara obat, apoteker perlu mengorganisasikan
kegiatannya. Pertama-tama apoteker harus memilih pasien yang perlu terlebih
dahulu diwawancarai. Suatu pengkajian pada peta pasien akan memberi
apoteker informasi yang menjadi dasar pemilihan dan akan membantu
menetapkan tujuan khusus untuk wawancara.
Pada umumnya apoteker tidak memiliki waktu atau kesempatan untuk
mewawancarai setiap pasien yang diterima pelayanan rumah sakit tertentu.
Suatu proses seleksi dapat dimulai dengan suatu kajian singkat pada peta
pasien. Daftar berikut dapat digunakan sebagai pedoman pemilihan pasien
yang akan di wawancarai.
1. Pasien dengan gejala atau tanda-tanda bersifat masalah yang
kemungkinan berkaitan dengan obat
2. Pasien dengan kesakitan berat yang akut dapat diplih di atas pasien
kronik yang regimen obatnya sudah stabil
3. Pasien dnegan sejarah ketidak patuhan terdokumentasi.
4. Pasien dengan respons terapi yang tidak memadai
5. Pasien yang mengalami reaksi obat merugikan (ROM) adalah calon
utama untuk wawancara sejarah obat
6. Pasien yang menerima obat dengan indeks terapi yang sempit,
memerlukan pemantaun konsentrasi obat dalam serum
7. Pasien dengan mutiregimen obat atau status mutipenyakit harus
mendapat perhatian apoteker
8. Pasien psikiatrik dan pasien lanjut usia (lansia), memerlukan sejarah obat
karena frekuensi penggunaan multiobat dan masalah berkaitan obat pada
pasien ini.
9. Pasien yang ditunjuk oleh dokter

4
10. Pasien yang sebelumnya dihospitalisasi karena salah kelola obat
11. Pasien pediatrik dan atau pengasuhnya.

2.1.2. Diskusi Kondisi Kesehatan


Diskusi mengenai kondisi medis dan penggunaan pengobatan
 Nama atau gejala dari kondisi
 Berapa lama?
Tahap Pengobatan (poin yang perlu ditanyakan) :
1. Nama pengobatan
2. Siapa yang menulis resep?
3. Bagaimana akibatnya? (secara spesifik)
4. Apakah hal tersebut membantu?
5. Jika hasil tidak dapat dideteksi,
6. Apa yang menyebabkan?
7. Efek samping dan efek yang tidak diinginkan
Pertanyaan Ulang Mengenai Tiap Pengobatan
Pengobatan Akhir
 Nama pengobatan
 Alasan pengobatan tidak dilanjutkan
Pertanyaan Ulang Mengenai Tahap dan Pengobatan Akhir untuk
Tiap Kondisi

2.1.3. Diskusi penggunaan obat-obatan

Diskusi penggunaan obat dilakukan untu mendapatkan gambaran yang


lengkap mengenai resep obat yang sedang digunakan, termasuk nama dan
dosis dari obat, jadwal pemberian (yang tertera pada resep dan yang aktual),
lamanya terapi, alasan mengapa pasien memerlukan pengobatan, serta hasil
dari terapi tersebut. Informasi mengenai resep obat yang sedang digunakan
membantu farmasis untuk mengevaluasi khasiat dan keamanan dari regimen
yang diresepkan.

5
Pasien mungkin tidak dapat mengingat seluruh nama dari pengobatan
yang digunakannya. Hal ini dapat disiasati dengan memperoleh penjelasan
rinci dari tiap pengobatan, meliputi bentuk sediaan, ukuran, bentuk, dan
warna dari bentuk sediaan; serta kata-kata, tulisan, dan angka yang tertera
pada obat yang dapat diingat oleh pasien. Penjelasan pasien harus
didokumentasikan dengan jelas serta dicatat bahwa pengobatan merupakan
produk yang spesifik. Sebagai contoh, pasien menggunakan kapsul berwarna
ungu dengan tiga cincin kuning pada kapsul untuk indigestion. Meskipun
mirip dengan Nexium (esomeprazole) 40 mg, penjelasan pasien harus
didokumentasikan dan dicatat bahwa penjelasan tersebut sesuai dengan
Nexium 40 mg.
Jika terdapat ketidaksesuaian antara jadwal pemberian pada resep
dengan jadwal penggunaan obat oleh pasien, catat ketidaksesuaian tersebut
dan coba untuk menentukan alasan mengapa pasien menggunakan obat tidak
sesuai dengan yang disebutkan dalam resep. Pasien terkadang merubah
jadwal pemberian mengikuti jadwal kerjanya dan gaya hidupnya atau untuk
menghemat biaya pengobatan.
Banyak resep obat digunakan ″sebagaimana yang dibutuhkan″,
sehingga sulit untuk memastikan jumlah dari pengobatan yang digunakan
oleh pasien. Jangan menerima istilah penjelasan yang tidak jelas, seperti
istilah ”kadang-kadang”, ”sering”, ”sepertinya”, dan sebaginya. Salah satu
pendekatan untuk menghitung jumlah pengobatan yang dikonsumsi pasien
adalah dengan meminta keterangan seberapa sering pasien memenuhi
persediaan baru dari pengobatannya. Informasi ini memberikan taksiran tidak
langsung dari jumlah pengobatan pasien selama periode waktu tertentu.
Coba untuk menentukan dengan pasti kapan pasien mulai mendapatkan
pengobatan dari resep dan alasan mengapa pasien diberikan obat. Tanyakan
kapan obat diresepkan, dibeli, dan mulai dikonsumsi untuk mengetahui
apakah pengobatan yang diberikan sudah efektif atau malah memberikan
reaksi yang tidak diinginkan. Keputusan untuk melanjutkan atau tidak
melanjutkan pengobatan tergantung pada kapan pasien mulai mematuhi
regimen pengobatannya. Regimen dapat dilanjutkan tanpa ada perubahan bila

6
pasien memulai pengobatan minggu lalu, namun perubahan regimen
diperlukan bila pasien telah menggunakan obat selama dua bulan. Jelaskan
pada pasien mengapa obat itu diberikan dan pentingnya untuk mematuhi
regimen yang sudah ditentukan bersama.
Diskusi penggunaan obat juga berguna untuk mendapatkan sebanyak
mungkin informasi mengenai resep obat yang digunakan di waktu lampau,
termasuk nama dan deskripsi, dosis, jadwal dosis yang ada di resep dan yang
aktual dilakukan oleh pasien, tanggal dan durasi terapi, alasan menggunakan
obat-obat, alasan mengapa pasien menghentikan pengobatan, serta hasilnya.
Informasi ini membantu untuk memilih regimen pengobatan yang baru.
Tahap-tahap diskusi :
a. Memperkenalkan bagian diskusi
b. Menanyakan kondisi saat ini ketika sedang diobati
c. Mengenai kondisi sekarang secara umum
d.Mengumpulkan informasi tentang tiap kondisi dan pengobatan yang
berkaitan dengannya sebelum berlanjut ke kondisi selanjutnya
e. Menayakan mengenai lamanya kondisi tersebut dialami pasien
f. Menanyakan mengenai pengobatan yang digunakan untuk mengatasi
kondisi tersebut
g. Menanyakan secara rinci mengenai tiap pengobatan secara terpisah:
 Pembuat resep: ″Siapakah yang meresepkan obat-obatan tersebut
kepada anda?″
 Metode penggunaan: ″Bagaimana anda menggunakan obat-obatan
tersebut?″
 Memastikan kepatuhan: ″Berapa banyak anda menggunakan tiap
waktu?″
 Keefektifan: ″Apakah anda merasa bahwa obat tersebut membantu
anda?″
 Alasan untuk ketidakpatuhan (jika terdeteksi pasien tidak patuh)
 Efek samping dan efek yang tidak diinginkan, jika perlu, tanyakan
secara spesifik: ″Apakah anda merasa sakit pada perut bagian atas
ketika anda telah menggunakan obat tersebut?″

7
 Pengobatan pada waktu lampau untuk kondisi kesehatan
 Pengobatan dari resep lainnya yang digunakan
Nama dari tiap kondisi atau deskripsi dari gejala yang berkaitan dengan
kondisi tersebut harus dipastikan diawal. Ketika diskusi, informasi dari pasien
pada diskusi ini mungkin tidak lengkap, dan seorang farmasis dapat
menambahkan data yang dikumpulkan dari pasien dan informasi yang
didapatkan dari sumber lainnya, seperti rekam medis atau dokter jika
memungkinkan.

2.1.4. Diskusi Obat yang Tidak Diresepkan

Karena obat bebas dapat berinteraksi dengan pengobatan yang


diresepkan, menyebabkan reaksi berlawanan, dan digunakan oleh pasien
untuk menyembuhkan reaksi berlawanan disebabkan oleh obat resep,
farmasis harus memperoleh informasi mengenai setiap obat bebas, termasuk
produk-produk herbal dan vitamin, yang mungkin digunakan pasien.
Informasi ini harus meliputi nama obat dan dosis, jadwal pemberian dosis
aktual, durasi terapi, alasan menggunakan obat, dan hasil dari terapi. Banyak
obat bebas digunakan secara “prn” atau “sebagaimana dibutuhkan”, maka
selalu tanyakan penggunaan persis pengobatan tersebut. Menanyakan berapa
kali dalam satu hari, satu minggu, atau satu bulan pasien mengunakan
pengobatan, atau seberapa sering pasien harus membeli persediaan baru,
dapat membantu farmasis menghitung jumlah obat yang digunakan.

2.1.5. Diskusi Tentang Sensitivitas Obat


a. Alergi
Reaksi alergi adalah suatu kondisi hipersensitif terhadap antigen
atau alergen tertentu yang menyebabkan gejala-gejala karakteristik
tertentu yang dialami oleh pasien kapanpun terpapar alergen
tersebut.Untuk mencegah terulangnya suatu reaksi alergi, farmasis
harus bertanya apakah pasien memiliki alergi terhadap obat atau
makanan. Oleh karena reaksi obat yang tidak diinginkan atau efek
samping dapat diidentifikasi secara tidak tepat sebagai suatu alergi,

8
penting untuk menanyakan pasien jenis reaksi apa yang dialami
(misalnya: bintik merah, permasalahan dalam bernapas, dan lain-lain).
Jika alergi obat teridentifikasi, farmasis harus bertanya kepada pasien
tanggal terjadinya reaksi, apa yang digunakan untuk merawatnya, hasil
dari perawatan, dan apakah pasien mengalami suatu reaksi dengan obat-
obat lain dari kelas obat yang sama.
b. Reaksi Obat yang Tidak Diinginkan
Salah satu cara untuk memperoleh informasi mengenai reaksi
obat yang tidak diinginkan yang mungkin terjadi saat ini atau lampau
adalah dengan menanyakan apakah pasien pernah menggunakan obat
yang membuat dirinya merasa “sakit” atau yang dia rasa lebih baik
tidak pernah menggunakannya. Beberapa pasien mungkin tidak
menghubungkan gejala-gejala yang mereka alami dengan obat-obat
yang mereka gunakan. Jika reaksi obat yang tidak diinginkan
teridentifikasi, farmasis harus mendapatkan nama obat, dosis, frekuensi,
alasan menggunakan obat, detail reaksi yang tidak diinginkan, dan
bagaimana reaksi yang tidak diinginkan tersebut dikelola (misalnya:
dosis diturunkan, obat dihentikan).

2.1.6. Diskusi Penggunaan Alkohol dan Rokok

Karena penggunaan rokok dan alkohol dapat mempengaruhi beberapa


efek pengobatan dan kondisi pasien, penting untuk memberikan informasi
kepada mereka selama penggunaan obat. Topik ini lebih bersifat personal dari
pada penggunaan obat, oleh karena itu sebaiknya dilakukan secara perlahan,
tidak seperti menghakimi. Farmasis sangat dianjurkan untuk menjelaskan
informasi ini karena alkohol dan tembakau dapat mempengaruhi terapi. Jika
pasien memperoleh pengobatan yang potensial berinteraksi dengan alkohol,
farmasis harus dapat menjelaskan penggunaan obat apa saja yang harus
dihindari.
Konsumsi alkohol didokumentasikan sebagai jenis, jumlah, pola, dan
durasi dari penggunaan alkohol.Bagi pasien yang minum secara reguler,
tanggal dan waktu minum yang terakhir harus didokumentasikan. Untuk

9
menggambarkan kebiasaan minum pasien yang hanya minum ketika keluar
makan atau dalam pertemuan sosial, istilah social drinking kadang digunakan.
Penggunaan rokok dihitung dari jenis tembakau yang dikonsumsi,
jumlah pak yang dihisap per hari (pack per day/ppd), dan pak setahun (pack-
year).Pak setahun dihitung dengan mengalikan jumlah pak yang dihisap per
hari dengan jumlah tahun dimana pasien telah merokok.Oleh karena
pengukuran pak setahun yang diberikan dapat meliputi variasi yang luas
dalam kebiasaan merokok yang aktual, farmasis harus mencatat baik pak
setahun dan jumlah pak setiap hari.

2.1.7. Penilaian dan Dokumentasi


Riwayat kesehatan dan pengobatan pasien perlu untuk
didokumentasikan dalam rekam medis pasien dan dikomunikasikan kepada
tim asuhan kesehatan. Sebagian besar institusi menggunakan formulir
pengambilan data yang terstandardisasi untuk dokumentasi, tetapi informasi
dapat pula direkam dalam bentuk teks bebas. Formulir yang terstandardisasi
terorganisasi dengan baik mudah untuk direkam dan memungkinkan
informasi pasien yang spesifik untuk ditemukan secara cepat, akan tetapi
formulir tersebut tidak memberikan fleksibilitas atau ruang yang dibutuhkan
bagi pasien yang mungkin menggunakan obat dalam jumlah yang besar.
Sebaliknya, bentuk teks bebas memungkinkan fleksibilitas dalam jumlah
besar dari farmasis ke farmasis tetapi juga membuat kesulitan yang lebih
banyak untuk menemukan informasi yang spesifik.
Terlepas dari bentuknya, semua komponen dari riwayat kesehatan dan
pengobatan harus dimasukkan dalam cara yang terorganisasi dengan tulisan
tangan yang rapi dan dapat dibaca. Formulir berfungsi dengan baik ketika
pasien mengisi formulir terlebih dahulu dan kemudian farmasis mengulasnya.
Formulir ini tidak hanya mendaftar obat-obat resep dan bebas tetapi
juga memungkinkan untuk melihat keefektifan obat, reaksi yang tidak
diinginkan, kemampuan untuk membiayai pengobatan, dan obat dan alergi
makanan. Hal-hal ini membantu dalam menentukan apakah pasien pernah
mengalami pengalaman-pengalaman negatif dengan terapi obat di masa lalu

10
yang juga memberikan pemahaman terhadap permasalahan-permasalahan
terkait obat di masa mendatang.

2.1.8. Mengakhiri Wawancara


Mengakhiri wawancara sering kali lebih sulit dilakukan daripada
memulai wawancara. Menutup wawancara adalah bagian penting dari proses
wawancara karena evaluasi seorang pasien dari keseluruhan wawancara dan
kinerja kita dapat didasarkan pada pernyataan akhir. Oleh karena itu, harus
lebih diperhatikan akhir wawancara, sebaiknya tidak mengakhiri wawancara
dengan tiba-tiba atau terburu-buru meninggalkan pasien atau menyuruh
keluar.
Setelah pokok penting dari wawancara diliput, apoteker perlu
merangkum dengan singkat data signifikan bagi pasien.Tetapi tidak setiap
rincian harus diulang kepada pasien.Dalam wawancara, jika kita telah
memberikan informasi yang penting kepada pasien, kita harus memastikan
apakah pasien telah memahami informasi secara benar pada akhir
wawancara.Sebagai contoh, kita dapat berkata pada pasien, “Saya ingin
memastikan bahwa saya telah menerangkan semuanya dengan jelas.Tolong
simpulkan untuk saya hal penting apa yang harus diingat mengenai
pengobatan baru ini.”Pertanyaan-pertanyaan terbuka lainnya seperti “Saat
anda pulang kerumah, bagaimana anda menggunakan obat-obatan ini?”
Bagian wawancara ini akan membantu kita dalam menangkap apa yang
pasien dengar dan pahami. Teknik ini dapat membantu merangsang ingatan
pasien agar lebih banyak informasi yang dapat diperoleh, dan rangkuman itu
memberikan suatu cara bagi pasien untuk memperbaiki informasi yang
direkam yang tidak benar.
Rangkuman memungkinkan kedua belah pihak, mempunyai
kesempatan mengkaji dengan tepat, apa yang telah didiskusikan dan
membantu menjernihkan setiap salah pengertian. Penting bagi kedua belah
pihak untuk menyetujui mengenai apa yang telah dikatakan. Bersamaan
dengan rangkuman, kita dapat menggunakan isyarat nonverbal untuk
mengindikasikan kepada pasien bahwa wawancara sudah selesai.Apoteker
harus menanyakan pasien apakah masih ada pertanyaan mengenai sejarah

11
obat.Jika pasien mempunyai pertanyaan, apoteker dapat menggunakan
kesempatan ini untuk memberikan nasihat atau konseling pasien lebih rinci
tentang obatnya. Katakan kepada pasien bagaimana dan kapan kita akan
menghubunginya untuk memastikan bahwa suatu masalah yang telah
diidentifikasi telah diselesaikan dan pasien bereaksi dengan baik terhadap
semua perubahan terapeutik yang telah dibuat. Ucapkan terima kasih kepada
pasien atas kerja sama dan waktu yang diberikan dalam wawancara. Suatu
pernyataan tertutup harus dibuat, untuk meyakinkan pasien bahwa informasi
adalah rahasia dan akan diberikan hanya untuk dokter dan perawat yang
langsung berurusan dengan perawatan pasien.
Sebelum mengakhiri wawancara dengan pasien, kita harus memikirkan
apakah tujuan wawancara telah tercapai dan apa yang harus dilakukan jika
belum. Setelah pasien pergi, kita harus menilai dalam pikiran kita sendiri apa
yang telah dilakukan dengan baik dan apa yang perlu diubah untuk membantu
kita meningkatkan keterampilan wawancara kita. Akhirnya, informasi harus
didokumentasikan sebagai bagian dari catatan pasien.

2.2. Teknik Wawancara


2.2.1. Teknik Wawancara yang Tepat
Salah satu saat kritis pada pengkajian pasien oleh farmasis adalah ketika
mengajukan pertanyaan kepada pasien.Untuk memperoleh informasi yang
berguna, farmasis harus menggunakan keterampilan yang tepat dalam
mewawancarai pasien.
a. Lingkungan
Sebelum farmasis berbicara kepada pasien atau mendapatkan data
pengkajian pasien lingkungan di mana interaksi berlangsung harus
dipersiapkan. Interaksi dapat terjadi pada berbagai situasi dan kondisi
yang bervariasi namun karakteristik lingkungan dasar haruslah
konsisten dari satu situasi ke situasi yang lain untuk membantu
menjamin interaksi farmasis dan pasien yang lancar dan produktif.
Karakteristik lingkungan yang sesuai meliputi:
 Suhu ruangan yang nyaman.
 Pencahayaan ruang yang memadai

12
 Lingkungan yang tenang, karena suara bising dari satu atau
beberapa sumber akan mengalihkan perhatian pasien maupun
farmasis
 Tempat yang bersih dan terorganisir untuk menciptakan atmosfer
profesional.
 Jarak empat sampai lima kaki antara farmasis dan pasien; secara
umum jarak yang lebih dekat dapat menimbulkan kegelisahan dan
jarak yang lebih jauh menyiratkan ketidaktertarikan terhadap
pasien.
 Privasi: pasien perlu untuk merasa nyaman berbicara tentang
masalah-masalah kesehatan pribadi dan farmasis perlu untuk
dapat memperoleh data pengkajian pasien secara berhati-hati.
 Posisi duduk yang sama rata atau berdiri pada posisi sejajar mata
dan berhadapan atau membentuk sudut 90 derajat. Semua
penghalang harus dipindahkan antara farmasis dan pasien. Dalam
pengaturan di rumah sakit, farmasis harus duduk sejajar mata
dengan pasien untuk interaksi tatap muka. Berdiri di hadapan
pasien yang terbaring di tempat tidur dapat menyiratkan
superioritas, mungkin menyebabkan pasien merasa lebih rendah
maupun tidak nyaman.

b. Kalimat Pembuka
Kalimat-kalimat pembuka antara farmasis dan pasien menentukan
tahap interaksi.Farmasis harus memperkenalkan dirinya dan
menjelaskan alasan perlunya interaksi apabila pasien belum
mengenalnya.Sebagai tambahan, pasien perlu diberi tahu perkiraan
jumlah waktu yang diperlukan untuk interaksi.
c. Jenis-jenis Pertanyaan
Secara umum, pertanyaan terbuka digunakan pada saat awal,
untuk mengumpulkan informasi umum, dan selanjutnya diikuti dengan
pertanyaan-pertanyaan tertutup, apabila sesuai, untuk mengumpulkan
data pasien yang lebih spesifik.

13
 Pertanyaan terbuka
Pertanyaan-pertanyaan terbuka akan lebih menuntun pasien
untuk memberikan tanggapan dengan format naratif atau sebuah
paragraf kalimat-kalimat daripada sekedar jawaban ya atau tidak.
Jenis pertanyaan ini memungkinkan pasien memberikan informasi
dengan perspektif mereka. Sebagai contoh:
 Bagaimana, apakah semua berjalan sejak terakhir saya
bertemu anda?
 Bagaimana yang anda rasakan sejak memulai pengobatan
yang baru?
 Bagaimana anda meminum obat anda?
 Pertanyaan Tertutup
Pertanyaan tertutup, atau pertanyaan langsung, menanyakan
informasi-informasi spesifik dan terinci.Pertanyaan tertutup
membatasi pilihan jawaban pasien. Sebagai contoh:
 Apakah anda merasa nyeri pada dada terjadi ketika duduk?
 Apakah anda meminum obat tekanan darah pagi ini?
 Pernahkan anda mengalami reaksi alergi terhadap suatu obat?
d. Verifikasi Informasi Pasien
Seringkali farmasis juga perlu untuk memverifikasi detil tertentu
mengenai pasien untuk memastikan bahwa dia mengerti benar apa yang
pasien katakan. Beberapa teknik umpan balik dapat berguna dalam
membimbing farmasis dengan kedua proses ini. Teknik-teknik tersebut
meliputi:
 Klarifikasi
Klarifikasi berguna jika pasien memberikan informasi yang
membingungkan atau meragukan. Klarifikasi juga membantu
melengkapi informasi dengan beberapa detail yang lebih spesifik.
 Refleksi
Refleksi melibatkan pengulangan sebagian atau seluruh
tanggapan pasien.Tindakan refleksi adalah menyampaikan kata-
kata atau perasaan pasien kembali padanya.

14
 Empati
Seringkali informasi yang disampaikan pasien kepada
farmasis juga melibatkan perasaan atau emosi terkait dengan
pengobatan, kondisi medis, atau situasi hidup. Tanggapan empati
adalah mengenali perasaan, kemudian direfleksikan kembali
kepada pasien dengan cara memahami, memperhatikan, dan tidak
menilai.
 Fasilitasi
Fasilitasi menyemangati pasien untuk terus
mengkomunikasikan lebih banyak informasi. Ini menunjukkan
bahwa farmasis tertarik dengan apa yang dikatakan pasien dan
ingin pasien untuk melanjutkan.
 Keheningan
Ketika mendapat pertanyaan, kadang-kadang pasien
membutuhkan waktu untuk berpikir dan untuk mengorganisasi
apa yang ingin ia sampaikan. Farmasis harus menjadi terbiasa
dengan jeda-jeda ini sebagai bagian penting dari proses
komunikasi. Namun, jeda yang panjang mungkin juga berarti
pasien tidak mengerti.
 Ringkasan
Ringkasan adalah ulasan dari apa yang pasien telah
komunikasikan. Pernyataan ringkasan merupakan verbalisasi dari
pemahaman farmasis terhadap informasi pasien, dan ini dapat
digunakan pada setiap waktu selama atau pada akhir wawancara.
e. Komunikasi Nonverbal
Komunikasi yang tepat melibatkan tidak hanya keahlian-keahlian
verbal tetapi juganonverbal, di mana media pertukaran merupakan
sesuatu selain kata-kata yang diucapkan.
 Postur tubuh
Farmasis berdiri atau duduk dengan cara yang santai dan
mempresentasikan penampilan yang terbuka penuh kepada
pasien, menyampaikan baik penghargaan maupun minat yang

15
tulus. Kedua kaki harus terpisah nyaman, tidak disilangkan, dan
kedua lengan berada di samping.
 Kontak mata
Kontak mata yang tepat tidak berarti terus menerus menatap
pasien.Tidak menatap kepada pasien dapat diartikan sebagai
ketidaktertarikan dan kurang memperhatikan.Selain itu,
kurangnya kontak mata dapat menghambat kemampuan farmasis
untuk mengidentifikasi dan mengevaluasi komunikasi nonverbal
pasien.
 Ekspresi wajah
Ekspresi wajah farmasis harus konsisten dengan ekspresi
verbalnya. Jika keduanya tidak sesuai, pasien akan cenderung
mempercayai pesan wajah lebih dari kata-kata yang terucap.
 Gerak isyarat
Gerak isyarat juga mengirim pesan-pesan nonverbal
mengenai perasaan-perasaan emosional dan gejala-gejala
fisik.Sebagai contoh, meremas tangan atau mengetuk-ngetuk jari
sering mengindikasikan kecemasan atau kegugupan.

2.2.2. Kesalahan-Kesalahan Umum dalam Mewawancarai Pasien


a. Mengubah subyek
Seringkali, farmasis merasa tidak yakin bagaimana menanggapi
suatu pernyataan atau pertanyaan pasien. Dalam kasus ini, cara yang
paling mudah adalah mengganti subyek. Namun, dalam situasi seperti
itu, pasien akan merasa bahwa persoalan-persoalan mereka tidak
didengar atau dipahami.
b. Memberi nasehat
Pasien seringkali akan meminta nasehat kepada farmasis
mengenai pengobatan atau berbagai permasalahan kesehatan namun
farmasis harus menghindari pemberian pendapat pribadi atau memberi
tahu pasien apa yang harus dilakukannya.
c. Memberikan penghiburan yang tidak tepat

16
Ketika mendiskusikan persoalan-persoalan kesehatan yang
menyebabkan kegelisahan pasien, farmasis mungkin menghibur pasien
secara salah.Penghiburan yang tidak tepat seperti itu menyepelekan
perasaan-perasaan pasien dengan mencoba untuk mengubahnya
daripada berusaha mengerti dan menerimanya.
d. Menanyakan pertanyaan yang mengarahkan atau bias
Pertanyaan yang mengarahkan atau bias adalah pertanyaan yang
mengandung asumsi mengenai tingkah laku atau perasaan-perasaan
pasien, dan menyatakan secara tidak langsung bahwa suatu jawaban
lebih baik dari yang lain. Sebagai contoh, “Anda meminum obat anda
setiap hari bukan?”
e. Menggunakan terminologi profesional
Untuk komunikasi yang efektif, farmasis harus menggunakan
kata-kata yang dengannya pasien merasa akrab.Jangan menggunakan
istilah professional yang tidak dimengerti pasien.

17
BAB III

PEMBAHASAN

3.1. Kasus 1

Tn. A 60 tahun, pensiunan di kantor kecamatan adalah langganan


apotek di tempat anda bekerja. Dia menderita hipertensi yang rutin
menggunakan kaptopril 25 mg sehari 2 kali selama 2 bulan. Terakhir bapak A
datang ke apotek dengan keluhan batuk, pilek dan ingin membeli obat tanpa
resep dokter. Setelah diwawancara beliau mengatakan keluhannya baru
semalam dan agak demam sedikit.
Proses Wawancara:
Apoteker : Selamat Pagi Bapak A, nama saya Stephen Johnson,
apoteker di tempat ini dan saya hendak menayakan beberapa
hal sekitar 5 menit tentang obat yang sedang bapak gunakan
sampai saat ini.
Tn. A : Baik.
Apoteker : Sejak kapan bapak menggunakan obat untuk menurunkan
tekanan darah?
Tn. A : Sejak dua bulan yang lalu.
Apoteker : Apa yang bapak ketahui tentang obat ini dari dokter?
Tn. A : Obat ini namanya kaptopril. Dokter berkata bahwa obat ini
dapat menurunkan tekanan darah saya.
Apoteker : Bagaimana bapak meminum obat tersebut?
Tn. A : Saya meminumnya 2 kali sehari 1 jam sebelum makan.
Saya meminumnya dengan air putih.
Apoteker : Apa dokter mengatakan hal lainnya pak? Misalnya,
mengenai efek sampingnya?
Tn. A : Kemungkinan akan batuk.
Apoteker : Apakah selama dua bulan terakhir bapak mengalami batuk
kering?

18
Tn. A : Tidak, baru semalam saya batuk kering dan pilek, serta
sedikit demam.
Apoteker : Baik, pak. Selanjutnya saya berikan vitamin C plus Zinc
agar daya tahan bapak lebih kuat, minum vitamin ini sehari
satu kali sebanyak satu tablet dan sebaiknya bapak istirahat
dulu di rumah. Jika, batuk, pilek dan demamnya semakin
menggangu, saya akan memberikan bapak DMP HBr (10
mg) dan CTM (2 mg) sehari 3 kali agar batuk dan pileknya
mereda, serta parasetamol (500 mg) sehari 3 kali untuk
menurunkan demamnya. Jangan lupa untuk banyak minum
air ya pak.
Tn A : Baik pak Stephen, terima kasih.
Apoteker : Bisa bapak jelaskan kembali obat yang akan saya berikan
pada bapak?
Tn. A : Saya akan diberi vitamin, diminum sekali sehari 1 tablet.
Saya akan beristirahat dan minum banyak air. Jika tidak
sembuh, saya akan diberi DMP HBr dan CTM untuk
batuknya, dan parasetamol untuk demamnya.
Apoteker : Baik. Semoga cepat sembuh.Jika ada keluhan bapak bisa
menghubungi saya di no xxxx.Saya senang membantu.
Tn. A : Terima kasih.

3.2. Kasus 2
Farmasis : Halo Tuan Jones. Nama saya Monica Smith, farmasis.Saya
ingin berbicara kepada anda mengenai pengobatan anda.Ini
hanya memerlukan beberapa menit.
Pasien : Baik.
Farmasis : Bagaimana yang anda rasakan sejak Dr. Adams meresepkan
obat yang baru?
Pasien : Oh, saya merasa baik. Beberapa hari saya merasa sangat
sakit, dan beberapa hari saya merasa baik.
Farmasis : Apa yang anda maksud dengan merasa sangat sakit?

19
Pasien : Sulit bagi saya untuk menyelesaikan pekerjaan di luar
rumah. Saya senang memotong rumput pekarangan dan
menyirami taman, tapi akhir‐akhir ini saya tidak bisa
melakukannya.
Farmasis : Mengapa anda tidak bisa? Apakah anda merasa lemah atau
lelah?
Pasien : Saya rasa begitu. Saya mudah kecapaian ketika memotong
rumput pekarangan, dan hal itu membuat saya menyerah.
Farmasis : Apakah anda merasakan nyeri pada dada ketika memotong
rumput?
Pasien : Tidak ada nyeri pada dada, tapi sulit bagi saya untuk
bernapas.
Farmasis : Apakah anda mengalami kesulitan bernapas pada waktu
lain seharian atau ketika anda berbaring di malam hari?
Pasien : Hanya jika saya mencoba bekerja di luar rumah atau pergi
berjalan, dan pada malam hari. Saya biasanya merasa baik
jika tidur dengan dua bantal.

3.3. Kasus 3
Farmasis : Halo Tuan Albert. Nama saya Monica Lesmana, farmasis.
Saya ingin berbicara kepada anda mengenai pengobatan
anda. Ini hanya memerlukan 5-10 menit. Apakah anda
bersedia?
Pasien : Baik.
Farmasis : Apa yang diperintahkan oleh dr. Yahya tentang obat anda?
Apakah anda ingat nama obat anda?
Pasien : Saya tidak ingat namanya. Yang saya tahu, bentuknya tablet
segitiga dan saya disuruh untuk meminumnya sehari 3 kali
sesudah makan.
Farmasis : Nama obat anda Natrium diklofenak. Obat itu diberikan
untuk mengobati rematik anda. Bagaimana yang anda
rasakan sejak minum obat tersebut?

20
Pasien : Rematik saya sudah membaik, namun terkadang saya
merasakan sakit perut beberapa saat setelah mengonsumsi
obat tersebut.
Farmasis : Di sekitar perut bagian manakah anda merasakan sakit
tersebut?
Pasien : Sepertinya disekitar lambung
Farmasis : Bisa anda tunjuk bagian perut yang sakit itu?
Pasien : (menunjuk lambungnya dengan tangannya)
Farmasis : Baik. Bisa anda ceritakan pada saya bagaimana anda
mengkonsumsi obat tersebut?
Pasien : Terkadang saya minum setelah makan, tetapi apabila saya
belum sempat untuk makan maka saya mengonsumsi obat
tersebut sebelum makan.
Farmasis : Apakah nyeri yang anda rasakan muncul jika anda
meminum obat sebelum makan?
Pasien : ya.
Farmasis : Nampaknya anda terkena nyeri lambung karena lambung
anda teriritasi oleh natrium diklofenak apabila anda
mengonsumsi obat tersebut sebelum makan.
Pasien : Lalu, bagaimana cara mengatasinya apabila saya tidak
sempat untuk makan sebelum saya mengonsumsi obat
tersebut?
Farmasis : Anda dapat mengganti produk obat ini dengan produk
natrium diklofenak yang disalut enterik.
Pasien : Jika begitu, saya ingin mengganti produk ini dengan produk
natrium diklofenak yang disalut enterik.
Farmasis : Tetapi produk yang disalut enterik harganya sedikit lebih
mahal.
Pasien : Tidak apa-apa.
Farmasis : Baiklah, saya akan memberi tahu dr. Yahya tentang
perubahan ini. Apakah anda memiliki persoalan kesehatan
lainnya?

21
Pasien : Tidak ada.
Farmasis : Baiklah, bisa coba anda jelaskan ulang pada saya obat apa
yang akan anda minum seperti yang sudah kita sepakati tadi?
Pasien : Supaya lambung saya tidak sakit, saya akan mengganti obat
saya menjadi obat yang salut enterik sehingga saya bisa
meminumnya saat perut kosong. Obat tersebut bernama
Natrium diklofenak, dan saya harus meminumnya sehari 3
kali.
Farmasis : Baiklah. Terima kasih pak atas waktunya. Jika ada keluhan
lain, anda bisa menghubungi saya di no xxxx. Semoga cepat
sembuh.

22
BAB IV

PENUTUP

4.1. Kesimpulan
Pentingnya sejarah obat pasien yang terdokumentasi adalah jelas sehubungan
dengan begitu banyaknya obat berkhasiat keras, tersedia bagi pasien dan seringnya
terjadi reaksi obat merugikan (ROM) dan penyalahgunaan obat.Apoteker
mempunyai kontribusi yang signifikan pada perawatan pasien dengan menyelidiki
sejarah obatnya secara seksama.Kemampuan apoteker untuk memperoleh suatu
gambaran secara lengkap yang diterima dari pasien, bergantung pada pengetahuan
tentang obat dan keterampilan komunikasinya. Jika apoteker tidak pandai
berkomunikasi maka hubungan baik dengan pasien tidak akan terbina. Hal ini dapat
berakibat pada rusaknya keseluruhan proses wawancara sehingga informasi-
informasi penting yang dapat mempengaruhi efektivitas dan efisiensi pengobatan
tidak dapat diperoleh.
Selama wawancara, apoteker harus mendorong rasa kebersamaan antara
pasien dan apoteker. Hal ini dapat dicapai dengan memasukkan pasien dalam
proses pengobatan. Memberikan alasan untuk terapi obat dan perlunya suatu
sejarah yang akurat dan lengkap, dapat memotivasi pasien untuk berpartisipasi
lebih besar dalam wawancara. Membolehkan pasien terlibat dalam proses
pengobatan, dapat membantu mengurangi perasaan tidak percaya atau cemas dan
merangsang pasien memberi informasi yang lebih banyak. Setelah data-data hasil
wawancara diperoleh, maka selanjutnya perlu dilakukan evaluasi terhadap hasil
tersebut.

23
DAFTAR PUSTAKA

Jones, R. M., & Rospond, R. M. (2008). Patient Assessment in Pharmacy Practice.


Battimore: Lippincot Williams & Wilkins.

24

Anda mungkin juga menyukai