Anda di halaman 1dari 13

LUKISAN KEEMPAT

Karya : Rina Surya Kusuma

(Novel ke - 1)

A. Identitas Novel

Judul novel : Lukisan Keempat

Pengarang : Rina Surya Kusuma

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Tebit :-

Jumlah halaman : 224 halaman

B. Sinopsis

Kisah dalam novel ini bermula dari seseorang perempuan bernama

Natasya Petra Rahadian berusia 23 tahun. Dia tinggal bersama ibunya dan

adiknya, sang ayah meninggalkan mereka ketika Natasya masih kecil dan

memilih menikahi assistennya sehingga melantarkan mereka. Natsya memilik

fase kehidupan yang membuat terluka karena cinta dari ayahnya yang

meninggalkan Natasya bersama ibu dan anaknya. Natasya bersumpah tak akan

jatuh cinta lagi sampai ia bertemu Craig Hayden, penumpang Corissa Air Liner

yang menyebalkan. Sementara Craig sudah tertarik pada Natasya yang begitu

menawan hati saat kali pertama ia memandangnya.

Entah bagaimana Craig tahu, Natasya memendam luka dalam hidupnya.

Ia bertekad akan menyingkap kabut tersebut, memberu Natasya siraman kasih

1
2

sayang, dan mengembalikan kepercayaannya kepada cinta. Mampukah Craig

membutktikan bahwa ia layak masuk dalam kehidupan Natasya. Namun lama

kelamaan Natasya pun berubah dan luluh kepada Craig.

C. Unsur Instrinsik

1. Tema

Adapun tema dari novel "Lukisan Ke Empat" adalah mengembalikan

kepercayaan diri.

2. Alur

Adapun alur dalam novel "Lukisan Ke Empat" yaitu alur maju sebab

menceritakan peristiwa secara kronologis dan berurutan di awali dengan tahapan

pemulaan sampati tahapan penyelesaian.

3. Latar/Setting

Adapun latar/setting pada novel "Lukisan Ke Empat" adalah sebagai

berikut.

a. Latar Waktu : Pagi hari, siang hari, sore hari, dan malam hari.

b. Latar Tempat. : Rumah Natasya, hotel, bandara, dan toko buku.

c. Latar Suasana :Menyedihkan,menyenagkan dan mengharukan.

d. Latar Sosial

4. Penokohan

Adapun penokohan dalam novel "Lukisan Ke Empat adalah sebagai berikut.

1. Ibu Natasya : Sayang kepada keluargaya

2. Ayah : Jahat, kurang penyayang


3

3. Adik Natasya : pekerja keras, ramah, dan sabar.

4. Craig : pantang putus asa,penyayang.

5. Sudut Pandang

Adapun sudut pandang dalam novel "Lukisan Ke Empat" adalah sudut

pandang orang ketiga karena pengarang menceritakan kehidupan tokoh utama

tokoh utaman

Adapun gaya bahasa dalam novel yang berjudul"Lukisan Ke Empat"

adalah menggunakan bahasa yang tidak baku atau menggunakan bahasa sehari-

hari.

7. Amanat

Adapun amanat dalam novel "Lukisan Ke Empat" adalah sebagai berikut.

- Jangan menjadi pendendam.

- Harus saling memaafkan kesalahan orang lain

- Tidak boleh berperasangka buruk

D. Unsur Ekstrinsik

Adapun unsur ekstrinsik dalam novel "Lukisan Ke Empat" adalah sebagai

berikut.

1. Nilai Moral

Adapun nilai moral dalam novel "Lukisan Ke Empat" adalah

jangan mudah putus asa menjadi orang yang tangguh yang tidak mudah

menyerah pada keadaan apapun, harus bertanggung jawab dan berani

memgambil resiko.
4

2. Nilai Budaya

Adapun nilai budaya dalam novel "Lukisan Ke Empat" adalah

kebiasaan Natasya yang selalu berdiam diri di rumahnya semenjak

Natasya putus cinta.

3. Nilai Religi

Adapun nilai religi dalam novel "Lukisan Ke Empat" yaitu tidak di

temukan

4. Nilai Sosial

Adapun nilai sosial pada nove l "Lukisan Ke Empat" yaitu tida di

temukan.

E. Tanggaapan

Adapun tanggapan novel "Lukisan Ke Empat" adalah sebagai berikut.

a. Keunggulan

- Mengajarkan kita menjadi orang yang mandiri dan berani.

- Menarik untuk di baca.

- Menggunakn bahasa sehari hari jadi mudah di pahami oleh pembaca.

b. kekurangan

Adapun kekurangan dari novel "Lukisan Ke Empat" adalah sebagai

berikut.

- Banyak cerita yang sedih jadi bosen.

- Sampul yang kurang menarik.


5

ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN

Karya: Sutan Takdir Alisyahbana

(Novel ke – 2)

A. Identitas Novel

Judul novel : Anak Perawan Di Sarang Penyamun

Pengarang : Sutan Takdir Alisyahbana

Penerbit : Balai Pustaka

Jumlah halaman : 112 halaman

B. Sinopsis

Kisah dalam novel ini di mulai dari seorang saudagar karya yang bernama

Haji sabak, dia akan berdagang ke palembang dia membawa istri dan anak

perawannya di tengah perjalanan di sebuah hutan dia di undang oleh sekelompok

penyamun atau perampok, penyamun merampok narta benda yang di miliki haji

sahak, dan membawanya ke sarangnya di tengah hutan. Bukan hanya itu saja

penyampun tersebut membunuh Haji sahak dan membuat luka parah kepada istri

yang bernama Nyai Hajah Andun, akan tetapi anak perawannya yang bernama

sayu tidak di lukai sama sekali, dia hanya di bawa ke sarang penyamun itu untuk

di jadikan tahanan.

Setelah kejadian perampokan tersebut mereka selalu mengalami kegagalan

dalam merampok, karena samad yang selalu membocorkan kepada saudagar yang
6

akan melewati hutan bahwa akan ada perampok itu sebabnya selalu mendapat

perlawanan dan mengakibatkan anak buah madasing meninggal semuanya. Saya

pun tak tega melihat mdasing dan ingin menolongnya, namun saya membranikan

diri mendekat dan mengobati madasing.sejak itu Madasing berubah total.

C. Unsur Ekstrinsik

Adapun unsur intrinsik pada novel "Anak Perawan Di sarang Penyaman"

adalah sebagai berikut.

1. Tema

Adapun tema pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyaman" yaitu

perjalanan hidup dan percintaan.

2. Alur

Adapun alur dalam novel "Anak Perawan Di Sarang Penyamana" yaitu

alur maju sebab menceritakan peristiwa secara kronolois dan berurutan yang di

awali tahapan pengantar dan di akhiri tahap penyelesain.

3. Latar

Adapun latar pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyamana" adalah

sebagau berikut.

a. Latar waktu : Pagi hari, siang hari dan malam hari

b. Latar tempat : Hutan, Rumah sayu, Sarang Penyaman

c. Latar suasana : Menyedihkan dan mengagumkan.

d. Latar Sosial : kehidupan yang kaya raya

4. Penokohan
7

Adapun penokohan pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyaman"

adalah sebagai berikut.

1. Medising : memiliki sifat penjahat

2. Samad : penjahat dan suka merampok

3. Nyai Haji Andun : penyabar

4. Haji Sahak : penyayang

5. Sudut Pandang

Adapun sudut pandang pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyaman"

adalah sudut pandang orang ketiga karena menggunakan nama untuk

menyebutkan tokoh utamanya.

6. Gaya Bahasa

Adapun gaya bahasa pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyaman"

adalah bahasa yang mudah dipahami.

7. Amanat

Adapun amanat pada novel "Anak Perawan Di Sarang Penyaman" adalah

sebagai berikut.

- Ingat perbuatan jahat itu tidak baik

- Harus tetap bersabar menjalani rumitnya kehidupan.

- Berpikir dahulu sebelum bertindak.

D. Unsur Ekstrinsik

Adapun unsur ekstrinsik pada novel "Anak Perawan Di Sarang

Penyaman" adalah sebagai berikut.


8

1. Nilai Reigi

Adapun nilai religi pada novel "Anak Perawan Di Sarang

Penyamun" adalah menassehati agar jangan merampok karena berdosa.

2. Nilai Moral

Adapun nilai moral pada novel "Anak Perawan Di Sarang

Penyamun" yaitu meskipun mereka seorang penyamun namun mereka

menghargai wanita.

2. Nilai Budaya

Adapun nilai budaya pada novel "Anak Perawan Di Sarang

Penyamun" adalah orang orang dalam cerita tersebut masih mempercayai

hal-hal gaib.

3. Nilai Sosial

Adapun nilai sosial dalam novel "Anak Perawan Di Sarang

Penyamun" adalah tolong menolonglah mudah melakukan sesuatu.

E. Tanggapan

Adapun tanggapan dari novel "Anak Perawan Di Sarang Penyamun"

adalah sebagai berikut.

a. Keunggulan

- Cover yang bagus dan menarik.

- Novel yang sangat mengesankan dan membuat saya kagum akan cerita

yang sangat dramatis.

- Mengajarkan kita untuk berbuat baik.


9

b. Kekurangan

- Tida di sertakan dengan gambar

- Susah di mengerti.

- terlalu banyak tokoh yang hanya sepintas.


10

ANAK RANTAU

Karya : A. Fuadi

(Novel ke – 3)

A. Identitas Novel

Judul Novel : Anak Rantau

Pengarang : A. Fuandi

Penerbit : PT Palcon

Jumlah Halaman : 370 halaman

B. Sinopsis

Ponwari bihepi atau hepi, anak laki-laki jakarta yang tinggal bersama

ayahnya Martiaz dan kakaknya Dora, ibunya meninggal setelah melahirkan hepi

Hepi anak yang pintar namun kelakuannya yang tidak disiplin di sebabkan karena

kurangnya kasih sayang orang tua dan pantauan Martiaz selama ini. Pada saat itu

ayah hepi tengah mengambil rapor di sekolah Hepi, ia menemukan bahwa rapor

Hepi kosong tanpa nilai segorespun melihat hal itu ayahnya geram sekali pada

Hepi. Melihat Hepi awalnya pintar dan cukup berprestasi di sekolahnya.

Namun pada saat waktu liburan bukan hanya liburan bagi Hepi namun harus

menerima paksaan ayahnya untuk tinggal si sana. Kehidupan Hepi juga di penuhi

dengan ibadah-ibadah yang selalu ia laksanakan karena kakeknya adalah seorang

pengurus masjid yang berada di dekat rumah kerjanya.


11

C. Unsur Intrinsik

1. Tema

Adapun tema dalam novel "Anak Rantau" adalah petualangan Hepi di

kampunya.

2. Alur

Adapun alur dalam novel "Anak Rantau" yaitu menggunakan alur

campuran karena diawali klimaks, kemudian masa lampau, dan di lanjutkan

sampai tahap penyelesaian.

3. Latar

Adapun latar dalam novel "Anak Rantau" adalah sebagai berikut

1. Latar Tempat :sekolah, dan surau.

2. Latar Waktu :pulang sekolah,pagi hari, dan malam hari.

3. Latar Suasana :menyenangkan,menyedihkan, mengharukan.

4. Penokohan

Adapun penokohan dalam novel "Anak Rantau" adalah sebagai berikut.

1. Hepi : Tidak disipilin, pemalas

2. Ayah Hepi : penyayang pada anak

3. Kakek Hepi : Tegas, berani, dan penyayang.

4. Ibu guru : lemah lembut, dan penyayang.

5. Gaya Bahasa

Adapun gaya bahasa dalam "Anak Rantau" adalah menggunakan bahasa

yang tidak baku (menggunakan bahasa sehari-hari) yang mudah di pahami.

6. Sudut Pandang
12

Adapun sudut pandang dalam novel "Anak Rantau" adalah sudut pandang

orang ketiga.sebab bertindak sebagai pengamat pengarang menggambarkan apa

yng dilihat, dirasakan oleh tokoh utama

7. Amanat

Adapun amanat dalam novel "Anak Rantau" adalah sebagai berikut.

1. Jangan melupakan adat dan kebudayaan kita sendiri.

2. Janga membenci orant tua

3. Dalam hidup kita tidak boleh putus asa, harus selalu mempunyai tujuan

hidup.

D. Unsur Ekstrinsik

Adapun unsur ekstrinsik dalam novel "Anak Rantau" adalah sebagai

berikut.

1. Nilai Moral

Adapun nilai moral dalam novel "Anak Rantau" yaitu hendaknya

jangan melakukan sesuati kalo kita tidak mampu.

2. Nilai Sosial

Adapun nilai sosial dalam novel "Anak Rantau" adalah kebiasaan

masyarakat yang selalu melkukan adat-aday istiadat.

3. Nilai Budaya

Adapun nilai budaya dalam novel "Anak Rantau" adalah kebiasaan

Hepi yang selalu menyebut Gue karena kebiasaan waktu di kota.

4. Nilai Religi
13

Adapun nilai religi dalam novel "Anak Rantau" adalah tobat

nasuhaa adalah tobat-tobat dimana orang taubat tidak akan

mengulanginya lagi.

E. Tanggapan

Adapun tanggapa pada novel "Anak Rantau" adalah sebagai berikut.

a. Keunggulan

1. Banyak amanat yang bisa diambil dari novel ini.

2. Sangat menyentuh hati ketika membacanya.

b. Kekurangan

Adapun kekurangn dari novel "Anak Rantau" adalah sebagai berikut.

1. Covernya kurang menarik.

2. Bahasa yang sulit dipahami.