Anda di halaman 1dari 11

PAPER FARMASI DAN TERAPI

“SEDIAAN GALENIKA”

Kelompok 4
Rambu L. A. Paremadjangga 1609010002
Fresensi A. Date Meze 1609010005
Katarina O. Jebe 1609010008
Deswandy W. S. Berri 1609010013
Alexandra P. Sungga 1609010018
Elshada O. Here 1609010024
Leo A. M. Nino 1609010025
Oriza S. Ningsih 1609010031
Gracella U. Ara 1609010039
Andianus F. Surak 1609010044
Yumiaty Ayal 1409010045

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN


UNIVERSITAS NUSA CENDANA
2019
SENYAWA GALENIKA

Menurut UU Republik Indonesia No 36 ( 2009) tentang Kesehatan menyatakan bahwa


Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa bahan tumbuhan, bahan hewan,
bahan mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan tersebut yang secara
turuntemurun telah digunakan untuk pengobatan, dan dapat diterapkan sesuai dengan norma
yang berlaku di masyarakat.
Istilah galenika di ambil dari nama seorang tabib Yunani yaitu Claudius Galenos
(GALEN) yang membuat sediaan obat-obatan yang berasal dari tumbuhan dan hewan atau yang
disebut juga dengan obat herbal, sehingga timbulah ilmu obat-obatan yang disebut ilmu galenika.
Sediaan Herbal adalah sediaan obat tradisional yang dibuat dengan cara sederhana seperti infus,
dekok dan.sebagainya yang berasal dari simplisia. Selain itu, menurut Peraturan Kepala BPOM
RI No 12 (2014), menyatakan bahwa sediaan galenik yang selanjutnya disebut ekstrak adalah
sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari Simplisia nabati atau hewani menurut
cara yang cocok, di luar pengaruh cahaya matahari langsung.
Simplisia adalah bahan alamiah berupa tanaman utuh, bagian tanaman atau eksudat
tanaman yang digunakan sebagai obat dan belum mengalami pengolahan atau mengalami
pengolahan secara sederhana serta belum merupakan zat mumi kecuali dinyatakan lain, berupa
bahan yang telah dikeringkan. Eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari
tanaman atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau zat-zat nabati lainnya
yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya dan belum berupa zat kimia mumi
(BPOM RI, 2006). Jadi Ilmu Galenika adalah : Ilmu yang mempelajari tentang pembuatan
sediaan (preparat) obat dengan cara sederhana dan dibuat dari alam (tumbuhan dan hewan).
Pembuatan sediaan galenik secara umum dan singkat sebagai berikut (Wewengkang, 2019) :
 Bagian tumbuhan yang mengandung obat diolah menjadi simplisia atau bahan obat
nabati.
 Dari simplisia tersebut obat-obat (bahan obat) yang terdapat di dalamnya diambil dan
diolah dalam bentuk sediaan / preparat.
Tujuan dibuatnya sediaan galenik :
1. untuk memisahkan obat-obat yang terkandung dalam simplisia dari bagian lain yang
dianggap tidak bermanfaat.
2. membuat suatu sediaan yang sederhana dan mudah dipakai
3. agar obat yang terkandung dalam sediaan tersebut stabil dalam penyimpanan yang lama.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan galenik (sediaan herbal) (BPOM RI,
2006 dan Syamsuni, 2006):
1. Identifikasi
Sebelum menggunakan sediaan herbal sebagai obat harus dipastikan bahwa tidak
menggunakan bahan tanaman yang salah. Menggunakan sediaan herbal yang salah dapat
menimbulkan efek yang tidak diinginkan atau keracunan.
2. Derajat kehalusan
Dalam penyarian bahan berkhasiat yang terdapat dalam bahan tumbuhan obat, derajat
kehalusan merupakan hal yang penting. Derajat kehalusan bukan merupakan faktor
tunggal yang mempengaruhi proses pelepasan bahan berkhasiat, tetapi jumlah dan sifat
alami dari bahan pendamping/ metabolit primer lain yang terdapat dalam bahan obat juga
memegang peranan penting. Derajat kehalusan ini harus disesuaikan dengan mudah atau
tidaknya obat yang terkandung tersebut di sari. Semakin sukar di sari, simplisia harus
dibuat semakin halus, dan sebaliknya.
3. Konsentrasi / kepekatan
Beberapa obat yang terkandung atau aktif dalam sediaan tersebut harus jelas
konsentrasinya agar kita tidak mengalami kesulitan dalam pembuatan.
4. Penimbangan dan pengukuran
Pada umumnya timbangan dapur dapat digunakan walaupun dengan gelas ukur lebih
akurat Ukuran gram atau liter lebih mudah dan umum digunakan dari pada ukuran
besaran lainnya. Apabila mendapat kesukaran dalam menimbangjumlah yang
sedikit/kecil seperti 10 gram, maka dapat dilakukan dengan penimbangan 20 gram,
kemudian hasil penimbangan dibagi dua
5. Suhu dan lamanya waktu
Harus disesuaikan dengan sifat obat, mudah menguap atau tidak, mudah tersari atau
tidak.
6. Bahan penyari dan cara penyari
Cara ini harus disesuaikan dengan sifat kelarutan obat dan daya serap bahan penyari
kedalam simplisia.
7. Peralatan
Peralatan panci/wadah yang digunakan sebaiknya dari bahan gelas/ kaca, email atau
stainless Steel. Gunakan pisau atau spatula/pengaduk yang terbuat dari bahan kayu atau
baja, saringan dari bahan plastik atau nilon. Jangan menggunakan peralatan dari bahan
aluminium karena dapat bereaksi dengan kandungan kimia tertentu dari tanaman yang
mungkin toksis.
8. Penyimpanan
Sediaan herbal yang berbeda dapat bertahan untuk jangka waktu yang berbeda sebelum
mulai berkurang/kehilangan kandungan bahan beikhasiatnya. Simpanlah infus dan dekok
di dalam lemari pendingin atau pada tempat yang teduh. Infus harus dibuat segar setiap
hari (24 jam) dan dekok harus digunakan dalam waktu 48 jam. Tingtur dan sediaan cair
lainnya seperti sirup dan minyak atsiri periu disimpan dalam botol berwarna gelap pada
tempat yang teduh terlindung dari cahaya matahari dan dapat bertahan selama beberapa
bulan atau tahun.

BENTUK DAN SEDIAAN GALENIK


Bentuk-bentuk sediaan galenik adalah sebagai berikut (BPOM RI, 2006 dan Depkes RI, 2008):
1. Aqua aromatica

Aqua Aromatic adalah larutan jenuh Minyak atsiri dalam air. Diantara air aromatic ada yang
memiliki daya terapi yang lemah, digunakan untuk memberi aroma pada obat-obatan atau
sebagai pengawet. Air ini tidak boleh berwarna dan berlendir, tapi harus mempunyai bau dan
rasa yang menyerupai bahan asal.
Cara Pembuatan :
- Larutkan minyak atsiri dalam 60 ml etanol 95%
- Tambakan air s.d.s ad volume 100 ml sambil kocok kuat
- Tambahkan 500 mg talc, kocok, lalu diamkan, dan saring.
- Encerkan 1 bagian filtrat dengan 39 bagian air

2. Infusa
Adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi simplisia nabati dengan
air pada suhu 90º selama 15 menit. Pembuatan infus merupakan cara yang paling
sederhana untuk membuat sediaan herbal dari bahan lunak seperti daun dan bunga. Dapat
diminum panas atau dingin. Sediaan herbal yang mengandung minyak atsiri akan
berkurang khasiatnya apabila tidak menggunakan penutup pada pembuatan infus.
Cara Pembuatan
a. Campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya,
panaskan di atas tangas air selama 15 menit terhitung mulai suhu mencapai 90˚C sambil
sekali-sekali diaduk-aduk.

b. Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki.

c. Infus simplisia yang mengandung minyak atsiri diserkai setelah dingin.

d. Infus simplisia yang mengandung lendir tidak boleh diperas.

e. Infus simplisia yang mengandung glikosida antarkinon, ditambah larutan natrium


karbonat P 10% dari bobot simplisia.

f. kecuali untuk simplisia yang tertera di bawah, infus yang mengandung bukan bahan
berkhasiat keras, dibuat dengan menggunakan 10% simplisia. Untuk pembuatan 100
bagian inti» berikut digunakan sejumlah yang tertera.

Kulit Kina 6 bagian

Dsjin Digtefis 0,5 bagian

Akarlpeka 0.5 bagian

Daun Kumis Kucing 0,5 bagian

Sekale Komutum 3 bagian

Daun Saja 4 bagian

Temulawak 4 bagian
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam membuat sediaan Infus :

 Jumlah Simplisia
Kecuali dinyatakan lain, infus yang mengandung bahan tidak berkhasisat keras dibuat
dengan menggunakan 10% simplisia.
 Derajat Halus Simplisia
Yang digunakan untuk infuse harus mempunyai derajat halus sebagai berikut :
Serbuk Bahan-Bahan
Serbuk 5/8 Akar manis, daun kumis kucing, daun sirih,daun
sena.
Serbuk 6/10 Dringo,kelembak.
Serbuk 10/22 Laos, akar valerian, temulawak, jahe.
Serbuk 22/60 Kulit Kina,akar ipeka,sekale komutum.
Serbuk 85/120 Daun digitalis.

 Banyaknya air ekstra


Umumnya untuk membuat sediaan infuse diperlukan penambahan air sebanyak 2 kali
bobot simplisia. Air ekstra ini perlu karena simplisia yang digunakan pada umumnya
dalam keadaan kering.
 Cara Menyerkai
Pada umumnya infuse diserkai selagi panas,kecuali infuse simplisia yang mengandung
minyak atsiri diserkai setelah dingin. Infuse daun sena,infuse asam jawa dan infuse
simplisia lain yang mengandung lendir tidak boleh diperas.
 Penambahan bahan-bahan lain
Penambahan bahan-bahan lain dimaksudkan untuk menambah kelarutan, untuk
menambah kestabilan,dan untuk menghilangkan zat-zat yang menyebabkan efek lain.

3. Dekokta

Dekok adalah sediaan cair yang dibuat dengan mengekstraksi sediaan herbal dengan air pada
suhu 90˚C selama 30 menit.
Pembuatan:
• Campur simplisia dengan derajat halus yang sesuai dalam panci dengan air secukupnya,
panaskan di atas tangas air selama 30 menit terhitung mulai suhu 90˚C sambil sekali-
sekali diaduk.

• Serkai selagi panas melalui kain flanel, tambahkan air panas secukupnya melalui ampas
hingga diperoleh volume dekok yang dikehendaki, kecuali dekok dari simplisia
Condurango Cortex yang harus diserkai setelah didinginkan terlebih dahulu.
• Jika tidak ditentukan perbandingan yang lain dan tidak mengandung bahan berkhasiat
keras, maka untuk 100 bagian dekok harus dipergunakan 10 bagian atau bahan dasar dari
simplisia. Untuk bahan berikut digunakan sejumlah yang tertera:

Bunga Arnica 4 bagian


Daun Digitalis 0,5 bagian
Kulit Akar Ipeka 0,5 bagian
Kulit Kina 6 bagian
Daun Kumis kucing 0,5 bagian
Akar Senega 4 bagian

4. Teh

Pembuatan sediaan teh untuk tujuan pengobatan banyak dilakukan berdasarkan pengalaman
seperti pada pembuatan infus yang dilakukan pada teh hitam sebagai minuman.
Cara pembuatan:
- Air mendidih dituangkan ke simplisia, diamkan selama 5-10 menit dan saring.
- Pada pembuatan sediaan teh, beberapa hal perlu diperhatikan yaitu jumlah simplisia dan
air, jumlah dinyatakan dalam takaran gram dan air dalam takaran milimeter

Derajat kehalusan untuk beberapa simplisia sesuai dengan yang tertera berikut ini:
- Daun, bunga dan herba: rajangan kasar dengan ukuran lebih kurang 4 mm.
- Kayu, kulit dan akar: rajangan agak kasar dengan ukuran lebih kurang 2,5 mm.
- Buah dan biji: digerus atau diserbuk kasar dengan ukuran lebih kurang 2 mm.
- Simplisia yang mengandung alkaloid dan saponin: serbuk agak halus dengan ukuran
lebih kurang 0,5 mm.

5. Gargarisma dan Kolutorium (Obat Kumur dan Obat Cuci Mulut)

Obat kumur dan cuci mulut umumnya mengandung bahan tanaman yang berkhasiat sebagai
astringen yang dapat mengencangkan atau melapisi selaput lendir dan tenggorokan dan tidak
dimaksudkan agar obat menjadi pelindung selaput lendir. Obat kumur dan obat cuci mulut
dibuat dari sediaan infus, dekok atau tingtur yang diencerkan.
Penyimpanan:
- Dalam wadah berupa botol berwarna susu atau wadah lain yang sesuai.
- Pada etiket harus juga tertera:

1. Petunjuk pengenceran sebelum digunakan


2. “Hanya untuk kumur, tidak boleh ditelan”

6. Tinctura
Tinctura / Tingtur adalah sediaan cair yang dibuat dengan cara maserasi atau perkolasi
simplisia nabati atau hewani atau dengan cara melarutkan senyawa kimia dalam pelarut
yang tertera pada masing-masing monografi. Kecuali dinyatakan lain, tingtur dibuat
menggunakan 20% zat khasiat dan 10% untuk zat khasiat keras.
Pembuatan tinctur secara perkolasi:
Kecuali dinyatakan lain, lakukan sebagai berikut:
- Basahi 10 bagian simplisia atau campuran simplisia dengan derajat halus yang cocok
dengan 2,5 bagian sampai 5 bagian penyari,
- Masukkan ke dalam bejana tertutup sekurang-kurangnya selama 3 jam.
- Pindahkan massa sedikit demi sedikit ke dalam perkolator sambil tiap kali ditekan hati-
hati,
- Tuangi dengan cairan penyari secukupnya sampai cairan mulai menetes dan di atas
simplisia masih terdapat selapis cairan penyari, tutup perkolator, biarkan selama 24 jam.
- Biarkan cairan menetes dengan kecepatan 1 ml per menit, tambahkan berulang-ulang
cairan penyari secukupnya sehingga selalu terdapat selapis cairan di atas simplisia,
hingga diperoleh 80 bagian perkolat.
- Peras massa, campurkan cairan perasan kedalam perkolat,
- Tambahkan cairan penyari secukupnya sehingga diperoleh 100 bagian.
- Pindahkan ke dalam sebuah bejana, tutup, biarkan selama 2 hari di tempat sejuk,
terlindung dari cahaya. Enap tuangkan atau saring.
- Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80 bagian perkolat,
tetapkan kadarnya. Atur kadar hingga memenuhi syarat, jika perlu encerkan dengan
penyari secukupnya.

7. Extracta
Ekstrakta adalah sediaan pekat yang diperoleh dengan mengekstraksi zat aktif dari
simplisia nabati atau simplisia hewani menggunakan pelarut yang sesuai, kemudian
semua atau hampir semua pelarut diuapkan dan massa atau serbuk yang tersisa
diperlakukan sedemikian hingga memenuhi baku yang telah ditetapkan. Sebagian besar
ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku obat secara perkolasi. Seluruh perkolat
biasanya dipekatkan secara destilasi dengan pengurangan tekanan agar bahan sesedikit
mungkin terkena panas. Macam-macam ekstrak : Ekstrak kering (siccum), Ekstrak kental
(spissum) dan Ekstrak cair (liquidum)

Ekstrakta cair adalah sediaan cair simplisia nabati, yang mengandung etanol
sebagai pelarut atau sebagai pengawet atau sebagai pelarut dan pengawet. Jika tidak
dinyatakan lain pada masing-masing monografi, tiap ml ekstrak mengandung bahan aktif
dari 1 g simplisia yang memenuhi syarat. Ekstrak cair yang cenderung membentuk
endapan dapat didiamkan dan disaring.

Ekstrakta tumbuhan obat yang dibuat dari simplisia nabati dapat dipandang
sebagai bahan awal, bahan antara atau bahan produk jadi (Depkes RI,2000).
 Ekstrak sebagai bahan awal dianalogkan dengan komoditi bahan baku obat yang
dengan teknologi fitofarmasi diproses menjadi produk jadi.
 Ekstrak sebagai bahan antara berarti masih menjadi bahan yang dapat diproses
lagi menjadi fraksi-fraksi, isolat senyawa tunggal ataupun tetap sebagai
campuran dengan ekstrak lain.
 Ekstrak sebagai produk jadi berarti ekstrak yang berada dalam sediaan obat jadi
siap digunakan oleh penderita

Pelarut untuk mengekstrak, dipilih pelarut yang optimal untuk senyawa yang
berkhasiat, sehingga senyawa tersebut dapat terpisahkan dari bahan dan dari senyawa
kandungan lainnya, serta ekstrak hanya mengandung sebagaian besar senyawa yang
diinginkan. Selain itu, faktor lain yang harus dipertimbangkan dalam pemilihan pelarut
adalah selektivitas, ekonomis, ramah lingkungan serta aman dipakai.
Pelarut yang diperbolehkan adalah air dan etanol serta campurannya, eter. Jenis
pelarut lain seperti metanol, heksana, toluen, kloroform dan aseton umumnya digunakan
sebagai pelarut untuk tahap separasi dan tahap pemurnian (fraksinasi). Adapun tujuan
dari separasi (pemurnian) adalah menghilangkan (memisahkan) senyawa yang tidak
dikehendaki semaksimal mungkin tanpa berpengaruh pada senyawa kandungan yang
dikehendaki, sehingga diperoleh ekstrak yang lebih murni. Setelah separasi, dilakukan
penguapan sampai ekstrak benar-benar kering. Tujuan pengeringan ini adalah
menhilangkan pelarut dari bahan sehingga menghasilkan serbuk, masa kering rapuh,
tergantung proses dan peralatan yang digunakan.
Proses pembuatan ekstrak adalah sebagai berikut:
o Pembuatan serbuk simplisia
o Cairan pelarut
o Separasi dan pemurnian
o Pemekatan / penguapan (evaporasi)
o Pengeringan ekstrak
o Rendemen

Suhu penarikan juga sangat mempengaruhi hasil penarikan, suhu penarikan untuk
(Wewengkang, 2019) :
 Maserasi : 15 – 25°C
 Digerasi : 35 – 45°C
 Infundasi : 90 – 98°C
 Memasak : suhu mendidih

8. Sirup

Sirup adalah sediaan berupa larutan dari atau yang mengandung sakarosa. Kecuali
dinyatakan lain, kadar sakarosa tidak kurang dari 64,0% dan tidak lebih dari 66,0%.
Pembuatan:
Kecuali dinyatakan lain, sirup dibuat sebagai berikut:
- Buat cairan untuk sirup, panaskan, tambahkan gula, jika perlu didihkan hingga larut.
- Tambahkan air mendidih secukupnya hingga diperoleh bobot yang dikehendaki, buang
busa yang terjadi, serkai.
- Pada pembuatan sirup dari simplisia yang mengandung glikosida antrakinon,
ditambahkan natrium karbonat sebanyak 10% bobot simplisia.
- Kecuali dinyatakan lain, pada pembuatan sirup simplisia untuk persediaan ditambahkan
metil paraben 0,25% b/v atau pengawet lain yang sesuai.

KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SEDIAAN GALENIKA

Kelebihan dan kekurangan sediaan galenika dari tanaman (BPOM RI, 2006) :

a. Anacardium Occidentale Folium (Daun jambu mede)


- Kandungan kimia Daun mengandung: lanin-galal, llavanol, asam anacardiol, asam eiagat,
senyawa fenol, kardol dan metilkardol.
- Toksisitas belum diketahui

Kelebihan
1. lnfusa daun memiliki efek sebagai penenang dan mengurangi rasa nyeri pada mencit
2. lnfusa daun muda mempunyai pengaruh analgesik yang sama kuat dongan parasetamol
pada kasus priodontitis akut.
3. Infusum 10% daun jambu mede menunjukkan:
a. Efek seperti yang ditimbulkan morfin dan tenotia/in pada tikus albino.
b. Efek perpanjangan waktu reaksi pada mencit pada dosis 30 ml/kg.bb.
4. Penggunaan ekstrak daun jambu mede dengan dosis 4 g 3 kali sehari selama 7 hari
bermanfaat untuk pengobatan nyeri sendi derajat sedang, meskipun tidak sampai
menyembuhkan

Kekurangan
Pada penderita yang sensitif, dapat menimbulkan mual dan pusing.

b. Murrayae Paniculatae Folium (Daun kemuning)


- Kandungan kimia : Flavonoid eksotisim, senyawa kumarin panikuiin, kumurin dan
febalosin, minyak atsiri, alkaloid yuehchuken
- Kontraindikasi Belum diketahui

Kelebihan
1. Pemberian infusa daun pada tikus menunjukkan efek analgesik pada metode hot plate
(Kristanti, 11>91).
2. Ekstrak etanol dosis 64.8 mg per mencit juga menunjukkan efek analgesik.
3. Infusa daun dengan dosis 540 mg per 200 g tikus juga dilaporkan memiliki efek anti
inflamasi pada tikus (Rosrini, 1993).

Kekurangan

Belum diketahui

c. Curcuma Domesticae Rhizoma (Rimpang kunyit)


- Kandungan kimia Minyak atsiri dan kurkuminoid
- Toksisitas Belum diketahui
-

Kelebihan
1. Curcuma domesticac rhizoma memiliki aktivitas fannakologi sebagai antihepatotoksin,
antihiperlipidemia dan antiinflamnsi juga sebagai antioksidatif (menghambat
pembentukkan lipid peroksida di hati), antitumor dan antimikroba (dalam partikel,
sebagai derivat sesquiterpen).
2. Mempunyai efek antiserangga dan antilertil. Curcuma domesticac juga dapat
menghambat pembentukan prostaglandin secara invitm.
3. Aktivitas antiinflamasi dari Curcuma domesticae rhizoma telah ditunjukkan pada
hewan percobaan. Pemberian sccani intrapcritonial pada tikus secara efektif
menurunkan peradangan akut maupun kronik,
4. Pemberian oral ekstrak atau serbuk kunyit tidak menghasilkan etek antiinflamasi,
hanya pemberian injeksi intraperitonial yang efektif. Minyak atsirinya menunjukan
aktivitas antiinflamasi pada tikus terhadap arthritis yang diinduksi adjuvant.
peradangan yang diinduksi karagenan dan penulangan yang diinduksi hyalumnidasc.
5. Kurkumin dan turunannya adalah kadungan yang aktif sebagai antiinllamasi. Setelah
pemberian secara intrapcritonial, kurkumin dan natrium kurkuminat menunjukan
aktivitas antiintlamasi yang kuat pada tes pembengkakan akut yang diinduksi
karagenan pada tikus. Kurkumin juga ditemukan efektif pada pemberian oral pada tes
ini. Aktivitas antiinflamasi kurkumin terjadi karena kemampuannya mengikal radikal
bebas oksigen yang dapat menyebabkan proses peradangan.
6. Kurkumin juga mempuyai aktivitas antiflogistik yang menghambat biosintesis
leukotrien dan efek tertentu pada pembentukan prostaglandin. Ar- turmeron
mempunyai aktivitas anti ular berbisa dan memblok antihaemorrgia dari efek
Bothrops dan efek mematikan dari bisa Crotalus dengan memblok proliferasi dan
aktivitas limfosit manusia. Kemungkinan efek ini ditimbulkan oleh antiinflamasi

Kekurangan
1. Kerusakan saluran empedu. Pada kasus batu empedu, harus digunakan setelah
berkonsultasi oleh dokter (pada manusia). Hipersensitif terhadap obat.
2. Tidak diketahui toksisitas oral dari kurkumin. Pada tikus menyebabkan perubahan
pada hati, berat paru-paru, menurunnya jumlah sel darah merah dan sel darah putih.
Kurkumin juga dapat menyebabkan luka perut.

DAFTAR PUSTAKA
Republik Indonesia. 2009. Undang - Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun 2009 tentang
Kesehatan. Pasal 1.
Badan POM RI. 2006. Acuan Sediaan Herbal,Volume Kedua Edisi Pertama. Jakarta : Direktorat
Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Republik Indonesia. 2014. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik
Indonesia Nomor 12 Tahun 2014 Tentang Persyaratan Mutu Obat Tradisional.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2000. Parameter Standar Umum Ekstrak Tumbuhan
Obat. Jakarta : Direktorat Jenderal Pengawasan Obat dan Makanan.
Syamsuni, A. 2006. Ilmu Resep. Jakarta : EGC.
Wewengkang, DS. 2019. Bahan Ajar Mata Kuliah Galenika. Manado : Universitas Sam
Ratulangi.