Anda di halaman 1dari 6

ENGKAU EMAKKU SELAMANYA

Karya: faizi L. Kaelan


Mak, engakaulah dermaga
Segala perahu segala kapal
Adalah keluh dan pujaku berlabuh
Sepotong cinta milik pelaut ku pancang
Di samudramu dalam jiwa karang

Dari negeri seribu angan


Aku bawakan engkau hikayat angin
Alkisah gelombang setinggi gunung
Dan cerita nelayan melintas samudra

Manakala aku tersesat di benak firaun


Maka engkaulah musa yang membawaku
Menyebrang melintas laut merah
Bila mana aku terkepung bah semesta
Maka engkaulah nuh
Dalam perahu damaimu aku menumpang
Apabila aku hilang arah hancur hati
Maka engkaulah emakku selamanya
Mendekapku dengan cinta
Lalu kalau ku layari segara api
Kemudian aku hangus dan mati
Terdamparlah di pantaimu
Terkuburlah aku di hatimu
BELAJARLAH PADA ALAM
Karya: Gola gong
Belajarlah pada embun, tak pernah mengutuk matahari
Yang menjadikannya tiada, walau denyut masih panjang.
Sementara dinding-dindingku terbatas oleh hari
Melulu umpatan ketidak pastian yang lengang.

Belajarlah pada ikan, yang mengabdi pada nelayan


Yang membuatnya bermakna, walau terbelunggu
Kemiskinan.
Sementara kitab-kitab dan kisah nabi lelah kita baca
Menjadikan alif bata terbentur kedunia kaca.

Belajarlah pada katak, tak cape memanggili hujan


Walau di buru dan berujung di meja-meja restoran.
Sementara aku darah daging illahi, belajar pada rahasia alam
Menjadikanku ada, tak lepas dari sujud malam.
NELAYAN
Karya: Gola gong
Air mata nelayan rasanya asin
Seperti laut selatan yang jadi nyawanya.
Tak pernah mereka tersedu-sedu,
Kecuali pada tuhannya.
: mengharapkan langit mendung
Menadahkan kerongkongan pada hujan
( aku tau, nelayan tak makan udang yang di tangkapnya)

Mimpi nelayan rasanya getir,


Seperti ikan menggelepar di jala
Tak pernah mereka dihargai layak,
Kecuali tambal sulam sepadan sepiring nasi
: hidup adalah amanah
Harus disyukuri pada mana muasal
( aku tau, nelayan tak pernah melihat mimpinya)

Pantai nelayan rasanya tak berpasir,


Seperti aspal di kota-kota kini.
Tak pernah mereka diajak berembuk,
Tentang ombak dan pohon kelapanya.
: mereka lebih kenal laut, langit,
Siang, malam, ketimbang timbangan tengkulak
(aku kini paham, kenapa nelayan selalu papa)
DIATAS HIMALAYA
Karya : hasan bisri BFC
Mendaki 8.848 km ketinggian
Kukibarkan bendera kerinduan
Sepenuh tiang

Oh, angin selatan


Jadi kibarannya pengetuk hati
Bagi kerinduannya

Biarlah lereng-lereng jadi jalan


Biarlah lembah-lembah jadi jembatan
Biarlah sawah-sawah jadi ikatan
Bagi dua keping hati dengan merah jambu yang sama

Mendaki himalaya
Mengucup puncak dingin salju
Bagai menggali cinta dimatanya
Dengan seluruh sedu

Himalaya ! Himalaya !
Kerinduan dunia akan ketinggianmu
Adalah kerinduanku pada ibu
Kerinduan pada petah petitih
Sebelum kenal sartre, heroklitos dan al Ghazali
Kerinduan pada pelajaran alam
Sebelum tau newton, einstein dan abdus salam
Mendaki 8.848 km ketinggian
Kugelar tenda kasih sepenuh awan
Oh. Angin selatan
Tangkupkan salju kedamaian
bagi ibu dunia
SENANDUNG KECIL PADA ANAK-ANAKKU
Karya : iriani R. Tandy
Tidurlah anakku
Berbantal kedua lengan
Hembuskan nafas yang tersendat-sendat
Di bawah matahari
Kita berbaring daan bertarung sampai
Senja tutup dan perjalanan berakhir

Nyenyak tidurmu
Dalam kantukku bersenandung kecil
Titip rinduku
Ingin segera menjemput kehangatan
Cinta dan matahari
Ketika tiap derap langkah adalah
Detak-detak hari bagi kemenangan harapan
Lagu lantunan jiwaku
Bagai tak henti mengalir
Disepanjang sungai gelisahku

Aku yang pernah mendiami


Tangis semasa kecilmu
Cemeti jagat begitu garang
Mencabuk dan mendera
Luka mengalir dari bilur-bilur jiwa
Dengarlah senandungku
Tidurlah dengan nyenyak
Kita memang harus bertempur
Dalam desah nafas yang berdebu