Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

GEOMORFOLOGI REGIONAL
“PULAU SUMATRA BAGIAN SELATAN”

OLEH :

RENGGA PERMANA : 17;1000-5531-0

NURMALINDA : 17-1000-5531-015

DOSEN :

NINA ISMAYANI, S.Pd, M.Pd

PROGRAM STUDI GEOGRAFI


FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS TAMANSISWA PADANG
2017
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-NYA,
sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah Geomorfologi Regional Indonesia yang berjudul Pulau
Sumatra bagian selatan makalah ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan serta
dapat berpikir kritis tentang region Pulau Sumatra bagian selatan terutama mengenai kearifan lokal
penduduk dalam menanggulangi permasalahan utama Pulau Sumatra selatan. Terima kasih yang tak
terhingga penulis sampaikan kepada dosen pembimbing matakuliah Geografi regional Indonesia
Bapak Dwi Fauzia Putra, M.Pd yang telah membimbing kami sehingga dapat menyusun makalah ini.
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberi balasan atas segala bantuan yang diberikan, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Akhirnya, dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan
kritik dan saran demi kesempurnaan makalah ini. Harapan saya, semoga karya yang sederhana ini
dapat bermanfaat bagi semua pihak, penulis khususnya dan pembaca pada umumnya. .

PADANG, Desember 2015


DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR ........................................................................................ i

DAFTAR ISI...................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang ............................................................................ ...............1

B.Rumusan Masalah ..................................................................................... 2

C.Tujuan ........................................................................................................ 2

BAB II PEMBAHASAN

A.Pulau sumatra bagian selatan ..................................................................... 4

B.Bentuk lahan pulau sumatra selatan .......................................................... 6

C.genesis..........................................................................................................8

D.proses terbentuknya pulau sumatra selatan ............................................. 11

E.Perkembangan pulau sumatra selatan .............................. ........................12

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN ................................................................................. 19 B.

DAFTAR PUSTAKA................................................................................ 23
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Wilayah Sumatera merupakan bagian dari busur kepulauan Sunda, yang terbentang dari kepulauan
Andaman-Nicobar hingga busur Banda (Timor). Busur Sunda merupakan busur kepulauan hasil dari
interaksi lempeng samudera (lempeng Indo-Australia bergerak ke utara dengan kecepatan 7 cm
pertahun) yang menunjam di bawah lempeng benua (Lempeng Eurasia). Penunjaman lempeng
terjadi di selatan busur Sunda berupa palung (trench). Disamping itu, Penunjaman lempeng tersebut
membentuk jajaran gunung-gunung api dan perbukitan vulkanik (bukit barisan) sepanjang daratan
Sumatera dan patahan Sumatera (Sumatera Fault) yang membelah daratan Sumatera.

Pulau Sumatera, berdasarkan luas merupakan pulau terbesar keenam di dunia. Pulau ini membujur
dari barat laut ke arah tenggara dan melintasi khatulistiwa, seolah membagi pulau Sumatera atas
dua bagian, Sumatera belahan bumi utara dan Sumatera belahan bumi selatan. Pegunungan Bukit
Barisan dengan beberapa puncaknya yang melebihi 3.000 m di atas permukaan laut, merupakan
barisan gunung berapi aktif, berjalan sepanjang sisi barat pulau dari ujung utara ke arah selatan;
sehingga membuat dataran di sisi barat pulau relatif sempit dengan pantai yang terjal dan dalam ke
arah Samudra Hindia dan dataran di sisi timur pulau yang luas dan landai dengan pantai yang
landai dan dangkal ke arah Selat Malaka, Selat Bangka dan Laut China Selatan.

Di bagian utara pulau Sumatera berbatasan dengan Laut Andaman dan di bagian selatan
dengan Selat Sunda. Pulau Sumatera ditutupi oleh hutan tropik primer dan hutan tropik
sekunder yang lebat dengan tanah yang subur. Gungng berapi yang tertinggi di Sumatera
adalah Gunung Kerinci di Jambi, dan dengan gunung berapi lainnya yang cukup terkenal
yaitu Gunung Leuser di Nanggroe Aceh Darussalam dan Gunung Dempo di perbatasan Sumatera
Selatan dengan Bengkulu. Pulau Sumatera merupakan kawasan episentrum gempa bumi karena
dilintasi oleh patahan kerak bumi di sepanjang Bukit Barisan, yang disebut Patahan Sumatera;
dan patahan kerak bumi di dasar Samudra Hindia di sepanjang lepas pantai sisi barat Sumatera.
Danau terbesar di Indonesia, Danau Toba terdapat di pulau Sumatera.

Pada makalah ini akan lebih dijelaskan mengenai Sumatera Bagian Selatan, baik mengenai fisiografis,
gerakan tektonik, struktur geologi, jenis batuan, bahan tambang serta stratigrafi daerah di Sumatera
Bagian Selatan.

1.2 Tujuan

Tujuan dari pembuatan makalah ini yaitu untuk lebih mengetahui tentang daerah Sumatra Bagian
Selatan (Bengkulu, Sumatera Selatan dan Lampung), terutama mengenai fisiografis, gerakan
tektonik, struktur geologi, jenis batuan, bahan tambang serta stratigrafi daerah tersebut. Selain itu
juga untuk memenuhi tugas mata kuliah Geologi Indonesia.
BAB II

PEMBAHASAN

Sejarah Sumatera Selatan

peta pulau Sumatera, bagian selatan meliputi Sumatera Selatan, Jambi, Bengkulu, lampung dan
kepulauanBangka Belitung

Sumatera Selatan atau pulau Sumatera bagian selatan yang dikenal sebagai provinsi Sumatera
Selatan didirikan pada tanggal 12 September 1950 yang awalnya mencakup daerah Jambi,
Bengkulu, Lampung, dan kepulauan Bangka Belitung dan keempat wilayah yang terakhir
disebutkan kemudian masing-masing menjadi wilayah provinsi tersendiri akan tetapi memiliki akar
budaya bahasa dari keluarga yang sama yakni bahasa Austronesia proto bahasa Melayu dengan
pembagian daerah bahasa dan logat antara lain seperti Palembang, Ogan, Komering, Musi,
Lematang dan masih banyak bahasa lainnya.

Menurut sumber antropologi di sebutkan bahwa asal usul manusia Sumatera bagian selatan dapat
ditelusuri mulai dari zaman paleotikum dengan adanya benda-benda zaman paleolitikum pada
beberapa wilayah antara lain sekarang dikenal sebagai kabupaten lahat, kabupaten sarolangun
bangko,kabupaten ogan komerin ulu dan tanjung karang yakni desa Bengamas lereng utara
pergunungan Gumai, di dasar (cabang dari Sungai Musi) sungai Saling, sungai Kikim lalu di desa
Tiangko Panjang (Gua Tiangko Panjang) dan desa Padang Bidu atau daerah Podok Salabe [3] serta
penemuan di Kalianda[4] dan Kedaton [5]dimana dapat ditemui tradisi yang berasal dari acheulean
[6]
yang bermigrasi melalui sungai Mekong[7] yang merupakan bagian dari bangsa Monk Khmer.

A.Geomorfologi pulau sumatra bagian selatan

Zona Barisan Sumatera Selatan

Zona ini dibagi menjadi tiga unit blok sesaran yaitu :

Blok Bengkulu (The Bengkulu Block)

Pada Bagian Barat membentuk monoklinal dengan kemiringan 5 – 10° ke arah Laut India (Indian
Ocean) dan tepi Timur Laut berupa bidang patahan. Batas Timur Laut Blok Bengkulu adalah
Semangko Graben, Ujung Selatan Semangko Graben berupa Teluk Semangko di Selat Sunda.
Sedangkan panjang Graben Semangko yang membentang dari Danau Ranau – Kota Agung di Teluk
Semangko adalah 45 Km dan lebarnya 10 Km.

Blok Semangko (The Semangko Block)

Terletak diantara Zone Semangko Sesaran Lampung (Lampung Fault). Bagian Selatan dari blok
Semangko terbagi menjadi bentang alam menjadi seperti pegunungan Semangko, Depresi Ulehbeluh
dan Walima, Horst Ratai dan Depresi Telukbetung. Sedangkan bagian Utara Blok Semangko (Central
Block) berbentuk seperti Dome (diameter + 40 Km).

Patahan Semangko adalah bentukan geologi yang membentang di Pulau Sumatera dari utara ke
selatan, dimulai dari Aceh hingga Teluk Semangka diLampung. Patahan inilah
membentuk Pegunungan Barisan, suatu rangkaian dataran tinggi di sisi barat pulau ini. Patahan
Semangko berusia relatif muda dan paling mudah terlihat di daerah Ngarai Sianok dan Lembah
Anai di dekat Kota Bukittinggi.
Patahan ini merupakan patahan geser, seperti patahan San Andreas diCalifornia. Memanjang
di sepanjang Pulau Sumatra, mulai dari ujung Aceh hingga Selat Sunda, dengan bidang vertikal dan
pergerakan lateral meng-kanan (dextral-strike slip).

Sesar ini menyebabkan terjadinya gempa di darat oleh sebab pelepasan energi di sesar/patahan
Semangko apabila sesar tersebut teraktifkan kembali (peristiwa reaktivasi sesar) dengan
bergesernya lapisan batuan di sekitar zona sesar tersebut. Pergerakan sesar yang merupakan salah
satu sesar teraktif di dunia ini diyakini disebabkan oleh desakan lempeng India-Australia ke dalam
lempeng Eurasia.

2 Cekungan Sumatera Selatan

Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier berarah barat laut –
tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah barat daya, Paparan Sunda di
sebelah timur laut, Tinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut
dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat
laut yang memisahkan Cekungan Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatera Tengah.

2.4.3 Tektonik Regional

Blake (1989) menyebutkan bahwa daerah Cekungan Sumatera Selatan merupakan cekungan busur
belakang berumur Tersier yang terbentuk sebagai akibat adanya interaksi antara Paparan Sunda
(sebagai bagian dari lempeng kontinen Asia) dan lempeng Samudera India. Daerah cekungan ini
meliputi daerah seluas 330 x 510 km2, dimana sebelah barat daya dibatasi oleh singkapan Pra-Tersier
Bukit Barisan, di sebelah timur oleh Paparan Sunda (Sunda Shield), sebelah barat dibatasi oleh
Pegunungan Tigapuluh dan ke arah tenggara dibatasi oleh Tinggian Lampung.

Menurut Salim et al. (1995), Cekungan Sumatera Selatan terbentuk selama Awal Tersier (Eosen –
Oligosen) ketika rangkaian (seri) graben berkembang sebagai reaksi sistem penunjaman menyudut
antara lempeng Samudra India di bawah lempeng Benua Asia.

2.4.4 Cekungan Bengkulu

Cekungan Bengkulu adalah salah satu cekungan fore-arc di Indonesia. Cekungan forearc artinya
cekungan yang berposisi di depan jalur volkanik (fore-arc;arc = jalur volkanik). Tetapi, kita
menyebutnya demikian berdasarkan posisi geologinya saat ini.

Berdasarkan berbagai kajian geologi, disepakati bahwa Pegunungan Barisan (dalam hal ini
adalah volcanic arc-nya) mulai naik di sebelah barat Sumatra pada Miosen Tengah. Pengaruhnya
kepada Cekungan Bengkulu adalah bahwa sebelum Misoen Tengah berarti tidak ada forearc
basin Bengkulu sebab pada saat itu arc-nya sendiri tidak ada.

Begitulah yang selama ini diyakini, yaitu bahwa pada sebelum Miosen Tengah, atau Paleogen,
Cekungan Bengkulu masih merupakan bagian paling barat Cekungan Sumatera Selatan. Lalu pada
periode setelah Miosen Tengah atau Neogen, setelah Pegunungan Barisan naik, Cekungan Bengkulu
dipisahkan dari Cekungan Sumatera Selatan. Mulai saat itulah, Cekungan Bengkulu menjadi
cekungan forearcdan Cekungan Sumatera Selatan menjadi cekungan backarc (belakang busur).
Cekungan Bengkulu merupakan salah satu dari dua cekungan forearc di Indonesia yang paling
banyak dikerjakan operator perminyakan (satunya lagi Cekungan Sibolga-Meulaboh). Meskipun
belum berhasil menemukan minyak atau gas komersial, tidak berarti cekungan-cekungan ini tidak
mengandung migas komersial. Sebab, target-target pemboran di wilayah ini (total sekitar 30 sumur)
tak ada satu pun yang menembus target Paleogen dengan sistem graben-nya yag telah terbukti
produktif di Cekungan-Cekungan Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

Secara fisiografis Cekungan Sumatra Selatan merupakan cekungan Tersier berarah barat laut-
tenggara, yang dibatasi Sesar Semangko dan Bukit Barisan di sebelah barat daya, Paparan Sunda di
sebelah timur laut, ketinggian Lampung di sebelah tenggara yang memisahkan cekungan tersebut
dengan Cekungan Sunda, serta Pegunungan Dua Belas dan Pegunungan Tiga Puluh di sebelah barat
laut yang memisahkan Cekungan Sumatra Selatan dengan Cekungan Sumatra Tengah. Elemen
orografis yang utama adalah Bukit Barisan yang panjangnya 1650 km dan lebarnya ±100 km (puncak
tertingginya ialah Gunung Kerinci dan Gunung Indrapura 3800 m). Bukit Barisan merupakan
rangkaian sejumlah pegunungan yang sejajar atau colisses yang setelah cabang lainnya ke luar dari
arah pokok barat laut tenggara, dikatakan bahwa arahnya lebih ke arah timur barat dan merosot
(menurun) ke arah tanah rendah di bagian timur

Gradient geothermal yang besar ini merupakan anomali pada sebuah forearc basin yang rata-rata di
Indonesia sekitar 2.5 F/100 ft atau di bawahnya (Netherwood, 2000); Bila dibandingkan
cekungan forearc lain, memang banyak publikasi menyebutkan thermal Cekungan Bengkulu di atas
rata-rata. Itu pula yang dipakai sebagai salah satu pemikiran bahwa Cekungan ini dulunya bersatu
dengan Cekungan Sumatera Selatan (pada Paleogen)—pemikiran yang juga didukung oleh tatanan
tektonostratigrafinya.

Gradient geothermal dipengaruhi konduktivitas termal masing-masing lapisan pengisi cekungan


dan heatflow dari basement di bawah cekungan. Apabila basementnya kontinen, maka ia akan
punya heatflow yang relatif lebih tinggi daripada basement intermediat dan oseanik.Selain itu,
kedekatan dengan volcanic arc akan mempertinggi thermal background di wilayah ini dan
berpengaruh kepada konduktivitas termal. Gradient geothermal yang diluar kebiasaan ini, tentu saja
baik bagi pematangan batuan induk dan generasi hidrokarbon.

B.Bentuk-bentuk Lahan

 Bentuk lahan struktural

Ngarai Sianok, terbentuk akibat adanya patahan Semangko

 Bentuk lahan vulkanik

Gunung Api Dempo. Ketinggian 3,173 meter (10,410 kaki), Lokasi SumateraSelatan.

 Bentuk lahan pelarutan

Gua Harimau di wilayah Desa Padang Bindu, Kabupaten Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan

 Bentuk lahan fluvial


Pulau Kemaro, di tengah sungai Musi, Palembang Sumatera Selatan

 Bentuk lahan marin

Bungus Bay, PadanG

Ciri-ciri pegunungan yang tersebar di Sumatra Selatan sebagian besar pegunungan blok dan
ditumbuhi oleh gunung api. Ciri dari pegunungan blok lain adalah di bagian tenggara merupakan
dataran rendah dan permukaannya agak datar karena base-lavelling yang cukup lama. Sebelah barat
merupakan graben tengah yang miring ke arah barat dan bagian timur graben tengah miring ke arah
timur. Gunung api yang muncul di pegunungan blok berasosiasi dengan terjadinya proses sesar.
Material vulkanik menutup sebagian besar dari bukit barisan terutama sebelah timur graben
tengah. Blok bagian timur graben tengah tertutup oleh endapan tuff tua yang cukup luas di sebelah
utara Lampung yang dicirikan oleh adanya proses lipatan. Di Sumatra Selatan terdapat lava basalt
dan terjadi sesar serta lava riolitik keluar dari blok Selampung

1. Kondisi Tanah Pulau Sumatera

Pantai sebelah timur Sumatra dan daerah hilir dari sungai-sungai besar, terdiri tanah aluvial
Hidromorfik dan ke arah hujan jenis tanahnya berupa aluvial maupun tanah Hidromorfik Kelabu. Hal
ini menyebabkan daerah hulu sangat strategis untuk daerah perkebunan. Tanah rawa di sebelah
timur Riau, Jambi dan selatan umumnya terdiri dari tanah Organosol, yaitu jenis tanah ini juga
terdapat di tenggara dan selatan Sumatra Utara, Aceh Barat, serta di barat laut dan selatan Sumatra
Barat.

Sebagian besar dari permukaan tanah dataran rendah Pulau Sumatra terdiri dari tanah Podsolik
Merah Kuning yang terbentuk dari bahan suduk. Tanah-tanah di daerah pegununngan mempunyai
penyebaran yang sangat rumit, tetapi umumnya masih terdiri dari berbagai bentuk tanah Podsolik
Merah Kuning yang berasosiasi dengan tanah Latosol ataupun Litosol. Daerah berbatu kapur di
tutupi oleh tanah coklat dan tanah Renzina. Tanah Andosol dan tanah Podsolik Coklat dijumpai di
atas batuan Vulkanik.
Bagian Selatan Pulau Sumatra memberikan kenampakan pola tektonik:

1.Sesar Sumatra menunjukkan sebuah pola geser kanan en echelon dan terletak pada 100-135
kilometer di atas penunjaman.

2.Lokasi gunung api umumnya sebelah timur-laut atau di dekat sesar.

3.Cekungan busur muka terbentuk sederhana, dengan ke dalaman 1-2 kilometer dan dihancurkan
oleh sesar utama.

4.Punggungan busur muka relatif dekat, terdiri dari antiform tunggal dan berbentuk sederhana.

5.Sesar Mentawai dan homoklin, yang dipisahkan oleh punggungan busur muka dan cekungan
busur muka relatif utuh.

6.Sudut kemiringan tunjaman relatif seragam.

DAFTAR PUSTAKA

1.https://edward-jz.blogspot.com/2015/03/makalah-geomorfologi-sumatra.html

2.http://www.academia.edu/9297655/GEOMORFOLOGI_INDONESIA_PULAU_SUMATE
RA

3. https://nmbnoey.wordpress.com/2012/10/29/sumatera-bagian-selatan/

4.http://www.academia.edu/9297655/GEOMORFOLOGI_INDONESIA_PULAU_SUMATERA