Anda di halaman 1dari 3

1

Penularan pada pityriasis versikolor

Penyakit infeksi oportunistik kulit epidermomikosis, disebabkan oleh jamur


Malassezia sp. (Pitryrosporum orbiculare/P.ovale) yang ditandai dengan macula
hipopigmentasi atau hiperpigmentasi dan kadang eritematosa5.
Malasssezia adalah normal flora yang ada pada kulit manusia dan
mengandalkan pada hidrolisis sebum trigliserida dari manusia sebagai host, karena
mereka kekurangan sintetis asam lemak untuk memungkinkan produksi endogen dari
asam lemak jenuh. Produksi asam lemak bebas diyakinin memprovokasi terjadinya
inflamasi pada kulit host, dengan dibuktikan adanya penemuan perivaskular inflamasi
infiltrate pada sediaan histopatologi. Pada pityriasis versikolor, organisme dapat
beralih menjadi bentuk patogen miselium dan menginvasi stratum korneum. Perubahan
pigmen yang diproduksi kulit diyakini terjadi melalui beberapa mekanisme.
Hipopigmentasi yang terlihat terutama pada pasien dengan kulit cenderung gelap
merupakan hasil dari produksi asam azelat, sebuah asam dikarboksilat yang
menginhibisi tirosinase (enzim yang mengkatalisa sintesis melanin) dan juga dapat
secara langsung sitotoksik pada melanosit. Sedangkan lesi hiperpigmentasi disebabkan
karena peningkatan melanosom serta penebalan dari stratum korneum4.
Pada kulit terdapat flora normal yang berhubungan dengan timbulnya pityriasis
versikolor yaitu pityrosporum obiculare yang berbentuk bulat atau pityrosporum ovale
yang berbentuk oval. Keduanya merupakan organisme yang sama, dapat berubah
sesuai dengan lingkungannya, misalnya suhu, media, kelembaban. Malasssezia
merupakan fase spora dari miselium3.
Tinea versikolor banyak terjadi pada usia remaja dan dewasa muda dan dapat
mempengaruhi beberapa anggota keluarga lainnya, tetapi itu tidak menular2. Beberapa
faktor yang mempengaruhi transformasi normal flora menjadi patigen miselium masih
belum pasti1. Pitiriasis versikolor dapat terjadi jika keadaan host dan flora normal jamur
tidak seimbang. Terdapat beberapa faktor yang berkontribusi dalam mengganggu
keseimbangan tersebut yaitu, faktor endogen dan eksogen6.
2

Faktor endogen antara lain, genetik, kongenital atau imunosupresan, malnutrisi,


penggunaan kontrasepsi oral dan kortikosteroid yang memiliki efek imunosupresan.
Pada penderita dengan keadaan imunosupresan dan malnutisi akan memudahkan
pertumbuhan jamur oportunis oleh karena penurunan aktivitas system imun tubuh yang
pada akhirnya menyebabkan seseorang lebih mudah terinfeksi penyakit. Selain itu juga
terdapat faktor lain yaitu sindrom cushing serta dermatitis seboroik yang memproduksi
sebum berlebih sehingga membuat kulit kepala dan rambut menjadi berminyak dan
menyebabkan infeksi dari jamur1,4,6,7.
Sedangkan faktor eksogen adalah hyperhidrosis yang membuat kecenderungan
untuk terjadi pertumbuhan jamur ini disertai stratum korneum akan melunak pada
keadaan basah dan lembab sehingga mudah dimasuki jamur, peningkatan sekresi
sebum oleh kelenjar sebasea akan mengakibatkan pertumbuhan berlebih dan
organisme yang bersifat lipofilik ini. Insidensi terjadi saat kelenjar sebasea paling aktif
yaitu masa pubertas dan dewasa awal. Faktor lainnya adalah kelainan endokrin,
peningkatan temperature dan kelembababan yang dapat mengakibatkan peningkatan
produksi kelenjar sebum dan keringat sehingga pertumbuhan jamur meningkat,
pakaianan oklusif, penggunaan oil dan mosturiser pada kulit dan komposisi kimia dari
sabun. Selain itu penutupan kulit oleh pakaian yang ketat atau kosmetik juga
menyebabkan perubahan normal flora menjadi patogen serta meingkatkan pH
kulit1,4,6,7.
Faktor-faktor diatas juga mempengatuhi kejadian kekambuhan dan kronisitas
dari penyakit setelah diberikan terapi1.
3

DAFTAR PUSTAKA

1. De Morais, P. M., Cunha, M. D. G. S., & Frota, M. Z. M. (2010). Clinical


aspects of patients with pityriasis versicolor seen at a referral center for
tropical dermatology in Manaus, Amazonas, Brazil. Anais Brasileiros de
Dermatologia, 85(6), 797–803. https://doi.org/10.1590/S0365-
05962010000600004
2. Hudson, A., Sturgeon, A., & Peiris, A. (2018). Tinea Versicolor. JAMA -
Journal of the American Medical Association, 320(13), 1396.
https://doi.org/10.1001/jama.2018.12429
3. Kosasih A, Wisnu, Emmy, Sri L. Kusta, Ilmu Penyakit Kulit Dan Kelamin,.
Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Jakarta 2019, p : 87-102
4. Lowell A. Goldsmith, Stephen I. Katz, Barbara A. Gilchrest, Amy S. Paller,
David J. Leffel, Klaus Wolff. Fitzpatrick’s Dermatology in General Medicine
9th ed Volume 1, USA, Mc Graw Hill Companies, 2019
5. Perdoski. (2017). Panduan Praktek Klinis Bagi Dokter Spesialis Kulit Dan
Kelamin Di Indonesia. In Perdoski (Vol. 2). https://doi.org/10.1021/jo900140t
6. Pramono, A. S., & dan Soleha, T. U. (2018). Pitiriasis Versikolor : Diagnosis
dan Terapi Pityriasis Versicolor : Diagnosis and Therapy. Universitas
Lampung, 5, 449–453.
7. Ravindranath, S. (2016). Pityriasis Versicolor : Therapeutic Efficacy of
Various Regimes of Topical 2 % Clotrimazole Cream , Oral Flucanazole and
Ketoconazole. 3(8), 2355–2360.