Anda di halaman 1dari 4

2.5.

Kerusakan Hutan

World Resources Institute (WR) menempatkan masalah kerusakan hutan

tropis akibat penggundulan hutan sebagai masalah lingkungan utama Indonesia

(Yakin, 1997), Eksploitasi hutan yang selama ini dilakukan secara berlebihan

melalui sistem hak pengusahaan hutan (HPH) dan konversi hutan untuk

pengetnbangan pertanian, khususnya perkebunan telah mengakibatkan kerusakan

ngk ungan yang sangat parah. Kerusakan hutan juga tergiadi di hutan konservasi

dan hutan lindung. Data yang ada memperlihatkan bahwa hutan yang mengalam

rusak berat akibat sistem HPH sampai Juni 1998 seluas 16,57 juta ha

(artodihardjo dan Supriono, 1999).

Sama seperti kawasan konservasi laininya, Taman Nusional Berbak juga

mengalami ancaman dari kerusakan hutan. Misalnya perambahan, ilegal 1oggng

kebakaran hutan, perburuan liar dan pengambilan hasil hutan non kayu (5alai

Taman Nasional Berbak, 2013), Menurut Lubis dan Suryadiputra (2010),

menyebutkan bahwa total daerah yang mengalami kerusakan di kawasan 1aman

Nasional Berbak sekitar 18.000 ha (atau sekitar 11% dari luas Taman Nasional

Berbak). Menurut Afandy (2013), bentuk-bentuk gangguan yang terjadr di Taman

Nasional Berbak tersebar di beberapa tempat terutama daerah yang mudah

dijangkan oleh masyarakat.

Menurut Ekawati (2000) bentuk-bentuk kegiatan atau aktivitas manusia

yang mengakibatkan kerusakan hutan antara lain sebagai berikut:

a. Pencurian kayu/penebangan kayu illegal

Penebangan liar (ilegal logging) adalah kegiatan menebang kayu dengan

melanggar peraturan kehutanan misalnya menebang kayu di wilayah yang

dilindungi, areal konservasi, dan 1aman Nasional, serta menebang kayu tanpa izin
di hutan-hutan produksi. Mengangkut dan memperdagangkan kayu illegal dan

proxduk kayu illegal juga dianggap sebaga kejahatan kehutanan, Dengan kata lain,

pengertian illegal logging adalah meliputi serangkaian pelanggaran peraturan

yang mengakibatkan ekploitasi sumber daya hutan yang berlebihan (Kementrian

Kehutanan, 2011).

b. Sistem periadangan berpindah

Sistem ini dilakukan oleh penduduk yang tunggal di kawasian atau di

pinggir hutan. Pertanian dilakukan dengan cara yang masih sangat sederthana

yaitu dengan cara menebang pohon dan lalu dikeringkan kemudian dibakar.

enuiny tanan yang merupakan lahan pertanian tidak diolah, melankan

langsung ditanami. Lahan pertanian ini dimanfaatkan hanya dalam jangka waktu

34tahun. Jika sudah tidak diolah lagi sebagai lahan pertanan, maka akan

dnunggaikan. Pada dasanya sistem perladangan berpindah udak berdampak

negatit pada lingkungan karena luas lahan yang dibuka relatit sempit yait

berkisar antara 2-3 ha. Akan tetapi, karena penduduk bertambah terus dan

teknologi sudah mulai berkembang. maka degradasi hutan Indonesia menjadi

semakin luas dan semakin parah kondisinya.

C. Kebakaran hutan yang diakibatkan oleh manusia

Kebakaran hutan dan lahan merupakan salah satu penyebub terbesar

kerusakan hutan di lndonesia, hampir setiap tahun kejadian kebakaran terjadi di

Kawasan hutan Indonesia. T erdapat tiga kategori pelaku pembakaran hutan

berdasarkan modus operandinya. Pertama, masyarakat yang terbagi aluas

masyarakat tradisional, yang melaksanakan kearifan budaya dalam pengelolaan

hutan, dan para pendatang yang belum mengenal budaya pengendaltan ap

Kedua, perusahaan perkebunan, perusahaan pemilik hak pengusahaan hutan


PH), dan perusahaan hulan tanaman industr. Ketiga, masyarakat yang diperalat

perusahaan untuk mempercepat perolehan lahan perkebunan. Selain tiga kategori

ilu ada juga kegialian manusta yang menimbulkan kebakaran hutan seperti,

perkemahan, pembuatan areal pengembalaan hewan ternak dengan cara

membaka, perouruan satwa lnar yang menggunakah apl, Karena para pemburu

menganggap newan yang mereka buru takut dengan api, dan membakar dengan

Sengaja

d. Perambahan hutan

Perambahan hutan adalah pemanfaatan kawasan hutan secara illegal oleh

masyarakat untuk digunakan SeDagal 1ahan usana pertanian dan pemukiman.

Perambahan hutan timbul karena sistem pengusahaan hutan yang belum berasas

kelestarian sehingga terbentuklah lahan yang terbuka. Hal ini diikuti dengan,

ekonomi dimana masyarakat menganggap bahwa dengan mengambil hasil hutan

atau merambah merupakan altenatif yang terbaik untuk memenuhi

kebutuhannya. Pada umunya perambahan hutan dilakukan oleh penduduk karena

jumlah penduduk yang semakin bertambah namun jumlah lahan tetap sehingga

banyak penduduk yang tidak memilki lahan (Soestrisno, 1995).

e. Hak Penguasaan Hutan (HPH)

Hak Pengusahaan Hutan (HPH) adalah izin yang dikeluarkan oleh

pemerintah untuk kegiatan tebang pilih di hutan alam selama periode tertentu

pada umumnya 20 tahun, dan diperbaharui untuk satu periode selanjutnya, pada

umumnya 20 tahun lagi. Pemberiaan izin HPH ini memberikan kontribursi positif

dalam hal penerimaan Negara, namun demikian disisi lain izin HPH juga

meninggalkan suatu permasalahan baru yaitu kenusakan hutan. Persyaratan dan

ketentuan-ketentuan yang mengatur pengusahaan hutan tidak dilaksanakan


sehingga kayu hutan dibabat habis. Kerusakan hutan terkait dengan pengusahaan

hutan ini antara lain dapat disebabkan karena kurangnya pengawasan, mentalitas

dan integritas pengawas yang buruk, pengusaha kurang bertanggung jawab, dan

sikap pengusaha tidak peduli dengan lingkungan