Anda di halaman 1dari 7

PERENCANAAN PROGRAM PROMOSI KESEHATAN DI

PUSKESMAS X BERDASARKAN SIKLUS PERNCANAN PROMOSI


KESEHATAN

Perencanaan adalah proses yang mendefinisikan tujuan dari organisasi,


membuat strategi digunakan untuk memncapai tujuan dari organisasi, serta
mengembangkan rencana aktifitas kerja organisasi. Perencanaann merupakan
proses-proses yang penting dari semua fungsi manajemen sebab tanpa
perencanaan (planning) fungsi pengorganisasian, pengontrolan maupun
pengarahan tidak akan dapat berjalan (Erawan, 2016). Promosi
kesehatan/pendidikan kesehatan dituntut bukan hanya melakukan perubahan
terhadap perilaku saja melainkan juga upaya perubahan lingkungan, sosial
budaya, politik dan ekonomi, dengan demikian promosi kesehatan adalah
program-program kesehatan yang dirancang untuk membawa perubahan baik
dalam masyarakat sendiri maupun organisasi dan lingkungannya (Dewi, 2016).

Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) sebagai unit pelaksana teknis


daerah dan sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan dasar pada strata pertama,
merupakan unit pelaksana pelayanan kesehatan terdepan yang akan langsung
berhubungan dengan pelayanan masyarakat dilapisan “grass roots”. Puskesmas
mempunyai andil yang besar untuk mewujudkan derajat kesehatan masyarakat
secara optimal. Visi pembangunan kesehatan yang diselenggarakan puskesmas
adalah tercapainya “masyarakat sehat mandiri dan berkeadilan”, yakni masyarakat
yang hidup dalam lingkungan dan perilaku sehat memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata.

Tugas pokok puskesmas adalah menyelenggarakan upaya preventif dan


promotif, yang didukung upaya kuratif dan rehabilitatif serta melakukan
pemberdayaan masyarakat (Kepmenkes Nomor 128/MENKES/SK/II/2004
tentang kebijakan dasar Puskesmas). Puskesmas sebagai pemberi pelayanan
kesehatan dasar memiliki peran yang sangat penting dalam memelihara kesehatan
masyarakat. Apabila berfungsi dengan baik, maka puskesmas akan mampu
memberikan pelayanan yang bermutu bagi masyarakat yang membutuhkan
(Lestari, 2014). Oleh karena itu, Pembangunan kesehatan melalui Puskesmas
harus didukung oleh tenaga kesehatan yang bertanggung jawab terhadap
permasalahan kesehatan di wilayah kerjanya. Tenaga kesehatan memberikan
kontribusi hingga 80% dalam keberhasilan pembangunan kesehatan.Tenaga
kesehatan tersebut mencakup dokter, perawat, bidan, dan orang-orang yang
bergerak dalam pelayanan kesehatan (Sakka, 2016). Promosi kesehatan menjadi
salah satu upaya kewajiban di Puskesmas. Promosi Kesehatan di Puskesmas
merupakan upaya puskesmas dalam memberdayakan masyarakat baik didalam
maupun diluar puskesmas agar dapat ber-Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
(PHBS). Implementasi program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang
telah dicanangkan oleh pemerintah, masih menemui banyak kendala di berbagai
daerah. Rendahnya cakupan PHBS dalam pesanan rumah rumah tangga
disebabkan oleh kurangnya pengetahuan masyarakat tentang PHBS, fasilitas
sanitasi perumahan yang rendah, dan kurangnya konseling yang diberikan oleh
petugas kesehatan, khususnya petugas promosi kesehatan, sehingga
mempengaruhi perilaku masyarakat yang kurang peduli dengan kesehatan
lingkungan sehingga dapat berdampak pada kehidupan (Implementation of the
Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) program that has been proclaimed by
the government, still encounters many obstacles in various regions. Low coverage
of PHBS in the household order is caused by the lack of community knowledge
about PHBS, low housing sanitation facilities, and lack of counseling provided by
health workers, especially health promotion officers, thus affecting the behavior
of community that less concerned with environmental health so it can have an
impact on the life of the household)" (Prasetya, 2018).

Tujuan

Salah satu tujuan dari penulisan laporan ini yaitu untuk mengetahui
bagaimana perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas X baerdasarkan siklus
perencanaan promosi kesehatan.

Waktu Dan Tempat Observasi

Observasi ini dilakukan pada:

Hari, tanggal : Jum'at, 18 November 2019

Waktu : pukul 10.00- selesai

Tempat : Puskesmas X

Hasil dan Pembahasan Proses Perencanaan Promosi Kesehatan Puskesmas


X

Berdasarkan diskusi wawancara yang dilakukan.jumlah penduduk di


Kecamatan X sebanyak 9283 jiwa dan jumlah kepala keluarga sebanyak 2457
dengan jumlah 14 Desa, 1 Kelurahan. Jumlah posyandu 20. Program kesehatan
yang dilakukan oleh Puskesmas X yaitu PIS-PK dan PHBS.
Perencanaan pada dasarnya merupakan proses penetapan tujuan dan sasaran
serta penetapan cara pencapaian tujuan dan sasaran yang diharapkan. Langkah-
langkah promosi kesehatan merupakan siklus yang terdiri dari beberapap tahapan
kegiatan, yaitu:

Gambar. Sikluas Perencanaan Promosi Kesehatan

1. Analisis situasi
Analisis situasi merupakan langkah terpenting dalam mengawali
proses perencanaan. Langkah ini untuk mengkaji dan merumuskan masalah
program dan masalah kesehatan masyarakat sebagai landasan penyusunan
perencanaan sebuah intervensi. Analisis situasi berhbungan dengan informasi
yang mencerminkan masalah-masalah yang ada di lapangan. Oleh karena itu,
diperlukan langkah analisis situasi untuk mengetahui permasalahan kesehatan
pada masyarakat. Analisis situasi sebagai langkah awal dalam perencanaan
harus dilakukan sebaik mungkin, sehingga dapat diperoleh gambaran tentang
masalah kesehatan.
Jadi, berdasarkan wawancara yang dilakukan, analisis situasi yang
dilakukan oleh Puskesmas, petugas puskesmas melakukan SMD (Survei
Mawas Diri). Survei Mawas Diri (SMD) adalah kegiatan pengenalan,
pengumpulan, dan pengakajian masalah kesehatan yang dilakukan oleh kader
dan tokoh masyarakat setempat dibawah bimbingan petugas kesehatan atau
perawat di Desa. Tujuan survei Mawas Diri ini salah satunya adalah
pengumpulan data, masalah keseshatan, lingkungan dan perilaku. Jadi, ada
belangko yang dibagikan pada kader dan masyarakat. Kemudian mereka
melihat apa-apa masalah yang ada dan apa penyebab serta apa saja mereka
butuhkan tentang pelayanan kesehatan.
2. Menetapkan prioritas masalah
Dalam menetapkan prioritas masalah, diperlukan sebuah metode
pemecahan masalah.Penentuan prioritas masalah dapat dilakukan dengan cara
kualitatif dan kuantitatif berdasarkan data serta perhitungan kemudahan dan
kemampuan untuk dapat diselesaikan, keinginan masyarakat untuk mengatasi
masalah, berdasarkan situasi lingkungan sosial, politik dan budaya yang ada
dimasyarakat.
Sebagai tindak lanjut dari hasil Survey Mawas Diri (SMD) selanjutnya
dilakukan Musyawarah Masyarakat Desa atau disingkat MMD. MMD adalah
pertemuan ini merupakan pertemuan perwakilan warga desa beserta tokoh
masyarakatnya dan para petugas untuk membahas hasil dari survei mawas
diri.
Untuk saat ini, masalah jamban dan yag kedua yaitu masalah rokok
merupakan prioritas masalah kesehatan di wilayah X
3. Melakukan identifikasi penyebab masalah
Dalam Kegiatan Musyawara Masyarakat Desa (MMD) juga
merupakan kegiatan untuk mengetahui penyebab masalah yang diambil dari
hasil Survei Mawas Diri (MSD). Berdasarkan diskusi yang dilakukan,
penyebab masalah penggunaan jamban disebabkan pertama karena mereka
berdomisili di pesisir pantai sehingga mereka tidak tahu cara membuatnya.
Pernah ada bantuan jamban bagi masyarakat yang tinggal dipesisir
pantai,tetapi pondasi tempat penampungan septic tenknya tidak kuat.
Sewaktu air laut naik, sedikit demi sedikit penampungan naik hingga tempat
penampungannya roboh. Masyarakat yang kebanyakan tidak memiliki
jamban yaitu masyarakat yang tinggal dibagian pesisir mulai dari Desa SR, L,
BI, M, BJ, dan BK ada yang daratan juga yaitu Desa A.
4. Menentukan prioritas penyebab masalah
Prioritas penyebab masalah yang dilakukan di Puskesmas X yaitu
banyak masyarakat yang tidak memiliki jamban karena mereka berdomisili di
pesisir pantai serta faktor ekonomi yang rendah.
5. Menentukan solusi
Dalam langkah ini, dilakukan penentuan beberapa alternatif solusi dari
masalah-masalah yang sudah ditetapkan sebelumnya. Ini juga dilakukan
dengan cara pendapat sebagai kelanjutan penentuan masalah sebelumnya.
Penentuan solusi ini dilakukan saat Musyawarah Masyarakat Desa (MMD).
6. Menentukan prioritas solusi
Prioritas solusi merupakan kelanjutan dari solusi sebelumnya,
dimungkinkan terdapat solusi yang dijadikan prioritas penyelesaian. Dimana,
semua alternatif solusi tadi dibahas dan dikaji, dilihat keterkaitan satu sama
lain. Dengan cara ini jumlah alternatf dapat dikurangi.
7. Menentukan tujuan promosi kesehatan
Tujuan jangka panjang adalah status kesehatan yang optimal, tujuan
jangka menengah adalah perilaku sehat, dan tujuan jangka pendek adalah
terciptanya pengertian, sikap, dan norma. Tujuan Puskesmas dalam hal ini
yaitu agar masyarakat tau, mau serta mampu menjaga mapun meningkatkan
derajat kesehatan mereka.
8. Menentukan sasaran promosi kesehatan
Sasaran promosi kesehatan dan pendidikan kesehatan tidak selalu
sama. Oleh karena itu, kita harus menetapkan sasaran langsung dan tidak
lansung. Didalam promosi kesehatan yang dimaksud sasaran adalah
kelompok sasaran, yaitu individu, kelompok, maupun keduanya. Dalam
masalah jamban, sasaran puskesmas yaitu kelompok, tetapi terkadang untuk
mengumpulkan masyarakat susah. Jadi sasarannya individu, serta kepala desa
masyarakat setempat.
9. Menentukan jenis kegiatan promosi kesehatan
Jenis kegiatan yang dilakukan oleh Puskesmas dalam masalah jamban
ini yaitu melakukan penyuluhan dan Petugas juga menyarankan agar
masyarakat melakukan arisan jamban. Ada juga desa yang akan
menganggarkan pembuatan jamban dari dana desa. Jadi masing-masing desa
beda.
10. Menentukan metode promosi kesehatan
Menentukan metode dalam promosi kesehatan harus dipertimbangkan
tentang yang akan dicapai. Bila mencakup aspek pengetahuan maka dapat
dilakukan dengan cara penyuluhan langsung. Dalam hal ini, metode yang
digunakan Puskesmas X yaitu penyuluhan.
11. Menentukan media promosi kesehatan
Media promosi kesehatan adalalh semua sarana untuk menampilkan
pesan informasi yang ingin disampaikan oleh komunikator sehingga sasaran
dapat meningkat pengetahuannya yang akhirnya diharapkan dapat
meningkatkan pengetahuan sasaran yan diharapkan dapat perubah
perilakunya ke arah positif terhadap kesehatan. Media yang digunakan dalam
penyuluhan yaitu brosur.
12. Menentukan pelaksanaan kegiatan
Pelaksana atau biasa disebut dengan implementasi adalah suatu
tindakan atau pelaksanaan dari sebuah rencana yang disusun secara matang
dan terperinci. Kegiatan pelaksanaan kegiatan yang dilakukan oleh petugas
puskesmas dalam satu kali pertemuan itu, menggabungkan beberapa kegiatan,
ini dikarenakan sulit untuk mengumpulkan masyarakat.
13. Menentukan alokasi dana kegiatan
Alokasi dana kegiatan yaitu bersumber dari dana desa.
14. Menentukan waktu pelaksanaan kegiatan
Merupakan penjabaan dari waktu, tempat dan pelaksanaan yang
biasanya disajkan dalam bentuk gantchart.
15. Menentukan kegiatan monitoring
Monitoring atau pemantauan merupakan upaya supervisi dan review
kegiatan yang dilaksanankan secara sistematis oleh pengelola program untuk
melihat apakah pelaksanaan program sudah sesuai dengan yang direncanakan.
Dalam hal ini, tahap monitoring, dilakukan pertiga bulan petugas kesehatan
kunjungan pertiga bulan untuk memantau, ada tidak perubahan
16. Menentukan kegiatan evaluasi
Evaluasi adalah bagian integral (terpadu) dari proses manajen
termasuk manajemen promosi kesehatan. Mengapa orang melakukan
evaluasi, tidak lain karena orang ingin mengetahui apa yang telah dilakukan
telah berjalan sesuai dengan kebutuhan dan apakah kegiatan yang dilakukan
memberi hasil dan dampak seperti yang dharapkan.
Dalam tahap evaluasi, programernya melaporkan ke promkes "ini
program saya" kemudian promosi kesehatan yang tindak lanjuti apa
masalahnya, dalam tahap evaluasi ini akhir tahun baru dilihat apa masalah
yang dihadapi.
Menurut saya, perencanaan promosi kesehatan di Puskesmas X belum
diterapkan dengan baik, karena berdasarkan hasil observasi yang dilakukan,
prosesnya tidak sesuai dengan tahapan-tahapan dari siklus perencanaan
promosi kesehatan. Pihak promosi kesehatannyapun hanya sekedar turun
melakukan penyuluhan, kemudian melakukan melakukan monitoring 3 bulan
sekali, itupun hanya untuk beberapa desa saja, kemudian setelah dilakukan
monitoring apakah langkah yang dilakukan oleh petugas, tidak dijelaskan.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, R. K. dkk. (2016). Identifikasi Pelayanan Promotif pada Fasilitas


Kesehatan Tingkat Pertama Program Jaminan Kesehatan Nasional (
Identification of Promotive Services In Primary Health Care Facility of
National Health Insurance Program ). Jurnal Pustaka Kesehatan, 4(2), 307–
315.
Erawan, P. E. M. (2016). Buku Ajar Promosi Kesehatan. Kendari.
Lestari, T. R. P. (2014). Analisis Ketersediaan Tenaga Kesehatan Di Puskesmas
Kota Mamuju Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2014, 21(1), 75–88.
Prasetya, F. dkk. (2018). Family Clean And Healthy Living Behavior And Its
Determinant Factors In The Village Of Labunia, Regency Of Muna,
Southeast Sulawesi Provience Of Indonesia. Public Health of Indonesia,
4(1), 39–45.
Sakka, A. dkk. (2016). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemanfaatan
Pelayanan Kesehatan Bagi Masyarakat Pesisir Di Desa Bungin Permai
Kecamatan Tinanggea kabupaten Konawe Selatan Tahun 2016. Jurnal
Ilmiah Mahasiswa Kesehatan Masyarakat, 1(3), 1–9.

Anda mungkin juga menyukai