Anda di halaman 1dari 18

MOMERANDUM HUKUM

A. Heading
a. Kepada : BNI Cabang Purwokerto
b. Dari : Laudzira Farrell
c. Perihal : Wanprestasi
d. Tanggal : 12 Oktober 2019

B. Brief (Kasus Posisi)


 Ahmad Daroji mengajukan kredit ke Bank BNI Cabang Purwokerto
Untuk usaha bahan bangunan sehingga pada tanggal 24 September
2007 dilakukan perjanjian kredit, BNI memberikan pinjaman uang
sebesar Rp. 150.000.000,00 kepada ahamad daroji dengan jangka
pelunasan 1 tahun terhitung mulai 24 September 2007 – 23 September
2008.
 Ahmad Daroji memberikan jaminan 2 kavling beserta bangunan toko
yang ada di atasnya yang akan dibeli. Dengan uang pinjaman dan
uang pribadi memebeli 2 kavling milik Darmanto yang terletak dijalan
manggis No 25 - 26 Purwokerto, dibelakang klinik bersalin milik
PEMDA
1. Tanah seluas 50 m2 dengan hak milik berserta bangunan diatas
senilai Rp 75.000.000,00
2. Tanah seluas 100 m2 dengan hak milik beserta bangunan di atasnya
senilai Rp 100.000.000,00
Kedua bidang kavling tersebut kemudian diikat dengan sertifikat hak
tanggungan.
 Ketika jangka waktu berakhir Ahmad Daroji belom dapat
mengembalikan, sebagai jalan keluar BNI bersedia memberikan kredit
kedua sebesar Rp 200.000.000,00 waktu pelunasannya 1 tahun mulai
24 September 2008 – 23 September 2009 yang langsung dipotong Rp

1
150.000.000,00 beserta bunga 1,5% setiap bulannya untuk melunasi
waktu pertama. Dan diletakan pula sertifikat hak tanggungan.
 Ketika perjanjian kredit ke-2 berakhir Ahmad Daroji belum bisa
melunasi hutangnya, mengingat nilai kedua tanah dan bangunan yang
ada pada pihak BNI masih memberikan kelonggaran waktu pelunasan
dengan memperpanjang kredit 1 tahun berikutnya 23 September 2010.
 Berdasarkan rencana tataruang PEMDA ternyata tanah milik Ahmad
Daroji termasuk dalam kawasan pengembangan rumah sakit,
selanjutnya tanggal 17 Mei 2010 panitia pengadaan tanah beserta
aparat PEMDA memberikan ganti rugi sebesar Rp 200.000.000,00.
 Panitia pengadaan tanah kesulitan menemukan Ahmad Daroji,
sehingga uang tersebut dititipkan kepada Pengadilan Negri.
Mengetahui uang ganti rugi dititipkan di PN Ahmad Daroji
menghubugi BNI dan menyatakan bahwa tanah dan bangunan di
bebaskan dan berubah dalam bentuk uang.
 Ahmad Daroji menyatakan pula kepada BNI bahwa uang yang
dititipkan itu adalah pelunasan utangnya, dan sejak saat itu Ahmad
Daroji tidak mau membayar hutangnya dan meminta BNI
mengeluarkan surat pelunasan hutang.

C. Legal Audit
1. Pasal 1320, 1321, 1329, 1330, 1333, 1335, 1337 KUHPerdata.
(untuk meninjau syarat sah perjanjian)
2. Pasal 1425-1435 KUHPerdata dan Peraturan Pemerintah Nomor 14
Tahun 2005 tentang Kebijakan Restrukturisasi Kredit.
(untuk meninjau perjanjian kredit baru untuk kedua kalinya
sebagai restrukturisasi kredit/pembaharuan hutang)
3. Pasal 1131 KUHPerdata dan Pasal 1 ayat (1), Pasal 4 ayat (1),
Penjelasan Pasal 4 ayat (1) huruf b Undang-Undang Nomor 4 Tahun
1998 tentang Hak Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang
Berkaitan Dengan Tanah.

2
(untuk meninjau pengikatan hak tanggungan atas tanah yang baru akan
dibeli debitur terhadap perjanjian kredit)
4. Pasal 1243 KUHPerdata.
(untuk meninjau debitur adalah debitur wanprestasi)
5. Pasal 18 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria dan Pasal 7, Pasal 45-46 Undang-Undang
Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan
Umum.
(untuk meninjau tindakan negara mengambil alih tanah milik
invidu yang sedang diikatkan hak tanggungan diatasnya)
6. Pasal 1393, 1404 KUHPerdata, Pasal 42 Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum, dan
Pasal 10 ayat 2 Perpres Nomor 65 Tahun 2006 juncto Perpres Nomor
145 Tahun 2015.
(untuk meninjau consignatie/penitipan pembayaran kepada
Pengadilan Negeri)
7. Pasal 1338, 1267 KUHPerdata.
(untuk meninjau pengambilan hutang yang belum dibayarkan
debitur)

D. Legal Question
1. Bagaimana tinjauan hukum perjanjian kredit dengan hak tanggungan
BNI dengan Ahmad Daroji?
2. Apakah Ahmad Daroji dalam perjanjian kreditnya dengan BNI
Cabang Purwokerto telah melakukan wanprestasi?
3. Apakah Pemda (Negara) dapat membeli tanah milik Daroji (Individu)
yang sedang menjadi objek hak tanggungan?
4. Apakah Pengadilan Negeri memeliki kewenangan untuk dititipkan
uang ganti rugi atas tanah yang dibeli oleh negara?
5. Apakah BNI Cabang Purwokerto dapat menuntut kekurangan
pembayaran Ahmad Daroji walaupun tanah sudah dibebaskan?

3
E. Brief Anwer
1. Perjanjian kredit antara BNI Cabang Purwokerto dengan Ahmad
Daroji adalah sah karena telah memenuhi syarat sah perjanjian
sebagaimana diatur di dalam Pasal 1320 KUHPerdata, serta mengenai
tanah beserta bangunan yang dijadikan jaminan atas kredit tersebut
dengan hak tanggungan sebagaimana diatur di dalam pasal 1131
KUHPerdata dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak
Tanggungan Atas Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan
Dengan Tanah. Begitu pula pada perjanjian kredit kedua yang telah
dilakukan adalah sah karena merupakan restrukturisi kredit
berdasarkan PP Nomor 14 Tahun 2005 tentang kebijakan restrukturisi
kredit.
2. Ahmad Daroji telah melakukan wanprestasi karena tidak melunasi
utang sesuai dengan waktu yang telah ditentukan sebagaimana
seharusnya dilunasi pada tanggal 23 September 2008 namun Ahmad
Daroji belum dapat melunasinya, yang berarti telah terlambat dalam
ber-prestasi sebagaimana diatur di dalam Pasal 1243 KUHPerdata.
3. Negara dapat melakukan hal tersebut sesuai dengan ketentuan Pasal
18 Undang - Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok Agraria
selama itu untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa
dan negara serta kepentingan bersama dari rakyat maka hak-hak atas
tanah dapat dicabut, dengan memberi ganti kerugian yang layak.
Intinya bahwa tanah milik individu yang oleh negara akan digunakan
untuk kepentingan umum (sosial) wajib diserahkan kepada negara
sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012
Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum dan peraturan
pelaksananya.
4. Panitia pengadaan dapat menitipkan uang ganti rugi tanah milik
Ahmad Daroji kepada Pengadilan Negeri dengan alasan pemegang
hak sulit ditemukan namun demikian Ahmad Daroji telah memberikan
kesepakatan agar uang tersebut diambil Bank BNI di Pengadilan

4
Negeri. Menurut pasal 1393 juncto 1404 KUHPerdata dan Pasal 42
Ayat (1) Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Pengadaan
Tanah Bagi Kepentingan Umum juncto Pasal 17 Perpres Nomor 36
Tahun 2005 Pasal 10 ayat 2 Perpres Nomor 65 Tahun 2006.
5. Berdasarkan pada ketentuan Pasal 1338 dan 1267 KUHPerdata, antara
BNI Cabang Purwokerto dengan Ahmad Daroji yang telah
menentukan adanya ketentuan bunga dalam perjanjian diantara
keduanya, masih belum terbayarkan oleh Ahmad Daroji karena dia
hanya membayar Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah),
sedangkan bunga yang belum ia bayar adalah Rp. 36.000.000,00 (tiga
puluh enam juta rupiah), terhadap total bunga ini BNI Cabang
Purwokerto dapat secara paksa memungut hutang Ahmad Daroji.

5
F. Legal opinion
12 Oktober 2019
Perihal: Legal Opinion wanpretasi Ahmad Daroji kepada Bank BNI
Cabang Purwokerto

Kepada Yth
Pimpinan BNI Cabang Purwokerto
Di -
Purwokerto

Dengan hormat,
Sesuai permintaan Pimpinan Bank Negara Indonesia Cabang Purwokerto,
kepada kantor Advokat LAUDZIRA AND PARTNERS, yang meminta
pendapat hukum atas permasalahan yang dihadapi yaitu permasalahan
wanprestasi pinjaman kredit atas nama Ahmad Daroji. Pendapat hukum ini
diperuntukan sebagai referensi dalam menjawab permasalahan hukum
yang dialami oleh BNI Cabang Purwokerto selaku kreditur dan Ahmad
Daroji selaku debitur, demikian juga pendapat hukum ini tidak dapat
dipergunakan oleh pihak lain yang menghadapi permasalahan hukum
serupa dalam kasus hukum ini.

1. Tinjauan hukum perjanjian kredit dengan hak tanggungan BNI


dengan Ahmad Daroji
Maninjau sah tidaknya perjanjian kredit antara BNI Cabang
Purwokert dengan Ahmad Daroji dengan melihat ketentuan dalam
Pasal 1320 KUHPerdata yang berbunyi:
“Supaya terjadi persetujuan yang sah, perlu dipenuhi empat syarat;
1. kesepakatan mereka yang mengikatkan dirinya;
2. kecakapan untuk membuat suatu perikatan;
3. suatu pokok persoalan tertentu;
4. suatu sebab yang tidak terlarang”.

6
Pertama, mengenai sepakat, supaya perjanjiannya sah maka para
pihak harus sepakat terhadap segala hal yang terdapat di dalam
perjanjian dan memberikan persetujuannya atau kesepakatannya jika ia
memang menghendaki apa yang disepakati. Berdasarkan ketentuan
dalam Pasal 1321 KUHPerdata yang berbunyi “Tiada sepakat yang
sah apabila sepakat itu diberikan karena kekhilafan, atau
diperolehnya dengan paksaan atau penipuan” dalam hal ini Ahmad
Daroji sepakat melakukan perjanjian kredit dengan BNI Cabang
Purwokerto pada tanggal 24 September 2007 tanpa adanya paksaan,
kekhilafan maupun penipuan, semuanya adalah atas kehendak dan
penuh kesadaran dari Ahmad Daroji. Dalam hal ini pula dapat
dibuktikan dalam hal mengajukan perjanjian kredit dibutuhkan loan
inquiry atau permohonan pengajuan kredit dari pihak Ahmad Daroji
dan dari pihak BNI dalam hal menerima perjanjian kredit dilakukan
sebuah analisis prinsip 5C (Character, Capacity, Capital, Collateral,
dan Condition) dan 7P (Personality, Party, Purpose, Prospect,
Payment, Profitability, dan Protection) terhadap pihak yang
melakukan perjanjian kredit.

Kedua, mengenai cakap, supaya perjanjiannya sah maka para pihak


yang membuat perjanjian harus orang yang cakap untuk melakukan
perbuatan hukum. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1329
KUHPerdata yang berbunyi “Setiap orang adalah cakap untuk
membuat perikatan-perikatan, jika ia oleh undang-undang tidak
dinyatakan tak cakap” kemudian berdasarkan ketentuan dalam Pasal
1330 KUHPerdata menentukan siapa-siapa saja yang disebut tidak
cakap untuk membuat persetujuan yaitu:
“Yang tidak cakap membuat persetujuan adalah;
1. anak yang belum dewasa;
2. orang yang ditaruh di bawah pengampuan;

7
3. perempuan yang telah kawin dalam hal-hal yang ditentukan
undang-undang dan pada umumnya semua orang yang oleh
undang-undang dilarang untuk membuat persetujuan tertentu.”
Disini Ahmad Daroji selaku orang dengan BNI selaku badan hukum
yang diwakilkan oleh salah satu pegawainya bukan termasuk ketiga
orang yang dimaksud oleh ketentuan pasal 1330 KUHPerdata.

Ketiga, mengenai hal tertentu. Berdasarkan ketentuan dalam Pasal


1333 KUHPerdata yang menyatakan bahwa “Suatu persetujuan harus
mempunyai pokok berupa suatu barang yang sekurang-kurangnya
ditentukan jenisnya. Jumlah barang itu tidak perlu pasti, asal saja
jumlah itu kemudian dapat ditentukan atau dihitung”. Mengenai hal
tertentu dalam perjanjian antara BNI Cabang Purwokerto dengan
Ahmad Daroji adalah pinjam meminjam uang yakni barang yang dapat
dihitung. Pada tanggal 24 September 2007 dalam perjanjian
peminjaman uang sebesar Rp.150.000.000,00 (seratus lima puluh juta
rupiah), yang ditambahkan isinya dengan pengikatan hak tanggungan
yakni 2 kavling beserta bangunan toko yang ada di atasnya yang akan
dibelinya yaitu tanah seluas 50 m2 dengan hak milik berserta bangunan
diatas senilai Rp 75.000.000,00 (tujuh puluh lima juta rupiah) dan
tanah seluas 100 m2 dengan hak milik beserta bangunan di atasnya
senilai Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah).

Keempat, mengenai sebab yang halal. Kausa dalam perjanjian


adalah harus yang halal menurut hukum. Jika obyek dalam perjanjian
itu ilegal atau bertentangan dengan kesusilaan dan ketertiban umum,
maka perjanjian tersebut menjadi batal demi hukum. Hal ini
berdasarkan ketentuan dalam Pasal 1335 juncto 1337 KUHPerdata
menyatakan bahwa:
“Suatu persetujuan tanpa sebab, atau dibuat berdasarkan suatu sebab
yang palsu atau yang terlarang, tidaklah mempunyai kekuatan”.

8
“Suatu sebab adalah terlarang, jika sebab itu dilarang oleh undang-
undang atau bila sebab itu bertentangan dengan kesusilaan atau
dengan ketertiban umum”.
Dalam perjanjian antara BNI Cabang Purwokerto dengan Ahmad
Daroji adalah Ahmad Daroji hendak melakukan bisnis bahan
bangunan, sehingga tidak termasuk sebab yang dilarang undang-
undang, kesusilaan, maupun ketertiban umum.

Mengenai hak tanggungan dalam perjanjian kredit antara BNI


Cabang Purwokerto dengan Ahmad Daroji, dapat menimbulkan
pertanyaan mengenai keabsahan perjanjian kredit ini. Hal ini
dikarenakan Ahmad Daroji mengikatkan hak tanggungan terhadap
kavling-kavling yang baru akan dibelinya, berarti kavling tersebut
belum menjadi milik Ahmad Daroji. Berkenaan dengan hal ini,
Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998 tentang Hak Tanggungan Atas
Tanah Beserta Benda-Benda yang Berkaitan Dengan Tanah mengatur
mengenai apa yang dimaksud dengan hak tanggungan dan hak tanah
apa yang dapat dibebani hak tanggungan sebagai berikut:
Pasal 1 Ayat (1)
“Hak Tanggungan atas tanah beserta benda-benda yang berkaitan
dengan tanah, yang selanjutnya disebut Hak Tanggungan, adalah hak
jaminan yang dibebankan pada hak atas tanah sebagaimana dimaksud
dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Per-aturan
Dasar Pokok-Pokok Agraria, berikut atau tidak berikut benda-benda
lain yang merupakan satu kesa-tuan dengan tanah itu, untuk
pelunasan utang tertentu, yang memberikan kedudukan yang
diutamakan kepada kreditor tertentu terhadap kreditor-kreditor lain;”

Pasal 4 Ayat (1)


Hak atas tanah yang dapat dibebani Hak Tanggungan adalah :
a. Hak Milik
b. Hak Guna Usaha;

9
c. Hak Guna Bangunan.

Penjelasan Pasal 4 Ayat (1) huruf b


“b. hak tersebut menurut sifatnya harus dapat dipindahtangan-kan,
sehingga apabila diperlukan dapat segera direalisasi untuk membayar
utang yang dijamin pelunasannya. Sehubungan dengan kedua syarat
di atas, Hak Milik yang sudah diwakafkan tidak dapat dibebani Hak
Tanggungan, karena sesuai dengan hakikat perwakafan, Hak Milik
yang demikian sudah dikekalkan sebagai harta keagamaan. Sejalan
dengan itu hak atas tanah yang dipergunakan untuk keperluan
peribadatan dan keperluan suci lainnya juga tidak dapat dibebani Hak
Tanggungan.”

Bedasarkan ketentuan diatas, maka seharusnya tanah yang


diikatkan hak tanggungan oleh Ahmad Daroji sudah bersertifikat hak
milik atau setidaknya harus dapat dipindahtangankan, dalam kasus
posisi, yang dilakukan Ahmad Daroji dalam perjanjian kreditnya
dengan BNI Cabang Purwoketto merupakan pengikatan hak
tanggungan atas tanah milik orang lain yakni Darmanto. Tanah ini
termasuk tanah yang dapat dipindahtangankan, kemudian ketika
perealisasian kredit Ahmad Daroji langsung memindah tangankan
tersebut atas nama dirinya dan digunakan sebagai jaminan pelunasan
kredit tersebut. Maka pengikatan hak tanggungan atas tanah yang akan
dibeli sah menurut hukum dan tidak akan membatalkan pengikatan hak
tanggungan selaku perjanjian accessoir ke dalam perjanjian kredit
selaku perjanjian pokok. Dalam KUHPerdata pun diperbolehkan,
berdasarkan ketentuan 1131 menentukan bahwa:
”Segala barang-barang bergerak dan tak bergerak milik debitur, baik
yang sudah ada maupun yang akan ada, menjadi jaminan untuk
perikatan-perikatan perorangan debitur itu”.

10
Pada perjanjian kedua (kredit kedua) dapat dilakukan, hal ini
merupakan restrukturisi kredit berdasarkan ketentuan Peraturan
Pemerintah Nomor 14 Tahun 2005 tentang Kebijakan Restrukturisasi
Kredit dan Pasal 1425-1435 KUHPerdata tentang pembaharuan
hutang. Mengenai tinjauan hukum perjanjiannya secara keseluruhan
maka berlaku mutatis mutandis dengan tinjuan hukum perjanjian
kesatu (kredit kesatu). Terkait tinjauan hukum mengenai hak
tanggungan yang juga diikatkan pada perjanjian kedua ini adalah
bukan barang yang akan dibeli lagi melainkan memang sudah dimiliki
secara sah oleh Ahamd Daroji sehingga sudah sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.

2. Apakah Ahmad Daroji dalam perjanjian kreditnya dengan BNI


telah melakukan wanprestasi?
Bahwa berdarkan pasal 1243 KUHperdata yang berbunyi:
“Penggantian biaya rugi dan Bunga karena tak dipenuhinya suatu
perikatan barulah mulai diwajibkan apabila si beruntang setelah
dinyatakan lalai memenuhi perikatanya tetap melalaikannya atau jika
sesuatu yang diberikan atau dibuatnya hanya dapat diberikan atau
dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampauinya”, dan adapun
bentuk wanprestasi yaitu:
a. Tidak memenuhi prestasi sama sekali sehubungan dengan debitur
yang tidak memenuhi prestasinya maka dikatakan debitur tidak
memenuhi prestasinya sama sekali
b. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya. Apabila prestasi
debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur
dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya
c. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru, Debitur yang
memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut
tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi
prestasi sama sekali.

11
Dalam kasus ini Ahmad Daroji telah melakukan wanprestasi
dimana Ahmad Daroji tidak memenuhi prestasi sama sekali baik dalam
perjanjian kredit pertama maupun perjanjian kredit kedua setelah
dilakukan restrukturisasi kredit. Seharusnya pada perjanjian kredit
pertama, Ahmad Daroji harus menyelesaikan prestasi berupa melunasi
hutang atas pinjaman sebelum tanggal tanggal 23 September 2008, dan
pada perjanjian kredit kedua, Ahmad Daroji melunasi hutang atas
pinjaman sebelum tanggal 23 September 2010 sebagaimana telah
tertuang dalam perjanjian antara dia dengan BNI Cabang Purwokerto.

3. Apakah Pemda (Negara) dapat membeli tanah milik Daroji


(Individu) yang sedang menjadi objek hak tanggungan?
Bahwa negara melalui Pemda dapat membeli tanah milik Ahmad
Daroji karena ada dua hal yang menyebabkan hapusnya hak milik
yaitu karena salah satunya tanah tersebut jatuh kepada Negara, hal ini
dilakukan untuk kepentingan umum berdasarkan ketentuan Pasal 18
Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Peraturan Dasar
Pokok-Pokok Agraria. Dalam kasus ini bahwa hak milik Ahmad
Daroji hapus karena untuk kepentingan umum yakni untuk perluasan
pembangunan klinik bersalin. Disamping ketentuan Undang-Undang
Pokok Agraria ini, di dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum,
dalam Pasal 7:
Ayat (1)
“Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum diselenggarakan sesuai
dengan:
a. Rencana Tata Ruang Wilayah;
b. Rencana Pembangunan Nasional/Daerah;
c. Rencana Strategis; dan
d. Rencana Kerja setiap Instansi yang memerlukan tanah.”

12
Ayat (2)
“Dalam hal Pengadaan Tanah dilakukan untuk infrastruktur minyak,
gas, dan panas bumi, pengadaannya diselenggarakan berdasarkan
Rencana Strategis dan Rencana Kerja Instansi yang memerlukan
tanah sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c dan huruf d.”

Ayat (3)
“Pengadaan Tanah untuk Kepentingan Umum diselenggarakan
melalui perencanaan dengan melibatkan semua pengampu dan
pemangku kepentingan”.

Berdasarkan kasus posisi, yang dilakukan Pemda merupakan


berdasarkan atau sesuai dengan Tata Ruang Wilayah dan merupakan
Rencana Pembangunan Daerah. Disamping itu Pemda telah melakukan
ganti kerugian sesuai dengan ketentuan Undang-Undang Pokok
Agraria, dalam hal ini ganti kerugian yang diberikan Pemda sejumlah
Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah), selama Pemda telah
melaksanakan keseluruhan prosedur yang ditentukan oleh Undang-
Undang ini.

Berkenaan dengan tanah yang sedang ditanggungkan, tanah


tersebut masih milik Ahmad Daroji ketika diadakan untuk kepentingan
umum maka hak tanggungan juga akan lepas karena hak tanggungan
melekat pada hak milik, tentunya dengan tetap dibayarkannya ganti
rugi kepada Ahmad Daroji dan pembayaran itu diperuntukan
membayar piutang Ahmad Daroji kepada BNI Cabang Purwokerto,
demikian seharusnya mengenai penentuan ganti ruginya harus
didiskusikan. Walaupun sebenarnya dalam kasus posisi tanah tersebut
sudah seharusnya diserahkan / menjadi milik BNI Cabang Purwokerto
karena Ahmad Daroji telah melakukan wanprestasi. Mengingat bahwa
BNI merupakan institusi bank milik pemerintah dalam bentuk
perusahan Badan Usaha Milik Negara seharusnya mekanisme yang
ditempuh bukan pengadaan tanah (milik individu) bagi kepentingan

13
umum lagi, melainkan mekanisme pelepasan tanah instansi
sebagaimana diatur di dalam Pasal 45-46 Undang-Undang Nomor 2
Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum dan
uang ganti rugi langsung diserahkan kepada BNI Cabang Purwokerto.

4. Apakah PN memeliki kewenangan untuk dititipkan uang ganti


rugi atas tanah yang dibeli oleh negara?
Bahwa pada dasarnya menurut ketentuan dalam Pasal 1393
KUHPerdata disebutkan
“Pembayaran harus dilakukan di tempat yang ditetapkan dalam
perjanjian, jika dalam perjanjian tidak ditetapkan suatu tempat, maka
pembayaran mengenai suatu barang yang sudah ditentukan, harus
tenjadi di tempat barang itu berada sewaktu perjanjian dibuat. Di luar
kedua hal tersebut, pembayaran harus dilakukan di tempat tinggal
kreditur, selama orang ini terus menerus berdiam dalam keresidenan
tempat tinggalnya sewaktu perjanjian dibuat, dan dalam hal-hal lain
di tempat tinggal debitur.“
Dan dalam pasal 1404 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang
penjelasannya sebagai berikut:
“Jika berpiutang menolak pembayaran, maka si berutang dapat
melakukan penawaran pembayaran tunai apa yang diutangnya, dan,
jika si berpiutang menolaknya, menitipkan uang atau barangnya
kepada Pengadilan.
Penawaran yang sedemikian, diikuti dengan penitipan, membebaskan
si berutang, dan berlaku baginya sebagai pembayaran, asal
penawaran itu telah dilakukan dengan cara menurut undang-undang,
sedangkan apa yang dititipkan secara itu tetap atas tanggungan si
berpiutang.”
Karena dalam kasus ini Ahmad Daroji tidak dapat di temukan
keberedaannya maka dari itu pembayarannya dapat dititipkan di
Pengadilan Negeri.

14
Dalam konteks tanah Ahmad Daroji diambil menjadi milik negara,
menurut ketentuan Pasal 42 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012
Tentang Pengadaan Tanah Bagi Kepentingan Umum yang mengatur
mengenai apabila pemegang hak atas tanah menolak mengenai besaran
aau bentuk dari ganti kerugian dan atau karena orangnya dianggap
tidak tahu keberadaanya maka ganti kerugian dapat dititipkan di
Pengandilan Negeri. Hal yang sama juga diatur didalam Pasal 10 ayat
2 Perpres Nomor 65 Tahun 2006 yang kini telah diubah dengan
Perpres Nomor 145 Tahun 2015 bahwa panitia pengadaan tanah juga
dapat melakukan penitipan ganti rugi di Pengadilan Negeri jika
pemegang hak atas tanah tidak sepakat dengan jumlah ganti rugi yang
telah dilaksanakan melalui musyawarah. Berdasarkan ketentuan ini,
dilakukan penitipan apabila pemilik tanah apabila Ahmad Daroji tidak
setuju dengan ketentuan ini, namun tindakan Ahmad Daroji yang
membiarkan tanah itu dibayar berarti tidak ada keberatan dari dirinya
dan ketika hendak dibayarkan Ahmad Daroji tidak diketahui
keberadaannya maka kembali kepada ketentuan Pasal 42 Undang-
Undang Nomor 2 Tahun 2012.

5. Apakah BNI Cabang Purwokerto dapat menuntut kekurangan


pembayaran Ahmad Daroji walaupun tanah sudah dibebaskan?
Bahwa dalam perjanjian berlaku asas pacta sunt servanda
sebagaimana ketentuan dalam Pasal 1338 KUHPerdata yang berbunyi:
“Semua persetujuan yang dibuat sesuai dengan undang-undang
berlaku sebagai undang-undang bagi mereka yang membuatnya.
Persetujuan itu tidak dapat ditarik kembali selain dengan kesepakatan
kedua belah pihak, atau karena alasan-alasan yang ditentukan oleh
undang-undang. Persetujuan harus dilaksanakan dengan itikad baik.”

Berdasarkan pada ketentuan ini maka antara BNI Cabang Purwokerto


dengan Ahmad Daroji yang sudah saling mengikatkan diri dalam
perjanjian kredit pertama dan kredit kedua harus mematuhi segala

15
ketentuan yang mereka buat, karena perjanjian diantara keduanya
berlaku sebagai undang-undang untuk yang membuatnya.

Mengingat dalam perjanjian terdapat klausul pelunasan hutang


dengan ketentuan bunga 1,5 persen perbulannya selama 1 tahun,
sehingga ketika Ahmad Daroji menitipkan uang kepada BNI Cabang
Purwokerto yang berada di Pengadilan Negeri dengan Nominal Rp
200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah) maka Ahmad Daroji baru
melunasi hutang pokoknya, namun belum melunasi total bunganya
selama satu tahun yaitu Rp 36.000.000,00 (tiga puluh enam juta
rupiah). Demikian BNI Cabang Purwokerto masih dapat menuntut
haknya atas bunga yang belum dibayarkan itu sebagaimana ketentuan
Pasal 1267 KUHPerdata yang berbunyi:
“Pihak yang terhadapnya perikatan tidak dipenuhi, dapat memilih;
memaksa pihak yang lain untuk memenuhi persetujuan, jika hal itu
masih dapat dilakukan, atau menuntut pembatalan persetujuan,
dengan penggantian biaya, kerugian dan bunga”.

16
G. Kesimpulan
Dari penjabaran diatas, dapat disimpulkan:
1. Bahwa perjanjian kredit baik yang pertama maupun yang kedua antara
BNI Cabang Purwokerto selaku kreditur dengan Ahmad Daroji debitur
adalah sah berdasarkan ketentuan Pasal 1320 KUHPerdata mengenai
syarat sah perjanjian.
2. Bahwa Ahmad Daroji selaku debitur adalah debitur wanprestasi baik
dalam perjanjian kredit pertama maupun perjanjian kredit kedua
sebagaimana menurut ketentuan Pasal 1243 KUHPerdata. Karena
seharusnya pada perjanjian kredit pertama, Ahmad Daroji harus
menyelesaikan prestasi berupa melunasi hutang atas pinjaman sebelum
tanggal tanggal 23 September 2008, dan pada perjanjian kredit kedua,
Ahmad Daroji melunasi hutang atas pinjaman sebelum tanggal 23
September 2010 sebagaimana telah tertuang dalam perjanjian antara
dia dengan BNI Cabang Purwokerto.
3. Bahwa Pemda dapat membeli tanah milik Ahmad Daroji walaupun
sedang ditanggungkan karena uang ganti rugi dapat dijadikan
pelunasan piutang, disamping itu ada dua hal yang menyebabkan
hapusnya hak milik yaitu karena salah satunya tanah tersebut jatuh
kepada Negara, hal ini dilakukan untuk kepentingan umum
berdasarkan ketentuan Pasal 18 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960
Tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria. Dalam kasus ini
bahwa hak milik Ahmad Daroji hapus karena untuk kepentingan
umum yakni untuk perluasan pembangunan klinik bersalin. Disamping
ketentuan Undang-Undang Pokok Agraria ini, di dalam ketentuan
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi
Kepentingan Umum.
4. Bahwa pembayaran atas pembebasan tanah tersebut dapat dilakukan
consignatie atau dititipkan kepada Pengadilan Negeri sebagaimana
ketentuan dalam Pasal 1393 juncto 1404 KUHPerdata dan Pasal 42
Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 Tentang Pengadaan Tanah Bagi

17
Kepentingan Umum juncto Pasal 10 ayat 2 Perpres Nomor 65 Tahun
2006 yang kini telah diubah dengan Perpres Nomor 145 Tahun 2015.
5. Bahwa BNI cabang purwokerto dapat mengambil kekurangan hutang
Ahmad Daroji sebagaimana diatur didalam pasal 1267 KUHPerdata
karena sejak semula mereka sudah bersepakat soal ketentuan bunga
sebesar 1.5 persen perbulan selama satu tahun.

18