Anda di halaman 1dari 12

PENGARUH PEMBERIAN EKSTRAK ETANOL UMBI BAWANG

DAYAK (Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb) TERHADAP KADAR


MALONDIALDEHID (MDA) JARINGAN PANKREAS TIKUS PUTIH
JANTAN YANG DIINDUKSI ALOKSAN

Ringga Novelni, Ria Afrianti, Rizki Damayanti

NAMA:NADYA KARTIKASARI
NO BP:1904073

ABSTRAK
Malondialdehid (MDA) merupakan hasil peroksidasi lipid yang berguna sebagai penanda dari
radikal bebas berlebih pada pasien Diabetes Mellitus. Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui dan menganalisa pengaruh variasi dosis ekstrak etanol umbi bawang dayak
dalam menurunkan kadar malondialdehid pankreas tikus putih jantan yang diinduksi aloksan.

PENDAHULUAN
Diabetes mellitus merupakan suatu penyakit dengan gejala hiperglikemia yang
diakibatkan oleh gangguan sekresi insulin, resistensi insulin, atau keduanya (Muflihatin,
2016).
Salah satu tumbuhan yang berpotensi sebagai antioksidan adalah bawang dayak (Eleutherine
bulbosa (Mill.) Urb). Kandungan kimia bawang dayak meliputi napthoquinonens dan
turunannya, seperti eleutherine, eleutherol, dan eleuthernon. Selain itu bawang dayak juga
mengandung alkaloid, glikosida, flavonoid, fenolik, saponin, triterpenoid, tanin, steroid yang
dimanfaatkan sebagai antimelanogenesis (mencegah timbulnya bintik atau titik-titik hitam
dikulit) dan antioksidan (menangkal radikal 8 bebas) (Utami, 2013). Antioksidan berperan
dalam menetralkan radikal bebas. Berkurangnya kadar radikal bebas dalam tubuh akan
mengurangi risiko untuk menderita penyakit kanker, jantung,dan diabetes semakin berkurang
(Utami, 2013Hasil penelitian Hidayah dkk., (2015) menunjukan bahwa ekstrak etanol 70%
umbi bawang dayak yang diuji menggunakan metode DPPH memiliki efek antioksidan yang
sangat besar dengan nilai IC50 sebesar 41,14 ppm. Parameter pengujiannya adalah nilai kadar
MDA pankreas tikus putih jantan.

METODOLOGI

Hewan Percobaan
Hewan percobaan yang digunakan adalah tikus putih jantan dengan berat 200-300 gram.
Sebelum digunakan hewan percobaan diaklimatisasi ± 1 minggu dengan diberi makan dan
minum yang cukup.

Persiapan Ekstrak
Sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah umbi bawang dayak yang diambil
didaerah Alahan Panjang, Kecamatan Lembah Gumanti, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.
Ekstraksi sampel dilakukan dengan cara maserasi terhadap sampel segar yang telah dirajang
sebanyak 1 kg kemudian dimaserasi dengan etanol 96% selama 3 hari. Maserat disaring
dan lakukan pengulangan hingga hasil maserat berwarna bening kemudian dipekatkan dengan
rotary evaporator hingga diperoleh ekstrak kental.

Pemeriksaan Ekstrak
Pemeriksaan ekstrak etanol umbi bawang dayak meliputi organoleptis, susut
pengeringan, penetapan kadar abu, dan uji fitokimia.

Pengukuran kadar Malondialdehid


Subjek uji penelitian ini adalah 15 ekor tikus putih jantan usia 2 bulan, sehat, tidak ada
luka maupun cacat, aktif, makan dan minum normal, dan berat badan antara 200-300 gram.
Subjek uji penelitian dibagi menjadi 5 kelompok, yaitu kelompok kontrol negatif, kelompok
kontrol positif, kelompok dosis 75 mg/kgBB, kelompok dosis 150 mg kg/BB dan kelompok
dosis 300 mg/kgBB. Semua kelompok kecuali kontrol negatif diinduksi dengaan aloksan 125
mg/kgBB secara intra peritoneal. Variasi dosis sediaan uji esktrak etanol umbi bawang dayak
yang digunakan pada penelitian ini adalah dosis 75 mg/KgBB, 150 mg/KgBB, dan 300
mg/KgBB. Sediaan uji ekstrak etanol umbi bawang dayak (Eleutherine bulbosa (Mill) Urb.)
diberikan selama 15 hari dan hari ke-16 hewan dikorbankan dengan dislokasi leher lalu
diambil pankreasnya.
Selanjutnya pankreas dihomogenkan lalu disentrifuge dengan kecepatan 3000 rpm (5
menit). Lalu diambil 0,5 mL homogenat pankreas, ditambahkan 2,5 mL TCA 5 %, campur
dengan menggunakan vortex mixer, disentrifuge lagi dengan kecepatan 2000 rpm (10 menit).
Pipet masing-masing 1,5 ml filtratnya, tambahkan 5 ml Na.Thio Barbituric Acid, campurkan
dengan menggunakan vortex mixer. Lalu dipanaskan dalam water bath mendidih selama 30
menit, dinginkan. Ukur kadar malondialdehid (MDA) dengan spektrofotometer UV-Vis pada
λ 530 nm.

Analisis Data
Dari hasil penelitian diolah secara statistik dengan Statistik Analisa Varian (ANOVA)
satu arah, kemudian dilanjutkan dengan Uji Lanjut Berjarak Duncan (Duncan New Multiple
Range Test),

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil 1 kg sampel umbi bawang dayak yang dimaserasi dengan etanol 96% didapatkan
ekstrak kental sebanyak 50,84 gram dengan rendemen 5,084 %. Kemudian dilanjutkan
dengan pemeriksaan kadar abu dan susut pengeringan yang hasilnya berturut-turut adalah
2,99% dan 8,26%. Hasil pemeriksaan uji fitokoimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol umbi
bawang dayak memiliki kandungan flavonoid, fenolik, saponin, tannin dan steroid. Ekstrak
secara organoleptis berwarna merah pekat tua dan memiliki bau yang khas.
Hewan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah tikus putih jantan. Adapun
alasan digunakan tikus diantaranya mudah didapat, mudah dalam penanganannya serta
memiliki kemampuan metabolik yang cepat. Hal tersebut sangat bermanfaat dalam penelitian
eksperimental yang bersangkutan dengan metabolisme tubuh (Srinivasan dan Ramarao,
2007). Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu hewan percobaan di aklimatisasi selama
1 minggu untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan sekitar. Hewan percobaan selama
aklimatisasi berat badannya naik atau turun tidak boleh melebihi 10%. Hewan percobaan
dikelompokkan atas 5 kelompok, tiap kelompok terdiri 3 ekor tikus.
Semua kelompok kecuali kelompok kontrol negatif diinduksi dengan aloksan dengan dosis
125 mg/kg BB secara intra peritoneal. Digunakan aloksan karena aloksan secara cepat dapat
mencapai pankreas, aksinya diawali dengan pengambilan yang cepat oleh sel ß Langerhans.
Pembentukan oksigen reaktif merupakan faktor utama pada kerusakan sel tersebut.
Pembentukan oksigen reaktif diawali dengan proses reduksi aloksan dalam sel ß Langerhans.
Hasil dari proses reduksi aloksan adalah asam dialurat, yang kemudian mengalami oksidasi
menjadi aloksan, menentukan siklus redoks untuk membangkitkan radikal
. Tujuanya untuk menghindari peningkatan kadar glukosa darah akibat makanan yang masuk.
Sebelum pemberian larutan penginduksi, dilakukan pengukuran kadar glukosa darah normal
tikus untuk mengetahui kadar glukosa darah sebelum perlakuan sehingga dapat dibandingkan
dengan kadar glukosa darah setelah perlakuan.
Penentuan kadar glukosa darah awal (sebelum injeksi larutan penginduksi) dilakukan setelah
tikus dipuasakan selama 16 jam namun tetap diberikan minum (kadar glukosa puasa) hasilnya
kadar glukosa puasa tikus berada pada rentang normal kadar glukosa puasa yaitu 70-91
mg/dL. Kenaikan kadar glukosa darah tikus terlihat setelah 5 hari pasca induksi dimana kadar
glukosa darah puasa tikus berada pada rentang 139-195 mg/dL ini berarti penginduksian
berhasil menyebabkan tikus mengalami hiperglikemia, sebagai acuan kadar glukosa puasa
tikus hiperglikemia adalah ≥126 mg/dL (Suharmiati, 2003).
Kadar malondialdehid yang diukur pada penelitian ini adalah kadar malondialdehid kelenjar
pankreas tikus. Kelenjar pankreas ini dipilih karena sebagai salah satu kelenjar endokrin yang
sangat berperan penting dalam mengatur sistem tubuh, salah satunya adalah mengatur kadar
glukosa darah. Homogenat yang diperoleh diukur kadar malondialdehidnya dengan
menggunakan metoda Thiobarbituric Acid (TBA). Uji TBA merupakan metoda pengukuran
radikal bebas yang paling umum digunakan untuk mengukur peroksidasi lemak pada
membran lipid atau asam lemak (Fajarwati, 2011).
. Reaksi yang berlangsung terus menerus membentuk reaksi berantai dan menyebabkan
membran kehilangan asam lemak tak jenuhnya. Akibatnya terjadi kerusakan struktur sel
membran yang akan mempengaruhi permeabilitas dan fungsi membran sel. Untuk
menghentikan reaksi tersebut diperlukan suatu bahan yang dapat menetralisir keberadaan
radikal bebas dalam tubuh yaitu antioksidan.
Pemberian sediaan uji diberikan dalam 3 variasi dosis yaitu: Dosis 75 mg/kg BB, dosis 150
mg/kg BB dan dosis 300 mg/kg BB secara peroral. Kadar rata-rata MDA pada kelompok I –
V berturut-turut adalah 5,45 nmol/mL; 9,92 nmol/mL; 9,10 nmol/mL; 8,46 nmol/mL; 6,85
nmol/mL. Dari ke 3 dosis yang diberikan terlihat pada dosis 300 mg/kg BB memberikan efek
yang paling bagus dimana kadar MDA nya menurun mendekati MDA kontrol negatif, hal ini
dapat dilihat pada gambar 1.
Hasil analisa statistik anova satu arah terhadap kadar MDA pankreas ini menunjukan
probabilitas kecil dari 0,05. Artinya pemberian ekstrak etanol bawang dayak selama 14 hari
dapat mempengaruhi kadar malondialdehid secara signifikan. Hasil analisa dari uji Duncan
memperlihatkan bahwa kadar MDA pankreas rata-rata pada kelompok dosis 300 mg/kgBB
yang paling mendekati kelompok kontrol negatif, hal ini menunjukkan bahwa pemberian
ekstrak etanol umbi bawang dayak dosis 300 mg/kgBB dapat menurunkan kadar MDA
hampir mendekati kadar normal. Sedangkan kelompok dosis 75 mg/kg dan 150 mg/kg tidak
signifikan dalam menurunkan kadar MDA pankreas, hal ini dapat dilihat pada yang
menunjukkan bahwa kedua dosis tersebut (75 mg/kgBB dan 150 mg/kgBB) tidak berbeda
nyata dengan kelompok kontrol positif.

KESIMPULAN
Dari penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa :
1. Ekstrak etanol bawang dayak dapat menurunkan kadar malondealdehid pankreas tikus
yang diinduksi aloksan, hal ini terlihat adanya perbedaan signifikan nilai kadar
malondialdehid antara tikus yang diberikan ekstrak etanol dengantikus control negative
(p<0,05).
2. Dari tiga variasi dosis yang diberikan, yaitu dosis 75 mg/kg BB, 150 mg/ kgBB dan
300mg/ kg BB diperoleh hasil penurunan kadar Malondialdehid organ pankreas yang paling
mendekati kelompok normal adalah dosis 300mg/ kgBB (6,85 nmol/mL) .
DAFTAR PUSTAKA
Chand, S. (2014). “Importance of Pharmacognostic study of medicinal plants: An over view. ”
Journal of Pharmacognosy and Phytochemistry. Vol.2(5). Hal.69–73.
Davani, B. (2003). Increased Glucocorticoid Sensitivity in Pancreatic β-Cell: Effect on Glucose
metabolism and Insulin Release. Thesis. Karolinska Institutet
Mu’nisa, Andi., Tutik W., Nastiti, K., Wasmen, M. (2008). Perbaikan Aktivitas Antoksidan Pada
Jaringan Kelinci Hiperkolesterolemia dengan Pemberian Ekstrak Daun Cengkeh. J. Velenteriner.
Desember 2008 : 1411-8327.
Nuraini, A., Indriani, R., Ilyas, R., Srihariyati, Kertawijaya, K., Subagyo, S., &Isnariani, A.
(2015). “Standardisasi ekstrak tumbuhan obat Indonesia, salah satu tahapan penting dalam
pengembangan obat asli Indonesia.”InfoPOM.
Slatter, D. A., Bolton, C. H., dan Bailey, A. J. (2010). “The importance of lipid-derived
malondialdehyde in diabetes mellitus.”Diabetologia. Vol.43(5). Hal.550–557.
Soesilo, N. (2012). “Pengaruh Pemberian Jus Noni ( Morinda Citrifolia L) Dosis Bertingkat
Terhadap Produksi Nitric Oxide (No) Makrofag Peritoneum Pada Tikus Galur Wistar Yang
Diberi Paparan Asap Rokok.”Eprints Undip.Vol.1. Hal.18
Srinivasan dan Ramarao. (2007). Animal Model In Type 2 Diabetes Research : An Overview.
Indian J Med Res 125. pp 451-472.
Suarsana, I. N., Utama, I. H., Agung, I. G., dan Suartini, A. (2010). “Pengaruh Hiperglikemia dan
Vitamin E pada Kadar Malonaldehida dan Enzim Antioksidan Intrasel Jaringan Pankreas
Tikus.”Mkb. Vol.43(2). Hal.72–76.
Suharmiati. (2003). "Pengujian Bioaktivitas Anti Diabetes Mellitus Tumbuhan Obat, Badan
Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Pusat Penelitian dan PengembanganPelayanan dan
Teknologi Kesehatan Departemen Kesehatan RI, Surabaya." Cermin Dunia Kedokteran. No. 140,
8- 13.
Szkudelski, T. (2001). “The Mechanism Of Alloxan And Streptozotocin Action In β Cells Of The
Rat Pa Ncreas.” Physiology Research. Hal.54–536.
Utami, P., dan Desty, E.P. (2013). The Miracle of Herbs. Jakarta: PT. AgroMedia Pustaka.
Halaman 164-166.
Yasa, I.W.P.S. et al. (2015).“Hubungan Positif antara Ulkus Kaki Diabetik dengan Presentase Sel
Bermarkah CD4+ Pembawa Malondialdehid.”Agritech. Vol.37(3). Hal.80-82. Universitas
Udayana