Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Karies gigi merupakan masalah yang paling sering terjadi pada

masyarakat Indonesia, bukan hanya orang dewasa tetapi juga pada anak-

anak. Khususnya pada anak prasekolah, pemeliharaan kesehatan gigi

mereka masih bergantung pada orangtua. Orang tua harus mengetahui

bagaimana cara merawat gigi dan juga harus membimbing anaknya cara

menyikat gigi yang baik dan benar. Walaupun masih memiliki gigi susu,

anak harus mendapatkan perhatian yang serius dari orangtuanya karena gigi

susu akan mempengaruhi pertumbuhan gigi permanen anak. Akan tetapi

banyak orang tua yang beranggapan bahwa gigi susu hanya sementara dan

akan digantikan dengan gigi permanen sehingga para orangtua sering

menganggap bahwa kerusakan pada gigi susu yang disebabkan oleh oral

hygiene yang buruk bukan merupakan suatu masalah (Rahayu, 2013).

Hasil penelitian Widyanto (2014) menunjukkan bahwa peran orang

tua mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap karies gigi pada anak

prasekolah, dalam penelitian ini menunjukkan bahwa sebagian besar anak

mengalami karies dentis yang disebabkan karena peran orang tua yang

kurang, untuk mencegah terjadinya karies maka peran orang tua sangat

dibutuhkan.
Berdasarkan Survey World Health Organization (WHO) tahun 2016

menyatakan angka kejadian karies pada anak masih sebesar 60-90%.

Menurut hasil penelitian di negara-negara Eropa, Amerika dan Asia

termasuk Indonesia, ternyata bahwa 90-100% anak di bawah 18 tahun

terserang karies gigi. Sedangkan menurut data dari PDGI (Persatuan Dokter

Gigi Indonesia) menyebutkan bahwa sedikitnya 89% penderita karies adalah

anak-anak. Berdasarkan hasil karakteristik survey kesehatan, prevalensi

keries gigi pada balita usia 3-5 tahun sebesar 81,7%. Prevalensi karies gigi

menurut kelompok usianya, usia 3 tahun (60%), usia 4 tahun (85%) dan usia

5 tahun (86,4%), dengan demikian golongan umur balita merupakan

golongan rawan terjadinya karies gigi.

Ditemukan pula sebagian besar penduduk Indonesia menyikat gigi

pada saat mandi pagi maupun mandi sore (76,6%), namun yang sangat

menyedihkan adalah cara menyikat gigi secara benar yaitu setelah makan

pagi dan sebelum tidur malam untuk penduduk Indonesia ditemukan hanya

2,3% (Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian

Kesehatan Republik Indonesia, 2015).

Pada anak usia prasekolah sering kali mengabaikan kesehatannya,

terutama kesehatan gigi. Kerusakan pada gigi seperti karies gigi dapat

mempengaruhi kesehatan anggota tubuh lainnya, bahkan jika gigi anak sakit

kemungkinan nafsu makan anak akan menurun, hal tersebut perlu

diperhatikan sejak dini oleh orang tua. Sebagai panutan, kontroler, serta

motivator, orang tua memiliki peran yang penting untuk kesehatan gigi anak,
jika tidak diperhatikan maka kesehatan gigi anak akan berkembang menjadi

suatu masalah yang dapat mengganggu masa depan anak (Purwanto, 2015).

Peranan orangtua hendaknya ditingkatkan dalam membiasakan

menyikat gigi anak secara teratur guna menghindarkan kerusakan gigi anak.

Kegiatan membersihkan gigi dilakukan sebelum anak tidur malam dan

setelah makan pagi maupun siang. Anak belajar menyikat gigi dibantu

ibunya dari belakang menggunakan sikat gigi anak. Anak diajari berkumur

dengan cara mencontoh ibunya berkumur dengan menggunakan air matang.

Menyikat gigi 3 kali sehari sesudah makan pagi, sesudah makan siang dan

sebelum tidur malam hari. Sesudah makan biasakan berkumur dengan air

putih dan orangtua membiasakan anak agar tidak mengkonsumsi makanan

yang mengandung bahan pemanis, pewarna, dan pengawet yang dapat

memicu terjadinya karies gigi (Sariningsih, 2012).

Studi pendahuluan yang dilakukan November 2018 di TK Proasih

Desa Bringin Kecamatan Wajak dengan jumlah sampel 10 anak, 3 anak

(30%) memiliki gigi sehat, 3 anak (30%) memiliki gigi berlubang, 2 anak

(20%) memiliki tumpatan gigi, 2 anak (20%) memiliki karies gigi yang

tidak dapat ditambal lagi, dan berdasarkan wawancara terhadap 10 orang tua

anak diperoleh hasil bahwa orang tua yang mengajari anaknya menyikat

gigi sebanyak 7 orang, 3 orang tua tidak mengajari anaknya menyikat gigi,

orang tua yang mengawasi anaknya menyikat gigi sebanyak 3 orang, 7

lainnya mengatakan hanya mengingatkan saja, orang tua yang membawa

anaknya ke dokter gigi untuk memeriksakan gigi anaknya sebanyak 4 orang,

6 lainnya mengatakan membawa anaknya ke dokter gigi jika anaknya


mengeluh sakit gigi. Selanjutnya berdasarkan 7 orang orang tua siswa yang

menderita karies gigi tersebut, ternyata mayoritas tidak menggosok gigi

secara baik sesuai petunjuk kesehatan, yaitu hanya menggosok gigi saat

mandi pagi dan sore hari tetapi jarang menggosok gigi sebelum tidur malam

dan sesudah makan pagi, dan tidak menyikat lidah.

Dengan mengetahui masalah di atas maka peneliti merasa tertarik

dan berminat mengadakan penelitian tentang Hubungan Peran Orangtua

dalam Kebiasaan Menggosok Gigi dengan Kejadian Karies Gigi. Upaya

pemeliharaan kesehatan gigi serta pembinaan menyikat gigi yang benar,

terutama pada anak perlu mendapat perhatian khusus, karena pada usia ini

anak sedang menjalani proses tumbuh kembang sehingga perlu

diperkenalkan pendidikan kesehatan tentang memelihara dan menyikat gigi

dengan benar dan juga tentang karies gigi (Ghofur, 2012).

1.2 RUMUSAN MASALAH

Apakah ada hubungan antara peran orang tua dalam kebiasaan

menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak prasekolah di TK

Proasih Desa Bringin Kecamatan Wajak.

1.3 TUJUAN

1.3.1 Tujuan Umum

Untuk mengetahui ada hubungan peran orang tua dalam

kebiasaan menggosok gigi dengan kejadian karies gigi pada anak

prasekolah di TK Proasih Desa Bringin Kecamatan Wajak.


1.3.2 Tujuan Khusus

1. Untuk mengidentifiasi tentang peran orang tua dalam kebiasaan

menggosok gigi dengan kejadian karies gigi di TK Proasih Desa

Bringin Kecamatan Wajak.

2. Untuk mengetahui tingkat kejadian karies gigi anak di TK

Proasih Desa Bringin Kecamatan Wajak.

3. Untuk menganalisis hubungan peran orang tua dalam kebiasaan

menggosok gigi dengan kejadian karies gigi anak di TK Proasih

Desa Bringin Kecamatan Wajak

1.4 MANFAAT PENELITIAN

1.4.1 Bagi Institusi atau Yayasan

Diharapkan adanya penelitian ini dapat memberikan masukan

kepada jajaran pegawai institusi atau yayasan untuk memantau atau

memberikan penerapan dalam menjaga kebersihan gigi.

1.4.2 Bagi Responden

Diharapkan adanya penelitian ini bisa memberikan pengetahuan

dan acuan kepada responden tentang penyebab-penyebab karies serta

bagaimana cara penanggulangannya.

1.4.3 Bagi Peneliti

Diharapkan dilakukan penelitian ini dapat memperluas

pengetahuan, pengalaman baru, dan dapat menerapkan teori yang

dipelajari.
1.4.4 Bagi Peneliti Selanjutnya

Hasil penelitian dapat digunakan sebagai bahan informasi dan

pedoman bagi peneliti lain yang akan mengembangkan topik yang

berkaitan dengan kesehatan gigi anak.

1.5 BATASAN PENELITIAN

Batasan penelitian yang dilakukan, peneliti hanya membahas

tentang hubungan peran orang tua dalam kebiasaan menggosok gigi dengan

kejadian karies gigi pada anak prasekolah di TK Proasih Desa Bringin

Kecamatan Wajak.