Anda di halaman 1dari 19

makalah pemasangan infus

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis
kebutuhaan ini memiliki proporsi besar dalam tubuh dengan hampir 90% dari total berat
badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan,
presentase cairan tubuh berbeda berdasarkan usia. Presentase cairan tubuh bayi baru lahir
sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa
55% dari tital berat badan, dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Selain itu, presentase
jumlah cairan tubuh yang bervariasi juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis
kelamin. Jika lemak dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa
mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibandingkan pada pria, karena jumlah lemak
pada tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan lemak pada tubuh pria dewasa.
Salah satu tindakan untuk mengatasi masalah atau gangguan dalam pemenuhan kebutuhan
cairan dan elektrolit adalah dengan pemberian cairan melalui infus. Pemberian cairan melalui
infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena yang dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
makanan.
Infus cairan intravena adalah pemberian sejumlah cairan ke dalam tubuh melalui sebuah
jarum, ke dalam pembuluh vena (pembuluh balik) untuk menggantikan kehilangan cairan
atau zat-zat makanan dari tubuh (Yuda, 2010). Pemberian cairan intravena (Infus) yaitu
memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan
waktu tertentu dengan menggunakan infus set. (Potter, 2005)
Pada umumnya cairan infus intravena digunakan untuk penggantian caian tubuh dan
memberikan nutrisi tambahan, untuk mempertahankan fungsi normal tubuh pasien rawat inap
yang membutuhkan asupan kalori yang cukup selama masa penyembuhan atau setelah
operasi. Selain itu ada pula kegunaan lainnya yakni sebagai pembawa obat-obatan lain.
(Lachman, 2008)
Salah satu tugas penting bidan adalah memberikan pelayanan yang aman dan nyaman bagi
klien. Salah satunya yaitu dengan memberikan cairan infus kepada klien yang sedang
mengalami kekurangan cairan. Seorang bidan memiliki tanggung jawab penuh dalam
memperhatikan status kesehatan dengan memberikan asuhan khususnya pemberian cairan
infus kepada klien.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana cara pemasangan infus?
2. Apakah fungsi dari pemasangan infus?
3. Bagaimanakah pemasangan infus pada An. E umur 12 tahun dengan Demam Thypoid?

C. Tujuan
1. Tujuan umum
Untuk memenuhi tugas Keterampilan Dasar Praktik Klinik Kebidanan di RSUD R.A.
KARTINI JEPARA.
2. Tujuan khusus
a. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemasangan infus.
b. Mahasiswa mampu mengetahui fungsi dari pemasangan infus.

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Kebutuhan Cairan Tubuh Bagi Manusia


Kebutuhan cairan merupakan bagian dari kebutuhan dasar manusia secara fisiologis
kebutuhaan ini memiliki proporsi besar dalam tubuh dengan hampir 90% dari total berat
badan. Sementara itu, sisanya merupakan bagian padat dari tubuh. Secara keseluruhan,
presentase cairan tubuh berbeda berdasarkan usia. Presentase cairan tubuh bayi baru lahir
sekitar 75% dari total berat badan, pria dewasa 57% dari total berat badan, wanita dewasa
55% dari total berat badan, dan dewasa tua 45% dari total berat badan. Selain itu, presentase
jumlah cairan tubuh yang bervariasi juga bergantung pada lemak dalam tubuh dan jenis
kelamin. Jika lemak dalam tubuh sedikit, maka cairan tubuh pun lebih besar. Wanita dewasa
mempunyai jumlah cairan tubuh lebih sedikit dibandingkan pada pria, karena jumlah lemak
pada tubuh wanita dewasa lebih banyak dibandingkan dengan lemak pada tubuh pria dewasa.

B. Faktor Yang Berpengaruh Dalam Pengaturan Cairan


1. Tekanan cairan
Proses difusi dan osmosis melibatkan adanya tekanan cairan.dalam proses osmosis, tekanan
osmotik merupakan kemampuan partikel pelarut untuk menarik larutan melalui membran.
Bila terdapat dua larutan dengan perbedaan konsentrasi maka larutan yang konsentrasi
molekulnya lebih pekat dan tidak dapat bergabung disebut koloit. Sedangkan larutan dengan
kepekatan yang sama dan dapat bergabung, maka larutan itu disebut kristaloit.
Prinsip tekanan osmotik sangat penting dalam proses pemberian cairan intra vena biasanya
larutan yang sering digunakan dalam pemberian infus intravena bersifat isotonik karena
mempunyai konsentrasi yang sama dengan plasma darah. Larutan intravena yang hipotonik,
yaitu larutan yang mempunyai konsentrasi kurang pekat dibanding konsentrasi plasma darah.
Hal ini menyebabkan, tekanan osmotik plasma akan lebih besar dibanding dengan tekanan
osmotik cairan interstisial karena konsentrasi protein dalam plasma lebih besar dibanding
cairan interstisial dan molekul protein lebih besar, sehingga bentuk larutan koloid dan sulit
menembus membran semipermiabel.
Tekanan Hidrostatik adalah kemampuan tiap molekul yang bergerak dalam ruang tertutup.
2. Membran semipermiable merupakan penyaring agar cairan yang bermolekul besar tidak
bergabung. Membran semipermiable ini terdapat pada dinding kapiler pembuluh darah, yang
terdapat diseluruh tubuh sehingga molekul atau zat lain tidak berpindah ke jaringan.

C. Jenis Cairan
1. Cairan zat gizi (nutrien)
Pasien yang istirahat ditempat tidur memerlukan kalori 450 kalori setiap hari. Cairan
nutrien dapat diberikan melalui intra vena dalam bentuk karbohidrat, nitrogen dan vitamin
untuk metabolisme. Kalori yang terdapat dalam cairan nutrien dapat berkisar antara 200-1500
kalori per liter. Cairan nutrien terdiri atas:
a. Karbohidrat dan air, contoh: dekstrosa(glukosa), levulosa (fruktosa), serta invert sugar (1/2
dekstrosa dan ½ levulosa).
b. Asam amino, contoh: amigen, aminosol, dan travamin.
c. Lemak, contoh: lipomul dan liposyn.
2. Blood volume expanders
Blood volume expanders merupakan jenis cairan yang berfungsi meningkatkan volume darah
setelah kehilangan darah atau plasma. Hal ini terjadi pada saat pasien mengalami perdarahan
berat, maka pemberian plasma akan mempertahankan jumlah volume darah. Pada pasien
dengan luka bakar yang berat, sebagian besar cairan akan hilang dari pembuluh darah
didaerah luka. Plasma sangat perlu diberikan untuk menggantikan cairan ini. Jenis blood
volume expanders antara lain: humen serum albumin dan dextran dengan konsentrasi yang
berbeda. Kedua cairan ini mempunyai tekanan osmotik, sehinggan secara langsung dapat
meningkatkan jumlah volume darah.

D. Gangguan/Masalah Dalam Pemenuhan Kebutuhan Cairan


1. Hipovolume atau dehidrasi
Kekurangan cairan eksternal dapat terjadi karena penurunan asupan cairan dan kelebihan
pengeluaran cairan. Tubuh akan merespon kekurangan cairan tubuh dengan mengosongkan
cairan vaskuler. Sebagai kompensasi akibat penurunan cairan vaskuler. Sebagai kompensasi
akibat penurunan cairan interstisial,tubuh akan mengalirkan cairan keluar sel. Pengosongan
cairan ini terjadi pada pasien diare dan muntah.
Kehilangan cairan eksternal yang berlebihan akan menyebabkan volume eksternal
berkurang (hipovolume). Pada keadaan ini,tidak terjadi perpindahan cairan daerah intrasel ke
permukaan, sebab osmolaritasnya sama. Jika terjadi kekurangan cairan eksternal dalam waktu
yang lama, maka kadar urea, nitrogen, serta kreatinin akan meningkat dan menyebabkan
terjadinya perpindahan cairan intrasel ke pembuluh darah. Kekurangan cairan dalam tubuh
dapat terjadi secara lambat atau cepat dan tidak selalu cepat diketahui. Kelebihan asupan
pelarut seperti protein dan klorida / natrium akan menyebabkan ekskresi atau pengeluaran
urine secara berlebihan, serta berkeringat banyak dalam waktu yang lama dan terus menerus.
Kelainan lain yang menyebabkan kelebihan pengeluaran urine adalah adanya gangguan pada
hipotalamus, kelenjar gondok dan ginjal, diare, muntah yang terus menerus, terpasang
drainage dan lain-lain. Macam dehidrasi (kurang volume cairan) berdasarkan derajatnya:
a. Dehidrasi berat
1) Pengeluaran atau kehilangan cairan 4-6 L
2) Serum natrium 159-166 mEq/L
3) Hipotensi
4) Turgor kulit buruk
5) Oliguria
6) Nadi dan pernafasan meningkat
7) Kehilangan cairan mencapai > 10% BB
b. Dehidrasi sedang
1) Kehilangan cairan 2-4 I atau antara 5-10% BB
2) Serum natrium 152-158 mEq/L
3) Mata cekung
c. Dehidrasi ringan,dengan terjadinya kehilangan cairan mencapai 5% BB atau 1,5-2 L
2. Hipervolume atau overhidrasi
Terdapat dua manifrestasi yang ditimbulkan akibat kelebihan cairan yaitu hipervolume
(peningkatan volume darah) dan edema (kelebihan cairan pada interstisial). Normalnya cairan
interstisial tidak terikat dengan air, tetapi elastis dan hanya terdapat di antara jaringan.
Keadaan hipervolume dapat menyebabkan piting edema, merupakan edema yang berada pada
darah perifer atau akan mencekung setelah ditekan pada daerah yang bengkak. Manifestasi
edema paru-paru adalah penumpukan sputum, dispnea, batuk, dan suara ronkhi. Keadaan
edema ini disebabkan oleh gagal jantung yang mengakibatkan peningkatan penekanan pada
kapiler darah paru-paru dan perpindahan cairan ke jaringan paru-paru.

E. Kebutuhan Elektrolit
Elektolit terdapat pada seluruh cairan tubuh. Cairan tubuh mengandung oksigen,
nutrien, dan sisa metabolisme (seperti karbondioksida), yang semuanya disebut dengan ion.
Beberapa jemis garam dalam air akan dipecah dalam bentuk ion elektrolit. Contohmya NaCl
akan dipecah menjadi ion Na dan CI . pecahan elektrolit tersebut merupakan ion yang dapat
menghantarkan arus listrik. Ion yang bermuatan negatif disebut anion sedangkan ion yang
bermuatan positif disebut kation. Contoh kation antara lain natrium, kalium, kalsium, dan
magnesium.
Contoh anion antara lain klorida, bikarbonat, dan fosfat.

F. Pengaturan Elektrolit
1. Pengaturan keseimbangan natrium
Natrium merupakan kation dalam tubuh yang berfungsi dalam pengaturan osmolaritas dan
volume cairan tubuh. Natrium ini paling banyak pada cairan ekstrasel.
2. Pengaturan keseimbangan kalium
Kalium merupakan kation utama yang terdapat dalam cairan intrasel dan berfungsi mengatur
keseimbangan elektrolit. Keseimbangan kalium diatur oleh ginjal dengan mekanisme
perubahan ion natrium dalam tubulus ginjal.
3. Pengaturan keseimbangan kalsium
Kalsium dalam tubuh berfungsi dalam pembentukan tulang, penghantar impuls kontraksi
otot, koagulasi darah (pembekuan darah), dan membantu beberapa enzim pankreas.
4. Pengaturan keseimbangan magnesium
Magnesium merupakan kation dalam tubuh yang terpenting kedua dalam cairan intrasel.
Keseimbanganya diatur oleh kelenjar paratiroid. Magnesium diabsorpsi dari saluran
pencernaan.
5. Pengaturan keseimbangan klorida
Klorida merupakan anion utama dalam cairan ekstrasel, tetapi klorida dapat ditemukan pada
cairan eksternal dan intrasel. Fungsi klorida biasanya bersatu dengan natrium yaitu
mempertahankan keseimbangan tekanan osmotik dalam darah.
6. Pengaturan keseimbangan bikarbonat
Bikarbonat merupakan elektrolit utama dalam larutan buffer (penyangga) dalam tubuh.
7. Pengaturan keseimbangan fosfat (PO4)
Fosfat bersama-sama dengan kalsium berfungsi dalam pembentukan gigi dan tulang. Fosfat
diserap dari saluran pencernaan dan dikeluarkan melalui urine

G. Pemasangan Infus
a. Pemberian Cairan Melalui Pemasangan Infus
Pemberian cairan melalui infus merupakan tindakan memasukkan cairan melalui intravena
yang dilakukan pada pasien dengan bantuan perangkat infus. Tindakan ini dilakukan untuk
memenuhi kebutuhan cairan dan elektrolit serta sebagai tindakan pengobatan dan pemberian
makanan.
b. Tujuan Pemasangan infus
1. Sebagai akses pemberian obat
2. Mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
3. Sebagai makanan bagi pasien yang tidak dapat atau tidak boleh makan melalui mulut
c. Indikasi
Pasien dehidrasi, syok, intoksikasi berat, pra dan pasca bedah, sebelum transfusi darah,
pasien yang tidak bisa atau tidak boleh makan dan minum melalui mulut, pasien yang
memerlukan pengobatan tertentu.
d. Kontraindikasi
1. Inflamasi (bengkak, nyeri demam) dan infeksi di lokasi pemasangan infus
2. Daerah lengan bawah pada pasien gagal ginjal, karena lokasi ini akan digunakan untuk
pemasangan fistula arteri-vena (A-V shunt) pada tindakan hemodialisis (cuci darah)
3. Obat-obatan yang berpotensi iritan terhadap pembuluh vena kecil yang aliran darahnya
lambat (misalnya pembuluh vena di tungkai dan kaki) (Yuda, 2010)
e. Resiko Pemasangan Infus
1. Flebitis (peradangan pembuluh vena)
Tanda-tanda: hangat, merah, bengkak di daerah luka tusukan.
Penyebab: kurangnya aliran darah di sekitar abbocath, gesekan di dalam vena.
Intervensi: ganti abbocath, gunakan kompres hangat, pemberian analgesik anti inflamasi.
2. Hematoma
Yaitu darah mengumpul dalam jaringan tubuh akibat pecahnya pembuluh darah, terjadi
akibat penekanan yang kurang tepat saat memasukkan jarum, atau tusukan berulang pada
pembuluh darah.
Tanda-tanda: tenderness, memar.
Penyebab: vena terembes, jarum tidak pada tempatnya dan darah mengalir.
Intervensi: abbocath dipindahkan, gunakan tekanan dan kompres, cek kembali tempat keluar
darah.
3. Infiltrasi
Yaitu masuknya cairan infus ke dalam jaringan sekitar (bukan pembuluh darah) atau
kebocoran cairan infus ke jaringan sekitar. Terjadi akibat ujung jarum infus melewati
pembuluh darah.
Tanda-tanda: kepucatan, bengkak, dingin, nyeri dan terhentinya tetesan infus.
Intervensi: kaji tingkat keparahan, lepas infus, tinggikan ekstremitas yang terpasang infus.
f. Pedoman Pemilihan Vena
1. Gunakan vena distal terlebih dahulu
2. Gunakan tangan yang tidak dominan jika mungkin
3. Pilih vena yang cukup besar untuk memungkinkan aliran darah yang adekuat
4. Pilih lokasi yang tidak mempengaruhi prosedur atau pembedahan yang direncanakan
5. Pastikan lokasi yang dipilih tidak mengganggu aktivitas pasien
g. Perbedaan Vena dan Arteri
Vena Arteri
- Darah merah gelap Darah merah terang
- Aliran darah pelan Aliran darah cepat, berdenyut
- Katup-katup dititik percabangan Tidak ada katup
- Aliran kearah jantung Aliran menjauhi jantung
- Lokasi superfisial Lokasi dalam dikelilingi otot
- Banyak vena menyuplai satu area Satu arteri menyuplai satu area

h. Tipe Vena yang perlu Dihindari


1. Vena yang telah digunakan sebelumnya
2. Vena yang telah mengalami infiltrasi atau flebitis
3. Vena keras dan sklerotik
4. Vena kaki, karena sirkulasi lambat dan komplikasi sering terjadi
5. Ekstremitas yang lumpuh
6. Vena yang dekat area terinfeksi
7. Vena pada jari, karena mudah terjadi komplikasi (flebitis, infiltrasi) dan dekat dengan
persyarafan
8. Vena yang terletak di bawah vena yang terjadi flebitis dan infiltrasi

i. Pemilihan Abbocath
Pemilihan abbocath, tergantung pada vena yang digunakan. Pemilihan abbocath juga harus
mempertimbangkan kondisi pasien dan jenis cairan yang akan diberikan. Di bawah ini adalah
ukuran abbocath serta penggunaanya:
24-22 : untuk anak-anak dan lansia
24-20 : untuk klien penyakit dalam dan post operasi
18 : untuk pasien operasi dan diberikan transfusi darah
16 : untuk pasien yang trauma dan memerlukan rehidrasi yang cepat.

j. Persiapan Alat pemasangan infus


1. Baki yang telah dialasi
2. Perlak dan pengalas
3. Bengkok
4. Tiang infus
5. Hanscoon
6. Torniquet
7. Kapas alkohol
8. Infus set
9. Cairan infus
10. Abbocath
11. Jam tangan
12. Plester /hipafik
13. Kassa
14. Gunting plester

k. Prosedur pemasangan Infus


1. Memberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2. Menyiapkan alat dan mendekatkan ke pasien
3. Memasang sampiran
4. Mencuci tangan
5. Memasang perlak dan pengalas
6. Memakai sarung tangan
7. Menggantungkan flabot pada tiang infus
8. Membuka kemasan infus set
9. Mengatur klem rol sekitar 2-4 cm dibawah bilik drip dan menutup klem yang ada pada
saluran infus
10. Menusukkan infus set ke dalam flabot infus dan mengisi tabung tetesan dengan cara
memencet tabung tetesan infus hingga setengahnya.
11. Membuka klem dan mengalirkan cairan keluar sehingga tidak ada udara pada selang infus
lalu tutup kembali klem
12. Memilih vena yang akan dipasang infus
13. Meletakkan torniquet 10-12 cm di atas tempat yang akan ditusuk, menganjurkan pasien
menggenggam tangannya
14. Melakukan desinfeksi daerah penusukkan dengan kapas alkohol secara sirkuler dengan
diameter ±5 cm
15. Menusukkan jarum abbocath ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas, dengan
menggunakan tangan yang dominan.
16. Melihat apakah darah terlihat pada pipa abbocath
17. Memasukkan abbocath secara pelan-pelan jarum yang ada pada abbocath, hingga plastik
abbocath masuk semua dalam vena, dan jarum keluar semua
18. Segera menyambungkan abbocath dengan selang infus
19. Melepaskan tourniquet, menganjurkan pasien membuka tangannya dan melonggarkan klem
untuk melihat kelancaran tetesan
20. Merekatkan pangkal jarum pada kulit dengan plester
21. Mengatur tetesan infus
22. Menutup tempat tusukan dengan kassa steril, dan direkatkan dengan plester
23. Mengatur letak anggota badan yang dipasang infus supaya tidak digerak-gerakkan agar
abbocath tidak bergeser
24. Membereskan alat dan merapikan pasien
25. Melepas sarung tangan
26. Mencuci tangan
27. Melakukan dokumentasi

H. Demam Thypoid
1. Definisi
Thypoid adalah penyakit infeksi sistemik akut yang disebabkan infeksi Salmonella
Thypi. Organisme ini masuk melalui makanan dan minuman yang sudah terkontaminasi oleh
feses dan urine yang terinfeksi kuman Salmonella . Di Indonesia, penderita tifus atau disebut
juga demam tifoid cukup banyak tersebar di mana-mana dan ditemukan hampir sepanjang
tahun. Paling sering diderita oleh anak berumur 5 sampai 9 tahun. Kurangnya pemeliharaan
kebersihan merupakan penyebab paling sering timbulnya penyakit tifus. Pola makan yang
tidak teratur dan menyantap makanan yang kurang bersih dapat menyebabkan timbulnya
penyakit ini. (Suriansyah, 2010).
Penyakit ini menular melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman
tifus ini. Tinja yang mengandung kuman tifus ini mencemari air untuk minum maupun untuk
masak dan mencuci makanan. Dapat juga disebabkan karena makanan tersebut disajikan oleh
seorang penderita tifus laten (tersembunyi) yang kurang menjaga kebersihan saat memasak.
(Corwin, 2000)
Seseorang dapat membawa kuman tifus dalam saluran pencernaanya tanpa sakit. Ini
yang disebut dengan penderita laten. Penderita ini dapat menularkan penyakit tifus ini ke
banyak orang apalagi jika dia bekerja dalam menyajikan makanan bagi banyak orang seperti
tukang masak di restoran. (Corwin, 2000)
Penyakit ini menular melalui air dan makanan yang tercemar oleh air seni dan kotoran
penderita. Penularan penyakit tifus terutama dilakukan oleh lalat dan kecoak. Sumber
penularan tifus tidak selalu harus penderita tifus. Ada penderita yang sudah mendapat
pengobatan dan sembuh tetapi di dalam air seni dan kotorannya masih mengandung bakteri.
Penderita ini disebut sebagai pembawa (carrier). Walaupun tidak lagi menderita penyakit
tifus, orang ini masih dapat menularkan penyakit tifus pada orang lain. Penularan tifus dapat
terjadi di mana saja dan kapan saja, biasanya terjadi melalui konsumsi makanan dari luar
apabila makanan atau minuman yang dikonsumsi kurang bersih. (Corwin, 2000)
Penularan dapat terjadi melalui mulut, masuk ke dalam tubuh melalui makanan atau
minuman yang tercemar, masuk ke dalam lubang, ke kelenjar limfoid usus kecil, kemudian
masuk ke dalam peredaran darah. Selama 24 sampai 72 jam setelah kuman masuk, meskipun
belum menimbulkan gejala, tetapi kuman telah mencapai organ-organ hati, kandung empedu,
limpa, sumsum tulang dan ginjal. Masa inkubasi penyakit ini rata-rata 7 sampai 14 hari.
Manifestasi klinik pada anak umumya bersifat lebih ringan dan lebih bervariasi. Demam
adalah gejala yang paling konstan di antara semua penampakan klinis.( Suriansyah, 2010).
2. Tanda gejala Thypoid antara lain:
a. Demam dengan panas yang makin lama makin tinggi, gejala ini biasanya terjadi pada
minggu kedua dan ketiga selam 7-10 hari dan baru turun perlahan-lahan pada minggu
keempat.
b. Selama demam tinggi penderita biasanya sering mengigau, dan ingatannya menurun atau
tidak dapat berfikir secara jelas.
c. Hilangnya nafsu makan, sehingga menyebabkan badan terasa lemas dan berat badan
berkurang.
d. Otot terasa nyeri.
e. Buang air besar tidak teratur, sembelit dan diare.
f. Sakit kepala yang hebat, menggigil dan keluar keringat dingin.
g. Mual, muntah-muntah, dan perut terasa sakit.
h. Batuk dan perdangan pada cabang tenggorokan.
i. Timbul beberapa bercak kecil berwarna merah dadu di daerah dada dan perut.
3. Penanganan demam thypoid:
a. Pengobatan penderita Demam Tifoid di Rumah Sakit terdiri dari pengobatan suportif
meliputi istirahat dan diet, medikamentosa, terapi penyulit (tergantung penyulit yang terjadi).
Istirahat bertujuan untuk mencegah komplikasi dan mempercepat penyembuhan. Pasien harus
tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurag lebih selama 14 hari.
Mobilisasi dilakukan bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien.
b. Diet dan terapi penunjuang dilakukan dengan pertama, pasien diberikan bubur saring,
kemudian bubur kasar dan akhirnya nasi sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien. Namun
beberapa penelitian menunjukkan bahwa pemberian makanan tingkat dini yaitu nasi dengan
lauk pauk rendah selulosa (pantang sayuran dengan serat kasar) dapat diberikan dengan
aman. Juga perlu diberikan vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien.
c. Pada penderita penyakit tifus yang berat, disarankan menjalani perawatan di rumah sakit.
Antibiotika umum digunakan untuk mengatasi penyakit tifus. Waktu penyembuhan bisa
makan waktu 2 minggu hingga satu bulan.
d. Tifus dapat berakibat fatal. Antibiotika, seperti ampicillin, kloramfenikol, trimethoprim-
sulfamethoxazole, dan ciproloxacin sering digunakan untuk merawat demam tipoid di
negara-negara barat. Obat-obat pilihan pertama adalah kloramfenikol, ampisilin/amoksisilin
dan kotrimoksasol. Obat pilihan kedua adalah sefalosporin generasi III. Obat-obat pilihan
ketiga adalah meropenem, azithromisin dan fluorokuinolon. Kloramfenikol diberikan dengan
dosis 50 mg/kg BB/hari, terbagi dalam 3-4 kali pemberian, oral atau intravena, selama 14
hari. Bilamana terdapat indikasi kontra pemberian kloramfenikol, diberi ampisilin dengan
dosis 200 mg/kgBB/hari, terbagi dalam 3-4 kali. Pemberian, intravena saat belum dapat
minum obat, selama 21 hari, atau amoksisilin dengan dosis 100 mg/kgBB/hari, terbagi dalam
3-4 kali. Pemberian, oral/intravena selama 21 hari kotrimoksasol dengan dosis (tmp) 8
mg/kbBB/hari terbagi dalam 2-3 kali pemberian, oral, selama 14 hari.
e. Pada kasus berat, dapat diberi seftriakson dengan dosis 50 mg/kg BB/kali dan diberikan 2
kali sehari atau 80 mg/kg BB/hari, sekali sehari, intravena, selama 5-7 hari. Pada kasus yang
diduga mengalami MDR, maka pilihan antibiotika adalah meropenem, azithromisin dan
fluoroquinolon. (Widodo Judarwanto, 2012 )

BAB III
TINJAUAN KASUS
A. Kasus
Pengkajian dilakukan pada:
Hari : Rabu
Tanggal : 17 Desember 2014
Jam : 13.50 WIB
Tempat : Ruang IGD
No CM : 540869
1. Data Subjektif
Identitas pasien
Nama : An. E
Umur : 12 tahun
Pendidikan : Belum tamat SD
Suku/Bangsa : Jawa/Indonesia
Agama : Islam
Pekerjaan : Pelajar
Alamat : Desa Bondo RT 1/ RW 2
Keluhan : An. E mengeluh pusing, mual, dan nyeri
2. Data Objektif
a. Keadaan Umum : Lemah
b. Kesadaran : Cukup Composmentis
c. Status emosional : stabil
d. Tanda-Tanda Vital:
- TD 100/80 mmHg,
- S 370C,
- RR 22x/menit,
- N 90x/menit.
e. Status present
1) Kepala
mbut : bersih, warna hitam, tidak berketombe
uka : Tidak pucat, tidak oedem
ata : conjungtiva tidak anemis, sklera tidak ikterik
dung : bersih tidak ada sekret
linga : bersih , tidak ada serumen
ulut : tidak ada sariawan, gigi tidak berlubang, tidak ada karies gigi
2) Leher : tidak ada pembesaran kelenjar tiroid, dan tidak ada
pembesaran vena jugularis.
3) Dada : simetris, tidak ada retraksi dinding dada
4) Aksila : tidak ada benjolan
5) Punggung : Tidak ada lordosis, kifosis, dan skoliosis.
6) Kulit : warna sawo matang dan tidak ada parut bekas luka, turgor
kulit normal.
7) Ekstremitas
 Atas : tidak ada kelainan bentuk, tidak oedem
 Bawah : tidak ada kelainan bentuk, tidak oedem
f. Pemeriksaan Penunjang
Hemoglobin : 14,3 gr/dl ( P : 12-16 gm/dl , L : 14-18 gr/dl )
Trombosit : 188.000 mm3 ( 150.000 – 400.000 mm3 )
Hematokrit : 43,8 % ( P : 36-47 % , L : 40-54 % )
Leukosit : 5100 mm3 ( 4000 – 10.000 mm3 )
Widal :
Salmonella Typhi O : 1/320 (+)
Salmonella Typhi H : Negatif

B. Analisis Kasus
1. Perencanaan:
1) Periksa TTV: TD, S, N, RR
2) Kolaborasi dengan dokter
3) Pasang infus RL

2. Implementasi
Hari/tanggal/ Pelaksanaan Evaluasi
Jam
Rabu, 171. Memeriksa tanda-tanda vital DS:
Desember An. E mengeluh pusing,
2014 mual, nyeri
jam 13. 45 DO:
- TD:100/80 mmHg
- N: 90x/menit
- RR: 22x/menit
- S: 370C

2. Kolaborasi dengan dokter DS: -


DO:
Advise dokter:
- Infus RL 20 tpm
- Infus lanjutan:
2 A ½N 20 tpm
- Cefotaxime 2x1 gr
- Ranitidin 2x1
- Pamol 3x1
Jam 13.50 3. Pemasangan infus RL
a. Persiapan alat DS:-
1. Infus set DO:
2. Cairan infus (RL) - Infus terpasang di tangan
3. Sarung tangan kiri dengan cairan infus
4. Abocath RL 20 tpm
5. Tourniquet
6. Kapas alkohol
7. Hipafik
8. Tiang infus
9. Perlak dan pengalas
b. Prosedur pelaksanaan:
1. Menyapa pasien
2. Memberi penjelasan pada pasien bahwa
akan dipasang infus
3. Mengatur posisi pasien
4. Menyiapkan alat
5. Mencuci tangan
6. Membuka kemasan infus set
7. Memasukkan infus set ke flabot infus
8. Menggantungkan flabot pada tiang infus
9. Mengisi selang infus sampai batas yang
ada
10. Memastikan tidak ada gelembung udara di
dalam selang infus
11. Membuang udara dengan cara membiarkan
mengalir melalui selang infus
12. Memilih vena yang akan dipasang infus
13. Memasang pembendung/torniquet
14. Memakai sarung tangan
15. Mendesinfeksi daerah penusukan dengan
gerakan sirkuler
16. Menusukkan jarum tepat mengenai vena
17. Mengambil jarum didalam abbocath, lepas
pembendung, hubungkan infus set kedalam
abbocath, buka klem, alirkan cairan infus
18. Memfiksasi jarum dengan hipafik
19. Mengatur dan menghitung tetesan infus
20. Membereskan alat dan merapikan pasien
21. Melepaskan sarung tangan dan mencuci
tangan.

3. Catatan perkembangan
Hari/Tanggal Evaluasi
/Jam S O A P
Rabu, 17 An. E- TD:100/80mmHg An. E umur 12
- Evaluasi KU,
Desember mengeluh - N: 80 x/menit tahun dengan TTV
2015 jam pusing, - S: 370C Demam Thypoid- Lakukan
14.00 WIB mual, dan- RR: 22x/menit pemeriksaan
nyeri - Infus RL 20 tpm penunjang
terpasang di tangan
kiri
BAB IV
PEMBAHASAN

Dari kasus diatas, pemasangan infus yang dilakukan pada An. E bertujuan untuk
mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh. Tindakan ini
dilakukan karena An E mengalami penyakit demam thypoid. Infeksi pada mukosa usus akan
menyebabkan makanan tidak dapat diserap, hal ini menyebabkan tekanan osmotik dalam
rongga usus meninggi, sehingga terjadi pergeseran cairan dan elektolit kedalam rongga usus,
isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus mengeluarkannya, sehingga dapat
menyebabkan resiko kekurangan cairan dan elektrolit (dehidrasi). Oleh karena itu perlu
dilakukan pemasangan infus agar An. E tidak mengalami dehidrasi. Pemasangan infus
dilakukan pada tanggal 17 Desember 2014 pukul 13.50 WIB di Ruang IGD. Infus dipasang
pada vena di tangan kiri An. E dengan cairan infus RL dengan tetesan 20 tetes permenit.
BAB IV
PENUTUP

A. Kesimpulan
Infus adalah memasukkan cairan atau obat langsung ke dalam pembuluh darah vena
dalam jumlah dan waktu tertentu dengan menggunakan infus set. Tujuannya adalah
1. Sebagai akses pemberian obat
2. Mengganti dan mempertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit tubuh
3. Sebagai makanan bagi pasien yang tidak dapat atau tidak boleh makan melalui mulut.
An. E umur 12 tahun dipasang infus dengan diagnosa demam thypoid. Pemasangan infus
dilakukan pada tanggal 17 Desember 2014 pukul 13.50 WIB di Ruang IGD. Infus dipasang
pada vena di tangan kiri An. E dengan cairan infus RL dengan tetesan 20 tetes permenit.

B. Saran
Semoga makalah ini dapat berguna bagi penulis dan lahan praktek.

DAFTAR PUSTAKA

Uliyah, Musrifatul dan A. Aziz Alimul Hidayat. 2008. Keterampilan Dasar Praktik Klinik
untuk Bidan. Jakarta: Salemba Medika.
C Long Barbara (1996). Keperawatan Medikal Bedah. Bandung: Yayasan IAPK.
Jan Tambayong (2000). Patofisiologi Untuk Perawat. Jakarta: EGC.