Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Seiring dengan berkembangnya dunia di masa ini,membuat gaya hidup masyarakat pun
beraneka ragam khususnya kaitannya dengan kesehatan, hal ini membuka peluang besar bagi
berbagai macam penyakit yang berkaitan terutama penyakit – penyakit berbahaya seperti
hypertensi,stroke ,obesitas,kanker dan sebagainya.Salah satu yang juga sering di alami adalah
obesitas,yang ternyata sebagai pencetus timbulnya penyakit berbahaya lainya.

obesitas atau kegemukan adalah ketidakseimbangan jumlah makanan yang masuk


dibanding dengan pengeluaran energi oleh tubuh. Obesitas dapat menimbulkan berbagai
penyakit serius, antara lain DM, hipertensi dan jantung. Risiko kematian yang disebabkan oleh
diabetes yakni stroke, coronary artery disease, tekanan darah tinggi, kolesterol yang tinggi,
Selain itu, obesitas ini juga disebabkan oleh beberapa faktor. Misalnya, pola makan yang salah
(terbiasa makan makanan berlemak tinggi), gaya hidup modern yang kurang gerak, stres yang
dilarikan pada makanan, dan faktor keturunan.

Saat ini, 1,6 miliar orang dewasa di seluruh dunia mengalami berat badan berlebih
(overweight), dan sekurang-kurangnya 400 juta diantaranya mengalami obesitas. Pada tahun
2015, diperkirakan 2,3 miliar orang dewasa akan mengalami overweight dan 700 juta di
antaranya obesitas. Di Indonesia, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2007,
prevalensi nasional obesitas umum pada penduduk berusia ≥ 15 tahun adalah 10,3% (laki-laki
13,9%, perempuan 23,8%.Berdasarkan fakta ini maka masalah obesitas harus di
tanggulangi,sebelum terjadi hal yang membahayakan bagi kesehatan masyarakat.

1.2 Tujuan

 Memberi informasi tentang pengertian obesitas dan kaitanya dengan factor Gizi

 Menjelaskan tentang factor yang mempengaruhi obesitas

1
 Memberitahukan bagaimana pemeriksaan yang dilakukan pada penderita obesitas

BAB 2

ISI

2.1 Defenisi

Obesitas (kegemukan) merupakan : “suatu kondisi dimana tidak adanya


keseimbangan antara konsumsi kalori dan kebutuhan akan energy,dimana konsumsi terlalu
berlebih dibandingkan dengan dengan kebutuhan atau pemakaian energy”. Kelebihan
energy tersebut dalam tubuh di simpan dalam bentuk jaringan lemak ,yang biasanya dalam
keadaan normal di timbun di daerah tertentu dalam tubuh.Seseorang di katakana menderita
obesitas jika berat badan pada laki-laki melebihi 15% dari berat ideal atau pada wanita
20%, selain itu dapat di ketahui lewat index masa tubuh yang akan di bahas lebih lanjut.

2.2 Faktor – factor pengaruh pada obesitas

2.2.1 Gizi

Masalah obesitas sangat berhubungan erat dengan gizi,yakni kaitanya dengan komposisi
makanan dan pola makan dari individu masing- masing,apakah sudah seimbang ataukah
melebihi ketentuan standar dari pemenuhan gisi itu sendiri.

 Komposisi Bahan makanan

Bahan makanan yang sering kita konsumsi di kelompokan sebagai bahan makanan pokok
sebagai sumber eneri utama (nasi, jagung, gandum,dsb) , bahan makanan lauk pauk (daging, ikan,
telur ), bahan makanan sayur dan buah (kol,kangkung,alpukat,apel,jeruk,dsb).Bahan –bahan
tersebut tersusun atas beberapa jenis zat makanan yang memberi arti tersendiri bagi status gizi
untuk seseorang, adapun diantaranya adalah karbohidrat, protein, lemak, vitamin ,dan

2
mineral.Masing- masing mempunyai kadar baku atau normal bagi tubuh dengan fungsi yang
begitu kompleks.

 Karbohidrat

Merupakan salah satu penghasil energy,sumber utamanya dalam makanan lebih


banyak dari tumbuhan/nabati daripada hewani.Dalam tumbuhan karbohidrat
mempunyai fungsi utama sebagai penghasil energy( zat tepung/amilum dan zat
gula).karbohidrat nabati di dalam makanan manusia terutama berasal dari
makanan pokok, sebagian berasal dari sayuran dan buah. sedangkan karbohidrat
hewani berbentuk glikogen dan terdapat dalam hati dan otot,biasanya dalam
makanan manusia seperti hati sapi,telur.

Fungsi karbohidrat di dalam hidangan, yakni sebagai pemberi bentuk terhadap


makanan.contohnya dalam bentuk kue,selain itu sebagai pemberi rasa manis
(fruktosa,sukrosa,dll). Kebutuhan akan karbohidrat di lihat dari jumlah kalori
yang di perlukan tubuh.Untuk satu gram karbohidrat akan menghasilakn 4 kalori,
tetapi harus di ingat bahwa jumlah ini untuk kaarbohidrat yang dapat di cerna,
sedangkan untuk karbohidrat yang tidak dapat di cerna ( selulosa,galaktan, dan
pentose )tidak menghasilkan energy, jadi tidak memberikan iuran kepada nilai
energy seluruh hidangan, tetapi membantu dalam memberikan rasa kenyang dan
melancarkan defekasi.

 Protein

Merupakan zat gisi yang sangat penting, dalam sel protein berfungsi sebagai
protein structural ( bagian integral dari struktur sel) dan sebagai protein metabolic
(ikut serta dalam reaksi biokimiawi ), dalam makanan satu gram protein juga
menghasilkan 4 kalori )

3
Potein di klasifikasikan dalam beberapa golongan

a.Berdasarkan komponen penyangkut

simple protein ( hidrolisanya hanya terdiri dari asam amino)

complex protein ( hidrolisanya terdiri dari asam amino dan komponen lain)

derivate protein ( hasil hidrolisa parsial seperti albumosa,peptone)

b. Berdasarkan sumbernya

protein hewani(bahan makanan yang berasal dari binatang,ex.daging,susu)

protein nabati ( bahan makanan dari tumbuhan)

c. Berdasarkan fungsi fisiologiklis

protein sempurna (mendukung pertumbuhan dan pemeliharaan jaringan )

protein setengah sempuna (hanya mendukung pemeliharaan jaringan)

protein tidak sempurna (tidak sanggup mendukung keduanya)

 Lemak

Lemak ada yang bersifat cair (minyak),dan ada yang bersifat padat (gajih) , lemak
tidak ikut dalam proses metabolism tetapi sebagai cadangan energy.pada
penderita obesitas sejumlah lemak yang di simpan harus di bawa tanpa memberi
manfaat langsung.sumber lemak berasal dari hewani maupun dari nabati.lemak
juga mempunyai fungsi selain sebagai cadangan energy juga sebagai pelindung
dan bantalan bagi organ penting dalam tubuh kita.kebutuhan tubuh akan lemak
juga sebagai pelarut bagi vitamin tertentu.

 Vitamin

4
Vitamin ada yang larut dalam lemak ( A,D,E,K ) dan yang larut dalam air ( vit B
complex, vit C) masing – masing mempunyai fungsi penting bagi tubuh dan di
butuhkan badan dalam jumlah tertentu. Bila di konsumsi secara berlebih akan
mengakibatkan hipervitaminosis,sebaliknya maka akan terjadi hypovitaminosis.
Kondisi defesiensi vitamin lebih banyak terdapat baik pada vitamin yang larut
dalam lemak maupun yang tidak ,sedangkan untuk hypervitaminosis umumnya
pada vit yang larut dalam lemak

 Mineral

Di golongkan dalam 3 kelompok yakni :

a. makro elemen yang terdapat dalam jumlah yang besar (Na,K,Ca,Mg,P,S,Cl)

fungsinya : sebagai bagian dari zat aktif dalam metabolime,struktur


sel,maupun cairan tubuh)

b. mikro elemen yang terdapat dalam jumlah yang kecil ( Fe , Cu,Co,Zn,F.dll)

fungsinya :berhubungan dengan enzim

c. trace element bagian dari mikro elemen tetapi di perlukan lebuh sedikit lagi
(Cu,Co,Zn)

2.2.2 Pengaruh hormonal

 H. insulin dan H. glucagon

5
Hormone ini di sekresi oleh pancreas dan mempunyai fungsi yang erat kaitanya
dengan obesitas. Insulin mempunyai fungsi dimana menurunkan kadar glukosa
yang berlebih,dengan mengubah glukosa menjadi glikogen yang kemudian akan
di timbun di hati dan otot. Jika kadar insulin dalam tubuh sangat banyak atau
hipersekresi insulin maka berdampak pada penimbunan belebihan pada otot yang
tentunya akan menyebabkan kelebihan berat badan atau sampai tingkat obesitas.

Sebaliknya hormone glokagon walaupun fungsinya berlawanan dengan insulin


tetapi dengan menurunya sekresi glucagon maka proses glikogenolis akan
terhambat,glikogen tidak di pecah dan tetap terimbun sehingga timbul penyakit
simpanan glikogen satu di antaranya obesitas.

 H. Tiroid

Hipotiroidisme terjadi ketika kelenjar tiroid tidak memproduksi hormone tiroid


sesuai kebutuhan tubuh. Oleh karena itu, apabila hormone tiroid yang dihasilkan
tidak sesuai dengan kebutuhan tubuh, pertumbuhan akan terganggu.
Hormon tiroid sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan tubuh. Terganggunya
produksi hormon ini dapat mempengaruhi metabolisme, perkembangan otak,
pernafasan, system jantung dan saraf, temperature tubuh, kekuatan otot, kulit,
sirkulasi menstruasi pada wanita, berat badan, dan tingkat kolesterol.
Produksi hormone tiroid diatur oleh hormone TSH yang diproduksi oleh hipofisis
anterior. TSH akan merangsang kelenjar tiroid untuk mensekresi hormone tiroid,
yaitu triidotironin (T3) dan tiroksin (T4). Apabila dalam darah terdapat sedikit

6
hormone tiroid tersebut, maka kadar TSH akan meningkat untuk merangsang
kelenjar tiroid mensekresi hormone tiroid. Sebaliknya, apabila dalam darah telah
cukup atau bahkan lebih banyak terdapat hormone tiroid, kadar TSH akan
menurun. Sekresi TSH diatur oleh hormone hipotalamus, yaitu TRH. Penurunan
respons hipofisis terhadap TRH sangat jarang terjadi.
Yang terjadi pada hipotiroidisme adalah kadar TSH meningkat akibat dari fungsi
kelenjar tiroid yang menurun. Selain itu, hipotiroidisme dapat disebabkan oleh
kelenjar hipofisis tidak bekerja dengan normal. Terganggunya kerja hipofisis
dapat menyebabkan produksi TSH terganggu dan akibatnya kelenjar tiroid pun
akan terganggu.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, hipotiroidisme menyebabkan


metabolisme tubuh terganggu. Hipotiroidisme menyebabkan kecepatan
metabolisme karbohidrat dan lemak menurun. Hal ini akan menyebabkan
obesitas.

 H. glukokortikoid

Kenaikan kadar glukokortikoid akan mempengaruhi metabolism karbohidrat.dan


merangsang glukoneogenesis dan menggangu kerja insulin,sebagai akibatnya
penderita mengalami hyperglikemia.jika pada seorang yang normal efek hormone
ini akan di lawan oleh sekresi insulin yang meningkat, sehingga akan terbentuk
penimbunan glikogen di daerah sentral tubuh dan menyebabkan obesitas.

2.2.3 Faktor lain

 Genetik

Kegemukan dapat diturunkan dari generasi sebelumnya pada generasi berikutnya di


dalam sebuah keluarga. Itulah sebabnya kita seringkali menjumpai orangtua yang gemuk
cenderung memiliki anak-anak yang gemuk pula. Dalam hal ini nampaknya faktor
genetik telah ikut campur dalam menentukan jumlah unsur sel lemak dalam tubuh. Hal
ini dimungkinkan karena pada saat ibu yang obesitas sedang hamil maka unsur sel lemak
yang berjumlah besar dan melebihi ukuran normal, secara otomatis akan diturunkan

7
kepada sang bayi selama dalam kandungan. Maka tidak heranlah bila bayi yang lahirpun
memiliki unsur lemak tubuh yang relatif sama besar. Selain itu Jenis kelamin
berpengaruh terhadap obesitas. Pria memiliki lebih banyak otot dibandingkan dengan
wanita. Otot membakar lebih banyak lemak daripada sel-sel lain. Oleh karena wanita
lebih sedikit memiliki otot, maka wanita memperoleh kesempatan yang lebih kecil untuk
membakar lemak. Hasilnya, wanita lebih berisiko mengalami obesitas.

 Kurang Gerak/Olahraga

Tingkat pengeluaran energi tubuh sangat peka terhadap pengendalian berat tubuh.
Pengeluaran energi tergantung dari dua faktor :

a) tingkat aktivitas dan olah raga secara umum;

b) angka metabolisme basal atau tingkat energi yang dibutuhkan untuk mempertahankan
fungsi minimal tubuh.

Dari kedua faktor tersebut metabolisme basal memiliki tanggung jawab dua pertiga dari
pengeluaran energi orang normal. Meski aktivitas fisik hanya mempengaruhi satu pertiga
pengeluaran energi seseorang dengan berat normal, tapi bagi orang yang memiliki
kelebihan berat badan aktivitas fisik memiliki peran yang sangat penting. Pada saat
berolahraga kalori terbakar, makin banyak berolahraga maka semakin banyak kalori yang
hilang. Kalori secara tidak langsung mempengaruhi sistem metabolisme basal. Orang
yang duduk bekerja seharian akan mengalami penurunn metabolisme basal tubuhnya.
Kekurangan aktifitas gerak akan menyebabkan suatu siklus yang hebat, obesitas
membuat kegiatan olah raga menjadi sangat sulit dan kurang dapat dinikmati dan
kurangnya olah raga secara tidak langsung akan mempengaruhi turunnya metabolisme
basal tubuh orang tersebut. Jadi olah raga sangat penting dalam penurunan berat badan

8
tidak saja karena dapat membakar kalori, melainkan juga karena dapat membantu
mengatur berfungsinya metabolis normal.

 Pola makan (Menu )

Pola makan yang tidak teratur tidak lengkapnya komposisi makanan justru dapsat
meyebabkan ketidakseimbanngan dalam tubuh.biasanya orang yang mengalami
kelebihan berat badan, cendrung mengurangi porsi makan yang justru akan membuat
lemas dan menimbulkan efek buruk bagi tubuh.hal yang benar ialah mengatur pola
makan dan mengatur porsi makan tanpa mengurangi zat makanan yang di butuhkan
tubuh.Adapun porsi standart bagi orang dewasa sebagai berikut :

1. standart porsi makanan pokok adalah 100 gr beras atau yang berbentuk nasi sebanyak
1½ gelas

2. standar porsi lauk pauk adalah 50 gr daging (mentah ) atau ikan.dapat pula di ambil 50
gr tempe ( 2 potong ) atau 100 gr tahu

3. standar porsi sayur ialah satu mangkok sayur dengan isi sayur daun hijau dan isi
lainnysa bewarna warni

4. standar porsi buah terdiri atas 100 gr ( satu potong ) papaya,atau 75 gr (satu buah
pisang).dapt pula di ambil buah lainya yang beratnya kira-kira sama dengan buah di atas.

Dan untuk frekuensi normal makan untuk sehari 3 kali makan utama dan 2-3 kali makan
selingan.untuk komposisi gizi nya yang normal karbohidrat 65-70% total kalori/hari,
lemak 20-35% total kalori/hari dan protein 10-15% total kaloori / hari. Jika semuanya
lewat dari batas normal maka tidak menutup kemungkinan terjadinya obesitas.

9
2.3 Metabolime karbohidrat,protein ,dan lemak

2.3.1 Metabolisme Karbohidrat

Adapun jalur oksidasi atau metabolism utama karbohidrat dibagi menjadi

a. Glikolisis anaerob

Sering di kenal dengan jalur Embden Meyerhoff,yang berlangsung tanpa adanya


oksigen..reaksi ini akan di awali dengan reaksi fosforilasi glukosa menjadi glu 6
fosfat selanjutnyaglukosa 6 fosfat akan di ubah menjadi fruktosa 6 P( isomerase )
yang kemudian akan mengikat satu gugus fosfat lagi menjadi fruktosa 1,6 bifosfat
.dengan enzim aldolase di ubah menjadi gliseral 3P dengan bantuan NAD+ akan
menjadi 1,3 bi fosfogliserat yang kemudian akan terus bereaksi sampe pembentukan
PEP yang kemudian dengan hasil akhir asam piruvat yang akan dioksidasi lebih lanjut
dalam siklus asam sitrat.

b. Glikolisis aerob

Sering di kenal sbagai siklus crebs (TCA;siklus asam sitrat). Terjadi di mitokondria
meupakan rangkaian reaksi yang melakukan oksidasi terhadap asetil koA sehingga di
hasilkan energi. Siklus ini terdiri dari 1 molekul asetil ko A bergabung dengan asam
oksaloasetat menjadi asam sitrat.dan di ubah lagi menjadi isositrat akan terjadi reaksi
sampai pembentukan alfa keto glutarat yang berubah menjadi suksinil ko A yang
memebebaskan Ko Ash nya menjadi suksinat di ubah lagi jadi fumarat dan pada
akhirnya menjadi malat dan oksaloasetat yang akan di pakai lagi mengawali siklus
asam sitrat

c. Gliogenesis dan glikogenolisis

10
Kedua reaksi ini erat kaitannya dengan kestabilan kadar gula darah dalam tubuh
seseorang. Glikogenesis adalah proses pembentukan glikogen dari glukosa.sedangkan
glikogenolisis merupakam pembentukan glukosa dari pemecahan glikogen.

d. HMP-shunt

Berlangsung di dalam sitosol sel.keperluan utama nya adalah menghasilkan pentosa yang
kemudian DNA dan RNA.selain itu ada tambahan NADPH yang bermanfaat bagi
biosintesa asam lemak

e. Glukoneogenesis

Merupakan adalah reaksi pembentukan glukosa dari senyawa non


karbohidrat.reaksi ini dapat berlangsung jika tubuh dalam keadaaan kekurangan
glukosa untuk memenuhi keperluan energi yang di perlukan tubuh.

 Metabolisme Protein

Beberapa asam amino merupakan asama amino yang essential secara nutrisi, yaitu
asam-asam amino ini harus didapatkan dari makanan, sednagkan asam amino
lainnya dapat disintesis dalam tubuh dengan jumlah yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan metabolism.

Deaminasi, Aminasi, & Transaminasi

11
Reaksi transaminasi, perubahan suatu asama amino menjadi asam keto yang
bersangkutan bersama dengan perubahan asam keto lainnya menjadi satu asam
amino, terjadi di banyak jaringan: Alanin + α-Ketoglutarat  Piruvat + Glutamat

Deaminasi oksidatif asam amino terjadi di hati. Satu asam imino dibentuk oleh
dehidrogenase dan senyawa ini dihidrolisis menjadi asam keto, dengan
menghasilkan NH4+:

Asam amino + NAD+  Asam imino + NADH + H+

Asam imino + H2O  Asam keto + NH4+

Pembentukan Urea

Sebagian besar NH4+ yang terbentuk oleh deaminasi asam amino di hati di ubah
menjadi urea, dan urea disekresikan ke urin. NH4+ membentuk karbamoil fosfat,
dan di mitokondria gugus ini dipindahkan ke ornitin, membentuk sitrulin. Enzim
yang berperan adalah ornitin karbamoiltransferase. Arginin diubah menjadi
sitrulin; stelah itu urea dipisahkan dan ornitin kembali terbentuk. Kebanyakan
urea dibentuk di hati, dan pada penyakit hati berat nitrogen urea darah turun dan
NH3 darah meninggi.

 Metabolisme Lemak

Lemak sebagai simpanan energi utama dalam tubuh adalah triasil-gliserol yang
akan di hidrolisis menjadi gliserol dan asam lemak.gliserol akan memasuki jalur
glikolisis EM , sedangkan asam lemak di aktifkan oleh enzim tiokinase di
dampingi koA-n SH dan ATP akan menghasilkan asil koA yang kemudian
berlanjut kea rah pembentukan sfingomielin dan fosfolipid dan deretan reaksi
aksidasi B menghasilkan asetil ko A.di lanjutkan dengan glikolisis aerob
membentuk ATP,pembentukan lemak(lipogenesis),pembentukan benda keton,
pembentukan kolestrol dan senyawa steroid lainnya.

12
2.4 Pemeriksaan

2.4.1 Anamnesa

Merupakan suatu bentuk wawancara antara dokter dan pasien / keluarganya / orang yang
mempunyai hubungan dekat dengan pasien dengan memperhatikan petunjuk- petunjuk
verbal dan non verbal mengenai riwayat penyakit pasien, meliputi :

Tujuan dari anamnesis adalah mendapatkan informasi menyeluruh dari pasien yang
bersangkutan. Informasi yang dimaksud adalah data medis organobiologis, psikososial, dan
lingkungan pasien, selain itu tujuan yang tidak kalah penting adalah membina hubungan dokter
pasien yuang profesional dan optimal.

Data anamnesis terdiri atas beberapa kelompok data penting:

1. Identitas pasien

2. Riwayat penyakit sekarang

3. Riwayat penyakit dahulu

4. Riwayat kesehatan keluarga

5. Riwayat pribadi, sosial-ekonomi-budaya

Tahap pelaksanaan anamnesis

Persiapan anamnetor–pasien

Pembukaan

Tahap wawancara

Penutup

13
2.5.2 pemeriksaan Antropometri

 Status gizi

a. Index masa tubuh (BMT)

IMT (kg/m2) = BB (kg)

TB(m2)

Klasifikasi IMT :

BB kurang : < 18,5

BB Normal : 18,5 – 22,9

BB lebih : > 23

Pre obesitas : 23- 24,9

Obes kelas I : 25 – 29,9

Obes kelas II : > 30

 Index brocca

Usia < 40 Tahun ; BBN = TB (cm) – 100 – 10%

Usia > 40 Tahun ; BBN = TB (cm) – 110

14
Status Gizi kurang : BB < BBN ( BB normal)

Status gizi lebih : BB> BBN (BB normal )

Hasilnya ; 90 – 110% = BB normal

110- 120 % = BB Lebih

>120% = Obesitas

 RLPP(rasio lingkar pinggang dan pinggul)

Meskipun cukup cukup efektif untuk mengukur kadar obesitas, sayangnya IMT
tidak mencerminkan distribusi timbunan lemak di dalam tubuh. Untuk menilai
timbunan lemak perut dapat digunakan cara lain, yaitu dengan mengukur rasio
lingkar pinggang dan pinggul (RLPP) atau mengukur lingkar pinggang (LP). Cara
ini cukup praktis dan mudah, bisa dilakukan dengan menggunakan pita meteran
(seperti yang digunakan oleh penjahit). Meteran itu digunakan untuk mengetahui
banyaknya lemak tubuh bagian-bagian tubuh tertentu

Laki –laki Perempuan L. pinggang

>94 cm <80 cm Normal

94 – 102 cm 80 – 88 cm Tingkat I

15
>102 cm >88 cm Tingkat II

Baik LPe / perut maupun lingkar panggul ,erupakan cara sederhana untuk
membedakan beberapa tipe obesitas sesuai distribusi lemak,diantaranya :

a. Obesitas Tipe Buah Apel (android)

Pada pria obesitas umumnya menyimpan lemak di bawah kulit dinding


perut dan di rongga perut sehingga gemuk diperut dan mempunyai bentuk
tubuh seperti buah apel (apple type). Karena lemak banyak berkumpul
dirongga perut, obesitas tipe buah apel disebut juga obesitas sentral,
karena banyak terdapat pada laki-laki disebut juga sebagai obesitas tipe
android. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi dibandingkan dengan
tipe Gynoid, karena sel-sel lemak di sekitar perut lebih siap melepaskan
lemaknya ke dalam pembuluh darah dibandingkan dengan sel-sel lemak di
tempat lain. Lemak yang masuk ke dalam pembuluh darah dapat
menyebabkan penyempitan arteri (hipertensi), diabetes, penyakit
gallbladder, stroke, dan jenis kanker tertentu (payudara dan endometrium).

b. Obesitas Tipe Buah Pear (gynoid)

16
Kelebihan lemak pada wanita disimpan dibawah kulit bagian daerah
pinggul dan paha, sehingga tubuh berbentuk seperti buah pear (pear type).
Karena lemak berkumpul dipinggir tubuh yaitu dipinggul dan paha,
obesitas tipe buah pear disebut juga sebagai obesitas perifer dan karena
banyak terdapat pada wanita disebut juga sebagai obesitas tipe perempuan
atau obesitas tipe gynoid. Resiko terhadap penyakit pada tipe gynoid
umumnya kecil, kecuali resiko terhadap penyakit arthritis dan varises vena
(varicose veins).

c. Bentuk Kotak Buah (ovid)

Ciri dari tipe ini adalah “besar di seluruh bagian badan”. Tipe Ovid
umumnya terdapat pada orang-orang yang gemuk secara genetic.

 Tebal lemak sub kutan (skin folder caliper )

Tebal lemak subkutan lipatan kulit dengan menggunakan “Skin Fold Caliper”
pada beberapa tempat, antara lain: triceps: diukur lipatan kulit yang menggantung
bebas anatara bahu dan siku. Dinyatakan obesitas bila tebal lemak subkutan > 20
mm pada pria dan > 30 mm pada wanita.

Biceps, skapula, supra iliaka dan subkostal. Bila melebihi standar yang ada, dapat
dinyatakan obesitas.

 LLA ( lingkar lengan atas )

Lengan mengandung lemak bawah kulit dan otot,jika LLA menurun maka
menunjukan penurunan lemak/otot .pengukaran mudah dan tak banyak
mengeluarkan waktu dan alat.

17
PERSENTIL KATEGORI

≤ 5 th Kurus

> 5 th - ≤ 15 th Di bawah rata- rata

>15 th - ≤ 75 th Rata- rata

>75th - ≤85 th Di atas rata – rata

>85 th Terlalu banyak lemak

2.5.3 Pemeriksaaan laboratorium

• Pemeriksaan kadar glukosa darah

Kadar glukosa darah kapiler lebih tinggi 7 – 10 % daripada darah vena.

Perbedaan kadar glukosa darah vena dan arteri :

18
- keadaan puasa : 1 – 3 mg/dL

- setelah makan : 20 – 30 mg/dL

Metode Pemeriksaan kadar glukosa darah :

1. Metode kimia

- Prinsip pemeriksaan : kemampuan reduksi

- Contoh : tes benedict, Fehling

- Hasil : tidak spesifik untuk glukosa

2. Metode enzimatik

- Enzim Glukosa oxidase

 Paling banyak dipakai

 Biaya murah

 Hasil cukup memadai

- Enzim hexokinase

 Dianjurkan oleh WHO

 Menggunakan 2 enzim spesifik : hexokinase dan G6PD

 Hasil sangat baik

 Biaya relatif mahal

- Hasilnya : spesifik untuk glukosa

19
• Pemeriksaan lemak darah

Dengan melakukan pemeriksaan lemak darah di laboratorium. Untuk pemeriksaan ini, Anda
harus berpuasa minimal 10 jam sebelum pengambilan darah.

Nilai normalnya :

Kadar kolesterol dalam darah

Nilai normal
Tes
mg/dl

Kolesterol total < 200

Kolesterol LDL < 130

Kolesterol HDL >45

Trigliserida < 200

20