Anda di halaman 1dari 22

ANALISIS MIKROSKOPIS AMYLUM

Farmakognosi
Tanggal : 9 Desember 2019

Disusun Oleh

Nama : Milda Purnami

NIM : 1948201021

Laboratorium Farmakognosi
PROGRAM STUDI S1 FARMASI
STIKES MUHAMMADIYAH KUNINGAN
2019
I. Tujuan
Mahasiswa dapat menganalisis simplisia yang berasal dari serbuk pati.

II. Tinjauan Pustaka


Di Indonesia banyak berbagai macam tumbuhan obat yang telah diteliti
oleh para ahli yang mana sampai sekarang tercantum pada buku-buku maupun
artikel obat tradisional. Tumbuhan obat atau yang biasa dikenal dengan obat
herbal adalah sediaan obat baik berupa obat tradisional, fitofarmaka dan
farmasetika, dapat berupa simplisia (bahan segar atau yang dikeringkan) ekstrak,
kelompok senyawa atau senyawa murni berasal dari alam, yang dimaksud
dengan obat alami adalah obat asal tanaman. Simplisia adalah bahan alamiah
yang dipergunakan sebagai obat yang belum mengalami pengolahan apapun
juga dan kecuali dinyatakan lain, berupa bahan yang telah dikeringkan. (Depkes
RI, 1995).
Menurut “Materia Medika Indonesia” simplisia dibedakan menjadi tiga,
yaitu simplisia nabati, simplisia hewani, dan simplisia pelican (mineral).
Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tumbuhan utuh, bagian tumbuhan
atau eksudat tumbuhan. Eksudat tumbuhan ialah sel yang secara spontan keluar
dari tumbuhan atau isi sel yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya atau
senyawa nabati lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tumbuhannya
dan berupa senyawa kimia murni (Depkes RI, 1995 dalam Saifudin, Rahayu &
Teruna, 2011).
Simplisia menurut departemen kesehatan RI adalah bahan alami yang
digunakan untuk obat dan belum mengalami perubahan proses apapun dan
kecuali dinyatakan lain umumnya berupa bahan yang telah dikeringkan.
(Departemen kesehatan RI : 1989) dan dapat dijelakan dibawah ini simplisia
dibagi menjadi 3 golongan yaitu :
a) Simplisia nabati
Simplisa nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh, bagian
tanaman atau eksudat tanaman (Nurhayati, 2008). Yang dimaksud dengan
eksudat tanaman adalah isi sel yang secara spontan keluar dari tanaman atau
yang dengan cara tertentu dikeluarkan dari selnya, atau zat-zat nabati
lainnya yang dengan cara tertentu dipisahkan dari tanamannya (Melinda,
2014).
b) Simplisia hewani
Simplisia yang berupa hewan utuh, bagian hewan atau zat-zat berguna yang
dihasilkan oleh hewan (Meilisa, 2009) dan belum berupa zat kimia murni
(Nurhayati Tutik, 2008). Contohnya adalah minyak ikan dan madu
(Gunawan, 2010).
c) Simplisia mineral
Simplisia yang berupa bahan pelikan atau mineral yang belum diolah
atau yang telah diolah dengan cara sederhana dan belum berupa zat kimia
murni (Meilisa, 2009). Contohnya serbuk seng dan serbuk tembaga
(Gunawan, 2010).

Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu


sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian
(Poedjiadi, A. 2009).

Amilum merupakan suatu senyawa organik yang tersebar luas pada


kandungan tanaman. Amilum dihasilkan dari dalam daun-daun hijau sebagai
wujud penyimpanan sementara dari produk fotosintesis. Amilum juga tersimpan
dalam bahan makanan cadangan yang permanen untuk tanaman, dalam biji, jari-
jari teras, kulit batang, akar tanaman menahun, dan umbi. Amilum merupakan
50-65% berat kering biji gandum dan 80% bahan kering umbi kentang
(Gunawan,2004).

Amilum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah


polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20 – 28 %) dan sisanya
amilopektin :

1. Amilosa terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan dengan ikatan α
1,4 glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka.
2. Amilopektin terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian besar
mempunyai ikatan 1,4-glikosidik dan sebagian ikatan 1,6-glikosidik, adanya
ikatan 1,6-glikosidik menyebabkan terdjadinya cabang, sehingga molekul
amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul amilopektin
lebih besar dari pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih 1000 unit
glukosa (Poedjiadi, A. 2009).

Secara umum, amilum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa)
dan 80% bagian yag tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amilum oleh asama
mineral menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif
(Gunawan, 2004).

Amilum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam


sehingga menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan
enzim amilase, dalam air ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh
pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amilum yang terdapat pada
makanan kita oleh enzim amilase, amilum diubah menjadi maltosa dalam bentuk
β – maltosa (Poedjiadi,A. 2009).
Amilum juga disebut dengan pati. Pati yang diperdagangkan diperoleh
dari berbagai bagian tanaman, misalnya endosperma biji tanaman gandum,
jagung dan padi ; dari umbi kentang ; umbi akar Manihot esculenta (pati
tapioka); batang Metroxylon sagu (pati sagu); dan rhizom umbi tumbuhan
bersitaminodia yang meliputi Canna edulis, Maranta arundinacea, dan Curcuma
angustifolia (pati umbi larut) (Fahn, 1995).

Tanaman dengan kandungan amilum yang digunakan di bidang farmasi


adalah jagung (Zea mays), Padi/beras (Oryza sativa), kentang (Solanum
tuberosum), ketela rambat (Ipomoea batatas), ketela pohon (Manihot utilissima)
(Gunawan, 2004)

Pada bidang farmasi, amilum terdiri dari granul-granul yang diisolasi


dari Zea mays Linne (Graminae), Triticum aesticum Linne (Graminae), dan
Solanum tuberosum Linne (Solanaceae). Granul amilum jagung berbentu
polygonal, membulat atau sferoidal dam mempunyai garis tengah 35 mm.
Amilum gandum dan kentang mempunyai komposisi yang kurang seragam,
masing-masing mempunyai 2 tipe granul yang berbeda (Gunawan, 2004).

Amilum digunakan sebagai bahan penyusun dalam serbuk dan sebagai


bahan pembantu dalam pembuatan sediaan farmasi yang meliputi bahan pengisi
tablet, bahan pengikat, dan bahan penghancur. Sementara suspensi amilum dapat
diberikan secara oral sebagai antidotum terhadap keracunan iodium dam amilum
gliserin biasa digunakan sebagai emolien dan sebagai basis untuk supositoria
(Gunawan, 2004).

Sebagai amilum normal, penggunaanya terbatas dalam industri farmasi.


Hal ini disebabkan karakteristiknya yang tidak mendukung seperti daya alir
yang kurang baik, tidak mempunyai sifat pengikat sehingga hanya digunakan
sebagai pengisi tablet bagi bahan obat yang mempunyai daya alir baik atau
sebagai musilago, bahan pengikat dalam pembuatan tablet cara granulasi basah
(Anwar, 2004).

Amilum hidroksi-etil adalah bahan yang semisintetik yang digunakan


sebagai pengencer plasma (dalam larutan 6%). Ini merupakan pengibatan
tasmbahan untuk kejutan yang disebabkan oleh pendarahan, luka terbakar,
pembedahan, sepsis, dan trauma lain. Sediaan amilum yang terdapat dalam
pasaran adalah Volex® (Gunawan, 2004).

Fungsi amilum dalam dunia faramasi digunakan sebagai bahan


penghancur atau pengembang (disintegrant), yang berfungsi membantu
hancurnya tablet setelah ditelan (Syamsuni H,A. 2007).
Simplisia yang akan diamati dapat dijelaskan sebagai berikut dibawah ini
klasifikasi singkat nya:

1. Amilum Oryzae

 Nama lain : Pati beras


 Tanaman asal : Oryza sativa L
 Keluarga : Poaceae
 Zat berkhasiat utama / isi : Amilosa dan amilopektin
 Penggunaan : Zat tambahan untuk sediaan obat
 Pemerian : Serbuk sangat halus , berwarna putih dan tidak
berbau
 Bagian yang digunakan : Pati yang diperoleh dari biji
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

 Klasifikasi Tanaman
 Klasifikasi:
 Regnum : Plantae
 Divisio : Spermatophyta
 Kelas : Monocotyledoneae,
 Ordo : Poales,
 Famili : Graminae
 Genus : Oryza Linn
 Species : Oryza sativa L.

 Morfologi:
 Tanaman padi termasuk tanaman setahun atau semusuim yang
berbentuk herba. Tinggi tanaman mencapai 120 cm. Bagian tanaman
secara garis besar terdapat bagian vegetatif dan generatif.
 Sistem perakarnya merupakan sistem perakaran serabut (radyx
adventica), letak susunn akarny tidak dalam kira kira pada
kedalaman 30 cm. Karena itu akar banyak mengambil makanan dari
tanah yang berada di atas.
 Batang pada Oryza sativa tersusn dalam rangkaian beruaas-ruas
(internodus), dan diantara ruas satu dengan lainnya dipisahkan oleh
buku (nodus). Ruas batang didalamnya beronga rongga dan
berbentuk bulat (teres), dari atas kebwah ruas batang semakin
pendek dan ruas paling pendek berada pada bagian batang palin
bawah.
 Daun termasuk daun tunggal terdiri dari helaian daun (lamina) dan
pelepah daun (vagina) yang menyelubungi batang. Bangun daun
berbentuk garis (linearis), pada berbatasan antara daun dan pelepah
daun terdapat lidah daun (ligula). Didalam ketiak daunterdapat
kuncup yang tumbuh menjadi batang. Tulang daun sejajar
(rectinervis).
 Bunganya, termaksud bunga majemuk dalam karanga bunga malai
(panicula). Tiap panicula terdiri dari kumpulan bunga yang
disebut spica, setiap spica terdiri dari satuatau lebih bunga
disebut flosculus. Sumbu utama tempat melekatnya spiculadisebut
rachis, sumbu dari spicula disebut rachilla. bunga bisexualis,
flosculusmempunyai 2 sekat kelopak yang besar disebut lemma dan
ukuran yang lebih kecil disebut pale Dibawah lemma terdapat gluma
I dan gluma II.
 Alat kelaminterdiri dari benang sari sebanyak 6 buah, tangkai sariny
endek dan tipis. Putik mempunyai 2 buah tangkai dengan epala putik
yang berbentuk seperti bulu, letak ovulum seperum dan carpellum 2
buah. Termasuk kedalam buah cariopsis yang sehari hari disebut biji
padi atau bulir, gabah sebenarnya bukan bijimelainkan buah padi.

2. Amilum Solani

 Nama lain : Pati kentang


 Tanaman asal : Solanum tuberosum L
 Keluarga : Solanaceae
 Zat berkhasiat utama / isi : Amilosa dan amilopektin
 Penggunaan : Zat tambahan untuk sediaan obat
 Pemerian : Serbuk halus , berwarna putih dan tidak berbau
 Bagian yang digunakan : Pati yang diperoleh dari umbi
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
 Klasifikasi Tanaman
 Nama species : Solanum tuberosum
 Familia : Solanaceae
 Nama lokal : kentang
 Spesifikasi : lamela dan hilus
 Regnum : Plantae
 Devisio : Spermatophyta
 Class : Dicotyledoneae
 Ordo : Solanales
 Familia : Solanaceae
 Genus : Solanum
 Species : Solanum tuberosum

 Morfologi
 Tanaman kentang adalah tanaman herba semusim dan menyukai iklim
yang sejuk. Di daerah tropis cocok ditanam di dataran tinggi. Karena
merupakan tanaman herba, maka tanaman kentang tidak dapat tumbuh
tinggi dan tidak berkayu.
 Tanaman kentang menghasilkan umbi yang disebut kentang. Tanaman
kentang termasuk tergolong kedalam suku terung-terungan (Solanaceae).
 Tanaman kentang merupakan tanaman yang berasal dari Amerika Selatan
dan sekarang banyak dibudidayakan di Eropa.
 Solanum atau kentang merupakan tanaman setahun. Bentuk
sesungguhnya menyemak dan bersifat menjalar. Batangnya berbentuk
segi empat, panjangnya bisa mencapai 50-120 cm, dan tidak berkayu
(tidak keras bila dipijat). Batang dan daun berwarna hijau kemerahan-
merahan atau keungu-unguan. Bunganya berwarna kuning keputihan atau
ungu, tumbuh di ketiak daun teratas, dan berjenis kelamin dua. Benang
sarinya berwarrna kekuning-kuningan dan melingkari tangkai putik.
Putik ini biasanya lebih cepat masak. Buahnya berbentuk buni, buah
yang berkulit/dindingnya berdaging, dan mempunyai dua ruang. Di
dalam buah berisi banyak calon biji yang jumlahnya bisa mencapai 500
biji. Akan tetapt, dari jumlah tersebut yang berhasil menjadi biji hanya
sekitar 100 biji saja, bahkan ada yang Cuma puluhan biji, jumlah ini
tergantung dari varietas kentangnya. Akar tanaman menjalar dan
berukuran sangat kecil bahkan sangat halus. Akar ini berwarna keputih-
putihan. Kedalaman dayatembusannya bisa mencapai 45 cm. Namun,
biasanya akar ini banyak yang mengumpul di kedalaman 20 cm. selain
mempunyai organ-organ tersebut, kentang juga mempunyai organ umbi.
Umbi tersebut berasal dari cabang samping yang masuk ke dalam tanah.
Cabang ini merupakan tempat menyimpan karbohidrat sehingga
membengkak dan bisa dimakan. Umbibisa mengeluarkan tunas dan
nantinya akan membentuk cabang-cabang baru. Semua bagian tanaman
tersebut mengandung racun solanin. Begitu pula umbinya, yaitu ketika
sedang memasuki masa bertunas. Namun, bagian umbi ini, bila telah
berusia tua atau siap panen, racun ini akan berkurang bahkan bisa hilang,
sehingga aman untuk dimakan.

3. Amilum Maydis

 Nama lain : Pati jagung , maizena , corn starch


 Tanaman asal : Zea mays L
 Keluarga : Poaceae
 Zat berkhasiat utama / isi : Amilosa dan amilopektin
 Penggunaan : Zat tambahan untuk sediaan obat
 Pemerian : Serbuk halus , berwarna putih, tidak berbau dan
rasa lemah
 Bagian yang digunakan : Pati yang diperoleh dari biji yang masak
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

 Klasifikasi Tanaman
 Kingdom : Plantae
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Liliopsida
 Ordo : Poales
 Famili : Poaceae
 Genus : Zea
 Spesies : Zea mays L.

 Morfologi:
 Deskripsi Jagung merupakan tanaman semusim (annual). Satu siklus
hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari. Paruh pertama dari siklus
merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua untuk tahap
pertumbuhan generatif. Tinggi tanaman jagung sangat bervariasi.
Meskipun tanaman jagung umumnya berketinggian antara 1 m sampai 3
m, ada varietas yang dapat mencapai tinggi 6 m.
 Akar jagung tergolong akar serabut yang dapat mencapai kedalaman 8 m
meskipun sebagian besar berada pada kisaran 2 m. Pada tanaman yang
sudah cukup dewasa muncul akar adventif dari buku-buku batang bagian
bawah yang membantu menyangga tegaknya tanaman.
 Batang beruas-ruas. Ruas terbungkus pelepah daun yang muncul dari
buku. Batang jagung cukup kokoh namun tidak banyak mengandung
lignin. Batang jagung tegak dan mudah terlihat, sebagaimana sorgum dan
tebu, namun tidak seperti padi atau gandum. Terdapat mutan yang
batangnya tidak tumbuh pesat sehingga tanaman berbentuk roset.
permukaan yang halus sampai berbulu. Batang tidak memiliki tangkai.
 Daun jagung adalah daun sempurna. Bentuknya memanjang. Antara
pelepah dan helai daun terdapat ligula. Tulang daun sejajar dengan ibu
tulang daun. Permukaan daun ada yang licin dan ada yang berambut.
Stoma pada daun jagung berbentuk halter. Warna hijau tua dengan
permukaan yang berbulu.
 Bunga betina jagung berupa “tongkol” yang terbungkus oleh semacam
pelepah dengan “rambut”. Rambut jagung sebenarnya adalah tangkai
putik. Jagung memiliki bunga jantan dan bunga betina yang terpisah
(diklin) dalam satu tanaman (monoecious). Tiap kuntum bunga memiliki
struktur khas bunga dari suku Poaceae, yang disebut floret. Pada jagung,
dua floret dibatasi oleh sepasang glumae (tunggal: gluma). Bunga jantan
tumbuh di bagian puncak tanaman, berupa karangan bunga
(inflorescence). Serbuk sari berwarna kuning dan beraroma khas. Bunga
betina tersusun dalam tongkol. Tongkol tumbuh dari buku, di antara
batang dan pelepah daun.

4. Amilum Manihot

 Nama lain : Pati singkong


 Tanaman asal : Manihot utilissima Pohl.
 Keluarga : Euphorbiaceae
 Zat berkhasiat utama / isi : Amilosa dan amilopektin
 Penggunaan : Zat tambahan untuk sediaan obat
 Pemerian : Serbuk halus , kadang – kadang berupa gumpalan
kecil , warna putih, tidak berbau dan tidak berasa.
 Bagian yang digunakan : Pati yang diperoleh dari umbi akar
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

 Klasifikasi Tanaman
 Kingdom : Plantae
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Magnoliopsida
 Ordo : Malpighiales
 Famili : Euphorbiaceae
 Bangsa : Manihoteae
 Genus : Manihot
 Spesies : Manihot utilissima

 Morfologi:
 Tanaman singkong tidak memiliki bunga, termasuk tanaman berkormus
karena memiliki akar, batang, daun sejati, tinggi tanaman 235 cm,
berumur 2 bulan. Tanaman saingkong mempunyai sistem perakaran
serabut, akar berwarna putih kekuningan, panjang akar 30 cm, panjang
rambut akar 50 cm, termasuk tumbuhan dikotil, akar menggembung
berisi cadangan makanan.
 Permukaan batang berwarna coklat, dalam batang berwarna putih
kekuning-kuningan, memiliki diameter selebar 2-4cm, batangnya beruas-
ruas.
 Permukaan daun rata, tulang daun menjari, jenis daun tunggal, bentuk
daun lingkaran, daun berwarna hijau (berklorofil), tangkai daun berwarna
merah, ujung daun lancip, tangkai daun panjang, berwarna kemerahan.
 Bunga berukuran sangat kecil, berwarna putih, kelopak berjumlah 5 buah
berwarna hijau dan berukuran lebih besar dari ukuran bunga, bunga tidak
memiliki alat kelamin jantan maupun betina. Umbi memiliki diameter 2-
5cm, panjang 20-60cm, daging umbi berwarna putih/ kekuning-
kuningan, kulit umbi berwarna coklat, dagingnya bergetah.

5. Amylum Tritici
 Nama lain : Pati gandum , pati terigu
 Tanaman asal : Triticum vulgare Vill.
 Keluarga : Poaceae
 Zat berkhasiat utama/isi : Amilosa dan amilopektin
 Penggunaan : Zat tambahan untuk sediaan obat
 Pemerian : Serbuk sangat halus , berwarna putih ,tidak
berbau dan hampir tidak berasa
 Bagian yang digunakan : Pati yang diperoleh dari buah
 Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

 Klasifikasi Tanaman
 Kingdom : Plantae
 Divisi : Magnoliophyta
 Kelas : Liliopsida
 Ordo : Poales
 Famili : Poaceae
 Genus : Triticum
 Spesies : T. aestivum L

 Morfologi :
Pada umumnya, kernel berbentuk ofal dengan panjang 6–8 mm dan
diameter 2–3 mm. Seperti jenis serealia lainnya, gandum memiliki tekstur
yang keras. Biji gandum terdiri dari tiga bagian yaitu bagian kulit (bran),
bagian endosperma, dan bagian lembaga (germ). Bagian kulit dari biji
gandum sebenarnya tidak mudah dipisahkan karena merupakan satu kesatuan
dari biji gandum tetapi bagian kulit ini biasanya dapat dipisahkan melalui
proses penggilingan.
1. Deskripsi tanaman
a. Amilum Oryzae (Pati Beras)
Tanaman semak semusim ini berbatang basah, tingginya 50cm – 1,5 m.
batang tegak, lunak, bertuas, berongga, kasar warna hijau. daun tunggal
berbentuk pita yang panjangnnya15-30 cm, lebar mencapai 2 cm,
perabaan kasar, ujung runcing, tepi rata, berpelepah, pertulangan sejajar,
hijau. bungan majemuk berbentuk malai. Buahnya buah batu, terjurai
pada tangkai, warna hijau, setelah tua menjadi kuning. Biji keras, bulat
telur, putih atau merah (Dalimartha, 1999).
b. Amilum Maydis (Pati Jagung)
Rumput berumah satu, tegak, dengan sistem perakaran terdiri dari akar
serabut. Batang biasanya tunggal. Daun tumbuh berseling pada sisi yang
berlainan pada buku, dengan helaian daun yang bertumpang tindih,
aurikel diatas; helaian daun memita-memanjang. Perbungaan jantan dan
betina terpisah pada satu tumbuhan yang sama; bunga jantan merupakan
malai terminal. Perbuahan yang masak dalam bentuk tongkol.Bijinya
biasanya lonjong, warna bervariasi dari putih hingga kuning, merah atau
keunguan hingga hitam.
c. Amilum Manihot (Pati Tapioca)
Tanaman perdu, bisa mencapai 7 meter tinggi, dengan cabang agak
jarang. Akar tunggang dengan sejumlah akar cabang yang kemudian
membesar menjadi umbiakar yang dapat dimakan. Ukuran umbi rata-rata
bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari
klon/kultivar. Bagian dalam umbinya berwarna putih atau kekuning-
kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di
lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya warna biru
gelap akibat terbentuknya asam sianida yang bersifat meracun bagi
manusia. Umbi ketela pohon merupakan sumber energi yang kaya
karbohidrat namun sangat miskin protein. Sumber protein yang bagus
justru terdapat pada daunsingkong karena mengandung asam amino
metionina.
d. Amilum Solani (Pati Kentang)
Tumbuhan terna dengan banyak cabang, tegak, umbi berbentuk membulat
hingga menjorong, warnanya sangat beragam, kulit umbi bersisik atau
halus, biasanya terdapat beberapa mata tunas.Batang biasanya berongga,
bersayap. Daun berseling, bertangkai, majemuk menyirip gasal, dengan
atau tanpa banyak pinak daun, pinak daun samping berhadapan atau
berseling, membundar telur hingga menjorong-membundar telur, pinak
daun yang terkecil agak duduk, berbentuk membundar telur hingga agak
membundar, pinak daun ujung biasanya yang terbesar. Semua pinak daun
berbulu padat, berwarna hijau gelap, berurat daun menyirip. Perbungaan
malai.Bunga putih atau putih ditutupi dengan merah jambu atau ungu,
ditengah kuning kehijauan; kelopak menggenta, bagian luar berbulu;
mahkota bagian luar berbulu. Buah buni agak membulat, berwarna hijau-
kuning, berbiji banyak, beracun.Biji pipih, berbentuk agak membundar
hingga membundar telur, berwarna kuning pucat kecoklatan.
e. Amilum Sagu (Pati Sagu)
Sagu tumbuh dalam bentuk rumpun. Setiap rumpun terdiri dari 1-8
batang sagu, pada setiap pangkal tumbuh 5-7 batang anakan. Pada
kondisi liar rumpun sagu akan melebar dengan jumlah anakan yang
banyak dalam berbagai tingkat pertumbuhan. Tajuk pohon terbentuk dari
pelepah yang berdaun sirip dengan tinggi pohon dewasa berkisar antara 8-
17 meter tergantung dari jenis dan tempat tumbuhnya (Harsanto, 1986).
Perbungaan malai di pucuk, bercabang-cabang sehingga menyerupai
payung, bunga muncul dari percabangan berwarna coklat pada waktu
masih muda, gelap dan lebih merah pada waktu dewasa; bunga
berpasangan tersusun secara spiral, masing-masing pasangan berisi 1
bunga jantan dan 1 bunga hermafrodit, biasanya sebagian besar bunga
jantan gugur sebelum mencapai antesis. Buah pelok membulat-merapat
turun sampai mengerucut sungsang, tertutup dengan sisik, mengetupat,
kuning kehijauan, berubah menjadi bewarna kuning jerami atau sesudah
buah jatuh; bagian dalamnya dengan suatu lapisan bunga karang berwarna
putih.Biji setengah membulat, selaput biji merah tua.

2. Deskripsi simplisia

a. Amylum manihot
Amylum manihot yang kami amati dari mikroskop dengan pembesaran 15
X 10 kami dapat melihat bentuknya yang berupa butir tunggal,butir agak
bulat atau bersegi banyak butir kecil, ada butir pati,dan juga hilus yang
berupa garis dan titik, ada juga lamella tapi tidak jelas,yang berupa butir
majemuk sedikit.
b. Amylum maydis
Dengan pembesaran 15 X 10, tidak punya lamella (tidak terlihat), Bentuk
amylum maydis ini berupa butir bersegi banyak, bersudut, atau butir
bulat,kemudian terdapat butir pati dan hilus yang berupa rongga atau
celah.
c. Amylum solani
Di dalam mikroskop yang pembesarannya 15 X 10 amylum solani ini
berbentuk butir tunggal, tidak beraturan, atau bulat telur, terdapat butir
pati juga lamella tapi tidak terlihat jelas.
d. Amylum oryzae
Bentuk amylum oryzae dalam mikroskop dengan pembesaran 15 X 10
yaitu butir bersegi banyak, tunggal atau majemuk bentuk bulat telur,
terdapat butir telur dan hilus yang tidak terlihat jelas, dan tidak terdapat
lamella.
e. Amylum sago
Amilum sago yang kami amati dari mikroskop dengan pembesaran 15 X
10, dapat dilihat anatomi jaringan yang teramati yaitu butir pati tunggal.

III. Alat dan Bahan


A. Alat
1. Mikroskop
2. Objek glass
3. Cover glass
4. Pipet tetes
5. Tissue
6. Spatel

B. Bahan
1. Simplisia amylum oryzae (pati beras).
2. Simplisia amylum solani (pati kentang)
3. Simplisia amylum maydis (pati jagung)
4. Simpisa amylum manihot (pati singkong)
5. Simplisia amylum tritici (pati gandum).
6. Aquadest
IV. Prosedur Kerja
1. Siapkan alat dan bahan.
2. Bersihkan mikroskop terlebih dahulu menggunakan tissue.
3. Ambil serbuk pati, amati organoleptisnya (bau, rasa, warna).
4. Buatlah sediaan dalam media air dari masing-masing serbuk pati! Amati
dibawah mikroskop dan perhatikan bentuk, ada/tidaknya hilus dan lamella
dari masing-masing Amylum.
5. Amati dibawah mikroskop lalu gerakan pengatur jarak antara teropong
dengan sediaan agar terlihat jelas simplisia yang diamati tersebut.
6. Terakhir, gambarkan hasil pegamatanpadabuku laporan.

V. Hasil dan Pembahasan


A. Hasil
1. Amylum Tritici
Nama Simplisia : Amylum Tritici
Nama Tanaman Asal : Triticum Vulgare L
Nama Daerah : Pati gandum
Family : Poaceae
Kandungan : amilosa dan amilopektin, air
Penggunaan : Bahan tambahan sediaan obat
Sediaan : Alumini Hydroxydi
Bagian yg digunakan : Pati yg diperoleh dari buah

Uji Organoleptik Uji Mikroskopik Gambar


Warna : berupa serbuk butir tunggal besar, ukuran 15
halus berwarna putih sampai 40 µm, dilindungi oleh
Rasa : tidak berasa butiran- butiran kecil, ukuran 2
Bau : Tidak berbau sampai 9 µm. Bentuk berupa lensa
bundar atau jorong, kadang-
kadang berbentuk ginjal. Hillus
ditengah tidak jelas, berupa titik
atau celah. Lamella tidak jelas.
2. Amylum Maydis
Nama Simplisia : Amylum Maydis
Nama Tanaman Asal : Zea Mays L
Nama Daerah : Pati jagung
Family : Poaceae
Kandungan : Amilosa, amilopektin
Penggunaan : Zat tambahan
Bagian yg digunakan : pati yg diperoleh dari biji yang masak

Uji Organoleptik Uji Mikroskopik Gambar


Warna : berupa serbuk sebagian besar berupa butir
halus berwarna putih poligonal dengan sudut membulat
Rasa : rasa lemah atau berupa butir hampir bulat,
Bau : Tidak berbau garis tengah sampai lebih 35 µm,
hillus ditengah berupa titik atau
bintang.

3. Amylum Manihot
Nama Simplisia : Amylum Manihot
Nama Tanaman Asal : Manihot Utilissima (pohl)
Nama Daerah : Pati Singkong
Family : Euphorbiaceae
Kandungan : Amilosa dan Amilopektin
Penggunaan :Zat tambahan pada sediaan obat
Bagian yg digunakan : Pati yg diperoleh dari umbi bakar
Uji Organoleptik Uji Mikroskopik Gambar
Warna : berupa serbuk Butir tunggal atau bergerombol,
halus berwarna putih butiran tunggal berbentuk lonjong
Rasa : tidak berasa atau seperti topi baja dengan
Bau : Tidak berbau ukuran 5 hingga 25 µm. Hillus
terletak ditengah terlihat jelas
seperti titik kadang-kadang
segitiga. Lamella ada tetapi kurang
jelas.

4. Amylum Solani
Nama Simplisia : Amylum Solani
Nama Tanaman Asal : Solanum Tuberosum L
Nama Daerah : Pati Kentang
Family : Solanaceae
Kandungan : Amilosa dan Amiopektin
Penggunaan : Zat tambahan sediaan obat
Bagian yg digunakan : Pati yg diperoleh dari ubi

Uji Organoleptik Uji Mikroskopik Gambar


Warna : berupa serbuk Butiran berbentuk bulat telur atau
halus berwarna putih tidak beraturan dengan ukuran
Rasa : tidak berasa bervariasi antara 30 hingga 100
Bau : Tidak berbau µm. Hillus terdapat sebagai titik
pada bagian yang sempit. Lamella
terletak eksentris, terlihat dengan
jelas

5. Amylum Oryzae
Nama Simplisa : Amylum Oryzae
Nama Tanaman Asal : Oryza Sativa L
Nama Daerah : pati beras
Family : Poaceae
Kandungan : Amilosa, Amilopektin, air
Penggunaan : Zat tambahan sediaan obat
Bagian yg digunakan : Pati yang diperoleh dari biji

Uji Organoleptik Uji Mikroskopik Gambar


Warna : berupa serbuk butiran kecil dengan ukuran 3
halus berwarna putih sampai 12 µm, berbentuk
Rasa : tidak berasa poligonal bersudut tajam.
Bau : Tidak berbau Terdapat dalam butiran majemuk
yang berjumlah 2 hingga 100
butir. Hillus hanya tampak pada
granul yang besar dan terdapata
ditengah. Lamella tidak ada

B. Pembahasan
Amylum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam, yaitu
sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan biji-bijian.
Amylum terdiri dari dua macam polisakarida yang kedua-duanya adalah
polimer dari glukosa, yaitu amilosa (kira-kira 20–28 %) dan sisanya
amilopektin. Amilosa: Terdiri atas 250-300 unit D-glukosa yang berikatan
dengan ikatan a 1,4 glikosidik. Jadi molekulnya menyerupai rantai terbuka.
Amilopektin: terdiri atas molekul D-glukosa yang sebagian
besar mempunyai ikatan 1,4-glikosidik dan sebagian ikatan 1,6 glikosidik.
adanya ikatan 1,6 glikosidik menyebabkan terjadinya cabang, sehingga
molekul amilopektin berbentuk rantai terbuka dan bercabang. Molekul
amilopektin lebih besar dari pada molekul amilosa karena terdiri atas lebih
1000 unit glukosa.
Amylum terdiri dari 20% bagian yang larut air (amilosa) dan 80% bagian
yag tidak larut air (amilopektin). Hidrolisis amylum oleh asam mineral
menghasilkan glukosa sebagai produk akhir secara hampir kuantitatif.
Amylum dapat dihidrolisis sempurna dengan menggunakan asam sehingga
menghasilkan glukosa. Hidrolisis juga dapat dilakukan dengan bantuan
enzim amilase, dalam air ludah dan dalam cairan yang dikeluarkan oleh
pankreas terdapat amilase yang bekerja terhadap amylum yang terdapat pada
makanan kita oleh enzim amilase, amylum diubah menjadi maltosa dalam
bentuk ß – maltose.
Pada praktikum kali ini dilakukan identifikasi makroskopik
dan mikroskopik pada patiberas hal ini dilakukan untuk mengidentifikasi
bentuk serta anatomi secara spesifik dengan menggunakan kaca pembesar
untuk mendenteksi organel sel pati beras, dan fragmen yang terdapat pada
pati beras.
Pada praktikum kali ini hal pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan
alat dan bahan yang akan digunakan, selanjutnya pati beras di
indentifikasi secara mikroskopik pada pembesaran 40 x 100 dengan
menggunakan medium gliseril atau aquadest. Medium tersebut diberikan
sebanyak 1 tetes pada kaca obyek, setelah ditambahkan medium kemudian
difiksasi di atas lampu spiritus (jangan sampai mendidih). Hal ini dilakukan
untuk mengeringkan media dan sampel yang akan diamati pada
mikroskop. Dari hasil pengamatan yang dilakukan dibawahmikroskop tidak
ditemukan jaringan atau amylum pada pati beras. Hal ini disebabkan karena
terjadinya faktor kesalahan pada saat proses pembuatan pati beras, sehingga
menyebabkan tidak ditemukannya jaringan amylum yang terdapat dalam
pati.
Amylum oryzae adalah pati yang diperoleh dari beras yang berupa
serbuk sangat halus dan putih, secara mikroskopik berupa butir persegi
banyak, bersudut atau butir bulat. Hilus ditengah berupa rongga yang nyata
dan celah berjumlah 2- 5µm tidak ada lamella
Pati beras dibuat dengan cara mengendapkan air cucian beras, lalu
diambil endapannya kemudian dikeringkan dengan cara diangin-anginkan
atau dijemur dibawah sinar matahari langsung dengan ditutupi kain hitam.
Dalam pengamatan secara makroskopik pada pati beras memiliki bentuk
berupa serbuk sangat halus, warna putih, rasa tawar, dan tidak berbau .
Dari hasil pengamatan secara mikroskopik pada pati beras tidak
ditemukannya jaringanamylum pada pati beras. Hal ini dikarenakan
terjadinya kesalahan pada saat proses pengerjaan. Tetapi menurut literatur
yang ada, mikroskopik pati beras berupa butir persegi banyak ukuran 2 µm -
5 µm, tunggal atau majemuk bentuk telur 10 µm- 20 µm, terdapat butir telur
dan hilus yang tidak terlihat jelas, dan tidak terdapat lamella (Anonim,
2009).
1. Amilum Manihot (Pati Singkong)
Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot
utillissima Pohl ( familia Euphorbiaceae ).
Pemerian : serbuk sangat halus, putih. Kelarutan : paktis tidak larut
dalam air dingin dan dalam etanol.
Mikroskopik : butir tunggal, agak bulat atau bersegi banyak, butir kecil
diameter 5µm sampai 10µm, butir besar bergaris tengah 20µm sampai
35µm, hilus di tengah berupa titik, garis lurus atau bercabang tiga,
lamela tidak jelas,konsentris, butir majemuk sedikit, terdiri atas dua atau
tiga butir tunggal tidak sama bentuknya.
Bahan organik asing : tidak lebih dari sespora sel.
Wadah dan penyimpanan : dalam wadah tertutup rata
2. Amilum Tritici (Pati Gandum)
Amylum tritici Pati gandum adalah pati yang diperoleh dari biji Triticum
aestivum L.
Mikroskopik : butir, bentuk cakram besar atau seperti ginjal ukuran
10µm sampai 45µm, bentuk bulat telur,terbelah sepanjang poros utama,
butir bersegi banyak atau bulatan kecil, ukuran 2 µm sampai 10µm.
Jarang diketemukan butiran dengan ukuran sedang. Hilus dan lamela
sukar terlihat. Amati di bawah cahaya terpolarisasi,tampak bentuk silang
berwarna hitam, memotong pada hilus.
3. Amilum Maydis (Pati Jagung)
Pati jagung adalah pati yang diperoleh dari biji Zea mays L ( familia
Poaceae )Pemerian,kelarutan,bahan organik asing,wadah penyimpanan :
memenuhi syarat seperti yang tertera pada Pati Singkong.
Mikroskopik : butir bersegi banyak, bersudut, ukuran 2µm sampai
23µmatau butir bulat dengan diameter 25µm sampai 32µm. Hilus
ditengah berupa rongga yang nyata atau celah berjumlah 2 sampai
5,tidak ada lamela. Amati di bawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk
silang berwarna hitam, memotong pada hilus.
4. Amilum Oryzae (Pati Beras)
Amylum oryzae Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza
sativa L. (Familia Poaceae). Pemerian,kelarutan,bahan organik
asing,wadah penyimpanan : memenuhi syarat seperti yang tertera pada
Pati Singkong. Mikroskopik : butir versegi banyak ukuran 2µm sampai
5µm, tunggal atau majemuk bentuk bulat telur ukuran 10µm sampai 20
µm. Hilus ditengah, tidak terlihat jelas,tidak ada lamela konsentris.
Amati di bawah cahaya terpolarisasi, tampak bentuk silang berwarna
hitam, memotong pada hilus.
Pati jagung adalah pati yang diperoleh dari biji Zea mays L ( familia
Poaceae). Berdasarkan hasil praktikum bahwa pati jagung berupa butir
bersegi banyak, bersudut, atau butir bulat, kemudian terdapat butir pati dan
hilus yang berupa rongga atau celah dan terdapat lamela. Bentuk dan ukuran
granula pati jagung dipengaruhi oleh sifat biokimia dari khloroplas atau
amyloplasnya. Sifat birefringence adalah sifat granula pati yang dapat
merefleksi cahaya terpolarisasi sehingga di bawah mikroskop polarisasi
membentuk bidang berwarna biru dan kuning. Warna biru dan kuning pada
permukaan granula pati disebabkan oleh adanya perbedaan indeks refraktif
yang dipengaruhi oleh struktur molekuler amilosa dalam pati. Bentuk heliks
dari amilosa dapat menyerap sebagian cahaya yang melewati granula pati.
Bentuk granula merupakan ciri khas dari masing-masing pati. Tidak ada
hubungan yang nyata antara gelatinisasi dengan ukuran granula pati, tetapi
suhu gelatinisasi mempunyai hubungan dengan kekompakan granula, kadar
amilosa, dan amilopektin. Pati jagung mempunyai ukuran granula yang cukup
besar dan tidak homogen yaitu 1-7µm untuk yang kecil dan 15-20 µm untuk
yang besar. Granula besar berbentuk oval polyhedral dengan diameter 6-30
µm. Granulapati yang lebih kecil akan memperlihatkan ketahanan yang lebih
kecil terhadap perlakuan panas dan air dibanding granula yang besar. Jagung
normal mengandung 15,3-25,1% amilosa, jagung jenis waxy hampirtidak
beramilosa, jagung amilomize mengandung 42,6-67,8% amilosa, jagung
manis mengandung 22,8% amilosa. Amilosa memiliki 490 unit glukosa per
molekul dengan rantai lurus 1-4 a glukosida, sedangkan amilopektin memiliki
22 unit glukosa per molekul dengan ikatan rantai lurus 1-4 a glukosida dan
rantai cabang 1,6- a glukosida. Berdasarkan pengamatan pada pati jagung
setelah ditambahkan larutan iodium dan dipanaskan warnanya berubah
menjadi biru. Hal ini menendakan bahwa terdapat amilum pada pati jagung
tersebut.
Pati singkong adalah pati yang diperoleh dari umbi akar Manihot
utillissimaPohl (familia Euphorbiaceae) berupa butir tunggal,butir agak bulat
atau bersegi banyak butir kecil, ada butir pati,dan juga hilus yang berupa garis
dan titik, ada juga lamella tapi tidak jelas,yang berupa butir majemuk sedikit.
Ketika sampel ditetesi dengan larutan iod sampel menunjukkan warna ungu
kebiruan, hal ini jelas menunjukkan bahwa terdapat amilum pada pati
singkong yang diamati.
Pati beras adalah pati yang diperoleh dari biji Oryza sativa L. (Familia
Poaceae) yang berupa butir bersegi banyak, tunggal atau majemuk bentuk
bulat telur, terdapat butir telur dan hilus yang tidak terlihat jelas, dan tidak
terdapat lamella. Ketika pati beras ditetesi iod menghasilkan warna biru muda
yang berarti menunjukkan bahwa pati beras yang diuji positif mengandung
pati.
Amylum tritici/ Pati gandum adalah pati yang diperoleh dari biji Triticum
aestivum L yang berupa butir bentuk cakram besar seperti ginjal; bentuk bulat
telur sepanjang poros utama; butir bersegi banyak/bulatan kecil. hilus dan
lamella sulit terlihat. Pada saat pengujian, larutan pati gandum ditetesi dengan
iod menunjukkan hasil yang positif dengan pembentukan warna biru dongker.
VI. Kesimpulan dan Saran
A. Kesimpulan
Amilum adalah jenis polisakarida yang banyak terdapat dialam,
yaitu sebagian besar tumbuhan terdapat pada umbi, daun, batang, dan
biji-bijian Amilum merupakan salah satu bagian dari sel yang bersifat
non protoplasmik yang ada didalam plastida. Perkembangan amilum
dimulai dengan terbentuknya hilus, kemudian diikuti oleh pembentukan
lamella yang semakin banyak.

B. Saran
Diharapkan kepada seluruh praktikan agar pada saat pembuatan
sampel benar-benar mengerti dan memahami prosedur yang telah
diberikan, sehingga tidak terjadi lagi kesalahan dan hasil yang didapat
pun sesuai dengan literatur yang ada.
Saran yang dapat diberikan yaitu saat mengamati amilum
dibawah mikroskop, sebaiknya medium yang digunakan jangan terlalu
banyak, karena akan mempengaruhi penampang yang diamati. Jika
terlalu banyak medium, globul air akan mempersulit kita untuk
mengamati hilus dan lamella yang terbentuk

VII. Daftar Pustaka


 Anwar, E. et al.2004. Pemanfaatan Maltodekstrin Pati Terigu Sebagai
Eksipien dalam Formula Sediaan Tablet dan Niosom. Yogyakarta:Gajah
Mada University Press
 Fahn, A.1995. Anatomi Tumbuhan edisi ketiga.Yogyakarta: Gajah Mada
University Press
 Gunawan,D.,Mulyani,S. 2004. Ilmu Obat Alam (Farmakognosi) jilid 1.
Jakarta: Penebar Swadaya
 Kent NL. 1975. Technology of Cereals with Special References to
Wheat.Oxford: Pergamon Pr.
 Poedjiadi. 2009. Dasar-dasar Biokimia. Jakarta: Universitas Indonesia Press
 Syamsuni, H. A. 2007. Ilmu Resep.Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran