Anda di halaman 1dari 40

MAKALAH

ASUHAN KEPERAWATAN KANKER KULIT


Untuk memenuhi tugas mata kuliah Keperawatan Medikal Bedah III

Dosen Pembimbing :
Elyk Dwi Mumpuningtias, S.Kep., Ns., M.Kep.

Penyusun
Kelompok 8
Angga Varodan 717.6.2.0908
Nurul Istiqlal Lailiyah 717.6.2.0937
Moh. Syarif Hidayatullah Alfariqi 717.6.2.0919

UNIVERSITAS WIRARAJA
FAKULTAS ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN
OKTOBER TAHUN 2019
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami ucapkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah tentang kanker kulit dalam pemberian asuhan
keperawatan.
Makalah ini telah kami susun dengan maksimal dan mendapatkan bantuan
dari berbagai pihak sehingga dapat memperlancar pembuatan makalah ini. Untuk
itu kami menyampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah
berkontribusi dalam pembuatan makalah ini.
Terlepas dari semua itu, Kami menyadari sepenuhnya bahwa masih ada
kekurangan baik dari segi susunan kalimat maupun tata bahasanya. Oleh karena
itu dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca
agar kami dapat memperbaiki makalah ilmiah ini.
Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat dipahami bagi
siapapun yang membacanya. Sekiranya, makalah yang telah disusun dapat
bermanfaat untuk menambah ilmu dan wawasan untuk kami dan pembacanya.
Sebelumnya kami mohon maaf apabila terdapat kesalahan kata-kata yang kurang
berkenan dan kami memohon kritik dan saran yang membangun demi perbaikan
dimasa depan.

Sumenep, 18 September 2019


Penulis

i
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ............................................................................................ i

DAFTAR ISI .......................................................................................................... ii

BAB I ...................................................................................................................... 1

PENDAHULUAN .................................................................................................. 1

1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................ 2

1.3 Tujuan Penulisan .......................................................................................... 2

1.4 Manfaat Penulisan ........................................................................................ 2

BAB II .................................................................................................................... 3

TINJAUAN PUSTAKA ........................................................................................ 3

2.1 Definisi ......................................................................................................... 3

2.2 Etiologi ......................................................................................................... 3

2.3 Patofisiologi.................................................................................................. 4

2.4 Manifestasi Klinis......................................................................................... 5

2.5 WOC ............................................................................................................. 7

2.6 Klasifikasi ..................................................................................................... 8

2.7 Pemeriksaan Penunjang .............................................................................. 15

2.8 Penatalaksanaan .......................................................................................... 16

2.9 Komplikasi ................................................................................................. 18

2.10 Pencegahan ............................................................................................... 18

BAB III ................................................................................................................. 20

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KANKER KULIT .................. 20

3.1 Konsep Asuhan Keperawatan .................................................................... 20

3.1.1 Pengkajian ............................................................................................ 20


ii
3.1.2 Diagnosa Keperawatan ........................................................................ 22

3.1.3 Intervensi Keperawatan ....................................................................... 22

3.1.4 Implementasi Keperawatan.................................................................. 25

3.1.5 Evaluasi Keperawatan.......................................................................... 25

3.2 Tinjauan Kasus ........................................................................................... 25

BAB IV ................................................................................................................. 35

PENUTUP ............................................................................................................ 35

4.1 Kesimpulan ................................................................................................. 35

4.2 Saran ........................................................................................................... 35

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 36

iii
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Kanker kulit merupakan salah satu jenis kanker yang cukup serius. Walaupun,
maligna melanoma (salah satu jenis kanker kulit yang fatal) bukan merupakan
kanker yang banyak terjadi di Indonesia, tetapi kanker tersebut tumbuh lebih cepat
dibandingkan jenis kanker yang lain. Diagnosis dini terhadap kanker tersebut
merupakan hal yang penting, karena kemungkinan untuk dapat disembuhkan pada
tahap dini sangat besar.

Karsinoma sel basal adalah paling umum. Di Amerika, seramai 800.000 orang
menghidapi kanser ini setiap tahun. 75% kanser kulit adalah kanser sel basal.
Karsinoma sel skuamos pula didapati di 200.000 rakyat Amerika setiap tahun.
Melanoma adalah yang paling jarang dijumpai tetapi menyebabkan paling banyak
kematian. Mengikut WHO, sebanyak 16.0000 orang menghidapi melanoma setiap
tahun dan sebanyak 48000 kematian dilaporkan setiap tahun.

Setidaknya 60 ribu orang di seluruh dunia meninggal tiap tahun akibat


kebanyakan terkena sinar matahari. Kebanyakan dari mereka tewas karena
mengidap kanker kulit yang ganas. Sekitar 90 persen dari kanker kulit itu
disebabkan oleh sinar ultraviolet sang surya. Demikian hasil studi terbaru
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), seperti diberitakan Fox News. Ini
merupakan laporan detail pertama mengenai dampak global sinar matahari. WHO
menyatakan, sekitar 48 ribu kematian terjadi setiap tahun akibat penyakit kanker
kulit jenis melanoma ganas. Sedangkan 12 ribu kematian lainnya diakibatkan oleh
jenis kanker kulit lainnya.

Saat ini telah banyak dari para ilmuan menemukan berbagai metode untuk
mendeteksi penyakit kanker kulit. Seperti metode Dermatoscopic yang
menggunakan metode non invasiv dengan bantuan komputer.

Berdasarkan berbagai hal tersebut, maka penulis akan menyusun makalah


mengenai asuhan keperawatan kanker kulit secara komprehensif melalui studi
literatur.

1
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Apa definisi dari Kanker Kulit?
1.2.2 Bagaimana asuhan keperawatan pada klien dengan Kanker Kulit?

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Tujuan Umum
Untuk memenuhi tugas mata kuliah dari Keperawatan Medikal Bedah
III tentang Asuhan Keperawatan Kanker Kulit .
1.3.2 Tujuan Khusus
1.3.2.1 Untuk mengetahui definisi Kanker Kulit.
1.3.2.2 Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada klien dengan Kanker
Kulit.
1.4 Manfaat Penulisan
1.4.1 Manfaat Bagi Penulis
1. Penerapan Ilmu Keperawatan mengenai Asuhan Keperawatan gangguan
sistem integumen “Kanker Kulit”.
2. Dapat menambah wawasan mengenai gangguan integumen “Kanker
Kulit”.

1.4.2 Manfaat Bagi Pembaca


1. Diharapkan dapat menjadi data dasar mengenai penyakit Kanker Kulit.
2. Diharapkan dapat menjadi referensi dalam penegakkan diagnosis pasien
Kanker Kulit.
1.4.3 Manfaat Bagi Mahasiswa
Diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai
penyakit Kanker Kulit.

2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi
Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya
untuk generasi dan tumbuh secara normal. Sel-sel kulit yang sehat secara
normal dapat membelah diri secara teratur untuk menggantikan sel-sel kulit
mati dan tumbuh kembali (tiro. 2010).
Kanker kulit adalah jenis kanker yang terletak dipermukaan kulit,
sehingga mudah dikenali. Namun karena gejala awal yang ditimbul dirasakan
tidak begitu menganggu,sehingga penderita terlambat melakukan pengobatan
(Mangan,2005).
Kanker kulit dapat menyerang siapa saja, baik pria maupun wanita.
Daerah yang sering terjadi seranganya biasanya permukaan yang sering
terkena terpaparan sinar matahari, seperti wajah, tangan dan tungkai bawah
(Mangan,2005).
2.2 Etiologi
Penyebab pasti dari kanker kulit belum ditemukan secara pasti, namun ada
beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan timbulnya kanker kulit yaitu:
1. Paparan Sinar Ultraviolet (UV)
Penyebab yang paling sering adalah paparan sinar UV baik dari
matahari maupun dari sumber yang lain. Lama paparan, intensitas sinar
UV, serta ada tidaknya pelindung kulit baik dengan pakaian atau krim anti
matahari, semuanya berpengaruh terhadap terjadinya kanker kulit.
2. Kulit Putih
Orang yang memiliki kulit putih lebih rentan terkena kanker kulit
daripada orang yang memiliki kulit lebih gelap. Hal ini dikarenakan
jumlah pigmen melanin pada orang kulit putih lebih sedikit. Kadar
melanin yang tinggi bisa melindungi kulit dari paparan berbahaya sinar
matahari, sehingga mengurangi risiko terkena kanker kulit. Namun, orang-
orang yang memiliki kulit gelap juga bisa terkena kanker kulit meskipun
jumlahnya cenderung lebih kecil.

3
3. Paparan Karsinogen
Bahan kimia tertentu seperti arsenik, nikotin, tar, dan minyak
diyakini dapat meningkatkan risiko terkena kanker kulit. Namun, dalam
banyak kasus paparan dalam jangka panjanglah yang
biasanya menyebabkan kanker kulit. Gen pembawa kanker atau tumor
sudah dimiliki hampir seluruh orang sejak lahir. Namun dengan ‘bantuan’
zat atau bahan karsinogen terjadi mutasi sel dan menimbulkan kanker atau
tumor. Akhir-akhir ini, para peneliti di University of Pittsburg Cancer
Institute di Amerika telah memukan virus-virus yang dapat menyebabkan
kanker kulit diantaranya adalah human papilloma virus/ HPV.
4. Genetik/Faktor Keturunan
Susunan genetik dalam keluarga bisa berpengaruh juga terhadap
munculnya kanker kulit. Jika ada salah satu anggota keluarga yang terkena
kanker kulit, maka risiko terkena kanker kulit pada anggota keluarga yang
lain juga akan meningkat.
2.3 Patofisiologi
Kanker kulit atau skin cancer berawal dari tumor jinak (tahi lalat, kista
dll) dan tumor ganas (kanker). Diantaranya ada keadaan yang disebut
prakanker, yaitu penyakit kulit yang dapat berubah menjadi ganas atau kanker
kulit. Misalnya kemerahan karena terkena arsen atau matahari, jaringan parut
menahun, beberapa jenis benjolan yang membesar perlahan, penyakit kulit
karena penyinaran, beberapa jenis tahi lalat, bercak keputihan dirongga mulut
atau lidah dan kemaluan, tahi lalat besar yang sudah ada sejak lahir dan lain-
lain. Disamping itu terdapat juga keadaan yang disebut genodermatosis, yaitu
penyakit kulit yang disebabkan oleh karena kelainan gen yang dihubungkan
dengan keganasan. Contohnya penyakit xeroderma pigmentosum. Biasanya,
sel kulit di dalam epidermis membagi dengan teratur dan terkawal.

Sel baru lazimnya menolak sel lama ke permukaan luar kulit di mana
sel lama ini akan mati. Proses ini dikawal oleh DNA. Kanker kulit berlaku
karena terdapat gangguan pada proses ini di mana sel membagi tanpa henti
dan membentuk ketumbuhan besar. Keadaan-keadaan tersebut diatas ada
kaitannya dengan kanker kulit.

4
2.4 Manifestasi Klinis
Ada beberapa kelainan kulit yang harus dicurigai sebagai kanker kulit yaitu:
1. Benjolan kecil yang membesar
Benjolan terdapat diwajah, berwarna pucat seperti lilin,
permukaannya mengkilap, tidak terasa sakit atau gatal, dan yang semula
kecil makin lama makin membesar. Apabila diraba, benjolan terasa keras
kenyal.Kadang–kadang benjolan menjadi hitam atau kebiruan, bagian
tengah mencekung dan tertutup kerak.
2. Benjolan yang permukaannya tidak rata dan mudah berdarah
Benjolan ini membasah dan tertutup keropeng, teraba keras kenyal,
dan mudah berdarah bila disentuh.
3. Tahi lalat yang berubah warna
Tahi lalat menjadi lebih hitam, gatal, sekitarnya berwarna
kemerahan dan mudah berdarah.Tahi lalat ini bertambah besar dan
kadang-kadang di sektarnya timbul bintik-bintik.
4. Koreng atau borok dan luka yang tidak mau sembuh
Koreng dan luka yang sudah lama, tidak pernah sembuh walaupun
sudah diobati, koreng ini pinggirnya meninggi dan teraba keras serta
mudah berdarah, adanya koreng karena terjadi benturan, bekas luka ang
sudah lama atau terinfeksi.
5. Bercak kecoklatan
Bercak ini banyak ditemukan pada muka dan lengan, bercak ini
makin lama permukaannya makin kasar, bergerigi, tetapi tidak rapuh, tidak
gatal dan tidak sakit.
6. Bercak hitam yang menebal pada telapak kaki dan tangan
Bercak ini ditemukan pada kulit yang berwarna pucat seperti
ditelapak kaki dan telapak tangan. Bercak ini mula-mula dangkal,
berwarna hitam keabuan, batas kabur, tepi tidak teraba, tidak sakit maupun
gatal. Kemudian bercak cepat berubah menjadi lebih hitam, menonjol
diatas permukaan kulit, dan tumbuh ke dalam kulit serta mudah berdarah.

Terdapat tanda yang boleh dilihat sebagai petunjuk dalam menentukan


lesi mana yang bersifat abnormal guna menjamin investigasi lebih lanjut

5
adalah berdasarkan empat ciri berikut yang biasa disebut dengan
Panduan “ABCD”
1. A: Asymetry (Asimetris). Setengah bagian dari lesi kulit tidak bersesuaian
dengan yang lain.
2. B : Border irregularity (batasan yang tidak reguler). Bagian tepi dari lesi
kulit seperti kulit kerang atau tidak rata.
3. C : Color (warna). Pigmentasi yang bervariatif pada lesi. Bayangan coklat
kekuningan, coklat dan hitam. Merah, putih dan biru dimungkinkan juga
terdapat sebagai penampakan noda.
4. D : Diameter. Lesi meningkat dalam ukuran atau diameter dari lesi lebih
besar dari 6 mm. (Fuller, 2000)

6
Genetik, imunologik Bahan karsinogen,
2.5 WOC
cahaya matahari/sinar UV
Ras/herediter radiasi
Jenis kelamin lingkungan pekerjaan
peradangan
trauma

Folikel sebasea malformasi pertumbuhan proliferasi fokal


keratosis lokal fisura proliferasi
tertahan pembuluh berlebihan dari fibroblast/
kapiler
Proliferasi sel-sel limfatik jaringan fibrosa histiosit
sel nevus kulit bersisik, Gatal & panas
epidermis papul
eritema vesikel
membentuk sarang- vegetasi keloid nodul intrakutan
Berisi keratin eritomato
sarang kecil pada karsinoma sel ulserasi
lesi meluas sa
Nodul lapisan sel basal skuamosa lesi mudah dermatofibroma
tanda
intrakutan&subkuta epidermis nodul merah limfangioma papul berdarah
keganasan
n membelah
kista hemangioma eksisi, involusi
ulkus biopsi, eksisi, nodul
Kurang injeksi spontan
dermis laser CO2
berkembang krusta Pengetahuan steroid
tumor keras
membentuk sarang lokal
hiperpigmentasi Kerusakan
pada dermis gatal
keratosis seboroika Integritas Kulit
nevus pigmentosus lesi lebih lanjut
pembedahan
ganas pertumbuhan hiperpigmentasi
bersifat invasif jarang
pre intra post metastase luas neoplastik
metastase kortikosteroid,
dalam waktu
pembedahan karsinoma sel eksisi
kurang Kerusakan singkat basal
pengetahuan Integritas bisa kembali
perubahan terjadi keloid
Kulit Nyeri
warna dan
Cemas ukuran nodul 7 Gangguan Citra
Tubuh
2.6 Klasifikasi
Kanker kulit secara umum dibagiatas dua golongan besar yaitu,
malenoma maligna dan non malenoma maligna. Non malenoma maligna
terbagi menjadi dua yaitu karsinoma sel basal (KSB) dan karsinoma sel
skuamosa (KSS) (dalimartha, Setiawan, 2005).

1. Non malenoma maligna


a. Karsinoma sel basal (KSB)

1) Definisi
Basalioma atau karsinoma sel basal (KSB) merupakan kanker
kulit yang timbul dari lapisan sel basal epidermis atau folikel
rambut. Kanker kulit jenis ini tidak mengalami penyebaran
(metastasis) ke bagian tubuh lainnya, tetapi sel kanker dapat
berkembang dan menyebabkan kerusakan jaringan kulit sekitarnya.
Karsinoma sel basal merupakan kanker kulit yang paling sering
ditemukan (Brunner and Suddarth, 2002).
2) Manifestasi klinis
Bagian tubuh yang terserang Kanker Sel Basal biasanya diwajah)
dan leher. Meskipun jarang dapat pula dijumpai pada lengan, tangan,
badan, kaki dan kulit kepala (Marwali, 2002).
Penyakit ini dimulai dengan papula kecil, warna kuning abu – abu
mengkilat, meninggi di atas permukaan kulit, jika kena trauma mudah
berdarah.Papula makin lama makin membesar menjadi makula dan
bagian tengah dapat timbul ulkus atau tidak ada ulkus (Siregar, 2005).

8
Menurut (Marwali, 2000) gambaran klinis Karsinoma Sel Basal
ini bervariasi, yaitu:
a) Tipe Nodulo-ulseratif
Merupakan jenis yang paling sering dijumpai.Lesi biasanya
tampak sebagai lesi tunggal.Paling sering mengenai wajah,
terutama pipi, lipartan nasolabial, dahi dan tepi kelopak mata.Pada
awalnya tampak nodul kecil, transparan seperti mutiara,
berdiameter kurang dari 2 cm, dengan tepi meninggi. Kemudian
lesi membesar secara perlahan dan suatu saat bagian tengah lesi
cekung, meninggalkan tepi yang meninggi dan keras.
b) Tipe Berpigmen
Gambaran klinisnya sama dengan tipe nodule-ulseratif.
Bedanya pada jenis ini berwarna coklet atau hitam berbintik-bintik
atau homogeny yang secara klinis dapat menyerupai melanoma.
c) Tipe Morfea/Fibrosing/Sklerosing
Biasanya terjadi pada kepala dan leher.Lesi tampak sebagai
plak sklerotik yang cekung, berwarna putih kekuningan.
d) Tipe Superfisial
Lesi biasanya multiple, mengenai badan.Secara klinis
tampak sebagai plak transparan, eritematosa sampai berpigmen
terang, berbentuk ovale sampai ireguler dengan tepi berbatas tegas,
sedikit meninggi, seperti kawat.
e) Tipe Fibroepitelial
Paling sering terjadi pada punggung bawah. Secara klinis,
lesi berupa nodul kecil yang tidak bertangkai atau bertangkai
pendek dengan permukaan halus atau noduler dengan warna yang
bervariasi.

9
b. Karsinoma sel skuamosa

1) Defnisi
Karsinoma sel skuamosa merupakan proliferasi maligna yang
timbul dari dalam epidermis.Meskipun biasanya muncul pada kulit
yang rusak karena sinar matahari, karsinoma ini dapat pula timbul dar
kulit yang normal atau lesi yang sudah ada sebelumnya (Brunner and
Suddarth, 2002).
Kanker ini merupakan permasalahan yang lebih gawat karena
sifatnya invasive dengan mengadakan metastase lewat system limfatik
atau darah.Metastase menyebabkan 75% kematian akibat dari
karsinoma sel skuamosa (Brunner and Suddarth, 2002).
2) Manifestasi klinis
Bagian tubuh yang terserang Kanker Sel Skuamosa biasanya
pada daerah kulit yang terpapar sinar matahari dan membran mukosa,
namun dapat pula terjadi pada setiap bagian tubuh.Pada orang kulit
putih lebih sering dijumpai pada daerah muka dan ekstremitas,
sedangkan pada orang kulit berwarna gelap di daerah tropik lebih
banyak pada ekstremitas bawah, badan dan dapat pula dijumpai pada
bibir bawah serta punggung tangan (Marwali, 2002).
Penyakit ini dimulai dengan nodula berwarna kulit normal, atau
ulkus dengan tepi yang tidak teratur. Permukaan nodula berbenjol
menyerupai kembang kol, pada perabaan keras dan mudah berdarah
yang berasal dari ulkus, permukaan dan tepi meninggi, warna
kekuningan. Tumor menyebar melalui saluran getah bening ke ala-
alat lain (Siregar, 2005).

10
Menurut Marwali (2002) gambaran klinis Karsinoma Sel
Skuamosa bervariasi, dapat berupa :
a) Nodul berwarna seperti kulit normal, permukaannya halus tanpa
krusta atau ulkus dengan tepi yang berbatas kurang jelas
b) Ulkus yang menyerupai kembang kol. Tumor ini menonjol diatas
permukaan kulit, tidak rata, berbenjol-benjol seperti kembang
kol, berwarna merah atau pucat, membasah atau berdarah dan
berbau.
c) Ulkus dengan krusta pada permukaannya, tepi meninggi,
berwarna kuning kemerahan. Dalam perjalanan penyakitnya lesi
akan meluas dan mengadakan metastasis ke kelnjar limfe
regional atau ke organ-organ dalam.
d) Karsinoma Sel Skuamosa yang timbul dari kulit normal lebih
sering mengadakan invasi yang cepat dan terjadi metastasi.
2. Melanoma maligna

a. Definisi Melanoma Maligna


Melanoma maligna merupakan neoplasma maligna dengan
terdapatnya melanosit (sel-sel pigmen) dalam lapisan epidermis maupun
dermis (dan kadang-kadang sel subkutan) (Brunner and Suddarth,
2002)..
Melanoma Maligna merupakan suatu jenis sel kanker kulit yang
paling ganas dan berasal dari system melanositik kulit. Biasanya
menyebabkan metastasis yang luas dalam waktu yang singkat, tidak saja
melalui aliran limfe ke kelenjar regional, tetapi juga menyebar melalui
aliran darah kealat-alat dalam serta dapat menyebakan kematian
(Marwali, 2000).

11
Melanoma Maligna adalah tumor ganas kulit yang berasal dari
melanosit dengan gambaran berupa lesi kehitam-hitaman pada kulit
(Siregar, 2005).
b. Manifestasi klinis
Kunci penyembuhan melanoma maligna adalah penemuan dini
sehingga diagnosis melanoma harus ditingkatkan bila penderita
melaporkan adanya lesi berpigmen baru atau adanya tahi lalat atau tanda
lahir (tompel) yang berubah seperti:
1) Perubahan dalam warna
2) Perubahan dalam ukuran (terutama pertumbuhan yang cepat)
3) Timbulnya gejala (gatal, rasa terbakar atau sakit)
4) Terjadi peninggian pada lesi yang sebelumnya datar
5) Perubahan pada permukaan atau perubahan pada konsistensi lesi
berpigmen

Tahi lalat walaupun hanya satu dan kecil kadang dapat juga
berubah menjadi ganas, dan dapat terjadi pada tahi lalat di bagian tubuh
mana saja, walaupun yang sering adalah terutama di telapak kaki,
kepala/wajah, leher, pinggang. Selain itu pada tahi lalat, yang mulai sering
terasa gatal, mudah berdarah,ada borok atau luka yang sukar sembuh,
harus juga lebih curiga.
Yang harus diwaspadai apabila suatu tahi lalat curiga menjadi
ganas adalah bila pada tahi lalat tersebut ditemukan tanda "ABCD"
melanoma maligna, yaitu:
A: Asimetrik, bentuknya tak beraturan.
B: Border atau pinggirannya juga tidak rata.
C: Color atau warnanya yang bervariasi dari satu area ke area lainnya.
Bisa kecoklatan sampai hitam. Bahkan dalam kasus tertentu ditemukan
berwarna putih, merah dan biru.
D: Diameternya lebih besar dari 6 mm.

12
c. Klasifikasi melanoma maligna

1) Melanoma superficial
Melanoma dengan penyebaran superfisial terjadi pada setiap
bagian tubuh dan merupakan bentuk melanoma yang paling sering
ditemukan. Melanoma ini sering ditemukan serta ektremitas bawah.
2) Melanoma lentigo-maligna
Melanoma lentigo-maligna merupakan lesi berpigment yang
tumbuh dengan lambat pada daerah kulit yang terbuka,khususnya
permukaan dorsal tangan,kepala dan leher pada orang yang berusia
lanjut.
3) Melanoma noduler
Melanoma noduler merupakan noul yang berbentuk sferis yang
menyerupai blueberry dengan permukaan yang relatife licin seta
berwarna biru hitam yang seragam. Melanoma noduler akan
menginvasi langsung kedalam lapisan dermis didekatnya
(pertumbuhan vertikel) dan dengan demikian memiliki prognosis
yang buruk.
4) Melanoma akral-lentigonosa
Melanoma akral-lentigonosa merupakan bentuk melanoma yang
terdapat didaerah yang terlalu terpajan sinar mataharidan tidak
terdapat difolikel rambut. Jenis melanoma ini sering terdapat
ditelapak kaki, telapak tangan, dasar kuku dan membrane mukosa
yang berkulit gelap.

13
Berdasarkan tingkat penyebaran, Siregar (2005) membedakan
melanoma maligna dalam 6 stadium yaitu:
1) Stadium I
Sel Melanoma hanya terdapat intraepidemal (Melanoma in situ)
2) Stadium II
Sel Melanoma sampai papilla dermis bagian atas
3) Stadium III
Sel Melanoma sampai mengisi papilla dermis
4) Stadium IV
Sel Melanoma sampai ke dalam jaringan ikat kolagen dermis
5) Stadium V
Sel Melanoma sampai jaringan lemak dan subkutan
6) Stadium VI
Sel Melanoma tampak berbentuk epiteloid atau kumparan,
pleomorfi dengan kromatin kasar.Setiap sel mengandung butir
melanin.Sel berkelompok atau bergerombol. Pada dermis ditemukan
infiltrate limfosit atau makrofag yang mengandung melanin.
d. Pengobatan melanoma maligna
Adapun pengobatan berdasarkan stadium Melanoma Maligna
yaitu:
Tindakan yang dilakukan pada penderita kanker melanoma
maligna ini adalah pengangkatan secara komplit jaringan kanker dengan
jalan pembedahan, apabila telah diketahui terjadi penyebaran maka
dibutuhkan operasi lanjutan untuk mengangkat jaringan di sekitarnya.
Untuk pengobatan secara medikomentosa dengan kemoterapi (obat-obat
anti kanker) yang dikelompokkan menjadi beberapa kategori yaitu:
alkylating agents, antimetabolit, alkaloid tanaman, antibiotik antitumor,
enzim, hormon dan pengubah respon biologis. Dan pengobatan secara
nonmedikomentosa meliputi radioterapi, pembedahan dan terapi fisik.
Pembagian terapi berdasarkan stadium melanoma:
1) Stadium Klinik I Melanoma Maligna.

14
Sampai saat ini metode pembedahan dengan eksisi luas masih
tetap merupakan cara pengobatan melanoma maligna yang terbaik.

2) Stadium Klinik II Melanoma Maligna


Eksisi luas disertai pengangkatan kelenjar limfe regional.
3) Stadium Klinik III Melanoma Maligna
a) Kemoterapeutik sistemik
Agen kemoterapeutik tradisional yang terbaik yaitu
Dacarbazine/Dimetil Triazeno Imidazole Carboxamide
(DTIC).Dapat diberikan tersendiri atau dikombinasi dengan obat
kemoterapeutik sistemik lainnya.Respon pengobatan dengan DTIC
terjadi pada 20-25% penderita. Kemoterapeutik sistemik yang
direkomendasikan adalah:
DTIC: 200-300 mg/m2 (intravena) selama 5 hari, diulang tiap 3-4
minggu. Nitrosourea: 200 mg/m2 dosis tunggal (oral), diulang tiap
6 minggu. Atau kombinasi DTIC dan nitrosourea.
b) Imunoterapi
BCG merupakan imunoterapi aktif non spesifik, terutama
digunakan untuk pengobatan melanoma maligna yang mengadakan
metastasis ke kulit.Diberikan secara intralesi dan memberikan
pengaruh yang cukup bermanfaat. Hasilnya tidak menentu,
tergantung pada sistem imunitas penderita.Akhir-akhir ini
dilakukan imunoterapi adoptif, dengan memakai leukaferesis untuk
mendapatkan limfosit dari kanker pasien, kemudian sel itu
diinkubasi dengan interleukin-2, untuk membentuk sel pembunuh
yang mengaktifkan limfokin (LAK), dan kemudian sel-sel LAK
diinfuskan kembali bersama pemberian interleukin-2.
2.7 Pemeriksaan Penunjang
1. Laboratorium test dan cuci darah
Test lab dan pemeriksaan darah membantu mendiagnosa kanker.
Sebagian malignasi dapat merubah komposisi atau status hematologic.
2. Biopsy jaringan

15
Hasil biopsy memastikan diagnosis melanoma. Spesimen biopsy
yang diperoleh dengan cara eksisi mengungkapkan informasi histologik
mengenai tipe, taraf invas dan ketebalan lesi. Biopsy insisi harus dilakukan
jika lesi yang dicurigai terlalu luas untuk dapat diangkat dengan aman tanpa
pembentukan sikatriks yang berlebihan. Specimen biopsy yang diperoleh
dengan pemangkasan, kuratasee atau aspirasi jarum dianggap bukan bukti
histologik penyakit yang dapat diandalkan.
3. Pemeriksaan darah, pemeriksaan sinar x, dan atau CT scan.
Untuk melanoma yang lebih dalam, pemeriksaan mungkin
diindikasikan untuk menemukan adanya metastase penyakit. Ini meliputi
pemeriksaan darah, pemeriksaan sinar X dan atau CT scan.
2.8 Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan medis
a. Pembedahan
Ahli bedah biasanya akan mengangkat lesi ditambah batas-batas
jaringan normal sekitarnya untuk mencegah berkembangnya kembali
tumor tersebut. Satu margin 1-2 cm sekeliling melanoma
dipertimbangkan secara adekuat untuk melanoma dengan ketebalan
kurang dari 3 mm lesi-lesi dengan kedalaman lebih dari 1 mm tetapi
kurang dari 3 mm ditangani melalui pembedahan dengan kesembuhan
kira-kira 70-80 %lesi dalam lebih dari 3 mm kemungkinan akan
mengalami kekambuhan sekitar 40-50 %. Batas- batas reseksi sekeliling
melanoma yang dalam ini biasanya direkomendasikan menjadi paling
sedikit 2-3 cm
b. Kemoterapi
Kemoterapi dapat diberikan dengan berbagai cara salah satunya
adalah secara topical, dimana agen-agen tersebut diberikan secara
langsung pada lesi. Agen-agen yang digunakan meliputi 5 flourourasil
atau psorelen. Obat-obat yang paling umum digunakan untuk ini
meliputi melpalan, dakarbazasin (DTIC), dan sisplatin. Cara yang
dilakukan dalam memberikan kemoterapi adalah secara sistemik. Saat
ini kemoterapi sistemik belum dapat membuktikan efektivitasnya dalam

16
mencegah kambuhnya penyakit pada pasien dengan jenis kanker fase
dini. Tapi biasanya digunakan pada orang dengan penyakit yang
menyebar secara luas
c. Terapi biologis
Terapi biologis juga disebut bioterapi atau immunoterapi, bekerja
baik secara langsung ataupun tidak langsung melawan kanker dengan
mengubah cara-cara tubuh untuk bereaksi terhadap kanker.Bentuk umum
dari bioterapi dibawah penyelidikan untuk melanoma meliputi vaksin,
injeksi bacterium yang diketahui sebgaai BSG (Basilus Calmeete
Guerin) dan penggunaan interferon, interleukin, dan antibiotic
monoklanal.Vaksinasi tersebut dibuat dari melanoma yang diradiasi dan
dinon-aktifkan. Diharapkan vaksin-vaksin tersebut akan mensintesis
system imun untuk mengenal melanoma dan oleh karenanya akan
meningkatkan kemampuan system untuk menghancurkan melanoma
tersebut. Injeksi BSG mempengaruhi stimulasi non-spesifik dari system
imun dan sedang dipelajari sebagai terapi untuk pasien-pasien fase
awal.Diharapkan bahwa injeksi BSG secara langsung kedalam metastase
nodul-nodul subkutan dapat menyebabkan regresi lesi.
d. Terapi radiasi
Terapi radiasi merupakan bentuk pengobatan lainnya. Dengan
penggunaan energy sinar X dosis tinggi, kobalt, electron, atau sumber-
sumber radiasi lainnya untuk menghancurkan atau membunuh sel-sel
melanoma.
Penatalaksanaan karsinoma ini bergantung pada lokasi tumor, tipe
sel (lokasi kedalaman), sifat-sifat yang invasive atau tidak invasive dan
tidak adanya kelenjar limfe yang mengalami metastase, tindakannya
adalah:
a. Eksisi bedah: tujuannya untuk mengangkat keseluruhan tumor
b. Pembedahan mikrografik moh : merupakan metode untuk mengangkat
lesi kulit yang malignan
c. Bedah elektro: merupakan teknik penghancuran atau penghilangan
jaringan dengan menggunakan energy listrik

17
d. Bedah beku: tujuannya menghancurkan tumor dengan cara de freezing
(alat jarum termokopel). Dilakukan setelah kemoterapi
e. Terapi radiasi: terapi ini sering dilakukan untuk kanker kelopak mata,
ujung hidung dan daerah didekat struktur yang vital.
2. Penatalaksanaan keperawatan
Karena banyak kanker kulit yang diangkat dengan tindakan eksisi,
peran perawat adalah:
a. Meredakan nyeri dan ketidaknyamanan
b. Pemberian analgetik tepat
c. Meredakan ansietas
d. Pendidikan pasien dan pertimbangan perawatan di rumah.
2.9 Komplikasi
Kecacatan karena pembedahan terutama bila kanker kulit tersebut
kambuh ada wajah yang membutuhkan reseksi ulang, atau jika eksisi luas
dibutuhkan seperti halnya ada melanoma. Selain itu juga dapat terjadi
metastase penyakit ke otak biasanya fatal kecuali bila reseksi pembedahan
masih mungkin di lakukan.
Serta dapat menimbulkan metastase tulang dan dapat menimbulkan
nyeri berat dan mengarah pada fraktur dan kompresi medulla spinali.
2.10 Pencegahan
1. Menghindari kulit dari sinar matahari langsung
Pada jam 10 pagi hingga jam 4 sore, adalah jam-jam yang biasanya
marahari memancarkan sinar yang kuat dari jam-jam lainnya. Jika
memungkinkan aktivitas di luar ruangan, sebaiknya menggunakan cream
atau menghindari sinar matahari langsung dengan menggunakan topi atau
payung.
2. Memberikan nutrisi pada kulit dengan cukup
Kekurangan vitamin pada kulit akan mengurangi kerja kulit pada
tubuh. Dengan mengkonsumsi vitamin D dan makan makanan yang
memang mengandung banyak vitamin lainnya seperti daging ikan salmon,
susu dan juga buah-buahan seperti jeruk dan pisang, apel dan pepaya.
3. Menggunakan sunscreen sebelum bepergian

18
Menggunakan cream sunscreen sebelum keluar rumah adalah salah
satu cara melindungi kulit dari sinar UV matahari yang menyengat.
Kandungan SPF pada sunscreen dapat melindungi kulit, karena SPF
mampu menyerap sinar UV matahari dan semakin besar kandungan dalam
SPF maka perlidungan yang didapat akan lebih besar. Usahakan selalu di
tempat yang teduh
4. Gunakan kacamata hitam
Kulit yang berada pada sekitar daerah mata merupakan kulit yang
cukup sensitif dan tipis. Oleh karena itu menutupi mata dengan kacamata
hitam mengurangi resiko terkena kanker kulit karena sengat sinar matahari
yang cukup tajam.

19
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN KANKER KULIT

3.1 Konsep Asuhan Keperawatan


3.1.1 Pengkajian
1. Identintas pasien.
a. Nama
b. Usia
Lebih sering pada usia 15- 44 tahun, lebih meningkat pada usia 20
tahun yang selalu terpapar sinar matahari.
c. Jenis kelamin.
Jenis kelamin pria dan wanita memiliki resiko yang sama untuk
terjadinya kanker kulit, semua tergantung pada aktifitas ( terpapar sinar
UV) atau pekerjaan.
d. Pekerjaan.
Orang yang paling beresiko adalah orang yang berkulit cerah,
berambut merah yang nenek moyangnya berdarah celtic atau orang
dengan warna kulit merah muda atau cerah di samping orang yang
sudah lama terkena sinar matahari tanpa terjadi perubahan warana
kulit menjadi coklat kekuningan.
Populasi lain yang beresiko adalah para pekerja di luar
rumah (seperti petani, pelaut dan pelayan) orang - orang yang terpajan
sinar matahari untuk suatu periode waktu, Para pekerja yang
mengalami kontak dengan zat-zat tertentu (senyawa arsen, netra, batu
bara, terserta, aspal dan parafin) juga termasuk dalam kelompok yang
beresiko.
2. Keluhan Utama.
Sesuai tanda dan gejala dan disertai nyeri.
3. Riwayat penyakit saat ini.
Adanya benjolan pada lokasi kanker (leher, wajah dan exstremitas)
perubahan tahi lalatyang semakin meluas dan koreng yang tak sembuh-
sembuh.

20
4. Riwayat penyakit dahulu.
Orang yang menderita sikatriks akibat luka bakar yang berat dapat
mengalami kanker kulit setelah 20 hingga 40 tahun kemudian.Ulkus
yang lama pada ekstrenitas bahwa juga dapat menjadi lokasi asal kanker
kulit.
5. Riwayat penyakit keluarga.
Ada tidaknya dari pihak keluarga yang mengalami hal yang sama
pada pasien.
6. Pemeriksaan fisik.
a. Tanda- tanda vital.
Tekanan darah, nadi, respirasi cenderung mengalami penurunan
karena proses metastasis kanker yang mempegaruhi system tubuh dan
pada suhu mengalami peningkatan karna sebagai tanda inflamasi.
b. Pemeriksaan persistem (B1- B6)
1) B1 (pernapasan)
Kanker kulit pada stadium awal tidak mempegaruhi system
pernapasan, namun pada stadium 3 atau sudah metastasis di paru-
paru makan pernapasan akan mengalami gangguan yang di tandai
dengan sesak.
2) B2 (cardiovaskuler)
Ada beberapa gangguan diantaranya ketika kanker
bermetatasis melalui pembuluh darah makan system kerja jantung
akan terganggu.
3) B3 ( persarapan)
Pusing, nyeri, atau derajat nyeri bervariasi mis : ketidak
nyamanan ringan sampai nyeri berat (dihubungkan dengan proses
penyakit).
4) B4 (perkemihan)
Perubahan pada pola defekasi, mis : Perubahan eliminasi
urinarius, nyeri / rasa terbakar pada saat berkemih, hematuri, sering
berkemih.

21
5) B5 (pencernaan)
Tergantung pada proses metastasis kanker. Biasanya
ditemukan perdarahan pada feses.
6) B6 (muskulosletal)
Biasanya ditemukan pada kulit bagian ekstremitas,
sehingga rasa nyeri di ekstremitas ditemukan.
c. Pemeriksaan integument (pemeriksaan tambahan)
Pada integument pemeriksaan didapat sesuai tanda gejala kanker
kulit yang telah disebutkan.
3.1.2 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan agen injuri fisik, biologi, kimia.
2. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan, proses
penyakit.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan proses pembedahan.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit, proses pembedahan.
5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan, proses pembedahan.
3.1.3 Intervensi Keperawatan
1. Nyeri akut berhubungan denganagen injuri fisik, biologi, kimia
Hasil yang diharapkan:
a. Menyatakan/menunjukkan nyeri hilang
b. Menunjukkan kemampuan untuk membantu dalam tindakan
kenyamanan umum dan mampu untuk tidur/istirahat dengan cepat
Intervensi:
a. Kaji nyeri, lokasi, karakteristik, intensitas / skala
Rasional: membantu evaluasi derajat ketidaknyamanan
b. Berikan suasana yang tenang
Rasional: meningkatkan istirahat pasien
c. Ajarkan penggunaan teknik relaksasi
Rasional: membantu pasien untuk istirahat lebih efektif dan
menurunkan nyeri serta ketidaknyamanan.
d. Berikan obat sesuai indikasi, contoh : analgetik
Rasional: menghilangkan nyeri, meningkatkan istirahat.

22
2. Gangguan integritas kulit berhubungan dengan pembedahan, proses
penyakit.
Hasil yang diharapkan :
Mempertahankan integritas kulit
Menunjukkan perilaku/teknik untuk meningkatkan penyembuhan/
mencegah kerusakan kulit
Intervensi:
a. Inspeksi kulit dan tingkat kerusakannya
Rasional: mengetahui seberapa jauh kerusakan yang terjadi pada kulit
b. Rawat luka aseptik
Rasional: mencegah kerusakan kulit lebih lanjut dan mencegah
infeksi
c. Ajarkan pentingnya nutrisi/cairan adekuat
Rasional: perbaikan nutrisi dan hidrasi akan memperbaiki kondisi
kulit.
d. Kolaborasi pemberian antibiotik dan anti inflamasi
Rasional: mencegah dan mengurangi infeksi serta peradangan yang
lebih lanjut.
3. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan proses pembedahan
Hasil yang diharapkan:
Pasien lebih percaya diri dalam menginterpretasikan kondisi
tubuhnya
Intervensi:
a. Kaji perubahan diri pasien
Rasional : mengidentifikasi perasaan dan metode koping pasien
terhadap persepsi diri negatif
b. Berikan penguatan positif terhadap kemajuan kesehatan
Rasional : meningkatkan perilaku koping positif
c. Anjurkan pada keluarga untuk memberi motivasi pada pasien
Rasional : pasien dapat termotivasi
d. Kolaborasi dengan keluarga untuk selalu memberi semangat dan
dukungan pada pasien

23
Rasional : meningkatkan semangat pasien bahwa dirinya masih
berharga di tengah keluarga.
4. Kurang pengetahuan berhubungan dengan penyakit dan proses
pembedahan
Hasil yang diharapkan :
a. Menyatakan pemahaman kondisi/proses penyakit serta
pengobatannya.
b. Menyatakan pemahaman tentang prosedur dan alasan tindakan dan
terapi.
Intervensi :
a. Kaji pengetahuan pasien tentang proses penyakit dan proses
pembedahan yang akan dilakukan
Rasional : mengetahui informasi apa yang belum diketahui pasien
b. Berikan informasi dengan tepat
Rasional : menambah pemahaman tentang kondisi, proses penyakit
serta pengobatannya
c. Jelaskan tentang penyakit dan proses pembedahan
Rasional : mengisi kekosongan informasi pasien supaya pasien bisa
lebih mengerti
d. Kolaborasi dengan tim medis untuk menjelaskan secara detail
Rasional : pasien menjadi lebih mengerti tentang kondisinya
5. Cemas berhubungan dengan kurang pengetahuan, proses pembedahan
Hasil yang diharapkan :
Tidak ada tanda-tanda kecemasan, melaporkan penurunan durasi dan
episode cemas
Intervensi :
a. Kaji tingkat kecemasan
Rasional : mengetahui tingkat kecemasan pasien
b. Instruksikan pasien untuk relaksasi
Rasional : memberikan kenyamanan
c. Berikan informasi aktual tentang diagnosa, penanganan, dan
prognosis

24
Rasional : menambah pengetahuan pasien
d. Kolaborasi dengan pastoral care
Rasional : memberikan dukungan secara spiritual.
3.1.4 Implementasi Keperawatan
Implementasi merupakan tindakan yang sesuai dengan yang telah
direncanakan, mencangkup tindakan mandiri dan kolaborasi. Rencana
tindakan tersebut diterapkan dalam situasi yang nyata untuk mencapai
tujuan yang ditetapkan dan hasil yang di harapakan. Tindakan
keperawatan harus mendetail. Agar semua tenaga keperwatan dapat
menjalankant ugasnya dengan baik dalam jangka waktu yang telah
ditetapkan dan di lakukan sesuai dengan kondisi pasien.
3.1.5 Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tahap akhir dalam proses keperawatan. Tahap
evaluasidalam proses keperawatan menyangkut pengumpulan data
subjektif dan data objektif yang akan menunjukkan apakah tujuan
asuhan keperawatan sudah tercapai sepenuhnya, sebagian atau belum
tercapai. Serta menentukan masalah apa yang perlu di kaji,
direncanakan, dilaksanakan dan dinilai kembali.
Tujuan tahap evaluasi adalah untuk memberikan umpan balik
rencana keperawatan, menilai, meningkatkan mutu asuhan keperawatan
melalui perbandingan asuhan keperawatan yang diberikan serta hasilny
a dengan standar yang telah ditetapkan lebih dulu. Pada tahap evaluasi
yang perawat lakukan adalah melihat apakah masalah yang telah diatasi
sesuai dengan kriteria waktu yang telah ditetapkan.
3.2 Tinjauan Kasus
Tn. K umur 55 tahun, pekerjaan petani, dan sering kontak dengan
sinar ultraviolet. Pada tanggal 15 maret 2014 datang ke puskesmas dengan
keluhan-keluhan kulit terasa gatal, nyeri seperti terbakar didaerah abdomen
kanan atas, tampak adanya lesi, bersisik dan hiperpigmentasi yaitu bercak
kehitaman dengan diameter 6cm. Pada tanggal 20 maret 2014 pasien dirujuk
ke rumah sakit. Dari hasil pemeriksaan inspeksi terlihat adanya peningkatan
melanosin di superficial kulit abdomen, palfebra kehitaman, dan wajah

25
terlihat pucat dan tampak meringis, pemeriksaan palpasi abdomen kuadran
kanan atas teraba keras massa sekitar 2cm. pasien menjelaskan sering
merasakan mual, tidak nafsu makan, sehingga berat badan menurun 3kg.
Pemeriksaan penunjang biopsy lesi pada tanggal 21 maret menunjukkan
terjadinya lentigo maligna. Dari hasil laboratorium didapatkan hasil Hb: 11
gr/dl, leukosit : 9103 /µl, SGPT 55 u/l, SGOT 35 u/l. dari pemeriksaan vital
sign : tekanan darah 150/80 mmHg, suhu 36o C, N 110 x/ menit, RR
27x/menit. Pasien menjelaskan bahwa selama di rumah sakit tidak bisa tidur
karena lingkungannya sangat ramai, tidur malam hanya sekitar 4jam dan
tidak pernah tidur siang. Pasien mengatakan mudah lelah saat melakukan
aktivitasnya sehingga tidak dapat melakukan aktivitas bertani lagi. Pasien
terpasang infuse RL dengan 30 TPM.

 Pengkajian
A. Identitas Klien
Nama : Tn. K
Umur : 55 tahun
Pekerjaan : Petani
B. Riwayat Penyakit
 Keluhan Utama: Gatal dan Nyeri di daerah abdomen kanan atas.
 Riwayat Penyakit Sekarang: Klien menjelaskan sering merasakan mual,
tidak nafsu makan, dan tidak bisa tidur selama di rumah sakit.
C. Data Dasar Pengkajian Pasien
 Aktivitas dan istirahat
- Akitivitas: Pasien menyatakan mudah lelah saat melakukan aktivitas
sehingga tidak dapat melakukan aktivitas bertani lagi. Hb: 11 gr/dl.
- Istirahat: pasien menjelaskan bahwa selama rumah sakit tidak bias tidur
karena lingkungan sangat ramai, tidur malam hanya sekitar 4 jam dan
tidak pernah tidur siang. Palpebra kehitaman.
 Kenyamanan
Pasien mengeluh terasa gatal, nyeri seperti terbakar di daerah abdomen
kanan atas.

26
 Sirkulasi
Wajah pasien terlihat pucat dengan tekanan darah 150/80 mmHg
 Pernafasan
RR pasien meningkat yaitu 27 x/i
 Makanan/ cairan
Pasien menjelaskan sering mual, tidak nafsu makan sehingga berat badan
menurun 3 kg. Pasien terpasang infuse RL dengan 30 TPM.
D. Pemeriksann Fisik
 Pemeriksaan inspeksi terlihat adanya peningkatan melanosin di superficial
kulit abdomen, palpebra kehitaman, dan wajah terlihat pucat.
 Pemeriksaan palpasi abdomen kuadran kanan atas teraba keras massa
sekitar 2 cm.
E. Vital Sign
TD normal Nadi normal RR normal Suhu
(110/70-135/90 (60-100 x/i) (16-24 x/i) (36,5-37,5 oC)
mmHg)
150/80 mmHg 110 x/i 27 x/i 36 oC

F. Pemeriksaan Penunjang
 21 maret 2014 : Biopsy lesi menunjukkan terjadinya lentigo maligna
 Hasil laboratorium 13 maret 2014 :
Hb Leukosit SGPT SGOT
normalpria (14-18 normaldewasa normal (5-41 normal
gr/dl) (4000- u/l ) ( 5-40 u/l)
10.000/mm3)
11 gr/dl 9103 µ/l 55 u/l 35 u/l

27
 Analisa Data
No Data Etiologi Masalah
1. DS: Kerusakan kulit atau Nyeri Akut
- Klien mengatakan kulit jaringan
terasa gatal dan nyeri
seperti terbakar di daerah
abdomen atas.
DO :
- Tampak meringis
- Lesi
- Pucat
2. DS: Asupan nutrisi Perubahan nutrisi
- Klien mengatakan sering kurang adekuat kurang dari
merasa mual kebutuhan tubuh
- Tidak nafsu makan
DO:
- BB turun 3kg
- Pucat
3. DS: - Destruksi lapisan kulit Kerusakan
DO: integritas kulit
- Bersisik
- Hiperpigmentasi
- Adanya lesi

 Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri berhubungan dengan kerusakan kulit atau jaringan .
2. Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
asupan nutrisi kurang adekuat
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan destruksi lapisan kulit

28
 Intervensi Keperawatan

No Diagnosa Tujuan dan


Intervensi Rasional
Keperawatan Kriteria Hasil

1. Nyeri Setelah dilakukan 1. Observasi nyeri, 1. Informasi


berhubungan perawatan selama frekuensi, durasi dan memberikan dasar
dengan 1x24 jam nyeri intensitas (skala 1-10), untuk mengevaluasi
kerusakan pasien menurun serta tindakan nyeri kebutuhan atau
kulit atau (dalam rentang yang digunakan. keefektifan intervensi.
jaringan normal skala nyeri
2. Evaluasi terapi 2. Ketidak nyamanan
1-3)
tertentu, misal adalah umum (misal
kreteria hasil:
pembedahan, radiasi, nyeri insisi, kulit
 Klien
- tidak
kemoterapi, bioterapi. terbakar, nyeri
terlihat meringis
Ajarkan pada punggung bawah,

- Nyeri klien klien/orang terdekat sakit kepala). Terbantu

berkurang apa yang diharapkan pada prosedur yang


digunakan.
3. Tingkatkan
kenyamanan dasar 3. Meningkatkan
(misal tehnik relaksasi dan
relaksasi, visualisasi, membantu
bimbingan imajinasi) memfokuskan kembali
dan aktivitas hiburan perhatian.
(misal music, televisi).
4. Memungkinkan
4. Dorong klien untuk
penggunaan berpartisipasi secara
keterampilan aktif dan
managemen nyeri meningkatkan rasa
(misal tehnik control.
relaksasi, visualisasi,
5. Tujuannya adalah
bimbingan imajinasi).
control nyeri

29
Tertawa, music dan maksimum dengan
sentuhan terapeutik. pengaruh minimum
pada aktifitas kegiatan
5. Evaluasi
sehari-hari (AKS).
penghilang nyeri atau
control. 6. Untuk
menurunkan nyeri
6. Berikan analgesik
pasien
sesuai indikasi dan
advis dokter.

2. Perubahan Setelah dilakukan 1. Pantau masukan 1. Mengidentifikasi


nutrisi intervensi makan setiap hari, kekuatan/ defisiensi
kurang dari keperawatan biarkan pasien nutrisi.
kebutuhan selama 1x24 jam, menyimpan buku
2. Membantu dan
berhubungan klien bisa harian tentang
mengidentifikasi
dengan menghabiskan makanan sesuai
malnutrisi protein
asupan makananya dengan indikasi.
kalori, khusus nya bila
nutrisi kreteria hasil:
2. Ukur tinggi, berat berat badan dan
kurang adek - Klien
badan dan ketebalan pengukuran
uat menghabiskan
lipatan kulit antropometrik kurang
makanan.
trisep.pastikan jumlah dari norma
- BB tidak turun.
penurunan berat badan
3. Kebutuhan
saat ini. Timbang berat
jaringan metabolik

30
badan setiap hari. ditingkatkan begitu
juga cairan ( untuk
3. Dorong pasien
menghilangkan
untuk makan diet
produk sisa).
tinggi kalori kaya
Sumplemen dapat
nutrien, dengan
memainkan peran
masukan cairan
penting dalam
adekuat. Dorong
mempertahan kan
penggunaan suplemen
masukan kalori dan
dan makan sering/
protein adekuat.
lebih sedikit yang di
bagi – bagi selama 4. Membuat waktu
sehari. makan lebih
menyenangkan yang
4. Ciptakan suasana
dapat meningkat kan
makan malam yang
masukan.
menyenangkan,
dorong pasien untuk 5. Dapat mencegah
berbagi makanan atau menurunkan berat
dengan keluarga/ nya mual, penurunan
teman anoreksia, dan
memungkinkan pasien
5. Dorong
meningkatkan
penggunaan teknik
masukan oral
relaksasi, visualisasi,
bimbingan imajinas,
latihan sedang
sebelum makan.

31
3. Kerusakan Selama dilakukan 1. Pantau kulit 1. Efek kemerahan
intregitas perawatan pasien dengan sering terdapat dapat terjadi pada area
kulit atau tidak mengalami efek samping terapi radiasi. Deskuamasi
jaringan kerusakan kanker, perhatikan kering (kekeringan
berhubungan integritas kulit kerusakan atau pruritus).
dengan dengan kriteria lembatnya
2. Mempertahankan
destruksi hasil: penyembuhan luka.
tanpa komunitas kulit.
lapisan kulit - Pasien tidak Tekankan pentingnya
mengalami melaporkan area 3. Membantu friksi
kerusakan kulit terbuka pada member atau trauma kulit.
- Pasien perawatan.
4. Meningkatkan
mempertahanakan
2. Mandikan klien sirkulasi dan
asupan dan
dengan air hangat dan mencegah makanan
haluaran cairan
sabun ringan. pada kulit atau
secara adekuat
jaringan yang tidak
3. Dorong klien
perlu.
untuk menghindari
menggaruk dan 5. Dapat
menepuk kulit yang meningkatkan iritasi
kering. reaksi secara nyata.

4. Ubah posisi klien


dengan sering.

5. Anjurkan klien
untuk menghindari
krim kulit apapun
kecuali atas izin
dokter.

32
 Implementasi
No Implementasi Keperawatan
Dx
1 1. Mengobservasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas
2. Mengevaluasi ketidaknyamanan dalam menentukan terapi
3. Meningkatkan kenyamanan dasar
4. Menganjurkan penggunaan ketrampilan managemen nyeri
5. Mengevaluasi penghilang nyeri atau control
6. Memberikan analgesik sesuai indikasi dan advis dokter

2 1. Memantau masukan makanan setiap hari


2. Mengukur tinggi, berat badan, dan ketebalan lipatan kulit trisep dan
memastikan jumlah penurunan berat badan saat ini.
3. Menganjurkan pasien untuk makan diet tinggi kalori kaya nutrien, dengan
masukan cairan adekuat.
4. Menciptakan suasana makan malam yang menyenangkan dan dorong
pasien untuk berbagi makanan dengan keluarga/ teman
5. Menganjurkan penggunaan teknik relaksasi, visualisasi.

1. Memantau kulit dengan sering terdapat efek samping terapi kanker,


3.
perhatikan kerusakan.
2. Memandikan klien dengan air hangat dan sabun ringan.
3. Menganjurkan klien untuk menghindari menggaruk dan menepuk kulit
yang kering.
4. Mengubah posisi klien dengan sering.
5. Menganjurkan klien untuk menghindari krim kulit apapun kecuali atas izin
dokter.

 Evaluasi keperawatan

No Dx Evaluasi keperawatan
1 S : klien mengatakan rasa nyeri berkurang
O : Pasien sudah tidak tampak meringis
A : masalah teratasi

33
P : lanjutkan intervensi
2 S : klien mengatakan dapat menghabiskan makanan dan rasa mual mulai
berkurang
O : Berat badan klien meningkat
A : masalah teratasi
P : lanjutkan intervensi
3. S:-
O : Kulit tidak tampak bersisik, tetapi masih hiperpigmentasi dan adanya lesi
A : masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi

34
BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Kanker kulit adalah penyakit dimana kulit kehilangan kemampuannya
untuk generasi dan tumbuh secara normal. Sel-sel kulit yang sehat secara
normal dapat membelah diri secara teratur untuk menggantikan sel-sel kulit
mati dan tumbuh kembali. Kanker kulit adalah jenis kanker yang terletak
dipermukaan kulit, sehingga mudah dikenali. Namun karena gejala awal yang
ditimbul dirasakan tidak begitu menganggu, sehingga penderita terlambat
melakukan pengobatan.
Penyebab pasti dari kanker kulit belum ditemukan secara pasti, namun ada
beberapa factor resiko yang dapat menyebabkan timbulnya kanker kulit
yaitu: Paparan Sinar Ultraviolet (UV), Kulit Putih, Paparan Karsinogen,
Genetik/Faktor Keturunan.
Ada beberapa kelainan kulit yang harus dicurigai sebagai kanker kulit
yaitu: Benjolan kecil yang membesar, Benjolan yang permukaannya tidak rata
dan mudah berdarah, Tahi lalat yang berubah warna, Koreng atau borok dan
luka yang tidak mau sembuh, Bercak kecoklatan, Bercak hitam yang menebal
pada telapak kaki dan tangan.
4.2 Saran
Pajanan sinar matahari merupakan etiologi utama dari pertumbuhan sel
kanker pada kulit, sehingga kita perlu memperhatikan kondisi kulit kita saat
terpapar matahari. Angka kejadia kanker kulit yang terus meningkat harus
mendapat perhatian dari tenaga kesehatan, sehingga edukasi pada masyarakat
dapat tercapai dengan baik.

35
DAFTAR PUSTAKA

David servan. Schreiber.2010. Hidup Bebas Kanker. Bandung : Qanita.

Muttaqin Arif. Sari Kumala. 2011. Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem


Integumen. Jakarta: Salemba Medika.

Made Putri Hendaria, Asmarajaya & Sri Maliawan. 2013. Jurnal Kesehatan PDF
Kanker kulit. Bagian Ilmu Bedah Fakultas Kedokteran Universitas
Udayana/ Rumah Sakit Umum Pusat Sanglah Denpasar.

Smelt.Z, Susanne. C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner &


Suddar. Edisi: 8. Jakarta. EGC.

36

Anda mungkin juga menyukai