Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PENDAHULUAN

ABSES PEDIS

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas dan Melengkapi


Syarat Guna Memperoleh Gelar Ners

DISUSUN OLEH :

NAMA : CUT AJA NURI

NIM : 19900031

RUANG : AZ - ZAHRA

PROGRAM STUDI PROFESI NERS

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN

MEDIKA NURUL ISLAM SIGLI

2019
KONSEP DASAR PENYAKIT ABSES PEDIS

A. Pengertian

Abses (Latin: abscessus) merupakan kumpulan nanah (netrofil yang telah mati)

yang terakumulasi di sebuah kavitas jaringan karena adanya proses infeksi (biasanya

oleh bakteri atau parasit) atau karena adanya benda asing (misalnya serpihan, luka

peluru, atau jarum suntik). Proses ini merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan

untuk mencegah penyebaran/perluasan infeksi ke bagian tubuh yang lain. Abses adalah

infeksi kulit dan subkutis dengan gejala berupa kantong berisi nanah. (Siregar, 2004).

Abses adalah pengumpulan nanah yang terlokalisir sebagai akibat dari infeksi

yang melibatkan organisme piogenik, nanah merupakan suatu campuran dari jaringan

nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim

autolitik (Morison, 2003 dalam Nurarif & Kusuma, 2013)

Abses (misalnya bisul) biasanya merupakan titik “mata”, yang kemudian pecah;

rongga abses kolaps dan terjadi obliterasi karena fibrosis, meninggalkan jaringan parut

yang kecil (Harrison, 2005)

Pedis adalah anggota badan yang menopang tubuh dan dipakai untuk berjalan

(dari pangkal paha ke bawah) (Mansjoer,2007).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan abses pedis adalah infeksi kulit yang

disebabkan oleh bakteri / parasit atau karena adanya benda asing (misalnya luka peluru

maupun jarum suntik) dan mengandung nanah yang merupakan campuran dari jaringan

nekrotik, bakteri, dan sel darah putih yang sudah mati yang dicairkan oleh enzim

autolitik yang timbul di kaki.


B. Etiologi

Menurut Siregar (2004) abses dapat disebabkan karena adanya:

1. Infeksi mikrobial

Salah satu penyebab yang paling sering ditemukan pada proses radang ialah

infeksi mikrobial. Virus menyebabkan kematian sel dengan cara multiplikasi

intraseluler. Bakteri melepaskan eksotoksin yang spesifik yaitu suatu sintesis

kimiawi yang secara spesifik mengawali proses radang atau melepaskan

endotoksin yang ada hubungannya dengan dinding sel.

2. Reaksi hipersentivitas

Reaksi hipersentivitas terjadi bila perubahan kondisi respons imunologi

mengakibatkan tidak sesuainya atau berlebihannya reaksi imun yang akan

merusak jaringan.

3. Agen fisik

Kerusakan jaringan yang terjadi pada proses radang dapat melalui trauma fisik,

ultraviolet atau radiasi ion, terbakar atau dingin yang berlebih (frosbite).

4. Bahan kimia iritan dan korosif

Bahan kimiawi yang menyebabkan korosif (bahan oksidan, asam, basa) akan

merusak jaringan yang kemudian akan memprovokasi terjadinya proses radang.

Disamping itu, agen penyebab infeksi dapat melepaskan bahan kimiawi spesifik

yang mengiritasi dan langsung mengakibatkan radang.

C. Manifestasi Klinis

Abses bisa terbentuk diseluruh bagian tubuh, termasuk di kaki. Menurut

Smeltzer & Bare (2001), gejala dari abses tergantung kepada lokasi dan pengaruhnya

terhadap fungsi suatu organ saraf. Gejalanya bisa berupa:


1. Nyeri

2. Nyeri tekan

3. Teraba hangat

4. Pembengakakan

5. Kemerahan

6. Demam

Suatu abses yang terbentuk tepat dibawah kulit biasanya tampak sebagai

benjolan. Adapun lokasi abses antara lain ketiak, telinga, dan tungkai bawah. Jika

abses akan pecah, maka daerah pusat benjolan akan lebih putih karena kulit diatasnya

menipis. Suatu abses di dalam tubuh, sebelum menimbulkan gejala seringkali terlebih

tumbuh lebih besar. Paling sering, abses akan menimbulkan Nyeri tekan dengan

massa yang berwarna merah, hangat pada permukaan abses , dan lembut.

1. Abses yang progresif, akan timbul "titik" pada kepala abses sehingga Anda

dapat melihat materi dalam dan kemudian secara spontan akan terbuka

(pecah).

2. Sebagian besar akan terus bertambah buruk tanpa perawatan. Infeksi dapat

menyebar ke jaringan di bawah kulit dan bahkan ke aliran darah.

Jika infeksi menyebar ke jaringan yang lebih dalam, Anda mungkin mengalami

demam dan mulai merasa sakit. Abses dalam mungkin lebih menyebarkan infeksi

keseluruh tubuh.

D. Patofisiologi

Proses abses merupakan reaksi perlindungan oleh jaringan untuk mencegah

penyebaran atau perluasan infeksi ke bagian lain tubuh. Organisme atau benda asing

membunuh sel-sel lokal yang pada akhirnya menyebabkan pelepasan sitokin. Sitokin
tersebut memicu sebuah respon inflamasi (peradangan), yang menarik kedatangan

sejumlah besar sel-sel darah putih (leukosit) ke area tersebut dan meningkatkan aliran

darah setempat.

Struktur akhir dari suatu abses adalah dibentuknya dinding abses, atau kapsul,

oleh sel-sel sehat di sekeliling abses sebagai upaya untuk mencegah pus menginfeksi

struktur lain di sekitarnya. Meskipun demikian, seringkali proses enkapsulasi tersebut

justru cenderung menghalangi sel-sel imun untuk menjangkau penyebab peradangan

(agen infeksi atau benda asing) dan melawan bakteri-bakteri yang terdapat dalam

pus.Abses harus dibedakan dengan empyema. Empyema mengacu pada akumulasi

nanah di dalam kavitas yang telah ada sebelumnya secara normal, sedangkan abses

mengacu pada akumulasi nanah di dalam kavitas yang baru terbentuk melalui proses

terjadinya abses tersebut.

Abses adalah suatu penimbunan nanah, biasanya terjadi akibat suatu infeksi

bakteri. Jika bakteri menyusup ke dalam jaringan yang sehat, maka akan terjadi

infeksi. Sebagian sel mati dan hancur, meninggalkan rongga yang berisi jaringan dan

sel-sel yang terinfeksi. Sel-sel darah putih yang merupakan pertahanan tubuh dalam

melawan infeksi, bergerak ke dalam rongga tersebut dan setelah menelan bakteri, sel

darah putih akan mati. Sel darah putih yang mati inilah yang membentuk nanah, yang

mengisi rongga tersebut.

Akibat penimbunan nanah ini, maka jaringan di sekitarnya akan terdorong.

Jaringan pada akhirnya tumbuh di sekeliling abses dan menjadi dinding pembatas

abses, hal ini merupakan mekanisme tubuh untuk mencegah penyebaran infeksi lebih

lanjut. Jika suatu abses pecah di dalam maka infeksi bisa menyebar di dalam tubuh

maupun dibawah permukaan kulit, tergantung kepada lokasi abses ( Price, 2005 )
Bakteri Gram Positif
(Staphylococcus aureus Streptococcus mutans)

Mengeluarkan enzim hyaluronidase dan enzim koagulase

merusak jembatan antar sel

transpor nutrisi antar sel terganggu

Jaringan rusak/ mati/ nekrosis

Media bakteri yang baik

Jaringan terinfeksi

Peradangan
Sel darah putih mati

Demam
Jaringan menjadi abses Pembedahan

Gangguan & berisi PUS


Thermoregulator
(Pre Operasi) Pecah
Reaksi Peradangan
(Rubor, Kalor, Tumor, Dolor, Fungsiolaesea)

Luka Insisi
Resiko Penyebaran Infeksi
Nyeri (Pre dan Post Operasi)
(Pre Operasi) Nyeri
(Post Operasi)
E. Komplikasi

Komplikasi mayor dari abses adalah penyebaran abses ke jaringan sekitar atau

jaringan yang jauh dan kematian jaringan setempat yang ekstensif (gangren). Pada

sebagian besar bagian tubuh, abses jarang dapat sembuh dengan sendirinya, sehingga

tindakan medis secepatnya diindikasikan ketika terdapat kecurigaan akan adanya

abses. Suatu abses dapat menimbulkan konsekuensi yang fatal. Meskipun jarang,

apabila abses tersebut mendesak struktur yang vital, misalnya abses leher dalam yang

dapat menekan trakea. (Siregar, 2004).

F. Pemeriksaan Diagnosis

 Pemeriksaan laboratorium

1. Pada pemeriksaan laboratorium biasanya ditemukan peningkatan sel darah

putih(leukosit) yang diakibatkan oleh terjadinnya inflamasi atau infeksi pada

skrotum.

2. Selain itu dapat dilakukan Kultur urin dan pewarnaan gram untuk mengetahui

kuman penyebab infeksi.

3. Analisa urin untuk melihat apakah disertai pyuria atau tidak

4. Kultur darah bila dicurigai telah terjadi infeksi sistemik pada penderita

 Pemeriksaan pencitraan

USG, CT, Scan, atau MRI dan rongsen dilakukan untuk menentukan lokasi dan

ukuran abes

G. Penatalaksanaan Medis

Abses luka biasanya tidak membutuhkan penanganan menggunakan antibiotik.

Namun demikian, kondisi tersebut butuh ditangani dengan intervensi bedah dan

debridement.
Suatu abses harus diamati dengan teliti untuk mengidentifikasi penyebabnya,

terutama apabila disebabkan oleh benda asing, karena benda asing tersebut harus

diambil. Apabila tidak disebabkan oleh benda asing, biasanya hanya perlu dipotong

dan diambil absesnya, bersamaan dengan pemberian obat analgetik dan antibiotik.

Drainase abses dengan menggunakan pembedahan diindikasikan apabila abses

telah berkembang dari peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang lebih

lunak. Drain dibuat dengan tujuan mengeluarkan cairan abses yang senantiasa

diproduksi bakteri.

Apabila menimbulkan risiko tinggi, misalnya pada area-area yang kritis,

tindakan pembedahan dapat ditunda atau dikerjakan sebagai tindakan terakhir yang

perlu dilakukan. Memberikan kompres hangat dan meninggikan posisi anggota gerak

dapat dilakukan untuk membantu penanganan abses kulit.

Karena sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus,

antibiotik antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan.

Dengan adanya kemunculan Staphylococcus aureus resisten Methicillin (MRSA)

yang didapat melalui komunitas, antibiotik biasa tersebut menjadi tidak efektif. Untuk

menangani MRSA yang didapat melalui komunitas, digunakan antibiotik lain:

clindamycin, trimethoprim-sulfamethoxazole, dan doxycycline.

Untuk meringankan nyeri dan mempercepat penyembuhan, suatu abses bisa

ditusuk dan dikeluarkan isinya. Suatu abses tidak memiliki aliran darah, sehingga

pemberian antibiotik biasanya sia-sia.

Antibiotik biasanya diberikan setelah abses mengering dan hal ini dilakukan

untuk mencegah kekambuhan. Antibiotik juga diberikan jika abses menyebarkan

infeksi kebagian tubuh lainnya.


H. Asuhan Keperawatan
1. Pengkajian
a. Identitas
Abses bisa menyerang siapa saja dan dari golongan usia berapa saja,
namun yang paling sering diserang adalah bayi dan anak-anak.
b. Riwayat Kesehatan
1) Keluhan utama
Nyeri, panas, bengkak, dan kemerahan pada area abses.
2) Riwayat kesehatan sekarang
a) Abses di kulit atau dibawah kulit sangat mudah dikenali,
sedangkan abses dalam seringkali sulit ditemukan.
b) Riwayat trauma, seperti tertusuk jarum yang tidak steril atau
terkena peluru, dll.
c) Riwayat infeksi (suhu tinggi) sebelumnya yang secara cepat
menunjukkan rasa sakit diikuti adanya eksudat tetapi tidak bisa
dikeluarkan.
3) Riwayat kesehatan keluarga
Riwayat penyakit menular dan kronis, seperti TBC dan diabetes
mellitus.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan fisik ditemukan :
a. Luka terbuka atau tertutup
b. Organ / jaringan terinfeksi
c. Massa eksudat dengan bermata
d. Peradangan dan berwarna pink hingga kemerahan
e. Abses superficial dengan ukuran bervariasi
f. Rasa sakit dan bila dipalpasi akan terasa fluktuaktif.
3. Pemeriksaan laboratorium dan diagnostik
a. Hasil pemeriksaan leukosit menunjukan peningkatan jumlah sel darah putih.
b. Untuk menentukan ukuran dan lokasi abses dilakukan pemeriksaan rontgen,
USG, CT, Scan, atau MRI.
4. Diagnosa Keperawatan
Tahap selanjutnya yang harus dilakukan setelah memperoleh data melalui
pengkajian adalah merumuskan diagnosa. Pengertian dari diagnosa keperawatan
itu sendiri adalah sebuah pernyataan singkat dalam pertimbangan perawat
menggambarkan respon klien pada masalah kesehatan aktual dan resiko. Menurut
Herdman (2007), diagnosa keperawatan untuk abses adalah :
a. Pre operasi
1) Nyeri Akut berhubungan dengan agen injuri biologi
2) Hipertermi berhubungan dengan proses penyakit
b. Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan insisi pembedahan
2) Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan luka terbuka
3) Kerusakan Intergritas kulit berhubungan dengan trauma jaringan.
5. Perencanaan Keperawatan
Berdasarkan diagnosa keperawatan dengan menetapkan tujuan, kriteria hasil,
dan menentukan rencana tindakan yang akan dilakukan :
a. Pre operasi
1) Nyeri berhubungan dengan reaksi peradangan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.
Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan secara verbal rasa nyeri
berkurang, klien dapat rileks, klien mampu
mendemonstrasikan keterampilan relaksasi dan
aktivitas sesuai dengan kemampuannya, TTV dalam
batas normal; TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80 x /
menit, pernapasan : 20 x / menit.
Intervensi Rasional
1) Observasi TTV 1) Sebagai data awal untuk melihat
2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi keadaan umum klien
nyeri. 2) Sebagai data dasar mengetahui
seberapa hebat nyeri yang dirasakan
klien sehingga mempermudah
intervensi selanjutnya
3) Observasi reaksi non verbal dari 3) Reaksi non verba menandakan nyeri
ketidaknyamanan. yang dirasakan klien hebat
4) Dorong menggunakan teknik 4) Untuk mengurangi ras nyeri yang
manajemen relaksasi. dirasakan klien dengan non
farmakologis
5) Kolaborasikan obat analgetik sesuai 5) Mempercepat penyembuhan
indikasi. terhadap nyeri

2) Gangguan thermoregulator berhubungan dengan proses


peradangan
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
Hipertermi dapat teratasi.
Kriteria hasil : Suhu tubuh dalam batas normal (36 0C – 37 0C).
Intervensi Rasional
1) Observasi TTV, terutama suhu 1) Untuk data awal dan memudahkan
tubuh klien. intervensi
2) Anjurkan klien untuk banyak 2) Untuk mencegah dehidrasi akibat
minum, minimal 8 gelas / hari. penguapan tubuh dari demam
3) Lakukan kompres hangat. 3) Membantu vasodilatasi pembuluh darah
sehingga mempercepat hilangnya demam
4) Mempercepat penurunan demam
4) Kolaborasi dalam pemberian
antipiretik.

b. Post Operasi
1) Nyeri berhubungan dengan luka insisi akibat pembedahan.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan diharapkan
gangguan rasa nyaman nyeri teratasi.
Kriteria Hasil : Klien mengungkapkan secara verbal rasa nyeri
berkurang, klien dapat rileks, klien mampu
mendemonstrasikan keterampilan relaksasi dan
aktivitas sesuai dengan kemampuannya, TTV dalam
batas normal; TD : 120 / 80 mmHg, Nadi : 80 x /
menit, pernapasan : 20 x / menit.
Intervensi Rasional
1) Observasi TTV 1) Sebagai data awal untuk melihat
keadaan umum klien
2) Kaji lokasi, intensitas, dan lokasi 2) Sebagai data dasar mengetahui seberapa
nyeri. hebat nyeri yang dirasakan klien
sehingga mempermudah intervensi
selanjutnya
3) Observasi reaksi non verbal dari 3) Reaksi non verba menandakan nyeri
ketidaknyamanan. yang dirasakan klien hebat
4) Dorong menggunakan teknik 4) Untuk mengurangi ras nyeri yang
manajemen relaksasi. dirasakan klien dengan non farmakologis
5) Mempercepat penyembuhan terhadap
5) Kolaborasikan obat analgetik nyeri
sesuai indikasi.

6. Pelaksanaan Keperawatan

Pelaksanaan dimulai setelah rencana tindakan disusun dan ditujukan untuk

membantu klien mencapai tujuan yang diharapkan. Tujuan dari pelaksanaan yaitu

mencapai tujuan yang telah ditetapkan, peningkatan kesehatan, pencegahan

penyakit, pemulihan kesehatan dan memfasilitasi koping.

Pelaksanaan Keperawatan untuk abses adalah Drainase abses dengan

menggunakan pembedahan diindikasikan apabila abses telah berkembang dari

peradangan serosa yang keras menjadi tahap nanah yang lebih lunak, Karena

sering kali abses disebabkan oleh bakteri Staphylococcus aureus, antibiotik

antistafilokokus seperti flucloxacillin atau dicloxacillin sering digunakan, kompres

hangat bisa membantu mempercepat penyembuhan serta mengurangi peradangan

dan pembengkakan.

7. Evaluasi Keperawatan
Evaluasi adalah tindakan intelektual untuk melengkapi proses keperawatan

yang menandakan seberapa jauh diagnosa keperawatan, rencana tindakan, dan

pelaksanaan sudah berhasil. Evaluasi Keperawatan pada klien dengan abses

adalah :

a. Klien melaporkan rasa nyeri berkurang

b. Rasa nyaman klien terpenuhi

c. Daerah abses tidak terdapat pus

d. Tidak ditemukan adanya tanda – tanda infeksi ( pembengkakan,

demam,kemerahan )

e. Tidak terjadi komplikasi.


DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall & Moyet, Buku Saku; Diagnosis Keperawatan, 13th Edition, Penerbit

Buku Kedokteran EGC, Jakarta, 2013

Harrison. Prinsip-prinsip ilmu penyakit dalam. Editor dalam bahasa Inggris : kurt J.

Lessebacher. Et. Al : editor bahasa Indnesia Ahmad H. Asdie. Edisi 13. jakarta : EGC.

2005.

Nanda International, Diagnosis Keperawatan : Definisi dan Klasifikasi, Penerbit Buku

Kedokteran EGC, Jakarta, 2012

Nurarif, Amin Huda & Hardi Kusuma, Aplikasi Asuhan Keperawatan Berdasarkan Diagnosa

Medis & NANDA; NIC-NOC, Mediaction Publishing, Jakarta, 2013

Siregar, R,S. Atlas Berwarna Saripati Kulit. Editor Huriawati Hartanta. Edisi 2.

Jakarta:EGC,2004.

Suzanne, C, Smeltzer, Brenda G Bare. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Bruner and

Suddarth. Ali Bahasa Agung Waluyo. ( et,al) Editor bahasa Indonesia :Monica Ester.

Edisi 8 jakarta : EGC,2007.


LAPORAN PENDAHULUAN
ABSES PEDIS

Disusun Untuk Memenuhi Tugas Profesi


Departemen Surgikal Di Ruang 14 Rumah Sakit dr. Saiful Anwar Malang

Oleh :
Sri Indah Novianti
115070201111020

JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015

Gambar Luka Abses Tn.F

Sebelum Perawatan

Setelah Perawatan