Anda di halaman 1dari 6

Penetapan kadar obat dalam plasma adalah salah satu bagian dari pemantauan

kadar obat didalam darah. Teknik ini biasa digunakan klinisi untuk mengoptimalkan

dosis obat dengan memberikan dosis yang ditetapkan berdasarkan konsentrasi target

dengan cara mengukur kadar obat dalam darah dan bila perlu melakukan penyesuaian

dosis. Pemantauan kadar obat dalam darah ini bertujuan untuk membantu

meningkatkan penggunaan obat yang lebih rasional baik keamanan dan efektifitas

dosis pada individu penderita. (Chamberlain,1995)

Sampel biologis dibagi menjadi tiga yaitu cairan, campuran dan padatan.

Sempel biologis cairan terdiri dari cairan serebrospinal, air mata, keringat, ludah, urin

empedu. Sampel biologis campuran terdiri dari plasma, serum, darah, feses. Sampel

biologis padatan terdiri dari otak, jantung, ginjal, hepar, paru-paru, otot, tulang

(Chamberlain,1995).

Pengukuran konsentrasi obat dalam darah, serum, atau plasma merupakan

pendekatan paling baik untuk memperoleh profil farmakokinetik obat didalam tubuh

(Shargel, Wu Pong & Yu, 2005). Plasma adalah suatu cairan kompleks yang

berfungsi sebagai media transportasi untuk zat-zat yang diangkut dalam darah.

Konstituen plasma antara lain air, elektrolit, nutrien, zat sisa, gas, hormon, dan

protein plasma (Ganong, 2009). Plasma diperoleh dari supernatan darah yang telah

ditambah antikoagulan kemudian disentrifugasi (Shargel, Wu Pong & Yu, 2005).

Prinsip kerja dari sentrifugasi yaitu objek diputar secara horizontal. Pada saat

objek diputar, partikel-partikel yang ada akan berpisah sesuai berat jenis masing-

masing partikel. Gaya yang berperan dalam sentrifugasi ini adalah gaya sentrifugal.
Setelah dilakukan sentrifugasi, spesimen terpisah menjadi dua bagian yaitu pellet

yang berada di bagian bawah berupa endapan yang memiliki bobot jenis yang lebih

besar dan supernatan yang berada pada bagian atas dengan warna yang lebih jernih

yang memiliki bobot jenis yang lebih kecil. Pellet berupa plasma sedangkan

supernatan adalah serum. Serum adalah bagian cairan darah, tanpa faktor pembekuan

atau sel darah. Sedangkan plasma adalah cairan darah sebelum darah membeku yang

mengandung unsur pembekuan darah.(Bernasconi G. 1995)

1. Darah

Penentuan kadar suatu obat dalam plasma merupakan hal yang kompleks

disebabkan plasma merupakan suatu matriks yang kompleks. Perlakuan awal

terhadap sampel meliputi isolasi obat yang akan ditentukan dari sampel matriks

biologis harus dilakukan. Preparasi sampel plasma agar dapat memisahkan atau

mengisolasi obat diupayakan menggunakan prosedur seminimal mungkin untuk

menghindari kehilangan obat yang akan ditentukan didalam plasma. Semakin panjang

tahapan prosedur untuk preparasi sampel plasma hingga proses memisahkan atau

mengisolasi obat maka semakin besar kemungkinan hilangnya obat yang akan

ditentukan ( Hendra Adijuwana. 1989).

Beberapa cara preparasi sampel untuk penetapan kadar obat dalam plasma

(Evans, 2004), yakni :

a. Pengendapan Protein Plasma

Contoh zat pengendap protein: asam tungsat, amonium sulfat, tricloro acetic

acid (TCA), asam perklorat, ZnSO4, metanol, dan asetonitril. Protein dapat
diendapkan karena memiliki berbagai sifat diantaranya bersifat sebagai amfoter yakni

memiliki 2 muatan yang berlainan dalam 1 molekul, atau yang dikenal juga sebagai

zwitter ion. Sifat ini membuat protein memiliki muatan yang berbeda pada pH yang

berbeda pula. Akibatnya protein dapat larut pada rentang pH tertentu dimana protein

bermuatan.

Suatu saat di pH tertentu protein akan mencapai titik isoelektriik, yakni pH

dimana jumlah obat total muatan protein sama dengan nol (muatan positif sebanding

dengan muatan negatif), hal ini akan mempengaruhi kelarutan protein. Pada titik

isoelektrik, kelarutan protein sangat rendah, sehingga protein dapat mengendap.

Selain itu, protein juga dapat membentuk ikatan dengan logam dimana

beberapa asam amino dapat terikat pada satu logam sehingga molekulnya menjadi

besar, beratnya juga menjadi besar sehingga protein mengendap. Selain itu, terdapat

juga beberapa sifat lain yang berhubungan dengan presipitasi protein ini yang

dijelaskan pada mekanisme pengendapan oleh masing-masing reagen.

Larutan (NH4)2SO4 merupakan garam dengan konsentrasi tinggi. Mekanisme

(NH4)2SO4 sebagai anti presipitasi protein dikenal sebagai salting out, yakni

penurunan kelarutan protein dengan adanya peningkatan konsentrasi garam. Hal ini

terjadi karena interaksi antara air dengan gugus polar dari protein menurun.

Kelarutan protein akan berkurang bila terdapat garam-garam anorganik dalam

konsentrasi tinggi mengakibatkan pengendapan protein tersebut. Sifat ini terjadi

karena kemampuan ion garam untuk terhidrasi dan terjadi kompetisi antara garam

dengan molekul protein untuk mengikat air.


Mekanisme ZnSO4 – NaOH sebagai agen presipitasi adalah NaOH akan

memberikan suasana basa pada larutan dan mengakibatkan protein berada dalam

keadaan ion negatif atau anion. Anion protein ini akan berikatan dengan ion positif

yang berasal dari logam berat yakni Zn2+ membentuk logam protein yang tidak larut.

Logam berat juga akan merusak struktur sekunder dan tersier dari protein. Ikatan dari

ion logam bermuatan positif akan menurunkan kelarutan protein. Ion logam akan

berkompetisi dengan proton-proton pada larutan untuk berikatan dengan asam amino.

Semakin kuat ikatan ion-ion logam untuk menggantikan ikatan oleh proton-proton

akan menurunkan pH larutan. Kombinasi dari perubahan pI, penurunan pH (baik

akibat ion logam maupun NaOH) akan menyebabkan protein mengendap.

Penambahan larutan organik seperti metanol dan asetonitril pada larutan

protein dalam air akan menurrunkan KD (Konestanta Dielektrik) pelarut/air yang

meningkatkan tarikan antara molekul-molekul bermuatan dan memfasilitasi interaksi

elektrostatik protein. Pelarut organik ini juga akan menggantikan beberapa molekul

air disekitar daerah hidrofob dari permukaan protein yang berasosiasi dengan protein

sehingga menurunkan konsentrasi air dalam larutan dengan demikian kelarutan

protein akan menurun dan memungkinkan terjadinya pengendapan.

2. Urin

Urin, berbeda dengan plasma atau serum, biasanya bebas dari protein atau

lemak sehingga bisa diekstraksi langsung dengan pelarut organic. Meskipun begitu,
urin memiliki banyak variasi komposisi dan sangat tergantung pada jenis makanan

yang dikonsumsi. Normalnya senyawa yang ditemukan dalam urin adalah larut air,

sedangkan sebagian besar obat larut lipid sehingga dapat diekstraksi dengan pelarut

yang cocok. Kesulitan dalam pengumpulan sampel urin adalah volume urin yang

benar yang diproduksi selama interval waktu sampling, bukan pada penetapan

kadarnya. Jumlah analit diperoleh dengan mengalikan volume dan konsentrasinya.

Sampel urin juga sering memberikan hasil negative palsu misalnya pada pemeriksaan

kreatinin. Urin juga memiliki variasi pH yang lebar, dipengaruhi oleh konsumsi

makanan atau obat-obatan. Penggunaan antasida misalnya, kemungkinan bisa

menyebabkan urin menjadi basa. Asam kuat tidak besar pengaruhnya, pH urin normal

berkisar 5,5-7.( Katzung.2011)

3. Feses

Penanganan sampel feses cukup rumit, mengingat bentuknya semi padat dan

juga berupa campuran sisa-sisa proses pencernaan maupun senyawa-senyawa sisa

proses metabolisme tubuh. Harus dipikirkan pengambilan cuplikan yang tepat dan

juga jenis pelarut yang cocok karena banyaknya senyawa yang terkandung, apalagi

jika kadar analit dalam sampel kecil. .( Katzung.2011)

4. Sampel biologis lain

Sampel biologis yang lain bisa berupa air susu, cairan serebrospinal, empedu,

ludah dan lain-lain, masing-masing memiliki kekhasan sifat dan kandungan senyawa
yang berbeda. Kelarutan obat dalam tiap larutan juga berbeda sehingga pemilihan

pelarut harus dilakukan secara cermat ( Katzung, 2011).

DAFTAR PUSTAKA

Bernasconi G. 1995. Teknologi Kimia I. Jakarta: Pradya Paramita


Chamberlain, J.,1995. The Analysis of Drugs in Biological Fluids 2 nd Ed. New York
: CRC Press.
Evans, G. 2004. A Handbook of Bioanaysis and Drug Metabolism. USA : CRC Press.
Ganong, W. F. 2009. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 22. Jakarta: EGC.
Hendra Adijuwana. 1989. Teknik pemisahan Dalam Analisis Biologis. Bogor: IPB
Press
Katzung.Bertram, G. 2011 farmakologi dasar dan klinik, edisi 10. Jakarta: pustaka
buku kedokteran
Shargel, Leon., Susanna Wu-Pong, Andrew B. C. Yu. 2005. Biofarmasetika dan
Farmakokinetika Terapan, Edisi V, terjemahan Fasich dan Budi Suprapti.
Surabaya : Airlangga University Press.