Anda di halaman 1dari 10

TUGAS PPN

PRAKTIKUM KIMIA ANALISIS


TITRASI ARGENTOMETRI

NAMA :DIAN TRIYUWONO


NIM :09023218
DOSEN :PAK MUSTOFA AHDA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
2013
BAB 1

DASAR TEORI ARGENTOMETRI

Argentometri merupakan salah satu cara untuk menentukan kadar zat dalam suatu
larutan yang dilakukan dengan titrasi berdasarkan pada pembentukan endapan dengan ion
Ag+. Salah satu cara untuk menentukan kadar asam-basa dalam suatu larutan adalah dengan
volumetri (Day & Underwood, 2001).
Argentometri merupakan titrasi pengendapan sampel yang dianalisis dengan
menggunakan ion perak. Biasanya, ion-ion yang ditentukan dalam titrasi ini adalah ion
halida(Cl-, Br-, I-) (Khopkar,1990).
Suatu reaksi pengendapan dapat dimanfaatkan untuk keperluan penetapan secara
volumetrik asalkan dapat dipastikan asalkan dapat dipastikan bahwa reaksi pengendapan
tersebut dapat berjalan secara sempurna. Karenanya , larutan perak nitrat dimasukkan ke
dalam larutan NaCl akan terbentuk endapan perak klorida dan titik akhirnya adalah saat
dimana semua klorida diendapkan menjadi perak klorida.

NaCl + AgNo3  endapan AgCl + NaNO3

Kendati demikian mengamati sempurnanya terjadi suatu reaksi pengendapan karena


penambahan suatu larutan sulit dilakukan, dan biasanya dibuatkan suatu reaksi kimia yang
menyebabkan terjadi endapan berwarna atau larutan berwarna pada saat titik akhir tercapai.
Untuk keperluan ini dapat dipakai larutan kalium kromat; perak nitrat yang ditambahkan pada
klorida akan diendapkan sebagai perak klorida. Selanjutnya, jika semua klorida telah
diendapkan, tetesan perak nitrat berikutnya menyebabkan terjadinya reaksi pengendapan
kromat berwarna merah yang menanndakan titik akhir telah tercapai. (Beckett,1968)

Titik akhir dapat ditetapkan dengan cara sebagai berikut:

1. Dengan menambahkan larutan baku ke dalam larutan zat yang dianalisa sampai selanjutnya
timbul endapan. Metode ini sering dipakai dalam penentuan kandungan klorida dari ion
klorida dengan menggunakan larutan perak nitrat.
2. Dengan menambahkan larutan baku ke dalam larutan zat yang jernih yang akan dianalisa
sampai suatu endapan mulai terbentuk. Ini seringkali digunakan dalam titrasi alkalisianida
dengan larutan baku perak nitrat.
3. Dengan memakai indikator.

Indikator yang umum digunakan adalah:

 Besi (III) ammonium sulfat, dibuat dengan melarutkan 8g Besi (III) ammonium
sulfat dalam aquades hingga 100ml. Indikator ini digunakan untuk titrasi langsung
maupun titrasi kembali dengan larutan baku amoniumtiosianat, terhadap Ag+ dan
Hg2+. Tiosianat bereaksi dengan besi (III) ammonium sulfat membentuk besi (III)
tiosianat berwarna merah.
 Kalium kromat, dibuat dengan melarutkan 10g kalium kromat dengan aquades
secukupnya hingga 100ml. Digunakan untuk mentitrasi larutan klorida dengan
larutan baku larutan perak nitrat. Titik akhir ditentukan dengan terbentuknya perak
kromat yang berwarna merah intensif.
 Diiodofluorescein, dibuat dengan melarutkan 0,5 g diiodofluorescein dalam
campuran 75 ml alcohol dan 30 ml air. Digunakan untuk titrasi halide secara
langsung menggunakan larutan baku perak nitrat.
 Diklorofluorecein, dibuat dengan melarutkan 0,1 g diklorofluorescein dalam 60 ml
alcohol, ditambah 2,5ml NaOH 0,1N dicampur dan diencerkan dengan air hingga
100ml. Digunakan sebagai indicator absorbs un tuk titrasi halide secara langsung
dengan menggunakan larutan baku perak nitrat. Titik akhir ditunjukkan jika warna
endapan perak halogen berubah nyata karena menyerap indicator. Perubahan warna
lebih baik pada sinar difusi.

Metode-metode dalam titrasi argentometri:

1. Metode mohr
Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam
susana netral dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan kalium kromat sebagai
indikator. Pada permulaan titrasi akan terjadi endapan perak klorida dan setelah tercapai titik
ekuivalen, maka penambahan sedikit perak nitrat akan bereaksi dengan kromat dengan
membentuk endapan perak kromat yang berwarna merah.

Metode ini dilakukan dalam suasana netral, maka cara untuk menetralkan larutan
yang asam adalah menambahkan CaCO3 atau natrioum bikarbonat secara berlebihan. Untuk
larutan asam, diasamkan lebih dahulu dengan asam asetat kemudian ditambah kalsium
karbonat sedikit berlebihan.

2. Metode Volhard

Titrasi Ag dengan NH4SCN dengan garam Fe (III) sebagai indikator adalah contoh
metode volhard, yaitu pembentukan zat warna dalam larutan. Selama titrasi, Ag(SCN)
terbentuk sedangkan titik akhir dicapai bila NH4SCN berlebih bereaksi dengan membentuk
larutan berwarna merah gelap yaitu [Fe(SCN)]2+. Jumlah tiosianat yang menghasilkan warna
harus sedikit.

Pada metode volhard, dalam menentukan kadar klorida, harus dalam susana asam
karena pada suasana basa Fe3+ akan terhidrolisis. Pada metode ini digunakan titrasi balik
karena AgNO3 berlebih yang ditambahkan ke larutan klorida tetntunya tidak bereaksi.
Larutan tersebut dititrasi balik dengan besi (III) amonium sulfat sebagai indikator. Cara ini
kurang akurat karena endapan yang dihasilkan yaitu AGSCN kurang larut dibanding AgCl.

3. Metode Fajans

Pada metode ini digunakan indikator absorpsi yang mana pada titik ekuivalen,
indikator terabsorpsi oleh endapan, bukan bereaksi dengan titran. Indikatornya tidak
memberikan perubahan warna pada larutannnya, melainkan endapannnya. Jadi titik akhir dari
metode ini dilihat dari perubahan warna endapan yang terbentuk.

Hal-hal yang harus diperhatikan dalam metode ini adalah endapan harus dijaga tetap
dalam bentuk koloid. Larutan tidak bolhe terlalu encer karena sehingga akan memebentuk
endapan yang sedikit yang mengakibatkan perubahan warna yang tidak jelas. Ion indikator
harus tidak terabsorpsi sangat kuat, seperti misalnya pada titrasi korida dengan indikator
eonsin, yang mana indikatornya terabsorpsi terlebih dahulu sebeleum titik ekuivalen tercapai.

4. Metode Liebig
Metode Liebig; Pada metode ini tiitk akhir titrasinya tidak ditentukan dengan
indikator, akan tetapi ditunjukkan dengan terjadinya kekeruhan. Ketika larutan perak nitrat
ditambahkan kepada larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih, tetapi pada
penggojokan larut kembali karena terbentuk kompleks sianida yang stabil. Jika reaksi telah
sempurna, penambahan larutan perak nitrat lebih lanjut akan menghasilkan endapan perak
sianida. Titik akhir ditunjukkan oleh terjadinya kekeruhan yang tetap. Kesukaran dalam
memperoleh titik akhir yang jelas disebabkan karena sangat lambatnya endapan melarut pada
saat mendekati ititk akhir.
BAB II
STUDI KASUS ARGENTOMETRI

Pada studi kasus ini mengacu pada jurnal yang dipilih tentang titrasi argentometri, dan akan
dibahas secara singkat permasalahan yang terjadi dan penyelesaiannya.

1. Jurnal Konsentrasi Indikasi Terkontrol pada argentometri Mohr (lampiran 1)


Di dalam jurnal ini dibahas bagaimana cara konsentrasi indikator terkontrol harus dilakukan,
agar analisis volumetri khususnya analisis Argentometri diperoleh hasil yang terbaik atau
kesalahan analisis dapat diperkecil.

a) PENDAHULUAN
Suatu indikator diharapkan dapat memberikan tanggap tepat pada saat terjadi titik ekivalen
antara titran dan titrat. Maksudnya bahwa titik akhir titrasi dapat terjadi sedekat mungkin dengan
titik ekivalen. Namun pada kenyataannya titik akhir titrasi selalu bergeser dari titik ekivalen atau
terjadi kesalahan titrasi. Kesalahan titrasi dapat disebabkan oleh kesalahan pada pemilihan
indikator, konsentrasi indicator yang tidak sesuai dan karena kurang teliti dalam pengamatan (Day
dan Underwood:1994). Menurut Khopkar (1990), kesulitan yang terjadi pada titrasi pengendapan
adalah sulitnya memilih indikator yang sesuai, sehingga kesalahan titrasi bisa diperkecil.
Pada tahun 1885 Mohr menemukan salah satu titrasi pengendapan yang selanjutnya disebut
sebagai metoda Mohr. Pada titrasi tersebut larutan standar yang digunakan adalah perak nitrat.
Larutan analit pada umumnya adalah halogen. Indikator yang digunakan adalah kalium kromat.
Prinsip dari titrasinya adalah, mulamula penambahan larutan standar akan menyebabkan
terjadinya endapan perak dengan halogen. Setelah semua halogen mengendap maka, sedikit
kelebihan larutan standar akan menyebabkan terjadinya reaksi terhadap indikator sehingga
terbentuk endapan merah bata dari perak kromat (Vogel, 1958). Karena terbentuknya endapan
mendasarkan pada harga konstanta hasil kali kelarutan (KSP), biasanya kesulitan terjadi pada
pemilihan konsentrasi dari indikator. Konsentrasi indikator harus diatur sehingga perkalian
konsentrasi dari ion kromat dengan konsentrasi kuadarat kation perak saat titik ikivalen sedikit
lebih besar dari harga KSPnya. Bila konsentrasi indikator terlalu besar maka titik akhir titrasi
terjadi sebelum titik ekivalen. Sebaliknya bila indikator terlalu encer titik akhir titrasi terjadi
setelah titik ekivalen. Oleh karena itu harus diusahakan agar titik akhir titrasi terjadi bersamaan
atau sedekat mungkin dengan titik ekivalen dengan cara mengatur konsentrasi dari indikatornya.
Pada jurnal ini akan dikaji berapakah konsentrasi indikator yang terbaik supaya kesalahan
titrasi menjadi yang terkecil (konsentrasi indikator terkontrol). Makalah ini perlu disampaikan
untuk memberikan beberapa teknik yang harus dilakukan agar kesalahan analisis secara volumetri
dapat diperkecil, sehingga tiada keraguan lagi tentang keabsahannya.

b) STUDI PUSTAKA

Pada titrasi Mohr Proses pembentukan endapan terjadi secara bertingkat (fraksional), mula-
mula terbentuk endapan perak klorida dan kemudian perak kromat. Garam perak kloridamemiliki
konstanta hasil kali kelarutan (KSP) sebesar 1,2 X 10-10 dan garam perak kromat adalah 1,7 X
10-12. Di dalam praktek konsentrasi perak nitrat yang digunakan adalah 0,1 N yang dititrasikan
pada larutan sampel dari halogen dan penambahan indikator kalium kromat beberapa mili liter.
Perak nitrat adalah garam yang lebih sulit larut sehingga endapannya akan terjadi lebih awal, baru
kemudian endapan perak kromat. Reaksi yang terjadi dapat ditulis sebagai berikut :

Ag+ + C1  AgCI (s) (awal titrasi ) ……… 1)


2 Ag + CrO4-  Ag2CrO4 (s) (akhir titrasi) …….... 2)

Endapan perak klorida dan endapan perak kromat akan terjadi bila harga KSP nya terlampaui.
Pada saat terjadi titik ekivalen, maka konsentrasi ion perak akan sama dengan konsentrasi ion
klorida. Menurut Vogel (1958) konsentrasi ion perak pada saat ekivalen adalah 1,1 X 10-5 M.
Pada konsentrasi tersebut, maka secara teoritis konsentrasi kalium kromat untuk membentuk
endapan dapat dihitung. Pada prakteknya konsentrai indicator yang digunakan cenderung lebih
encer. Kelemahan penggunaan indikator yang encer tersebut adalah terjadinya kesalahan titrasi,
dalam hal ini akan terjadi titik akhir titrasi terjadi setelah titik ekivalen, artinya dalam melakukan
titrasi tersebut telah terjadi kelebihan titran, yang menyebabkan konsentrasi analit yang diteliti
menjadi lebih besar dari yang sebenarnya.

2. Jurnal Analisis Beberapa Parameter Kimia Dan Kandungan Logam Pada Sumber Air
Tanah Di Sekitar Pemukiman Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Inti pokok pada jurnal ini adalah mengetahui jumlah kadar kandungan Logam pada sumber
air tanah di sekitar pemukiman UIN syarif Hidayatullah Jakarta. Studi kasus ini sangat erat
hubungannya dengan titrasi argentometri, terutama pada metode Mohr. Karena pada metode Mohr
biasa digunakan untuk mengetahui kadar klorida dan bromide. Pengukuran kadar klorida
menggunakan titrasi argentometri Mohr tujuannya untuk mengetahui kadar klorida pada sumber air
apakah masih sesuai dnegan ketentuan atau tidak, sehingga dapat layak minum atau tidak.
Pengukuran kadar klorida pada sampel air menggunakan metode argentometri, yaitu titrasi
menggunakan larutan AgNO3 sebagai titran. Pada metode ini, sampel terlebih dahulu dikondisikan
suasana netral dengan cara menambahkan asam sulfat dan natrium hidroksida, hal ini disebabkan
karena metode argentometri merupakan metode Mohr yang bereaksi dalam keadaan netral. Sampel
kemudian ditambahkan larutan hidroksida yang bertujuan untuk menghilangkan pengotor selain
klorida.
Data nilai kadar klorida pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 4 (jurnal
lampiran 2). Hasil pengukuran kadar klorida pada air tanah di lokasi pengambilan sampel antara
22,33-64,7mg/L. Nilai ini masih berada dibawah ambang batas Standar Baku Mutu Departemen
Kesehatan, yaitu 250mg/L. Sehngga jika dilihat dari kadar kloridanya, semua air tanah di semua
lokasi pengambilan sampel layak untuk dikonsumsi.
BAB III
PENYELESAIAN

1. Jurnal Konsentrasi Indikasi Terkontrol pada argentometri Mohr (lampiran 1)

Tidak ada satupun metode analisis yang bebas dari kesalahan, bahkan untuk analisis
yang menggunakan alat-alat modern sekalipun kesalahan tetap terjadi. Harus diakui bahwa
dalam analisis volumetri juga selalu terjadi kesalahan-kesalahan, misalnya betapa sulitnya
menentukan warna merah akhir titrasi netralisasi (merahnya seperti apa?), tidak ada
indikator yang memiliki trayek pH yang sesuai dengan yang diinginkan (biasanya yang
digunakan yang trayek pH nya mendekati) dan kesalahan yang lain. Tapi ini tidak berarti
bahwa analisisvolumetri harus ditinggalkan, apalagi jika alasannya hanya karena alatnya
tidak modern. Jika diamati dalam buku standar analisis bahan pangan dan minyak
(AOAC), masih banyak ditemukan analisis secara volumetri (misalnya peroksida, protein
dll). Salah satu pertimbangannya adalah karena penggunaan alat modern, kesalahan yang
tedadi justru semakin besar.
1. Cara memperkecil kesalahan
Tantangan yang dihadapi bagi pengguna analisis volumetri adalah meminimalkan
kesalahan titrasi. Beberapa diantaranya adalah memilih indikator yang benar-benar memiliki
trayek pH yang terdekat, meskipun kadang-kadang harganya mahal dan sulit dicari. Teliti
dalam pembuatan larutan standar, yang dapat dilakukan adalah membuat larutan dalam
jumlah besar (liter) sehingga bahan yang ditimbang banyak (menghindari kesalahan
penimbangan) dan menghindari pengenceran bertingkat. Gunakan ukuran buret yang sesuai
dengan keperluan, bila uji pendahuluan menunjukkan volume titrasi yang kecil, lebih baik
digunakan buret mikro. Pada kondisi tertentu, penggunaan larutan blanko sangat disarankan
untuk mengurangi kesalahan oleh zat pengotor.
2. Indikator pada Analisis Argentometri
Pada analisis secara argentometri pemilihan indikator tidak didasarkan oleh
perubahan
derajat keasaman( pH), tetapi didasarkan atas terbentuknya endapan. Supaya terjadi endapan
syaratnya adalah hasil kali ion-ionnya melampaui harga KSP nya. Oleh karena itu dalam
analisis argentometri, pemilihan konsentrasi indikator sangat penting (dalam asidi alkalimetri
konsentrasi indikator tidak penting). Konsentrasi indikator yang terlalu pekat menyebabkan
titik akhir titrasi mendahului titik ekivalen, karena endapan perak kromat terjadi sebelum
semua halogen (sampel) habis. Demikian sebaliknya bila konsentrasi indikator terlalu encer.
Permasalahannya adalah berapa konsentrasi yang terbaik? Dari hasil perhitungan konsentrasi
yang sesuai adalah 1,4 x 10-2 M ( perhitungan di jurnal)

2. Jurnal Analisis Beberapa Parameter Kimia Dan Kandungan Logam Pada Sumber Air
Tanah Di Sekitar Pemukiman Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
Data nilai kadar klorida pada masing-masing lokasi dapat dilihat pada gambar 4
(jurnal lampiran 2). Hasil pengukuran kadar klorida pada air tanah di lokasi pengambilan
sampel antara 22,33-64,7mg/L. Nilai ini masih berada dibawah ambang batas Standar Baku
Mutu Departemen Kesehatan, yaitu 250mg/L. Sehngga jika dilihat dari kadar kloridanya,
semua air tanah di semua lokasi pengambilan sampel layak untuk dikonsumsi.