Anda di halaman 1dari 102

Program-Program Kesehatan dan Kebijakan dalam Menanggulangi

Masalah Kesehatan Utama di Indonesia

Disusun guna memenuhi tugas mata kuliah


Keperawatan Komunitas I

Dosen Pengampu: Ns. Nourmayansa Vidya Anggraini S.Kep., M. Kep., Sp. Kep. Kom.

Disusun Oleh:

Latifah Khusnul K. 1710711056


Feny Ditya H. 1710711110
Erina Nurbaiti. 1710711120
Christin Natalia. 1710711126
Sonya Lapitacara S. 1710711129
Indah Fitri Amelia. 1710711140
Regita Cahyani Z. 1710711147

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS ILMU-ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN”
JAKARTA
2019
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kesehatan jasmani dan rohani
sehingga kita masih tetap bisa menikmati indahnya alam ciptaan-Nya. Shalawat dan salam semoga
senantiasa tercurahkan kepada teladan kita Nabi Muhammad SAW yang telah menunjukkan
kepada kita jalan yang lurus berupa ajaran agama yang sempurna dan menjadi rahmat bagi seluruh
alam.

Kami sangat bersyukur karena telah menyelesaikan makalah yang menjadi salah satu tugas
mata kuliah Keperawatan Komunitas 1 dengan judul Program-Program Kesehatan dan Kebijakan
dalam Menanggulangi Masalah Kesehatan Utama di Indonesia. Disamping itu, kami sebagai
penyusun mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu hingga
terselesaikannya makalah ini.

Akhir kata, kami memahami jika naskah ini tentu jauh dari kesempurnaan maka dari itu
kritik dan saran sangat kami butuhkan guna memperbaiki karya-karya kami di waktu yang akan
datang.

Depok, November 2019


A. Konsep Pembangunan Kesehatan di Indonesia

Pembangunan kesehatan nasional diarahkan untuk meningkatkan kesadaran, kemauan dan


kemampuan hidup sehat bagi setiap orang agar peningkatan derajat kesehatan masyarakat yang
setinggi-tingginya dapat terwujud. Pembangunan kesehatan pada periode 2015-2019 adalah
Program Indonesia Sehat dengan sasaran meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi
masyarakat melalui upaya kesehatan dan pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan
perlindungan finansial dan pemeratan pelayanan kesehatan. Program Indonesia Sehat
merupakan salah satu program dari Agenda ke-5 Nawa Cita, yaitu Meningkatkan Kualitas
Hidup Manusia Indonesia. Program ini didukung oleh program sektoral lainnya yaitu Program
Indonesia Pintar, Program Indonesia Kerja, dan Program Indonesia Sejahtera.

a. Sasaran pokoknya sebagai berikut:

1) Meningkatnya status kesehatan dan gizi ibu dan anak;


2) Meningkatnya pengendalian penyakit;
3) Meningkatnya akses dan mutu pelayanan kesehatan dasar dan rujukan terutama di
daerah terpencil, tertinggal dan perbatasan;
4) Meningkatnya cakupan pelayanan kesehatan universal melalui Kartu Indonesia
Sehat dan kualitas pengelolaan SJSN Kesehatan;
5) Terpenuhinya kebutuhan tenaga kesehatan, obat dan vaksin;
6) Meningkatkan responsivitas sistem kesehatan.

b. Program Indonesia Sehat dilaksanakan dengan menegakkan tiga pilar utama, yaitu:
1) Penerapan paradigma sehat,
2) Penguatan pelayanan kesehatan,
3) Pelaksanaan jaminan kesehatan nasional (jkn).
Penerapan paradigma sehat dilakukan dengan strategi pengarusutamaan kesehatan dalam
pembangunan, penguatan upaya promotif dan preventif, serta pemberdayaan masyarakat.
Penguatan pelayanan kesehatan dilakukan dengan strategi peningkatan akses pelayanan
kesehatan, optimalisasi sistem rujukan, dan peningkatan mutu menggunakan pendekatan
continuum of care (sebuah konsep pelayanan kesehatan yang mencakup semua tingkat dan
intensitas perawatan dengan sistem yang melibatkan, memandu, dan memantau pasien dari
waktu ke waktu secara komprehensif) dan intervensi berbasis risiko kesehatan. Sedangkan
pelaksanaan JKN dilakukan dengan strategi perluasan sasaran dan manfaat (benefit), serta
kendali mutu dan biaya dengan sistem pembiayaan: asuransi – azas gotong royong.
1. Paradigma Sehat
No. Sasaran Bentuk perubahan yang Dampak
diharapkan
1. Penentu Pemangku Kepentingan 1.Menjadikan kesehatan
kebijakan-> memperhatikan dampak sebagai arus utama
lintas sektor kesehatan dari kebijakan pembangunan
yang diambil baik di hulu 2.Meningkatkan peran
maupun di hilir lintas sektor dalam
pembangunan kesehatan
2. Tenaga Terlaksananya paradigma 1. Promotif preventif
kesehatan sehat di setiap lini merupakan aspek utama
pelayanan kes. dan dalam setiap upaya
mengupayakan agar : kesehatan (program
• Orang sehat tetap sehat PHBS, Kesling, Promkes,
dan tidak menjadi sakit KIA, gizi & lainnya)
• Orang sakit menjadi sehat 2. Meningkatnya
• Orang sakit tidak menjadi kemampuan nakes dlm
lebih sakit hal promotif –preventif
3. Institusi Penerapan standar mutu & Peningkatan mutu
kesehatan standar tarif dalam pelayanan kesehatan 2.
pelayanan kepada Berkompetisi lebih “fair”
masyarakat dlm soal mutu & tarif di
dalam memberikan
pelayanan yg terbaik bagi
masyarakat
4. Masyarakat Masyarakat harus merasa 1. Terlaksananya PHBS
bahwa kesehatan adalah di keluarga & masyarakat
harta berharga yang harus 2. Masyarakat aktif sbg
dijaga kader & terlaksananya
Kegiatan pemberdayaan
masyarakat (Posyandu,
Poskesdes, Posbindu,
Desa Siaga dll)
2. Peningkatan pelayanan kesehatan
a. Peningkatan akses
1) Pemenuhan tenaga
2) Peningkatan sarana pelayanan primer
3) Pemenuhan prasarana pendukung
4) Inovasi pelayanan di terpencil & sangat Terpencil
b. Peningkatan mutu
1) Penyediaan NSPK/SOP
2) Peningkatan kemampuan nakes
3) Program Dokter Layanan Primer
4) Program Akreditasi FKTP
c. Regionalisasi rujukan
1) Sistem Rujukan Regional dan Provinsi
2) Sistem Rujukan Nasional
d. Penguatan dinkes kab/kota, provinsi
1) Sosialisasi
2) Advokasi
3) Capacity Building
e. Dukungan lintas sektor
1) Dukungan Regulasi
2) Dukungan Infrastruktur (transportasi, listrik, air, ko munikasi)
3) Dukungan pendanaan

3. Jaminan Kesehatan Nasional (JKN)


Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) merupakan bagian dari Sistem Jaminan Sosial
Nasional (SJSN) yang diselenggarakan dengan menggunakan mekanisme asuransi
kesehatan sosial yang bersifat wajib (mandatory) berdasarkan Undang-Undang Nomor
40 Tahun 2004 tentang SJSN dengan tujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar
kesehatan masyarakat yang layak yang diberikan kepada setiap orang yang telah
membayar iuran atau iurannya dibayar oleh Pemerintah.
Salah satu jaminan kesehatan nasional adalah dengan adanya kartu indonesia
sehat(KIS).

B. Sistem Pelayanan Kesehatan Dan Kebijakan Era Otonomi


1. Konsep Dasar Sistem Pelayanan Kesehatan
Sistem layanan kesehatan dalam artian luas merupakan totalitas layanan yang
diberikan oleh semua disiplin kesehatan. Sistem layanan kesehatan bertujuan memberikan
perawatan bagi mereka yang sakit dan cedera (Kozier. 2010). Pembangunan kesehatan
yang telah dilaksanakan di Indonesia masih menghadapi berbagai masalah yang belum
sepenuhnya dapat diatasi sehingga diperlukan pemantapan dan percepatan melalui Sistem
Kesehatan Nasional (SKN) sebagai pengelola kesehatan (Perpres 72, 2012). Pengelolaan
kesehatan diselenggarakan oleh semua komponen bangsa Indonesia secara terpadu dan
saling mendukung sehingga tercapai derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya
(Kozier. 2010).
Sistem pelayanan kesehatan adalah kumpulan dari berbagai faktor yang komplek dan
saling berhubungan yang terdapat dalam suatu negara, yang diperlukan untuk memenuhi
kebutuhan dan tuntutan kesehatan perorangan, kelompok, masyarakat pada setiap saat yang
dibutuhkan (WHO 1984). Sistem kesehatan nasional perlu dilaksanakan dalam konteks
pembangunan kesehatan secara keseluruhan dengan mempertimbangkan determinan sosial,
seperti kondisi kehidupan sehari-hari, tingkat pendidikan, pendapatan keluarga, distribusi
kewenangan, keamanan, sumberdaya, kesadaran masyarakat, serta kemampuan tenaga
kesehatan dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.
Setiap upaya yang diselenggarakan sendiri atau secara bersama dalam suatu
organisasi untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan, mencegah dan
menyembuhkan penyakit serta memulihkan kesehatan perseorangan, keluarga, kelompok
dan masyarakat (levey dan loomba 1973). System pelayanan medic contohnya seperti
rumah sakit. Sementara puskesmas mencangkup system pelayanan kesehatan masyarakat
dan system pelayanan medic. Teori tentang sistem:
1) Input, merupakan subsistem yang akan memberikan segala masukan untuk
berfungsinya sebuah sistem.seperti sistem pelayanan kesehatan.
2) Proses, suatu kegiatan yang berfungsi untuk mengubah sebuah masukan untuk
menjadikan sebuah hasil yang di harapkan dari sebuah sistem tersebut,maka yang
dimaksud proses adalah berbagai kegiatan dalam pelayanan kesehatan
3) Output, hasil yang diperoleh dari sebuah proses,dalam sistem pelayanan
kesehatanhasilnya dengan berupa pelayanan kesehatan yang berkualitas,efektif dan
efisien sehingga dapat dijangkau oleh setiap lapisan masyarakatsehingga pasien
sembuh dan sehat optimal.
4) Dampak, merupakan akibat yang dihasilkan sebuah hasil dari sebuah sistem,yang
terjadi relatif lama waktunya.
5) Umpan balik, merupakan sebuah hasil yang sekaligus menjadi masukan dan ini
terjadi dari sebuah sistem yang saling berhubungan dan saling mempengaruhi umpan
balik dalam sistem pelayanan kesehatan dapat berupa kualitas tenaga kesehatan yang
juga dapat menjadikan input yang selalu meningkat.
6) Lingkungan, semua keadaan di luar sistem tetapi dapat mempengaruhi pelayanan
kesehatan sebagaimana dalam sistem pelayanan kesehatan,berupa lingkungan
geografis,atau situasi kondisi sosial yang ada di masyarakat seperti institusi di luar
pelayanan kesehatan.

2. Lingkup Sistem Pelayanan Kesehatan


Terdapat 3 bentuk pelayanan kesehatan :
1) Primary health care (pelayanan kesehatan tingkat pertama), Dilaksanakan pada
masyarakat yang memiliki masalah kesehatan yang ringan.Sifat pelayanan kesehatan :
pelayanan kesehatan dasar. Contoh : puskesmas, balai kesehatan.
2) Secondary health care(pelayanan tingkat ke dua), untuk klien yang membutuhkan
perawatan rawat inap tapi tidak dilaksanakan di pelayanan kesehatan pertama,rumah
sakit yang tersedia tenaga specialis.
3) Tertiary health care (pelayanan kesehatan tingkat ke tiga), tingkat pelayanan
tertinggi,membutuhkan tenaga ahli atau subspecialis.

3. Syarat Pokok Pelayanan


Syarat pokok pelayanan kesehatan:
a. Tersedia dan berkesinambungan, artinya tidak sulit ditemukan serta keberadaannya
dalam masyarakat adlah pada setiap saat yang dibutuhkan.
b. Dapat diterima dan bersifat wajar, artinya tidak bertentangan dengan keyakinan
masyarakat.
c. Mudah dicapai
d. Mudah dijangkau
e. Bermutu

4. Jenis Pelayanan Kesehatan


Menurut pendapat Hodgetts dan Cascio (1983) ada 2 jenis pelayanan kesehatan :
1) Pelayanan kesehatan masyarakat
Pelayanan kesehatan masyarakat ditandai dengan cara pengorganisasian yang ummnya
secara bersama-sama dalam suatu organisasi, tujuan utamanya adalah untuk
memelihara da meningkatkan kesehatan serta mencegah penyakit serta sasaran nya
terutama untuk kelompok dan masyarakat.
2) Pelayanan kedokteran
Pelayanan kedokteran ditandai dengan cara pengorganisasian yang dapat bersifat
sendiri atau secara bersama-sama dalam suatu organisasi, tujuan utamanya untuk
menyembuhkan penyakit dan memulihkan kesehatan, serta sasarannya terutama untuk
perseorangan dan keluarga.

1. Kebijakan Pelayanan Kesehatan

Menurut Depkes RI (2009), kebijakan kesehatan merupakan pedoman yang


menjadi acuan bagi semua pelaku pembangunan kesehatan, baik pemerintah, swasta, dan
masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan kesehatan dengan memperhatikan
kerangka desentralisasi dan otonomi daerah. Pengertian Kebijakan Kesehatan yaitu konsep
dan garis besar rencana suatu pemerintah untuk mengatur atau mengawasi pelaksanaan
pembangunan kesehatan dalam rangka mencapai derajat kesehatan yang optimal pada
seluruh rakyatnya (AKK USU, 2010).
Kebijakan kesehatan merupakan tindakan yang mempunyai efek terhadap
institusi,organisasi pelayanan dan pendanaan dari system pelayanan kesehatan. Kebijakan
palayanan kesehatan meliputi:

1. Public goods
Berupa barang atau jasa yang pedanaanya berasal dari pemerintah, yang
bersumber dari pajak dan kelompok masyarakat. Layanan public goods digunakan
untuk kepentingan bersama dan dimiliki bersama. Keberadaanya memiliki pengaruh
terhadap masyarakat.
2. Privat goods
Berupa barang atau jasa swasta yang pedanaanya berasal dari perseorangan.
Digunakan untuk kepentingan sendiri dan dimiliki perseorangan, tidak bisa dimiliki
sembarangan orang, terdapat persaingan dan eksternalitas rendah.
3. Merit goods
Karakteristik memerlukan biaya tambahan tidak dapat digunakan sembarangan
orang ada persaingan dan eksternalitas tinggi contohnya cuci darah, pelayanan
kehamilan, pelayanan kespro dan pengobatan PMS.
Indonesia termasuk negara berkembang sangat rentan terhadap berbagai macam
penyakit. Hal ini tersebab karena kondisi riil masyarakat Indonesia yang miskin dan
memiliki standart hidup (gizi) rendah. Kemiskinan (gizi buruk) menjadi kandungan
yang siap setiap saat melahirkan penyakit. Karena itu tidak mengejutkan kalau penyakit
–penyakit menyerang masyarakat meningkat jumlahnya setiap tahun seiring
meningkatkan jumlah angka kemiskinan.
2. Program yang Mendukung Kesehatan Masyarakat
1. Kota Layak Anak
Kabupaten/Kota Layak Anak (KLA) adalah sistem pembangunan berbasis
hak anak melalui pengintegrasian komitmen dan sumberdaya pemerintah, masyarakat
dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh menyeluruh dan berkelanjutan
dalam kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak dan
perlindungan anak. Yang bertujuan untuk:
1) Meningkatkan komitmen pemerintah, masyarakat dan dunia usaha di
kabupaten/kota dalam upaya mewujudkan pembangunan yang peduli terhadap
hak, kebutuhan dan kepentingan terbaik bagi anak.
2) Mengintegrasikan potensi sumber daya manusia, keuangan, sarana, prasarana,
metoda dan teknologi yang ada pada pemerintah, masyarakat dan dunia usaha di
kabupaten/kota dalam memenuhi hak-hak anak.
3) Mengimplementasikan kebijakan tumbuh kembang dan perlindungan anak
melalui perumusan strategi dan perencanaan pembangunan kabupaten/kota
secara menyeluruh dan berkelanjutan sesuai dengan indikator KLA; dan
4) Memperkuat peran dan kapasitas pemerintah kabupaten/kota dalam mewujudkan
pembangunan di bidang tumbuh kembang dan perlindungan anak.

2. Bina Keluarga Lansia (BKL)


Adalah satu program kegiatan di Lingkungan Badan Kependudukan dan
Keluarga Berencana Daerah (BKKBD) yang menitikberatkan pada pembinaan lansia
dan keluarga lansia
Batasan usia lansia berbeda-beda sesuai dengan situasi sosial budaya setempat.
Menurut UU No. 13 tahun 1998 lansia di Indonesia ditetapkan pada usia 60 tahun ke
atas. Menurut WHO lansia dibedakan menjadi young old : 60-69 tahun, old : 70-79
tahun ke atas, old old : 80-89 tahun ke atas dan very old 90 tahun ke atas (wasilah
Rohmah, 2000). Dalam konteks ini BKKBN (1955) menggunakan batasan lanjut usia
terdiri dari pra lansia (50-60 tahun) dan lansia (60 tahun ke atas)
Bina Keluarga Lansia adalah kelompok kegiatan yang dilakukan untuk
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keluarga lansia dan keluarga yang
memiliki anggota keluarga berusia di atas 60 tahun ke atas dalam pengembangan,
pengasuhan, perawatan, dan pemberdayaan lansia agar dapat meningkatkan
kesejahteraannya. BKKBN melalui Direktorat Bina Ketahanan Keluarga Lansia dan
rentan membina dan memberdayakan kelompokkelompok kegiatan Bina keluarga
Lansia (BKL) yang ada diseluruh kelurahan/desa yang ada di Indonesia.
Setiap penduduk usia produktif akan menanggung semakin banyak penduduk
lanjut usia. Memperhatikan permasalahan ini, pemerintah telah merumuskan berbagai
kebijakan, program dan kegiatan guna menunjang derajat kesehatan dan mutu
kehidupan para lanjut usia agar mandiri, sehat dan berdaya guna sehingga dapat
mengurangi atau bahkan tidak menjadi beban bagi keluarga maupun masyarakat
(Komisi Nasional Lanjut Usia, 2010).

3. BKR
Adalah wadah kegiatan yang beranggotakan keluarga yang mempunyai remaja
usia 10-24 tahun. Bina keluarga remaja mempunyai tujuan yaitu meningkatkan
pengetahuan dan keterampilan orang tua dan anggota keluarga lainnya dalam
pengasuhan dan pembinaan tumbuh kembang remaja, dalam rangka meningkatkan
kesertaan, pembinaan, dan kemandirian ber KB bagi anggota kelompok (BKKBN
2012, h.24).
Kegiatan BKR bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, kemampuan, dan
keterampilan orang tua dalam membina anak remaja agar dapatbmencapai kedewasaan
baik secara fisik, mental sosial dan ekonomi agar lebih siap mandiri. Bentuk kegiatan
adalah penyuluhan kelompok yang dilakukan oleh kader kepada orang tua yang
mempunyai anak usia sekolah dan remaja (Mardiya, 2009).

4. BPJS
a) Definisi BPJS
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial atau BPJS merupakan lembaga yang
dibentuk untuk menyelenggarakan program jaminan sosial di Indonesia menurut
Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 dan Undang-undang Nomor 24 Tahun
2011. Sesuai Undang-undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan
Sosial Nasional, BPJS merupakan badan hukum nirlaba.
Berdasarkan Undang-undang Nomor 24 Tahun 2011, BPJS akan
menggantikan sejumlah lembaga jaminan sosial yang ada di Indonesia yaitu
lembaga asuransi jaminan kesehatan PT. Askes Indonesia menjadi BPJS
Kesehatan dan lembaga jaminan sosial ketenaga kerjaan PT. Jamsostek menjadi
BPJS Ketenagakerjaan. Transformasi PT Askes dan PT Jamsostek menjadi BPJS
dilakukan secara bertahap. Pada awal 2014, PT Askes akan menjadi BPJS
Kesehatan, selanjutnya pada 2015 giliran PT Jamsostek menjadi BPJS
Ketenagakerjaan.
Lembaga ini bertanggung jawab terhadap Presiden. BPJS berkantor pusat
di Jakarta, dan bisa memiliki kantor perwakilan di tingkat provinsi serta kantor
cabang di tingkat kabupaten kota.

b) Dasar Hukum
1. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 40 Tahun 2004 Tentang Sistem
Jaminan Sosial Kesehatan;
2. Undang- Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2011 Tentang Badan
Penyelenggara Jaminan Sosial;
3. Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 101 Tahun 2012 Tentang
Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan;
4. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2013 Tentang
Jaminan Kesehatan.

c) Kepesertaan Wajib
Setiap warga negara Indonesia dan warga asing yang sudah berdiam di
Indonesia selama minimal enam bulan wajib menjadi anggota BPJS. Ini sesuai
pasal 14 UU BPJS.
Setiap perusahaan wajib mendaftarkan pekerjanya sebagai anggota BPJS.
Sedangkan orang atau keluarga yang tidak bekerja pada perusahaan wajib
mendaftarkan diri dan anggota keluarganya pada BPJS. Setiap peserta BPJS akan
ditarik iuran yang besarnya ditentukan kemudian. Sedangkan bagi warga miskin,
iuran BPJS ditanggung pemerintah melalui program Bantuan Iuran.
Menjadi peserta BPJS tidak hanya wajib bagi pekerja di sektor formal,
namun juga pekerja informal. Pekerja informal juga wajib menjadi anggota BPJS
Kesehatan. Para pekerja wajib mendaftarkan dirinya dan membayar iuran sesuai
dengan tingkatan manfaat yang diinginkan.
Jaminan kesehatan secara universal diharapkan bisa dimulai secara
bertahap pada 2014 dan pada 2019, diharapkan seluruh warga Indonesia sudah
memiliki jaminan kesehatan tersebut. Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi
menyatakan BPJS Kesehatan akan diupayakan untuk menanggung segala jenis
penyakit namun dengan melakukan upaya efisiensi.

d) Hak Dan Kewajiban Peserta Bpjs Kesehatan


Hak Peserta :
1. Mendapatkan kartu peserta sebagai bukti sah untuk memperoleh pelayanan
kesehatan;
2. Memperoleh manfaat dan informasi tentang hak dan kewajiban serta prosedur
pelayanan kesehatan sesuai dengan ketentuan yang berlaku;
3. Mendapatkan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan yang bekerjasama
dengan BPJS Kesehatan; dan
4. Menyampaikan keluhan/pengaduan, kritik dan saran secara lisan atau tertulis
ke Kantor BPJS Kesehatan.

Kewajiban Peserta :
1. Mendaftarkan dirinya sebagai peserta serta membayar iuran yang besarannya
sesuai dengan ketentuan yang berlaku ;
2. Melaporkan perubahan data peserta, baik karena pernikahan, perceraian,
kematian, kelahiran, pindah alamat atau pindah fasilitas kesehatan tingkat I;
3. Menjaga Kartu Peserta agar tidak rusak, hilang atau dimanfaatkan oleh orang
yang tidak berhak.
4. Mentaati semua ketentuan dan tata cara pelayanan kesehatan.

e) Fungsi BPJS
UU BPJS menetukan bahwa BPJS Kesehatan berfungsi menyelenggarakan
program jaminan kesehatan. Jaminan Kesehatan menurut UU SJSN
diselenggarakan secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial dan prinsip
ekuitas, dengan tujuan menjamin agar peserta memperoleh manfaat pemeliharaan
kesehatan dan perlindungan dalam memenuhi kebutuhan dasar kesehatan.
BPJS Ketenagakerjaan menurut UU BPJS berfungsi menyelenggarakan 4
program, yaitu program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan
pensiun, dan jaminan kematian.
Menurut UU SJSN program jaminan kecelakaan kerja diselenggarakan
secara nasional berdasarkan prinsip asuransi sosial, dengan tujuan menjamin agar
peserta memperoleh manfaat pelayanan kesehatan dan santunan uang tunai apabila
seorang pekerja mengalami kecelakaan kerja atau menderita penyakit akibat kerja.
Selanjutnya program jaminan hari tua diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, dengan tujuan untuk
menjamin agar peserta menerima uang tunai apabila memasuki masa pensiun,
mengalami cacat total tetap, atau meninggal dunia.
Kemudian program jaminan pensiun diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial atau tabungan wajib, untuk mempertahankan
derajat kehidupan yang layak pada saat peserta kehilangan atau berkurang
penghasilannya karena memasuki usia pensiun atau mengalami cacat total tetap.
Jaminan pensiun ini diselenggarakan berdasarkan manfaat pasti.
Sedangkan program jaminan kematian diselenggarakan secara nasional
berdasarkan prinsip asuransi sosial dengan tujuan untuk memberikan santuan
kematian yang dibayarkan kepada ahli waris peserta yang meninggal dunia.

f) Tugas BPJS
Dalam melaksanakan fungsi sebagaimana tersebut diatas BPJS bertugas
untuk:
1. Melakukan dan/atau menerima pendaftaran peserta;
2. Memungut dan mengumpulkan iuran dari peserta dan pemberi kerja;
3. Menerima bantuan iuran dari Pemerintah;
4. Mengelola Dana Jaminan Sosial untuk kepentingan peserta;
5. Mengumpulkan dan mengelola data peserta program jaminan sosial;
6. Membayarkan manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan sesuai dengan
ketentuan program jaminan sosial; dan
7. Memberikan informasi mengenai penyelenggaraan program jaminan sosial
kepada peserta dan masyarakat.

Dengan kata lain tugas BPJS meliputi pendaftaran kepesertaan dan


pengelolaan data kepesertaan, pemungutan, pengumpulan iuran termasuk menerima
bantuan iuran dari Pemerintah, pengelolaan Dana jaminan Sosial, pembayaran
manfaat dan/atau membiayai pelayanan kesehatan dan tugas penyampaian
informasi dalam rangka sosialisasi program jaminan sosial dan keterbukaan
informasi.

Tugas pendaftaran kepesertaan dapat dilakukan secara pasif dalam arti


menerima pendaftaran atau secara aktif dalam arti mendaftarkan peserta.

g) Wewenang BPJS
Dalam melaksanakan tugasnya sebagaimana diamksud di atas BPJS
berwenang:
1. Menagih pembayaran Iuran;
2. Menempatkan Dana Jaminan Sosial untuk investasi jangka pendek dan jangka
panjang dengan mempertimbangkan aspek likuiditas, solvabilitas, kehati-
hatian, keamanan dana, dan hasil yang memadai;
3. Melakukan pengawasan dan pemeriksaan atas kepatuhan peserta dan pemberi
kerja dalam memanuhi kewajibannya sesuai dengan ketentuan peraturan
perundang-undangan jaminan sosial nasional;
4. Membuat kesepakatan dengan fasilitas kesehatan mengenai besar pembayaran
fasilitas kesehatan yang mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh
Pemerintah;
5. Membuat atau menghentikan kontrak kerja dengan fasilitas kesehatan;
6. Mengenakan sanksi administratif kepada peserta atau pemberi kerja yang
tidak memenuhi kewajibannya;
7. Melaporkan pemberi kerja kepada instansi yang berwenang mengenai
ketidakpatuhannya dalam membayar iuran atau dalam memenuhi kewajiban
lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan; dan
8. Melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam rangka penyelenggaraan
program jaminan sosial.
Kewenangan menagih pembayaran Iuran dalam arti meminta pembayaran
dalam hal terjadi penunggakan, kemacetan, atau kekurangan pembayaran,
kewenangan melakukan pengawasan dan kewenangan mengenakan sanksi
administratif yang diberikan kepada BPJS memperkuat kedudukan BPJS sebagai
badan hukum publik.

h) Pertanggung Jawaban BPJS


BPJS Kesehatan wajib membayar Fasilitas Kesehatan atas pelayanan yang
diberikan kepada Peserta paling lambat 15 (lima belas) hari sejak dokumen klaim
diterima lengkap. Besaran pembayaran kepada Fasilitas Kesehatan ditentukan
berdasarkan kesepakatan antara BPJS Kesehatan dan asosiasi Fasilitas Kesehatan di
wilayah tersebut dengan mengacu pada standar tarif yang ditetapkan oleh Menteri
Kesehatan. Dalam hal tidak ada kesepakatan atas besaran pembayaran, Menteri
Kesehatan memutuskan besaran pembayaran atas program JKN yang diberikan.
Asosiasi Fasilitas Kesehatan ditetapkan oleh Menteri Kesehatan.
Dalam JKN, peserta dapat meminta manfaat tambahan berupa manfaat yang
bersifat non medis berupa akomodasi. Misalnya: Peserta yang menginginkan kelas
perawatan yang lebih tinggi daripada haknya, dapat meningkatkan haknya dengan
mengikuti asuransi kesehatan tambahan, atau membayar sendiri selisih antara biaya
yang dijamin oleh BPJS Kesehatan dan biaya yang harus dibayar akibat
peningkatan kelas perawatan, yang disebut dengan iur biaya (additional charge).
Ketentuan tersebut tidak berlaku bagi peserta PBI.
Sebagai bentuk pertanggungjawaban atas pelaksanaan tugasnya, BPJS
Kesehatan wajib menyampaikan pertanggungjawaban dalam bentuk laporan
pengelolaan program dan laporan keuangan tahunan (periode 1 Januari sampai
dengan 31 Desember). Laporan yang telah diaudit oleh akuntan publik dikirimkan
kepada Presiden dengan tembusan kepada DJSN paling lambat tanggal 30 Juni
tahun berikutnya. Laporan tersebut dipublikasikan dalam bentuk ringkasan
eksekutif melalui media massa elektronik dan melalui paling sedikit 2 (dua) media
massa cetak yang memiliki peredaran luas secara nasional, paling lambat tanggal
31 Juli tahun berikutnya.

i) Pelayanan Kesehatan Yang Dijamin


1. Pelayanan kesehatan tingkat pertama yaitu pelayanan kesehatan non-
spesifikasi:
a. Administrasi pelayanan
b. Pelayanan promitif dan preventif
c. Pemeriksaan, pengobatan dan konsultasi medis
d. Tindakan medis non-spesialistik baik operatif manupun non-operatif
e. Transfusi darah
f. Pemeriksaan penunjang diagnostik laboratorium tingkat pertama, dan
g. Rawat inap tingkat pertama sesuai indikasi

2. Pelayanan kesehatan rujukan tingkat lanjut yaitu pelayanan kesehatan yang


mencakup:
Program jaminan pemelihara kesehatan memberikan manfaat paripurna
meliputi seluruh kebutuhan medis yang diselenggarakan di setiap jenjang
Program Pelayanan Kesehatan dengan rincian cakupan pelayanan sebagai
berikut:
a. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama adalah pelayanan kesehatan
yang dilakukan oleh dokter umum atau dokter gigi di Puskesmas,
Klinik, Balai Pengobatan atau Dokter praktek solo
b. Pelayanan Rawat Jalan tingkat II (lanjutan) adalah pemeriksaan dan
pengobatan yang dilakukan oleh dokter spesialis atas dasar rujukan dari
dokter PPK I sesuai dengan indikasi medis
c. Pelayanan Rawat Inap di Rumah Sakit adalah pelayanan kesehatan yang
diberikan kepada peserta yang memerlukan perawatan di ruang rawat
inap Rumah Sakit
d. Pelayanan Persalinan adalah pertolongan persalinan yang diberikan
kepada tenaga kerja wanita berkeluarga atau istri tenaga kerja peserta
program jaminan pemelihara kesehatan maksimum sampai dengan
persalinan ke 3 (tiga).
e. Pelayanan Khusus adalah pelayanan rehabilitasi, atau manfaat yang
diberikan untuk mengembalikan fungsi tubuh
f. Emergensi merupakan suatu keadaan dimana peserta membutuhkan
pertolongan segera, yang bila tidak dilakukan dapat membahayakan
jiwa.

j) Pelayanan Kesehatan Yang Tidak Dijamin


1. Pelayanan kesehatan yang dilakukan tanpa melalui prosedur sebagaimana
diatur dalam peraturan yang berlaku.
2. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di fasilitas kesehatan yang tidak
bekerjasama dengan BPJS Kesehatan (kecuali untu kasus gawat darurat).
3. Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan
kerja terhadap penyakit atau cedera akibat kecelakaan kerja atau hubungan
kerja.
4. Pelayanan kesehatan yang telah dijamin oleh program jaminan kecelakaan
lalu lintas.
5. Pelayanan kesehatan yang dilakukan di luar negeri.
6. Pelayanan kesehatan untuk tujuan kosmetik dan/atau kosmetik.
7. Pelayanan untuk mengatasi infertilitas (memperoleh keturunan).
8. Pelayanan ortodonsi (meratakan gigi).
9. Gangguan kesehatan akibat ketergantungan obat terlarang dan/atau alkohol.
10. Gangguan kesehatan akibat sengaja menyakiti diri sendiri atau akibat
melakukan hobi yang berbahaya.
11. Pengobatan komplementer, alternatif dan tradisional.
12. Pengobatan dan tindakan medis yang dikategorikan sebagai eksperimentasi.
13. Alat kontrasepsi, kosmetik, makanan bayi dan susu.
14. Perbekalan kesehatan rumah tangga.
15. Pelayanan kesehatan akibat bencana dan wabah.

k) Manfaat BPJS
Manfaat BPJS dari segi Promosi dan Preventif akan memberikan pelayanan
yang meliputi:
1. Penyuluhan kesehatan perorangan
Penyuluhan kesehatan perorangan meliputi paling sedikit penyuluhan
mengenai pengelolahan faktor resiko penyakit dan PHBS.
2. Imunisasi dasar
Melayani imunisasi dasar meliputi:
a. Vaksin Baccile Calmett Guerin (BCG)
b. Vaksin Difteri Pertusis Tetanus (DPT)
c. Vaksin Hepatitis-B
d. Vaksin Polio, dan
e. Vaksin Campak

3. Keluarga Berencana (KB)


Pelayanan KB yang dijamin meliputi konseling, kontrasepsi dasar,
vasektomi dan tubektomi dimana BPJS akan bekerjasama dengan lembaga terkait.

4. Skrining kesehatan
Pelayanan skrining kesehatan diberikan secara selektif yang ditujukan
untuk mendeteksi resiko penyakit dan mencegah dampak lanjutan dari resiko
penyakit tertentu.

5. KTR ( Kawasan Tanpa Rokok )


 Pengertian Kawasan Tanpa Rokok (KTR)
Kawasan Tanpa Rokok, yang selanjutnya disingkat KTR adalah ruangan atau area
yang dinyatakan dilarang untuk kegiatan merokok atau kegiatan memproduksi,
menjual, mengiklankan, dan/ atau mempromosikan produk tembakau (Kemenkes
RI, 2011).
 Ruang Lingkup KTR
Adapun ruang lingkup Kawasan Tanpa Rokok menurut Kemenkes RI
(2011), yaitu :
1) Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Fasilitas pelayanan kesehatan adalah suatu alat dan/ atau tempat yang
digunakan untuk menyelenggarakan upaya pelayanan kesehatan, baik
promotif, preventif, kuratif maupun rehabilitatif yang dilakukan oleh
pemerintah, pemerintah daerah, dan/ atau masyarakat.
2) Tempat Proses Belajar Mengajar
Tempat proses belajar Mengajar adalah gedung yang digunakan untuk
kegiatan belajar, mengajar, pendidikan dan/ atau pelatihan.
3) Tempat Anak Bermain
Tempat anak bermain adalah area tertutup maupun terbuka yang
digunakan untuk kegiatan bermain anak-anak.
4) Tempat Ibadah
Tempat ibadah adalah bangunan atau ruang tertutup yang memiliki ciri-
ciri tertentu yang khusus dipergunakan untuk beribadah bagi para pemeluk
masing- masing agama secara permanen, tidak termasuk tempat ibadah
keluarga.
5) Angkutan Umum
Angkutan umum adalah alat angkutan bagi masyarakat yang dapat
berupa kendaraan darat, air, dan udara biasanya dengan kompensasi.
6) Tempat Kerja
Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka,
bergerak atau tetap dimana tenaga kerja bekerja, atau yang dimasuki tenaga
kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber-
sumber bahaya.
7) Tempat Umum
Tempat umum adalah semua tempat tertutup yang dapat diakses oleh
masyarakat umum dan/ atau tempat yang dapat dimanfaatkan bersama-sama
untuk kegiatan masyarakat yang dikelola oleh pemerintah, swasta, dan
masyarakat.
8) Tempat Lainnya yang Ditetapkan
Tempat lainnya yang ditetapkan adalah tempat terbuka yang dapat
dimanfaatkan bersama-sama untuk kegiatan masyarakat.
Pemimpin atau penanggung jawab tempat-tempat sebagaimana yang
telah ditetapkan wajib menetapkan dan menerapkan KTR. Fasilitas pelayanan
kesehatan, tempat proses belajar mengajar, tempat anak bermain, tempat
ibadah dan angkutan umum merupakan ruang lingkup KTR yang dilarang
menyediakan tempat khusus untuk merokok dan merupakan KTR yang bebas
dari asap hingga batas terluar

 Tujuan KTR
Tujuan penetapan kawasan dilarang merokok, adalah :
1. Mewujudkan kualitas udara yang sehat dan bersih bebas dari asap rokok;
2. Merubah perilaku masyarakat untuk hidup sehat;
3. Menurunkan angka perokok dan mencegah perokok pemula;
4. Mewujudkan generasi muda yang sehat;
5. Meningkatkan produktivitas kerja yang optimal;
6. Menurunkan angka kesakitan dan/ atau angka kematian;
7. Melindungi anak-anak dan bukan perokok dari risiko terhadap kesehatan;
8. Mencegah rasa tidak nyaman, bau dan kotoran dari ruang rokok;

Pengaturan pelaksanaan KTR bertujuan untuk:


1. Memberikan acuan bagi pemerintah daerah dalam menetapkan KTR;
2. Memberikan pelindungan yang efektif dari bahaya asap rokok;
3. Memberikan ruang dan lingkungan yang bersih dan sehat bagi masyarakat;
dan
4. Melindungi kesehatan masyarakat secara umum dari dampak buruk merokok
baik langsung maupun tidak langsung (Kemenkes RI, 2011).

 Kebijakan KTR
Suatu kebijakan dapat terbentuk dengan adanya dorongan atau dukungan dari
pihak yang membutuhkan suatu kebijakan tersebut guna untuk mengatasi masalah
yang terjadi di lingkungan sosialnya. Kebijakan merupakan salah satu cara yang
efektif untuk mengatasi suatu masalah yang sedang terjadi. Dengan adanya
dukunganyang kuat, berarti pihak tersebut sangat membutuhkan suatu kebijakan itu
untuk mengatasi masalah dalam lingkungan sosialnya.
Kebijakan Kawasan Tanpa Rokok merupakan cara yang efektif untuk
mengendalikan tembakau atau lebih khusus lagi untuk mengurangi kebiasaan
merokok. Landasan hukum penerapan kawasan tanpa rokok di Indonesia cukup
banyak seperti dinyatakan Kemenkes RI (2009), yaitu :
1. Undang-Undang (UU) No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan.
2. UU No. 23 Tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup
3. UU No. 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen
4. UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak
5. UU No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran
6. PP RI No. 19 Tahun 2003 tentang Pengamanan Rokok bagi Kesehatan
7. PP RI No. 109 Tahun 2012 tentang Pengamanan Bahan yang Mengandung Zat
Adiktif berupa Produk Tembakau bagi Kesehatan
8. Instruksi Menteri Kesehatan No. 84/MENKES/Inst/II/2002 tentang Kawasan
Tanpa Rokok di Tempat Kerja dan Sarana Kesehatan
9. Instruksi Menteri Kesehatan RI No. 459/MENKES/INS/VI/1999 tentang
Kawasan Bebas Rokok pada Sarana Kesehatan
10. Keputusan Bersama Menteri Kesehatan dan Menteri Dalam Negeri RI No.
188/MENKES/PB/I/2011 tentang pedoman pelaksanaan kawasan tanpa rokok
11. Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 35 Tahun 2012 tentang Kawasan
Tanpa Rokok pada Perkantoran di Lingkungan Pemerintahan Provinsi Sumatera
Utara
12. Peraturan Daerah Kota Medan No. 3 Tahun 2014 tentang Kawasan Tanpa
Rokok

C. Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Pemukiman Lingkungan


1. Pengertian dan Jenis Penyakit Menular
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya,
yang berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada
pejamu (host) yang rentan. Penyakit menular (Communicable Desease) adalah penyakit
yang disebabkan oleh adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan atau
penularan penyakit dari orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan yang
rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara
(vector) atau lingkungan hidup. Penyakit-penyakit menular dikelompokkan menjadi
beberapa kelompok yaitu:
a. Penyakit menular potensial mewabah
1) Diare
2) Demam berdarah dengue
3) Malaria
b. Penyakit menular endemik tinggi
1) Tuberkulosis paru
2) Lepra (Morbus Hansen)
3) Anjing gila (Rabies)
4) Antraks
c. Penyakit menular penting lain
1) Penyakit menular seksual
I. Sifilis (Raja Singa)
II. Gonorhoe (kencing nanah)
III. HIV/ AIDS
2) Penyakit menular lain
I. Hepatitis-B
II. Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
2. Cara Penularan Penyakit Menular
a. Penularan Langsung
Mekanisme ini menularkan bibit penyakit langsung dari sumbernya kepada
orang lain. Hal ini bisa melalui kontak langsung seperti melalui sentuhan, gigitan,
hubungan seksual, percikan yang mengenai conjunctiva, selaput lendir dari mata,
hidung atau mulut pada waktu orang lain bersin, batuk, meludah, bernyanyi atau
bercakap (biasanya pada jarak yang kurang dari 1 meter)
b. Penularan Tidak Langsung
1) Penularan melalui alat – alat yang terkontaminasi seperti mainan anak-anak,
saputangan, kain kotor, tempat tidur, alat masak atau alat makan, instrumen
bedah, air, makanan, susu, produk biologis seperti darah, serum, plasma,
jaringan organ tubuh, atau segala sesuatu yang berperan sebagai perantara
dimana bibit penyakit di “angkut” dibawa kepada orang/binatang yang rentan
dan masuk melalui “Port d’entre” yang sesuai. Bibit penyakit tersebut bisa
saja berkembang biak atau tidak pada alat tersebut sebelum ditularkan kepada
orang/binatang yang rentan. Ini lebih dikenal dengan food and water borne
disease.
2) Penularan Melalui Vektor. Cara ini meliputi hal-hal yang sederhana seperti
terbawanya bibit penyakit pada saat serangga merayap ditanah baik terbawa
pada kakinya atau pada belalainya, begitu pula bibit penyakit terbawa dalam
saluran pencernaan serangga.
3) Program Pemberantasan Penyakit Menular
Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk menurunkan angka
kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular. Penyakit
menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah: malaria, demam berdarah dengue,
tuberkulosis paru, HIV/ AIDS, diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi,termasuk penyakit karantina dan risiko
masalah kesehatan masyarakat yang memperoleh perhatian dunia internasional (public
health risk of international concern). Adapun Kebijakan Pelaksanaannya yaitu:
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong peran,
membangun komitmen, dan menjadi bagian integral pembangunan kesehatan dalam
mewujudkan manusia Indonesia yang sehat dan produktif terutama bagi masyarakat
rentan dan miskin hingga ke desa.
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui penatalaksanaan
kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat,
serta pengendalian faktor risiko baik di perkotaan dan di perdesaan.
c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mengembangkan dan
memperkuat jejaring surveilans epidemiologi dengan fokus pemantauan wilayah
setempat dan kewaspadaan dini, guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit
antar daerah maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mengembangkan sentra
rujukan penyakit, sentra pelatihan penanggulangan penyakit, sentra regional untuk
kesiapsiagaan penanggulangan KLB/ wabah.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk memantapkan jejaring lintas
program, lintas sektor, serta kemitraan dengan masyarakat termasuk swasta untuk
percepatan program pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui
pertukaran informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan pemanfaatan
sumberdaya lainnya.
f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan melalui
penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum penyelenggaraan program
pencegahan dan pemberantasan penyakit di tingkat pusat hingga desa.
g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan
profesionalisme sumberdaya manusia di bidang pencegahan dan pemberantasan
penyakit sehingga mampu menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat
secara berjenjang hingga ke desa.
h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk meningkatkan cakupan,
jangkauan, dan pemerataan pelayanan penatalaksanaan kasus penyakit secara
berkualitas hingga ke desa.

Adapun langkah-langkah pemberantasan penyakit menular yaitu :


a. Mengumpulkan dan menganalisa data tentang penyakit.
b. Melaporkan penyakit menular.
c. Menyelidiki di lapangan untuk mengetahui benar atau tidaknya laporan yang masuk
untuk menemukan kasus-kasus lagi dan untuk mengetahui sumber penularan.
d. Menyembuhkan penderita hingga ia tidak lagi menjadi sumber infeksi.
e. Pemberantasan vektor (pembawa penyakit)
f. Pendidikan kesehatan.

Cara-cara pencegahan penyakit menular secara umum, yaitu :


a. Mempertinggi nilai kesehatan, ditempuh dengan cara usaha kesehatan (hygiene)
perorangan dan usaha kesehatan lingkungan (sanitasi).
b. Memberi vaksinasi/imunisasi, merupakan usaha untuk pengebalan tubuh. Ada dua
macam, yaitu Pengebalan aktif, yaitu dengan cara memasukkan vaksin ( bibit
penyakit yang telah dilemahkan), sehingga tubuh akan dipaksa membuat antibodi.
Contohnya pemberian vaksin BCG, DPT, campak, dan hepatitis.
c. Pengebalan pasif, yaitu memasukkan serum yang mengandung antibodi. Contohnya
pemberian ATS (Anti Tetanus Serum).
d. Pemeriksaan kesehatan berkala, merupakan upaya mencegah munculnya atau
menyebarnya suatu penyakit, sehingga munculnya wabah dapat dideteksi sedini
mungkin. Dengan cara ini juga, masyarakat bisa mendapatkan pengarahan rutin
tentang perawatan kesehatan, penanganan suatu penyakit, usaha mempertinggi nilai
kesehatan, dan mendapat vaksinasi.

3. Penyehatan Lingkungan
Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup
yang lebih sehat melalui pengembangan system kesehatan kewilayahan untuk
menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan.
1. Penyediaan Sarana Air Bersih dan Sanitasi Dasar
2. Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan
3. Pengendalian dampak risiko pencemaran lingkungan

Pencapaian tujuan penyehatan lingkungan merupakan akumulasi berbagai


pelaksanaan kegiatan dari berbagai lintas sektor, peran swasta dan masyarakat dimana
pengelolaan kesehatan lingkungan merupakan penanganan yang paling kompleks, kegiatan
tersebut sangat berkaitan antara satu dengan yang lainnya yaitu dari hulu berbagai lintas
sector ikut serta berperan baik kebijakan dan pembangunan fisik serta Departemen
Kesehatan sendiri terfokus kepada hilirnya yaitu pengelolaan dampak kesehatan.

4. Penyehatan pemukiman lingkungan


Sebagai gambaran pencapaian tujuan program lingkungan sehat disajikan dalam per
kegiatan pokok melalui indikator yang telah disepakati serta beberapa kegiatan yang
dilaksanakan sebagai berikut:
1) Penyediaan Air Bersih dan Sanitasi
Adanya perubahan paradigma dalam pembangunan sektor air minum dan
penyehatan lingkungan dalam penggunaan prasarana dan sarana yang dibangun,
melalui kebijakan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan yang ditandatangani
oleh Bappenas, Departemen Kesehatan, Departemen Dalam Negeri serta
Departemen Pekerjaan Umum sangat cukup signifikan terhadap penyelenggaraan
kegiatan penyediaan air bersih dan sanitasi khususnya di daerah. Strategi
pelaksanaan yang diantaranya meliputi penerapan pendekatan tanggap kebutuhan,
peningkatan sumber daya manusia, kampanye kesadaran masyarakat, upaya
peningkatan penyehatan lingkungan, pengembangan kelembagaan dan penguatan
sistem monitoring serta evaluasi pada semua tingkatan proses pelaksanaan menjadi
acuan pola pendekatan kegiatan penyediaan Air Bersih dan Sanitasi.

2) Pemeliharaan dan Pengawasan Kualitas Lingkungan


a. Pengawasan Institusi Pendidikan
Kondisi kesehatan lingkungan pada sekolah dititik beratkan pada aspek
hygiene, sarana sanitasi di sekolah yang erat kaitannya dengan kondisi fisik
bangunan sekolah. Kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan kesehatan
lingkungan di sekolah adalah
a) Pengendalian faktor risiko lingkungan di sekolah
b) Pembinaan kesehatan lingkungan di sekolah dan Pondok Pesantren
c) Sosialisasi dan advokasi Kepmenkes 1429/2006 tentang pedoman
Penyelenggaraan Kesehatan Lingkungan di Sekolah
d) Penilaian lomba sekolah sehat

b. Rumah Sehat
Pada tahun 2006, cakupan rumah sehat mencapai 69%. Kegiatan yang
dilakukan: menyusun persyaratan kualitas udara di dalam rumah serta
menyusun petunjuk pelaksanaan monitoring kualitas udara di dalam rumah.
Untuk menciptakan rumah sehat maka diperlukan perhatian terhadap
beberapa aspek yang sangat berpengaruh, antara lain:
a) Sirkulasi udara yang baik.
b) Penerangan yang cukup.
c) Air bersih terpenuhi.
d) Pembuangan air limbah diatur dengan baik agar tidak menimbulkan
pencemaran.
e) Bagian-bagian ruang seperti lantai dan dinding tidak lembab serta tidak
terpengaruh pencemaran seperti bau, rembesan air kotor maupun udara
kotor.
c. Pengawasan Tempat-tempat Umum
Pengawasan tempat-tempat umum perlu dilakukan karena tempat
berkumpulnya manusia, yang bisa menjadi sumber penularan berbagai
penyakit. Aspek yang dinilai antara lain :
a) Kondisi bangunan meliputi langit-langit, dinding, lantai, ventilasi,
pencahayaan, dll
b) Sarana sanitasi meliputi sarana air bersih, sarana pembuangan kotoran,
sarana pembuagan air limbah, dan sarana pembuangan sampah.
3) Pengendalian Dampak Risiko Pencemaran Lingkungan
Faktor risiko lingkungan dan perilaku masyarakat merupakan satu kesatuan
yang memiliki hubungan timbal balik yang berpengaruh terhadap gangguan
kesehatan masyarakat dan kesehatan lingkungan. fokus pelaksanaan yang perlu
dilakukan baik melalui fasilitasi kepada para pengelola program, advokasi dan
sosialisasi kepada para pengambil keputasan daerah adalah sebagai berikut:
a. AMDAL / ADKL
Kajian aspek kesehatan masyarakat perlu dikaji secara cermat dan
mendalam, dengan metode pendekatan analisis dampak kesehatan lingkungan
(ADKL) dan metode epidemiologi. Metode analisis dampak kesehatan
lingkungan (ADKL) ini dapat dipergunakan untuk identifikasi dampak
potensial dari suatu hubungan antara parameter lingkungan, media lingkungan,
penduduk yang terpajan dan dampaknya terhadap kesehatan.
b. Pengendalian Pencemaran Udara
Saat ini penurunan kualitas udara terutama di kota-kota besar telah menjadi
masalah yang membutuhkan penanganan serius mengingat sudah pada tingkat
yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara
terjadi karena emisi yang masuk ke udara melebihi daya dukung lingkungan.
Lingkungan tidak mampu menetralisir pencemaran yang terjadi.
Kota-kota besar maupun pusat-pusat pertumbuhan industri adalah yang
paling utama merasakan dampak penurunan kualitas udara. Salah satu upaya
Pemerintah mengatasi meningkatnya pencemaran udara dari sumber bergerak
adalah menghapus bensin bertimbal (Pb) sejak Juli 2006. Harapannya
konsentrasi Pb di udara ambien akan turun.
5. Kesimpulan
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agent infeksi atau toksinnya,
yang berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang ditularkan/ ditansmisikan kepada
pejamu (host) yang rentan. Penyakit menular (Communicable Desease) adalah penyakit
yang disebabkan oleh adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan atau
penularan penyakit dari orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan yang
rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung melalui perantara
(vector) atau lingkungan hidup.
Program pemberantasan penyakit menular bertujuan untuk menurunkan angka
kesakitan, kematian, dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.Penyakit
menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah: malaria, demam berdarah dengue,
tuberkulosis paru, HIV/ AIDS, diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-
penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), termasuk penyakit karantina dan
risiko masalah kesehatan masyarakat yang memperoleh perhatian dunia internasional
(public health risk of international concern).
Program Lingkungan Sehat bertujuan untuk mewujudkan mutu lingkungan hidup
yang lebih sehat melalui pengembangan system kesehatan kewilayahan untuk
menggerakkan pembangunan lintas sektor berwawasan kesehatan.

D. Program Pembinaan Kesehatan Komunitas


1. Latar Belakang Program Pembinaan Kesehatan Komunitas

Sesuai dengan dengan amanat dari Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 yang
mengatur tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional, Kementerian Kesehatan
telah menyusun Rencana Strategis Kementerian Kesehatan Tahun 2015-2019 yang
ditetapkan dalam Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.02.02/MENKES/52/2015.
Menindaklanjuti hal tersebut, maka Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat menyusun
Rencana Aksi sebagai dasar atau acuan untuk unit sakter direktorat di lingkup Direktorat
Jenderal Kesehatan Masyarakat dalam melakukan kegiatan.

Rencana Aksi Program Direktorat Jenderal Kesehatan Masyarakat merupakan


dokumen perencanaan kegiatan aksi dan unggulan yang memuat Program Kesehatan
Masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat.

Rencana Aksi ini telah menyesuaikan dengan perubahan struktur organisasi


Kementerian Kesehatan yang ditetapkan berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor
64 Tahun 2015 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.

2. Maksud Dan Tujuan Program Pembinaan Kesehatan Komunitas


a. Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat ini dimaksudkan sebagai acuan
bagi penanggung jawab program lingkup Direktorat Jenderal Kesehatan
Masyarakat dalam pelaksanaan kegiatan.
b. Tujuan dari pelaksanaan Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2015-2019
yaitu mendukung dan selaras dengan arah tujuan dari Kementerian Kesehatan
dalam “Meningkatkan Status Kesehatan Masyarakat”. Upaya peningkatan
status kesehatan masyarakat dilakukan pada semua siklus kehidupan (life of
cycle) dan upaya kesehatan yang berkelanjutan (continuum of care) yaitu pada
kelompok sasaran bayi, balita, anak sekolah, remaja, kelompok usia kerja,
maternal dan lansia.
3. Dasar Hukum
a. Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara (Lembaga
Negara Republik Indonesia Tahun 2003 Nomor 47, Tambahan Lembaga Negara
Republik Indonesia Nomor 4297);
b. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan
Nasional (Lembaga Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 104,
Tambahan Lembaga Negara Republik Indonesia Nomor 4421);
c. Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan (Lembaran Negara
Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 144, Tambahan Lembaran Negara
Republik Indonesia Nomor 5063);
d. Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka
Menengah Nasional Tahun 2010 – 2014
e. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 374/MENKES /SK/ V/2009 tentang Sistem
Kesehatan Nasional;
f. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 375/MENKES /SK/ V/2009 tentang Rencana
Pembangunan Jangka Panjang Bidang Kesehatan Tahun 2005-2025
g. Keputusan Menteri Kesehatan No. HK.02.02/MENKES/52/2015 tentang Rencana
Strategis Kementerian Kesehatan 2015-2019;
h. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 64 Tahun 2015 tentang Organisasi dan Tata
Kerja Kementerian Kesehatan.

4. Kondisi Umum

Arah kebijakan dan strategi pembangunan kesehatan nasional Tahun 2015-2019


merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari Rencana Pembangunan Jangka Panjang
Bidang Kesehatan (RPJPK) Periode 2005-2025. Sasaran pembangunan kesehatan yang
akan dicapai adalah meningkatnya derajat kesehatan masyarakat yang ditunjukkan dengan
meningkatnya umur harapan hidup, menurunnya angka kematian ibu, kematian bayi dan
kematian balita, serta menurunnya prevalensi gizi kurang pada Balita.

Dalam dokumen RPJMN Tahun 2015-2019, sasaran yang ingin dicapai adalah
mneningkatkan derajat kesehatan dan status gizi masyarakat melalui upaya kesehatan dan
pemberdayaan masyarakat yang didukung perlindungan finansial dan pemerataan
pelayanan kesehatan.

Secara internasional, keberhasilan dalam pembangunan dapat diukur dengan suatu


indeks, yaitu Indeks Pembangunan Manusia (IPM). IPM merupakan ukuran agregat yang
dipengaruhi oleh faktor tingkat ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Kualitas SDM
Indonesia saat ini masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hal ini ditunjukkan oleh
posisi IPM Indonesia yang berada pada urutan ke-108 dari 187 negara. Posisi IPM negara
ASEAN lainnya lebih baik dibanding Indonesia, seperti Malaysia ada di urutan 56, Filipina
77, Thailand 67 dan Singapura 22.

Rasio tingkat kematian ibu menurut wilayah Tahun 2014 berdasarkan hasil SUPAS
2015 menunjukkan bahwa di Wilayah Indonesia Bagian Timur memiliki Maternal
Mortality Ratio (MMR) lebih tinggi (MMR rasio apabila dibandingkan dengan wilayah
lain, dimana jumlah kelahiran tertinggi masih terpusat di Wilayah Indonesia Bagian Barat
(Jawa-Bali) dengan rasio 1.20. Dilihat berdasarkan karakteristik penolong persalinan
menurut wilayah dari hasil SUPAS 2015, di regional Sulawesi masih ditemukan tenaga
dukun dan penolong lainnya di luar tenaga medis yang membantu proses persalinan. Selain
itu, untuk persentase kematian ibu menurut tempat meninggal yang paling dominan terjadi
adalah di tempat fasilitas kesehatan sebesar 70%.

Merujuk berdasarkan pemetaan pendistribusian sebaran stunting pada balita di


Indonesia dari hasil Riskesdas 2013 menunjukkan bahwa di Provinsi Sulawesi Selatan
termasuk ke dalam daerah dengan kategori cakupan balita pendek (stunting) yang tinggi (>
40%) dibandingkan dengan provinsi lainnya. Fenomena stunting yang terjadi sekarang
telah mengalami pergeseran posisi dari wilayah perkotaan ke pedesaan.

Tantangan yang dihadapi dalam pelaksanaan pembangunan kesehatan adalah


tingkat pendidikan perempuan usia produktif (15-49 tahun) yang berdasarkan hasil
SUPAS, 2015 menyatakan bahwa di regional Sulawesi masih terdapat perempuan usia
produktif yang hanya menamatkan pendidikan sampai dengan tingkat SMP atau
dibawahnya. Hal ini menjadi permasalahan yang cukup serius, tingkat perkawinan di usia
20 tahun ke bawah masih dominan terjadi di kalangan masyarakat. Hal ini berdampak pada
munculnya berbagai faktor resiko di dalam kehamilan sampai proses persalinan, yang
diakibatkan oleh salah satu faktor “3T”, yaitu faktor “Terlalu Muda” dalam
mempersiapkan kehamilan.
Faktor lain yang turut mendukung dalam permasalahan kependudukan adalah
persebaran demografi yang kurang merata (lebih banyak yang tinggal di perkotaan) dan
semakin tingginya angka fertilitas yang berdampak pada peningkatan jumlah penduduk
(komposisi penduduk semakin besar). Hal ini secara makro akan menyebabkan timbulnya
kesenjangan penduduk antar wilayah yang akan berakibat padamunculnya kantong-
kantong kemiskinan dimana faktor ketimpangan pendapatan antar daerah semakin jelas
dengan adanya reformasi kebijakan yang berbeda antar daerah.

Pola persebaran Penyakit Tidak Menular (PTM) berdasarkan status sosial ekonomi
dapat terjadi di semua golongan, baik kaya dan miskin. Namun tingkat kecenderungannya
lebih tinggi terjadi pada golongan penduduk miskin. Hal ini menjadi beban Pemerintah
dalam pembiayaan kesehatan yang dari tahun ke tahun semakin bertambah mencapai 16,9
Triliun (29,67%) untuk pendanaan jaminan kesehatan nasional dengan tipe penyakit yang
paling dominan adalah katastropik yang mencapai 29,67% (penyakit jantung 13%, gagal
ginjal kronis 7% dan kanker 5%). Upaya dalam penanggulangan permasalahan tersebut
dibutuhkan adanya pengembangan produktivitas penduduk miskin melalui program
pengentasan kemiskinan nasional. Program ini merupakan kunci perubahan yang
dilaksanakan melalui reformasi birokrasi pemerintah.

Di negara berkembang seperti halnya di Indonesia, konsep paradigma sakit masih


dominan digunakan. Kebijakan pemerintah sebelumnya masih berorientasi pada
penyembuhan pasien, sehingga terlihat jelas peranan dokter, perawat dan bidan sebagai
tenaga medis dan paramedis yang mendominasi. Untuk itu, maka dengan adanya
perubahan paradigma sehat yang diusung melalui upaya promotif dan preventif tersebut
pada akhirnya akan dapat menggeser pola pikir masyarakat dari awalnya yang bersifat
pengobatan menjadi pencegahan.

Berdasarkan uraian dan gambaran kondisi kesehatan di atas, maka Direktorat


Jenderal Kesehatan Masyarakat akan mengambil peran pada Penguatan pelayanan
kesehatan primer dari segi :

a. Meningkatkan pemberdayaan masyarakat

b. Melaksanakan upaya kesehatan masyarakat

c. Melaksanakan upaya kesehatan perorangan dan

d. Memantau dan mendorong pembangunan berwawasan kesehatan.


5. Tujuan dan Strategis Kementrian Kesehatan

Tujuan Kementerian Kesehatan pada tahun 2015-2019, yaitu: 1) meningkatnya


status kesehatan masyarakat dan; 2) meningkatnya daya tanggap (responsiveness) dan
perlindungan masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan.

Peningkatan status kesehatan masyarakat dilakukan pada semua kontinum siklus


kehidupan (life cycle), yaitu bayi, balita, anak usia sekolah, remaja, kelompok usia kerja,
maternal, dan kelompok lansia. Tujuan indikator Kementerian Kesehatan bersifat dampak
(impact atau outcome) dalam peningkatan status kesehatan masyarakat, indikator yang
akan dicapai adalah :

a. Menurunnya angka kematian ibu dari 359 per 100.00 kelahiran hidup (SP 2010),
346 menjadi 306 per 100.000 kelahiran hidup (SDKI 2012).

b. Menurunnya angka kematian bayi dari 32 menjadi 24 per 1.000 kelahiran hidup.

c. Menurunnya persentase BBLR dari 10,2% menjadi 8%.

d. Meningkatnya upaya promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat, serta


pembiayaan kegiatan promotif dan preventif.

e. Meningkatnya upaya peningkatan perilaku hidup bersih dan sehat.

Sedangkan dalam meningkatkan daya tanggap (responsiveness) dan perlindungan


masyarakat terhadap risiko sosial dan finansial di bidang kesehatan, maka ukuran yang
akan dicapai adalah :

a. Menurunnya beban rumah tangga untuk membiayai pelayanan kesehatan


setelah memiliki jaminan kesehatan, dari 37% menjadi 10%

b. Meningkatnya indeks responsiveness terhadap pelayanan kesehatan dari


6,80 menjadi 8,00.

6. Strategis Kementrian Kesehatan

a. Meningkatkan Tata Kelola Pemerintah yang Baik dan Bersih Strategi untuk
meningkatkan tata kelola pemerintah yang baik dan bersih meliputi :
i. Mendorong pengelolaan keuangan yang efektif, efisien, ekonomis dan
ketatatan pada peraturan perundang-undangan.

ii. Meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dengan memperhatikan rasa


keadilan dan kepatutan.

iii. Mewujudkan pengawasan yang bermutu untuk menghasilkan Laporan Hasil


Pengawasan (LHP) sesuai dengan kebutuhan pemangku kepentingan.

iv. Mewujudkan tata kelola manajemen Inspektorat Jenderal yang transparan


dan akuntabel.

b. Meningkatkan Kompetensi dan Kinerja Aparatur Kementerian Kesehatan

Strategi ini akan dilakukan melalui berbagai upaya antara lain :

i. Menyusun standar kompetensi jabatan struktural untuk semua eselon.

ii. Mengembangkan sistem kaderisasi secara terbuka di internal Kementerian


Kesehatan, misalnya dengan lelang jabatan untuk Eselon 1 dan 2.
iii. Membuat forum komunikasi antar stakeholders untuk mengetahui
efektivitas kemitraan baik dengan institusi dalam maupun luar negeri.
c. Meningkatkan Integrasi Perencanaan, Bimbingan Teknis dan Pemantauan
Evaluasi

Strategi ini akan dilakukan melalui berbagai upaya antara lain:

 Penetapan fokus dan lokus pembangunan kesehatan.


 Penyediaan kebijakan teknis integrasi perencanaan dan Monitoring dan
Evaluasi terpadu.

 Peningkatan kompetensi perencana dan pengevaluasi Pusat dan Daerah.

 Pendampingan perencanaan kesehatan di daerah.

 Peningkatan kualitas dan pemanfaatan hasil Monitoring dan Evaluasi


terpadu.
d. Meningkatkan Efektivitas Penelitian dan Pengembangan Kesehatan

Strategi ini akan dilakukan melalui berbagai upaya antara lain:


o Memperluas kerja sama penelitian dalam lingkup nasional dan international yang
melibatkan Kementerian/Lembaga lain, perguruan tinggi dan pemerintah daerah
dengan perjanjian kerja sama yang saling menguntungkan dan percepatan proses
alih teknologi.

o Menguatkan jejaring penelitian dan jejaring laboratorium dalam mendukung upaya


penelitian dan sistem pelayanan kesehatan nasional.

o Aktif membangun aliansi mitra strategic dengan Kementerian/Lembaga Non


Kementerian, Pemda, dunia usaha dan akademisi.

o Meningkatkan diseminasi dan advokasi pemanfaatan hasil penelitian dan


pengembangan untuk kebutuhan program dan kebijakan kesehatan.

o Melaksanakan penelitian dan pengembangan mengacu pada Kebijakan


Kementerian Kesehatan dan Rencana Kebijakan

e. Meningkatkan Sistem Informasi Kesehatan Integrasi Strategi ini akan


dilakukan melalui berbagai upaya antara lain:

o Mengembangkan “real time monitoring” untuk seluruh Indikator

Kinerja Program (IKP) dan Indikator Kinerja Kegiatan (IKK) Kementerian


Kesehatan.

o Meningkatkan kemampuan SDM pengelola informasi di tingkat kab/kota dan


provinsi, sehingga profil kesehatan dapat terbit T+4 bulan, atau dapat terbit setiap
bulan April.

Strategi selanjutnya adalah proses strategis internal Kementerian Kesehatan harus


dikelola secara excellent yakni Meningkatnya Sinergisitas antar K/L, Pusat dan Daerah
(SS6), Meningkatnya Kemitraan Dalam Negeri dan Luar Negeri (SS7), Meningkatnya
Integrasi Perencanaan, Bimbingan Teknis dan Monitoring Evaluasi (SS8), dan
Meningkatnya Efektivitas Penelitian dan pengembangan kesehatan (SS9).

f. Meningkatkan Sinergitas Antar Kementerian/Lembaga


Strategi ini akan dilakukan melalui berbagai upaya antara lain:
 Menyusun rencana aksi nasional program prioritas pembangunan kesehatan.

 Membuat forum komunikasi untuk menjamin sinergi antar


Kementerian/Lembaga (K/L).

g. Meningkatkan Daya Guna Kemitraan (Dalam dan Luar Negeri) Strategi ini
akan dilakukan melalui berbagai upaya antara lain:
 Menyusun roadmap kerja sama dalam dan luar negeri.

 Membuat aturan kerja sama yang mengisi roadmap yang sudah disusun.
Untuk mencapai tujuan Kementerian Kesehatan, terlebih dahulu akan
diwujudkan 5 (lima) sasaran strategis yang saling berkaitan sebagai hasil
pelaksanaan berbagai program teknis secara terintegrasi, yakni: 1).Meningkatnya
Kesehatan Masyarakat (SS1); 2).Meningkatkan Pengendalian Penyakit (SS2);
3).Meningkatnya Akses dan Mutu Fasilitas Kesehatan (SS3); 4).Meningkatnya
Jumlah, Jenis, Kualitas, dan Pemerataan Tenaga Kesehatan (SS4); dan 5)
Meningkatnya Akses, Kemandirian, serta Mutu Sediaan Farmasi dan Alat
Kesehatan (SS5).
h. Meningkatkan Kesehatan Masyarakat
Strategi ini dimaksudkan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat
mencakup pelayanan kesehatan bagi seluruh kelompok usia mengikuti siklus hidup
sejak dari bayi sampai anak, remaja, kelompok usia produktif, maternal, dan
kelompok usia lanjut (Lansia), yang dilakukan antara lain melalui:
a. Melaksanakan penyuluhan kesehatan, advokasi dan menggalang kemitraan
dengan berbagai pelaku pembangunan termasuk pemerintah daerah.

b. Melaksanakan pemberdayaan masyarakat dan meningkatkan peran serta


masyarakat dalam bidang kesehatan.

c. Meningkatkan jumlah dan kemampuan tenaga penyuluh kesehatan


masyarakat/dan tenaga kesehatan lainnya dalam hal promosi kesehatan.

d. Mengembangkan metode dan teknologi promosi kesehatan yang sejalan


dengan perubahan dinamis masyarakat.

i. Meningkatkan Pengendalian Penyakit


Untuk mengendalikan penyakit menular maka strategi yang dilakukan,
melalui:
a. Perluasan cakupan akses masyarakat (termasuk skrining cepat bila ada dugaan
potensi meningkatnya kejadian penyakit menular seperti Mass Blood Survey
untuk malaria) dalam memperoleh pelayanan kesehatan terkait penyakit
menular terutama di daerah-daerah yang berada di perbatasan, kepulauan dan
terpencil untuk menjamin upaya memutus mata rantai penularan.
b. Untuk meningkatkan mutu penyelenggaraan penanggulangan penyakit
menular, dibutuhkan strategi innovative dengan memberikan otoritas pada
petugas kesehatan masyarakat (Public Health Officers), terutama hak akses
pengamatan faktor risiko, penyakit dan penentuan langkah
penanggulangannya.
c. Mendorong keterlibatan masyarakat dalam membantu upaya pengendalian
penyakit melalui community base surveillance berbasis masyarakat untuk
melakukan pengamatan terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan masalah
kesehatan dan melaporkannnya kepada petugas kesehatan agar dapat dilakukan
respon dini sehingga permasalahan kesehatan tidak terjadi.
d. Meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan dalam pengendalian penyakit
menular seperti tenaga epidemiologi, sanitasi dan laboratorium.
e. Peningkatan peran daerah khususnya kabupaten/kota yang menjadi daerah
pintu masuk negara dalam mendukung implementasi pelaksanaan
International Health Regulation (IHR) untuk upaya cegah tangkal terhadap
masuk dan keluarnya penyakit yang berpotensi menimbulkan kedaruratan
kesehatan masyarakat.
f. Menjamin ketersediaan obat dan vaksin serta alat diagnostik cepat untuk
pengendalian penyakit menular secara cepat.
g. Untuk penyakit tidak menular maka perlu melakukan deteksi dini secara pro-
aktif mengunjungi masyarakat karena ¾ penderita tidak tahu kalau dirinya
menderita penyakit tidak menular terutama pada para pekerja. Di samping itu
perlu mendorong kabupaten/kota yang memiliki kebijakan PHBS untuk
menerapkan kawasan bebas asap rokok agar mampu membatasi ruang gerak
para perokok.
h. Meningkatnya kesehatan lingkungan, strateginya adalah:
1) Penyusunan regulasi daerah dalam bentuk peraturan Gubernur,
Walikota/Bupati yang dapat menggerakkan sektor lain di daerah untuk
berperan aktif dalam pelaksanaan kegiatan penyehatan lingkungan seperti
peningkatan ketersediaan sanitasi dan air minum layak serta tatanan
kawasan sehat.
2) Meningkatkan pemanfaatan teknologi tepat guna sesuai dengan
kemampuan dan kondisi permasalahan kesehatan lingkungan di masing-
masing daerah.
3) Meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam wirausaha sanitasi.
4) Penguatan POKJA Air Minum dan Penyehatan Lingkungan (AMPL)
melalui pertemuan jejaring AMPL, Pembagian peran SKPD dalam
mendukung peningkatan akses air minum dan sanitasi.
5) Peningkatan peran Puskesmas dalam pencapaian kecamatan/kabupaten
Stop Buang Air Besar Sembarangan (SBS) minimal satu Puskesmas
memiliki satu Desa SBS.
6) Meningkatkan peran daerah potensial yang melaksanakan strategi
adaptasi dampak kesehatan akibat perubahan iklim.

j. Meningkatkan Akses dan Mutu Fasilitas Pelayanan Kesehatan


Untuk meningkatkan akses dan mutu Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama
(FKTP), maka upaya yang akan dilakukan adalah:

1) Mewujudkan ketepatan alokasi anggaran dalam rangka pemenuhan sarana


prasarana dan alat kesehatan yang sesuai standar.
2) Optimalisasi fungsi FKTP, dimana tiap kecamatan memiliki minimal satu
Puskesmas yang memenuhi standar.
3) Mewujudkan inovasi pelayanan, misalnya dengan flying health care (dengan
sasaran adalah provinsi yang memiliki daerah terpencil dan sangat terpencil
dan kabupaten/kota yang tidak memiliki dokter spesialis), telemedicine, RS
Pratama, dan lain-lain.
4) Mewujudkan dukungan regulasi yaitu melalui penyusunan kebijakan dan
NSPK FKTP.
5) Mewujudkan sistem kolaborasi pendidikan nakes antara lain melalui
penguatan konsep dan kompetensi Dokter Layanan Primer (DLP) serta nakes
strategis.
6) Mewujudkan penguatan mutu advokasi, pembinaan dan pengawasan ke
Pemerintah Daerah dalam rangka penguatan manajemen Puskesmas oleh
Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.
7) Mewujudkan sistem manajemen kinerja FKTP melalui instrumen penilaian
kinerja.
Untuk meningkatkan akses dan mutu fasilitas pelayanan kesehatan rujukan, maka
strategi yang akan dilakukan adalah:
1) Mewujudkan ketepatan alokasi anggaran dalam rangka pemenuhan sarana
prasarana dan alat kesehatan di RS yang sesuai standar.
2) Mewujudkan penerapan sistem manajemen kinerja RS sehingga terjamin
implementasi Patient Safety, standar pelayanan kedokteran dan standar
pelayanan keperawatan.
3) Mewujudkan penguatan mutu advokasi, pembinaan dan pengawasan untuk
percepatan mutu pelayanan kesehatan serta mendorong RSUD menjadi
BLUD.
4) Optimalisasi peran UPT vertikal dalam mengampu Fasyankes daerah.
5) Mewujudkan berbagai layanan unggulan (penanganan kasus tersier) pada
Rumah Sakit rujukan nasional secara terintegrasi dalam academic health
system.
6) Mewujudkan penguatan sistem rujukan dengan mengembangkan sistem
regionalisasi rujukan pada tiap provinsi (satu rumah sakit rujukan regional
untuk beberapa kabupaten/kota) dan sistem rujukan nasional (satu Rumah
Sakit rujukan nasional untuk beberapa provinsi).
7) Mewujudkan kemitraan yang berdaya guna tinggi melalui program sister
hospital, kemitraan dengan pihak swasta, KSO alat medis, dan lain-lain.
8) Mewujudkan sistem kolaborasi pendidikan tenaga kesehatan.

k. Meningkatkan Jumlah, Jenis, Kualitas Dan Pemerataan Tenaga Kesehatan


Strategi yang akan dilakukan berbagai upaya antara lain:

1) Penugasan khusus tenaga kesehatan berbasis tim (Team Based).


2) Peningkatan distribusi tenaga yang terintegrasi, mengikat dan lokal spesifik.
3) Pengembangan insentif baik material dan non material untuk tenaga
kesehatan dan SDM Kesehatan.
4) Peningkatan produksi SDM Kesehatan yang bermutu.
5) Penerapan mekanisme registrasi dan lisensi tenaga dengan uji kompetensi
pada seluruh tenaga kesehatan.
6) Peningkatan mutu pelatihan melalui akreditasi pelatihan.
7) Pengendalian peserta pendidikan dan hasil pendidikan.

l. Meningkatkan Akses, Kemandirian dan Mutu Sediaan Farmasi dan Alat


Kesehatan
Untuk mewujudkan kemandirian bahan baku obat dibutuhkan komitmen
politik yang tinggi. Strategi yang perlu dilakukan dari berbagai upaya antara lain:

1) Regulasi perusahaan farmasi memproduksi bahan baku dan obat tradisional


dan menggunakannya dalam produksi obat dan obat tradisonal dalam negeri,
serta bentuk insentif bagi percepatan kemandirian nasional
2) Regulasi penguatan kelembagaan dan sistem pengawasan pre dan post market
alat kesehatan.
3) Pokja Academy Business Government and Community (ABGC) dalam
pengembangan dan produksi bahan baku obat, obat tradisional dan alat
kesehatan dalam negeri.
4) Regulasi penguatan penggunaan dan pembinaan industri alat kesehatan dalam
negeri.
5) Meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat dan tenaga kesehatan
tentang pentingnya kemandirian bahan baku obat, obat tradisional dan alat
kesehatan dalam negeri yang berkualitas dan terjangkau.
6) Mewujudkan Instalasi Farmasi Nasional sebagai center of excellence
manajemen pengelolaan obat, vaksin dan perbekkes di sektor publik.
7) Memperkuat tata laksana HTA dan pelaksanaannya dalam seleksi obat dan alat
kesehatan untuk program pemerintah maupun manfaat paket JKN.
8) Percepatan tersedianya produk generik bagi obat-obat yang baru habis masa
patennya.
9) Membangun sistem informasi dan jaringan informasi terintegrasi di bidang
kefarmasian dan alat kesehatan.
10) Menjadikan tenaga kefarmasian sebagai tenaga kesehatan strategis, termasuk
menyelenggarakan program PTT untuk mendorong pemerataan distribusinya.
11) Meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian dan penggunaan obat rasional
melalui penguatan manajerial, regulasi, edukasi serta sistem monitoring dan
evaluasi.

7. Kebijakan Program Kesehatan Masyarakat


Di dalam konteks pembangunan Program Indonesia Sehat yang tercantum pada
Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Tahun 2015-2019 yang
diturunkan ke dalam Rencana Strategis (Renstra) Kementerian Kesehatan Tahun 2015-
2019 yang menjadi acuan dalam penyusunan Rencana Aksi Program Kesehatan
Masyarakat, ditekankan perlunya pelaksanaan integratif 3 (tiga) pilar prioritas aspek
pembangunan kesehatan nasional, yang terdiri dari Penerapan Paradigma Sehat, Penguatan
Pelayanan Kesehatan dan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dalam rangka mewujudkan
Keluarga Sehat yang diatur di dalam Permenkes Nomor 39 Tahun 2016. Secara sinergis
dan bersama-sama dengan para pemangku kepentingan publik serta masyarakat sebagai
objek sekaligus subjek pembangunan kesehatan berperan serta dalam mendukung
pelaksanaan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS) yang secara makro kebijakan
telah dipayungi oleh Inpres Nomor 1 Tahun 2017 yang secara inklusif dan terpadu
digunakan sebagai dasar Kabupaten/Kota pada khususnya untuk implementasi Standar
Pelayanan Kesehatan (SPM) Bidang Kesehatan di dalam desentralisasi kesehatan daerah
dengan telah dikeluarkannya Petunjuk Teknis melalui dasar Permenkes 43 Tahun 2016 dan
telah diatur legalitas pelaksanaannya melalui PP No. 2 Tahun 2018.
Mendasari pada 12 indikator Keluarga Sehat di dalam Permenkes Nomor 39 Tahun
2016 yang merupakan salah satu entry point di dalam pembangunan kesehatan melalui unit
terkecil masyarakat yaitu keluarga, sehingga peran daerah untuk dapat meningkatkan
cakupan upaya kesehatan promotif dan preventif sangat potensial. Dengan adanya
kebijakan SPM bidang kesehatan ini sebagai “rambu-rambu” yang mengatur pelayanan
kesehatan di tingkat kabupaten/kota, maka diharapkan dapat terlaksana perwujudan secara
total coverage 100 % di daerah. Dalam rangka menjamin keberlangsungan pelaksanaan
SPM kesehatan dengan meningkatkan cakupan pelayanan, untuk membangun komponen
bangsa yang sehat, maka perlu dilakukan upaya penggerakan bersama untuk berperilaku
sehat melalui GERMAS.
Pendekatan keluarga merupakan cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan
sasaran dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya
dengan mendatangi keluarga. Puskesmas tidak hanya menyelenggarakan pelayanan
kesehatan di dalam gedung, melainkan juga keluar gedung dengan mengunjungi keluarga
di wilayah kerjanya. Keluarga dijadikan fokus dalam pendekatan pelaksanaan program
Indonesia Sehat. Kunjungan rumah (keluarga) dilakukan secara terjadwal dan rutin,
dengan memanfaatkan data dan informasi dari Profil Kesehatan Keluarga (family folder).
Pendekatan keluarga yang dimaksud meliputi :
a. Kunjungan keluarga untuk pendataan/pengumpulan data Profil Kesehatan Keluarga
dan Updating Data
b. Kunjungan keluarga dalam rangka promosi kesehatan sebagai upaya promotif dan
preventif.
c. Kunjungan keluarga untuk menidaklanjuti hasil pelaksanaan kegiatan pelayanan
kesehatan dalam gedung.
d. Pemanfaatan data dan informasi dari Profil Kesehatan Keluarga untuk
pengorganisasian/pemberdayaan masyarakat & manajemen Puskesmas.

Berdasarkan uraian kebijakan strategis Kementerian Kesehatan di atas, maka dapat


dirumuskan kebijakan pokok program kesehatan masyarakat, terdiri dari 3 (tiga) asepek,
yaitu :
a. Penguatan pelayanan kesehatan primer dalam upaya kesehatan masyarakat melalui
pemberdayaan masyarakat;
b. Penerapan pendekatan keberlanjutan pelayanan (continuum of care);
c. Mendorong lintas sektor mewujudkan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat

Upaya strategi yang dilakukan untuk pelaksanaan kebijakan tersebut, ditempuh


melalui kegiatan sebagai berikut :

a. Akselerasi pemenuhan akses pelayanan kesehatan ibu, anak, remaja dan lanjut usia
yang berkualitas;
b. Mempercepat perbaikan gizi masyarakat;
c. Meningkatkan penyehatan lingkungan;
d. Meningkatkan promosi kesehatan dan pemberdayaan masyarakat;
e. Meningkatkan upaya kesehatan kerja dan olahraga; serta
f. Meningkatkan dukungan manajemen dan pelaksanaan tugas teknis lainnya pada
program kesehatan masyarakat.

Pendekatan yang digunakan di dalam menggerakkan strategi pelaksanaan program


kesehatan masyarakat di daerah, melalui mekanisme kegiatan yang HITS (Holistik,
Integratif, Terpadu dan Spasial). Pada tahun 2018 dikembangkan kegiatan yang tidak
hanya HITS, namun diperkuat dengan adanya manajemen program dan administratif yang
dikelola secara efektif, efisien, akuntabel dan tepat sasaran.

8. INDIKATOR KINERJA PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT


A. Indikator Program dan Target
Sasaran kinerja pelaksanaan Program Kesehatan Masyarakat adalah meningkatnya
ketersediaan dan keterjangkauan pelayanan kesehatan yang bermutu bagi seluruh
masyarakat. Indikator yang mendukung pencapaian sasaran sesuai dengan
kesepakatan di dalam dokumen Perjanjian Kinerja Tahun 2017 mencakup :

1. Persentase persalinan di fasyankes sebesar 81%;


2. Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik sebesar 21.2%;
3. Persentase kunjungan neonatal pertama (KN1) sebesar 81%.

B. Penjelasan Indikator
1. Persalinan di fasilitas pelayanan kesehatan
a. Definisi Operasional
Ibu bersalin yang mendapat pertolongan persalinan sesuai standar (proses
pelayanan persalinan diberikan mengikuti pedoman asuhan persalinan normal
dan persalinan dengan penyulit di RS serta pada ibu yang akan bersalin
ditawarkan pelayanan salah satu metode kontrasepsi) yang dilakukan oleh
tenaga kesehatan (dokter atau bidan) di fasilitas pelayanan kesehatan
(fasyankes tingkat primer / Puskesmas serta Jejaringnya (UKBM) dan
fasyankes tingkat sekunder / RS).
b. Formula / Cara Perhitungan
Jumlah ibu bersalin di wilayah kerja Puskesmas yang mendapat pertolongan
persalinan sesuai standar oleh tenaga kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan
dalam kurun waktu 1 tahun dibagi Jumlah sasaran ibu bersalin yang ada di
wilayah kerja Puskesmas dalam kurun waktu 1 tahun yang sama dikali dengan
100 %.

c. Sumber Data

1) Laporan Bulanan Komdat Pusdatin


2) Laporan LB3 Puskesmas
3) PWS KIA
4) Kohort

d. Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.

e. Penanggung Jawab
Pengelola Data di Tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi.

f. Mekanisme Pelaporan
Data diperoleh secara online melalui komdat pusdatin, email dan aplikasi
SIP (Sistem Informasi Puskesmas) sesuai dengan mekanisme data yang
dibentuk.

2. Ibu hamil kurang energi kronik (KEK)

a. Definisi Operasional
Ibu hamil dengan ukuran lingkar lengan atas (LiLA) < 23,5 cm.

b. Formula / Cara Perhitungan


Jumlah ibu hamil KEK dengan LiLA < 23,5 cm dibagi Jumlah ibu hamil
yang diukur LiLA nya yang ada di suatu wilayah pada periode tertentu dikali
dengan 100%.

c. Sumber Data
Laporan Monitoring Puskesmas : SiGizi, Kohort Antenatal Care, Formulir
pencatatan pemberian makanan tambahan ibu hamil kurang energi kronik
(KEK).
d. Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.
e. Penanggung Jawab Petugas
gizi puskesmas
f. Mekanisme Pelaporan
Data diperoleh secara online melalui website SiGizi dan Formulir
pencatatan pemberian makanan tambahan Ibu hamil kurang energi kronik
(KEK).

3. Kunjungan Neonatal Pertama (KN1)


c. Definisi Operasional

Cakupan pelayanan kesehatan bayi baru lahir (umur 6 jam -


48 jam) yang memperoleh pelayanan sesuai standar meliputi :
(1) Pemeriksaan menggunakan pendekatan MTBM (Manajemen Terpadu
Balita Muda), (2) perawatan tali pusat, (3) Konseling ASI dan tanda bahaya
serta (4) pemberian imunisasi HB 0 dan vitamin K1, jika belum diberikan saat
lahir

b. Formula / Cara Perhitungan


Jumlah bayi baru lahir yang telah mendapat 1 kali pelayanan Kunjungan
Neonatal pada umur 6 - 48 jam sesuai standar di satu wilayah kerja pada
kurun waktu tertentu dibagi Jumlah kelahiran hidup di satu wilayah kerja
pada kurun waktu yang sama dikali dengan 100 %.

c. Sumber Data

1. Laporan Bulanan Komdat Pusdatin


2. Laporan LB3 Puskesmas
3. PWS KIA
4. Kohort

d. Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.

e. Penanggung Jawab
Pengelola Data di Tingkat Kabupaten/Kota dan Provinsi.
f. Mekanisme Pelaporan

9. INDIKATOR KINERJA KEGIATAN


A. Kegiatan Gizi Masyarakat

1. Indikator dan Target

Sasaran kegiatan adalah meningkatnya perbaikan gizi masyarakat. Indikator


pencapaian sasaran di tahun 2017 adalah :

a) Persentase ibu hamil Kurang Energi Kronik yang mendapat makanan tambahan
sebesar 65%;

b) Persentase ibu hamil yang mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) sebesar 90%;
c) Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI eksklusif sebesar
44%;

d) Persentase bayi baru lahir mendapat Inisiasi Menyusu Dini (IMD) sebesar 44%;

e) Persentase balita kurus yang mendapat makanan tambahan sebesar 80%; dan

f) Persentase remaja putri yang mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) sebesar 20%.

2. Penjelasan Indikator

b) Ibu hamil KEK yang mendapat makanan tambahan

1) Definisi Operasional
Ibu hamil dengan ukuran lingkar lengan atas (LiLA) < 23,5 cm yang
mendapat makanan tambahan dalam bentuk pabrikan atau bahan pangan
lokal yang diberikan minimal selama 90 Hari Makan Ibu (HMI) secara
berturut-turut.

2) Formula / Cara Perhitungan


Jumlah ibu hamil KEK yang mendapatkan makanan tambahan dibagi Jumlah
ibu hamil KEK yang ada di suatu wilayah pada periode tertentu dikali dengan
100%.

3) Sumber Data
Laporan Monitoring Puskesmas : SiGizi, Kohort ANC, Formulir pencatatan
pemberian makanan tambahan ibu hamil kurang energi kronik (KEK).

4) Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.

5) Penanggung Jawab Petugas Gizi


Puskesmas

6) Mekanisme Pelaporan
Data diperoleh secara online melalui website SiGizi dan Formulir pencatatan
pemberian makanan tambahan Ibu hamil kurang energi kronik (KEK).

c) Ibu hamil yang mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)

1) Definisi Operasional
Ibu hamil yang mendapat Tablet yang mengandung Fe dan asam folat, baik
yang berasal dari Program (Tablet yang mengandung 60 mg elemental besi
dan 0.25 mg asam folat yang disediakan oleh pemerintah dan diberikan secara
gratis pada ibu hamil) maupun Mandiri (Tablet multivitamin dan mineral,
minimal mengandung elemental besi dan asam folat yang diperoleh secara
mandiri sesuai dengan anjuran) yang diberikan minimal 90 tablet selama
masa kehamilan (setiap bulannya mendapat 10 Tablet Tambah Darah).

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah ibu hamil yang mendapat minimal 90 TTD dibagi Jumlah sasaran ibu
hamil yang ada di satu wilayah pada periode tertentu dikali dengan 100%.

3) Sumber Data

Laporan Monitoring Puskesmas : Kartu ibu, Kohort Antenatal Care (Kohort


Ibu), dan Buku KIA.

4) Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.

5) Penanggung Jawab

Petugas Gizi dan Bidan Puskesmas/RS


6) Mekanisme Pelaporan

Formulir monitoring bulanan ibu selama hamil dan jumlah TTD yang diterima
serta formulir pelaporan, mekanisme pelaporan melalui SiGizi.

d) Persentase bayi baru lahir yang mendapat IMD

1) Definisi Operasional

Proses inisiasi dimulai dari bayi baru lahir diletakkan segera setelah lahir
dengan posisi tengkurap di dada atau perut ibu minimal 1 jam sehingga kulit
bayi melekat pada kulit ibu.

2) Formula / Cara Perhitungan


Jumlah bayi baru lahir yang mendapat IMD dibagi Jumlah bayi baru lahir di
suatu wilayah pada periode tertentu dikali dengan 100%.

3) Sumber Data

Buku KIA, Kohort Bayi, Laporan IMD RS, Puskesmas rawat inap, Bidan
Praktik Mandiri, Kohort ibu.

4) Waktu Pelaporan :

Setiap 1 bulan dihitung secara kumulatif setahun.

5) Penanggung Jawab

Petugas Gizi dan Bidan Puskesmas.


6) Mekanisme Pelaporan

Pengiriman pelaporan secara online melalui SiGizi, dan laporan bulanan


kesehatan bayi dengan tingkat frekuensi pengamatan sebulan sekali.

e) Bayi usia kurang dari 6 bulan yang mendapat ASI Eksklusif

1) Definisi Operasional

Bayi yang mencapai umur 5 bulan 29 hari yang mendapat

ASI (Air Susu Ibu) tanpa diberikan makanan lain / pendamping pada bayi
selama 6 bulan dan dicatat melalui register pencatatan/Buku KIA/KMS (Kartu
Menuju Sehat).

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah bayi yang mencapai umur 5 bulan 29 hari mendapat ASI Eksklusif
selama 6 bulan dibagi Jumlah seluruh bayi mencapai umur 5 bulan 29 hari yang
datang dan tercatat dalam register pencatatan/Buku KIA/KMS di suatu wilayah
pada periode tertentu dikali dengan 100%.
3) Sumber Data

Kohort bayi, SiGizi, dan SP2TP/ LB 3.

4) Waktu Pelaporan : Setiap 6 bulan (Februari dan Agustus).

5) Penanggung Jawab

Petugas Gizi dan Bidan Puskesmas

6) Mekanisme Pelaporan

Form ASI Eksklusif diisi setiap bulannya bersamaan dengan penimbangan di


Posyandu dan dikirim ke SiGizi Kab/Kota.

f) Balita kurus yang mendapat makanan tambahan

1) Definisi Operasional

Anak usia 6 sampai dengan 59 bulan 29 hari dengan status gizi kurus
(BB/PB atau BB/TB -3 SD sampai dengan < -2 SD) yang mendapat tambahan
asupan zat gizi di luar makanan utama dalam bentuk makanan tambahan
pabrikan yang diberikan minimal selama 90 hari secara berturut-turut.

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah anak usia 6 sampai dengan 59 bulan 29 hari dengan status gizi kurus
(BB/PB atau BB/TB -3 SD sampai dengan < -2 SD) yang mendapat makanan
tambahan selama 90 hari dibagi Jumlah anak usia 6 sampai dengan 59 bulan 29
hari dengan status gizi kurus pada periode dan wilayah tertentu dikali dengan
100%.

3) Sumber Data

Data hasil laporan pengiriman MP-ASI dari pusat, provinsi ke kabupaten serta
kabupaten ke puskesmas.

4) Waktu Pelaporan : setiap satu bulan sekali.


5) Penanggung Jawab Petugas Gizi
Puskesmas

6) Mekanisme Pelaporan

Data diperoleh secara online melaui SiGizi dengan frekuensi pengamatan


sebulan sekali dengan data yang dikumpulkan :

a. Jumlah seluruh balita kurus yang ada di wilayah tertentu pada bulan ini

b. Jumlah kasus balita kurus yang telah ditemukan dan diberikan makanan

g) Remaja putri yang mendapat Tablet Tambah Darah (TTD)

1) Definisi Operasional

Remaja putri yang berusia 12-18 tahun yang bersekolah di SLTP dan SLTA /
sederajat yang mendapat tablet yang mengandung Fe dan asam folat, baik
yang berasal dari Program (Tablet yang mengandung 60 mg elemental besi
dan 0.25 mg asam folat yang disediakan oleh pemerintah dan diberikan secara
gratis pada remaja putri) maupun Mandiri (Tablet multivitamin dan mineral,
minimal mengandung elemental besi dan asam folat yang diperoleh secara
mandiri sesuai dengan anjuran) minimal 13 tablet setiap bulan (1 tablet
setiap minggu dan 1 tablet setiap hari selama 10 hari masa haid, minimal 4
bulan).

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah remaja putri yang mendapat Tablet Tambah Darah (TTD) minimal 13
butir dalam sebulan dibagi Jumlah remaja putri di suatu wilayah pada periode
tertentu dikali 100%.

3) Sumber Data

Laporan Monitoring Puskesmas : LB3 SP2TP, laporan UKS termasuk laporan


TTD mandiri, dan SiGizi Puskesmas.

4) Waktu Pelaporan : Setiap 6 bulan sekali.


5) Penanggung Jawab Petugas Gizi
Puskesmas

6) Mekanisme Pelaporan

Data diperoleh secara online dengan frekuensi pengamatan sebulan sekali


dengan data yang dikumpulkan :

a. Jumlah remaja putri 12-18 tahun yang bersekolah di SLTP dan SLTA
yang ada di wilayah tertentu; dan

b. Jumlah remaja putri yang mendapat TTD.

Data diperoleh secara online melalui komdat pusdatin, email dan aplikasi SIP
(Sistem Informasi Puskesmas) sesuai dengan mekanisme data yang dibentuk.

Kegiatan Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat

1. Indikator dan Target

Sasaran kegiatan ini adalah meningkatnya pelaksanaan promosi kesehatan dan


pemberdayaan kepada masyarakat. Indikator pencapaian sasaran tersebut di tahun
2017 adalah :

a) Jumlah kebijakan publik yang berwawasan kesehatan,


target sebesar 3 produk aturan

b) Persentase kabupaten/kota yang memiliki kebijakan


PHBS sebesar 60%

c) Persentase desa yang memanfaatkan dana desa 10%


untuk UKBM sebesar 30%

d) Jumlah dunia usaha yang memanfaatkan CSR-nya untuk


program kesehatan sebesar 12 unit

e) Jumlah organisasi kemasyarakatan yang memanfaatkan


sumber dayanya untuk mendukung kesehatan sebesar 9 unit
2. Penjelasan Indikator

a) Kebijakan publik yang berwawasan kesehatan

1) Definisi Operasional

Aturan/Pedoman yang dibuat Pemerintah Pusat/Daerah yang menjadi


dasar dalam pengambilan keputusan, meliputi : kebijakan sektoral K/L,
provinsi dan kab/kota.

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah absolut kebijakan publik berwawasan kesehatan yang ditetapkan pada


satu tahun pelaporan.

3) Sumber Data

Kebijakan lintas sektor di Pusat, kebijakan Pemda provinsi dan kabupaten /


kota.

4) Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.

5) Penanggung Jawab Pengelola


Promkes

6) Mekanisme Pelaporan

a. Pusat : E-monev DJA, E-monev Bappenas, Profil Promosi Kesehatan


Provinsi dan Kabupaten, Laporan Tahunan;

b.Daerah : SP2TP, Profil Promosi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan


Provinsi

b) Kabupaten/kota yang memiliki kebijakan PHBS

1) Definisi Operasional

Aturan/Pedoman yang dibuat oleh Pemerintah Daerah (Kab/Kota) yang


menjadi dasar dalam pengambilan keputusan yang mendukung pelaksanaan
Pola Hidup
Bersih dan Sehat (PHBS), minimal 1 (satu) kebijakan baru per tahun,
dalam bentuk : Peraturan Daerah, Peraturan

Bupati/Walikota, Instruksi Bupati/Walikota, Surat Keputusan Bupati/Walikota,


Surat Edaran / Himbauan Bupati/Walikota pada tahun tersebut.

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah kabupaten/kota yang menetapkan kebijakan yang mendukung PHBS


baru dalam satu tahun pelaporan dibagi Jumlah kabupaten /kota di provinsi
tersebut dikali 100%.

3) Sumber Data

Kebijakan PHBS di kabupaten/kota.

4) Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.

5) Penanggung Jawab Pengelola


Promkes

6) Mekanisme Pelaporan

a. Pusat : E-monev DJA, E-monev Bappenas, Profil Promosi Kesehatan


Provinsi dan Kabupaten, Laporan Tahunan;

b. Daerah : SP2TP, Profil Promosi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan


Provinsi

c) Desa yang memanfaatkan dana desa 10% untuk UKBM


1. Definisi Operasional

Desa difasilitasi oleh Puskesmas (Puskesmas mendampingi untuk melakukan


advokasi ke Kepala Desa, termasuk memberikan bimbingan terhadap
perencanaan dan monev) untuk melaksanakan kegiatan Upaya Kesehatan
Berbasis Masyarakat (UKBM) yang jenisnya mencakup : Posyandu,
Polindes, Pos Obat Desa (POD), Pos UKK, Poskestren, P2M PKMD, Posbindu
Lansia, dst, menggunakan Dana Desa minimal 10% yang ditransfer dalam
mekanisme APBD untuk pembiayaan kegiatan manajemen program dan
dukungan administrasi UKBM.

2. Formula / Cara Perhitungan

Jumlah desa yang memanfaatkan dana desa 10% untuk UKBM dibagi Jumlah
desa yang difasilitasi oleh Puskesmas dikali dengan 100%.

3. Sumber Data

a. Laporan Kegiatan Puskesmas

b. Laporan Dinkes Kabupaten/Kota

4. Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.

5. Penanggung Jawab

Pengelola Promkes

6. Mekanisme Pelaporan

Data yang sampai ke Pusat diperoleh secara online melalui komdat pusdatin dan
email data profil promosi kesehatan dari Dinkes Kabupaten/Kota

d) Dunia usaha yang memanfaatkan CSR-nya untuk program kesehatan

1) Definisi Operasional

Dunia usaha yang melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam bidang
kesehatan.

2) Formula / Cara Perhitungan

Jumlah dunia usaha yang melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dalam satu
tahun pelaporan.
3) Sumber Data

Dinas Kesehatan Provinsi dan Kabupaten / Kota.

4) Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.

5) Penanggung Jawab Pengelola


Promkes

6) Mekanisme Pelaporan

a. Pusat : E-monev DJA, E-monev Bappenas, Profil Promosi Kesehatan


Provinsi dan Kabupaten, Laporan Tahunan;

b. Daerah : SP2TP, Profil Promosi Kesehatan di Tingkat Kabupaten dan


Provinsi

e) Organisasi kemasyarakatan yang memanfaatkan sumber dayanya untuk mendukung


kesehatan

1) Definisi Operasional
- Organisasi kemasyarakatan yang berkomitmen melakukan Perjanjian Kerja Sama
(MoU) dengan Kementerian Kesehatan untuk memanfaatkan SDM / Jejaring /
Sarpras / Dana Pendamping dalam mendukung program kesehatan Waktu
Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.

- Penanggung Jawab : Pengelola Kesling (Sanitarian) Puskesmas.

- Mekanisme Pelaporan

o Manual : Petugas Puskesmnas => Dinkes Kab./Kota => Dinkes Prov. =>
Subdit => TU => Direktur Kesling;

o Elektronik : Puskesmas memasukkan data via SMS ke web => E-Monev


IKK yang terhubung dengan E-Monev IKU ditambah dengan verifikasi oleh
Dinkes Kab./Kota => Akses oleh pusat, provinsi, kabupaten/kota &
sanitarian.

Tempat-Tempat Umum (TTU) yang memenuhi syarat kesehatan


a. Definisi Operasional
Tempat dan fasilitas umum minimal sarana pendidikan (Sekolah Dasar (SD/MI),
Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) dan yang sederajat milik pemerintah dan swasta)
dan pasar rakyat yang terintegrasi di wilayah kerja Kabupaten/Kota dan telah memenuhi
syarat kesehatan.

b. Formula / Cara Perhitungan

Jumlah TTU yang memenuhi syarat kesehatan berdasarkan inspeksi kesling sesuai
standar dalam kurun waktu 1 tahun dibagi Jumlah TTU terintegrasi di wilayah Kab/Kota
dalam kurun waktu 1 tahun yang sama dikali dengan 100 %.

c. Sumber Data : Laporan Kegiatan Puskesmas, dan laporan Dinkes Kabupaten/Kota


d. Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali
e. Penanggung Jawab : Pengelola Kesling (Sanitarian) Puskesmas.
f. Mekanisme Pelaporan

 Manual : Petugas Puskesmnas => Dinkes Kab./Kota => Dinkes Prov. => Subdit =>
TU => Direktur Kesling;

 Elektronik : Puskesmas memasukkan data via SMS ke web => E-Monev IKK yang
terhubung dengan E-Monev IKU ditambah dengan verifikasi oleh Dinkes
Kab./Kota => Akses oleh pusat, provinsi, kabupaten/kota & sanitarian.

RS yang melakukan pengelolaan limbah medis sesuai standar

a. Definisi Operasional
Rumah sakit yang terdaftar di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan minimal
telah melakukan pemilahan limbah (antara limbah medis dan non-medis) dan pengolahan
limbah secara mandiri (on site) atau bekerja sama dengan pihak yang memiliki izin (off
site).
b. Formula / Cara Perhitungan
Jumlah RS yang mengelola limbah medis sesuai peraturan dibagi Jumlah RS yang terdaftar
di Kemenkes dikali 100%.
c. Sumber Data : Laporan RS dan laporan Dinkes Kabupaten/Kota
d. Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.
e. Penanggung Jawab : Pengelola Kesling (Sanitarian) Puskesmas.
f. Mekanisme Pelaporan
o Manual : Petugas Puskesmnas => Dinkes Kab./Kota => Dinkes Prov. =>
Subdit => TU => Direktur Kesling;

o Elektronik : Puskesmas memasukkan data via SMS ke web => E-Monev


IKK yang terhubung dengan E-Monev
o IKU ditambah dengan verifikasi oleh Dinkes Kab./Kota => Akses oleh
pusat, provinsi, kabupaten/kota & sanitarian.

Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi syarat kesehatan

a. Definisi Operasional
Tempat Pengelolaan Makanan (rumah makan, restoran, jasa boga, depot air minum, sentra
makanan jajanan dan kantin sekolah) yang memenuhi persyaratan hygiene sanitasi yang
dibuktikan sertifikat laik higiene sanitasi.
b. Formula / Cara Perhitungan
Tempat Pengelolaan Makanan yang memenuhi syarat dibagi Tempat Pengelolaan Makanan
yang terdaftar dikali 100 %.
c. Sumber Data : Laporan Kegiatan Puskesmas dan laporan Dinkes
Kabupaten/Kota
d. Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.
e. Penanggung Jawab : Pengelola Kesling (Sanitarian) Puskesmas.

g. Mekanisme Pelaporan

o Manual : Petugas Puskesmnas => Dinkes Kab./Kota => Dinkes Prov. =>
Subdit => TU => Direktur Kesling;

o Elektronik : Puskesmas memasukkan data via SMS ke web => E-Monev


IKK yang terhubung dengan E-Monev IKU ditambah dengan verifikasi oleh
Dinkes Kab./Kota => Akses oleh pusat, provinsi, kabupaten/kota &
sanitarian.

Kab/kota yang menyelenggarakan tatanan kawasan sehat

a. Definisi Operasional

Kab/Kota yang menyelenggarakan pendekatan Kab/Kota Sehat dengan membentuk Tim Pembina,
Forum Kab/Kota Sehat & menerapkan minimal 2 (dua) tatanan wajib dari 9 (sembilan) tatanan
kawasan sehat (tatanan kawasan pemukiman dan sarana prasarana umum, tatanan kawasan sarana
lalu lintas tertib dan sarana transportasi, tatanan kawasan pertambangan sehat, tatanan kawasan
hutan sehat, tatanan kawasan industri dan perkantoran sehat, tatanan kawasan pariwisata sehat,
tatanan ketahanan pangan-gizi, tatanan kehidupan masyarakat sehat yang mandiri, tatanan
kehidupan sosial yang sehat).

b. Formula / Cara Perhitungan

Jumlah kumulatif Kab/Kota yang telah menyelenggarakan pendekatan Kabupaten/Kota Sehat

c. Sumber Data : Laporan Kegiatan Puskesmas dan laporan Dinkes


Kabupaten/Kota
d. Waktu Pelaporan : setiap tiga bulan sekali.
e. Penanggung Jawab : Pengelola Kesling (Sanitarian) Puskesmas.

f. Mekanisme Pelaporan

 Manual : Petugas Puskesmnas => Dinkes Kab./Kota => Dinkes Prov. => Subdit =>
TU => Direktur Kesling;
 Elektronik : Puskesmas memasukkan data via SMS ke web => E-Monev IKK yang
terhubung dengan E-Monev IKU ditambah dengan verifikasi oleh Dinkes
Kab./Kota => Akses oleh pusat, provinsi, kabupaten/kota & sanitarian
10. RENCANA AKSI PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT TAHUN 2015-
2019
i. Pemantapan Regulasi di Bidang Kesehatan Masyarakat
Kebijakan Kesehatan Masyarakat yang berbasis bukti, berpihak kepada rakyat dan
berdasarkan kemitraan lintas sektoral, perlu dibangun dan dikembangkan untuk
mendukung dan mengarahkan upaya kesehatan yang bermutu bagi seluruh
masyarakat. Untuk mendapatkan pelayanan kesehatan masyarakat yang bermutu dan
efektif perlu adanya regulasi dan perlindungan yang jelas. Regulasi harus mampu
mengantisipasi perkembangan teknologi dan globalisasi.

Penetapan standar, pedoman dan petunjuk teknis program kesehatan masyarakat yang
berdayaguna tinggi perlu ditingkatkan sehingga penerapan kesehatan masyarakat
dapat dilaksanakan oleh semua pihak. Harmonisasi standar dan regulasi perlu
dilaksanakan antar lintas program dan lintas sektor, sehingga regulasi memiliki
standarisasi yang memadai dan berkualitas.

ii. Penyediaan Sarana Prasarana Upaya Kesehatan Masyarakat Primer

Dukungan sarana prasarana yang memadai yang meliputi penyediaan makanan


tambahan bagi ibu hamil KEK dan balita kurus, media promosi kesehatan dan KIE
bagi masyarakat, media advokasi ke pemda, penyediaan instrument buku KIA dan
Raport Kesehatanku serta PWS KIA di Puskesmas, penguatan penyehatan lingkungan
dengan adanya penyediaan sanitarian dan kesling kit, media APD di tempat kerja
menjadi beberapa contoh sarpras yang didukung oleh pusat untuk memastikan
pelaksanaan kegiatan di daerah dapat berjalan baik.

iii. Pengembangan SDM Kesehatan Masyarakat yang Kompeten melalui


Peningkatan Kapasitas / Orientasi / Pelatihan

Jumlah tenaga SDM kesehatan masyarakat harus proporsional dengan kebutuhan


pelayanan di masyarakat, sehingga dapat melaksanakan upaya kesehatan masyarakat
yang optimal. Pemenuhan kebutuhan ini dapat tercapai bila tersedianya komponen
pelatihan/orientasi yang sesuai dengan kebutuhan pengguna di lapangan serta
mendukung penyelenggaraan program kesehatan di masyarakat yang terintegrasi.
Kebutuhan pengembangan sumber daya manusia telah diidentifikasi secara lengkap di
seluruh skala prioritas. Peningkatan kemampuan bagi para pengelola program di
tingkat daerah, kabupaten/kota dan tingkat provinsi harus diprioritaskan.
iv. Meningkatkan Kemitraan dengan Masyarakat, Asosiasi, Profesi,
Praktisi, Akademisi dalam Pengembangan Kesehatan Masyarakat

Keberhasilan Program Kesehatan Masyarakat sangat tergantung kepada


kerjasama antara departemen/instansi terkait, lembaga swadaya masyarakat, swasta,
dunia usaha dan masyarakat. Kerjasama tersebut dilaksanakan dengan prinsip
kemitraan berdasarkan asas kesetaraan, keterbukaan dan asas manfaat bersama. Hal
yang sangat penting dari peran pemerintah adalah menciptakan kepemimpinan yang
kuat pada semua pemegang program (stakeholders) dan masyarakat luas. Untuk itu,
maka pelaksanaan upaya penggerakan program kesehatan bagi masyarakat perlu
dilakukan secara bersama dan sinergis oleh berbagai program dan sektor yang terkait
secara sistematis dan dilakukan dengan persiapan yang matang serta langkah-langkah
yang tepat.

11. PENDEKATAN PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT TAHUN 2018


A. INDIKATOR PROGRAM KESMAS MENURUT RENSTRA SD
TRIWULAN III TAHUN 2017

A. PROGRAM KESEHATAN MASYARAKAT


B. HAL YANG PERLU DI PERHATIKAN PROVINSI
1) Mencermati kondisi data capaian indicator tiap kab kota yang terintegrasi
2) Melakukan Analisis data capaian yang telah dilaporkan oleh kab/kota
3) Memberikan Konfirmasi dan umpan balik data capaian kepada kab/Kota
4) Menugaskan Kab/Kota untuk melakukan hal yang sama terkait data capaian
yang di terima dari Puskesmas.
C. PERMASALAHAN KESEHATAN DAN INTERVENSI DARI
PROGRAM KESEHATAN
1. STUNTING
g. Pengertian stunting

Adalah sebuah kondisi dimana tinggi badan seseorang ternyata lebih pendek
disbanding tinggi badan orang lain pada umumnya (yang seusianya), yang
disebabkan kurangnya asupan gizi yang diterima oleh janin/bayi. Stunting dapat di
cegah dengan memberikan ASI dan MPASI, akses air bersih dan fasilitas sanitasi,
pemenuhan kebutuhan gizi bagi ibu hamil, memantau pertumbuhan balita di
posyandu. Dampak stunting diantaranya :

 Menyebabkan anak mudah sakit


 Kemampuan kognitif berkurang
 Saat tua beresiko terkena penyakit berhubungan dengan pola makan
 Fungsi tubuh tidak seimbang
 Mengakibatkan kerugian ekonomi
 Postur tubuh tidak maksimal saat dewasa

h. Berikut adalah 5 pilar penanganan stunting :


 Pilar 1, Komitmen dan Visi Pimpinan Tertinggi Negara
 Pilar 2, Kampanye Nasional Berfokus pada pemahaman, perubahan
perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas
 Pilar 3, Konvergensi, Koordinasi, dan Konsolidasi Program Nasional,
Daerah, dan Masyarakat
 Pilar 4, Mendorong Kebijakan “Nutritional
 Food Security”
 Pilar 5, Pemantauan dan Evaluasi

i. Kerangka Konsep Penurunan Stunting

j. Berikut adalah cara untuk pencegahan stunting :

 Program 1000 HPK


INTERVENSI SENSITIF :
1) Penyediaan akses dan ketersediaan air bersih serta sarana sanitasi (jamban
sehat) di keluarga
2) Pelaksanaan fortifikasi bahan pangan
3) Pendidikan dan KIE Gizi Masyarakat
4) Pemberian Pendidikan dan Pola Asuh dalam Keluarga
5) Pemantapan Akses dan Layanan KB
6) Penyediaan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dan Jaminan Persalinan
7) Pemberian Edukasi Kespro
INTERVENSI SPESIFIK :
1) Suplementasi Tablet Besi Folat pada Bumil
2) Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Bumil KEK
3) Promosi dan Konseling IMD dan ASI Eksklusif
4) Pemberian Makanan Bayi dan Anak (PMBA)
5) Pemantauan Pertumbuhan di Posyandu
6) Pemberian Imunisasi
7) Pemberian Makanan Tambahan Balita Gizi Kurang
8) Pemberian Vitamin A
9) Pemberian Taburia pada Baduta
10) Pemberian Obat Cacing pada Bumil

 Kualitas Remaja Putri


INTERVENSI PENDIDIKAN :
1) Pendidikan Kespro di Sekolah
2) Pemberian edukasi gizi remaja
3) Pembentukan konselor sebaya untuk membahas seputar perkembangan
remaja
INTERVENSI KESEHATAN :
1) Suplementasi Tablet Tambah Darah pada Remaja Putri
2) Pemberian obat cacing pada Remaja Putri
3) Promosi Gizi Seimbang
4) Pemberian Suplementasi Zink
5) Penyediaan akses PKPR (Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja) di
Puskesmas

 Pemberdayaan Orang Terdekat (Suami, Orang Tua, Guru, Remaja


Putra)

INTERVENSI SOSIAL :

1) Penggerakan Toma (Tokoh Masyarakat) untuk mensosialisasikan


Keluarga Berencana
2) Penyediaan Bantuan Sosial dari Pemda untuk Keluarga Tidak Mampu
(Keluarga Miskin)

INTERVENSI KESEHATAN :
1) Konsultasi perencanaan kehamilan dengan melibatkan suami dan keluarga
(orang tua)
2) Pelayanan kontrasepsi bagi Suami untuk penundaan kehamilan
3) Bimbingan konseling ke Bidan bersama dengan suami untuk penentuan
tempat dan penolong persalinan
4) Pendidikan Kespro bagi Remaja Putra
5) Mempersiapkan konseling Calon Pengantin

INTERVENSI KEMENTERIAN KESEHATAN DALAM UPAYA


PERBAIKAN GIZI
i. Intervensi Gizi Spesifik
1) Pemberian Tablet Tambah Darah untuk remaja putri, calon pengantin, ibu hamil
(suplementasi besi folat)
2) Promosi dan kampanye Tablet Tambah Darah
3) Kelas Ibu Hamil
4) Pemberian kelambu berinsektisida dan pengobatan bagi ibu hamil yang positif
malaria
5) Suplementasi vitamin A
6) Promosi ASI Eksklusif
7) Promosi Makanan Pendamping-ASI
8) Suplemen gizi mikro (Taburia)
9) Suplemen gizi makro (PMT)
10) Promosi makanan berfortifikasi termasuk garam beryodiumdan besi
11) Promosi dan kampanye gizi seimbang dan perubahan perilaku
12) Tata Laksana Gizi Kurang/Buruk
13) Pemberian obat cacing
14) 14. Zinc untuk manajemen diare

ii. Intervensi Gizi Sensitif lingkup Kemenkes:

1) Pemantauan pertumbuhan dan perkembangan


2) Penyediaan air bersih dan sanitasi
3) Pendidikan gizi masyarakat
4) Imunisasi
5) Pengendalian penyakit Malaria
6) Pengendalian penyakit TB
7) Pengendalian penyakit HIV/AIDS
8) Edukasi kesehatan seksual dan reproduksi
9) pada remaja
10) Jaminan Kesehatan Nasional
11) Jaminan Persalinan (Jampersal)
12) Program Indonesia Sehat melalui Pendekatan
13) Keluarga (PIS PK)
14) Nusantara Sehat
15) Akreditasi Puskesmas dan RS

k. Hal Yang Perlu dilakukan Provinsi

1) Memastikan kelompok sasaran mendapatkan intervensi secara total coverage dan


menyeluruh.

2) Memastikan kendali operasional ada di Kabid Kesmas, dukungan data dan informasi
dari masing-masing Seksi serta lintas program.

3) Memastikan lintas program melakukan intervensi totalitas dalam kesamaan waktu


dan unit analisisnya.

4) Melakukan pengendalian secara manajerial dengan benar, menyiapkan dash board


atau data pantau untuk pengambilan keputusan.
5) Mengintegrasikan dan menjadikan lokus PIS PK serta semua komponen pelatihan
sebagai reinforce factors atau faktor penguat.

2. PIS PK – IMPLEMENTASI DAN PENGEMBANGAN


a. Pengertian
Program Indonesia Sehat dilaksanakan untuk meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat, Pelaksanakan Program Indonesia Sehat diselenggarakan melalui
pendekatan keluarga. Integrasi upaya kesehatan perorangan (UKP) dan upaya
kesehatan masyarakat (UKM) secara berkesinambungan, dengan target / focus
keluarga, berdasarkan data dan informasi dari Profil Kesehatan Keluarga. Pendekatan
keluarga adalah salah satu cara Puskesmas untuk meningkatkan jangkauan sasaran
dan mendekatkan/meningkatkan akses pelayanan kesehatan di wilayah kerjanya
dengan mendatangi keluarga.
b. Tujuan PIS-PK

Meningkatkan pengetahuan, kesadaran, kemauan dan kemampuan hidup sehat


bagi setiap orang dalam lingkungan hidup yang sehat agar terwujud derajat kesehatan
masyarakat yang optimal melalui terciptanya perilaku hidup sehat shg terwujud
bangsa yang mandiri, maju dan sejahtera. Dan terpenuhinya kebutuhan dasar
masyarakat di bidang kesehatan dalam meningkatkan derajat kesehatan yang setinggi-
tingginya.

- Paragdigma Sehat
1) Pengarus utamaan kesehatan dalam pembangunan
2) Promotif & Preventif sebagai pilar utama upaya kesehatan
3) Pemberdayaan masyarakat
4) Indikator : Kota dan kecamatan sehat
- Penguatan Yankes
1) Peningkatan Akses
2) Peningkatan Mutu
3) Regionalisasi Rujukan
4) Intervensi berbasis risiko (Kesehatan (health risk))
5) Penerapan pendekatan (Continuum of careta)
6) Indikator : Akreditasi RS dan puskesmas
- Jaminan Kesehatan Nasional

2) Benefit

3) Sistem pembiayaan: asuransi – azas gotong royong

4) Kendali Mutu dan Kendali Biaya

5) Sasaran: PBI dan Non PBI

6) Indikator : total coverage, tanda kepesertaan (KIS = Kartu Indonesia Sehat)


c. 3 Hal yang Perlu Dilakukan untuk PIS PK
1) Instrumen Yg Digunakan Di Tk Keluarga, Yaitu:
a. Profil Kes Keluarga (Prokesga)
b. Paket Informasi Kes Keluarga (Pinkesga)
2) Forum Komunikasi yangg Dikembangkan untu kontak dengan keluarga,
Yaitu:
a. Fgd Melalui Dasa Wisma/Pkk
b. Kesempatan Konseling Di Ukbm (Mis: Posyandu)
c. Forum2 Yg Sdh Ada Di Masy (Rembug Desa, Dll)
3) Keterlibatan Tenaga Masy Sbg Mitra, Yaitu:
 Kader Kesehatan
 Pengurus Organisasi Kemasyarakatan Setempat (Mis: Pkk, Karang
Taruna, Dll)
d. Indikator Keluarga Sehat
A Program Gizi, Kesehatan Ibu & Anak:

1 Keluarga mengikuti KB

2 Ibu bersalin di faskes

3 Bayi mendapat imunisasi dasar lengkap

4 Bayi diberi ASI eksklusif selama 6 bulan

5 Pertumbuhan balita dipantau tiap bulan

B Pengendalian Peny. Menular & Tidak Menular:

6 Penderita TB Paru berobat sesuai standar

7 Penderita hipertensi berobat teratur

8 Gangguan jiwa berat tidak ditelantarkan

C Perilaku dan kesehatan lingkungan:

9 Tidak ada anggota keluarga yang merokok

10 Keluarga mempunyai akses terhadap air bersih

11 Keluarga mempunyai akses atau menggunakan jamban sehat


12 Sekeluarga menjadi anggota JKN/askes

3. GERMAS (GERAKAN MASYARAKAT HIDUP SEHAT)


a. Pengertian

Suatu tindakan sistematis dan terencana yang dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh
komponen bangsa dengan kesadaran, kemauan,dan kemampuan berperilaku sehat untuk
meningkatkan kualitas hidup

b. Tujuan GERMAS
1) Peningkatan edukasi hidup sehat
2) Peningkatan kualitas lingkugan
3) Peningkatan pencegahan dan deteksi diri penyakit
4) Penyediaan pangan sehat dan percepatan perbaikan gizi
5) Peningkatan perbaikan gizi
6) Peningkatan aktivitas fisik
7) Mampu berperilaku sehat yang berdampak pada kesehatan terjaga, lingkungan bersih,
produktif, dan biaya obat berkurang

c. Tugas Sektor Kesehatan dalam GERMAS


1) Advokasi dan pembinaan perwujudan kawasan sehat
2) Penggalangan kemitraan dan peran serta masyarakat
3) Kampanye GERMAS dan edukasi masyarakat
4) Deteksi dini penyakit menular dan tidak menular
5) Menyediakan fasilitas pelayanan yang bermutu

d. Hal Yang Perlu Dilakukan Provinsi


1) Memperluas Jangkauan komitmen di luar sektor kesehatan (Perusahaan swasta,
Sekolah, ORMAS, Media massa, Akademisi, Dunia Usaha)

2) Melakukan advokasi ke gubernur agar diterbitkannya instruksi gubernur tentang


GERMAS

3) Menerbitkan kebijakan internal dinkes Provinsi untuk membudayakan hidup sehat


(seperti kegiatan olahraga, konsumsi buah dan sayur dalam jamuan rapat, deteksi dini
secara berkala, penerapan kawasan tanpa rokok, penyediaan sarana ruang menyusui)

4) Memperkuat forum diskusi lintas program

5) Menyusun rencana kegiatan sector kesehatan dengan sector lainnya

6) Melakukan kampanye penggerakan masyarakat melalui TV, Radio, Talkshow,


Pameran dan Media Cetak
4. PENGEMBANGAN KOTA SEHAT
a. Pengertian
Kota sehat adalah suatu kondisi kota atau kabupaten yang bersih, nyaman, aman, dan
sehat untuk dihuni penduduk yang dicapai melalui terselenggaranya penerapan
beberapa tatanan dan kegiatan yang terintegrasi yang disepakati oleh masyarakat dan
pemerintah daerahnya.
b. Dasar Hukum Kota Sehat
1) PERMENDAGRI dan Menteri Kesehatan Nomor : 34 Tahun 2005 Nomor :
138/Menkes/PB/VIII/2005 tentang Penyelenggaraan Kabupaten/Kota sehat
2) UU Nomor : 32 Tahun 2004tentang Pemerintahan Daerah
3) UU Nomor: 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
4) UU Nomor: 25 Tahun 2004 Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional
c. Tujuan dan Sasaran Kota Sehat
• Tujuan : tercapainya kondisi Kabupaten untuk hidup dengan bersih, nyaman,
aman dan sehat untuk dihuni dan bekerja
• Sasaran : Terlaksananya program kesehatan, terbentuknya forum masyarakat yang
mampu menjalin kerjasama, terselenggaranya upaya peningkatan lingkungan
fisik, sosial dan budaya, terwujutnya kondisi yang kondusif bagi masyarakat untuk
menigkatkan produktifitas
d. Model Kota Sehat
 Dinas PU : Kawasan Permukiman, Sarana dan Prasarana umum
 Dinas Perhubungan : Kawasan sarana lalu lintas yang tertib dan Pelayanan
Transportasi
 Pertambangan : Kawasan Pertambangan sehat
 Dinas Kehutanan : Kawasan Hutan sehat
 Dinas Koperindag : Kawasan Industri dan Perkantoran sehat
 Kantor Pariwisata : Kawasan Pariwisata sehat
 Dinas Pertanian : Ketahanan Pangan dan Gizi
 Dinas Kesehatan : Kehidupan Masyarakat Sehat yang Mandiri
 Dinas Pemberdayaan Masyarakat : Kehidupan sosial Yang sehat

e. Ciri-Ciri Kota Sehat


 Pendekatan tergantung permasalahan yang dihadapi
 Berasal dari kebutuhan masyarakat, dikelola oleh masayarakat, sedangkan
pemerintah sebagai fasilitator.
 Mengutamakan pendekatan proses daripada target
 kegiatan didasarkan kesepakatan dari masyarakat
 Pendekatannya juga merupakan master plan Kota.
 Pemkab merupakan partner
 Kegiatan dicapai melalui proses dan komitmen pimpinan daerah
 harus terintegrasi kondisi fisik, ekonomi, dan budaya setempat.
f. Tatanan Kota Sehat
 Kawasan Permukiman, Sarana dan Prasarana Umum
 Kawasan Sarana Lalu Lintas Tertib & Pelayanan Transportasi
 Kawasan Industri & Perkantoran yang Sehat
 Kawasan Kawasan Pariwisata Sehat
 Kawasan Pertambangan Sehat
 Kawasan Hutan Sehat
 Kehidupan Masyarakat Sehat yang Mandiri
 Ketahanan Pangan dan Gizi
 Kehidupan Sosial yang Sehat.
g. Klasifikasi dan Kriteria Penghargaan Kab/Kota Sehat
 Klasifikasi Kab/Kota Sehat : Pemantapan, Pembinaan, dan Pengembangan
 Klasifikasi ditentukan berdasarkan jumlah tatanan yang dipilih
 Kriteria tatanan
 Kegiatan dalam tatanan
 Berfungsinya Forum Kabupaten Sehat, FKDS, dan Pokja tingkat Desa
 Berfungsinya Tim Teknis Kabupaten
1) Penghargaan “SWASTI SABA” diklasifikasikan atas 3 katagori :
 Penghargaan PADAPA (Pemantapan) dari MENKESMinmal 2 tatanan
 WIWERDA (Pembinaan) dari MENKES3 – 4 tatanan
 Penghargaan WISTARA (Pengembangan) dari PRESIDEN> 5 tatanan
 Penghargaan “WISTARA” diberikan pada taraf pengembangan
2) KotaSalatiga
“ healthy cities for better life “
 Program greenschool
 Program pengendalian merokok ditempat kerja
 Program keluarga mandiri kelola sampah
 Program konservasi air dan penghijauan
 Program pemberantasan sarang nyamuk (PSN)
h. Program/Kegiatan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Mendukung Terwjudnya Kota
Sehat
 SANIMAS (Sanitasi Berbasis Masyarakat)
 GERDU SEHATI (Gerakan Terpadu menuju Masyarakat Sehat Sejati)
 REPLIKASI KOTA SEHAT
 GERDAMAS PSN (Gerakan Pemberdayaan Masyarakat dalam
Pemberantasan Sarang Nyamuk DB)
 Bulan Bhakti Gotong Royong
 BANGUN PRAJA (Gerakan Masyarakat dalam Kebersihan Lingkungan)
 Sistem Manajemen Pembangunan Partisipatif (SMPP), peningkatan peran
serta masyarakat dalam penyediaan infrastruktur
 Kelurahan Siaga, peningkatan peran serta masyarakat terhadap penurunan
angka kematian ibu melhirkan
 UKS – Usaha Kesehatan Sekolah, peningkatan kesehatan pla hidup bersih dan
sehat siswa serta masyarakat lingkungan sekolah
 P2WKSS, peningkatan peran wanita dalam peningkatan kesejahteraan
keluarga

5. UKM (UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT)


a. Pengertian

UKM (UPAYA KESEHATAN MASYARAKAT) adalah setiap


kegiatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat serta swasta,
untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan serta mencegah dan
menanggulangi timbulnya masalah kesehatan di masyarakat.

UKM mencakup upaya-upaya promosi kesehatan, pemeliharaan


kesehatan, pemberantasan penyakit menular, penyehatan lingkungan, dan
penyediaan sanitasi dasar, perbaikan gizi masyarakat, pengamanan sediaan
farmasi dan alat kesehatan, pengamanan penggunaan zat aditif (bahan
tambahan makanan) dalam makanan dan minuman, pengamanan narkotika,
psikotropika, zat adiktif dan bahan berbahaya, sesrta penanggulangan bencana
dan bantuan kemanusiaan

b. Strata UKM
1) UKM PRIMER
UKM PRIMER adalah UKM tingkat dasar, yaitu yang
mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan dasar
yang ditujukan kepada masyarakat. Ujung tombak penyelenggara
UKM PRIMER adalah Puskesmas yang didukung secara lintas sektor
dan didirikan sekurang-kurangnya satu di setiap kecamatan.
Puskesmas bertanggungjawab atas masalah kesehatan di wilayah
kerjanya
Tiga fungsi utama Puskesmas : (1) pusat penggerak Sekurang-
kurangnya ada enam jenis pelayanan tingkat dasar yang harus
dilaksanakan oleh Puskesmas, yakni promosi kesehatan; kesehatan ibu
dan anak, dan keluarga berencana; perbaikan gizi; kesehatan
lingkungan; pemberantasan penyakit menular; dan pengobatan dasar
Peran aktif masyarakat dan swasta dalam penyelenggaraan
UKM PRIMER diwujudkan melalui berbagai upaya yang dimulai dari
diri sendiri, keluarga sampai dengan upaya kesehatan bersama yang
bersumber masyarakat (UKBM).
2) UKM SEKUNDER
UKM SEKUNDER adalah UKM tingkat lanjutan, yaitu yang
mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
spesialistik yang ditujukan kepada masyarakat. Penanggungjawab
UKM SEKUNDER adalah Dinkes Kab/Kota yang didukung secara
lintas sektor.

Dinkes Kab/Kota mempunyai dua fungsi utama, yaitu fungsi


manajerial dan fungsi teknis kesehatan. Fungsi manajerial mencakup
perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta pengawasan dan
pertanggungjawaban penyelenggaraan pembangunan kesehatan di
Kab/Kota. Fungsi teknis kesehatan mencakup penyediaan pelayanan
kesmas tingkat lanjutan, yakni dalam rangka melayani kebutuhan
rujukan Puskesmas

3) UKM TERSIER
UKM TERSIER adalah UKM tingkat unggulan, yaitu yang
mendayagunakan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan
subspesialistik yang ditujukan kepada masyarakat. Penanggungjawab
UKM TERSIER adalah Dinkes Provinsi dan Kementerian Kesehatan
yang didukung secara lintas sektor.
Dinkes Provinsi dan Kementerian Kesehatan mempunyai dua
fungsi, yaitu fungsi manajerial dan fungsi teknis kesehatan. Fungsi
manajerial mencakup perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian,
serta pengawasan dan pertanggungjawaban penyelenggaraan
pembangunan kesehatan di provinsi/nasional. Fungsi teknis kesehatan
mencakup penyediaan pelayanan kesmas tingkat unggulan, yakni
dalam rangka melayani kebutuhan rujukan dari Kab/Kota dan
Provinsi
Dalam melaksanakan fungsi teknis kesehatan, Dinkes Provinsi
dan Kementerian Kesehatan perlu didukung oleh berbagai pusat
unggulan yang dikelola oleh sektor kesehatan dan sektor
pembangunan lainnya

E. Puskesmas
a. Pengertian
Pukesmas adalah suatu unit organisasi yang bergerak dalam bidang pelayanan
kesehatan yang berada di garda terdepan dan mempunyai misi sebagai pusat
pengembangan pelayanan kesehatan, yang melaksanakan pembinaan dan pelayanan
kesehatan secara menyeluruh dan terpadu untuk masyarakat disuatu wilayah kerja
tertentu yang telah ditentukan secara mandiri dalam menentukan kegiatan pelayanan
namun tidak mencakup aspek pembiayaan. (Ilham Akhsanu Ridlo, 2008)
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) adalah fasilitas pelayanan kesehatan yang
menyelenggarakan upaya kesehatan masyarakat (UKM) dan upaya kesehatan
perorangan (UKP) tingkat pertama, dengan lebih mengutamakan upaya promotif dan
preventif, untuk mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya di wilayah
kerjanya. (Permenkes No.75/2014)

Puskesmas adalah unit pelaksana teknis (UPT) dinas kesehatan kabupaten/kota yang
bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan disuatu wilayah kerja.

b. Visi dan Misi Puskesmas


1. Visi puskesmas
Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan oleh puskesmas adalah
tercapainya Kecamatan Sehat menuju terwujudnya Indonesia sehat.
Indikator kecamatan sehat:
- Lignkungan sehat
- Perilaku sehat
- Cakupan pelayanan kesehatan yang bermutu
- Derajat kesehatan penduduk kecamatan

2. Misi puskesmas
a) Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan diwilayah kerjanya
b) Mendorong kemandirian hidup sehat bagi keluarga dan masyarakat
diwilayah kerjanya
c) Memelihara dan meningkatkan mutu, pemerataan dan kejangkauan
pelayanan kesehatan yang diselenggarakan
d) Memelihara dan meningkatkan kesehatan peroarangan, keluarga dan
masyarakat beserta lingkungannya

c. Peran Puskesmas
Peran pukesmas adalah sebagai ujung tombak dalam mewujudkan kesehatan nasional
secara komprehensif, tidak sebatas aspek kuratif dan rehabilitative saja seperti di
Rumah Sakit.
d. Fungsi Puskesmas
1. Sebagai Pusat Pembangunan Kesehatan Masyarakat diwilayah kerjanya
2. Membina peran serta masyarakat diwilayah kerjanya dalam rangka meningkatkan
kemampuan untuk hidup sehat
3. Memberikan pelayanan kesehatan secara menyeluruh dan terpadu kepada
masyarakat diwilayah kerjanya.

Proses dalam melaksanakan fungsinya, dilaksanakan dengan cara:

a) Merangsang masyarakat termasuk swasta untuk melaksanakan kegiatan dalam


rangka menolong dirinya sendiri.
b) Memberikan petunjuk kepada masyarakat tentang bagaimana menggali dan
menggunakan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien.
c) Memberikan bantuan yang bersifat bimbingan teknis materi dan rujukan
medis maupun rujukan kesehatan kepada masyarakat dengan ketentuan
bantuan tersebut tidak menimbulkan ketergantungan.
d) Memberikan pelayanan kesehatan langsung kepada masyarakat.
e) Bekerjasama dengan sector-sektor yang bersangkutan dalam melaksanakan
program.

e. Struktur Organisasi
1. Kepala puskesmas
2. Unit Tata Usaha:
3. Data dan Informasi,
4. Perencanaan dan Penilaian,
5. Keuangan, Umum dan Kepegawaian
6. Unit Pelaksana Teknis Fungsional Puskesmas:
7. UKM/UKBM,
8. UKP
9. Jaringan Pelayanan Puskesmas:
10. Unit Puskesmas Pembantu
11. Unit Puskesmas Keliling
12. Unit Bidan di Desa/Komunitas

f. Tata Kerja
1. Kantor Camat → koordinasi
2. Dinkes → UPT → bertanggung jawab ke Dinkes
3. Jaringan Pelayanan Kesehatan Strata Pertama → sebagai mitra
4. Upaya kesehatan bersumber daya masyarakat → sebagai pembina
5. Jaringan Pelayanan Kesehatan Rujukan → kerjasama
6. Lintas sector → koordinasi
7. Masyarakat → perlu dukungan/partisipasi → BPP (Badan Penyatun Puskesmas)

g. Penyelenggaraan Pelayanan Kesehatan oleh Puskesmas


Visi dan Misi Puskesmas di Indonesia merujuk pada program Indonesia Sehat. Hal ini
dapat kita lihat pula dalam SPM (Standar Pelayanan Minimal). Standar Pelayanan
Minimal adalah suatu standar dengan batas-batas tertentu untuk mengukur kinerja
penyelenggaraan kewenangan wajib daerah yang berkaitan dengan pelayanan dasar
kepada masyarakat yang mencakup : jenis pelayanan, indicator, dan nilai
(benchmark).

Pelaksaanan Urusan Wajib dan Standar Pelayanan Minimal (UW-SPM) diatur dalam
Surat Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia No.
147/MENKES/SK/X/2003 dibedakan atas : UW-SPM yang wajib diselenggarakan
oleh seluruh kabupaten-kota diseluruh Indonesia dan UW-SPM spesifik yang hanya
diselenggarakan oleh bakupaten-kota tertentu sesuai keadaan setempat. UW-SPM
wajib meliputi penyelenggaraan pelayanan kesehatan dasar, penyelenggaraan
perbaikan gizi masyarakat, penyelenggaraan pemberantasan penyakit menular,
penyelenggaraan promosi kesehatan, dll. Sedangkan UW-SPM spesifik meliputi
pelayanan kesehatan kerja, pencegahan dan pemberantasan penyakit malaria, dll. Hal
ini diperkuat dengan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 65 Tahun 2005
tentang Pedoman Penyusunan dan Penerapan Standar Pelayanan Minimal.

RANCANGAN KEWENANGAN WAJIB DAN STANDAR PELAYANAN


MINIMAL

Kewenangan Wajib Jenis Pelayanan


1. Penyelenggaraan  Pelayanan kesehatan ibu dan bayi baru
Pelayanan Kesehatan lahir
Dasar  Pelayanan kesehatan bayi dan anak pra
sekolah
 Pelayanan kesehatan anak usia sekolah
dan remaja
 Pelayanan kesehatan anak usia subur
 Pelayanan kesehatan usia lanjut
 Pelayanan usia lanjut
 Pelayanan kesehatan jiwa masyarakat
 Pelayanan pengobatan atau perawatan
2. Penyelenggaraan  Pelayanan kesehatan dengan 4 kompetensi
pelayanan kesehatan dasar (kebidanan, bedah, penyakit dalam,
rujukan dan penunjang anak)
 Pelayanan kesehatan darurat
 Pelayanan laboratorium kesehatan yang
mendukung upaya kesehatan perorangan
dan kesehatan masyarakat
 Penyediaan pembiayaan dan jaminan
kesehatan
3. Penyelenggaraan  Penyelenggaraan penyelidikan
pemberantasan penyakit epidemiologi dan penanggulangan
menular Kejadian Luar Biasa (KLB)
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
polio
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
TB paru
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
malaria
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
kusta
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
ISPA
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
HIV-AIDS
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
DBD
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
diare
 Pencegahan dan pemberantasan penyakit
fliariasis
4. Penyelenggaraan  Pemantauan pertumbuhan balita
perbaikan gizi masyarakat  Pemberian suplemen gizi
 Pelayanan gizi
 Penyulugan gizi seimbang
 Penyelenggaraan kewaspadaan gizi
5. Penyelenggaraan promosi  Penyuluhan perilaku sehat
kesehatan  Penyuluhan pemberdayaan masyaralat
dalam upaya kesehatan
6. Penyelenggaraan kesehatan  Pemeliharaan kualitas lingkungan fisik,
lingkungan dan sanitasi kimia, biologi
dasar  Pengendalian vector
 Pelayanan hygiene sanitasi ditempat
umum
7. Pencegahan dan  Penyuluhan P3 NAPZA (Pencegahan dan
penanggunalangan Penanggulangan Penyalahgunaan
penyalahgunaan narkotika, NAPZA) yang berbasis masyarakat
psikotropika dan zat
adiktif lainnya
8. Penyelenggaraan  Penyediaan obat dan perbekalan kesehatan
pelayanan kefarmasian dan untuk pelayanan kesehatan dasar
pengamanan sediaan  Penyediaan dan pemerataan pelayanan
farmasi, alat kesehatan kefarmasian disarana pelayanan kesehatan
serta makanan dan  Pelayanan pengamanan farmasi alat
minuman kesehatan

h. Program Pokok Puskesmas


Kegiatan pokok puskesmas dilaksanakan sesuai kemampuan tenaga maupun
fasilitasnya, karenanya kegiatan pokok disetiap Puskesmas dapat berbeda-beda.
Namun demikian kegiatan atau program pokok Puskesmas yang lazim dan seharusnya
dilaksanakan adalah sebagai berikut:
1. Kesejahteraan Ibu dan Anak (KIA)
2. Keluarga Berencana (KB)
3. Usaha Peningkatan Gizi
4. Kesehatan Lingkungan
5. Pemberantasan Penyakit Menular
6. Upaya Pengobatan termasuk Pelayanan Darurat Kecelakaan
7. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
8. Usaha Kesehatan Sekolah (UKS)
9. Kesehatan Olahraga
10. Perawatan Kesehatan Masyarakat
11. Usaha Kesehatan Kerja
12. Usaha Kesehatan Gigi dan Mulut
13. Usaha Kesehatan Jiwa
14. Kesehatan Mata
15. Laboratorium (diupayakan tidak lagi sederhana)
16. Pencatatan dan Pelaporan Sistem Informasi Kesehatan
17. Kesehatan Usia Lanjut
18. Pembinaan Pengobatan Tradisional

Pelaksanaan kegiatan atau program pokok Puskesmas diarahkan kepada keluarga sebagai
satuan masyarakat terkecil . karenanya, kegiatan pokok Puskesmas ditujukan untuk
kepentingan kesehatan keluarga sebagai bagian dari masyarakat diwilayah kerjanya. Setiap
kegiatan pokok Puskesmas dilaksanakan dengan pendekatan Pembangunan Kesehatan
Masyarakat Desa (PKMD).

Disamping penyelenggaraan usaha-usaha kegiatan pokok Puskesmas seperti tersebut diatas,


Puskesmas sewaktu-waktu dapat diminta untuk melaksanakan program kesehatan tertentu
oleh Pemerintah Pusat (contoh: Pekan Imunisasi Nasional). Dalam hal demikian, baik
petunjuk pelaksaan maupun perbekalan akan diberikan oleh Pemerintah Pusat bersama
Pemerintah Daerah. Keadan darurat mengenai kesehatan dapat terjadi, misalnya timbulnya
wabah penyakit menular atau bencana alam. Untuk mengatasi kejadian darurat seperti diatas
bisa mengurangi atau menunda kegiatan lain.

Dalam Permenkes No.75/2004 ditetapkan 23 jenis pelayanan yang dilakukan oleh


Puskesmas, terdiri dari enam (6) pelayanan kesehatan masyarakat (PKM) esensial, delapan
(8) PKM pengembangan dan Sembilan (9) pelayanan kesehatan perorangan (PKP). Tidak
semua jenis peayanan tersebut bersifat esensial dasar.

Pelayanan Kesehatan Masyarakat (PKM) Pelayanan Kesehatan


PKM Esensial PKM Pengembangan Perorangan (PKP)
1. Pelayanan promosi 1. Pelayana kesehatan 1. Pelayanan
kesehatan termasuk jiwa pemeriksaan umum
UKS 2. Pelayanan kesehatan 2. Pelayanan kesehata
2. Pelayanan kesehatan gigi masyarakat gigi dan mulut
lingkungan 3. Pelayanan kesehatan 3. Pelayanan KIA/KB
3. Pelayanan KIA dan masyarakat yang bersifat PKP
KB yang bersifat komplementer 4. Pelayanan Gawat
PKM 4. Pelayanan kesehatan Darurat
4. Pelayanan gizi yang olahraga 5. Pelayanan gizi yang
bersifat PKM 5. Pelayanan kesehatan berifat PKP
5. Pelayanan indra 6. Pelayanan persalinan
pencegahan dan 6. Pelayanan kesehatan 7. Pelayanan rawat inap
pengendalian lansia (di Puskesmas
penyakit 7. Pelayanan kesehatan perawatan)
6. Pelayanan kerja 8. Pelayanan
keperawatan 8. Pelayanan kesehatan kefarmasian
kesehatan masyarakat lainnya sesuai 9. Pelayanan
kebutuhan laboratorium

i. Azas Penyelenggaraan Puskesmas menurut Kepmenkes No.128 Tahun 2004


1. Azas pertanggung jawaban wilayah
a) Puskesmas bertanggung jawab meningkatkan derajat kesehatan
masyarakat yang bertempat tinggal diwilayah kerjanya.
b) Dilakukan kegiatan dalam gedung dan luar gedung
c) Ditunjang dengan puskesmas pembantu, bidan didesa, puskesmas keliling

2. Azas pemberdayaan masyarakat


a) Puskesmas harus memberdayakan perorangan, keluarga dan masyarakat
agar berperan aktif dalam menyelenggarakan setiap upaya Puskesmas
b) Potensi masyarakat perlu dihimpun

3. Azas keterpaduan
Setiap upaya diselenggarakan secara terpadu
a) Keterpaduan lintas program
i. UKS : keterpaduan Promkes, Pengobatan, Kesehatan Gigi, Kespro,
Remaja, Kesehatan Jiwa
b) Keterpaduan lintas sektoral
i. Upaya Perbaikan Gizi : keterpaduan sector kesehatan dengan
camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan, agama, dunia usaha,
koperasi & PKK
ii. Upaya Promosi Kesehatan : keterpaduan sector kesehatan dengan
camat, lurah/kades, pertanian, pendidikan dan agama

4. Azas rujukan
a) Rujukan medis/upaya kesehatan perorangan
i. Rujukan kasus
ii. Bahan pemeriksaan
iii. Ilmu pengetahuan
b) Rujukan upaya kesehatan masyarakat
i. Rujukan sarana dan logistic
ii. Rujukan tenaga
iii. Rujukan operasional

j. Masalah-Masalah yang Muncul di Lingkup Puskesmas


1. Persepi masyarakat yang negatif tentang pelayanan puskesmas, misalnya bahwa
anggapan bahwa mutu pelayanan yang terkesan seadanya. Artinya puskesmas
tidak cukup memadai dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, baik dari
segi sarana, prasarna maupun dari tenaga medis atau anggaran yang digunakan
untuk menunjang kegiatan sehari-harinya.
2. Banyak sekali pelayanan yang tidak sesuai dengan Standard Operating Procedure
(SOP). Misalnya sikap tidak disiplin dan ramah petugas medis pada unit
pelayanan puskesmas.
3. Tidak berjalannya tugas edukatif dipuskesmas yang berkaitan dengan penyuluhan
kesehatan yagn sekaligus berkaitan dengan tugas promotif.
4. Jam kerja puskesmas yang sangat singkat hanya sampai jam 14.00 WIB
5. Kemampuan keuangan daerah yang terbatas
6. Puskesms yang kurang memiliki otoritas untuk memnfaatkan peluang yang ada
7. Puskesmas belum terbiasa mengelola kegiatannya secara mandiri
8. Kurangnya kesejahteraan karyawan yang berpengaruh terhadap motivasi dalam
melaksanakan tugas dipuskesmas.

k. Factor-Faktor Penghambat Pelayanan Puskesmas


a) Factor Internal
1. Pelaksanaan Manajemen
Pelaksanaan manajemen merupakan hal penting yang menentukan
dalam mencapai tujuan yang efisien dan efektif dari tujuan puskesmas.
Dimana fungsi manajemen itu untuk planning, organizing, leading dan
controlling. Pada kegiatan perencanaan setiap tahunnya sering kali
tidak berjalan sehingga kegiatan berjalan apa adanya, bahkan terasa
sekali bahwa tidak pernah adanya upaya pengembangan.
2. Sarana dan Prasarana
Sarana dan prasana didalam puskesmas sangat terbatas, baik berupa
alat medis maupun obat-obatan. Hal ini terjadi akibat dari sumber
keuangan yang dimiliki puskesmas terbatas sehingga mutu pelayanan
puskesmas pun menjadi rendah karena tidak sesuai dengan standar
kesehatan.

3. Tenaga Medis
Jumlah tenaga medis yang sangat sedikit mengakibatkan
ketidakmampuannya melaksanakan program dari Dinas Kesehatan.

4. Sumber Keuangan Puskesmas


Sumber keuangan dari pemerintah pusat maupun daerah yang didapat
tidak sebanding dengan pengeluarqan operasional Puskesmas sehingga
biaya pelayanan Puskesmas pun mahal padahal sarana yang terdapat
disana tidak sebanding dengan apa yang harus dibayar sehingga hal ini
berdampak kepada masyarakat untuk beralik ke Rumah Sakit saja yang
fasilitas lebih baik daripada Puskesmas.
Adapun sumber-sumber keuangan Puskesmas sebagai berikut:
a. Pemerintah
Sumber biaya berasal dari Pemerintah Kabupaten yang
dibedakan atas dana pembangunan dan dana anggaran rutin.
Dana ini diturunkan secara bertahap ke Puskesmas melalui
Dinas Kesehatan Kabupaten.

b. Retribusi
Retribusi merupakan salah satu sumber pendapatan Puskesmas
yang membiayai upaya keseatan perorngan yang
pemanfaatannya dan besarnya ditentukan oleh Pemerintah
Daerah.
c. PT. ASKES
Puskesmas menerima dana dari PT.ASKES yang
peruntukannya sebagai imbal jasa kepada pesertaASKES yaitu
Pegawai Negeri Sipil (PNS)

d. PT. JAMSOSTEK
Puskesmas menerima dana dari PT. JAMSOSTEK yang
peruntukannya sebagai imbal jasa kepada peserta
JAMSOSTEK yatu pegawai / karyawan yang berada dibawah
naungan Dinas Tenaga Kerja.

e. BPP (Badan Penyantun Puskesmas)


Dengan memberdayakan potensi yang dimiliki masyarakat
dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

5. Psiko-sosial antara tenaga medis dengan penduduk


Perbedaan psiko-sosial antara tenaga kesehatan yang ada di Puskesmas
dengan penduduk menimbulkan hambatan dalam penyelenggaraan
pelayanan kesehatan Puskesmas. Tenaga-tenaga yang diperbantukan
diPuskesmas biasanya terdiri dari orang-orang terpelajar dan bukan
berasal dari daerah tersebut, sehingga penduduk menganggapnya
sebagai orang asing. Apalagi jika bahasa yang digunakan adalah
bahasa yang tidak dimengerti oleh penduduk, maka akibatnya
penduduk segan untuk datang ke Puskesmas.

b) Factor Eksternal
1. Kondisi Geografis
Puskesmas yang berada pada tiap-tiap Kecamatan memiliki keadaan
yang berbeda-beda, ada yang kecamatan yang hanya dengan satu
Puskesmas dapat menjangkau seluruh penduduk ada juga yang tidak.
Hal ini terkait pada dana yang tidak cukup untuk menggunakan alat-
alat transportsi atau memang tempat tinggalnya terpencil sehingga
penduduknya lebih senang tinggal dirumahnya daripada harus pergi ke
Puskesmas.

2. Pemerintah Daerah
Peran Pemerintah Daerah yang bersikap gagap ini terlihat atas
pemahaman pembangunan kesehatan yang setengah-setengah dari
pihak legislative dan eksekutif yang tercermin dari dijadikannya
pelayanan kesehatan sebagai tulang punggung pendapatan daerah.
Disamping itu alokasi anggaran kesehatan berbagai daerah
mencerminkan kurangnya perhatian terhadap investasi hak-hak dasar
pembangunan manusia diantaranya pelayanan kesehatan dasar.

3. Keadaan Ekonomi Penduduk


Keadaan ekonomi penduduk memberikan andil dalam sulitnya
mengupayakan pelayanan kesehatan pada masyarakat. Jumlah warga
Negara Indonesia mayoritas bermata pencarian petani dan nelayan
yang mana kondisi ekonominya kurang memdai. Walaupun ada
ketentuan yang memperbolehkan mereka yang tidak mampu untuk
tidak usah membayar retribusi di Puskesmas, namun kenyataannya
orang-orang yang demikian justru enggan datang ke Puskesmas.

4. Kondisi Pendidikan Penduduk


Masalah pendidikan penduduk juga berperan dalam menghambat
pelayanan yang dihadapi oleh Puskesmas sebagai Pusat Pelayanan
Kesehatan pada tingkat pertama, karena pada umumny pendidikan
masyarakat desa masih rendah, maka pola piker mereka sangat
sederhana dan kurang atau bahkan belum paham akan arti kesehatan.
Mereka cenderung mengikuti sifat-sifat tradisional yang sejak dulu
dipegang oleh masyarakat dan lngkungannya.

5. Dinas Kesehatan
Dinas Kesehatan yang berada Provinsi bekerja pada aspek melayani
penyembuhan penyakit yang sudah diderita oleh penduduk
dibandingkan dengan melayani obat-obatan yang dapat digunakan
sebagai upaya pencegahan timbulnya penyakit pada penduduk. Dengan
kata lain pelayanan kesehatan Puskesmas lebih banyak ditekankan
pada tindakan kuratif dibandingkan pada tindakan preventif apalagi
promotif. Selain itu Dinas Kesehatan juga kurang melakukan
koordinasi dan pengawasan terhadap pelaksanaan program-program
Puskesmas yang sudah ada sehingga tidak terwujudnya pelayanan
kesehatan ditingkat basis.

l. Kesimpulan
Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) dalam tatanan system pelayanan kesehatan
di Indonesia adalah pelaksana pelayanan tingkat pertama atau primer, yang
dilaksanakan oleh tenaga-tenaga kesehatan yang non-spesialistik. Puskesmas adalah
sarana terdepan melaksanakan PKD. Sampai dengan sekarang, Puskesmas yang sudah
mencapai 9.767 unit, adaah ujung tombak pelayanan kesehatan di Indonesia yang
paling menentukan baik-tidaknya indicator kesehatan penduduk.

F. PHN (Public Health Nursing)


1. Definisi
Keperawatan kesehatan masyarakat, merupakan salah satu kegiatan pokok Puskesmas
yang sudah ada sejak konsep Puskesmas di perkenalkan. Perawatan Kesehatan Masyarakat
sering disebut dengan PHN (Public Health Nursing) namun pada akhir-akhir ini lebih tepat
disebut CHN (Community Health Nursing). Perubahan istilah public menjadi community,
terjadi di banyak negara karena istilah “public” sering kali di hubungkan dengan bantuan
dana pemerintah (government subsidy atau public funding), sementara keperawatan
kesehatan masyarakat dapat dikembangkan tidak hanya oleh pemerintah tetapi juga oleh
masyarakat atau swasta, khususnya pada sasaran individu (UKP), contohnya perawatan
kesehatan individu di rumah (home health nursing).

Keperawatan kesehatan masyarakat (Perkesmas) pada dasarnya adalah pelayanan


keperawatan profesional yang merupakan perpaduan antara konsep kesehatan masyarakat dan
konsep keperawatan yang ditujukan pada seluruh masyarakat dengan penekanan pada
kelompok resiko tinggi. Dalam upaya pencapaian derajat kesehatan yang optimal dilakukan
melalui peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan penyakit (preventif) di semua
tingkat pencegahan (levels of prevention) dengan menjamin keterjangkauan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan dan melibatkan klien sebagai mitra kerja dalam perencanaan,
pelaksanaan, dan evaluasi pelayanan keperawatan.

Menurut WHO Perkesmas merupakan lapangan perawatan khusus yang merupakan


gabungan keterampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial,
sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan guna meningkatkan
kesehatan, penyempurnaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi,
pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang
mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan.

Definisi menurut ahli :

- Ruth B. Freeman
Suatu lapangan khusus bidang keperawatan dimana teknik keperawatan, ketrampilan
berorganisasi diterapkan dalam hubungan yang serasi kepada ketrampilan anggota profesi
kesehatan lain dan kepada tenaga sosial lain demi untuk memelihara kesehatan masyarakat.
- American Nursing Association (ANA)
Suatu sintesa dari praktik kesehatan masyarakat yang diterapkan untuk meningkatkan dan
memelihara kesehatan penduduk.
- Badan Kerja Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Suatu bidang dalam keperawatan yang merupakan perpaduan antara keperawatan dan
kesehatan masyarakat dengan dukungan peranserta aktif masyarakat.

2. Tujuan Perkesmas
Tujuan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah meningkatkan kemandirian
masyarakat dalam mengatasi masalah keperawatan kesehatan masyarakat yang optimal.
Pelayanan keperawatan diberikan secara langsung kepada seluruh masyarakat dalam rentang
sehat–sakit dengan mempertimbangkan seberapa jauh masalah kesehatan masyarakat
mempengaruhi individu, keluarga, dan kelompok maupun masyarakat.
A. Tujuan Umum
Meningkatkan derajat kesehatan dan memampuan masyarakat secara meyeluruh dalam
memelihara kesehatannya untuk mencapai derajat kesehatan yang optimal secara
mandiri.
B. Tujuan khusus
1. Dipahaminya pengertian sehat dan sakit oleh masyarakat.
2. Meningkatnya kemampuan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk
melaksanakan upaya perawatan dasar dalam rangka mengatasi masalah keperawatan
3. Tertanganinya kelompok keluarga rawan yang memerlukan pembinaan dan asuhan
keperawatan
4. Tertanganinya kelompok masyarakat khusus/rawan yang memerlukan pembinaan
dan asuhan keperawatan di rumah, di pandi dan di masyarakat
5. Tertanganinya kasus-kasus yang memerlukan penanganan tindak lanjut dan asuhan
keperawatan di rumah
6. Terlayaninnya kasus-kasus tertentu yang termasuk kelompok resiko tinggi yang
memerlukan penanganan dan asuhan keperawatan di rumah dan di puskesmas
7. Teratasi dan terkendalinya keadaan lingkungan fisik dan sosial untuk menuju
keadaan sehat yang optimal.

3. Dasar Hukum Perkesmas


Adapun dasar hukum pelaksanaan Perkesmas yaitu :
1. UU no 23 th 1992 tentang kesehatan
2. UU no 32/2004 tentang pemerintahan daerah
3. Kepmenkes no 1575 /menkes/sk/xi/2005 tentang organisasi dan tata kerja Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
4. Kepmenkes no 1239/2001 tentang registrasi dan praktik perawat
5. Kepmenkes no 1457/menkes/sk/ x/ 2003 tentang standar pelayanan minimal bidang
kesehatan di kabupaten/kota
6. Kepmenkes no 128/menkes/sk/ii/2004 tentang kebijakan dasar pusat kesehatan
masyarakat
7. Kepmenkes 836/2005 tentang pengembangan manajemen kinerja perawatan/bidan
8. Kepmenkes no 279/2006 tentang pedoman upaya penyelenggaraan Perkesmas di
Puskesmas.
4. Sasaran Perkesmas
Sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah seluruh masyarakat termasuk
individu, keluarga, kelompok beresiko tinggi termasuk kelompok/ masyarakat penduduk di
daerah kumuh, terisolasi, berkonflik, dan daerah yang tidak terjangkau pelayanan kesehatan.
Sasaran keperawatan kesehatan masyarakat adalah individu, keluarga, kelompok, masyarakat
yang mempunyai masalah kesehatan akibat factor ketidak tahuan, ketidak mauan maupun
ketidakmampuan dalam menyelesaikan masalah kesehatannya. Prioritas sasaran adalah yang
mempunyai masalah kesehatan terkait dengan masalah kesehatan prioritas daerah, terutama :
a. Belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas serta jaringannya)
b. Sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan tetapi memerlukan tindak lanjut
keperawatan di rumah.
Sasaran terdiri dari :
1. Sasaran individu
Sasaran priotitas individu adalah balita gizi buruk, ibu hamil risiko tinggi, usia lanjut,
penderita penyakit menular (a.l TB Paru, Kusta, Malaria, Demam Berdarah, Diare,
ISPA/Pneumonia), penderita penyakit degeneratif.
2. Sasaran keluarga
Sasaran keluarga adalah keluarga yang termasuk rentan terhadap masalah kesehatan
(vulnerable group) atau risiko tinggi (high risk group), dengan prioritas :
a. Keluarga miskin belum kontak dengan sarana pelayanan kesehatan (Puskesmas dan
jaringannya) dan belum mempunyai kartu sehat.
b. Keluarga miskin sudah memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan mempunyai
masalah kesehatan terkait dengan pertumbuhan dan perkembangan balita, kesehatan
reproduksi, penyakit menular.
c. Keluarga tidak termasuk miskin yang mempunyai masalah kesehatan prioritas serta
belum memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan

3. Sasaran kelompok
Sasaran kelompok adalah kelompok masyarakat khusus yang rentan terhadap timbulnya
masalah kesehatan baik yang terikat maupun tidak terikat dalam suatu institusi.
a. Kelompok masyarakat khusus tidak terikat dalam suatu institusi antara lain Posyandu,
Kelompok Balita, Kelompok ibu hamil, Kelompok Usia Lanjut, Kelompok penderita
penyakit tertentu, kelompok pekerja informal.
b. Kelompok masyarakat khusus terikat dalam suatu institusi, antara lain sekolah,
pesantren, panti asuhan, panti usia lanjut, rumah tahanan (rutan), lembaga
pemasyarakatan (lapas).
4. Sasaran masyarakat
Sasaran masyarakat adalah masyarakat yang rentan atau mempunyai risiko tinggi
terhadap timbulnya masalah kesehatan, diprioritaskan pada
a. Masyarakat di suatu wilayah (RT, RW, Kelurahan/Desa) yang mempunyai :
1) Jumlah bayi meninggal lebih tinggi di bandingkan daerah lain
2) Jumlah penderita penyakit tertentu lebih tinggi dibandingkan daerah lain
3) Cakupan pelayanan kesehatan lebih rendah dari daerah lain
b. Masyarakat di daerah endemis penyakit menular (malaria, diare, demam berdarah, dll)
c. Masyarakat di lokasi/barak pengungsian, akibat bencana atau akibat lainnya
d. Masyarakat di daerah dengan kondisi geografi sulit antara lain daerah terpencil,
daerah perbatasan
e. Masyarakat di daerah pemukiman baru dengan transportasi sulit seperti daerah
transmigrasi.
Pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat dapat diberikan secara langsung pada
semua tatanan pelayanan kesehatan , yaitu :
1. Di dalam unit pelayanan kesehatan (Rumah Sakit, Puskesmas, dll) yang mempunyai
pelayanan rawat jalan dan rawat nginap
2. Di rumah
Perawat “home care” memberikan pelayanan secara langsung pada keluarga di rumah
yang menderita penyakit akut maupun kronis. Peran home care dapat meningkatkan
fungsi keluarga dalam merawat anggota keluarga yang mempunyai resiko tinggi masalah
kesehatan.
3. Di sekolah
Perawat sekolah dapat melakukan perawatan sesaat (day care) diberbagai institusi
pendidikan (TK, SD, SMP, SMA, dan Perguruan tinggi, guru dan karyawan). Perawat
sekolah melaksanakan program screening kesehatan, mempertahankan kesehatan, dan
pendidikan kesehatan
4. Di tempat kerja/industri
Perawat dapat melakukan kegiatan perawatan langsung dengan kasus
kesakitan/kecelakaan minimal di tempat kerja/kantor, home industri/ industri, pabrik dll.
Melakukan pendidikan kesehatan untuk keamanan dan keselamatan kerja, nutrisi
seimbang, penurunan stress, olah raga dan penanganan perokok serta pengawasan
makanan.
5. Di barak-barak penampungan
Perawat memberikan tindakan perawatan langsung terhadap kasus akut, penyakit
kronis, dan kecacatan fisik ganda, dan mental.
6. Dalam kegiatan Puskesmas keliling
Pelayanan keperawatan dalam puskesmas keliling diberikan kepada individu,
kelompok masyarakat di pedesan, kelompok terlantar. Pelayanan keperawatan yang
dilakukan adalah pengobatan sederhana, screening kesehatan, perawatan kasus penyakit
akut dan kronis, pengelolaan dan rujukan kasus penyakit.
7. Di Panti atau kelompok khusus lain, seperti panti asuhan anak, panti wreda, dan panti
sosial lainya serta rumah tahanan (rutan) atau lembaga pemasyarakatan (Lapas).
8. Pelayanan pada kelompok kelompok resiko tinggi
a. Pelayanan perawatan pada kelompok wanita, anak-anak, lansia mendapat
perlakukan kekerasan
b. Pelayanan keperawatan di pusat pelayanan kesehatan jiwa
c. Pelayanan keperawatan dipusat pelayanan penyalahgunaan obat
d. Pelayanan keperawatan ditempat penampungan kelompok lansia, gelandangan
pemulung/pengemis, kelompok penderita HIV (ODHA/Orang Dengan Hiv-Aids),
dan WTS
Fokus utama kegiatan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat adalah
meningkatkan pengetahuan dan keterampilan keperawatan, membimbing dan mendidik
individu, keluarga, kelompok, masyarakat untuk menanamkan pengertian, kebiasaan dan
perilaku hidup sehat sehingga mampu memelihara dan meningkatkan derajad
kesehatannya.
5. Ciri Perkesmas
Keperawatan kesehatan masyarakat berorientasi pada proses pemecahan masalah yang
dikenal dengan “proses Keperawatan” (nursing proses) yaitu metoda ilmiah dalam
keperawatan yang dapat dipertanggung jawabkan sebagai cara terbaik dalam memberikan
pelayanan keperawatan yang sesuai respon manusia dalam menghadapi masalah kesehatan.
Langkah langkah proses keperawatan kesehatan masyarakat adalah pengakajian,
perencanaan, pelaksanaan, dan penilaian. Dalam penerapan proses keperawatan, terjadi
proses alih peran dari tenaga keperawatan kepada klien (sasaran) secara bertahap dan
berkelanjutan untuk mencapai kemandirian sasaran dalam menyelesaikan masalah
kesehatannya.
Proses alih peran tersebut digambarkan sebagai lingkaran dinamis proses keperawatan,
berikut :

Gambar 1.

Lingkaran Dinamis Proses Keperawatan.

Keterangan

Peran Perawat

Peran Klien

Berdasarkan uraian diatas, pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat mempunyai


ciri sebagai berikut :
1. Merupakan perpaduan pelayanan keperawatan dan kesehatan masyarakat
2. Adanya kesinambungan pelayanan kesehatan (continuity of care)
3. Fokus pelayanan pada upaya peningkatan kesehatan (promotif) dan pencegahan
penyakit (preventif) baik pada pencegahan tingkat pertama, kedua maupun ketiga
4. Terjadi proses alih peran dari perawat kesehatan masyarakat kepada klien (individu,
keluarga, kelompok, masyarakat) sehingga terjadi kemandirian
5. Ada kemitraan perawat kesehatan masyarakat dengan masyarakat dalam upaya
kemandirian klien.
6. Memerlukan kerjasama dengan tenaga kesehatan lain serta masyarakat

6. Ruang Lingkup
Lingkup pelayanan kesehatan yang diberikan kepada masyarakat meliputi upaya
kesehatan perorangan (UKP) maupun upaya kesehatan masyarakat (UKM). Pelayanan
kesehatan yang diberikan lebih difokuskan pada promotif dan preventif tanpa mengabaikan
kuratif dan rehabilitatif. Upaya preventif meliputi pencegahan tingkat pertama (primary
prevention), pencegahan tingkat kedua (secondary prevention) maupun pencegahan tingkat
ketiga (tertiary prevention)

7. Strategi Penyelenggaraan Perkesmas


Penyelenggaraan Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas, dilaksanakan
secara bertahap sesuai dengan sumberdaya yang dimiliki oleh Puskesmas. Strategi yang
ditetapkan adalah (1) Perkesmas sebagai bagian integral upaya kesehatan Puskesmas baik
upaya kesehatan wajib maupun pengembangan, (2) Perkesmas sebagai upaya kesehatan
pengembangan.
1. Perkesmas sebagai bagian integral upaya kesehatan wajib maupun
pengembangan
Upaya Perkesmas dilaksanakan secara terpadu baik dalam upaya kesehatan
perorangan maupun kesehatan masyarakat dalam 6 (enam) upaya kesehatan wajib
Puskesmas (Promosi Kesehatan, Kesehatan Lingkungan, KIA/KB, P2M, Gizi dan
Pengobatan) maupun upaya pengembangan yang wajib dilaksanakan di daerah tertentu.
Keterpaduan tersebut dalam sasaran, kegiatan, tenaga, biaya atau sumber daya lainnya.
Dengan terintegrasinya upaya Perkesmas ke dalam upaya kesehatan wajib maupun
pengembangan, diharapkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat lebih bermutu
karena diberikan secara utuh (holistik), komprehensif, terpadu, dan berkesinambungan.
Sasaran prioritas Perkesmas adalah sasaran yang sesuai kesepakatan daerah dan
ditetapkan oleh Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Fokus utama pada keluarga rawan
kesehatan yaitu keluarga miskin/rentan (vulnerable group) dan keluarga yang termasuk
risiko tinggi (high risk group). Keterpaduan Perkesmas dengan upaya kesehatan
Puskesmas sekaligus bertujuan mendukung pencapaian

target pembangunan kesehatan Kabupaten/Kota yang diukur


Berdasarkan indikator Standar Pelayanan Minimal (SPM).

Keterpaduan Perkesmas dengan upaya kesehatan Puskesmas, digambarkan sebagai


berikut :

Gambar 2
Keterpaduan Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Dalam Upaya Kesehatan Puskesmas

Promkes KIA & Gizi P2M Kesling Pengobatan


KB

Upaya Upaya
Kes Keperaw atan Kesehatan Masyarakat Kes
Pengem Pengem
Bangan Bangan

I ndikator Pelayanan Kesehatan ( Standar Pelayanan


Minimal)
2. Keperawatan kesehatan masyarakat sebagai upaya kesehatan pengembangan
Puskesmas
Bila di wilayah kerja Puskesmas, terdapat masalah kesehatan yang spesifik dan
memerlukan asuhan keperawatan secara terprogram, maka Perkesmas dapat
dilaksanakan sebagai upaya kesehatan pengembangan. Upaya Perkesmas, dimulai
dengan melakukan pengkajian terhadap masyarakat yang mempunyai masalah
spesifik (misalnya tingginya Angka Kematian Bayi, Angka Kematian Ibu, penderita
TB Paru, DBD, Malaria, dll) untuk dapat dirumuskan masalah keperawatannya dan
penyebabnya, sehingga dapat direncanakan intervensi yang akan dilakukan baik
terhadap masyarakat, kelompok khusus, keluarga maupun individu di daerah tersebut.

8. Pendekatan Penyelenggaraan Perkesmas


Pendekatan utama yang dilakukan dalam penyelenggaraan pelayanan keperawatan
kesehatan masyarakat baik di dalam maupun di luar gedung Puskesmas, adalah pendekatan
proses keperawatan (nursing process) meliputi tahap pengkajian, penetapan diagnosa
keperawatan, penetapan rencana tindakan, implementasi tindakan keperawatan dan tahap
evaluasi. Dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan, maka secara bertahap terjadi
proses alih peran dari perawat puskesmas kepada klien. Dalam pelaksanaan proses
keperawatan tersebut, ada pendekatan lainnya, yaitu :
1. Dalam penetapan masalah kesehatan dan sasaran prioritas sasaran Keperawatan
kesehatan masyarakat dapat menggunakan pendekatan epidemiologis
2. Dalam penetapan kegiatan menggunakan tiga tingkat pencegahan (levels of
prevention)

9. Pokok Kegiatan Perkesmas


Kegiatan Keperawatan Kesehatan Masyarakat, meliputi kegiatan di dalam maupun di
luar gedung Puskesmas baik upaya kesehatan perorangan (UKP) dan atau upaya kesehatan
masyarakat (UKM).
1. Kegiatan dalam gedung Puskesmas
Merupakan kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat yang dilakukan di poli
asuhan keperawatan, poliklinik pengobatan, maupun ruang rawat inap Puskesmas,
meliputi:
a) Asuhan keperawatan terhadap pasien rawat jalan dan rawat inap
b) Penemuan kasus baru (deteksi dini) pada pasien rawat jalan.
c) Penyuluhan/pendidikan kesehatan.
d) Pemantauan keteraturan berobat .
e) Rujukan kasus/masalah kesehatan kepada tenaga kesehatan lain di Puskesmas.
f) Pemberian nasehat (konseling) keperawatan.
g) Kegiatan yang merupakan tugas limpah sesuai pelimpahan kewenangan yang
diberikan dan atau prodesure yang telah ditetapkan (contoh pengobatan,
penanggulangan kasus gawat darurat, dll).
h) Menciptakan lingkungan terapeutik dalam pelayanan kesehatan di gedung
Puskesmas (kenyamanan, keamanan, dlll).
i) Dokumentasi keperawatan.

2. Kegiatan di luar gedung Puskesmas


Melakukan kunjungan ke keluarga/kelompok/masyarakat untuk melakukan asuhan
keperawatan di keluarga/kelompok/masyarakat :
a. Asuhan keperawatan kasus yang memerlukan tindak lanjut di rumah
(individu dalam konteks keluarga)
Merupakan asuhan keperawatan individu di rumah dengan melibatkan peran serta
aktif keluarga. Kegiatan yang dilakukan antara lain :
1) Penemuan suspek/kasus kontak serumah.
2) Penyuluhan/Pendidikan kesehatan pada individu dan keluarganya.
3) Pemantauan keteraturan berobat sesuai program pengobatan.
4) Kunjungan rumah (home visit/home health nursing) sesuai rencana.
5) Pelayanan keperawatan dasar langsung(direct care) maupun tidak langsung
(indirect care).
6) Pemberian nasehat (konseling) kesehatan/keperawatan.
7) Dokumentasi keperawatan.
b. Asuhan keperawatan keluarga
Merupakan asuhan keperawatan yang ditujukan pada keluarga rawan
kesehatan/keluarga miskin yang mempunyai masalah kesehatan yang di temukan
di masyarakat dan dilakukan di rumah keluarga. Kegiatannya meliputi, antara lain
:
1) Identifikasi keluarga rawan kesehatan/keluarga miskin dengan masalah
kesehatan di masyarakat.
2) Penemuan dini suspek/kasus kontak serumah.
3) Pendidikan/penyuluhan kesehatan terhadap keluarga (lingkup keluarga).
4) Kunjungan rumah (home visit/home health nursing) sesuai rencana.
5) Pelayanan keperawatan dasar langsung (direct care) maupun tidak langsung
(indirect care).
6) Pelayanan kesehatan sesuai rencana, misalnya memantau keteraturan berobat
pasien dengan pengobatan jangka panjang.
7) Pemberian nasehat ( konseling) kesehatan/keperawatan di rumah.
8) Dokumentasi keperawatan.
c. Asuhan keperawatan kelompok khusus.
Merupakan asuhan keperawatan pada kelompok masyarakat rawan kesehatan
yang memerlukan perhatian khusus, baik dalam suatu institusi maupun non
institusi. Kegiatannya meliputi antara lain:
1) Identifikasi faktor-faktor resiko terjadinya masalah kesehatan di kelompok.
2) Pendidikan/penyuluhan kesehatan sesuai kebutuhan.
3) Pelayanan keperawatan langsung (direct care) pada penghuni yang
memerlukan keperawatan.
4) Memotivasi pembentukan, membimbing, dan memantau kader-kader
kesehatan sesuai jenis kelompoknya.
5) Dokumentasi keperawatan.
d. Asuhan Keperawatan masyarakat di daerah binaan.
Merupakan asuhan keperawatan yang ditujukan pada masyarakat yang rentan atau
mempunyai risiko tinggi terhadap timbulnya masalah kesehatan. Kegiatannya
meliputi kegiatan kunjungan ke daerah binaan untuk :
1) Identifikasi masalah kesehatan yang terjadi di suatu daerah dengan masalah
kesehatan spesifik.
2) Meningkatkan partisipasi masyarakat melalui kegiatan memotivasi masyarakat
untuk membentuk upaya kesehatan berbasis masyarakat.
3) Pendidikan/penyuluhan kesehatan masyarakat.
4) Memotivasi pembentukan,mengembangkan dan memantau kader-kader
kesehatan di masyarakat.
5) Ikut serta melaksanakan dan memonitor kegiatan PHBS.
6) Dokumentasi keperawatan.
10. Pelaksana Perkesmas
Pelaksana utama kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat adalah semua perawat
fungsional keperawatan di Puskesmas. Sebagai pelaksana keperawatan kesehatan masyarakat
di Puskesmas, perawat minimal mempunyai enam peran dan fungsi, yaitu (1) sebagai penemu
kasus (case finder); (2) sebagai pemberi pelayanan (care giver); (3) sebagai
pendidik/penyuluh kesehatan (health teacher/educater); (4) sebagai koordinator dan
kolaborator; (5) pemberi nasehat ( counseling); sebagai panutan (role model).
Dalam penyelenggaraan pelayanan keperawatan kesehatan masyarakat perawat bekerja
sama dengan petugas kesehatan lain serta masyarakat. Kerjasama dengan petugas kesehatan
lain, terkait dengan kegiatan yang memerlukan kemampuan teknis tertentu yang bukan
kewenangan perawat. Kerja sama dengan kader/masyarakat terutama dalam melaksanakan
kegiatan yang dapat dilimpahkan kepada masyarakat.

11. Pengelolaan Upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat Di Puskesmas


Agar upaya keperawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas dapat terlaksana secara
efisen dan efektif, diperlukan pengelolaan upaya tersebut dengan baik. Pengelolaan upaya
Perkesmas merupakan rangkaian kegiatan perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian, serta
pengawasan dan pertanggungjawaban yang terintegrasi dengan upaya kesehatan Puskesmas
sehingga upaya keperawatan kesehatan masyarakat dapat terlaksana secara efisien dan
efektif.

A. Perencanaan
Perencanan upaya keperawatan kesehatan masyarakat dilaksanakan terintegrasi dengan
perencanan upaya puskesmas lainnya baik upaya kesehatan wajib maupun
pengembangan.
Langkah-langkah perencanaan yang harus dilakukan adalah:
1. Menyusun usulan kegiatan:
Usulan kegiatan disusun sesuai prioritas sasaran dan kegiatan prioritas Puskesmas,
dengan mengidentifikasi kegiatan-kegiatan promotif dan preventif (tingkat pertama,
kedua, dan ketiga) yang akan melengkapi kegiatan upaya kesehatan prioritas sehingga
pelayanan kesehatan menjadi lebih utuh.
2. Pengajukan usulan kegiatan
Usulan kegiatan diajukan secara terpadu dengan kegiatan Puskesmas lain ke Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota untuk mendapat persetujuan pembiayaan.
3. Menyusun rencana pelaksanaan kegiatan
Berdasarkan usulan kegiatan Puskesmas yang telah disetujui oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota, maka perlu disusun rencana pelaksanaan kegiatan (Plan
Of Action). Bila Perkesmas terintegrasi dalam upaya kesehatan Puskesmas lainnya,
maka POA Perkesmas juga terintegrasi (lihat contoh). Bila upaya Perkesmas
merupakan upaya pengembangan maka POA Perkesmas dapat dibuat tersendiri.
Kegiatan yang tercantum antara lain mencakup menetapkan kegiatan, sasaran,
target, volume kegiatan, rincian pelaksanaan, lokasi pelaksanan, tenaga pelaksana,
jadwal serta sumber daya pendukung lainnya. Kegiatan yang direncanakan dituangkan
dalam Matrix/Gann Chart.
Rencana pelaksanaan kegiatan sebaiknya dilengkapi dengan peta wilayah
Puskesmas (Mapping) yang menggambarkan masalah kesehatan/keperawatan
kesehatan masyarakat. Rencana pelaksanaan kegiatan disusun dengan melibatkan
penanggungjawab program terkait serta masyarakat .

B. Pelaksanaan dan Pengendalian


Pelaksanaan dan pengendalian merupakan rangkaian penyelenggaraan, pemantauan serta
penilaian terhadap upaya Perkesmas. Langkah pelaksanaan dan pengendalian tersebut,
meliputi antara lain :
1. Pengorganisasian di Puskesmas
Kepala puskesmas merupakan penanggung jawab kegiatan Perkesmas di Puskesmas.
Agar pelaksanaan Perkesmas dapat diselenggarakan secara optimal, maka diharapkan di
setiap Puskesmas ditetapkan adanya :
- Perawat pelaksana perkesmas di puskesmas
- Perawat penanggungjawab desa/daerah binaan
- Perawat koordinator perkesmas di puskesmas
Pengorganisasian tenaga Perkesmas disesuaikan dengan jumlah perawat yang ada.
Perawat Pelaksana Perkesmas di Puskesmas:
Perawat pelaksana perkesmas adalah: semua tenaga fungsional perawat di Puskesmas.
Perawat pelaksana perkesmas memberikan pelayanan/ asuhan keperawatan baik kepada
individu, keluarga, maupun kelompok. Penilaian kinerja perawat pelaksana minimal
menggunakan instrumen penilaian jabatan fungsional bagi perawat puskesmas.\
Perawat Penanggungjawab Desa/Daerah Binaan (Darbin)
Perawat Penanggungjawab Desa/daerah binaan merupakan perawat pelaksana yang
sekaligus membantu Perawat Koordinator Perkesmas merencanakan, melaksanakan,
memantau dan menilai asuhan keperawatan terhadap individu, keluarga, kelompok,
masyarakat di satu atau lebih di satu desa/daerah binaan yang menjadi tanggungjawabnya.
Perawat Koordinator Perkesmas di Puskesmas:
Perawat Koordinator Perkesmas di Puskesmas bertanggung jawab kepada Kepala
Puskesmas terhadap keberhasilan upaya perkesmas di puskesmas, mulai dari perencanaan,
pelaksanaan, pemantauan serta penilaian. Koordinator perkesmas ditetapkan oleh Kepala
Puskesms berdasarkan kualifikasi tertentu (pendidikan DIII Keperawatan + pelatihan
keperawatan kesehatan komunitas serta mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan
perkesmas).
Dalam pengorganisasian, harus ditetapkan secara jelas uraian tugas dan
tanggungjawab setiap perawat baik untuk melaksanakan tugas pokok maupun tugas
keterpaduan (lintas program dan lintas sektor) lainnya.

2. Pelaksanaan kegiatan
Pelaksanaan kegiatan Perkesmas, dilakukan berdasarkan Rencana pelaksanaan kegiatan
(POA) Perkesmas yang telah disusun. Dalam melaksanakan kegiatan perlu melakukan :
a. Mengkaji ulang Rencana Pelaksanaan Kegiatan (POA) yang telah disusun.
b. Menyusun jadual kegiatan bulanan setiap perawat dan petugas kesehatan lain yang
terlibat dalam kegiatan Perkesmas.
c. Melaksanakan asuhan keperawatan menggunakan stándar/pedoman/ prosedur tetap
(protap).
d. Menyepakati indikator kinerja klinik perawat

3. Pemantauan hasil pelaksanaan kegiatan


Pemantauan dilaksanakan secara berkala oleh Kepala Puskesmas dan Koordinator
Perkesmas. Kegiatannya antara lain :
a. Membahas/mendiskusikan permasalahan yang dihadapi dalam pelaksanaan
Perkesmas
Pembahasan masalah dapat dilakukan dalam bentuk :
1) Refleksi Diskusi Kasus
Merupakan pertemuan (forum diskusi) berkala bagi perawat Puskesmas untuk
membahas masalah teknis Perkesmas dalam pemberian asuhan keperawatan baik
pada klien individu, keluarga, kelompok maupun masyarakat. Dengan
dilakukannya Refleksi Diskusi Kasus secara berkala (contoh satu kali setiap
minggu), pemahaman serta keterampilan perawat dalam Perkesmas diharapkan
meningkat.
2) Lokakarya Mini Bulanan
Merupakan pertemuan bulanan di Puskesmas yang dihadiri seluruh staf
Puskesmas dan unit penunjangnya, untuk membahas kinerja internal Puskesmas,
antara lain cakupan, mutu, pembiayaan, serta masalah dan hambatan dalam
pelaksanaan upaya Puskesmas termasuk upaya Perkesmas.
Masalah dalam pelaksanaan Perkesmas terkait dengan lintas program lain dibahas
dalam pertemuan ini, untuk mendapatkan penyelesaiannya.
3) Lokakarya Mini Tribulanan
Merupakan pertemuan setiap 3 bulan sekali dipimpin oleh Camat dan dihadiri
oleh staf Puskesmas dan unit penunjangnya, instansi lintas sektor tingkat
Kecamatan, serta perwakilan konsil kesehatan/Badan Penyantun Puskesmas.
Masalah dalam pelaksanaan upaya Puskesmas termasuk upaya Perkesmas terkait
dengan sektor lain dibahas dalam pertemuan ini, untuk mendapatkan
penyelesaiannya.
b. Melakukan penilaian
Penilaian dilakukan pada setiap akhir tahun dengan membandingkan hasil
pelaksanaan kegiatan dengan rencana yang telah disusun. Penilaian dilakukan
terhadap input, proses serta output berupa cakupan, kepatuhan pada standar.

C. Pengawasan dan pertanggungjawaban


Pengawasan dan pertanggungjawaban kegiatan Perkesmas terintegrasi dengan kegiatan
Puskesmas lainnya. Pengawasan dilakukan baik internal maupun eksternal. Dalam
pertanggungjawaban Kepala Puskesmas mempertanggungjawabkan seluruh kegiatan
Puskesmas termasuk Perkesmas dan pembiayaannya dalam suatu laporan tahunan.

12. Penyeliaan Perkesmas


Penanggungjawab keperawatan kesehatan masyarakat di Puskesmas adalah Kepala
Puskesmas. Kepala Puskesmas bertanggungjawab atas kejelasan peran dan fungsi perawat di
Puskesmas dan unit penunjangnya. Peran dan fungsi tersebut di uraikan dalam uraian tugas
tertulis yang dipahami oleh setiap perawat. Setiap perawat Puskesmas bertanggungjawab
terhadap tugas pokoknya yaitu melaksanakan pelayanan/asuhan keperawatan kesehatan
masyarakat serta tugas tugas lain yang dibebankan kepala Puskesmas kepadanya, antara lain
sebagai penanggungjawab program. Untuk meningkatkan profesionalisme perawat
Puskesmas dalam keperawatan kesehatan masyarakat, maka Kepala Puskesmas dibantu
oleh perawat yang lebih mampu yang berfungsi sebagai perawat penyelia untuk
melakukan bimbingan teknis (clinical supervision) kepada perawat Puskesmas secara
berjenjang baik di tingkatPuskesmas maupun Kabupaten/Kota.
A. Di Puskesmas
Dalam aspek teknis keperawatan kesehatan masyarakat, Kepala Puskesmas
dibantu oleh Perawat Koordinator yang sekaligus menjadi koordinator keperawatan
kesehatan masyarakat atau Perawat Koordinator Perkesmas.
Koordinator Perkesmas ditetapkan oleh Kepala Puskesmas berdasarkan kualifikasi
tertentu (pendidikan minimal D III keperawatan + pelatihan keperawatan kesehatan
komunitas) serta mempunyai pengalaman dalam pelaksanaan Perkesmas lebih dari
perawat Puskesmas lainnya. Perawat Koordinator Perkesmas bertanggungjawab kepada
Kepala Puskesmas untuk melakukan bimbingan teknis maupun administrative kepada
Perawat Penanggungjawab Daerah Binaan maupun Perawat Pelaksana lainnya. Tugas
Perawat Koordinator Perkesmas meliputi antara lain :
a. Pertemuan dengan Perawat Pelaksana Perkesmas/
Penanggungjawab Darbin/desa di Puskesmas untuk :

- Mengidentifikasi masalah prioritas dengan menggunakan data epidemilogi yang


sudah ada dilanjutkan dengan pengkajian terhadap sasaran
- Merencanakan kegiatan keperawatan kesehatan masyarakat di wilayah kerja
puskesmas
- Memfasilitasi pembahasan masalah dalam pelaksanaan asuhan keperawatan
individu, keluarga, kelompok dan masyarakat, menggunakan Refleksi Diskusi
Kasus
- Membahas hasil pemantauan dan evaluasi penyelenggaraan perkesmas dan
mengusulkan rencana tindak lanjutnya
b. Melakukan kunjungan lapangan untuk membimbing perawat pelaksana dan perawat
penanggung jawab desa/daerah binaan.
c. Menyusun laporan evaluasi hasil upaya perkesmas di Puskesmas dan
perkembangannya.
Laporan disusun berdasarkan hasil evaluasi pelaksanaan perkesmas berdasarkan
laporan dari perawat pelasksanaan perkesmas berdasarkan laporan daari perawat
pelaksana dan penanggung jawab desa/daerah binaan. Bahan laporan ini merupakan
bahan pertanggung jawaban kepada Kepala Puskesmas tentang penyelenggaraan
upaya perkesmas di Puskesmas.
B. Di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
Berdasarkan strata pelayanan kesehatan dalam Sistem Kesehatan Nasional (Depkes,
2004), Dinas Kesehatan tidak saja bertanggungjawab secara administratif tetapi juga
menjadi pusat rujukan strata II pelayanan kesehatan terhadap masalah kesehatan
masyarakat yang tidak dapat ditanggulangi oleh Puskesmas, termasuk masalah terkait
dengan keperawatan kesehatan masyarakat. Di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota,
ditetapkan adanya Perawat Penyelia Kabupaten/Kota yang sekaligus menjadi Perawat
Penyelia Perkesmas Kabupaten/Kota.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota menetapkan Perawat Penyelia Perkesmas
Kabupaten/Kota, berdasarkan kualifikasi tertentu (S1 Keperawatan/Ners + pelatihan
keperawatan komunitas) dan pengalaman bekerja di Puskesmas. Kedudukan perawat
penyelia tersebut di Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota dapat struktural ataupun
fungsional, tergantung kondisi daerah.
Tugas Perawat Penyelia Perkesmas, bertanggungjawab kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota, antara lain untuk :
1. Pertemuan dengan Perawat Koordinator Perkesmas Puskesmas secara berkala untuk
melakukan :
- Koordinasi dalam penyusunan perencanaan upaya perkesmas di puskesmas
- Mengidentifikasi faktor-faktor penghambat dan penunjang pelaksanaan Perkesmas
di puskesmas melalui laporan kegiatan perkesmas
- Mengidentifikasi inovasi, perubahan pelaksanaan perkesmas sebagai
penyempurnaan program perkesmas
- Membahas hasil pemantauan dan evaluasi pelaksanaan
perkesmas seluruh Puskesmas dan perencanaan tindak lanjutnya.
2. Kunjungan lapangan melakukan :
- Penyeliaan terhadap penyelenggaraan upaya perkesmas di puskesmas,
berpedoman pada rencana pelaksanaan perkesmas di setiap Puskesmas.
- Pembinaan langsung terhadap perawat koordinator dan pelaksana perkesmas.
- Membimbing dan bersama Kepala Puskesmas memfasilitasi Refleksi Diskusi
Kasus oleh perawat Puskesmas.
3. Menyusun laporan hasil kegiatan bimbingan teknis kepada perawat Puskesmas dan
rencana tindak lanjutnya untuk disampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota.

13. Indikator Keberhasilan Perkesmas


Untuk mengukur keberhasilan upaya Keperawatan Kesehatan Masyarakat di Puskesmas,
digunakan indicator yang meliputi indikator masukan (input), indikator proses, indikator
luaran (output) dan indikator dampak.

A. Indikator Masukan (Input)


Indikator masukan, meliputi :
1. Jumlah perawat Puskesmas sudah mendapat pelatihan teknis Perkesmas serta
penatalaksanaan program prioritas.
2. Jumlah Kit untuk pelaksanaan Perkesmas ( PHN Kit) minimal 1 kit untuk setiap
desa.
3. Tersedia sarana transporasi (R-2) untuk kunjungan ke keluarga/
kelompok/masyarakat,
4. Tersedia dana operasional untuk pembinaan/asuhan keperawatan
5. Tersedia Standar/Pedoman/SOP pelaksanaan kegiatan Perkesmas
6. Tersedia dukungan administrasi (Buku Register, Family Folder, Formulir Askep,
Formulir Laporan, dll)
7. Tersedianya ruangan khusus untuk asuhan keperawatan di Puskesmas
B. Indikator Proses
Indikator proses, meliputi :
1. Ada Rencana Usulan Kegiatan Perkesmas terintegrasi dengan Rencana
Kegiatan Puskesmas.
2. Ada Rencana Pelaksanaan Kegiatan Perkesmas (POA).
3. Ada Rencana Asuhan Keperawatan setiap klien (individu, keluarga, kelompok,
masyarakat).
4. Adanya dukungan dan ada kegiatan bimbingan yang dilakukan Kepala
Puskesmas.
5. Ada kegiatan bimbingan teknis Perkesmas oleh Perawat Penyelia Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota ke Puskesmas.
6. Ada kegiatan koordinasi dengan lintas program terkait petugas kesehatan lain.
7. Ada laporan tertulis hasil pemantauan dan penilaian dan rencana tindak lanjut.
8. Ada rencana peningkatan pendidikan/pelatihan perawat secara berkelanjutan.
C. Indikator luaran (output)
Indikator luaran, meliputi :
1) % suspek/kasus perioritas puskesmas (contoh.TB paru) yang ditemukan secara dini.
2) % pasien kasus yang mendapat pelayanan tindak lanjut keperawatan di rumah.
3) % keluarga miskin dengan masalah kesehatan yang dibina.
4) % kelompok khusus dibina (panti, rutan lapas/rumah tahanan dan lembaga
pemasyarakatan, dll).
5) % pasien rawat inap Puskesmas di lakukan asuhan keperawatan.
6) % desa/daerah yang dibina. Besarnya % setiap Puskesmas ditetapkan oleh
masing-masing Kabupaten/Kota. Indikator luaran ini merupakan indikator antara,
untuk mendukung tercapainya Standar Pelayanan Minimal (SPM) Kabupaten/Kota.
D. Indikator dampak
Indikator dampak yaitu ”keluarga mandiri dalam memenuhi kebutuhan kesehatannya”,
yang dinilai dengan tingkat kemandirian keluarga. Kemandirian keluarga berorientasi
pada lima fungsi keluarga dalam mengatasi masalah kesehatannya yaitu :
1. mampu mengenal masalah kesehatannya.
2. mampu mengambil keputusan tepat untuk mengatasi kesehatannya.
3. mampu melakukan tindakan keperawatan untuk anggota keluarga yang memerlukan
bantuan keperawatan.
4. mampu memodifikasi lingkungan sehingga menunjang upaya peningkatan kesehatan.
5. mampu memanfaatkan sarana pelayanan kesehatan yang ada.
Tingkat kemandirian
”Kemandirian keluarga” dalam program Perawatan Kesehatan Masyarakat di bagi dalam 4
tingkatan yaitu :
Keluarga Mandiri tingkat I (paling rendah) sampai Keluarga Mandiri tingkat IV (paling
tinggi).
1. Keluarga Mandiri Tingkat Pertama (KM-I) Kriteria :
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat.
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana
keperawatan.
2. Keluarga Mandiri Tingkat Dua (KM – II)
Kriteria :
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat.
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana
keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar.
d. Melakukan perawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
3. Keluarga Mandiri Tingkat Tiga (KM – III)
Kriteria :
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat.
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana
keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar.
d. Memanfaatkan fasilitas pelayanan kesehatan secara aktif.
e. Melakukan perawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
f. Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif.
4. Keluarga Mandiri Tingkat Empat (KM – IV)
a. Menerima petugas Perawatan Kesehatan Masyarakat.
b. Menerima pelayanan keperawatan yang diberikan sesuai dengan rencana
keperawatan.
c. Tahu dan dapat mengungkapkan masalah kesehatannya secara benar.
d. Memanfaatkan fasilitas pelayanan sesuai anjuran.
e. Melakukan perawatan sederhana sesuai yang dianjurkan.
f. Melaksanakan tindakan pencegahan secara aktif.
g. Melaksanakan tindakan promotif secara aktif.
Tingkat kemandirian keluarga dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4
Indikator Dampak Keperawatan Kesehatan Masyarakat
Berdasarkan Tingkat Kemandirian Keluarga
No Kriteria Tingkat Kemandirian
Keluarga
I II III IV
1. Menerima petugas (Perkesmas) V V V V
2. Menerima pelayanan kesehatan sesuai V V V V
rencana keperawatan
3. Tahu dan dapat mengungkapkan V V V
masalah kesehatannya secara benar
4. Memanfaatkan fasilitas pelayanan V V V
kesehatan sesuai anjuran
5. Melakukan tindakan keperawatan V V V
sederhana sesuai anjuran
6. Melakukan tindakan pencegahan V V
secara aktif
7 Melakukan tindakan peningkatan V
kesehatan ( promotif) secara aktif

14. Trend Dan Issu Program Perkesmas Di Indonesia


1. Belum Menjadi Program Wajib Puskesmas
Terintegrasinya upaya Program Perawatan Kesehatan Masyarakat(PERKESMAS)
kedalam upaya kesehatan wajib maupun upaya pengembangan, diharapkan pelayanan
kesehatan kepada masyarakat dapat lebih bermutu karena diberikan secara kholistik,
komprehensif pada semua tingkat pencegahan. Tetapi banyak hal yang menjadikan
program ini tidak terlaksana dengan baik karena kebijakan anggaran kegiatan
puskesmas belum jelas, masing- masing puskesmas membagi anggran sesuai dengan
kepentingan program masing-masing puskesmas, sehingga program kerja yang
dilakukan untuk meunjang PERKESMAS ini berbeda disetiap
Puskesmas.Perkembangannya tidak merata antara puskesmas satu dengan yang lain.
2. Jumlah Tenaga Perawat Puskesmas
Saat ini Kesehatan di Indonesia dihadapkan dengan era Jaminan Kesehatan Nasional
(JKN) yang sangat membutuhkan pelayanan yang profesional dan diupayakan untuk
meningkatkan upaya preventif dan promotif, untuk itu perlu dilakukan peningkatan
kemampuan perawat dalam program PERKESMAS yang sangat terintegrasi dengan
masyarakat langsung dan puskesmas sebagai pemberi pelayanan kesehatan (PPK 1)
yang merupakan ujung tombak dari kesehatan dimasyarakat.
Masalah dalam jumlah tenaga puskesmas serta keahlian yang tidak sebanding dengan
banyaknya masyarakat di daerah kerja Puskesmas menyebabkan kelambanan
perkembangan program ini.
3. Pengakuan Dari Perawat Sendiri dan Profesi lain
Pengakuan program ini dapat terlaksana dengan baik secara internal saja masih
meragukan perkembangan program ini dikarenakan banyak kendala mengenai
program yang harus dibenahi.

Kesimpulan

Pelayanan Keperawatan Komunitas mempunyai ciri :


o Merupakan perpaduan pelayanan keperawatan dan kesehtan masyarakat
o Adanya kesinambungan kesehtan masyarakat
o Focus pelayanan pada upaya promotif, dan preventifbaik pada semua level
pencegahan penyakit
o Terjadi proses alih peran dari perawat kesehatan masyarakat kepada kliensehingga
terjadi kemandirian
o Ada kemitraan perawat kesehatan masyarakat dengan masyarakat dalam upaya
kemandirian klien
o Memerlukan kerjasama dengan tenaga kesehatan lain dan masyarakaat
Pelayanan Keperawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas) merupakan salah satu
upaya puskesmas yang mendukung peningkatan derajat kesehatan masyarakat dengan
memadukan ilmu/ praktik keperawatan dengan kesehatan masyarakat lewat dukungan peran
serta aktif masyarakat mengutamakan pelayanan promotif dan preventif secara
berkesinambungan tanpa mengabaikan pelayanan kuratif dan rehabilitatif secara menyuluh
dan terpadu, ditujukan kepada individu, keluarga, kelompok dan masyarakat untuk ikut
meningkatkan fungsi kehidupan manusia secara optimal sehingga mandiri dalam upaya
kesehatannya.Strategi PERKESMAS ditetapkan sebagai bagian integral upaya kesehatan
Puskesmas baik upaya kesehatan wajib maupun pengembangan dan Perkesmas sebagai upaya
kesehatan pengembangan.Oleh sebab itu diperlukan usaha maksimal dari segala pihak
menyukseskan program ini.
DAFTAR PUSTAKA

Mentri Kesehatan RI.(2015). Pembangunan Kesehatan Menuju Indonesia Sehat. Diperoleh


dari https://www.depkes.go.id/resources/download/rakerkesnas-2015/MENKES
Kemenkes RI.(2016). Buku Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga.
Diperoleh dari
https://www.depkes.go.id/resources/download/lain/Buku%20Program%20Indonesia%20Seha
t%20dengan%20Pendekatan%20Keluarga.pdf
Kemenkes RI. Rencana Aksi Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan. Diperoleh dari
https://www.depkes.go.id/resources/download/LAKIP%20ROREN/1%20perencanaan%20ki
nerja/Rencana%20Aksi%20Sekjen.pdf
Direktur Jenderal Kesehatan Masyarakat. 2018. Pendekatan Program Kesehatan
Masyarakat Tahun 2018

Dinas Kesehatan Kabupaten Landak. 2017. Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan
Keluarga

Dr. Kuwat Sri H. Rencana Aksi Program Kesehatan Masyarakat Tahun 2015-2019

PERPRES 72/2012 tentang SKN

KEMENKES RI .2016. Petunjuk Teknis Penguatan Manajemen Puskesmas Dengan


Pendekatan Keluarga

KEMENKES RI. 2016. Pedoman Umum : Program Indonesia Sehat Dengan Pendekatan
keluarga

Global Health Initiative (2008). Why Global Health Matters . Washington, DC: FamiliesUSA