Anda di halaman 1dari 19

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

DM DENGAN KOMPLIKASI DIABETES MELITUS

Disusun Oleh :

Dewi Puspita Sari NIM: PO.62.20.1.16.131


Diah AyuMulyani NIM: PO.62.20.1.16.132
Ernawati NIM: PO.62.20.1.16.138
Krisdayanti NIM: PO.62.20.1.16.149
M.Dilah Rasit NIM: PO.62.20.1.16.152
Tria Wulandary NIM: PO.62.20.1.16.164

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA

PROGRAM STUDI KEPERAWATAN PROGRAM SARJANA TERAPAN

KELAS REGULER III

2019
SATUAN ACARA PENYULUHAN

Pokok Bahasan :DM Dengan Komplikasi Kardivaskular

Sasaran :

Tempat :

Hari/Tanggal : November 2019

Waktu : 1 x 30 menit

Penyuluh : Mahasiswa Dipolma IV Keperawatan Poltekkes Palangka


Raya

I. TUJUAN
A. Tujuan Instruksional Umum (TIU)
Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan, masyarakat memahami
tentang Diabetes Melitus Dengan Komplikasi Kardiovaskular.

B. Tujuan Intruksional Khusus (TIK)


Setelah mendapatkan pendidikan kesehatan masyarakat diharapkan
mampu:
1. Menyebutkan pengertian Diabetes Melitus dengan Komplikasi
Penyakit Jantung Koroner
2. Menyebutkan penyebab Diabetes Melitus dengan Komplikasi
Penyakit Jantung Koroner
3. Mengetahui tanda dan gejala Diabetes Melitus dengan Komplikasi
Penyakit Jantung Koroner
4. Mengetahui pencegahan Diabetes Melitus dengan Komplikasi
Penyakit Jantung Koroner.
5. Mengetahui pemeriksaan diagnostik DM dengan komplikasi
kardiovaskular
6. Mengetahui penanganan DM dengan komplikasi kardiovaskular
II. SASARAN
Penderita DM dengan komplikasi

III. MATERI
(Terlampir)

IV. METODE
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. ALAT & MEDIA


1. Alat
Alat yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan ini adalah:
a. LCD
b. Laptop
c. Proyektor
d. Mikrofon
e. Meja
f. Kursi
g. Speaker

2. Media
Media yang digunakan dalam Penyuluhan Kesehatan ini adalah:

a. Leaflet
b. Slide
VI. KEGIATAN PENYULUHAN

No. Waktu Kegiatan Penyuluhan Kegiatan Peserta

1. 3 Pembukaan :

Menit  Membuka kegiatan dengan  Menjawab salam


mengucapkan salam.
 Memperkenalkan diri
 Mendengarkan
 Menjelaskan tujuan dari
 Memperhatikan
penyuluhan
 Menyebutkan materi yang akan
diberikan  Memperhatikan
2. 15 Pelaksanaan :

Menit  Menggali pengetahuan peserta  Memperhatikan

tentang DM dan
komplikasinya  Memperhatikan

 Menjelaskan pengertian DM
dengan komplikasi  Bertanya dan
kardiovaskular menjawab

 Menyebutkan penyebab pertanyaan yang

terjadinya DM dengan diajukan

komplikasi kardiovaskular  Memperhatikan

 Menyebutkan tanda dan gejala  Bertanya dan

 Menjelaskan pencegahan hipe menjawab

 Menjelaskan pemeriksaan pertanyaan yang

penunjang diajukan

 Menjelaskan penatalaksanaan

3. 10 Evaluasi :

Menit  Menanyakan kepada peserta  Menjawab


tentang materi yang telah pertanyaan
diberikan, dan reinforcement
kepada masyarakat yang dapat
menjawab pertanyaan.
4. 2 Terminasi :

Menit  Mengucapkan terimakasih atas  Mendengarkan


peran serta peserta.
 Mengucapkan salam penutup
 Menjawab salam

VII. PENGORGANISASIAN
Pamateri : Mahasiswa D IV Keperawatan

VIII. EVALUASI
1. Prosedur: Pre test dan post test
2. Jenis Test: Lisan
3. Butir Soal:
a. Jelaskan pengertian DM dengan komplikasi kardiovaskular!
b. Jelaskan penyebab terjadinya DM dengan komplikasi
kardiovaskular!
c. Sebutkan tanda dan gejala DM dengan komplikasi
kardiovaskular !
d. Sebutkan pencegahan DM untuk menghindari komplikasi!
e. Sebutkan pemeriksaan penunjang DM dengan komplikasi
kardiovaskular !
f. Sebutkan penatalaksanaan DM dengan komplikasi
kardiovaskular!
LAMPIRAN MATERI

A. Pengertian
Diabetes Melitus (DM) merupakan penyakit gangguan
metabolisme kronis yang ditandai peningkatan glukosa darah
(hiperglikemia), disebabkan karena ketidakseimbangan antara suplai dan
kebutuhan insulin.
Sedangkan komplikasi kardiovaskuler pada diabetes didasari pada
terjadinya abnormalitas fungsi endothel dan otot polos pembuluh darah,
dimana akan mempermudah terjadinya trombosis yang berperan besar
pada proses aterosklerosis dan komplikasi-komplikasi yang lain.
Akibat diabetes melitus dengan Komplikasi Kardiovaskular pada
organ jantung yaitu terjadinya penyumbatan pada dinding arteri koroner
yang memicu resiko terjadinya penyakit jantung koroner. Akibat kelainan
fungsi pada jantung akibat Diabetes Mellitus maka terjadi penurunan kerja
jantung untuk memompa darahnya ke seluruh tubuh sehingga tekanan
darah akan naik. Kadar gula darah yang terlalu tinggi akan menyebabkan
kerusakan pada pembuluh darah. Kerusakan yang terjadi pada pembuluh
darah akan meningkatkan penumpukan lemak di pembuluh darah dan hal
tersebut akan semakin memberatkan kerja organ jantung.
Apabila terlalu banyak glukosa dalam darah, akan lebih mudah
lemak menyumbat pembuluh darah. Bila kadar glukosa dalam darah naik
terutama bila berlangsung dalam waktu yang cukup lama, sehingga gula
darah tersebut dapat menjadi pekat, dan ini mendorong terjadinya endapan
lemak berwarna kuning dikenal sebagai plak atherosclerosis pada dinding
arteri koroner yaitu arteri yang mensuplai otot jantung dengan darah yang
kaya oksigen sehinnga terjadinya penyempitan pada pembuluh darah
menyebabkan penyakit jantung koroner.
B. Etiologi

1. Terbentuknya plak aterosklerosis dini jauh sebelum gejala penyakit


diabetes melitus itu muncul
2. Kontrol terhadap gula darah yang buruk
3. Tekanan darah yang tinggi
4. Kadar gula darah yang sangat tinggi dalam darah
5. Abnormalitas kadar lemak darah
6. Gangguan sistem pembekuan darah akan semakin mempercepat
munculnya komplikasi penyakit jantung koroner
7. Merokok
8. Stress

C. Tanda Dan Gejala


a. Adanya rasa nyeri dada (angina), dapat berupa rasa berat, rasa teriris-
iris, seperti diremas, rasa tertindih berat, pada dada bagian kiri atau
tengah yang dapat menjalar ke leher, bahu, punggung ataupun lengan
kiri.
b. Sesak nafas
c. Mudah capek
d. Sesak saat melakukan aktivitas atau sindroma dyspepsia seperti nyeri
ulu hati, mual ataupun muntah.
e. Keringat dingin, pusing dan lemah
f. Jika sudah berat (menjadi infark miokard) maka rasa nyeri akan
muncul tiba-tiba tanpa dicetuskan oleh aktivitas fisik, dalam rentang
waktu yang lebih lama dan sangat berat yang tidak akan membaik
dengan istirahat ataupun obat pereda nyeri dan bahkan sampai terjadi
pingsan, syok, bahkan meninggal seketika.
D. Pencegahan
1. Pengaturan makanan yang sehat
Makanan adalah salah satu hal yang wajib mulai anda atur. Mulai
mengurangi makanan berlemak adalah awal yang baik untuk
mencegah komplikasi kardiovaskular diabetes melitus dan menjaga
pola makan terutama menjaga konsumsi makanan yang mengandung
banyak glukosa. Pilih makanan yang bergizi tinggi dengan konsumsi
buah-buahan yang mengandung antioksidan tinggi seperti buah berry
(strawberry, blueberry, dll), pomegranate, kiwi. Konsumsi ikan laut
dengan kandungan omega-3 yang tinggi dan sayur-sayuran hijau juga
berpotensi untuk tetap menjaga kesehatan Anda. Hindari juga lemak
jenuh (saturated fats dan asam lemak trans). Makanan dengan
komposisi yang seimbang dalam hal karbohidrat, lemak, dan protein.
Komposisinya yaitu karbohidrat 60-70%, protein 10-15%, lemak 20-
25%. Jumlah kalori disesuaikan dengan pertumbuhan status gizi,
umur, stres, dan kegiatan fisik, yang pada dasarnya ditujukan untuk
mencapai dan mempertahankan berat badan ideal.
2. Kegiatan jasmani yang aktif (olahraga)
Berolahraga secara teratur dapat menurunkan dan menjaga kadar
gula darah tetap normal. Prinsipnya tidak perlu olah raga berat, olah
raga ringan asal dilakukan secara teratur akan sangat bagus
pengaruhnya bagi kesehatan. Beberapa contoh olah raga yang
disarankan yaitu jalan atau lari pagi, menari, bersepeda, berenang,
berjalan kaki atau hanya berjalan di tempat akan membantu anda
menurunkan risiko komplikasi diabetes . Olahraga aerobik ini
paling tidak dilakukan selama total 30-40 menit per hari didahului
dengan pemanasan 5-10 menit dan diakhiri pendinginan antar 5-10
menit. Olah raga akan memperbanyak jumlah dan meningkatkan
aktivitas reseptor insulin dalam tubuh dan juga meningkatkan
penggunaan glukosa.Olahraga dapat membantu Anda menurunkan
risiko kardiovaskular, kolesterol, dan tingkat tekanan darah, serta
menjaga berat badan tetap terjaga. Olahraga juga mengurangi stres
dan dapat membantu mengurangi obat diabetes.
3. Menghindari merokok
Penderita diabetes yang merokok memiliki peluang dua kali lebih
mungkin untuk meninggal dibandingkan mereka yang tidak
merokok. Berhenti merokok membantu jantung dan paru-paru. Hal
Ini juga menurunkan tekanan darah dan risiko stroke, serangan
jantung, kerusakan saraf, dan penyakit ginjal.
4. Mengendalikan stres
Bila memiliki diabetes, maka stres dapat menyebabkan kadar
glukosa darah meningkat. Karena itu singkirkan sebisa mungkin
tekanan fisik atau mental. Pelajari cara baik untuk berurusan dengan
orang lain. Teknik relaksasi seperti latihan pernapasan, yoga, dan
meditasi mungkin sangat efektif untuk mencegah stress.
5. Istirahat dan tidur yang cukup
Tidur yang terlalu banyak atau terlalu sedikit dapat meningkatkan
nafsu makan dan keinginan untuk makan makanan tinggi
karbohidrat. Hal tersebut dapat menyebabkan penambahan berat
badan, meningkatkan risiko komplikasi seperti penyakit jantung.
Jadi tidurlah yang cukup selama tujuh atau delapan jam tidur setiap
malam. Jika anda memiliki kesulitan untuk tidur, cobalah atasi dan
konsultasi dengan ahlinya. Memperbaiki pola tidur anda dapat
menurunkan kadar gula darah anda.
6. Kontrol kesehatan secara rutin.
Kontrol kesehatan secara rutin dengan melakukan cek kadar gula
darah secara rutin dan kontrol tekanan darah. Mengontrol tekanan
darah ini bukan hanya perlu dilakukan oleh penderita penyakit DM
yang juga menderita penyakit hipertensi. Kontrol gula darah rata-
rata selama 2 sampai 3 bulan terakhir. Anda mungkin perlu
diperiksa dua kali atau lebih dalam setahun. Tekanan darah di
bawah 130/80 mm Hg. Kolesterol LDL di bawah 100 mg/dl dan
HDL di atas 40 mg/dl, dan trigliserida di bawah 150 mg/dl.
Skriining awal dapat dilakukan dengan melakukan serangkaian
pemeriksaan seperti pemeriksaan laboratorium (darah rutin,
kolesterol, kadar gula darah, enzim jantung), elektrocardiografi,
treadmill, foto dada, echocardiografi atau bahkan kateterisasi
(angiografi).
E. Pemeriksaan Diagnostik
1. Pemeriksaan Gula Darah Puasa
Normal : 80 – 120 mg/dl
Abnormal : ≥ 120 mg/dl
2. Pemeriksaan Gula Darah Postprandial
Normal : ≤ 120 mg/dl
Abnormal : ≥ 200 mg/dl
3. HbA1c
Normal : ≤ 6,5%
Abnormal : ≥ 8%
4. Pemeriksaan Albumin.
5. Pemeriksaan Darah Urea Nitrogen (BUN) dan kreatinin.
6. Pemeriksaan Toleransi Glukosa Oral (TTGO)
Normal : Puncaknya jam pertama setelah pemberian 140 mg/dl
dan kembali normal 2 atau 3 jam kemudian.
Abnormal : Peningkatan glukosa pada jam pertama tidak kembali
setelah 2 atau 3 jam, urine positive glukosa.
7. Pemeriksaan Urine
- Glukosa urine meningkat.
- Pemeriksaan keton dan albumin urine.
8. Pemeriksaan jantung dengan EKG, Ekokardiograf

F. Penatalaksanaan
Tujuan penatalaksanaan pasien dengan Diabetes Melitus (DM) adalah :
a. Menormalkan fungsi dari insulin dan menurunkan kadar glukosa
darah.
b. Mencegah komplikasi
c. Mencegah terjadinya hipoglikemia dan ketoasidosis
Ada 5 pilar penatalaksanaan Diabetes Melitus (DM) yaitu :
1. Managemen Diet DM
Kontrol nutrisi, diet dan berat badan merupakan dasar penanganan
pasien DM. Tujuan yang paling penting dalam manajemen nutrisi dan
diet adalah mengontrol total kebutuhan kalori tubuh, intake yang
dibutuhkan. Komposisi nutrisi pada diet DM adalah kebutuhan kalori,
karbohidrat, lemak, protein, dan serat.
2. Latihan Fisik
Latihan fisik bagi penderita DM sangat dibutuhkan, karena pada saat
latihan fisik energi yang dipakai adalah glukosa dan asam lemak
bebas. Latihan fisik bertujuan :
a. Menurunkan gula darah dengan meningkatkan metabolisme
karbohidrat.
b. Menurunkan berat badan dan mempertahankan berat badan
normal.
c. Meningkatkan sensifitas insulin.
d. Meningkatkan kadar HDL (high density lipoprotein) dan
menurunkan trigliserida.
3. Obat-Obatan
a. Obat antidiabetik oral atau Oral Hypoglikemik Agent (OH)
Efektif pada DM tipe II, jika mangemen nutrisi dan latihan fisik
gagal.
Jenis obat-obatan antidiabetik oral diantaranya :
 Sulfonilurea : Bekerja dengan merangsang sel beta pankreas
untuk melepaskan cadangan insulinnya. Yang termasuk obat jenis
ini adalah Glibenklamid, Tolbutamid, Klorpropamid.
 Biguanida : Bekerja dengan menghambat penyerapan
glukosa di usus, misalnya mitformin, glukophage.
b. Pemberian hormon insulin
Pasien dengan DM tipe I tidak mampu memproduksi insulin
dalam tubuhnya, sehingga sangat tergantung pada pemberian
insulin. Berbeda dengan DM tipe II yang tidak tergantung pada
insulin, tetapi memerlukannya sebagai pendukung untuk
menurunkan glukosa darah dalam mempertahankan kehidupan.
Tujuan pemberian insulin adalah meningkatkan transport glukosa ke
dalam sel dan menghambat konversi glikogen dan asam amino
menjadi glukosa. Berdasarkan daya kerjanya insulin dibedakan
menjadi :
 Insulin dengan masa kerja pendek (2 – 4 jam) seperti Reguler
insulin, actrapid.
 Insulin dengan masa kerja menengah (6 – 12 jam) seperti NPH
(Neutral Protamine Hagedorn) insulin, Lente insulin.
 Insulin dengan masa kerja panjang (18 – 24 jam) seperti
Protamine zinc insulin dan Ultralente insulin.
 Insulin campuran yaitu kerja cepat dan menengah, misalnya 70%
NPH, 30% reguler.
4. Pendidikan Kesehatan
Edukasi diabetes adalah pendidikan dan pelatihan mengenai
pengetahuan dan keterampilan bagi pasien diabetes yang bertujuan
menunjang perubahan perilaku untuk meningkatkan pemahaman
pasien akan penyakitnya, yang diperlukan untuk mencapai keadaan
sehat optimal, dan penyesuaian keadaan psikologik serta kualitas
hidup yang lebih baik.
5. Monitoring Glukosa Darah
Pasien dengan DM perlu diperkenalkan tanda dan gejala
hiperglikemia dan hipoglikemia serta yang paling penting adalah
bagaimana memonitor glukosa darah secara mandiri. Pemeriksaan
glukosa darah dapat dilakukan secara mandiri dengan menggunakan
glukometer. Pemeriksaan ini penting untuk memastikan glukosa darah
dalam keadaan stabil.
Pengukuran glukosa darah dapat dilakukan pada sewaktu-waktu atau
pengukuran gula sewaktu yaitu pasien tanpa melakukan puasa,
pengukuran 2 jam setelah makan dan pengukuran pada saat puasa
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Riwayat Penyakit Sekarang
a. Sejak kapan pasien mengalami tanda dan gejala penyakit Diabetes
Melitus (DM) dan apakah sudah dilakukan untuk mengatasi gejala
tersebut.
b. Pengunaan obat-obatan atau zat kimia.
c. Hipertensi lebih dari 140/90 mmHg atau kolesterol atau trigliserida
lebih dari 150 mg/dl.
d. Perubahan pola makan, minum, dan eliminasi urin.
e. Apakah ada riwayat keluarga dengan penyakit Diabetes Melitus
(DM).
f. Adakah riwayat luka yang lama sembuh.
g. Penggunaan obat DM sebelumnya.
2. Keluhan Utama Pasien Saat Ini
a. Nutrisi : Peningkatan nafsu makan, mual, muntah, penurunan atau
peningkatan berat badan, banyak minum dan perasaan haus.
b. Eliminasi : Perubahan pola berkemih (poliuria), nokturia, kesulitan
berkemih, diare.
c. Neurosensori : Nyeri kepala, parasthesia, kesemutan pada
ekstremitas, penglihatan kabur, gangguan penglihatan.
d. Integumen : Gatal pada kulit, gatal pada sekitar penis dan vagina,
luka gangrene.
e. Muskuluskeletal : Kelemahan dan keletihan.
f. Fungsi seksual : Ketidakmampuan ereksi, penurunan libido,
kesulitan orgasme pada wanita.
3. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Integumen
- Kulit kering dan kasar.
- Gatal-gatal pada kulit dan sekitar alat kelamin.
- Luka gangren.
b. Muskuloskeletal
- Kelamahan otot.
- Nyeri tulang.
- Kelainan bentuk tulang.
- Adanya kesemutan, dan kram ekstremitas.
- Osteomilitas.
c. Sistem Persarafan
- Menurunnya kesadaran.
- Kehilangan memori, iritabilitas.
- Neuropati pada ekstremitas.
- Penurunan sensasi.
- Penurunan reflex tendon.
d. Sistem Pernafasan
- Napas bau keton
- Perubahan pola nafas
e. Sistem Kardiovaskuler
- Hipertensi
- Takhikardia, palpitasi.

B. Diagnosa Keperawatan
1. Penurunan curah jantung b/d peningkatan kerja jantung
2. Gangguan pertukaran gas b/d sesak nafas
3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
4. Risiko ketidakstabilan kadar gula darah
Dengan faktor risiko :
- Umur
- Pemantaun glukosa darah
- Penurunan berat badan
- Pengobatan
C. Intervensi Keperawatan
1. Curah jantung menurun berhubungan dengan perubahan kontraktilitas,
perubahan frekuensi, irama, perubahan struktural.
Tujuan : menunjukan tanda vital dalam batas yang dapat diterima
(disritmia terkontrol/hilang) dan bebas gejala gagal jantung (misalnya
haluaran urine adekuat)
Intervensi:
a. Catat bunyi jantung
Rasional : S1 dan S2 mungkin melemah karena menurunya kerja
pompa, irama gallop (S3 dan S4) dihasilkan sebagai aliran darah
kedalam serambi yang distensi.

b. Monitoring TTV
Rasional : TD dapat meningkat sehubungan dengan tahanan vaskuler
sistemik, tubuh tidak mampu lagi mengkompensasi dan hipotensi tak
dapat normal dan penurunan curah jantung dapat menunjukan
menurunya nadi radial, nadi mungkin cepat hilang atau tidak teratur
untuk dipalpasi.
c. Kaji kulit terhadap pucat dan sianosis
Rasional : pucat menunjukan menurunya perfusi perifer sekunder
terhadap tidak adekuatnya curah jantung, vasokonstriksi dan anemia

d. Periksa nyeri tekan betis, menurunya nadi pedal, pembengkakan,


kemerahan lokal atau pucat pada ekstremitas.
Rasional : menurunya curah jantung, bendungan atau statis vena dan
tirah baring lama meningkatkan resiko tromboflebitis.

Kolaborasi:
a) Berikan oksigen tambahan sesuai dengan indikasi
Rasional : meningkatkan sediaan oksigen untuk kebutuhan miokard
untuk melawan efek hipoksia atau iskemia

b) Berikan diuretik sesuai indikasi


Rasional : diuretik blok reabsorbsi diuretik, sehingga
mempengaruhi reabsorbsi natrium dan air.

c) Berikan obat vasodilator sesuai indikasi


Rasional : digunakan untuk meningkatkan curah jantung,
menurunkan volume sirkulasi dan tahanan vascular sistemik, juga
kerja ventrikel.
2. Gangguan pertukaran gas b/d perubahan membrane kapiler-alveolus,
pengumpulan atau perpindahan cairan kedalam area interstisial/alveoli.
Tujuan : oksigenasi adekuat pada jaringan ditunjukan GDA (gas
darah arteri) dalam batas rentang normal dan bebas gejala distres
pernapasan

Intervensi:

a. Auskultasi bunyi napas, catat krekels, mengi


Rasional : menyatakan adanya kongesti paru/pengumpulan sekret
menunjukan kebutuhan untuk intervensi lanjut.
b. Anjurkan pasien untuk batuk efektif, napas dalam.
Rasional : membersihkan jalan napas dan memudahkan aliran
oksigen
c. Pertahankan duduk dikursi/tirah baring dengan kepala tempat tidur
tinggi 20-30 derajat, posisi semi fowler. Sokong tangan dengan
bantal.
Rasional : menurunkan konsumsi oksigen atau kebutuhan dan
meningkatkan inflamasi paru maksimal.
Kolaborasi
a. Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi
Rasional : meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar, yang
dapat memperbaiki/menurunkan hipoksemia jaringan
b. Berikan obat bronkodilator sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan aliran oksigen dengan mendilatasi
jalan napas kecil dan mengeluarkan efek diuretik ringan untuk
menurunkan kongesti paru
3. Intoleransi aktivitas b/d kelemahan
Tujuan : berpartisipasi pada aktivitas yang diinginkan. Memenuhi
kebutuhan perawatan pada diri sendiri.
Intervensi :
a. Anjurkan untuk membatasi aktivitas
Rasional : Membetasi aktifitas bertujuan untuk menimalkan
penggunaan energi yang tidak penting.
b. Observasi TTV
Rasional : Untuk mengetahui tanda-tanda vital pasien.
c. Anjurkan klien dibantu dalam melakukan aktifitas yang berat.
Rasional : Membantu klien dalam melakukan aktifitas yang berat
untuk mengurangi pemborosan energi.
d. Anjurkan klien melakukan aktivitas semampunya
Rasional : Meningkatkan aktivitas secara bertahap sampai normal dan
memperbaiki tonus otot.
e. Anjurkan untuk mendekatkan alat atau barang yang dibutuhkan
supaya tidak beraktifitas terlalu berat.
Rasional : Aktifitas yang tidak terlalu berat meminimalkan
penggunaan energi yang berlebihan.
4. Kurang pengetahuan b/d keterbatasan paparan informasi
Tujuan: pengetahuan meningkat, melakukan perubahan gaya hidup, serta
berpartisipasi dalam program pengobatan
Intervensi:
a. Diskusikan topic utama seperti tanda dan gejala, penyebab proses
penyakit serta komplikasi yang sesuai tipe DM yang dialami pasien
Rasional: meningkatkan pengetahuan pasien mengenai penyakitnya
b. Diskusikan rencana diet, penggunaan makana tinggi serat, dan
manajemen diet secara teratur
Rasional: agar gula darah dapat terkontrol
c. Diskusikan tentang pentingnya control glukosa darah program
pengobatan
Rasional: agar gula darah dapat terkontrol
5. Risiko ketidakstabilan kadar gula darah
Dengan faktor risiko :
- Umur
- Pemantaun glukosa darah
- Penurunan berat badan
- Pengobatan
Intervensi :
a. Pantau kadar gula darah
Rasional : Gula darah akan menurun perlahan dan terapi insulin dapat
terkontrol.
b. Kaji tanda dan gejala hipoglikemia dan hiperglikemia
Rasional : Sebagai petunjuk dalam memberikan penanganan lebih
cepat.
c. Anjurkan pasien beraktivitas sesuai toleransi tubuh
Rasional : Menurunkan kadar glukosa darah.
d. Pantau kepatuhan diet
Rasional : Agar glukosa darah stabil.
e. Berikan insulin secara rutin.
Rasional : Agar kadar gula darah terkontrol.
DAFTAR PUSTAKA

Soegondo, Sidartawan dkk.2009.Penatalaksanaan Diabetes Melitus Terpadu.Jakarta: FKUI

Manaf,Asman.2015.Komplikasi Diabetes Melitus .Dikutip dari


http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29265/4/Chapter%20II.pdf.