Anda di halaman 1dari 15

BAB I

LAPORAN PENDAHULUAN

A. Definisi Lipoma
Lipoma merupakan tumor mesenkim jinak (benign mesenchymal tumors)
yang berada dibawah kulit yang berasal dari jaringan lemak (adipocytes).
Biasanya lipoma dijumpai pada usia lanjut (40-60 tahun). Karena lipoma
merupakan lemak, maka dapat muncul dimanapun pada tubuh. Jenis yang paling
sering adalah yang berada lebih ke permukaan kulit (superficial). Biasanya lipoma
berlokasi di kepala, leher, bahu, badan, punggung, atau lengan. Jenis yang lain
adalah yang letaknya lebih dalam dari kulit seperti dalam otot, saraf, sendi,
ataupun tendon. Tumor ini merupakan masa lunak tak nyeri yang timbul tunggal
dan jarang majemuk serta biasanya dieksisi untuk alasan kosmetik. Kadang-
kadang menimbulkan gejala ketaknyamanan lokal, mungkin tekanan pada syaraf
kulit (Siregar, 2014).
Adeyi A Adoga (2015) dan Amit Gothwal (2014), lipoma adalah suatu
neoplasma jinak yang terdiri dari mesenkim jaringan lemak matang, biasanya
dikelilingi oleh kapsul yang tipis dan merupakan neoplasma yang paling umum
pada jaringan lunak dan sekitar 20% kasusnya terjadi di daerah kepala dan leher.
B. Prevalensi
Lipoma adalah tumor jaringan lunak yang paling umum dengan
prevalensi sebesar 2,1 per 1.000 orang. Lipoma terjadi pada 1% penduduk dengan
tingkat prevalensi 1/5000 pada orang dewasa.
C. Penyebab Lipoma
Penyebab lipoma masih belum diketahui. Banyak orang menghubungkan
penyebab dari lipoma adalah konsumsi lemak yang berlebihan dan obesitas, tetapi
tak ada satupun yang terbukti secara ilmiah. Lipoma terkadang bisa diturunkan
dalam satu keluarga. Namun ada suatu sidrom yang disebut hereditary multiple
lipomatosis, yaitu seseorang yang mempunyai lebih dari 1 lipoma pada tubuhnya.
Ada beberapa kemungkinan etiologi dari lipoma menurut MS Tan, dan B
Singh (2014), yaitu:
1. Degenerasi lemak
2. Hereditar
3. Hormonal
Hormon adalah zat yang dihasilkan kelenjar tubuh yang fungsinya
adalah mengatur kegiatan alat-alat tubuh dan selaput tertentu. Pada beberapa
penelitian diketahui bahwa pemberian hormon tertentu secara berlebihan
dapat menyebabkan peningkatan terjadinya beberapa jenis lipoma seperti
payudara, rahim, indung telur dan prostat (kelenjar kelamin pria).
4. Trauma
5. Infeksi
6. Iritasi kronis
7. Metafase sel otot
8. Lipoblastic embryonic cell nest in origin
9. Bahan karsinogenik (bahan kimia, virus, radiasi)
Zat yang terdapat pada asap rokok dapat menyebabkan lipoma paru
pada perokok dan perokok pasif (orang bukan perokok yang tidak sengaja
menghirup asap rokok orang lain) dalam jangka waktu yang lama.Bahan
kimia untuk industri serta asap yang mengandung senyawa karbon dapat
meningkatkan kemungkinan seorang pekerja industri menderita lipoma.
Beberapa virus berhubungan erat dengan perubahan sel normal menjadi sel
lipoma. Jenis virus ini disebut virus penyebab lipoma atau virus onkogenik.
Sinar ultra-violet yang berasal dari matahari dapat menimbulkan lipoma kulit.
Sinar radio aktif sinar X yang berlebihan atau sinar radiasi dapat
menimbulkan lipoma kulit dan leukemia.
D. Klasifikasi Lipoma
Melalui mikroskop, lipoma terdiri atas sel-sel adiposit yang sudah dewasa
berbentuk lobus-lobus, dan diliputi oleh kapsul fibrous. Yang adakalanya, suatu
lipoma tidak berkapsul menyusup ke dalam otot.
Empat jenis lain lipoma mungkin dicatat di atas suatu spesimen biopsi:
1. Angiolipoma
Angiolipoma varian membentuk dengan co-existing
perkembangbiakan vaskuler. Angiolipoma mungkin menyakitkan dan pada
umumnya muncul tidak lama sesudah pubertas.
2. Pleomorphiclipoma
Pleomorphiclipoma adalah varian lain di mana bizarre, sel raksasa
multinucleated adalah admixed dengan adipocytes. Normal Pleomorphic
presentasi lipoma adalah serupa untuk bahwa dari yang lain lipoma, tetapi
mereka terjadi sebagian besar di dalam manusia laki-laki usia 50 – 70 tahun.
3. Adipocytes
Sepertiga varian, sel gelendong lipoma, mempunyai gelendong
langsing sel yang admixed di dalam suatu bagian yang dilokalisir muncul
adipocytes.
4. Adenolipoma
Adenolipoma ditandai oleh kehadiran kelenjar di dalam tumor yang
gemuk, jenis ini sering ditempatkan terletak di atas proximial bagian-bagian
dari empedu.
E. Patofisiologi
Lipoma adalah neoplasma jaringan lunak jinak yang paling sering terjadi pada
orang dewasa, yaitu sekitar 1% populasi. Lipoma paling sering ditemukan antara
usia 40-60 tahun.1 Neoplasma ini jinak tumbuh lambat yang terdiri dari sel-sel
lemak matang. Dimana tampak metabolik sel-sel lipoma berbeda dari sel normal
meskipun sel-sel tersebut secara histologis serupa.
Jaringan lemak berasal dari jaringan ikat yang berfungsi sebagai depot lemak.
Jaringan lemak ini adalah jaringan yang spesial terdiri dari sel spesifik yang
mempunyai vaskularisasi tinggi, berlobus dan berfungsi sebagai depot lemak
untuk keperluan metabolisme. Sel-sel lemak primitif biasanya berupa butir-butir
halus di dalam sitoplasma. Sel ini akan membesar seperti mulberry sehingga
akhirnya derajat deposisi lemak menggeser inti ke arah perifer. Jaringan lemak
berasal dari sel-sel mesenkim yang tidak berdifferensiasi yang dapat ditemukan di
dalam tubuh. Beberapa sel-sel ini menjadi jaringan sel lemak yang matang
membentuk lemak dewasa.
Terjadinya suatu lipoma dapat juga disebabkan oleh karena adanya gangguan
metabolisme lemak. Pada lipoma terjadi proliferasi baik histologi dan kimiawi,
termasuk komposisi asam lemak dari jaringan lemak normal. Metabolisme lemak
pada lipoma berbeda dengan metabolisme lemak normal, walaupun secara
histologi gambaran sel lemaknya sama.
Pada lipoma dijumpai aktivitas lipoprotein lipase menurun. Lipoprotein lipase
penting untuk transformasi lemak di dalam darah. Oleh karena itu asam lemak
pada lipoma lebih banyak dibandingkan dengan lemak normal. Hal ini dapat
terjadi bila seseorang melakukan diet, maka secara normal depot lemak menjadi
berkurang, tetapi lemak pada lipoma tidak akan berkurang bahkan bertambah
besar. Ini menunjukkan bahwa lemak pada lipoma bukan merupakan lemak yang
dibutuhkan oleh tubuh. Apabila lipoma membesar akan tampak sebagai suatu
penonjolan yang dapat menekan jaringan di sekitarnya (Price, Anderson
Silvia,2014 ).
F. MANIFESTASI KLINIS
Lipoma seringkali tidak memberikan gejala (asymptomatic). Gejala yang
muncul tergantung dari lokasi, misalnya:
1. Pasien dengan lipoma kerongkongan (esophageal lipoma) dapat disertai
obstruction, nyeri saat menelan (dysphagia), regurgitation, muntah (vomiting),
dan reflux. Esophageal lipoma dapat berhubungan dengan aspiration dan
infeksi saluran pernapasan yang berturutan (consecutive respiratory
infections).
2. Lipoma di saluran napas utama (major airways) dapat menyebabkan gagal
napas (respiratory distress) yang berhubungan dengan gangguan bronkus
(bronchial obstruction). Pasien datang dengan lesi parenkim (parenchymal
lesions) atau endobronchial.
3. Lipoma juga sering terjadi pada payudara, namun tak sesering yang
diharapkan mengingat luasnya jaringan lemak.
4. Lipoma di usus (intestines), misalnya: duodenum, jejunum, colon dapat
menyebabkan nyeri perut (abdominal pain) dari obstruksi atau
intussusception, atau dapat menjadi jelas melalui perdarahan (hemorrhage).
5. Lipoma jantung (cardiac lipomas) terutama berlokasi di subendocardial,
jarang intramural, dan normalnya tidak berkapsul (unencapsulated). Terlihat
sebagai suatu massa kuning di kamar/bilik jantung (cardiac chamber).
6. Lipoma juga dapat muncul di jaringan subkutan vulva. Biasanya pedunculated
dan dependent Lipoma berbentuk seperti benjolan dengan diameter 2-10 cm,
terasa kenyal dan lembut. Serta bergerak bebas di kulit, namun overlying skin
ini secara khas normal. Sering terdapat pada leher, lengan dan dada. Tetapi
bisa muncul di bagian tubuh manapun.
Pada umumnya orang orang tidak menyadari jika mereka mengidap
lipoma sampai benjolannya tumbuh besar dan terlihat. Secara umum lipoma
bersifat lunak pada perabaan, dapat digerakkan, dan tidak nyeri. Tanda dan
gejala yang muncul meliputi: pertumbuhannya sangat lambat dan jarang sekali
menjadi ganas. Lipoma kebanyakan berukuran kecil, namun dapat tumbuh
hingga mencapai lebih dari diameter 6 cm. memiliki batas dengan jaringan
yang tidak nyata, kulit kering, bersisik kemerahan, palpasi teraba benjolan,
andeng-andeng (tahi lalat) yang berubah sifatnya, menjadi makin besar dan
gatal ( Borley NR, Grace PA. At a glance, 2016 ).
G. Pemeriksaan Penunjang
Dalam kebanyakan kasus, dokter dapat mendiagnosa lipoma dengan
pemeriksaan fisik sederhana. Namun, jika lipoma yang besar dan atau
menyakitkan, dokter akan melakukan tes untuk mengkonfirmasi bahwa benjolan
tersebut tidak bersifat kanker. Tes-tes ini mungkin termasuk biopsi, computed
tomography (CT scan), atau Magnetic Resonance Imaging (MRI).
1. Biopsi
Biopsi adalah prosedur di mana sepotong kecil jaringan lemak akan
diambil dari lipoma sehingga dapat diperiksa di bawah mikroskop untuk
tanda-tanda kanker.
2. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI menggunakan magnet, gelombang radio, dan komputer untuk
mengambil serangkaian gambar yang sangat jelas, detil gambar. MRI telah
terbukti akurat dalam pemeriksaan, namun pemeriksaan ini mahal. Dengan
MRI, jaringan lunak seperti lipoma dapat terlihat dengan jelas. MRI dapat
menunjukkan hasil yang 100% sensitif, spesifik dan akurat dalam
mengidentifikasi adanya tumor jaringan lunak.
3. Computed Tomography (CT scan)
Seperti MRI, CT scan (CAT atau scan) adalah prosedur yang juga
dapat membuat serangkaian gambar yang mendetail, namun tidak lebih akurat
dari MRI. Pemeriksaan dengan CT scan dilakukan berkali-kali dari sudut
yang berbeda.
H. Komplikasi
Lipoma di bawah kulit (subkutan) jarang menimbulkan komplikasi, tetapi
nodul besar dapat mengganggu fungsi otot atau dapat menyebabkan nyeri saraf.
Lipoma terjadi pada sendi dapat membatasi gerakan. Jika mereka berkembang di
usus, lipoma dapat menyebabkan hambatan yang serius. Cedera lipoma mungkin
memerlukan perawatan segera, termasuk eksisi. Jarang ditemukan benjolan yang
awalnya tampaknya menjadi lipoma sebenarnya mungkin liposarcoma (kanker),
yang membutuhkan perawatan lebih lanjut.
I. Penatalaksanaan
Indikasi pembuangan lipoma adalah sebagai berikut:
1. Alasan kosmetik
2. Untuk mengevaluasi gambaran histologinya, secara khusus ketika
kemungkinan liposarcoma harus disingkirkan.
3. Ketika menyebabkan gejala-gejala.
4. Ukuran lebih dari 5cm.
Pembuangan lipoma pada pasien ini dapat dengan dua teknik yaitu teknik non
eksisi dan teknik eksisi.
a. Teknik Non-Eksisi
1) Injeksi steroid
Injeksi steroid akan mengakibatkan atrofi lemak lokal, dengan
demikian terjadi penyusutan dari lipoma. Terapi ini terbaik dilakukan pada
lipoma yang berdiameter kurang dari 2,5cm. Bahan yang digunakan
adalah campuran 1:1 dari 1% lidokain dan triamcinolone acetonide, dalam
dosis 10mg/mL. Prosedur ini dapat diulang beberapa kali dengan interval
1 bulan.
2) Liposuction
Liposuction dapat digunakan untuk menghilangkan lipoma kecil
maupun besar, khususnya pada lokasi-lokasi dimana jaringan parut yang
besar harus dihindari. Eliminasi total dari lipoma masih sulit dicapai
dengan teknik ini.
b. Teknik Eksisi
Bedah eksisi lipoma seringkali menghasilkan kesembuhan total.
Sebelum pembedahan, perlu dilakukan pemberian garis outline dari lipoma,
dan perencanaan eksisi kulit dengan tanda pada permukaan kulit. Outline dari
tumor sering membantu menggambarkan batas, yang seringkali menjadi tidak
jelas setelah pemberian anestesi. Eksisi dari sebagian kulit dapat membantu
mengeliminasi kelebihan kulit pada saat penutupan.
1) Enukleasi
Lipoma yang kecil dapat dihilangkan dengan enukleasi. Insisi 3-4mm
dibuat diatas lipoma, curette ditempatkan di dalam luka dan digunakan
untuk membebaskan lipoma dari jaringan sekitar. Setelah dibebaskan,
tumor dienukleasi melalui luka insisi. Secara umum, penjahitan tidak
diperlukan, pressure dressing diaplikasikan untuk mencegah pembentukan
hematom.
2) Eksisi
Lipoma yang lebih besar paling baik dihilangkan melalui insisi-insisi dari
kulit di atas lipoma, yang dibuat seperti eksisi fusiformis mengikuti garis
tegangan kulit dan lebih kecil dari ukuran tumor. Area sentral kulit yang
akan dieksisi, dipegang dengan sebuat hemostat atau Allis clamp, yang
bertujuan menciptakan traksi untuk pembuangan tumor. Diseksi kemudian
dilakukan untuk memisahkan lipoma dengan jaringan sekitar dengan
menggunakan gunting atau scalpel.
Sewaktu sebagian jaringan lipoma telah dibebaskan dari jaringan
sekitarnya, hemostat atau clamp dapat dipasangkan pada tumor sebagai
traksi untuk pembuangan sisa dari tumor tersebut. Ketika semuanya telah
terbebaskan, lipoma dikeluarkan secara utuh. Setelah pengangkatan
lipoma, hemostasis yang adekuat dapat tercapai dengan menggunakan
hemostat atau suture ligation. Kadang-kadang perlu penempatan drain
untuk mencegah akumulasi cairan, namun sebisa mungkin harus dihindari.
Kemudian, kulit ditutup dengan interrupted 4-0 atau 5-0 nylon sutures.
Pressure dressing ditempatkan untuk mengurangi insidensi pembentukan
hematom. Pasien kemudian diberikan edukasi mengenai perawatan luka,
lalu luka di cek kembali dalam waktu 2-7 hari dan jahitan dilepas setelah
7-21 hari.
BAB II
KONSEP KEPERAWATAN

A. PENGKAJIAN KEPERAWATAN
1. Anamnesis
a. Identitas
Identitas meliputi nama lengkap pasien, umur atau tanggal lahir, jenis
kelamin, nama orang tua atau suami atau isteri atau penanggung jawab,
alamat, pendidikan, pekerjaan, suku bangsa dan agama. Identitas perlu
ditanyakan untuk memastikan bahwa pasien yang dihadapi adalah
memang benar pasien yang dimaksud. Selain itu identitas ini juga perlu
untuk data penelitian, asuransi dan lain sebagainya.
a. Riwayat Penyakit Dahulu
Bertujuan untuk mengetahui kemungkinan-kemungkinan adanya
hubungan antara penyakit yang pernah diderita dengan penyakitnya
sekarang. Tanyakan pula apakah pasien pernah mengalami kecelakaan,
menderita penyakit yang berat dan menjalani operasi tertentu, riwayat
alergi obat dan makanan, lama perawatan, apakah sembuh sempurna atau
tidak. Obat-obat yang pernah diminum oleh pasien juga harus ditanyakan
termasuk penggunaan obat-obatan steroid, kontrasepsi, transfusi,
kemoterapi, dan riwayat imunisasi. Bila pasien pernah melakukan
berbagai pemeriksaan, maka harus dicatat dengan seksama, termasuk
hasilnya, misalnya gastroskopi, Papanicolau’s smear, mamografi, foto
paru-paru dan sebagainya.
b. Riwayat social
Mencangkup keterangan mengenai pendidikan, pekerjaan dan segala
aktivitas diluar pekerjaan, lingkungan tempat tinggal, perkawinan,
tanggungan keluarga, dan lain-lain. Perlu ditanyakan pula tentang
kesulitan yang dihadapi pasien ( Manning, 2016 ).
c. Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan tanda-tanda vital: TD,N,RR, dan T
d. Status lokalis
e. Inspeksi
Setelah anamnesis, tindakan yang dilakukan adalah melakukan
inpeksi. Bantuan permeriksaan dengan kaca pembesar dapat dilakukan.
Pemeriksaan ini mutlak dilakukan dalam ruangan yang terang. Anamnesis
terarah biasanya ditanyakan pada penderita bersamaan dilakukan inpeksi
untuk melengkapi data diagnosis. Pada inpeksi diperhatikan lokalisasi,
warna, bentuk, ukuran, penyebaran, batas dan efleresensi yang khusus.
Bila terdapat kemerahan pada kulit ada tiga kemungkinan: eritema,
purpura, dan telangiektasis. Cara membedakannya yakni ditekan dengan
jari dan digeser. Pada eritema warna kemerahan akan hilang dan warna
tersebut akan kembali setelah jari dilepaskan karena terjadi vasodilatsi
kapiler. Sebaliknya pada purpura tidak menghilang sebab terjadi
pendarahan dikulit, demikian pula telangekstasis akibat pelebaran kapiler
yang menetap.
Cara lain ialah yang disebut diakopi yang berarti menekan dengan
benda tranparan (diaskop) pada tempat kemerahan tersebut, diakopi
disebut positif, jika warna merah menghilang (eritema), disebut negatif
bila warna merah tidak menghilang (purpura atau telangiektasis). Pada
telangiektasis akan tampak kapiler yang berbentuk seperti tali yang
berkelok-kelok dapat berwarna merah atau biru.
f. Palpasi
Setelah inpeksi selesai, dilakukan palpasi. Pada pemeriksaan ini
diperhatikan adanya tanda-tanda radang akut atau tidak, misalnya dolor,
kalor, fungsiolesa (rubor dan tumor dapat pula dilihat), ada tidaknya
indurasi, fluktuasi, dan pemebesaran kelenjar regional maupun
generalisata. Hal-hal lain yang perlu diperhatikan pula saat melakukan
pengkajian pada pasien dengan lipoma meliputi:
1) Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan: Riwayat anggota
keluarga yang terkena tumor, terpapar sinar radiasi atau bahan kimia.
2) Pola nutrisi metabolik: kebiasaan makan makanan yang mengandung
zat kimia atau bahan pengawet dan makanan yang berlemak tinggi,
riwayat minum alkohol, mual, muntah, berkeringat banyak, suhu
tinggi, kerusakan atau kemerahan kulit, adanya benjolan pada kulit,
hipopigmentasi, hiperpigmentasi, nafsu makan menurun, berat badan
turun.
3) Pola eliminasi: menurunnya jumlah urine output, anuri saat fase akut,
diuresis,penurunan peristaltik usus.
4) Pola aktivitas dan latiha: riwayat pekerjaan, obesitas, sesak napas.
5) Pola persepsi sensori dan kognitif: mati rasa, kaku, gatal-gatal,
perubahan reflektendon, keluhan nyeri, perubahan orientasi, sikap dan
tingkah laku.
6) Pola persepsi dan konsep diri: kecemasan, penampilan diri, gangguan
terhadap perkerjaan atau keuangan.
7) Pola mekanisme coping dan toleransi terhadap stres: sikap
menghadapi penyakit, penerimaan terhadap diagnosis.
B. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan yang dapat muncul pada pasien dengan lipoma,
meliputi:.
1. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya lukas eksterpasi.
2. Nyeri yang berhubungan dengan penekanan oleh jaringan lipoma
3. Gangguan gambaran diri yang berhubungan dengan penampilan kulit yang
jelek.
4. Kurang pengetahuan tantang pengetahuan tentang perawatan kulit yang
berhubungan dengan kurang informasi.
5. Resiko tinggi terhadap infeksi berhubungan dengan trauma jaringan, kulit
yang rusak, stasis jaringan tubuh
6. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembedahan yang
akan dilaksanakan dan hasil akhir pascaoprasi
C. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan adanya luka eksterpasi
Kriteria Hasil: Kulit utuh, tidak infeksi.
 Rencana Tindakan.
a) Kaji keadaan luka (kering, bawah, kemerahan).
b) Rawat luka dengan teknik steril.
c) Anjurkan pasien untuk tidak menggaruk kulit.
d) Anjurkan pasien untuk menjaga tubuh dengan cara mandi dua kali
sehari.
e) Observasi suhu.
f) Beri terapi antibiotik sesuai pesanan medik.
2. Nyeri yang berhubungan dengan luka operasi.
Kriteria Hasil: Pasien bebas dari rasa nyeri, pasien tampak rileks, bisa tidur
dan istirahat.
 Rencana tindakan:
a) Kaji karakteristik nyeri (lokasi, lama, intensitas).
b) Observasi tanda-tanda vital.
c) Eksplorasi penyebab rasa nyeri.
d) Ciptakan lingkungan yang aman.
e) Ajarkan latihan napas dalam
f) Beri terapi analgetik sesuai pesanan medik.
3. Gangguan gambaran diri sehubungan dengan penampilan kulit yang jelek
Kriteria Hasil
- Menerima perubahan tubuh dan mengintegrasikannya ke dalam self
konsep sehingga dapat mempertahankan body image yang positif.
- Mengekspresikan penerimaan tentang perubahan body image.
 Rencana tindakan:
a) Kaji perasaan dan persepsi pasien tentang penampilan kulit yang jelek.
b) Melibatkan pasien dalam perawatan.
c) Berikan informasi yang dapat dipercaya dan perkuat informasi yang
telah diberikan.
d) Hargai pemecahan masalah yang konstruktif untuk meningkatkan
penampilan.
e) Membantu pasien dalam menguatkan keterampilan koping dan ikut
terlibat dalam tindakan untuk memenuhi tujuan.
4. Kurang pengetahuan tentang penyakit kulit yang berhubungan dengan kurang
informasi
Kriteria Hasil:
- Dapat mengungkapkan proses penyakit.
- Mengenali tanda dan gejala serta faktor penyebab penyakit.
- Pasien dapat berpartisipasi dalam perawatan.
 Rencana Tindakan:
a) Kaji pengetahuan klien/ tanyakan proses penyakit dan harapan klien.
b) Jelaskan faktor penyebab, tanda dan gejala penyakit dengan bahasa
yang mudah dipahami.
c) Beri penyuluhan tentang pentingnya perawatan kulit yang baik.
d) Libatkan keluarga dalam rencana pengobatan
e) Beri penjelasan pasien untuk mengidentifikasi perubahan-perubahan
kulit.
f) Jelaskan prosedur pengobatan dan perubahan gaya hidup.
5. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pembedahan yang
akan dilaksanakan dan hasil akhir pascaoperatif.
Kriteria Hasil :
- Pasien menyatakan kecemasan berkurang
- Pasien kooperatif terhadap tindakan
- Wajah pasien tampak rileks
 Rencana Keperawatan
a) Bantu pasien mengekspresikan perasaan marah, kehilangan, dan takut.
b) Kaji tanda ansietas verbal dan nonverbal. Damping pasien dan lakukan
tindakan bila
c) pasien mulai menunjukkan perilaku merusak.
d) Jelaskan tentang prosedur pembedahan sesuai jenis operasi
e) Beri dukungan pra bedah
f) Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam dalam menurunkan kecemasan
DAFTAR PUSTAKA

Adeyi A Adoga, 2015 dan Amit Gothwal,2014: anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Jakarta : Erlangga; 2017
Borley NR, Grace PA. At a glance ilmu bedah. Edisi ke-3. Jakarta : Erlangga; 2016.
Darmstadt GL, Lane A. Nelson ilmu kesehatan anak : tumur tumor kulit. Edisi ke-15.
Jakarta : EKG;2014
Manning, Delp. Major diagnosis fisik : kulit. Edisi ke-9. Jakarta: EGC; 2016.72-7.4.
Price, Anderson Silvia. Patofisiologi. Ed. 5. Jakarta: EGC; 2014.
Robbin, Cotran. Buku saku dasar patologis penyakit. Edisi ke-7. Jakarta: EGC; 2016.
Siregar, 2014, Buku ajar bedah : Tumor jinak yang lazim. Edisi ke-2. Jakarta: EGC;
2014.