Anda di halaman 1dari 21

KEPERAWATAN GAWAT DARURAT

LAPORAN PENDAHULUAN TRAUMA ABDOMEN


DI INSTALASI GAWAT DARURAT
RSUP SANGLAH DENPASAR

Oleh:
NI KADEK DIAH WIDIASTITI KUSUMAYANTI
NIM. 1902621006

PROGRAM STUDI SARJANA KEPERAWATAN DAN PROFESI NERS


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS UDAYANA
DENPASAR
2019
A. KONSEP DASAR PENYAKIT
1. DEFINISI

Trauma adalah cedera fisik dan psikis, kekerasan yang mengakibatkan cedera. Trauma
abdomen didefinisikan sebagai kerusakan terhadap struktur yang terletak diantara
diafragma dan pelvis yang diakibatkan oleh luka tumpul atau yang menusuk (Ignativicus
& Workman, 2006).

Trauma Abdomen adalah terjadinya atau kerusakan pada organ abdomen yang dapat
menyebabkan perubahan fisiologi sehingga terjadi gangguan metabolisme, kelainan
imonologi dan gangguan faal berbagai organ (Yudhautama, 2013).

Sehingga dapat disimpulkan bahwa trauma abdomen adalah terjadinya kerusakan pada
organ abdomen yang diakibatkan oleh trauma tumpul ataupun menusuk yang dapat
menyebabkan gangguan metabolisme, perubahan fisiologis, dan psikologis.

2. EPIDEMIOLOGI

Trauma adalah penyebab kematian ketiga di Amerika serikat setelah aterosklerosis dan
kanker. Trauma abdomen menduduki peringkat ketiga dari seluruh kejadian trauma dan
sekitar 25% dari kasus memerlukan tindakna operasi (Hemmila, 2008)

3. ETIOLOGI

Penyebab trauma abdomen berdasarkan klasifikasinya:

1) Penyebab trauma tumpul abdomen:


a. Terkena kompresi atau tekanan dari luar tubuh
b. Hancur (tertabrak mobil)
c. Terjepit sabuk pengaman karna terlalu menekan perut
d. Cidera akselerasi / deserasi karena kecelakaan olah raga

Pasien dengan trauma tumpul adalah suatu tantangan karena adanya potensi cedera yang
tersembunyi yang mungkin sulit dideteksi.. insiden komplikasi berkaitan dengan trauma
yang penanganannya terlambat lebih besar dari insiden yang berhubungan dari luka tusuk.
Khususnya cedera tumpul yang mengenai hati, limpa, ginjal, atau pembuluhdarah, yang
dapat menimbulkan kehilangan darah substansial kedalam orgam perineum (Brunner &
Suddarth, 2001).

2
2) Penyebab truma tembus abdomen:
a. Luka akibat terkena tembakan
b. Luka akibat tikaman benda tajam
c. Luka akibat tusukan
4. PATOFISIOLOGI

Bila suatu kekuatan eksternal dibenturkan pada tubuh manusia (akibat kecelakaan
lalulintas, penganiayaan, kecelakaan olah raga dan terjatuh dari ketinggian), maka
beratnya trauma merupakan hasil dari interaksi antara faktor – faktor fisik dari kekuatan
tersebut dengan jaringan tubuh. Berat trauma yang terjadi berhubungan dengan
kemampuan obyek statis (yang ditubruk) untuk menahan tubuh. Pada tempat benturan
karena terjadinya perbedaan pergerakan dari jaringan tubuh yang akan menimbulkan
disrupsi jaringan. Hal ini juga karakteristik dari permukaan yang menghentikan tubuh
juga penting. Trauma juga tergantung pada elastitisitas dan viskositas dari jaringan tubuh.
Elastisitas adalah kemampuan jaringan untuk kembali pada keadaan yang sebelumnya.
Viskositas adalah kemampuan jaringan untuk menjaga bentuk aslinya walaupun ada
benturan. Toleransi tubuh menahan benturan tergantung pada kedua keadaan tersebut..
Beratnya trauma yang terjadi tergantung kepada seberapa jauh gaya yang ada akan dapat
melewati ketahanan jaringan. Komponen lain yang harus dipertimbangkan dalam
beratnya trauma adalah posisi tubuh relatif terhadap permukaan benturan. Hal tersebut
dapat terjadi cidera organ intra abdominal yang disebabkan beberapa mekanisme :

 Meningkatnya tekanan intra abdominal yang mendadak dan hebat oleh gaya tekan
dari luar seperti benturan setir atau sabuk pengaman yang letaknya tidak benar dapat
mengakibatkan terjadinya ruptur dari organ padat maupun organ berongga.
 Terjepitnya organ intra abdominal antara dinding abdomen anterior dan vertebrae atau
struktur tulang dinding thoraks.
 Terjadi gaya akselerasi – deselerasi secara mendadak dapat menyebabkan gaya robek
pada organ dan pedikel vaskuler.
5. KLASIFIKASI

Berdasarkan mekanisme trauma, dibagi menjadi 2 yaitu :

a. Trauma tumpul (blunt injury)

3
Suatu pukulan langsung, misalkan terbentur stir ataupun bagian pintu mobil yang melesak
ke dalam karena tabrakan, bisa menyebabkan trauma kompresi ataupun crush
injury terhadap organ viscera. Hal ini dapat merusak organ padat maupun organ
berongga, dan bisa mengakibatkan ruptur, terutama organ-organ yang distensi (misalnya
uterus ibu hamil), dan mengakibatkan perdarahan maupun peritornitis. Trauma tarikan
(shearing injury) terhadap organ viscera sebenarnya adalah crush injury yang terjadi bila
suatu alat pengaman (misalnya seat belt jenis lap belt ataupun komponen pengaman
bahu) tidak digunakan dengan benar. Pasien yang cedera pada suatu tabrakan motor bisa
mengalami trauma decelerasi dimana terjadi pergerakan yang tidak sama antara suatu
bagian yang terfiksir dan bagian yang bergerak, seperti rupture lien ataupun ruptur hepar
(organ yang bergerak) dibagian ligamentnya (organ yang terfiksir). Pemakaian air-
bag tidak mencegah orang mengalami trauma abdomen. Pada pasien-pasien yang
mengalami laparotomi karena trauma tumpul, organ yang paling sering kena adalah lien
(40-55%), hepar (35-45%), dan usus (5-10%). Sebagai tambahan, 15% nya mengalami
hematoma retroperitoneal.
b. Trauma tajam (penetration injury)
Luka tusuk ataupun luka tembak (kecepatan rendah) akan mengakibatkan kerusakan
jaringan karena laserasi ataupun terpotong. Luka tembak dengan kecepatan tinggi akan
menyebabkan transfer energi kinetik yang lebih besar terhadap organ viscera, dengan
adanya efek tambahan berupa temporary cavitation, dan bisa pecah menjadi fragmen
yang mengakibatkan kerusakan lainnya. Luka tusuk tersering mengenai hepar (40%),
usus halus (30%), diafragma (20%), dan colon (15%). Luka tembak menyebabkan
kerusakan yang lebih besar, yang ditentukan oleh jauhnya perjalanan peluru, dan berapa
besar energy kinetiknya maupun kemungkinan pantulan peluru oleh organ tulang,
maupun efek pecahan tulangnya. Luka tembak paling sering mengenai usus halus (50%),
colon (40%), hepar (30%) dan pembuluh darah abdominal (25%).
Trauma pada abdomen dibagi lagi menjadi 2 yaitu trauma pada dinding abdomen dan
trauma pada isi abdomen.
a. Trauma pada dinding abdomen
Trauma dinding abdomen dibagi menjadi kontusio dan laserasi.
1) Kontusio dinding abdomen disebabkan trauma non-penetrasi.
Kontusio dinding abdomen tidak terdapat cedera intra abdomen, kemungkinan terjadi
eksimosis atau penimbunan darah dalam jaringan lunak dan masa darah dapat
menyerupai tumor.
4
2) Laserasi, jika terdapat luka pada dinding abdomen yang menembus rongga abdomen
harus di eksplorasi (Sjamsuhidayat, 1997). Atau terjadi karena trauma penetrasi.
b. Trauma pada isi abdomen
Sedangkan trauma abdomen pada isi abdomen, menurut Suddarth & Brunner (2002)
terdiri dari:
1) Perforasi organ viseral intraperitoneum
Cedera pada isi abdomen mungkin di sertai oleh bukti adanya cedera pada dinding
abdomen.
2) Luka tusuk (trauma penetrasi) pada abdomen
Luka tusuk pada abdomen dapat menguji kemampuan diagnostik ahli bedah.
3) Cedera thorak abdomen
Setiap luka pada thoraks yang mungkin menembus sayap kiri diafragma, atau sayap
kanan dan hati harus dieksplorasi (Sjamsuhidayat, 1998).
6. MANIFESTASI KLINIS

Menurut Scheets (2002), secara umum seseorang dengan trauma abdomen menunjukkan
manifestasi sebagai berikut :

1) Laserasi, memar,ekimosis
2) Hipotensi
3) Tidak adanya bising usus
4) Hemoperitoneum
5) Mual dan muntah
6) Adanya tanda “Bruit” (bunyi abnormal pd auskultasi pembuluh darah, biasanya
pd arteri karotis),
7) Nyeri
8) Pendarahan
9) Penurunan kesadaran
10) Sesak
11) Tanda Kehrs adalah nyeri di sebelah kiri yang disebabkan oleh perdarahan
limfa.Tanda ini ada saat pasien dalam posisi recumbent.
12) Tanda Cullen adalah ekimosis periumbulikal pada perdarahan peritoneal
13) Tanda Grey-Turner adalah ekimosis pada sisi tubuh (pinggang) pada perdarahan
retroperitoneal.

5
14) Tanda coopernail adalah ekimosis pada perineum,skrotum atau labia pada fraktur
pelvis
15) Tanda balance adalah daerah suara tumpul yang menetap pada kuadran kiri atas
ketika dilakukan perkusi pada hematoma limfe
7. PEMERIKSAAN FISIK

Pemeriksaan fisik diarahkan untuk mencari bagian tubuh yang terkena trauma, kemudian
menetapkan derajat cedera berdasarkan hasil analisis riwayat trauma. Pemeriksaan fisik
abdomen harus dilakukan dengan teliti dan sistimatis meliputi inspeksi, auskultasi,
perkusi, dan palpasi. Temuan-temuan positif ataupun negatif didokumentasi dengan baik
pada status. (American College of Surgeons. 2004)

Syok dan penurunan kesadaran mungkin akan memberikan kesulitan pada pemeriksaan
perut. Trauma penyerta kadang-kadang dapat menghilangkan gejala-gejala perut.

a) Inspeksi
Umumnya pasien harus diperiksa tanpa pakaian. Adanya jejas pada dinding perut
dapat menolong ke arah kemungkinan adanya trauma abdomen. Abdomen bagian
depan dan belakang, dada bagian bawah dan perineum diteliti apakah mengalami
ekskoriasi ataupun memar karena alat pengaman, adakah laserasi, liang tusukan,
benda asing yang menancap, omentum ataupun bagian usus yang keluar, dan status
kehamilan. Harus dilakukan log-roll agar pemeriksaan lengkap.
b) Auskultasi
Di ruang IGD yang ramai sulit untuk mendengarkan bising usus, yang penting adalah
ada atau tidaknya bising usus tersebut. Darah bebas di retroperitoneum ataupun
gastrointestinal dapat mengakibatkan ileus, yang mengakibatkan hilangnya bising
usus. Pada luka tembak atau luka tusuk dengan isi perut yang keluar, tentunya tidak
perlu diusahakan untuk memperoleh tanda-tanda rangsangan peritoneum atau
hilangnya bising usus. Pada keaadan ini laparotomi eksplorasi harus segera dilakukan.
Pada trauma tumpul perut, pemeriksaan fisik sangat menentukan untuk tindakan
selanjutnya.3 Cedera struktur lain yang berdekatan seperti iga, vertebra, maupun
pelvis bisa juga mengakibatkan ileus walaupun tidak ada cedera intraabdominal.
Karena itu hilangnya bising usus tidak diagnostik untuk trauma intraabdominal.
(American College of Surgeons. 2004)
c) Perkusi

6
Manuver ini mengakibatkan pergerakan peritoneum dan mencetuskan tanda
peritonitis. Dengan perkusi bisa kita ketahui adanya nada timpani karena dilatasi
lambung akut di kwadran kiri atas ataupun adanya perkusi redup bila ada
hemoperitoneum.2 Adanya darah dalam rongga perut dapat ditentukan dengan shifting
dullness, sedangkan udara bebas ditentukan dengan pekak hati yang beranjak atau
menghilang. (Ahmadsyah,2009)
d) Palpasi
Adanya kekakuan dinding perut yang volunter (disengaja oleh pasien) mengakibatkan
pemeriksaan abdomen ini menjadi kurang bermakna. Sebaliknya, kekakuan perut
yang involunter merupakan tanda yang bermakna untuk rangsang peritoneal. Tujuan
palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri lepas yang kadang-kadang dalam.
Nyeri lepas sesudah tangan yang menekan kita lepaskan dengan cepat menunjukkan
peritonitis, yang bisanya oleh kontaminasi isi usus, maupun hemoperitoneum tahap
awal.
e) Evaluasi luka tusuk
Sebagian besar kasus luka tembak ditangani dengan laparotomi eksplorasi karena
insiden cedera intraperitoneal bisa mencapai 95%. Luka tembak yang tangensial
sering tidak betul-betul tangensial, dan trauma akibat ledakan bisa mengakibatkan
cedera intraperitoneal walaupun tanpa adanya luka masuk. Luka tusukan pisau
biasanya ditangani lebih selektif, akan tetapi 30% kasus mengalami cedera
intraperitoneal. Semua kasus luka tembak ataupun luka tusuk dengan hemodinamik
yang tidak stabil harus di laparotomi segera.
Bila ada kecurigaan bahwa luka tusuk yang terjadi sifatnya superfisial dan nampaknya
tidak menembus lapisan otot dinding abdomen, biasanya ahli bedah yang
berpengalaman akan mencoba untuk melakukan eksplorasi luka terlebih dahulu untuk
menentukan kedalamannya. Prosedur ini tidak dilakukan untuk luka sejenis diatas iga
karena kemungkinan pneumotoraks yang terjadi, dan juga untuk pasien dengan tanda
peritonitis ataupun hipotensi. Akan tetapi, karena 25-33% luka tusuk di abdomen
anterior tidak menembus peritoneum, laparotomi pada pasien seperti ini menjadi
kurang produktif. Dengan kondisi steril, anestesi lokal disuntikkan dan jalur luka
diikuti sampai ditemukan ujungnya. Bila terbukti peritoneum tembus, pasien
mengaiami risiko lebih besar untuk cedera intraabdominal, dan banyak ahli bedah
menganggap ini sudah indikasi untuk melaksanakan laparotomi. Setiap pasien yang
sulit kita eksplorasi secara lokal karena gemuk, tidak kooperatif maupun karena
7
perdarahan jaringan lunak yang mengaburkan penilaian kita harus dirawat untuk
evaluasi ulang ataupun kalau perlu untuk laparotomi.
8. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a. Trauma Tumpul
1. FAST (Focused Assesment Sonography in Trauma)
Individu yang terlatih dengan baik dapat menggunakan USG untuk mendeteksi
adanya hemoperitoneum. Dengan adanya peralatan khusus di tangan mereka yang
berpengalaman, ultrasound memliki sensifitas, specifitas dan ketajaman untuk
meneteksi adanya cairan intraabdominal yang sebanding dengan DPL dan CT
abdomen Ultrasound memberikan cara yang tepat, noninvansive, akurat dan
murah untuk mendeteksi hemoperitorium, dan dapat diulang kapanpun.
Ultrasound dapat digunakan sebagai alat diagnostik bedside dikamar resusitasi,
yang secara bersamaan dengan pelaksanaan beberapa prosedur diagnostik maupun
terapeutik lainnya. (American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004)
2. Computed Tomography (CT)
Digunakan untuk memperoleh keterangan mengenai organ yang mengalami
kerusakan dan tingkat kerusakannya, dan juga bisa untuk mendiagnosa trauma
retroperineal maupun pelvis yang sulit di diagnosa dengan pemeriksaan fisik,
FAST, maupun DPL. (American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004)
3. Trauma Tajam
1. Cedera thorax bagian bawah
Untuk pasien yang asimptomatik dengan kecurigaan pada diafragma dan
struktur abdomen bagian atas diperlukan pemeriksaan fisik maupun thorax
foto berulang, thoracoskopi, laparoskopi maupun pemeriksaan CT scan.
2. Eksplorasi local luka dan pemeriksaan serial dibandingkan dengan DPL pada
luka tusuk abdomen depan. Untuk pasien yang relatif asimtomatik (kecuali
rasa nyeri akibat tusukan), opsi pemeriksaan diagnostik yang tidak invasive
adalah pemeriksaan diagnostik serial dalam 24 jam, DPL maupun laroskopi
diagnostik.
3. Pemeriksaan fisik diagnostik serial dibandingkan dengan double atau triple
contrast pada cedera flank maupun punggung
Untuk pasien yang asimptomatik ada opsi diagnostik antara lain pemeriksaan
fisik serial, CT dengan double atau triple contrast, maupun DPL. Dengan
pemeriksaan diagnostic serial untuk pasien yang mula-mula asimptomatik
8
kemudian menjadi simtomatik, kita peroleh ketajaman terutama dalam
mendeteksi cedera retroperinel maupun intraperineal untuk luka dibelakang linea
axillaries anterior. (American College of Surgeon Committee of Trauma, 2004)
4. Pemeriksaan Radiologi
1. Pemeriksaan X-Ray untuk screening trauma tumpul
Rontgen untuk screening adalah Ro-foto cervical lateral, Thorax AP dan pelvis
AP dilakukan pada pasien trauma tumpul dengan multitrauma. Rontgen foto
abdomen tiga posisi (telentang, setengah tegak dan lateral decubitus) berguna
untuk melihat adanya udara bebas dibawah diafragma ataupun udara di luar
lumen diretroperitoneum, yang kalau ada pada keduanya menjadi petunjuk untuk
dilakukan laparatomi. Hilangnya bayangan psoas menunjukkan kemungkinan
cedera retroperitoneal
2. Pemerikasaan X-Ray untuk screening trauma tajam
Pasien luka tusuk dengan hemodinamik yang abnormal tidak memerlukan
pemeriksaan X-Ray pada pasien luka tusuk diatas umbilicus atau dicurigai
dengan cedera thoracoabdominal dengan hemodinamik yang abnormal, rontgen
foto thorax tegak bermanfaat untuk menyingkirkan kemungkinan hemo atau
pneumothorax, ataupun untuk dokumentasi adanya udara bebas intraperitoneal.
Pada pasien yang hemodinamiknya normal, pemasangan klip pada luka masuk
maupun keluar dari suatu luka tembak dapat memperlihatkan jalannya peluru
maupun adanya udara retroperitoneal pada rontgen foto abdomen tidur.
3. Pemeriksaan dengan kontras yang khusus
 Urethrografi
Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, harus dilakukan
urethrografi sebelum pemasangan kateter urine bila kita curigai adanya
ruptur urethra. Pemeriksaan urethrografi digunakan dengan memakai
kateter no.# 8-F dengan balon dipompa 1,5-2cc di fossa naviculare.
Dimasukkan 15-20 cc kontras yang diencerkan. Dilakukan pengambilan
foto dengan projeksi oblik dengan sedikit tarikan pada pelvis.
 Sistografi
Rupture buli-buli intra- ataupun ekstraperitoneal terbaik ditentukan
dengan pemeriksaan sistografi ataupun CT-Scan sistografi. Dipasang
kateter urethra dan kemudian dipasang 300 cc kontras yang larut dalam
air pada kolf setinggi 40 cm diatas pasien dan dibiarkan kontras mengalir
9
ke dalam bulu-bulu atau sampai (1) aliran terhenti (2) pasien secara
spontan mengedan, atau (3) pasien merasa sakit. Diambil foto rontgen
AP, oblik dan foto post-voiding. Cara lain adalah dengan pemeriksaan
CT Scan (CT cystogram) yang terutama bermanfaat untuk mendapatkan
informasi tambahan tentang ginjal maupun tulang pelvisnya. (American
College of Surgeon Committee of Trauma, 2004 : 148)
 CT Scan/IVP
Bilamana ada fasilitas CT Scan, maka semua pasien dengan hematuria
dan hemodinamik stabil yang dicurigai mengalami sistem urinaria bisa
diperiksa dengan CT Scan dengan kontras dan bisa ditentukan derajat
cedera ginjalnya. Bilamana tidak ada fasilitas CT Scan, alternatifnya
adalah pemeriksaan Ivp.Disini dipakai dosis 200mg J/kg bb kontras
ginjal. Dilakukan injeksi bolus 100 cc larutan Jodine 60% (standard 1,5
cc/kg, kalau dipakai 30% 3,0 cc/kg) dengan 2 buah spuit 50 cc yang
disuntikkan dalam 30-60 detik. 20 menit sesudah injeksi bila akan
memperoleh visualisasi calyx pada X-Ray. Bilamana satu sisi non-
visualisasi, kemungkinan adalah agenesis ginjal, thrombosis maupun
tertarik putusnya a.renalis, ataupun parenchyma yang mengalami
kerusakan massif. Nonvisualisasi keduanya memerlukan pemeriksaan
lanjutan dengan CT Scan + kontras, ataupun arteriografi renal atau
eksplorasi ginjal; yang mana yang diambil tergantung fasilitas yang
dimiliki.
 Gastrointestinal
Cedera pada struktur gastrointestinal yang letaknya retroperitoneal
(duodenum, colon ascendens, colon descendens) tidak akan
menyebabkan peritonitis dan bisa tidak terdeteksi dengan DPL.
Bilamana ada kecurigaan, pemeriksaan dengan CT Scan dengan kontras
ataupun pemeriksaan RO-foto untuk upper GI Track ataupun GI tract
bagian bawah dengan kontras harus dilakukan.(American College of
Surgeon Committee of Trauma,2004).
5. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan darah lengkap untuk mencari kelainan pada darah itu sendiri
2) Penurunan hematokrit/hemoglobin
3) Peningkatan Enzim hati: Alkaline fosfat,SGPT,SGOT,
10
4) Koagulasi : PT,PTT
5) MRI
6) Angiografi untuk kemungkinan kerusakan vena hepatik
7) CT Scan
8) Radiograf dada mengindikasikan peningkatan diafragma, kemungkinan
pneumothorax atau fraktur tulang rusuk VIII-X.
9) Scan limfa
10) Ultrasonogram
11) Peningkatan serum atau amylase urine
12) Peningkatan glucose serum
13) Peningkatan lipase serum
14) DPL (+) untuk amylase
15) Penigkatan WBC
16) Peningkatan amylase serum
17) Elektrolit serum
18) AGD
(ENA,2000)
9. DIAGNOSIS/KRITERIA DIAGNOSIS

Masalah sirkulasi merupakan masalah pada primary survey yang sering dihadapi pada
pasien trauma tumpul abdomen. Syok karena perdarahan harus bisa dinilai secepat
mungkin untuk tindakan lebih lanjut. Gejala klinis pada suatu perdarahan bisa belum
terlihat jika kekurangan darah kurang dari 10% dari total volume darah karena pada saat
ini masih dapat dikompensasi oleh tubuh. Bila perdarahan terus berlangsung maka tubuh
tidak mampu lagi mengkompensasinya dan menimbulkan gejala-gejala klinis. Secara
umum, syok hipovolemik karena perdarahan menimbulkan gejala peningkatan frekuensi
jantung dan nadi (takikardi), pengisian nadi yang lemah, kulit dingin dengan turgor yang
jelek, ujung-ujung ekstremitas dingin, dan pengisian kapiler lambat. Ketidakstabilan
hemodinamik yang terjadi pada kondisi syok hipovolemik berupa penurunan curah
jantung, penurunan tekanan darah, peningkatan tahanan pembuluh darah, dan penurunan
tekanan vena sentral. (Mackersie RC, Tiwary AD and SR, 1999). Sebuah penelitian
menyebutkan bahwa hipotensi diidentifikasi sebagai penanda adanya cedera
intraabdomen pada pasien trauma tumpul (Farrath et al., 2012)

11
Penelitian lain juga menyebutkan bahwa GCS, tekanan nadi, frekuensi pernafasan dan
nilai RTS (Revised Trauma Score) telah terbukti berhubungan secara bermakna dengan
adanya cedera intra abdomen (Farrath et al., 2012). Pemilihan penunjang diagnosis di
awal merupakan hal yang sangat penting dalam manajemen trauma tumpul abdomen.
Studi lain juga mengungkapkan bahwa pemeriksaaan fisik abdomen yang tidak normal,
adanya cedera thoraks dan gross hematuria memiliki nilai prediktif yang tinggi untuk
terjadinya cedera intraabdomen(Grieshop NA, Jacobson LE and GA, Thompson CT,
2005)

Penegakan diagnosis cedera intraabdomen pada pasien trauma tumpul abdomen secara
umum berdasarkan anamnesis tentang riwayat trauma, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
penunjang. Pemeriksaan ini dilakukan saat secondary survey dalam penilaian awal pasien
trauma.

10. PENATALAKSANAAN

Menurut Azlina (2013) penatalaksanaan medis trauma abdomen yaitu:

a. Pre Hospital
Pengkajian yang dilakukan untuk menentukan masalah yang mengancam nyawa, harus
mengkaji dengan cepat apa yang terjadi di lokasi kejadian. Paramedik mungkin harus
melihat apabila sudah ditemukan luka tikaman, luka trauma benda lainnya, maka harus
segera ditangani, penilaian awal dilakukan prosedur ABC jika ada indikasi. Jika korban
tidak berespon, maka segera buka dan bersihkan jalan napas.
1. Airway
Dengan kontrol tulang belakang. Membuka jalan napas menggunakan
teknik ‘head tilt chin lift’ atau menengadahkan kepala dan mengangkat dagu,
periksa adakah benda asing yang dapat mengakibatkan tertutupnya jalan napas.
Muntahan, makanan, darah atau benda asing lainnya.
2. Breathing
Dengan ventilasi yang adekuat. Memeriksa pernapasan dengan menggunakan cara
‘lihat-dengar-rasakan’ tidak lebih dari 10 detik untuk memastikan apakah ada
napas atau tidak. Selanjutnya lakukan pemeriksaan status respirasi korban
(kecepatan, ritme dan adekuat tidaknya pernapasan).
3. Circulation

12
Dengan kontrol perdarahan hebat. Jika pernapasan korban tersengal-sengal dan
tidak adekuat, maka bantuan napas dapat dilakukan. Jika tidak ada tanda-tanda
sirkulasi, lakukan resusitasi jantung paru segera. Rasio kompresi dada dan bantuan
napas dalam RJP adalah 30 : 2 (30 kali kompresi dada dan 2 kali bantuan napas).
Penanganan awal trauma non- penetrasi (trauma tumpul)
1. Stop makanan dan minuman
2. Imobilisasi
3. Kirim kerumah sakit.
Penetrasi (trauma tajam)
1. Bila terjadi luka tusuk, maka tusukan (pisau atau benda tajam lainnya) tidak boleh
dicabut kecuali dengan adanya tim medis.
2. Penanganannya bila terjadi luka tusuk cukup dengan melilitkan dengan kain kassa
pada daerah antara pisau untuk memfiksasi pisau sehingga tidak memperparah
luka.
3. Bila ada usus atau organ lain yang keluar, maka organ tersebut tidak dianjurkan
dimasukkan kembali kedalam tubuh, kemudian organ yang keluar dari dalam
tersebut dibalut kain bersih atau bila ada verban steril.
4. Imobilisasi pasien.
5. Tidak dianjurkan memberi makan dan minum.
6. Apabila ada luka terbuka lainnya maka balut luka dengan menekang.
7. Kirim ke rumah sakit.
b. Hospital
1. Trauma penetrasi
Bila ada dugaan bahwa ada luka tembus dinding abdomen, seorang ahli bedah yang
berpengalaman akan memeriksa lukanya secara lokal untuk menentukan dalamnya
luka. Pemeriksaan ini sangat berguna bila ada luka masuk dan luka keluar yang
berdekatan.
a. Skrinning pemeriksaan rontgen
b. Foto rontgen torak tegak berguna untuk menyingkirkan kemungkinan hemo
atau pneumotoraks atau untuk menemukan adanya udara intraperitonium.
Serta rontgen abdomen sambil tidur (supine) untuk menentukan jalan peluru
atau adanya udara retroperitoneum.
c. IVP atau Urogram Excretory dan CT Scanning
Ini di lakukan untuk mengetauhi jenis cedera ginjal yang ada.
13
d. Uretrografi
Di lakukan untuk mengetauhi adanya rupture uretra.
e. Sistografi
Ini digunakan untuk mengetauhi ada tidaknya cedera pada kandung kencing,
contohnya pada :
- fraktur pelvis
- trauma non-penetrasi
2. Penanganan pada trauma benda tumpul:
a. Pengambilan contoh darah dan urine
Darah di ambil dari salah satu vena permukaan untuk pemeriksaan laboratorium
rutin, dan juga untuk pemeriksaan laboratorium khusus seperti pemeriksaan
darah lengkap, potasium, glukosa, amilase.
b. Pemeriksaan rontgen
Pemeriksaan rongten servikal lateral, toraks anteroposterior dan pelvis adalah
pemeriksaan yang harus di lakukan pada penderita dengan multi trauma,
mungkin berguna untuk mengetahui udara ekstraluminal di retroperitoneum atau
udara bebas di bawah diafragma, yang keduanya memerlukan laparotomi segera.
c. Study kontras urologi dan gastrointestinal
Dilakukan pada cedera yang meliputi daerah duodenum, kolon ascendens atau
decendens dan dubur

14
B. KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1. Primary survey
 Airway: Memastikan kepatenan jalan napas tanpa adanya sumbatan atau
obstruksi,
 Breathing: memastikan irama napas normal atau cepat, pola napas teratur,
tidak ada dyspnea, tidak ada napas cuping hidung, dan suara napas vesikuler,
 Circulation: nadi lemah/ tidak teraba, cepat >100x/mt, tekanan darah dibawah
normal bila terjadi syok, pucat oleh karena perdarahan, sianosis, kaji jumlah
perdarahan dan lokasi, capillary refill >2 detik apabila ada perdarahan.
Penurunan kesadaran.
 Disability: kaji tingkat kesadaran sesuai GCS, respon pupil anisokor apabila
adanya diskontinuitas saraf yang berdampak pada medulla spinalis.
e) Exposure/Environment: fraktur terbuka di femur dekstra, luka laserasi pada
wajah dan tangan, memar pada abdomen, perut semakin menegang.
1. Secondary survey
a. Fokus Asesment

Kepala: Wajah, kulit kepala dan tulang tengkorak, mata, telinga, dan mulut.
Temuan yang dianggap kritis:
Pupil tidak simetris, midriasis tidak ada respon terhadap cahaya ?
Patah tulang tengkorak (depresi/non depresi, terbuka/tertutup)?
Robekan/laserasi pada kulit kepala?
Darah, muntahan atau kotoran di dalam mulut?
Cairan serebrospinal di telinga atau di hidung?
Battle sign dan racoon eyes?
Leher: lihat bagian depan, trachea, vena jugularis, otot-otot leher bagian
belakang.. Temuan yang dianggap kritis: Distensi vena jugularis, deviasi
trakea atau tugging, emfisema kulit
Dada: Lihat tampilan fisik, tulang rusuk, penggunaan otot-otot asesoris,
pergerakan dada, suara paru. Temuan yang dianggap kritis: Luka terbuka,
sucking chest wound, Flail chest dengan gerakan dada paradoksikal, suara
paru hilang atau melemah, gerakan dada sangat lemah dengan pola napas yang
tidak adekuat (disertai dengan penggunaaan otot-otot asesoris).

15
Abdomen: Memar pada abdomen dan tampak semakin tegang, lakukan
auskultasi dan palpasi dan perkusi pada abdomen. Temuan yang dianggap
kritis ditekuannya penurunan bising usus, nyeri tekan pada abdomen bunyi
dullness.
Pelvis: Daerah pubik, Stabilitas pelvis, Krepitasi dan nyeri tekan. Temuan
yang dianggap kritis: Pelvis yang lunak, nyeri tekan dan tidak stabil serta
pembengkakan di daerah pubik
Extremitas: ditemukan fraktur terbuka di femur dextra da luka laserasi pada
tangan. Anggota gerak atas dan bawah, denyut nadi, fungsi motorik, fungsi
sensorik. Temuan yang dianggap kritis: Nyeri, melemah atau menghilangnya
denyut nadi, menurun atau menghilangnya fungsi sensorik dan motorik.
Pemeriksaan tanda-tanda vital yang meliputi suhu, nadi, pernafasan dan
tekanan darah.
Pemeriksaan status kesadaran dengan penilaian GCS (Glasgow Coma Scale):
terjadi penurunan kesadaran pada pasien.
b. AMPLE
Allergy : apakah pasien memiliki alergi makanan ataupun obat
Medication : obat-obatan terakhir yang dikonsumsi
Past Medical History : apakah terdapat riwayat penyakit
Last Meal : konsumsi makanan dan minuman terakhir
Event : bagaimana kejadian atau hal tersebut terjadi

16
Intervensi Keperawatan

NO DIAGNOSA TUJUAN RENCANA KEPERAWATAN


1 Risiko Perdarahan Setelah dilakukan tindakan keperawatan Shock prevention
berhubungan dengan selama 1 x … menit, diharapkan perdarahan 1. Monitoring status sirkulasi (Tekanan darah, warna kulit,
faktor risiko trauma berukurang atau teratasi dengan kriteria: Suhu, bunyi jantung, irama dan frekuensi jantung,
Respiratory Status: Airway Patency keberadaan dan kualitas nadi perifer, CRT)
1. RR dalam batas normal 2. Monitoring tanda-tanda inadekuat oksigenasi jaringan
2. Irama pernapasan teratur 3. Monitor perubahan status mental
3. Tidak ada benda asing atau cairan di 4. Monitoring temperature dan status respiratory
dalam rongga mulut 5. Monitoring intake dan output
6. Monitoring nilai laboratorium, khususnya hemoglobin dan
Circulation Status hematokrit, clotting profile, AGD, dan nilai elektrolit.
1. Nadi dalam batas normal 7. Tes urin untuk darah, glukosa dan protein.
2. Tekanan vena central normal 8. Monitoring distensi abdomen
3. Arteri karotis menguat 9. Monitor respon awal kompensasi kehilangan cairan:
4. Saturasi oksigen normal peningkatan HR, penurunan TD, ortostatik hipotensi,
5. Urin output dalam batas normal 1-2 penurunan urin output, penurunan CRT, pucat dan kulit
cc/24 jam dingin, dan diaphoresis.
10. Tempatkan pasien pada posisi supinasi dengan kaki elevasi

17
untuk meningkatkan preload, sesuai kebutuhan.
11. Pertahankan kepatenan jalan napas
Blood loss severity 12. Berikan cairan intravena, berikan RBC dan atau plasma jika
1. Perdarahan yang terlihat berkurang diperlukan.
atau tidak ada. 13. Berikan oksigen
2. Tidak ada distensi abdomen
3. Tekanan darah dalam batas normal

Bleeding Reduction
1. Identifikasi penyebab perdarahan
2. Beri pekananan atau balut daerah yang luka
3. Monitor jumlah perdarahan yang keluar
4. Pantau hemoglobin dan hematokrit
5. Monitor status keseimbangan cairan tubuh
6. Pasang dan pertahankan akses pemberian cairan
intravena
7. Kolaborasi pemberian produk darah

2 Nyeri akut Setelah dilakukan tindakan keperawatan Pain managememnt


berhubungan dengan selama 1x… menit nyeri berkurang atau 1. Kaji nyeri secara komprehensif: lokasi, karakterristik,
terputusnya dapat terkontrol, dengan kriteria: durasi, kualitas, intensitas dan keparahan nyeri.
kontinuitas jaringan Pain level 2. Observasi ketidaknyamanan nonverbal

18
1. Pasien melaporkan nyeri berkurang 3. Atasi factor yang dapat meninhkatkan nyeri, pasang
2. Pasien tidak menringis kesakitan bidai
3. Pasien tenang 4. Kolaborasi pemberian antinyeri.
4. Tanda tanda vital dalam batas normal

19
Evaluasi:

1. Tidak ada perdarahan


2. Tidak ada distensi abdomen
3. Tekanan darah dalam batas normal
4. Nadi dalam batas normal
5. Perdarahan yang terlihat berkurang atau tidak ada.
6. Tidak ada distensi abdomen
7. Tanda tanda vital dalam batas normal
8. Kesadaran baik
9. Nyeri dapat terkontrol

20
DAFTAR PUSTAKA

Brunner & Suddarth (2015). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2. Ed. 8. EGC:
Jakarta.

Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan Ed.31. Jakarta: EGC

Docthwrman, Joanne McCloskey. (2004). Nursing Interventions Classification. St Louis,


Mossouri, Elsevier inc.

Farrath, S., Parreira, J. G., Perlingeiro, J. A. G., Solda, S. C. and Assef, J. C. (2012) ‘Predictors
of abdominal injuries in blunt trauma.’, Revista do Colégio Brasileiro de Cirurgiões, 39(4),
pp. 295–301. Available at: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/22936228.

Herdman, T Heather, dkk. (2015). Diagnosis Keperawatan: Definisi & Klasifikasi. Edisi 10.
Jakarta: EGC

Hudak & Gallo. 2001. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Jakarta : EGC

Mackersie RC, Tiwary AD, S. and SR, H. D. (1999) ‘Intra-abdominal injury following blunt
trauma. Identifying the high-risk patient using objective risk factors.’, Arch Surg, p. 124
(7):809-13.

Nurarif, A. (2015). Aplikasi Asuhan keperawatan Berdasarkan Diagnosa Medis Dan NIC NOC
Jilid 3. Jogjakarta: MediAction

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. :
Jakarta: EGC.

Suddarth & Brunner. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta : EGC

Tanto, C., Liwang, F., Hanifati, S., Pradipta., E. (2014). Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 4, Jilid
1. Jakarta: Media Aesculapius

21