Anda di halaman 1dari 13

Nama : Windy Rizki Lestari

NIM : H1041161005

Mata kuiah : Biokimia tumbuhan

Dosen PJ : Diah Wulandari Rousdy, S.Si.,M.Sc

Tugas : Resume kromatografi

KROMATOGRAFI
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan molekul berdasarkan perbedaan pola
pergerakan antara fase gerak dan fase diam untuk memisahkan komponen (berupa
molekul)
yang berada pada larutan. Pemisahan yang terjadi dalam kromatografi
dilaksanakan dengan
memanipulasi sifat-sifat dari senyawa, yaitu : 1) kecenderungan suatu molekul
untuk larut
dalam cairan (kelarutan)

2) kecenderungan suatu molekul untuk bertaut dengan suatu serbuk


padat (absorbsi)

3) kecenderungan suatu molekul untuk menguap (volatilitas).


Dalam kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan ditempatkan pada
situasi
dinamik (bergerak) yaitu melakukan pengaliran dan selain itu akan terjadi
peristiwa pelarutan,
absorbsi atau penguapan. Secara umum dapat dikatakan bahwa kromatografi
adalah suatu proses migrasi diferensial dimana komponen-komponen sample
ditahan secara selektif oleh
fase diam.Klasifikasi kromatografi didasarkan pada jenis fase-fase yang
digunakan : fase gerak,
fase diam. Dapat juga didasarkan atas teknik : kromatografi kolom, kromatografi
lapis tipis.
Jenis lain, klasifikasi berdasarkan prinsipnya : kromatografi partisi, kromatografi
absorbsi.
Kadang semua cara klasifikasi tersebut digabung.
Kromatografi menurut Keulmans pada tahun 1959 adalah teknik pemisahan
campuran secara fisika didasarkan atas perbedaan distribusi dari komponen-
komponen campuran tersebut di antara dua fase, fase diam (padat atau cair) dan
fase gerak (cair atau gas). Dari pengertian tersebut dapat diketahui bahwa terdapat
dua komponen penting dalam kromatografi, yang fase diam (padat atau cair) dan
fase gerak (cair atau gas).

Definisi kromatografi menurut IUPAC (International Union of Pure and Applied


Chemistry), kromatografi adalah metode yang digunakan untuk memisahkan
komponen dalam sampel, dimana komponen tersebut didistribusikan diantara dua
fase yaitu fase diam dan fase gerak. Fase diam dapat berupa padatan atau cairan
yang dilapiskan pada padatan atau gel.

Bila fasa diam berupa zat padat aktif, maka kromatografi ini dikenal dengan
kromatografi penyerapan (adsorption chromatography). Bila fasa diam berupa zat
cair, maka teknik ini disebut kromatografi partisi atau kromatografi pembagian
(partition chromatography).

Suatu campuran pewarna dapat dipisahkan dengan teknik kromatografi karena


adanya perbedaan kelarutan antara zat penyusun campuran pewarna tersebut.
Selain itu, kecepatan bergerak partikel penyusun sangat dipengaruhi oleh ukuran
partikel penyusunnya. Senyawa yang lebih kecil akan bergerak lebih cepat dari
pada senyawa dengan ukuran lebih besar. Misalnya, tinta hitam merupakan
campuran beberapa warna. Kita dapat memisahkan campuran warna tersebut
dengan kromatografi sehingga kita dapat melihat komponen penyusun warna
hitam tersebut.

Sejarah Kromatografi
Kromatografi pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli botani asal Rusia pada
tahun 1906 yaitu Mikhail Semyonovich Tsvet (1901-1903). Tsvet pertama kali
menemukan teknik kromatografi dalam penelitiannya untuk memisahkan klorofil
dari pigmen-pigmen lain pada ekstrak tanaman.

Pada penelitian tersebut, Tsvet menggunakan sebuah kolom gelas yang diisi
dengan serbuk kalsium karbonat untuk memisahkan pigmen tanaman. Bubuk
kalsium karbonat ini berfungsi sebagai penyerap (adsorben), sehingga kolom
tersebut dikenal dengan istilah kolom adsorben.
Metode ini kemudian diuraikan dalam sebuah pertemuan yaitu XI Congress of
Naturalists and Doctors di St. Petersburg pada tanggal 30 Desember 1901,
sedangkan terbitan pertama yang berisi tentang deskripsi metode ini
dipublikasikan di dalam Proceedings of the Warsaw Society of Naturalists,
section of biology tahun 1903. Tsvet pertama kali menggunakan istilah
kromatografi dalam 2 papernya tentang klorofil dalam jurnal botanical German,
Berichte der Deutschen Botanischen Gesellschaft pada tahun 1906.

Pada awal perkembangannya, metoda kromatografi berkembang sangat lambat


selama dua puluh tahun pertama. Pada tahun 1948 A. Tiselius dari Swedia
mendapatkan hadiah nobel dalam bidang kromatografi yaitu analisis dengan
elektroforesis dan adsorpsi. Setelah metoda kromatografi partisi diperkenalkan
pada tahun 1952, metoda kromatografi menjadi suatu metoda yang sangat
universal.

Metoda kromatografi banyak digunakan dalam bidang biokimia, kimia organik


maupun kimia anorganik, kimia analisa, kimia bahan pangan dan bidang lainnya.
Pada perkembangan selanjutnya, kromatografi telah dilengkapi dengan perangkat
canggih seperti komputer dan alat bantu lain sehingga memperluas
pemanfaatannya dalam berbagai disiplin ilmu yang lain. Kromatografi terus
berkembang dengan lahirnya berbagai jenis kromatografi antara lain kromatografi
gas-spektrometri massa (GC-MS), kromatografi cair tekanan tinggi (HPLC) serta
kromatografi ion.

Prinsip Kerja Kromatografi


Kromatografi bekerja dengan prinsip dasr yaitu jumlah zat terlarut yang berbeda
untuk masing-masing komponen pada waktu tertentu saat kesetimbangan terjadi
antara fase diam dan fase geraknya. Pemisahan dengan metode kromatografi dapat
terjadi apabila suatu molekul maupun senyawa memiliki sifat yang berbeda, di
antaranya adalah:

1. Memiliki kelarutan yang berbeda terhadap suatu pelarut.


2. Memiliki sifat kelarutan atau sifat untuk berikatan yang berbeda
satu sama lain dengan fase diamnya.
3. Memiliki sifat mudah menguap (volatil) pada temperatur yang
berbeda.
Berikut ini penjelasan singkat mengenai pemisahan senyawa pada kromatografi.
Pemisahan secara kromatografi, senyawa-senyawa yang akan dipisahkan
ditempatkan pada sistem tertentu (seperti: kolom) di mana dalam sistem tersebut
terdapat bagian yang diam atau stasioner (biasanya berupa padatan atau cairan
yang dideposisikan pada padatan) yang disebut sebagai fasa diam dan kemudian
dibawa atau mengalir melalui suatu bagian mobile atau yang diketauhi sebagai
fase gerak, dimana selama proses pengaliran tersebut akan terjadi interaksi antara
komponen senyawa dengan fase diamnya. Selama berinteraksi akan terjadi proses
pelarutan, adsorpsi maupun penguapan dari komponen senyawa yang akan
dipisahkan.

Sifat-sifat dari komponen penyusun senyawa tersebut akan menentukan apakah


komponen-komponen tersebut mampu bergerak bebas (berinteraksi lemah) atau
berinteraksi kuat dalam fase diamnya. Bila semua komponen-komponen yang ada
tidak dapat bergerak dalam fase diam, maka proses pemisahan tidak mungkin
dapat berlangsung. Apabila dapat bergerak, pemisahan akan bergantung pada
sejauh mana kecepatan bergerak di antara komponen-komponen tersebut maupun
perbedaan kecepatannya dengan kecepatan fasa gerak yang dipakai pada sistem
tersebut.

Oleh karena itu pada metoda kromatografi perlu dilakukan pemilihan fase gerak
sedemikian rupa sehingga semua komponen dapat bergerak dengan kecepatan
yang berbeda-beda sehingga proses pemisahan dapat terjadi. Secara umum dapat
dikatakan bahwa kromatografi adalah proses migrasi diferensial dimana
komponen-komponen sampel ditahan secara selektif oleh fase diam.

Pada gambar tersebut, sampel berada dalam fasa gerak (eluen) dimasukkan ke
dalam kolom pemisahan. Komponen dalam sampel akan mulai terpisah sesaat
setelah berada dalam kolom. Setelah berinteraksi dengan fase diam kolom, eluen
dan komponen senyawa akan keluar dari kolom melalui detektor untuk
selanjutnya dianalisis secara kuantitatif.

Teori pemisahan pada kromatografi


Ada dua pendekatan yang digunakan untuk menjelaskan tentang proses
pemisahan yang digunakan dalam metode kromatografi, yaitu plate theory dan
rate theory.
1. Plate Theory,
dikenalkan pertama kali oleh Martin dan Synge pada tahun 1941. Teori ini
didasarkan pada analogi dengan proses distilasi dan ekstraksi. Plate Theory
mengasumsikan bahwa pada kromatografi kolom terdapat sejumlah lapisan-
lapisan pemisah yang dikenal sebagai theoretical plates. Pemisahan sampel antara
fasa diam dan gerak terjadi pada “plates” tersebut. Analit bergerak sepanjang
kolom melalui transfer keseimbangan fasa gerak dari satu plate ke plate
selanjutnya.

Dalam plate theory, kita mengasumsikan bahwa kolom kromatografi merupakan


sebuah sistem tetap dalam kesetimbangan. Masing-masing spesies menunjukkan
sistem keseimbangan antara fasa diam dan fasa geraknya.

2. Rate Theory,
dikenalkan oleh J.J. van Deemter pada tahun 1956 dimana proses pemisahan
didasarkan pada jumlah pemisahan pada kondisi dinamisnya. Proses yang terjadi
dalam kolom membutuhkan waktu tertentu untuk zat terlarut mencapai
keseimbangan dengan fase diam dan fase geraknya. Hasil analisis kromatogram
berupa puncak-puncak kromatografi yang dipengaruhi oleh laju elusinya. Bentuk
atau karakter pelebaran puncak kromatogram disebabkan oleh 3 faktor yaitu difusi
eddy, difusi longitudinal dan transfer masa.

a. Diffusi Eddy
Difusi Edi disebabkan karena ketidakseragaman packing pada kromatografi
kolom, meliputi perbedaan bentuk, ukuran partikel-partikel pengisi kolom, cara
pengisian kolom, dan diameter dari kolom Perbedaan ini mengakibatkan solut
akan mengambil jalan yang berbeda untuk melalui kolom sehingga terjadi
perbedaan waktu keluarnya molekul-molekul dari kolom. Perbedaan tersebut
menyebabkan pelebaran puncak dari solut. Untuk memperkecil efek ini,
digunakan partikel-partikel kecil dengan ukuran sama tetapi tidak menyebabkan
penurunan tekanan yang terlalu tinggi dalam kolom, diameter kolom yang kecil,
pengepakan yang mampat dan ukuran sama tanpa memecahkan partikel-partikel
pengisi kolom tersebut.

b. Difusi Longitudinal
Difusi Longituidinal disebabkan karena kecenderungan zat terlarut untuk
berdifusi. Molekul-molekul zat terlarut cenderung untuk berdifusi dari daerah
yang konsentrasinya tinggi ke daerah dengan konsentrasi rendah. Akibatnya,
waktu melintasi kolom, molekul-molekul akan menyebar (berdifusi) ke belakang
dan ke depan. Derajat pelebaran puncak pada longitudinal diffusion dipengaruhi
oleh proses difusi solut dan Laju alir solut selama melewati kolom.

c. Transfer Massa
Transfer massa untuk pemisahan zat terlarut pada fase diam, tidak terjadi begitu
saja melainkan bergantung pada partisi zat terlarut dan koefisien difusinya.

Yang pertama transfer massa fase gerak. Solut yang tidak bergerak melalui kolom
ketika berada pada fase gerak dalam kondisi stagnant akan membutuhkan waktu
lebih lama di dalam kolom daripada solut yang melewati kolom begitu saja
bersama fase geraknya. Transfer massa fase gerak dapat menyebabkan pelebaran
puncak kromatogram karena perbedaan profil alir pada kanal atau diantara
partikel pendukung pada kolom. Solut yang melalui bagian tengah kanal akan
lebih dahulu mencapai ujung kolom daripada solut yang melalui bagian tepi kanal.
Derajat pelebaran puncak yang dipengaruhi oleh difusi Eddy dan transfer massa
fase gerak dikarenakan ukuran dari packing materialnya dan laju difusi solut.

Yang kedua adalah Transfer massa fase gerak tetap (stagnant). Transfer massa
fase gerak stagnant menyebabkan pelebaran puncak karena perbedaan laju difusi
dari molekul solut antara fase gerak diluar pori pada fase diam (flowing mobile
phase) dengan fase gerak didalam pori (stagnant) pada fase diamnya (stagnant
mobile phase). Derajat pelebaran puncak sangat dipengaruhi oleh beberapa hal
yaitu ukuran, bentuk dan struktur pori dari packing material, difusi dan retensi
dari solute, serta laju alir solut ketika melalui kolom.

Jenis-jenis kromatografi
Jenis-jenis kromatografi dapat diklasifikasikan antara lain berdasarkan jenis fase
(baik fasa diam maupun bergerak) yang digunakan, sistem geometri dan prinsip
pemisahannya.

1. Kromatografi berdasarkan fasa yang terlibat


Pemisahan tipe kromatografi berdasarkan fase yang terlibat

2. Kromatografi berdasarkan sistem geometri


Klasifikasi jenis kromatografi berdasarkan sistem geometrinya dapat dibagi
menjadi kromatografi kolom dan kromatografi planar.

a. Kromatografi kolom
Kromatografi kolom, fase diamnya terdeposisi pada pipa yang berbentuk kolom.
Pada kromatografi kolom, komponen yang akan dipisahkan bergerak bersama fase
gerak melalui kolom tersebut dan kemudian setiap komponen akan terpisahkan.

Setiap komponen yang keluar dari kolom akan masuk ke detektor untuk dianalisis.
Hasilnya disajikan dalam bentuk puncak-puncak (peaks) kromatogram yang
mengidentifikasikan konsentrasi eluen sebagai fungsi waktu. Luasan puncak
sebanding dengan konsentrasi komponen sampel.

b. Kromatografi planar
Kromatografi Planar (Kromatografi lapis tipis) merupakan jenis kromatografi di
mana fase diamnya berupa film tipis dengan partikel padat yang terikat bersama
melalui kekuatan mekanik pada senyawa pengikat seperti kalsium sulfat.

Pada kromatografi lapis tipis ini komponen yang akan dipisahkan bergerak
bersama fase gerak dalam sebuah bidang datar. Senyawa yang bergerak terlihat
seperti noda (spot) yang dapat dikenali. Posisi noda menunjukkan identitas suatu
komponen/senyawa, sedangkan besar atau intensitas noda menunjukkan
konsentrasinya.

Pada kromatografi planar ini beberapa bercak komponen/senyawa dapat


dipisahkan langsung secara bersamaan maupun dipisahkan dengan beberapa
langkah, dimana langkah yang selanjutnya tegak lurus arahnya dengan langkah
yang pertama. Cara ini dikenal dengan metode kromatografi dua dimensi. Gambar
dibawah ini menunjukkan proses pemisahan menggunakan metode kromatografi
planar.

3. Kromatografi berdasarkan prinsip pemisahan


Klasifikasi jenis kromatografi berdasarkan prinsip pemisahannya dapat dibagi
menjadi Kromatografi Adsorpsi, Kromatografi Partisi, Kromatografi Pertukaran
ion, Exclusion Chromatography dan Affinity Chromatography.

a.Kromatografi Adsorpsi
Pada jenis kromatografi adsorpsi, prinsip pemisahan berdasarkan proses adsorpsi
analit dalam permukaan padatan fase diam. Padatan fase diam dapat berupa silika
gel atau alumina yang memiliki luas permukaan relatif besar. Kromatografi
adsorpsi merupakan salah satu metode kromatografi yang cukup lama. Pemisahan
didasarkan pada perbedaan sifat afinitas adsorpsi dari komponen sampel pada
permukaan padatan aktif. Kromatografi adsorpsi menggunakan fase gerak cairan
maupun padatan yang mampu teradsorp pada permukaan fase diamnya. Pada
gambar dibawah ini ditunjukkan interaksi adsorpsi antara analit pada fase gerak
dengan permukaan fase diamnya.

Metode kromatografi adsorpsi memiliki beberapa kelemahan dia antaranya yang


pertama adalah keterbatasan jumlah adsorben yang dapat digunakan untuk
melakukan pemisahan. Kedua adalah koefisien distribusi terhadap adsorpsi yang
seringkali tergantung pada konsentrasi total komponen yang akan dipisahkan,
sehingga mengakibatkan pemisahan kurang sempurna.

b. Kromatografi Partisi
Kromatografi partisi adalah kromatografi dimana proses pemisahannya
berdasakan kemampuan adsorpsi analit pada lapisan tipis cairan yang dilapiskan
pada partikel padatan inert fase diamnya. Prinsip utama pemisahan berdasarkan
perbedaan kelarutan antara komponen sampel pada fase diamnya (gas
chromatography), atau berdasarkan perbedaan kelarutan komponen dalam fase
gerak dengan fase diamnya (liquid chromatography). Keuntungan metode
kromatografi partisi ini adalah distribusinya tidak bergantung pada konsentrasi,
sehingga pemisahan dapat terjadi lebih baik.

c. Kromatografi Pertukaran ion


Pada kromatografi penukar ion, ion terpisahkan berdasarkan gaya elektrostatiknya
membentuk grup fungsional yang bermuatan pada fase diam. Kromatografi
penukar ion menggunakan resin sebagai padatan fase diam yang berguna untuk
mengikat anion atau kation. Larutan ion bermuatan pada fase gerak akan berikatan
denga resin yang memiliki muatan berlawanan melalui gaya elektrostatik.
Kromatografi pertukaran ion sering kali dipakai dalam pemurnian materi biologis,
seperti asam amino, peptida, protein. Dengan metode ini bisa dilakukan dengan
dua tipe, yaitu dalam kolom ataupun ruang datar. Ada dua tipe pertukaran ion
-Pertukaran kation (cation exchange): fase stasioner mempunyai muatan negatif
-Pertukaran anion (anion exchange): fase stasioner mempunyai muatan positif.
Molekul bermuatan yang terletak pada fase cair akan melewati kolom. Jika
muatan pada molekul sama dengan kolom maka molekul tersebut akan terelusi.
Tetapi apabila muatan pada molekul tidak sama dengan muatan kolom. Untuk
mengelusi molekul yang menempel pada kolom dibutuhkan penambahan larutan
dengan kadar PH dan kekuatan ionik tertentu.

Pemisahan menggunakan metode ini sangat selektif dan karena biaya untuk
mengoperasikan metodi ini murah dan juga kapasistasnya tinggi. Jadi metode ini
seringkali dipakai pada awal proses keseluruhan.

d. Exclusion Chromatography
Exclusion Chromatography merupakan tipe kromatografi yang tidak banyak
dipengaruhi oleh interaksi antara fase diam dengan zat terlarutnya. Proses
pemisahan berdasarkan volume hidrodinamik dari molekul atau partikel. Dalam
teknik ini, gel nonionik dengan ukuran pori yang sama digunakan untuk
memisahkan campuran berdasarkan perbedaan ukuran molekulnya (BM).

Molekul-molekul yang kecil akan memasuki pori-pori dari gel sedangkan molekul
besar akan melewati sela-sela gel lebih cepat bila dibandingkan dengan molekul
yang melewati pori-porinya. Jadi urutan elusi mula-mula adalah molekul yang
lebih besar, molekul sedang, dan terakhir molekul yang paling kecil. Apabila fasa
diamnya adalah gel yang hidrofil maka teknik ini disebut gel filtration
chromatography dan bila digunakan gel yang hidrofob (polystyrene-
divinylbenzene) disebut gel permeation chromatography.

e. Affinity Chromatography
Kromatografi afinitas bekerja berdasarkan pada interaksi spesifik antara satu jenis
molekul zat terlarut dengan jenis molekul lain yang terimmobilisasi dalam fase
diam. Sebagai contoh, molekul yang terimmobilisasi dapat menjadi antibodi untuk
beberapa protein yang spesifik. Saat zat terlarut yang mengandung campuran
protein melewati molekul ini, hanya protein tertentu saja yang akan bereaksi
dengan antibodi yang terimmobilisasi pada fase diam.

f. Kromatografi Lapis Tipis

Yaitu kromatografi yang menggunakan lempeng gelas atau alumunium yang


dilapisi dengan lapisan tipis alumina, silika gel, atau bahan serbuk lainnya.
Kromatografi lapis tipis pada umumnya dijadikan metode pilihan pertama pada
pemisahan dengan kromatografi.

g. Kromatografi Penyaringan Gel


Merupakan proses pemisahan dengan gel yang terdiri dari modifikasi
dekstran-molekul polisakarida linier yang mempunyai ikatan silang. Bahan ini
dapat menyerap air dan membentuk susunan seperti saringan yang dapat
memisahkan molekul-molekul berdasarkan ukurannya. Molekul dengan berat
antara 100 sampai beberapa juta dapat dipekatkan dan dipisahkan. Kromatografi
permeasi gel merupakan teknik serupa yang menggunakan polistirena yang
berguna untuk pemisahan polimer.

h. Elektroforesis
Merupakan kromatografi yang diberi medan listrik disisinya dan tegak
lurus aliran fasa gerak. Senyawa bermuatan positif akan menuju ke katode dan
anion menuju ke anoda. Sedangkan kecepatan gerak tergantung pada besarnya
muatan.

.i. Kromatografis Kerstas


Kromatografi kertas merupakan salah satu metode pemisahan berdasarkan
distribusi suatu senyawa pada dua fasa yaitu fasa diam dan fasa gerak. Pemisahan
sederhana suatu campuran senyawa dapat dilakukan dengan kromatografi kertas,
prosesnya dikenal sebagai analisis kapiler dimana lembaran kertas berfungsi
sebagai pengganti kolom.
Kromatografi kertas adalah salah satu pengembangan dari kromatografi
partisi yang menggunakan kertas sebagai padatan pendukung fasa diam. Oleh
karena itu disebut kromatografi kertas. Sebagai fasa diam adalah air yang
teradsorpsi pada kertas dan sebagai larutan pengembang biasanya pelarut organik
yang telah dijenuhkan dengan air.
Dalam kromatografi kertas fasa diam didukung oleh suatu zat padat berupa
bubuk selulosa. Fasa diam merupakan zat cair yaitu molekul H2O yang
teradsorpsi dalam selulosa kertas.fasa gerak berupa campuran pelarut yang akan
mendorong senyawa untuk bergerak disepanjang kolom kapiler. Analisis kualitatif
menggunakan kromatografi kertas dilakukan dengan cara membandingkan harga
relative response factor (Rf). Nilai Rf identik dengan time retention (tR) atau
volume retention (VR).
Nilai Rf dapat ditentukan dengan cara:
Rf = jarak yang ditempuh noda jarak yang ditempuh pelarut.
Harga Rf zat baku dapat diidentifikasikan komponen campuran, karena
harga besaran ini bersifat khas untuk setiap zat asal digunakan jenis pengembang
yang sama. Kadang-kadang pemisahan dalam satu arah belum memberikan hasil
yang memuaskan. Untuk mendapatkan hasil yang lebih baik, dapat dipakai cara
kromatografi kertas dua dimensi, yang mana letak kertas diubah sehingga arah
pemisahan juga berubah.
Secara umum kromatografi kertas dilakukan dengan menotolkan larutan
yang berisi sejumlah komponen pada jarak 0,5 sampai 1cm dari tepi kertas.
Setelah penetesan larutan pada kertas, maka bagian bawah kertas dicelupkan
dalam larutan pengambang(developing solution). Larutan ini umumnya terdiri
atas campuran beberapa pelarut organik yang telah dijenuhkan dengan air.
Sistem ini akan terserap oleh kertas dan sebagai akibat dari gaya kapiler
akan merambat sepanjang kertas tersebut. Rambatan ini dapat diusahakan dalam
modus naik atau menurun. Selama proses pemisahan dilakukan, sistem secara
keseluruhannya disimpan dalam tempat tertutup, ruang didalamnya telah jenuh
dengan uap sistem pelarut ini.

j. Kromatografi gas
Campuran gas dapat dipisahkan dengan kromatografi gas. Fasa stationer
dapat berupa padatan (kromatografi gas-padat) atau cairan (kromatografi gas-
cair).
Umumnya, untuk kromatografi gas-padat, sejumlah kecil padatan inert misalnya
karbon teraktivasi, alumina teraktivasi, silika gel atau saringan molekular diisikan
ke dalam tabung logam gulung yang panjang (2-10 m) dan tipis. Fasa mobil
adalah gas semacam hidrogen, nitrogen atau argon dan disebut gas pembawa.
Pemisahan gas bertitik didih rendah seperti oksigen, karbon monoksida dan
karbon dioksida dimungkinkan dengan teknik ini.
Dalam kasus kromatografi gas-cair, ester seperti ftalil dodesilsulfat yang
diadsorbsi di permukaan alumina teraktivasi, silika gel atau penyaring molekular,
digunakan sebagai fasa diam dan diisikan ke dalam kolom. Campuran senyawa
yang mudah menguap dicampur dengan gas pembawa disuntikkan ke dalam
kolom, dan setiap senyawa akan dipartisi antara fasa gas (mobil) dan fasa cair
(diam) mengikuti hukum partisi. Senyawa yang kurang larut dalam fasa diam
akan keluar lebih dahulu
Metoda ini khususnya sangat baik untuk analisis senyawa organik yang
mudah menguap seperti hidrokarbon dan ester. Analisis minyak mentah dan
minyak atsiri dalam buah telah dengan sukses dilakukan dengan teknik ini.

Efisiensi pemisahan ditentukan dengan besarnya interaksi antara sampel dan


cairannya. Disarankan untuk mencoba fasa cair standar yang diketahui efektif
untuk berbagai senyawa. Berdasarkan hasil ini, cairan yang lebih khusus
kemudian dapat dipilih. Metoda deteksinya, akan mempengaruhi kesensitifan
teknik ini. Metoda yang dipilih akan bergantung apakah tujuannya analisik atau
preparatif.
HPLC (high precision liquid chromatography atau high performance liquid
chromatography)
Akhir-akhir ini, untuk pemurnian (misalnya untuk keperluan sintesis) senyawa
organik skala besar, HPLC (high precision liquid chromatography atau high
performance liquid chromatography) secara ekstensif digunakan. Bila zat melarut
dengan pelarut yang cocok, zat tersebut dapat dianalisis. Ciri teknik ini adalah
penggunaan tekanan tinggi untuk mengirim fasa mobil kedalam kolom. Dengan
memberikan tekanan tinggi, laju dan efisiensi pemisahan dapat ditingkatkan
dengan besar.
Silika gel atau oktadesilsilan yang terikat pada silika gel digunakan sebagai
fasa stationer. Fasa stationer cair tidak populer. Kolom yang digunakan untuk
HPLC lebih pendek daripada kolom yang digunakan untuk kromatografi gas.
Sebagian besar kolom lebih pendek dari 1 m.

Kromatografi penukar ion menggunakan bahan penukar ion sebagai fasa


diam dan telah berhasil digunakan untuk analisis kation, anion dan ion organik.

k. Teori Kromatografi Gas


Kromatografi gas termasuk dalam salah satu alat analisa (analisa kualitatif
dan analisa Ckuantitatif), kromatografi gas dijajarkan sebagai cara analisa yang
dapat digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa organic. Kita telah
mengetahui bahwa ada dua jenis kromatografi gas, yatiu kromatografi gas padat
(KGP), dan kromatografi gas cair (KGC). Dalam kedua hal ini sebagai fasa
bergerak adalah gas (hingga keduanya disebut kromatografi gas), tetapi fasa
diamnya berbeda. Meskipun kedua cara tersebut mempunyai banya persamaan.
Perbedaan antara kedunya hanya tentang cara kerja.
Kromatografi Kolom
Kromatografi kolom merupakan jenis kromatografi yang menggunakan kolom
gelas pada metodenya. Proses kromatografi jenis ini umumnya dipakai untuk
memisahkan pigmen pada tumbuhan. Campuran pigmen lalu dimasukkan pada
kolom gelas yang isinya aluminia. Pelarut lalu dialirkan supaya membawa
campura melalui kolom.

Pigmen akan berjalan turun melalui kolom dengan kecepatan yang tergantung
pada kuat atau tidaknya adsorbsi pigmen pada aluminia. Pigmen yang terarsorbsi
lemah pada aluminia akan melewati kolom dengan cepat daripada pigmen yang
terarsorbsi kuat. Pigmen lalu terpisah dan menjadi satu pada tempat berbeda
ketika keluar dari kolom.
Penggunaan Kromatografi
1. Pemakaian untuk tujuan kualitatif mengungkapkan ada atau tidak adanya
senyawa tertentu dalam cuplikan
2. Pemakaian untuk tujuan kuantitatif menunjukkan banyaknya masing-
masing komponen campuran
3. Pemakaian untuk tujuan preparatif untuk memperoleh komponen
campuran dalam jumlah memadai dalam keadaan murn