Anda di halaman 1dari 11

SATUAN ACARA PENYULUHAN

PENCEGAHAN KOMPLIKASI PADA POST OPERASI ORIF

KELOMPOK 6 :

1. Hadijah Bauzi Badzamal


2. Halimatul Azizah
3. Mury Hartanto
4. Anisaun Nurjanah
5. Linda Nur Herlina
6. Awitan Nur Santi

SI KEPERAWATAN 3B

STIKES AL IRSYAD AL ISLAMIYYAH CILACAP

TAHUN PELAJARAN 2019/2020


SATUAN ACARA PENYULUHAN
POST OPERASI ORIF

SATUAN ACARA BERMAIN


Topik : Penceghan komplikasi post op ORIF
Waktu : Senin, 05 Oktober 2019

Sasaran : Pasien post op ORIF

Tempat :

Penyaji :

I. TUJUAN INSTRUKSIONAL UMUM


Setelah diberikan penyuluhan diharapkan klien dapat mengetahui factor apa saja
yang menyebabkan komplikasi lebih lanjut pada pasien post OP ORIF, sehingga
bisa mencegah terjadinya komplikasi

II. TUJUAN INSTRUKSIONAL KHUSUS


Setelah mendapatkan penyuluhan diharapkan klien mampu :
1. Mengetahui pengertian dari ORIF
2. Mengetahui Tujuan Tindakan Perawatan Luka
3. Mengetahui faktor apa saja yang mempengaruhi penyembuhan luka
4. Mengetahui bagaimana cara melakukan perawatan luka dirumah
5. Mengetahui Komplikasi yang bisa terjadi
6. Mengetahui bagaiman cara mencegah komplikasi agar tidak terjadi

III. Materi
1. Pengertian ORIF
2. Tujuan Tindakan Perawatan Luka post op ORIF
3. Faktor yang mempengrauhi proses penyembuhan luka pada post op ORIF
4. Cara melakukan perawatan luka dirumah
5. Komplikasi yang dapat terjadi
6. Cara mencegah komplikasi
IV. Metode
1. Ceramah
2. Tanya Jawab

V. Media
1. Ppt
2. leaflet

RENCANA PELAKSANAAN
No Kegiatan Waktu Kegiatan Peserta
1 Persiapan : 2 menit
a. Alat ( Laptop
Lcd dan sound
system )
2 Proses: 20 Menjawab
a. Membuka menit salam,
proses memperkenalkan
penyuluhsn diri,
dengan memperhatikan
mengucapkan
salam,
memperkenalka
n diri
b. Menjelaskan
pada klien dan
keluarga tentang
tujuan dan
manfaat Bermain
penyuluhan bersama dengan
c. Menjelaskan antusias dan
materi yang mengungkapkan
disajikan perasaannya
d. Memberikan ice
breaking
e. Melakukan
permainan
sederhana
3 Evaluasi : 20
a. Memberikan menit
kesempatan
pada sasaran
untuk bertanya
b. Menjelaskan
kembali hal
yang belum
dimengerti oleh
sasaran
c. Menanyakan
kembali materi
yang telah
diberikan
4 Penutup 5 menit Memperhatikan
Menutup dan dan menjawab
mengucapkan salam salam

EVALUASI
OPEN REDUCION INTERNAL FIXATION (ORIF)

Pengertian ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

Pasien yang memiliki masalah di bagian musculoscletal memerlukan tindakan


pembedahan yang bertujuan untuk memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerkan
stabilisasi, mengurangi nyeri dan mencegah bertambah parahnya gangguan musculoskeletal.
Salah satu prosedur pembedahan yang sering dilakukannya itu dengan fiksasi interna atau
disebut juga pmebedahan ORIF ( Open Reduction Internal Fixtation ).

Open Reduction Internal Fixation (ORIF) adalah suatu jenis operasi dengan pemasangan
internal fiksasi yang dilakukan ketika fraktur tersebut tidak dapat direduksi secara cukup dengan
close reduction, untuk mempertahankan posisi yang tepat pada fragmen fraktur (John C. Adams,
1992 dalam Potter & Perry, 2005).

Fungsi ORIF untuk mempertahankan posisi fragmen tulang agar tetap menyatu dan tidak
mengalami pergerakan. Internal fiksasi ini berupa intra medullary nail, biasanya digunakan untuk
fraktur tulang panjang dengan tipe fraktur transvers.

Open Reduction Internal Fixation (ORIF) adalah sebuah prosedur bedah medis, yang
tindakannya mengacu pada operasi terbuka untuk mengatur tulang, seperti yang diperlukan untuk
beberapa patah tulang, fiksasi internal mengacu pada fiksasi sekrup dan piring untuk
mengaktifkan atau memfasilitasi penyembuhan (Brunner &Suddart, 2003).

Tujuan ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

Ada beberapa tujuan dilakukannyapembedahanOrif, antara lain:

1. Memperbaiki fungsi dengan mengembalikan gerakan dan stabilitas


2. Menguranginyeri.
3. Klien dapat melakukan ADL dengan bantuan yang minimal dan dalam lingkup
keterbatasan klien.
4. Sirkulasi yang adekuat dipertahankan pada ekstremitas yang terkena
5. Tidak ada kerusakan kulit
Indikasi dan Kontraindikasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

Indikasi tindakan pembedahan ORIF:

1. Fraktur yang tidak stabil dan jenis fraktur yang apabila ditangani dengan metode terapi
lain, terbukti tidak memberi hasil yang memuaskan.
2. Fraktur leher femoralis, fraktur lengan bawah distal, dan fraktur intraartikular
disertai pergeseran.
3. Fraktur avulsi mayor yang disertai oleh gangguan signifikan pada struktur otot
tendon

Kontraindikasi tindakan pembedahan ORIF:

1. Tulang osteoporotik terlalu rapuh menerima implan


2. Jaringan lunak diatasnya berkualitas buruk
3. Terdapat infeksi
4. Adanya fraktur comminuted yang parah yang menghambat rekonstruksi.
5. Pasien dengan penurunan kesadaran
6. Pasien dengan fraktur yang parah dan belum ada penyatuan tulang
7. Pasien yang mengalami kelemahan (malaise)

Perawatan Post Operasi ORIF (Open Reduction Internal Fixation)

Dilakukan utnuk meningkatkan kembali fungsi dan kekuatan pada bagian yang sakit. Dapat
dilakukan dengan cara:

1. Mempertahankan reduksi dan imobilisasi.


2. Meninggikan bagian yang sakit untuk meminimalkan pembengkak.
3. Mengontrol kecemasan dan nyeri (biasanya orang yang tingkat kecemasannya tinggi,
akan merespon nyeri dengan berlebihan)
4. Latihan otot
Pergerakan harus tetap dilakukan selama masa imobilisasi tulang, tujuannya agar
otot tidak kaku dan terhindar dari pengecilan massa otot akibat latihan yang kurang
5. Memotivasi klien untuk melakukan aktivitas secara bertahap dan menyarankan keluarga
untuk selalu memberikan dukungan kepada klien.
6. Melakukan perawatan luka secara steril pada luka pasca-bedah ORIF dengan iodin
providum dan dibersihkan dengan alkohol 70% dengan teknik swabbing dari arah dalam
keluar. Teknik swabbing secara steril dapat membersihkan sisa nekrotik, debris, dan
mengurangi kontaminasi kuman.

Masalah Pasca Bedah ORIF Masalah yang sering kali ditimbulkan pada pasien pasca
bedah ORIF meliputi:

1. Nyeri merupakan keluhan yang paling sering terjadi setelah bedah ORIF. Nyeri yang
dapat dirasakan seperti tertusuk dan terbakar pada tujuh hari pertama dan nyeri yang
sangat hebat akan dirasakan pada beberapa hari pertama.
2. Gangguan mobilitas pada pasien pasca bedah ORIF juga akan terjadi akibat proses
pembedahan.
3. Kelelahan sering kali terjadi pada pasien post ORIF yaitu kelelahan sebagai suatu sensasi.
Gejala nyeri otot, nyeri sendi, sakit kepala, dan kelemahan dapat terjadi akibat kelelahan
system musculoskeletal dan gejala ini merupakan tanda klinis yang sering kali terlihat
pada pasien paska ORIF.
4. Perubahan ukuran, bentuk dan fungsi tubuh yang dapat mengubah system tubuh,
keterbatasan gerak, kegiatan, dan penampilan juga sering kali dirasakan oleh pasien
paska bedah ORIF
5. Pada pasien Fraktur femur dengan post ORIF bisa terjadi resiko syok hipovolemi karena
pada saat dilakukan pembedahan untuk memasangan plate pasti terjadi pemotongan atau
penyatan pada kulit yang mengakibatkan arteri atau vena terputus,keadaan itu juga yang
menyebabkan perdarahan pada pasien saat terjadinya operasi. Jika perdarahan tersebut
tidak segera diatasi maka akan terjadi perdarahan yang hebatdan akan menyebabkan
kehilangan volume cairan, cairan ini dapat berupa darah, plasma dan elektrolit maka dari
itu bisa menyebabkan syok hipovolemi atau resiko syokhipovolemi pada pasien dengan
keadaan pembedahan fraktur femur (Price, 2006). Faktor- faktor yang menyebabkan syok
hipovolemik yaitu perdarahan yang berat dan menyebabkan kehilangan cairan
intravaskuler bisa berupa eksogen atau endogen. Pada kehilangan cairan yang eksogen
cairan betul-betul keluar dari jaringan tubuh seperti pada perdarahan atau kasus luka
bakar. Sedangkan pada kehilangan cairan endogen maka cairan betul-betul telah keluar
dari intravaskuler tetapi masih dalam jaringan atau rongga tubuh namun belum keluar
dari tubuh sendiri (Price, 2006).Syok hipovolemik tidak terjadi pada kasus kami karena
pasien saat pembedahan ORIF pengalami perdarahan ± 200 cc dan itu bukan perdarahan
yang sedang maupun berat. Sedangkan perdarahan yang menyebabkan syok hipovolemik
yaitu kehilangan volume darah 30-40% sekitar 2000 cc pada orang dewasa. Maka dari itu
kasus kami tidak menegakkan diagnosa resiko syok hipovolemik (Price, 2006)
6. Pada pasien post ORIF dengan adanya prosedur pembedahan berarti benda asing seperti
gunting bedah, pisau bedah yang menembus kulit kemudian terjadi penyatan pada kulit
yang mengakibatkan dermis/epidermis terluka dan menyebabkan ditegakkannya diagnosa
kerusakan integritas kulit pada pasien post ORIF

Tujuan Tindakan Perawatan Luka Post Op ORIF

1. Untuk Mencegah Infeksi


2. Untuk memberikan perasaan nyaman pasien
3. Mempercepat Proses penyembuhan pasien

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Penyembuhan Luka

1. Nutrisi yang cukup


2. Perawatan luka yang baik
3. Istirahat

Cara Perawatan luka dirumah

1. Cuci tangan dengan sabun atau anti septic lainnya sebelum merawat luka
2. Buka balutan dengan hati hati
3. Bersihkan luka dengan larutan Natrium klorida/ Nacl atau menggunakan air matang
4. Olesi Luka dengan anti septic
5. Tutup luka dengan kassa steril

Komplikasi yang sering dialami pasien post op ORIF

1. Infeksi di tempat pen ( osteomyelitis ).


2. Kekakuan pembuluh darah dan saraf.
3. Kerusakan periostium yang parah sehingga terjadi delayed union atau non union .
4. Emboli lemak.
5. Overdistraksi fragmen
Pencegahan Komplikasi post op ORIF
1. Mobilisasi berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk mengembalikan fungsi
anggota badan seperti sebelum patah.
a. Static contraction
Static contraction merupakan kontraksi otot secara isometrik untuk mempertahankan
kestabilan tanpa disertai gerakan (Priatna, 1985). Dengan gerakan ini maka akan
merangsang otot-otot untuk melakukan pumping action sehingga aliran darah balik
vena akan lebih cepat. Apabila sistem peredaran darah baik maka oedema dan nyeri
dapat berkurang.
b. Latihan pasif
Merupakan gerakan yang ditimbulkan oleh adanya kekuatan dari luar sedangkan otot
penderita rileks (Priatna, 1985). Disini gerakan pasif dilakukan dengan bantuan
terapis.
c. Latihan aktif
Latihan aktif merupakan gerakan murni yang dilakukan oleh otot-otot anggota tubuh
pasien itu sendiri. Tujuan latihan aktifmeningkatkan kekuatan otot (Kisner, 1996).
Gerak aktif tersebut akan meningkatkan tonus otot sehingga pengiriman oksigen dan
nutrisi makanan akan diedarkan oleh darah. Dengan adanya oksigen dan nutrisi
dalam darah, maka kebutuhan regenerasi pada tempat yang mengalami perpatahan
akan terpenuhi dengan baik dan dapat mencegah adanya fibrotik.
d. Latihan jalan
Salah satu kemampuan fungsional yang sangat penting adalah berjalan. Latihan jalan
dilakukan apabila pasien telah mampu untuk berdiri dan keseimbangan sudah baik.
Latihan ini dilakukan secara bertahap dan bila perlu dapat menggunakan walker.
Selain itu dapat menggunakan kruk tergantung dari kemampuan pasien. Pada waktu
pertama kali latihan biasanya menggunakan teknik non weight bearing ( NWB ) atau
tanpa menumpu berat badan. Bila keseimbangan sudah bagus dapat ditingkatkan
secara bertahap menggunakan partial weight bearing ( PWB ) dan full weight
bearing ( FWB ). Tujuan latihan ini agar pasien dapat melakukan ambulasi secara
mandiri walaupun masih dengan alat bantu.
2. Hand Hygine dan Menerapkan PHBS ( Pola Hidup Bersih dan Sehat )
3. Menjaga Pola Makan dengan Asupan dan diet yang tepat