Anda di halaman 1dari 31

Tugas Metodologi Penelitian RMIK

Analisis Hasil & Pembahasan Jurnal dan Tugas Akhir

Dosen Pembimbing :
Ida Nurmawati, S.Km., M.Kes

Anggota Kelompok 7 :
Safira Nur Fauziyah G41171682
Diana Safira G41171859
Dina Ayu Mashita G41171998
Nanja Aulia Syahfina G41172005
Asri Dheajeng Imani G41172145

Siti Hajar Aprilianti G41172193

PROGRAM STUDI D-IV REKAM MEDIK

JURUSAN KESEHATAN

POLITEKNIK NEGERI JEMBER

2019
DAFTAR ISI

Table of Contents
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN .................................................................4
4.1 Gambaran Umum Puskesmas Kencong Kabupaten Jember ..........................4
4.1.1 Sejarah Puskesmas Kencong Kabupaten Jember....................................4
4.1.2 Visi, Misi dan Motto Puskemas Kencong ..............................................4
4.1.3 Rekam Medis ..........................................................................................5
4.2 Menganalisis variabel man sebagai faktor penyebab kejadian misfile bagian
filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ................................................5
4.3 Menganalisis variabel machine sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ....................................9
4.4 Menganalisis variabel method sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ..................................10
4.5 Menganalisis variabel material sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ..................................13
4.6 Menganalisis variabel money sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ..................................15
4.7 Menganalisis variabel media sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ..................................16
4.8 Menganalisis variabel motivation sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. ..................................17
4.9 Menganalisis prioritas penyebab utama permasalahan missfile pada rekam
medis bagian filing Puskesmas Kencong Kabupaten Jember menggunakan
metode USG (Urgency, Serioussness, Growth). ................................................18
4.10 Menyusun Perbaikan ..................................................................................27
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN ...............................................................29
5.1 Kesimpulan ...................................................................................................29
5.2 Saran .............................................................................................................30
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................31
BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Puskesmas Kencong Kabupaten Jember


4.1.1 Sejarah Puskesmas Kencong Kabupaten Jember
Puskemas Kencong terletak di Jalan Kartini No. 149 di wilayah Desa
Wonorejo Kecamatan Kencong. Puskemas Kencong berada di dataran rendah
yang berbatasan dengan Kecamatan Umbulsari (sebelah utara), Kecamatan
Gumukmas (sebelah timur dan selatan) dan Kecamatan Jombang (sebelah
barat).
Puskemas Kencong berdiri di atas tanah seluas 3229 m² dengan luas
bangunan 696 m². Puskemas Kencong memiliki wilayah kerja seluas 41,88 km²
serta memiliki 2 desa yaitu Desa Kencong (Desa Kencong dan Desa Kutoarjo)
dan Desa Wonorejo. dan Jumlah penduduk Puskemas Kencong sekitar 41.737
orang.

4.1.2 Visi, Misi dan Motto Puskemas Kencong


Puskesmas kencong memiliki visi dan misi sebagai berikut :
Menjadi unit pelayanan kesehatan berkualitas dan profesional yang berbasis
pada kepuasan pelanggan.
Misi Puskemas Kencong sebagai berikut :
a) Memberikan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan terjangkau oleh
masyarakat.

b) Memberikan pelayanan kesehatan secara profesional dan bertanggung


jawab.

c) Meningkatkan sumber daya dan sumber daya manusia yang


berkesinambungan.

d) Menciptakan lingkungan kerja yang kondusif.

Motto Puskemas Kencong sebagai berikut :


Kami Sigap, Pasien mantap. Kami Siaga, Pasien Terjaga.

4.1.3 Pelayanan Medis Secara Umum Di Puskemas


Puskesmas Kencong menerapkan sistem pelayanan manajemen mutu dengan
kebijakan mutu sebagai berikut :
a) Berperan aktif dan konsisten dalam menerapkan sistem manajemen mutu
b) Meningkatkan mutu pelayanan kesehatan secara berkesinambungan.
c) Memberikan layanan kesehatan secara efektif dan efisien.
d) Mengutamakan kepuasan pelanggan dan profesionalisme kerja.
e) Berperan aktif dan konsisten dalam memenuhi persyaratan perundang-
undangan yang berlaku.
Puskemas Kencong memiliki 2 jenis jasa pelayanan medis yang meliputi :
a) Jasa pelayanan medis perorangan antara lain loket, BP umum, kamar obat,
UGD, KIA / KB / imunisasi, BP gigi, laboratorium, rawat inap, kamar
bersalin dan pojok gizi

b) Jasa pelayanan medis kesehatan masyarakat antara lain usaha kesehatan


sekolah, usaha kesehatan jiwa, usaha kesehatan lingkungan dan promosi
kesehatan.

4.1.3 Rekam Medis


Rekam medis di Puskesmas Kencong penanggung jawabnya menjadi
satu dengan loket,, karena lokasi rak penyimpanan berkas rekam medis berada
tepat dibelakang meja loket pendaftaran pasien. Petugas loket juga bertanggung
jawab dalam pelaksanaan penyimpanan berkas rekam medis dan
penyelenggarannya (Kesehatan, 2018). Isi rekam medis adalah milik pasien
yang wajib dijaga kerahasiaannya. Untuk melindungi kerahasiaan tersebut
dibuat ketentuan-ketentuan antara lain hanya petugas rekam medis yang
diizinkan masuk ruang penyimpanan dokumen rekam medis, dilarang mengutip
seluruh isi rekam medis untuk badan-badan atau perorangan, selama penderita
dirawat rekam medis menjadi tanggung jawab perawat ruangan dan menjaga
kerahasiaannya (Djohar, Oktavia, & Damayanti, 2018).

4.2 Menganalisis variabel man sebagai faktor penyebab kejadian misfile bagian
filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.
Man yang dimaksudkan dalam penelitian merujuk pengetahuan, pelatihan,
seminar, dan jumlah tenaga kerja. Analisis dari aspek man, kejadian misfile
dan duplikasi berkas rekam medis dapat disebabkan oleh faktor internal yang
berasal dari petugas itu sendiri (Karlina et al., 2016). Pengukuran
pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau angket yang
menanyakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek penelitian atau
responden. Pengetahuan yang dimaksud adalah pengetahuan petugas
mengenai penyimpanan yang digunakan untuk penyimpanan berkas
rekam medis dan juga terkait missfile (Kesehatan, 2018). Sama halnya
dengan pengetahuan, semakin tinggi frekuensi petugas dalam mengikuti
pelatihan tentang rekam medis maka akan semakin baik pula kinerja yang
mereka lakukan. Namun pada kenyataannya harapan selalu tak sesuai dengan
realita yang terjadi di lapangan. Ketika pelatihan menjadi hal yang sangat
penting bagi perekam medis justru frekuensi perekam medis yang mengikuti
pelatihan sangatlah minim dan hal ini yang juga mempengaruhi seberapa jauh
implementasi dari ilmu pengetahuan yang telah di dapat oleh seorang
perekam medis terutama terkait permasalahan missfile (Medis, Rumah, Ibnu,
& Bojonegoro, n.d.). Tidak dapat dipungkiri bahwa makin tinggi pendidikan
seseorang semakin mudah pula mereka menerima informasi, dan pada
akhirnya semakin banyak pula pengetahuan yang dimilikinya (Bruno, 2019).
Berikut hasil wawancara kepada petugas rekam medis di Puskesmas
Kencong Kabupaten Jember mengenai pemahaman petugas tentang missfile.
Seperti yang diungkapkan oleh petugas rekam medis berikut ini :

“Kadang. Kalo ada yang hilang ya gak tau mbak. Ya dibuatkan baru.”.
(Narasumber 2, 2018)

Hasil wawancara tersebut, petugas tidak rutin melakukan pengecekan pada


berkas rekam medis pasien setelah pelayanan, jika berkas rekam medis hilang,
petugas langsung membuatkan berkas rekam medis baru tanpa memikirkan
dampak lain yang ditimbulkan sehingga membuktikan bahwa pengetahuan
tentang missfile petugas rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten
Jember masih kurang khususnya bagi petugas dengan lulusan pendidikan SMA
dan SMP.

Kedisiplinan dan pengalaman juga dapat mempengaruhi terjadinya kejadian


missfile. Karena untuk menunjang tertib administrasi dalam rangka
mengupayakan peningkatan pelayanan kesehatan di puskesmas. Berikut hasil
wawancara petugas rekam medis, mengenai hal-hal yang menyebabkan
missfile di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember :

“Menurut saya kejadian missfile disini diakibatkan dari petugas itu sendiri
seperti kurang pengalaman, rendahnya pengetahuan dan pendidikan dalam
meletakkan berkas rekam medis kedalam rak penyimpanan. Mungkin ini
disebabkan faktor kelelahan juga dikarenakan setiap petugas bekerja secara
rangkap dan pelayanannya juga diharapkan tepat apalagi kalau pasien sedang
banyak”.

(Narasumber 1, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara petugas rekam medis faktor terjadinya


missfile yaitu karena kurangnya pengalaman, kurang disiplin dan kurangnya
pengetahuan petugas rekam medis saat meletakkan berkas rekam medis di
bagian filing, juga karena faktor kelelahan dikarenakan petugas bekerja secara
rangkap.

Puskesmas Kencong Kabupaten Jember terdapat pengelolaan rekam medis


seperti Assembling, coding, indexing, filing dan retensi berkas rekam medis.
Khusus untuk pengelolahan dibagian penyimpanan berkas rekam medis yang
berhak untuk mengeluarkan atau mengambil berkas rekam medis dari unit
penyimpanan yaitu unit rekam medis. Berikut hasil wawancara petugas rekam
medis, mengenai pengambilan berkas rekam medis di Puskesmas Kencong
Kabupaten Jember :

“Seharusnya memang petugas rekam medis tetapi dulu ada beberapa


perawat yang mengambil bekas rekam medis pasien. Sekarang sudah tidak
boleh”.
(Narasumber 2 dan 4, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara kepada petugas rekam medis, mengenai


pengambilan berkas rekam medis yaitu terkadang terdapat petugas selain
rekam medis yang mengambil berkas rekam medis salah satunya perawat
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember yang bukan di bagian rekam medis,
secara langsung mengambil berkas rekam medis tanpa ada pemberitahuan
kepada petugas rekam medis yang sedang bekerja.

Kesimpulan dari hasil wawancara dengan standar yang ada masih belum
sesuai karena dalam pengambilan berkas rekam medis dilakukan oleh selain
petugas rekam medis yaitu perawat di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Pelatihan merupakan suatu kompetensi pendukung yang penting untuk


menunjang pekerjaan petugas dalam pelayanan kesehatan. Berikut ini adalah
hasil wawancara petugas rekam medis mengenai diadakannya pelatihan rekam
medis, yang menyatakan bahwa :

“Pernah tapi dulu sekali mbak, itupun hanya 2 orang saja yang ikut,
sekarang tidak pernah diadakan lagi.”

(Narasumber 4, 2018)

Hasil wawancara dengan petugas rekam medis dikatakan bahwa masih ada
petugas rekam medis yang pernah mengikuti pelatihan pengelolaan berkas
rekam medis hanya dua orang saja itupun sudah lama sekali dan tidak pernah
diadakan lagi oleh pihak puskesmas. Terkait permasalahan tersebut, sebaikya
pihak puskesmas bisa mengikutsertakan seluruh petugas rekam medis dalam
kegiatan pelatihan. Dengan adanya pelatihan dan yang diikuti petugas rekam
medis diharapkan bisa meningkatkan keterampilan, pengalaman mutu, dan
pengetahuan serta akan memberi dampak positif bagi puskesmas dalam
memberi pelayanan kesehatan. Khususnya bagi kegiatan pengelolahan
dibagian filing berkas rekam medis. Agar dapat meminimalisir kejadian
missfile yang bisa mengakibatkan kerugian tidak hanya bagi puskesmas
maupun juga pasien itu sendiri.

Kenyataan mengenai pelatihan petugas rekam medis di unit rekam medis


Puskesmas Kencong Kabupaten Jember tidak sesuai dengan Departemen
Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2007 tentang standar profesi perekam
medis yang mengatakan bahwa salah satu kompetensi pendukung yang dimiliki
profesional perekam medis adalah menerapkan pelatihan bagi staf yang terkait
dalam sistem data pelayanan kesehatan.

Tuntutan kompetensi tersebut diimbangi dengan adanya Kepmen


Pendayagunaan Aparatur Negara (Kepmenpan) Nomor 135 tahun 2002
tentang Jabatan Fungsional Perekam Medis dan Angka Kreditnya.
Kompetensi perekam medis tertera dalam Kepmenkes Nomor 377 Tahun
2007 tentang Standar Profesi Perekam Medis daN Informasi Kesehatan
(Karlina et al., 2016).
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember masih belum pernah mengikuti
seminar rekam medis khususnya bagi petugas yang memiliki kualifikasi
pendidikan dibawah D-III. Peningkatan pengetahuan dan kemampuan
profesional, baik anggota maupun organisasi dituntut untuk meningkatkan
pengetahuan, kemampuan profesi melalui penerapan ilmu dan teknologi yang
berkaitan dengan perkembangan di bidang Rekam Medis dan Informasi
Kesehatan (Depkes, 2007). Padahal dengan mengikuti kegiatan-kegiatan
seperti seminar atau lokakarya dibidang rekam medis, karena selain
mendapatkan ilmu baru tentang rekam medis juga bisa menambah pengetahuan
tentang pengembangan ilmu tentang rekam medis (Rustiyanto, 2009).

Kurangnya petugas yang berkerja dalam pengolahan rekam medis membuat


adanya beban kerja bagi petugas itu sendiri. Sehingga membuat pekerjaan
belum dapat terselesaikan sesuai dengan waktu yang sudah disediakan. Berikut
ini adalah hasil wawancara petugas rekam medis yang menyatakan bahwa:

“Ada empat orang. Tiga orang lulusan SMA dan satu orang lagi lulusan
SMP. untuk kerjanya kita masih merangkap belum sesuai dengan tugasnya
mbak. Kita butuh tenaga kerja lagi yang khususnya lulusan rekam medis.”
(Narasumber 4, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara petugas rekam medis bahwa jumlah petugas


yang bekerja di pengelolahan rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten
Jember ada empat orang. Tiga orang lulusan SMA, dan satu orang lagi lulusan
SMP dan masih membutuhkan petugas rekam medis yang lulusan rekam
medis.
Menurut Santoso (2004) beban kerja berlebihan dipercaya sebagai salah
satu sumber yang paling besar menyebabkan stress kerja. Setiap petugas
diharuskan melakukan pekerjaan secara rangkap atau double job seperti
dibagian pendaftaran dan penyimpanan berkas rekam medis. Terkadang
petugas harus kerja lembur untuk menyelesaikan pekerjaannya. Sehingga
untuk hasil yang diperoleh dalam bekerja belum optimal. Manuaba (2000)
menyatakan bahwa dampak beban kerja yang berlebih akan menimbulkan
kelelahan fisik atau mental atau keduanya dan tampil dalam bentuk reaksi
emosional.
4.3 Menganalisis variabel machine sebagai faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Kegiatan pengelolahan rekam medis salah satunya dibagian penyimpanan


berkas rekam medis, terdapat sarana dan prasarana yang menunjang seperti
adanya tracer, komputer (bagi yang sudah menggunakan SIM RS), buku
ekspedisi (bagi yang menggunakan sistem manual)

Tracer merupakan alat bantu untuk melacak berkas rekam medis yang
keluar dari rak penyimpanan, Tracer disebut juga kartu petunjuk keluar (out
guide) yang digunakan sebagai pengganti berkas rekam medis yang diambil
untuk berbagai keperluan(Kesehatan, 2018) .Kebanyakan petugas rekam medis
beranggapan penggunaan tracer sebagai pengganti rekam medis yang keluar
akan membuat lama proses kegiatan pengelolahan rekam medis dan
penggunaan tracer tidak terlalu penting buat kegiatan pengolahan rekam medis
apalagi jika pasien sedang banyak. Hasil wawancara oleh petugas rekam medis
berikut ini:

“Apa itu mbak tracer? Saya tidak tau. Disini tidak ada yang namanya tracer.
Tidak ada perintah untuk menggunakan tracer, mungkin terlalu ribet mbak
karena disini pasiennya banyak.”

(Narasumber 3, 2018)

Kenyataan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, tidak terdapat


penggunaan tracer di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember sehingga masih
tidak sesuai dengan standar yaitu Menurut (WHO, 2002) jenis petunjuk keluar
atau tracer harus tercantum nama pasien, nomer rekam medis, tanggal keluar
dan tujuan RM atau peminjam. Petugas meletakkan petunjuk keluar (outguide)
ditempat rekam medis yang dikeluarkan untuk mengganti rekam medis yang
dikeluarkan dari penyimpanan. (Huffman, 1994). Alat penyimpanan /
pengelolaan rekam medis dapat digunakan dengan baik.

Komputer merupakan suatu alat penunjang elektronik untuk membantu


dalam melakukan pekerjaan secara cepat khususnya dalam hal rekam medis
dalam hal ini sistem penyimpanan rekam medis. Hasil wawancara oleh petugas
rekam medis berikut mengenai komputer :

“Ada dua komputer yang digunakan untuk pendaftaran pasien. Namun untuk
Komputer khusus dalam sistem penyimpanan belum ada.”

(Narasumber 1, 2018)
Keterangan tersebut dapat diketahui bahwa, penggunaan komputer untuk
kegiatan penyimpanan belum tersedia padahal komputer memiliki banyak
manfaat diantaranya kemudahan penyajian data sehingga penyampaian
informasi lebih efektif dan efisiensi pada pemanfaatan sumber daya dan biaya
yang ada. Program yang sering error membuat petugas bekerja dua kali dalam
menginputkan identitas pasien. Sedangkan penggunaan untuk komputer juga
sering mengalami error sehingga petugas sering menginputkan manual dan
otomatis pelayanan terhadap pasien akan semakin lama dan belum ada
pengelolaan penyimpanan, hanya digunakan untuk pendaftaran saja. Hal ini
dikarenakan program yang diberikan dari dinas kesehatan hanya untuk
pendaftaran sehingga dalam penyimpanan masih dilakukan manual. Hal ini
dapat berdampak pada kejadian missfile (Salah letak dan kehilangan berkas
rekam medis) karena komputer dapat berguna sebagai alat elektronik untuk
memperepat dalam mengolah data khususnya dalam bagian filing.

4.4 Menganalisis variabel method sebagai faktor penyebab kejadian missfile


bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Method yang dimaksud dalam identifikasi penelitian merujuk pada


pelaksanaan SPO penyimpanan, sistem penomoran, sistem penyimpanan,
sistem penjajaran, dan sistem retrieval di unit rekam medis Puskesmas
Kencong Kabupaten Jember (Bruno, 2019).
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, dalam pengelolahan rekam medis
harus memiliki Standart Procedure Operational (SPO) atau kebijakan yang
dibuat oleh suatu instansi puskesmas. Suatu puskesmas wajib memiliki
Standart Procedure Operational (SPO) salah satunya dalam hal kebijakan
tentang penyimpanan. Standart Procedure Operational (SPO) tersebut harus
diketahui dan dipenuhi oleh semua tenaga kesehatan yang terlibat didalamnya
untuk menunjang berlangsungnya suatu kegiatan rekam medik yang sesuai
dengan standar atau ketentuan perundang-undangan. Ungkapan hasil
wawancara pada petugas rekam medis sebagai berikut yaitu :

“SPO penyimpanan berkas sudah ada, namun belum disosialisasikan kepada


petugas, sehingga petugas tidak tahu prosedur penyimpanan yang ada di SPO
tersebut.”

(Narasumber 4, 2018)
Kegiatan pengelolahan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember sudah
memiliki Standart Procedure Operational (SPO) salah satunya di bagian filing,
namun adanya Standart Procedure Operational (SPO) masih belum
disosialisasikan kepada seluruh petugas yang terlibat sehingga kegiatan
pengelolahan rekam medis bagian filing masih belum berjalan dengan optimal
dari hal tersebut memungkinkan terjadiya kejadian missfile (kesalahan letak
dan kehilangan berkas rekam medis). Kejadian missfile terjadi akibat petugas
belum mengetahui Standart Procedure Operational (SPO) peyimpanan berkas
rekam medis dan Standart Procedure Operational (SPO) penggunaan tracer
sebagai alat yang penting untuk mengawasi penggunaan rekam medis itu
keluar dari penyimpanan.
Standart Procedure Operational (SPO) di Puskesmas Kencong Kabupaten
Jember tidak dijalankan dengan baik. Sehingga tidak sesuai dengan standar
bahwa Direktur rumah sakit wajib membuat dan melaksanakan prosedur kerja
tetap penyelenggaraan rekam dengan baik. (Dirjen Yanmed Nomor 78 tentang
Penyelenggaraan Rekam Medis di Rumah Sakit).
Berikut contoh gambar Standart Procedure Operational yang tidak
dijalankan dengan baik.

Gambar 4.1 Standart Procedure Operational Filling


Prosedur poin (4) dijelaskan bahwa simpan rekam medis sesuai nomor
urutnya ke dalam lemari atau rak filing, tetapi dalam kenyataannya masih
ditemukan rekam medis yang disimpan tidak sesuai dengan nomor urutnya.
Hal ini sesuai dengan ungkapan hasil wawancara pada petugas rekam medis
sebagai berikut yaitu :
“SPO penyimpanan berkas sudah ada, namun belum disosialisasikan kepada
petugas, sehingga petugas tidak tahu prosedur penyimpanan yang ada di SPO
tersebut.”
(Narasumber 4, 2018)
Hasil wawancara tersebut menjelaskan bahwa petugas rekam medis
diketahui bahwa pada bagian pengelolaan rekam medis sudah memiliki SPO
penyimpanan, namun Standart Procedure Operational masih belum dijalankan
dengan optimal, akibat dari Standart Procedure Operational (SPO) yang tidak
dapat dijalankan dengan baik atau benar khususnya dalam kegiatan filing
berkas rekam medis, sering ditemukan adanya kejadian missfile (kesalahan
letak dan kehilangan berkas rekam medis) di bagian filing rekam medis.
Padahal jika Standart Procedure Operational (SPO) dapat dijalankan dengan
benar oleh semua pihak tang terkait di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.
Kebijakan sistem penjajaran pada Puskesmas Kencong Kabupaten Jember
adalah menggunakan sistem angka langsung atau Straight Numerical Filing
System (SNF). Ungkapan hasil wawancara pada petugas rekam medis sebagai
berikut yaitu:

“Kurang teliti, terburu-buru dalam memasukkan rekam medisnya karena


jumlah petugas yang sedikit dan harus dituntut bekerja dengan cepat
akibatnya missfile dan kurangnya jumlah petugas, pengalaman masih minim,
terburu- buru dalam meletakkan, mungkin juga bisa dari pendidikan yang
masih rendah”.

(Narasumber 1 dan 2, 2018)


Penggunaan sistem angka langsung dalam pengelolahan penjajaran berkas
rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember memiliki banyak
hambatan diataranya yaitu dari pengalaman yang kurang, jumlah petugas yang
sedikit, kurang teliti, pendidikan yang kurang, terburu-buru dalam meletakkan
berkas rekam medis di rak filing hal ini disebabkan petugas dituntut bekerja
dengan cepat. Hal ini berakibat terjadinya salah letak dalam penjajaran rekam
medisnya atau dengan kata lain terjadinya missfile.
Kebijakan penomoran yang digunakan dalam kegiatan pengelolahan rekam
medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember adalah Pemberian nomor cara
unit (unit numbering system). Pemberian nomor secara unit adalah sistem ini
memberikan hanya satu nomor rekam medis kepada pasien baik pasien tersebut
berobat jalan maupun rawat inap. Pada saat seorang pasien berkunjung pertama
kali ke puskesmas apakah sebagai pasien berobat jalan ataupun untuk dirawat,
kepadanya diberikan satu nomor (admitting number) yang akan dipakai
selamanya setiap kunjungan berikutnya, sehingga pasien tersebut hanya
mempunyai satu rekam medis yang tersimpan dibawah satu nomor. Ungkapan
hasil wawancara pada petugas rekam medis sebagai berikut yaitu :

“Sering, disebabkan oleh salah letak rekam medisnya, biasanya karena pasien
tidak membawa kartu berobat, sedangkan saat dicari di sistem informasi
puskesmas datanya tidak ketemu soalnya”.

(Narasumber 3, 2018)
Berdasarkan hasil wawancara kepada petugas bahwa sering terjadi salah
letak dikarenakan pasien tidak membawa kartu berobat dan saat dicari di sistem
informasi tidak ditemukan selain itu juga dari hasil observasi di ruang rekam
medis bagian filing masih ditemukan nomor rekam medis yang ganda atau satu
pasien memiliki dua nomor rekam medis. Kejadian ini disebabkan karena
pasien tidak membawa kartu berobat, pasien mendaftar sebagai pasien baru
padahal pasien pernah berobat di puskesmas tersebut. Penomoran ganda ini
juga disebabkan akibat dari kesalahan letak dalam penjajaran rekam medis
(missfile) sehingga rekam medis tidak ditemukan.
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember dalam pengambilan berkas rekam
medis hanya petugas rekam medis saja yang boleh mengambil rekam medis
pasien didalam rak filing tetapi masih saja ada petugas lain yang ikut
mengambil dan tata cara dalam pengambilan rekam medis pasien tidak ada
buku ekspedisi sebagai catatan kepada siapa berkas rekam medis pasien
dipinjam atau tracer sebagai alat untuk menunjukan bahwa berkas rekam
medis pasien sedang dipinjam.
Kenyataan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember terkait penomoran,
penyimpanan dan penjajaran sudah sesuai standar yang ditetapkan oleh
Menteri Kesehatan Republik indonesia yaitu Memberikan nomor rekam medis
secara berurutan dan sistematis berdasarkan sistem yang digunakan
(penomoran seri, unit, seri unit). (Kemenkes RI Nomor377/Menkes/SK/
III/2007). Menyimpan atau menjajarkan rekam medis berdasarkan sistem yang
digunakan (Straight Numerical, Meddle Digit dan Terminal Digit Filing
System). (Kemenkes RI Nomor377/Menkes/SK/ III/2007).

4.5 Menganalisis variabel material sebagai faktor penyebab kejadian missfile


bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Material yang dimaksud dalam identifikasi penelitian merujuk pada bahan


yang digunakan dalam pembuatan berkas rekam medis dan rak filing berkas
rekam medis.

Berkas rekam medis yang baik harus dapat memuat informasi yang
memadai bagi dokter yang merawat, pasien sendiri, petugas pemberi pelayanan
lainya seperti perawat maupun bagi puskesmas itu sendiri. Rekam medis harus
mampu memberi data yang cukup terperinci, sehingga dokter dapat mengetahui
bagaimana pengobatan dan perawatan kepada pasien. Ungkapan hasil
wawancara pada petugas rekam medis sebagai berikut yaitu:

“Pake kertas buram mbak, dulu pake kertas HVS tapi sekarang kertas buram
karena biayanya mungkin mbak. Menghambatnya itu kalo pas sobek itu mbak.
Banyak yang sobek”.

(Narasumber 2, 2018)

Berdasarkan wawancara tersebut, penggunaan jenis kertas formulir yang


digunakan dalam berkas rekam medis yaitu kertas buram. Sedangkan untuk map
berkas rekam medis menggunakan kertas manilla. Sedangkan menurut
Huffman (1994) map folder yang baik yaitu dengan bahan yang tebal, tidak
mudah sobek, dan terdapat penggunaan kode warna. Kode warna digunakan
untuk mempercepat pencarian dokumen rekam medis dan mengurangi
kesalahan (missile) di dalam penyimpanan dokumen rekam medis. Warna-
warni ini digunakan sesuai nomor rekam medis dua digit terekhir yang
ditempelkan pada map folder bagian depan. Warna-warni ini berfungsi untuk
mengetahui apakah penyimpanan sudah sesuai tempatnya atau belum (Djohar
et al., 2018). Pada saat peneliti melakukan observasi di bagian filing berkas
rekam medis Puskesmas Kencong Kabupaten Jember. Berkas rekam medis,
masih ditemukan yang mengalami kerusakan seperti sobek karena satu map
rekam medis terdiri dari 50 berkas rekam medis sehingga mudah sobek karena
petugas rekam medis dituntut cepat.

Kenyataan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember terkait kondisi berkas


rekam medis yang rusak atau sobek, hal ini sangat berpengaruh terhadap
keamanan, kehilangan (Missfile) dan kerahasian berkas rekam medis sehingga
belum sesuai standar yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan Republik
Indonesia yaitu informasi tentang identitas, diagnosis, riwayat penyakit, riwayat
pemeriksaan dan riwayat pengobatan pasien harus di jaga kerahasiaannya oleh
dokter,dokter gigi tenaga kesehatan tertentu, petugas pengelola, dan pemimpin
sarana pelayanan kesehatan. (Depkes, 2008). Memelihara dokumen rekam
medis dan kerahasiaan informasi pasien. (Depkes, 2007). Apabila rekam medis
tersebut rusak, hilang, dipalsukan, digunakan oleh orang / badan yang tidak
berhak, maka yang bertanggung jawab adalah pimpinan sarana pelayanan
kesehatan. (Permenkes No. 269 Tahun 2008).

Kerusakan berkas rekam medis terjadi akibat dari frekuensi penggunaan


yang terlalu sering, pemeliharaan keutuhan berkas rekam medis yang kurang
dan ketidak hati-hatian dalam memperlakukan berkas rekam medis yang rentan
rusak atau sobek merupakan faktor penyebab terjadinya kerusakan berkas
rekam medis.

Pengolahan berkas rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember


dalam rekam medis bagian filing, bahan rak yang digunakan terbuat dari kayu.
Kayu yang digunakan berfungsi untuk menopang berkas rekam medis. Rak
penyimpanan berkas rekam medis hanya memiliki satu sekat saja dibagian
tengah dengan jumlah sub rak ada 10 bagian yang dibagi menjadi 5 sub rak
bagian kiri dan 5 sub rak bagian kanan. Setiap sub rak tidak memiliki kejelasan
dalam jumlah map rekam medisnya dan tidak terdapat nomor untuk
mempermudah dalam penyimpanan, petugas hanya melihat nomor dibagian
depan map berkas rekam medis yang terkadang map sobek atau tinta terhapus
sehingga bisa mempersulit dalam peletakan berkas rekam medis dan
menyebabkan terjadinya missfile.
Keterangan tersebut dapat diketahui pengelolahan rekam medis di
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember dalam hal penyimpanan berkas,
penggunaan map berkas rekam medis menggunakan manilla sedangkan
formulir rekam medisnya menggunakan kertas buram. Terdapat berkas rekam
medis rusak atau sobek, bahan rak penyimpanan rekam medis yang terbuat dari
kayu dan terdapat satu sekat diantara sisi rak kanan dan kiri. Dan setiap sub rak
tidak memiliki kejelasan dalam jumlah map berkas rekam medisnya yang dapat
beresiko dalam keamanan dan kerahasiaan berkas rekam medis serta
memungkinkan kejadian missfile (kesalahan dan kerusakan berkas rekam
medis) pada berkas rekam medis. Begitupun dengan kurangnya material seperti
rak penyimpanan/ rak yang kondisinya kurang layak digunakan juga akan
berpengaruh dengan kualitas dan ketahanan berkas rekam medis serta ruang
penyimpanan yang tidak begitu luas sangat berpengaruh juga terhadap kejadian
missfile (Medis et al., n.d.). Berikut adalah hasil wawancara kepada semua
responden yang menyatakan bahwa :

“iya masih kurang rak penyimpanannya, ruangannya juga kurang lebar,


makanya itu ada berkas rekam medis yang tersimpan dalam kardus dan masih
aktif”.

(Narasumber 1, 2019)

4.6 Menganalisis variabel money sebagai faktor penyebab kejadian missfile bagian
filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Money yang dimaksud dalam indentifikasi penelitian merujuk pada anggaran


yang digunakan dalam rekam medis bagian filing seperti APBD dan anggaran
operasional.

Anggaran dana dari pemerintah bagi pihak puskesmas sangat memberikan


keuntungan untuk menunjang kebutuhan pelaksanaan rekam medis bagi
puskesmas. Ungkapan hasil wawancara pada petugas rekam medis sebagai
berikut yaitu:

“Buat anggaran sendiri belum mencukupi seperti pengadaan tracer dan buku
ekspedisi penyimpanan, tetapi tidak digunakan lagi untuk saat ini. Namun untuk
pembelian Roll O Pack tidak mungkin bisa karena terkendala biayanya yang
sangat mahal”

(Narasumber 2, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara, untuk penyediaan anggaran tracer dan buku


ekspedisi belum tercukupi apalagi rak filing seperti Roll O Pack masih belum
bisa terpenuhi. Hal ini dikarenakan harga rak penyimpanan yang terlalu mahal
sehingga dana atau anggaran tersebut yang disediakan digunakan buat hal atau
keperluan yang lebih penting seperti halnya penyediaan atau tambahan petugas
rekam medis.

Kenyataan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember mengenai


penyusunan anggaran di unit rekam medis Puskesmas Kencong Kabupaten
Jember dalam penyusunan atau pembuatan anggaran operasional yang
dilakukan oleh petugas rekam medis dilakukan dengan cara insidental
(mendadak), sehingga sudah sesuai dengan standar yaitu salah satu kompetensi
pendukung yang dimiliki profesional perekam medis D-III adalah menyusun
anggaran. (Kemenkes, 2007)

Berdasarkan hasil wawancara kepada petugas yaitu apabila peralatan atau


fasilitas-fasilitas yang menunjang kegiatan pengelolahan rekam medis hampir
habis maka petugas baru mengajukan penyediaan anggaran operasional
tersebut. Penyusunan anggaran sebaiknya dilakukan per tahun sehingga apa saja
yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional setiap tahunnya sudah terencana
dengan baik. Jika dibandingkan dengan menggunakan penyusunan anggaran
operasional yang bersifat insidental atau mendadak. Penyusunan anggaran
operasional yang mengunakan sistem insidental akan menyulitkan unit rekam
medis tersebut apabila kebutuhan yang diminta tidak langsung terpenuhi oleh
pihak manajemen rekam medis. Akibatnya menyebabkan pasokan kebutuhan
untuk rekam medis menjadi terganggu serta kegiatan operasional rekam medis
akan terhambat.

Namun ketika anggaran operasional sudah di susun sedemikian rupa hanya


50% anggaran saja yang di setujui dan prosentase tersebut tidak berupa uang
namun dalam bentuk barang yang diajukan dari unit rekam (Medis et al., n.d.).
Berikut adalah hasil wawancara yang telah dilakukan peneliti kepada
narasumber :

“anggaran di sini masih kurang mencukupi kebutuhan penyimpanan rekam


medis, kadang juga yang diajukan belum sepenuhnya dipenuhi”. (Narasumber
2, 2019)

4.7 Menganalisis variabel media sebagai faktor penyebab kejadian missfile bagian
filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Media yang dimaksud dalam identifikasi penelitian merujuk pada


lingkungan kerja yang digunakan dalam rekam medis bagian filing seperti buku
ekspedisi dan kartu kendali.

Buku ekspedisi merupakan buku penting untuk mencatat berkas rekam


medis yang dipinjam sehingga berkas rekam medis yang keluar dari rak
penyimpanan bisa diketahui keberadaannya dengan cepat sehingga proses
pelayanan tidak akan terhambat. Buku ekspedisi berfungsi sebagai bukti serah
terima berkas rekam medis untuk mengetahui unit mana yang meminjamdan
untuk mengetahui kapan berkas tersebut dikembalikan(Kesehatan, 2018).
Ungkapan hasil wawancara oleh petugas rekam medis berikut ini:

“Ada, namun dalam pelaksanaannya buku ekspedisi jarang digunakan”.

(Narasumber 4, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara bahwa buku ekspedisi di puskesmas sudah


tersedia hanya saja petugas jarang menggunakannya dan petugas malas menulis
di buku ekspedisi dan tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaannya sehingga
lupa menulis di buku ekspedisi dan penggunaan buku ekspedisi kurang baik
juga dapat berdampak pada kejadian missfile (Salah letak dan kehilangan berkas
rekam medis). Hal ini karena buku ekspedisi dapat berguna sebagai tanda bukti
adanya suatu transaksi atau serah terima dokumen rekam medis dari filling.

Kenyataan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember penggunaan buku


ekspedisi juga belum optimal hal ini belum sesuai dengan standar yaitu tidak
satu pun rekam medis boleh keluar dari ruang rekam medis, tanpa tanda
keluar/kartu peminjaman. Peraturan ini tidak hanya berlaku bagi orang-orang
diluar ruang rekam medis, tetapi juga bagi petugas-petugas rekam medis sendiri
(Depkes,1997). Padahal penggunaan buku ekspedisi yang tidak optimal sangat
berpengaruh terhadap keamanan berkas rekam medis salah satunya berakibat
terjadinya kejadian missfile (Salah letak dan kehilangan berkas rekam medis).

Ketersedian sarana dan prasarana penunjang seperti buku ekspedisi dan


kartu kendali sebaiknya bisa digunakan dengan optimal. Hal ini disebabkan
buku ekpedisi dan kartu kendali sangat memiliki banyak manfaat salah satu
diantaranya yaitu meminimalisir terjadinya salah letak dan kehilangan berkas
rekam medis.

4.8 Menganalisis variabel motivation sebagai faktor penyebab kejadian missfile


bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember.

Kepemimpinan pada hakikatnya adalah suatu yang melekat pada diri


seorang pemimpin yang berupa sifat-sifat tertentu seperti kepribadian
(personality), kemampuan (ability) dan kesanggupan (capability).
Kepemimpinan juga sebagai rangkaian kegiatan (activity) pemimpin yang tidak
dapat dipisahkan dengan kedudukan (posisi) serta gaya atau perilaku pemimpin
itu sendiri. Kepemimpinan adalah proses antar hubungan atau interaksi antara
pemimpin, pengikut, dan situasi. (Wahjosumidjo, 1987).
Sikap kinerja pemimpin yang tegas diharapkan dapat memengaruhi atau
mendorong pegawai agar dapat memberikan kontribusi yang sebesar mungkin
sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan terhadap kegiatan pengelolahan
rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, salah satunya
pengelolahan dibagian filing berkas rekam medis. Ungkapkan oleh petugas
rekam medis sebagai berikut:

“Hanya diperingatkan hingga tiga kali saja. Untuk evaluasi kadang dilakukan
tetapi tidak rutin. Untuk sanksi tudak pernah dilakukan begitupun dengan
penghargaan”

(Narasumber 1-4, 2018)

Berdasarkan hasil wawancara kepada petugas bahwa di Puskesmas


Kencong Kabupaten Jember jika petugas melakukan kesalahan maka pemimpin
hanya memberikan peringatan sebanyak tiga kali dan untuk evaluasi tidak
secara rutin dilakuka begitupun dengan penghargaan. Pengelolahan rekam
medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember mengenai sikap kinerja
pemimpin masih belum sesuai dengan keinginan petugas.

Hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja petugas dalam bekerja khususnya


dalam pengolahan filing berkas rekam medis. Dengan tidak adanya peraturan
yang kuat, petugas dapat bertindak sewenang-wenangnya bahkan kebijakan
yang telah di buat tidak akan terlaksanan dengan baik dan petugas juga akan
lebih sering melakukan kesalahan khusunya dalam kegiatan pengolahan filing
beras rekam medis, hal tersebut juga dapat berakibat terjadinya missfile (Salah
letak dan kehilangan berkas rekam medis) dikarenakan prosedur atau kebijakan
yang di buat tidak dapat terlaksana dengan baik dikarenakan sikap kinerja
pemimpin seperti evaluasi, hukuman, atau reward masih belum digunakan
sebagai pendorong semangat bekerja pada petugas rekam medis (Bruno, 2019).

4.9 Menganalisis prioritas penyebab utama permasalahan missfile pada rekam


medis bagian filing Puskesmas Kencong Kabupaten Jember menggunakan metode
USG (Urgency, Serioussness, Growth).

Penentuan prioritas masalah adalah dalam penelitian ini menggunakan


metode USG (Urgency, Serioussness, Growth). Metode ini merupakan satu alat
untuk menyusun urutan prioritas permasalahan yang harus diselesaikan.

Caranya dengan menentukan tingkat kegawatan, keseriusan, dan


perkembangan permasalahan.
Berdasarkan uraian permasalahan yang telah dibahas sebelumnya permasalahan
yang terdapat di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember yang menjadi faktor
penyebab kejadian missfile bagian filing berkas rekam medis dapat dilihat pada
Tabel 4.1 berikut ini :

Tabel 4.1 Identifikasi Permasalahan


Berdasarkan Tabel 4.1 identifikasi permasalahan diatas diketahui bahwa
terdapat beberapa permasalahan di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember
yang merupakan faktor penyebab kejadian missfile rekam medis bagian filing.
Permasalahan diatas kemudian akan dilakukan perbandingan untuk
mendapatkan urutan prioritas permasalahan dengan menggunakan metode USG
(Urgency, Seriousness, Growth). Dari perbandingan tersebut kemudian akan
dilakukan penjumlahan skor. Skor tersebut didapat dari masing-masing
permasalahan untuk mengetahui permasalahan yang menjadi prioritas utama
penyebab masalah.

Penjumlahan skor dari masing-masing permasalahan dapat dilihat pada Tabel


4.2 dibawah ini :

Tabel 4.2 Hasil Rekapitulasi


Berdasarkan hasil rekapitulasi dari beberapa permasalahan yang menjadi
faktor penyebab kejadian missfile bagian filing di Puskesmas Kencong
Kabupaten Jember, dapat diketahui rangking dari indikator yang menjadi
prioritas utama permasalahan tersebut seperti Tabel 4.3 berikut ini :
Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut dapat diketahui urutan prioritas dari
permasalahan permasalahan yang menjadi faktor penyebab kejadian missfile
bagian filing di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, yaitu pengetahuan
petugas rekam medis yang kurang, Sikap kinerja pemimpin yang kurang
memberikan evaluasi, punishment, dan reward, Tidak adanya penggunaan kartu
kendali, Rak penyimpanan yang terbuat dari kayu dan hanya memiliki satu sekat
diantara sisi kanan dan sisi kiri, Sistem Retrieval yang dilakukan oleh selain
petugas rekam medis, Penggunaan buku ekspedisi yang kurang optimal,
Anggaran operasional yang bersifat mendadak, APBD yang diberikan kurang
untuk Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, Formulir rekam medis yang
mudah rusak dan sobek, Sistem penyimpanan terpisah atau Desentralisasi, tidak
pernah diadakannya lagi pelatihan rekam medis, Sistem penjajaran Straight
Numerical Filing yang menimbulkan kelelahan pada petugas, komputer yang
sering error dan tidak memiliki sistem penyimpanan, pelaksanaan SPO
penyimpanan yang tidak pernah disosialisasikan sebelumnya oleh pimpinan,
Penerapan sistem penomoran Unit Numbering System (Family Folder) yang
salah dan terjadinya penomoran ganda, jumlah tenaga rekam medis, seminar
rekam medis yang tidak pernah dilakukan, tidak adanya penggunaan tracer.

4.10 Menyusun Perbaikan


Diketahui berdasarkan 3 urutan masalah terbesar diberikan saran rencana
perbaikan untuk setiap masalah :

Tabel 4.4 Upaya Perbaikan Dari Tiga Masalah Yang Paling Dominan Di
Puskesmas Kencong Kabupaten Jember Tahun 2017
BAB 5. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Berdasarkan uraian hasil dan pembahasan dari penelitian tentang
Analisis Faktor Penyebab Kejadian Missfile Bagian Filing Di Puskesmas
Kencong Kabupaten Jember Tahun 2017 dapat diambil kesimpulan
sebagai berikut:
1. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Man Pengetahuan petugas
rekam medis yang kurang, Tidak pernah diadakannya lagi pelatihan
rekam medis, Seminar rekam medis yang tidak pernah dilakukan,
Jumlah tenaga rekam medis.
2. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Machine Tidak adanya
penggunaan tracer, Komputer yang sering error dan tidak memiliki
sistem penyimpanan.
3. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Methods Pelaksanaan SPO
penyimpanan yang tidak pernah disosialisasikan sebelumnya oleh
pimpinan, Penerapan sistem Unit Numbering System (Family Folder)
yang salah dan terjadinya penomoran ganda, Sistem penjajaran
Straight Numerical Filing yang menimbulkan kelelahan pada petugas,
Sistem penyimpanan terpisah atau Desentralisasi, Sistem Retrieval
yang dulu dilakukan oleh petugas rekam medis.
4. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Material Rak penyimpanan yang
terbuat dari kayu dan hanya memiliki satu sekat diantara sisi kanan dan
sisi kiri, Formulir rekam medis yang mudah rusak dan sobek.
5. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Money APBD yang diberikan
kurang untuk Puskesmas Kencong Kabupaten Jember, Anggaran
operasional yang bersifat mendadak.
6. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Media Tidak adanya
penggunaan kartu kendali, Penggunaan buku ekspedisi yang kurang
optimal.
7. Masalah yang ditimbulkan dari faktor Motivation Sikap kinerja
pemimpin yang kurang memberikan evaluasi, punishment dan reward.
8. Berdasarkan hasil USG (Urgency, Seriousnees, Growth) prioritas
permasalahan yang menyebabkan missfile berkas rekam medis adalah
pengetahuan petugas rekam medis yang kurang.
9. Rencana perbaikan dari permasalahan yang menyebabkan missfile
berkas rekam medis di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember yaitu
Melakukan in training dengan mendatangkan pembicara orang lain ke
puskesmas dan melakukan rapat jangka pendek setiap bulan atau
dengan mengikuti kegiatan seminar sehingga bisa menambah wawasan
petugas tentang rekam medis dengan tujuan dapat melakukan
pengelolahan rekam medis bagian filing dengan baik.

5.2 Saran
Berdasarkan hasil penelitian tentang Analisis Faktor Penyebab Kejadian
Missfile Bagian Filing Di Puskesmas Kencong Kabupaten Jember Tahun 2017
maka peneliti merekomendasikan beberapa saran sebagai berikut:

1. Mengikutsertakan seluruh petugas rekam medis dalam kegiatan pelatihan


dan seminar rekam medis.
2. Puskesmas bisa meringankan beban pembiayaan yang mahal bagi petugas
rekam medis yang akan mengikuti pelatihan dan seminar rekam medis

3. Perencanaan dan penyusunan anggaran sebaiknya dilakukan tiap tahun.


Agar rician apa saja yang dibutuhkan untuk kegiatan operasional sudah
terencana dengan baik.

4. Mensosialisasikan kepada petugas rekam medis yang terkait dengan


Standart Procedure Operational (SPO) penyimpanan harus rutin
dilaksanakan setiap 1 sampai 3 bulan sekali

5. Unit Rekam Medis diharapkan dapat mengadakan evaluasi pengelolaan


Rekam Medis bagian filing guna menghindari adanya kejadian Missfile
di rak filing .
DAFTAR PUSTAKA

Bruno, L. (2019). 済無No Title No Title. Journal of Chemical Information and


Modeling, 53(9), 1689–1699.
https://doi.org/10.1017/CBO9781107415324.004

Djohar, D., Oktavia, N., & Damayanti, F. T. (2018). Analisis Penyebab


Terjadinya Missfile Dokumen Rekam Medis Rawat Jalan di Ruang
Penyimpanan(Filling) RSUD Kota Bengkulu Tahun 2017. Jurnal
Manajemen Informasi Kesehatan Indonesia, 6(2), 79.
https://doi.org/10.33560/.v6i2.190

Karlina, D., Putri, I. A., Santoso, D. B., Studi, P., Rekam, D., Universitas, M., &
Mada, G. (2016). Kejadian Misfile dan Duplikasi Berkas Rekam Medis
Sebagai Pemicu Ketidaksinambungan Data Rekam Medis. 1(1), 44–52.

Kesehatan, J. (2018). BERKAS REKAM MEDIS DI BAGIAN FILING.

Medis, R., Rumah, D. I., Ibnu, S., & Bojonegoro, S. (n.d.). Faktor – faktor yang
menyebabkan misfile berkas rekam medis di rumah sakit ibnu sina
bojonegoro.