Anda di halaman 1dari 77

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Setiap individu memiliki usia dan karakter yang berbeda karena setiap orang adalah
unik. Dan disepanjang daur kehidupannya, individu akan mengalami fase kehidupannya.
Mulai dari fase perinatal, bayi, toddles, preschool, sekolah, remaja, hingga fase dewasa
muda menengah dan tua. Masing-masing dari semua fase itu memiliki tahap
pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda pula. Laju pertumbuhan bervariasi pada
tahap pertumbuhan dan perkembangan yang berbeda pula karena perkembangan
merupakan aspek perilaku dari pertumbuhan.
Adapun dari fase-fase yang terjadi terdapat tugas-tugas perkembangan yang
diharapkan dapat dicapai oleh individu pada setiap tahap perkembangannya. Tugas-tugas
ini harus dicapai sebelum seorang individu melangkah ke tahapan perkembangan
selanjutnya. Apabila seseorang individu gagal dalam memenuhi tugas perkembangannya,
maka ia akan sulit untuk memenuhi dan melaksanakan tugas perkembangan pada fase
selanjutnya.
Penuaan adalah konsekuensi yang tidak dapat dihindari. Walaupun proses penuaan
benar adanya dan merupakan sesuatu yang normal, tetapi pada kenyataannya proses in
menjadi beban bagi orang lain dibandingkan dengan proses lain yang terjadi. Perawat
yang akan merawat lansia harus mengerti sesuatu tentang aspek penuaan yang normal
dan tidak normal.
Pelayanan/asuhan keperawatan gangguan mental pada lanjut usia memerlukan
pengetahuan khusus karena kemungkinan perbedaan dalam manifestasi klinis,
ptogenesis, dan patofisiologi gangguan mental antara dewasa muda dan lanjut usia.
Faktor penyulit pada pasien lanjut usia juga perlu dipertimbangkan. Faktor – faktor
tersebut adalah sering adanya penyakit dan kecacatan medis penyerta, pemakaian banyak
medikasi, dan peningkatan kerentanan terhadap gannguan kognitif.
Program Epidemiologikal Catchment Area (ECA) dari National Institute of Mental
Healt telah menemukan bahwa gangguan mental yang paling sering pada lanjut usia
adalah gangguan depresif, gangguan kognitif, dan fobia. Lanjut usia juga memiliki resiko
tinggi untuk bunuh diri dan gejala psikiatrik akibat obat. Banyak gangguan mental pada
lanjut usia dapat dicegah, dihilangkan, atau bahkan dipulihkan. Sejumlah faktor
resikopsikososial juga dapat mempredisposisiskan lanjut usia kepada gangguan mental.
Faktor resiko tersebut adalah ilangnya peranan sosial, hilangnya otonomi, kematian
teman atau sanak saudara, penurunan kesehatan, peningkatan isolasi, keterbatasan
finansial, dan penurunan fungsi kognitif.
Saat ini udah dapat diperkirakan bahwa 4 juta lansia di Amerika mengalami
gangguan kejiwaan seperti demensia, psikosis, atau kondisi lainnya. Hal ini
menyebabkan perawat dan tenaga kesehatan profesional yang lai memiliki tanggung
jawab yang lebih untuk merawat Lansia dengan masalah kesehatan jiwa dan emosi.
Kesehatan mentl padaLansia dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti status fisiologi dan
psikologi, kepribadian, sosial support, sosial ekonomi dan pola hidup.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka ditemukan beberapa rumusan masalah
adalah sebagai berikut :
1. Apa sajakah konsep pertumbuhan dan perkembangan orang dewasa?
2. Bagaimanakah tahap perkembangan pada dewasa muda, menengah, dan tua?
3. Apakah tugas perkembangan dari masing-masing fase dewasa dan lansia itu?
4. Bagaimana tahap pengkajian perkembangan dari masing-masing fase dewasa itu?
5. Jelaskan jenis jenis gangguan jiwa
6. Jelaskan asuhan keperawatan jiwa pada dewasa dan lansia ?
7. Bagaimana pelaksanaan teraphy aktifitas kelompok pada klien dengan gangguan jiwa
pada lansia?

1.3 TUJUAN PENULISAN


Berdasarkan uraian rumusan masalah diatas maka ditemukan beberapa tujuan
penulisan adalah sebagai berikut :
1. Untuk mengetahui tentang konsep pertumbuhan dan perkembangan orang dewasa.
2. Untuk mengetahui perkembangan pada dewasa muda, menengah, dan dewasa akhir
(lansia).
3. Untuk mengetahui tugas perkembangan dari masing-masing fase dewasa dan lansia
itu.
4. Untuk mengetahui tahap pengkajian perkembangan dari masing-masing fase dewasa
itu.
5. Untuk mengetahui jenis jenis gangguan jiwa
6. Untuk mengetahui asuhan keperawatan jiwa pada dewasa dan lansia.
7. Untuk mengetahui pelaksanaan teraphy aktifitas kelompok pada klien dengan
gangguan jiwa pada lansia.

1.4 MANFAAT PENULISAN


Berdasarkan uraian latar belakang diatas maka ditemukan beberapa rumusan masalah
adalah sebagai berikut :
1. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang Asuhan Keperawatan gangguan jiwa
pada dewasa dan lansia.
2. Memudahkan kita dalam memberikan perawatan pada dewasa dan lansia yang
mengalami gangguan jiwa.
BAB II

TINJUAN PUSTAKA

2.1 Definisi pertumbuhan dan perkembangan.


A. Pertumbuhan
Pertumbuhan adalah perubahan fisik dan peningkatan ukuran yang dapat
diukur secara kuantitatif. Indicator pertumbuhan meliputi tinggi badan, berat badan,
ukuran tulang, dan pertumbuhan gigi. Pola pertumbuhan fisiologis sama untuk semua
orang. Akan tetapi, laju pertumbuhan bervariasi pada tahap pertumbuhan dan
perkembangan yang berbeda.
B. Perkembangan
Perkembangan adalah peningkatan kompleksitas fungsi dan kemajuan
keterampilan. Perkembangan adalah kemampuan dan keterampilan yang dimiliki
individu untuk beradaptasi dengan lingkungan. Perkembangan merupakan aspek
perilaku dari pertumbuhan.

2.2 Tahap perkembangan pada dewasa muda, menengah, tua dan Lansia.
A. Dewasa muda (20 – 40 tahun)
Dewasa muda disebut sebagai individu yang matur. Mereka sudah dapat
memikul tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri dan mengharapkan hal uang
sama dari orang lain. Mereka menghadapi berbagai tugas dalam hidup dengan sikap
realistis dan dewasa, membuat keputusan dan bertanggung jawab atas keputusan
tersebut.
1. Perkembangna Fisik
Individu berada pada kondisi fisik yang prima diawal usia 20a-an. Semua
sistem pada tubuh(seperi kardio vaskuler, pengelihatan, pendengaran dan
reproduktif) juga berfungsi pada efesiensi puncak. Perubahan fisik pada tahap ini
minimal, berat badan dan massa otot dapat berubah akikab diet dan olah raga.
2. Perkembangan Psikososial
Individu dewasa muda, menghadapi sejumlah pengalaman serta perubahan
gaya hidup yang baru saat beranjak dewasa, mereka harus membuat pilihan
mengenai pendidikan, pekerjaan, perkawinan, memulai rumah tangga, dan untuk
membesarkan anak. Tanggungjawab sosial meliputi membentuk hubungan
pertemanan yang baru dan menjelani beberapa kegiatan di masyarakat. Beberapa
perkembangan psikososial pada dewasa muda, yaitu:
a) Berada pada tahap genital, yaitu ketika energi diarahkan unutk mencapai
hubungan seksual yang matur (mengacu pada teori Freud).
b) Memiliki tugas perkembangan berikut, mengacu pada pemikiran Havighurst:
Memilih pasangan, belajar untuk hidup bersama pasangan, membentuk
sebuah keluarga, membesarkan anak, mengatur rumah tangga, memulai suatu
pekerjaan, memikul tanggung jawab sebagai warga negara, menemukan
kelompok sosial yang cocok.
3. Perkembangan Kognitif
Piaget meyakini bahwa struktur kognitif sempurna terjadi kurang lebih
sejak usia 11-15 tahun. Sejak periode tersebut, operasi formal(contoh: membuat
hipotesis) menandakan pemikiran selama massa dewasa, egosentrismenya terus
berkurang. Mereka mampu memahami dan menyeimbangkan argumen yang
diciptakan oleh logika dan emosi.
4. Perkembangan Moral
Pada periode ini, individu mampu memisahkan diri dari pengharapan dan
aturan-aturan orang lain, dan mendefinisikan moralitas terkait prinsip moral.
Saat mempersepsikan konflik dengan norma dan hukum masyarakat, mereka
membuat penilaian berdasarkan prinsip pribadi mereka.
5. Perkembangan Spiritual
Pada periode ini, individu berfokus pada realitas. Individu dewasa yang
berusia 27 tahun dapat mengemukakan pertanyaan yang bersifat filosofi
mengenai spiritualitas dan menyadari akan hal spiritual tersebut. Ajaran-ajaran
agama yang diperoleh semasa kecil, sekarang dapat diterima/didefenisikan
kembali
B. Dewasa menengah (40 – 65 tahun)
Tahap Perkembangan
1. Perkembangan Fisik
Pada perkambangan ini, banyak berubahan fisik yang terjadi, antara lain
sebagai berikut:
a) Penampilan
Rambut mulai tipis dan beruban, kelembapan kulit berkurang, muncul
kerutan pada kulit, jaringan lemak diretribusikan kembali sehingga
menyebabkan deposit lemak di area abdomen.
b) Sistem muskuloskeletal
Massa otot skeletal berkurang sekitar usia 60-an. Penipisan diskus
interverbal menyebabkan penurunan tinggi badan sekitar 1 inci.
Kehilangan kalsium dari jaringan tulang lebih sering terjadi pada wanita
pasca menstruasi. Otot tetap tetap bertumbuh sesuai penggunaan.
c) Sistem kardiovaskular
Pembuluh darah kehilangan elastisitasnya dan menjadi lebi tebal
d) Presepsi sensori
Ketajaman visual menurun, seringkali terjadi diakhir usia 40-an,
khususnya untuk pengelihatan dekat(presbiopia). Ketajaman pendengaran
untuk suara frekuansi tinggijuga menurun(presbikusis), khususnya pada
pria. Sensasi perasa juga berkurang.
e) Metabolisme
Metabolisme lambat, menyebabkan kenaikan berat badan
f) Sistem pencernaan
Penurunan tonus usus besar secara bertahap dapat menyebabkan
kecendrungan terjadinya konstipasi pada individu.
g) Sistem perkemihan
Unit nefron berkurang selama periode ini, dan laju filtrasi glomelurus
menurun.
h) Seksualitas
Perubahan hormonal terjadi pada pria maupun wanita
2. Perkembangan Psikososial
Menurut havighurst, individu paruh baya memiliki tugas
perkembangan psikososial sebagai berikut:
a). Memenuhi tanggung jawab sebagai warga negara dewasa dan tanggung
jawab sosial;
b) Membangun dan mempertahankan standar ekonomi hidup;
c) Membantu anak yang beranjakremaja untuk menjadi individu dewasa yang
bahagia dan bertanggung jawab;
d) Mengembangkan berbagai aktivitas untuk mengisi waktu luang;
e) Berinteraksi dengan pasangan sebagai seorang individu; Menerima dan
menyesuaikan perubahan fisk di masa paruh baya;
f) Menyesuaikan diri dengan orang tua yang mulai lansia.
3. Perkembangan Kognitif
Kemampuan kognitif dan intelektual di masa paruh baya tidak banyak
mengalami perubahan. Proses kognitif meliputi waktu rekreasi, memori,
persepsi, pembelajaran, pemecahan masalah, dan kreativitas.
4. Perkembangan Moral
Pada tahap ini, individu perlu memiliki pengalaman yang luas tentang
pilihan moral personal serta tanggung jawab.
5. Perkembangan Spiritual
Pada tahap ini, individu dapat memandang “kebenaran” dari sejumlah
sudut pandang. Mereka cenderung tidak terlalu fanatik terhadap keyakinan
agam, dan agama seringkali membrikan lebih banyak kenyamanan pada diri
individu di masa ini dibandingkan sebelumnya. Individu kerap kali
bergantung pad akeyakinan spiritual untuk membantu mereka menghadapi
penyakit, kematian, dan tragedi.
Masalah Psikologis
Resiko munculnya masalah psikologis pada kelompok usia ini lebih besar
daripada kelompok usia dewasa muda, antara lain:
1. Kecelakaan
Faktor perubahan fisiologis, dan kekhawatiran terhadap tanggung
jawab personal dan pekerjaan dapat meningkatkan angka kecelakaan pada
individu paruh baya, terutama kecelakaan kendaraan bermotor.
2. Kanker
kanker merupakan penyebab kematian kedua para individu yang
berusia antara 25 dan 64 tahun di AS. Pria memiliki insiden penyakit kanker
paru dan kandung kemih yang tinggi. Pada wanita, penyakit kanker payudara
menempati posisi tertinggi, diikuti kanker kolon dan rektum, uterus, dan
kanker paru.
3. Penyakit Kardiovaskular
Penyakit jantung koroner merupakan penyebab kematian utama di AS.
Faktor penyebabnya meliputi merokok, obesitas, hipertensi, diabetes melitus,
gaya hidup kurang gerakriwayat keturunan atau riwayat kematian mendadak
pada ayah saat berusia kurang dari 55 tahun atau ibu saat berusia kurang dari
65 tahun, serta faktor usia individu.
4. Obesitas
Obesits merupakan faktor resiko untuk banyak penyakit kronis seperti
dibaetes dan hipertensi. Klien harus mencegah obesitas dengan mengurangi
asupan kalori dan berolahraga secara teratur.
5. Alkoholisme
Penggunaan alkohol yang berlebihan dapat mengakibatkan masalah
pengangguran, keretakan dalam rumah tangga, kecelakaan, dan berbagai
penyakit.
6. Perubahan Kesehatan Mental
Stresor perkembangan, seperti menopause, penuaan, dan masa pensiun
yang semakin dekat, serta stresor situasional, seperti perceraian,
pengangguran, dan kematian pasangan, dapat memicu peningkatan depresi di
masa paruh baya. Klien dapat memperoleh manfaat dari kelompok
pendukung atau terapi individu untuk mengatasi masalah ini.

C. Dewasa Akhir / Lansia (> 65 tahun)


2.4.1 Tahap Perkembangan
1. Perkembangan Psikososial
Menurut Erikson, tugas perkembangan di masa inia dalah integritas
ego versus putus asa. Seseorang yang mencapai integritas ego memandang
kehidupan dengan perasaan utuh dan meraih kepuasan dari keberhasilan yang
dicapai di masa lalu. Mereka memandang kematian sebagai akhir kehidupan
yang dapat diterima. Sebaliknya, orang yang putus asa sering kali merasa
pilihannya salah dan berharap dapat mengulang kembali waktu
Tugas perkembangan lansia menurut Peck tahun 1968, antara lain:
a. Usia 65-75 tahun
1. Menyesuaikan diri dengan kesehatan dan kekuatan fisik yang
menurun
2. Menyesuaikan diri dengan masa pensiun dan penghasilan yang
menurun
3. Menyesuaikan diri dengan kematian orang tua, pasangan, dan
teman
4. Menyesuaikan diri dengan hubungan yang baru bersama anak-
anak yang sudah dewasa
5. Menyesuaikan diri dengan waktu luang
6. Menyesuaikan diri dengan respons fisik dan kognitif yang
melambat
b. Usia 75 tahun atau lebih
1. Beradaptasi dengan situasi “hidup sendiri”
2. Menjaga kesehatan fisik dan mental
3. Menyesuaikan diri dengan kemungkinan tinggal di panti jompo
4. Tetap berhubungan dengan anggota keluarga lain
5. Menemukan makna hidup
6. Mengurus akan kematiannya kelak
7. Tetap aktif dan terlibat dalam aktivitas
8. Membuat perencanaan hidup yang memuaskan seiring penuaan
2. Perkembangan Kognitif
Perubahan pada struktur kognitif berlangsung seiring bertambahnya
usia. Diyakini bahwa terjadi penurunan jumlah neuron yang progresif. Selain
itu, aliran darah ke otak menurun, dan metabolisme otak melambat.
Penurunan intelektual umumnya mnecerminkan proses penyakit, seperti
arterosklerosis. Pada lansia, proses penarikan informasi dari memori jangka
panjang dapat menjadi lebih lambat. Lansia cenderung melupakan kejadian
yang baru saja berlalu. Dan mereka memerlukan waktu yang lebih banyak
dalam belajar.
3. Perkembangan Moral
Kebanyakan lansia berada pada tingkat prakonvensional
perkembangan moral, mereka mematuhi setiap aturan agar tidak menyakiti
atau menyusahkan orang lain. Sedangkan pada tingkat konvensional, mereka
mengikuti kaidah sosial yang berlaku sebagai respons terhadap harapan
orang lain.
4. Perkembangan Spiritual
Carson (1989) mengemukakan bahwa agama “memberi makna baru
bagi lansia, yang dapat memberikan kenyamanan, penghiburan, dan
penguatan dalam kegiatan keagamaan”. Banyak lansia memiliki keyakinan
agama yang kuat dan terus menghadiri pertemuan atau ibadah keagamaan.
Keterkaitan lansia dalam hal keagamaan kerap membantu mereka dalam
mengatasi berbagai masalah yang nerkaitan dengan makna hidup,
kesengsaran, atau nasib baik.
Masalah Psikologis
Masalah psikilogis yang mungkin dialami lansia, antara lain:
1. Kecelakaan
Pencegahan kecelakaan merupakan fokus perhatian utama bagi lansia. Healthy
People 2010 melaporkan bahwa sebanyak 87% dari seluruh kasus fraktur yang
terjadi pada lansia di atas 65 tahun disebabkan oleh insiden jatuh. Karena
penurunan fungsi penglihatan, refleks yang semakin lambat, dan kondisi tulang
yang rapuh, lansia harus selalu berhati-hati pada saat menaiki anak tangga,
menegmudikan mobil, dan bahkan saat berjalan.
2. Penyakit Ketunadayaan Kronik
Penyakit ini dapat menimbulkan gangguan fungsi yang serius, seperti artritis,
osteoporosis, penyakit jantung, stroke, perubahan penglihatan dan pendengaran,
pneumonia, fraktur, trauma akibat jatuh, atau insiden lainnya yang menyebabkan
masalah kesehatan kronis.
3. Penggunaan dan Peyalahgunaan Obat
Lansia yang menderita suatu jenis penyakit kronis lebih kerap memerlukan
obat-obatan. Kerumitan yang ditemui dalam pemberian obat itu secara mandiri
dapat menimbulkan berbagai situasi penggunasalahan, seperti mengonsumsi obat
terlalu banyak atau terlalu sedikit, mengonsumsi obat bersama alkohol,
mengonsumsi obat resep bersama obat bebas, atau mengonsumsi obat milik orang
lain tanpa sengaja.
4. Alkoholisme
Mengonsumsi alkohol selama bertahun-tahun membawa pengaruh buruk pada
semua sistem tubuh, menyebabkan kerusakan progresif pada hati dan ginjal,
merusak lambung dan organ lain yang terkait, serta memperlambat respons mental
yang kerap mengakibatkan kecelakaan dan kematian.
5. Demensia
Demensia merupakan proses yang membahayakan dan berlangsung lambat,
yang mengakibatkan hilangnya fungsi kognitif secara progresif. Tipe dimensia
yang paling sering ditemui adalah penyakit Alzheimer.
6. Penganiayaan Lansia
Penganiayaan lansia yang paling sering terjadi adalah pada wanita di atas usia
75 tahun yang mengalami gangguan fisik atau mental dan bergantung pada pelaku
dalam perawatan diri. Penganiayaan dapat berupa penganiayaan fisik, psikologis,
atau emosi; penganiayaan seksual; penganiayaan keuangan; dan pelanggaran
terhadap HAM. Secara psikologis, lansia dapat mengalami kekerasan verbal,
ancaman, penghinaan, atau ejekan. Penganiayaan atau pengabaian lansia dapat
terjadi di rumah pribadi, penampungan lansia, rumah sakit, atau fasilitas layanan
jangka panjang.

2.3 Tugas perkembangan dari masing-masing fase dewasa dan lansia.


A. Dewasa
Tugas perkembangan orang dewasa adalah sebagai berikut:
1. Perkembangan fungsi aspek-aspek fisik orang dewasa terus berjalan sesuai
dengan jenis pekerjaan, pendidikan dan latihan serta hobi-hobi aktivitas fisik.
Usia dewasa merupakan usia yang secara fisik sangat sehat, kuat, dan cekatan
dengan tenaga yang cukup besar. Kekuatan dan kesehatan ini sangat dipengaruhi
oleh kemampuan ekonomi, kebiasaan hidup, kebiasaan makan, dan pemeliharaan
kesehatan.
2. Kualitas kemampuan berpikir kelompok dewasa muda terus berkembang lebih
meluas atau komprehensif dan mendalam. Perkembangan ini tergantung pada
pengetahuan dan informasi yang dikuasai. Semakin tinggi dan luas ilmu
pengetahuan, dan informasi yang dimiliki, semakin tinggi kualitas kemampuan
berpikir.
3. Pada masa dewasa, berlangsung pengalaman moral. Melalui pengalaman moral,
orang dewasa mengubah pemikiran-pemikiran moral menjadi perbuatan moral.
4. Bekerja untuk pengembangan karier merupakan tuntutan dan karakteristik utama
dari masa dewasa.
B. Lansia

Tugas perkembangan lansia adalah sebagai berikut :

1. Menyesuaikan diri terhadap ketahanan dan kesehatan yang berkurang.


2. Menyesuaikan diri terhadap masa pensiun dan berkurangnya pendapatan.
3. Menyesuaikan diri terhadap kemungkinan ditinggalkan pasangan hidup.
4. Mempertahankan kehidupan yang memuaskan dan mencari makna hidup.
5. Menjaga hubungan baik dengan anak.
6. Membina hubungan dengan teman sebaya dan berperan serta dalam organisasi
sosial.

2.4 Faktor – Faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang


A. Dewasa
Beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang orang dewasa adalah
sebagai berikut:
a) Faktor genetik
a) Faktor keturunan — masa konsepsi;
b) Bersifat tetap atau tidak berubah sepanjang kehidupan;
c) Menentukan beberapa karakteristik seperti jenis kelamin, ras, rambut,
warna mata, pertumbuhan fisik, sikap tubuh dan beberapa keunikan
psikologis seperti temperamen.
b) Faktor eksternal / lingkungan
Faktor eksternal mempengaruhi individu setiap hari mulai konsepsi
sampai akhir hayatnya, dan sangat menentukan tercapai atau tidaknya potensi
bawaan. Faktor eksternal yang cukup baik akan memungkinkan tercapainya
potensi bawaan, sedangkan yang kurang baik akan menghambatnya.
a) Keluarga
Fungsi keluarga yaitu sebagai tempat bertahan hidup, rasa aman,
perkembangan emosi dan sosial, penjelasan mengenai masyarakat dan dunia,
dan membantu mempelajari peran dan perilaku.
b) Kelompok teman sebaya
Lingkungan yang baru dan berbeda, memberi pola dan struktur yang berbeda
dalam interaksi dan komunikasi, dan memerlukan gaya perilaku yang
berbeda. Fungsi kelompok teman sebaya adalah sebagai tempat belajar
kesuksesan dan kegagalan, memvalidasi dan menantang pemikiran dan
perasaan, mendapatkan penerimaan, dukungan dan penolakan sebagai
manusia unik yang merupakan bagian dari keluarga serta untuk mencapai
tujuan kelompok dengan memenuhi kebutuhan dan harapan.
c) Pengalaman hidup
Pengalaman hidup dan proses pembelajaran membiarkan individu
berkembang dengan mengaplikasikan apa yang telah dipelajari.
d) Kesehatan
Tingkat kesehatan merupakan respon individu terhadap lingkungan dan
respon orang lain pada individu. Kesehatan prenatal (sebelum bayi lahir)
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan dari fetal (janin).
Ketidakmampuan untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan karena
kesehatan terganggu akan mengakibatkan tumbuh kembang juga terganggu.
e) Lingkungan tempat tinggal
Musim, iklim, kehidupan sehari-hari dan status sosial ekonomi juga
mempengaruhi perkembangan seseorang.
B. Lansia
Beberapa faktor yang mempengaruhi tumbuh kembang orang lansia adalah
sebagai berikut:
1. Masalah keluarga.
2. Masalah interpersonal.
3. Penyakit.
4. Masalah sosial.

2.5 Jenis – jenis gangguan jiwa pada Dewasa dan lanjut usia.
1. Skizofernia
A. Definisi

Menurut Stuart (2006: 240 ) skizofrenia adalah suatu penyakit otak yang
serius yang mengakibatkan kesulitan dalam memproses informasi, hubungan
interpersonal, serta memcahkan masalah karena terganggunya fungsi otak yang
normal.
Skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan variasi penyebab
(banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada
pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya (Rusdi Maslim, 1997;
46).
B. Etiologi
Skizofrenia berpotensi untuk diturunkan melalui gen. namun tergantung
pada lingkungan Menurut Maramis (2009: 263) dikatakan bahwa ada yang
mempengaruhi penyebab terjadinya skizofrenia, antara lain yaitu :
a. Genetik
Individu tersebut apakah akan terjadi manifestasi skizofren atau tidak.
b. Neurokimia
Obat-obatan dapat mempengaruhi individu mengalami skizofen.
Kelebihan dopamine dapat sebagai faktor penyebab skizofrenia. Obat-obatan
yang meningkatkan aktivitas pada sistem dopaminergik seperti amfetamin
dapat menyebabkan reaksi psikotik yang sama dengan skizofrenia.
c. Hipotesis perkembangan saraf
Studi autopsy dan studi pencitraan otak memperlihatkan abnormal
struktur dan morfologi otak penderita skizofrenia yaitu berat otak rata-rata
lebih kecil, ukuran anterior-posterior lebih pendek, gangguan metabolik di
daerah frontal dan temporal, serta kelainan susunan seluler pada struktur saraf
bagian kortek dan sub kortek.

C. Manifestasi
Gejala - gejala umum yang dapat dilihat menurut Maramis (2009) :
a. Penampilan dan perilaku umumnya terlihat cuek tidak memperhatikan.
b. Gangguan berbicara, apabila diajak berkomunikasi maka kadang tidak bisa
sesuai kontek yang dibicarakan (inkoheren).
c. Gangguan perilaku, seperti gaduh gelisah, logorea, strereotipi.
d. Gangguan afek yaitu kedangkalan respon emosi seperti acuh tak acuh
terhadap orang lain dan lingkungan, sensitivitas emosi, parathimi yaitu
apabila seharusnya sesuatu itu membuat dia senang maka dia akan merasa
sebaliknya.
e. Gangguan persepsi, yaitu mengalami halusinasi
f. Gangguan proses pikir, yaitu mengalami waham
Menurut dari sumber lain yaitu menurut Direja (2011: 96) gejala-gejala
skizofrenia dibagi menjadi dua yaitu :
a. Gejala primer
1. Gangguan proses pikir, yang terlihat yaitu inkoherensi
2. Gangguan afek emosi
3. Emosi dan afek tidal berkesinambungan
4. Hilangnya kemmpuan untuk mengadakan hubungan emosi yang baik
5. Gangguan kemauan, yaitu merasa pikirannnya dipengaruhi orang lain,
keinginannya menurun
6. Gejala psikomotor yaitu logorea,katelepsi atau mempertahankan postur
tubuh untuk waktu yang cukup lama, autisme
b. Gejala Sekunder
1. Waham
2. Halusinasi

D. Klasifikasi
Kraepelin membagi Skizofrenia dalam beberapa jenis berdasarkan gejala
utama antara lain :
a. Skizofrenia Simplek
Sering timbul pertama kali pada usia pubertas, gejala utama berupa
kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses berfikir sukar
ditemukan, waham dan halusinasi jarang didapat, jenis ini timbulnya perlahan-
lahan.
b. Skizofrenia Hebefrenia
Permulaannya perlahan-lahan atau subakut dan sering timbul pada
masa remaja atau antaraa 15-25 tahun. Gejala yang menyolok ialah gangguan
proses berfikir, gangguan kemauaan dan adaanya depersenalisasi atau double
personality. Gangguan psikomotor seperti mannerism, neologisme atau
perilaku kekanak-kanakan sering terdapat, waham dan halusinaasi banyak
sekali.
c. Skizofrenia Katatonia
Timbulnya pertama kali umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta
sering didahului oleh stress emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah
katatonik atau stupor katatonik.
d. Skizofrenia Paranoid
Gejala yang menyolok ialah waham primer, disertai dengan waham-
waham sekunder dan halusinasi. Dengan pemeriksaan yang teliti ternyata
adanya gangguan proses berfikir, gangguan afek emosi dan kemauan.
e. Episode Skizofrenia akut
Gejala Skizofrenia timbul mendadak sekali dan pasien seperti dalam
keadaan mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul
perasaan seakan-akan dunia luar maupun dirinya sendiri berubah, semuanya
seakan-akan mempunyai suatu arti yang khusus baginya.
f. Skizofrenia Residual
Keadaan Skizofrenia dengan gejala primernya Bleuler, tetapi tidak
jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini timbul sesudah beberapa kali
serangan Skizofrenia.
g. Skizofrenia Skizo Afektif
Disamping gejala Skizofrenia terdapat menonjol secara bersamaaan
juga gejala-gejal depresi (skizo depresif) atau gejala mania (psiko-manik).
Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa defek, tetapi mungkin juga
timbul serangan lagi.
E. Terapi (Pengobatan) Skizofrenia
Ganguan jiwa skizofrenia adalah salah satu penyakit yang cenderung berlanjut
(kronis,menahun). Oleh karenanya terapi pada skizofrenia memerlukan waktu
relatif lama berbulan bahkan bertahun, hal ini dimaksudkan untuk menekansekecil
mungkin kekambuhan ( relapse ). Terapi yang dimaksud meliputiterapi dengan
obat-obatan anti Skizofrenia (psikofarmaka), psikoterapi, terapipsikososial dan
terapi psikorelegius (Hawari, 2003).
1. Psikofarmaka :
Jenis obat psikofarmaka dapat dibagi menjadi dua golongan yaitu :
1) Golongan generasi pertama / typical misalnya : Chlorpromazine HCL
(Largactil),Trifluoperazine HCL (Stelazine), Thioridazine HCL (Melleril),
Haloperidol (Haldol, Serenace).
2) Golongan generasi kedua / atypicalmisalnya : Risperidone (Risperdal),
Clozapine(Clozaril), Quetiapine (Serquel), Olanzapine (Zyprexa).
2. Psikoterapi
Terapi kejiwaan atau psikoterapi pada penderita skizofrenia, baru dapat
diberikan apabila penderita dengan terapi psikofarmaka sudah
mencapaitahapan di mana kemampuan menilai realitas (Reality Testing
Ability/RTA) sudah kembali pulih dan pemahaman diri ( insight) sudah baik.
Psikoterapi diberikan dengan catatan bahwa penderita masih tetap
mendapat terapi psikofarmaka.Psikoterapi diberikan tergantung dari
kebutuhan dan latar belakang penderita sebelumsakit (Pramorbid ), adapun
macam psikoterapi adalahsebagai berikut :
1) Psikoterapi Suportif, dimaksudkan untuk memberikan dorongan,
semangat danmotivasi agar penderita tidak putus asa dan semangat
juangnya ( fightingspirit ) dalam menghadapi hidup ini tidak kendur dan
menurun.
2) Psikoterapi Re-edukatif , dimaksudkan untuk memberikan pendidikan
ulang yangmaksudnya memperbaiki kesalahan pendidikan di waktu lalu.
3) Psikoterapi Re-konstruktif , dimaksudkan untuk memperbaiki kembali (re-
konstruksi) kepribadian yang telah mengalami keretakan menjadi pribadi
utuhseperti semula sebelum sakit.
4) Psikoterapi Kognitif , dimaksudkan untuk memulihkan kembali fungsi
kognitif (daya pikir dan daya ingat) rasional sehingga penderita mampu
membedakannilai-nilai moral etika, mana yang baik dan buruk.
5) Psikoterapi Psiko-dinamik, dimaksudkan untuk menganalisa dan
menguraikan prosesdinamika kejiwaan yang dapat menjelaskan seseorang
jatuh sakitdan upaya untuk mencari jalan keluarnya.
6) Psikoterapi Perilaku, dimaksudkan untuk memulihkan gangguan perilaku
yangterganggu (mall adaptif) menjadi perilaku yang adaptif (mampu
menyesuaikan diri).
7) Psikoterapi keluarga, dimaksudkan untuk memulihkan hubungan
penderita dengankeluarganya.
3. Terapi psikososial
Terapi psikososial dimaksudkan penderita agar mampu kembali
beradaptasi dengan lingkungan sosial sekitarnya dan mampu merawat diri,
mampumandiri tidak tergantung pada orang lain, sehingga tidak menjadi
beban bagi keluargadan masyarakat.
4. Terapi psikoreligius
Terapi keagamaan (psikoreligius ) terhadap penderita Skizofrenia
dimaksudkan gejala patologis dengan pola sentral keagamaan dapat
diluruskan,dengan demikian keyakinan atau keimanan penderita dapat
dipulihkan kembali di jalan yang benar.
F. Kriteria Sembuh Klien Skizofrenia
Menurut Handayani (2008), kriteria sembuh untuk klien skizofrenia dibagi
menjadi 2 (dua), yaitu :
1) Remisi (sembuh bebas gejala) menunjukkan klien, sebagai hasil terapi
medikasi terbebas dari gejala-gejla skizofrenia, tetapi tidak melihat apakah
kliendapat berfungsi atau tidak.
2) Recovery (sembuh tuntas), mencakup disamping terbebas dari gejala-
gejalahalusinasi, delusi dan lain-lain, klien juga dapat bekerja atau
belajarsesuai harapan keadaan klien dan masyarakat sekitar

2. Delirium
A. Definisi
Delerium merupakan Sindrom Otak Organik ( SOO ), yang ditandai dengan
fluktuasi kesadaran, apatis, somnolen, sopor, koma, sensitif, gangguan proses
berpikir. Konsentrasi pada lanjut usia akan mengalami kebingungan dan persepsi
halusinasi visual ( pada umumnya ). Psikomotor akan mengikuti gangguan
berpikir dan halusinasi.
Delirium adalah gangguan kognitif dan kesadaran dengan onset akut. Kata
delirium berasal dari bahasa Latin “de lira” yang berarti “keluar dari parit” atau
keluar dari jalurnya. Dalam karyanya (2), Engel dan Romano menyebut delirium
sebagai “suatu sindrom insufisiensi serebral”. Keduanya menganggap delirium
bsebagai sindrom terkait dengan insufisiensi organ lain : Ginjal, jantung, hepar
dan paru-paru. Sebagai perbandingan, Lipowsky dalam “Delirium : Acute Brain
Failure In Man”, mengemukakan bahwa berkurangnya kewaspadaan terhadap
lingkungan dapat diasosiasikan dengan gangguan memori, disorientasi, gangguan
bahasa dan gangguan kognitif tipe lainnya. Beragam pasien mempunyai
pengalaman disorientasi yang berbeda seperti salah identifikasi, ilusi, halusinasi,
dan waham. Dengan onset yang mendadak dan durasi yang pendek, delirium
terjadi dari jam sampai hari dan berfluktiatif. Kebiasaan pasien menunjukkan
variasi dengan adanya agitasi yang menonjol pada beberapa individu,
dan hipoaktif pada pasien lainnya, dan pada individu yang sama pun akan
menunjukkan variasi berbeda dari waktu ke waktu. Delirium harus dibedakan dari
demensia, kondisi kronis kemerosotan fungsi kognitif yang merupakan faktor
risiko terjadinya delirium.
Diagnostic Statisitical Manual of Mental Disorders (DSM-IV) mendefinisikan
delirium sebagai gangguan kesadaran dan perubahan kognitif yang terjai secara
cepat dalam waktu yang singkat (APA, 1994). Gejala awal delirium biasanya
muncul tiba-tiba dan durasinya singkat (misal 1 minggu, jarang lebih dari 1
bulan). Gangguan ini hilang sama sekali jika pasien pulih dari determinan
penyebab. Bila kondisi yang menyebabkan delirium menetap, delirium berubah
perlahan menjadi sindrom demensia atau berkembang menjadi koma. Kemudian
individu penderita mengalami pemulihan, menjadi vegetative kronis, atau
meninggal.

B. Etiologi
1. Faktor predisposisi
1) Demensia
2) Obat-obatan multiple
3) Umur lanjut
4) Kecelakaan otak seperti stroke, penyakit Parkinson
5) Gangguan penglihatan dan pendengaran
6) Ketidakmampuan fungsional
7) Hidup dalam institusi
8) Ketergantungan alcohol
9) Isolasi social
10) Kondisi ko-morbid multiple
11) Depresi
12) Riwayat delirium post-operative sebelumnya
2. Faktor presipitasi
1) Medikasi
2) Penyakit :
a) Infeksi.
b) Metabolik.
c) Kelainan SSP.
d) Perubahan lingkungan.
e) Penurunan rangsang sensoris.
f) Lainnya: bedah, syok, demam, hipotermia, anemia.
3. Faktor intrakranial
1) Epilepsi dan keadaan paska kejang
2) Trauma otak (terutama gegar otak)
3) Infeksi
a) Meningitis
b) Ensefalitis
4) Neoplasma
5) Gangguan vaskular
4. Faktor ekstrakranial
1) Obat-obatan (meggunakan atau putus obat)
a) Obat antikolinergik
b) Antikonvulsan
c) Obat antihipertensi
d) Obat antiparkinson
e) Obat antipsikosis
f) Glikosida jantung
g) Simetidin
h) Klonidin
i) Disulfiram
j) Insulin
k) Opiat
l) Fensiklidin
m) Fenitoin
n) Ranitidin
o) Salisilat
p) Sedatif (termasuk alkohol) dan hipnotik
q) Steroid
2) Racun
a) Karbon monoksida
b) Logam berat dan racun industri lain.
3) Disfungsi Endokrin (hipofungsi atau hiperfungsi)
a) Hipofisis
b) Pankreas
c) Adrenal
d) Paratiroid
e) Tiroid
4) Penyakit organ non endokron
a) Hati
a Ensefalopati hepatik
b) Ginjal dan saluran kemih
a. Ensefalopati uremikum
c) Paru
a. Narkosis karbon dioksida
b. Hipoksia
d) Sistem kardiovaskular
a. Gagal jantung
b. Aritmia
c. Hipotensi
e) Penyakit difesiansi
a. Tiamin, asam nikotinik, vit B12 atau asam folat
f) Infeksi sistemik dengan demam dan sepsis.
g) Ketidakseimbangan elektrolit dengan penyebab apapun
h) Keadaan pasca operatif
i) Trauma (kepala atau seluruh tubuh)

C. Manifestasi klinis
1) Gejala-gejala utama
1. Kesadaran berkabut
2. Hipersensitivitas terhadap cahaya dan suara
3. Kesulitan mempertahankan atau mengalihkan perhatian
4. Disorientasi
5. Ilusi
6. Halusinasi
7. Perubahan kesadaran yang berfluktuasi
2) Gejala neurologis
1. Disfasia
2. Disartria
3. Tremor
4. Asteriksis pada ensefalopati hepatikum dan uremia
5. Kelainan motorik

D. Klasifikasi
Klasifikasi Delirium berdasarkan DSM-IV :
1) Delirum akibat masalah medis umum
Masalah medis tertentu, seperti infeksi sistemik, gangguan metabolic,
ketidakseimbangan cairan dan elektrolit, penyakit hati atau ginjal, ensefalopati,
dan trauma kepala dapat menyebabkan gejala delirium.
2) Delirium akibat zat
Gejala delirium dapat disebabkan pajanan terhadap toksin atau ingesti obat,
seperti anti konvulsan, neuroleptik, ansiolitik, anti depresan, obat
kardiovaskular, anti neoplastik, dan hormone.
3) Delirium akibat intoksikasi zat
Gejala delirium dapat terjadi sebagai respons terhadap konsumsi
kanabis,kokain, halusinogen, alcohol, ansiolitik atau narkotik dalam dosis
tinggi.
4) Delirium akibat putus zat
Pengurangan atau penghentian penggunaan zat jangka panjang dan dosis tiggi
zat tertentu, seperti alcohol, sedative, hipnotik, atau ansiolitik, dapat
menyebabkan delirium akibat putus zat.
5) Delirium akibat etiologi multiple
Gejala delirium dapat berhubungan dengan lebih dari satu masalah medis
umum atau pengaruh kombinasi masalah medis umum dan penggunaan zat.
Selain klasifikasi di atas, delirium juga dapat dibagi menjadi sub tipe
hiperaktif dan hipoaktif, tergantung dari aktivitas psikomotornya. Keduanya
dapat terjadi bersamaan pada satu individu.
1. Delirium hiperaktif
Delirium hiperaktif merupakan delirium yang paling sering terjadi.
Pada pasien terjadi agitasi, psikosis, labilitas mood, penolakan untuk
terapi medis, dan tindakan dispruptif lainnya. Kadang diperlukan
pengawas karena pasien mungkin mencabut selang infus atau kathether,
atau mencoba pergi dari tempat tidur. Pasien delirium karena intoksikasi,
obat antikolinergik, dan alkohol withdrawal biasanya menunjukkan
perilaku tersebut. Delirium hiperaktif juga didapatkan pada pasien dengan
gejala putus substansi antara lain; alkohol, amfetamin, lysergic acid,
diethylamide atau LSD.
2. Delirium hipoaktif
Adalah bentuk delirium yang paling sering, tapi sedikit dikenali oleh
para klinisi. Pasien tampak bingung, lethargia, dan malas. Hal itu mungkin
sulit dibedakan dengan keadaan fatigue dan somnolen, bedanya pasien
akan dengan mudah dibangunkan dan dalam berada dalam tingkat
kesadaran yang normal. Rangsang yang kuat diperlukan untuk
membangunkan , biasanya bangun tidak komplet dan transient. Penyakit
yang mendasari adalah metabolit dan enchepalopati.

E. Terapi (pengobatan)
Tujuan utama adalah mengobati gangguan dasar yang menyebabkan delirium.
Tujuan pengobatan yang penting lainnya adalah memberikan bantuan fisik,
sensorik, dan lingkungan. Dua gejala utama dari delirium yang mungkin
memerlukan pengobatan farmakologis adalah psikosis dan insomnia. Obat yang
terpilih untuk psikosis adalah haloperidol ( Haldol ), suatu obat antipsikotik
golongan butirofenon, dosis awal antara 2 - 10 mg IM, diulang dalam satu jam
jika pasien tetap teragitasi, segera setelah pasien tenang, medikasi oral dalam
cairan konsentrat atau bentuk tablet dapat dimulai, dosis oral kira – kira 1,5 kali
lebih tinggi dibandingkan dosis parenteral. Dosis harian efektif total haloperidol 5
- 50 mg untuk sebagian besar pasien delirium. Droperidol (Inapsine) adalah suatu
butirofenon yang tersedia sebagai suatu formula intravena alternatif, monitoring
EKG sangat penting pada pengobatan ini. Insomnia diobati dengan golongan
benzodiazepin dengan waktu paruh pendek, contohnya, hidroksizine (Vistaril)
dosis 25 - 100 mg.
Selain itu penatalaksanaan lain dari pasien dengan delirium yaitu:
a. Pengobatan etiologik harus sedini mungkin dan di samping faal otak dibantu
agar tidak terjadi kerusakan otak yang menetap.
b. Peredaran darah harus diperhatikan (nadi, jantung dan tekanan darah), bila
perlu diberi stimulansia.
c. Pemberian cairan harus cukup, sebab tidak jarang terjadi dehidrasi. Hati-hati
dengan sedativa dan narkotika (barbiturat, morfin) sebab kadang-kadang tidak
menolong, tetapi dapat menimbulkan efek paradoksal, yaitu klien tidak
menjadi tenang, tetapi bertambah gelisah.
d. Klien harus dijaga terus, lebih-lebih bila ia sangat gelisah, sebab berbahaya
untuk dirinya sendiri (jatuh, lari dan loncat keluar dari jendela dan sebagainya)
ataupun untuk orang lain.
e. Dicoba menenangkan klien dengan kata-kata (biarpun kesadarannya menurun)
atau dengan kompres es. Klien mungkin lebih tenang bila ia dapat melihat
orang atau barang yang ia kenal dari rumah. Sebaiknya kamar jangan terlalu
gelap , klien tidak tahan terlalu diisolasi.
f. Terdapat gejala psikiatrik bila sangat mengganggu dapat diberikan neroleptika,
terutama yang mempunyai dosis efektif tinggi.
Penatalaksanaan Klinis
Pertama, kondisi medis diperbaiki seoptimal mungkin. Sampai kondisi
baik, pemantauan harus tetap dilakukan untuk mempertahankan kesehatan dan
keselamatan pasien, termasuk observasi rutin, perawatan konsisten,
menenangkan dengan penjelasan sederhana secara berulang. Mengurangi
ketegangan jiwa diperlukan oleh pasien dengan agitasi tinggi meskipun
pengalaman menunjukkan bahwa pada beberapa pasien cenderung mengalami
peningkatan agitasi. Rangsangan eksternal diperkecil. Karena 16 bayangan
atau kegelapan mungkin menakuti mereka.
Pasien delirium sangat sensitif terhadap efek samping obat, jadi
pengobatan yang tidak perlu harus dihentikan termasuk golongan hipnotik-
sedatif (contoh benzodiazepin). Pasien dengan agitasi tinggi ditenangkan
dengan dosis rendah obat antipsikotik potensi tinggi (contoh : haloperidol,
thiothixene). Obat dengan efek antikolinergik seperti klorpomazine, tioridazin
di hindari karena dapat memperburuk atau memperpanjang delirium.
Kenyataannya, tingkat antikolinergik plasma yang memicu delirium
ditemukan pada pasien-pasien bedah. Bila sedasi diperlukan gunakan dosis
rendah benzodiazepin dengan kerja singkat seperti oxazepam, lorazepam.

3. Halusinasi
A. Definisi
Halusinasi merupakan gangguan atau perubahan persepsi dimana klien
mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi. Suatu penerapan panca
indra tanpa ada rangsangan dari luar. Suatu penghayatan yang dialami suatu
persepsi melalui panca indra tanpa stimulus eksteren/ persepsi palsu (Maramis,
2005). Halusinasi adalah kesan, respon dan pengalaman sensori yang salah
(Stuart, 2007).

B. Etiologi
a. Faktor Predisposisi
Menurut Stuart (2007), faktor penyebab terjadinya halusinasi adalah :
1) Biologis
Abnormalitas perkembangan sistem saraf yang berhubungan dengan
respon neurobiologis yang maladaptif baru mulai dipahami. Ini
ditunjukkan oleh penelitian-penelitian yang berikut :
a) Penelitian pencitraan otak sudah menunjukkan keterlibatan otak yang
lebih luas dalam perkembangan skizofrenia. Lesi pada daerah frontal,
temporal dan limbik berhubungan dengan perilaku psikotik.
b) Beberapa zat kimia di otak seperti dopamin neurotransmitter yang
berlebihan dan masalah-masalah pada system reseptor dopamin
dikaitkan dengan terjadinya skizofrenia.
c) Pembesaran ventrikel dan penurunan massa kortikal menunjukkan
terjadinya atropi yang signifikan pada otak manusia. Pada anatomi otak
klien dengan skizofrenia kronis, ditemukan pelebaran lateral ventrikel,
atropi korteks bagian depan dan atropi otak kecil (cerebellum). Temuan
kelainan anatomi otak tersebut didukung oleh otopsi (post-mortem).
2) Psikologis
Keluarga, pengasuh dan lingkungan klien sangat mempengaruhi respon
dan kondisi psikologis klien. Salah satu sikap atau keadaan yang dapat
mempengaruhi gangguan orientasi realitas adalah penolakan atau tindakan
kekerasan dalam rentang hidup klien.
3) Sosial budaya
Kondisi sosial budaya mempengaruhi gangguan orientasi realita
seperti: kemiskinan, konflik sosial budaya (perang, kerusuhan, bencana
alam) dan kehidupan yang terisolasi disertai stress.
b. Faktor Presipitasi
Menurut Stuart (2007), faktor presipitasi terjadinya gangguan
halusinasi adalah :
1) Biologis
Gangguan dalam komunikasi dan putaran balik otak, yang mengatur
proses informasi serta abnormalitas pada mekanisme pintu masuk dalam
otak yang mengakibatkan ketidakmampuan untuk secara selektif
menanggapi stimulus yang diterima oleh otak untuk diinterpretasikan.
2) Stress lingkungan
Ambang toleransi terhadap stress yang berinteraksi terhadap stressor
lingkungan untuk menentukan terjadinya gangguan perilaku.
3) Sumber koping
Sumber koping mempengaruhi respon individu dalam menanggapi
stressor.

C. Manifestasi klinis dan klasifikasi


Pasien dengan halusinasi cenderung menarik diri, sering didapatkan duduk
terpaku dengan pandangan mata pada satu arah tertentu, tersenyum atau berbicara
sendiri, secara tiba-tiba marah atau menyerang orang lain, gelisah, melakukan
gerakan seperti sedang menikmati sesuatu. Juga keterangan dari pasien sendiri
tentang halusinasi yang dialaminya (apa yang dilihat, didengar atau dirasakan).
Berikut ini merupakan gejala klinis berdasarkan halusinasi (Budi A, 2010) :
a. Tahap 1: halusinasi bersifat tidak menyenangkan
Gejala klinis :
1) Menyeriangai/tertawa tidak sesuai
2) Menggerakkan bibir tanpa bicara
3) Gerakan mata cepat
4) Bicara lambat
5) Diam dan pikiran dipenuhi sesuatu yang mengasikkan
b. Tahap 2: halusinasi bersifat menjijikkan
Gejala klinis :
1) Cemas
2) Konsentrasi menurun
3) Ketidakmampuan membedakan nyata dan tidak nyata
c. Tahap 3: halusinasi bersifat mengendalikan
Gejala klinis :
1) Cenderung mengikuti halusinasi
2) Kesulitan berhubungan dengan orang lain
3) Perhatian atau konsentrasi menurun dan cepat berubah
4) Kecemasan berat (berkeringat, gemetar, tidak mampu mengikuti petunjuk)
d. Tahap 4: halusinasi bersifat menaklukkan
Gejala klinis :
1) Pasien mengikuti halusinasi
2) Tidak mampu mengendalikan diri
3) Tidak mamapu mengikuti perintah nyata
4) Beresiko mencederai diri, orang lain dan lingkungan

D. Terapi (pengobatan)
Penatalaksanaan pada pasien halusinasi dengan cara :
a. Menciptakan lingkungan yang terapeutik
Untuk mengurangi tingkat kecemasan, kepanikan dan ketakutan pasien
akibat halusinasi, sebaiknya pada permulaan pendekatan di lakukan secara
individual dan usahakan agar terjadi knntak mata, kalau bisa pasien di sentuh
atau di pegang. Pasien jangan di isolasi baik secara fisik atau emosional.
Setiap perawat masuk ke kamar atau mendekati pasien, bicaralah dengan
pasien. Begitu juga bila akan meninggalkannya hendaknya pasien di beritahu.
Pasien di beritahu tindakan yang akan di lakukan.
Di ruangan itu hendaknya di sediakan sarana yang dapat merangsang
perhatian dan mendorong pasien untuk berhubungan dengan realitas, misalnya
jam dinding, gambar atau hiasan dinding, majalah dan permainan.
b. Melaksanakan program terapi dokter
Sering kali pasien menolak obat yang di berikan sehubungan dengan
rangsangan halusinasi yang di terimanya. Pendekatan sebaiknya secara
persuatif tapi instruktif. Perawat harus mengamati agar obat yang di berikan
betul di telannya, serta reaksi obat yang di berikan.
c. Menggali permasalahan pasien dan membantu mengatasi masalah yang ada
Setelah pasien lebih kooperatif dan komunikatif, perawat dapat
menggali masalah pasien yang merupakan penyebab timbulnya halusinasi
serta membantu mengatasi masalah yang ada. Pengumpulan data ini juga dapat
melalui keterangan keluarga pasien atau orang lain yang dekat dengan pasien.
d. Memberi aktivitas pada pasien
Pasien di ajak mengaktifkan diri untuk melakukan gerakan fisik,
misalnya berolah raga, bermain atau melakukan kegiatan. Kegiatan ini dapat
membantu mengarahkan pasien ke kehidupan nyata dan memupuk hubungan
dengan orang lain. Pasien di ajak menyusun jadwal kegiatan dan memilih
kegiatan yang sesuai.
e. Melibatkan keluarga dan petugas lain dalam proses perawatan
Keluarga pasien dan petugas lain sebaiknya di beritahu tentang data
pasien agar ada kesatuan pendapat dan kesinambungan dalam proses
keperawatan, misalny dari percakapan dengan pasien di ketahui bila sedang
sendirian ia sering mendengar laki-laki yang mengejek. Tapi bila ada orang
lain di dekatnya suara-suara itu tidak terdengar jelas. Perawat menyarankan
agar pasien jangan menyendiri dan menyibukkan diri dalam permainan atau
aktivitas yang ada.

4. Abuse (Sikap kekerasan)


A. Definisi
Kekerasan berarti penganiayaan, penyiksaan, atau perlakuan salah.
Menurut WHO (dalam Bagong. S, dkk, 2000), kekerasan adalah penggunaan
kekuatan fisik dan kekuasaan,ancaman atau tindakan terhadap diri sendiri,
perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang mengakibatkan atau
kemungkinan besar mengakibatkan memar/trauma,kematian, kerugian psikologis,
kelainan perkembangan atau perampasan hak.Awal mulanya istilah tindak
kekerasan pada anak atau child abuse dan neglect dikenal dari dunia kedokteran.
Sekitar tahun 1946, Caffey-seorang radiologist melaporkan kasus cedera yang
berupa gejala-gejala klinik seperti patah tulang panjang yang majemuk (multiple
fractures) pada anak-anak atau bayi disertai pendarahan subdural tanpa
mengetahui sebabnya (unrecognized trauma).
Dalam dunia kedokteran, istilah ini dikenal dengan istilah Caffey Syndrome
(Ranuh, 1999).Barker (dalam Huraerah, 2007) mendefinisikan child abuse
merupakan tindakan melukai beulang-ulang secara fisik dan emosional terhadap
anak yang ketergantungan, melalui desakan hasrat, hukuman badan yang tak
terkendali, degradasi dan cemoohan permanen atau kekerasan seksual. Kekerasan
seksual merupakan bentuk kontak seksual atau bentuk lain yang tidak diinginkan
secara seksual. Kekerasan seksual biasanya disertai dengan tekanan psikologis
atau fisik (O’Barnett et al., dalam Matlin, 2008). Perkosaan merupakan jenis
kekerasan seksual yang spesifik. Perkosaan dapat didefiniskan sebagai penetrasi
seksual tanpa izin atau dengan paksaan, disertai oleh kekerasan fisik (Tobach,dkk
dalam Matlin, 2008)

B. Etiologi
Gelles Richard.J (1982) mengemukakan bahwa kekerasan terhadap anak
(child abuse) terjadi akibat kombinasi dari berbagai faktor, yaitu:
a. Pewarisan Kekerasan Antar Generasi (intergenerational transmission of
violance.
Banyak anak belajar perilaku kekerasan dari orangtuanya dan ketika
tumbuh menjadi dewasa mereka melakuakan tindakan kekerasan kepada
anaknya. Dengan demikian, perilaku kekerasan diwarisi (transmitted) dari
generasi ke generasi. Studi-studi menunjukkan bahwa lebih kurang 30%
anak-anak yang diperlakukan dengan kekerasan menjadi orangtua yang
bertindak keras kepada anak-anaknya. Sementara itu, hanya 2 sampai 3
persen dari semua individu menjadi orangtua yang memperlakukan
kekerasan kepada anak-anaknya. Anak-anak yang mengalami perlakuan
salah dan kekerasan mungkin menerima perilaku ini sebagai model perilaku
mereka sendiri sebagai orangtua. Tetapi, sebagian besar anak-anak yang
diperlakukan dengan kekerasan tidak menjadi orang dewasa yang
memperlakukan kekerasan kepada anak-anaknya.
b. Stres Sosial (social stress)
Stres yang ditimbulkan oleh berbagai kondisi sosial meningkatkan
risiko kekerasan terhadap anak dalam keluarga. Kondisi-kondisi sosial ini
mencakup: pengangguran (unemployment), penyakit (illness), kondisi
perumahan buruk (poor housing conditions), ukuran keluarga besar dari rata-
rata (a larger than average family size), kelahiran bayi baru (the presence of a
new baby), orang cacat (disabled person) di rumah, dan kematian (the death)
seorang anggota keluarga. Sebagian besar kasus dilaporkan tentang tindakan
kekerasan terhadap anak berasal dari keluarga yang hidup dalam kemiskinan.
Tindakan kekerasan terhadap anak juga terjadi dalam keluarga kelas
menengah dan kaya, tetapi tindakan yang dilaporkan lebih banyak di antara
keluarga miskin karena beberapa alasan.
c. Isolasi Sosial dan Keterlibatan Masyarakat Bawah
Orangtua dan pengganti orangtua yang melakukan tindakan kekerasan
terhadap anak cenderung terisolasi secara sosial. Sedikit sekali orangtua yang
bertindak keras ikut serta dalam suatu organisasi masyarakat dan kebanyakan
mempunyai hubungan yang sedikit dengan teman atau kerabat.
d. Struktur Keluarga
e. Tipe-tipe keluarga tertentu memiliki risiko yang meningkat untuk melakukan
tindakan kekerasan dan pengabaian kepada anak. Misalnya, orangtua tunggal
lebih memungkinkan melakukan tindakan kekerasan terhadap anak
dibandingkan dengan orangtua utuh. Selain itu, keluarga-keluarga di mana
baik suami atau istri mendominasi di dalam membuat keputusan penting,
seperti: di mana bertempat tinggal, pekerjaan apa yang mau diambil,
bilamana mempunyai anak, dan beberapa keputusan lainnya, mempunyai
tingkat kekerasan terhadap anak yang lebih tinggi dibandingkan dengan
keluarga-keluarga yang suami-istri sama-sama bertanggung jawab atas
keputusan-keputusan tersebut.
a. Faktor Predisposisi
1) Psikologis
Kegagalan yang dialami dapat menimbulkan frustasi yang kemudian
dapat timbul agresif atau perilaku kekerasan,contohnya : pada masa anak-
anak yang mendapat perilaku kekerasan cenderung saat dewasa menjadi
pelaku perilaku kekerasan.
2) Perilaku
Kekerasan didapat pada saat setiap melakukan sesuatu maka kekerasan
yang diterima sehingga secara tidak langsung hal tersebut akan diadopsi dan
dijadikan perilaku yang wajar.
3) Sosial budaya
Budaya yang pasif – agresif dan kontrol sosial yang tidak pasti
terhadap pelaku kekerasan akan menciptakan seolah-olah kekerasan adalah
hal yang wajar.
4) Bioneurologis
Beberapa berpendapat bahwa kerusaka pada sistem limbik, lobus
frontal, lobus temporal, dan ketidakseimbangan neurotransmitter ikut
menyumbang terjadi perilaku kekerasan.
b. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor yang dapat mencetuskan perilaku kekerasan sering kali berkaitan
dengan (Yosep, 2009):
1) Ekspresi diri, ingin menunjukkan eksistensi diri atau simbol solidaritas
seperti dalam sebuah konser, penonton sepak bola, geng sekolah, perkelahian
masal dan sebagainya.
2) Ekspresi dari tidak terpenuhinya kebutuhan dasar dan kondisi sosial
ekonomi.
3) Kesulitan dalam mengkomunikasikan sesuatu dalam keluarga serta tidak
membiasakan dialog untuk memecahkan masalah cenderung melalukan
kekerasan dalam menyelesaikan konflik.
4) Ketidaksiapan seorang ibu dalam merawat anaknya dan ketidakmampuan
dirinya sebagai seorang yang dewasa.
5) Adanya riwayat perilaku anti sosial meliputi penyalahgunaan obat dan
alkoholisme dan tidak mampu mengontrol emosinya pada saat menghadapi
rasa frustasi.
6) Kematian anggota keluarga yang terpenting, kehilangan pekerjaan,
perubahan tahap perkembangan, atau perubahan tahap perkembangan
keluarga.

C. Manifestasi klinis
Seringkali memiliki tanda – tanda fisik akibat penganiayaan, dan setelah
jangka waktu tertentu dapat terlihat tanda – tanda perilaku dan psikologis. Seperti
pada tabel di bawah ini :

Korban anak – anak Wanita yang dianiaya Korban lansia


Penganiayaan fisik : Penganiayaan fisik : Penganiayaan fisik :
a) Perkembangan a) Cedera kepala, a) Kurang gizi atau
terhambat leher dan bahu dehidrasi
b) Memar, bilur b) Mata memar b) Bau feses atau urine
c) Terkilir, c) Cedera selama c) Kotoran, kutu
dislokasi, fraktur kehamilan hewan, kutu rambut
d) Luka bakar d) Terkilir, dislokasi, pada orang tersebut
akibat rokok fraktur d) Dekubitus, luka,
e) Luka bakar e) Memar, bilur ruam pada kulit
akibat cairan f) Bekas luka e) Memar, lecet,
f) Panas/api, berbentuk benda fraktur
terutama yang yang digunakan f) Hematoma, bekas
berbentuk seperti untuk mencederai cengkraman pada
kaos kaki atau g) Berulang kali lengan
sarung tangan berkunjung ke g) Berbagai cedera
akibat dicelup ke fasilitas layanan pada tahap
dalam cairan kesehatan, terutama penyembuhan
panas UGD
g) Cedera internal h) Keluhan nyeri
h) Cedera dalam tanpa cedera ringan
berbagai tahap i) Berbagai cedera
penyembuhan dalam berbagai
i) Shaken baby tahap penyembuhan
syndrome (mis.
Perdarahan
intrakranial dan
intraokular tanpa
trauma yang
jelas)
j) Kotoran, kutu
hewan, kutu
rambut pada
anak.
Penganiayaan seksual: Penganiayaan seksual : Penganiayaan seksual :
a) Eneuriesis a) Eneuriesis a) Eneuriesis
b) Labia dan b) Labia dan b) Labia dan
rektum merah rektum merah rektum merah
dan bengkak dan bengkak dan bengkak
c) Vagina sobek c) Vagina sobek c) Vagina sobek
d) Penyakit d) Penyakit d) Penyakit
menular seksual menular seksual menular seksual
e) Infeksi urinaria e) Infeksi urinaria e) Infeksi urinaria
kronis kronis kronis
f) Refleks gag f) Refleks gag f) Refleks gag
hiperaktif hiperaktif hiperaktif

Yosep (2009) mengemukakan bahwa tanda dan gejala perilaku kekerasan


adalah sebagai berikut:
a. Fisik
a. Muka merah dan tegang
b. Mata melotot/ pandangan tajam
c. Tangan mengepal
d. Rahang mengatup
e. Postur tubuh kaku
b. Verbal
a. Bicara kasar
b. Suara tinggi, membentak atau berteriak
c. Mengancam secara verbal atau fisik
d. Mengumpat dengan kata-kata kotor
e. Suara keras
c. Perilaku
a. Melempar atau memukul benda/orang lain
b. Menyerang orang lain
c. Melukai diri sendiri/orang lain
d. Merusak lingkungan
e. Amuk/agresif
d. Emosi
a Tidak adekuat
b Tidak aman dan nyaman
c Rasa terganggu, dendam dan jengkel
d Tidak berdaya
e Bermusuhan
e. Intelektual
Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan, sarkasme.
f. Spiritual
Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, mengkritik pendapat orang lain,
menyinggung perasaan orang lain, tidak perduli dan kasar.
g. Sosial
Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan, sindiran.
h. Perhatian
Bolos, mencuri, melarikan diri, penyimpangan seksual.

D. Terapi (pengobatan)
a. Farmakologi
1) Obat anti psikosis : Phenotizin
2) Obat anti depresi : Amitriptyline
3) Obat anti ansietas : Diazepam, Bromozepam, Clobozam
4) Obat anti insomnia : Phneobarbital
b. Terapi Modalitas
1) Terapi keluarga
Berfokus pada keluarga dimana keluarga membantu mengatasi
masalah klien dengan memberikan perhatian :
a) BHSP
b) Jangan memancing emosi klien
c) Libatkan klien dalam kegiatan yang berhubungan dengan keluarga
d) Beri kesempatan pasien mengemukakan pendapat
e) Dengarkan, bantu, dan anjurkan pasien untuk mengemukakan masalah
yang dialami
2) Terapi kelompok
Berfokus pada dukungan dan perkembangan, keterampilan social atau
aktivitas lain dengan berdiskusi dan bermain untuk mengembalikan kesadaran
klien karena masalah sebagian orang merupakan perasaan dan tingkah laku
pada orang lain.
3) Terapi musik
Dengan musik klien terhibur, rilek dan bermain untuk mengembalikan
kesadaran klien.
5. Psikosa (waham)
A. Definisi
Waham adalah keyakinan seseorang yang berdasarkan penilaian realitas
yang salah. Keyakinan klien tidak konsisten dengan tingkat intelektual dan latar
belakang budaya klien (Aziz, 2003).

Waham adalah gangguan isi pikir yang ditandai dengan keyakinan tentang
diri dan lingkungan yang menyimpang dan dipertahankan secara kuat (Yudhi dkk,
2011).
Waham adalah gangguan psikotik yang kronik, pada orang yang
mengalaminya tidak dapat menilai realitas dengan baik dan pemahaman diri buruk
(Kaplan dan Sadock, 1997).
Waham menurut Maramis (1998), Keliat (1998) dan Ramdi (2000)
menyatakan bahwa itu merupakan suatu keyakinan tentang isi pikiran yang tidak
sesuai dengan kenyataan atau tidak cocok dengan intelegensia dan latar belakang
kebudayaannya, keyakinan tersebut dipertahankan secara kokoh dan tidak dapat
diubah-ubah. Mayer-Gross dalam Maramis (1998) membagi waham dalam 2
kelompok, yaitu primer dan sekunder. Waham primer timbul secara tidak logis,
tanpa penyebab dari luar. Sedangkan waham sekunder biasanya logis
kedengarannya, dapat diikuti dan merupakan cara untuk menerangkan gejala-
gejala skizofrenia lain, waham dinamakan menurut isinya, salah satunya adalah
waham kebesaran. Waham adalah keyakinan dan gangguan isi pikir berdasarkan
realitas yang salah.

B. Etiologi
Penyebab secara umum dari waham adalah gangguan konsep diri : harga
diri rendah. Harga diri rendah dimanifestasikan dengan perasaan yang negatif
terhadap diri sendiri, termasuk hilangnya percaya diri dan harga diri, merasa gagal
mencapai keinginan.

1. Akibat
Akibat dari waham klien dapat mengalami beresiko mencederai diri, orang lain
dan lingkungan yang ditandai dengan :
a. Muka merah
b. Pandangan tajam
c. Otot tegang
d. Nada suara tinggi
e. Berdebat
f. Klien memaksakan kehendak: merampas makanan
g. Memukul jika tidak senang

C. Manifestasi klinis
Manifestasi klinik waham yaitu berupa :
1. Klien mengungkapkan sesuatu yang diyakininya ( tentang agama,
kebesaran, kecurigaan, keadaan dirinya ) berulang kali secara berlebihan
tetapi tidak sesuai kenyataan.
2. Klien tampak tidak mempunyai orang lain, curiga, bermusuhan, merusak
(diri, orang lain, lingkungan), takut, kadang panik, sangat waspada, tidak
tepat menilai lingkungan / realitas, ekspresi wajah tegang, mudah
tersinggung.

D. Klasifikasi
Menurut kaplan dan sadock (1997), tipe-tipe waham antara lain:
1. Tipe Eritomatik
Klien dicintai mati-matian oleh orang lain, biasanya orang yang sangat
terkenal, seperti artis, pejabat, atau atasanya. Klien biasanya hidup
terisolasi, menarik diri, hidup sendirian dan bekerja dalam pekerjaan yang
sederhana.
2. Tipe kebesaran (magalomania)
Keyakinan bahwa seseorang memiliki bakat, kemampuan, wawasan yang
luar biasa, tetapi tidak dapat diketahui
3. Waham cemburu
Cemburu terhadap pasanganya. Tipe ini jarang ditemukan (0,2%) dari
pasien psikiatrik. Onset sering mendadak, dan hilang setelah perpisahan/
kematian pasangan. Tipe ini menyebapkan penyiksaan hebat dan fisik
yang bermakna terhadap pasangan, dan kemungkinan dapat membunuh
pasangan, oleh karena delusinya.
4. Waham kejar
Keyakinan merasa dirinya dikejar-kejar, diikuti oleh orang lain. Tipe ini
paling sering ditemukan pada gangguan jiwa. Dapat berbentuk sederhana,
ataupun terperinci, dan biasanya berupa tema yang berhubungan difitnah
secara kejam, diusik, dihalang-halangi, diracuni, atau dihalangi dalam
mengejar tujuan jangka panjang.
5. Waham tipe somatik (psikosis hipokondrial monosimptomatik)
Perbedaan dengan hipokondrial adalah pada derajat keyakinan yang
dimiliki klien. Menetapnya waham somatik yang tidak kacau tanpa
adanya gejala psikotik lainya menyatakan gangguan delosional/ waham
tipe somatik.
6. Waham Nihilistik
Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal, diucapkan
berulangkali tetapi tidak sesuai kenyataan.
7. Sisip Pikir
Percaya ada pikiran orang lain yang masuk dalam pikirannya.
8. Kontrol Pikir
Merasa perilakunya dikendalikan oleh pikiran orang lain.
9. Siar Pikir
Percaya bahwa pikirannya disiarkan ke dunia luar. Pernah lihat orang gila
berorasi seakan-akan dia berada di tengah keramaian dan omongannya di
dengar oleh semua orang. Waham siar pikir inilah yang diderita pasien
tersebut.

E. Terapi (pengobatan)/ penatalaksanaan

1) Klien dapat membina hubungan saling percaya


Tindakan :
a) Bina hubungan saling percaya : salam terapeutik, perkenalan diri,
jelaskan tujuan interaksi, ciptakan lingkungan yang tenang, buat
kontrak yang jelas (waktu, tempat dan topik pembicaraan)
b) Beri kesempatan pada klien untuk mengungkapkan perasaannya
c) Sediakan waktu untuk mendengarkan klien
d) Katakan kepada klien bahwa dirinya adalah seseorang yang
berharga dan bertanggung jawab serta mampu menolong dirinya
sendiri.
2) Klien dapat berhubungan dengan realitas
Tindakan :
a) Berbicara dengan klien dalam konteks realitas (diri, orang lain,
tempat dan waktu).
b) Sertakan klien dalam terapi aktivitas kelompok : orientasi realitas.
c) Berikan pujian pada tiap kegiatan positif yang dilakukan klien
3) Klien dapat mengidentifikasikan kebutuhan yang tidak terpenuhi
Tindakan :
a) Observasi kebutuhan klien sehari-hari.
b) Diskusikan kebutuhan klien yang tidak terpenuhi baik selama di
rumah maupun di rumah sakit (rasa sakit, cemas, marah).
c) Hubungkan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan timbulnya waham.
d) Tingkatkan aktivitas yang dapat memenuhi kebutuhan klien dan
memerlukan waktu dan tenaga (buat jadwal jika mungkin).
e) Atur situasi agar klien tidak mempunyai waktu untuk
menggunakan wahamnya.
4) Klien dapat melakukan kegiatan sesuai kondisi dan kemampuan
Tindakan :
a) Beri kesempatan mencoba kegiatan yang telah direncanakan
b) Beri pujian atas keberhasilan klien
c) Diskusikan kemungkinan pelaksanaan di rumah
5) Klien dapat memasukan kegiatan dalam jadwal harian
Tindakan :
a) Diskusikan kegiatan yang dimiliki pasien
b) Hindari memberi penilaian negatif setiap bertemu klien, utamakan
memberi pujian yang realistis
c) Klien dapat membuat jadwal kegiatan harian.
F. Strategi pelaksanaan
1. Strategi Pelaksanaan
1. Fase Orientasi
Selamat pagi pak,,??? Masih ingat dengan saya??,,lupa,,baik perkenalkan yaa
pak nama saya perawat XY biasanya di panggil X saya bertugas di sini dari
jam 07.00 sampai jam 14.00 siang nanti. Dengan pak M ya??,,biasanya suka
di panggil dengan sebutan apa??? Wach,,,bagus sekali yach,,, Bagaimana
perasaan bapak hari ini,,??sudah makan belum??tadi makan dengan lauk
apa??? bapak kelihatan gagah sekali ya pagi ini,,, Baik pak,,sesuai dengan
kontrak kita kemarin yaa pak,,,hari ini kita bertemu jam 09.00, waktunya ±
15 menit, di taman ini untuk membahas kemampuan-kemampuan yang di
miliki oleh bapak yaa,,,
2. Fase Kerja
Baik pak, sekarang bapak bisa menceritakan kepada saya, kemampuan-
kemampuan apa saja yang bisa bapak lakukan..??? saya bisa mengepel,
menyapu, menggambar, mencuci baju, merapikan tempat tidur sendiri, Wah
hebat sekali. Selain itu apa lagi pak. Bagus sekali ternyata bapak pandai
mengukir yaaa,,,

3. Fase Terminasi
Bagaimana perasaan bapak setelah kita berbincang-bincang tadi?? Bapak
bisa menyebutkan kembali kemampuan-kemampuan apa yang bapak
miliki??? Wach,,,hebat sekali bapak bisa menyebutkan kembali kemampuan-
kemampuan yang bapak miliki. Saya,,senang sekali hari ini bisa mengobrol
dengan bapak,,bagaimana kalau besok kita ketemu lagi..????yaa,,,mau,,baik
pak besok kita ketemu jam berapa pak.?? waktunya berapa menit??
tempatnya dimana??baik pak,,besok kita ketemu lagi yaa pak jam 09.00
waktunya ± 15 menit di taman yaa pak,,besok kita akan membahas
kebutuhan-kebutuhan yang tidak terpenuhi selama bapak si sini dan bapak
bisa mengingat kembali kemampuan apa yang bapak miliki dan bisa di
sampaikan besok,,, Sebelum kita bertemu tadi bapak sedang melakukan
aktifitas apa??baik,,,bapak bisa melanjutkan kembali aktifitas yang tadi
sedang bapak lakukan. Selamat beraktifitas yaa pak,,selamat siang......
6. Ansietas
A. Definisi
Ansietas merupakan keadaan ketika individu atau kelompok mengalami
perasaan gelisah (penilaian atau opini) dan aktivasi sistem saraf autonom dalam
berespons terhadap ancaman yang tidak jelas, nonspesifik (Carpenito, 2007).
Ansietas dapat diartikan sebagai suatu keresahan, perasaan ketidaknyamanan
yang tidak mudah disertai respon otonomis individu, perasaan khawatir yang
disebabkan oleh perasaan antisipasi terhadap bahaya (Wilkinson, 2007). Ansietas
merupakan gejolak emosi seseorang yang berhubungan dengan sesuatu di luar
dirinya dan mekanisme diri yang digunakan dalam mengatasi permasalahan
(Asmadi, 2008). Menurut Asmadi, 2008 ada beberapa teori yang menjelaskan
mengenai asal ansietas, teori tersebut antara lain:
1. Teori psikoanalisis
Dalam pandangan psikoanalisis, ansietas adalah konflik emosional yang terjadi
antara dua elemen kepribadian yaitu id dan superego. Id mewakili dorongan
insting dan impuls primitive seseorang, sedangkan superego mencerminkan hati
nurani seseorang dan dikendalikan oleh norma-norma budaya seseorang. Ego
berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen tersebut dan fungsi ansietas adalah
mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
2. Teori interpersonal
Dalam pandangan interpersonal, ansietas timbul dari perasaan takut terhadap
penolakan saat berhubungan dengan orang lain. Hal ini juga dihubungkan dengan
trauma pada masa pertumbuhan, seperti kehilangan dan perpisahan dengan orang
yang dicintai. Penolakan terhadap eksistensi diri oleh orang lain ataupun
masyarakat akan menyebabkan individu yang bersangkutan menjadi cemas.
Namun bila keberadaannya diterima oleh orang lain, maka ia akan merasa tenang
dan tidak cemas. Dengan demikian, ansietas berkaitan dengan hubungan antara
manusia.
3. Teori perilaku
Menurut pandangan perilaku, ansietas merupakan hasil frustasi. Ketidakmampuan
atau kegagalan dalam mencapai suatu tujuan yang diinginkan akan menimbulkan
keputusasaan. Keputusasaan yang menyebabkan seseorang menjadi ansietas.
Ansietas sangat berkaitan dengan perasaan tidak pasti dan tidak berdaya. Keadaan
emosi ini tidak memiliki objek yang sfesifik. Kondisidialami secara subjektif dan
dikomunikasikan dalam hubungan interpersonal.Ansietas berbeda dengan rasa takut
yang merupakan penilaian intelektual terhadap sesuatu yang berbahaya. Ansietas adalah
respon emosional terhadap penilaian tersebut. Kapasitas untuk menjadi cemas
diperlukan untuk bertahanhidup, tetapi tingkat ansietas yang parah tidak sejalan
dengan kehidupan (Stuart dan sundeen, 1990, hal 75). Tingkatan ansietas (peplau,
1963) terdiri atas :
1) Ansietas ringan, berhubungan dengan ketegangan dalam kehidupansehari-
hari dan menyebabkan seseorang menjadi waspada danmenghasilkan lahan
persepsinya. Ansietas dapat memotivasi danmenghasilkan kreativitas.
2) Ansietas sedang memungkinkan seseorang untuk memusatkan pada hal yang
penting dan mengesampingkan yang lain. Sehingga seseorang mengalami perhatian
yang selektif namun dapat melakukan sesuatu yang lebih terarah.
3) Ansietas berat, sangat mengurangi lahan persepsi seseorang. Seseorang
cenderung untuk memusatkan pada sesuatu yang terinci dan sfesifik dan tidak dapat
berfikir pada hal lain. Semua perilaku ditujukan untuk mengurangi ketegangan.
Orang tersebut memerlukan banyak pengarahan untuk dapat memusatkan
pada satu area lain.
4) Tingkat panik dari ansietas, berhubungan dengan terperangah,
ketakutandari orang yang mengalami panik, tidak mampu melakukan sesuatu
walaupun dengan pengarahan. Panik melibatkan disorganisasikepribadian.
Dengan panik terjadi peningkatan aktivitas motorik, menurunnya
kemampuan untuk berhubungan dengan orang lain, persepsi yang menyimpang
dan kehilangan pemikiran yang rasional. Tingkat ansietas ini tidak sejalan dengan
kehidupan dan juga berlangsung terus dalam waktu yang lama, dapat terjadi
kelelahan yang sangat bahkan kematian.

B. Etiologi
a Faktor Predisposisi
a. Biologis
Otak mengandung reseptor khusus untuk benzodiazepine. Reseptor
ini membantu mengatur ansietas. Penghambat aminobutirik-gamma
neroregulator (GABA) juga berperan utama dalam mekanisme biologis
berhubungan dengan ansietas sebagaimana halnya dengan endorfin.
Ansietas mungkin disertai dengan gangguan fisik dan selanjutnya
menurunkan kapasitas seseorang untuk mengatasi stressor.
b. Psikologis
Konflik emosional antara 2 elemen yaitu: id (dorongan insting atau
impuls primitif) dan superego (hati nurani). Ego berfungsi menengahi
tuntutan dari 2 elemen yang bertentangan dan fungsi ansietas
mengingatkan ego bahwa ada bahaya yang mengancam.
c. Sosiokultural
Merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Faktor ekonomi,
latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.

2. Faktor Presipitasi
a. Ancaman terhadap integritas biologi
Merupakan ancaman terhadap kebutuhan dasar manusia, seperti
kebutuhan akan makanan, minuman, dan perumahan. Hal ini merupakan
faktor umum penyebab ansietas.
b. Ancaman terhadap rasa aman
Hal ini sulit digolongkan karena manusia unik. Ancaman keamanan
diri meliputi; tidak tercapainya harapan, tidak terpenuhinya kebutuhan
akan status, rasa bersalah atau pertentangan antara keyakinan diri dan
prilaku, tidak mampu untuk mendapatkan penghargaan dari orang lain.

C. Manifestasi klinis
Keluhan-keluhan yang sering dikemukan oleh orang yang mengalami
ansietas (Hawari, 2008), antara lain sebagai berikut:
1. Cemas, khawatir, firasat buruk, takut akan pikirannya sendiri, mudah
tersinggung.
2. Merasa tegang, tidak tenang, gelisah, mudah terkejut.
3. Takut sendirian, takut pada keramaian dan banyak orang.
4. Gangguan pola tidur, mimpi-mimpi yang menegangkan.
5. Gangguan konsentrasi dan daya ingat.
6. Keluhan-keluhan somatik, misalnya rasa sakit pada otot dan tulang,
pendengaran berdenging (tinitus), berdebar-debar, sesak nafas, gangguan
pencernaan, gangguan perkemihan, sakit kepala dan sebagainya.
D. Terapi (pengobatan) / penatalaksanaan
1. Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien setiap pasien mengalami
ketakutan.
2. Sediakan informasi factual menyangkut diagnosis, perawatan, dan prognosis
3. Gunakan pendekatan yang tenang dan meyakinkan.
4. Instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi.
5. Jelaskan semua prosedur termasuk sensasi yang biasanya dirasakan selama
prosedur.
6. Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan pikiran dan perasaan
untuk mengeksternalisasikan ansietas.
7. Bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai alat untuk
mengidentifikasi mekanisme koping yang dmbahtuhkan untuk mengurangi
ansietas.
8. Yakinkan pasien kembali dengan menyentuh, saling memberi empatik secara
verbal dan nonverbal, dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan serta
izinkan pasien untuk menangis.
9. Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang
tenang, kontak yang terbatas dengan orang lain jika dmbahtuhkan serta
pembatasan penggunaan kafein dan stimulant lain.
10. Sediakan penguatan yang positif ketika pasien mampu untuk meneruskan
aktivitas sehari-hari dan lainnya meskipun ansietas.

G. Strategi pelaksanaan
1. Salam Terapeutik
“Assalamualaikum mbah, perkenalkan nama saya Erna panggil saja saya Erna
saya mahasiswa yang sedang bertugas di Desa ini, nama mbah siapa bu? Mbah
lebih suka dipanggil siapa? Mbah, tujuan saya ke sini mbah adalah memantau
perkembangan kesehatan mbah, saya akan datang selama satu kali dalam sehari”.
2. Evaluasi/validasi
“Bagaimana perasaan mbah pagi ini? O, jadi saat ini mbah mengalami nyeri pada
bagian pinggang sampai telapak kaki?”
3. Kontrak
Topik : “Baiklah, bu, bagaimana kalau sekarang kita berbincang-bincang tentang
perasaan yang mbah rasakan?”
Waktu : “Bagaimana kalau kita berbincang-bincang selama 30 menit?”
Tempat : “Kita berbincang-bincang dimana bu? Baiklah kita akan berbincang-
bincang di ruang ini”

KERJA (langkah-langkah tindakan keperawatan

1. “Mbah, coba sekarang mbah ceritakan apa yang mbah rasakan saat ini? Saya
akan mendengarkan ceita mbah”
2. “jika boleh saya tahu, apakah sebelumnya mbah pernah mengalami perasaan
cemas seperti sekarang yang mbah rasakan dan bagaimana cara mbah
mengatasinya?”
3. “Saya mengerti bagaimana perasaan mbah. Setiap orang akan memiliki
perasaan yang sama jika diposisi mbah. Tapi saya sangat kagum pada mbah
karena mbah mampu menahan semua cobaan ini. Jadi saat ini mbah pada
tingkat kecemasan yang sedang. Kalau masalah ini tidak diatasi, dapat
mengganggu kondisi mbah nantinya. Untuk itu, mbah perlu melakukan terapi
disaat mbah merasakan perasaan cemas. Terapi ini akan membantu
menurunkan tingkat kecemasan mbah. Bagaimana kalau sekarang kita coba
mengatasi kecemasan mbahdengan latihan relaksasi dengan cara tarik nafas
dalam, ini merupakan salah satu cara untuk mengurangi kecemasan yang
mbah rasakan”
4. “Bagaimana kalau sekarang kita latihan bu. Saya akan lakukan terlebih
dahulu, mbah perhatikan saya. Lalu mbah bisa mengikuti cara yang sudah
saya ajarkan. Kita mulai ya bu. Silakan duduk dengan posisi seperti saya.
Pertama-tama, mbah tarik nafas dalam perlahan-lahan, setelah itu tahan nafas
dalam hitungan tiga setelah itu mbah hembuskan udara melalui mulut dengan
meniup udara perlahan-lahan. Sekarang coba mbah lakukan ya”
5. “Bagus sekali, Mbah sudah mampu melakukannya. Mbah bisa melakukan
latihan ini selama 5 sampai 10 kali sampai Mbah merasa relaks atau santai.
Selain cara tersebut untuk mengatasi kecemasan mbah, mbah bisa melakukan
dengan metode pengalihan yaitu dengan melepas kecemasan dengan tertawa,
menulis kecemasan Mbah disebuah kertas, bersantai atau Mbah juga bisa
mengatasinya dengan mendengarkan musik.
TERMINASI

1. Evaluasi respon klien terhadap tindakan keperawatan


a. Evaluasi Subjektif : “Bagaimana perasaan mbah setelah kita ngobrol
tentang masalah yang mbah rasakan dan latihan teknik relaksasi napas
dalam?”
b. Evaluasi Objektif : “Sekarang coba mbah ulangi teknik relaksasi napas
dalam yang sudah kita pelajari tadi”
2. Tindak lanjut
a. “Kapan mbah akan berlatih lagi untuk melakukan teknik relaksasi napas
dalam?”
b. “Mari kita masukan dalam jadwal harian ya mbah. Jadi, setiap mbah merasa
cemas, mbah bisa langsung mempraktikan teknik relaksasi napas dalam yang
sudah kita pelajari tadi”
3. Kontrak yang akan datang
a. Topik: “Cara yang sudah kita praktikan tadi dapat mengurangi sedikit
kecemasan yang mbah rasakan. Jika mbah masih merasakan cemas, mbah
dapat menggunakan teknik relaksasi napas dalam untuk mengurangi cemas
yang mbah rasakan”
b. Waktu: “ Jika hari ini mbah merasakan cemas lagi, maka kita dapat
mengulangi teknik relaksasi napas dalam sebanyak 5-10 kali dalam waktu 30
menit”
c. Tempat: “Dimana nanti mbah akan latihan dengan saya? Ya sudah, kita
dapat melakukan latihan ini disini saja lagi”

7. Neurosis
A. Definisi
Neurosis kadang-kadang disebut psikoneurosis dan gangguan jiwa (untuk
membedakannya dengan psikosis atau penyakit jiwa. Menurut Singgih
Dirgagunarsa (1978 : 143), neurosis adalah gangguan yang terjadi hanya pada
sebagian dari kepribadian, sehingga orang yang mengalaminya masih bisa
melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa sehari-hari atau masih bisa belajar, dan
jarang memerlukan perawatan khusus di rumah sakit.
Dali Gulo (1982 : 179), berpendapat bahwa neurosis adalah suatu kelainan
mental, hanya memberi pengaruh pada sebagaian kepribadian, lebih ringan dari
psikosis, dan seringkali ditandai dengan : keadaan cemas yang kronis, gangguan-
gangguan pada indera dan motorik, hambatan emosi, kurang perhatian terhadap
lingkungan, dan kurang memiliki energi fisik, dst. Neurosis, menurut W.F.
Maramis (1980 : 97), adalah suatu kesalahan penyesuaian diri secara emosional
karena tidak diselesaikan suatu konflik tidak sadar. Berdasarkan pendapat
mengenai neurosis dari para ahli tersebut dapat diidentifikasi pokok-pokok
pengertian mengenai neurosis sebagai berikut:
a Neurosis merupakan gangguan jiwa pada taraf ringan.
b Neurosis terjadi pada sebagian kecil aspek kepribadian.
c Neurosis dapat dikenali berdasarkan gejala yang paling menonjol yaitu
kecemasan.
d Penderita neurosis masih mampu menyesuaikan diri dan mampu melakukan
aktivitas sehari-hari.
e Penderita neurosis tidak memerlukan perawatan khusus di rumah sakit jiwa.

B. Etiologi
Gangguan neurosis dialami sekitar 10-20% kelompok lanjut usia (lansia).
Sering sukar untuk mengenali gangguan ini pada lanjut usia (lansia) karena
disangka sebagai gejala ketuaan. Hampir separuhnya merupakan gangguan yang
ada sejak masa mudanya, sedangkan separuhnya lagi adalah gangguan yang
didapatkannya pada masa memasuki lanjut usia (lansia). Gangguan neurosis pada
lanjut usia (lansia) berhubungan erat dengan masalah psikososial dalam memasuk
tahap lanjut usia (lansia). Dan Menurut Maramis (1998 : 261), faktor pencetus
neurosis cemas sering jelas dan secara psikodinamik berhubungan dengan faktor-
faktor yang menahun seperti kemarahan yang dipendam.
C. Manifestasi klinis
Gangguan ini ditandai oleh kecemasan sebagai gejala utama dengan daya
tilikan (insight) serta daya menilai realitasnya yang baik. Kepribadiannya tetap
utuh, secara kualitas perilaku orang neurosis tetap baik, namun secara kuantitas
perilakunya menjadi irrasional. Sebagai contoh : mandi adalah hal yang biasa
dilakukan oleh orang normal sehari 2 kali, namun bagi orang neurosis obsesive
untuk mandi, ia akan mandi berkali-kali dalam satu hari dengan alasan tidak
puas-puas untuk mandi.
Pasien dengan keadaan ini sering mengeluh bahwa dirinya sakit, serta tidak
dapat diobati. Keluhannya sering menyangkut alat tubuh seperti alat pencernaan,
jantung dan pembuluh darah, alat kemih/kelamin, dan lainnya. Pada lansia yang
menderita hipokondriasis penyakit yang menjadi keluhannya sering berganti-
ganti, bila satu keluhannya diobati yang mungkin segera hilang, ia mengeluh sakit
yang lain. Kondisi ini jika dituruti terus maka ia akan terus-menerus minta
diperiksa dokter; belum habis obat untuk penyakit yang satu sudah minta
diperiksa dokter untuk penyakit yang lain.

D. Klasiifikasi
Kelainan jiwa yang disebut neurosis ditandai dengan bermacam-macam
gejala. Dan berdasarkan gejala yang paling menonjol, sebutan atau nama untuk
jenis neurosis diberikan. Dengan demikian pada setiap jenis neurosis terdapat
ciri-ciri dari jenis neurosis yang lain, bahkan kadang-kadang ada pasien yang
menunjukkan begitu banyak gejala sehingga gangguan jiwa yang dideritanya
sukar untuk dimasukkan pada jenis neurosis tertentu (W.F. Maramis, 1980 : 258).
Bahwa nama atau sebutan untuk neurosis diberikan berdasarkan gejala yang
paling menjonjol atau paling kuat. Atas dasar kriteria ini para ahli mengemukakan
jenis-jenis neurosis sebagai berikut (W.F. Maramis, 1980 : 257-258). Secara
umum gangguan neurosis dapat dikategorikan sebagai berikut :
a. Neurosis cemas dan panic (anxiety neurosis atau anxiety state)
b. Neurosis obsesif kompulsif
c. Neurosis fobik
d. Neurosis histerik (konversi)
e. Gangguan somatoform
f. Hipokondriasis.

E. Terapi (pengobatan)
Terapi untuk penderita neurosis :
Terapi untuk penederita neurosis cemas dilakukan dengan
menemukan sumber ketakutan atau kekuatiran dan mencari penyesuaian
yang lebih baik terhadap permasalahan.Mudah tidaknya upaya ini pada
umumnya dipengaruhi oleh kepribadian penderita. Ada beberapa jenis
terapi yang dapat dipilih untuk menyembuhkan neurosis cemas, yaitu :
1) psikoterapi individual.
2) psikoterapi kelompok.
3) psikoterapi analitik.
4) sosioterapi.
5) terapi seni kreatif.
6) terapi kerja.
7) terapi perilaku.
8) farmakoterapi.

8. Hipokondriasis
A. Definisi
Hipokondriasis adalah keadaan dimana seseorang mencurigai kesehatan
fisiknya atau ketakutan pada suatu penyakit tanpa ada patologi organik, yang
menetap walaupun telah dilakukan pemeriksaan adekuat dan penentraman.Pasien
berulang kali mencari pemeriksaan atau keterangan medis, tetapi tetap tidak dapat
diyakinkan. Hasil evaluasi diagnostik negatif dan dokter menenangkan hanya
akan meningkatkan kecemasan pasien tentang kesehatannya.

B. Etiologi
Dalam kriteria diagnostik hipokondriasis, DSM-IV menyatakan bahwa
gejala mencerminkan misinterpretasi gejala-gejala tubuh. Data tubuh yang cukup
menyatakan bahwa orang hipokondriakal meningkatkan dan membesarkan sensasi
somatiknya, mereka memiliki ambang dan toleransi yang lebih rendah dari
umumnya terhadap ganggguan fisik. Sebagai contoh, apa yang dirasakan oleh
orang normal sebagai tekanan abdominal, orang hipokondriakal menganggapnya
sebagai nyeri abdomen. Orang hipokondriakal mungkin berpusat pada sensasi
tubuh, salah menginterpretasikannya dan menjadi tersinyal oleh hal tersebut
karena skema kognitif yang keliru. Walaupun beberapa studi kasus yang diduga
terkait dengan suatu hipokondriasis, sampai sekarang belum diketahui secara pasti
penyebab dari hipokondriasis itu sendiri.
Teori yang kedua adalah bahwa hipokondriasis dapat dimengerti
berdasarkan model belajar sosial. Gejala hipokondriasis dipandang sebagai
keinginan untuk mendapatkan peranan sakit oleh seseorang yang mendapatkan
masalah yang tampaknya berat dan tidak dapat dipecahkan. Peranan sakit
menawarkan suatu jalan keluar, karena pasien yang sakit dibiarkan menghindari
kewajiban yang menimbulkan kecemasan dan menunda tantangan yang tidak
disukai dan dimaafkan dari kewajiban yang biasanya diharapkan.
Teori ketiga tentang penyebab hipokondriasis adalah bahwa ganguan ini
adalah bentuk varian dari ganguan mental lain. Gangguan yang paling sering
dihipotesiskan berhubungan dengan hipokondriasis adalah gangguan depresif dan
gangguan kecemasan. Diperikirakan 80 persen pasien dengan hipokondriasis
diperkirakan memiliki gangguan depresif atau gangguan kecemasan yang
ditemukan bersama-sama. Pasien yang memenuhi kriteria diagnostik untuk
hipokondriasis mungkin merupakan pensomatisasi (somatizing) dari gangguan
lain tersebut.
Bidang pikiran keempat tentang hipokondriasis adalah bidang
psikodinamika, yang menyatakan bahwa harapan agresif dan permusuhan
terhadap orang lain dipindahkan (melalui represi dan pengalihan) kepada keluhan
fisik. Kemarahan pasien hipokondriakal berasal dari kekecewaan, penolakan dan
kehilangan di masa lalu tetapi pasien mengekspresikan kemarahannnya saat ini
dengan meminta pertolongan dan perhatian dari orang lain dan selanjutnya
menolak karena tidak efektif. Hipokondriasis juga dipandang sebagai rasa
bersalah, rasa keburukan yang melekat, suatu ekspresi yang rendah dan tanda
perhatian terhadap diri sendiri (self-concern) yang berlebihan. Penderitaan nyeri
dan somatik selanjutnya menjadi alat untuk menebus kesalahan dan membatalkan
(undoing) dan dapat dialami sebagai hukuman yang dapat diterimanya atas
kesalahan di masa lalu (baik nyata maupun khalayan) dan perasaan sesorang jahat
dan memalukan.

C. Manifestasi klinis
Pasien hipokondriakal percaya bahwa mereka mendeteksi penyakit yang
parah yang belum dapat dideteksi, dan mereka tidak dapat diyakinkan akan
kebalikannya. Pasien hipokondriakal dapat mempertahankan suatu keyakinan
bahwa mereka memiliki suatu penyakit tertentu atau dengan berjalannya waktu,
mereka mengubah keyakinannya dengan penyakit tertentu. Keyakinan tersebut
adalah menetap walaupun hasil laboratorium adalah negatif, perjalan yang yang
ringan dari penyakit yang ringan dengan berjalannya waktu dan penentraman yang
tepat dari dokter. Tetapi keyakinan tersebut tidak sangat terpaku sehingga
merupakan suatu waham. Hipokondriasis sering kali disertai gejala depresi dan
kecemasan, dan sering kali ditemukan bersama-sama dengan suatu gangguan
depresif atau kecemasan.
Pasien dengan gangguan ini sering mendatangi dokter, biasanya berulang
ulang dan berpindah dari satu spesialis ke spesialis lain (dokter shopping), tetapi
menghindari psikiater. Derajat ringan lazim dalam mahasiswa kedokteran
Orang-orang dengan hipokondriasis mempunyai ciri tidak akan datang ke
pembantahan keyakinan mereka mengenai penyakit dan penderitaan yang mereka
rasakan karena mereka tidak percaya. bahkan dalam beberapa kasus, keyakinan
mereka ini dapat menjadi suatu delusi atau waham.

D. Terapi (pengobatan)
Pasien hipokondriakal biasanya tahan terhadap pengobatan psikiatrik.
Beberapa pasien hipokondriakal menerima pengobatan psikiatrik jika dilakukan di
lingkungan medis dan dipusatkan untuk menurunkan stress dan penjelasan tentang
mengatasi penyakit kronis. Di antara pasien-pasien tersebut, psikoterapi
kelompok adalah cara yang terpilih, sebagian cara ini memberikan dukungan
sosial dan interaksi sosial yang tampaknya menurunkan kecemasan pasien.
Psikoterapi individual berorientasi-tilikan mungkin berguna, tetapi biasanya tidak
berhasil.1
Jadwal pemeriksaan fisik yang sering dan teratur adalah berguna untuk
menenangkan pasien bahwa mereka tidak ditelantarkan oleh dokternya dan
keluhan mereka ditanggapi dengan serius. Tetapi prosedur diagnostik dan
terapeutik harus dilakukan hanya jika bukti objektif mengharuskannya. Jika
mungkin klinisi harus menahan diri supaya tidak mengobati temuan pemeriksaan
fisik yang tidak jelas atau kebetulan.1
Farmakoterapi menghilangkan gejala hipokondriakal hanya jika pasien
memiliki suatu kondisi yang responsif terhadap obat, seperti gangguan kecemasan
atau gangguan depresif berat. Jika hipokondriasis adalah sekunder akibat adanya
gangguan mental primer lainnya, gangguan tersebut harus diobati untuk gangguan
itu sendiri. Jika hipokondriasis adalah reaksi situasional yang sementara, klinisi
harus membantu pasien untuk mengatasi stress tanpa mendorong perilaku sakit
mereka dan pemakaian peranan sakit sebagai suatu pemecahan masalah.

9. Depresi
A. Definisi
Depresi adalah suatu jenis alam perasaan atau emosi yang disertai komponen
psikologik : rasa susah, murung, sedih, putus asa -dan tidak bahagia, serta
komponen somatik: anoreksia, konstipasi, kulit lembab (rasa dingin), tekanan
darah dan denyut nadi sedikit menurun.
Depresi adalah suatu kesedihan atau perasaan duka yang berkepanjangan
dapat digunakan untuk menunjukan berbagai fenomena, tanda, gejala, sindrom,
keadaan emosional, reaksi penyakit/ klinik.(stuart dan sundeer,1998)
Depresi merupakan gangguan alam perasaan yang berat dan dimanifestasikan
dengan gangguan fungsi social dan fungsi fisik yang hebat, lama dan menetap
pada individu yang bersangkutan.

B. Etiologi

1. Faktor predisposisi dan faktor pencetus

A. Faktor Predisposisi :

1. Faktor genetik dianggap mempengaruhi tranmisi gangguan afektif


melalui riwayat keluarga atau keturunan.
2. Teori agresi menyerang kedalam,menunjukan bahwa depresi terjadi
karena perasaan marah yang dtujukan kpd diri sendiri.
3. Teori kehilangan obyek merujuk kepada perpisahan traumatik individu
dengan benda atau yang sangat berarti.
4. Teori organisasi keprbdian menguraikan bagaimana konsep dri yang
negatif dan harga diri rnudah mempengaruhi sistem keyakinan dan
penilaian seseorang terhadap stressor.
5. Model kognitif menyatakan bahwa deprsi merupakan masalah kognitif
yang di dominasi oleh evaluasi negatif seseorang terhadap dari
seseorang, dunia seseorang dan masa depn seseorang.
6. Model ktidakberdayaan yang dipelajari menunjukan bahwa bukan
semata-mata trauma menyebabkan depresi tapi keyakinan bahwa
seseorang tidak mempnyai kendali terhadap hasil yang penting dalam
kehidupannya oleh karena itu ia mengulngi respon yang adaptif.
7. Model perilaku berkembang dari kerangka teori belajar sosial yang
mengasumsi penyebab depresi terletak pada kurangnya keinginan positif
dalam berinteraksi dengan lingkngan.
8. Model biologi menguraikan perubahan kimia dalam tubuh terjadi selma
masa depresi. Termasuk defisiensi ketokolamin, disfungsi endokrin,dan
hiperskresi kortisol

B. Faktor presipitasi

1. Kehilangan keterikatan, yang nyata atau yang di bayangkan, termasuk


kehilangan cinta, seseorang, fungsi fisik, kedudukan,atau harga diri.
karena elemen aktual dan simbolik melibatkan konsep kehilangan
maka persepsi pasien merupakan hal yg sangat penting
2. Peristiwa besar dalam kehidupan sering dilaporkan sebagai pendahulu
episode depresi dan mempunyai dampak terhadap masalah-masalah
yang dihadapi sekarang dan kemampuan menyelesaikan masalah.
3. Peran dan ketegangan peran telah dilaporkan mempengaruhi
perkembangan depresi, trutama pada wanita.
4. Perubahan fisiologik diakibatkan oleh obat-obatan atau penyakit fisik
dan gangguan keseimbangan metabolik, dapat mencetuskan gangguan
alam perasaan. Diantra obat-obatan termasuk tersebut terdapat obat
antihipertensi dan penyalahgunaan zat yang menyebabkan kecanduan.
Kebanyakan penyakit kronik yg melemahkan tubuh juga sering disrtai
dengan depresi. Depresi yg terdapat pada usia lanjut biasnya bresfat
kompleks karena untuk menegakan diagnosis sering melibtkan evaluasi
dari kerusakan otak orgnik dan depresi klinik

C. Manisfestasi klinis
Frank J.Bruno dalam Bukunya Mengatasi Depresi (1997) mengemukan bahwa
ada beberapa tanda dan gejala depresi, yakni:
1. Secara umum tidak pernah merasa senang dalam hidup ini. Tantangan yang
ada, proyek, hobi, atau rekreasi tidak memberikan kesenangan.
2. Distorsi dalam perilaku makan. Orang yang mengalami depresi tingkat sedang
cenderung untuk makan secara berlebihan, namun berbeda jika kondisinya
telah parah seseorang cenderung akan kehilangan gairah makan.
3. Gangguan tidur. Tergantung pada tiap orang dan berbagai macam faktor
penentu, sebagian orang mengalami depresi sulit tidur. Tetapi dilain pihak
banyak orang mengalami depresi justru terlalu banyak tidur.
4. Gangguan dalam aktivitas normal seseorang. Seseorang yang mengalami
depresi mungkin akan mencoba melakukan lebih dari kemampuannya dalam
setiap usaha untuk mengkomunikasikan idenya. Ya,kan? saya tidak mengalami
depresi?.dilain pihak, seseorang lainnya yang mengalami depresi mungkin
akan gampang letih dan lemah.
5. Kurang energi. Orang yang mengalami depresi cenderung untuk mengatakan
atau merasa,saya selalu merasah lelah atau saya capai. Ada anggapan bahwa
gejala itu disebabkan oleh faktor-faktor emosional, bukan faktor biologis.
6. Keyakinan bahwa seseorang mempunyai hidup yang tidak berguna, tidak
efektif. orang itu tidak mempunyai rasa percaya diri. Pemikiran seperti, saya
menyia-nyiakan hidup saya, atau saya tidak bisa mencapai banyak kemajuan,
seringkali terjadi.
7. Kapasitas menurun untuk bisa berpikir dengan jernih dan untuk memecahkan
masalah secara efektif. Orang yang mengalami depresi merasa kesulitan untuk
menfokuskan perhatiannya pada sebuah masalah untuk jangka waktu tertentu.
Keluhan umum yang sering terjadi adalah, saya tidak bisa berkonsentrasi..
8. Perilaku merusak diri tidak langsung. contohnya: penyalahgunaan
alkohol/narkoba, nikotin, dan obat-obat lainnya. makan berlebihan, terutama
kalau seseorang mempunyai masalah kesehatan seperti misalnya menjadi
gemuk, diabetes, hypoglycemia, atau diabetes, bisa juga diidentifikasi sebagai
salah satu jenis perilaku merusak diri sendiri secara tidak langsung.
9. Mempunyai pemikiran ingin bunuh diri. (tentu saja, bunuh diri yang
sebenarnya, merupakan perilaku merusak diri sendiri secara langsung. Frank
menambahkan bahwa tidak ada aturan yang pasti untuk setiap orang. tetapi
merupakan konvensi untuk menyatakan bahwa kalau lima atau lebih dari
tanda-tanda atau gejala itu ada dan selalu terjadi, maka sangat mungkin
seseorang mengalami depresi. Lain halnya jika seseorang mnegalami gejala
pada nomor 9, yakni punya keinginan untuk bunuh diri, maka Frank
menganjurkan seseorang untuk segera mencari bantuan profesional secepat
mungkin.

D. Terapi (pengobatan)
Menurut Tomb (2003, hal. 61), semua pasien depresi harus mendapatkan
psikoterapi, dan beberapa memerlukan tambahan terapi fisik. Kebutuhan terapi
khusus bergantung pada diagnosis, berat penyakit, umur pasien, respon terhadap
terapi sebelumnya.
1) Terapi Psikologik
Psikoterapi suportif selalu diindikasikan. Berikan kehangatan, empati,
pengertian dan optimistic. Bantu pasien mengidentifikasi dan
mengekspresikan hal-hal yang membuatnya prihatin dan melontarkannya.
Identifikasi faktor pencetus dan bantulah untuk mengoreksinya. Bantulah
memecahkan problem eksternal (missal, pekerjaan, menyewa rumah),
arahkan pasien terutama pada periode akut dan bila pasien tidak aktif
bergerak. Latih pasien untuk mengenal tanda-tanda dekompensasi yang
akan datang. Temui pasien sesering mungkin (mula-mula 1-3 kali per
minggu) dan secara teratur, tetapi jangan sampai tidak berakhir atau untuk
selamanya. Kenalilah bahwa beberapa pasien depresi dapat memprovokasi
kemarahan anda (melalui kemarahan, hostilitas, dan tuntutan yang tak
masuk akal, dll). Psikoterapi berorientasi tilikan jangka panjang, dapat
berguna pada pasien depresi minor kronis tertentu dan beberapa pasien
dengan depresi mayor yang mengalami remisi tetapi mempunyai konflik.
Terapi Kognitif – Perilaku dapat sangat bermanfaat pada pasien depresi
sedang dan ringan. Diyakini oleh sebagian orang sebagai “ketidak
berdayaan yang dipelajari”, depresi diterapi dengan memberikan pasien
latihan keterampilan dan memberikan pengalaman-pengalaman sukses.
Dari perspektif kognitif, pasien dilatih untuk mengenal dan menghilangkan
pikiran-pikiran negative dan harapan-harapan negative. Terapi ini
mencegah kekambuhan. Deprivasi tidur parsial (bangun dipertengahan
malam dan tetap terjaga sampai malam berikutnya), dapat membantu
mengurangi gejala-gejala depresi mayor buat sementara. Latihan fisik
(berlari, berenang) dapat memperbaiki depresi, dengan mekanisme
biologis yang belum dimengerti dengan baik.
2) Terapi Fisik
Semua depresi mayor dan depresi kronis atau depresi minor yangtidak
membaik membutuhkan antidepresan (70%-80% pasien berespon terhadap
antidepresan), meskipun yang mencetuskan jelas terlihat atau dapat
diidentifikasi. Mulailah dengan SSRI atau salah satu anti depresan terbaru.
Apabila tidak berhasil, pertimbangkan antidepresan trisiklik, atao MAOI
(terutama pada depresi “atipikal”) atau kombinasi beberapa obat yang
efektif bila obat yang ertama tidak berhasil. Waspadalah terhadap efek
samping dan bahwa antidepresan dapat mencetuskan episode manic pada
beberapa pasien bipolar (10% dengan TCA, dengan SSRI lebih rendah,
tetapi semua konsep tentang “presipitasi manic” masih diperdebatkan).
Setelah sembuh dari depresi pertama, obat dipertahankan untuk beberapa
bulan, kemudian diturunkan, meskipun demikian pada beberapa pasien
setelah satu atau lebih kekambuhan, membutuhkan obat rumatan untuk
periode panjang. Anitdepresan saja (tunggal) tidak dapat mengobati
depresi psikosis unipolar.
Litium efektif dalam membuat remisi gangguan bipolar, mania dan
mungkin bermanfaat dalam pengobatan depresi bipolar akut dan beberapa
depresi unipolar. Obat ini cukup efektif pada bipolar serta untuk
mempertahankan remisi dan begitu pula pada pasien unipolar.
Antikonvulsan juga tampaknya sama baik dengan litium untuk mengobati
kondisi akut, meskipun kurang efektif untuk rumatan. Antidepresan dan
litium dapat dimulai secara bersama-sama dan litium diteruskan setelah
remisi. Psikotik, paranoid atau pasien sangat agitasi membutuhkan
antipsikotik, tunggal atau bersama-sama dengan antidepresan, litiun atau
ECT- antidepresan antipikal yang baru saja terlihat efektif.
ECT mungkin merupakan terapi terpilih :
a) Bila obat tidak berhasil setelah satu atau lebih dari 6 minggu
pengobatan,
b) Bila kondisi pasien menuntut remisi segera (missal, bunuh diri
yang akut)
c) Pada beberapa depresi psikotik
d) Pada pasien yang tidak dapat mentoleransi obat (missal, pasien tua
yang berpenyakit jantung). Lebig dari 90% pasien memberikan
respons.

10. Bipolar
A. Definisi
Menurut PPGDJ III, gangguan afektif bipolar adalah suatu gangguan suasana
perasaan yang ditandai oleh adanya episode berulang (sekurang-kurangnya dua
episode) dimana afek pasien dan tingkat aktivitas jelas terganggu, pada waktu
tertentu terdiri dari peningkatan afek disertai penambahan energi dan aktivitas
(mania atau hipomania), dan pada waktu lain berupa penurunan afek disertai
pengurangan energi dan aktivitas (depresi) (Maslim, 2013).
Gangguan bipolar menurut Diagnostic And Statistical Manual Of Mental
Disorders-Text Revision edisi ke empat ialah gangguan mood yang terdiri dari
paling sedikit satu episode manik, hipomanik atau campuran yang biasanya
disertai dengan adanya riwayat episode depresi mayor (Amalina, 2011).

B. Etiologi
Penyebab gangguan bipolar sampai saat ini belum dapat diketahui dengan
pasti. Banyak faktor yang mempengaruhi dalam gangguan bipolar yaitu faktor
genetik, faktor biokimia, faktor neurofisiologi, faktor psikodinamik, dan faktor
lingkungan.
Beberapa penyakit mempunyai penyebab yang jelas dan spesifik sehingga
pengobatannya juga bisa khusus atau spesifik untuk mengatasi penyakit tersebut.
Bila seseorang menderita kencing manis maka obatannya adalah dengan mendapat
insulin. Bila seseorang terserang usus buntu, maka obatnya adalah dengan operasi.
Namun tidak demikian halnya dengan gangguan bipolar.
Sepertinya penyebab gangguan bipolar bersifat komplek atau multi faktor.
Gangguan bipolar bukan hanya disebabkan oleh adanya gangguan keseimbangan
kimia didalam otak yang cukup disembuhkan dengan minum obat obatan. Para
ahli berpendapat bahwa gangguan bipolar disebabkan oleh kombinasi faktor
biologis, psikologis dan sosial. Menurut teori stress-vulnerability model, ada
beberapa resiko atau factor penyebab gangguan jiwa bipolar, yaitu :
6. Genetika dan riwayat keluarga
Penderita bipolar lebih sering dijumpai pada penderita yang
mempunyai saudara atau orang tua dengan gangguan bipolar. Riwayat pada
keluarga dengan penyakit bipolar bukan berarti anak atau saudara akan pasti
menderita gangguan bipolar. Penelitian menunjukkan bahwa pada orang orang
dengan riwayat keluarga penderita bipolar maka kemungkinannya terkena
bipolar akan sedikit lebih besar dibandingkan masyarakat pada umumnya.
Artinya ada factor predisposisi terhadap gangguan bipolar. Hanya saja, tanpa
adanya factor pemicu, maka yang bersangkutan tidak akan terkena gangguan
bipolar. Faktor predisposisi gangguan bipolar bisa terjadi juga karena anak
meniru cara bereaksi yang salah dari orang tuanya yang menderita gangguan
bipolar.
7. Kerentanan psikologis (psychological vulnerability)
Kepribadian dan cara seseorang menghadapi masalah hidup
kemungkinan juga berperanan dalam mendorong munculnya gangguan
bipolar.
8. Lingkungan yang menekan (stressful) dan kejadian dalam hidup (live events)
9. Riwayat pelecehan, pengalaman hidup yang menekan
10. Gangguan neurotransmitter di otak
11. Gangguan keseimbangan hormonal
12. Factor biologis
Ada beberapa perubahan kimia di otak yang diduga terkait dengan
gangguan bipolar. Hal ini menunjukkan adanya factor biologis dalam masalah
gangguan bipolar.

C. Manifestasi klinis
Gangguan bipolar dibedakan menjadi 2 yaitu gangguan bipolar I dan II.
Gangguan bipolar I atau tipe klasik ditandai dengan adanya 2 episode yaitu mania
dan depresi, sedangkan gangguan bipolar II ditandai dengan hipomania dan
depresi (Lubis, 2009).
Episode mania yaitu pada kelompok ini terdapat efek yang meningkat, disertai
peningkatan dalam jumlah dan kecepatan aktivitas fisik mental, dalam berbagai
derajat keparahan. Sedangkan episode depresi ditandai dengan gejala utama yaitu:
afek depresi, kehilangan minat dan kegembiraan, serta kekurangan energi yang
menuju meningkatnya keadaan mudah lelah dan menurunnya aktivitas.
Hipomania yaitu derajat gangguan yang lebih ringan dari mania, afek meninggi
atau berubah disertai peningkatan aktivitas menetap selama sekurang-kurangnya
beberapa hari berturur-turut, pada suatu derajat intensitas dan bertahan melebihi
siklotimia serta tidak ada halusinasi atau waham (Mansjoer, 2009).
Pasien dengan gangguan bipolar juga bisa mendapat episode campuran yang
didefinisikan sebagai terjadinya simultan gejala mania dan depresi. Episode
campuran terjadi hingga 40% dari semua episode dan lebih umum pada pasien
lebih muda dan tua serta wanita (Drayton & Weinstein, 2008). Serta dapat juga
mengalami siklus cepat ; yaitu bila terjadi paling sedikit empat episode – depresi
hipomania atau mania – dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat jarang
mengalami bebas gejala dan biasanya terdapat adanya kesulitan dalam hubungan
interpersonal atau pekerjaan. Siklus ultra ceoar yaitu episode mania, hipomania,
dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat dalam beberapa hari. Gejala
dan hendaknya lebih berat bila dibandingkan dengan siklotimia dan sangat sulit
diatasi. Symptom psikotik kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik.
Gejala psikotik yang paling sering yaitu: halusinasi (auditorik, visual, atau bentuk
sensasi lainnya) dan waham (APA, 2011).

Tabel 2.2 Kriteria Diagnostik dari Episode Depresi


1. Lima (atau lebih) gejala berikut telah ada hampir setiap hari selama
periode 2-minggu yang sama dan mewakili perubahan dari fungsi
sebelumnya; setidaknya salah satu gejala adalah perasaan depresi atau
kehilangan minat atau kesenangan :
a. Perasaan tertekan atau sedih hampir sepanjang hari
b. Kurang bersemangat atau kesenangan dalam kegiatan semua, atau
hampir semua, sepanjang hari
c. Penurunan berat badan yang signifikan ketika tidak diet, peningkatan
berat badan (misalnya, perubahan lebih dari 5% dari berat badan
dalam sebulan), atau penurunan atau peningkatan nafsu makan
d. Insomnia atau hypersomnia
e. Agitasi psikomotorik atau keterbelakangan mental (diamati oleh
orang lain, tidak hanya subjektif perasaan kegelisahan atau sedang
melambat)
f. Kelelahan atau kehilangan energi g. Perasaan tidak berharga atau
perasaan bersalah yang berlebihan atau tidak pantas selayaknya
(yang mungkin delusi)
g. Penurunan kemampuan untuk berpikir atau berkonsentrasi (baik
subjektif atau diamati oleh orang lain)
h. Terus berpikiran tentang kematian (tidak hanya rasa takut mati),
berulang keinginan bunuh diri tanpa rencana tertentu, atau usaha
bunuh diri sebelumnya atau rencana tertentu untuk melakukan bunuh
diri
2. Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran
3. Gejala menyebabkan tekanan klinis secara signifikan atau dalam sosial,
pekerjaan, atau fungsi dari bidang-bidang penting lainnya
4. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat
(misalnya, penyalahgunaan obat, pengobatan lainnya) atau kondisi
medis umum (misalnya, hipotiroidisme)
5. Gejala yang tidak bisa diperhitungkan dalam keadaan berkabung (yaitu,
setelah kehilangan orang yang dicintai) dan tetap bertahan selama lebih
dari 2 bulan atau ditandai dengan gangguan fungsional, berkeinginan
bunuh diri, gejala psikotik, atau psikomotorik keterbelakangan.

Tabel 2.3 Kriteria Diagnostik dari Episode Mania


1. Periode yang berbeda dari normal dan terus-menerus meningkat,
expansive dan mudah tersinggung . Berlangsung setidaknya 1 minggu
2. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut telah
bertahan dan telah pada tingkat yang signifikan:
a. Meningkat diri atau kebesarannya
b. Menurun kebutuhan untuk tidur (misalnya, merasa cukup istirahat
setelah 3 jam tidur)
c. Lebih banyak bicara daripada biasa atau ada tekanan untuk terus
berbicara.
d. Pikirann yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
e. Distractibility (yaitu perhatian terlalu mudah tertarik pada hal yang
tidak penting atau ada rangsangan dari luar yang tidak relevan).
f. Peningkatan dalam berbagai macam kegiatan (misal, aktivitas sosial,
aktivitas di tempat kerja atau sekolah, atau seksual) atau agitasi
psikomotorik.
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang
memiliki potensi tinggi untuk mendapatkan konsekuensi yang
menyakitkan (misalnya berfoya-foya, ketidakbijaksanaan dalam
seksual, atau tidak bisa menjalankan investasi bisnis dengan benar).
3. Gejala tidak memenuhi kriteria untuk episode campuran.
4. Gangguan mood dapat ;
a. terjadi hingga cukup parah yang menyebabkan penurunan fungsi
kerja, kegiatan sosial atau hubungan dengan orang lain.
b. memerlukan rawat inap untuk mencegah kerugian atas diri sendiri
atau orang lain, atau
c. memiliki gejala-gejala psikotik.
5. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat
(misalnya, penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau
kondisi medis umum (misalnya, hipertiroidisme)

Tabel 2.4 Kriteria Diagnostik dari Episode Hipomania


1. Periode berbeda dari normal dan terus-menerus meningkat, expansive
atau mudah tersinggung, berlangsung setidaknya 4 hari.
2. Selama periode gangguan mood, tiga (atau lebih) gejala berikut telah
ada dan telah hadir ke tingkat yang signifikan:
a. Meningkat diri atau kebesarannya
b. Menurun kebutuhan untuk tidur (misalnya, merasa cukup beristirahat
hanya dengan tidur 3 jam)
c. Lebih banyak bicara daripada biasanya atau ada tekanan untuk terus
berbicara
d. Pikiran yang tidak teratur atau pikiran yang saling bersliweran.
e. Distractibility (yaitu, perhatian terlalu mudah tertarik penting atau
tidak relevan rangsangan eksternal)
f. Peningkatan dari berbagai macam kegiatan (baik sosial, di tempat
kerja, sekolah, atau seksual) atau agitasi psikomotorik
g. Keterlibatan yang berlebihan dalam kegiatan menyenangkan yang
memiliki potensi tinggi untuk mendapatkan konsekuensi yang
menyakitkan (misalnya berfoya-foya, ketidakbijaksanaan dalam
seksual, atau tidak bisa menjalankan investasi bisnis dengan benar).
3. Episode dikaitkan dengan tegas perubahan dalam fungsi yang seperti
biasanya orang ketika tidak gejala.
4. Gangguan dalam suasana hati dan perubahan dalam fungsi yang diamati
oleh orang lain.
5. Episode yang penyebabnya tidak cukup parah ditandai penurunan dalam
hubungan sosial atau fungsi pekerjaani, tidak memerlukan rawat inap,
dan tidak memiliki gejala psikotik.
6. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat
(misalnya, penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau
kondisi medis umum (misalnya, Hipertiroidisme).

Tabel 2.5 Kriteria Diagnostik dari Episode Campuran


1. Kriteria terpenuhi dari episode mania maupun untuk episode depresi
berat hampir setiap hari selama setidaknya 1 minggu periode.
2. Gangguan mood yang cukup parah ditandai dengan adanya gangguan
dalam fungsi pekerjaan, biasa kegiatan sosial, atau hubungan dengan
orang lain; memerlukan rawat inap untuk mencegah kerugian untuk diri
sendiri atau orang lain; atau memiliki fitur psikotik.
3. Gejala yang tidak disebabkan oleh efek fisiologis langsung zat
(misalnya, penyalahgunaan obat, obat atau pengobatan lainnya) atau
kondisi medis umum (misalnya, hipertiroidisme)

Tabel 2.6 Kriteria Diagnostik Siklus Cepat


Siklus cepat yaitu apabila terjadi paling sedikit empat episodedepresi,
hipomania atau mania-dalam satu tahun. Seseorang dengan siklus cepat
jarang mengalami bebas gejala dan baisanya terdapat kendala berat dalam
hubungan interpersonal atau pekerjaan.
Tabel 2.7 Kriteria Diagnostik Siklus Ultra Cepat
Mania, hipomania, dan episode depresi bergantian dengan sangat cepat
dalam beberapa hari. Gejala dan kendala lebih berat bila dibandingkan
dengan siklotimia dan sangat sulit diatasi

Tabel 2.8 Kriteria Diagnostik Simtom Psikotik


Pada kasus berat, pasien bisa mengalami gejala psikotik. Gejala psikotik
yang paling sering yaitu:
- Halusinasi (auditonik, visual, atau bentuk sensasi lainnya
- Waham Misalnya, waham kebesaran sering terjadi pada episode mania
sedangkan waham nihilistik terjadi pada episode depresi. Ada kalanya
simtom psikotik tidak serasi dengan mood. Pasien dengan gangguan
bipolar sering didiagnosis sebagai skizofrenia.

D. Klasifikasi
Tabel 2.1 Pembagian Gangguan Afektif Bipolar Berdasarkan PPDGJ III (F31)

F31.0 Gangguan afektif bipolar, episode kini hipomanik


F31.1 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik tanpa gejala psikotik
F31.2 Gangguan afektif bipolar, episode kini manik dengan gejala psikotik
F31.3 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif ringan atau sedang
F31.4 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat tanpa gejala
psikotik
F31.5 Gangguan afektif bipolar, episode kini depresif berat dengan gejala
psikotik
F31.6 Gangguan afektif bipolar, episode kini campuran
F31.7 Gangguan afektif bipolar, kini dalam remisi
F31.8 Gangguan afektif bipolar lainnya
F31.9 Gangguan afektif bipolar yang tidak tergolongkan
Dari tabel diatas, dapat terlihat bahwa episode manik dibagi menjadi 3
menurut derajat keparahannya yaitu hipomanik, manik tanpa gejala psikotik, dan
manik dengan gejala psikotik. Hipomanik dapat diidentikkan dengan seorang
perempuan yang sedang dalam masa ovulasi (estrus) atau seorang laki-laki yang
dimabuk cinta.Perasaan senang, sangat bersemangat untuk beraktivitas, dan
dorongan seksual yang meningkat adalah beberapa contoh gejala hipomanik.
Derajat hipomanik lebih ringan daripada manik karena gejala-gejala tersebut tidak
mengakibatkan disfungsi social (Amalina, 2011).
Pada manik, gejala-gejalanya sudah cukup berat hingga mengacaukan hampir
seluruh pekerjaan dan aktivitas sosial.Harga diri membumbung tinggi dan terlalu
optimis.Perasaan mudah tersinggung dan curiga lebih banyak daripada elasi
(suasana perasaan yang meningkat). Bila gejala tersebut sudah berkembang
menjadi waham maka diagnosis mania dengan gejala psikotik perlu
ditegakkan.Bertolak belakang dengan hipomanik/manik, gejala pada depresi terjadi
sebaliknya.Suasana hati diliputi perasaan depresif, tiada minat dan semangat,
aktivitas berkurang, pesimis, dan timbul perasaan bersalah dan tidak berguna.
Episode depresi tersebut harus berlangsung minimal selama 2 minggu baru
diagnosis dapat ditegakkan. Bila perasaan depresi sudahmenimbulkan keinginan
untuk bunuh diri berarti sudah masuk dalam depresif derajat berat (Amalina, 2011).
a. Kriteria episode mania
Episode mania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan secara
terus menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan naik (elevated),
meluas (expansive), suasana hati yang mudah marah (irritable mood) yang
berlangsung selama minimal 1 minggu (atau kurang dari 1 minggu bila
dipondokkan di rumah sakit). Dalam masa dimana terjadi gangguan suasana hati
tersebut, setidaknya ada 3 atau lebih gejala harus ada (4 gejala harus ada bila hanya
irritable mood) :
1) Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or
grandiosity)
2) Menurunnya kebutuhan untuk tidur (misalnya hanya perlu tidur 3 jam sehari)
3) Terlalu banyak bicara
4) Pikiran yang berkejaran
5) Distractibility (mudah terganggu)
6) Meningkatnya kegiatan untuk mencapai suatu tujuan (bisa di sekolah, kerja,
social atau seksual)
7) Melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi yang menyakitkan,
misalnya menghamburkan uang, hubungan seksual atau investasi bisnis yang
bodoh
b. Kriteria episode hipomania
Episode hipomania adalah suatu periode tersendiri yang ditandai dengan
secara terus menerus (persistent), secara tidak normal (abnormal) dan naik
(elevated), meluas (expansive), suasana hati yang mudah marah (irritable mood)
yang berlangsung selama minimal 4 hari, dan berbeda dengan kondisi biasa ketika
tidak depresi (non-depressed mood). Episode hipomania harus mempunyai 3 gejala
atau lebih ( 4 gejala bila hanya irritable mood):
1) Waham kebesaran atau terlalu percaya diri (Inflated self-esteem or
grandiosity)
2) Menurunnya kebutuhan untuk tidur (misalnya hanya perlu tidur 3 jam sehari)
3) Terlalu banyak bicara
4) Pikiran yang berkejaran
5) Distractibility (mudah terganggu)
6) Meningkatnya kegiatan untuk mencapai suatu tujuan (bisa di sekolah, kerja,
social atau seksual)
7) Melakukan sesuatu yang dapat menimbulkan konsekuensi yang menyakitkan,
misalnya menghamburkan uang, hubungan seksual atau investasi bisnis yang
bodoh.
c. Kriteria untuk depresi berat (major depression)
Agar bisa didiagnosa sebagai major depression, maka pasien harus
mempunyai lima atau lebih gejala selama kurun waktu minimal 2 minggu atau
lebih. Salah satu gejala yang ada haruslah berupa suasana hati yang tertekan atau
rendah (depressed mood) atau berupa adanya gejala kehilangan minat atau
keinginan. Gejala yang ada bisa seperti yang dirasakan pasien atau seperti yang
terlihat oleh orang lain yang mengamati. Beberapa gejala depresi untuk
penegakkan diagnosa adalah :
1) Perasaan hati yang tertekan atau rendah (depressed mood) sepanjang hari,
hampir setiap hari, seperti perasaan sedih, hampa, menangis (Pada anak anak
atau remaja, depressed mood bisa terlihat sebagai gejala mudah tersinggung
secara terus menerus—constant iritability).
2) Berkurangnya minat terhadap hampir semua kegiatan atau tidak ada gairah
terhadap sesuatu yang menyenangkan selama sepanjang hari, hampir setiap
hari.
3) Berkurangnya berat badan secara bermakna ketika tidak sedang diet atau
puasa, atau bertambah berat badan, berkurangnya atau meningkatnya nafsu
makan hamper setiap hari (pada anak anak, bila berat badan anak tidak naik
sesuai perkembangan umur, bisa merupakan salah satu gejala depresi).
4) Susah tidur atau mengantuk/ ingin tidur sepanjang hari, hampir setiap hari.
5) Terlihat gelisah (restless) atau berperilaku lambat sehingga bisa terlihat oleh
orang lain.
6) Kecapean atau kehilangan kekuatan/ energi yang dirasakan hampir setiap hari.
7) Perasaan tidak berharga atau rasa bersalah yang tidak pada tempatnya yang
terjadi hampir setiap hari.
8) Kesulitan dalam mengambil keputusan, atau kesulitan berpikir atau
berkonsentrasi yang terjadi hampir setiap hari.
9) Berulang kali timbul keinginan untuk mati atau bunuh diri, atau berniat/
mencoba bunuh diri.
American Psychiatric Association telah mengeluarkan kriteria untuk
menegakkan diagnose depresi yang tertuang dalam Diagnostic and Statistical
manual of Mental Disorders (DSM), yaitu:
a. Gangguan bipolar tipe I
Setidaknya mempunyai satu fase (episode) mania atau satu episode
campuran. Penderita bipolar mungkin mengalami depresi berat (major
depression) namun mungkin juga tidak karena gejala gangguan bipolar
bervariasi antara satu orang dengan lainnya. Ada beberapa sub-kategori
tergantung tanda dan gejalanya.
b. Gangguan bipolar tipe II
Setidaknya mempunyai satu fase (episode) depresi dan satu episode
hipomania (namun tidak mania penuh atau campuran/ mixed episode). Ada
beberapa sub-kategori tergantung tanda dan gejalanya. Gangguan jiwa bipolar
tipe II mempunyai gejala yang mengganggu atau membuat sipenderita
mengalami kesulitan dalam beberapa area kehidupannya, seperti dalam hal
kerja dan hubungan sosial.
c. Gangguan cyclothymic
Penderita mengalami beberapa episode hipomania dan episode depresi,
namun tidak pernah mengalami episode mania (full manic) atau depresi berat
(major depression) atau episode campuran. Diagnosa cyclothymic disorder
ditegakkan bila penyakit berlangsung selama 2 tahun atau lebih (setahun pada
anak anak dan remaja). Selama masa itu, gejala tidak pernah hilang setidaknya
selama 2 bulan. Gejala menimbulkan kesulitan atau gangguan dalam
kehidupan yang bersangkutan, misalnya dalam masalah sekolah atau hubungan
sosial.
E. Terapi (pengobatan)
Tujuan terapi untuk gangguan bipolar adalah untuk mencegah terjadinya
kekambuhan episode mania, hypomania, atau depresif, mempertahankan
berfungsi-fungsi normal, dan untuk mencegah episode lebih lanjut mania atau
depresi (Drayton&Weinstein, 2008).
a. Farmakoterapi pada fase akut
1) Farmakoterapi pada mania akut
Pada mania akut, risiko perilaku agresif dan kekerasan harus dinilai
pada semua pasien. Selanjutnya, keamanan pasien dan tim medis harus pula
diperhatikan. Pada fase akut, perlu dipertimbangkan pengikatan dan
penempatan pasien di tempat yang tenang (Amir 2012).

Tabel 2.9 Rekomendasi Farmakologi untuk Gangguan Bipolar, Episode


manik, Akut
Pilihan Jenis Obat
Lini I Litium, divalproat, olanzapin, risperidon, Quetiapin,
Quetiapin XR, Aripiprazol, Ziprasidon, Litium atau
Divalproat + Risperidon, Litium atau Divalproat +
Quetiapin, Litium atau Divalproat + olanzapin, Litium
atau Divalproat + aripiprazol
Lini II Karbamazepin, ECT, Litium + divalproat, asenapin,
litium atau divalproat + asenapin, paliperidon monoterapi
Lini III Haloperidol, chlorpromazine, Litium atau Divalproat +
haloperidol, litium + Karbamazepin, Clozapin,
Oksakarbazepin, tamoksifen
Tidak Monoterapi gabapentin, topiramat, lamotrigin, verapamil,
direkomendasikan
tiagabin, risperidon + Karbamazepin, olanzapin +
karbamazepin

b. Farmakoterapi pada fase rumatan


Penatalaksanaan gangguan bipolar jangka panjang merupakan
tantangan bagi klinisi karena keberagaman gejala, tolerabilitas, dan riwayat
respon terhadap pengobatan tiap individu berbeda-beda. Berikut ini adalah
terapi rumatan yang dianjurkan oleh seksi bipolar PDSKJI.
Rekomendasi terapi rumatan pada gangguan bipolar I :
1) Lini I:
Litium, Lamotrigin monoterapi, divalproat, olanzapin, quetiapin, litium
atau divalproat + quetiapin, risperidon injeksi jangka panjang, aripiprazol.
2) Lini II:
Karbamazepin, litium + divaproat, litium + karbamazepin, litium atau
divalproat + olanzapin, litium + risperidon, litium + lamotrigin, olanzapin
+ fluoksetin.
3) Lini III:
Penambahan fenitoin, penambahan olanzapin, penambahan
Electroconvulsive therapy, penambahan topiramat, penambahan asam
lemak omega3, penambahan okskarbazepin (Soetjipto, 2012).
c. Pemilihan stabilisator mood
Tabel Pilihan Terapi Stabilisator Mood untuk Mania (The Expert
Consensus Guideline Series, Medication Treatment of Bipolar Disorder 2000).

Tabel 2.10 Pilihan Terapi Stabilisator Mood untuk Mania


Stabilisator mood Stabilisator mood Pilihan
Presentasi Klinis
yang Dianjurkan Lain
Mania dengan gejala Divalproat
psikotik Litium
Mania tipe disforik Divalproat
atau mania campuran Litium
murni Karbamazepin
Mania tipe eforik Litium
Divalproat
Hipomania Litium
Divalproat
2.6 Asuhan keperawatan jiwa
1. Pengkajian
Pengkajian psikososial lanjut usia (lansia) adalah tercapainya integritas diri
yang utuh. Pemahaman secara keseluruhan menyebabkan lansia berusaha
membimbing generasi berikutnya (anak dan cucu) berdasarkan sudut pandangnya.
Lansia yang tidak mencapai integritas diri akan merasa putus asa dan menyesali
masa lalunya karena tidak merasakan hidupnya bermakna.
a. Data Objektif
Data objektif pada klien lansia dengan gangguan jiwa adalah :
1) Aktivitas sosial berkurang
2) Perubahan anggota tubuh, baik struktur, bentuk mapun fungsi
b. Data Subjektif
Data subjektif pada klien lansia dengan gangguan jiwa adalah :
1) Klien mengungkapkan tidak berdaya, tidak berharga
2) Klien mengatakan merasa kehilangan
3) Klien merasa Kehidupanya selama ini tidak berarti
c. Analisa data
Data Masalah Keperawatan
Subjektif:
Klien Mengatakan Merasa kehilangan
Klien merasa Kehidupanya selama ini
tidak berarti Putus Asa
Objektif :
Aktifitas Sosial Berkurang
-
Subjektif :
Klien mengungkapkan tidak berdaya, tidak
berharga
Objektif : Gagguan Citra Tubuh
Perubahan anggota tubuh, baik struktur,
bentuk mapun fungsi
2. Diagnosa Keperawatan
a. Resiko Putus Asa
b. Gangguan Citra Tubuh

3. Tindakan Keperawatan
Diagnosa Keperawatan Tindakan keperawatan
Resiko Putus Asa 1. Diskusikan penyebab dan hambatan
dalam mencapai tugas perkembangan
lansia seperti adanya penyakit
2. Diskusikan cara mengatasi hambatan
dan motivasi keinginan lansia untuk
mengobati penyakit fisik yang
dialamnya
3. Bantu lansia besosialisasi secara
bertahap
4. Fasilitasi untuk ikut kelompok lansia
Gangguan Citra Tubuh 1. Diskusikan persepsi klien tentang citra
tubuhnya dahulu dan saat ini, perasaan
dan harapan terhadap citra tubunya saat
ini
2. Diskusi askep positif diri
3. Bantu klien untuk meningkatkan fungsi
bagian tubuh yang tergaggu

4. Intervensi
a. Diagnosa Keperawatan Resiko Putus Asa
Sp 1 – Lansia : Membina hubungan saling percaya dengan lansia dan keluarga,
menjelaskan karakteristik perkembangan psikososial lansia yang normal dan
menyimpang , menjelaskan cara mencapai karakteristik perkembangan
psikososial lansia yang normal melakukan tindakan untuk mencapai
perkembangan psikososial lansia yang normal
Orientasi
“ Selamat pagi/siang/sore, pak/bu. Saya perawat I dari dari RS....Nama Bapak/Ibu
siapa? Panggilanya apa? Bagaimana keadaan Kakek/Nenek yang tinggal di rumah ini?
Siapa namanya? Berapa usianya? Bagaimana kalau saya ingin berbincang-bincang
dengan kakek/Nenek tentang perkembangan lansia?” (bertemu kakek/nenek) “ Berapa
lama, Kek/Nek? Bagaimna kalau 30 menit saja? Di mana kita akan bicara, kek/nek? Di
ruangan ini? Baiklah, kita akan berbincang-bincang selama 30 menit, kek/nek.”
Kerja:
“Kek/Nek bagaimana keadaan saat ini? Dapatkah Kek/Nek menjelaskan pencapain
dalam kehidupan selama ini? Apa saja keberhasilan yang yang dirasakan selama hidup?”
(anda menganalisa hasil percakapan. Jika Kakek/Nenek menceritakan keberhasilan dan
merasa berarti, perkembangan mereka normal dan jika Kakek/Nenek menceritakan
kekecewaan dan kehilangan , perkembangan mereka menyimpang) “ selanjutnya, apa
saja kegiatan Kakek/Nenek sehari-hari? Apakah ada pertemuan keluarga, misalnya
Kakek/Nenek mengunjungi anak/cucu? Atau anak/cucu mengunjungi Kakek/Nenek.
Bagaimana dengan teman-teman sebaya Kakek/Nenek, masih sering bertemu? Apakah
mereka di sekitar sini? Bagaiman kalau kita bentuk teman-teman sebaya sambil bercerita
pengalaman hidup.

Terminasi :
“ baiklah, kita sudah membicarakan tentang kehidupan Kakek/Nenek. Bagaiman
perasaan Kakek/Nenek? Masih ada hal yang ingin ditanyakan? Saya akan datang lagi
minggu depan untuk berbincang-bincang dengan Kakek/Nenek dan berbicara dengan
bapak/ibu untuk membahas cara merawat Kakek/Nenek. Sampai jumpa.”

b. Diagnosa keperawatan gangguan Citra Tubuh


SP 1 – Lansia : Membina hubungan saling percaya mendiskusikan tentang citra
tubuh, penerimaan terhadap citra tubuh, aspek positif dan cara meningkatkan
citra tubuh

Orientasi :
“selamat Pagi Nama aya I saya dari Rs...saya datang untuk merawat Kakek/Nenek.
Nama Kakek/Nenek siapa? Senang dipanggil apa? Bagiman perasaas Kakek/Nenek hari
ini? Bagaimana penyembuhan lukanya? Bagaiman kalau kita berbincang-bincang
tentang perasaan terhadap kaki Kakek/Nenek yang mengalami gangguan? (perhatikan
data-data tentang gangguan citra tubuh) “ mau berapa lama? Bagamana kalau 30 menit?
Mau dimana kita berbincang-bincang?”

Kerja :
“ Bagaimana prasaan Kakek/Nenek terhadap kaki yang sudah mulai sembuh? Apa
harapan Kakek/Nenek untuk penyembuhan ini? Bagus sekali, Kakek/Nenek sudah
mengungkapkan perasaan dan harapan. Baik bagaimana kalau kita membicarakan bagian
tubuh yang lain yang masih dapat digunakan? Mari kita mulai.” (boleh mulai dari unjung
rambut sampai unjung kaki). Nah mata Kakek/Nenek awas ya. Bagus. Bagaimana
dengan kedua tangan Kakek/Nenek, dst.” (Buat daftar potensi tubuh yang masih prima.).
wah ternyata banyak sekali bagian tubuh Kakek/Nenek yang masih berfungsi dengan
baik yang perlu di syukuri.”

Terminasi :
“ bagaiman perasaan Kakek/Nenek setelah kita berbincang-bincang? Wah banyak sekli
bagian tubuh Kakek/Nenek yang masih berfungsi dengan baik (sebutkan beberapa
bagian tubuh yang masih berfunsi)” Baik, dua hari lagi dua hari lagi kita bertemu untuk
membicarakan cara meningkatkan citra tubuh Kakek/Nenek. Mau jam berapa? Baik,
sampai jumpa.”
2.7 PELAKSANAAN TERAPHY AKTIFITAS KELOMPOK PADA KLIEN DENGAN
GANGGUAN JIWA PADA LANSIA.
1. Tujuan
a. Klien mampu memperkenalkan diri
b. Klien mampu berkenalan dengan anggota kelompok
c. Klien mampu bercakap - cakap dengan anggota kelompok
d. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan topik percakapan
e. Klien mampu menyampaikan dan membicarakan masalah pribadi pada orang lain.
f. Klien mampu menyampaikan pendapat tentang manfaat kegiatanTAK yang
telah dilakukan.
g. Klien dapat mengekspresikan perasaan melalui gambar dan mampu menceritakan pada
kelompok.
2. PENGORGANISASIAN
a. Leader (pemimpin)
1) Memimpin jalannya therapy aktivias kelompok
2) Merencanakan, mengontrol dan mengatur jalannya therapy
3) Menyampaikan materi sesuai TAK
4) Memimpin diskusi kelompok
b. Co Leader
1) Membuka acara
2) Mendampingi leader
3) Mengambil alih posisi jika leader blocking
4) Menyerahkan kembali posisi kepada leader
5) Menutup acara diskusi
c. Fasilitator
1) Ikut serta dalam kegiatan kelompok
2) Memberikan stimulus/motivasi pada peserta lain untuk berpartisipasi
aktif
3) Memberikan reinforcemen terhadap keberhasilan peserta lainnya
4) Membantu melakukan evaluasi hasil
5) Menjadi role model.
d. Observer
1) Mengamati jalannya kegiatan sebagai acuan untuk evaluasi
2) Mencatat serta mengamati respon klien selama TAK berlangsung
3) Mencatat peserta yang aktif dan pasif dalam kelompok serta klienyang drop
out.
e. Tugas Peserta
1) Mengikuti seluruh kegiatan
2) Berperan aktif dalam kegiata
3) Megikuti proses evaluasi

3. PERSIAPAN LINGKUNGAN DAN WAKTU


a. Ruangan nyaman
b. Ventilasi baik
c. Suasana tenang

4. PERSIAPAN KLIEN
Memilih klien sesuai dengan indikasi, yaitu Lansia dengan gangguan jiwa
5. PERSIAPAN ALAT
a. Tape recorder
b. Kertas A4
c. Pensil tulis
d. Pensil warna
e. Meja
f. Kursi
g. Jadwal kegiatan klien
6. KEGIATAN
a. Persiapana
1) Membuat kontrak dengan klien tentang TAK yang sesuai dengan indikassi
2) Menyiapkan alat dan tempat bersama
b. Pembukaan (fase orientasi)
1) Perkenalan: salam terapeutik
a) Salam dari terapis kepada klien
b) Terapis dan klien memakai papan nama
2) Evaluasi/validasi
a) Menanyakan perasaan klien saat ini
b) Menanyakan masalah yang dirasakan
c. Kontrak
1) Terapis menjelaskan tujuan kegiatan, yaitu mendengarkanmusik
2) Terapis menjelaskan aturan main berikut:
a) Jika ada klien yang ingin meninggalkan kelompok, harusmeminta izin
kepada terapis
b) Membuat kontrak waktu
c) Setiap klien mengikuti kegiatan dari awal sampai selesai
d) Proses kegiatan (fase kerja)
3) Terapis menjelaskan kegiatan yang akan dilaksanakan
4) Terapis membagikan name tag untuk tiap kliene
5) Evaluasi (fase terminasi)
a) Sharing persepsi (evaluasi)
(1) Leader mengeksplorasi perasaan lansia setelah mengikuti
Terapi Aktifitas Kelompok.
(2) Leader memberi umpan balik positif kepada lansia,
berupa pujian atas keberhasilan kelompok
(3) Leader meminta lansia untuk menyebutkan hal positif atau
kesukaan lansia yang lainnya secara bergantian.
(4) Leader memberi umpan balik positif berupa pujian kepada lansia yang
sudah menjawab atas pertanyaan dari leader.
(5) Kontrak yang akan datang
(a) Menyepakati kegiatan TAK yang akan datang
(b) Menyepakati waktu dan tempat.
6) PenutupObserver membaca hasil observasi
7. EVALUASI
Evaluasi dilakukan saat proses TAK berlangsung, khususnya pada tahap kerja,
Aspek yang dievaluasi adalah kemampuan klien sesuai dengan tujuanTAK.
8. PROGRAM ANTISIPASI MASALAH
a. Memotivasi klien yang tidak aktif selama TAK.Memberi kesempatan klien
menjawab sapaan perawat/terapis.
b. Bila klien meninggalkan permainan tanpa pamit
1) Panggil nama klien
2) Menanyakan alas an klien meninggalkan permainan
3) Memberi penjelasan tentang tujuan permainan dan menjelaskan bahwa
klien dapat meninggalkan kegiatan setelah TAK selesai atau klien
mempunyai alasan yang tepat.
c. Bila klien lain yang ingin ikut:
Minta klien tersebut untuk meminta persetujuan dari peserta yang terpilih
9. Peraturan Kegiatan
a. Peserta diharapkan mengikuti seluruh acara dari awal hinggga akhir
b. Peserta diharapkan menjawab setiap pertanyaan yang diberikan dalam kertas
c. Peserta tidak boleh berbicara bila belum diberi kesempatan; perserta tidak boleh
memotong pembicaraan orang lain
d. Peserta dilarang meninggalkan ruangan bila acara belum selesai dilaksanakan
e. Peserta yang tidak mematuhi peraturan akan diberi sanksi :
1) Peringatan lisan
2) Dihukum : Menyanyi dan Menari.
3) Diharapkan berdiri dibelakang pemimpin selama lima menit
4) Dikeluarkan dari ruangan/kelompok
BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULAN

Berdasarkan uraian dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa fase


pertumbuhan dan perkembangan pada dewasa memiliki tiga fase yaitu fase dewasa
muda, menengah, dan tua. Dari masing-masing fase tersebut terdapat tugas-tugas
perkembangan yang harus dipenuhi oleh individu yang terlibat. Jika individu tidak dapat
melaksanakan tugas-tugas perkembangannya dengan baik maka tugasnya dalam tahap
perkembangan selanjutnya akan terganggu. Peran seorang perawat disini sangat penting,
perawat harus memahami setiap proses perkembangan manusia, terutama pada fase
dewasa ini. Perawat juga harus bisa melakukan pengkajian terhadap perkembangan serta
promosi kesehatan untuk setiap fasenya.
Perawat yang bekerja dengan lansia yang memiliki gangguan kejiwaan harus
menggabungkan keterampilan keperawatan jiwa dengan pengetahuan gangguan
fisiologis, proses penuaan yang normal, dan sosiokultural pada lansia dan keluarganya.
Sebagai pemberi pelayanan perawatan primer, perawat jiwa lansia harus pandai dalam
mengkaji kognitif, afektif, fungsional, fisik, dan status perilaku. Perencanaan dan
intervensi keperawatan mungkin diberikan kepada pasien dan keluarganya atau pemberi
pelayanan lain.
Perawat jiwa lansia mengkaji penyediaan perawatan lain pada lansia untuk
mengidentifikasi aspek tingkah laku dan kognitif pada perawatan pasien. Perawat jiwa
lansia harus memiliki pengetahuan tentang efek pengobatan psikiatrik pada lansia.
Mereka dapat memimpin macam-macam kelompok seperti orientasi, remotivasi,
kehilangan dan kelompok sosialisasi dimana perawat dengan tingkat ahli dapat
memberikan psikoterapi.

3.2 SARAN

1. Diharapkan mahasiswa benar-benar mampu memahami tentang asuhan


keperawatan pada klien ganguan jiwa pada dewasa dan lansia.
2. Untuk institusi pendidikan hendaknya lebih melengkapi literatur yang berkaitan
dengan ganguan jiwa pada dewasa dan lansia.
DAFTAR PUSTAKA

1. Manajemen Keperawatan Psikososial dan Kader Kesehatan Jiwa : CMHN, EGC Jakarta
2011.
2. Buku Ajaran Keperawatan Jiwa/Farida Kusumawati dan Yudi Hartono – Jakarta :
Salemba Medika, 2011
3. Mary C. Townsend, RN, MN, CS Buku Saku Diagnosa Keperawatan Psikiatri Edisi 5 .
EGC Jakrta 2010