Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Dunia usaha di era globalisasi saat ini menimbulkan persaingan yang


semakinketat. Dimana dalam dunia usaha perusahaan-perusahaan yang ada
bersaing dalam menciptakan produk yang berkualitas tinggi demi menarik perhatian
konsumen agar dapat menguasai pasar. Dalam menghadapi persaingan yang
semakin ketat sangatlah dibutuhkan manajemen yang handal yang mampu
mengantisipasi persaingan, agar mampu bertahan dalam menjalankan
kelangsungan usahanya. Yuningsih (dalam jurnalfandy tendean) (2004 : 5)
mengatakan bahwa akuntansi biaya tidak hanya terbatas dalam perhitungan biaya
persediaan dan harga pokok penjualan dalam penyajian rugi laba, tetapi saat ini
akuntansi biaya melengkapi manajemen dengan perangkatakuntansi untuk kegiatan
perencanaan dan pengendalian, perbaikan mutu dan efisiensi.

Penganggaran merupakan metode perhitungan yang bisa menentukan


bagaimana perusahaan dapat berkembang dengan baik, dengan perhitungan
penganggaran dengan baik, maka siklus perekonomian perusahaan dapat terkontrol
sepenuhnya. Dengan adanya penganggaran, maka perhitungan tentang bahan atau
produk baik itu jangka pendek atau jangka panjang dapat diprediksikan
kebutuhannya secara keseluruhan seefektif dan seefisien mungkin.

1
1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang masalah, berikut ini adalah
rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini.
1. Apa itu anggaran perusahaan?
2. Apa tujuan anggaran perusahaan?
3. Bagaimana penyusunan anggaran penjualan?
4. Apa itu anggaran bahan baku?
5. Apa itu anggaran tenaga kerja?
6. Apa itu anggaran overhead pabrik?

1.3 TUJUAN
Berdasarkan uraian dalam rumusan masalah diatas, berikut ini adalah tujuan
yang akan dibahas dalam makalah ini.
1. Mengetahui pengertian anggaran perusahaan.
2. Mengetahui tujuan anggaran perusahaan.
3. Mengetahui penyusunan anggaran penjualan.
4. Mengetahui anggaran bahan baku.
5. Mengetahui anggaran tenaga kerja.
6. Mengetahui anggaran overhead pabrik.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Anggaran Perusahaan


Anggaran merupakan rencana kerja organisasi di masa mendatang yang
diwujudkan dalam bentuk kuantitatif, formal dan sistematis.1
Anggaran rencana kerja yang terperinci yang dinyatakan secara formal dalam
ukuran kuantitatif, biasanya dalam satuan uang, untuk menunjukkan perolehan atau
penggunaan sumberdaya suatu organisasi dalam jangka waktu tertentu, biasanya
satu tahun.2

2.2 Tujuan Anggaran Perusahaan


Tujuan utama penyusunan anggaran adalah menyediakan informasi kepada
pihak manajemen perusahaan yang digunakan oleh manajemen dalam pengambilan
keputusan. Berikut ini adalah tujuan-tujuan lainnya yang terkait dalam penyusunan
anggaran.
1. Perencanaan
Anggaran memberikan arahan bagi penyusunan tujuan dan kebijakan
perusahaan. Misalnya, anggaran penjualan memperlihatkan pada
manajemen adanya kenaikan target penjualan pada cabang A dan
penurunan pada cabang B. Berdsarkan informasi tersebut, manajemen
segera mengambil langkah-langkah perencanaan dengan mengalihkan
tenaga penjual ke cabang A atau meningkatkan kegiatan promosi pada
cabang B untuk meningkatkan penjualan cabang B.
2. Koordinasi
Anggaran dapat mempermudah koordinasi antar bagian di dalam
perusahaan. Misalnya, dalam anggaran penjualan kegunaan anggaran
untuk koordinasi antar departemen yang ada di perusahaan. Setelah
anggaran penjualan selesai dibuat, Departemen Pemasaran segera
berkoordinasi dengan Departemen SDM untuk menentukan jumlah staf di
Departemen Pemasarn agar mampu memenuhi target penjualan.

1 Rudianto.Jurnal Fandy Tendean.2009.hlm 3


2 Komarudin.Jurnal Fandy Tendean.2005.hlm 90

3
Selanjutnya Departemen Pemasaran berkoordinasi dengan Departemen
Keuangan tentang anggaran pemasaran.
Pada waktu yang bersamaan, Departemen Produksi dapat menentukan
jumlah kebutuhan bahan baku untuk memproduksi barang jadi untuk
mencapai target penjualan. Kemudian Departemen Produksi mengusulkan
pembelian bahan baku ke Departemen Pembelian dan Departemen
Keuangan. Selanjutnya, Departemen Keuangan dapat menghitung
kebutuhan dana yang diperlukan untuk menunjang kelancaran kegiatan
penjualan.
3. Motivasi
Anggaran membuat manajemen dapat menentukan target yang harus
dicapai oleh perusahaan. Misalnya, jika anggaran penjualan
memperlihatkan angka penjualan yang harus dicapai, maka tenaga
penjual yang ada di perusahaan dapat memperoleh gambaran yang jelas
tentang banyaknya barang jadi yang harus dijual.
Jika target jelas, maka tenaga penjual akan lebih termotivasi untuk
mencapainya. Tenaga penjual akan lebih termotivasi lagi jika mereka
terlibat dalam penyusunan anggaran penjualan.
4. Pengendalian
Keberadaan anggaran di perusahaan memungkinkan manajemen untuk
melakukan fungsi pengendalian atas aktivitas-aktivitas yang dilaksanakan
di dalam perusahaan.
Misalnya, perusahaan menetapkan anggaran biaya pemakaian telepon
untuk setiap departemen sebesar Rp2.500.000 per bulan. Setiap awal
bulan berikutnya, diadakan perbandingan antara biaya telepon yang aktual
dikeluarkan oleh setiap departemen dengan target biaya yang telah
ditentukan sebelumnya. Jika biaya pemakian aktual berbeda dengan yang
telah dianggarkan, maka harus dicari faktor yang menyebabkan
perbedaan tersebut dan dilakukan tindakan perbaikan agar pemakan
telepon di bulan berikutnya sesuai yang telah dianggarkan. 3

3 Sasongko dan Parulian.Anggaran. Jakarta.Salemba Empat.2017.hlm 2

4
2.3 Penyusunan Anggaran Penjualan
Anggaran Penjualan (sales budget) adalah projeksi yang distejui komite
anggaran yang menjelaskan penjualan yang diharapkan dalam satuan unit dan uang
Penyusunan anggaran penjualan adalah menggembangkan prediksi
penjualan (Forecasting). Hal ini merupakan tanggung jawab Departemen
Pemasaran. Penyusunan anggaran penjualan akan mempengaruhi anggaran
produksi, anggaran biaya produksi, anggaran beban operasi, performa laba rugi,
anggaran kas dan performa neraca. Satu pendekatan untuk memprediksi penjualan
adalah pendekatan dari bawah ke atas (bottom-up approach) dimana syratnya
adalah setiap tenaga penjual memprediksi jumlah penjualan4. Faktor-faktor yang
mempengaruhi anggaran penjualan :
1. Faktor Pemasaran
- Luas pasar, apakah bersifat lokal, regional, nasional.
- Keadaan persaingan, apakah bersifat monopoli, oligopoli atau bebas.
- Keadaan konsumen, bagaimana selera konsumen, apakah konsumen
akhir atau konsumen industri.
2. Faktor Keuangan
Apakah model kerja perusahaan mampu untuk mencapai target penjualan
yang dianggarkan, seperti untuk : beli bahan baku, bayar upah, biaya
promosi produk, dan lain-lain.
3. Faktor Tekhnis
Apakah kapasitas terpasang seperti mesin dan alat mampu memenuhi
target penjualan yang dianggarkan, apakah bahan baku dan tenaga kerja
mudah didapat dan murah biayanya.
4. Faktor Ekonomis
Apakah dengan meningkatkan penjualan akan meningkakan laba atau
sebaliknya.
5. Faktor Lainnya
Apakah pada musim tertentu anggaran penjualan ditambah, apakah
kebijaksanaan pmerintah tidak berubah, sampai berapa lama anggaran
yang disusun masih dapat dipertahankan.

4 Hansen,Mowen.Akuntansi Manajerial.Jakarta.Salemba Empat.hlm 427

5
Dalam penyusunan anggaran penjualan ini mencakup tujuan perusahaan,
strategi perusahaan serta peramalan penjualan. Untuk lebih jelasnya ada beberapa
langkah dalam penyusunan anggaran penjualan yang dikemukakan oleh Gunawan
Adi Saputro (2001), yaitu:
1. Penentuan dasar-dasar anggaran
2. Penyusunan rencana penjualan
Adapun penjelasan dari langkah-langkah dalam menyusun anggaran
penjualan di atas yaitu :
1. Penentuan Dasar-Dasar Anggaran
a. Penentuan relevant variable yang mempengaruhi penjualan.
b. Penentuan tujuan umum dan khusus yang diinginkan. c.
Penentuan strategi pasar yang dipakai.
2. Penyusunan Rencana Penjualan
a. Analisis Ekonomi, dengan mengadakan proyeksi terhadap
aspek-aspek makro seperti :
 Moneter.
 Kependudukan.
 Kebijaksanaan-kebijaksanaan pemerintah dibidang ekonomi.
 Teknologi, serta menilai akibatnya terhadap permintaan
industri.
b. Melakukan Analisis Industri Analisis ini dilakukan untuk
mengetahui kemampuan masyarakat menyerap produk sejenis
yang dihasilkan oleh industri.
c. Melakukan Analisis Prestasi Penjualan Yang Lalu Analisis ini
dilakukan untuk mengetahui posisi perusahaan pada masa lalu.
Dengan kata lain untuk mengetahui market share yang dimiliki
perusahaan dimasa lampau.
d. Analisis Penentuan Prestasi Penjualan Yang Akan Datang
Analisis ini dilakukan untuk mengetahui kemampuan
perusahaan mencapai target penjualan dimasa depan, dengan
memperhatikan faktor-faktor produksi seperti :
 Bahan mentah.
 Tenaga kerja.
 Kapasitas Produksi.
6
 Keadaan permodalan
e. Menyusun Forecast Penjualan, yaitu meramalkan jumlah
penjualan yang diharapkan dengan anggapan segala sesuatu
berjalan seperti masa yang lalu.
f. Menentukan jumlah penjualan yang dianggarkan (Budgeted
Sales).
g. Menghitung rugi/laba yang diperoleh (Budgeted Profit).
h. Mengkomunikasikan rencana penjualan yang telah disetujui
pada pihak yang berkepentingan.

2.3.1 Teknik Dalam Peramalan Penjualan


Banyak alat dan cara yang digunakan untuk meramalkan penjualan,
menurut sifatnya, cara atau metode untuk melakukan penaksiran atau
peramalan tersebut dapat dibedakan menjadi dua .
1. Bersifat Kualitatif Merupakan cara penaksiran yang menitikberatkan
pada pendapat seseorang. Cara penaksiran semacam ini mempunyai
kelemahan yang menonjol, yaitu bahwa pendapat seseorang seringkali
banyak diwarnai oleh hal-hal yang bersifat objektif. Dengan demikian
ketepatan hasil taksiran menjadi diragukan. Adapun beberapa cara
penaksiran atau peramalan yang bersifat kualitatif ini adalah
a. Pendapat pimpinan bagian pemasaran.
b. Pendapat para petugas penjualan.
c. Pendapat lembaga-lembaga masyarakat.
d. Pendapat konsumen.
e. Pendapat para ahli yang dianggap memahami.
2.
Bersifat Kuantitatif Merupakan cara penaksiran yang menitikberatkan
pada perhitungan-perhitungan angka yang menggunakan berbagai
metode statistik. Berikut ini beberapa cara penaksiran yang bersifat
kuantitatif adalah sebagai berikut :
a. Cara yang berdasarkan dari pada data historis dari suatu variabel
saja, yaitu variabel yang ditaksir itu sendiri misalnya :
1. Metode Trend Bebas (Free Hand Method) Pada dasarnya
semua metode trend menggunakan prinsip yang sama yaitu

7
berusaha mengganti atau merubah garis patah-patah dalam
grafik yang dibentuk oleh data historis menjadi garis yang lebih
teratur bentuknya. Metode trend bebas menentukan bahwa garis
patah-patah yang dibentuk oleh data historis diganti atau dirubah
menjadi garis lurus dengan cara bebas berdasarkan pada
perusahaan dari orang yang bersangkutan.
2. Metode Trend Setengah Rata-Rata (Semi Average Method)
Menurut metode ini, garis lurus yang dibuat sebagai pengganti
garis patah-patah yang dibentuk dari data-data historis tersebut.
Data historis tersebut dapat diperoleh dengan melakukan
perhitungan-perhitungan statistik dan matematika trtentu,
sehingga pengaruh unsure subjektif dapat dihilangkan.
3. Metode Trend Moment (Moment Method)
Metode trend ini menggunakan cara-cara perhitungan statistik
dan matematika tertentu.Untuk mengetahui fungsi garis lurus
sebagai pengganti garis patah-patah yang dibentuk oleh data historis
perusahaan. Dengan demikian pengaruh unsure subjektif dapat
dihindarkan.
4. Metode Kuadratik (Parabolic Method)
Metode kuadratik adalah metode yang digunakan untuk
membentuk garis lengkung (non linier). Dalam hal ini digunakan
bagi perusahaan-perusahaan yang mempunyai deretan data
historis yang cenderung mengarah ke bentukgaris lengkung.
5. Metode Trend Last Square (Last Square Method)
Metode trend last square hanya merupakan penyederhanaan
dari metode trend moment, sehingga mempermudah
perhitunganperhitungannya.
2.3.2 Metode Peramalan Penjualan
Adapun bentuk umum dari trend garis lurus dan garis lengkung yang
sering dipergunakan untuk penyusunan peramalan penjualan produk
perusahaan tersebut adalah sebagai berikut :
Y = a + bx untuk trend garis lurus,
serta Y = a + bx + cx2 untuk trend garis lengkung
Dimana :

8
Y = variabel yang akan diramalkan, dalam hal ini adalah peramalan
penjualan produk perusahaan.
a = konstanta yang akan menunjukan besarnya harga Y apabila X
sama dengan 0 (nol) b = variabel per x" yaitu menunjukkan besamya
perubahan nilai Y dan setiap perubahan satu unit x. x = unit waktu, yang
dapat dinyatakan dengan minggu, bulan, semester, tahun dan lainnya
tergantung kepada kesesuaian dari perusahaan itu sendiri. Di dalam
mempergunakan model peramalan penjualan produk perusahaan seperti
diatas, maka Y adalah merupakan variabel yang akan dicari atau variabel
yang diramalkan. X merupakan unit waktu, sehingga manajemen perusahaan
yang akan menentukan untuk nilai X, berapa besar peramalan tersebut akan
dilakukan. Oleh karena itu dalam penyelesaian peramalan tersebut perlu
ditentukan terlebih dahulu besarnya nilai a dan b untuk garis lurus atau nilai a,
b dan c untuk trend garis lengkung. Untuk mencari besarnya nilai a, b, dan c
maka dapat dilakukan dengan mempergunakan rumus-rumus sebagai berikut:
a = ∑Y/n dan b = ∑∑Y/∑X2 dengan syarat ∑X = 0 untuk trend garis lurus, dan
∑Y = na + c∑X2
∑XY = b∑X2
∑X2Y = a∑V 2 + c∑X 4 dengan syarat ∑X = 0 dimana n adalah sama dengan
jumlah data.5

2.4 Anggaran Bahan Baku


Kegiatan uatama perusahaan manufaktur adalah mengubah bahan baku
yang diperoleh menjadi barang jadi. Setelah menentukan jumlah produksi barang
jadi, perusahaan harus menghitung jumlah sekaligus biaya bahan baku yang
diperlukan untuk menunjang kegiatan produksi.
Anggaran bahan baku yang disusun oleh perusahaan pada dasarnya terdiri
atas dua jenis anggaran.
1. Anggaran pemakaian bahan baku
Anggaran ini menentukan jumlah dan nilai bahan baku yang diperlukan
untuk kegiatan produks dalam satu periode anggaran

5 Savitri Enni. Penganggaran Perusahaan.Yogyakarta.Pustaka Sahila.2016.hlm 31-35

9
2. Anggaran pembelian bahan baku
Anggaran ini menentukan jumlah bahan baku yang akan dibeli dan harga
pembeliannya dalam satu periode anggaran.

2.4.1 Anggaran Pemakaian Bahan Baku


Anggaran pemakaian bahan baku menyajikan informasi tentang
kuantitas dan biaya bahan baku yang dikeluarkan untuk memproduksi
barang jadi. Informasi tentang barang jadi yang akan diproduksi dilihat dari
anggaran produksi. Sementara itu jumlah bahan baku yang diperlukan untuk
memproduksi barang jadi dapat diperoleh oleh perusahaan dengan
mengalikan tingkat produksi dengan Standar kebutuhan bahan baku per
unit barang jadi. Standar tersebut menentukan jumlah bahan baku yang
diperlukan untuk memproduksi 1 unit barang jadi.
 Penyusunan Anggaran Pemakaian Bahan Baku
1. Menyusun format anggaran pemakian bahan baku untuk periode
tertentu.
2. Memasukkan data tentang jumlah produksi barang jadi serta stanar
kebutuhan bahan baku.
3. Menghitung jumlah kebutuhan bahan baku untuk setiap produk
dengan mengalikan jumlah produksi barang jadi dengan standar
kebutuhan bahan baku.
4. Memasukkan informasi tentang harga bahan baku per unit untuk
setiap bahan baku.
5. Menghitung total biaya bahan baku.
 Format Anggaran Pembelian Bahan Baku

PT.xxx
Anggaran Pemakian Bahan Baku
Untuk bulan yang berakhir 31 xx xx
Jumlah produksi barang jadi Bahan Baku Bahan Baku
Stndar kebutuhan barang jadi
Jumlah kebutuhan baku untuk produksi
Harga bahan baku per unit
Total biaya bahan baku untuk produksi

10
2.4.1 Anggaran Pembelian Bahan Baku
Setelah mengetahui jumlah bahan baku yang diperlukan untuk
memproduksi barang jadi, maka perusahaan harus menentukan pembelian
bahan baku dalam satu periode anggran. jumlah bahan baku yang akan
dibeli dapat diketahu dengan menyusun anggaran pembelian bahan baku.
Selain itu, anggaran pembelian bahan baku juga memperlihatkan perkiraan
harga bahan baku per unit dan total nilai pembelian bahan baku dalam
rupiah.
Berikut ini faktor-faktor dalam pertimbangan dalam menentukan
pembelian bahan baku.
1. Jumlah bahan baku yang diperlukan untuk kegiatan produksi.
Informasi ini diperoleh dari anggaran pemakaian bahan baku.
2. Jumlah bahan baku yang ingin disimpan oleh perusahaan di akhir
periode (Persediaan akhir bahan baku). Kebijakan manajemen
akan menentukan jumlah persediaan yang ingin disimpan di akhir
periode anggaran.
3. Jumlah bahan baku yang tersedia di awal periode .
 Format Anggaran Pembelian Bahan Baku
PT.XXX
Anggaran Pembelian Bahan Baku
Bulan XX tahun XX
Keterangan Bahan Baku Bahan Baku
Julh kebutuhan baku untuk produksi
Pers. Akhir bahan baku
Jumlah kebutuhan bahan baku
Pers. Awal bahan baku
Jumlah bahan baku yang harus dibeli
Harga bahan baku per unit
Total biaya pembelian bahan baku

Sasongko dan Parulian.Anggaran. Jakarta.Salemba Empat.2017

11
2.5 Anggaran Tenaga Kerja
Perusahaan menggunakan tenaga kerjanya untuk mengubah bahan baku
menjadi barang jadi. Atas pekerjaan yang dilakukan oleh tenaga kerjanya,
perusahaan membayarkan upah. Untuk perusahaan manufaktur, tenaga kerja yang
terlibat dalam proses produksi dapat dikelompokkan dalam tenaga kerja langsung
dan tenaga kerja tidak langsung. Tenaga kerja langsung merupakan karyawan
yang langsung erlibat dalam kegiatan produksi barang dan jasa, sedangkan tenaga
kerja tidak langsung adalah karyawan yang secara tidak langsung terlibat dalam
kegiatan produksi.
2.5.1 Tenaga Kerja Tidak Langsung
Ciri-ciri tenaga kerja tidak langsung
1. Besar kecilnya biaya untuk tenaga kerja tidak langsung
berhubungan secara langsung.
2. Biaya yang yang dikeluarkan merupakan biaya semi tetap atau
semi variabel. Artinya, biaya-biaya yang mengalami perubahan
tetapi tidak secara sebanding dengan perubahan tingkat kegiatan
produksi.
3. Tempat bekerja dari tenaga kerja ini tidak harus selalu di dalam
pabrik tetapi diluar pabrik.
2.5.2 Tenaga Kerja Langsung
a. Pengertian Tenaga Kerja Langsung
Tenaga kerja langsung pada prinsipnya terbatas pada tenaga kerja di
pabrik yang secara langsung terlibat pada proses produksi dan biayanya
dikaitkan pada biaya produksi atau pada barang yang dihasilkan.
Anggaran upah tenaga kerja langsung ialah anggaran yang
merencanakan secara lebih terperinci tentang upah yang akan dibayarkan
kepada para tenaga kerja langsung selama periode yang akan datang, yang
didalamnya meliputi rencana tentang jumlah waktu yang diperlukan oleh
para tenaga kerja langsung untuk menyelesaikan unit yang akan
diproduksikan, tarif upah yang akan dibayarkan kepada para tenaga kerja
langsungdan kapan waktunya para tenaga kerja langsung menjalankan
kegiatan prose produksi,yang masing-masing dikaitkan dengan jenis barang
jadi (produk) yang akan dihasilkan,serta tempat atau departemen dimana

12
para tenaga kerja langsung tersebut akan bekerja.Tenaga kerja langsung
mempunyai sifat-sifat:
1. Besar kacilnya biaya untuk tenaga kerja jenis ini berhubungan secara
langsungdengan tingkat kegiatan produksi.
2. Biaya yang dikeluarkan untuk tenaga kerja jenis ini merupakan biaya
variable.
3. Umumnya dikatakan bahwa tenaga kerja jenis ini merupakan tenaga
kerja yang kegiatannya langsung dapat dihubungkan dengan produk
akhir (terutama dalam penentuan harga pokok) Yang dikategorikan
sebagai tenaga kerja langsung antara lain adalah para buruh pabrik yang
ikut serta dalam kegiatan proses produksi dari bahan mentah sampai
berbentuk barang jadi. Kegunaan anggaran tenaga kerja langsung:
1. Penggunaan TKL (Tenaga Kerja Langsung) dan biaya yang lebih
terencana.
2. Harga pokok dapat dihitung dengan tepat.
3. Dapat digunakan sebagai alat pengawas.
4. Alat pengawas biaya tenaga kerja Alasan untuk penggunaan
anggaran tenaga kerja langsung yang terpisah adalahuntuk
menyediakan data perencanaan tentang jumlah tenaga kerja
langsung yangdibutuhkan, banyaknya tenaga kerja langsung,
biaya tenaga kerja untuk tiap unitproduk, dan kebutuhan alur kas.

Tujuan lain anggaran tenaga kerja langsung adalah untuk membentuk


dasar bagi pengendalian tenaga kerja langsung.

b. Faktor Penyusunan anggaran Tenaga Kerja Langsung


Faktor-faktor yang diperhatikan dalam penyusunan anggaran tenaga
kerja langsung.
1. Rencana produksi
2. Bagian atau departemen yang digunakan untuk melakukan
proses produksi.
3. Standar penyelesaian produk, waktu yang dibutuhkan untuk
menghasilkan satu unit produk.
4. Sistem upah yang digunakan ada beberapa macam:

13
a. Sistem upah menurut waktu per jam upah yang besarnya
ditentukan berdasarkan jam standar tenaga kerjalangsung
dikalikan dengan tarif upah standar tenaga kerja langsung.
b. Sistem upah menurut hasil per unit. Upah yang besarnya
berdasarkan unit yang diselesaikan dikalikan dengantarif
upahnya.
c. Sistem upah dengan insentif intervalUpah yang besarnya pada
unit yang diselesaikan dalam waktu yang telahditetapkan
berdasarkan intervalnya.
 Format Anggaran Tenaga Kerja Langsung
Keterangan Produk 1 Produk 2
Departemen A
Jumlah Produksi
Standar penggunaan jam TKL
Jumlah jam TKL
Upah per jam
Anggaran biaya TKL

2.6 Anggaran Biaya Overhead Pabrik


A. Pengertian
Biaya overhead pabrik (manufacturing overhead costs) adalah biaya produksi
yang tidak masuk dalam biaya bahan baku maupun biaya tenaga kerja langsung.
Jika suatu perusahaan memiliki departemen lain di luar departemen produksi, maka
semua biaya yang terjadi di departemen pembantu tersebut (termasuk biaya tenaga
kerjanya) dikategorikan sebagai biaya overhead pabrik.
Biaya overhead pabrik biasanya muncul dari biaya-biaya yang harus
dikeluarkan untuk pemakaian bahan tambahan, biaya tenaga kerja tak langsung,
pengawasan mesin produksi, pajak, asuransi, hingga fasilitas-fasilitas tambahan
yang diperlukan dalam proses produksi.6

6 Utami Widya. Jurnal Biaya Overhead Pabrik.2017

14
B. Klasifikasi Biaya Overhead Pabrik
Klasifikasi biaya overhead pabrik dikelompokan atas beberapa kategori
seperti berdasarkan sifatnya, perilakunya dalam hubungan dengan perubahan
volume produksi, dan berdasarkan hubungannya dengan departemen.
 Klasifikasi Berdasarkan Sifatnya
a. Biaya bahan penolong
Bahan penolong yang dimaksud dalam hal ini adalah bahan yang tidak
menjadi bagian dari hasil produksi atau bahan yang nilainya relatif kecil
dibandingkan harga keseluruhan produk.
b. Biaya tenaga kerja tak langsung
Tenaga kerja tak langsung yang dimaksud dalam biaya overhead
pabrik adalah tenaga kerja perusahaan yang upahnya tidak dapat
diperhitungkan secara langsung kepada produk.
c. Biaya reparasi dan pemeliharaan
Biaya reparasi dan pemeliharaan yang dimaksud dalam biaya
overhead pabrik adalah biaya suku cadang (sparepart), biaya bahan
habis pakai (factory supplies), dan harga jasa yang perlu dikeluarkan
perusahaan untuk keperluan perbaikan dan pemeliharaan mesin
produksi, kendaraan, dan alat-alat perusahaan lainnya.
 Klasifikasi Berdasarkan Perilakunya dalam Hubungan dengan
Perubahan Volume Produksi
a. Biaya overhead pabrik tetap
Biaya overhead pabrik yang tidak berubah meskipun terjadi perubahan
dalam volume produksi.
b. Biaya overhead pabrik variabel
Biaya overhead pabrik yang berubah sebanding dengan perubahan
volume produksi.
c. Biaya overhead pabrik semi variabel
Biaya overhead pabrik yang berubah namun tidak sebanding dengan
perubahan volume produksi. Untuk memudahkan penentuan tarif
biaya overhead pabrik, biasanya biaya overhead pabrik semi variabel
akan dipecah menjadi 2 bagian yaitu biaya tetap dan biaya variabel.

15
 Berdasarkan Hubungannya dengan Departemen
a. Biaya overhead pabrik langsung departemen
Biaya overhead pabrik yang ada dalam sebuah departemen dan
manfaatnya hanya dapat dinikmati oleh departemen tersebut.
b. Biaya overhead pabrik tidak langsung departemen
Biaya overhead pabrik yang manfaatnya dapat dinikmati oleh lebih
dari satu departemen.
C. Rumus Perhitungan Tarif Biaya Overhead Pabrik
 Jumlah Satuan produk
Metode ini langsung membebankan biaya overhead pabrik kepada produk
dan lebih cocok digunakan dalam perusahaan yang hanya memproduksi
satu jenis produk. Beban biaya overhead pabrik untuk setiap produk
dihitung dengan rumus:

 Biaya Bahan Baku


Apabila harga pokok bahan baku sebagai dasar pembebanan, maka tarif
biaya overhead pabrik dapat dihitung dengan rumus:

 Biaya Tenaga Kerja


Apabila sebagian besar elemen biaya overhead pabrik mempunyai
hubungan yang erat dengan jumlah upah tenaga kerja langsung, maka
dasar yang dipakai untuk membebankan biaya overhead pabrik adalah
biaya tenaga kerja langsung. Tarif biaya overhead pabrik dihitung dengan
rumus:

16
 Jam Tenaga Kerja Langsung
Apabila biaya overhead pabrik mempunyai hubungan erat dengan waktu
untuk membuat produk, maka dasar yang dipakai untuk membebankan
adalah jam tenaga kerja langsung. Tarif biaya overhead pabrik dihitung
dengan rumus:

 Jam Penggunaan Mesin


Apabila biaya overhead pabrik bervariasi dengan waktu penggunaan
mesin maka dasar yang dipakai membebankan adalah jam mesin. Tarif
biaya overhead pabrik dihitung dengan rumus:

D. Format Anggaran Overhead Pabrik


PT. XX
Anggaran Biaya Overhead
Untuk periode XX 20XX
Biaya Overhead Biaya Overhead
Keterangan
Variabel Tetap
Departemen 1
Departemen 2

17
BAB III
PENUTUP
KESIMPULAN
Penganggaran merupakan pembuatan rencana yang dinyatakan dalam istilah
keuangan anggaran memainkan peran penting dalam pengambilan keputusan.
Proses penganggaran bermula dari prakiraan penjualanyang menetapkan
taksiran penjualan dan harga jual per unit. Prakiraan penjualanyang disusun oleh
manajer penjualan didasarkan pada analisis kondisi ekonomi secara umum,
tren industry, dan prospek perusahaan. Dari sinilah anggaran penjualan disusun.
Berikutnya, anggaran produksi disusun berdasarkan prospek penjualan dan tingkat
persediaan yang dikehendaki. Anggaran produksi dan anggaran penjualan menjadi
landasan yang dipakai untuk menyusun anggaran-anggaran bahan baku langsung,
tenaga kerja langsung, overhead pabrikasi, persediaan akhir barang jadi dan
overhead pabrikasi. Hasil-hasil yang diharapkan dari kegiatan-kegiatan usaha
dirangkum dalam laporan laba rugi dianggarkan. Akhirnya, hasil financial dari
kegiatan-kegiatan usaha dirangkum dalam anggaran kas dan neraca dianggarkan.

18
DAFTAR PUSTAKA

Rudianto.Jurnal Fandy Tendean.2009


Komarudin.Jurnal Fandy Tendean.2005
Sasongko dan Parulian.Anggaran. Jakarta.Salemba Empat
Hansen,Mowen.Akuntansi Manajerial.Jakarta.Salemba Empat
Utami Widya. Jurnal Biaya Overhead Pabrik.2017
Savitri Enni. Penganggaran Perusahaan.Yogyakarta.Pustaka Sahila.2016

19