Anda di halaman 1dari 40

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Saluran pencernaan merupakan suatu saluran kontinu yang berjalan dari
mulut sampai anus. Fungsi utama sistem pencernaan adalah untuk
memindahkan zat gizi atau nutrient seperti air dan elektrolit dari makanan
yang dimakan ke dalam lingkungan internal tubuh.

Perdarahan saluran cerna merupakan masalah yang sering dihadapi.


Manifestasinya bervariasi mulai dengan perdarahan masif yang
mengancam jiwa hingga perdarahan samar yang tidak dirasakan.
Pendekatan pada pasien dengan perdarahan dan lokasi perdarahan saluran
cerna adalah dengan menentukan beratnya perdarahan dan lokasi
perdarahan. Perdarahan saluran cerna dapat menyerang semua orang dan
semua golongan.

Perdarahan saluran pencernaan akut merupakan masalah kegawatan


medis dengan jumlah penderita yang masuk rumah sakit 7000 orang per
tahun di Skotlandia. Berdasarkan laporan penelitian di Inggris tahun
2007, angka mortalitas akibat perdarahan saluran pencernaan akut
mencapai tujuh persen. Sedangkan insidensi kejadian perdarahan saluran
pencernaan akut di Skotlandia Barat mencapai 170/100.000 penduduk
dengan angka mortalitas 8,2% (SIGN, 2008).

Perdarahan saluran cerna dapat dibagi menjadi dua, yaitu perdarahan


saluran cerna bagian atas dan perdarahan saluran cerna bagian bawah.
Perdarahan saluran cerna bagian atas adalah perdarahan yang terjadi di
saluran cerna yang dimulai dari mulut hingga ke 2/3 bagian dari
duodenum atau perdarahan saluran cerna proksimal dari ligamentum
Treitz. Perdarahan saluran cerna bagian atas merupakan masalah
kegawatan dengan angka mortalitas di rumah sakit sebesar 10%.
Walaupun sudah ada perbaikan manajemen penanganan perdarahan
saluran cerna bagian atas, akan tetapi belum mampu menurunkan angka
mortalitas secara signifikan sejak 50 tahun yang lalu (National Institute
for Health and Clinical Execellence, 2012).
Perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah perdarahan yang berasal
dari usus di sebelah distal ligamentum Treitz. Pasien dengan perdarahan
saluran cerna bagian bawah datang dengan keluhan darah segar sewaktu
buang air besar. Hampir 80% dalam keadaan akut berhenti dengan
sendirinya dan tidak berpengaruh pada tekanan darah. Hanya 25% pasien
dengan perdarahan berat dan berkelanjutan berdampak pada tekanan
darah (Edelman, 2007).

Angka kejadian perdarahan saluran cerna bagian bawah di Amerika


Serikat mencapai 22 kasus per 100.000 penduduk dewasa pada tahun
2007. Walaupun sudah berkembang pemeriksaan diagnostik yang
canggih, namun 10% dari jumlah kasus perdarahan saluran cerna bagian
bawah, lokasi perdarahan tidak bisa teridentifikasi (Edelman, 2007).

Pengobatan dan perawatan pada pasien dengan perdarahan saluran cerna


seharusnya memperhatikan kebutuhan pasien, hal yang disukai pasien,
serta memperhatikan aspek spiritual dan kepercayaan pasien. Komunikasi
yang baik dan efektif antara pasien dan petugas kesehatan mutlak
diperlukan. Selain itu pelayanan keperawatan yang diberikan harus
mengacu pada aspek biopsikososiokultural dan spiritual pasien (National
Institute for Health and Clinical Execellence, 2012).
Berdasarkan fenomena tersebut, maka penulis tertarik menulis makalah
asuhan keperawatan pada klien dengan perdarahan saluran pencernaan.
BAB II
TINJAUAN TEORI

2.1. KONSEP PERDARAHAN SALURAN PENCERNAAN BAGIAN


ATAS
2.1.1. Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian atas didefinisikan sebagai
perdarahan yang terjadi di sebelah proksimal ligamentum Treitz
pada duodenum distal. Sebagian besar perdarahan saluran cerna
bagian atas terjadi sebagai akibat penyakit ulkus peptikum (PUD,
peptic ulcer disease) yang disebabkan oleh H. Pylori, penggunaan
obat-obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS), alkohol. Robekan
Mallory-Weiss, varises esofagus, dan gastritis merupakan penyebab
perdarahan saluran cerna bagian atas yang jarang (Dubey, 2008).

Perdarahan saluran cerna bagian atas merupakan perdarahan yang


bersumber dari proksimal sampai ligamentum Treitz. Pada kasus,
perdarahan biasanya bersumber dari esophagus, gaster, dan
duodenum (SIGN, 2008).

2.1.2. Etiologi
Secara umum penyebab perdarahan saluran cerna dibagi menjadi
dua, yaitu penyebab mayor dan minor.
2.1.2.1. Peptic ulcer
Tukak ini berkaitan dengan infeksi H. Pylori (80%) dan
bisa juga dengan aspirin/OAINS. Tukak peptik dapat di
lambung, duodenum, esofagus, dan diverticulum Meckel,
dan hebat tidaknya perdarahan tergantung dari kaliber
pembuluh darah yang terluka. Forrest membagi aktivitas
perdarahan ulkus peptikum sebagai berikut :
Tipe Tipe perdarahan Gambaran pada endoskopi
Forrest 1a Aktif Perdarahan memancar
Forrest 1b Aktif Perdarahan merembes
Forrest 2a Tidak aktif Pembuluh darah terlihat pada dasar ulkus
Forrest 2b Tidak aktif Tukak ditutupi bekuan darah
Forrest 2c Tidak aktif Tukak tertutup bekuan merah/biru tua
Forrest 3 Tidak aktif Tukak dengan dasar yang bersih

Tabel 2.1. Klasifikasi Forrest perdarahan ulkus peptikum (Hadzibulic, 2007)


Keterangan : Tipe 1a, 1b, 2a, 2b, pada terapi dengan endoskopi, risiko
perdarahan ulang 43-55%. Tipe 2c, 3 tidak perlu terapi endoskopi, risiko
perdarahan ulang 5-10%.

2.1.2.2. Varises esophagus dan gaster


Perdarahan saluran cerna bagian atas karena varises terjadi
pada 25-30 % pasien sirosis hati, dengan angka kematian
dari tahun 1971 sampai 1981 diberbagai penelitian di
Indonesia 30-60 %. Harapan hidup selama 1 tahun sesudah
perdarahan pertama sekitar 32-80%.

Varices esofagus dan gaster disebabkan karena peningkatan


aliran darah dalam vena-vena kolateral dari aliran darah
porta melalui vena gastrica coronaria akibat hipertensi
portal. Perdarahan varices ini terjadi bila hepatic venous
gradient melebihi 12 mmHg. Pasien dengan gastropati
hipertensi portal tidak selalu disertai dengan varices
gastroesofageal yang nyata. Bila terjadi perdarahan pada
pasien kelompok gastropati ini, biasanya lebih banyak
kronik dan tersamar (Utama, 2012).
2.1.2.3. Perdarahan pada gastritis
Gastritis merupakan inflamasi atau iritasi pada lapisan
gaster/lambung. Gastritis merupakan penyakit dengan
banyak penyebab. Sebagian besar penderita gastritis akan
merasakan nyeri atau ketidaknyamanan pada perut bagian
atas. Helicobacter pylori merupakan bakteri yang sering
menginfeksi lambung. Infeksi akibat bakteri ini bisa
menyebabkan gastritis kronik. Gastritis merupakan masalah
medis yang sering terjadi. Sepuluh persen dari pasien yang
datang ke unit emergensi mengeluh nyeri pada perut
sebelum akhirnya didiagnosa gastritis (Balentine, 2012).

2.1.2.4. Esophagitis dan gastropati


Esophagitis dan gastropati adalah suatu peradangan
esofagus dan lambung disebabkan biasanya oleh asam
lambung/refluxate lain misalnya pada GERD atau obat-obat
tertentu seperti OAIN/NSAIDs. Gastropati bisa juga terjadi
pada pasien dengan sakit berat misalnya pasien dengan
ventilator, sepsis/multi organs failure (MOF).

2.1.2.5. Duodenitis
Duodenitis merupakan inflamasi pada duodenum.
Penyebabnya adalah Helicobacter pylori. Duodenitis dapat
menyebabkan nyeri pada perut, perdarahan, serta gejala
gastrointestinal lain. Banyak orang terinfeksi Helicobacter
pylori sejak usia mudah, tetapi tanda dan gejala akan
muncul saat usia dewasa.

2.1.2.6. Mallory-Weiss tear


Sindroma Mallory-Weiss merupakan bentuk perdarahan dari
lapisan lendir diantara lambung dan esophagus. Adapun
gejala utama yang sering ditimbulkan akibat sindroma ini
adalah suatu sensasi mual muntah yang hebat. Robekan ini
bisa disebabkan akibat batuk-batuk yang hebat, kejang
hebat pada epilepsi, gangguan pola makan, hernia hiatal,
dan kebiasaan mengkonsumsi alkohol dalam jumlah yang
banyak atau alkoholisme, atau pada beberapa kasus
sindroma morning sickness akibat frekuensi mual muntah
yang terlalu tinggi juga berpotensi menyebabkan robekan
Mallory-Weiss.

Tidak selamanya muntah-muntah adalah suatu bentuk


gejala dari Mallory-Weiss itu sendiri, melainkan gejala
yang nyata bisa disertai dengan muntah yang disertai
dengan darah, atau warna feses yang kehitaman atau melena
sebagai akibat penguraian darah oleh asam lambung yang
membentuk hematin. Pengobatan utama biasanya dengan
obat-obatan dan operasi penghentian perdarahan, dan adalah
suatu kejadian yang sangat langka sindroma ini
berkelanjutan pada tingkat kematian. Diagnosis pasti untuk
menegakkan sindroma ini adalah hanya dengan melalui
pemeriksaan endoskopi. Berikut ini adalah gambar Mallory-
Weiss tear :

Gambar 2.1.Gambaran endoscopy Mallory-Weiss syndrome (Sumber :


Caesar, 2010)
2.1.2.7. Angiodisplasia
Angiodisplasia merupakan lesi vascular pada saluran
pencernaan, dan biasanya bersifat asymptomatik sehingga
bisa menyebabkan perdarahan saluran pencernaan. Dinding
pembuluh darah tipis dengan otot polos atau tidak dengan
pembuluh darah yang tipis. Angiodisplasia paling sering
terjadi pada caecum dan juga kolon ascenden proksimal.
77% kejadian angiodisplasia terjadi di kolon ascenden dan
caecum, 15% terjadi di jejunum dan ileum, sisanya terjadi
di sepanjang saluran pencernaan. Typical lesi pada
angiodisplasia adalah kecil (<5 mm).

Angiodisplasia merupakan kelainan pembuluh darah yang


sering dijumpai pada saluran cerna. Angiodisplasia
merupakan penyebab kedua terjadinya perdarahan saluran
pencernaan setelah divertikulosis selama kurun waktu 60
tahun ini. Prevalensi angiodisplasia pada saluran cerna
bagian atas sekitar satu sampai dua persen, sedangkan pada
saluran cerna bagian bawah dan bisa berdampak pada
perdarahan saluran cerna bagian bawah adalah enam persen.

Angiodisplasia pada usus kecil, 30-40% merupakan


penyebab kasus perdarahan pada saluran pencernaan. Hasil
analisis kolonoscopy retrospectif menunjukkan bahwa
12,1% dari 642 orang tanpa gejala Irritable Bowel
Syndrome (IBS) dan 11,9% dari orang dengan gejala
Irritable Bowel Syndrome (IBS) memiliki angiodisplasia
kolon (Thomson, 2011).
Gambar 2.1. Gambaran endoscopy angiodisplasia (Sumber : Thomson,
2011)

2.1.2.8. Dieulafoy lesion


Dieulafoy lesion adalah suatu keadaan arteri submukosa
yang dilatasi dan ruptur sehingga timbul perdarahan saluran
cerna. Biasanya terdapat pada cardiak lambung namun bisa
juga terjadi sepanjang saluran cerna. Sumber perdarahan
sukar terlihat dengan endoskopi bila tidak sedang berdarah
karena lesi ini dikelelingi mukosa yang normal. Pengobatan
dengan endoskopi atau angiografi.

2.1.3. Patofisiologi
Penyakit ulkus peptikum adalah penyebab yang paling utama dari
perdarahan gastrointestinal bagian atas. Ulkus ini ditandai oleh
rusaknya mukosa sampai mencapai mukosa muskularis. Ulkus ini
biasanya dikelilingi oleh sel-sel yang meradang yang akan menjadi
granulasi dan akhirnya jaringan parut.

Sekresi asam yang berlebihan adalah penting untuk pathogenesis


penyakit ulkus. Kerusakan kemampuan mukosa untuk mensekresi
mucus sebagai pelindung juga telah diduga sebagai penyebab
terjadinya ulkus. Faktor-faktor risiko untuk terjadinya penyakit
ulkus peptikum yang telah dikenal, termasuk aspirin dan obat anti-
inflamasi nonsteroid, keduanya dapat mengakibatkan kerusakan
mukosa. Merokok kretek juga berkaitan dengan penyakit ini dan
selain itu, sangat merusak penyembuhan luka. Riwayat keluarga
yang berhubungan dengan ulkus juga diketahui sebagai salah satu
faktor risiko.

Ulkus akibat stress ditemukan pada pasien yang mengalami sakit


kritis dan ditandai dengan erosi mukosa. Lesi yang berkaitan
dengan pasien yang mengalami trauma hebat secara terus-menerus,
pasien yang mengalami sepsis, luka bakar yang parah, penyakit
pada system saraf pusat dan kranial, dan pasien yang menggunakan
dukungan ventilator untuk jangka lama. Rentang abnormalitas
adalah hemoragi pada permukaan yang kecil sampai ulserasi dalam
dengan hemoragi massif. Hipoperfusi mukosa lambung diduga
sebagai mekanisme utama. Penurunan perfusi diperkirakan
memiliki andil dalam merusak sekresi mucus, penurunan pH
mukosa dan penurunan tingkat regenerasi sel mukosa. Semua
faktor ini turut andil dalam terjadinya ulkus.

Dalam gagal hepar sirosis kronis, kematian sel dalam hepar


mengakibatkan peningkatan tekanan vena porta. Sebagai akibatnya
terbentuk saluran kolateral dalam submukosa esophagus dan
rectum serta pada dinding abdominal anterior untuk mengalihkan
darah dari sirkulasi splanknik menjauhi hepar. Dengan
meningkatnya tekanan dalam vena ini, maka vena tersebut menjadi
mengembang oleh darah dan membesar. Pembuluh yang berdilatasi
ini disebut varises dan dapat dipecah, mengakibatkan hemoragi
gastrointestinal massif.

Hemoragi gastrointestinal bagian atas mengakibatkan kehilangan


volume darah tiba-tiba, penurunan arus balik vena ke jantung, dan
penurunan curah jantung. Jika perdarahan menjadi berlebihan,
maka akan mengakibatkan penurunan perfusi jaringan. Dalam
berespons terhadap penurunan curah jantung, tubuh melakukan
mekanisme kompensasi untuk mencoba mempertahankan perfusi.
Mekanisme ini menerangkan tanda-tanda dan gejala-gejala utama
yang terlihat pada pasien saat pengkajian awal. Jika volume darah
tidak digantikan, penurunan perfusi jaringan mengakibatkan
disfungsi selular. Sel-sel akan berubah menjadi metabolisme
anaerobik, dan terbentuk asam laktat. Penurunan aliran darah akan
memberikan efek pada seluruh system tubuh, dan tanpa suplai
oksigen yang mencukupi system tersebut akan mengalami
kegagalan (Hudak, 2010).

2.1.4. Manifestasi Klinis


Saluran cerna bagian atas merupakan tempat yang sering
mengalami perdarahan. Secara umum perdarahan saluran cerna
diklasifikasikan sebagai perdarahan akut (dapat berupa
hematemesis, melena, atau hematoschizia), atau kronik dengan
manifestasi adanya darah samar di feses atau anemia.

Perdarahan saluran cerna bagian atas dapat bermanifestasi klinis


mulai dari yang seolah ringan, misalnya perdarahan tersamar
sampai pada keadaan yang mengancam hidup. Hematemesis adalah
muntah darah segar (merah segar) atau hematin (hitam seperti kopi)
yang merupakan indikasi adanya perdarahan saluran cerna bagian
atas atau proksimal ligamentum Treitz. Perdarahan saluran cerna
bagian atas (SCBA), terutama dari duodenum dapat pula
bermanifestasi dalam bentuk melena (Djojoningrat, 2006).

Upper gastrointestinal tract bleeding (UGI bleeding) atau lebih


dikenal sebagai perdarahan saluran cerna bagian atas memiliki
prevalensi sekitar 75% hingga 80% dari seluruh kasus perdarahan
akut saluran cerna. Insidensinya telah menurun, tetapi angka
kematian dari perdarahan akut saluran cerna masih berkisar 3%
hingga 10%, dan belum ada perubahan selam 50 tahun terakhir.
Dari seluruh kasus perdarahan saluran cerna sekitar 80% sumber
perdarahannya berasal dari esofagus, gaster, dan duodenum. Gejala
klinis pasien dapat berupa :
1. Hematemesis : Muntah darah berwarna hitam seperti bubuk
kopi.
2. Melena : Buang air besar berwarna hitam seperti teh atau
aspal.
3. Hematoschizia : Buang air besar berwarna merah marun,
biasanya dijumpai pada pasien dengan perdarahan masive
dimana transit time dalam usus yang pendek.

Penampilan klinis lainnya yang dapat terjadi adalah sinkope,


instabilitas hemodinamik karena hipovolemik, dan gambaran klinis
dari komorbid seperti penyakit hati kronis, penyakit paru, penyakit
jantung, penyakit ginjal dsb.
1. Hematemesis termasuk ‘coffee ground emesis’ 40-50%.
2. Melena 70-80%.
3. Hematoschizia (feses warna merah atau marun) 15-20%.
4. Syncope 14%
5. Presyncope 43%
6. Dispepsia 18%
7. Nyeri epigastr 41%
8. Nyeri abdomen difus 10%
9. Berat badan menurun 12%
10. Ikterus 5%
2.2. KONSEP PERDARAHAN SALURAN PENCERNAAN BAGIAN
BAWAH

2.2.1. Definisi
Perdarahan saluran cerna bagian bawah didefinisikan sebagai
perdarahan yang berasal dari organ traktus gastrointestinal yang
terletak di bagian distal dari ligamentum Treitz yang menyebabkan
ketidakseimbangan hemodinamik dan anemia simptomatis. Pada
umumnya perdarahan ini (sekitar 85%) ditandai dengan keluarnya
darah segar per anal/per rektal yang bersifat akut, transient,
berhenti sendiri (Edelman, 2007).

2.2.2. Etiologi
Berdasarkan penelitian dari 695 pasien yang masuk di ruang
emergency, penyebab dari perdarahan saluran cerna bagian bawah
adalah (Edelman, 2007) :
2.2.2.1. Diverticulosis
Perdarahan dari divertikulum biasanya tidak nyeri dan
terjadi pada 3% pasien divertikulosis. Feces biasanya
berwarna merah marun, kadang-kadang bisa juga menjadi
merah. Meskipun divertikel kebanyakan ditemukan di kolon
sigmoid, namun perdarahan divertikel biasanya terletak di
sebelah kanan. Umumnya terhenti secara spontan dan tidak
berulang. Oleh karena itu tidak ada pengobatan khusus yang
dibutuhkan oleh para pasien.

2.2.2.2. Hemorrhoids
Penyakit perianal contohnya: hemorrhoid dan fisura ani
biasanya menimbulkan perdarahan dengan warna merah
segar tetapi tidak bercampur dengan feces. Berbeda dengan
perdarahan dari varises rectum pada pasien dengan
hipertensi portal kadang-kadang bisa mengancam nyawa.
Polip dan karsinoma kadang-kadang menimbulkan
perdarahan yang mirip dengan yang disebabkan oleh
hemorrhoid, oleh karena itu pada perdarahan yang diduga
dari hemorrhoid perlu dilakukan pemeriksaan untuk
menyingkirkan kemungkinan polip dan karsinoma kolon.

2.2.2.3. Kanker
Tumor kolon yang jinak maupun ganas yang biasanya
terdapat pada pasien usia lanjut dan biasanya berhubungan
dengan ditemukannya perdarahan berulang atau darah
samar. Kelainan neoplasma di usus halus relatif jarang
namun meningkat pada pasien inflammatory bowel disease
seperti Crohn’s disease atau celiac sprue.

2.2.2.4. Inflammatory bowel disease


Macam-macam kondisi peradangan dapat menyebabkan
perdarahan saluran cerna bagian bawah yang akut.
Perdarahan jarang muncul menjadi tanda, melainkan
berkembang dalam perjalanan penyakitnya, dan
penyebabnya diduga berdasarkan riwayat pasien.
Kebanyakan pendarahan berhenti secara spontan atau
dengan terapi spesifik pada penyebabnya.

Penyebab infeksi meliputi Escherichia coli, tifus,


sitomegalovirus, dan Clostridium difficile. Cedera radiasi
paling umum terjadi pada rectum setelah radioterapi
panggul untuk prostat atau keganasan ginekologi.
Perdarahan biasanya terjadi 1 tahun setelah pengobatan
radiasi, tetapi dapat juga terjadi hingga 4 tahun kemudian.
2.2.2.5. Kolitis iskemia
Kebanyakan kasus kolitis iskemia ditandai dengan
penurunan aliran darah viseral dan tidak ada kaitannya
dengan penyempitan pembuluh darah mesenteik. Kolitis
iskemik, merupakan bentuk yang paling umum dari cedera
iskemik pada sistem pencernaan, sering melibatkan daerah
batas air (watershed ), termasuk fleksura lienalis dan
rectosigmoid junction. Umunya pasien kolitis iskemia
berusia tua. Dan kadang-kadang dipengaruhi juga oleh
sepsis, perdarahan akibat lain, dan dehidrasi.

Iskemia menyebabkan peluruhan mukosa dan peluruhan


ketebalan parsial dinding kolon, edema, dan pendarahan.
Kolitis iskemik tidak berhubungan dengan kehilangan darah
yang signifikan atau hematochezia, walaupun sakit perut
dan diare berdarah adalah manifestasi klinis yang utama.

2.2.2.6. Angiodisplasia
Angiodisplasia merupakan penyebab 10-40% perdarahan
saluran cerna bagian bawah. Angiodisplasia merupakan
salah satu penyebab kehilangan darah yang kronik.
Angiodisplasia kolon biasanya multipel, ukuran kecil
dengan diameter < 5 mm dan biasa terlokalisir di daerah
caecum dan kolon sebelah kanan. Sebagaimana halnya
dengan vaskular ektasia di saluran cerna, jejas di kolon
umumnya berhubungan dengan usia lanjut, insufisiensi
ginjal, dan riwayat radiasi.

2.2.2.7. Solitary rectal ulcer syndrome


Solitary rectal ulcer syndrome merupakan suatu kondisi
yang terjadi ketika terdapat ulcer yang berkembang pada
rectum. Rectum merupakan sebuah saluran yang
dihubungkan sampai pada akhir kolon. Solitary rectal ulcer
syndrome jarang terjadi dan juga jarang terdeteksi pada
penderita dengan konstipasi kronik. Solitary rectal ulcer
syndrome dapat menyebabkan perdarahan pada rectal saat
aktivitas mengejan pada waktu BAB.

2.2.3. Patofisiologi
Secara bagan, patofisiologi pada perdarahan saluran cerna bagian
bawah adalah sebagai berikut :
Etiologi

Diverticulosis
Angiodisplasia
Kolitis
Karsinoma Colon
Penyakit Anorectal
Infeksi Bakteri
2.2.4. Manifestasi klinis
Secara umum, manifestasi klinik perdarahan saluran cerna bagian
bawah sama dengan manifestasi klinis perdarahan saluran cerna
bagian atas. Tetapi, ada beberapa perbedaan, diantaranya
hematoschizia (darah segar keluar per anus) biasanya berasal dari
perdarahan saluran cerna bagian bawah (kolon). Maroon stools
(feses berwarna merah hati) dapat berasal dari perdarahan kolon
bagian proksimal (ileo-caecal).

2.3. PENATALAKSANAAN PADA PERDARAHAN SALURAN


PENCERNAAN

Penatalaksanaan pasien dengan perdarahan gastrointestinal akut adalah


usaha kolaboratif. Intervensi awal mencakup empat langkah :
2.3.1. Kaji keparahan perdarahan.
2.3.2. Gantikan cairan dan produk darah dalam jumlah yang mencukupi
untuk mengatasi syok.
Pasien dengan perdarahan gastrointestinal akut membutuhkan akses
intravena segera dengan intra kateter atau kanula berdiameter
besar. Untuk mencegah perkembangan syok hipovolemik, mulai
lakukan penggantian cairan dengan larutan intravena seperti ringer
laktat dan normal saline. Tanda-tanda vital dikaji secara terus-
menerus pada saat cairan diganti. Kehilangan lebih dari 1.500 ml
membutuhkan penggantian darah selain cairan. Golongan darah
pasien diperiksa dicocoksilangkan, dan sel darah merah diinfusikan
untuk membangkitkan kembali kapasitas angkut oksigen darah.
Produk darah lainnya seperti trombosit, faktor-faktor pembekuan
dan kalsium mungkin juga diperintahkan sesuai dengan hasil
pemeriksaan laboratorium dan kondisi yang mendasari pasien.

Kadang-kadang, obat-obat vasoaktif digunakan sampai tercapai


keseimbangan cairan untuk mempertahankan keseimbangan cairan
untuk mempertahankan tekanan darah dan perfusi pada organ-
organ tubuh yang vital. Dopamine, epinefrin, dan norepinefrin
adalah obat-obat yang dapat digunakan untuk menstabilkan pasien
sampai dilakukan perawatan definitif.

2.3.3. Tegakkan diagnosis penyebab perdarahan.


Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, endoskopi fleksibel
adalah pilihan prosedur untuk menentukan penyebab perdarahan.
Dapat dipasang selang nasogastrik untuk mengkaji tingkat
perdarahan, tetapi ini merupakan intervensi yang kontoversial.
Dapat juga dilakukan pemeriksaan barium, meskipun seringkali
tidak menentukan jika terdapat bekuan dalam lambung, atau jika
terdapat perdarahan superfisial. Angiografi digunakan jika sumber
perdarahan tidak dapat dikaji dengan endoskopi.

2.3.4. Rencanakan dan laksanakan perawatan definitif.


2.3.4.1. Terapi Endoskopi
Scleroterapy adalah pilihan tindakan jika letak perdarahan
dapat ditemukan dengan menggunakan endoskopi. Letak
perdarahan hampir selalu disclerosiskan menggnukan agen
pengsclerosis seperti natrium morhuat atau natrium
tetradesil sulfat. Agen ini melukai endotel menyebakan
nekrosis dan akhirnya menyebabkan sklerosis pada
pembuluh yang berdarah. Metode endoskopi tamponade
thermal mencakup probe pemanas foto koagulasi laser dan
elektro koagulasi.

2.3.4.2. Bilas Lambung


Bilas lambung mungkin diperintahkan selama periode
perdarahan akut, tetapi ini merupakan modalitas pengobatan
kontroversial. Beberapa dokter yakin bahwa tindakan ini
dapat mengganggu pembekuan mekanisme pembekuan
normal tubuh diatas tempat perdarahan. Sebagian dokter
yang lain meyakini bahwa bilas lambung dapat membantu
membersihkan darah dari dalam lambung, membantu
mendiagnosis penyebab perdarahan selama endoskopi. Jika
diinstruksikan bilas lambung, maka 1000-2000 ml air atau
normal salin steril dalam suhu kamar dimasukan dalam
selang nasogasatrik. Cairan tersebut kemudian dikeluarkan
menggunakan tangan dengan spuit atau dipasang pada
suction intermiten sampai sekresi lambung jernih. Irigasi
lambung dengan cairan normal saline agar menimbulkan
vasokontriksi. Setelah diabsorbsi lambung, obat dikirim
melalui sistem vena porta ke hepar dimana metabolisme
terjadi, sehingga reaksi sistemik dapat dicegah.
Pengenceran biasanya menggunakan 2 ampul dalam 1000
ml larutan.

Pasien beresiko mengalami apsirasi lambung karena


pemasangan nasogastrik dan peningkatan tekanan
intragastrik karena darah atau cairan yang digunakan untuk
membilas. Pemantauan distensi lambung dan
membaringkan pasien dengan kepala ditinggikan penting
untuk mencegah refluk isi lambung. Bila posisi tersebut
kontraindikasi, maka diganti posisi dekubitus lateral kanan
memudahkan mengalirnya isi lambung melewati pilorus.

2.3.5. Pemberian Pitresin


Dilakukan bila dengan bilas lambung atau skleroterapi tidak
menolong, maka diberikan vasopresin (Pitresin) intravena.
2.3.5.1. Obat ini menurunkan tekanan vena porta dan oleh
karenanya menurunkan aliran darah pada tempat
perdarahan. Dosis 0,2-0,6 unit permenit.
2.3.5.2. Karena vasokontsriktor maka harus diinfuskan melalui
aliran pusat.
2.3.5.3. Hati-hati dalam penggunaan obat ini karena dapat terjadi
hipersensitif.
2.3.5.4. Obat ini dapat mempengaruhi output urine karena sifat
antidiuretiknya.

2.3.6. Mengurangi Asam Lambung


Karena asam lambung menyebabkan iritasi terhadap tempat
perdarahan pada traktus gastrointestinal bagian atas, adalah penting
untuk menurunkan keasaman asam lambung. Ini dapat digunakan
dengan obat-obat antihistamin (H2)-antagonistik. Contohnya :
simetidin (tagamet), ranitidine hipoklorida (zantac), dan famotidin
(pepsid). Obat-obat ini menurunkan pembentukan asam lambung
dengan menghambat antihistamin.

Antasid juga biasanya diberikan. Kerja antasid sebagai buffer alkali


langsung diberikan untuk mengontrol pH lambung. Perawat
bertanggung jawab terhadap ketepatan aspirasi isi lambung untuk
pemeriksaan pH dan pemantauan efek-efek samping dari terapi.
Sucralfate, garam alumunium dasar dari sukrosa oktasulfat, yang
beraksi secara lokal sebagai obat pelindung mukosa juga dapat
diperintahkan untuk profilaksis perdarahan stress.

2.3.7. Memperbaiki Status Hipokoagulasi


Adalah bukan hal yang tidak lazim untuk mendapati pasien yang
mengalami perdarahan gastrointestinal berat yang mempunyai
status hipokuagulasi karena defisiensi berbagai faktor pembekuan.
Salah satu masalah yang paling penting dalam kategori ini adalah
kegagalan hepar pada pasien yang tidak mampu untuk
menghasilkan faktor-faktor pembekuan darah. Situasi klinis umum
lainnya adalah pemberian makanan melalui intravena jangka
panjang pada pasien yang mendapat berbagai antibiotik dan pasien
yang mengalami defisiensi vitamin K. tanpa memperhatikan
penyebabnya seseorang harus memperbaiki keadaan ini untuk
mengurangi jumlah perdarahan. Jika diduga adanya faktor
defisiensi utama lain, plasma segar diberikan untuk memperbaiki
abnormalitas.

2.3.8. Balon Tamponade


Terdapat bermacam balon tamponade antara lain tube Sangstaken-
Blakemore, Minnesota, atau Linton-Nachlas. Alat ini untuk
mengontrol perdarahan gastrointestinal bagian atas karena varises
esofagus.
2.3.8.1. Tube Sangstaken-Blakemore mengandung 3 lumen:

2.3.8.1.1. Balon gastrik yang dapat diinflasikan dengan 100-200


ml udara.
2.3.8.1.2. Balon esopagus yang dapat diinflasikan dengan 40
mm Hg (menggunakan spigmomanometer).
2.3.8.1.3. Lumen yang ke-3 untuk mengaspirasi isi lambung.

2.3.8.2. Tube Minnesota, mempunyai lumen tambahan dan


mempunyai lubang untuk menghisap sekresi paring.
Sedangkan tube Linton-Nachlas terdiri hanya satu balon
gaster yang dapat diinflasikan dengan 500-600 ml udara.
Terdapat beberapa lubang/bagian yang terbuka baik pada
bagian esofagus maupun lambung untuk mengaspirasi
sekresi dan darah.

2.3.8.3. Tube/selang Sangstaken-Blakemore setelah dipasang di


dalam lambung dikembangkan dengan udara tidak lebih
dari 50 ml. Kemudian selang ditarik perlahan sampai balon
lambung pas terkait pada kardia lambung. Setelah
dipastikan letaknya tepat (menggunakan pemeriksaan
radiografi), balon lambung dpat dikembangkan dengan 100-
200 ml udara. Kemudian selang dibagian luar ditraksi dan
difiksasi.

Jika perdarahan berlanjut balon esopagus dapat


dikembangkan dengan tekanan 250 40 mmHg
(menggunakan spigmomanometer) dan dipertahankan
dalam 24-48 jam. Jika lebih lama depat menyebabkan
edema, esopagitis, ulserasi atau perforasi esopagus.

Hal yang penting dilakukan saat menggunakan balon ini


adalah observasi konstan dan perawatan cermat, dengan
mengidentifikasi ketiga ostium selang, diberi label dengan
tepat dan diperiksa kepatenannya sebelum dipasang.

2.3.9. Terapi-terapi Pembedahan


Pembedahan dilakukan pada pasien yang mengalami perdarahan
massive yang sangat membahayakan nyawa dan pada pasien yang
mengalami perdarahan yang terus menerus meskipun telah
menjalani terapi medis agregasif. Terapi pembedahan untuk
penyakit ulkus peptikum atau ulcer yang disebabkan oleh stress
mencakup reseksi lambung (antrektomi), gastrektomi,
gastroenterostomi, atau kombinasi operasi untuk mengembalikan
keutuhan gastrointestinal. Vagotomi akan mengurangi sekresi asam
lambung. Antrektomi mengangkat sel-sel penghasil asam dalam
lambung. Billroth I adalah prosedur yang mencakup vagotomi dan
antrektomi dengan anastomosis lambung pada duodenum. Billroth
II meliputi vagotomi, reseksi antrum, dan anastomosis lambung
pada jejunum. Perforasi lambung dapat diatasi hanya menutup atau
menggunakan patch untuk menutup lubang pada mukosa.
Operasi dekompresi hipertensi porta dapat dilakukan pada pasien
yang mengalami varises esophagus dan varises gaster. Dalam
pembedahan ini, disebut pirai kava porta, dimana dibuat hubungan
antara vena porta dengan vena kava inferior yang mengalihkan
aliran darah ke dalam vena cava untuk menurunkan tekanan.

Secara bagan, manajemen penatalaksanaan pasien dengan


perdarahan saluran pencernaan bagian atas adalah sebagai berikut :

Gambar . Bagan manajemen penatalaksanaan pasien dengan perdarahan saluran


cerna bagian atas (Sumber : Wilkins, 2012)

Secara bagan, manajemen penatalaksanaan pasien dengan perdarahan


saluran pencernaan bagian atas adalah sebagai berikut :
Gambar. Bagan manajemen penatalaksanaan pasien dengan perdarahan saluran
cerna bagian bawah (Sumber : Cagir, 2012)
2.4. ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN
PERDARAHAN SALURAN PENCERNAAN

2.4.1. Pengkajian Primer


Pengkajian yang dilakukan menggunakan pendekatan Airway,
Breathing, Circulation, dan Diasability (ABCD).
2.4.1.1. Airway
Untuk mengkaji airway, maka yang dilakukan perawat
adalah dengan teknik look, listen and feel. Look yang
dilakukan adalah melihat kebersihan jalan nafas. Pada kasus
perdarahan saluran pencernaan, khususnya saluran cerna
bagian atas biasanya terjadi muntah darah. Oleh karena itu,
perawat harus melakukan pengkajian terhadap risiko
terjadinya aspirasi pada saluran napas. Pada teknik listen,
biasanya pada perdarahan saluran cerna bagian atas terdapat
suara napas gurgling karena adanya cairan (darah) pada
saluran pernapasan. Untuk feel, perawat merasakan
hembusan napas pasien. Pada kasus perdarahan saluran
pencernaan bagian atas, biasanya bisa terjadi sumbatan
parsial atau total pada saluran napas akibat menggumpalnya
(clothing) darah.

2.4.1.2. Breathing
Pada breathing yang perlu dikaji oleh perawat adalah
adanya perubahan frekuensi napas pasien, adanya
penggunaan otot-otot pernapasan. Pada kejadian perdarahan
saluran pencernaan, biasanya terjadi penurunan kadar
haemoglobin dalam darah, sehingga transportasi oksigen ke
sel terganggu akibat berkurangnya pengangkut oksigen
(Hb) dan berdampak pada peningkatan frekuensi napas dan
penggunaan otot-otot bantu pernapasan.
2.4.1.3. Circulation
Untuk mengevaluasi keparahan kehilangan darah dan untuk
mencegah atau memperbaiki penyimpangan klinis syok
hipovolemik, perawat harus lebih sering mengkaji pasien.
Pada fase pertama perdarahan, kehilangan darah kurang dari
800 ml, pasien mungkin hanya akan menunjukkan tanda-
tanda lemah, ansietas, dan berkeringat. Dengan perdarahan
yang berlebihan suhu tubuh meningkat sampai 38,40–390 C
sebagai respon terhadap perdarahan, dan bising usus
menjadi hiperaktif karena sensitivitas usus besar terhadap
darah.

Jika tingkat kehilangan darah berkisar antara sedang sampai


berat (kehilangan >800 ml), respon system saraf simpatis
menyebabkan pelepasan katekolamin, epinefrin, dan
norepinefrin. Keadaan ini pada awalnya menyebabkan
peningkatan frekuensi jantung dan vasokonstriksi vascular
perifer dalam upaya untuk mempertahankan tekanan darah
yang adekuat. Dengan tingkat kehilangan darah sedang
sampai berat, akan timbul tanda-tanda dan gejala syok.

Sejalan dengan berkembanganya gejala-gejala syok,


pelepasan katekolamin akan memicu pembuluh darah pada
kulit, paru-paru, intestine, hepar, dan ginjal untuk
berkontraksi, dengan demikian akan meningkatkan aliran
volume darah ke jantung dan otak. Karena penurunan aliran
darah pada kulit, maka kulit pasien akan sangat dingin saat
disentuh. Dengan berkurangnya aliran darah ke paru-paru,
terjadi hiperventilasi untuk mempertahankan pertukaran gas
yang adekuat.
Seiring dengan penurunan aliran darah ke hepar, produk
sisa metabolisme akan menumpuk dalam darah. Produk sisa
ini, ditambah dengan absorbsi darah busuk dari traktus
intestinal dan penurunan aliran darah melalui ginjal, akan
menyebabkan peningkatan dalam kadar urea darah.
Nitrogen urea darah (BUN) dapat digunakan untuk
mengikuti perjalanan perdarahan gastrointestinal. Nilai
BUN di atas 40-dalam lingkup perdarahan gastrointestinal
dan kadar kreatinin normal-menandakan perdarahan major.
BUN akan kembali normal kira-kira 12 jam setelah
perdarahan berhenti.

Haluaran urin adalah pengukur yang paling sensitif dari


volume intravascular yang harus diukur setiap jam. Dengan
menurunnya volume intravascular, haluaran urin menurun,
mengurangi reabsorbsi air oleh ginjal sebagai respon oleh
pelepasan hormon antidiuretik (ADH) oleh lobus posterior
kelenjar pituitary.

Perubahan tekanan darah yang lebih besar dari 10 mmHg,


dengan peningkatan frekuensi jantung 20 kali per menit
baik dalam posisi berdiri maupun duduk, menandakan
kehilangan darah lebih besar dari 1000 ml. respon pasien
terhadap kehilangan darah tergantung dari jumlah dan
kecepatan kehilangan darah, usia, derajat kompensasi, dan
kecepatan perawat.

Pasien mungkin akan melaporkan rasa nyeri dengan


perdarahan gastrointestinal dan hal ini diduga peningkatan
asam lambung yang mengenai ulkus lambung. Nyeri tekan
pada daerah epigastrium merupakan tanda yang tidak umum
terjadi. Abdomen dapat menjadi lembek atau distensi.
Hipertensi sering hiperaktif karena sensitivitas usus
terhadap darah. Pemasangan IV line 2 jalur dengan
menggunakan IV cath ukuran besar diperlukan untuk
mengantisipasi penambahan cairan dan tranfusi darah.

2.4.1.4. Disability
Pada disability yang perlu dikaji perawat adalah tingkat
kesadaran. Untuk mengkaji tingkat kesadaran digunakan
GCS (Glasgow Coma Scale). Selain itu reaksi pupil dan
juga reflek cahaya juga harus diperiksa.

2.4.1.5. Exposure
Pada exposure, yang dilakukan perawat adalah membuka
seluruh pakaian pasien dan melakukan pengkajian dari
ujung rambut sampai ujung kaki. Perawat mengkaji adanya
etiologi lain yang mungkin menyebabkan gangguan
pencernaan.

2.4.2. Pengkajian Sekunder


2.4.2.1. Riwayat Penyakit
Yang perlu dikaji pada pengkajian primer ini antara lain
penyakit yang pernah diderita pasien, misalnya hepatitis,
penyakit hepar kronis, hemorrhoid, gastritis kronis, dan juga
riwayat trauma.

2.4.2.2. Status Nutrisi


Yang perlu dikaji pada status nutrisi adalah menggunakan
prinsip A, B, C, D, yaitu :
2.4.2.2.1. Anthopometri
Yang bisa dikaji dari anthopometri antara lain :
BB dan TB pasien sebelum sakit.
2.4.2.2.2. Biochemical
Pada biochemical, pengkajian dengan
mempertimbangkan nilai laboratorium,
diantaranya : nilai Hb, Albumin, globulin,
protein total, Ht, dan juga darah lengkap.

2.4.2.2.3. Clinical
Pada pengkajian clinical, perawat harus
mempertimbangkan tanda-tanda klinis pada
pasien, misalnya tanda anemis, lemah, rasa mual
dan muntah, turgor, kelembaban mukosa.

2.4.2.2.4. Diit
Pada diit, perawat bisa berkolaborasi dengan ahli
gizi untuk menentukan kebutuhan kalori pada
pasien. Selain itu, komposisi nutrisi pada pasien
juga harus diperhatikan. Pemberian nutrisi enteral
dini lebih menguntungkan pada penderita
perdarahan saluran cerna karena pemberian
nutrisi enteral dini dapat memperkecil
permiabilitas intestinal, menurunkan translokasi
bakteri dan juga dapat mencegah multi organ
failure. Selain itu pemberian nutrisi enteral pada
pasien dengan perdarahan saluran cerna juga
dapat meningkatkan aliran darah pada gaster,
mempertahankan aliran darah pada kolon.

Selain itu, pemberian nutrisi enteral dan


ranitidine juga dapat menurunkan insiden
perdarahan gastrointestinal. Nutrisi enteral
(karbohidrat, lemak, dan protein), juga dapat
memicu vasodilatasi lapisan mukosa saluran
cerna. Karbohidrat dapat meningkatkan aliran
darah mesenterika 70%, lemak dapat
meningkatkan aliran darah mesenterika 40%.

Perhitungan nutrisi pada pasien dapat dilakukan


dengan beberapa formulasi, namun pada makalah
ini perhitungan nutrisi pada pasien dilakukan
dengan menggunakan formula Harris Benedict
yang menghitung dari kebutuhan kalori basal
(KKB), yaitu:
Laki-laki KKB = 66 + (13.7 x BB) + (5 x TB)
— (6.8 x U)
Wanita KKB = 65.5 + (9.6 x BB) + (1.7 x
TB) — (4.7 x U)
Keterangan :
BB : Berat Badan (kg) (ideal)
TB : Tinggi Badan (cm)
U : Umur (tahun)
Untuk Indonesia dapat menggunakan:
KKB = 40 x (TB — 100).
Dengan faktor koreksi:
Stress ringan (1) : 1.3 x KKB
Stress sedang (2) : 1.5 x KKB
Stress berat (3) : 2.0 x KKB

Berikut adalah gradasi stress :


0 1 2 3
Excresi Nitrogen
Urin <5 5—10 10—15 >15
Plasma glucosa 100 ± 20 150 ± 25 150 ± 25 250 ± 50
Plasma laktat 100 ± 50 1200 ± 200 1200 ± 200 2500 ± 500
Konsumsi 90 ± 10 130 ± 6 140 ± 6 160 ± 10
Glukogen/Insuli 2 ± 0.5 2.5 ± 0.8 3.0 ± 0.7 8 ± 1.5
oksigen
n
Pada kasus perdarahan saluran cerna bagian atas yang bukan karena
varises dan tidak ada penyakit hati kronis, maka pasien tidak perlu
dipuasakan. Perawat atau ahli gizi harus memberikan diit secara
bertahap, mulai dari diit cair, saring, lunak, dan padat (normal).
Komposisi nutrisi dan kebutuhan kalori yang diberikan harus sesuai
dengan penyakit dasar pasien. Tetapi jika perdarahan saluran cerna
atas tersebut berasal dari varises esofagus, maka tidak ada anjuran
untuk dipuasakan, tetapi pemberian nutrisi enteral ditunda saat
perdarahan aktif. Nutrisi enteral dapat dilanjutkan tanpa menunggu
produk NGT jernih. Bila perlu, pemberian parenteral nutrisi sampai
perdarahan berhenti lalu dilanjutkan diit secara bertahap mulai diit
cair, saring, lunak dan normal lagi dengan komposisi nutrisi dan
kebutuhan kalori sesuai penyakit dasar.

Pada pasien dengan perdarahan saluran cerna bagian bawah, terutama


pada Chron disease nutrisi parenteral dapat meredakan symptom
selama “acute attack” dan kambuh ketika kembali ke nutrisi oral.
Prinsip pamberian nutrisi pada inflammatory bowel disease tidak
membebani bagian/segmen saluran cerna yang sedang sakit berat.
Pada pasien yang mengalami diare berat 10-20x/hari, maka pemberian
elektrolit dan cairan harus dilakukan untuk menggantikan kehilangan
cairan dan elektrolit.

2.4.2.3. Status Eliminasi


Yang harus dikaji pada status eliminasi pada pasien dengan
perdarahan saluran cerna, antara lain warna feses,
konsistensi, serta bau dari feses. Selain itu perlu juga dikaji
adanya rasa nyeri saat BAB. Bising usus juga harus
dimonitor terus untuk menentukan status peristaltik.
2.4.3. Pemeriksaan Diagnostic
Hitung hematokrit dan hemoglobin diperintahkan dengan hitung
darah lengkap. Adalah penting untuk menganggap bahwa
hematokrit umumnya tidak berubah pada jam-jam pertama setelah
perdarahan gastrointestinal akut karena mekanisme kompensasi.
Cairan yang diberikan pada saat masuk juga mempengaruhi hitung
darah. Jumlah sel darah putih dan glukosa mungkin meningkat,
mencerminkan respon tubuh terhadap stress.

Penurunan kalium dan natrium kemungkinan terjadi karena disertai


muntah. Tes fungsi hepar biasa digunakan untuk mengevaluasi
integritas hematologi pasien. Perpanjangan masa protombin dapat
menandakan penyakit hepar atau terapi bersamaan jangka panjangf
anti koagulan. Alkalosis respiratori umumnya terjadi karena adanya
aktivasi dari system saraf simpatik terhadap kehilangan darah. Jika
kehilangan sebagian besar darah, maka akan terjadi asidosis
metabolik sebagai akibat dari metabolisme anaerobic. Hipoksemia
mungkin juga akan terjadi karena penurunan kadar hemoglobin
yang bersirkulasi dan dihasilkan kerusakan transport oksigen ke
sel-sel.

Pemeriksaan PT/PTT diperlukan untuk mengetahui apakah ada


gangguan dalam hal waktu perdarahan dan waktu pembekuan
darah. Pemeriksaan cross-match diperlukan juga sebelum
dilaksanakan tranfusi darah.

Endoskopi adalah prosedur pilihan untuk mendiagnosa ketepatan


letak dari perdarahan, karena inspeksi langsung mukosa adalah
mungkin dengan menggunakan skop serat optik. Endoskopi yang
fleksibel memungkinkan tes ini dilakukan di tempat tidur dan tes
ini secara rutin dilakukan oleh dokter setelah pasien secara
hemodinamik stabil. Ketepatan diagnostik dari tes ini berkisar
antara 60% sampai 90%.

2.4.4. Rencana Asuhan Keperawatan

a. Diagnosa : Defisit volume cairan yang berhubungan dengan


kehilangan darah akut.
Kriteria hasil / : Pasien akan tetap stabil secara hemodinamik
Tujuan-tujuan
pasien
Intervensi : 1. Pantau tanda-tanda vital setiap jam.
Keperawatan 2. Pantau nilai-nilai hemodinamik (missal SAP,
DAP, TDKP, IJ, CJ, TVS).
3. Ukur haluaran urin setiap 1 jam.
4. Ukur masukan dan haluaran dan kaji
keseimbangan.
5. Berikan cairan pengganti dan produk darah
sesuai instruksi. Pantau adanya reaksi-reaksi
yang merugikan terhadap komponen terapi
(missal reaksi transfusi).
6. Tirah baring total, baringkan pasien pada posisi
terlentang dengan kaki ditinggikan untuk
meningkatkan preload pasien jika pasien
mengalami hipotensif. Jika terjadi normotensif,
tempatkan tinggi bagian kepala tempat pada 45
dewrajat untuk mencegah aspirasi lambung.
7. Perkecil jumlah darah yang diambil untuk
analisa laboratorium.
8. Pantau hemoglobin dan hematokrit.
9. Pantau elektrolit yang mungkin hilang bersama
cairan atau berubah karena kehilangan atau
perpindahan cairan.
10. Periksa feses terhadap darah untuk 72 jam
setelah masa akut.

Diagnosa : Kerusakan pertukaran gas : yang berhubungan dengan


penurunan kapasitas angkut oksigen dan dengan faktor-
faktor risiko aspirasi.
Kriteria hasil / : Pasien akan mempertahankan oksigenasi dan
Tujuan-tujuan pertukaran gas yang adekuat.
pasien
Intervensi : 1. Pantau SaO2 dengan menggunakan oksimetri
Keperawatan atau ABGs.
2. Pantau bunyi nafas dan gejala-gejala pulmonal.
3. Gunakan supplemental O2 sesuai instruksi.
4. Pantau suhu tubuh.
5. Pantau adanya distensi abdomen.
6. Baringkan pasien pada bagian kepala tempat
tidur ditinggikan jika segalanya memungkinkan.
7. Pertahankan fungsi dan patensi kateter
nasogastrik dengan tepat.
8. Atasi segera mual.

c. Diagnosa : Resiko tinggi terhadap infeksi : yang berhubungan


dengan aliran intravena.
Kriteria hasil / : Pasien tidak akan mengalami i9nfeksi nosokomial.
Tujuan-tujuan
pasien
Intervensi : 1. Pertahankan kestabilan selang intravena.
Keperawatan Amankan aplians intravena berikut selangnya.
2. Ukur suhu tubuh setiap 4 jam.
3. Pantau system intravena terhadap patensi,
infiltrasi, dan tanda-tanda infeksi (nyeri
setempat, inflamasi, demam, sepsis).
4. Ganti letak intravena setiap 48-72 jam dan prn.
5. Ganti larutan intravena sedikitnya setiap 24
jam.
6. Pantau letak insersi setiap penggantian tugas.
7. Dokumentasikan tentang selang, penggantian
balutan, dan keadaan letak insersi.
8. Gunakan teknik aseptic saat mengganti balutan
dan selang. Pertahankan balutan yang bersih,
transparan, dan steril.
9. Ukur SDP terhadap kenaikan.
10. Lepaskan dan lakukan pemeriksaan kultur bila
terjadi tanda-tanda dan gejala-gejala infeksi.

d. Diagnosa : Ansietas : yang berhubungan dengan sakit kritis,


ketakutan akan kematian ataupun kerusakan bentuk
tubuh, perubahan peran dalam lingkup sosial, atau
ketidakmampuan yang permanen.
Kriteria hasil / : 1. Pasien akan mengekspresikan ansietasnya pada
Tujuan-tujuan nara sumber yang tepat.
pasien 2. Pasien akan mulai mengidentifikasi sumber
ansietasnya.
Intervensi : 1. Berikan lingkungan yang mendorong diskusi
Keperawatan terbuka untuk persoalan-persoalan emosional.
2. Gerakan system pendukung pasien dan libatkan
sumber-sumber ini sesuai kebutuhan.
3. Berikan waktu pada pasien untuk
mengekspresikan diri. Dengarkan dengan aktif.
4. Berikan-berikan penjelasan yang sederhana
untuk peristiwa-peristiwa dan stimuli
lingkungan.
5. Identifikasi sumber-sumber rumah sakit yang
memungkinkan untuk mendukung pasien atau
keluarganya.
6. Berikan dorongan komunikasi terbuka antara
perawat-keluarga mengenai masalah-masalah
emosional.
7. Validasikan pengetahuan dasar pasien dan
keluarga tentang penyakit kritis.
8. Libatrkan system pendukung religious sesuai
kebutuhan
BAB III
PENUTUP
3.1. Kesimpulan
Perdarahan bisa terjadi dimana saja di sepanjang saluran pencernaan,
mulai dari mulut sampai anus. Bisa berupa ditemukannya darah dalam
tinja atau muntah darah,tetapi gejala bisa juga tersembunyi dan hanya bisa
diketahui melalui pemeriksaan tertentu. Perdarahan pada system
pencernaan antara lain dapat disebabkan oleh : robekan jaringan, kanker
kerongkongan, iritasi gastritis, luka pada usus, kanker pada usus, tumor
pada usus, penyakit divertikulum, pembuluh darah abnormal, hemoroid
dan robekan pada anus.

Pada penderita pendarahan saluran pencernaan, manifestasi klinis yang


terlihat antara lain: Muntah darah (hematemesis), Mengeluarkan tinja
yang kehitaman (melena) dan Mengeluarkan darah dari rektum
(hematoskezia). Selain itu juga menunjukkan gejala-gejala anemia, seperti
mudah lelah, terlihat pucat, nyeri dada dan pusing.

Untuk pengobatan atau penatalaksanaan pada pasien gawat darurat


dengan perdarahan saluran pencernaan dilakukan sesuai dengan
penyebab terjadinya perdarahan. Secara umum penatalaksanaan tersebut
ialah dengan cara menghentikan perdarahan yang terjadi
DAFTAR PUSTAKA
Balentine, J.R, 2012, Gastritis overview,
http://www.emedicinehealth.com/gastritis/article_em.htm, Diakses tanggal 24
September 2012

Caesar, R, 2010, Sindroma Mallory-Weiss, http://www.medicalera.com, Diakses


tanggal 24 September 2012.

Cagir, B, 2012, Lower Gastrointestinal Bleeding,


http://emedicine.medscape.com/article/188478-overview, Diakses tanggal 24
September 2012.

Cappell, M.S, Friedel, D, 2008, Initial Management of Acute Upper


Gastrointestinal Bleeding: From Initial Evaluation up to Gastrointestinal
Endoscopy, Med Clin N Am, vol. 92, pp. 491–509,
http://misanjuandedios.org/files/19_HGIS.pdf, Diakses tanggal 22 September
2012.

Dubey, S, 2008, Perdarahan Gastrointestinal Atas, Dalam Teks Atlas Kedokteran


Kedaruratan Greenberg, vol. 1, pp. 275, Jakarta : Erlangga.

Edelman, D.A, Sugawa, C, 2007, Lower Gastrointestinal Bleeding: a review, Surg


Endosc, vol. 21, pp. 514-520, http://misanjuandedios.org/files/20_HGII_A_.pdf,
Diakses tanggal 22 September 2012.

Goddard, A.F, et al, 2010, The management of gastric polyp, Gut, vol. 59, pp.
1270-1276, http://files.i-md.com/medinfo/material/, Diakses tanggal 24
September 2012.

Hadzibulic, E, and Govedarica, S, 2007, Significance of Forrest Classification,


Rockall’s and Blatchford’s Risk Scoring System in Prediction of Rebleeding
in Peptic Ulcer Disease, Acta Medica Medianae, vol.46, pp. 38-43,
http://publisher.medfak.ni.ac.rs/, Diakses tanggal 24 September 2012.

Hritz, I, 2012, Portal Hypertensive Gastropathy: Clinical Findings and A Case


Report, http://www.gastrosource.com/Patient-Cases/, Diakses tanggal 24
September 2012.

Hudak, C.M. 1996. Keperawatan Kritis : Pendekatan Holistik. Alih Bahasa :


Ester, M., dkk. Edisi 6. Jakarta : EGC.

Macdougall, L, et al, 2010, Aorto-Enteric Fistulas: A Cause of Gastrointestinal


Bleeding not to be Missed, BJMP, vol. 3, no. 2, pp. 317,
http://www.bjmp.org/content/, Diakses tanggal 24 September 2012.

Maganty, K, and Smith, R.L, 2008, Cameron Lesions: Unusual Cause of


Gastrointestinal Bleeding and Anemia, Digestion, vol. 77, pp. 2-4,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/18622137, Diakses tanggal 24
September 2012.

Muttaqin, A. dan Sari, K. 2011. Gangguan Gastrointestinal : Aplikasi Asuhan


Keperawatan Medikal Bedah. Jakarta : Salemba Medika.

National Institute for Health and Clinical Execellence, 2012, Acute Upper
Gastrointestinal Bleeding: Management, NICE clinical guideline 141,
http://www.nice.org.uk/nicemedia/live/13762/59549/59549.pdf, Diakses tanggal
22 September 2012.

Nguyen, H, et al, 2009, Gastric Antral Vascular Ectasia (Watermelon Stomach)—


An Enigmatic and Often-Overlooked Cause of Gastrointestinal Bleeding in
the Elderly, Fall, vol. 13, no. 4, pp. 46-49,
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2911825/, Diakses tanggal 24
September 2012.
Scottish Intercollegiate Guidelines Network (SIGN), 2008, Management of Acute
Upper and Lower Gastrointestinal Bleeding: A National Clinical Guideline,
http://www.sign.ac.uk/pdf/sign105.pdf, Diakses tanggal 22 September 2012.

Shiel, W.C, 2012, Connective Tissue Disease,


http://www.medicinenet.com/connective_tissue_disease/article.htm, Diakses
tanggal 24 September 2012.

Sudoyo, A.W, 2006, Ilmu Penyakit Dalam, Jilid I, Edisi 4, Jakarta : Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

Thomson, A.B.R, 2011, Angiodysplasia of the Colon,


http://emedicine.medscape.com/article/170719, Diakses tanggal 24
September 2012.

Toyoki, Y, et al, 2008, Hemosuccus pancreaticus: Problems and Pitfalls in


Diagnosis and Treatment, World Journal of Gastroenterology, vol. 14, no. 17,
pp. 2776-2779, http://www.wjgnet.com/1007-9327/14/2776.pdf, Diakses
tanggal 24 September 2012.

Utama, H.Y, 2012, Diagnosa dan Manajemen Perdarahan Saluran Cerna /


Diagnosis and Management of Gastrointestinal Bleeding,
http://www.herryyudha.com/2012/07/diagnosa-dan-manajemen-
perdarahan.html, Diakses tanggal 24 September 2012.
Wilkins, T, et al, 2012, Diagnosis and Management of Upper Gastrointestinal
Bleeding, American Family Physician, vol. 85, no. 5, pp. 469-476,
www.aafp.org/afp, Diakses tanggal 24 September 2012.