Anda di halaman 1dari 8

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Saluran alam memiliki hubungan erat terhadap aktifitas manusia.
Salah satu contoh saluran alam yang sering dijumpai adalah sungai. Sungai
mempunyai peranan penting sebagai penunjang kehidupan manusia. Hal
ini dikarenakan fungsi sungai bukan hanya sebagai sarana untuk
mengalirkan air, akan tetapi mampu memberikan nilai ekonomis dalam
berbagai aspek kehidupan, seperti pembangkit listrik, penyediaan air baku
bagi perusahaan air minum, sarana transportasi, pertanian, perkebunan,
perikanan dan lain sebagainya.
Sungai pada umumnya memiliki karakteristik sifat yaitu terjadinya
perubahan morfologi pada bentuk dan tampang aliran. Perubahan pada
sungai umumnya terjadi akibat dari faktor alam atau faktor manusia seperti
adanya bangunan – bangunan air pada badan sungai seperti pilar, abutmen,
bendung dan sebagainya. Sifat dinamis pada sungai, suatu waktu akan
dapat memberikan pengaruh kerusakan pada bangunan yang ada
disekitarnya.

1.2 MAKSUD DAN TUJUAN


Mengumpulkan data karakteristik pengaliran pada saluran
alam/sungai, antara debit aliran, ketinggian muka air (dalam air),
kecepatan aliran.

1.3 PERALATAN DAN BAHAN


a. Satu unit current-meter
b. Stopwatch
c. Papan duga
d. Water pas
e. Pelampung
f. Meteran (alat ukur panjang)
g. Lampu baterai

1.4 PROSEDUR PERCOBAAN


a. Pastikan peralatan yang akan dibawa ke lapangan dalam kondisi baik
(siap pakai).
b. Pengukuran kecepatan:
- dengan pelampung
- dengan current-meter
c. Pengukuran tinggi muka air
d. Hitung debit aliran berdasarkan kecepatan.
e. Gambar distribusi kecepatan pada tampang tinggi (stage hidrograph)
f. Gambar grafik hubungan antara debit aliran dengan tinggi muka air
pada suatu tampang.
g. Rating curve adalah sangat penting untuk mengubah stage hydrograph
menjadi discharge-hydrograph.
h. Untuk mengatasi unsur subyektivitas maka rating curve dapat diubah
dalam grafik skala logaritmik.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 DASAR TEORI


Saluran alam merupakan suatu aliran yang meliputi semua alur aliran air
secara alami, seperti sungai yang kecil dan besar dimana alirannya mengalir dari
hulu ke hilir (Edy Harseno & Setdin Jonas, 2007).
Pada saluran terbuka, bila kedalaman aliran mengalami perubahan, maka
permukaan airpun turut mengalami perubahan. Perubahan yang cepat
pada kedalaman aliran dari kedudukan yang rendah kedudukan yang
tinggi adalah merupakan peristiwa dalam hidrolika. Peristiwa seperti ini dalam
Hidrolika disebut air loncat atau HydraulicJump, dan alirannya dapat digolongkan
dalam aliran berubah cepat (Repidly Varied Flow).Hal ini akan terjadi jika pada
aliran tersebut mengalami gangguan di dalam pengalirannya.
Misalnya dengan adanya pemasangan pintu sorong (Penyekatan). Dengan
adanya pintu sorong ini maka muka air di udik akan menjadi tinggi. Dalam hal ini
pintu sorong dapat diatur penggunaannya untuk mengatur debit sesuai yang kita
kehendaki. Dalam percobaan ini kita akan mengamati panjang loncatan juga tinggi
loncatan yang diakibatkan oleh bukaan pintu sorong. Pada percobaan ini ada
beberapa rumus yang kita gunakan untuk menghitung gaya-gaya yang
bekerja pada pintu sorong dan koefisien-koefisienlainnya. Antara lain
:Persamaan Kontinuitas, Hukum Bernoully, Persamaan momentum. Saluran
terbuka, saluran yang mengalirkan air dengan suatu permukaaanbebas disebut
saluran terbuka. Menurut asalnya, saluran dapat digolongkanmenjadi saluran alam
(natural) dan saluran buatan (artificial). Aliran air dalamsuatu saluran dapat berupa
aliran-saluran-terbuka (open chanel flow).Kedua jenis aliran tersebut sama dalam
banyak hal, namun berbeda dalam satu hal penting.Aliran saluran terbuka harus
memiliki permukaan bebas (free surface), sedangkan Aliran pipa tidak
demikian,karena air harus mengisi seluruh saluran. Permukaanbebas dipengaruhi
oleh tekanan udara. Sungai atau saluran terbukamenurutBambang Triatmodjo
adalahsaluran dimana air mengalir dengan muka air bebas. Pada saluran terbuka,
misalnya sungai (saluran alam),variable laliran sangat tidak teratur terhadap ruang
dan waktu.Variabel tersebut adalah tampang lintang saluran,kekasaran,kemiringan
dasar, belokan, debit aliran dan sebagainya.
Mulai dari mata airnya dibagian yang paling hulu di daerah pegunungan
dalam perjalanannya ke hilir di daerah daratan, Aliran sungai secara berangsur-
angsur berpadu dengan banyak sungai lainnya, sehingga lambat laun tubuh sungai
tumbuh menjadi semakin besar. Apabila sungai semacam ini mempunyai lebih dari
dua cabang, maka sungai yang paling penting adalah sungai yang daerah
pengalirannya panjang dan volume airnya paling besar, sungai ini disebut sungai
utama (main river), sedangkan cabang-cabang lainnya disebut anak sungai
(tributary). Biasanya alirannya berakhir di sebuah danau atau laut. Sungai
membentuk beberapa buah cabang sungai (enffluent). Sungai adalah aliran terbuka
dengan ukuran geometrik yaitu penampang melintang, profil memanjang dan
kemiringan lembah yang berubah seiring waktu, tergantung pada debit, material
dasar dan tebing (Ady Syaf Putra, 2014).
Pada saluran terbuka, permukaanya bervariasi dari logam yang
dipoles, yang dipakai untuk menguji talang sampai dasar sungai yang kasar
dan tidak teratur. Lagi pula kekasaran dalam suatu saluran terbuka tergantung
pada permukaan bebas. Sebab itu pemilihan koefisien gesekan untuk saluran
terbuka lebih bersifat tidak pasti disbandingkan dengan pada aliran pipa.
Aliran dalam saluran terbuka dapat digolongkan menjadi berbagai jenis
dan diuraikan dengan berbagai cara. Penggolongan berikut ini dibuat berdasarkan
perubahan kadalaman ailran sesuai dengan waktu dan ruang.
Aliran tunak (steady Flow) dan aliran tak tunak (Unsteady Flow) : Waktu
sebagai kriteria. Aliran dalam saluran terbuka dikatakan tunak (steady) bila
kedalaman aliran tidak berubah atau dapat dianggap konstan selama suatu selang
waktu tertentu.
Aliran dikatakan taktunak (Unsteady) bila kedalamannya berubah sesuai
dengan waktu. Sebagian besar persoalan tentang saluran terbuka umumnya hanya
memerlukan penelitian mengenai perilaku aliran dalam keadaan tunak.
Namun bila perubahan keadaan aliran sesuai dengan waktu ini, merupakan
masalah utama yang harus diperhatikan, maka aliran harus dianggap bersifat tak
tunak. Misalnya, banjir dan gelombang yang merupakan contoh khas untuk aliran
tak tunak, taraf aliran berubah segera setelah gelombang berlaku, dan unsure
waktu yang menjadi hal yang sangat penting dalam perancangan pengendali.
Aliran seragam (Uniform Flow) dan aliran berubah ( Varied Flow) : Ruang
sebagai kriteria. Aliran saluran terbuka dikatakan seragam bila kedalaman air
sama pada setiap penampang saluran. Suatu aliran seragam dapat bersifat tunak
atau taktunak, tergantung apakah kedalamannya berubah sesuai dengan perubahan
waktu.
Aliran seragam yang tunak (Steady uniform flow) merupakan jenis pokok
aliran yang dibahas dalam dalam saluran terbuka. Kedalaman aliran tidak berubah
selama suatu waktu tertentu yang telah diperhitungkan. Penetapan bahwa suatu
akiran bersifat seragam taktunak (unsteady uniform flow) harus dengan syarat
bahwa permukaan air berfluktuasi sepanjang waktu dan tetap sejajar dasar saluran.
Jelas bahwa hal ini merupakan suatu keadaan yang praktis tidak mungkin terjadi.
Sebab itu istilah “aliran seragam” di sini selanjutnya hanya dipakai untuk
menyatakan aliran seragam yang tunak.
Aliran berubah dapat dibagi lagi menjadi berubah tiba-tiba (rapidly varied)
dan berubah lambat laun (gradually varied). Aliran disebut berubah tiba-tiba bila
kedalamanya berubah tiba-tiba juga disebut sebagai gejala setempat (local
phenomenon), contohnya adalah loncatan hidrolik dan penurunan hidrolik.
Debit adalah satuan besaran air yang keluar dari Daerah Aliran Sungai
(DAS). Satuan debit yang digunakan adalah meter kubik per sekon (m3/s). Debit
aliran adalah laju aliran air (dalam bentuk volume air) yang melewati suatu
penampang melintang sungai per satuan waktu.
Aliran adalah laminar bila gaya kekentalan relative sangat besar
dibandingkan dengan inersia sehingga kekentalan berpengaruh besar terhadap
perilaku aliran. Dalam aliran laminar, butir-butir air seolah-olah bergerak menurut
lintasan tertentu yang teratur atau lurus, dan selapis cairan yang sangat tipis
seperti menggelincir diatas lapisan sebelahnya.
Percobaan ini untuk menentukan kecepatan alir dan debit. Kecepatan alir
dicari dengan menggunakan metode pelampung dan current meter. Metode
pelampung mencari kecepatan pada tiap bagian penampang melintang permukaan
sungai, dan metode current meter pada tiap kedalaman penampang sungai. Debit
diukur dengan menggunakan mean dan mid area method dan didapatkan hasil
aliran sungai tersebut subkritis.

Debit aliran merupakan satuan untuk mendekati nilai-nilai hidrologis proses


yang terjadi di lapangan. Kemampuan pengukuran debit aliran sangat diperlukan
untuk mengetahui potensi sumberdaya air di suatu wilayah DAS. Debit aliran
dapat dijadikan sebuah alat untuk memonitor dan mengevaluasi neraca air suatu
kawasan melalui pendekatan potensi sumber daya air permukaan yang ada (Aidi
Finawan & Arief Mardiyanto, 2011).
Perhitungan debit air untuk mengetahui kapasitas DAS wilayah kawasan
terutama kawasan utama untuk melakukan analisis sistem drainase pada saluran
drainase primer dan sekunder (Wismarini, 2011).
Perubahan volume debit air dan tinggi muka air sering terjadi terutama pada
saat musim hujan, banyaknya curah hujan dapat mempengaruhi jumlah volume air
yang mengalir dari anak sungai ke sungai utama. (Kamal Neno, dkk, 2016).
Cara mengukur debit untuk saluran berbentuk penampang bebas (saluran
alam) apalagi yang cukup besar seperti anak sungai untuk sumber irigasi. Metode
yang paling umum adalah dengan menggunakan prinsip matematika dan kalkulus,
yaitu benda dibagi menjadi beberapa persegi panjang seperti pada gambar 2.1.

Gambar 2.1 Penampang Sungai

Luas penampang basah adalah jumlah luas dari lima kotak, dengan
kedalamannya seperti yang dapat diukur di titik A, B, C, D, dan E. Lebarnya tiap
kotak adalah seperlima dari lebar saluran/sungai. (Takeda, K., 2003)
Besaran debit air dapat dihitung dengan:
Q=VxA
Dimana:
Q = debit
V = kecepatan aliran air (m/dt)
A = luas penampang basah (m2)
Tinggi muka air sungai adalah ketinggian permukaan air yang diukur dari titik
acuan yang telah ditetapkan. Kegiatan ini dilakukan untuk mengamati fluktuasi (naik
turunnya) muka air. Tujuan pengamatan tinggi muka air disesuaikan dengan rencana
pengembangan dan pengelolaan daerah aliran sungai. Untuk perencanaan sarana dan
prasarana sumber daya air yang memerlukan akurasi tinggi seperti pengendalian banjir,
penyediaan air baku,perencanaan bangunan air, operasi pengelolaan sumber air, dan
didalam estimasi debit sedimen yang terbawa aliran air dibutuhkan stasiun pengamatan
duga muka air (M. Arham, dkk, 2015).

Kecepatan aliran juga tergantung pada beberapa faktor lainnya yaitu


bentuk penampang saluran kekasaran saluran. Kecepatan maksimum pada
permukaan bebas terjadi pada saluran yang mempunyai arus yang besar atau deras
dan dangkal serta saluran yang memiliki dasar saluran yang licin (Ajeng Titin
Suciana, 2016). Sedangkan untuk kekasaran sendiri, ada beberapa faktor yang
mempengaruhi nilai kekasaran tersebut, baik untuk saluran alam maupun saluran
buatan, antara lain:
a. Kekasaran permukaan saluran,
b. Ada tidaknya tanaman/tumbuhan dalam saluran,
c. Ketidakteraturan saluran,
d. Trase saluran,
e. Pengendapan dan penggerusan,
f. Hambatan di dalam saluran, misalnya adanya balokbalok,
pilar jembatan dan lain-lain. (Effendy, 2012).
Daftar Pustaka

Putra, A.S. 2014. ANALISIS DISTRIBUSI KECEPATAN ALIRAN SUNGAI


MUSI (RUAS SUNGAI : PULAU KEMARO SAMPAI DENGAN
MUARA SUNGAI KOMERING). Jurnal Teknik Sipil dan Lingkungan
Vol. 2, No. 3, September 2014 : 603-604.

Finawan, A., Mardiyanto, A. 2011. PENGUKURAN DEBIT AIR BERBASIS


MIKROKONTROLER AT89S51. Hal: 28-29. Diakses pada tanggal 15
Februari pukul 23.52.
http://jurnal.pnl.ac.id/wpcontent/plugins/Flutter/files_flutter/13842278122.
AidiFinawandanAriefMardiyanto.pdf

Arham, M., Arsyad, M. Palloan, P. 2015. ANALISIS KARAKTERISTIK


CURAH HUJAN DAN TINGGI MUKA AIR DAERAH ALIRAN
SUNGAI (DAS) PUTE RAMMANG-RAMMANG KAWASAN KARST
MAROS. JURNAL SAINS DAN PENDIDIKAN FISIKA (JSPF): 4.

Suciana, A.T., Sumiadi, Sisinggih, D. 2016. KAJIAN DISTRIBUSI


KECEPATAN ALIRANSEBELUM DAN SESUDAH BELOKAN DI
SALURAN TERBUKA MENGGUNAKAN ACOUSTIC DOPPLER
VELOCIMETER (ADV). Hal: 4.

Triadmodjo, B. 1993. Hidraulika I. Yogyakarta: BETA OFFSET.