Anda di halaman 1dari 5

PERAN MAHASISWA DALAM

PEMILIHAN KEPALA DAERAH LANGSUNG 1


Oleh Wein Arifin 2

Pendahuluan
Agenda Pemilihan Kepala Daerah Langsung (Pilkadal) di Sumatera Barat yang
prosesnya tengah berlangsung, merupakan agenda strategis bagi pembangunan
demokrasi di Sumbar. Pilkada dikatakan strategis karena:
Pertama, pemilihan ini merupakan pemilihan kepala daerah pertama yang
dilaksanakan secara langsung di Sumbar. Konsekuensi dari hal tersebut adalah
pemilihan kepala daerah ini melibatkan seluruh masyarakat Sumbar yang telah
memiliki hak pilih dan tentunya mekanisme ini dapat memaksimalkan legitimasi
kepala daerah yang terpilih.
Kedua, proses Pilkada ini, sejatinya adalah proses penyerahan sebahagian
kedaulatan rakyat kepada negara (eksekutif), untuk kemudian negara menjalankan
fungsinya dalam mengatur dan menjamin keberlangsungan hidup masyarakat ke arah
yang lebih baik. Dalam teori terbentuknya sebuah negara dan pemerintahan, negara
ada karena adanya kesepakatan (kontrak sosial) antar anggota masyarakat untuk
menyerahkan sebahagian kedaulatan/kebebasan mereka kepada negara, yang bertugas
mengatur dan menjamin keamanan dan kesejahteraan warganya.
Ketiga, Pilkada merupakan bagian dari proses transisi demokrasi di daerah.
Pemilihan kepala daerah sebelumnya dilakukan dengan sistem perwakilan, yaitu oleh
DPRD, sedangkan sekarang dipilih secara langsung oleh rakyat. Proses yang baru ini
membutuhkan perhatian dari segenap unsur masyarakat sebagai wujud tanggungjawab
bersama dalam melahirkan hasil pemilihan yang berkualitas.

Mahasiswa dan Gerakan Mahasiswa


Sebagai sebuah konsep, pengertian tentang mahasiswa masih sering menjadi
perdebatan. Perdebatan itu timbul karena mahasiswa di dalam konsepsi dan realitas
kenyataannya masih dipandang dari satu aspek saja dari sekian banyaknya
kompleksitas pengertian dan realita kehidupan suatu golongan masyarakat.

1
Makalah ini disampaikan dalam Diskusi yang diadakan oleh Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM)
Penalaran Universitas Andalas, Rabu 27 April 2005 dengan Tema “ Menyongsong Pelaksanaan
Pemilihan Kepala Daerah Langsung 2005” bertempat di Kampus Limau Manih.
2
Mahasiswa Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial Ilmu Politik (FISIP), Unand

1
Pertama, Mahasiswa sebagai individu. Mahasiswa adalah individu yang sedang
melakukan serangkaian kegiatan dalam rangka menempuh pendidikan di perguruan
tinggi. Tugas pokok mahasiswa adalah untuk mendapatkan keahlian/ketrampilan
berdasarkan suatu/sejumlah ilmu tertentu.
Kedua, Mahasiswa sebagai suatu kelompok. Kelompok mahasiswa adalah
bagian dari unsur masyarakat sipil, yaitu suatu masyarakat yang melingkupi
kehidupan sosial terorganisasi yang terbuka, sukarela, lahir secara mandiri, otonom
dari negara dan terikat pada tatanan legal atau seperangkat nilai-nilai bersama. Karena
itu ketika kita berbicara tentang mahasiwa maka sebenarnya yang kita bicarakan
adalah tentang gerakan mahasiswa. Mahasiswa sebagai suatu gerakan adalah suatu
kelompok masyarakat yang memiliki karakter kritis, independen, dan obyektif.
Impelmentasi dari hal ini diwujudkan dalam karakter gerakannya. Gerakan mahasiswa
biasanya dilakoni oleh organisasi-organisasi kemahasiswaan di tingkatan kampus
maupun di luar kampus sebagai wujud dari peran mahasiswa ditengah masyarakat.
Gerakan mahasiswa memiliki prinsip sebagai gerakan moral yaitu gerakan mahasiswa
dibangun diatas nilai-nilai ketidakadilan atau kesewenang-wenangan kekuasaan.
Sebagai gerakan moral, mahasiswa melakukan kontrol sosial terhadap pemerintah
sebagai upaya artikulasi kepentingan masyarakat atau sebagai penyambung lidah
rakyat.

Peranan Mahasiswa Dalam Pilkada


Berbicara tentang peranan mahasiswa dalam proses perubahan masyarakat
menuju tatanan demokratis, maka benak kita akan melayang pada peristiwa di tahun
1966, 1978, dan 1998, dimana pada waktu itu peranan mahasiswa sebagai sebuah
gerakan moral, menunjukkan eksistensinya. Aktifitas dan gerakan mahasiswa kala itu
memiliki kesamaan isu dan musuh, yaitu rezim yang otoriter dan eksploitatif. Kondisi
tersebut menjadikan mahasiswa sebagai sebuah gerakan, mampu muncul menjadi
kekuatan besar, sehingga mengutip Arief Budiman, bahwa cuma ada satu kata untuk
menyebut gerakan mahasiswa waktu itu (1998), yaitu fantastis!
Pertanyaannya kemudian, bagaimana peranan mahasiswa dalam agenda
suksesi, baik di tingkat daerah maupun nasional? Dalam konteks peranan mahasiswa,
jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan yang bersifat spektakuler, adalah tetap
sama, yakni menjaga/mengawal proses demokratisasi, hanya saja mungkin caranya
yang berbeda. Kondisi ini disebabkan agenda suksesi kepemimpinan pemerintah

2
seperti Pemilu, Pilpres dan Pilkada, mahasiswa tidak berhadapan dengan rezim yang
otoriter atau yang kesewenangan-wenang. Mahasiswa yang dihadapkan pada situasi
ini, relatif tidak memiliki “musuh” bersama. Oleh karena itu mahasiswa memiliki
peran tersendiri yang berbeda ketika mahasiswa berhadapan dengan penguasa.
Ada beberapa peran yang dapat dijalankan oleh mahasiswa dalam proses Pilkada
langsung di Sumbar, baik itu sebagai individu maupun organisasi. Peran tersebut
adalah:
1. Mengawal Proses Pelaksanaan Pilkada Langsung
Mahasiswa mempunyai peran strategis dalam pengawalan proses pelaksanaan
Pilkada bersama aktivis-aktivis masyarakat sipil lainnya, seperti: LSM, Akademisi,
Pers, dan Ormas/ OKP. Peran ini diambil, karena mahasiswa merupakan kekuatan
masyarakat sipil yang bersifat independen, objektif, dan berlandaskan pada aspek
moralitas. Oleh karena itu, pengawalan terhadap proses Pilkada langsung merupakan
peran yang strategis untuk dijalankan oleh mahasiswa.
Peran pengawalan terhadap proses pilkada dapat dimainkan oleh mahasiswa
sebagai individu maupun oelh lembaga-lembaga mahasiswa, seperti: lembaga intern
kampus, lembaga ekstern kampus, dan organisasi mahasiswa kedaerahan. Adapun
jalan yang bisa sekiranya ditempuh oleh mahasiswa dan organisasi kemahasiswaan
dalam melakukan peranannya dalam mengawal proses pilkada, antara lain: diskusi,
seminar, opini publik, artikel/tulisan di media massa, penyataan sikap, dan
demonstrasi.

2. Pendidikan Politik Kepada Masyarakat


Pendidikan politik pada masyarakat dilakukan sebagai wujud tanggung jawab
mahasiswa kepada masyarakat. Adapun wujud dari peran ini adalah adanya agenda
mahasiswa seperti: bedah visi dan misi calon kepala daerah, melakukan kajian
terhadap kapasitas dan integritas calon kepala daerah, membuat kriteria calon kepala
daerah versi mahasiswa atau membuat nota kesepakatan dalam bentuk kontrak politik
kepada calon kepala daerah.
Target dari agenda-agenda ini adalah, masyarakat dapat menentukan pilihannya
berdasarkan pertimbangan-pertimbangan yang rasional, bukan berdasarkan
kharismatik semata. Dalam pelaksanaan peran ini, etika yang harus dibangun oleh
setiap organisasi mahasiswa adalah sikap objektifitas dan akuntabilitas. Objektifitas
yang dimaksud ialah pembedahan visi/misi, pembuatan kriteria calon kepala daerah,

3
dilakukan dengan tanpa disusupi oleh kepentingan politik praktis. Hal ini penting,
sebab mahasiswa sebagai sebuah gerakan moral, mesti bersikap netral dan berpihak
kepada masyarakat luas.
Sedangkan akuntabilitas, adalah penilaian yang diberikan oleh sebuah organisasi
mahasiswa, yang harus bisa dipertanggungjawabkan kesahihannya, artinya, bila
mahasiswa menilai seorang kepala daerah yang terindikasi melakukan tindak
penyelewengan kekuasaan maka data dan fakta yang disampaikan harus dapat
dibuktikan, bukan sekedar isu belaka, sehingga kepercayaan masyarakat tetap besar
terhadap gerakan mahasiswa.

3. Masuk sebagai Tim Pemenangan Calon Kepala Daerah


Keterlibatan mahasiswa dalam tim pemenangan calon kepala daerah, bukanlah
sebuah hal yang baru dalam dinamika kemahasiswaan. Contoh yang paling dekat
adalah Pada Pemilu dan Pilpres 2004, dimana banyak ditemui aktivis mahasiswa yang
menjadi tim sukses dari calon anggota DPR/DPRD, DPD maupun calon presiden. Ada
beberapa pertimbangan dasar ketika mahasiswa mengambil peran ini :
a. Mahasiswa, sebagai individu masyarakat memiliki hak untuk berpartisipasi
dalam setiap proses politik, baik saat pencoblosan maupun dalam menentukan
sikap untuk mendukung pasangan calon kepala daerah tertentu.
b. Ikut dalam tim pemenangan calon kepala daerah merupakan political process
bagi mahasiswa itu sendiri. Political proses ini adalah bentuk pengaktualisasian
kemampuan diri dari mahasiswa itu sendiri sekaligus wadah pembelajaran
dalam ruang lingkup politik praktis.
Munculnya mahasiswa dalam arena tim pemenangan calon kepala daerah
menimbulkan kekhawatiran dari berbagai pihak bahkan dari kalangan mahasiswa itu
sendiri. Kekhawatiran tersebut adalah, antara lain:
Pertama, mahasiswa akan mudah diperalat dan ditunggangi oleh pihak-pihak
yang berkepentingan. Kedua, saling dukung mendukung calon kepala daerah akan
memperlemah gerakan mahasiswa. Karena, kemungkinan akan terjadi suatu keadaan
di mana sekelompok mahasiswa menyatakan dukungannya kepada calon si A,
sementara kelompok mahasiswa yang lain menyatakan mendukung si B, si C dan
seterusnya. Hal ini tentu akan berakibat memperlemah persatuan di kalangan
mahasiswa itu sendiri, mahasiswa akan terkotak-kotak dan dengan sendirinya
mahasiswa akan mudah untuk diadu domba dan dipecah belah.

4
Beberapa point kekhawatiran diatas, besar peluangnya untuk terjadi. Namun
keikutsertaan mahasiswa dalam tim pemenangan calon kepala daerah, tetap memiliki
aspek positif bagi mahasiswa tersebut. Oleh karena itu perlu dirumuskan etika
bersama sebagai panduan normatif, menyikapi adanya ambivalensi tersebut, yaitu:
1. Hendaknya kapasitas mahasiswa yang ikut dalam tim pemenangan itu, adalah
sebagai individu, bukan mengatasnamakan organisasi kemahasiswaan tertentu.
2. Individu mahasiswa yang ikut dalam tim pemenangan, hendaknya bukanlah
mahasiswa yang dalam struktur organisasinya berperan sebagai decision maker,
seperti: ketua umum, ketua bidang/divisi/departemen. Hal ini untuk menjaga
netralitas organisasi mahasiswa tersebut.
3. Hendaknya organisasi kemahasiswaan dapat bersikap netral, khususnya lembaga
intern kampus. Hal ini dikarenakan wilayah kampus merupakan tempat yang
dijunjung tinggi kenetralannya, oleh karena itu tidak dapat dimasuki oleh
kepentingan politik praktis. Peran organisasi kemahasiswaan dalam hal ini
hanya sebatas pengawal sekaligus memberikan pendidikan kritis sebagai wujud
dari gerakan moral.
4. Individu-individu mahasiswa yang tergabung dalam tim pemenangan calon
kepala daerah hendaknya tidak terjebak kedalam praktek-praktek politik yang
tidak bermoral, seperti: money politic, politik dagang sapi, dll.

Penutup
Proses pilkada yang sedang berlangsung di Sumbar, merupakan momentum
strategis bagi pembangunan demokrasi di Sumbar. Oleh sebab itu hendaknya dapat
disukseskan oleh seluruh lapisan masyarakat, termasuk mahasiswa. Mahasiswa, baik
ia sebagai individu maupun secara kelembagaan, memiliki pilihan-pilihan peran
dalam menyuksesan agenda pilkada, apakah itu berperan dalam mengawal proses
Pilkada langsung, pendidikan politik masyarakat, atau ikut dalam tim pemenangan
calon kepala daerah. Semua pilihan tersebut hendaknya tetap dilandasi oleh semangat
mewujudkan pemilihan kepala daerah yang demokratis, bersih, jujur, dan adil.
Akhir kata, segala pilihan muaranya dikembalikan kepada kita semua. Namun
perlu diingat “Pilihan Menunjukkan Kedewasaan Kita Dalam Berfikir dan Bertindak”.
Wassalam.