Anda di halaman 1dari 8

Laporan Praktikum Bioteknologi Tanaman Obat

STERILISASI ALAT DAN BAHAN

Disusun untuk memenuhi


tugas praktikum endokrinologi

Oleh :
M. Aidiel Fitra
1608104010036

Asisten Meja : Agustia Maulina

JURUSAN BIOLOGI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SYIAH KUALA
DARUSSALAM, BANDA ACEH
2019
BAB I
PENDAHULUAN

1. 1. Latar Belakang
Kultur jaringan merupakan suatu teknik isolasi bagian-bagian tanaman,
seperti jaringan, organ ataupun embrio, lalu di kultur pada medium buatan yang
steril sehingga bagian-bagian tanaman tersebut mampu beregenerasi dan
berdiferensiasi menjadi tanaman lengkap (Hendaryono dan Wijayani 2007).
Kultur jaringan disebut juga kultur in vitro yang berarti kultur di dalam wadah
gelas (Wattimena et al., 1992). Konsep yang mendasari kultur jaringan adalah
teori totipotensi dan plastisitas tanaman (Wetherell, 1982).
Terdapat Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar metode kultur
jaringan dapat dilaksanakan, diantaranya adalah kondisi laboratorium, alat dan
bahan yang digunakan, hingga metode sterilisasi. Laboratorium kultur jaringan
menuntut aseptisitas yang sangat tinggi (Endang, 2011). Seluruh tahapan/
prosedur teknik kultur jaringan juga harus dalam kondisi aseptik. Oleh karena itu
seluruh ruangan didalarn laboratoriurn hendaknya dalam keadaan aseptik,
terutarna ruangan kultur atau inkubasi harus dalam kondisi benar-benar aseptic.
Ruangan kultur menampung seluruh tanarnan hasil perbanyakan/ hasil perlakuan
untuk ditumbuhkan. Kondisi ruangan yang apseptik jug harus didukung dengan
penggunaan alat laboratorium yang baik dan benar.

1. 2. Tujuan Percobaan
Praktikum ini bertujuan agar mahasiswa mengetahui alat-alat yang
digunakan untuk mensterilkan alat dan bahan yang digunakan pada kultur jaringan
serta mengetahui cara mengoperasikan alat-alat tersebut.
BAB II
METODE KERJA

2. 1. Alat dan Bahan


Alat-alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah autoklaf, botol
kultur, rak botol dan wadah.
Bahan-bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah air, clorox, dan
sabun.

2. 2. Cara Kerja
Botol kultur terlebih dahulu direndam menggunakan clorox selama 24 jam
sebelum di sterilkan. Botol kultur kemudian dicuci bersih menggunakan sabun,
dibilas dengan air lalu dikeringkan pada rak botol. Kemudian botol kultur yang
sudah kering dimasukkan kedalan tabung autoklaf untuk disterilkan dan diatur
pada suhu 121oC dengan tekanan 1 atm selamat 30 menit. Adapun cara untuk
mengoperasikan autoklaf adalah menekan terlebih dahulu tombol on pada bagian
kanan sebelah bawah autoklaf. Klik power, dan dibuka autoklaf dari lock ke
unlock, keadaan air dipastikan mencapai batas minimum.botol kultur dimasukkan
kedalam autoklaf. Autoklaf kemudian ditutup dari unlock ke lock. Lalu Klik
mode, kemudian tekan set dan diatur suhunya 121 oC, selanjutnya tekan set
kembali dan next lalu di atur waktu selama 30 menit kemudian klik start. (mode 1
untuk bahan seperti agar, mode 2 untuk bahan lisquid, mode 3 untuk benda solid).
BAB III
DATA HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

3. 1. Data Hasil Pengamatan


Tabel 4.1. Sterilisasi Alat dan Bahan
NO Gambar Keterangan

1 Proses pencucian botol


kaca menggunakan
deterjen dan beyclean

2 Proses sterilisasi basah


menggunakan autoklaf

3. 2. Pembahasan
Terdapat beberapa aspek yang menjadi penentu keberhasilan kultur
jaringan. Aspek tersebut diantaranya adalah pada saat sterilisasi. Sterilisasi
merupakan upaya menghilangkan mikroorganisme dari alat maupun bahan baik
secara kimia, fisika maupun organik. Praktikum laboratorium kultur jaringan
sangat penting dilakukan proses sterilisasi. Menurut Gruendemann dan
Fernsebner (2006), proses sterilisasi dilakukan menghancurkan semua bentuk
mikroba (endospora) pada permukaan benda mati. Prinsip sterilisasi menurut
Agalloco (2008), dilakukan dengan tiga cara yaitu secara mekanik, fisik dan
kimiawi. Sterilisasi secara mekanik (filtrasi) menggunakan suatu saringan yang
berpori sangat kecil (0,22 mikron atau 0,45 mikron) sehingga mikroba tertahan
pada saringan tersebut. Proses ini ditunjukkan untuk sterilisasi bahan yang peka
panas, misalnya larutan enzim dan antibiotik. Sterilisasi secara fisik dilakukan
dengan pemanasan dan penyinaran. Pemanasan dapat dilakukan dengan cara
pemijaran, pemanasan kering, mengggunakan uap air panas, dan menggunakan
uap air panas bertekanan. Sterilisasi kimiawi dapat dilakukan dengan
menggunakan gas atau radiasi bahan kimiawi. Pemilihan metode didasarkan pada
sifat bahan yang akan disterilkan. Menurut Hadioetomo (2006), yang umum
digunakan secara rutin metode sterilisasi di laboratorium adalah menggunakan
panas.
Setiap alat yang akan digunakan dalam menanam eksplan perlu terlebih
dahulu dilakukan sterilisasi peralatan. Hal ini bertujuan untuk mengurangi faktor
kontaminasi. Menurut Lestari (2011), proses sterilisasi sangat penting didalam
upaya menekan tingkat kontaminasi dan menjaga aseptisitas kultur in vitro.
Semakin lama waktu pengujian sterilisasi ketebalan koloni bakteri akan semakin
menurun.
Hal pertama yang dilakukan dalam melakukan sterilisasi adalah botol kultur
di rendam dengan menggunakan clorox. Clorox merupakan salah satu bahan steril
yang mengandung Natrium hipoklorin yang efektif membunuh endospora yang
ada pada jamur dan dapat memecah membran sel pada bakteri. Menurut Dewi et
al (2012), ada beberapa bahan steril yang digunakan pada proses sterilisasi antara
lain alkohol 70%, Kalium hipoklorida (CaCl), H2O2, alkohol 90% atau Phenol
dan lainnya.
Menurut Edhi (2013), ada beberapa sterilisasi yang dilakukan pada
laboratorium kultur jaringan antara lain sterilisasi ruang, sterilisasi alat inokulasi,
sterilisasi alat dan bahan dan sterilisasi eksplan. Sterilisasi ruangan dilakukan
dengan menyemprotkan alkohol 90%, dan sterilisasi lantai dengan kain pel yang
dibasahi dengan alkohol 90% atau phenol. Sterilisasi ini mutlak dilakukan
menjelang ruang inokulasi akan digunakan. Lampu ultraviolet dapat digunakan
untuk sterilisasi ruang. Sedangkan Sterilisasi alat inokulasi (LAF) dilakukan
dengan spirtus atau alkohol 70%. Permukaan laminar sebelum mulai bekerja
dibersihkan dengan tisu yang sudah dicelupkan alkohol 70%. Laminar yang
dilengkapi dengan lampu UV, sebelum digunakan juga dinyalakan selama 1-2 jam
untuk mematikan kontaminan yang ada di permukaan laminar. Hal serupa juga
dilakukan setelah selesai melakukan penanaman atau inokulasi. Laminar harus
tetap dijaga kebersihannya. Sterilisasi Alat-alat logam dan gelas yang akan
digunakan dalam kultur jaringan dapat disterilkan dengan autoklaf. Alat-alat gelas
dan logam disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 121oC dan tekanan 1 atm,
selama 30 menit, sedangkan sterilisasi bahan atau media kultur selama 15 menit.
Menurut Santoso dan Nursandi (2004), autoklaf adalah alat yang digunakan
untuk sterilisasi media mikrobiologi, peralatan gelas laboratorium dan
dekontaminasi atau membunuh bakteri. Prinsip sterilisasi autoklaf ini
menggunakan panas dan tekanan dari uap air. Suhu sterilisasi biasanya 121oC, hal
ini dikarenakan suhu tersebut merupakan suhu kritis, dimana bentuk kontaminan
tidak dapat bertahan hidup. . tekanan yang biasa digunakan 1 atm atau 15-17,5 psi
dengan waktu 30 menit sampai 1 jam. Menurut Yusnita (2003), lamanya
sterilisasi tergantung dari volume dan jenis bahan yang disterilkan. Sterilisasi
terlalu lama dapat menyebabkan penguraian gula, terdegradasi vitamin dan asam-
asam amino, inaktifasi sitokinin zeatin riboside seta perubahan pH yang
berakibatkan depolimerasi agar (Suryowinoto, 2000).

3. 3. Kesimpulan
Kesimpulan dapat diperoleh dalam Sterilisasi Eksplan dan Inisiasi adalah
sebagai berikut :
1. Hal pertama yang dilakukan dalam melakukan sterilisasi adalah botol kultur
di rendam dengan menggunakan Clorox
2. Beberapa sterilisasi yang dilakukan pada laboratorium kultur jaringan antara
lain sterilisasi ruang, sterilisasi alat inokulasi, sterilisasi alat dan bahan dan
sterilisasi eksplan
3. Alat-alat gelas dan logam disterilkan dengan autoklaf pada temperatur 121oC
dan tekanan 1 atm, selama 30 menit
4. Sterilisasi terlalu lama dapat menyebabkan penguraian gula, terdegradasi
vitamin dan asam-asam amino, inaktifasi sitokinin zeatin riboside seta
perubahan pH yang berakibatkan depolimerasi agar.
DAFTAR KEPUSTAKAAN

Agalloco, J. (2008). Validation of Pharmaceutical Processes (Electronic Version).


Informa Healthcare Inc, USA.

Dewi, I., Purwoko, B.S., Aswidinnoor, H & Soemantri, I. H. (2014). Kultur


Antera Padi pada Beberapa Formulasi Media yang Mengandung Poliamin.
Jurnal Bioteknologi Pertanian. 9(11) : 14-19.

Edhi, S. (2013). Cara Mudah Memahami dan Menguasai Kultur Jaringan , IPB
Press, Bandung.

Endang G. Lestari. 2011. Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam Perbanyakan


Tanaman melalui Kultur Jaringan. Jurnal Biogen 7 (1):63-68

Gruendemann, B. J & Fernsebner, B. (2006). Buku Ajar Keperawatan


Perioperatif. Kedokteran EGC, Jakarta.

Hadioetomo, P. S. (2006). Mikrobia Dasar dalam Praktik, Teknik dan Prosedur


Dasar Laboratorium. Gramedia, Jakarta.

Hendaryono, D. P. S & Wijayani, A. (2007). Teknik Kultur Jaringan. Penerbit


Karnisius, Yogyakarta.

Lestari. G.E. (2011). Peranan Zat Pengatur Tumbuh dalam perbanyakan


Melalui Kultur Jaringan. Jurnal AgroBiogen. 7(1) : 63-68.

Wattimena, G.A. 1988. Zat Pengatur Tumbuh Tanaman. Pusat Antar Universitas
Bioteknologi Institut Pertanian Bogor. Bogor. 93 hal.

Wetherelll, D. F. 1976. Introduction To In Vitro Propagation. Avery Publishing


Group Inc. Wayne, New Jersey.

Santoso, U & Nursandi. (2004). Kultur Jaringan Tanaman Secara In Vitro.


Penerbit Karnisius, Jakarta.

Suryowinoto, M. (2000). Pemuliaan Tanaman Secara In Vitro. Kanisius,


Yogyakarta.

Yusnita. (2003). Kultur Jaringan Cara Memperbanyak tanaman Secara Efisiens.


P.T Agromedia Pusaka, Tangerang.