Anda di halaman 1dari 102

SKRIPSI

RANCANGAN PIT PADA PENAMBANGAN


BATUBARA DI PIT 3 TIMUR BANKO BARAT
PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TANJUNG ENIM
SUMATERA SELATAN

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar


Sarjana Teknik pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya

OLEH :

M. SUBHAN FAJRI
03111002117

JURUSAN TEKNIK PERTAMBANGAN


FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2016
HALAMAN PENGESAHAN

RANCANGAN PIT PADA PENAMBANGAN


BATUBARA DI PIT 3 TIMUR BANKO BARAT
PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TANJUNG ENIM
SUMATERA SELATAN

SKRIPSI
Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat untuk mendapatkan Gelar Sarjana
Teknik pada Jurusan Teknik Pertambangan Fakultas Teknik
Universitas Sriwijaya

Oleh:

M. SUBHAN FAJRI
03111002117

Inderalaya, Maret 2016


Disetujui Untuk Jurusan Teknik
Pertambangan Oleh :
Pembimbing I

Ir. Makmur Asyik, MS.


NIP. 195912281988101001

Pembimbing II

Bochori, ST., MT.


NIP. 197410252002121003
HALAMAN PERSEMBAHAN

Segala puji dan syukur dipanjatkan kepada Allah SWT karena berkat rahmat-Nya
saya dapat menyelesaikan skripsi tugas akhir ini dengan baik. Dalam penyelesaian
skripsi ini tentunya banyak orang-orang yang turut membantu dan memberikan
dukungan. Sehingga saya persembahkan tulisan ini kepada :

Keluarga
Terima kasih kepada Papa dan Mama yang tidak hentinya selalu mendoakanku
dan selalu memberikan dukungan secara materi dan moril. Serta untuk kakakku
Topan Ariansyah Putra, Bayu Riztiansyah Putra, Arini Puspita Sari dan adikku
M. Guntur Medianto, yang selalu memotivasiku.

Dosen Teknik Pertambangan


Terima kasih kepada Seluruh Jajaran Dosen Teknik Pertambangan yang telah
memberikan ilmu dan bimbingannya sehingga saya dapat melangkah sejauh ini.
Khususnya kepada ibu Falisa, ST., MT dan bapak Ir. H. Maulana Yusuf, MS., MT
selaku pembimbing akademik serta bapak Ir. Makmur Asyik, MS dan bapak
Bochori, ST., MT selaku pembimbing skripsi yang sangat membantu dalam
penyusunan skripsi ini.

Karyawan PTBA
Terima kasih kepada seluruh karyawan PTBA yang telah mengizinkan saya untuk
melakukan penelitian tugas akhir di satuan kerja Perencanaan Operasional,
khususnya kepada bapak Samiaji Nugroho selaku pembimbing lapangan serta
bapak Ade dan kak Neci atas pelatihan minescape yang diberikan.

Teman-Teman
Terima kasih kepada semua teman-teman seperjuangan di teknik tambang
angkatan 2011 serta kakak tingkat dan adik tingkat yang telah membantu saya
selama masa perkuliahan. Khususnya untuk sahabatku di Palembang Corp yang
selalu bersama baik dalam keadaan suka maupun duka, yang selalu berbagi canda
dan tawa saat di perjalanan Palembang-Inderalaya.

iii
HALAMAN PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI

iv
HALAMAN PERNYATAAN INTEGRITAS

v
RINGKASAN

RANCANGAN PIT PADA PENAMBANGAN BATUBARA DI PIT 3 TIMUR


BANKO BARAT PT. BUKIT ASAM (PERSERO) TANJUNG ENIM
SUMATERA SELATAN
Karya tulis ilmiah berupa skripsi, Maret 2016

M. Subhan Fajri, Dibimbing oleh Ir. Makmur Asyik, MS dan Bochori, ST., MT

Jurusan Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sriwijaya

xiv + 68 halaman, 7 tabel, 24 gambar, 11 lampiran

RINGKASAN

Pit 3 Timur merupakan salah satu lokasi penambangan dari PT. Bukit Asam Unit
Penambangan Tanjung Enim (UPTE) dengan luas daerah topografi yang diketahui
sebesar 815,9 ha. Pit 3 Timur memiliki lima lapisan batubara, yakni seam A1, A2,
B1, B2 dan C. Ketebalan lapisan batubara antara 4,8 - 15,3 m dengan kemiringan
70o dan arah strike N 304 E. Cadangan batubara pada daerah topografi sebesar
12.574.726,26 ton.
Desain pit diperlukan untuk mengetahui batasan dari penambangan batubara agar
kegiatan penambangan dapat terkendali dan target produksi dapat tercapai.
Geometri penambangan yang digunakan dalam perancangan pit meliputi tinggi
jenjang 9 m, lebar berm 10 m, kemiringan lereng tunggal (single slope) 45o,
kemiringan lereng keseluruhan (overall slope) 19o-25o, lebar jalan angkut 25 m,
kemiringan jalan (grade) 7,9% dan lebar pit bottom 50 m. Total volume
overburden yang diperoleh dari desain pit adalah sebesar 24.027.432,09 bcm dan
total batubara 6.129.388,90 ton dengan total stripping ratio sebesar 3,83. Hasil
analisis overall slope diperoleh nilai faktor keamanan yang lebih dari 1,25 di
semua sisi lereng pada setiap penampang. Sehingga dapat dikatakan lereng akhir
dalam kondisi stabil.
Desain pit dibagi kedalam unit yang lebih kecil dengan membuat rancangan
sequence penambangan. Rancangan sequence dibuat per satu tahun dengan target
produksi diatas 1 juta ton per tahun dan nilai stripping ratio maksimal 5, sehingga
didapatkan umur tambang selama 6 tahun atau sampai tahun 2020. Rencana
produksi batubara pada tahun 2015 (mulai dari bulan Juni) sebesar 669.086 ton
dan nilai stripping ratio 4,11, tahun 2016 sebesar 1.191.791 ton dan nilai SR 4,30,
tahun 2017 sebesar 1.140.405 ton dan nilai SR 3,52, tahun 2018 sebesar 1.013.390
ton dan nilai SR 3,69, tahun 2019 sebesar 1.049.880 ton dan nilai SR 3,06, tahun
2020 sebesar 1.064.833 ton dan nilai SR 4,88.

Kata Kunci: perancangan, desain, pit, sequence, stripping ratio, produksi

vi Universitas Sriwijaya
SUMMARY

PIT DESIGN OF COAL MINING AT PIT 3 TIMUR BANKO BARAT PT.


BUKIT ASAM (PERSERO) TANJUNG ENIM SOUTH SUMATERA
Scientific papers in the form of essay, March 2016

M. Subhan Fajri, Supervised by Ir. Makmur Asyik, MS and Bochori, ST., MT

Mining Engineering Department, Engineering Faculty, Sriwijaya University

xiv + 68 pages, 7 tables, 24 pictures, 11 attachment

SUMMARY

Pit 3 Timur is one of mining sites in PT. Bukit Asam Tanjung Enim, the wide of
topography area is 815.9 ha and total reserve is 12.574.726,26 tons in position N
304 E / 70o. There are five seams in Pit 3 Timur, they are A1, A2, B1, B2 and C.
Thickness of coal seam is around 4,8-15,3 m.
Pit design is needed to determine the limits of coal mining so that mining
activities can be controlled and the production target can be achieved. Mining
geometry that used in designing pit are 9 m for bench height, berm width 10 m,
single slope 45o, overall slope 19o-25o, ramp width 25 m, the ramp grade 7,9%
and pit bottom width 50 m. Total volume of overburden from pit design is
23.495.258,61 bcm and total coal is 6.129.388,90 tons with the overall stripping
ratio 3,83. The results of overall slope analysis using geoslope program obtained
that the safety factor of final slopes on each cross section are more than 1,25. So it
can be stated that final slope in stable condition.
Pit design is divided into smaller units by making sequence design. Production
target of annual sequence design is more than 1 million tons per year and
maximum stripping ratio 5, so the life of mine is 6 years or until 2020. Coal
production planning in 2015 (from June) is 769.086 tons, in 2016 has 1.091.791
tons, in 2017 has 1.14.405 tons, in 2018 has 1.013.390 tons, in 2019 has
1.049.880 tons and 2020 has 1,064,833 tons of coal.

Keywords: designing, design, pit, sequence, stripping ratio, production target

vii Universitas Sriwijaya


KATA PENGANTAR

Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena
berkat rahmat dan hidayahNya, sehingga skripsi ini yang berjudul “Rancangan Pit
Pada Penambangan Batubara Di Pit-3 Timur Banko Barat PT Bukit Asam
(Persero) Tanjung Enim Sumatera Selatan” dapat diselesaikan dengan baik, yang
dilaksanakan pada tanggal 1 Juni 2015 hingga 22 Juli 2015.
Terima kasih kepada Ir. Makmur Asyik, MS. selaku pembimbing pertama
dan Bochori, ST., MT. selaku pembimbing kedua dan selaku Sekretaris Jurusan
Teknik Pertambangan Universitas Sriwijaya, serta tidak lupa juga terima kasih
kepada :
1. Prof. Dr. Ir. H. Anis Saggaff, MSCE., selaku Rektor Universitas Sriwijaya.
2. Prof. Ir. Subriyer Nasir, MS., Ph.D., selaku Dekan Fakultas Teknik Universitas
Sriwijaya.
3. Hj. Rr. Harminuke Eko Handayani, ST., MT., selaku Ketua Jurusan Teknik
Pertambangan Universitas Sriwijaya.
4. Segenap dosen dan staf karyawan Jurusan Teknik Pertambangan Universitas
Sriwijaya.
5. Samiaji Nugroho selaku Asisten Manager Perencanaan Operasi Shovel and
Truck sekaligus sebagai pembimbing lapangan.
6. Seluruh karyawan PT. Bukit Asam (Persero) Tbk.
Terdapat banyak kekurangan dan kesalahan dalam penulisan skripsi ini.
Oleh karena itu kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi
perbaikan dimasa yang akan datang.
Semoga skripsi ini dapat menambah pengetahuan serta dapat menunjang
perkembangan ilmu pengetahuan, kemajuan serta kesejahteraan bagi masyarakat.

Indralaya, Maret 2016 Penulis

viii Universitas Sriwijaya


DAFTAR ISI

Halaman
Halaman Pengesahan .............................................................................................. ii
Halaman Persembahan ........................................................................................... iii
Halaman Pernyataan Persetujuan Publikasi ........................................................... iv
Halaman Pernyataan Integritas ................................................................................v
Ringkasan ............................................................................................................... vi
Summary ............................................................................................................... vii
Kata Pengantar ..................................................................................................... viii
Daftar Isi................................................................................................................. ix
Daftar Gambar ........................................................................................................ xi
Daftar Tabel ......................................................................................................... xiii
Daftar Lampiran ................................................................................................... xiv

BAB 1 PENDAHULUAN ..................................................................................... 1

1.1. Latar Belakang................................................................................. 1


1.2. Rumusan Permasalahan ................................................................... 2
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................. 2
1.4. Batasan Masalah .............................................................................. 2
1.5. Manfaat Penelitian ........................................................................... 3

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................................. 4

2.1. Perencanaan Tambang ..................................................................... 4


2.2. Perancangan (Design) Pit .................................................................5
2.2.1. Penentuan Pit Limit ............................................................7
2.2.2. Geometri Jenjang (Bench Dimension)............................... 7
2.2.3. Geometri Jalan Angkut .................................................... 11
2.2.4. Stripping Ratio .................................................................14
2.2.5. Hidrologi dan Hidrogeologi .............................................14
2.3. Perhitungan Faktor Keamanan ...................................................... 15
2.4. Rancangan Sequence ..................................................................... 19

BAB 3 METODE PENELITIAN.......................................................................... 21

3.1. Lokasi Penelitian ........................................................................... 21


3.2. Jadwal Penelitian ........................................................................... 22

ix Universitas Sriwijaya
x

3.3. Metode Penelitian .......................................................................... 22


3.3.1. Studi Literatur ................................................................... 22
3.3.2. Orientasi Lapangan dan Pengambilan Data .................... 23
3.3.3. Pengolahan data ............................................................... 27
3.3.4. Analisis dan Pembahasan ................................................ 27
3.3.5. Kesimpulan dan Saran ..................................................... 29

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN................................................................. 31

4.1. Kondisi Tambang Pit-3 Timur....................................................... 31


4.1.1. Kondisi Topografi ........................................................... 31
4.1.2. Karaktersitik Endapan Batubara...................................... 33
4.2. Rancangan Pit ................................................................................ 35
4.2.1. Analisis Kestabilan Lereng ............................................. 38
4.2.2. Perhitungan Cadangan pada Desain ................................ 41
4.3. Rancangan Sequence Penambangan .............................................. 43

BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ................................................................ 45

5.1. Kesimpulan .................................................................................... 46


5.2. Saran .............................................................................................. 46

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Universitas Sriwijaya
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 2.1. Bagian dari Geometri Jenjang ............................................................ 8
Gambar 2.2. Bagian dari Working Bench .............................................................. 9
Gambar 2.3. Geometri Catch Bench ..................................................................... 10
Gambar 2.4. Overall Slope Angle ......................................................................... 11
Gambar 2.5. Lebar Jalan Angkut pada Jalan Lurus .............................................. 12
Gambar 2.6. Kemiringan Jalan Angkut ................................................................ 13
Gambar 2.7. Program Geoslope 2007 - Slope/W .................................................. 16
Gambar 2.8. Gaya yang Bekerja di Tiap Irisan pada Metode Bishop................... 17
Gambar 2.9. Sketsa Penggambaran Tekanan Air Pori .......................................... 17
Gambar 2.10. Cross-Section Sequence pada Suatu Rancangan Penambangan .... 20
Gambar 3.1. Lokasi PT. Bukit Asam .................................................................... 21
Gambar 3.2. Pembersihan Lahan dengan Menggunakan Bulldozer ..................... 24
Gambar 3.3. Pengangkutan Top Soil ..................................................................... 24
Gambar 3.4. Penimbunan Overburden.................................................................. 25
Gambar 3.5. Penggalian dan Pemuatan Batubara ................................................. 25
Gambar 3.6. Pengangkutan Batubara .................................................................... 26
Gambar 3.7. Diagram Alir Penelitian ................................................................... 30
Gambar 4.1. Topografi wilayah tambang Pit-3 Timur.......................................... 31
Gambar 4.2. Tampilan triangle topografi tambang Pit-3 Timur........................... 32
Gambar 4.3. Kontur struktur batubara .................................................................. 34
Gambar 4.4. Geometri jenjang Pit-3 Timur .......................................................... 35
Gambar 4.5. Jalan angkut tambang ....................................................................... 36
Gambar 4.6. Desain final pit tambang Pit 3 Timur ............................................... 37
Gambar 4.7. Desain sequence penambangan ....................................................... 44
Gambar 1.a. Peta Topografi Wilayah Tambang Pit-3 Timur .................................49
Gambar 2.a. Peta Desain Final Pit Tambang Pit-3 Timur .....................................50
Gambar 3.a. Program Minescape Versi 4.118 .......................................................51
Gambar 3.b. Plotting Garis Pit Bottom ..................................................................52
Gambar 3.c. Plotting Garis Crest Menggunakan Project Element ........................53

xi Universitas Sriwijaya
xii

Gambar 3.d. Plotting Garis Crest dan Toe .............................................................53


Gambar 3.e. Pembuatan Triangle Design ..............................................................54
Gambar 3.f. Garis Intersect pada Desain Final Pit ................................................54
Gambar 3.g. Boundary pada Desain Final Pit .......................................................55
Gambar 3.h. Perhitungan Volume Overburden dan Batubara ...............................56
Gambar 4.a. Ramp pada Desain Final Pit ..............................................................57
Gambar 5.a. Bagian-bagian dari Excavator Backhoe PC1250 ..............................58
Gambar 5.b. Working Range pada Excavator Backhoe PC1250 ...........................58
Gambar 6.a. Bagian-bagian dari Dump Truck HD785 ...........................................60
Gambar 9.a. Cross Section pada Desain Final Pit .................................................65

Universitas Sriwijaya
DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 2.1. Rekomendasi Dimensi Catch Bench (Call, 1986) ............................... 10
Tabel 3.1. Analisis dan Pembahasan ..................................................................... 28
Tabel 4.1. Koordinat Batas Pit-3 Timur ................................................................ 32
Tabel 4.2. Cadangan Batubara Pada Tambang Pit 3 Timur .................................. 34
Tabel 4.3. Sifat Fisik dan Mekanik Batuan .......................................................... 39
Tabel 4.4. Hasil Perhitungan Faktor Keamanan Lereng Pada Desain Final Pit ... 40
Tabel 4.5. Hasil Perhitungan Cadangan Pada Desain Pit ..................................... 42
Tabel 5.a. Dimensi Excavator Backhoe PC1250 ...................................................58
Tabel 5.b. Working Range Excavator Backhoe PC1250........................................59
Tabel 6.a. Dimensi Dump Truck HD785 ...............................................................60
Tabel 6.b. Spesifikasi Dump Truck HD785 ...........................................................61
Tabel 7.a. Nilai Rolling Resistance (RR) Pada Berbagai Jenis Tanah ...................62
Tabel 9.a. Ketebalan Lapisan Batubara..................................................................65
Tabel 9.b. Kemiringan dan Strike Batubara ...........................................................66
Tabel 10.a. Data Produksi Tahun 2015 ..................................................................67

xiii Universitas Sriwijaya


DAFTAR LAMPIRAN

Halaman
Lampiran 1. Topografi Tambang Pit-3 Timur ...................................................... 49
Lampiran 2. Desain Final Pit Tambang Pit-3 Timur ............................................ 50
Lampiran 3. Pengoperasian Minescape untuk Perancangan Final Pit .................. 51
Lampiran 4. Perhitungan Ramp pada Rancangan Final Pit ................................. 57
Lampiran 5. Dimensi dan Working Range Excavator PC1250............................. 58
Lampiran 6. Spesifikasi dan Dimensi Dump Truck HD785 ................................. 60
Lampiran 7. Perhitungan Kemiringan Jalan Maksimal untuk HD785 .................. 62
Lampiran 8. Perhitungan Lebar Jalan Angkut ...................................................... 64
Lampiran 9. Ketebalan dan Kemiringan Lapisan Batubara .................................. 65
Lampiran 10. Data Produksi Tahun 2015 pada Tambang Pit 3 Timur ................. 67
Lampiran 11. Hasil Perhitungan Faktor Keamanan pada Desain Final Pit ......... 68

xiv Universitas Sriwijaya


BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


PT. Bukit Asam (Persero), Tbk. atau PTBA merupakan perusahaan yang
bergerak di bidang industri pertambangan batubara yang terletak di Tanjung
Enim, Kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera
Selatan. Salah satu lokasi penambangan utama untuk Unit Pertambangan Tanjung
Enim (UPTE) yaitu Banko Barat, dengan luas 4.500 Ha. Tambang Banko Barat
saat ini terdiri atas tiga lokasi bukaan penambangan yaitu Pit 1 Barat, Pit 1 Timur,
Pit 3 Barat dan Pit 3 Timur. Pit 3 Timur memiliki potensi batubara yang besar
dibandingkan dengan lokasi Tambang Air Laya (TAL) dan Muara Tiga Besar
(MTB). Pekerjaan penambangan batubara pada tambang Pit 3 Timur Banko Barat
dilakukan oleh swakelola dan kontraktor Sumber Mitra Jaya (SMJ) dengan
menggunakan metode kombinasi antara excavator-dump truck.
Kualitas cadangan batubara Pit 3 Timur Banko Barat memenuhi permintaan
pasar dan untuk konsumsi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), yakni batubara
dengan kualitas 5000 kkal/kg - 5500 kkal/kg. Saat ini terdapat permintaan kontrak
jangka panjang dalam penyediaan batubara dari Pit 3 Timur Banko Barat untuk
bahan bakar PLTU Banko Tengah sebesar 1 juta ton per tahun. Sehingga Pit 3
Timur memiliki target produksi diatas 1 juta ton per tahun.
Suatu target produksi akan tercapai jika melakukan perencanaan tambang
yang tepat. Salah satu perencanaan tambang yang dilakukan adalah membuat
rancangan (design) pit untuk jangka waktu tertentu secara aman dan
menguntungkan. Rancangan pit ini akan memberikan gambaran mengenai bentuk
akhir tambang untuk jangka waktu tertentu berdasarkan penyebaran batubara.
Design pit menjadi dasar dalam menentukan urutan penambangan (sequence).
Tujuan dari pembuatan sequence untuk mengetahui batasan dari penambangan
batubara agar kegiatan penambangan dapat terkendali dan target produksi dapat
tercapai.
Rancangan pit dibuat menggunakan software minescape untuk
mempermudah dalam membuat bentuk pit dan melakukan perhitungan. Data yang

1 Universitas Sriwijaya
2

digunakan sebagai dasar untuk perancangan adalah data topografi dan kontur
batubara. Data tersebut selalu diperbarui oleh bagian pemetaan dan bagian
eksplorasi, sehingga rancangan pit jangka panjang juga perlu diperbarui. Saat ini
belum ada rancangan desain tambang jangka panjang terbaru dalam pemenuhan
penyediaan bahan bakar PLTU Banko Tengah. Oleh karena itu judul yang dipilih
adalah Rancangan Pit Pada Penambangan Batubara Di Pit 3 Timur Banko Barat
PT. Bukit Asam (Persero) Tanjung Enim Sumatera Selatan.

1.2. Rumusan Permasalahan


Permasalahan yang terdapat pada penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Bagaimana kondisi tambang Pit-3 Timur?
2. Bagaimana membuat rancangan (design) pit yang aman berdasarkan
perhitungan faktor keamanan?
3. Bagaimana merencanakan tahapan (sequence) penambangan batubara tahunan
dengan rencana produksi 1 juta ton per tahun?

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian tugas akhir ini adalah :
1. Menganalisis kondisi tambang dan cadangan di Pit 3 Timur.
2. Membuat rancangan pit yang aman berdasarkan perhitungan faktor keamanan.
3. Merencanakan sequence penambangan tahunan sesuai dengan rencana
produksi dan nilai stripping ratio yang ideal.

1.4. Batasan Masalah


Batasan masalah dalam penelitian ini adalah :
1. Terfokus hanya pada rancangan pit dan sequence penambangan Pit 3 Timur.
2. Geometri jenjang yang digunakan dalam perancangan desain pit merupakan
rekomendasi dari geoteknik.
3. Analisis kemantapan lereng dengan menggunakan program Geoslope.
4. Kemampuan produksi maksimal dari alat sebesar 100.000 ton batubara per
bulan.

Universitas Sriwijaya
3

1.5. Manfaat Penelitian


Manfaat penulisan skripsi ini adalah sebagai bahan pertimbangan dalam
mengevaluasi kembali perencanaan penambangan batubara pada tambang Pit 3
Timur Banko Barat PT. Bukit Asam Unit Penambangan Tanjung Enim Sumatera
Selatan.

Universitas Sriwijaya
BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perencanaan Tambang


Perencanaan tambang (mine planing) merupakan proses dalam kegiatan
penambangan dengan untuk menentukan persyaratan pelaksaan teknis demi
tercapainya tujuan dan sasaran tertentu dalam kegiatan pertambangan.
Perencanaan tambang merupakan suatu proses untuk mengkonversikan sumber
daya batubara menjadi cadangan yang dapat ditambang secara ekonomis.
Perencanaan tambang menjadi tahapan yang penting dalam studi kelayakan dan
rencana operasi penambangan.
Berdasarkan waktunya, perencanaan tambang terdiri menjadi tiga
kelompok, yaitu (Thompson, 2005) :
1. Perencanaan jangka panjang (long term planning) yaitu suatu perencanaan
kegiatan yang jangka waktunya lebih dari 5 tahun atau sampai akhir umur
tambang.
2. Perencanaan jangka menengah (medium term planning) yaitu pengembangan
dari perencanaan jangka panjang yang lebih detail untuk jangka waktu yang
lebih pendek, biasanya perencanaan untuk jangka waktu 1-5 tahun.
3. Perencanaan jangka pendek (short term planning) yaitu perencanaan aktivitas
untuk jangka waktu kurang dari 1 tahun demi kelancaran perencanaan jangka
menengah dan jangka panjang.
Rencana jangka panjang adalah menetapkan area yang akan ditambang
selama umur tambang dan membaginya kedalam urutan tahapan penambangan
(sequence). Rencana jangka panjang harus bisa menjadi dasar dalam perencanaan
jangka menengah dan jangka pendek yang lebih terperinci. Rencana jangka
menengah merupakan rencana tahunan yang memberikan rincian mengenai
pengupasan batubara dan overburden serta peralatan yang dibutuhkan. Rencana
jangka pendek merupakan rencana mingguan yang sangat terperinci dan terfokus
pada kegiatan penambangan yang sedang sedang berlangsung (Thompson, 2005).
Pertimbangan dasar dalam rencana penambangan adalah nilai break even
stripping ratio (BESR). BESR merupakan perbandingan antara biaya penggalian

4 Universitas Sriwijaya
5

endapan dengan biaya pengupasan tanah penutup (overburden) atau merupakan


perbandingan selisih biaya penambangan bawah tanah dan penambangan terbuka
dengan biaya pengupasan secara tambang terbuka. BESR digunakan untuk
menganalisis kemungkinan sistem penambangan yang akan digunakan, tambang
terbuka atau tambang bawah tanah. Jika BESR lebih besar daripada satu maka
akan menguntungkan ditambang dengan sitem tambang terbuka, tetapi jika BESR
lebih kecil daripada satu maka tidak bisa dilakukan dengan sistem tambang
terbuka. BESR ini juga disebut overall strippig ratio.
Setelah ditentukan bahwa akan digunakan sistem tambang terbuka, maka
dalam rangka pengembangan rencana penambangan digunakan BESR(2) atau
disebut juga economic stripping ratio, yang dinyatakan didalam bentuk persamaan
sebagai berikut (Thompson, 2005) :

.... (2.1)
Keterangan :
P = harga batubara per ton
C = ongkos penambangan batubara per ton
Cob = ongkos penggalian overburden per bcm

Tiga aspek penting dalam perencanaan tambang adalah penentuan batas


penambangan, tahapan penambangan, dan penjadwalan produksi. Hasil yang
diperoleh adalah jumlah cadangan serta distibusi ton batubara yang akan
direncanakan, besar produksi dan tahapan penambangannya. Tingkat produksi
yang direncanakan akan menentukan jumlah peralatan dan tenaga kerja yang
dibutuhkan (Hustrulid, 2013).

2.2. Perancangan (Design) Tambang


Perancangan tambang dapat dilakukan dengan batuan program minescape.
Minescape memiliki fungsi pemodelan geologi dan desain tambang yang luas
mulai dari data eksplorasi, penjadwalan produksi, perancangan kegiatan
eksploitasi dan masih banyak lagi. Selain itu minescape dapat menampilkan objek
secara tiga dimensi dan dapat dirotasikan sehingga data dapat dilihat dari berbagai
sudut (Nurhidayat, 2007).

Universitas Sriwijaya
6

Perancangan tambang dilakukan dengan membuat tahapan kegiatan secara


garis besar yang meliputi (Hustrulid, 2013) :
1. Penentuan batas penambangan (bentuk pit)
Perancangan pit merupakan proses pemodelan bentuk akhir tambang dalam
jangka waktu tertentu sesuai dengan penyebaran endapan batubara sampai dengan
pit limit. Batas akhir penambangan (pit limit) merupakan batas wilayah layak
tambang dari cadangan batubara. Pit limit penambangan menentukan seberapa
besar cadangan batubara yang akan ditambang. Penentuan batas akhir dari pit
penambangan belum memperhitungkan waktu dan biaya.
2. Perancangan sequence
Perancangan sequence penambangan batubara merupakan tahapan penting
dalam suatu perancangan geometri penambangan. Rancangan sekuen
penambangan ini membagi rancangan pit menjadi unit-unit perencanaan yang
lebih kecil dan lebih mudah dikelola. Hal ini akan membuat masalah perancangan
tambang tiga dimensi yang kompleks menjadi lebih sederhana.
3. Penjadwalan produksi
Rancangan sequence penambangan batubara yang telah dirancang,
selanjutnya diestimasi berdasarkan urutan waktu dan target produksi. Penjadwalan
produksi akan menyajikan jumlah tanah penutup dan batubara yang akan
ditambang berdasarkan periode tertentu.
4. Pemilihan alat
Berdasarkan peta rencana penambangan dan penimbunan lapisan penutup,
dapat dibuat profil jalan angkut untuk setiap periode waktu. Dengan mengukur
profil jalan ini, kebutuhan alat angkut dan alat muatnya dapat dihitung untuk
setiap periode (setiap tahun). Jumlah alat bor untuk peledakan serta alat bantu
lainnya juga dapat diperhitungkan.
5. Perhitungan biaya opersasi dan kapital
Dengan menggunakan tingkat produksi untuk peralatan yang dipilih, dapat
dihitung jumlah gilir kerja (operating shift) yang diperlukan untuk mencapai
sasaran produksi. Jumlah dan jadwal kerja yang dibutuhkan untuk operasi,
perawatan dan pengawasan dapat ditentukan.

Universitas Sriwijaya
7

Perancangan tambang merupakan bagian dari perencanaan tambang yang


berkaitan dengan masalah geometrik, termasuk juga dalam perancangan urutan
(sequence) penambangan. Proses perencanaan yang tidak berkaitan dengan
masalah geometrik meliputi penjadwalan produksi, kebutuhan alat dan tenaga
kerja, perkiraan biaya kapital dan biaya operasi. (Hustrulid, 2013).
Parameter teknis yang perlu dipertimbangkan dalam membuat rancangan
(design) pit meliputi penentuan pit limit, geometri jenjang, geometri jalan angkut,
nilai stripping ratio dan kondisi hidrologi.

2.2.1. Penentuan Pit Limit


Pit limit adalah batas akhir atau paling luar dari suatu tambang terbuka yang
berdasarkan pertimbangan geoteknik masih diperbolehkan dengan kemiringan dan
sudut lereng tertentu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pit limit meliputi:
1. BESR yang masih diijinkan/menguntungkan
2. Kekuatan batuan pembentuk lereng yang meliputi sifat fisik & mekanik serta
keberadaan struktur geologi yang dominan.
Dasar pit atau bench paling bawah pada pit limit disebut juga pit bottom.
Kedalaman pit bottom berpengaruh pada kemantapan lereng. Semakin kedalam pit
bottom, maka semakin riskan juga keadaan lerengnya. Lebar dari pit bottom
disesuaikan dengan alat gali muat dan alat angkut yang digunakan. Tujuannya
untuk memberikan ruang bagi alat agar dapat beroperasi secara maksimal. Tidak
ada persamaan atau ketentuan baku dalam menentukan kedalaman dan lebar pit
bottom. Lebar pit bottom juga dapat dipengaruhi oleh bentuk dari endapan
batubara. Pit limit juga dapat dipengaruhi oleh perubahan stripping ratio, naiknya
biaya produksi dan pengangkutan, nilai mineral yang ditambang, ukuran deposit
serta target produksi.

2.2.2. Geometri Jenjang (Bench Dimension)


Parameter yang menentukan dalam penentuan dimensi jenjang antara lain
ukuran alat angkut, jangkauan gali alat muat kekerasan batuan dan metode

Universitas Sriwijaya
8

peledakan yang dlakukan. Faktor – faktor yang mempengaruhi geometri jenjang


antara lain (Novian, 2008) :
1. Produksi
Pembuatan jenjang tujuannya adalah untuk mendapatkan endapan batubara
sesuai dengan produksi yang diinginkan. Dimensi jenjang yang akan dibuat perlu
mempertimbangkan jumlah produksi yang direncanakan. Jumlah produksi
menentukan dimensi jenjang yang akan dibuat.
2. Kondisi batuan
Kondisi batuan menentukan peralatan yang harus digunakan. Kondisi
batuan yang dominan antara lain kekuatan batuan, faktor pengembangan, densitas
batuan dan struktur geologi. Penggalian dapat langsung dilakukan pada
permukaan kerja material yang lunak. Jarak dan ketinggian penggalian perlu
diperhitungkan dalam memperkirakan lebar dan tinggi jenjang.
3. Peralatan produksi
Peralatan produksi yang akan digunakan harus disesuaikan dengan kapasitas
produksi yang diinginkan dan sesuai material yang akan dikerjakan. Melalui
pertimbangan tersebut, dimensi jenjang mempunyai kondisi kerja yang baik,
dimana hal ini akan mempengaruhi efisiensi kerja.
Geometri jenjang (Gambar 2.1) terdiri dari tinggi lereng atau tinggi jenjang
(bench height), sudut kemiringan (face angle) dan lebar berm atau lebar jenjang
(bench width).

Gambar 2.1. Bagian dari geometri jenjang (Hustrulid, 2013)

Universitas Sriwijaya
9

1. Lebar jenjang.
Lebar jenjang (bench width) merupakan jarak horizontal yang diukur dari
ujung lantai jenjang sampai dengan belakang lantai jenjang. Tidak ada rumus
baku untuk menghitung lebar minimum jenjang. Lebar jenjang minimum sangat
dipengaruhi oleh (Novian, 2008):
a. Jenis dan dimensi peralatan.
b. Posisi kerja dari peralatan yang sedang beroperasi dilantai yang sama.
c. Lebar dari tumpukan material hasil pembongkaran .
Terdapat beberapa jenis bench. Jenjang kerja (working bench) merupakan
suatu jenjang dimana tempat penambangan atau penggalian berlangsung. Bagian
yang sedang digali dari working bench disebut cut. Setelah bagian cut telah
ditambang maka akan terbentuk safety bench (Gambar 2.2).

Gambar 2.2. Bagian dari working bench (Hustrulid, 2013)

Safety bench dapat disebut juga jenjang penangkap (catch bench) dan dapat
merujuk pada berm. Fungsi dari safety bench atau berm ini adalah untuk
mengumpulkan material tanah yang jatuh dari bench diatasnya dan menahanya
agar tidak terjadi longsoran yang fatal (Hustrulid, 2013).
Sebagai tambahan pada jenjang penangkap, tumpukan material bongkahan
(berm) biasanya sering terdapat di sepanjang crest. Terdapatnya tumpukan
tersebut maka akan terbentuk suatu saluran antara tumpukan dan kaki lereng (toe)
untuk menangkap batuan yang jatuh (Gambar 2.3). Impact zone merupakan area
yang terkena dampak dari jatuhan material (Hustrulid, 2013).

Universitas Sriwijaya
10

Gambar 2.3. Geometri catch bench (Hustrulid, 2013)

Lebar catch bench disesuaikan dengan tinggi bench. Berdasarkan studi yang
dilakukan oleh para ahli pertambangan, merekomendasikan bahwa semakin tinggi
bench maka semakin lebar catch bench yang diperlukan (Tabel 2.1).

Tabel 2.1. Rekomendasi dimensi catch bench (Hustrulid, 2013)

Bench Impact Berm Berm Minimum Bench


Height Zone Height Width Width
(m) (m) (m) (m) (m)
15 3,5 1,5 4 7,5
30 4,5 2 5,5 10
45 5 3 8 13

2. Sudut kemiringan lereng


Lereng tunggal (single slope) merupakan lereng yang dibentuk oleh satu
jenjang atau terbentuk oleh crest dan toe. Lereng keseluruhan (overall slope)
merupakan lereng yang dibentuk oleh keseluruhan jenjang (Gambar 2.4).
Kemiringan ini diukur dari crest paling atas sampai dengan toe paling akhir dari
front penambangan. Kemiringan lereng sangat dipengaruhi oleh karakteristik
batuan dan kegiatan peledakan (Hustrulid, 2013).
Dalam operasi di pit, pengontrolan sudut lereng biasa dilakukan dengan
menandai lokasi pucuk jenjang (crest) yang diinginkan menggunakan bendera
kecil. Operator shovel diperintahkan untuk menggali sampai mangkuknya
mencapai lokasi bendera tersebut.

Universitas Sriwijaya
11

Upper most crest

Keterangan : α
α = overall slope angle Lower most crest

Gambar 2.4. Overall slope angle (Nurhidayat, 2007)

2.2.3. Geometri Jalan Angkut


Geometri jalan angkut sangat berpengaruh pada kelancaran kegiatan
penambangan. Geometri jalan angkut tambang perlu disesuaikan dengan ukuran
serta spesifikasi alat angkut yang dioperasikan. Pembuatan jalan angkut
diperlukan untuk transportasi dalam pengangkutan peralatan ataupun
pengangkutan batubara dan overburden agar proses penambangan berjalan dengan
lancar (Saputra, 2013). Geometri jalan tambang terdiri dari :
1. Lebar jalan angkut
Lebar jalan angkut minimum yang diperlukan harus disesuaikan dengan
lebar alat angkut terbesar yang melintas pada jalan angkut tersebut. Ukuran lebar
kendaraan terbesar yang akan melintas pada suatu jalan angkut mendapat
perhatian terbesar dalam penentuan lebar minimum jalan angkut tersebut
(Indonesianto, 2005). Penentuan lebar jalan angkut minimum untuk jalan lurus
(Gambar 2.5) didasarkan pada “rule of thumb” yang dikemukakan oleh Aasho
Manual Rural Highway Design adalah sebagai berikut :

L = n . Wt + (n+1) (0,5 . Wt) ..... (2.2)

Keterangan :
L = lebar jalan angkut minimum (m)
n = jumlah jalur
Wt = lebar truk (m)

Universitas Sriwijaya
12

Gambar 2.5. Lebar jalan angkut pada jalan lurus (Caterpillar Handbook, 2012)

2. Kemiringan jalan
Kemiringan atau grade jalan angkut merupakan salah satu faktor penting
dalam evaluasi terhadap kondisi jalan angkut, dikarenakan kemiringan jalan
angkut mempengaruhi kemampuan produktivitas alat angkut, pada saat
pengereman maupun dalam mengatasi tanjakan (Indonesianto, 2005). Secara
umum, kemiringan jalan maksimum yang dapat dilalui dengan baik oleh alat
angkut besarnya berkisar antara 10 % – 18 %, akan tetapi untuk jalan naik
maupun turun pada bukit, lebih aman kemiringan jalan maksimum sebesar 8 %
o
atau 4.5
Kemiringan jalan angkut (Gambar 2.6) biasanya dinyatakan dalam persen
(%). Dalam pengertiannya, kemiringan 1 %, berarti jalan tersebut naik atau turun
1 meter atau 1 feet untuk setiap jarak mendatar sebesar 100 meter atau 100 feet.
Kemiringan jalan angkut dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai
berikut (Indonesianto, 2005):

h
Grade () = 100% ....(2.3)
x
Keterangan :
Grade = kemiringan jalan angkut
Δh = beda tinggi antara dua titik yang diukur
Δx = jarak datar antara dua titik yang diukur

Universitas Sriwijaya
13

h

B A
x

Gambar 2.6. Kemiringan jalan angkut (Indonesianto, 2005)

Kemiringan jalan angkut harus mampu diatasi oleh alat angkut yang
digunakan. Setiap alat mempunyai kemampuan yang berbeda dalam mangatasi
tanjakan, tergantung dari spesifikasinya. Jika kendaraan bergerak menaiki
tanjakan, maka diperlukan tambahan tenaga untuk mengatasi grade resistance.
Grade resistance (GR) adalah tahanan yang timbul dan harus diatasi oleh rimpull
(gaya) dari mesin. Rimpull merupakan gaya tarik maksimum yang dapat
disediakan oleh mesin. Rimpull dapat dihitung dengan menggunakan rumus
(Indonesianto, 2005) :

enaga mesin e isiensi mesin


impull =
ke epa an mph

Selain itu ada juga istilah rolling resistance (RR), yakni tahanan yang
berusaha menahan putaran roda. Besar nilai RR tergantung dari material tanah
pada jalan angkut (Indonesianto, 2005). Biasanya angka RR untuk keperluan
praktis telah ditabelkan (Lampiran 7). Alat angkut dapat mengatasi tanjakan
apabila rimpull dari alat angkut lebih besar daripada total resistance (RR + GR).
Jalan angkut (ramp) dibuat pada desain setelah kedalaman pit bottom
ditentukan. Jalan angkut dirancang pada jenjang dasar kemudian mengikuti
naiknya jenjang ke arah permukaan dengan gradien (kemiringan) yang ditentukan.
Ramp ini dapat berupa jalan lingkar yang melingkar keatas melalui dinding pit
atau switchback yang hanya melalui salah satu dinding pit (Nurhidayat, 2007).

Universitas Sriwijaya
14

2.2.4. Stripping Ratio


Nisbah pengupasan atau stripping ratio adalah perbandingan antara volume
lapisan tanah penutup yang akan digali dengan jumlah tonase batubara yang akan
diambil. Stripping ratio dapat menentukan pada elevasi berapakah nisbah
pengupasan yang paling menguntungkan untuk ditambang dengan cara tambang
terbuka (Thompson, 2005).
Stripping ratio merupakan salah satu faktor yang sangat menetukan
ekonomis tidaknya pengambilan suatu cadangan batubara. Semakin besar nilai
stripping ratio, berarti semakin banyak overburden yang harus digali untuk
mengambil batubara, sehingga cost atau biaya yang diperlukan juga semakin besar
(Thompson, 2005). Satuan perhitungan yang dipakai pada tambang batubara
adalah bcm/ton batubara, dengan persamaan :

... (2.5)

Stripping ratio berbanding terbalik dengan keuntungan. Apabila


menambang dengan batasan BESR maka tidak diperoleh keuntungan dan tidak
pula mengalami kerugian. Apabila menambang dengan ketentuan stripping ratio
lebih kecil dari BESR maka diperoleh keuntungan dan semakin kecil stripping
ratio yang diterapkan maka keuntungan yang diperoleh semakin besar.
Sebaliknya, apabila menambang dengan ketentua stripping ratio lebih besar dari
BESR maka akan mengalami kerugian dan semakin besar stripping ratio yang
diterapkan maka kerugian yang diderita pun akan semakin besar (Alpiana, 2011).

2.2.5. Hidrologi dan Hidrogeologi


Kondisi hidrologi dan hidrogeologi dari daerah tambang terbuka sangat
berpengaruh dalam proses perancangan tambang. Kondisi hidrologi dan
hidrogeologi dapat berupa sungai, air permukaan akibat curah hujan serta air
tanah. Kondisi tersebut menjadi pertimbangan teknis dalam perancangan terbuka
karena dengan adanya sungai akan menjadi batas penambangan pada daerah
tersebut. Hal tersebut akan menjadi perhatian dalam proses penambangan

Universitas Sriwijaya
15

selanjutnya. Penanganan masalah air dalam suatu tambang terbuka dapat


dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Mine drainage
Mine drainage merupakan upaya untuk mencegah mengalirnya air masuk ke
tempat pengalian. Hal ini umumnya dilakukan untuk penanganan air tanah dan air
yang berasal dari sumber air permukaan (sungai, danau dan lain-lain).
2. Mine dewatering
Mine dewatering merupakan upaya untuk mengeluarkan air yang telah
masuk ke tempat penggalian, khususnya untuk penanganan air hujan. Sumber
utama air permukaan pada suatu tambang terbuka adalah air hujan. Curah hujan
yang relatif tinggi akan berakibat pentingnya penanganan air hujan yang baik agar
produktivitas kegiatan penambangan tidak menurun. Penanganan masalah air
permukaan ini biasanya dapat dilakukan dengan membuat saluran air dan
sumuran. Saluran air berfungsi untuk mengalirkan air permukaan sedangkan
sumuran berfungsi untuk menampung air permukaan dan selanjutnya dipompa ke
luar tambang sehingga kemajuan kegiatan penambangan dapat terus dilakukan.

2.3. Perhitungan Faktor Keamanan


Perhitungan faktor keamanan (FK) dapat dilakukan dengan bantuan
program geoslope. Geoslope merupakan suatu program yang digunakan untuk
permodelan geoteknik dan perhitungan konstruksi yang berhubungan dengan
geoteknik. Geoslope memiliki delapan sub program dan setiap sub program
memiliki fungsi yang berbeda-beda. Pada perhitungan kestabilan lereng, sub
program yang digunakan adalah SLOPE/W. Geoslope (SLOPE/W) merupakan
suatu program yang menggunakan teori keseimbangan batas untuk menghitung
faktor keamanan dari lereng suatu lereng. Formulasi yang komprenhensif
membuatnya mampu menganalisis dengan mudah kasus stabilitas lereng baik
yang sederhana maupun yang kompleks dengan menggunakan variasi metode
dalam perhitungan faktor keamanannya (Geoslope, 2008).

Universitas Sriwijaya
16

Gambar 2. 7. Program Geoslope 2007 - SLOPE/W

Metode analisis yang digunakan adalah metode irisan. Metode ini membagi
massa di atas bidang runtuh ke dalam sejumlah irisan vertikal. Terdapat beberapa
macam variasi dari metode irisan, namun semua metode irisan menyatakan
kestabilan suatu lereng dinyatakan dalam suatu indeks yang disebut faktor
keamanan (FK).
Bidang runtuh atau bidang gelincir harus diasumsikan dan ditentukan
terlebih dahulu dalam metode irisan. Bidang runtuh dapat berbentuk busur
lingkaran atau gabungan dari beberapa garis lurus. Selanjutnya massa diatas
bidang runtuh dibagi ke dalam sejumlah irisan tertentu. Tujuannya untuk
mempertimbangkan terdapatnya variasi kekuatan geser dan tekanan air pori
sepanjang bidang runtuh (Geoslope, 2008).
Metode yang akan digunakan adalah metode Bishop. Metode ini merupakan
metode yang paling populer dalam analisis kestabilan lereng. Gaya -gaya yang
bekerja pada irisan antara lain gaya berat, gaya geser antar irisan dan gaya normal
(Gambar 2.13). Asumsi yang digunakan dalam metode ini yaitu besarnya gaya
geser antar-irisan sama dengan nol dan bidang runtuh berbentuk sebauh busur
lingkaran. Kondisi kesetimbangan yang dapat dipenuhi oleh metode ini adalah
kesetimbangan gaya dalam arah vertikal untuk setiap irisan dan kesetimbangan
momen pada pusat lingkaran runtuh untuk semua irisan, sedangkan untuk
kesetimbangan gaya dalam arah horizontal dapat diabaikan.

Universitas Sriwijaya
17

Gambar 2.8. Gaya yang bekerja di tiap irisan pada metode Bishop (Geoslope,
2008)

Persamaan untuk gaya normal (N) berdasarkan kesetimbangan dalam arah


vertikal menurut metode Bishop adalah sebagai berikut :

Nilai tekanan air pori didapatkan dari penggambaran permukaan air tanah
pada penampang lereng yang dibuat (Gambar 2.14). Tekanan air pori pada irisan
dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut :

Gambar 2.9. Sketsa penggambaran tekanan air pori (Geoslope, 2008)

Universitas Sriwijaya
18

Menghitung faktor keamanan dengan metode Bishop dengan menggunakan


persamaan berikut :

Keterangan :
FK = faktor keamanan
F = nilai faktor keamanan lama atau sebelumnya
N = gaya normal pada dasar irisan (kN)
W = berat irisan (kN)
k = koefisien seismik
β = lebar dasar irisan [β = se α] m
α = sudut kemiringan dasar irisan terhadap bidang horizontal (o)
u = tekanan air pori (kPa)
c = kohesi (kPa)
θ = sudut geser dalam (o)

Perhitungan nilai faktor keamanan tidak bisa dilakukan secara langsung dan
harus dihitung dengan menggunakan aproksimasi berulang (iterasi). Aproksimasi
dilakukan beberapa kali sampai nilai perbedaan antara FK dengan FK yang
sebelumnya (F) lebih kecil dari nilai toleransi yang diberikan. Nilai toleransi yang
biasa dipakai adalah 0,001, maka FK - F < 0,001 (Geoslope, 2008).
Nilai faktor keamanan diperlukan dalam perhitungan gaya normal. Nilai F
awal yang digunakan adalah 1. Selanjutnya nilai F yang dipakai adalah nilai FK
yang lama atau sebelumnya.
Parameter yang dimasukan kedalam program geoslope adalah nilai kohesi
, sudu geser dalam θ dan density material. Nilai density digunakan untuk
menghitung berat irisan, dimana berat irisan (W) adalah density dikali dengan
lebar dan tinggi irisan. Massa diatas bidang runtuh akan dibagi menjadi beberapa
irisan. Jumlah irisan dapat ditentukan sendiri, kemudian lebar dari setiap irisan
akan disesuaikan dengan panjang dari bidang runtuh. Setiap irisan rata-rata akan
memiliki lebar yang sama, selama berada dalam satu lapisan tanah yang sama.

Universitas Sriwijaya
19

Berdasarkan penelitian yang dilakukan dan studi-studi yang menyeluruh


tentang kelongsoran, terdapat tiga kelompok rentang FK yang ditinjau dari
intensitas kelongsoranya, yaitu (Bowles, 1989) :
1. FK ≥ 1,25 : longsoran jarang terjadi
2. FK = 1,07 - 1,24 : longsoran pernah terjadi
3. FK = 1,00 - 1,07 : longsoran sering terjadi

2.4. Rancangan Sequence


Sequence adalah bentuk penambangan yang menunjukkan bagaimana suatu
pit akan ditambang, mulai dari titik awal sampai ke bentuk akhir pit. Sequence
dikenal juga dengan istilah phase atau pushback. Tujuan dari pembuatan sequence
ini yaitu untuk membagi seluruh volume yang ada dalam rancangan akhir pit ke
dalam unit-unit perencanaan yang lebih kecil sehingga lebih mudah ditangani.
Masalah perancangan tambang tiga dimensi yang sangat kompleks dapat
disederhanakan dengan pembuatan sequence (Thompson, 2005).
Parameter waktu harus diperhitungkan dalam merancang tahapan
penambangan, karena waktu merupakan parameter penting dalam kegiatan
perencanaan selanjutnya, yakni penjadwalan tambang (mine scheduling) untuk
dapat mengoptimalkan sasaran produksi (Alpiana, 2011). Tahapan-tahapan
penambangan yang dirancang secara baik akan memberikan akses ke semua
daerah kerja yang cukup untuk operasi peralatan yang efisien. Kriteria dalam
merancang tahapan penambangan adalah sebagai berikut (Thompson, 2005) :
1. Harus cukup lebar agar peralatan tambang dapat bekerja dengan baik. Lebar
sequence minimum 10-100 meter.
2. Memperhatikan sekurang-kurangnya memiliki satu jalan angkut untuk setiap
sequence, dengan memperhitungkan jumlah material yang terlibat dan
memungkinkannya akses keluar. Jalan angkut ini harus menunjukkan pula
akses ke seluruh permukaan kerja.
3. Tambang tidak akan pernah sama bentuknya dengan rancangan tahap-tahap
penambangan, karena dalam kenyataanya beberapa sequence dapat saja
dikerjakan secara bersamaan.

Universitas Sriwijaya
20

Peta penampang horizontal tampak atas (plan/level map) memperlihatkan


bentuk rancangan tambang pada akhir tiap tahapan. Peta penampang horizontal
dapat menunjukkan batas seluruh sequence pada satu atau dua elevasi jenjang
(Nurhidayat, 2007).
Peta penampang vertikal samping (cross-section) berguna untuk
menunjukkan geometri seluruh sequence (Gambar 2.15). Suatu tabulasi yang
menunjukan jumlah ton sirtu, fragmentasi, jumlah material total, dan nisbah
pengupasan perlu dibuat untuk setiap sequence. Tabulasi jumlah dan fragmentasi
material per jenjang untuk tiap sequence tersebut diperlukan untuk penjadwalan
produksi (Nurhidayat, 2007).

Gambar 2.10. Cross-section sequence pada suatu rancangan penambangan


(Nurhidayat, 2007)

Universitas Sriwijaya
BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1. Lokasi Penelitian


PT. Bukit Asam (Persero), Tbk., berlokasi di Tanjung Enim, kecamatan
Lawang Kidul, kabupaten Muara Enim, provinsi Sumatera Selatan (Gambar 3.1).
Jarak dari kota Palembang ke Tanjung Enim adalah 196 km, yang melalui jalan
raya melewati kabupaten Ogan Ilir, kota Prabumulih dan kota Muara Enim.
Waktu yang ditempuh untuk menuju Tanjung Enim dari kota Palembang adalah
sekitar 5 jam dengan menggunakan kendaraan roda empat. Area penambangan
berbatasan langsung dengan kabupaten Lahat pada sisi barat, bahkan terdapat area
penambangan yang masuk kawasan kabupaten Lahat.

Gambar 3.1. Lokasi PT. Bukit Asam

21 Universitas Sriwijaya
22

PT. Bukit Asam memiliki tiga lokasi penambangan, yakni Tambang Air
Laya, Banko Barat dan Muara Tiga Besar. Lokasi penelitian berada di Banko
Barat, tepatnya pada tambang Pit 3 Timur. Lokasi penambangan Banko Barat
berjarak sekitar 7 km dari Tanjung Enim kearah timur. Secara administratif daerah
Bangko Barat termasuk daerah lokasi kecamatan Lawang Kidul, kabupaten Muara
Enim. Banko Barat memiliki wilayah izin usaha pertambangan (IUP) seluas
4.500 Ha.
Lokasi penambangan Pit 3 Timur Banko Barat dapat ditempuh
menggunakan kendaraan roda empat melalui jalan tanah yang telah dikeraskan.
Kondisi topografi wilayah Bangko Barat umumnya bergelombang dengan
ketinggian 60 m sampai 120 m diatas permukaan air laut, terdiri atas sungai,
hutan, lembah dan beberapa area pertanian, perkebunan karet dan daerah
pemukiman penduduk.

3.2. Jadwal Penelitian


Penelitian dilakukan mulai dari tanggal 1 Juni 2015 sampai dengan 22 Juli
2015.

3.3. Metode Penelitian

3.3.1. Studi Literatur


Studi literatur merupakan pencarian bahan pustaka yang berhubungan
dengan penelitian yang dilakukan. Bahan pustaka yang digunakan dapat diperoleh
dari berbagai sumber. Fungsi dari studi literatur adalah untuk mendapatkan dasar
teori yang diperlukan untuk penelitian, sehingga mendapatkan gambaran
menyeluruh tentang apa yang dilakukan dalam penelitian. Studi literatur terdiri
dari :
1. Buku dan jurnal yang membahas mengenai dasar teori yang dipakai dalam
penelitian. Buku dan jurnal yang didapatkan berupa softcopy atau berupa file
komputer yang diperoleh dari media internet. Buku dan jurnal yang digunakan
antara lain :

Universitas Sriwijaya
23

a. Buku Open Pit Mine Planning and Design, membahas teori mengenai
perencanaan tambang, dasar dalam perancangan tambang dan perancangan
sequence.
b. Buku Surface Strip Coal Mining Handbook, membahas mengenai teori
dasar perhitungan stripping ratio dan break even stripping ratio serta
pembuatan jenjang (bench).
c. Buku Pemindahan Tanah Mekanis, membahas tentang teori geometri jalan
angkut yang meliputi perhitungan lebar jalan angkut dan kemiringan jalan.
d. Buku Stability Modeling with Slope/W, membahas mengenai dasar dalam
kemantapan lereng dan perhitungan faktor keamanan dengan metode irisan.
e. Jurnal yang digunakan merupakan jurnal yang memiliki topik pembahasan
mengenai rancangan (design) penambangan.
2. Laporan perusahaan yang diperlukan untuk penelitian berupa laporan kerja
yang bersifat harian atau bulanan. Pemahaman mengenai dasar dalam
pembuatan pit, pengoperasian program minescape dan perhitungan faktor
keamanan dengan program geoslope didapatkan dari laporan perusahaan.
Laporan perusahaan ini menjadi data pendukung dalam penelitian.

3.3.2. Orientasi Lapangan dan Pengambilan Data


Orientasi lapangan diperukan untuk melaukuan pengamatan secara
langsung terhadap kondisi lapangan. Melalui orientasi lapangan, maka didapatkan
informasi-informasi mengenai geometri penambangan yang meliputi tinggi
lereng, lebar berm, kemiringan single slope dan overall slope serta geometri jalan
angkut. Informasi mengenai geometri penambangan tersebut didapatkan melalui
wawancara langsung dengan supervisor yang bertugas. Tujuan orientasi lapangan
juga untuk mengetahui jenis alat yang digunakan, metode penambangan yang
dilakukan serta lokasi stockpile dan waste dump. Keseluruhan informasi yang
didapatkan dari orientasi lapangan menjadi dasar dan acuan dalam perancangan.
Sistem penambangan yang diterapkan di lokasi Pit 3 Timur Banko Barat
adalah sistem tambang terbuka dengan menggunakan kombinasi alat gali muat
backhoe dan alat angkut dump truck. Tahapan penambangannya terdiri dari
beberapa tahap kegiatan diantaranya:

Universitas Sriwijaya
24

1. Pembersihan Lahan (Land Clearing)


Pembersihan lahan merupakan tahap awal dalam memulai aktivitas
penambangan dan dilakukan dengan cara pembersihan pohon serta semak belukar
yang dapat menghalangi pekerjaan selanjutnya (Gambar 3.2). Alat yang
digunakan pada proses land clearing adalah Bulldozer jenis Komatsu D375A.

Gambar 3.2. Pembersihan lahan dengan menggunakan bulldozer

2. Penanganan Top Soil


Kegiatan ini dimaksudkan agar tanah yang kaya akan unsur hara dapat
terjaga untuk digunakan pada saat proses reklamasi terhadap lahan bekas
tambang. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan alat mekanis berupa
backhoe dengan jenis Komatsu PC1250 dan diangkut menuju lokasi penimbunan
menggunakan dump truck jenis Komatsu HD465 (Gambar 3.3).

Gambar 3.3. Pengangkutan top soil

Universitas Sriwijaya
25

3. Pengupasan dan Penimbunan Overburden


Kegiatan ini dimaksudkan untuk menyingkirkan lapisan tanah penutup
batubara agar penggalian batubara dapat dilakukan. Penggalian overburden
dilakukan dengan menggunakan backhoe jenis Volvo EC700. Material
overburden hasil penggalian diangkut menuju lokasi penimbunan dengan
menggunakan dump truck Komatsu HD465 (Gambar 3.4).

Gambar 3.4. Penimbunan overburden

4. Penggalian Batubara
Lapisan batubara diberai dengan menggunakan bulldozer yang dilengkapi
dengan ripper. Batubara diberai dengan menggunakan ripper kemudian didorong
menggunakan bulldozer untuk dikumpulkan pada tempat yang dekat dengan
jangkauan alat muat. Batubara dimuat dengan menggunakan backhoe Komatsu
PC750 ke dalam dump truck (Gambar 3.5).

Gambar 3.5. Penggalian dan pemuatan batubara

Universitas Sriwijaya
26

5. Pengangkutan Batubara
Batubara diangkut menuju ke temporary stock untuk dapat dilakukan proses
selanjutnya. Pengangkutan batubara ini dilakukan dengan menggunakan alat
angkut dump truck jenis Hino (Gambar 3.6).

Gambar 3.6. Pengangkutan batubara

Pengambilan data dilakukan dengan kunjungan langsung ke masing-


masing kantor satuan kerja. Setiap satuan kerja memiliki data - data yang
diperlukan untuk penelitian. Data tersebut antara lain :
1. Data sekunder, yakni data hasil survei di lapangan dalam bentuk arsip
perusahaan. Data sekunder merupakan arsip perusahaan sehingga perlu izin
untuk mendapatkannya. Data ini terdiri dari :
a. Data file minescape yang meliputi peta topografi dan data kontur struktur
batubara. Data ini didapatkan dari satuan kerja Perencanaan Operasional.
Data ini juga menjadi data utama dalam perancangan pit.
b. Data kekuatan batuan pembentuk lereng. Data ini didapatkan dari satuan
kerja Eksplorasi Rinci. Data ini digunakan dalam perhitungan faktor
keamanan lereng.
c. Data produksi batubara sampai dengan bulan Januari sampai Mei 2015.
2. Data pendukung, yakni data yang digunakan untuk membantu penelitian yang
dilakukan. Data pendukung hanya dipakai sebagai pertimbangan dan sebagai
refrensi dalam penelitian. Data pendukung yang digunakan adalah peta
sequence bulanan dan resume hasil analisis lereng. Peta sequence bulanan

Universitas Sriwijaya
27

untuk mengetahui progress dari kegiatan penambangan pada beberapa bulan


terakhir. Resume hasil analisis lereng digunakan untuk mengetahui kondisi
lereng pada area yang sudah final di lokasi penambangan.

3.3.3. Pengolahan data


Alat yang digunakan untuk pengolahan data adalah berupa program
minescape dan geoslope. Program minescape dan geoslope tersebut memiliki
lisensi pelajar (student edition) yang dapat digunakan secara umum untuk
penelitian. Bahan atau data yang akan diolah terdiri dari peta topografi dan data
kontur batubara dalm bentuk file minescape. Data tersebut diolah menggunakan
aplikasi opencut pada program minescape untuk diinterpretasikan sehingga dapat
diketahui kondisi topografi dan karakteristik lapisan batubara yang meliputi
ketebalan, kemiringan dan penyebaran lapisan batubara. Tahapan selanjutnya
yakni membuat desain pit berdasarkan parameter penambangan yang
direkomendasikan dan telah dianalisis, yang terdiri dari tinggi jenjang 9 meter,
lebar berm 10 meter, kemiringan lereng 45o, lebar jalan angkut 25 meter,
kemiringan ramp 8% dan elevasi pit bottom 20. Informasi yang didapat dari
orientasi lapangan seperti lokasi stockpile, lokasi timbunan overburden dan
metode penambangan juga menjadi pertimbangan dalam membuat desain pit.

3.3.4. Analisis dan Pembahasan


Nilai stripping ratio dari desain pit hasil dari perancangan dengan
menggunakan program minescape harus lebih kecil dari nilai stripping ratio yang
diizinkan, yakni 5. Nilai tersebut didapatkan berdasarkan kajian terhadap harga
jual batubara dan ongkos produksi penambangan. Kestabilan lereng dari desain pit
diketahui dengan perhitungan faktor keamanan (FK). Perhitungan dilakukan
dengan bantuan program geoslope dengan input data kekuatan batuan penyusun
lereng. Batas nilai FK yang stabil yang digunakan adalah lebih dari 1,25.
Rancangan tambang dikatakan layak apabila lereng dalam kondisi stabil dan nilai
stripping ratio lebih kecil dari 5. Jika belum layak, baik dari segi keamanan
maupun nilai stripping ratio, maka akan dilakukan perancangan ulang (Tabel 3.1).

Universitas Sriwijaya
28

Desain pit dibagi menjadi unit-unit yang lebih kecil agar mudah dikelola
dengan membuat rancangan sequence. Produksi yang direncanakan sebesar 1 juta
ton pertahun, dengan kemampuan produksi alat maksimal 100.000 ton
batubara/bulan.

Tabel 3.1. Analisis dan Pembahasan

No. Rumusan Masalah Metode Penelitian


1 Bagaimana kondisi tambang a. Mendapatkan data file minescape
Pit-3 Timur? mengenai kondisi tambang yang
meliputi peta topografi dan data kontur
batubara serta parameter dalam
membuat desain pit yang terdiri dari
geometri jenjang dan jalan angkut.
b. Interpretasi terhadap peta topografi dan
kontur struktur batubara untuk
mengetahui kondisi topografi dan
karakteristik lapisan batubara.

2 Bagaimana membuat a. Merancang desain pit menggunakan


rancangan (design) pit yang program minescape.
aman berdasarkan perhitungan b. Menghitung faktor keamanan pada
faktor keamanan? setiap penampang dari desain pit
menggunakan program geoslope.
c. Menghitung nilai stripping ratio.

3. Bagaimana merencanakan a. Mendapatkan desain pit layak


tahapan (sequence) berdasarkan kajian faktor keamanan
penambangan batubara dan stripping ratio.
tahunan dengan rencana b. Merencanakan produksi batubara dan
produksi 1 juta ton pertahun? memperkirakan akhir umur tambang.
c. Membuat rancangan sequence
penambangan.

Universitas Sriwijaya
29

3.3.5. Kesimpulan dan Saran


Tahapan akhir dari kegiatan penelitian adalah mendapatkan kesimpulan
serta saran untuk perusahaan (Gambar 3.7). Kesimpulan yang didapat dari analisis
dan pembahasan adalah parameter penambangan pada desain pit yang aman
berdasarkan perhitungan faktor keamanan dan rancangan sequence beserta
rencana produksinya setiap tahun. Selain itu saran juga diberikan sebagai bahan
pertimbangan untuk perencanaan penambangan pada tambang Pit 3 Timur Banko
Barat.

Universitas Sriwijaya
30

Rancangan Pit Pada Penambangan Batubara Di Pit 3 Timur Banko PT. Bukit
Asam (Persero) Tanjung Enim Sumatera Selatan

Pemahaman tentang
Studi Literatur dasar teori dalam
pembuatan desain pit,
pengoperasian
minescape dan
perhitungan faktor
keamanan menggunakan
program geoslope.

Data sekunder: peta Orientasi Lapangan dan


topografi, data kontur Pengambilan Data
batubara data
kekuatan batuan serta
data pendukung
berupa peta sequence
bulanan dan resume
hasil analisis lereng

Pengolahan Data

Menganalisis
kondisi Merancang Merencanakan
tambang desain pit sequence
penambangan

Hasil dan Pembahasan

Kesimpulan dan Saran

Gambar 3.7. Diagram Alir Penelitian

Universitas Sriwijaya
BAB 4
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Kondisi Tambang Pit 3 Timur


Tahap awal sebelum merancang desain pit adalah melakukan kajian
terhadap kondisi tambang. Tujuannya agar mendapatkan konsep mengenai bentuk
pit yang akan dirancang. Kondisi tambang yang perlu diketahui antara lain kondisi
topografi, karakteristik lapisan batubara serta potensi cadangan batubara.

4.1.1. Kondisi Topografi


Topografi merupakan keadaan muka bumi pada suatu kawasan atau daerah.
Kondisi topografi pada lokasi penambangan merupakan faktor penting dalam
menentukan metode penambangan yang digunakan dan dalam pembuatan desain
pit. Data titik ketinggian di lapangan diolah dengan program minescape sehingga
menghasilkan peta topografi (Gambar 4.1).

Gambar 4.1. Topografi wilayah tambang Pit-3 Timur

Tambang Banko Barat pada umumnya memiliki kondisi topografi yang


berbukit-bukit. Pit-3 Timur berada di sisi sebelah timur dari Banko Barat, pada

31 Universitas Sriwijaya
32

posisi northing 9.585.193 - 9.587.463 dan easting 368.882 - 372.496 pada sistem
koordinat UTM atau universal transverse mectator (Tabel 4.1). Luas daerah
topografi Pit-3 Timur adalah sebesar 818,7 hektar. Jarak horizontal dari batas
barat sampai batas timur adalah sebesar 3.600 meter dan dari batas utara sampai
batas selatan adalah sebesar 2.260 meter.

Tabel 4.1. Koordinat batas Pit-3 Timur

BATAS EASTING NORTHING


Utara - 9.587.463
Selatan - 9.585.193
Timur 372.496 -
Barat 368.882 -

Daerah terendah pada tambang Pit-3 Timur berada pada sisi selatan dengan
elevasi 62, sedangkan daerah tertitinggi berada di sisi timur dengan elevasi 118
mdpl. Perbedaan ketinggiannya dapat terlihat jelas pada tampilan triangle
topografi (Gambar 4.2).

Gambar 4.2. Tampilan triangle topografi tambang Pit-3 Timur

Bagian timur dari daerah Pit-3 Timur merupakan area yang belum dilakukan
penambangan. Daerah tersebut masih ditumbuhi tanaman dan pepohonan,
sehingga perlu dilakukan land clearing sebelum ditambang. Kondisinya berbukit

Universitas Sriwijaya
33

namun tidak terjal atau curam, terlihat dari perbedaan warna pada tampilan
triangle. Bagian barat pada daerah yang berwarna biru sampai hijau merupakan
area yang telah tertambang sampai bulan Juni 2015, yang telah sampai pada
elevasi 20. Elevasi tersebut merupakan final atau telah sampai pada batas pit limit
yang direncanakan.

4.1.2. Karaktersitik Endpan Batubara


Data hasil pemboran dari kegiatan eksplorasi dibuat pemodelan lapisan
batubaranya dengan menggunakan program minescape. Hasil proses pemodelan
akan diperoleh kontur struktur batubara (Gambar 4.3). Kontur struktur batubara
menunjukkan kontur elevasi yang sama dari top atau bottom batubara. Parameter
yang harus diinterpretasi dari kontur struktur batubara adalah ketebalan lapisan
batubara, arah penyebaran lapisan batubara dan kemiringan lapisan batubara.
Tahapan selanjutnya setelah pemodelan lapisan batubara adalah perhitungan
cadangan batubara. Perhitungan cadangan dilakukan untuk memperkirakan total
cadangan batubara yang terdapat pada daerah topografi.
Berdasarkan hasil pemodelan endapan batubara diperoleh bahwa lapisan
batubara yang terdapat di tambang Pit-3 Timur terdiri dari lima lapisan, yakni
lapisan A1, A2, B1, B2 dan C. Ketebalan dan kemiringan lapisan batubara
diketahui dari hasil interpretasi terhadap kontur batubara pada penampang cross
section dari program minescape (Lampiran 9). Hasil interpretasi dari kontur
batubara adalah sebagai berikut :
1. Lapisan A1 memiliki ketebalan rata - rata 10,7 meter dan kemiringan lapisan
sebesar 70o.
2. Lapisan A2 memiliki ketebalan rata - rata 15 meter dan kemiringan lapisan
sebesar 72o.
3. Lapisan B1 memiliki ketebalan rata - rata 15,3 meter dan kemiringan lapisan
sebesar71o.
4. Lapisan B2 memiliki ketebalan rata - rata 4,8 meter dan kemiringan lapisan
sebesar 70o.
5. Lapisan C memiliki ketebalan rata - rata 8,1 meter dan kemiringan lapisan
sebesar 70o.

Universitas Sriwijaya
34

Gambar 4.3. Kontur struktur batubara

Endapan batubara pada tambang Pit-3 Timur tersebar dari tenggara menuju
barat laut dengan kedudukan strike N 304 E dan memiliki kemiringan lapisan
(dip) rata-rata 70o. Kemiringan lapisan tersebut termasuk sangat curam untuk
lapisan batubara. Total cadangan batubara pada area topografi Pit 3 Timur sebesar
12.574.726,26 ton (Tabel 4.2). Lapisan D dan lapisan E kadang ditemui di
lapangan. Lapisan batubara ini hanya terdapat di sisi barat dari area penambangan
dan ketebalannya tidak lebih dari 1 meter. Lapisan D dan lapisan E ini tidak
terlalu diprioritaskan untuk ditambang karena lapisannya yang sangat tipis dan
kadar abu yang tinggi.

Tabel 4.2. Cadangan batubara pada tambang Pit 3 Timur

Lapisan Cadangan Nilai kalori Kadar Total Total


batubara (ton) (Kkal/kg),Ar abu (%) moisture (%) sulfur (%)
A1 2.592.672,56 5.318,34 4,49 27,54 0,75
A2 3.415.999,90 5.573,65 3,96 25,86 0,33
B1 3.648.627,77 5.408,86 3,69 25,24 0,37
B2 950.483,74 5.193,63 9,91 26,44 0,90
C 1.708.005,38 5.851,86 2,35 19,35 0,81
D 1.386,52 - - - -
E 257.550,39 - 20,32 23,97 0,65
Total 12.547.762,26

Universitas Sriwijaya
35

4.2. Rancangan Pit


Berdasarkan kondisi topografi dan karakteristik endapan batubara pada
tambang Pit 3 Timur, sistem penambangan yang diterapkan yakni sistem
penambangan terbuka (surface mining) dengan jenis tambang open pit method.
Pemilihan teknik penambangan ini dikarenakan kemiringan lapisan batubara yang
sangat curam dan cukup tebal, sehingga digunakan sistem jenjang (benching
system).
Geometri jenjang yang direkomendasikan untuk pembuatan desain pit
merupakan geometri jenjang yang saat ini diterapkan pada tambang Pit 3 Timur
(Gambar 4.4). Tinggi jenjang yang direkomendasikan yakni 9 meter. Tinggi
tersebut telah sesuai dengan kemampuan excavator yang digunakan. Jangkauan
maksimal dari excavator Komatsu PC1250 adalah 13 meter (Lampiran 5).

Lebar jenjang 10 m

Single Slope 45o

Tinggi Jenjang 9 m

Gambar 4.4. Geometri jenjang Pit-3 Timur

Lebar berm yang direkomendasikan yakni 10 meter. Lebar minimum berm


untuk tinggi lereng 9 meter berdasarkan studi yang dilakukan oleh para ahli
pertambangan adalah 7,5 meter (Tabel 2.1), sehingga lebar berm 10 meter yang
digunakan sangat aman. Fungsi berm adalah sebagai jenjang penangkap apabila
terjadi runtuhan batuan, dan dengan lebar 10 meter dirasa sudah sangat aman.
Sudut kemiringan single slope yang digunakan adalah 45o.

Universitas Sriwijaya
36

Spesifikasi alat menjadi pertimbangan penting dalam pembuatan jalan


angkut. Pertimbangan dalam menentukan lebar jalan angkut yakni lebar dump
truck yang digunakan dan jumlah jalur yang direncanakan. Alat angkut yang
paling lebar yang digunakan adalah Komatsu HD785. Lebar komatsu HD785
adalah 6 meter (Lampiran 6) dan jumlah jalur yang direncanakan adalah sebanyak
2 jalur. Paritan dan tanggul dibuat di sisi jalan angkut dengan lebar masing-
masing 2 meter. Hasil dari perhitungan (Lampiran 8) didapatkan bahwa lebar
jalan angkut sebesar 25 meter telah sesuai dengan ketentuan dan dimensi dump
truck yang digunakan (Gambar 4.5).

saluran
penyaliran

6m 6m
2m 3m 3m 3m 2m
tanggul

o
45
25 m

Gambar 4.5. Jalan angkut tambang

Kemiringan (grade) jalan angkut maksimum sebesar 8%. Grade tersebut


telah mempertimbangkan faktor efisiensi produksi. Kemiringan jalan harus
mampu diatasi oleh alat angkut yang digunakan. Setiap alat angkut dapat
mengatasi tanjakan yang berbeda-beda. Komatsu HD785 dapat mengatasi grade
jalan maksimal sebesar 13,58 % (Lampiran 7). Kemiringan jalan yang ditentukan
sebesar 8% mampu diatasi oleh dump truck Komatsu HD785.
Tahapan selanjutnya setelah semua parameter dianalisis dan telah sesuai
dengan literatur ataupun kemampuan alat adalah perancangan desain pit. Desain
pit yang dirancang adalah desain akhir tambang (final pit) atau desain pit sampai
batas akhir daerah topografi. Desain pit dibuat mengikuti arah penyebaran

Universitas Sriwijaya
37

batubara menggunakan program minescape versi 4.118 dengan parameter


rancangan yang meliputi:
1. Tinggi jenjang 9 meter.
2. Lebar berm 10 meter.
3. Sudut kemiringan lereng tunggal (single slope) 450.
4. Sudut kemiringan lereng total (overall slope) 19-250.
5. Lebar jalan angkut (ramp) 25 meter dan kemiringan (grade) 8%.
6. Dasar pit (pit bottom) pada elevasi 20
Batasan dalam perancangan desain pit adalah stripping ratio. Batas nilai
stripping ratio maksimal yang diizinkan adalah 5. Nilai tersebut didapatkan
melalui hasil kajian terhadap harga jual batubara dan biaya produksi
penambangan pada tambang Pit 3 Timur, sehingga dapat diasumsikan sebagai
nilai break even stripping ratio. Desain final pit (Gambar 4.6) akan menjadi dasar
dalam membuat merencanakan sequence penambangan tahunan.

Gambar 4.6. Desain final pit tambang Pit 3 Timur

Desain final pit dirancang berdasarkan peta topografi bulan Juni 2015,
sehingga desain ini merupakan terusan atau perpanjangan dari kondisi tambang
pada bulan Juni 2015. Desain final pit memanjang ke arah tenggara dengan

Universitas Sriwijaya
38

panjang pit 2,1 kilometer dan lebar pit 400 meter. Total luas area yang akan
ditambang adalah seluas 81 hektar. Kemiringan ramp pada desain final pit sebesar
7,9 % (Lampiran 4). Paritan atau saluran air dibuat pada bench dan jalan angkut
dengan lebar 2 meter, dengan mempertimbangkan total debit air yang masuk ke
dalam pit. Hasil dari perancangan desain final pit akan didapatkan batas bukaan
tambang (boundary). Fungsi dari boundary ini untuk mengetahui batas-batas dari
penggalian overburden dan batubara sampai akhir tambang.
Rancangan final pit harus aman dan menguntungkan. Kestabilan lerengnya
harus dijamin agar tidak megakibatkan longsoran yang membahayakan para
pekerja. Kestabilan lereng pada desain pit dapat dapat diketahui melalui
perhitungan faktor keamanan dengan bantuan program geoslope. Total batubara
dan overburden dari desain dihitung untuk mengetahui total nilai stripping ratio.

4.2.1. Analisis Kestabilan Lereng


Kestabilan suatu lereng dapat diketahui dari faktor kemananannya. Faktor
keamanan (FK) merupakan perbandingan antara gaya penahan dan gaya
penggerak yang bekerja pada suatu lereng. Semakin besar nilai faktor keamanan
dari suatu lereng maka semakin stabil lereng tersebut. Pendekatan nilai faktor
keamanan yang dilakukan, yaitu:
1. FK ≥ 1,25 : Stabil
2. FK = 1,07 - 1,24 : Riskan
3. FK = 1,00 - 1,07 : Kritis
4. FK < 1,00 : Tidak aman
Nilai faktor keamanan dihitung dengan menggunakan program geoslope
dengan pendekatan-pendekatan sebagai berikut :
1. Material dari setiap lapisan dianggap homogen dan mempunyai nilai density,
kohesi dan sudut geser dalam
2. Tinggi muka air tanah dianggap hampir mengikuti tinggi permukaan tanah atau
dalam kondisi jenuh
3. Faktor getaran (seismic load) yang dipakai adalah sebesai 0,02. faktor getaran
dapat ditimbulkan oleh alat mekanis atau peledakan. Semakin besar nilai
seismic load maka gaya penggerak pada lereng semakin besar.

Universitas Sriwijaya
39

Parameter kekuatan batuan yang digunakan dalam perhitungan faktor


keamanan yakni nilai density, kohesi dan sudut geser dalam. Data sifat fisik dan
mekanik batuan didapatkan melalui pengujian sample batuan di laboraturium yang
dilakukan oleh tim geoteknik PT. Bukit Asam (Tabel 4.3).

Tabel 4.3. Sifat fisik dan mekanik batuan (Satuan Kerja Eksplorasi Rinci, 2015)

Lapisan Clay Silt Sand Kohesi Sudut Density (γ)


(C) geser
dalam ( Φ )
% % % kPa deg kN/m3

Top Soil 50,40 48,60 1,0 23,85 14,05 18,30

Overburden A1 38,76 49,76 9,56 159,38 26,51 19,80

Seam A1 - - - 261,00 20,39 11,69

Interburden A1-A2 34,00 19,24 47,20 67,67 27,91 19,36

Seam A2 - - - 261 20,39 11,98

Interburden A2-B1 65,45 15,15 19,40 211,00 11,30 22,50

Seam B1 - - - 261 20,39 12,21

Interburden B1- B2 65,45 15,15 19,40 51,25 22,8 19,24

Seam B2 - - - 261 20,39 12,17

Interburden B2-C 40,38 42,63 16,99 187,43 23,74 21,21

Seam C - - - 160,59 32,66 12,02

Lower C 44,35 47,52 7,27 121,88 24,59 21,00

Analisis yang dilakukan adalah dengan menghitung faktor keamanan pada


penampang overall slope kedua sisi lereng pada desain final pit, yakni sisi lereng
utara dan selatan (Tabel 4.4). Jumlah penampang yang dihitung faktor
keamanannya berjumlah 20 penampang dan jarak antar setiap penampang sebesar
100 meter (Lampiran 11). Perhitungan faktor keamanan pada 20 penampang
desain pit dianggap dapat mewakili kondisi lereng Pit 3 Timur secara keseluruhan.

Universitas Sriwijaya
40

Tabel 4.4. Hasil perhitungan faktor keamanan lereng pada desain final pit

Penampang Lokasi Elevasi (m) Tinggi Sudut FK Kondisi


Lereng Top Base Lereng Lereng Lereng
(m) (O)
A - A’ Utara 93 20 73 22,9 1,641 Stabil
Selatan 92 20 72 21 1,556 Stabil
B - B’ Utara 88 20 68 21,9 1,765 Stabil
Selatan 90 20 70 20,6 1,618 Stabil
C - C’ Utara 88 21 67 21,7 1,749 Stabil
Selatan 87 21 66 19 1,585 Stabil
D - D’ Utara 90 21 69 22,6 1,603 Stabil
Selatan 108 21 81 19,9 1,322 Stabil
E - E’ Utara 105 22 83 22,5 1,553 Stabil
Selatan 119 22 97 22,3 1,263 Stabil
F - F’ Utara 108 22 86 23 1,483 Stabil
Selatan 96 22 74 21,7 1,432 Stabil
G - G’ Utara 118 22 96 23 1,419 Stabil
Selatan 112 22 90 23,2 1,296 Stabil
H - H’ Utara 93 23 70 22,3 1,744 Stabil
Selatan 105 23 82 22,1 1,367 Stabil
I - I’ Utara 90 23 67 21,6 1,770 Stabil
Selatan 101 23 78 22,2 1,410 Stabil
J - J’ Utara 99 24 75 21,8 1,648 Stabil
Sealatan 105 24 81 21,6 1,376 Stabil
K - K’ Utara 91 24 67 22 1,730 Stabil
Selatan 111 24 87 22,5 1,299 Stabil
L - L’ Utara 97 24 73 22,2 1,680 Stabil
Selatan 106 24 82 22 1,346 Stabil
M - M’ Utara 89 25 64 22,7 1,764 Stabil
Selatan 102 25 77 21,5 1,492 Stabil
N - N’ Utara 99 25 74 21,9 1,650 Stabil
Selatan 85 25 60 21,8 1,731 Stabil
O - O’ Utara 100 26 74 21,8 1,628 Stabil
Selatan 102 26 76 22 1,508 Stabil
P - P’ Utara 102 26 76 22,5 1,606 Stabil

Universitas Sriwijaya
41

Selatan 91 26 65 21,3 1,480 Stabil


Q - Q’ Utara 92 27 65 21,9 1,764 Stabil
Selatan 74 27 47 22,3 2,109 Stabil
R - R’ Utara 88 27 61 21,9 1,875 Stabil
Selatan 79 27 52 23,2 1,984 Stabil
S - S’ Utara 89 28 61 20,8 1,441 Stabil
Selatan 96 28 68 20,9 1,951 Stabil
T - T’ Utara 93 64 29 19,5 2,053 Stabil
Selatan 112 64 48 16,9 3,232 Stabil

Lereng yang hampir riskan berada pada lereng sisi selatan penampang E-E’
dengan ketinggian lereng 97 meter dan overall slope 22o. Faktor yang
mempengaruhi kestabilan lereng ini adalah geometri lereng dan kekuatan material
penyusun lereng. Semakin tinggi lereng umumnya akan semakin kecil faktor
keamanannya. Lereng pada sisi utara terbentuk dari lapisan overburden A1,
sedangkan pada sisi selatan terbentuk dari seam B1 sampai lapisan lower C.
Lereng pada sisi selatan memiliki nilai faktor keamanan yang lebih kecil
dibanding lereng pada sisi utara. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan
lapisan pada lereng sisi selatan. Bidang perlapisan ini merupakan salah fatu faktor
yang mempengaruhi kestabilan lereng. Selain itu, sifat fisik dan mekanik dari
batuan juga mempengaruhi kestabilan lereng.
Berdasarkan hasil analisis faktor keamanan lereng pada Tabel 4.3 diatas,
maka didapatkan bahwa lereng pada desain final pit memiliki kondisi yang stabil.
Sehingga dapat dinyatakan bahwa desain pit layak untuk dilakukan proses
penambangan dari segi keamanannya.

4.2.2. Perhitungan Cadangan pada Desain Pit


Perhitungan cadangan dilakukan untuk mengetahui jumlah overburden dan
batubara yang dapat diambil dari desain pit. Perhitungan cadangan dilakukan
dengan bantuan program minescape (Tabel 4.5). Nilai stripping ratio dapat
dihitung setelah jumlah batubara dan overburden diketahui. Perhitungan ini
berdasarkan perbandingan antara jumlah overburden yang digali dan total
batubara yang didapat dari desain pit.

Universitas Sriwijaya
42

Tabel 4.5. Hasil perhitungan cadangan pada desain pit

Lapisan
Volume tanah Total Volume
Batubara Tanah (bcm) batubara (ton) batubara (bcm)

Overburden 13.103.030,94
A1 1.584.065,71 1.237.883,14
Interburden A1 - A2 689.771,35

A2 2.110.158,89 1.648.975,73
Interburden A2 - B1 2.646.003,37

B1 2.265.154,33 1.769.969.07
Interburden B1 - B2 1.252.578,56

B2 464.355,36 362.815,75
Interburden B2 - C 3.589.486,99

C 386.697,82 302.131,15
Lower C 2.214.387,4

Total 23.495.258,61 6.810.432,11 5.321.734,84

Faktor koreksi yang digunakan adalah sebesar 10% yang diakibatkan karena
mining losses. Mining losses merupakan kehilangan akibat dari teknis
penambangan. Saat penggalian batubara, 20 cm dari roof dan floor lapisan
batubara serta 2 meter dari outcrop batubara tidak diproduksi sebagai batubara,
melainkan sebagai tanah. Pada bagian batubara tersebut banyak material pengotor
yang menempel pada batubara sehingga tidak layak untuk diproduksi. Mining
losses yang diperkirakan sebesar 10%, sehingga Perolehan batubara menjadi 90%
dari total cadangan batubara pada desain pit. Maka total perolehan batubara dan
nilai stripping ratio adalah sebagai berikut:

Total batubara = jumlah batubara x 90%


= 6.810.432,11ton x 90 %
= 6.129.388,90 ton
Total overburden = volume overburden + (10% volume batubara)
= 23.495.258,61 bcm + (10% x 5.321.734,84 bcm)
= 24.027.432,09 bcm
Stripping ratio = total overburden : total batubara
= 24.027.432,09 : 6.129.388,90
= 3,92

Universitas Sriwijaya
43

Nilai stripping ratio maksimal yang diizinkan oleh tim perencanaan PTBA
untuk tambang Pit-3 Timur yakni sebesar 5. Nilai tersebut ditentukan dari kajian
dan analisis oleh tim Perencanaan PTBA berdasarkan harga batubara, biaya
penggalian batubara dan overburden, serta ongkos produksi lainnya pada tambang
Pit 3 Timur. Sehingga dapat diasumsikan nilai tersebut merupakan break even
stripping ratio (BESR). Semakin kecil nilai stripping ratio maka akan semakin
menguntungkan untuk ditambang. Nilai stripping ratio yang didapat dari desain
adalah sebesar 3,92, lebih kecil dari nilai break even stripping ratio yakni sebesar
5. Sehingga desain pit dapat dikatakan layak dengan total cadangan yang dapat
ditambang sebesar 6.129.388,90 ton.

4.3. Rencana Sequence Penambangan


Rancangan final pit dibagi kedalam unit lebih kecil agar lebih mudah untuk
kegiatan penambangan kedepannya. Tahapan penambangan (sequence)
menjelaskan bagaimana kegiatan penambangan akan dilaksanakan, mulai dari
awal sampai akhir tambang. Faktor yang menjadi pertimbangan dalam
merencanakan sequence penambangan antara lain letak penimbunan overburden,
letak stockpile dan jalan angkut, serta target produksi yang direncanakan.
Penambangan dimulai dari barat laut menuju ke tengggara mengikuti
penyebaran batubara. Penanganan overburden dilakukan dengan cara backfilling,
yakni overburden akan langsung ditimbun pada area final yang telah dilakukan
penggalian. Metode ini dipilih karena lokasi tempat penimbunan overburden saat
ini sudah sangat tinggi dan menumpuk, sehingga tidak memungkinkan lagi untuk
ditimbun pada lokasi tersebut. Selain itu juga dengan metode backfilling akan
mengurangi resiko longsoran pada bekas area tambang.
Target produksi yang direncanakan adalah sebesar 1 juta ton pertahun,
untuk penyediaan bahan bakar PLTU Banko Tengah. Jumlah ini telah sesuai
dengan kemampuan produksi dari alat di Pit 3 Timur. Kemampuan produksi
maksimal dari alat di Pit 3 Timur adalah sebesar 100.000 ton batubara perbulan,
sehingga kemampuan produksi maksimal sebesar 1,2 juta ton pertahun. Jumlah
cadangan pada desain pit yang dapat diproduksi sebesar 6.129.388 ton, sehingga

Universitas Sriwijaya
44

diperkirakan umur tambang selama 6 tahun atau dari Juni 2015 sampai akhir
Desember 2020 (Gambar 4.7).

Gambar 4.7. Desain sequence penambangan

Pertimbangan dalam penentuan batas penambangan setiap tahunnya adalah


nilai stripping ratio. Nilai stripping ratio dari rancangan sequence penambangan
setiap tahunnya harus kurang dari nilai stripping ratio yang diizinkan yakni
sebesar 5.
Berdasarkan rancangan sequence, maka didapatkan rancangan tahapan
penambangan setiap tahunnya adalah sebagai berikut:
1. Rancangan penambangan tahun 2015
Total batubara yang akan ditambang pada bulan Juni sampai akhir tahun
2015 adalah sebesar 669.086 ton dan overburden sebesar 2.748.097 bcm,
sehingga nilai stripping ratio adalah sebesar 4,11. Total batubara yang sudah
ditambang mulai dari Januari sampai dengan Mei adalah sebesar 346.714 ton
(Lampiran 10). Jadi seluruh batubara yang ditambang pada tahun 2015 adalah
sebesar 1.015.800 ton.

Universitas Sriwijaya
45

Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 104 sampai


elevasi 20 dengan luas area yang ditambang sebesar 17,7 hektar.
2. Rancangan penambangan tahun 2016
Total batubara yang akan ditambang pada tahun 2016 adalah sebesar
1.191.791 ton dan volume overburden sebesar 5.126.285 bcm, sehingga nilai
stripping ratio adalah sebesar 4,30.
Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 118 sampai
elevasi 21 dengan luas area yang ditambang sebesar 15,3 hektar.
3. Rancangan penambangan tahun 2017
Total batubara yang akan ditambang pada tahun 2017 adalah sebesar
1.140.405 ton dan volume overburden sebesar 4.012.668 bcm, sehingga nilai
stripping ratio sebesar 3,52.
Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 116 sampai
elevasi 22 dengan luas area yang ditambang sebesar 10,1 hektar.
4. Rancangan penambangan tahun 2018
Total batubara yang akan ditambang pada tahun 2018 adalah sebesar
1.013.290 ton dan volume overburden sebesar 3.736.708 bcm, sehingga nilai
stripping ratio sebesar 3,69.
Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 116 sampai
elevasi 24 dengan luas area yang ditambang sebesar 10,1 hektar.
5. Rancangan penambangan tahun 2019
Total batubara yang akan ditambang pada tahun 2019 adalah sebesar
1.049.880 ton dan volume overburden sebesar 3.207.481 bcm, sehingga nilai
stripping ratio sebesar 3,06.
Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 108 sampai
elevasi 25 dengan luas area yang ditambang sebesar 10,1 hektar.
6. Rancangan penambangan tahun 2020
Total batubara yang akan ditambang pada tahun 2020 adalah sebesar
1.064.833 ton dan volume overburden sebesar 5.196.190 bcm, sehingga nilai
stripping ratio sebesar 4,88.
Penggalian overburden dan batubara dilakukan pada elevasi 110 sampai
elevasi 26 dengan luas area yang ditambang sebesar 15,3 hektar.

Universitas Sriwijaya
BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil berdasarkan data hasil dan pembahasan
dalam rancangan desain tambang batubara di Pit-3 Timur Bangko Barat adalah
sebagai berikut :
1. Pit-3 Timur memiliki luas area topografi sebesar 818,7 hektar dan potensi
cadangan sebesar 12.574.726,26 ton. Lapisan batubara pada tambang Pit-3
Timur terdiri dari lima lapisan, yakni lapisan A1, A2, B1, B2 dan C dengan
penyebaran batubara dari arah tenggara menuju barat laut dan kemiringan
lapisan sebesar 70o serta ketebalan lapisan antara 4,8 - 15,3 meter.
2. Luas area penggalian dari desain pit adalah sebesar 81 hektar dan batas
penggalian sampai kedalaman 20 mdpl dengan bentuk pit mengarah dari
barat laut ke tenggara sepanjang 2,1 kilometer dengan tinggi lereng 9 meter,
lebar berm 10 meter, single slope 45o , lebar jalan angkut 25 meter dan
kemiringan (grade) jalan angkut 8%. Jumlah cadangan batubara dari desain
pit yang dirancang sebesar 6.129.388,90 dan nilai stripping ratio 3,92.
3. Penambangan direncanakan sampai tahun 2020 dengan target 1 juta ton per
tahun dan nilai stripping ratio maksimal yang diizinkan adalah 5. Rencana
produksi batubara pada tahun 2015 (mulai dari bulan Juni) sebesar 669.086
ton dan nilai stripping ratio 4,11, tahun 2016 sebesar 1.191.791 ton dan
nilai SR 4,30, tahun 2017 sebesar 1.140.405 ton dan nilai SR 3,52, tahun
2018 sebesar 1.013.290 ton dan nilai SR 3,69, tahun 2019 sebesar 1.049.880
ton dan nilai SR 3,97, tahun 2020 sebesar 1.064.833 ton dan nilai SR 4,88.

5.2. Saran
Saran yang dapat diberikan dari kegiatan penelitian yang telah dilakukan di
tambang Pit-3 Timur Banko Barat adalah sebagai berikut:
1. Pengawasan sebaiknya dilakukan secara intensif guna merealisasikan desain
pit yang telah dirancang.

46 Universitas Sriwijaya
47

2. Mine plan atau engineer harus memberikan pemahaman yang baik kepada
pengawas mengenai desain pit yang telah dirancang, agar dalam melakukan
penambangan tidak melenceng dari desain yang direncanakan.
3. Daerah yang telah mencapai final dapat dilakukan penimbunan backfilling,
sehingga proses reklamasi dapat dilakukan secepatnya.

Universitas Sriwijaya
DAFTAR PUSTAKA

Alpiana, (2011). Rancangan Desain Tambang Batubara di PT Bumi Bara Kencana


di Desa Mahasa Kec Kapuas Hulu Kab Kapuas Kalimantan Tengah,
Media Bina Ilmiah, 23-28.

Bowles, Joseph, E. (1989). Sifat-sifat Fisis dan Geoteknik Tanah (Mekanika


Tanah) Edisi kedua. Jakarta : Erlangga.

Fernando, Maryanto, Chamid, C. (2015). Perancangan Pit II Penambangan


Batubara Sistem Tambang Terbuka pada Blok 3 PT. Tri Bakti Sinarmas
Desa Ibul Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi
Provinsi Riau. Prosiding Penelitian SPeSIA 2015, Bandung : Fakultas
Teknik.

Geoslope. (2008). Stability Modeling with SLOPE/W 2007 Version. Calgary :


GEO-SLOPE International Ltd.

Hustrulid, W., Kuctha, M., Martin, R. (2013). Open Pit Mine Planning and
Design Volume 1 Fundamental Third Edition. Leiden : Balkema.

Indonesianto, Y. (2005). Pemindahan Tanah Mekanis. Yogyakarta : Seri


Tambang Umum UPN Veteran.

Novian, R. (2008). Rancangan Penambangan Batu Granit di Daerah Kecamatan


Rao Utara Kabupaten Pasaman Provinsi Sumatera Barat. Skripsi,
Fakultas Teknologi Mineral : Universitas Pembangunan Nasional.

Nurhidayat, Y. (2007). Rancangan Teknis Penambangan Batubara untuk Pilot


Mining Project Pt. United Coal Indonesia Kecamatan Tering Kabupaten
Kutai Barat Provinsi Kalimantan Timur. Skripsi, Fakultas Teknologi
Mineral : Universitas Pembangunan Nasional.

Saputra, D., Asof, M., Hastuti, E.W.D., (2013). Rancangan Teknis Penambangan
Batubara di Blok Selatan PT.Dizamarta Powerindo Lahat Sumatera
Selatan. Jurnal Ilmu Teknik, 2(3).

Thompson, R.J. (2005). Surface Strip Coal Mining Handbook. Johannesburg :


South African Colliery Manager Association.

Waterman, S. (2010). Perencanaan Tambang. Yogyakarta : Jurusan Teknik


Pertambangan UPN Veteran.

48 Universitas Sriwijaya
Lampiran 1. Topografi Tambang Pit-3 Timur

Gambar 1.b. Peta Topografi wilayah tambang Pit-3 Timu


49
Universitas Sriwijaya
Lampiran 2. Desain Final Pit Tambang Pit-3 Timur

Gambar 2.a. Peta desain final pit tambang Pit-3 Timur

50
Universitas Sriwijaya
Lampiran 3. Pengoperasian Minescape untuk Perancangan Final Pit

Program minescape yang digunakan pada penelitian ini adalah minescape


versi 4.118 (Gambar 3.a). Aplikasi yang digunakan untuk perancangan pit adalah
open cut. Aplikasi open cut dapat membuat desain tambang untuk operasi
produksi jangka pendek dan studi kelayakan jangka panjang karena dapat
menghitung volume burden dan batubara dari desain yang dibuat.
Data penting dalam perancangan desain dengan menggunakan program
minescape adalah :
1. Data permukaan (surface), yang terdiri dari topografi dan situasi.
2. Data kontur struktur batubara.
3. Informasi mengenai geometri jenjang yang akan dirancang.
Data surface dan data kontur struktur batubara yang diperlukan adalah
dalam bentuk design file atau dalam format DGN file.

Gambar 3.a. Program minescape versi 4.118

Tahapan dan prinsip dalam merancang desain final pit adalah sebagai
berikut :
1. Membuat pit bottom
Pit bottom merupakan bench dengan elevasi paling rendah atau dasar dari
pit. Elevasi dari pit bottom disesuaikan dengan keadaan surface dan kontur

51
Universitas Sriwijaya
struktur batubara. Tidak ada rumus baku dalam menentukan lebar dari pit bottom,
namun disesuaikan dengan dimensi alat yang digunakan dan penyebaran batubara.
Setelah dimensi dari pit bottom telah ditentukan selanjutnya adalah
membuat garis pada topografi dengan menggunakan menu draw - line. Garis
dibuat sehingga membentuk dasar pit mengikuti kontur struktur batubara
(Gambar3.b). Setelah dasar pit terbentuk, garis ini dikonversikan ke bentuk
poligon dengan menu edit - convert to poligon. Masukkan elevasi dari pit bottom
dengan menu edit - element edit.

Gambar 3.b. Plotting garis pit bottom

2. Membuat jenjang
Geometri jenjang terdiri dari tinggi jenjang, lebar jenjang, dan kemiringan
lereng. Lebar dan tinggi jenjang ditentukan berdasarkan jenis alat angkut dan alat
gali yang digunakan, sedangkan kemiringan lereng ditentukan berdasarkan
karakter batuan pada tambang.
Setelah pit bottom dibuat, selanjutnya adalah pembuatan crest. Crest
merupakan titik puncak dari suatu jenjang. Pit bottom adalah sebagai toe atau
dasar dari jenjang. Crest dibuat dengan menu draw - project, yang berfungsi untuk
membuat garis sejajar dengan ketinggian dan kemiringan yang dapat ditentukan
(Gambar 3.c). Dengan kata lain, tools project digunakan untuk membentuk suatu
lereng.

Universitas Sriwijaya
Gambar 3.c. Plotting garis crest menggunakan project element

Garis toe dan crest dapat dibedakan warnanya atau dibuat garis putus-putus
untuk toe seperti pada Gambar 3.c. Crest ditunjukan oleh garis berwarna biru pada
Gambar 3.c. Lebar jenjang dibuat dengan menu draw - offset, yang fungsinya
untuk membuat garis sejajar pada elevasi yang sama dengan jarak yang dapat
ditentukan. Selanjutnya adalah membuat garis crest dan toe dengan langkah yang
sama dan seterusnya sampai pada surface (Gambar 3.d).

Gambar 3.d. Plotting garis crest dan toe

Desain tersebut masih dalam bentuk design file, maka perlu dibuat model
triangle agar desain dapat diolah lebih lanjut. Cara membuat design triangle
adalah dengan menu model - triangles design. Masukkan desain yang telah dibuat
pada bagian input dan berikan nama desain triangle yang akan dibuat pada bagian
triangles, sehingga akan didapatkan triangle design (Gambar 3.e).

Universitas Sriwijaya
Gambar 3.e. Pembuatan triangle design

3. Membuat boundary
Boundary merupakan batasan dari area yang akan dilakukan penggalian
overburden. Penggalian overburden akan dilakukan di sepanjang area yang berada
dalam batasan boundary.
Garis crest dan toe pada desain masih memotong kontur dari surface,
sehingga perlu dihapus atau dipotong. Elevasi dari garis pada desain yang dihapus
harus berada pada elevasi yang sama dengan garis kontur yang memotongnya.
Untuk memudahkan dalam pemotongan garis, maka diperlukan garis
intersect yang merupakan titik -titik tempat perpotongan antara desain dengan
kontur surface. Garis intersect ini dibuat dengan menu model - triangles intersect.
pada bagian input, masukkan model triange dari desain yang dibuat sebagai
bottom dan model triangle dari surface sebagai top (Gambar 3.f).

Gambar 3.f. Garis intersect pada desain final pit

Universitas Sriwijaya
Garis intersect ditunjukan oleh garis berwarna merah pada Gambar 2.17.
Selanjutnya adalah proses pemotongan garis pada desain yang berada diluar dari
intersect. Caranya adalah dengan menggunakan menu edit - relimit - trim to
boundary. Pilih garis intersect sebagai boundary lalu pilih garis pada desain yang
berada diluar dari bounday kemudian akan terhapus secara otomatis. Hasil dari
proses pemotongan ini akan didapatkan boundary pada desain pit (Gambar 3.g).

Gambar 3.g. Boundary pada desain final pit

Volume buden dan batubara dari desain pit yang dibuat dapat diketahui
dengan menggunakan program minescape. Dalam perhitungan volume burden dan
batubara data yang diperlukan adalah data triangle file dari desain pit dan data
triangle file dari surface (Gambar 3.h). Perhitungan volume dapat dilakukan
menggunakan program minescape dengan menu reserves - sample - triangles.
Data surface sebagai top dan desain pit sebagai bottom.

Universitas Sriwijaya
Gambar 3.h. Perhitungan volume overbuden dan batubara

Output dari proses ini adalah berupa laporan/report. Laporan ini dieksport
ke dalam bentuk microsoft excel agar hasil dari perhitungan dapat diolah. Caranya
dengan menggunakan tools minescape explorer.

Universitas Sriwijaya
Lampiran 4. Perhitungan Ramp pada Rancangan Final Pit

Ramp dibuat pada desain menghubungkan antara pit bottom menuju jalan
angkut utama menuju stockpile (Gambar 4.a). Jalan angkut utama pada kondisi
topografi bulan Juni 2015 berada pada elevasi 47. Ramp dibuat dari pit bottom
pada elevasi 21 sampai pada jalan angkut utama pada elevasi 47. Jarak mendatar
yang diukur dari program minescape adalah 328 meter. Kemiringan ramp adalah :
h
Grade () = x 100%
x

= 7,9 %

Gambar 4.a. Ramp pada rancangan final pit

57
Universitas Sriwijaya
Lampiran 5. Dimensi dan Working Range Excavator Backhoe Komatsu PC1250

Gambar 5.a. Bagian-bagian dari exavator backhoe PC1250

Berdasarkan gambar diatas, dimensi dari exavator backhoe Komatsu


PC1250 ditunjukan pada Tabel 5.a.

Tabel 5.a. Dimensi exavator backhoe PC1250

Milimeter
A B C D E F G H I J K M N
PC1250 4995 6425 1790 4670 3470 4120 960 3600 700 4600 3925 16050 6500

Gambar 5.b. Working range pada excavator backhoe PC1250

58
Universitas Sriwijaya
Tabel 5.b. Working range backhoe PC1250

Milimeter
Boom Arm A B C D E F G
length length
PC1250 9100 3400 13400 8680 9350 7610 9220 15000 15350

Universitas Sriwijaya
Lampiran 6. Spesifikasi dan Dimensi Dump Truck Komatsu HD785

Gambar 6.a. Bagian-bagian dari dump truck HD785

Dimensi dari alat angkut dump truck Komatsu HD785 ditunjukan pada tabel
berikut :

Tabel 6.a. Dimensi dump truck K HD785

Panjang
(mm)
A 10290
B 5050
C 5530
D 4950
E 3190
G 450
H 775
J 4325
K 3500
M 7065
N 5200
P 985
Q 48O
R 4285
S 10080

60
Universitas Sriwijaya
Total lebar dari dump truck adalah C + G, maka lebar dari dump truck
HD785 adalah 5980 mm atau dibulatkan 6 meter.
Spesifikasi dari dump truck HD785 ditunjukan pada tabel berikut :

Tabel 6.b. Spesifikasi dump truck HD785


HD785
Weight
Empty vehicle weight Kg 67000
Gross vehicle weight Kg 158000
Max gross vehicle weight Kg 166000

Gross horsepower HP 1050


Net horsepower HP 1010

Hauling Capacity
Maximum load m. ton 91
Heaped capacity m3 60

Performance
Maximum speed Km/h (MPH) 65 (40,4)
Turning radius m 9,9

Tires
Front tire 27,00 R49 x 2
Rear tire 27,00 R49 x 4

Capacity
Fuel tank ltr 1250

Universitas Sriwijaya
Lampiran 7. Perhitungan Kemiringan Jalan Maksimal untuk Komatsu HD785

Spesifikasi dump truck Komatsu HD785 adalah sebagai berikut :

 Berat bermuatan = 158 ton


 Berat Kosong = 67 ton
 Tenaga mesin = 1050 HP
 Faktor koefisiensi alat = 0,85 (memuaskan)
 Kecepatan maksimal pada gear 1 = 6,8 mph

Rimpull yang diperlukan :


1. Rimpull untuk mengatasi tanjakan atau grade resistance. (misal = a%)
= Berat bermuatan . 20 lb/ton . a
= 158 ton . 20 lb/ton . a
= (3160 a) lb

2. Rimpull untuk mengatasi rolling resistance


Besar nilai rolling resistance tergantung dari jenis tanah pada jalan angkut
(Tabel 7.a)

Tabel 7.a. Nilai rolling resistance (RR) pada beberapa jenis tanah

62
Universitas Sriwijaya
Nilai RR yang digunakan adalah 40 lb/ton, maka total RR adalah :
= Berat bermuatan . 40 lb/ton
= 158 x 40 lb/ton
= 6320 lb

Total rimpull yang diperlukan = 3160 a + 6320 lb

Rimpull yang tersedia pada Komatsu HD785


= 375 x HP x efisiensi / kecepatan
= 375 x 1050 x 0,85 / 6,8
= 49.218,75 lb

Total rimpull yang diperlukan = total rimpull yang tersedia


3160 a + 6320 = 49.218,75
a = 13,58 %

Jadi grade jalan angkut (ramp) maksimal yang mampu diatasi oleh
Komatsu HD785 adalah sebesar 13,58%

Keterangan :
20 lb/ton = 1%

Universitas Sriwijaya
Lampiran 8. Perhitungan Lebar Jalan Angkut

Parameter dalam perhitungan lebar jalan angkut :


 Lebar dump truck (Wt) = 6 meter
 Jumlah jalur (n) = 2 jalur

Lebar jalan angkut dapat dihitung sesuai ketentuan The American


Association of State Highway and Transportation Officials (AASHTO) sebagai
berikut:

L min = n. Wt + (n + 1) (0,5. Wt)


= (2 x 6) + (2 + 1) (0,5 x 6)
= 12 + 9 = 21 meter

Perhitungan tersebut belum termasuk lebar tanggul dan parit. Pembuatan


tanggul dan parit sangat diperlukan pada rancangan pit tambang terbuka untuk
mengalirkan air. Apabila aliran air tidak diperhatikan, maka dapat mengganggu
proses penambangan yang sedang berlangsung. Lebar parit dan tanggul adalah
sebesar 2 meter, sehingga lebar jalan angkut adalah 25 meter.

64
Universitas Sriwijaya
Lampiran 9. Ketebalan dan Kemiringan Lapisan Batubara

Gambar 9.a. Cross section pada desain final pit

Interpretasi terhadap kontur batubara dilakukan pada enam penampang, yakni A-A’, D-
D’, - ’, L-L’, - ’ dan T-T’ Proses ini dilakukan untuk mengetahui ketebalan lapisan
batubara (Tabel 9.a) dan kemiringan lapisan batubara (Tabel 9.b)

Tabel 9.a. Ketebalan lapisan batubara

Penampang Ketebalan (m)


Seam A1 Seam A2 Seam B1 Seam B2 Seam C
A-A’ 14,6 14,3 15,2 4,5 11,7
D-D’ 7,4 10,4 11,8 4,7 6
H- ’ 12,1 18,4 11,1 3,6 6,5
L-L’ 12,3 20,1 19,3 4,4 9,7
P- ’ 6,2 7,6 18,2 7,1 6,5
T-T’ 11,8 19,9 8,6

Rata-rata 10,7 15 15,3 4,8 8,1

65
Universitas Sriwijaya
Tabel 9.b. Kemiringan dan strike batubara

Lapisan Kemiringan Lapisan (o) Strike


A-A’ D-D’ H- ’ L-L’ P- ’ T-T’
A1 75 72 71 70 73 68 308NE
A2 73 73 71 71 64 67 306NE
B1 72 75 70 71 68 304NE
B2 72 77 72 70 65 304NE
C 71 74 74 70 72 69 306N

Universitas Sriwijaya
Lampiran 10. Data Produksi Tahun 2015 pada Tambang Pit 3 Timur

Tabel 10.a. Data produksi tahun 2015

Bulan Batubara Tanah


(ton) (bcm)
Januari 58.154 350.883
Februari 57.709 264.383
Maret 85.608 365.395
April 51.913 246.654
Mei 93.329 469.619
Juni 82.140 449.745
Juli 67.922 328.013
Agustus 78.557 350.166
September 62.577 275.337
Oktober 64.989 290.449
Nopember 61.468 285.322
Desember 53.937 260.610

TOTAL 818.303 3.936.578

Universitas Sriwijaya
Lampiran 11. Hasil Perhitungan Faktor Keamanan Lereng pada Desain Final Pit

Universitas Sriwijaya
69
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya
Universitas Sriwijaya