Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH PRAKTIK PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI AGRO

PEMANFAATAN ONGGOK TAPIOKA MENJADI BIOETANOL

Disusun Oleh :

KELOMPOK 12/3F

Daniel Antandean 1730134

Nuzulia Rahma Putri 1730164

Rendy Pratama 1730170

Reza Agustini Buana 1730171

Rossy Harisma Putri 1730177

POLITEKNIK AKA BOGOR

PROGRAM STUDI PENGOLAHAN LIMBAH INDUSTRI

2019

i
KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih lagi Maha
Panyayang, Kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat
menyelesaikan makalah hasil praktikum Pengolahan Limbah Industri Agro yang
berjudul “PEMANFAATAN ONGGOK TAPIOKA MENJADI BIOETANOL”
dengan tepat waktu.

Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah


membantu kelancaran dalam pembuatan laporan ini terutama kepada dosen beserta
asisten dosen laboratorium lingkungan yang sudah membimbing dalam proses
penyusunan makalah.

Makalah hasil praktikum ini dibuat untuk memenuhi tugas kuliah praktik
Pengolahan Limbah Industri Agro di Politeknik AKA Bogor. Semoga makalah ini
bermanfaat dan memberikan pengetahuan mengenai bagi pembacanya.

Bogor, November 2019

Penyusun

ii
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ........................................................................................... ii


DAFTAR ISI ......................................................................................................... iii
BAB I PENDAHULUAN .......................................................................................5
1.1 Latar Belakang ........................................................................................5
1.2 Tujuan ......................................................................................................6
1.3 Manfaat ....................................................................................................6
1.4 Rumusan Masalah ...................................................................................7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA............................................................................8
2.1 Tepung Tapioka .......................................................................................8
2.2 Hidrolisis .......................................................................................................9
2.3 Penggolongan Hidrolisis ............................................................................10
2.4 Pereaksi benedict ...................................................................................11
2.5 Bioetanol .................................................................................................11
2.6 Onggok ...................................................................................................12
BAB III METODOLOGI ....................................................................................14
3.1 Waktu dan Tempat Percobaan .................................................................14
3.2 Alat dan Bahan ...........................................................................................14
3.2.1 Alat ........................................................................................................14
3.2.2 Bahan ....................................................................................................14
3.3 Cara Kerja ..................................................................................................15
3.3.1 Hidrolisis Sampel .................................................................................15
BAB IV DATA PENGAMATAN ........................................................................17
4.1 Data Sampel ................................................................................................17
4.2 Data hari ke 0 ..............................................................................................17
4.3 Data hari ke 7 ..............................................................................................17
BAB V PEMBAHASAN ......................................................................................18
5.1 Karakterisitik Awal Onggok .....................................................................18
5.2 Proses Pembentukan Bioetanol .................................................................18
5.2.1 Proses Pre-treatment ............................................................................18
5.2.2 Proses Hidrolisa ...................................................................................19
5.2.3 Fermentasi ............................................................................................20

iii
5.2.4 Distilasi..................................................................................................21
5.3 Hasil Etanol .................................................................................................21
BAB VI PENUTUP ..............................................................................................25
6.1 Kesimpulan .................................................................................................25
6.2 Saran ............................................................................................................25
DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................26
LAMPIRAN ..........................................................................................................27

iv
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pengolahan limbah tapioka berupa onggok menjadi bioetanol merupakan


alternatif penanganan limbah secara efektif karena dapat mengurangi
pencemaran lingkungan serta meningkatkan nilai guna dan nilai ekonomis
onggok. Sejauh ini, seiring dengan banyaknya pabrik tapioka berproduksi
mengakibatkan banyaknya limbah onggok yang dihasilkan yang dinilai belum
termanfaatkan secara bijak. Asfarinah dkk. (2010) sejauh ini onggok hanya
dibuang dan digunakan sebagai pupuk sehingga menumpuk dan menimbulkan
bau tidak sedap. Harga jual onggok juga sangat rendah yaitu Rp 500,00 per
kilogramnya yang digunakan sebagai pakan ternak dengan kadar proteinnya
yang rendah sehingga membutuhkan tambahan sumber protein lain. BPPT
dalam ITS (2015) menyebutkan kandungan protein dalam onggok adalah
1,57%.
Banyaknya onggok yang terbuang tersebut dapat digunakan sebagai bahan
baku produksi bioetanol. Menurut ITS (2015) onggok masih mengandung pati
cukup tinggi yaitu sekitar 63%. Widayatnim (2015) pati merupakan salah satu
turunan karbohidrat dan bahan baku utama pembuatan etanol disamping
molases dan tepung kayu. Masih tingginya kandungan pati tersebut, maka
onggok dinilai dapat dimanfaatkan sebagai usaha substitusi bahan baku
bioetanol.
Onggok merupakan bahan sumber energi yang mempunyai kadar protein
kasar rendah, tetapi kaya akan karbohidrat yang mudah dicerna bagi ternak.
Dalam rangka upaya mengurangi limbah padat yang dihasilkan dari industri
tapioka dan agar dapat dimanfaatkan kembali serta bernilai lebih ekonomis,
limbah padat tapioka dapat dijadikan salah satu bahan baku sebagai bioetanol.
Etanol dikenal sebagai bahan pelarut, bahan anti septik, bahan baku pembuatan
eter, minuman dan bahan bakar alternatif pengganti bensin.
Proses bioetanol dengan bahan baku yang mengandung pati atau
karbohidrat dilakukan melalui proses konversi karbohidrat menjadi glukosa.

5
Selain dari bahan baku tanaman yang mengandung pati atau karbohidrat,
bioetanol juga dapat diproduksi dari bahan tanaman yang mengandung selulosa.
Limbah padat tapioka mempunyai potensial untuk dimanfaatkan dalam
menghasilkan etanol karena mengandung selulosa (24.99% b/b), hemiselulosa
(6.67% b/b) dan strach (61% b/b) (Fungsin, 2007).
Untuk memproduksi bioetanol dari material selulosa diperlukan proses
hidrolisis yang bertujuan untuk memecah selulosa dan hemiselulosa menjadi
monosakarida (glukosa & xylosa) yang selanjutnya difermentasi menjadi
etanol. Secara umum teknik hidrolisis dibagi menjadi dua yaitu hidrolisis asam
dan hidrolisis dengan enzim. Hidrolisis asam dapat dilakukan dengan
menambahkan H2SO4 atau HCl. Hidrolisis pati dengan asam memerlukan suhu
tinggi yaitu 120- 160ºC.
Dari data-data di atas menunjukkan bahwa potensi tanaman singkong sangat
tinggi akan tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Salah satu potensi yang
belum dimanfaatkan yakni ampas tapioka yang merupakan limbah dalam proses
pengolahan pati/tepung tapioka dan ternyata mengandung selulosa yang tinggi
dan dapat ditingkatkan menjadi produk yang bernilai ekonomis yakni etanol
(bioetanol) dimana proses dapat dilakukan secara kimia.
1.2 Tujuan
1. Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan etanol dari limbah tapioka
dengan proses hidrolisis asam dan lama pemanasan.
2. Mendapat hasil yang sesuai dengan teori percobaan praktikum Pengolahan
Limbah Agro dan mendapat nilai untuk praktikum Pengolahan Limbah
Agro
3. Mendapatkan kondisi operasi produksi bioetanol pada kadar tertinggi (%)
dengan penambahan asam asetat dan variasi sumber nutrisi.

1.3 Manfaat
1. Menghasilkan bioetanol dari limbah tapioka yang tidak bernilai ekonomis
menjadi bernilai ekonomis.
2. Mengurangi jumlah limbah tapioka pada lingkungan.
3. Mendapat kadar yang tepat untuk membuat bioetanol.

6
1.4 Rumusan Masalah

1. Apa karakteristik onggok yang dapat diubah menjadi Bioetanol


2. Bagaimana proses pembentukan Bioetanol dari onggok
3. Faktor apa saja yang dapat mempengaruhi pembentukan Bioetanol

7
BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tepung Tapioka

Tepung tapioka, tepung singkong, tepung kanji, atau aci adalah tepung
yang diperoleh dari umbi akar ketela pohon atau dalam bahasa indonesia
disebut singkong. Tapioka memiliki sifat- sifat yang serupa dengan sagu,
sehingga kegunaan keduanya dapat dipertukarkan. Tepung ini sering
digunakan untuk membuat makanan, bahan perekat, dan banyak makanan
tradisional yang menggunakan tapioka sebagai bahan bakunya.
Tapioka adalah nama yang diberikan untuk produk olahan dari akar ubi
kayu (cassava). Analisis terhadap akar ubi kayu yang khas
mengidentifikasikan kadar air 70%, pati 24%, serat 2%, protein 1% serta
komponen lain (mineral, lemak, gula) 3%. Tahapan proses yang digunakan
untuk menghasilkan pati tapioka dalam industri adalah pencucian,
pengupasan, pemarutan, ekstraksi, penyaringan halus, separasi, pembasahan,
dan pengering.
Kualitas tapioka sangat ditentukan oleh beberapa faktor, yaitu:
a) Warna tepung; tepung tapioka yang baik berwarna putih.
b) Kandungan air; tepung harus dijemur sampai kering benar sehingga
kandungan airnya rendah.
c) Banyaknya serat dan kotoran; usahakan agar banyaknya serat dan kayu
yang digunakan harus yang umurnya kurang dari 1 tahun karena serat
dan zat kayunya masih sedikit dan zat patinya masih banyak.
d) Tingkat kekentalan; usahakan daya rekat tapioka tetap tinggi.
(Whister, dkk, 1984).

8
Kandungan nutrisi yang terdapat pada tepung tapioka disajikan pada
Tabel 1.

Tabel 1. Kandungan Nutrisi Pada Tepung Tapioka 100 g Bahan


Makanan
No. Zat Gizi Kadar
1 Energi 362 kkal
2 Protein 0,5 g
3 Lemak 0,3 g
4 Karbohidrat 86,9 g
5 Kalsium (Ca) 0 mg
6 Besi (Fe) 0 mg
7 Fosfor (P) 0 mg
8 Vitamin A 0 mg
9 Vitamin B1 0 mg
10 Vitamin C 0 mg
11 Air 12 g
Sumber : Badan Ketahanan Pangan dan Penyuluhan Provinsi DIY, 2012

2.2 Hidrolisis
Hidrolisis adalah proses konversi pati menjadi gula pereduksi. Prinsip
hidrolisis pati adalah pemutusan rantai polimer pati menjadi unit-unit dekstrosa
(C6H12O6). Dalam prakteknya, hidrolisis pati menjadi gula pereduksi dapat
dilakukan dengan cara, yakni hidrolisis asam dan enzimatis. Hidrolisis secara
enzimatis memiliki perbedaan mendasar dibandingkan hidrolisis secara
kimiawi dan fisik dalam hal spesifitas pemutusan rantai polimer pati. Hidrolisis
secara kimiawi dan fisik akan memutus rantai polimer secara acak, sedangkan
hidrolisis enzimatis akan memutus rantai polimer secara spesifik pada
percabangan tertentu.

Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis murni, hidrolisis asam


(penambahan katalisator asam) dan hidrolisis enzim. Sedangkan berdasarkan
fase reaksi yang terjadi diklasifikasikan menjadi hidrolisis fase cair dan
hidrolisis fase uap (BeMiller dan Whistler, 2009). Hidrolisis ampas singkong
terjadi antara ampas singkong dengan air. Pada reaksi hidrolisis ini air akan

9
memecah komponen karbohidrat atau hemiselulosa menjadi gula atau
monosakarida yang lebih sederhana seperti glukosa, galaktosa, dan mannosa
(Agra, dkk., 1973).
Hidrolisis merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil/OH oleh suatu
senyawa. Gugus OH dapat diperoleh dari senyawa air. Hidrolisis pati terjadi
antara suatu reaktan pati dengan reaktan air. Reaksi ini adalah orde satu karena
reaktan air yang dibuat berlebih, sehingga perubahan reaktan dapat diabaikan.
Reaksi hidrolisis pati dapat menggunakan katalisator ion H+ yang dapat diambil
dari asam. Reaksi yang terjadi pada hidrolisis pati adalah sebagai berikut
(Yuniwati, dkk., 2011):
(C6H10O5)x + x H2O → x C6H12O6
Karbohidrat Air Gula pereduksi

2.3 Penggolongan Hidrolisis


Hidrolisis dapat digolongkan menjadi hidrolisis murni, hidrolisis katalis
asam, hidrolisis katalis basa, gabungan alkali dengan air dan hidrolisis dengan
katalis enzim.
a. Hidrolisa murni
Hidrolisa murni adalah hidrolisa yang menggunakan air saja sebagai
penghidrolisa. Beberapa macam senyawa yang dapat dihidrolisa secara
langsung dengan menggunakan air saja, antara lain : halida asam dan
asam anhidrid.
b. Hidrolisa asam
Hidrolisa dengan asam ini mula-mula diamati oleh Kirchoff dengan
mengamati hidrolisa pati dengan adanya asam-asam mineral dan terjadi
suatu transformasi bahan pati menjadi gula pereduksi. Pada umunya asm-
asam yang banyak digunakan antara lain asam klorida, asam sulfat, asam
oksalat, dan asam benzene sulfonat. Dalam hal ini asam berfungsi
sebagai katalisator yaitu untuk mempercepat terjadinya proses hidrolisa.
c. Hidrolisa dengan menggunakan alkali
Larutan alkali encer, seperti halnya larutan asam, larutan alkali encer
hanya bersifat sebagai katalisator saja. Sedangkan larutan alkali pekat

10
yang diberikan dalam jumlah cukup hanya dengan tujuan untuk mengikat
asam yang terbentuk. (James G. Speight, 2002)
d. Hidrolisa dengan menggunakan enzim
Enzim adalah zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme. Contoh
: dari proses hidrolisa yang menggunakan katalisator enzim adalah reaksi
pembuatan alcohol. Hidrolisa ampas singkong terjadi antara ampas
singkong dengan air. Pada reaksi hidrolisa ini air akan menyerang
komponen karbohidrat atau hemiselulosa sehingga pecah menjadi gula
yang lebih sederhana seperti glukosa, galaktosa, dan mannose.

2.4 Pereaksi benedict


Reagen Benedict adalah reagen kimia yang biasa digunakan untuk mendeteksi
adanya gula pereduksi, tapi bahan pereduksi lainnya juga dapat memberikan
hasil positif. Gula pereduksi mencakup monosakarida dan beberapa disakarida,
termasuk laktosa dan maltosa. Larutan Benedict dapat digunakan untuk menguji
adanya glukosa dalam urine.

Beberapa gula seperti glukosa disebut gula pereduksi karena mereka mampu
mentransfer hidrogen (elektron) ke senyawa lain, proses yang disebut reduksi.
Ketika gula pereduksi dicampur dengan reagen benedicts dan dipanaskan maka
akan menyebabkan reagen benedicts berubah warna. Warna ini bervariasi dari hijau
sampai merah bata, tergantung pada jumlah dan jenis gula.

2.5 Bioetanol

Bioetanol (C2H5OH) adalah cairan biokimia pada proses fermentasi gula dari
sumber karbohidrat yang menggunakan bantuan mikroorganisme. Dalam
perkembangannya, produksi alkohol yang paling banyak digunakan adalah metode
fermentasi dan distilasi. Bahan baku yang dapat digunakan pada pembuatan etanol
adalah nira bergula (sukrosa): nira tebu, nira nipah, nira sorgum manis, nira kelapa,
nira aren, nira siwalan, sari buah mete; bahan berpati: tepung-tepung sorgum biji,
sagu, singkong, ubi jalar, ganyong, garut, umbi dahlia; bahan berselulosa
(lignoselulosa): kayu, jerami, batang pisang, bagas dan lain-lain (LIPI, 2008).

11
Bioetanol merupakan etanol yang dihasilkan dari fermentasi glukosa (gula)
yang dilanjutkan dengan proses destilasi. Proses destilasi dapat menghasilkan
etanol dengan kadar 95% volume, untuk digunakan sebagai bahan bakar (biofuel)
perlu lebih dimurnikan lagi hingga mencapai 99% yang lazim disebut Fuel Grade
Ethanol (FGE). Proses pemurnian dengan prinsip dehidrasi umumnya dilakukan
dengan metode Molecular Sieve, untuk memisahkan air dari senyawa etanol
(Musanif, 2012).

Gambar 1. Standar Nasional Indonesia Kualitas Bioetanol (SNI 7390-2008)

2.6 Onggok
Onggok adalah limbah dari pabrik tapioka (singkong) yang padat dan keras
biasanya berukuran kepal atau pecahan lebih kecil. Onggok tapioka merupakan
limbah padat yang beruapa ampas hasil ekstraksi dari pengolahan tepung tapioka.
Dalam industri tapioka dihasilkan onggok tapioka dari total bahan baku yang
digunakan. Onggok masih mengandung kadar tepung yang cukup tinggi, sehingga
masih mengandung pati yang cukup tinggi yaitu 63%. Menurut Kementrian
Lingkungan Hidup (2009), industri tapioka skala besar umumnya dengan kapasitas
700 ton per hari dapat menghasilkan tapioka sebanyak 140 ton per hari dan onggok
yang dihasilkan sejumlah 175 ton per hari. Berdasarkan jumlah dan kandungannya,
onggok mempunyai potensi yang besar untuk dimanfaatkan menjadi produk yang

12
lebih bernilai, salah satunya diproduksi sebagai bioetanol. Berdasarkan perhitungan
Badger (2007), dari total onggok sebesar 2.174.000 ton per tahun diperoleh potensi
etanol dapat mencapai 266.276 kL.

13
BAB III METODOLOGI

3.1 Waktu dan Tempat Percobaan

Percobaan ini dilakukan pada tanggal 11 November 2019 di Laboratorium


Lingkungan Gedung D Politeknik AKA Bogor.

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Alat

- Panci - Sendok

- Sutil - Gelas piala 250 mL

- Wajan - Gelas ukur

- Bunsen - Selang

- Korek Api - Kaki tiga

- Timbangan - Jerigen

- Corong - Batang Pengaduk

- Kain Blacu - Tabung Reaksi

3.2.2 Bahan
- Onggok

- Asam asetat 15%

- Pupuk ZA

- Pupuk Urea

- Ragi

- Aquades

14
3.3 Cara Kerja
3.3.1 Hidrolisis Sampel

Onggok + 4L CH3COOH Panaskan (90-100)oC


2 Kg 15 % diaduk 1-2 Jam

3.3.2 Uji Benedict

Sampel dimasukkan + 2 mL larutan Tabung


ke tabung reaksi benedict dipanaskan
3-5 menit

TA = endapan
merah

3.3.3 Fermentasi

Piala gelas + 80 g Fermipan, 20 g + aquades,


urea, + 20 g Pupuk Za homogenkan

Masukkan ke sampel yang


Masukan ke Homogenkan telah dipanaskan
jerigen (dimasukkan ketika dingin)
tertutup,
selang jerigen
tercelup ke air

Diamkan selama 14
hari

15
3.3.4 Uji Nyala

Sampel hasil Destilasi Celupkan ose


fermentasi diperas ke sampel
hasil destilasi

Diamati perubahan Ose


warna api dipijarkan

16
BAB IV DATA PENGAMATAN

4.1 Data Sampel

Sampel Wujud Warna Bau


Bau khas limbah
Onggok Padatan Putih
tapioka

4.2 Data hari ke 0


Keterangan Variasi asam Hasil Benedict
Sampel setelah
Asam asetat 15% Tidak berhasil (negative)
hidrolisis

4.3 Data hari ke 7


Variasi
Wujud Warna Bau Uji nyala Keterangan
Fermipan
Bau khas Tidak Tidak
Putih
20 g Gelatin asam terbentuk terbentuk
kekuningan
asetat nyala api etanol
Bau khas Tidak Tidak
Putih
40 g Gelatin asam terbentuk terbentuk
kekuningan
asetat nyala api etanol
Bau khas Tidak Tidak
Putih
80 g Gelatin asam terbentuk terbentuk
kekuningan
asetat nyala api etanol

17
BAB V PEMBAHASAN

5.1 Karakterisitik Awal Onggok


Salah satu kandungan terbesar di dalam ampas tapioka adalah hemiselulosa.
Hemiselulosa terbentuk dari polisakarida jenis pentosa dengan kandungan paling
banyak adalah xylosa. Oleh karena itu digunakan enzim xylanase untuk memecah
monomer-monomer xylan pada hemiselulosa menjadi xylosa. Setelah polisakarida
dipecah menjadi monosakarida, maka oleh yeast akan difermentasi menjadi etanol
(Samsuri, 2007). Banyak mikroorganisme yang mampu menghasilkan xylanase, di
antaranya adalah bakteri, ragi, dan fungi berfilamen, seperti Penicillium,
Trichoderma, Aspergillus, Cryptococcus, Fusarium dan sebagainya. Berikut nilai
kompposisi yang terkandung dalam onggok.

Gambar 2. Komposisi Kimia Onggok


Sumber: a. Hendri (1999); b. Tjiptadi (1982); c. Lamiya dan Mareta (2010)
5.2 Proses Pembentukan Bioetanol
Proses pembuatan bioetanol dengan fermentasi dilakukan dengan beberapa
tahap yaitu pengolahan awal, hidrolisi, fermentasi dan destilasi. Berikut uraian
proses tersebut.

5.2.1 Proses Pre-treatment


Dalam pembuatan bioetanol dari ampas tebu yang digunakan adalah
selulosanya sehingga ligninnya harus dihilangkan. Proses pemisahan atau
penghilangan lignin dari serat – serat selulosa disebut gelatinisasi. Perlakuan
pendahuluan yang dilakukan berupa secara kimia yaitu penambahan 3 liter asam
aseta 15% diatur ph 4 karna merupakan ph optimum kemudian dilakukan
pengadukan. Pengadukan dilakukan agar akuades dapat tercampur dan membentuk
pasta. Akuades yang terkandung yaitu saat pengenceren asam aseta 15%. Akuades

18
berfungsi untuk membengkakkan granula pati. Pemanasan dan pengadukan
dilakukan ± 30 menit untuk mempercepat proses gelatinisasi. Gelatinisasi adalah
peristiwa perkembangan granula pati sehingga tidak dapat kembali pada kondisi
awal.

Onggok yang telah dipanaskan akan menjadi lebih kental seperti bubur
dengan warna menjadi lebih pekat (kecoklatan). Hal ini menndakan bahwa
gelatinisasi sudah berhasil.

Gambar 3. Proses Pretreatment Lignoselulosa

Proses pretreatment dan hidrolisa merupakan tahapan proses yang sangat


penting yang dapat mempengaruhi perolehan yield etanol. Proses pretreatment
dilakukan untuk mengkondisikan bahan-bahan lignosellulosa baik dari segi struktur
dan ukuran. Tujuan dari pretreatment adalah untuk membuka struktur lignoselulosa
agar selulosa menjadi lebih mudah diakses oleh enzim yang memecah polimer
sakarida menjadi monomer gula.

5.2.2 Proses Hidrolisa


Penambahan Asam asetat yang bersifat sebagai katalisator proses Hidrolisis
dan pemanasan sebagai proses pretreatment. Proses ini bertujuan memecah ikatan
lignin, menghilangkan kandungan lignin dan hemisellulosa, merusak struktur krital
dari sellulosa serta meningkatkan porositas bahan (Sun and Cheng, 2002).
Rusaknya struktur kristal sellulosa akan mempermudah terurainya sellulosa
menjadi glukosa. Selain itu, hemisellulosa turut terurai menjadi senyawa gula
sederhana: glukosa, galaktosa, manosa, heksosa, pentosa, xilosa dan arabinosa.

19
Selanjutnya senyawa-senyawa gula sederhana tersebut yang akan difermentasi oleh
mikroorganisme menghasilkan etanol (Osvaldo, 2012).

Pada hidrolisi onggok dengan asam diperlukan suhu yang tinggi. Semakin
lama hidrolisis asam akan memecah molekul onggok secara acak dan gula
pereduksi yang dihasilkan juga semakin banyak. Hidrolisis pati dengan asam
memiliki kelemahan yaitu senyawa asam bersifat korosif. Senyawa asam akan
membentuk senyawa lain yang dapat menghambat pertumbuhan mikroba dan
glukosa yang dihasilkan sedikiti. Hal ditandai saat pengujian glukosa dengan uji
benedict tidak adanya perubahan warna dan tidak terdapat endapan merah bata,
glukosa belum terbentuk saat proses hidrolisis.
Secara teoritis glukosa akan menghasilkan etanol dan karbondioksida.
Berikut perbandingan mol antara glukosa dan etanol pada reaksi :

Satu mol glukosa menghasilkan 2 mol etanol dan 2 mol karbondioksida,


atau dengan perbandingan bobot 180 gram glukosa akan mneghasilkan 90 gram
etanol (Richana, 2011)
5.2.3 Fermentasi
Fermentasi dilakukan selama 7 hari dalam derigen yang sedikit diberi
lubang. Pembentukan alkohol dilakukan dalam kondisi anaerob oleh
Saccharomyces cerevisiae yang merupakan jenis mikroba fakultatif anaerob.
mikroba tersebut mempunyai dua mekanisme dalam mendapatkan energi. Jika ada
energi/tenaga diperoleh melalui respirasi aerob dimana hal tersebut tidak digunakan
dalam pembentukan alkohol melainkan untuk pertumbuhan dan perkembangan sel.
Sedangkan tenaga yang diperoleh melalui respirasi anaerob sebagian digunakan
untuk pembentukan alkohol (Judoamidjojo, 1990).
Fermentasi adalah proses metabolisme yang menghasilkan energi dari gula
dan molekul organik lain serta tidak memerlukan oksigen atau sistem transfer
elektron. Setelah glukosa diubah menjadi asam piruvat melalui proses glikolisis,
pada beberapa makhluk hidup seperti bakteri, asam piruvat dapat diubah menjadi

20
produk fermentasi. Proses glikolisis menghasilkan ATP dalam jumlah kecil, namun
jumlah tersebut cukup bagi suplai energi mikroorganisme (Abdurahman, 2006).

Proses fermentasi merupakan suatu proses pemecahan senyawa kompleks


menjadi senyawa yang sederhana. Dalam proses mikrobiologi, fermentasi
dilakukan oleh mikrobia yang menghasilkan atau mempunyai enzim yang sesuai
dengan proses tersebut. Fermentasi alkoholisis, yaitu fermentasi yang
menghasilkan alkohol sebagai produk akhir di samping produk samping lainnya

5.2.4 Distilasi
Distilasi merupakan suatu metode pemisahan bahan kimia berdasarkan
perbedaan titik didih atau kemudahan menguap (volatilitas). Faktor yang
berpengaruh pada proses distilasi adalah jenis bahan yang didistilasi, temperatur,
volume bahan dan waktu distilasi. Namun faktor yang paling berpengaruh adalah
temperatur Dalam penyulingan, campuran zat dididihkan sehingga menguap, dan
uap ini kemudian didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki
titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu.
Distilasi dilakukan untuk memisahkan etanol dari beer (sebagian besar
adalah air dan etanol). Titik didih etanol murni adalah 78oC sedangkan air adalah
100oC (kondisi standar). Dengan memanaskan larutan pada suhu rentang 78o-
100oC akan mengakibatkan sebagian besar etanol menguap, dan melalui unit
kondensasi, akan bisa dihasilkan etanol dengan konsentrasi 95% volume (LIPI,
2008).
5.3 Hasil Etanol

Bahan-bahan yang mengandung monosakarida (C6H12O6) sebagai glukosa


langsung dapat difermentasi menjadi etanol. Akan tetapi disakarida pati, atau pun
karbohidrat kompleks harus dihidrolisisterlebih dahulu menjadi komponen
sederhana, monosakarida.Hidrolisis merupakan reaksi pengikatan gugus hidroksil
atau OH- oleh suatu senyawa. Gugus OH- dapat diperoleh dari senyawa air.
Hidrolisa polisakarida menjadi glukosa berlangsung sangat lambat disakarida
seperti gula pasir (C12H22O11) harus dihidrolisis menjadi glukosa. Hidrolisis

21
dilakukan dengan penambahan asam, asam yang digunakan dalam pembuatan
etanol ini asam asetat denan konsentrasi 15%. Polisakarida seperti selulosa harus
diubah terlebih dahulu menjadi glukosa. Terbentuknya glukosa berarti proses
pendahuluan telah berakhir dan bahan-bahan selanjutnya siap untuk difermentasi.
Pengecekan glukosa dilakukan menggunakan uji Benedict, apabila terdapat
glukosa akan terjadi endapan merah bata. saat pengujian endapan merah bata tidak
terbentuk dan tidak terjadi reaksi apaun. Hal ini menandakan bahwa glukosa belum
terbentuk. Secara kimiawi proses fermentasi dapat berjalan cukup panjang, karena
terjadi suatu deret reaksi yang masing-masing dipengaruhi oleh enzim-enzim
khusus.
Pembuatan etanol yang dilakukan dengan beberapa variasi fermipan yang
ditambahkan, yakni variasi 40 g, 80 g, 160 g. Kemudian ditambahkan masing-
masing 40 g Pupuk urea dan ZA. Ragi merupakan mikroba yang mampu merubah
glukosa menjadi bioetanol (Raudah dan Ernawati, 2012). Proses fermentasi dengan
penambahan ragi dan pupuk diperlukan untuk merubah karbohidrat menjadi
alkohol (Fauzi et al., 2012). Untuk mendapatkan fermentasi yang sempurna,
diperlukan kadar ragi dan pupuk yang cukup. ZA ditambahkan Syarat-syarat yang
dipergunakan dalam memilih ragi untuk fermentasi, adalah (Abidin, 2009):
1) Cepat berkembang biak
2) Tahan terhadap alkohol tinggi
3) Tahan terhadap suhu tinggi
4) Mempunyai sifat yang stabil
5) Cepat mengadakan adaptasi terhadap media yang difermentasikan
Setelah proses fermentasi selama 7 hari, dilakukan pemurnian etanol dengan
destilasi. Destilasi merupakan proses pemurnian yang dilakukan untuk
mengekstraksi bioetanol yang dihasilkan dari fermentasi. Destilasi etanol bertujuan
untuk memisahkan etanol dari larutan yang masih mengandung banyak air. Dengan
proses destilasi, diharapkan etanol yang dihasilkan dapat mencapai kadar 96%. Laju
destilasi dalam pembuatan etanol berperan dalam laju produksi bioetanol itu sendiri
(Bisowarno et al., 2010). Laju destilasi etanol sendiri dipengaruhi oleh kadar
alkohol yang dihasilkan dari proses fermentasi. Semakin tinggi kandungan etanol

22
yang dihasilkan, maka laju destilasi relatif semakin cepat. Pada saat destilasi
membutuhkan waktu yang sangat lama dan tidak terbentuk uap

Dengan 3 variasi fermipan yang dilakukan tidak satupun yang berhasil


terbentuk etanol. Hal ini dapat diketahui pada saat pengujian uji nyala tidak
terbentuk nyala api. Tidak terbentuknya etanol ini dapat diengaruhi oleh beberapa
faktor seperti berikut :

a) Nutrisi (zat gizi),


Dalam kegiatannya ragi memerlukan penambahan nutrisi untuk
pertumbuhan dan perkembangbiakan, misalnya :
 Unsur C : ada pada karbohidrat
 Unsur N : dengan penambahan pupuk yang mengandung nitrogen, ZA,
Urea.
 Unsur P : penambahan pupuk fospat dari NPK, TSP, DSp dll
b) Keasaman (pH)
Untuk fermentasi alkohol, ragi memerlukan media suasana asam, yaitu
antara pH 4–5. Pengaturan pH dilakukan penambahan asam sulfat jika
substratnya alkalis atau natrium bikarbonat jika substratnya asam.
c) Temperatur
Temperatur optimum untuk dan pengembangbiakan adalah 27 – 30°C pada
waktu fermentasi, terjadi kenaikan panas karena ekstrem. Untuk mencegah
agar suhu fermentasi tidak naik, perlu pendinginan supaya suhu
dipertahankan tetap 27−30°C
d) Volume starter
Pada umumnya volume starter yang digunakan sekitar 5% dari volume
larutan fermentasi. Hal ini dikarenakan pada volume starter yang lebih
kecil dari 5% maka kecepatan fermentasi kecil, sedangkan pada volume
starter yang lebih besar dari 5% kektifan yeast berkurang karena alkohol
yang terbentuk pada awal fermentasi sangat banyak sehingga fermentasi
lebih lama dan banyak glukosa yang tidak terfermentasikan.
e) Udara

23
Fermentasi alkohol berlangsung secara anaerobik (tanpa udara). Namun
demikian, udara diperlukan pada proses pembibitan sebelum fermentasi,
untuk pengembangbiakan ragi sel.
f) Suplai Makanan
Bahan dasar yang dapat digunakan untuk fermentasi alkohol adalah bahan
yang mengandung pati atau gula dalam jumlah tinggi (Hamidah, 2003).
g) Air (H2O)
Menurut Buckle (1985) suatu organisme membutuhkan air untuk hidup.
Air berperan dalam reaksi metabolik dalam sel dan merupakan alat
pengangkut zat gizi atau bahan limbah ke dalam dan luar sel. Jumlah air
yang terdapat dalam bahan pangan dikenal aktivitas air (aw). Bakteri
tumbuh dalam perkembangbiakan hanya dalam media dengan nilai aw
tinggi (0,91), pada khamir (0,87 – 0,91) dan kapang (0,80 – 0,87).
h) Kesediaan oksigen (O2)
Derajat anaerobiosismerupakan faktor utama mengendali fermentasi. Bila
tersedia oksigen dalam jumlah besar, maka produksi sel-sel khamir
terpacu. Akan tetapi bila produksi alkohol yang dikehendaki, maka
diperlukan penyediaan oksigen yang sangat terbatas (Desrosier, 1988
dalam Maimuna, S., 2004). Jenis khamir yang biasanya dipakai dalam
industri fermentasi alkohol adalah jenis Saccharomyces cerevisiae.
Saccharomyces cerevisiae adalah jenis khamir utama yang berperan dalam
produksi minuman berakohol seperti bir, anggur, dan juga digunakan
untuk fermentasi adonan dalam perusahaan roti dan fermentasi tape.
Kultur yang dipilih harus dapat tumbuh dengan baik dan mempunyai
toleransi yang tinggi terhadap alkohol serta mampu menghasilkan alkohol
dalam jumlah banyak.

24
BAB VI PENUTUP

6.1 Kesimpulan
Dapat disimpulkan bahwa pembuatan bioetanol dari onggok yang dilakukan
pada praktik ini tidak terbentuk. Hal ini dapat dikarenakan beberapa faktor :

1. pengolahan dengan teknologi yang sederhana


2. parameter suhu, pH, dan nutrient yang tidak optimum

6.2 Saran
Dalam pembuatan bioetanol dari onggok diharapkan mengkondisikan faktor
faktor penting yang dapat mempengaruhi pemebentukan bioetanol

25
DAFTAR PUSTAKA

Hastuti, E. D., Erma, P., Sri, H. Efektifitas Penambahan Ragi dan Pupuk
Terhadap Kadar Alkohol Bioetanol dengan Bahan Baku Jambu Citra. Jurnal
Buletin Anatomi dan Fisiologi. 2015(1):92-99.
Budiarni, M., Toga G. 2014. Pengaruh Variasi Waktu Fermentasi dan Berat Ragi
Terhadap Kadar Alkohol pada Pembuatan Bioetanol Limbah Padat Tapioka
(Onggok). (Online), (http://eprints.uny.ac.id/18310/1/ARTIKEL.pdf) Diakses
pada 29 November 2019 pukul 17.32 WIB.
Sutiyono, Soemargono, Luluk E., Nana D. S. Etanol dari Hasil Hidrolisis
Onggok. Jurnal Teknik Kimia. 2013(8):33-36.
Nisa’, W. W. Produksi Bioetanol dari Onggok (Limbah Padat Tapioka) dengan
Proses Sakarifikasi dan Fermentasi Serentak Menggunakan Khamir Hasil
Isolasi dari Tetes Tebu. (Online), (http://etheses.uin-
malang.ac.id/8237/1/07630047.pdf) Diakses pada 29 November 2019 pukul
17.36 WIB.
Maulina, A. F., Wijaya, D. G. O. Produksi Bioetanol dari Onggok dengan Enzim
NOOC secara Hidrolisis. Jurnal Ilmiah Teknik Lingkungan.(6):7-14.
Rosita. Produksi Etanol dari Onggok Menggunakan Ekstrak Kasar Enzim Alfa
amilase, Glukoamilase dan Saccharomyces cerevisiae. (Online),
(https://sith.itb.ac.id/wpcontent/uploads/sites/56/2018/01/2009_S2_Rosita_Pro
duksi-Etanol-dari-Onggok-Menggunakan-Ekstrak-Kasar-Enzim-Alfa-amilase-
Glukoamilase-dan-Saccharomyces-cerevisiae-1.pdf) Diakses pada 29 November
2019 pukul 18.43 WIB.
Walidhatun, W. 2014. Produksi Bioetanol Dari Onggok Dengan Proses
Sakarifikasi Dan Fermentasi Serentak Menggunakan Khamir Hasil Isolasi
Dari Tetes Tebu. Skripsi. Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim.
Malang.
Khotimah, N. Pembahasan Pembuatan Alkohol. (Online),
(https://www.academia.edu/20135007/Pembahasan_Pembuatan_Alkohol)
Diakses pada 29 November 2019 pukul 19.13 WIB.
Triyani. 2009. Kualitas Bioetanol Lmbah Tapioka Padat Kering Dengan
Penambahan Ragi Dan H2SO4 Pada Lama Fermentasi Yang Berbeda.
Skripsi. Universitas Urakarta.

26
LAMPIRAN

Lampiran Gambar

Proses penimbangan Proses Proses Proses


onggok penambahan air pengadukan penimbangan

Hasil timbangan Setelah ditambahkan Pengecekkan


campuran pH

Proses dimasukkan
campuran bahan ke
dirijen

27

Anda mungkin juga menyukai