Anda di halaman 1dari 9

TUGAS PRAKTIKUM

EVALUASI SISTEM PELAYANAN KESEHATAN

Anggota Kelompok :

Dwi Winda Agustin (G41160183 / A)


Firza Azis (G41160239 / A )
Dianatus Solehah (G41160432 / A )
Nofitalia Sawondari (G41161804 / C)
Dian Fadillah Ayu L (G41161907 / C)

PROGRAM STUDI D-IV REKAM MEDIK


JURUSAN KESEHATAN
POLITEKNIK NEGERI JEMBER
2019
1. Petugas salah identifikasi pasien karena pasien tidak membawa kartu identitas

Petugas pendaftaran harus melakukan pendaftran sesuai dengan SOP yaitu


mengindentifikasi identitas pasien dengan benar. Pasien harus membawa kartu identitas
pasien tetapi pasien yang datang untuk berobat di RSU Wonolangan masih banyak yang
tidak membawa kartu identias seperti KTP, KK atau KIB). Akibat dari pasien tidak
membawa kartu identitas petugas sering salah dalam mengidentifikasi seperti salah dalam
penulisan nama dll. Solusi dari masalah tersebut yaitu petugas melakukan edukasi dan
memberi informasi kepada pasien untuk membawa kartu identitas.
1.2 Sering terjadi antrian dan waktu tunggu lama
Petugas pendftaran harus melakukan pendaftaran pasien sesuai dengan SOP dimana
waktu untuk pendaftaran pasien yaitu tetapi di RSU Wonolngan waktu pendaftaran pasien
melebihi waktu yang sudah ditetapkan sehingga terjadi antrian yang panjang. Akibat dari
masalah tersebut yaitu petugas kurang cekatan dalam melayani pasien dan jumah petugas
yang kurang memadai. Solusi dari masalah tersebut melukukan evaluasi dan pelatihan
terhadap petugas setalah penambahan petugas.
2. SIMRS
Di RS Wonolangan hanya terdapat SIMRS pada bagian pendaftaran pasien rawat jalan, rawat
inap dan IGD saja, untuk bagian poli dll masih belum menggunakan system dalam
pelayanannya. SIMRS tersebut sudah dapat mengidentifikasi identtas pasien untuk memastikan
no rekam medis pasien.
3. Maintenance dilakukan oleh petugas pelaksana IT tiga bulan sekali dan Pengembangan
SIMRS dilakukan oleh pelaksana IT jika dibutuhkan penambahan fitur.
Pada sistem informasi yang berupa SIMRS pada rumah sakit Wonolangan masih dengan
versi lama dan masih memiliki database yang minimum, sedangkan yang dibutuhkan oleh rumah
sakit Wonolangan yaitu fitur – fitur baru yang akan membantu pelayanan kesehatan. database
yang hamper penuh memuat SIMRS Wonolangan menjadi lambat. Dari masalah tersebut
dibutuhkan maintenance yang dilakukan tiga bulan sekali agar keamanan dan kerahasiaan
informasi kesehatan tetap terjaga. Dari Peraturan Pemerintah Republik Indonesia nomor 46 tahun
2014 pada pasal 24 ayat 2 sangat jelas bahwa dijelaskan dalam menjaga keamanan dan
kerhasiaan informasi kesehatan, setiap pengelola informasi kesehatan harus melakukan
pemeliharaan (maintenance), penyimpanan, dan penyediaan cadangan data dari informasi
kesehatan secara teratur dan membuat sistem pencegahan kerusakan data dan informasi
kesehatan.

4. Prosedur pendaftaran belum sesuai dengan SOP pendaftaran RSU Wonolangan


Prosedur pendaftaran belum sesuai dengan SOP pendaftaran RSU Wonolangan yang
mana prosedur 4 dan 5 di RS Wonolangan tidak dikerjakan. Petugas pendaftaran Rawat jalan
(TPPRJ) hanya mendaftarkan pasien dan menginputkan ke SIMRS namun petugas tidak
menjelaskan mengenai general consent, jenis layanan, tarif dan sebagainya kepada pasien
padahal kegiatan tersebut adalah hak pasien untuk mendapatkan informasi mengenai layanan
yang akan diterima olehnya. Selain itu petugas juga lupa untuk meminta tandatangan pasien pada
general consent akibatnya terjadi ketidakelengkapan pengisian dokumen rekam medis terkait
legalitas. Penyebabnya yaitu petugas belum pernah mendapatkan sosialisasi mengenai SOP
pendaftaran. Solusinya yaitu diadakan rapat evaluasi untuk membahas ketidaksesuaian SOP
dengan pelaksanaan di lapangan dan dilakukan sosialisasi SOP pendaftaran agar petugas lebih
memahami mengenai prosedur yang harus dilakukan di bagian pendaftaran.

5. SD yang dimiliki : Ruang pendaftaran dan filing berjauhan

Kebutuhan : Ruang pendaftaran dan filing

Masalah : Proses pengambilan berkas rekam medis membutuhkan waktu yang lama

Penyebab Masalah : Bagian pendaftaran dan ruang filling berjauhan (tidak ergonomis)

Solusi : Mendesain tata ruang filling yang berdekatan dengan ruang pendaftaran.
Keterangan : Kepala RM mengajukan renovasi ruangan pada saat rapat yang diikuti seluruh
kepala unit.

Berdasarkan Permenkes Nomor 24 Tahun 2016 Tentang Persyaratan Teknis Bangunan Dan
Prasarana Rumah Sakit

Bangunan rumah sakit terdiri atas salah satunya : ruang rekam medis.

Zona penunjang umum dan administrasi, diantaranya yaitu ruang kesekretariatan dan
administrasi, ruang pertemuan, ruang rekam medis.

PERSYARATAN TEKNIS RUANG DALAM BANGUNAN RUMAH SAKIT

1. RUANG RAWAT JALAN

a) Letak ruang rawat jalan harus mudah diakses dari pintu masuk utama rumah sakit dan
memiliki akses yang mudah ke ruang rekam medis, ruang farmasi, ruang radiologi, dan ruang
laboratorium.

b) Ruang rawat jalan harus memiliki ruang tunggu dengan kapasitas yang memadai dan sesuai
kajian kebutuhan pelayanan.
2. RUANG RAWAT INAP

a) Letak ruang rawat inap harus di lokasi yang tenang, aman, dan nyaman.

b) Ruang rawat inap harus memiliki akses yang mudah ke ruang penunjang pelayanan lainnya.

c) Ruangan perawatan pasien di ruang rawat inap harus dipisahkan berdasarkan jenis kelamin,
usia, dan jenis penyakit.

3. RUANG REKAM MEDIS

a) Letak ruang rekam medik harus memiliki akses yang mudah dan cepat ke ruang rawat jalan
dan ruang gawat darurat.

b) Desain tata ruang rekam medis harus dapat menjamin kemanan penyimpanan berkas rekam
medis.
Untuk ruang rekam medis (filling) dengan pendaftara sebaiknya berdekatan, karna setiap kali
pasien daftar (pasien lama) yang pernah berobat di rumah sakit akan di ambilkan berkas rekam
medis pada rak penyimpanan.

Seperti yang telah dijelaskan pada peraturan diatas yang berisi “Letak ruang rawat jalan harus
mudah diakses dari pintu masuk utama rumah sakit dan memiliki akses yang mudah ke ruang
rekam medis, ruang farmasi, ruang radiologi, dan ruang laboratorium.”. ruang rekam medis yang
dimaksud juga yaitu ruang filling (ruang penyimpanan berkas rekam medis)