Anda di halaman 1dari 29

MAKALAH

PATOFISIOLOGI PADA GANGGUAN NUTRISI DAN ASUHAN


KEPERAWATAN ANAK: OBESITAS

JUDITH PAMELLA
NPM. 1130117003

PROGRAM STUDI S1 KEPERAWATAN


FAKULTAS KEPERAWATAN DAN KEBIDANAN
UNIVERSITAS NAHDLATUL ULAMA SURABAYA
2017

1
DAFTAR ISI
Daftar isi...........................................................................................i
BAB 1 PENDAHULUAN................................................................1
BAB 2 TINJAUWAN TEORI
2,1 Definisi.....................................................................5
2.2 Epidemiologi.............................................................5
2.3 Etiologi......................................................................6
2.4 Patofisiologi..............................................................7
2.5 Pengukuran antropometri sebagai skening obesitas...8
2.6 Klasifikasi obesitas..................................................10
2.7 Komplikasi .............................................................13
2.8 Penata laksanaan.....................................................14
2.7 konsep asuhan keperawatan obesitas......................15
2.8 Asuhan keperawatan klien dengan
obesitas.......................20
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan ...........................................................26
3.2 Saran .....................................................................27
Daftar Pustaka.............................................................................28

2
BAB 1
PENDAHULUAN

1.1. Latar belakang


Obesitas saat ini merupakan permasalahan yang mendunia.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mendeklarasikan obesitas
sebagai epidemik global. Menurut Lembaga Obesitas Internasional di
London Inggris dalam Wandansari (2007) di perkirakan sebanyak 1,7
milyar orang di bumi ini mengalami kelebihan berat badan. Prevalensinya
meningkat tidak hanya di negara
-negara maju, tetapi juga di negara – negara berkembang termasuk
Indonesia.
Obesitas adalah keadaan dimana terdapat penimbunan kelebihan
lemak dalam tubuh. Umumnya, obesitas dapat ditentukan menggunakan
indeks massa tubuh (IMT)/ Body Mass Index (BMI), yaitu perbandingan
berat badan (dalam kilogram) dengan kuadrat tinggi badan (dalam
meter). Pada usia kurang dari 20 tahun, indeks massa tubuh ditentukan
dengan memplot IMT menggunakan grafik indeks massa tubuh CDC
2000, yaitu diatas persentil ke-95. Sedangkan pada usia lebih dari 20
tahun, menurut kriteria WHO untuk kawasan Asia Pasifik, obesitas
ditentukan jika IMT > 25.
Penelitian di Indonesia tentang obesitas masih sedikit dibandingkan
dengan di luar negeri. Hal ini disebabkan penelitian di Indonesia lebih
banyak difokuskan dengan masalah gizi kurang dibandingkan dengan
masalah gizi lebih. Menurut Survey Kesehatan Nasional pada tahun 1989
sebanyak 0,77% anak mengalami obesitas dan pada tahun 1992
meningkat menjadi 1,26% dan meningkat lagi menjadi 4,58% pada tahun
1999 (Wandansari, 2007).
Menurut Sugih dalam Salim dalam Wandansari (2007) jumlah
penduduk
Indonesia yang mengalami obesitas menunjukkan kenaikan, pada tahun
1999 baru

3
15% – 20% tetapi pada tahun 2002 kejadian obesitas tersebut meningkat
menjadi 22% - 24%, jadi sekitar 48-53 juta penduduk Indonesia
mengalami obesitas. Masalah obesitas banyak dialami oleh beberapa
golongan di masyarakat, antara
lain balita, anak usia sekolah, remaja, dewasa dan orang lanjut usia.
Beberapa survey yang dilakukan secara terpisah di beberapa kota besar
menunjukkan bahwa prevalensi obesitas pada anak sekolah dan remaja
cukup tinggi. Pada anak SD prevalensi obesitas mencapai 9,7% di
Yogyakarta dan 15,8% di Denpasar (Wandansari, 2007). Survey obesitas
yang dilakukan akhir-akhir ini pada anak remaja siswa/siswi SLTP di
Yogyakarta menunjukkan bahwa 7,8% remaja di perkotaan dan 2%
remaja di pedesaan mengalami obesitas. Angka prevalensi obesitas di
atas baik pada anak-anak maupun remaja dan orang dewasa sudah
merupakan tanda peringatan bagi pemerintah dan masyarakat luas bahwa
obesitas dan segala implikasinya sudah merupakan ancaman yang serius
bagi masyarakat Indonesia khususnya di kota-kota besar.
1.2 Rumusan masalah dari obesitas
1.2.1 Apa pengertian dari obesitas?
1.2.2 Apa saja etiologi dari obesitas?
1.2.3 Patofisiologi obesitas?
1.2.4 Apa saja pengukuran antropometri sebagai skaning obesitas?
1.2.5 Apa saja komplikasi obesitas?
1.2.6 Bagaimana asuhan keperawatan pada obesitas?
1.3 Tujuan
1.3.1 Memahami pengertian dari gagal jantung
1.3.2 Mengetahui etiologi 0besitas
1.3.3 Mengetahui patofisiologi obesitas
1.3.4 mengetahui bagai mana pengukuran antrometri sebagai skaning
obesitas
1.3.5 Mengetahui komplikasi obesitas
1.3.6 Mengetai asuhan keperawatan pada obesitas

4
5
BAB 2
TINJAUAN TEORI

2.1. Definisi Obesitas


Obesitas didefinisikan sebagai kandungan lemak berlebih pada
jaringan adiposa. Secara fisiologis, obesitas didefinisikan sebagai suatu
keadaan dengan akumulasi lemak yang tidak normal atau berlebihan di
jaringan adiposa sehingga dapat mengganggu kesehatan (Sugondo,
2009).
Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori
yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk menunjang
kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut disimpan
sebagai trigliserida di jaringan lemak.
2.2. Epidemiologi Obesitas
Prevalensi obesitas populasi dewasa di seluruh dunia pada tahun
2005 mencapai 400 juta jiwa (WHO, 2011). Prevalensi penduduk laki-laki
dewasa obesitas pada tahun 2013 sebanyak 19,7%, lebih tinggi dari tahun
2007 (13,9%) dan tahun 2010 (7,8%). Pada tahun 2013, prevalensi
obesitas perempuan dewasa (>18 tahun) 32,9%, naik 18,1% dari tahun
2007 (13,9%) dan 17,5 % dari tahun 2010 (15,5%).
Prevalensi nasional obesitas tipe pear shaped (usia >15 tahun) di
Indonesia sebesar 19,1% (8,8% overweight dan 10,3% obesitas) dan
prevalensi obesitas tipe apple shaped sebesar 26,6%, lebih tinggi dari
prevalensi pada tahun 2007 (18,8%). Kelompok dengan karakteristik
obesitas tipe apple shaped tertinggi di Indonesia berada dalam rentang
umur 40-54 tahun sebanyak 27,4%.
Menurut penelitian yang dilakukan Moehji (2003) tiga jenis pekerjaan
yang memiliki prevalensi obesitas tertinggi yaitu Pegawai Negeri Sipil
(PNS), yang menempati urutan pertama karakteristik penderita obesitas
dengan prevalensi sebesar 27,3%, ABRI 26,4% dan wiraswasta sebesar
26,5%. Menurut Arambepola (2006) dalam penelitiannya menemukan
bahwa obesitas abdominal 33% lebih banyak pada laki-laki yang memiliki

6
pekerjaan sedentarian (profesional, manager, tata usaha) dan hanya 6%
pada mereka yang memiliki pekerjaan aktif yang tinggi (petani, nelayan,
tukang kayu).
2.3. Etiologi Obesitas
Obesitas terjadi jika dalam suatu periode waktu, lebih banyak kilokalori
yang masuk melalui makanan daripada yang digunakan untuk menunjang
kebutuhan energi tubuh, dengan kelebihan energi tersebut disimpan
sebagai trigliserida di jaringan lemak (Sherwood, 2012). Menurut Fauci, et
al., (2009), obesitas dapat disebabkan oleh peningkatan masukan energi,
penurunan pengeluaran energi, atau kombinasi keduanya. Obesitas
disebabkan oleh banyak faktor, antara lain genetik, lingkungan, psikis,
kesehatan, obat-obatan, perkembangan dan aktivitas fisik.
a. Faktor genetik
Obesitas cenderung diturunkan, sehingga diduga memiliki penyebab
genetik. Selain faktor genetik pada keluarga, gaya hidup dan kebiasaan
mengkonsumsi makanan tertentu dapat mendorong terjadinya obesitas.
Penelitian menunjukkan bahwa rerata faktor genetik memberikan
pengaruh sebesar 33% terhadap berat badan seseorang.
b. Faktor lingkungan
Lingkungan, termasuk perilaku atau gaya hidup juga memegang
peranan yang cukup berarti terhadap kejadian obesitas.
c. Faktor psikis
Banyak orang yang memberikan reaksi terhadap emosinya dengan
makan. Salah satu bentuk gangguan emosi adalah persepsi diri yang
negatif (Farida, 2009). Ada dua pola makan abnormal yang dapat menjadi
penyebab obesitas, yaitu makan dalam jumlah sangat banyak dan makan
di malam hari (Shils, 2006).
d. Faktor kesehatan
Terdapat beberapa kelainan kongenital dan kelainan neuroendokrin
yang dapat menyebabkan obesitas, diantaranya adalah Down Syndrome,
Cushing Syndrome, kelainan hipotalamus, hipotiroid.
e. Faktor obat-obatan

7
Obat-obatan merupakan sumber penyebab signifikan dari terjadinya
overweight dan obesitas. Obat-obat tersebut diantaranya adalah golongan
steroid, antidiabetik, antihistamin, antihipertensi, protease inhibitor (Shils,
2006). Penggunaan obat antidiabetes (insulin, sulfonylurea,
thiazolidinepines), glukokortikoid, agen psikotropik, mood stabilizers
(lithium), antidepresan (tricyclics, monoamine oxidase inibitors, paroxetine,
mirtazapine) dapat menimbulkan penambahan berat badan. Selain itu,
Insulin-secreting tumors juga dapat menimbulkan keinginan makan
berlebihan sehingga menimbulkan obesitas.
f. Faktor perkembangan
Penambahan ukuran, jumlah sel-sel lemak, atau keduanya, terutama
yang terjadi pada pada penderita di masa kanak-kanaknya dapat memiliki
sel lemak sampai lima kali lebih banyak dibandingkan orang yang berat
badannya normal.
g. Aktivitas fisik
Kurangnya aktivitas fisik kemungkinan merupakan salah satu
penyebab utama dari meningkatnya angka kejadian obesitas pada
masyarakat. Orang yang tidak aktif memerlukan lebih sedikit kalori.
Seseorang yang cenderung mengonsumsi makanan kaya lemak dan tidak
melakukan aktivitas fisik yang seimbang akan mengalami obesitas.
2.4 Patofisiologi Obesitas
Obesitas terjadi akibat ketidakseimbangan masukan dan keluaran
kalori dari tubuh serta penurunan aktifitas fisik (sedentary life style) yang
menyebabkan penumpukan lemak di sejumlah bagian tubuh (Rosen,
2008). Penelitian yang dilakukan menemukan bahwa pengontrolan nafsu
makan dan tingkat kekenyangan seseorang diatur oleh mekanisme neural
dan humoral (neurohumoral) yang dipengaruhi oleh genetik,
nutrisi,lingkungan, dan sinyal psikologis. Pengaturan keseimbangan
energi diperankan oleh hipotalamus melalui 3 proses fisiologis, yaitu
pengendalian rasa lapar dan kenyang, mempengaruhi laju pengeluaran
energi dan regulasi sekresi hormon. Proses dalam pengaturan
penyimpanan energi ini terjadi melalui sinyal-sinyal eferen (yang berpusat

8
di hipotalamus) setelah mendapatkan sinyal aferen dari perifer (jaringan
adiposa, usus dan jaringan otot).
Sinyal-sinyal tersebut bersifat anabolik (meningkatkan rasa lapar serta
menurunkan pengeluaran energi) dan dapat pula bersifat katabolik
(anoreksia, meningkatkan pengeluaran energi) dan dibagi menjadi 2
kategori, yaitu sinyal pendek dan sinyal panjang. Sinyal pendek
mempengaruhi porsi makan dan waktu makan, serta berhubungan
dengan faktor distensi lambung dan peptida gastrointestinal, yang
diperankan oleh kolesistokinin (CCK) sebagai stimulator dalam
peningkatan rasa lapar. Sinyal panjang diperankan oleh fat-derived
hormon leptin dan insulin yang mengatur penyimpanan dan
keseimbangan energi (Sherwood, 2012).
Apabila asupan energi melebihi dari yang dibutuhkan, maka jaringan
adiposa meningkat disertai dengan peningkatan kadar leptin dalam
peredaran darah. Kemudian, leptin merangsang anorexigenic center di
hipotalamus agar menurunkan produksi Neuro Peptida Y (NPY) sehingga
terjadi penurunan nafsu makan. Demikian pula sebaliknya bila kebutuhan
energi lebih besar dari asupan energi, maka jaringan adiposa berkurang
dan terjadi rangsangan pada orexigenic center di hipotalamus yang
menyebabkan peningkatan nafsu makan. Pada sebagian besar penderita
obesitas terjadi resistensi leptin, sehingga tingginya kadar leptin tidak
menyebabkan penurunan nafsu makan (Jeffrey, 2009).

9
Gambar 3. Patofisiologi Penyimpanan dan Keseimbangan Energi
(Sumber: Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC. Robbins and Cotran
Pathologic Basis of Disease. Edisi VIII, 2009).

2.5. Pengukuran Antropometri sebagai Skrining Obesitas


Obesitas dapat dinilai dengan berbagai cara atau metode antara lain
pengukuran IMT (Index Massa Tubuh), serta perbandingan lingkar
pinggang dan panggul.

a. IMT
Indeks massa tubuh (IMT) adalah ukuran yang menyatakan komposisi
tubuh, perimbangan antara berat badan dengan tinggi badan. Metode ini
dilakukan dengan cara menghitung BB/TB2 dimana BB adalah berat
badan dalam kilogram dan TB adalah tinggi badan dalam meter.
Tabel 1. Klasifikasi IMT menurut WHO Kriteria Asia Pasifik
Klasifikasi IMT (kg/m2)
Berat badan kurang < 18,5
Kisaran Normal 18,5 – 22,9
Berat Badan Lebih ≥ 23,0
Berisiko 23,0 – 24,9
Obes I 25,0 – 29,9

10
Obes II ≥ 30,0

b. Rasio lingkar pinggang – panggul (RLPP)


Pola penyebaran lemak tubuh tersebut dapat ditentukan oleh rasio
lingkar pinggang dan panggul. Pinggang diukur pada titik yang tersempit,
sedangkan panggul diukur pada titik yang terlebar; lalu ukuran pinggang
dibagi dengan ukuran panggul.
Rasio Lingkar Pinggang (LiPi) dan Lingkar Panggul (LiPa) merupakan
cara sederhana untuk membedakan obesitas bagian bawah tubuh
(panggul) dan bagian atas tubuh (pinggang dan perut). Jika rasio antara
lingkar pinggang dan lingkar panggul untuk perempuan diatas 0.85 dan
untuk laki-laki diatas 0.95 maka berkaitan dengan obesitas sentral / apple
shapedd obesity dan memiliki faktor resiko stroke, DM, dan penyakit
jantung koroner. Sebaliknya jika rasio lingkar pinggang dan lingkar
panggul untuk perempuan dibawah 0,85 dan untuk laki-laki dibawah 0,95
maka disebut obesitas perifer / pear shapedd obesity (WHO, 2008).
1) Lingkar Pinggang
Lingkar pinggang adalah salah satu indikator untuk menentukan jenis
obesitas yang diperoleh melalui hasil pengukuran panjang lingkar yang
diukur di antara crista illiaca dan costa XII pada lingkar terkecil, diukur
dengan pita meteran non elastis (ketelitian 1 mm). Pada penelitian lain
yang dilakukan Wangetal (2005), ukuran lingkar pinggang yang besar
berhubungan dengan peningkatan faktor risiko terhadap penyakit
kardiovaskular karena lingkar pinggang dapat menggambarkan akumulasi
dari lemak intraabdominal atau lemak visceral. Berikut adalah teknik
pengukuran lingkar pinggang menurut Riskesdas 2013:
a. Responden diminta dengan cara yang santun untuk membuka pakaian
bagian atas atau menyingkapkan pakaian bagian atas dan raba tulang
rusuk terakhir responden untuk menetapkan titik pengukuran.
b. Tetapkan titik batas tepi tulang rusuk paling bawah.
c. Tetapkan titik ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul.
d. Tetapkan titik tengah di antara diantara titik tulang rusuk terakhir titik
ujung lengkung tulang pangkal paha/panggul dan tandai titik tengah

11
tersebut dengan alat tulis. Minta responden untuk berdiri tegak dan
bernafas dengan normal (ekspirasi normal).
e. Lakukan pengukuran lingkar perut dimulai/diambil dari titik tengah
kemudian secara sejajar horizontal melingkari pinggang dan perut
kembali menuju titik tengah diawal pengukuran.
f. Apabila responden mempunyai perut yang gendut kebawah,
pengukuran mengambil bagian yang paling buncit lalu berakhir pada
titik tengah tersebut lagi.
g. Pita pengukur tidak boleh melipat dan ukur lingkar pinggang mendekati
angka 0,1 cm.
2) Lingkar Panggul
Lingkar panggul juga merupakan salah satu indikator untuk
menentukan jenis obesitas yang diperoleh melalui hasil pengukuran
panjang lingkar maksimal dari pantat dan pada bagian atas simphysis
ossis pubis. Lingkar panggul yang besar (tanpa menilai IMT dan lingkar
pinggang) memiliki risiko diabetes melitus dan penyakit kardiovaskular
yang lebih rendah dibandingkan dengan obesitas apple shaped (Oviyanti,
2010). Berikut adalah teknik pengukuran lingkar pinggang menurut
Riskesdas 2013:
a. Responden diminta berdiri tegap dengan kedua kaki dan berat merata
pada setiap kaki.
b. Palpasi dan tetapkan daerah trochanter mayor pada tulang paha.
c. Lingkarkan pita ukur tanpa melakukan penekanan.
d. Posisikan pita ukur pada lingkar maksimum dari bokong, untuk wanita
biasanya di tingkat pangkal paha, sedangkan untuk pria biasanya
sekitar 2 - 4 cm bawah pusar.
e. Ukur lingkar pinggul mendekati angka 0,1cm.
2.6. Klasifikasi Obesitas
Klasifikasi obesitas dapat dibedakan berdasarkan distribusi jaringan
lemak, yaitu:
a. Apple-shapedd body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian
dada dan pinggang)

12
b. Pear-shapedd body (distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian
panggul dan paha)
Terdapat klasifikasi obesitas berdasarkan kriteria obesitas untuk
kawasan Asia Pasifik. Kriteria ini berdasarkan meta-analisis beberapa
kelompok etnik yang berbeda, dengan konsentrasi lemak tubuh, usia, dan
gender yang sama, menunjukkan etnis Amerika berkulit hitam memiliki
IMT lebih tinggi 4,5 kg/m2 dibandingkan dengan etnis kaukasia.
Sebaliknya, nilai IMT bangsa Cina, Ethiopia, Indonesia, dan Thailand
masing-masing adalah 1.9, 4.6, 3.2, dan 2.9 kg/m2 lebih rendah daripada
etnis Kaukasia. Hal ini memperlihatkan adanya nilai ambang batas IMT
untuk obesitas yang spesifik untuk populasi tertentu.
Tabel 2. Klasifikasi Berat Badan Lebih dan Obesitas Berdasarkan IMT
dan Lingkar Perut Menurut Kriteria Asia Pasifik Klasifikasi
Klasifikasi IMT(kg/m2) Resiko Ko-Morbilitas
Lingkar perut
<90cm(laki-laki)
<80cm(perempuan)
Berat badan <18,5 Rendah (risiko Sedang
kurang meningkat pada
masalah klinis lain)
Kisaran normal 18,5-22,9 Sedang Meningkat
Berat badan ≥23,0
lebih
Berisiko 23,0-24,9 Meningkat Modarot
Obes I 25,0-29,9 Moderat Berat
Obes II ≥30,0 Berat Sangat berat
Manifestasi klinis obesitas secara umum, antara lain :
- Wajah bulat dengan pipi tembem dan dagu rangkap

-Leher relatif pendek

- Dada membusung dengan payudara membesar

- Perut membuncit (pendulous abdomen) dan striae abdomen

- Pada anak laki-laki : Burried penis, gynaecomastia

- Pubertas dinigenu valgum (tungkai berbentuk X) dengan kedua pangkal


paha bagian dalam saling menempel dan bergesekan yang dapat
menyebabkan laserasi kulit.
A.Obesitas tipe apple shaped

13
Obesitas tipe apple shaped atau yang lebih dikenal sebagai “android
obesity” merupakan obesitas dengan distribusi jaringan lemak lebih
banyak dibagia atas (upper body obesity) yaitu pinggang dan rongga
perut, sehingga tubuh cenderung menyerupai buah apel. Obesitas tubuh
bagian atas merupaka dominasi penimbunan lemak tubuh di trunkal.
Terdapat beberapa kompartemen jaringan lemak pada trunkal, yaitu
trunkal subkutaneus yang merupakan kompartemen paling umum,
intraperitoneal (abdominal), dan retroperitoneal.
Obesitas tubuh bagian atas lebih banyak didapatkan pada pria, oleh
karena itu tipe obesitas ini disebut sebagai android obesity. Tipe obesitas
ini berhubungan lebih kuat dengan diabetes, hipertensi, dan penyakit
kardiovaskuler daripada obesitas tubuh bagian bawah.
b) Obesitas tipe pear shaped
Pada obesitas tipe ini, distribusi jaringan lemak lebih banyak dibagian
panggul dan paha, sehingga tubuh menyerupai buah pir (Boivin, 2007).
Obesitas tubuh bagian bawah merupakan suatu keadaan tingginya
akumulasi lemak tubuh pada regio gluteofemoral. Tipe obesitas ini lebih
banyak terjadi pada wanita sehingga sering disebut “gynoid obesity”
(David, 2004). Resiko terhadap penyakit pada tipe ini umumnya kecil.
Pada obesitas tipe apple shaped, lemak banyak di simpan pada bagian
pinggang dan rongga perut. Resiko kesehatan pada tipe ini lebih tinggi
dibandingkan dengan tipe menyerupai buah pear karena sel-sel lemak di
sekitar perut lebih siap melepaskan lemaknya ke dalam pembuluh darah
dibandingkan dengan sel-sel lemak ditempat lain atau perifer.

Gambar 4. Obesitas Apple Shapedd dan Obesitas Pear Shapedd


(Diakses dari:

14
http://img.medscape.com/fullsize/migrated/editorial/clinupdates/2001/608/c
u02.fig09.gif)
2.7. Komplikasi Obesitas
Mortalitas yang berkaitan dengan obesitas, terutama obesitas apple
shaped, sangat erat hubungannya dengan sindrom metabolik. Sindrom
metabolik merupakan satu kelompok kelainan metabolik selain obesitas,
meliputi resistensi insulin, gangguan toleransi glukosa, abnormalitas lipid
dan hemostasis, disfungsi endotel dan hipertensi yang kesemuanya
secara sendiri-sendiri atau bersama-sama merupakan faktor resiko
terjadinya aterosklerosis dengan manifestasi penyakit jantung koroner dan
stroke. Mekanisme dasar bagaimana komponen-komponen sindrom
metabolik ini dapat terjadi pada seseorang dengan obesitas apple shaped
dan bagaimana komponen-komponen ini dapat menyebabkan terjadinya
gangguan vaskular, hingga saat ini masih dalam penelitian.
2.8. Penatalaksanaan obesitas
a. Merubah gaya hidup
Diawali dengan merubah kebiasaan makan. Mengendalikan kebiasaan
ngemil dan makan bukan karena lapar tetapi karena ingin menikmati
makanan dan meningkatkan aktifitas fisik pada kegiatan sehari-hari.
Meluangkan waktu berolahraga secara teratur sehingga pengeluaran
kalori akan meningkat dan jaringan lemak akan dioksidasi.
b. Terapi Diet
Mengatur asupan makanan agar tidak mengkonsumsi makanan dengan
jumlah kalori yang berlebih, dapat dilakukan dengan diet yang terprogram
secara benar. Diet rendah kalori dapat dilakukan dengan mengurangi nasi
dan makanan berlemak, serta mengkonsumsi makanan yang cukup
memberikan rasa kenyang tetapi tidak menggemukkan karena jumlah
kalori sedikit, misalnya dengan menu yang mengandung serat tinggi
seperti sayur dan buah yang tidak terlalu manis.
c. Aktifitas Fisik
Peningkatan aktifitas fisik merupakan komponen penting dari program
penurunan berat badan, walaupun aktifitas fisik tidak 23 menyebabkan
penurunan berat badan lebih banyak dalam jangka waktu enam bulan.
Untuk penderita obesitas, terapi harus dimulai secara perlahan, dan
intensitas sebaiknya ditingkatkan secara bertahap. Penderita obesitas
dapat memulai aktifitas fisik dengan berjalan selama 30 menit dengan
jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan intensitasnya selama
45 menit dengan jangka waktu 3 kali seminggu dan dapat ditingkatkan
intensitasnya selama 45 menit dengan jangka waktu 5 kali seminggu.
d. Terapi perilaku
Untuk mencapai penurunan berat badan dan mempertahankannya,
diperlukan suatu strategi untuk mengatasi hambatan yang muncul pada
saat terapi diet dan aktifitas fisik. Strategi yang spesifik meliputi
pengawasan mandiri terhadap kebiasaan makan dan aktifitas fisik,
manajemen stress, stimulus control, pemecahan masalah, contigency
management, cognitive restructuring dan dukungan sosial.
e. Farmakoterapi

15
Farmakoterapi merupakan salah satu komponen penting dalam
program manajemen berat badan. Sirbutramine dan orlistat merupakan
obat-obatan penurun berat badan yang telah disetujui untuk penggunaan
jangka panjang. Sirbutramine ditambah diet rendah kalori dan aktifitas fisik
efektif menurunkan berat badan dan mempertahankannya. Orlistat
menghambat absorpsi lemak sebanyak 24.30 persen. Dengan pemberian
orlistat, dibutuhkan penggantian vitamin larut lemak karena terjadi
malabsorpsi parsial.
f. Pembedahan
Tindakan pembedahan merupakan pilihan terakhir untuk mengatasi
obesitas Pembedahan dilakukan hanya kepada penderita obesitas
dengan IMT ≥40 atau ≥35 kg/m2 dengan kondisi komorbid.Bedah
gastrointestinal (restriksi gastrik/ banding vertical gastric)atau bypass
gastric (Roux-en Y) adalah suatu intervensi penurunan berat badan
dengan resiko operasi yang rendah.

16
2.7 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN OBESITAS

Pengkajian

1.Identitas Pasien

Identitas klien Nama, umur, jenis kelamin, status perkawinan, agama,


suku/bangsa, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, alamat, dan nomor
register.

2.Riwayat kesehatan

Riwayat Kesehatan sekarang : keluhan pasien saat ini

Riwayat Kesehatan masa lalu : kaji apakah ada keluarga dari pasien
yang pernah menderita obesitas

Riwayat kesehatan keluarga : kaji apakah ada ada di antara keluarga


yang mengalami penyakit serupa atau memicu

Riwayat psikososial,spiritual : kaji kemampuan interaksi sosial ,


ketaatan beribadah , kepercayaan

3. Pemerikasaan fisik :

Sistem kardiovaskuler : Untuk mengetahui tanda-tanda vital, ada


tidaknya distensi vena jugularis, pucat, edema, dan kelainan bunyi
jantung.

Sistem respirasi : untuk mengetahui ada tidaknya gangguan kesulitan


napas

Sistem hematologi : Untuk mengetahui ada tidaknya peningkatan


leukosit yang merupakan tanda adanya infeksi dan pendarahan, mimisan.

Sistem urogenital : Ada tidaknya ketegangan kandung kemih dan


keluhan sakit pinggang.

Sistem muskuloskeletal : Untuk mengetahui ada tidaknya kesulitan


dalam pergerakkan, sakit pada tulang, sendi dan terdapat fraktur atau
tidak.

Sistem kekebalan tubuh : Untuk mengetahui ada tidaknya


pembesaran kelenjar getah bening

4. Pemeriksaan penunjang:

17
Pemeriksaan metabolik / endokrin dapat menyatakan tak normal,
misal : hipotiroidisme, hipopituitarisme, hipogonadisme, sindrom cushing
(peningkatan kadar insulin.

5. Pola fungsi kesehatan

a. Aktivitas istirahat

Kelemahan dan cenderung mengantuk, ketidakmampuan / kurang


keinginan untuk beraktifitas.

b. Sirkulasi

Pola hidup mempengaruhi pilihan makan, dengan makan akan dapat


menghilangkan perasaan tidak senang : frustasi

c. Makanan / cairan

Mencerna makanan berlebihan

d. Kenyamanan

Pasien obesitas akan merasakan ketidaknyamanan berupa nyeri


dalam menopang berat badan atau tulang belakang

e.Pernafasan

Pasien obesitas biasanya mengalami dipsnea

f.Seksualitas

Pasien dengan obesitas biasanya mengalami gangguan menstruasi


dan amenouria

Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

1. Perubahan nutrisi lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan intake makanan yang lebih

2. Gangguan pencitraan diri yang berhubungan dengan biofisika atau


psikosial pandangan px tehadap diri

3. Hambatan interaksi sosial yang berhubungan dengan ungkapan


atau tampak tidak nyaman dalam situasi sosial

4. Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan


ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial

18
Perencanaan

Setelah pengumpulan data, megelompokkan dan menentukan


diagnosa keoerawatan yang mungkin muncul, maka tahapan selanjutnya
adalah menentukkan prioritas, tujuan dan rencana tindakkan
keperawatan.

Diagnosa 1

1. Perubahan nutrisi: lebih dari kebutuhan tubuh yang berhubungan


dengan intake makanan yang lebih

Tujuan :

Kebutuhan nutrisi kembali normal

Kriteria hasil :

Perubahan pola makan dan keterlibatan individu dalam program latihan

Menunjukan penurunan berat badan

Intervensi :

1. Kaji penyebab kegemukan dan buat rencana makan dengan pasien

2. Timbang berat badan secara periodik

3. Tentukan tingkat aktivitas dan rencana program latihan diet

4. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentujan keb kalori dan nutrisi
untuk penurunan berat badan

5. Kolaborasi dengan dokter dalam pemberian obat penekan nafsu


makan (ex.dietilpropinion)

Rasional :

1. Mengidentifikasi / mempengaruhi penentuan intervensi

2. Memberikan informasi tentang keefektifan program

3. Mendorong px untuk menyusun tujuan lebih nyata dan sesuai dg


rencana

4. Kalori dan nurtisi terpenuhi secara normal

5. Penurunan berat badan

Diagnosa 2

19
2. Gangguan pencitraan diri b.d biofisika atau psikosial pandangan px
tehadap diri

Tujuan :

Menyatakan gambaran diri lebih nyata

Kriterian hasil :

Menunjukkan beberapa penerimaan diri dari pandangan idealisme

Mengakui indiviu yang mempunyai tanggung jawab sendiri

Intervensi :

Beri privasi kepada px selama perawatan

Diskusikan dengan px tentang pandangan menjadi gemuk dan apa artinya


bagi px trsebut

Waspadai mitos px / orang terdekat

Tingkatkan komunikasi terbuka dengan px untuk menghondari kritik

Waspadai makan berlebih

Kolaborasi dengan kelompok terapi

Rasional :

Individu biasanya sensitif terhadap tubuhnya sendiri

Pasien mengungkapkan beban psikologisnya

Keyakinan tentang seperti apa tubuh yang ideal atau motifasi dapat
menjadi upaya penurunan berat badan

Meningkatkan rasa kontrol dan meningkatkan rasa ingin menyelesaikan


masalahnya

Pola makan terjaga

Kelompok terapi dapat memberikan teman dan motifasi

Diagnosa 3

3. Hambatan interaksi sosial b.d ungkapan atau tampak tidak nyaman


dalam situasi sosial

Tujuan :

20
Mengungkapkan kesadaran adanya perasaan yang menyebabkan
interaksi sosial yang buruk

Kriteria hasil :

Menunjikan peningkatan perubahan positif dalam perilaku sosial dan


interpersonal

Intervensi :

Kaji perilaku hubungan keluarga dan perilaku sosial

Kaji penggunaan ketrampilan koping pasien

Rujuk untuk terapi keluarga atau individu sesuai dengan indikas

Rasional :

Keluarga dapat membantu merubah perilaku sosial pasien

Mekanisme koping yang baik dapat melindungi pasien dari perasaan


kesepian isolasi

Pasien mendapat keuntungan dari keterlibatan orang terdekat untuk


memberi dukungan

Diagnosa 4

4. Pola napas tak efektif yang berhubungan dengan penurunan


ekspansi paru, nyeri , ansietas , kelemahan dan obstruksi trakeobronkial

Tujuan :

Mengembalikan pola napas normal

Kriteria hasil :

Mempertahankan ventilasi yang adekuat

Tidak mengalami sianosis atau tanda hipoksia lain

Intervensi :

Awasi , auskultasi bunyi napas

Tinggikan kepala tempat tidur 30 derajat

21
Bantu lakukan napas dalam, batuk menekan insisi

Ubah posisi secara periodik

Berikan O2 tambahan / alat pernapasan lain

Rasional :

Peranapasan mengorok/ pengaruh anastesi menurunkan ventilasi,


potensial atelektasis, hipoksia

Mendorong pengembangan diafragma sehingga ekspansi paru optimal,


pasien lebih nyaman

Ekspansi paru maksimal, pembersihan jalan napas, resiko atelektasis


minimal

emaksimalkan sediaan O2 untuk pertukaran dan penurunan kerja napas

2.8 Penatalaksanaan (Contoh tinjauan kasus asuhan keperawatan


klien dengan obesitas)

Identitas

Nama : Nn. M
Jenis Kelamin : Perempuan
Dignosa medis : Obesitas berat
Umur : 19 tahun
Tinggi badan : 156 cm
Berat badan : 120 kg
Pendidikan : Mahasiswi
Pekerjaan :-
Status : Belum kawin
Agama : Islam
Alamat : Brondong Lamongan
1. Riwayat Kesehatan
Keluhan utama
Pasien mengatakan susah sekali berdiri sehabis duduk dari lantai.
2. Riwayat Kesehatan Sekarang
Pasien tidak mengalami keluhan apa-apa selain merasakan berat
badannya semakin bertambah, disamping itu pasien mengalami
kesusahan untuk berdiri sehabis duduk dari lantai.
3. Riwayat Kesehatan Dahulu
Sebelumnya pasien memiliki berat badan yang normal tapi setelah 2
tahun kemudian berat badan pasien mengalami perubahan, itu terjadi saat
pasien beranjak kelas 2 SMA.

22
4. Riwayat Kesehatan Keluarga
Keluarga pasien tidak ada yang mengalami obesitas.
5. Riwayat Psiko-Sosial-Spiritual
1) Psikologi pasien
Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan
merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa
minder.
2) Sosial
Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat
menerima dan diterima oleh orang lain.
3) Spiritual
Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif
menjalankan ibadah.
Pemeriksaan fisik
1. Vital sign
Tekanan darah : 130/80 mmHg
Pernafasan : 24 x/menit
Nadi : 85 x/menit
Suhu : 370C
2. Keadaan umum : Baik
3. Pemeriksaan Head to Toe
Kulit :Inspeksi (warna kulit sawo matang)
Palpasi (turgor normal < 3 dtik)
Kepala:Inspeksi (kulit kepala bersih, bulat sempurna, rambut panjang
lurus, tidak ada benjolan atau lesi)
Palpasi (tidak ada benjolan)
Telinga:Inspeksi (normal tidak ada lesi, bersih tidak ada serumen)
Palpasi (normal tidak ada lipatan)
Mata :Inspeksi (bulat besar, bersih tidak cowong)
Mulut:Inspeksi (bersih, lembab, gigi normal)
Dada :Inspeksi (bentuk dada simetris/normal)
Palpasi (tidak ada benjolan atau lesi)
Perkusi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada benjolan atau lesi)
Auskultasi (terdengar bunyi sonor paru, tidak ada suara tambahan)
Abdomen:Inpeksi (buncit terdapat lipatan)
Pola Fungsi Kesehatan
1 Pola Nutrisi
a. Kebiasaan sehari-hari
Pasien makan 3x sehari dengan porsi biasa
b. Saat sekarang
Pasien makan lebih dari 3x sehari dengan porsi banyak dan kadang-
kadang ditambah dengan makanan ringan, pasien selalu ingin ngemil.

23
2. Pola Eliminasi
a. Kebiasaan sehari-hari
Pasien BAB dan BAK normal
b. Saat sekarang
Pasien BAB dan BAK normal
3. Pola Istirahat-Tidur
a Pasien tidur pada jam-jam istirahat
b. Sesudah mengalami obesitas pasien lebih sering mengantuk dan
memperbanyak tidurnya.
4. Pola Aktivitas
a. Kebiasaan sehari-hari
Pasien dalam menjalankan aktivitas tidak mengalami keluhan / hambatan.
b Saat sekarang
Pasien mengalami hambatan, cepat capek dan lelah, malas dengan berat
badan yang berlebihan.
Pengkajian Psiko-Sosial-Spiritual
1. Psikologi pasien
Pasien dapat menerima dengan keadaan yang dialami sekarang dan
merasa enjoy atas apa yang dianugerahkan meski terkadang merasa
minder.
2. Sosial
Pasien berinteraksi dan bergaul dengan lingkungannya dengan baik dapat
menerima dan diterima oleh orang lain.
3. Spiritual
Dalam kondisi dengan badan yang berlebih pasien masih tetap aktif
menjalankan ibadah.
ANALISA DATA
Data Fokus
DS : Pasien mengatakan terkadang tidak nyaman dengan berat badan
yang dimilikinya.
DO : pasien tampak terganggu dalam melaksanakan aktivitas karena
berat badannya
- pasien sering kali kesusahan berdiri sehabis duduk dari lantai

Symptom Etiologi Problem


a. DS :Pasien Berat badan yang Gangguan dalam
mengatakan berlebihan beraktivitas
terkadang merasa
kurang nyaman
dengan berat badan
yang dimilikinya
DO : Pasien tampak
kesusahan dalam

24
beraktivitas karena
barat badannya
b. DS : Pasien
mengatakan kurang
percaya diri jika
berinteraksi /
bersosialisasi dengan Harga diri rendah Gangguan dalam
orang lain bersosialisasi dengan
DO: Pasien kelihatan orang lain dan
minderitasaat pandangan negatif
berkomunikasi dan terhadap diri
bergaul dengan
temannya.
Diagnosa Keperawatan
1. Gangguan rasa nyaman berhubungan dengan berat badan yang
ditandai dengan kesusahan dalam beraktivitas.
2. Resiko terhadap kerusakan interaksi social yang berhubungan
dengan ketidakmampuan untuk mempertahankan hubungan akibat
perasaan malu dan respon negatif dari orang lain.
C. PERENCANAAN
No. Dx
Tgl Tujuan Intervensi Rasional
Kep
12-
1 Setelah - - Diskusikan -- Membantu
02- dilakukan emosi / kejadian mengidentifikasikan
06 perawatan dan sehubungan kapan pasien
penyuluhan 2x24 dengan makan makan untuk
jam pasien dan buat memuaskan
diharapkan rencana makan kebutuhan emosi
mampu dengan pasien. daripada lapr
melaksanakan - - Tekankan fisiologi
diet dengan pentingnya -- Hilangkan
criteria hasil : menghindari kebutuhan
- Menunjukkan diet berlemak komponen yang
perubahan pola dan diskusikan dapat menimbulkan
makan dan tambahan ketidakseimbangan
keterlibatan tujuan nyata metabolik ex :
individu dalam untuk penurunan
program latihan penurunan BB karbohidrat
- - berlebih
Menunjukkan - - Diskusikan
penurunan BB dengan pasien - Pandangan
dengan pandangan mental termasuk
pemeliharaan menjadi gemuk ideal kita dan

25
kesehatan dan apa artinya biasanya tidak
optimal bagi individu terbaru, gemuk
2 dapat mempunyai
13- - - Dorong akar dalam
02- pasien untuk psikologi.
06 mengeksprsikan -- Membantu
perasaan dan mengidentifikasi
persepsi dan memperjelas
masalah alasan untuk
Setelah kesulitan dalam
dilakukan - - Bantu berinteraksi
penyuluhan 2x24 dalam dengan orang lain
jam pasien mengidentifikasi -- Megidentifikasi
diharapkan tanggung jawab masalah khusus
mampu sendiri dan dan menganjurkan
bersosialisasi control pada tindakan yang
dengan baik situasi dapat diambil untuk
dengan kriteria mempengaruhi
hasil : perubahan
- - Menyatakan
gambaran diri
lebih nyata
- - Menunjukkan
beberapa
penerimaan diri
aripada
andangan
idealisme
- - Mengakui diri
sebagai individu
yang mempunyai
tanggung jawab
sendiri

D. PELAKSANAAN / IMPLEMENTASI
Tgl/Jam No. Dx Tindakan Respon Ttd
12-2-06 1 a. Memberikan a. Pasien
(09.00) penyuluhan dan menerima tentang
nasehat kepada pasien anjuran untuk
agar melaksanakan menurunkan berat
diet teratur dan optimal badannya dan
b. Menganjurkan berkeinginan diet

26
kepada pasien untuk secara teratur
berkonsultasi kepada b. Pasien masih
ahli diet tampak ragu untuk
berkonsultasi
dengan ahli diet
karena belum yakin
apakah BBnya bisa
kembali normal
13-2-06 2 a. Memberi semangat a. Pasien masih
(12.00) bahwa berat badan tampak ragu
pasien masih bisa b. Bisa menerima
diturunkan dan percaya bahwa
b. Memberi dukungan itu adalah yang
bahwa itu adalah terbaik untuknya
anugerah dari Tuhan c. Pasien tampak
c. Memberikan semangat dan
pengertian kalau hanya optimis akan
diri kitalah yang penurunan berat
mampu merubah badannya
keadaan yang ada
pada dari kita sendiri f.

E. EVALUASI
Tgl No. Dx Catatan Perkembangan Ttd
12-02- 1 - Pasien bias sedikit mengurangi
16 porsi makanannya
- Pasien mampu meghindari
makanan yang banyak mengandung
lemak : gorengan
13-02- 2 - Pasien terkadang masih kurang
16 percaya diri jika berkumpul dengan
banyak orang
- Pasien mampu menerima dan
menyadari bahwa berinteraksi
dengan orang lain itu sangat penting

27
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kegemukan didefinisikan sebagai salah satu kelebihan akumulasi
lemak tubuh. Obesitas dapat terjadi karena beberapa faktor :- Pola makan
yang berlebihan- Aktivitas yang kurang- Pola pikir Obesitas dapat diatasi
jika kita menyadari betapa pentingnya menjaga pola makan dan aktivitas

3.2 Saran

Kami menyadari masih banyak kekurangan dan kesalahan dalam


penulisan ini dan kami sangat membutuhkan saran dan kritikan dari
semua elemen terutama pada pembaca demi kesempurnaan makalah ini..

28
DAFTAR PUSTAKA
Nurarif, Amin huda dan Hardi kusuma. 2015.Aplikasi Asuhan
Keperawatan Berdasarkan diagnosa medis dan Nanda NIC-NOC
.Jogjakarta:Medication Publishing Jogjakarta.
Suriadi.2009.Teknik Prosedural Keperawatan Konsep dan Aplikasi
Keperawatan Klinis. Jakarta:salemba medika
Willkisan, Judith M.2016.Diagnosa Keperawatan: diagnosa
NANDA.I,Intervensi NIC, hasil NOC. Ed.10.Jakarta:EGC
Carpenito Lynda J, Diagnosa Keperawatan EGC Jakarta, 1999 Doenges
Marilynn E, Rencana Asuhan Keperawatan NANDA, Diagnosa
Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi 2005-2006

29