Anda di halaman 1dari 45

Tria Oktaviana Masua, AMAK

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Praktek pengeluaran darah (bloodletting) sudah sejak lama dikenal manusia dan
menjadi bagian dari kegiatan pengobatan pasien. Teknik pengeluaran darah yang
pertama dilakukan oleh dokter-dokter Syria dengan menggunakan lintah. Sebelum
dikenal Hippocrates dengan sebutan “Bapak Ilmu Kedokteran” (abad 5 SM) seni
pengambilan darah mengalami banyak perubahan, demikian pula berbagai alat untuk
keperluan pengambilan dan penampungan bahan darah. Lanset untuk pengambilan
darah digunakan pertama kali sebelum abad ke 5 SM dengan tetap mengacu kepada
lintah sebagai bentuk dasar. Dengan lanset ini seorang dokter (practitioner) melubangi
vena, kadang-kadang sampai beberapa lubang. Menjelang akhir abad ke 19 barulah
teknologi mengambil alih dan memproduksi “lintah artificial”. Kini telah dikenal
beragam alat pengambilan darah dan mudah diperoleh di pasaran.
Dalam praktek pengeluaran darah atau saat ini dikenal dengan Flebotomi
(Pengambilan Sampel Darah), tenaga medis perlu memiliki keterampilan dan juga
pelatihan. Seorang Flebotomis adalah seorang analis yang tergabung dalam organisasi
Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (PATELKI). Namun,
keterbatasan tenaga analis yang memiliki keterampilan dan pelatihan Flebotomi
merupakan suatu kekurangan yang harus diatasi.
Untuk mencegah bahaya potensial yang terjadi di Rumah Sakit, Puskesmas maupun
Fasilitas Kesehatan lainnya, maka perlu suatu sistim pelayanan kesehatan yang bermutu
untuk selalu diperbaiki/ditingkatkan dari waktu ke waktu sebagai bentuk upaya untuk
memberikan pelayanan yang berkualitas demi keselamatan pasien.
Saat ini, penulis menduduki jabatan sebagai Analis Kesehatan/Pranata
Laboratorium sekaligus memiliki Sertifikat Pelatihan Flebotomi di Puskesmas Taripa.
Sebagaimana kita ketahui, Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) adalah suatu
organisasi kesehatan fungsional yang merupakan pusat pengembangan kesehatan
masyarakat yang juga membina peran serta masyarakat di samping memberikan
pelayanan secara menyeluruh dan terpadu kepada masyarakat di wilayah kerjanya
dalam bentuk pokok – pokok kegiatan.

1
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Oleh sebab itu, peserta Latsar memiliki peran dalam memberikan pembinaan dan
pelayanan agar tercipta status kesehatan yang menyeluruh dan terpadu. Penerapan
prinsip dasar ANEKA diharapkan dapat mendorong terwujudnya kualitas pelayanan
masyarakat dari ASN sehingga status kesehatan dapat ditingkatkan secara bertahap,
berkesinambungan dan berkelanjutan.

1.2 Gambaran Singkat Organisasi


 GEOGRAFI
Sebelumnya wilayah kerja Puskesmas Taripa terdiri dari 13 Desa.
Puskesmas Taripa terletak di wilayah Kecamatan Pamona Timur Kabupaten
Poso dengan batas-batas sebagai berikut:
- Sebelah Utara berbastasan dengan Kecamatan Pamona Utara,
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Kecamatan Pamona Tenggara,
- Timur berbatasan dengan wilayah kerja Puskesmas Olumokunde,
- Sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Pamona Puselemba.
- Sebelah Luas wilayah kecamatan Pamona timur 529,5 Km2 terdiri dari 8
desa yang dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 1.1
Luas Wilayah Per Desa di Kecamatan Pamona Timur
No. Desa Luas (Km2) Persentase
1 Taripa 110,62 15,76
2 Kele’i 112,16 15,19
3 Didiri 84,81 11,49
4 Masewe 73,26 9,92
5 Poleganyara 61,20 8,29
6 Petiro 49,38 6,69
7 Tiu 31,30 4,24
8 Kancuu 6,72 0,91
Jumlah 529,5 100

 KEPENDUDUKAN
Jumlah penduduk di wilayah kerja Puskesmas Taripa pada tahun 2018
adalah 7.158 jiwa yang terdiri dari 3.718 laki-laki dan 3.440 perempuan.

2
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Kepadatan penduduk tertinggi terdapat di desa Kancuu dengan kepadatan


penduduk sebesar 75 per Km2, sedangkan kepadatan penduduk terendah
terdapat di desa Masewe dengan kepadatan penduduk sebesar 7 per Km2.

Tabel 1.2
Luas dan Kepadatan Penduduk Menurut Desa

Luas Kepadatan
No. Desa Penduduk
(Km2) Per Km2
1. Taripa 110,62 913 8,25
2. Kele’i 112.16 1698 20,02
3. Didiri 84.81 685 6,11
5. Masewe 73,26 471 6,43
7. Poleganyara 61,20 1.458 23,83
8. Petiro 49,38 502 10,17
9. Tiu 31,30 953 30,45
11. Kancuu 6,72 478 71,03
Jumlah 529,5 7.158 15
Sumber : Profil Puskesmas Taripa, 2018
 PENDIDIKAN
Pendidikan merupakan salah satu wahana dalam membentuk sumber daya
manusia. Kecamatan Pamona Timur memiliki sarana pendidikan menurut
tingkat pendidikan yakni PAUD =7 , TK = 7 unit, SD = 14 unit, SMP = 6 unit,
SMA = 1 unit, SMK = 1 unit.
 SARANA KESEHATAN
Dalam upaya peningkatan mutu pelayanan kesehatan, diperlukan sarana
pelayanan yang mencukupi. Kecamatan Pamona Timur memiliki 1unit
Puskesmas induk dengan fasilitas rawat inap. Untuk pemerataan pelayanan
didirikan 4 unit Puskesmas Pembantu yang terletak di Desa Poleganyara,
Masewe, Didiri dan Desa Kele’i, serta 7 unit bangunan Poskesdes yang terletak
di desa Masewe, Kancuu, Poleganyara, Tiu, Taripa, Didiri dan desa Kele’i.
Disamping itu untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat
secara umum, tersedia 8 unit kendaraan roda 2 (dua), 2 unit Puskesmas Keliling

3
Tria Oktaviana Masua, AMAK

berupa kendaraan roda 4 (empat) yang pemanfaatannya adalah 1 unit untuk


operasinal Puskesmas Keliling dan 1 unit untuk operasional rujukan.
 KETENAGAAN
Adapun jumlah tenaga kesehatan dan non kesehatan yang berada di
Puskesmas Taripa adalah sebagai berikut:
1. Dokter Umum : 0 orang
2. Dokter Gigi : 0 orang
3. Tenaga Gizi : 2 orang (1 orang Nusantara Sehat)
4. S1 Kesehatan masyarakat : 7 orang (5 orang non PNS)
5. S1 Keperawatan + Ners : 7 orang (3 orang non PNS)
6. S1 Keperawatan : 1 orang (non PNS)
7. Analis Kesehatan : 1 orang
8. Apoteker : 1 orang
9. Asisten Apoteker : 1 orang (Non PNS)
10. DIII Keperawatan : 10 orang (7 orang Non PNS)
11. DIII Kesling : 1 orang
12. Perawat SPK : 2 orang
13. Bidan Desa : 9 Orang (2 Non PNS)
14. Bidan Klinis : 10 orang (6 orang Non PNS)
15. Perawat Gigi : 2 orang (1 orang Non PNS)
16. Psikologi : 1 orang (Non PNS)
17. Tenaga Umum Administrasi : 2 orang
18. Tenaga Arsiparis : 1 orang (Non PNS)
19. Cleaning Servis : 2 orang (Non PNS)
20. Supir : 1 orang (Non PNS)

1.3 Visi, Misi dan Nilai Organisasi


1. Visi
Terwujudnya Masyarakat Sehat di Wilayah Puskesmas Taripa Melalui
Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan yang Optimal
2. Misi
 Memberdayakan serta mendorong masyarakat dan keluarga dalam
pembangunan kesehatan dengan mengupayakan perilaku hidup bersih dan
sehat menjadi kebutuhan masyarakat
4
Tria Oktaviana Masua, AMAK

 Memberikan pelayanan kesehatan tingkat pertama yang bermutu, merata dan


terjangkau dalam bentuk promotif, preventif, kuratif dan rehabilitatif
 Menggerakkan pembangunan berwawasan kesehatan agar pelaksanaan
pembangunan mengacu dan berorientasi serta mempertimbangkan faktor
kesehatan sebagai pertimbangan utama
3. Nilai Organisasi
1. Tepat : Memberikan pelayanan secara tepat sasaran dan tepat prosedur
2. Aman : Mengutamakan keamanan dalam memberikan pelayanan
3. Responsif : Cepat dan tanggap dalam memberikan pelayanan
4. Inovatif : Pembaharuan/pengembangan sistem pelayanan
5. Profesional : Memiliki keahlian dan kemampuan dalam memberikan
pelayanan kesehatan
6. Akuntabel : Memiliki tanggungjawab atas semua bentuk pelayanan
yang dilakukan

1.4 Tugas dan Fungsi Jabatan


Pranata Laboratorium Kesehatan adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas,
tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk
melakukan kegiatan pelayanan laboratorium kesehatan, pada laboratorium kesehatan.
Tugas dan fungsi:
Tugas pokok Pranata Laboratorium Kesehatan Terampil adalah melaksanakan
tugas pelayanan laboratorium kesehatan meliputi bidang hematologi, kimia klinik,
mikrobiologi, imunoserologi, toksikologi, kimia lingkungan, patologi anatomi
(histopatologi, sitopatologi, histokimia, imunopatologi, patologi molekuler), biologi dan
fisika.

1.5 Tujuan Aktualisasi


1. Untuk meningkatkan kualitas kerja dan mutu pelayanan kesehatan di Laboratorium
Puskesmas Taripa
2. Para tenaga medis Puskesmas Taripa memiliki ilmu pengetahuan dasar tentang
Flebotomi (Pengambilan Sampel Darah)
3. Untuk meningkatkan kenyamanan, keamanan dan keselamatan pasien Puskesmas
Taripa

5
Tria Oktaviana Masua, AMAK

1.6 Manfaat Aktualisasi


Sesuai dengan tugas dan fungsi ASN sebagai Pranata Laboratorium, diharapkan
aktualisasi ini dapat meningkatkan ilmu pengetahuan tentang Flebotomi (Pengambilan
Sampel Darah) demi kenyamanan, keamanan dan keselamatan pasien serta perbaikan
kualitas kerja para tenaga medis di Puskesmas Taripa.

6
Tria Oktaviana Masua, AMAK

BAB II
RANCANGAN AKTUALISASI HABITUASI

2.1 Nilai Dasar Profesi Aparatur Sipil Negara


Sesuai dengan Undang-Undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara
(ASN), Pelatihan Dasar Calon Pegawai Negeri Sipil dilaksanakan mengacu pada
ANEKA sebagai prinsip yang menjadi landasan dalam menjalankan profesi, yaitu:
Akuntabilitas, Nasionalisme, Etika Publik, Komitmen Mutu dan Anti Korupsi. Adapun
detail dari nilai-nilai yang terkandung dalam ANEKA adalah sebagai berikut:
1. Akuntabilitas
A. Konsep Akuntabilitas
1. Pengertian Akuntabilitas
Akuntabilitas adalah kewajiban setiap individu, kelompok atau
institusi untuk memenuhi tanggung jawab yang menjadi amanahnya.
Amanah seorang ASN adalah menjamin terwujudnya nilai-nilai publik
tersebut adalah:
a) Mampu mengambil pilihan yang tepat dan benar ketika terjadi
konflik kepentingan, antara kepentingan publik dengan
kepentingan sektor, kelompok, dan pribadi.
b) Memiliki pemahaman dan kesadaran untuk menghindari dan
mencegah keterlibatan ASN dalam politik praktis.
c) Memperlakukan warga secara sama dan adil dalam
penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan publik.
d) Menunjukkan sikap dan perilaku yang konsisten dan dapat
diandalkan sebagai penyelenggara pemerintahan.
B. Nilai Dasar Akuntabilitas yaitu:
1. Tanggung jawab
2. Jujur
3. Kejelasan target
4. Adil
5. Transparan
6. Konsisten
7. Partisipasi

7
Tria Oktaviana Masua, AMAK

8. Mendahulukan kepentingan publik


C. Aspek Akuntabilitas
Terdapat 5 (lima) aspek penting dalam akuntabilitas yaitu, Akuntabilitas
adalah hubungan, Akuntabilitas berorientasi pada hasil, Akuntabilitas
membutuhkan adanya laporan, Akuntabilitas memerlukan konsekuensi dan
Akuntabilitas memperbaiki kinerja.
D. Pentingnya Akuntabilitas
Akuntabilitas memiliki 3 (tiga) fungsi utama yaitu : kontrol demokrasi,
mencegah korupsi dan penyalahgunaan wewenang, untuk meningkatkan
efisiensi dan efektifitas.
E. Tingkatan Akuntabilitas
Akuntabilitas memiliki 5 tingkatan yang berbeda yaitu : akuntabilitas
personal, akuntabilitas individu, akuntabilitas kelompok, akuntabilitas
organisasi dan akuntabilitas stakeholder.
F. Mekanisme Akuntabilitas
1. Mekanisme Akuntabilitas Birokrasi Indonesia
Di Indonesia alat akuntabilitas antara lain adalah : perencanaan
strategis, kontrak kinerja, laporan kinerja.
2. Menciptakan Lingkungan Kerja yang Akuntabel
Adalah Kepemimpinan, Transparansi, integritas, tanggungjawab,
keadilan, kepercayaan, keseimbangan, kejelasan, dan konsistensi.
3. Frame Work Akuntabilitas
Berikut adalah 5 langkah dalam membuat Frame work Akuntabilitas:
Menentukan tujuan, melakukan perencanaan, pelaksanaan, memberikan
laporan dan melakukan evaluasi.
2. Nasionalisme
Fungsi ASN sebagai perekat dan pemersatu bangsa dan Negara yaitu setiap
pegawai ASN harus memiliki jiwa nasionalisme dan wawasan kebangsaan yang
kuat, memiliki kesadaran sebagai penjaga kedaulatan Negara, menjadi perekat
bangsa dan mengupayakan situasi damai di seluruh wilayah Indonesia, dan menjaga
keutuhan NKRI. Nilai Dasar Nasionalisme yaitu :
1. Religius 13. Gotong royong
2. Hormat menghormati 14. Persamaan derajat

8
Tria Oktaviana Masua, AMAK

3. Kerja sama 15. Tenggang rasa


4. Tidak memaksakan kehendak 16. Membela kebenaran
5. Jujur 17. Persatuan
6. Amanah 18. Rela berkorban
7. Adil (non diskriminasi) 19. Cinta tanah air
8. Kepentingan bersama 20. Disiplin
9. Sosial 21. Memelihara ketertiban
10. Hidup bersama 22. Menghargai karya orang lain
11. Kerja keras 23. Musyawarah
12. Menghormati keputusan 24. Kekeluargaan
3. Etika Publik
Etika Publik merupakan refleksi tentang standar norma, yang menentukan baik
buruk, benar salah perilaku, tindakan dan keputusan untuk mengarahkan kebijakan
publik dalam rangka menjalankan tanggung jawab pelayan publik. Nilai Dasar
Etika Publik yaitu:
1. Jujur
2. Bertanggung jawab
3. Integritas tinggi
4. Teliti
5. Cermat
6. Disiplin
7. Hormat
8. Sopan
9. Taat perintah
10. Menjaga rahasia
11. Taat peraturan perundang-undangan
4. Komitmen Mutu
Komitmen mutu mengacu kepada ukuran baik buruk yang dipersepsikan oleh
individu terhadap nilai suatu produk atau pun jasa. Dalam penyelenggaraan
pemerintahan, mutu sering dikaitkan dengan pelayanan kepada masyarakat. Nilai
Dasar Komitmen Mutu yaitu:
1. Efektifitas
2. Efisien

9
Tria Oktaviana Masua, AMAK

3. Inovatif
4. Berorientasi Mutu
5. Anti Korupsi
Menanamkan sikap sadar anti korupsi merupakan salah satu cara untuk
menjauhkan diri kita dari korupsi. Salah satu cara menanamkan sikap anti korupsi
adalah menanamkan nilai Integritas Jujur, Peduli, Mandiri, Tanggung Jawab, Kerja
Keras, Sederhana, Berani, Adil, dan Disiplin.

2.2 Peran dan Kedudukan Aparatur Sipil Negara dalam NKRI


1. Whole of Government
WoG adalah sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang
menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam
ruang lingkup koordinasi yang lebih luas guna mencapai tujuan-tujuan
pembangunan kebijakan, manajemen program dan pelayanan publik.
Oleh karenanya WoG juga dikenal sebagai pendekatan interagency, yaitu
pendekatan yang melibatkan sejumlah kelembagaan yang terkait dengan urusan-
urusan yang relevan.
Terdapat beberapa alasan yang menyebabkan mengapa WoG menjadi penting
dan tumbuh sebagai pendekatan yang mendapatkan perhatian dari pemerintah.
Pertama, adalah adanya faktor-faktor eksternal seperti dorongan publik dalam
merujudkan integrasi kebijakan program pembangunan dan pelayanan agar tercipta
penyelenggaraan pemerintahan yang lebih baik. Selain itu perkembangan teknologi
informasi, situasi dan dinamika kebijakan yang lebih kompleks juga mendorong
pentingnya WoG dalam menyatukan institusi pemerintah sebagai penyelenggara
kebijakan dan layanan publik. Kedua, terkait faktor-faktor internal dengan adanya
fenomena ketimbangan kapasitas sektoral sebagai akibat dari adanya nuansa
kompetensi antar sektor dalam pembangunan. Satu sektor bisa menjadi sangat
superior terhadap sektor lain atau masing-masing sektor tumbuh namun tidak
berjalan beriringan, melainkan justru kontra produktif atau “saling membunuh”.
Masing-masing sektor menganggap bahwa sektornya lebih penting dari yang
lainnya. Ketiga, khususnya dalam konteks Indonesia, keberagaman latar belakang
nilai, budaya, adat istiadat serta bentuk latar belakang lainnya mendorong adanya
potensi disintegrasi bangsa. Pemerintah sebagai institusi formal berkewajiban

10
Tria Oktaviana Masua, AMAK

untuk mendorong tumbuhnya nilai-nilai perekat kebangsaan yang akan menjamin


bersatunya elemen-elemen kebangsaan ini dalam satu frame NKRI.
2. Manajemen ASN
Pengelolaan atau manajemen ASN adalah kebijakan dan praktek dalam
mengelola aspek manusia atau SDM dalam organisasi, baik untuk PNS maupun
PPK. Manajemen ASN akan membuat seorang ASN mengerti apa saja kedudukan,
peran, hak, kewajiban dan kode etik ASN.
a. Kedudukan ASN
Kedudukan ASN berada di pusat, daerah dan di luar negeri, namun
demikian pegawai ASN merupakan satu kesatuan.
b. Peran ASN
Peran ASN adalah sebagai pelaksana kebijakan publik, pelayan publik
dan perekat pemersatu bangsa.
1. Hak dan Kewajiban ASN
Seorang ASN mempunyai kewajiban dan hak sebagai berikut:
 Gaji, tunjangan dan fasilitas
 Cuti
 Jaminan pension dan jaminan hari tua
 Perlindungan
 Pengembangan kompetensi
2. Kode etik dan kode perilaku ASN
Kode etik dan kode perilaku bertujuan untuk menjaga martabat dan
kehormatan ASN. Kode etik dan kode perilaku berisi pengaturan perilaku
agar pegawai ASN:
 Melaksanakan tugasnya dengan jujur, bertanggung jawab,
dan berintegritas tinggi;
 Melaksanakan tugasnya dengan cermat dan disiplin;
 Melayani dengan sikap hormat, sopan, dan tanpa tekanan;
 Melaksanakan tugasnya sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan;
 Melaksanakan tugasnya sesuai dengan perintah atasan
atau pejabat yang berwenang sejauh tidak bertentangan dengan

11
Tria Oktaviana Masua, AMAK

ketentuan peraturan perundang-undangan dan


etika pemerintahan;
 Menjaga kerahasiaan menyangkut kebijakan negara;
 Menggunakan kekayaan dan BMN secara bertanggungjawab,
efektif dan efisien;
 Menjaga agar tidak terjadi konflik kepentingan dalam
melaksanakan tugasnya;
 Memberikan informasi secara benar dan tidak menyesatkan
kepada pihak lain yang memerlukan informasi terkait
kepentingan kedinasan;
 Tidak menyalahgunakan informasi intern negara, tugas, status,
kekuasaan dan jabatannya untuk mendapat atau mencari
keuntungan atau manfaat bagi diri sendiri atau orang lain;
 Memegang teguh nilai dasar ASN dan selalu menjaga reputasi
dan integritas ASN; dan
 Melaksanakan ketentuan peraturan perundang-undangan
mengenai disiplin pegawai ASN
3. Pelayanan Publik
Pelayanan publik adalah pemberian layanan atau melayani keperluan orang
atau masyarakat dan/atau organisasi lain yang mempunyai kepentingan pada
organisasi itu, sesuai dengan aturan pokok dan tata cara yang ditentukan dan
ditujukan untuk memberikan kepuasan kepada penerima pelayanan. Terdapat 3
unsur penting dalam pelayanan publik, yaitu:
a. Organisasi penyelenggara pelayanan publik;
b. Penerima layanan (pelanggan), yaitu orang, masyarakat atau organisasi
yang berkepentingan;
c. Kepuasan yang diberikan dan/atau diterima oleh penerima layanan
(pelanggan).
Prinsip pelayanan publik yang baik untuk mewujudkan pelayanan prima
adalah:
a. Partisipatif
Pemerintah perlu melibatkan masyarakat dalam merencanakan,
melaksanakan, dan mengevaluasi hasilnya.
12
Tria Oktaviana Masua, AMAK

b. Transparan
Pemerintah harus menyediakan akses bagi warga negara untuk
mengetahui segala hal terkait pelayanan public yang diselenggarakan.
Masyarakat juga harus diberi akses untuk mempertanyakan dan
menyampaikan pengaduan apabila merasa tidak puas terhadap pelayanan
publik pemerintah.
c. Responsif
Pemerintah wajib mendengar dan memenuhi tuntutan kebutuhan
warga negara. Birokrasi wajib mendengarkan aspirasi dan keinginan
masyarakat yang menduduki posisi sebagai agen Pelayanan Publik.
d. Tidak diskriminatif
Tidak ada perbedaan pemberian layanan kepada masyarakat atas
dasar perbedaan identitas warga negara.
e. Mudah dan murah
Mudah artinya berbagai persyaratan yang dibutuhkan tersebut masuk
akal dan mudah untuk dipenuhi. Murah artinya biaya yang diperlukan
dapat dijangkau oleh seluruh warga negara.
f. Efektif dan efisien
 Efektif : mampu mewujudkan tujuan yang hendak dicapai (untuk
melaksanakan mandat konstitusi dan mencapai tujuan strategis negara
dalam jangka panjang),
 Efisien : cara mewujudkan tujuan dilakukan dengan prosedur
sederhana, tenaga kerja yang sedikit, dan biaya yang murah.
g. Aksesibel
Pelayanan publik yang harus dapat dijangkau oleh warga negara yang
membutuhkan dalam arti fisik (dekat, terjangkau dengan
kendaraan publik, mudah ditemukan, dan lain– lain) dan dapat dijangkau
dalam arti non– fisik yang terkait dengan biaya dan persyaratan yang harus
dipenuhi.
h. Akuntabel
Penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dipertanggungjawabkan
secara terbuka kepada masyarakat melalui media publik baik secara cetak
maupun elektronik.

13
Tria Oktaviana Masua, AMAK

i. Berkeadilan
Penyelenggaraan pelayanan publik harus dapat dijadikan sebagai alat
pelindung kelompok rentan dan mampu menghadirkan rasa keadilan bagi
kelompok lemah ketika berhadapan dengan kelompok kuat

2.3 Rancangan Aktualisasi


Dalam melaksanakan tugas sebagai Pranata Laboratorium Kesehatan di Puskesmas
Taripa, ditemukan satu isu yang berkaitan dengan nilai-nilai Akuntabilitas
(Tanggungjawab, Konsisten), Etika Publik (Tidak Diskriminatif dan Adil),
Komitmen Mutu (Efektif dan Orientasi Mutu), dan Anti Korupsi (Disiplin, Kerja
Keras, Adil) . Isu tersebut mempengaruhi kualitas kinerja dan pelayanan kepada pasien
di Laboratorium Puskesmas Taripa, sehingga perlu ditemukan solusi dalam peningkatan
kualitas kerja serta perbaikan mutu tenaga medis yang berkelanjutan.

2.3.1 Hasil Analisis Isu


Analisis Isu

No. Masalah A P K L Total Peringkat

1. Kurangnya kesadaran pasien dalam 5 3 3 2 13 III


memisahkan sampah infeksius dan non
infeksius di Puskesmas Taripa.

2. Kurangnya kesadaran masyarakat akan 4 3 3 2 12 IV


pentingnya penggunaan APD (Masker),
khususnya pada pasien TB di Puskesmas
Taripa.

Kurang termonitornya suhu ruangan di


3. 5 3 2 4 14 II
Laboratorium Puskesmas Taripa.

4. Kurangnya pengetahuan para tenaga perawat


dalam prosedur Phlebotomi (pengambilan 5 4 4 5 18 I
sampel darah) di Laboratorium Puskesmas
Taripa.

14
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Dari beberapa isu yang dikemukakan di atas ditemukan isu atau masalah prioritas
dengan metode APKL didapatkan peringkat paling tinggi yaitu “ Kurangnya Pengetahuan
para Tenaga Perawat dalam Prosedur Phlebotomi (pengambilan sampel darah) di
Laboratorium Puskesmas Taripa. Hal ini merupakan isu aktual di Laboratorium Puskesmas
Taripa.

No. Penyebab Masalah U S G Total Prioritas

1. Para tenaga perawat dalam melakukan Flebotomi 5 4 5 14 I


belum sesuai dengan SOP.
2. Tenaga perawat belum mengikuti Pelatihan 3 4 4 11 II
Flebotomi.
3. Pelatihan prosedur Flebotomi membutuhkan biaya 3 3 3 9 III
yang tidak sedikit.

15
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Unit Kerja : Puskesmas Taripa


Isu Yang Di angkat Gagasan : Kurangnya pengetahuan para tenaga perawat dalam Prosedur Flebotomi (Pengambilan Sampel Darah) di Laboratorium
Puskesmas Taripa
Gagasan : Peningkatan Kualitas Kerja dan Keselamatan Pasien dalam Penerapan Prosedur/Teknik Dasar Flebotomi (Pengambilan
Sampel Darah) di Puskesmas Taripa

Konstribusi Kegiatan
Keterkaitan Substansi Penguatan Nilai
No Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Terhadap Visi, Misi
Mata Pelatihan Organisasi
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
1. Melaksanakan 1. Melakukan konsultasi Terlaksananya Etika Publik (Sopan) Menguatkan Misi Organisasi, Maka akan
konsultasi dengan Kepala konsultasi Etika Publik (Bersikap yaitu : menguatkan
dengan Kepala Puskesmas selaku dengan Hormat) "Menggerakkan Nilai Organisasi,
Puskesmas Pimpinan Kepala Akuntabilitas (Kejelasan pembangunan berwawasan yaitu:
2. Melakukan konsultasi Puskesmas Target) kesehatan agar pelaksanaan "Memiliki
dengan Kepala dan konsultasi Dalam melakukan konsultasi pembangunan mengacu dan Tanggungjawab
Keperawatan dengan terhadap Pimpinan dan berorientasi serta Atas Semua
Kepala Kepala Keperawatan mempertimbangkan faktor Bentuk
Keperawatan dilakukan dengan sopan, kesehatan sebagai Pelayanan yang
ramah dan hormat untuk pertimbangan utama" Dilakukan"
mendapatkan arahan agar
tercapai tujuan dalam
pelaksanaan kegiatan.

16
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Konstribusi Kegiatan Penguatan Nilai


Keterkaitan Substansi
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Terhadap Visi, Misi Organisasi
Mata Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
2. Melakukan 1. Berkonsultasi dengan Terlaksananya Akuntabilitas Dengan dilaksanakannya Dengan
pendataan bagian Kepegawaian konsultasi dan (Netral), pendataan kepada para Perawat dilaksanakannya
kepada para Puskesmas Taripa pendataan Akuntabilitas (Konsisten), yang belum memiliki Sertifikat pendataan para
Tenaga Medis 2. Menyeleksi data para para Tenaga Akuntabilitas (Partisipatif), Flebotomi, maka akan Perawat, maka
yang belum Tenaga Medis Medis Etika Publik menguatkan Visi Organisasi, akan
memiliki berdasarkan Form SDMK berdasarkan (Transparansi) yaitu: menguatkan nilai
Sertifikat Puskesmas Taripa Form SDMK Dalam mendata Perawat “Terwujudnya Masyarakat organisasi, yaitu:
Flebotomi Puskesmas yang belum memiliki Sehat di Wilayah Puskesmas “Memberikan
Taripa Sertifikat Flebotomi harus Taripa Melalui Pelayanan
dipastikan bahwa data yang Penyelenggaraan secara Tepat
diambil adalah benar dan Pembangunan Kesehatan Sasaran dan
tidak direkayasa, serta tidak yang Optimal” Tepat
menggunakan informasi data Prosedur”
untuk mencari keuntungan
pribadi maupun golongan

17
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Konstribusi Kegiatan Penguatan Nilai


Keterkaitan Substansi
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Terhadap Visi, Misi Organisasi
Mata Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
3. Mengajak 1. Menyerahkan daftar nama Terlaksananya Kegiatan ini dilakukan Mewujudkan misi Organisasi Menguatkan
Kepala Perawat yang belum kerjasama dengan sikap Hormat (Etika yaitu: "Memberikan Nilai Organisasi
Keperawatan memiliki Sertifikat dengan Publik) dan Sopan (Etika Pelayanan Kesehatan Tingkat yaitu:
untuk Flebotomi untuk diikutkan Kepala Publik) serta melakukan Pertama yang Bermutu, "Memiliki
Bekerjasama kegiatan Sosialisasi Keperawatan perencanaan atas apa yang Merata dan Terjangkau Tanggungjawab
Flebotomi akan dilakukan untuk Dalam Bentuk Promotif dan Atas Semua
2. Menandatangani surat mencapai tujuan (WoG) Preventif". Bentuk
kerjasama dengan Kepala Pelayanan yang
Keperawatan Dilakukan"
4. Mempersiapkan 1. Mengatur waktu dan Terselesaikan- Kegiatan ini dilakukan Sesuai dengan Misi Organisasi Menguatkan
kegiatan tempat pelaksanaan nya dengan menerapkan yaitu: "Menggerakkan nilai organisasi,
Sosialisasi 2. Membuat undangan penyusunan Akuntabilitas (Kejelasan Pembangunan Berwawasan yaitu:
Flebotomi kegiatan Sosialisasi jadwal serta Target), agar peningkatan Kesehatan Agar Pelaksanaan “Pembaruan/
Flebotomi tempat mutu pelayanan kesehatan, Pembangunan Mengacu dan Pengembangan
3. Memberikan undangan pelaksanaan kualitas kerja dan Berorientasi serta Sistim
Sosialisasi kepada Kepala kegiatan keselamatan pasien dapat Mempertimbangkan Faktor Pelayanan
Keperawatan sosialisasi tercapai Kesehatan sebagai
Flebotomi Pertimbangan Utama

18
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Konstribusi Kegiatan Penguatan Nilai


Keterkaitan Substansi
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Terhadap Visi, Misi Organisasi
Mata Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
5. Pembuatan Melakukan pembuatan Terselesaikannya Etika Publik: Tidak Mewujudkan Visi Dengan
Buku Saku Buku Saku Flebotomi pembuatan Buku Diskriminatif. Organisasi, yaitu: pembuatan Buku
Flebotomi secara bertahap, dimulai Saku Flebotomi Etika Publik: "Menggerakkan Saku Flebotomi
dari menyiapkan materi Transparansi Pembangunan Berwawasan ini, maka akan
dan bahan yang Komitmen Mutu: Kesehatan agar menguatkan nilai
berkualitas, penyusunan Inovatif Pelaksanaan Pembangunan organisasi yaitu
rangkuman materi Berkaitan dengan Mengacu dan Berorientasi “Inovatif”.
Flebotomi dan penjilidan. pembuatan Buku Saku serta Mempertimbangkan
Flebotomi ini, dilakukan Faktor Kesehatan sebagai
dengan transparan dan Pertimbangan Utama"
tidak mengandung
SARA agar informasi
tersampaikan secara
benar, tidak
menyesatkan

19
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Konstribusi Kegiatan Penguatan Nilai


Keterkaitan Substansi
No. Kegiatan Tahapan Kegiatan Output/Hasil Terhadap Visi, Misi Organisasi
Mata Pelatihan
Organisasi
1 2 3 4 5 6 7
6. Pelaksanaan 1. Mengatur ruangan Terselenggaranya Etika Publik Mewujudkan Visi Organisasi, Dengan
kegiatan pelaksanaan Sosialisasi kegiatan (Terbuka) yaitu: "Menggerakkan dilakukannya
Sosialisasi 2. Arahan Kepala Sosialisasi Etika Publik Pembangunan Berwawasan sosialisasi dan
Flebotomi Puskesmas Taripa Flebotomi dalam (Tidak Diskriminasi) Kesehatan agar pembuatan brosur
3. Arahan Kepala Peningkatan Akuntabilitas Pelaksanaan Pembangunan ini, akan
Keperawatan Mutu Pelayanan (Konsisten) Mengacu dan Berorientasi mewujudkan
4. Sosialisasi sekaligus Kesehatan, serta Mempertimbangkan Nilai Organisasi
pembagian Buku Saku Kualitas Kerja Faktor Kesehatan sebagai yaitu : "Memiliki
Flebotomi dan Keselamatan Pertimbangan Utama" Keahlian dan
Pasien dalam Kemampuan
Prosedur Dalam
Flebotomi Memberikan
7. Pembuatan 1. Menyiapkan Materi Tersedianya Etika Publik Pelayanan
Brosur dan Bahan Brosur Prosedur (Transparansi) Kesehatan"
2. Mendesign Brosur Flebotomi di Memberikan informasi
3. Mencetak Brosur Laboratorium Prosedur Flebotomi
Puskesmas dengan benar
Taripa

20
Tria Oktaviana Masua, AMAK

JADWAL KEGIATAN AKTUALISASI

Waktu Pelaksanaan

No Kegiatan/Tahap Kegiatan November Desember

I II III IV I

1. Melaksanakan konsultasi dengan Kepala Puskesmas


1. Melakukan konsultasi dengan Kepala Puskesmas selaku Pimpinan

04-11-2019
2. Melakukan konsultasi dengan Kepala Keperawatan

2. Melakukan pendataan kepada para Tenaga Medis yang belum memiliki Sertifikat Flebotomi
 Berkonsultasi dengan bagian Kepegawaian Puskesmas Taripa
 Menyeleksi data para Tenaga Medis berdasarkan Form SDMK Puskesmas Taripa

05-11-2019
21
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Waktu Pelaksanaan

No Kegiatan/Tahap Kegiatan November Desember

I II III IV I

3. Mengajak Kepala Keperawatan untuk Bekerjasama


 Menyerahkan daftar nama Tenaga Medis yang belum memiliki Sertifikat Flebotomi untuk
diikutkan kegiatan Sosialisasi Flebotomi

06-11-2019
 Menandatangani surat kerjasama dengan Kepala Keperawatan

4. Mempersiapkan kegiatan Sosialisasi Flebotomi


 Mengatur waktu dan tempat pelaksanaan
 Membuat dan memberikan undangan Sosialisasi kepada Kepala Keperawatan

06-11-2019
22
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Waktu Pelaksanaan

No Kegiatan/Tahap Kegiatan
November Desember

I II III IV I

5. Pembuatan Buku Saku Flebotomi


 Melakukan pembuatan Buku Saku Flebotomi secara bertahap, dimulai dari menyiapkan

11-11-2019
materi yang berkualitas, penyusunan rangkuman materi Flebotomi dan penjilidan

6. Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Flebotomi


 Mengatur ruangan pelaksanaan Sosialisasi
 Arahan Kepala Puskesmas Taripa

28-11-2019
Arahan Kepala Keperawatan
 Sosialisasi sekaligus pembagian Buku Saku Flebotomi

23
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Waktu Pelaksanaan

No Kegiatan/Tahap Kegiatan
November Desember

I II III IV I
7. Pembuatan Brosur

02-12-2019
Menyiapkan materi dan bahan
 Mendesign Brosur
 Mencetak Brosur

24
Tria Oktaviana Masua, AMAK

BAB III
PELAKSANAAN AKTUALISASI

3.1 Daftar Kegiatan Aktualisasi Nilai-Nilai Dasar ASN


Seluruh kegiatan aktualisasi yang telah dicantumkan pada rancangan telah berhasil
dilaksanakan semuanya. Bahkan, ada tambahan kegiatan berdasarkan saran dan arahan
Coach serta Mentor dalam pelaksanaan aktualisasi Peningkatan Kualitas Kerja dan
Keselamatan Pasien dalam Penerapan Prosedur/Teknik Dasar Flebotomi (Pengambilan
Sampel Darah) di Puskesmas Taripa. Berikut adalah komparasi antara rancangan
tahapan kegiatan dan implementasi pelaksanaan kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar
ASN.

Tabel 3.1
Rancangan dan Pelaksanaan Tahapan Kegiatan Aktualisasi

Rancangan Tahapan Kegiatan Pelaksanaan Tahapan Kegiatan


Aktualisasi Aktualisasi
 Melakukan konsultasi dengan Kepala  Melakukan konsultasi dengan Kepala
Puskesmas selaku Pimpinan Puskesmas
1. Melakukan konsultasi dengan Kepala 1. Melakukan konsultasi dengan Kepala
Puskesmas selaku Pimpinan Puskesmas selaku Pimpinan
2. Melakukan konsultasi dengan Kepala 2. Melakukan konsultasi dengan Kepala
Keperawatan Keperawatan

 Melakukan pendataan kepada para  Melakukan pendataan kepada para


Perawat yang belum memiliki Sertifikat tenaga medis yang belum memiliki
Flebotomi Sertifikat Flebotomi
1. Berkonsultasi dengan Bagian 1. Berkonsultasi dengan Bagian
Kepegawaian Puskesmas Taripa Kepegawaian Puskesmas Taripa
2. Menyeleksi data para Perawat 2. Menyeleksi data para tenaga medis
berdasarkan Form SDMK Puskesmas berdasarkan Form SDMK Puskesmas
Taripa Taripa

25
Tria Oktaviana Masua, AMAK

 Mengajak Kepala Keperawatan untuk  Mengajak Kepala Keperawatan untuk


Bekerjasama Bekerjasama
1. Menyerahkan daftar nama Perawat 1. Menyerahkan daftar nama tenaga
yang belum memiliki Sertifikat medis yang belum memiliki
Flebotomi untuk diikutkan kegiatan Sertifikat Flebotomi untuk diikutkan
Sosialisasi Flebotomi kegiatan Sosialisasi Flebotomi
2. Menandatangani surat kerjasama 2. Menandatangani surat kerjasama
dengan Kepala Keperawatan dengan Kepala Keperawatan
 Mempersiapkan kegiatan Sosialisasi  Mempersiapkan kegiatan Sosialisasi
Flebotomi Flebotomi
1. Mengatur waktu dan tempat 1. Mengatur waktu dan tempat
pelaksanaan pelaksanaan
2. Membuat undangan kegiatan 2. Membuat undangan kegiatan
Sosialisasi Flebotomi Sosialisasi Flebotomi
3. Memberikan undangan Sosialisasi 3. Memberikan undangan Sosialisasi
kepada Kepala Keperawatan kepada Kepala Keperawatan
 Pembuatan Buku Saku Flebotomi  Pembuatan Buku Saku Flebotomi
1. Melakukan pembuatan Buku Saku 1. Melakukan pembuatan Buku Saku
Flebotomi secara bertahap, dimulai Flebotomi secara bertahap, dimulai
dari menyiapkan materi yang dari menyiapkan materi yang
berkualitas, penyusunan rangkuman berkualitas, penyusunan rangkuman
materi Flebotomi dan penjilidan. materi Flebotomi dan penjilidan
 Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi  Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi
Flebotomi Flebotomi
1. Arahan Kepala Puskesmas Taripa 1. Mengatur ruangan pelaksanaan
2. Arahan Kepala Keperawatan Sosialisasi
3. Sosialisasi sekaligus pembagian 2. Arahan Kepala Puskesmas Taripa
Buku Saku Flebotomi 3. Arahan Kepala Keperawatan
4. Sosialisasi sekaligus pembagian
Buku Saku Flebotomi
 Pembuatan Brosur
1. Menyiapkan Materi dan Bahan

26
Tria Oktaviana Masua, AMAK

2. Mendesign Brosur
3. Mencetak Brosur

3.2 Deskripsi Capaian


Berikut adalah deskripsi pelaksanaan masing-masing kegiatan aktualisasi nilai-nilai
dasar ASN. Tiap kegiatan dideskripsikan muatan nilai-nilai dasar ASN yang relevan
sesuai dengan indikator masing-masing. Selain itu, juga dilakukan analisis dampak
apabila kelima nilai dasar ASN tidak diaplikasikan pada masing-masing kegiatan.
1. Melakukan Konsultasi dengan Kepala Puskesmas
a. Deskripsi Kegiatan
Sebelum melakukan kegiatan aktualisasi dengan Kepala Puskesmas selaku
pimpinan, dimulai dengan membuat janji pertemuan dengan kejelasan,
memberi salam dan hormat kepada atasan (Etika Publik).

Lalu menyampaikan maksud dan tujuan bertemu Kepala Puskesmas yaitu


untuk berkonsultasi tentang rancangan aktualisasi mengenai Peningkatan
Kualitas Kerja dan Keselamatan Pasien dalam Prosedur Flebotomi
(Pengambilan Sampel Darah) di Puskesmas Taripa untuk mendapatkan arahan
dan saran dalam pelaksanaan rancangan aktualisasi ini (Akuntabilitas:
Kejelasan Target).

27
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Kegiatan ini dilakukan pada hari Senin, 04 November 2019 bertempat di


ruang Kepala Puskesmas Taripa.
Dihari yang sama, penulis segera menemui Kepala Keperawatan,
membahas kegiatan dari rancangan aktualisasi, yaitu Peningkatan Kualitas
Kerja dan Keselamatan Pasien dalam Prosedur Flebotomi (Pengambilan
Sampel Darah).
Saat berkonsultasi dengan Kepala Keperawatan, penulis menerapkan nilai
dasar ASN, yaitu Etika Publik: Bersikap Sopan dan Hormat, agar
rancangan aktualisasi ini berjalan sesuai rancangan.

b. Kontribusi terhadap Visi dan Misi


Tahapan kegiatan konsultasi kepada pimpinan dan konsultasi kepada
Kepala Keperawatan dengan menerapkan sikap Etika Publik, sehingga
senantiasa berpedoman atas arahan dan petunjuk pimpinan dalam
meningkatkan kualitas kerja dan keselamatan pasien dalam prosedur Flebotomi
(pengambilan sampel darah), maka akan mewujudkan misi organisasi
Puskesmas Taripa yaitu: "Menggerakkan Pembangunan Berwawasan
Kesehatan Agar Pelaksanaan Pembangunan Mengacu Dan Berorientasi Serta
Mempertimbangkan Faktor Kesehatan Sebagai Pertimbangan Utama".
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan dilaksanakannya konsultasi kepada pimpinan, maka akan
menguatkan nilai organisasi yaitu: “Memiliki Tanggungjawab Atas Semua
Bentuk Pelayanan yang Dilakukan”.
d. Analisis Dampak
Dalam tahap kegiatan konsultasi dengan Kepala Puskesmas dan konsultasi
dengan Kepala Keperawatann, jika tidak dilakukan dengan penerapan nilai
dasar Etika Publik: Sopan dan Etika Publik: Bersikap Hormat, maka

28
Tria Oktaviana Masua, AMAK

tujuan dari aktualisasi ini akan sulit terealisasikan (Akuntabilitas: Kejelasan


Target).

2. Melakukan Pendataan Kepada Para Tenaga Medis yang Belum Memiliki


Sertifikat Flebotomi
a. Deskripsi Kegiatan
Kegiatan selanjutnya, penulis berkonsultasi dengan Bagian Kepegawaian
untuk pendataan kepada para perawat yang belum memiliki sertifikat
Flebotomi berdasarkan Form SDMK Puskesmas Taripa, dengan tujuan agar
para tenaga medis yang belum memiliki sertifikat Flebotomi diutamakan untuk
mendapatkan pengetahuan tentang pengambilan sampel darah yang benar
(Akuntabilitas: Konsisten) dan dapat mempertanggungjawabkan tindakan
pengambilan sampel darah yang dilakukan terhadap pasien (Akuntabilitas:
Parsitipatif). Kegiatan ini penulis lakukan pada hari Selasa, 05 November
2019, diruang Tata Usaha Puskesmas Taripa

Data para perawat yang belum memiliki sertifikat Flebotomi diambil


berdasarkan Form SDMK Puskesmas Taripa adalah benar dan tidak direkayasa
(Akuntabilitas: Netral), serta tidak menggunakan informasi data tersebut
untuk mencari keuntungan pribadi atau golongan (Etika Publik:
Transparan).
b. Kontribusi terhadap Visi Misi
Dengan dilaksanakannya pendataan kepada para Perawat yang belum
memiliki sertifikat Flebotomi, maka akan menguatkan Visi Organisasi, yaitu:
“Terwujudnya Masyarakat Sehat di Wilayah Puskesmas Taripa Melalui
Penyelenggaraan Pembangunan Kesehatan yang Optimal”
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan dilaksanakannya pendataan para Perawat, maka akan menguatkan
nilai organisasi, yaitu: “Memberikan Pelayanan secara Tepat Sasaran dan
Tepat Prosedur”.

29
Tria Oktaviana Masua, AMAK

d. Analisis Dampak
Jika dalam pendataan para perawat melalui Form SDMK Puskesmas
Taripa tidak menerapkan nilai dasar ASN, yaitu Akuntabilitas: Konsisten,
Akuntabilitas: Partisipatif, Akuntabilitas: Netral serta Etika Publik:
Transparansi, maka hanya menguntungkan kerabat dekat atau kekeluargaan
saja yang akan mendapatkan pengetahuan tentang prosedur Flebotomi dalam
peningkatan kualitas kerja dan keselamatan pasien di Puskesmas Taripa.
3. Mengajak Kepala Keperawatan untuk Bekerjasama
a. Deskripsi Kegiatan
Pada hari Rabu, 06 November 2019, penulis menemui Kepala
Keperawatan Puskesmas Taripa untuk menyerahkan daftar tenaga medis
Puskesmas Taripa yang belum memiliki Sertifikat Flebotomi.

Penulis dan Kepala Keperawatan sepakat untuk bekerja sama dalam


rangka meningkatkan kualitas kerja dan keselamatan pasien pada saat
pengambilan sampel darah di Puskesmas Taripa.
Kerjasama ini didukung dengan Surat Pernyataan Kerjasama antara
penulis dan Kepala Keperawatan Puskesmas Taripa.

30
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Berkaitan dengan peran dan kedudukan ASN dalam NKRI: Pada saat
mengajak Kepala Keperawatan untuk bekerjasama, penulis menjelaskan
maksud dan tujuan kerjasama untuk mencapai tujuan yang diharapkan (WOG).
b. Konstribusi terhadap Visi Misi
Penulis menerapkan nilai dasar ASN yaitu Etika Publik: Hormat dan
Sopan, sehingga senantiasa berpedoman atas arahan Kepala Keperawatan serta
terbentuk mitra kerja guna mewujudkan misi organisasi Puskesmas Taripa,
yaitu: "Memberikan Pelayanan Kesehatan Tingkat Pertama yang
Bermutu, Merata dan Terjangkau Dalam Bentuk Promotif dan
Prevsentif".
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan terbentuknya kerjasama dengan Kepala Keperawatan, maka akan
menguatkan Nilai Organisasi yaitu: "Memiliki Tanggungjawab Atas Semua
Bentuk Pelayanan yang Dilakukan"
d. Analisis Dampak
Dalam tahap kegiatan mengajak Kepala Keperawatan untuk bekerjasama,
jika tidak menerapkan prinsip nilai dasar Etika Publik: Hormat dan Sopan,
maka kerjasama dalam mencapai tujuan dari aktualisasi ini, yaitu Peningkatan
Kualitas Kerja dan Keselamatan Pasien di Puskesmas Taripa tidak akan
tercapai (WOG).

4. Mempersiapkan Kegiatan Sosialisasi Flebotomi


a. Deskripsi Kegiatan
Setelah penulis dan Kepala Keperawatan telah sepakat untuk bekerjasama,
dihari yang sama penulis menemui Kepala Puskesmas Taripa untuk mengatur
waktu dan tempat pelaksanaan Sosialisasi Flebotomi, lalu penulis membuat
dan memberikan undangan Sosialisasi Flebotomi kepada Kepala Keperawatan.

31
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Penulis mengatur waktu dan tempat pelaksanaan Sosialisasi Flebotomi


atas arahan dan petunjuk dari Kepala Puskesmas Taripa dan Kepala
Keperawatan Puskesmas Taripa.

Selain itu, penulis juga membagikan pengumuman undangan Sosialisasi


Flebotomi di papan pengumuman dan dihalaman facebook Puskesmas Taripa
untuk diketahui para tenaga medis Puskesmas Taripa.

Berkaitan dengan peran dan kedudukan ASN dalam NKRI: tahapan demi
tahapan kegiatan yang dilakukan, penulis menerapkan prinsip nilai dasar
Akuntabilitas: Kejelasan Target, agar peningkatan kualitas kerja dan
keselamatan pasien sebagai tujuan utama dalam rancangan aktualisasi ini dapat
tercapai.

32
Tria Oktaviana Masua, AMAK

b. Konstribusi terhadap Visi Misi


Setiap tahapan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan misi organisasi,
yaitu: “Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan Agar
Pelaksanaan Pembangunan Mengacu dan Berorientasi serta
Mempertimbangkan Faktor Kesehatan sebagai Pertimbangan Utama”.
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Kegiatan ini akan menguatkan nilai organisasi, yaitu:
“Pembaruan/Pengembangan Sistim Pelayanan”.
d. Analisis Dampak
Jika penulis tidak menerapkan nilai dasar Akuntabilitas: Kejelasan
Target untuk peningkatan kualitas kerja dan keselamatan pasien di Puskesmas
Taripa, maka nilai organisasi “Pembaruan/Pengembangan Sistim
Pelayanan” tidak akan tercapai.

5. Pembuatan Buku Saku Flebotomi


a. Deskripsi Kegiatan
Penulis memulai membuat Buku Saku Prosedur Flebotomi yang akan
penulis berikan kepada Kepala Keperawatan dan para Tenaga Medis
Laboratorium sebagai buku panduan dalam melakukan pengambilan sampel
darah.
Penulis memulai kegiatan dengan menyiapkan materi yang berkualitas.
Sebagian besar materi dalam penyusunan Buku Saku Prosedur Flebotomi ini
berkiblat pada Buku Pelatihan Flebotomi 8 (delapan) yang pernah penulis ikuti
di Tahun 2017. Selanjutnya, penulis berusaha menjilid Buku Saku Prosedur
Flebotomi dengan kemampuan dan keahlian yang penulis miliki.
Penulis membutuhkan waktu sekitar 15 hari kerja dalam penyusunan Buku
Saku Prosedur Flebotomi ini, dimulai dari tanggal 11 November sampai 27
November 2019.
Berkaitan dengan pembuatan Buku Saku Flebotomi ini dilakukan dengan
transparan dan tidak mengandung SARA (Etika Publik: Tidak
Diskriminatif), agar informasi tersampaikan secara benar dan tidak
menyesatkan (Etika Publik: Transparansi), sekaligus inovatif sebagai buku
panduan dalam pengambilan sampel darah untuk meningkatkan kualitas kerja
dan keselamatan pasien di Puskesmas Taripa (Komitmen Mutu: Inovatif).

33
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Proses Pembuatan Buku Saku Prosedur Flebotomi

Menyiapkan Materi dan Bahan yang Berkualitas

Penyusunan Rangkuman Materi Flebotomi dan Desain Cover

34
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Mencetak dan Penjilidan

Penulis menggunakan ukuran kertas A6 (10,5 cm x 14,8 cm) dalam


pembuatan Buku Saku Prosedur Flebotomi, yaitu Kertas F4 (HVS) dibagi
menjadi 4 (empat) bagian dengan Margins Narrow 1,27 cm. Untuk cover Buku
Saku Prosedur Flebotomi, penulis menggunakan Photo Paper.

Setelah materi dan cover telah tercetak,


selanjutnya penulis melakukan penjilidan
menggunakan hekter dan double tape. Untuk
memperkuat rekatan double tape, penulis menjepit sisi
kiri Buku Saku menggunakan penjepit kertas.

35
Tria Oktaviana Masua, AMAK

b. Konstribusi terhadap Visi Misi


Pembuatan Buku Saku Prosedur Flebotomi ini, diharapkan dapat
mewujudkan visi Puskesmas Taripa, yaitu “Menggerakkan Pembangunan
Berwawasan Kesehatan agar Pelaksanaan Pembangunan Mengacu dan
Berorientasi serta Mempertimbangkan Faktor Kesehatan sebagai
Pertimbangan Utama”.
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan membuat Buku Saku Prosedur Flebotomi sebagai pedoman dalam
pengambilan sampel darah, maka akan menguatkan nilai organisasi, yaitu
‘Inovatif”.
d. Analisis Dampak
Jika dalam pembuatan Buku Saku Prosedur Flebotomi ini tidak dilakukan
dengan transparan dan mengandung SARA (Etika Publik: Tidak
Diskriminatif), maka informasi yang disampaikan tidak akan sesuai dengan
peraturan yang berlaku dan menyesatkan (Etika Publik: Transparansi),
sehingga tujuan untuk meningkatkan kualitas kerja dan keselamatan pasien di
Puskesmas Taripa tidak akan tercapai (Komitmen Mutu: Inovatif).

6. Pelaksanaan Kegiatan Sosialisasi Flebotomi


a. Deskripsi Kegiatan
Sesuai dengan arahan Kepala Puskesmas dan kesepakatan bersama Kepala
Keperawatan Puskesmas Taripa tentang Sosialisasi Flebotomi, maka penulis
melaksanakan kegiatan Sosialisasi Flebotomi pada hari Kamis, 28 November
2019 pukul 12.00 WITA setelah jam pelayanan tutup.
Sebelum kegiatan sosialisasi dimulai, penulis mengatur tempat dan
peralatan yang menunjang kegiatan Sosialisasi Flebotomi ini.

36
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Semula, kegiatan Sosialisasi Flebotomi ini akan dilaksanakan di Aula


Puskesmas Taripa. Namun, dikarenakan Aula Puskesmas Taripa sedang
digunakan dan atas arahan Kepala Puskesmas Taripa, penulis melaksanakan
kegiatan Sosialisasi Flebotomi di ruang tunggu pasien.

Kegiatan ini dihadiri oleh Kepala Puskesmas, Kepala Keperawatan dan


para tenaga medis Puskesmas Taripa. Bahkan, para tenaga non medis turut
berpartisipasi, mendukung dan menghadiri kegiatan Sosialisasi Flebotomi.
Kegiatan Sosialisasi Flebotomi dilakukan secara terstruktur, yaitu
menghadirkan mc (pemandu acara) yang tak lain merupakan staf dari
Puskesmas Taripa, dilanjutkan dengan doa bersama dan arahan Kepala
Puskesmas Taripa serta arahan Kepala Keperawatan terkait Sosialisasi
Flebotomi dalam meningkatkan kualitas kerja dan keselamatan pasien di
Puskesmas Taripa.

37
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Doa Bersama Pembawa Acara (mc)

Arahan Kepala Puskesmas Taripa Arahan Kepala Keperawatan

Sosialisasi Prosedur Flebotomi

Coffe Break

Penyerahan Buku Saku Flebotomi

38
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Dalam penyampaian materi dan pembagian Buku Saku Prosedur


Flebotomi, penulis menerapkan prinsip nilai dasar Etika Publik: Terbuka,
Etika Publik: Tidak Diskriminasi dan Etika Publik: Konsisten, agar peserta
Sosialisasi Flebotomi dapat dengan mudah memahami, memiliki pedoman
bahkan mempraktekkan pengambilan sampel darah dengan benar dan sesuai
peraturan yang berlaku/SOP, agar tujuan dari aktualisasi ini yaitu
meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien tercapai.
b. Konstribusi terhadap Visi Misi
Kegiatan Sosialisasi Flebotomi ini akan mewujudkan visi organisasi,
yaitu: “Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan agar
Pelaksanaan Pembangunan Mengacu dan Berorientasi serta
Mempertimbangkan Faktor Kesehatan sebagai Pertimbangan Utama”.
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan dilakukannya sosialisasi ini, akan mewujudkan Nilai Organisasi
yaitu: "Memiliki Keahlian dan Kemampuan Dalam Memberikan
Pelayanan Kesehatan".

39
Tria Oktaviana Masua, AMAK

d. Analisis Dampak
Jika dalam penyampaian materi penulis tidak menerapkan prinsip nilai
dasar Etika Publik: Terbuka, Etika Publik: Tidak Diskriminasi dan Etika
Publik: Konsisten, maka para peserta Sosialisasi Flebotomi akan sulit
memahami, mempraktekkan pengambilan sampel darah dengan benar dan
sesuai peraturan yang berlaku/SOP dan tujuan dari aktualisasi ini yaitu
meningkatkan kualitas dan keselamatan pasien tidak akan tercapai.

7. Pembuatan Brosur
a. Deskripsi Kegiatan
Kegiatan terakhir atas permintaan coach, penulis membuat brosur
Prosedur Flebotomi. Kegiatan ini dimulai dengan menyiapkan materi dan
bahan, design brosur serta mencetak brosur. Kertas brosur yang penulis
gunakan adalah Paper Photos, di design menggunakan ms. Office Power Point.
Kegiatan ini penulis lakukan pada hari Senin, 02 Desember 2019.

40
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Dokumentasi sebagai bahan materi brosur adalah dokumentasi pribadi saat


penulis melakukan pengambilan darah kepada pasien yang berkunjung di
Puskesmas Taripa.
Penulis menempelkan brosur tersebut di Papan Pengumuman Puskesmas
Taripa, Ruang Keperawatan, UGD, Laboratorium, Poli Umum dan Ruang
Rawat Inap.

Papan Pengumuman Unit Gawat Darurat (UGD)

Ruang Keperawatan Poli Umum

Laboratorium Ruang Rawat Inap

Penulis melihat pasien yang


memperhatikan brosur Prosedur
Flebotomi yang penulis tempelkan di
papan pengumuman Puskesmas
Taripa.

41
Tria Oktaviana Masua, AMAK

Penulis berharap, dengan adanya pasien yang melihat brosur Prosedur


Flebotomi, dapat pula meningkatkan pengetahuan pasien tentang tata cara yang
wajib pasien lakukan pada saat pengambilan sampel darah.

Penulis memberikan informasi Prosedur Flebotomi secara benar dan tidak


menyesatkan, serta tidak menyalahgunakan informasi untuk mencari
keuntungan pribadi maupun golongan, sesuai dengan prinsip nilai dasar yaitu:
Etika Publik: Transparansi.
b. Konstribusi terhadap Visi Misi
Dalam pemberian informasi Prosedur Flebotomi dalam bentuk brosur,
maka akan mewujudkan visi organisasi yaitu: “Menggerakkan
Pembangunan Berwawasan Kesehatan agar Pelaksanaan Pembangunan
Mengacu dan Berorientasi serta Mempertimbangkan Faktor Kesehatan
sebagai Pertimbangan Utama”.
c. Penguatan Nilai-Nilai Organisasi
Dengan pemberian informasi Prosedur Flebotomi dalam bentuk brosur,
maka akan mewujudkan nilai organisasi, yaitu: “Memiliki Keahlian dan
Kemampuan Dalam Memberikan Pelayanan Kesehatan”.
d. Analisis Dampak
Jika dalam pembuatan brosur Prosedur Flebotomi tidak menerapkan
prinsip nilai dasar Etika Publik: Transparansi, maka informasi yang
disampaikan akan menyesatkan para tenaga medis dan hanya menguntungkan
pribadi maupun golongan serta mengabaikan tujuan utama yaitu peningkatan
kualitas kerja dan keselamatan pasien di Puskesmas Taripa.

42
Tria Oktaviana Masua, AMAK

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Laporan pelaksanaan kegiatan aktualisasi nilai-nilai dasar profesi ASN ini
dilaksanakan dalam rentang waktu 04 November 2019 s/d 02 Desember 2019, di
Instansi Puskesmas Taripa Kecamatan Pamona Timur Kabupaten Poso. Tercatat ada 7
kegiatan aktualisasi, sebagai berikut:
1. Melaksanakan konsultasi dengan Kepala Puskesmas dengan mengaktualisasikan
nilai-nilai dasar ASN, meliputi: Etika Publik (Sopan), Etika Publik (Bersikap
Hormat) dan Etika Publik (Kejelasan Target).
2. Melakukan pendataan kepada para Tenaga Medis yang belum memiliki Sertifikat
Flebotomi dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN, meliputi:
Akuntabilitas (Netral), Akuntabilitas (Konsisten), Akuntabilitas (Partisipatif),
dan Etika Publik (Transparansi).
3. Mengajak Kepala Keperawatan untuk bekerjasama dengan mengaktualisasikan
nilai-nilai dasar ASN, meliputi: Etika Publik (Hormat), Etika Publik (Sopan)
dan WOG.
4. Mempersiapkan kegiatan Sosialisasi Flebotomi dengan mengaktualisasikan nilai-
nilai dasar ASN, meliputi: Akuntabilitas (Kejelasan Target).
5. Pembuatan Buku Saku Flebotomi dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar
ASN, meliputi: Etika Publik (Tidak Diskriminasi), Etika Publik
(Transparansi), dan Komitmen Mutu (Inovatif).
6. Pelaksanaan kegiatan Sosialisasi Flebotomi dengan mengaktualisasikan nilai-nilai
dasar ASN, meliputi: Etika Publik (Terbuka), Etika Publik (Tidak
Diskriminasi), Akuntabilitas (Konsisten).
7. Pembuatan Brosur dengan mengaktualisasikan nilai-nilai dasar ASN, meliputi:
Etika Publik (Transparansi).

Peningkatan kualitas kerja dan keselamatan pasien di Puskesmas Taripa merupakan


prioritas utama yang dilakukan secara inovatif, agar dapat mewujudkan misi Puskesmas
Taripa yaitu: “Menggerakkan Pembangunan Berwawasan Kesehatan agar Pelaksanaan
Pembangunan Mengacu dan Berorientasi serta Mempertimbangkan Faktor Kesehatan
sebagai Pertimbangan Utama”.

43
Tria Oktaviana Masua, AMAK

4.2 Saran
Diharapkan aktualisasi ini dapat meningkatkan ilmu pengetahuan tentang Prosedur
Flebotomi (Pengambilan Sampel Darah) bagi tenaga medis di Puskesmas Taripa demi
kenyamanan, keamanan dan keselamatan pasien serta perbaikan kinerja para tenaga
medis di Puskesmas Taripa.

44
Tria Oktaviana Masua, AMAK

DAFTAR PUSTAKA

Buku Pelatihan Flebotomi 8. 2017. DPW Jawa Timur

Dr. Erwan Agus Purwanto, Dra Damayanti Tyastianti, M.Q.M, Dr. Andi Taufiq. 2017.
Modul
Pelatihan Dasar Calon PNS, Jakarta- LAN: Pelayanan Publik, Manajemen ASN,
Manajemen ASN, Whole og Government, Nasionalisme, Aktualisasi, Anti Korupsi,
Etika Publik, Akuntabilitas, Komitmen Mutu.

Peraturan Pemerintah Nomor 101 tahun 2000 tentang Pendidikan Pelatihan Jabatan PNS

Profil Puskesmas Taripa, 2019

Undang-undang No. 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara

Undang-undang No. 11 Tahun 2017 tentang Manajemen ASN

45