Anda di halaman 1dari 10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Tidur

Tidur memiliki beberapa definisi sesuai dengan pemikiran para ahli. Menurut Guyton

& Hall (2014), tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan tak sadar yang masih dapat

dibangunkan dengan pemberian rangsang sensorik ataupun rangsangan lain. Menurut Potter

& Perry (2005), tidur merupakan proses fisiologis yang bersiklus bergantian dengan periode

yang lebih lama dari keterjagaan. Definisi lain datang dari Turpin (1986) dalam Leahy &

Kizilay (1998, p.700) yang menyatakan tidur merupakan suatu keadaan dimana organisme

secara reguler, berulang, dan mudah kembali lagi (reversible) ditandai oleh keadaan yang

relatif diam atau tanpa gerak dan meningkatnya ambang respon terhadap stimuli eksternal.

(anonim, 2013)

2.2 Fisiologi Tidur

Jawaban mengenai pentingnya tidur bagi individu dan mengapa individu perlu tidur

memang sampai saat ini belum ada jawaban yang pasti, namun menurut hasil penelitian pada

hewan, tidur diperlukan untuk bertahan hidup, hal tersebut dibuktikan dengan penelitian pada

tikus yang kekurangan tidur selama 2 hingga 3 minggu dapat mati. Beberapa ilmuan percaya

yakin bahwa tidur memberikan waktu kepada tubuh untuk memperbaiki dirinya. Pada saat

tidur, banyak sel yang menunjukkan peningkatan produksi protein, dimana kita ketahui

protein mempunyai fungsi salah satunya adalah untuk memperbaiki sel-sel yang rusak akibat

aktivitas yang berat atau akibat paparan sinar ultraviolet saat individu bekerja di luar ruangan.

Karena adanya keadaan-keadaan tersebut, maka para ilmuan sepakat bahwa tidur yanng
adekuat adalah sangat penting bagi kebaikan dan kesehatan umat individu. (National Sleep

Foundation, 2006)

Dalam Guyton & Hall, 2014, dijelaskan bahwa tidur memberikan 2 efek fisiologis

utama bagi tubuh individu; pertama adalah efek untuk sistem saraf dan kedua untuk sistem

fungsional tubuh yang lain dimana efek untuk sistem saraf tampaknya jauh lebih penting

karena sistem saraf mengambil peranan yang dominan dalam keseluruhan sistem yang

bekerja dalam tubuh individu. Bagaimanapun cara orang tidur, hal itu akan dapat

memulihkan tingkat aktivitas normal atau tenaga yang telah dikeluarkan oleh individu selama

beraktivitas dan akhirnya membuat individu tersebut kembali ke keadaan homeostasis.

Pada tubuh individu ada sebuah siklus tentang tidur bangun yang diatur oleh irama

sirkadian dan homeostasis tidur. Pada siklus tersebut individu memiliki 8 jam tidur malam

dan 16 jam aktif beraktivitas. Homeostasis berarti bagaimana tubuh mempertahankan

keadaan yang stabil atau seimbang dalam tubuh individu seperti tekanan darah, denyut nadi,

temperatur, keseimbangan asam-basa dan lain sebagainya, bahkan jumlah tidur pada malam

hari juga diatur oleh homeostasis ini. Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa ada sebuah

neurotransmitter yang jumlahnya akan meningkat pada individu dalam keadaan terjaga yaitu

Adenosine. Peningkatan kadar adenosine ini juga menyebabkan kebutuhan individu akan

tidur menjadi bertambah dan begitu pula sebaliknya, saat individu tidur, kadar adenosine

menurun dan kebutuhan individu akan tidur menjadi berkurang. (National Sleep Foundation,

2006)

Sistem kedua yang mengontrol tidur adalah irama sirkadian. Irama sirkadian ini

mengacu kepada fluktuasi-fluktuasi yang terjadi dalam sistem tubuh individu. Fluktuasi

tersebut dimaksudkan sebagai proses peningkatan atau penurunan yang fisiologis yang terjadi

pada tubuh individu, seperti peningkatan atau penurunan suhu tubuh, level hormon, dan
begitu pula dengan tidur. Semua fluktuasi tersebut terjadi selama 24 jam, yang diatur oleh

sebuah jam biologis yang dimiliki oleh otak individu. Jam biologis tersebut terdiri dari

sekelompok neuron di hipotalamus otak yang disebut Suprachiasmatic Nucleus (SCN). Irama

sirkadian internal ini secara fisiologis dan tingkah laku individu berkaitan dengan lingkungan

dan jadwal pekerjaan atau aktivitas individu itu sendiri. (National Sleep Foundation, 2006)

Saat individu tidur, organ internal menjadi lebih aktif dibandingkan dengan organ

eksternal. Metabolisme melambat namun semua organ utama dan organ regulasi akan tetap

bekerja seperti jantung, paru-paru, otak, dan organ lainnya. Secara umum, tidur dapat dibagi

menjadi 2 tahap yaitu Non Rapid Eye Movement (NREM) dan Rapid Eye Movement

(REM). Pada individu, tidur dimulai dengan tahap NREM yang terdiri dari empat tahap baru

kemudian dilanjutkan fase REM. Fase NREM dan REM terjadi secara bergantian yaitu

sekitar 4-5 siklus dalam satu malam. (Potter & Perry, 2005)

a. NREM

Pada fase NREM atau fase dimana pergerakan bola mata tidak cepat, aktivitas

fisiologis tubuh akan menurun, seperti penurunan laju pernafasan, detak jantung,

penurunan tekanan darah, dan jika diperiksa dengan EEG akan didapatkan gelombang

yang lebih lambat dengan amplitudo yang lebih besar.

Fase NREM sendiri terbagi menjadi 4 tahap :

- Tahap 1

Adalah tahap mengantuk dimana terjadi transisi antara terjaga dengan tertidur.

Gelombang otak dan aktivitas otot mulai melambat selama fase ini. Pada tahap 1

ini seringkali banyak ditemukan orang yang mengalami kejutan otot atau “muscle

jerks” yang biasanya dirasakan sebagai sensasi jatuh.

- Tahap 2
Adalah tahap dimana terjadi tidur ringan dan mata mulai berhenti bergerak.

Gelombang otak menjadi lebih lambat dengan gelombang yang tiba-tiba cepat

yang disebut sebagai “speed spindle” . Pada tahap ini juga terjadi penurunan detak

jantung dan suhu tubuh. Biasanya tahap ini terjadi selama 10-25 menit.

- Tahap 3

Tahap ini lebih dalam dari tahap sebelumnya (Ganong, 1998). Pada tahap ini

individu sulit untuk dibangunkan, dan jika terbangun, individu tersebut tidak dapat

segera menyesuaikan diri dan sering merasa bingung selama beberapa menit

(Smith & Segal, 2010).

- Tahap 4

Tahap ini merupakan tahap tidur yang paling dalam. Gelombang otak sangat

lambat. Aliran darah diarahkan jauh dari otak dan menuju otot, untuk memulihkan

energi fisik (Smith & Segal, 2010).

Jika diakumulasikan, fase tidur NREM ini biasanya berlangsung antara 70 menit

sampai 100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam pertama

prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih intens dan panjang saat menjelang pagi

atau bangun (Japardi, 2002 dalam anonim, 2013)

b. Fase REM adalah fase dimana terjadi peningkatan aktivitas otak. Gelombang otak

menjadi cepat dan tidak singkron sama seperti gelombang otak saat individu terjaga.

Laju pernafasan menjadi lebih cepat, ireguler, dan dalam. Gerakan mata menjadi lebih

aktif bergerak ke segala arah walaupun kelopak mata tertutup dan otot ekstremitas

untuk sementara menjadi kaku. Detak jantung meningkat bersamaan dengan

meningkatnya tekanan darah. Fase ini adalah fase dimana kebanyakan orang

bermimpi.
Waktu tidur malam untuk kebanyakan orang adalah sekitar tujuh jam, dimana pada saat

itu terjadi pergantian siklus antara fase NREM dan fase REM sebanyak 4-6 kali. Kekurangan

tidur pada masing-masing fase dapat menunjukkan gejala yang berbeda pada keesokan

harinya. Salah satunya adalah jika seorang individu megalami hiperaktif pada keesokan hari

setelah tidur malam harinya, itu berarti orang tersebut kekurangan tidur di fase REM,

sementara jika seorang individu menjadi kurang sigap atau gesit di keesokan harinya, berarti

individu tersebut kurang tidur di fase NREM. (Mardjono, 2008 dalam anonim, 2013).

Siklus tidur normal dapat dilihat pada skema berikut:

Gambar 2.1. Tahap-tahap siklus tidur (Potter & Perry, 2005 dalam anonim, 2013)

Seperti yang dijelaskan pada fisiologi tidur, bahwa siklus tidur ini juga diatur oleh

irama sirkadian yang merupakan siklus 24 jam dari kehidupan manusia. Jika irama sirkadian

terregulasi dengan baik maka siklus ini pun akan teratur pula namun bila irama tersebut

terganggu maka akan terjadi gangguan pada fungsi fisiologis dan psikologis dari individu itu

sendiri. (Potter&Perry, 2005 dalam anonim 2013)


Siklus tidur dipengaruhi oleh beberapa hormon seperti Adrenal Corticotropin Hormone

(ACTH), Growth Hormon (GH), Tyroid Stimulating Hormon (TSH), Lituenizing Hormon

(LH). Hormon-hormon ini masing-masing disekresi secara teratur oleh kelenjar hipofisis

anterior melalui jalur hipotalamus. Sistem ini secara teratur mempengaruhi pengeluaran

neurotransmitter norepinefirn, dopamine, serotonin yang bertugas mengatur mekanisme tidur

dan bangun.

Semua hal yang mengganggu fisiologi tidur yang normal, berpotensi untuk

menyebabkan ketidakseimbangan homeostasis tidur dan faktor sirkadian yang mengatur

tidur. Untuk beberapa orang, gangguan yang terjadi mengarah pada gangguan kesehatan

medis. Beberapa kasus yang paling sering adalah sleep apnea, narcolepsy, restless legs

syndrome, parasomnia dan insomnia. (Wong Wai Yi. Wavy, 2008)

2.3 Kualitas Tidur

Kualitas tidur tidak hanya dinilai dari aspek kualitatif tetapi juga aspek kuantitatif

seperti misalnya lamanya waktu tidur, waktu yang diperlukan untuk tertidur dan frekuensi

terbangun dari tidur pada malam hari. Selain itu penilaian subjektif tidur juga tidak boleh

diabaikan seperti misalnya perasaan puas dan segar setelah bangun di pagi hari, rasa

berenergi atau kelelahan yang muncul pada saat bangun tidur di pagi hari. (anonim, 2013)

Dalam National Sleep Foundation journal dijelaskan bahwa kualitas tidur yang baik

sangat bermanfaat untuk seluruh aktivitas fisiologis dalam tubuh manusia. Kualitas tidur yang

baik terkait dengan fungsi kognitif dan suasana hati yang baik pula. Selain itu, pada saat

tidur, tubuh manusia banyak memproduksi hormon-hormon yang penting bagi tubuh seperti

hormon pertumbuhan, hormon yang meregulasi energi tubuh serta hormon yang mengatur

metabolisme dan fungsi organ endokrin tubuh. Sebagai contoh, hormon kortisol yang dapat

menginduksi keterjagaan dari tidur akan meningkat pada akhir dari siklus tidur yang lengkap.
Hormon pertumbuhan yang berkontribusi dalam pertumbuhan anak dan membantu

meregulasi masa otot juga disekresikan saat tidur. Follicle Stimulating Hormone (FSH) dan

Luteinizing Hormone (LH) yang merupakan hormon yang berperan dalam proses reproduksi

juga dilepaskan pada saat tidur. Lebih lanjut, siklus tidur ini akan mempengaruhi sekresi

hormon yang mempengaruhi nafsu makan dan berat badan.

Selain sistem hormon, kualitas tidur yang baik sangat mempengaruhi fungsi imunitas

tubuh manusia. Bukti terbaik yang menyatakan bahwa tidur memberikan dampak bagi sistem

imun adalah saat sebuah penelitian menunjukkan efektivitas vaksin flu akan sangat terhambat

jika individu tersebut kuranng tidur. Sitokin yang merupakan suatu sistem pertahanan tubuh

manusia yang menjaga tubuh dari infeksi juga merupakan sebuah sleep-inducers yang kuat.

Hal ini juga membuktikan bahwa tidur dapat membantu tubuh untuk mengkonversikan energi

dan segala sumber yang ada untuk menciptakan respon imun yang baik yang dapat

memerangi penyakit.

Kualitas tidur yang buruk dapat mengarah kepada kesehatan fisik dan psikologis yang

buruk. Secara fisiologis, kualitas tidur yang buruk membuat kesehatan personal menurun dan

tingkat kelelahan meningkat, serta berhubungan dengan terjadinya berbagai macam penyakit

seperti penyakit kardiovaskular, inflamasi, diabetes dan penyakit lain. Banyak penelitian

yang membuktikan bahwa kualitas tidur yang buruk menyebabkan peningkatan tekanan darah

dan meningkatnya resiko penyakit stroke.

Sistem hormon pada tubuh juga akan terganggu jika seseorang memiliki kualitas tidur

yang buruk. Sebagai contoh, penurunan tidur gelombang pendek pada laki-laki muda terkait

dengan penurunan produksi hormon pertumbuhan. Karena hormon pertumbuhan tersebut

memiliki peran yang penting selama remaja dan dewasa dalam mengontrol proporsi lemak

dan otot tubuh, maka jika terjadi kekurangan hormon pertumbuhan maka seseorang akan

memiliki resiko tinggi menjadi overweight. Penelitian singkat lain juga menemukan korelasi
antara tidur yang tidak adekuat dengan hormon leptin yang tidak mencukupi dalam

meregulasi metabolisme karbohidrat. Level leptin yang rendah menyebabkan tubuh sangat

memerlukan karbohidrat sehingga kalori yang masuk ke tubuh juga menjadi bertambah.

Secara psikologis, kualitas tidur yang buruk terkait dengan penurunan fungsi kognitif.

Masalah yang sering terjadi adalah emosi menjadi tidak stabil, kepercayaan diri yang

menurun, menjadi lebih sembrono atau teledor dan masalah yang terkait harga diri.

Kecemasan, kebingungan, suasana hati yang buruk, depresi, dan kepuasan hidup yang rendah

juga merupakan kasus yang sering ditemukan jika seseorang memiliki kualitas tidur yang

buruk. Secara simultan hal-hal tersebut dapat menyebabkan perlambatan psikomotor kronik

dan masalah konsentrasi.

Sampai saat ini ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kualitas tidur dari

subjek yaitu Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) adalah sebuah instrumen yang efektif

untuk mengukur kualitas dan pola tidur pada orang dewasa. Pengukuran dengan PSQI

merupakan pengukuran yang singkat dengan komponen psikometrik yang relatif baik yang

sangat berguna bagi klinisi atau peneliti untuk mengetahui berbagai gangguan tidur yang

mungkin mempengaruhi kualitas tidur. (Symth, 2007) PSQI ini adalah instrumen pengukuran

retrospektif yang paling sering dipakai dan merupakan satu-satunya pengukuran yang

mengestimasi kebiasaan tidur secara kuantitatif. (Sethi, BS, 2012)

Instrumen ini membedakan good sleepers dengan poor sleepers dengan mengukur

tujuh aspek tidur yaitu : kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi tidur,

gangguan tidur, penggunaan obat tidur, dan disfungsi pada siang hari dalam satu bulan ke

belakang. (Sethi BS, 2012)

PSQI ini memiliki konsistensi internal dan koefisien reabilitas sejumlah 0.83% untuk

ketujuh komponen tersebut. Karena PSQI merupakan pengukuran yang subjektif, maka itu

menjadi salah satu kelemahan dari PSQI ini yaitu informasi yang didapatkan bisa tidak akurat
jika klien sulit mengerti apa yang tertulis pada kuisioner atau ketidakmampuan untuk melihat,

membaca atau menulis respon terhadap pertanyaan di kuisioner PSQI tersebut. (Smyth, 2007)

Rentang skor keseluruhan dari PSQI adalah 0-21. Jika skor total PSQI adalah lebih dari sama

dengan lima, hal tersebut merupakan indikasi kualitas tidur yang buruk sehingga konsultasi

dengan penyedia layanan kesehatan diperlukan untuk evaluasi lebih lanjut.

Selain itu untuk mengetahui tingkat mengantuk pada klien nantinya yang berhubungan

dengan kualitas tidur, Epworth Sleep Scale (ESS) juga digunakan dalam penelitian ini. ESS

merupakan sebuah instrumen yang efektif untuk mengukur rata-rata tingkat mengantuk pada

siang hari. Pada ESS terdapat delapan komponen yang rentang skor masing-masing adalah 0-

3. ESS juga merupakan pengukuran yang bersifat subjektif sehingga ada kemungkinan

informasi yang diberikan klien tidak akurat. Interpretasi dari ESS ini adalah jika skor yang

dihasilkan kurang dari sepuluh maka tidur dalam kategori cukup, sedangkan apabila skor

lebih dari sepuluh maka ada kemungkinan gangguan tidur secara patologis. (Smyth, 2012)

Kualitas tidur juga sangat dipengaruhi oleh faktor fisik, faktor psikis serta faktor

lingkungan. Faktor fisik yang mempengaruhi diantaranya adalah penyakit, kelelahan, diet dan

kalori. Untuk faktor psikis yang juga mempengaruhi kualitas tidur adalah tingkat kecemasan,

tingkat stres serta depresi. Sedangkan dari faktor lingkungan, yang ikut berpengaruh terhadap

kualitas tidur adalah jenis, bentuk dan kenyamanan tempat tidur, suara atau kebisingan yang

ada di sekitar, cahaya lampu saat individu tersebut saat memulai tidur serta suhu lingkungan

saat individu akan tidur. (Agustin,2012)

Sampai saat ini ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur skala kecemasan,

depresi serta stres yaitu Depression, Anxiety, and Stress Scale (DASS) yang dikembangkan

oleh Lovibond & Lovibond,2003. DASS merupakan kuesioner 42-item yang mencakup tiga

laporan diri, dirancang untuk mengukur keadaan emosional negatif dari depresi, kecemasan

dan stres. Masing-masing tiga skala berisi 14 item, dibagi menjadi sub-skala dari 2-5 item.
Skala depresi menilai dysphoria, putus asa, devaluasi hidup, sikap meremehkan diri,

kurangnya minat/keterlibatan, anhedonia, dan inersia. Skala kecemasan menilai gairah

otonom, efek otot rangka, keemasan situasional, dan pengalaman subjektif yang

mempengaruhi cemas. Skala stres menilai kesulitan santai, gairah saraf, dan yang mudah

marah/gelisah, mudah tersinggung/over-reaktif dan tidak sabar. Rentang nilainya adalah 0-34.

Nilai 0-14 berarti normal, 15-18 berarti stres ringan, 19-25 berarti stres sedang, 26-33 berarti

stres berat, dan lebih dari sama dengan 34 berarti stres sangat berat. (Diah, 2013)