Anda di halaman 1dari 4

Volume 4 No.2 Tahun 2005

PREDIKSI VOLTAGE COLLAPSE PADA SISTEM INTERKONEKSI JAWA-BALI MENGGUNAKAN METODE MODAL ANALYSIS

Syukriyadin 1 dan Indar Chaerah Gunadin 2

1. Staf Pengajar Jurusan Elektro Fakultas Teknik Unsyiah email: syukriyadin@ee.unsyiah.ac.id 2. Staf Pengajar Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unhas Makassar email: indar_chaerah@yahoo.com

ABSTRACT

A steady state analysis is applied to study the voltage collapse problem. The modal analysis method is used to investigate the stability of the power system. Q-V curves are used to confirm the obtained results by modal analysis method and to predict the stability margin or distance to voltage collapse based on reactive power load demand. The analysis is performed for a well-known system; Jawa-Bali 20 Bus system. The modal analysis technique is performed for all systems using the constant bus voltage. Then, the most critical mode is identified for each system. After that, the weakest buses, which contribute the most to the critical mode, are identified using the participation factor. The Q-V curves are generated at specific buses in order to check the results obtained by the modal analysis technique and to estimate the stability margin or distance to voltage collapse at those buses. Key word : Steady State, Stability,Voltage Collapse

1.

PENDAHULUAN

Masalah voltage collapse adalah suatu masalah yang serius dalam sistem kelistrikan pada banyak negara. Masalah ini sangat penting sekali dalam pengoperasian dan perancanaan sistem tenaga listrik[1]. Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan voltage collapse diantaranya :

Stress pada sistem ; pembebanan daya aktif yang besar pada sistem

Ketidakseimbangan sumber daya reaktif

Tidak bekerjanya relay proteksi dengan baik

Morison dan Kundur [1] telah menemukan teknik untuk memprediksi terjadinya voltage collapse pada sistem, teknik ini dikenal dengan nama : Modal Analisis. Dasar dari metode ini adalah menghitung nilai eigenvalue yang paling kecil dan eigenvector dari matriks Jacobian sistem. Eigenvalue dihubungkan dengan bentuk perubahan tegangan dan daya reaktif. Stabilitas sistem dapat dievaluasi dengan mengecek keadaan dari nilai eigen yang ada [1,2]. Jika semua nilai eigen bernilai positif maka sistem dikatakan stabil, sedangkan sistem dikatakan tidak stabil jika nilai eigen bernilai negatif [3,4]. Nilai eigen dari matrik Jacobian yang bernilai nol menandakan bahwa sistem berada dalam batas ketidakstabilan (sistem akan collapse).

40

Potensi voltage collape dapat diprediksi melalui evaluasi dari nilai eigen yang paling minimum. Besar dari nilai eigen yang minimum menandakan seberapa dekatnya sistem menjadi collapse. Dengan menggunakan faktor partisipasi, bus atau node yang paling lemah dapat ditentukan [5]. Kurva Q-V adalah metode yang paling umum digunakan dalam menggambarkan kestabilan tegangan. Kurva ini memperlihatkan sensitivitas dan perubahan tegangan bus terhadap perubahan injeksi daya reaktif serta batas kestabilan atau jarak dari setiap bus ke kondisi voltage collapse[6,7].

2. METODE MODAL ANALYSIS

2.1 Modal Analysis

Modal Analysis sangat tergantung pada matrik Jacobian dari studi aliran daya. Persamaan aliran daya Newton-Raphson sebagai berikut [1,3] :

⎡ ∆ P ⎤ ⎡ J

J

=

Q

11

21

J

J

12

22

⎦ ⎣

⎡ ∆ ⎤

θ

V

……………(1)

Dengan asumsi P = 0, diperoleh :

θ

P= = J ∆ + J V

0

11

12

,

θ

= − J

11

1

J

12

V

…………… (2)

(3)

dan

………… Subtitusi persamaan (2) dan (3) diperoleh :

θ

Q = J ∆ + J V

21

22

Q

∆ =

J

R

V

………………

(4)

Dimana :

J

R

=

[

J

22

J

21

J

11

1

J

12

]

J R adalah matrik Jacobian Reduksi dari sistem Persamaan (4) dapat dituliskan menjadi :

1

V = J R Q

………………. (5)

Matriks J R merepresentasikan hubungan yang linear antara perubahan tegangan terhadap perubahan injeksi daya reaktif pada suatu bus. Nilai eigen dan vector eigen dari matriks Jacobian Reduksi J R digunakan untuk analisis kestabilan tegangan. Ketidakstabilan tegangan dapat diidentifikasi dari bentuk nilai eigen value matriks J R . Analisis dari hasil nilai eigen J R yakni :

J

R

= Φ Λ Γ

(6)

Jurnal Rekayasa Elektrika

Dimana :

Φ = Vektor eigen sebelah kanan matriks J R

Γ = Vektor eigen sebelah kiri matriks J R

Λ = Nilai eigen diagonal matriks J R

Dengan mengubah J R menjadi J R -1 diperoleh :

J

R

1

1

= Φ Λ Γ

(7)

Dengan ΦΓ = I Persamaan (5) dan (7) disubtitusikan, diperoleh :

V = ΦΛ Γ∆Q

V

1

=

i

ΦΓ

λ i

Q

atau;

(8)

Dimana,

Akhirnya diperoleh persamaan berikut:

λ i nilai eigen yang ke i.

1

V = ∆Q

mi

λ

i

mi (9)

Dengan ketentuan bahwa :

1.

perubahan

daya reaktif akan menyebabkan perubahan tegangan menjadi tak berhingga.

Jika λ =0, tegangan akan collapse karena

i

2.

3.

Jika

λ i > 0, tegangan sistem stabil

Jika

λ i < 0, tegangan sistem tidak stabil

2.2

Menentukan Bus yang Lemah

Nilai eigen yang minimum adalah nilai yang paling dekat dengan ketidakstabilan sangat perlu untuk dianalisa lebih jelas. Untuk mendefinisikan keadaan dari setiap bus atau node yang lemah digunakan parameter yang disebut partisipasi faktor.

Γ berturut-turut adalah nilai eigen

Jika

Φ

i dan

i

vector kanan dan kiri dari matriks Jacobian, maka nilai dari partisipasi faktor dari bus ke-k untuk nilai eigen yang ke-i adalah:

P

ki

= Φ Γ

ki

ik

(10)

Untuk nilai eigen yang kecil, bus partisipasi faktor memberi gambaran seberapa dekatnya bus untuk menjadi tidak stabil. Node atau bus ke-k dengan nilai partisipasifaktor terbesar adalah merupakan bus yang memiliki kontribusi paling besar untuk memiliki tegangan yang tidak stabil.

2.3 Kurva Q-V

Kurva Q-V adalah kurva yang sering dipakai untuk melihat kestabilan tegangan. Kurva ini memplot hubungan antar tegangan pada bus terhadap daya reaktif pada bus yang sama. Operator sistem tenaga dapat menggunakan kurva ini untuk mengecek keadaaan kestabilan tegangan sehingga dapat mengambil tindakan yang tepat terhadap permasalahan yang ada. Sensitivitas dan perubahan tegangan bus terhadap injeksi daya reaktif dapat diketahui secara jelas dengan menggunakan kurva ini.

Volume 4 No.2 Tahun 2005

Secara umum keuntungan dari kurva ini :

1. Keamanan tegangan sangat berhubungan dengan daya reaktif, sedangkan dengan kurva ini batas daya daya reaktif pada setiap bus dapat diketahui dengan kurva ini.

2. Karakteristik dari bus yang akan dipasangkan peralatan bantu (kapasitor, SVC dan lain-lain) dapat diplot secara langsung pada kurva Q-V. Titik operasi adalah perpotongan antara karakteristik kurva Q-V sistem dengan karakteristik peralatan kompensasi daya reaktif. 3. Kemiringan dari kurva Q-V menandakan keadaan

yang rawan dari bus.

V

Mvar distance critical point Stabil Region Stability Limit Unstable Region Q Operating Point Qmaks
Mvar distance critical point
Stabil Region
Stability Limit
Unstable
Region
Q
Operating Point
Qmaks

Gambar 1. Kurva Q-V

3. STUDI KASUS

Penelitian ini mengambil Sistem Interkoneksi Jaringan Transmisi Tegangan 500 kV Jawa-Bali sebagai sistem yang akan dianalisa kestabilan tegangannya. Dengan metode Modal Analisis ini diharapkan akan diperoleh gambaran yang jelas tentang kestabilan tegangan pada sistem interkoneksi Jawa-Bali. Analisa kestabilan ini diperlukan dalam perancanaan kedepan, jika pada sistem Jawa-Bali akan ditambahkan beban baru.

Suralaya (1) K em bangan (9) B ekasi (6) C ilegon (10) G andul (8)
Suralaya (1)
K em bangan (9)
B ekasi (6)
C
ilegon (10)
G andul (8)
C
ibinong (5)
Cawang (7)
M uara Tawar (4)
C
irata (2)
Saguling (11)
M andi Racan (13)
Cibatu (3)
Pedan (15)
Bandung (12)
K ediri (19)
Ungaran (14)
Paiton (20)
G
arati (18)
K
rian (16)
G resik (17)

Gambar 2. Sistem Interkoneksi Jaringan Transmisi Tegangan 500 kV Jawa-Bali Tabel 1. Data Pembangkit dan Pembebanan Sistem Interkoneksi 500 kV Jawa-Bali

Jurnal Rekayasa Elektrika 41

No

Bus

Jenis

Pembangkit

Konsumsi

P

Q

P

Q

(MW)

(Mvar)

(MW)

(Mvar)

 

1 Slack

Suralaya

 

-

-

132

44

 

Cirata

2 Generator

 

600

-

524.6

289

 

3 Beban

Cibatu

 

-

-

447.5

227

 

4 Generator

Muara Tawar

 

606

-

-

-

 

5 Beban

Cibinong

   

- -

224.9

141

 

6 Beban

Bekasi

   

- -

452.2

179

 

7 Beban

Cawang

   

- -

594.7

322

 

8 Beban

Gandul

   

- -

599.3

314

 

9 Kembangan

Beban

 

- -

717.3

411

 

10 Cilegon

Beban

 

- -

475.1

241

 

11 Saguling

Generator

432

-

-

-

 

12 Bandung

Beban

 

- 638.8

-

 

377

 

13 Mandiracan

Beban

 

- 428.9

-

 

283

 

14 Ungaran

Beban

 

- 384.7

-

 

227

 

15 Pedan

Beban

 

- 288.5

-

 

99.8

 

16 Krian

Beban

 

- 569.7

-

 

382

 

17 Gresik

Generator

681

-

432.7

457

 

18 Grati

Generator

442

-

200

120

19 Kediri

Beban

-

-

241.7

23.4

20 Paiton

Generator

2494

-

491.3

72.1

Tabel 2. Data Jaringan Saluran Transmisi 500 kV Jawa- Bali

No.

Bus ke Bus

Panjang (km)

R (pu)

X (pu)

1

1-10

12.48

0.001754

0.019625

2

1-8

111

0.018237

0.175214

3

10-5

116

0.036773

0.411392

4

8-5

21.3

0.00349

0.033532

5

8-9

31.9

0.004237

0.047399

6

5-7

57

0.017885

0.171828

7

5-6

37.92

0.012437

0.119491

8

5-11

80.3

0.011778

0.131768

9

6-7

18

0.005526

0.053093

10

11-2

25.1

0.004129

0.039672

11

11-12

37.43

0.005273

0.058992

12

2-3

44.56

0.007672

0.073708

13

3-4

55

0.007902

0.075916

14

12-14

342.8

0.112513

1.080969

15

12-13

130

0.0335

0.374776

16

14-13

228

0.073403

0.705218

17

14-15

75

0.021084

0.235872

18

14-16

251

0.041414

0.397883

42

Volume 4 No.2 Tahun 2005

19 15-19

202.783

0.05763

0.644717

20 19-20

212.217

0.028815

0.322358

21 20-18

74

0.01242

0.138949

22 18-16

74

0.011162

0.124871

23 16-17

22.2

0.003774

0.036257

24 15-20

410

0.002402

0.022862

0.036257 24 15-20 410 0.002402 0.022862 Gambar 3. Grafik Profile tegangan sistem Jawa-Bali 500 kV

Gambar 3. Grafik Profile tegangan sistem Jawa-Bali 500 kV

Dari studi aliran daya diperoleh profile tegangan dari setiap bus. Terlihat pada gambar 3. bahwa semua bus memiliki tegangan yang diizinkan (± 5%). Bus nomor 11 adalah bus yang memiliki tegangan yang paling rendah dibandingkan dengan bus-bus yang lain, yakni sebesar 1.00 pu. Dengan data-data yang ada, pertama-tama dilakukan study aliran daya. Kemudian dengan metode Newton-Rhapson diperoleh matriks Jacobian (J). Matriks J ini direduksi sehingga diperoleh matrik Jacobian Reduksi (J R ). Dengan bantuan software MATLAB maka diperoleh 4 nilai eigen yang paling kecil. Semua nilai eigen yang diperoleh bernilai positif, sehingga dapat disimpulkan bahwa keadaan tegangan pada setiap bus dalam kondisi stabil. Berikut ini diperoleh 4 nilai eigen terendah :

Minimum Eigenvalue is Lambda(12) =81.322 Minimum Eigenvalue is Lambda(10) =89.424 Minimum Eigenvalue is Lambda(13) =161.770 Minimum Eigenvalue is Lambda(11) =258.252

Dengan menggunakan nilai eigen terendah(81.322), kemudian ditentukan faktor partisipasi dari setiap bus pada sistem ini. Faktor partisipasi ini sangat penting dalam menentukan bus yang terlemah dari sistem. Tabel 3. Nilai Faktor Partisipasi Terbesar Bus dari Sistem Jawa Bali

Nomor Bus

Nilai Faktor Partisipasi

Jurnal Rekayasa Elektrika

12

0.022

13

0.212

19

0.231

14

0.238

15

0.295

13 0.212 19 0.231 14 0.238 15 0.295 Gambar 4. Grafik Bus Partisipasi Faktor Sistem Jawa-Bali

Gambar 4. Grafik Bus Partisipasi Faktor Sistem Jawa-Bali 500 kV

Dari grafik ini terlihat bahwa untuk sistem Jawa- Bali 500 kV, maka terlihat bahwa bus nomor 15 memiliki partisipasi faktor terbesar disusul secara berturut-turut :

bus 19, bus 14 dan bus 13. Hal ini berarti bus yang memiliki kemungkinan terbesar untuk collapse adalah bus 15 disusul bus-bus lainnya.

4.

KESIMPULAN

Dengan metode modal analisis kita data menentukan kestabilan sistem. Dimulai dengan menghitung nilai eigen terkecil dari matriks Jacobian Reduksi, besar dari nilai eigen ini memberikan ukuran kedekatan sistem untuk menjadi collapse. Kemudian dengan menentukan nilai faktor partisipasi maka kita dapat mengidentifikasi bus atau node yang lemah dari sistem yang dikaji. Untuk kasus Sistem Jawa-Bali 500 kV, dari analisa diperoleh bahwa bus 15 (Pedan) adalah merupakan bus yang terlemah. Sehingga untuk meningkatkan kestabilan sistem dan perencanaan pengembangan sistem kedepan maka pada bus ini sebaiknya dipasang peralatan kompensasi daya reaktif (Compensator, SVC, Statcom dan lain-lain).

5.

REFERENSI

Volume 4 No.2 Tahun 2005

[1] B.Gao, G.Morison and P.Kundur,”Voltage Stability Evaluation Using Modal Analysis” IEEE Trans. On Power Systems, Vol.8, No.3, pp. 1159-1171, Aug.

1993.

[2] C.W. Taylor,”Power System Voltage Stability.” New

York , McGraw-Hill. 1994.

[3] Sirisuth, Piya “ Voltage Instability analysis using the Sensitivity of Minimum Singular Value of Load Flow Jacobian”, 1993 [4] F.D. Galiana and Z.C. Zeng, “ Analysis of the Load Behavior near Jacobian Singularity.” IEEE Trans. On Power DeliverySystems, vol.7, pp-64, Feb. 1992.

[5]

Method”, IEEE Trans. On Power Systems, Vol.13, No.4, pp.1423-1438, Nov. 1998. [6] E. Vaahedi, Y. Mansour and D.Sun,”Large Scale Voltage Stability Constrained Optimal Planning and Voltage Stability Applications Using Existing OPF/Optimal Var Planning Tools”, IEEE Trans. On Power System Vol.14, pp.612-620, May 1990. [7] T.Overbye and C. DeMarco,” Improved Power System Stabilty Assessment Using Energy Method”,IEEE Trans. On Power Syustem, Vol.6, No.4, pp.1890-1896, Nov.1995.

R.Schluter,” Voltage Stability Security Assessment

Jurnal Rekayasa Elektrika 43