Anda di halaman 1dari 27

LAMPIRAN 1

NASKAH AKADEMIK
PENGEMBANGAN STANDAR DAN BAHAN AJAR
PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG

”Tomorrow’s children will have the potential to createa new era of evolution”.
Anak-anak masa depan akan mempunyai potensi untuk menciptakan evolusi baru.
Riane Eisler dalam Tomorrow’s Children (2000)

Masalah anak usia dini selalu menjadi pembicaraan hangat terus-menerus. Beberapa
periode pemerintah menunjukkan perubahan fokus kebijakan. Pada tahun 1960-an
sampai akhir 1970-an program pemerintah lebih terfokus pada upaya menurunkan angka
mortalitas (kematian bayi) dan morbiditas anak. Era ini disebut ”Child Survival
Strategy.”Program primadona pemerintah adalah upaya perbaikan gizi dan kesehatan
melalui program Upaya Perbaikan Gizi Keluarga (UPGK). Asumsi melalui perbaikan gizi
dan kesehatan akan membuat generasi bangsa menjadi lebih pandai dan produktif yang
nantinya kelak akan memicu lajunya pertumbuhan ekonomi. Kondisi ini tidak terlepas
dari pengaruh World Bank yang mendorong negara-negara berkembangan dapat
menjalankan program gizi dan kesehatan sebagai gerbang perbaikan kualitas manusia.
Tahun 1978 terjadi pergeseran konsep dari sektor gizi ke arah yang lebih holistik.
Deklarasi Alma Alta pada tahun 1978 sebagai kesepakatan internasional diratifikasi untuk
menyatukan program gizi dan kesehatan dalam naungan ”Primary Health Care”.
Pelayanan pada anak balita melibatkan tujuh aspek antara lain (1) monitoring
pertumbuhan fisik anak dengan penimbangan rutin setiap bulan dengan menggunakan
kartu menuju sehat, (2) pengggunaan ORALIT, (3) ASI ekslusif, (4) Imunisasi, (5)
Program KB, (6) Pemberian makanan tambahan, (7) dan pendidikan gizi pada para ibu.
Program Bina Keluarga Balita diwujudkan dalam program POSYANDU. Sayangnya
aspek psiko-sosial terabaikan.
Hasil penelitian Kesejahteraan Anak Indonesia yang dipaparpan Bina Keluarga
Balita pada Forum Padu 30 September 2002 memperlihatkan delapan aspek penting
dalam pola pelayanan dan pengasuhan anak usia dini baru dilaksanakan 40% para orang
tua. Sementara 60% aspek penting lainnya terabaikan, seperti keadaan lingkungan yang
buruk (malah sangat buruk), masalah berkomunikasi dengan anak, rendahnya disiplin dan
pengasuhan, kurangnya pengetahuan dan semangat, serta terabaikannya perkembangan
moral dan psikososial.
Kondisi di atas hingga sekarang menunjukkan perbaikan yang kurang signifikan,
malah terlihat semakin parah. Masalah multidimensi yang dialami negeri ini telah

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 1
memperburuk kondisi kehidupan anak-anak usia dini kita. Masalah fisik dan kesehatan
yang tadinya menunjukkan grafik yang menggembirakan sekarang malah menunjukkan
grafik menurun. Fenomena busung lapar, gizi buruk dan rentannya tubuh anak terhadap
serangan berbagai penyakit seperti diare, campak dan sebagainya dipertontonkan media
setiap waktu. Belum lagi masalah pengasuhan yang didampingi serbuan media yang telah
meracuni pikiran dan semangat para balita. Program televisi yang sibuk
mempertontonkan hal-hal yang tidak pantas untuk anak-anak belia kita seperti Smack
Down yang menampilkan kekerasan pisik, Pildacil yang berkedok tuntunan. Era Super
Kid’s, Cinderella Syndrome pun mengepung para belia.
“Jika anak-anak tercabut dari masa kanak-kanaknya, maka lihatlah, ketika anak itu
dewasa, maka ia akan menjadi orang dewasa yang infantile alias kekanak-kanakan...”
(Neil Postman)
Sederet faktor risiko di atas terkait dengan ketakmatangan aspek sosial-emosi pun
menunggu mereka, seperti rendahnya rasa percaya diri, rendahnya kemampuan
bekerjasama, kurang konsentrasi, ketidakmampuan dalam berkomunikasi, dan kurangnya
rasa empati. Anak-anak yang bermasalah dalam perkembangan sosial-emosi inilah kelak
akan mengalami kesulitan dalam belajar, berinteraksi sosial, dan merugikan banyak
kehidupan mereka ke depan. Inilah yang menjadi fokus bagaimana pentingnya
pendidikan bagi anak usia dini dan pengembangan bahan ajar yang terstandar sesuai
dengan prinsip-prinsip perkembangan anak secara patut.

B. LANDASAN

1. UUD 1945
 Mencerdaskan kehidupan bangsa ( alinea ke-4 Pembukaan )
 Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta
berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi (Pasal 28 B ayat 2 )
 Setiap anak berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya,
berhak mendapatkan pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan
dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi
kesejahteraan umat manusia ( pasal 28 c ayat 2) Negara menjamin kelangsungan
hidup, pengembangan dan perlindungan anak terhadap eksploitasi dan
kekerasan”.
2. Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, ”Setiap anak
berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan
pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya ( pasal 9
ayat 1)
3. Kesepakatan Jomttien- Thailand ( 1990) Pendidkan untuk semua – Pendidikan
sepanjang hayat
4. Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem pendidikan.
5. Deklarasi Dakkar tentang Pendidikan Untuk Semua (Education for All), Senegal
2000, antara lain tentang perlunya memperluas dan memperbaiki keseluruhan
perawatan dan pendidikan anak yang sangat rawan dan kurang beruntung

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 2
6. World Fit for Children (2002) antara lain mencanangkan kehidupan yang sehat,
pendidikan yang berkualitas , perlindungan terhadap aniaya, explotasi dan kekerasan
serta memerangi HIV / AIDS

C. TUJUAN

Tujuan Umum
Sebagai acuan dalam melaksanakan program pendidikan anak usia dini di lapangan
sehingga dapat memberikan pelayanan pendidikan yang optimal.

Tujuan Khusus
1. Meningkatkan pengetahuan stakeholder di lapangan terhadap pelayanan pendidikan
bagi anak usia dini agar dapat memberikan pendidikan seutuhnya sesuai dengan
perkembangan dan keunikan anak.
2. Meningkatkan potensi stakeholders di lapangan untuk mengembangkan bahan ajar
bagi anak usia dini sesuai dengan standar perkembangan yang patut dan kebijakan
yang berlaku.

D. SASARAN
Terjadinya kesepahaman antar stakeholders yang berkepentingan untuk dapat
memberikan pelayanan pendidikan yang optimal patut pada anak usia dini.

E. RUANG LINGKUP
Mencakup teori-teori yang mendukung pentingnya pengembangan bahan ajar bagi
anak usia dini yang terstandar dengan perkembangan anak usia dini yang seutuhnya dan
mengacu pada kepatutan.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 3
BAB II
LANDASAN TEORI

Anak-anak yang memiliki motivasi kuat untuk belajar akan mempunyai masa depan yang
cerah diwarnai penemuan, kesempatan, dan kontribusi. Mereka memiliki kecenderungan
alami untuk menguasai hal-hal tersebut yang akan membuatnya sukses pada abad ke 21,
serta mendapat manfaat dari segala perubahan positif dalam masyarakat. Mereka yang
memiliki motivasi belajar yang kuat mungkin saja akan menghadapi kendala-kendala
dari sebuah ketidakadilan, tetapi kendala tersebut bukanlah musuhnya. Mereka akan
menjadi orang-orang yang paling cocok untuk belajar bagaimana menghadapi kendala
tersebut. Mareka akan menjadi orang yang paling mampu berkreasi dan mencapai
kesuksesan karena hasil terbaik dalam IPTEK, penelitian, dan kesenian tidak dapat
dipaksakan dari hati yang mengerdil.
---Wloddkowski--
-

Neil Postman seorang sosiolog Amerika pada tahun 80-an sangat mencemaskan akan
hilangnya masa kanak-kanak dalam kehidupan anak. Sistem pendidikan, terutama pada
pendidikan anak usia dini terjebak dalam suatu pemikiran yang tidak memberi
kesempatan pada anak untuk bertumbuh memekarkan dirinya sesuai dengan potensi dan
keunikan yang mereka miliki sebagai anak. Padahal anak perlu menjadi anak untuk dapat
menjadi manusia dewasa. Tercerabutnya para belia ini dari masa kanak-kanaknya,
dikhawatirkan akan menggelincirkan kehidupan mereka menjadi masyarakat yang
infantile, suatu masyarakat yang kekanak-kanakan. Untuk itu akan akan dilakukan
beberapa kajian ilmiah terkait dengan teori-teori klasik dan kekinian yang diharapkan
dapat membangun pola pikir yang sama dalam memberikan pelayanan yang terbaik bagi
belia kita, anak-anak usia dini di Indonesia.

A. PRINSIP TEORITIS TERHADAP PERKEMBANGAN ANAK USIA DINI

Memunculkan prinsip teoritis dalam naskah akademik ini sangat penting untuk
membangun kesepaham sebagai usaha memberikan pelayanan pendidikan yang baik
terhadap pendidikan anak usia dini. Berbagai teori klasik yang ada hingga teori-teori
kekinian yang ada merupakan sebuah perjalanan panjang bagaimana dunia pendidikan
selalu berubah memberikan solusi terbaik dalam rangka membangun manusia yang mulia
cerdas dan baik (good and smart). Beberapa teori yang akan diungkapkan secara ringkas
antara lain :

1. Teori Perkembangan Kognitif oleh Piaget

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 4
Ada beberapa tahap perkembangan kognitif yang digagas Piaget:
Tahap Sensorimotoris (usia 0 hingga 18 bulan)
 Tahap Praoperasional (usia 18 bulan hingga 6 atau 7 tahun)
 Tahap Konkrit Operasional (usia 8 tahun hingga 12 tahun

 Tahap Formal Operasional (usia 12 tahun hingga usia dewasa).

Anak usia dini yang berusia 4 hingga 6 tahun berada pada tahapan ini. Di mana anak
mampu berfikir tentang obyek benda, kejadian, atau orang lain. Anak sudah mulai
mengenal simbol berupa kata-kata, angka, gambar dan gerak tubuh. Namun cara berfikir
ini masih tergantung pada obyek konkrit dan rentang waktu kekinian, serta tempat di
mana ia berada. Mereka belum mampu berfikir abstrak sehingga simbol-simbol yang
konkrit sangat dibutuhkan untuk dapat dipahami mereka. Misalnya dalam mengenalkan
angka mesti diiringi dengan obyek nyata berupa gambar atau benda-benda lainnya yang
jumlahnya sesuai dengan angka tersebut. Selain itu anak juga belum mampu mengaitkan
waktu sekarang dengan waktu lampau (irreversibility).

2. Teori Perkembangan Psikososial oleh Erik Erikson


Erikson (1902-1994) membagi tahapan perkembangan psikososial ini ke dalam
delapan rentang perkembangan, yang dalam rentang usia 3 hingga 6 tahuan tengah berada
dalam tahapan Inisitif. Menurut Erikson rentang inisiatif ini berada dalam perkembangan
emosi. Peran guru sebagai pendidik mesti mampu menghadirkan emosi positif dalam
mengiringi proses pendidikan. Hal ini akan membantu anak dalam mengelola konflik-
konflik yang terjadi akibat benturan emosi positif dan emosi negatif dalam pergaulan
sehari-hari mereka yang berhubungan antarmanusia dan lingkungannya. Tahapan ini ia
istilahkan sebagai ”INISIATIF” versus ”MERASA BERSALAH” (Inisiative VS Guilty).
Seorang anak dengan perkembangan emosi yang baik pada tahap sebelumnya akan
berpotensi berkembang ke arah yang positif. Mereka kreatif, antusias melakukan sesuatu,
suka bereksperimen, berimajinasi, berani mengambil risiko, dan senang bergauk dengan
sesama teman. Namun semua ini tergantung pada kondisi yang disiapkan pendidik
kepada mereka. Jika anak-anak suka dipuji dan hasil karyanya dihargai tentu saja akan
menumbuhkan emosi positif yang berguna menguatkan perkembangan kepribadiannya.
Sebaliknya jika ia suka dikritik, dilabel sebagai anak nakal tentu saja akan muncul emosi
negatif yang akan menumbuhkan rasa bersalah pada diri mereka sebagai anak. Pada saat
tertentu rasa bersalah mesti dihadirkan yang membantu membangun rasa tanggung jawab
yang dalam kepatutan akan mendukung tumbuhnya karakter baik pada diri anak.
Semakin rasa tanggung jawab tumbuh dalam diri anak maka rasa inisiatif akan semakin
berkembang dalam diri mereka.

3. Teori Sosio-Kultural oleh Vygotsky


Vygotsky (a896-1934) sangat setuju dengan adanya pesan budaya dalam proses
pembelajaran di sekolah. Ia menyatakan bahwa kontribusi budaya, interaksi sosial, dan
sejarah dalam pengembangan mental individual sangat berpengaruh, khususnya dalam
perkembangan bahasa, membaca dan menulis pada anak.
Pembelajaran yang berbasis pada budaya dan interaksi sosial mengacu pada
perkembangan fungsi mental tinggi, yang terkait dengan aspek sosio-historis-kultural.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 5
Ketiga hal ini akan sangat berdampak terhadap persepsi, memori dan berpikir anak
(http://www.ibe.unesco.org: 3). Ia menganjurkan pentingnya melakukan interaksi
sosiokultural yang menjadi sarana atau tools di dalam proses pembelajaran di sekolah
(http://www.ibe.unesco.org:4). Pengalaman-pengalaman anak yang mempertemukannya
dengan budaya dibutuhkannya untuk dapat meraih “Zone of Proximal Development.”
Untuk itu dibutuhkan suatu pendekatan pembelajaran yang dapat mengaitkan berbagai
aspek pembelajaran yang ada dalam kurikulum dengan pengalaman nyata yang dijalani
anak dalam kehidupan mereka sehari-hari. Metodologi yang efektif terkait dengan
pengajaran dalam kelompok besar yang utuh, pengajaran melalui objek nyata, beragam
gaya belajar, pengajaran adaptif dan individual, pembelajaran tuntas, pembelajaran
kooperatif, pengajaran langsung, penemuan, konstruktif, melalui tutor sebaya sangat
dibutuhkan anak agar ia dapat mengarahkan dirinya sendiri untuk belajar
(http://www.aacte.org:8).
4. Teori Perkembangan Moral oleh Kohlberg dan Thomas Lickona
Kohlberg sebagai pakar perkembangan moral, bertumpu pada teori Piaget yang
menyatakan bahwa perkembangan afektif (affective development) terjadi pada anak usia 1
hingga 5 tahun. Saat itu anak berada pada ”self oriented Morality”. Sebagai tahapan awal
dari perkembangan moral kondisi ini merupakan “the Golden Rule” karena pada tahapan
ini mulai tumbuh “mutual respect” pada diri anak. Kepada mereka mulai dapat
dikenalkan sopan santun, dan perbuatan baik lainnya, walau terkadang mendapat
pertentangan karena mereka sulit diatur dan berada pada masa egosentris.
Berbenturannya antara berfikir egosentris dengan mutual respek merupakan arena
yang mengasyikkan bagi tumbuhnya transformasi nilai-nilai pada diri anak. Kebajikan
akan tumbuh melalui serangkaian proses panjang yang melibatkan dan mengasah logika
serta emosi saling berbenturan. Namun dari kondisi inilah akan muncul kecerdasan emosi
yang akan menjaga pertumbuhan moral anak dapat berjalan semestinya.
Thomas Lickona, bapak karakter dari Cortland University menyatakan bahwa
pada usia 4 hingga 6 tahun anak tengah berada pada tahap ”PATUH TANPA SYARAT”
(Authority Oriented Morality). Pada fase ini anak meperlihatkan sikap penurut, mudah
diajak kerjasama, dan mau mengerjakan perintah orang tua dan guru. Namun terkadang
juga muncul sifat egosentrisnya sebagai bentuk bahwa perkembangan moral pada diri
mereka tengah mencari bentuk. Ada beberapa karakteristik perkembangan moral pada
fase ini, yakni:
Menganggap orang dewasa sebagai makhluk serba tahu
 Dapat menerima pandangan orang lain
 Mudah terpengaruh dengan kenakalan sebayanya
 Suka mengadu jika dinakali teman
 Terkadang cenderung melanggar aturan
 Menghormati kehadiran guru dan orang tua

5. Teori Ekologi dan Kontekstual oleh Bronfenbrenner


Bronfenbrenner mengembangkan teori perkembangan anak yang dipengaruhi oleh
berbagai faktor yang mencakup kehidupan manusia. Ringkasnya teori ini mengatakan
bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh konteks mikrosistem (keluarga, sekolah dan
teman sebaya), konteks mesosistem (hubungan keluarga dan sekolah, sekolah dengan
sebaya, dan sebaya dengan individu), konteks ekosistem (latar sosial orang tua dan

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 6
kebijakan pemerintah), dan konteks makrosistem (pengaruh lingkungan budaya, norma,
agama, dan lingkungan sosial di mana anak dibesarkan.
Teori Bronfenbrenner ini membantu memberikan penjelasan kepada para pendidik
untuk memahami berbagai risiko yang dapat mempengaruhi proses perkembangan anak
secara negatif misalnya masalah kemiskinan, kekerasan pada anak, dan konflik dalam
keluarga. Seorang guru akan menjalin hubungan dengan anak yang memiliki latar negatif
dengan memberikan perhatian khusus yang tidak didapatkan anak dari lingkungannya.

B. PENDIDIKAN BERORIENTASI PERKEMBANGAN (DEVELOP-MENTALLY


APPRORIATE PRACTICE)

Salah satu penyebab utama dalam kesalahan mendidik adalah banyak para orangtua
dan guru yang kurang menyadari cara-cara mendidik yang patut. Pada awal tahun 80-an
mulai bermunculan berbagai kritikan terhadap kurikulum yang dianggap telah mematikan
semangat dan kecintaan anak untuk belajar. National Association for the Young Children
(NAEYC) sebuah organisasi yang muncul pada tahun 1980-an di AS merupakan gerakan
yang berusaha mematut terhadap berbagai miskonsepsi dalam dunia pendidikan anak usia
dini. Di sini berhimpun para pakar pendidik anak usia dini, dimotori Sue Bredekamp
membuat petisi melalui “konsep DAP”. Terjemahan bebas konsep DAP
(Developmentally Approriate Practice) merupakan pendidikan yang patut berorientasi
tahap perkembangan anak. Setiap anak yang berusia 0-8 tahun memiliki pola
perkembangan yang dapat diprediksi sehingga memudahkan dalam upaya memberikan
pelayanan pendidikannya.
Penerapan konsep DAP dalam pendidikan anak usia dini memungkinkan para
pendidik melayani anak sebagai individu yang utuh (The Whole Child), yang melibatkan
empat komponen dasar yang dimiliki anak, yaitu Pengetahuan, Ketrampilan, Sifat
Alamiah, dan Perasaan yang bekerja secara bersamaan dan saling berhubungan. Oleh
karena itu jika sistem pembelajaran dapat melibatkan semua aspek ini secara bersamaan
maka perkembangan kepribadian anak akan tumbuh secara berkelanjutan.

Hasil Studi Tentang Keberhasilan DAP


Menurut para pendukung DAP, metode ini memberikan lingkungan belajar yang
senantiasa mendorong anak bereksplorasi, kreatif, dan menumbuhkan rasa ingin tahu
yang besar. Dampak terhadap perkembangan sosial-emosi menunjukkan bahwa anak usia
dini yang dilayani dengan metode DAP mempunyai tingkat stress yang rendah
dibandingkan anak-anak yang dilayani tanpa metode DAP. Sebuah studi lain juga
melaporkan bahwa anak-anak usia dini yang berada dalam kelas non DAP memiliki
tekanan dalam proses pendidikan karena mereka senantiasa diminta mengisi lembar kerta
kerja yang kurang patut dan kurang menyenangkan anak.
Sementara dampak terhadap perkembangan kognitif juga menunjukkan hal yang
menggembirakan. Beberapa penelitian melaporkan bahwa anak-anak yang mendapatkan
kurikulum DAP lebih kreatif, lebih percaya diri, unggul dalam kemampuan berbahasa.
Uniknya lagi kemampuan membaca dan berhitung mereka juga meningkat. Dampak
pelaksanaan DAP bagi pelaksanaan pendidikan anak suai dini berpengaruh pada jangka
panjang. Anak-anak ketika usia dini mendapat pelayanan pendidikan dengan metode
DAP memiliki kemampuan membaca dan berhitung lebih tinggi saat mereka duduk di SD

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 7
kelas 1 dibandingkan anak-anak yang tidak mendapatkan pelayanan pendidikan dengan
metode DAP saat di pendidikan usia dini.

C. PANDANGAN HOLISTIK (PENDIDIKAN ANAK SEUTUHNYA)

Menghadapi tantangan abad ke 21 ini pendidikan mesti mampu mengubah


paradigmanya dari yang fragmented menjadi pendekatan holistik yang menempatkan
pendidikan dalam sebuah konteks lingkungan yang saling terkait (Holistic approach).
Kata HOLISTIC memiliki arti menyeluruh yang terdiri dari kata HOLY and HEALTHY.
Pandangan holistik bermakna membangun manusia yang utuh dan sehat, dan seimbang
terkait dengan seluruh aspek dalam pembelajaran; seperti spiritual, moral, imajinasi,
intelektuan, budaya, estetika, emosi, dan fisik.
Terjadinya berbagai bencana kerusakan di lingkungan semesta diakibatkan ulah-
ulah manusia, menyadarkan kita bahwa pendidikan kita kurang mampu mewujudkan
keseimbangan antara kehidupan manusia di alam semesta. Memberikan kesadaran kepada
para siswa akan kehidupan di abad ke 21 yang diwarnai oleh kehidupan masyarakat yang
sangat heterogen dan permasalahan yang luar biasa terkait dengan lingkungan hidup yang
semakin tercemar, konflik, peperangan, dan kemiskinan merupakan sebuah kemestian.
Sebuah kesepakatan global yang disebut GATE (Global Alliance for Transforming
Education) mencanangkan perlunya transformasi pendidikan dari yang terkotak-kotak
menjadi sebuah konsep yang utuh. Tujuan pendidikan menurut konsep yang utuh ini
adalah untuk membangun manusia seutuhnya. Hal ini seperti yang juga termaktub dalam
tujuan pendidikan nasional kita. Seluruh aspek yang dimiliki anak melalui pandangan
holistik ini (The whole child education) akan berkembang dengan patut termasuk
kesadaran bahwa ia adalah bagian dari anggota keluarganya, sekolah, lingkungan,
masyarakat, dan komunitas global.
Krishnamurti mengatakan bahwa kegagalan sistem pendidikan untuk menjadikan
manusia berwawasan holistik disebabkan pendidikan modern lebih bertumpu pada dunia
sekuler, terlepas dari makna spiritual. Bagi Krishnamurti kesatuan integral adalah sakral
dan segala sesuatu adalah bagian dari kesatuan integral. Oleh sebab itu segala sesuatu
mesti memiliki makna yang sakral. Manusia perlu diberikan perangkat untuk mencapai
pemahaman makna spiritual. Masalahnya sistem pendidikan modern sangat
terspesialisasi dan telah memecahbelah keseluruhan menjadi bagian-bagian yang terpisah
yang tidak lagi saling bermakna. Dalam kegiatan pendidikan konvensional seluruh
potensi manusia yang dilibatkan hanya sebatas pada kognitif dan pisik semata, tanpa
melibatkan aspek emosi dan spiritual.
Hakikat dari pendidikan menurut Krishnamurti ini dikemas Scott Forbes dalam
tujuan pendidikan untuk mendidikan seluruh aspek yang dimiliki manusia (All part of the
person), mendidikan manusia sebagai kesatuan yang utuh (The person as the whole),
mendidikan manusia sebagai bagian dari keseluruhan (The person within the whole),
yaitu sebagai bagian dari masyarakat, komunitas manusia, dan alam semesta.
Carol Flake mengatakan bahwa dalam menghadapi tantangan global di abad 21 ini,
maka pelayanan pendidikan mesti mampu mengubah paradigma dari yang terkotak-kotak
(fragmented) menjadi pendekatan ekologis. Melihat anak hanya dalam aspek kognitis

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 8
semata yang diselesaikan dengan tugas-tugas akademik yang steril dan memberikan
mereka mata pelajaran yang tidak saling berhubungan dengan relevan dalam konteks
kehidupan nyata tidak akan mampu menumbuhkan transformasi kesadaran
(consciousness). Transformasi kesadaran ini merupakan bagian dari proses pendidikan
yang akan mampu meredam segala carut-marut kondisi yang terjadi dalam peradaban
modern, seperti kerusakan lingkungan semesta, konflik antaretnis, dan sebagainya.
Fitjrof Capra mengungkapkan bahwa betapa pengetahuan manusia tentang sains,
masyarakat, dan kebudayaan, telah terkotak-kotak sehingga manusia tidak mampu lagi
melihat gambar keseluruhan dari sebuah fenomena. Akibatnya banyak solusi dilakukan
manusia didekati secara terpisah sehingga membuat masalah semakin terpuruk. Inti
pemikiran dari Fitjrof adalah bagaimana upaya melihat segala sesuatu secara utuh dan
menyeluruh yang diistilahkannya dengan ”Multidisciplinary, Holistic Approach to
reality”. Kondisi ini diperkuat dengan pernyataan David Orr bahwa akar permasalahan
yang ada saat sekarang dikarenakan pemikiran manusia dididik dengan sistem pendidikan
yang terkotak-kotak yang kemudian membuat manusia berfikir secara parsial.
Berdasarkan kajian di tas maka jelas bahwa pendidikan bukan semata-mata
menyiapkan manusia agar dapat berperan dalam salah satu dimensi kehidupan saja,
melainkan agar siap menjalani seluruh dimensi kehidupan. Untuk itu potensi anak usia
dini yang perlu dikembangkan dalam proses pendidikannya sesuai dengan prinsip holistik
hendaknya terkait dengan:

1. Aspek Fisik
Terkait dengan perkembangan motorik halus, motorik kasar, termasuk menjaga
stamina, gizi dan kesehatan.

2. Aspek Emosi
Terkait dengan aspek kesehatan jiwa, mampu mengendalikan tekanan/stress, mampu
mengontrol diri dari perbuatan negatif, memiliki rasa percaya diri,, berani mengambil
risiko, dan memiliki empati.

3, Aspek Sosial
Menumbuhkan rasa senang melakukan pekerjaan, mampu bekerjasama, pintar
bergaul, peduli dengan masalah sosial, berjiwa sosial dan dermawan, bertanggung jawab,
menghormati orang lain, mengerti akan perbedaan dan keunikan, mematuhi peraturan
yang berlaku.

4. Aspek Kreativitas
Mendorong anak untuk mampu mengekspresikan diri dalam berbagai kegiatan
produktif seperti dalam dunia seni, berbahasa, berkomunikasi, dan sebagainya.

5. Aspek Spritual
Mampu memaknai arti dan tujuan hidup dan bersikap taat terhadap ajaran agama
yang diyakini melalui perbuatan baik yang konsisten.

6. Aspek Akademik

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 9
Mampu berfikir logis, berbahasa, dan menulis dengan baik. Selain itu dapat
mengemukakan pertanyaan kritis dan menarik kesimpulan dari berbagai informasi
dengan cermat.

C. PANDANGAN KECERDASAN JAMAK (MULTIPLE INTELLIGENCE)

Howard Gardner telah mengubah pandangan tradisional tentang belajar yang hanya
berfokus pada kemampuan kognitif dengan memunculkan konsep ”kecerdasan Beragam”
(Multiple Intelligence). Konsep ini mengenalkan bahwa manusia belajar dan berhasil
melalui berbagai bidang kemampuan kecerdasan yang tidak terukur hanya melalui IQ.
Menurut Ganrdner definisi cerdas adalah kemampuan memecahkan masalah atau
kemampuan berkarya dan menghasilkan sesuatu yang berharga untuk lingkungan sosial,
budaya atau lingkungannya.
Setiap anak memiliki bakat, cara belajar, kemampuan kognitif berbeda dan unik
tergantung pada latar belakang sosial, dan budaya di mana mereka dibesarkan. Untuk itu
ada sembilan dimensi kecerdasan anak manusia yang mesti disentuh dalam proses
pendidikan anak usia dini, antara lain:
1. Kecerdasan Gambar (Picture Smart)
Kemampuan yang tinggi dalam memvisualisasikan fenomena kehidupan dalam
bentuk gambar. Kegiatannya tercakup dalam menggambar, menyenangi warna,
garis, bentuk, membangun balok, dan mebuat peta lokasi.

2. Kecerdasan Berbahasa (Word Smart)


Kemampuan yang tinggi dalam mengekspresikan diri secara verbal, mudah
mengingat dan menulis sesuatu, dan senang berdiskusi.

3. Kecerdasan Musik (Musical Smart)


Kemampuan yang tinggi dan peka dalam mendengarkan suara, bunyi, dan tertarik
mempelajari berbagai jenis musik, lagu dan memainkan alat-alat musik.

4. Kecerdasan Logika (Logical Smart)


Kemampuan yang tinggi dan ketertarikan dalam angka, membuat hipotesis.

5. Kecerdasan Bergaul (Social Smart)


Kemampuan yang tinggi dalam membangun hubungan dengan orang lain. Mereka
senang bekerja dengan orang banyak, berdiskusi dan sebagainya. Mereka peka dalam
bahasa tubuh, ekspresi wajah dan mampu membaca perasaan orang lain.

6. Kecerdasan Merenung (Self Smart)


Kemampuan yang tinggi dalam mengenali perasaan diri melalui renungan dan
berdialog dalam. Suka mengahayati puisi, drama, bermeditasi, menulis, dan bercerita.

7. Kecerdasan Spritual (Spritual Smart)


Kemampuan berfikir yang dalam untuk menggali tentang hakikat hidup dan

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 10
kehidupan dan kaitannya dengan KeEsaan Tuhan.

8. Kecerdasan Alam (Nature Smart)


Kemampuan yang cepat mempelajari fenomena alam terkait dengan biologi, fauna
dan flora, serta kegiatan berwawasan alam lainnya.

9. Kecerdasan Fisik (Body Smart)


Kemampuan yang cepat untuk mengusai kegiatan-kegiatan yang melibatkan fisik,
motorik halus, dan meotik kasar serta koordinasi antarbagian tubuh. Kegiatan ini
kelak akan dibutuhkan dalam dunia peran, atlit, penari, penyelam, akrobatik, pendaki
gunung, dan pekerjaan berbahaya lainnya.

Semua bidang kecerdasan di atas dapat dimiliki anak semuanya jika kepada mereka
diberi kesempatan untuk mengembangkan dirinya sesuai dengan pelayanan
pendidikan yang patut. Melalui sistem pembelajaran terpadu (Integrated learning
content) yang saat ini dimunculkan dalam bentuk TEMATIS merupakan aplikasi dari
pandangan kecerdasan beragam ini.

D. HASIL MUTAKHIR TENTANG RISET OTAK

Sistem alami terhadap bekerjanya otak agar potensi yang dimiliki anak dapat
dikembangkan seoptimal mungkin tanpa terbentur dengan struktur dan fungsi otak
merupakan hasil mutakhir dari riset otak. Sistem pendidikan yang menentang hakikat dari
prinsip alami dari otak ini telah banyak merugikan kehidupan anak.
Riset Otak oleh Paul McLean menunjukkan bahwa ada tiga bagian otak yang
fungsinya berbeda dalam mempengaruhi proses belajar(three in one). Kondisi ini sangat
bergantung pada bagian otak mana yang mendominasi anak. Ketiga otak tersebut adalah:

1. Brainstem
Brainstem ini diartikan sebagai batang otak yang berfungsi menyerang dan
menyelamatkan diri atau dengan kata lain sebagai otak yang bereaksi cepat. Pengaruh
dari bagian otak ini akan mendominasi jika seseorang dalam kondisi terancam, sedih,
marah, takut, dan sebagainya. Inilah yang membuat manusia mempertahankan
dirinya, yang sehari-hari dapat dilihat dalam perilaku seperti berdebat, menangkis
pukulan jika diserang. Kondisi ini tidak menguntungkan dalam proses pembelajaran.
2. Cerebral Cortex
Bagian ini terkait dengan kulit otak. Walau pun ada juga kulit otak kecil
”cerebellum”, namun cerebral cortex selalu berkaitan dengan otak berfikir. Di otak
besar cortex cerebri ini berperan dalam proses berfikir tingkat tinggi, seperti
berbhasa, memori, emosi, menganalisa, kreativitas, dan spiritualitas. Sementara di
otak kecil cerebral cortex berfungsi memainkan peran sebagai pengatur gerakan dan
kesimbangan tubuh.
Kesalahan paling besar yang sering dilakukan dalam proses pendidikan usia dini
adalah menganggap cerebral cortex ini sebagai keseluruhan otak yang berfungsi

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 11
sebagai berfikir semata. Padahal berfikir hanyalah salah satu fungsi otak. Komponen
lain dari fungsi otak terkait dengan emosi sering dianggap bagian lain di luar otak.
Menurut Erich Fromm Cerebral cortex ini ia istilahkan sebagai penanda lahirnya
manusia modern. Oleh karena rasionalitas manusia berpusat pada cerebral cortex ini
yang membuat manusia berfikir dan melakukan banyak hal dalam kehidupannya.
Judson Herrick, sebagai seorang neuroanatomist mendukung Erich Fromm
dengan menyatakan bahwa cerebral cortex akan melahirkan peradaban “ cortex
cerebri is the organ of civilization”. Oleh karena cerebral cortex mampu melakukan
fungsinya untuk “mengetahui, berfikir, dan aktivitas intelektual lainnya”. Korbinian
Broddman selanjutnya mengklasifikasikan kulit otak berdasarkan penelitian arsitektur
sel-sel di kulit otak atas 52 wilayah. Ia kemudian menandainya dengan angka,
misalnya wilayah 3,2, dan 1 sebagai daerah pengatur sensasi, tubuh, wilayah 4,5, dan
6 sebagai pengatur gerakan, dan wilayah 41 dan 42 untuk mengatur pendengaran, dan
lain-lain. Wilayah ini saling berhubungan melalui serabut-serabutnya yang prosesnya
tidak lebih dari satu menit. Kecepatan dan ketepatan otak dalam mencerna informasi
merupakan keunggulan otak manusia yang tak tertandingi.

3. Sistem Limbik
Sistem limbik menyimpan banyak informasi yang tak tersentuh oleh indera. Dialah
yang lazim disebut sebagai otak emosi atau tempat bersemayamnya rasa cinta dan
kejujuran (seat of love). Carl Gustav Jung menyebutnya sebagai ”Alam Bawah
Sadar” atau ketaksadaran kolektif, yang diwujudkan dalam perilaku baik seperti
menolong orang, dan perilaku tulus lainnya. LeDoux memngistilah sistem limbik ini
sebagai tempat duduk bagi semua nafsu manusia, tempat bermuaranya cinta, respek
dan kejujuran.
Beberapa prinsip sebagai bentuk kecerdasan emosi yang diperankan sistem
limbik perlu dipahami oleh pendidik antara lain:
 Mempengaruhi sistem belajar manusia.
Sistem limbik ini mengontrol kemampuan daya ingat, kemampuan merespon
segala informasi yang diterima pancaindera.
 Mengontrol setiap informasi yang masuk.
Sistem limbik ini mengontrol setiap informasi yang masuk dan memilih informasi
yang berharga untuk disimpan dan yang tidak berharga akan dilupakan. Oleh
karena itu sistem limbik menentukan terbentuknya daya ingat jangka panjang
yang berguna dalam pelayanan pendidikan anak.
 Otak tidak akan memberikan perhatian jika informasi yang masuk mengabaikan
sistem limbik. Suasana belajar yang membosankan membuat sistem limbik
mengkerut dan kehilangan daya kerjanya. Oleh karena itu suasana belajar yang
menyenangkan akan memberi pengaruh positif pada kerja sistem limbik.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 12
BAB III

STANDAR PERKEMBANGAN DAN PENGEMBANGAN BAHAN AJAR


PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. STANDAR PERKEMBANGAN

Anak usia dini merupakan individu yang unik yaitu antara anak yang satu dengan
yang lainnya berbeda. Beberapa ahli, Piaget, Vygotsky, dan Erickson, berpendapat bahwa
anak tumbuh sesuai dengan tahap perkembangan dan memiliki karateristik tersendiri
sesuai dengan tahap usianya. Masa usia dini (0-6 tahun) merupakam masa keemasan
(golden age) dimana stimulasi seluruh aspek perkembangan selanjutunya. Perlu disadari
bahwa masa-masa awal kehidupan anak merupakan masa terpenting dalam rentang
kehidupan seorang anak. Pada masa ini perkembangan otak sedang mengalami masa
yang sangat pesat (eksplosif).
Mengingat pentingnya masa ini, maka peran stimulasi berupa penyediaan
lingkungan yang kondusif harus disiapkan oleh para pendidik, baik orang tua, guru,
pengasuh ataupun orang dewasa lain yang ada disekitar anak, sehingga anak memiliki
kesempatan untuk mengembangkan seluruh potensinya ( Teori konstruktivisme ). Potensi
yang dimaksud meliputi aspek moral dan nilai-nilai agama, sosial, emosional dan
kemandirian, kemampuan berbahasa, kognitif,k fisik/motorik, dan seni.
Selama ini karakteristik perkembangan anak usia dini sering dilihat dari segi
kemampuan kognitif, sosial-emosional, moral dan nilia-nilai agama, fisik, bahasa dan
seni. Padahal pendapat ahli tentang kemampuan anak sekarang makin berkembang
dengan adanya teori kecerdasan jamak ( multiple intelligencies ) dari Gardner, dimana
seorang anak sebenarnya memiliki lebih dari satu kecerdasan.
Dengan demikian, perlu dirumuskan suatu standar perkembangan bagi anak usia
dini yang dikembangakan berdasarkasn karakteristik perkembangan anak yang meliputi
aspek-aspek perkembangan: moral dan nilia-nilai agama, sosial-emosional dan
kemandirian bahasa kognitif, fisik motorik dan perkembangan seni, agar dapat digunakan
oleh para pendidik anak usia dini dalam mengembangkan seluruh potensi anak..
1. Perkembangan moral dan nilai-nilai agama
Perkembangan moral dan nilai-nilai agama berkaitan dengan pengembangan nilai-
nilai kehidupan dan spiritual anak. Pengemnagan nilai-nilai dan moral ini dapat
ditumbuhkan melalui pembiasaan dan keteladanan.
Tujuan perkembangan moral dan nilai-nilai agama adalah:
a. Anak mengenal dan percaya akan ciptaan tuhan
b. Anak melakukan ibadah menurut agamanya
c. Anak mencintai dan menghargai sesama

2. Perkembangan sosial-emosional
Perkembangan soscial-emosional anak berkaitan dengan cara anak ketika berin
teraksi dengan temannya, berinteraksi dengan mainannya, dan berinteraksi dengan orang

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 13
dewasa dilingkungannya. Perkembangan sosilla-emosional anak juga merupakan suatu
proses dimana anak belajar tentang nilai-nilai dan perilaku yang diterima oleh
masyarakat.
Adapun tujuan perkembangan sosial-emosional anak adalah:
a. Anak memiliki konsep diri yang positif, yaitu anak mengetahui tentang dirinya
b. dan cara berinteraksi dengan orang lain
c. Anak bertanggung jawab pada dirinya dan pada orang lain, yaitu anak mau mengikuti
aturan yang sudah disepakati dengan kegiatan rutin yang dilakukan sehari hari,
menghormati orang lain dan berinisiatif.
d. Anak beprilaku yang mendukung interaksi sosial, yaitu anak menunjukan empati, dan
berinteraksi dengan duniannya melalui berbagi dan mengambil giliran.

3. Perkembangn fisik/motorik
Perkembangn fisik anak meliputi perkembangn keterampilan motorik kasar halus.
Orang sering beranggapan bahwa perkembangan fisik anak dapat dicapai secara otomatis,
artinya tidak perlu dilatih. Namun dari hasil penelitian diketahui bahwa anggapn tersebut
tidak tepat, bahkan disebut bahwa kader/ guru/ orang dewasa lai9n perlu melatih anak
agar anak memiliki kammpuan motorik kasar dan halus yang kuat.
Tujuan perkembangan fisik anak adalah:
a. Anak anak mampu mengendalikan gerakan kasar yaitu menggerakkan otot-otot besar
tubuh khususnya pada tangan dan kaki. Anak-anak belajar keseimbangan dan stabil,
misalnya melalui lari, melompat, menendang, melempar dan menangkap.
b. Anak mampu mengendalikan gerakan halus yaitu menggunakan dan
mengkoordinasikan otot- –otot kecil ditangan. Disini anak belajar mengembangkan
ketrampilan menolong diri sendiri dan memaninpulasi benda -\benda kecil seperti
mememgang gunting dan alat-alat tulis.

4. Perkembangan kognitif
Perkembang kognitif meliputi cara anak berpikir, cara anak melihat duniannya
dan tentang cara anak menggunakan alat dan bahan main untuk belajar
Tujuan perkembangan kognitif anak adalah:

a. Anak dapat belajar dan memecahkan masalah


b. Anak dapat berpikir logis
c. Anak dapat berpikir simbolik yaitu anak-anak disediakan banyak pengalaman \main
dengan bermacam macam mainan agar anak dapat berpindah dari berpikir konkrit ke
berpikir simbolik
5. Perkembangan bahasa meliputi pemahaman dan kemampuan anak untuk
mengkomunikasikan melalui ucapan dan tulisan.

Tujuan perkembang bahasa anak adalah :


a. Anak mampu mendengarnkan dan berbicara, yaitu anak memahami suatu percakapan
dan dapat menggunakan bahasa lisan secara tetap untuk berkomunikasi dengan orang
lain.
b. Anak mampu memmbaca dan menulis, yaitu mempunyai pengetahuan tentang huruf-
huruf (alphabet) dan dapat menulisakan huruf dan kata.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 14
B. PEMBELAJARAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

Anak usia dini memiliki karakteristik perkembangan yang berbeda dengan anak-anak
usia yang lebih tua. Ini memberikan implikasi bahwa kurikulum dan pembelajaran yang
akan diimplementasikan harus disesuaikan dengan karakteristik perkembangan anak
tersebut. Pembelajaran yang tidak sesuai dengan karakteristik perkembangan anak,
dengan sendirinya akan menghambat dan merusak perkembangan anak. Sesuai dengan
karakteristik perkembangannya yang bersifat holistik, maka jenis kurikulum yang relevan
untuk anak usia dini adalah kurikulum terpadu (integrated curriculum), artinya
kurikulum harus diupayakan untuk memfasilitasi seluruh aspek perkembangan anak yang
meliputi aspek estetis, afektif, kognitif, bahasa, fisik motorik, dan sosial dan emosi. Ini
sesuai dengan yang diungkapkan (Kostelnik (1999) bahwa kurikulum anak usia dini
meliputi tujuan umum, tujuan khusus, materi, strategi yang ditujukan untuk
mengembangkan semua aspek perkembangan dan belajar anak, serta evaluasi untuk
menilai perkembangan anak. Atas dasar itu maka pembelajaran yang relevan untuk anak
usia dini adalah pembelajaran terpadu. Siti Aisah (2006:1) mengemukakan bahwa
pembelajaran terpadu adalah pendekatan yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran
dengan mengintegrasikan kegiatan ke dalam semua bidang pengembangan, meliputi
aspek kognitif, sosial-emosional, bahasa, moral dan nilai-nilai agama, fisik-motorik, dan
seni.
Semua kegiatan dalam pembelajaran terpadu melibatkan pengalaman langsung
(hands on experience bagi anak serta memberikan berbagai pemahaman tentang
lingkungan sekitar anak. Artinya anak-anak belajar melalui badan mereka dengan cara
melihat, mendengar, menyentuh, mencicipi, mencium sesuatu yang secara fisik hadir di
hadapannya. Kegiatan yang dilakukan pun memungkinkan anak untuk memadukan
pengetahuan dan keterampilannya dari pengalaman satu ke pengalaman lainnya (Eliason
dan Jenkins, 1994). Di samping itu kegiatan pembelajaran terpadu mengintegrasikan
semua bidang pengembangan. Pembelajaran terpadu juga memberikan kesempatan
kepada anak untuk mengembangkan seluruh potensi dan keterampilan yang dimilikinya
secara optimal.

1. Karakteristik Pembelajaran terpadu


Kostelnik (1991) mengemukakan beberapa karakteristik pembelajaran terpadu, yaitu:
a. Menyediakan pengalaman langsung tentang obje-objek nyata bagi anak. Melalui
pengalaman langsung anak-anak membangun pengetahuannya dengan cara
memanipulasi objek, mengamati peristiwa atau kejadian, berinteraksi dengan
manusia, dan lingkungan sekitarnya.
b. Menciptakan kegiatan sehingga anakmenggunakan pemikirannya
c. Mengembangkan kegiatan sekitar minat-minat anak
d. Membantu anak-anak membangun pengetahuan dan keterampilan baru yang
didasarkan atas hal-hal yang telahmereka ketahui sebelumnya.
e. Menyediakan kegiatan dan kebiasaan yang ditujukan untuk mengembangkan semua
aspek perkembangan
f. Mengakomodasi kebutuhan anak untuk melakukan aktifitas fisik, interaksi sosial,
kemandirian

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 15
g. Menyediakan kesempatan melalui bermain untuk membangun konsep. Melalui
bermain anak melakukan proses belajar yang menyenangkan, sukarela, dan spontan.
h. Menghargai perbedaan individu, latar belakang budaya, dan keluarga anak.
i. Dapat melibatkan keluarga anak.

2. Bahan Ajar Untuk Anak Usia Dini

Sesuai dengan karakteristik perkembangan anak dan karakteristik pembejarannya


yang terintegrasi atau terpadu, maka bahan ajar untuk anak usia dini harus dikemas dan
disajikan dalam bentuk tema. Tema adalah ide-ide pokok atau ide-ide sentral tentang
bahan ajar yang berkaitan dengan anak dan lingkungannya. Tema yang disajikan kepada
anak harus dimulai dari hal-hal yang telah dikenal anak menuju yang lebih jauh, dimulai
dari yang sederhana menuju yang lebih kompleks, dan dari hal yang kongkri menuju
yang abstrak.
Dalam mengembangkan bahan ajar untuk anak usia dini, guru-guru memilih tema yang
relevan yang menjadi perhatian atau diminati anak, kemudian dijadikan ide sentral
pembelajaran yang direncanakan, serta dilaksanakan melalui kegiatan-kegiatan dalam
rangka mengembangkan semua aspek perkembangan anak.

Memilih tema kemudian mengembangkannya adalah langkah pertama yang harus


ditempuh dalam melaksanakan pembelajaran terpadu. Para pendidik anak usia dini pun
dituntut untuk mampu memilih dan memutuskan tema apa yang paling relevan dengan
anak. Dalam memilih tema, guru tidak perlu terpaku pada tema-tema yang sudah ada di
dalam dokumen kurikulum, karena terdapat berbagai sumber ide untuk memilih dan
memutuskan tema sebagai bahan pembelajaran yang akan disajikan kepada anak,
sebagaimana dikemukakan oleh Soderman dan Whiren, 1999) sebagai berikut:

a. Minat anak
Sumber ide yang paling baik untuk tema adalah anak. Hal yang sering terjadi, sering
dibahas atau menarik minat anak adalah tema yang tepat untuk dipilih. Guru dapat
menemukan minat anak dengan cara berbicara secara informal dengan mereka,
mengamati anak, dan mendengarkan apa yang sering mereka bicarakan.
b. Peristiwa khusus
Peristiwa atau kejadian khusus yang dilihat atau dialami anak dapat menjadi sumber
ide untuk memilih tema.Contohnya peristiwa ulang tahun, rekreasi,musim panen, dan
sebagainya.
c. Kejadian yang tidak diduga
Kejadian yang tidak diduga sebelumnya dapat merangsang anak untuk mengetahui
lebih banyak tentang hal tersebut. Misalnya ketika anak-anak berada di dalam kelas tiba-
tiba ada seekor kupu-kupi masuk. Kejadian itu akan menarik perhatian anak dan mungkin
akan menimbulkan pertanyaan bagi mereka,sehingga pada suatu waktu guru memilih
tema “Kupu-kupu”,
d. Materi atau bahan yang dimandatkan oleh lembaga.
Lembaga-lembaga pendidikan anak usia dini tertentu biasanya punya misi dan
harapan tertentu untuk menyelenggarakan pendidikannya. Misalnya TK tertentu

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 16
memandatkan tentang perlunya keselamatan kebarkaran bagi anak-anak, sehingga dipilih
tema “Kebakaran”.
e. Orang tua dan guru
Ide tema dapat bersumber dari harapan orang tua dan guru sesuai dengan kebutuhan
lembaga dan orang tua. Misalnya kekhawatiran orang tua mengenai kejahatan seksual
bagi anak-anaknya dapat diakomodasi melalui tema “Keselamatan diri”.
Dengan banyaknya sumber ide yang dapat dipilih, biasanya tema yang relevan akan
muncul. Ada lima kriteria yang harus dipertimbangkan guru dalam memilih tema, yaitu:
a. Relevansi tema dengan anak
b. Potensi tema untuk melibatkan anak dalam pengalaman langsung
c. Keragaman dan keseimbangan antar bidang kurikulum
d. Ketersediaan alat-alat dan sumber belajar yang berkaitan dengan tema
e. Potensi tema untuk dilaksanakan melalui kegiatan proyek
(Kostelnik, 1999).

3. Strategi Pembelajaran untuk Anak Usia Dini


Terdapat berbagai strategi dan metode pembelajaran yang dapat digunakan pada
jenjang pendidikan anak usia dini. Akan tetapi strategi pembelajaran apa pun yang
digunakan oleh pendidik penekanannya harus berorientasi pada perkembangan anak
(Developmentally Appropriate Practice). Pandangan pembelajaran yang berorintasi
perkembangan memberikan kerangka untuk memahami dan menghargai pertumbuhan
alami anak-anak usia dini. (Pamela Coughlin, 1997) mengemukakan bahwa pendekatan
perkembangan memandang anak-anak usia dini sebagai berikut:
a. Pebelajar aktif yang secara terus menerus mendapatkan informasi mengenai dunia
lewat permainan.
b. Mengalami kemajuan melalui tahapan-tahapan perkembangan yang dapat
diperkirakan
c. Bergantung pada orang lain berkenaan dengan pertumbuhan emosi dan kognitif
melalui interaksi sosial
d. Adalah individu yang unik yang tumbuh dan berkembang dengan kecepatan yang
berbeda.
Pendekatan perkembangan didasarkan pada teori Jean Piaget, Eric Erickson, dan L.S
Vygotsky.
Pandangan pendekatan perkembangan tentang anak tersebut memberikan implikasi
bahwa para pendidik anak usia dini harus mampu menciptakan pembelajaran yang harus
melibatkan partisipasi aktif anak, mengembangkan kreativitas anak, menyenangkan, dan
dilakukan melalui bermain sambil belajar dan belajar seraya bermain.
Bermain adalah dunia anak. Anak-anak bermain di rumah, di sekolah, dan di lingkungan
lainnya. Melalui bermain, anak-anak melakukan interaksi sosial dengan anak-anak dan
orang dewasa, melakukan berbagai peran sosial, membangun pengetahuan,
mengembangkan keterampilan fisik-motorik, mengembangkan kemandirian, kemampuan
berkomunikasi lisan, mengekspresikan emosi, mengembangkan kreativitas, serta aspek-
aspek perkembangan lainnya.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 17
Kostelnik dkk., (1999) mengemukakan karakteristik bermain pada anak, ”Play is fun,
not serious, meaningful, active, voluntary, intrinsically motivated, rule governed”.
Selanjutnya Bergen (1988), mengemukakan terdapat empat kategori bermain, yaitu:
a. Bermain bebas (free play). Dalam bermain bebas, anak memilih apapun yang
dimainkannnya, bagaimana bermain, dan di mana mereka bermain. Bermain seperti
ini menuntut para pendidik untuk menyediakan lingkungan yang aman, menyediakan
berbagai peralatan dan bahan yang mendukung
b. Bermain terbimbing (guided play). Bermain terbimbing memiliki aturan, lebih sedikit
pilihan, dan adanya pengawasan dari orang dewasa.
c. Bermain yang diarahkan (directed play). Dalam bermain ini kegiatan bermain
ditentukan oleh orang dewasa.
d. Work disguised play. Bermain ini menggambarkan kegiatan diorientasikan pada tugas
tertentu, dan orang dewasa berusaha mentransformasikannya kedalam kegiatan
bermain terbimbing atau yang diarahkan.
Dalam mengimplementasikannya dalam pembelajaran, para pendidik anak usia dini
dapat mengintegrasikan pendekatan belajar melalui bermain tersebut dalam metode-
metode yang dapat digunakan misalnya bercakap-cakap, bercerita, karyawisata,
sosiodrama atau bermain peran, proyek, eksperimen, tanya jawab, demonstrasi, dan
pemberian tugas.

4. Evaluasi Pembelajaran Anak Usia Dini


Evaluasi pembelajaran anak usai dini didefinisikan sebagai upaya dan proses memilh,
mengumpulkan, serta menafsirkan informasi tentang pertumbuhan, perkembangan,
kemajuan, perubahan, serta kemampuan yang menjangkau berbagai aspek perkembangan
(bidang pengembangan) (Ali Nugraha, 2005). Evaluasi pembelajaran anak usia dini harus
dilakukan melalui cara-cara yang tepat, akurat, terencana dan sistematis baik pada
dimensi proses maupun dimensi hasil. Melalui proses evaluasi yang dilakukannya
pendidik diharapkan mengetahui keunggulan dan kelemahan-kelemahan setiap anak,
yang pada gilirannya diharapkan dapat menemukan dan menentukan program
pembelajaran yang paling relevan dengan kebutuhan dan potensi anak. Ali Nugraha
(2005) mengemukakan prinsip-prinsip penilaian untuk pendidikan anak usia dini adalah:
a. Mengakui perbedaan individual setiap anak
b. Menghargai setiap tahapan perkembangan anak
c. Dilakukan berdasarkan tahapan perkembangan yang terjadi pada setiap anak
d. Kesimpulannya adalah membantu perkembangan anak menuju pada kematangan dan
tahapan perkembangan yang semestinya, dan mengantarkan mereka untuk
berkembang secara optimal.
Jenis metode penilaian yang digunakan antara lain: observasi atau pengamatan,
catatan anekdot, percakapan atau interview, pemberian tugas dan dan portofolio (Sumiarti
Patmonodewo, 1998)
a. Observasi atau pengamatan
Observasi adalah cara pengumpulan data penilaian yang pengisiannya berdasarkan
pengamatan langsung terhadap sikap dan perilaku anak. Janice Beaty (1994)
mengemukakan bahwa observasi harus didasarkan pada kebaikan kekuatan atau

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 18
keunggulan yang diperlihatkan anak untuk mebantu perkembangannya, bukan apa
kesalahan yang dilakukan anak. Observasi harus dilakukan dalam situasi yang
natural atau tidak dibuat-buat.
b. Catatan Anekdot
Catatan anekdot atau anecdotal record adalah kumpulan catatan khusus tentang sikap
dan perilaku anak baik yang positif maupun yang negatif.Pencatatan anekdot ini dapat
digunakan oleh guru untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa penting yang dialami
anak dan dapat diketahui oleh orang tua mereka.
c. Percakapan atau interview
Percakapan adalah metode penilaian yang dilakukan melalui bercakap-cakap atau
wawancara antara anak dengan guru baik di dalam kelas maupun di luar kelas
(Sumiarti Patmonodewo, 1998).
d. Pemberian tugas
Pemberian tugas adalah suatu metode penilaian di mana guru dapat memberikannya
setelah melihat hasil karya anak (Sumiarti Patmonodewo, 1998). Pemberian tugas
dapat dilakukan secara kelompok, berpasangan atau individual. Di samping melihat
hasilnya, guru pun dapat menilai prosesnya mellalui observasi langsung.
e. Porto folio
Porto folio adalah metode penilaian dengan cara menghimpun koleksi sistematis
individu yang menggambarkan apa yang dilakukan anak di kelas atau selama ia
belajar dan berada di bawah tanggung jawab pengasuhan guru. Koleksi sistematis ini
dapat berupa rekaman percakapan anak, koleksi hasi karya anak, dan rekaman
kegiatan anak. Dalam penilaian portofolio, guru dapat memberikan kesemopatan
kepada orang tua anak untuk melihat secara langsung tentang perkembangan anak-
anaknya mellaui koleksi-koleksi anak.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 19
BAB IV
KEBUTUHAN DAN PERANAN MASYARAKAT
AKAN PENDIDIKAN ANAK USIA DINI

A. Kebutuhan
Istilah kebutuhan digunakan dengan maksud yang berbeda-beda. Para pakar psikologi
menggunakan istilah kebutuhan dengan merujuk kebutuhan dasar. Menurut para pakar
kebutuhan dapat dipelajari. Kebutuhan dapat diberi arti sebagai sesuatu yang harus
dipenuhi. Ke dalam istilah “sesuatu” tersebut termasuk keinginan, kehendak, harapan,
atau keadaan.
Masyarakat sebagai mahluk sosial memiliki berbagai kebutuhan dasar yang harus
dipenuhi. Menurut Maslow (1965) ada 5 hirarki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi
pada setiap manusia, yaitu 1) kebutuhan fisiologis/biologis, 2) kebutuhan rasa aman, 3)
kebutuhan ingin dihargai/diterima, 4) kebutuhan ingin dicintai, 5) kebutuhan aktualisasi
diri. Kebutuhan ini merupakan kebutuhan yang sangat vital pada kehidupan manusia. Jika
kebutuhan ini tidak dapat terpenuhi secara komprehensif, maka potensi dalam diri
manusia akan terhambat dan tidak akan dapat berkembang secara optimal.
Untuk menjawab pertanyaan tentang bagaimanakah kebutuhan masyarakat terhadap
PAUD seperti Taman Penitipan Anak (TPA), Kelompok Bermain (KB), Satuan PAUD
Sejenis (SPS), Taman kanak-kanak/Raudhatul Athfal? Oleh karena itu perlu dijelaskan
mengenai pengertian kebutuhan masyarakat, masyarakat yang dimana? Secara selintas
agaknya kedua istilah ini masih terlalu umum. Namun persoalannya kemudian apakah
masyarakat sudah mengenal atau mengetahui tentang TPA, KB SPS, TK, RA? Sampai
sejauh mana pengetahuan mereka? Bagi masyarakat yang sudah berpendidikan dan hidup
di kota besar, mungkin tidak ada masalah. Persoalan mereka terlibat atau tidak tentang
TPA, KB, SPS, TK, RA mungkin karena persoalan kondisi dan kemampuan seseorang.
Kehidupan keluarga baik di kota kota besar maupun di desa berubah dengan semakin
kompleksnya permasalahan yang timbul mengenai pengasuhan anak usia dini. Orang tua
yang sibuk bekerja di luar rumah meninggalkan anaknya yang diasuh oleh pembantu atau
orang yang dekat dengan keluarga tersebut. Ibu-ibu yang tadinya mengasuh anak
dirumah, terpaksa harus bekerja untuk mendapatkan tambahan pendapatan. Maka
hubungan orang tua dan anakpun menjadi renggang. Komunikasi antara anak-anak dan
orang tua menjadi terbatas, yaitu ketika pulang kerja. Anak-anak tumbuh dan
berkembang sesuai dengan lingkungan. Kondisi semacam ini jika tidak terkontrol oleh
orang tua, dapat diramalkan pertumbuhan anak tidak berjalan secara optimal. Berangkat
dari kondisi inilah kehadiran TPA, KB SPS, TK,RA sangat menolong dan membantu
orang tua mendidik anak-anaknya.

B. Peranan
Pendidikan anak usia dini adalah investment masa depan. Kesadaran tentang hal ini
telah meluas dan juga telah mencapai para pengambil keputusan. Anak-anak adalah masa
depan bangsa dan pemerintah mulai memimpin pengembangan program PAUD dan
perluasannya. Berbagai badan hukum mulai menyelenggarakan “social investment”.
Pendekatan seperti ini juga memiliki perhitungan ekonomis. Lebih hemat

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 20
menginvestasikan pembinaan anak untuk belajar baca, tulis, hitung, dan program
pencegahan narkoba, program kesehatan seperti imunisasi, dsb daripada
menyelenggarakan program memberantas buta huruf bagi orang dewasa, rehabilitasi yang
terkena narkoba dan memiliki tenaga kerja yang tidak sehat. Bahkan berbagai
perusahaanpun terlibat dalam program pembinaan anak bagi pegawai dan karyawannya,
melalui berbagai cara seperti membantu pengobatan kesehatan, dsb. Pendekatan-
pendekatan melalui keterlibatan berbagai unsur masyarakat secara sinergis mengubah dan
menyempurnakan konsep PAUD.
Masyarakat adalah juga pendidik. Sebagai pendidik hendaknya juga dapat menjadi
contoh teladan bagi lingkungan sekitarnya. Lingkungan sosial dalam hal ini pergaulan
dalam masyarakat adalah alat pendidikan. Anak adalah bagian dari masyarakat yang juga
terlibat interaksi langsung dalam kehidupan sehari-hari. Dengan karakteristik anak yang
suka meniru, segala perilaku yang ada dalam masyarakat dapat ditiru oleh anak. Oleh
karena itu masyarakat berperan aktif sebagai seorang pendidik antara lain: 1) masyarakat
sebagai contoh teladan, 2) masyarakat sebagai fasilitator, 3) masyarakat sebagai
motivator, 4) masyarakat sebagai mediator. Dengan indikator ini, maka masyarakat
hendaknya berhati-hati dalam memunculkan perilaku dalam kehidupan. Masyarakat juga
hendaknya dapat menyediakan semua kebutuhan anak sebagai mahluk fisiologis/biologis,
mahluk sosial, mahluk religius, dan mahluk individu.
Setiap warga masyarakat berhak untuk ikut serta dalam penyelenggaraan pendidikan,
termasuk pula dalam penyelenggaraan pendidikan anak usia dini. Ini merupakan insan
berfikir bahwa seharusnya pengaturan tata cara pendirian lembaga pendidikan hendaknya
dipermudah, tanpa harus merugikan masyarakat pengguna layanan pendidikan itu sendiri.
Yang dimaksud dengan lembaga pendidikan anak usia dini di sini adalah Taman
Penitipan Anak, Pos PAUD, Posyandu terintegrasi Pendidikan, BKB, Kelompok
Bermain, TK/RA.
Dalam menyelenggarakan kegiatan pendidikan bagi anak usia dini terdapat rambu-rambu
yang harus diperhatikan oleh penyelenggara. Rambu-rambu dimaksud adalah:
1. Berorientasi pada Kebutuhan Anak. Kegiatan pembelajaran pada anak usia dini harus
senantiasa berorientasi kepada kebutuhan anak untuk mendapatkan layanan
pendidikan, kesehatan dan gizi yang dilaksanakan secara integratif dan holistik.
2. Belajar melalui Bermain. Bermain merupakan pendekatan dalam melaksanakan
kegiatan pendidikan anak usia dini, dengan menggunakan strategi, metode,
materi/bahan, dan media yang menarik agar mudah diikuti oleh anak. Melalui
bermain anak diajak untuk bereksplorasi (penjajakan), menemukan, dan
memanfaatkan benda-benda di sekitarnya.
3. Kreatif dan Inovatif. Proses kreatif dan inovatif dapat dilakukan melalui kegiatan-
kegiatan yang menarik, membangkitkan rasa ingin tahu anak, memotivasi anak untuk
berpikir kritis, dan menemukan hal-hal baru.
4. Lingkungan yang Kondusif. Lingkungan harus diciptakan sedemikian menarik dan
menyenangkan, dengan memperhatikan keamanan dan kenyamanan anak dalam
bermain.
5. Menggunakan Pembelajaran Terpadu. Model pembelajaran terpadu yang beranjak
dari tema yang menarik anak (center of interest) dimaksudkan agar anak mampu

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 21
mengenal berbagai konsep secara mudah dan jelas sehingga pembelajaran menjadi
bermakna bagi anak.
6. Mengembangkan Keterampilan Hidup. Mengembangkan keterampilan hidup melalui
pembiasaan-pembiasaan agar mampu menolong diri sendiri (mandiri), disiplin,
mampu bersosialisasi, dan memperoleh bekal keterampilan dasar yang berguna untuk
kelangsungan hidupnya.
7. Menggunakan Berbagai Media dan Sumber Belajar. Media dan sumber belajar dapat
berasal dari lingkungan alam sekitar atau bahan-bahan yang sengaja disiapkan.
8. Pembelajaran yang Berorientasi pada Prinsip-prinsip Perkembangan Anak. Ciri-ciri
pembelajaran ini adalah: (1) anak belajar dengan sebaik-baiknya apabila kebutuhan
fisiknya terpenuhi serta merasakan aman dan tenteram secara psikologis; (2) siklus
belajar anak selalu berulang, dimulai dari membangun kesadaran, melakukan
penjelajahan (eksplorasi), memperoleh penemuan untuk selanjutnya anak dapat
menggunakannya; (3) anak belajar melalui interaksi sosial dengan orang dewasa dan
teman sebayanya; (4) minat anat dan keingintahuannya memotivasi belajarnya; (5)
perkembangan dan belajar anak harus memperhatikan perbedaan individual; (6) anak
belajar dengan cara dari sederhana ke rumit, dari konkrit ke abstrak, dari gerakan ke
verbal, dan dari keakuan ke rasa sosial
9. Stimulasi Terpadu. Pada saat anak melalukan suatu kegiatan, anak dapat
mengembangkan beberapa aspek pengembangan sekaligus. Contoh: ketika anak
melakukan kegiatan makan, kemampuan yang dikembangkan antara lain; bahasa
(mengenal kosa kata tentang jenis sayuran, dan peralatan makan), motorik halus
(memegang sendok, menyuap makanan ke mulut), daya pikir (membandingkan
makan sedikit dan banyak), sosial-emosional (duduk rapih dan menolong diri sendiri),
dan moral (berdo’a sebelum dan sesudah makan).

Tantangan yang dihadapi penyelenggara/pengelola pendidikan anak usia dini adalah


tuntutan masyarakat yang tidak jarang bertentangan dengan prinsip-prinsip pembelajaran
anak usia dini. Beberapa tuntutan masyarakat yang cukup sering dilontarkan antara lain
kemampuan membaca dan menulis, kemampuan berhitung, penguasaan bahasa asing,
pemanfaatan teknologi elektronika dan informasi, sampai dengan cara anak belajar.
Penguasaan kemampuan membaca, menulis, berhitung dan bahasa asing pada anak usia
dini telah dimungkinkan, karena sebagian besar anak usia 4-6 tahun dewasa ini telah
cukup siap/matang untuk menguasai keempat kemampuan tersebut. Persoalan baru
muncul pada saat metode pembelajaran yang dipergunakan tidak tepat atau bahkan
menjadikan anak stres. Pemanfaatan teknologi elektronika dan informasi, yang memang
sangat membantu pembelajaran pada anak usia dini tergantung dari kemampuan finasial
penyelenggara. Tuntutan atau campur tangan masyarakat dalam hal cara anak belajar
inilah yang harus disikapi dengan bijaksana. Cara belajar dengan duduk menghadap meja
belajar dengan setumpuk buku ditambah dengan berbagai macam penugasan (baca PR)
sambil mendengarkan ceramah, masih dianggap sebagai cara belajar yang sebenarnya.
Melalui sosialisasi yang tepat, anggapan tersebut harus mulai dikikis. Masyarakat, dalam
hal ini orang tua perlu mendapatkan informasi yang tepat mengenai cara anak usia dini
belajar. Dimana anak belajar melalui seluruh indera yang dimiliki dengan cara bermain
dan kegiatan menyenangkan lainnya untuk mengeksplorasi lingkungannya. Inilah mantra

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 22
sakti untuk mengubah dunia, menyiapkan anak bangsa untuk memimpin dunia yang
berubah.

Membentuk Mitra PAUD dan menjalin kerjasama dengan lembaga Rujukan sangat
penting. Mitra PAUD merupakan sebuah badan/organisasi yang memberikan
pertimbangan, mendukung, mengontrol dan menjadi mediator lembaga pendidikan.
Unsur-unsur yang dapat dilibatkan dalam keanggotaan Mitra PAUD antara lain orangtua
peserta didik, tokoh masyarakat dan tokoh agama, Kepala SD/MI, tokoh pendidikan,
dunia usaha/industri, dan organisasi profesi tenaga kependidikan. Lembaga rujukan
adalah tenaga/lembaga profesional yang membantu pendidik dan/atau pengasuh serta
orangtua dalam mengatasi permasalahan anak. Lembaga rujukan dimaksud antara lain
tenaga medis, psikolog anak, pekerja sosial, theraphys, dan profesional lain sesuai dengan
kasus yang ada. Jaringan kemitraan ini diperlukan agar penyelenggaraan program
berjalan efektif dan efisien serta menjamin keberlangsungan program di masyarakat.
Jaringan kemitraan hendaknya diarahkan pada penciptaan situasi kondusif yang dapat
menumbuhkembangkan komitmen semua unsur dan "kepemilikan" oleh masyarakat
terhadap program yang tawarkan.

Sasaran penerima informasi PAUD seperti


1  kelompok sasaran ini yang secara
Keluarga langsung menggunakan/ berkepentingan menerapkan
- orangtua PAUD
- sanak famili  mereka diharapkan memberikan
- pengasuh, stimulasi-stimulasi psikososial pendidikan kepada
- calon keluarga anaknya, baik yang dilakukan sendiri di
rumahnya/maupun memanfaatkan lembaga PAUD
yang telah ada di masyarakat

2 Tokoh  Kelompok sasaran ini adalah warga


Masyarakat. masyarakat yang dianggap menjadi panutan di
lingkungan masyarakat setempat.
 diharapkan dapat memotivasi dan
memobilasi masyarakat untuk menggunakan atau
melaksanakan program PAUD

3 Tenaga  Kelompok ini secara langsung terlibat


Kependidikan dalam proses penyelenggaraan/pengelola kegiatan
- Pengelola PAUD dan proses kegiatan bermain/pembelajaran
- Pendidik  Sebagai motivator/fasilitator

4 Lembaga  Kelompok ini memiliki kepedulian di


Swadaya Masya- bidang peningkatan SDM, termasuk PAUD
 Dapat membantu memasyarakatkan &
rakat meyakinkan masyarakat tentang pentingnya PAUD
 Dapat berperan sebagai calon

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 23
penyelenggara PAUD

5 Aparat  Kelompok sasaran ini merupakan


Pemerintah perencana, pelaksana kebijakan dan sekaligus
- Pusat/Daerah berperan sebagai pembina atau pelaksana Program
- Penyelengara  Memiliki tenaga yang terstruktur (Pusat
s/d daerah)

6 Anggota  Kelompok sasaran ini merupakan


Legistlatif penentu kebijakan

- Pusat/Daerah

Informasi yang sebaiknya diterima oleh masyarakat merupakan informasi dari


program yang akan disosialisasikan. Agar pesan itu mudah ditangkap dan mudah
dipahami oleh sasaran maka perlu dikemas sedemikian rupa dengan memperhatikan
beberapa ketentuan, yaitu:
1. Informasi harus sederhana dan mudah dimengerti,
2. Informasi harus disajikan secara menarik, dengan mengetengahkan
keuntungan relatif yang dapat diperoleh sasaran/penerima program PAUD,

Media Penyampaian Informasi (Saluran) untuk masyarakat, yaitu:


1. Alat atau media yang digunakan
2. Saluran tersebut dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua) saluran, yaitu saluran
interpersonal dan saluran media massa.
3. Saluran interpersonal dilakukan melalui hubungan atau interaksi antara
petugas/pendidik dengan sasaran program PAUD secara langsung bertatap muka.
4. Saluran media massa dilakukan dengan menggunakan media cetak atau non cetak
yang sifatnya tidak langsung.

Jenis Penyelenggaraan dapat dilaksanakan melalui:


1. Penyuluhan, Seminar dan Pelatihan
a. Penyuluhan adalah kegiatan pemasyarakatan yang dilakukan dengan cara
mendatangi langsung kelompok sasaran tertentu, baik yang dilakukan secara
khusus maupun dilakukan bersamaan dengan kegiatan lain.
b. Seminar termasuk kegiatan penyuluhan, yang dilaksanakan sesuai dengan
permintaan pasar dengan waktu lebih dari setengah hari.
c. orientasi atau pelatihan (ditujukan kepada segmen sasaran yang jelas dengan
tujuan yang jelas pula).
2. Kunjungan Rumah
Kunjungan dilakukan terutama kepada keluarga yang memiliki anak usia dini,
dengan kegiatan berbentuk ajakan maupun konsultasi.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 24
3. Siaran Radio, Televisi dan terbitan Berkala (majalah/Koran)
Penyampaian informasi melalui media ini merupakan salah satu merupakan media
pemasyarakatan program pendidikan anak usia dini memiliki jangkauan relatif luas.
4. Video Cassete
Sama seperti halnya siaran televisi, pemutaran film dan video dapat digunakan
sebagai media sosialiasi dan melalui unit keliling disukai masyarakat.
5. Pameran dan perlombaan
Kegiatan promotif atau promosi dapat berbentuk pameran, display atau perlombaan
yang bertujuan memperkenalkan keberadaan dan manfaat program PAUD. Mengingat
kegiatan ini tidak ditujukan kepada segmen tertentu, sifat atau materi yang disajikan
harus sangat umum.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 25
BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Naskah akademik pengembangan bahan ajar dan standar perkembangan adalah konsep
awal yang dikembangkan untuk menyusun bahan ajar dan standar perkembangan anak
usia dini berdasarkan pada kebutuhan anak usia dini. Pendekatannya dapat dikembangkan
sesuai dengan prinsip-prinsip perkembangan anak usia dini. Semua unsur yang terkait
dalam meningkatkan/mengembangkan pertumbuhan dan perkembangan anak menjadi
faktor yang dapat mempengaruhi/menentukan kemajuan/kemunduran perkembangan
anak.

B. Implikasi
Naskah akademik ini hendaknya dapat dimplementasikan dalam pendidikan di Indonesia
secara komprehensif. Naskah ini hanya sebagai acuan dalam mengembangkan
pembelajaran dalam mengoptimalkan perkembangan anak. Sebagai seorang pendidik
hendaknya lebih kreatif dalam mengoperasionalkan naskah akademik ini ke dalam
pembelajaran yang bermakna bagi anak usia dini. Berbagai model pembelajaran dapat
dikembangkan sesuai dengan kebutuhan anak usia dini dan masyarakat.

C. Saran
Dengan adanya naskah akdemik, maka disarankan kepada:
1. Pemerintah
Diharapkan pemerintah dapat membuat kebijakan-kebijakan tentang PAUD yang
dapat diterapkan dengan mudah oleh masyarakat Indonesia.
2. Masyarakat
Diharapkan masyarakat dapat berpartisipasi dan bekerjasama dengan berbagai elemen
dalam masyarakat dalam penyelenggaraan PAUD.
3. Akademisi
Diharapkan para akademisi dapat melakukan pengajaran, penelitian, dan pengabdian
kepada masyarakat untuk mendukung PAUD.
4. Praktisi
Diharapkan para praktisi dapat mengaplikasikan PAUD berdasarkan pendekatan
perkembangan anak usia dini dan pendidikan multi budaya dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 26
DAFTAR PUSTAKA

Kostelnik, Marjorie, et.al. (1999). Developmentally Appropriate Curiculum. New


Jersey: Merrill
Nugraha, Ali. (2005). Kurikulum Bahan Belajar TK. Jakarta: Universitas Coughlin,
Pamela. Alih bahasa Juwita, Kenny Dewi. (1998). Menciptakan Bahan Ajar Yang
Berpusat pada Anak. Jakarta: Children Resources International
Coughlin, Pamela. Alih bahasa Juwita, Kenny Dewi. (1998). Menciptakan Kelas Yang
Berpusat pada Anak. Jakarta: Children Resources International
Kostelnik, et.al. (1991). Teaching Young Children Using Themes.

Lampiran 1: Naskah Akademik. 38a_Standar dan Bahan Ajar PAUD Nonformal - 2007 27