Anda di halaman 1dari 23

LAPORAN PRAKTIKUM MIKROBIOLOGI FARMASI

PERCOBAAN II
INOKULASI DAN PEREMAJAAN BIAKAN DALAM MEDIA PADAT
DAN CAIR

Disusun Oleh:

Salsabila Soedradjat (10060318020)


Salma Azizah (10060318023)
Dimas Ridwan Firdaus (10060318024)
Aprian Dwiatama (10060318025)
Rodhiatul Jurdillah (10060318027)
Shift/Kelompok : A/4
Tanggal Praktikum : Senin, 25 November 2019
Tanggal Pengumpulan : Senin, 2 Desember 2019
Asisten : Olyvia Natasha S, S. Farm.

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT D


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
1441 H / 2019 M
PERCOBAAN II

INOKULASI DAN PEREMAJAAN BIAKAN DALAM MEDIA PADAT


DAN CAIR

I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Melakukan inokulasi dan peremajaan biakan secara goresan, tusukan, dan
apusan (swab) dengan baik pada medi padat maupun cair dengan teknik
kerja aseptis.
1.2 Mengamati pertumbuhan bakteri dan jamur yang diinokulasi dengan
metode dan media tertentu

II. TEORI DASAR


2.1 Inokulasi
Penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi)
terlebih dahulu diusakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan
medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi
Penanaman bakteri atau inokulasi bakteri dilakukan dengan metode spread plate
(cawan tebar), pour plate, gores, dan teknik pengenceran (Yunita et all, 2015).
Inokulasi adalah menanam inokula secara aseptik ke dalam media steril.
Inokula adalah bahan yang mengandung mikroba atau biakan mikroba, baik dalam
keadaan cair maupun padat (Henny dan Seprianto, 2019).
2.2 Peremajaan
….
2.3 Media Nutrient Agar dan Nutrient Broth
 Nutrient Agar
Nutrient Agar adalah medium umum untuk uji air dan produk dairy. NA
juga digunakan untuk pertumbuhan mayoritas dari mikroorganisme yang tidak
selektif, yaitu mikroorganisme heterotrof. Nutrient Agar merupakan salah satu
media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air,
sewage produk pangan, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel
pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Nutrient
Agar (NA) adalah suatu medium yang mengandung sumber nitrogen dalam jumlah
cukup yaitu 0,3 % ekstrak sapi dan 0,5 % pepton, tetapi tidak mengandung sumber
karbohidrat (Irianto, 2006).
 Nutrient Broth
Nutrient Broth (NB) adalah medium yang berbentuk cair dengan bahan
dasar adalah ekstrak beef dan peptone. Perbedaan konsentris antara Nutrient Agar
dengan Nutrient Broth yaitu nutrient agar berbentuk padat dan Nutrient Broth
berbentuk cair. Susunan kimia sama-sama sintetik. Fungsi kimia dari nutrient agar
dan nutrient broth sebagai medium umum. Medium Nutrient Broth (NB)
merupakan medium yang berwarna coklat yang memiliki konsistensi yang cair
dimana medium ini berasal dari sintetik dan memiliki kegunaan sebagai medium
untuk menumbuhkan bakteri sama seperti medium NA (Irianto, 2006).
2.4 Macam-Macam Media
Beberapa macam media yang digunakan untuk inokulasi yaitu:
 Mixed culture: berisi dua atau lebih spesies mikroorganisme
 Plate culture: media padat dalam petridish
 Slant culture: media padat dalam tabug reaksi
 Stap culture: media padat dalam tabung reaksi, tetapi penanamannya dengan
cara penusukkan
 Liquid culture: media cair dalam tabung reaksi
 Shake culture: media cair dalam tabung reaksi yang penanamannya dikocok
(Sumarsih, 2003).
2.5 Teknik-Teknik
Tenik inokulasi merupakan suatu pekerjaan memindahkan bakteri dari
medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat ktetelitisan yang tinggi.
Dengan demikian diperoleh biakan mikrrorganisme yang dapat digunskan sebagai
pembelajaran mikrobiologi. Pada praktikum ini akan dialkukan teknik inokulasi
biakan mikroorganisme pada medium steril utnuk mempelajari mikrobiologi
dengan satu kultur murni saja (Emma, 2013).
Teknik yang digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme pada media
agar memungkinkannya tumbuh dengan agak berjauhan dari sesamanya, juga
memungkinkan setiap selnya berhimpun membentuk koloni, yaitu sekelompok
massa sel yang dapat dilihat dengan mata telanjang. Bahan yang diinokulasikan
pada medium disebut inokulum, dengan menginokulasi medium agar nutrien
(nutrien agar) dengan metode agar tuang atau media agar sebar, sel-sel
mikroorganisme akan terpisah sendiri-sendiri. Setelah inkubasi, sel-sel mikroba
individu memperbanyak diri secara cepat sehingga dalam waktu 18 sampai 24 jam
terbentuklah massa sel yang dapat dilihat dan dinamakan koloni. Koloni dapat
terlihat oleh mata telanjang. Setiap koloni merupakan biakan murni satu macam
mikroorganisme (Pelczar dan Chan, 2007).
 Plat Agar Media
Untuk menanamkan biakan yang berbentuk plat agar menggunakan metode
gores. Bentuk ini berfungsi untuk peremajaan mikroorganisme.
 Agar Miring
Untuk menanamkan biakan, agar miring juga menggunakan metode gores.
Penanaman bakteri pada agar miring berfungsi untuk peremajaan dan pengamatan
reaksi biokimia.
 Agar Tegak
Untuk menanamkan biakan pada agar tegak, digunakan metode tusuk
(menggunakan jarum ose lurus). Pada agar tegak kita dapat mengamati berdasarkan
kondisi oksigen yang dibutuhkan oleh biakan.
 Media Cair
Pada bentuk media cair kita menggunakan metode tuang. Penanaman
biakan pada media cair berfungsi untuk peremajaan dan pengenceran biakan
mikroba (Rusdimin, 2003).
III. ALAT DAN BAHAN
Alat Bahan
Alat Swab Biakan Bakteri (Staphylococcus
aureus, Pseudomonas aerginosa,
Bacillus subtilis, dan Escherchia
coli)
Bunsen Biakan Jamur (Aspergillus sp.)
Cawan Petri Steril Media Nutrient Agar Cair bersuhu
50℃
Inkubator Media Nutrient Broth
Papan Pembentuk Agar Miring
Pinset
Pipet Ukur 5 mL dan 10 mL Steril
Ose Bundar dan Ose Lurus
Rak Tabung Reaksi
Tabung Reaksi Steril

IV. PROSEDUR PERCOBAAN


4.1 Pembuatan Plat Agar, Agar Miring, Agar Tegak, dan Media Cair
dalam tabung
Bunsen dinyalakan dan nyala api bunsen diatur hingga diperoleh nyala api
biru dan dibiarkan menyala selama 10 menit. Setelah itu, tabung reaksi steril
disiapkan dan letakkan pada rak tabung reaksi dan cawan steril di antara dua api
bunsen.
a. Pembuatan plat agar
Plat agar dibuat dengan memipet 20 ml media Nutrien Agar cair 50℃ ke
dalam cawan petri steril dan dibiarkan memadat.
b. Pembuatan agar miring

Agar miring dibuat dengan memipet 5 ml media Nutrien Agar cair 50℃ ke
dalam tabung reaksi steril lalu diletakkan miring pada papan miring dan dibiarkan
memadat.

c. Pembuatan agar tegak


Agar tegak dibuat dengan memipet 10 ml media Nutrien Agar cair 50℃ ke
dalam tabung reaksi steril lalu diletakkan tegak pada rak tabung reaksi dan
dibiarkan memadat.
d. Pembuatan media cair dalam tabung
Media cair dibuat dengan memipet 10 ml media Nutrien Broth yang bersuhu
kamar ke dalam tabung reaksi steril.

Semua pekerjaan diatas dilakukan dengan memperhatikan prosedur kerja


aseptis.
4.2 Teknik Inokulasi pada Plat Agar, Agar Miring, Agar Tegak, dan Media
Cair
a. Inokulasi pada plat agar
Cara Streak (gores)
Empat area dibuat pada plat agar dengan menggunakan spidol pada
permukaan luar cawan petri bagian alas. Inokula diambil dengan jarum ose bundar
dan bakteri diinokulasikan ke setiap bagian dari plat agar dengan goresan yang
rapat.
Cara Swab (apus)
Dilakukan hal yang sama seperti pada pengerjaan cara steak. Inokula
diambil dengan cara diapuskan alat swab pada permukaan inokula. Diinokulasikan
dengan cara diapuskan alat swab pada permukaan media plat agar.
b. Inokulasi pada agar miring
Inokula diambil dengan jarum ose bundar kemudian bakteri diinokulasikan
pada media dengan cara goresan rapat secara zigzag dimulai dari bawah sampai
bagian atas media agar miring.
c. Inokulasi pada agar tegak
Inokula diambil dengan jarum ose lurus kemudian bakteri diinokulasikan
pada media dengan cara ditusukkan jarum ose tepat pada poros tengah tabung
sampai mendekati dasar tabung kemudian perlahan-lahan ditarik kembali.
d. Inokulasi pada media cair
Bakteri diinokulasikan pada media cair dengan pipet pasteur jika inokula
berasal dari biakan cair dan jika inokula berasal dari agar miring maka bakteri
diambil dengan jarum ose bundar dan bakteri disuspensikan pada Nutrien Broth.

V. DATA PENGAMATAN
5.1 Kelompok 1/A
Media Nama bakteri Hari inokulasi Hari pengamatan
agar Senin, 25 November 2019 Selasa, 26 November 2019

Staphylococcus
aureus

Warna : kuning jernih


Warna : kuning jernih Koloni : putih
Koloni : - Letak : mengikuti alur
Plat Letak : - zig-zag
Agar

Escherichia coli

Warna : kuning jernih


Warna : kuning jernih Koloni : putih
Koloni : - Letak : mengikuti alur
Letak : - zig-zag
Staphylococcus
aureus

Warna : kuning keruh


Warna : kuning keruh Koloni : putih pudar
Koloni : - Letak : tengah atas
Agar Letak : -
miring

Escherichia coli

Warna : kuning keruh Warna : kuning keruh


Koloni : putih
Koloni : - Letak : tengah atas
Letak : -
Staphylococcus
aureus

Warna : kuning keruh


Warna : kuning keruh
Koloni : putih
Koloni : -
Letak : tengah atas
Letak : -
Agar
tegak

Escherichia coli

Warna : kuning keruh Warna : kuning keruh


Koloni : - Koloni : putih
Letak : atas
Letak : -

Media
cair Staphylococcus
aureus
Warna : kuning Warna : kuning
kecoklatan kecoklatan
Koloni : - Koloni : putih
Letak : - Letak : bawah
Escherichia coli

Warna : kuning Warna : kuning


kecooklatan kecoklatan
Koloni : - Koloni : putih
Letak : - Letak : atas

5.2 Kelompok 2/A


Media Nama bakteri Hari inokulasi Hari pengamatan
agar Senin, 25 November Selasa, 26 november 2019
2019

Plat Staphylococcus
agar aureus
Warna : kuning jernih
Warna : kuning pucat
Koloni : - pudar jernih
Letak : - Koloni : putih
Letak : menyebar, bulat-
bulat kecil
Escherichia coli

Warna : kuning jernih Warna : kuning pucat pudar


Koloni : - jernih
Letak : - Koloni : putih
Letak : menyebar, bulat-
bulat kecil

Staphylococcus
aureus

Warna : kuning jernih


Koloni : - Warna : kuning pucat
Letak : - keruh
Agar Koloni : putih, oval
miring Letak : bakteri tidak
terlihat

Escherichia coli

Warna : kuning pucat


keruh
Warna : kuning jernih Koloni : putih
Letak : menyebar,
Koloni : -
menggumpal
Letak : -

Agar Staphylococcus
tegak aureus
Warna : kuning pucat
Warna : kuning keruh keruh
Koloni : putih
Koloni : - Letak : Penuh pada
Letak : - seluruh permukaan, tetapi
lebih banyak di bawah

Escherichia coli

Warna : kuning jernih


pucat
Koloni : putih
Warna : kuning jernih Letak : Penuh pada
Koloni : - seluruh permukaan, tetapi
lebih banyak di bawah
Letak : -
Staphylococcus
aureus
Warna : kuning
kecoklatan jernih Warna : kuning
kecoklatan jernih
Media Koloni : - Koloni : putih
cair Letak : - Letak : Di dasar tabung,
men-ggumpal di bawah

Escherichia coli

Warna : kuning kecoklatan


Warna : kuning
jernih
kecoklatan jernih
Koloni : putih
Koloni : - Letak : Pada permukaan
atas berbentuk serbuk
Letak : -
5.3 Kelompok 3/A
Media Nama bakteri Hari inokulasi Hari pengamatan
agar Senin, 25 November Selasa, 26 November
2019 2019

Staphylococcus
aureus
Warna : kuning jernih
Koloni : - Warna : kuning jernih
Koloni : putih
Letak : - kekuningan
Plat Letak : goresan zig-
zag
agar

Escherichia coli

Warna : kuning jernih


Koloni : - Warna : kuning jernih
Koloni : putih
Letak : - kekuningan
Letak : goresan zig-
zag menyebar

Staphylococcus
Agar aureus
miring
Warna : Kuning jernih
Warna : kuning jernih
Koloni : - Koloni : putih
Letak : - kekuningan
Letak : di permukaan
Escherichia coli

Warna : Kuning jernih Warna : kuning jernih


Koloni : putih
Koloni : - kekuningan
Letak : - Letak : di permukaan

Staphylococcus
aureus

Warna : kuning jernih


Warna : kuning jernih
Koloni : putih
Koloni : - kekuningan
Letak : Di permukaan
Agar Letak : -
dan di tengah kiri
tegak

Escherichia coli

Warna : kuning jernih Warna : kuning jernih


Koloni : - Koloni : putih
kekuningan
Letak : - Letak : Di permukaan
Staphylococcus
aureus
Warna : kuning Warna : kuning
kecoklatan
kecoklatan Koloni : putih
Koloni : - kekuningan
Letak : di dasar tabung
Media Letak : -
cair

Escherichia coli
Warna : kuning
kecoklatan
Warna : kuning
Koloni : -
kecoklatan
Letak : - Koloni : putih
kekuningan
Letak : di atas

5.4 Kelompok 4/A

VI. PEMBAHASAN
Mikroorganisme merupakan jasad hidup yang mempunyai ukuran sangat
kecil (Kusnadi, 2008). Yang tergolong ke dalam mikroorganisme adalah bakteri,
jamur, ganggang, protozoa, dan virus. Pada praktikum kali ini menggunakakan
bakteri Staphylococcus aerus, Pseudomonas aeruginosa, Bacillus subtilis, dan
Escherichia coli. Untuk mengamati pertumbuhan pada bakteri dilakukan inokulasi.
Inokulasi penanaman bakteri atau biasa disebut juga inokulasi adalah pekerjaan
memindahkan bakteri dari medium yang lama ke medium yang baru dengan tingkat
ketelitian yang sangat tinggi. Untuk melakukan penanaman bakteri (inokulasi)
terlebih dahulu diusahakan agar semua alat yang ada dalam hubungannya dengan
medium agar tetap steril, hal ini agar menghindari terjadinya kontaminasi
(Dwijoseputro, 1998). Pembiakan bertujuan mempelajari sifat bakteri untuk dapat
mengadakan identifikasi, determinasi, atau diferensiasi jenis-jenis yang ditemukan.
( James, Daniel E., 2008). Untuk menegakkan diagnosis bakteriologis, sebaiknya
biakan bakteri berada dalam keadaan murni atau tidak tercampur dengan bakteri-
bakteri lain. Biakan murni diperlukan untuk mempelajari ciri-ciri koloni, sifat-sifat
biokimia, morfologi, reaksi pengecatan, reaksi imunologi, dan kerentanan bakteri
terhadap zat anti bakteri (James, Daniel E., 2008)

Pada praktikum kali ini, dilakukan inokulasi dengan teknik kerja aseptik
dimana teknik aseptik ini dapat mencegah kontaminasi dalam biakan. Sebelum
melakukan proses identifikasi mikroorganisme, ruangan tempat penanaman bakteri
perlu dalam keadaan bersih dan steril. Hal ini dilakukan agar tidak terjadi kesalahan
dalam pengamatan atau percobaan dalam laboratorium. Setelah melakukan
pensterilan ruangan, meja sebagai tempat melakukan penanaman inokula pun perlu
dibersihkan menggunakan alkohol 70%. Hal ini dilakukan agar tidak terjadinya
kontaminasi dengan mikroorganisme yang ada dimana-mana. Karena ukurannya
yang sangat kecil, bakteri mudah lepas dalam udara dan permukaan. Identifikasi
biakan mikroorganisme seringkali memerlukan pemindahan ke biakan segar tanpa
terjadi pencemaran. Hal pertama yang dilakukan dalam praktikum kali ini adalah
bunsen dinyalakan dimana fungsi bunsen yaitu agar mikroba dari luar tidak
mengkontaminasi bakteri yang akan dipakai. Lalu siapkan cawan petri steril dan
tabung reaksi steril di antara dua bunsen. alat dan bahan yang digunakan perlu steril
yaitu yang sudah di lakukan proses sterilisasi dengan panas lembab pada alat
autoklaf. Hal ini bertujuan untuk menghancurkan secaralengkap semua mikroba
hidup dan spora-sporanya (Suhardi, S.H., Koesnandar, D. K. Indriani, H. Arnaldo.
2008).
Media agar untuk bakteri digunakan media NA (Nutrien Agar), fungsi
penggunaan media NA karena komposisinya yang terdiri dari ekstrak daging sapi
didalamnya yang mengandung protein, karbohidrat, vitamin, dan sedikit lemak,
juga terdapat adanya faktor pertumbuhan yang tidak mampu disintesis
mikroorganisme, dan media NA ini digunakan untuk pembuatan plat agar, agar
miring dan tegak. Sedangkan media yang digunakan untuk pembuatan media cair
yaitu media NB (Nutrien Broth) yang memiliki bahan dasar ekstrak daging dan
pepton. Kedua media tersebut termasuk kedalam media universal karena dapat
digunakan untuk menumbuhkan beragam jenis bakteri.

Untuk mengamati biakan bakteri diperlukan media, yang pertama


membuat media plat agar untuk mengamati peremajaan biakan, morfologi dan
jumlah bakteri, dan aktivitas biokomia. Tahap pertama yaitu pembuatan plat agar
dengan cara memanaskan media Nutrien Agar steril yang ada dalam erlenmeyer.
Tujuan pemanasan yaitu untuk mencairkan media sehingga dapat dituangkan untuk
media agar datar pada cawan petri. Setelah media Nutrien Agar mencair kemudian
dipipet dengan menggunakan pipet volume yang sebelumnya telah di flambir
sebanyak 15 mL, tujuannya yaitu untuk mencegah adanya kontaminasi dengan
bakteri. Setelah itu cawan petri dibuka dan diflambir kemudian dituangkan media
Nutrien Agar cair kedalamnya, hal ini perlu dilakukan pula didekat nyala api bunsen
karena untuk mencegah terjadinya kontaminasi dengan udara luar. Keuntungan
penggunaan cawan petri adalah untuk memperoleh biakan dengan jumlah yang
banyak dan lebih mudah untuk melihat morfologi biakan. Kemudian diflambir
kembali cawan petri sebelum ditututup dan dibiarkan memadat. Setelah media
Nutrien Agar didalam cawan petri memadat diambil bakteri yang akan digoreskan
pada permukaan agar menggunakan jarum ose bundar. Sebelum bakteri diambil,
jarum ose bundar harus dipanaskan sampai membara. Pemanasan jarum ose hingga
membara dimaksudkan agar jarum ose benar-benar steril pada waktu pengambilan
bakteri. Agar koloni-koloni tidak terbawa udara luar, maka semua prosedur
dilakukan di dekat nyala api bunsen. Hal ini juga dimaksudkan agar koloni yang
keluar dari tabung akan mati terkena nyala api bunsen sehingga tidak mengotori
udara di dalam laboratorium. Digunakannya jarum ose bundar pada plat agar untuk
menyebarkan inokula pada media. Sebelum bakteri diambil, pastikan jarum ose
bundar sudah tidak panas karena akan menyebabkan bakteri yang akan dibiakan
menjadi mati karena suhu yang terlalu tinggi. Pengambilan bakteri dengan
menggoreskan ujung bulat pada jarum ke media biakan induk, memungkinkan
bakteri dapat terambil banyak. Pada saat memasukkan ujung kawat jarum ose yang
telah membawa bakteri, kawat tersebut digesek-gesekkan pada permukaan medium
dari kiri ke kanan dengan zigzag. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar bakteri
tumbuh dan berkembang biak dengan merata dan tidak bergumpal. Metode yang
dilakukan dengan menggesekkan jarum ose ini disebut sebagai metode gores
sinambung. Setelah itu mulut cawan petri diflambir kembali sebelum ditutup.

Tahap selanjutnya yaitu pembuatan agar miring, sama halnya seperti


pembuatan plat agar. Pembuatan agar miring ini dilakukan untuk menumbuhkan
peremajaan bakteri. Setelah media Nutrien Agar mencair kemudian dipipet media
sebanyak 5 mL dengan menggunakan pipet volume yang telah difalmbir
sebelumnya. Kemudian dituangkan media Nutrien Agar cair kedalam tabung reaksi
dan sebelum tabung reaksi ditutup dengan menggunakan kapas yang telah dilapisi
dengan kain kasa, tabung difalmbir terlebih dahulu karena bertujuan untuk
mensterilisasi tabung dari udara luar dan biakan dari mikroorganisme lain. Semua
pengerjaan dilakukan dekat dengan api bunsen karena untuk mengurangi
kotaminasi dengan udara luar serta agar tidak terjadi pertumbuhan bakteri lain dan
mempertahankan kemurnian biakan. Kemudian biarkan sampai memadat dengan
memiringkan tabung reaksi pada pengganjal. Setelah memadat, diambil bakteri
dengan menggunakan jarum ose bundar yang sebelumnya telah difalmbir sampai
membara terlebih dahulu yang berguna untuk mensterilkan saat pengambilan
bakteri dan mematikan bakteri lain yang sebelumnya masih menempel pada jarum
ose tersebut. Sebelum bakteri diambil, pastikan jarum ose sudah tidak panas karena
akan menyebabkan bakteri yang akan dibiakan menjadi mati karena suhu yang
terlalu tinggi. Digunakannya jarum ose bundar pada plat agar untuk menyebarkan
inokula dan peremajaan bakteri pada agar miring. Inokula digoreskan diatas
permukaan media Nutrien Agar yang ada di dalam tabung reaksi dengan arah zig-
zag secara merata. Digunakan arah zig-zag agar memungkinkan koloni yang
terbentuk tersebar merata, tampak jelas dan tidak bertumpuk. Sekeliling mulut
dipanaskan kembali lalu disumbat dengan menggunakan kapas. Sumbatan ini
berfungsi untuk mensterilisasi tabung reaksi dan biakan dari mikroorganisme lain
serta bertujuan agar keadaan mikroorganisme di dalam tabung reaksi tetap steril,
apabila ada kontaminan yang akan masuk.

Tahap selanjutnya yaitu pembuatan agar tegak, yang bertujuan untuk


menumbuhkan karakteristik bakteri yang besifat anaerob yaitu organisme atau
bakteri yang tumbuh tanpa oksigen molekular. Berdasarkan kebutuhan oksigen
pada bakteri dibagi menjadi aerob, anaerob fakultatif, dan anaerob obligat. Bakteri
aerob merupakan bakteri yang membutuhkan oksigen atau zat asam untuk
pertumbuhannya yang memerlukan zat asam dalam jumlah sedikit disebut
mikroaerofil dan jika tidak ada oksigen bakteri akan mati. Bakteri fakultatif adalah
bakteri yang dapat hidup dengan oksigen maupun tanpa oksigen. Bakteri Anaerob
obligat adalah bakteri yang tidak membutuhkan oksigen. Kemudian media Nutrien
Agar cair dipipet dengan menggunakan pipet volume sebanyak 10 mL. Yang
membedakan pembuatan agar tegak dengan pembuatan agar miring adalah dengan
menegakkan tabung reaksi pada rak tabung reaksi serta penanaman bakteri
dilakukan dengan metode tusuk dimana jarum ose yang membawa bakteri akan
ditusukkan ke dalam media. Jarum ose yang digunakkan yaitu jarum ose lurus.
digunakannya jarum ose lurus pada agar tegak dikarenakan pada inokulasi bakteri
agar tegak lurus, menggunakan tabung, dan agar inokulan yang ada bisa masuk
secara merata dalam media sampai menuju titik pusat tabung

Pada pembuatan media cair digunakan media Nutrien Broth, media


Nutrien Broth steril tidak perlu dipanasakan karena medium NB ini sudah
berbentuk cair sehingga media Nutrien Broth dapat langsung dipipet dengan
menggunakan pipet volume yang sudah difalmbir sebanyak 5 mL. Kemudian
dimasukkan inokula kedalam tabung reaksi menggunakan ose bundar, dengan
membuka sumbatan kapas yang dilapisi kain kasa, mulut tabung reaksi dan pipet
volume diflambir kemudian dimasukan media Nutrien Broth kedalam tabung
reaksi. Diflambir kembali mulut tabung dan segeralah tutup tabung reaksi dengan
sumbatan agar tidak terjadi kontaminasi dengan udara luar. Kemudian diambil
bakteri dengan menggunakan jarum ose bundar yang sebelumnya telah difalmbir,
dimasukkan bakteri kedalam tabung reaksi yang berisi media Nutrien Broth.
Setelah itu tabung reaksi diletakkan pada alat vortex ini berfungsi agar bakteri
tersuspensi dalam media tersebut secara merata (homogen). Pada pembuatan media
cair adanya pertumbuhan bakteri ditandai dengan kekeruhan yang terlihat pada
media. Jumlah mikroorganisme yang diperlukan cukup banyak agar terlihat keruh.
Bila pertumbuhan bakteri menumpuk maka di bagian dasar tabung akan terlihat
sedimen. Sebaliknya, bila pertumbuhan mikrooganisme atau bakteri sedikit maka
terlihat sebagai partikel lapisan tipis pada permukaan, kadangkala pertumbuhan
yang terlihat pada media merupakan gabungan dari kekeruhan sedimen.

Setelah semuanya melalui tahap inokulasi, kemudian dimasukan pada


tahap inkubasi. Tahap inkubasi ini dilakukan didalam inkubator selama 24 jam pada
suhu 37ᴼC karena bakteri yang dibiakan didalam media mempunyai fase-fase
pertumbuhan atau fase sigmoid salah satunya yaitu fase stationer, dan pada suhu
37ᴼC itulah bakteri dapat mencapai fase tersebut dan mengalami pertumbuhan.
Selain itu pada suhu tersebut disesuaikan dengan rata-rata suhu tubuh manusia
karena pada suhu tersebut bakteri yang dibiakkan menyerang manusia.

VII. KESIMPULAN
7.1 Bakteri Eschericia Coli merupakan bakteri gram negatif, membentuk
koloni berwarna putih kekuningan yang lebih renggang dan bersifat aerob
sampai anaerob fakultatif.
7.2 Bakteri Staphylococcus aureus merupakan bakteri gram negatif,
membentuk koloni berwarna putih yang lebih rapat, dan memiliki sifat
aerob sampai anaerob fakultatif.
7.3 Bakteri Bacillus subtilis merupakan bakteri yang bersifat aerob, bakteri
gram-positif, membentuk koloni berwarna putih.
7.4 Bakteri Pseudomonas aeruginosa merupakan bakteri gram negatif,
memiliki sifat aerob dan anaerob fakultatif, dan memiliki koloni tanpa
chromogene sehingga membentuk warna putih keruh. Kemudian pada
metode media cair didapatkan hasil bahwa bakteri Pseudomonas
aeruginosa memiliki sifat anaerob fakultatif.
DAFTAR PUSTAKA

Emma, Kharisma.2013. “isolasi dan inokulasi”. http://emma-


kharisma.blogspot .com. (diakses pada 27 april 2017)
Irianto Kus. 2006. Kamus Biologi. Edisi Pertama. Bumi Aksara: Jakarta
Pelczar dan Chan. 2007. Analisis Mikroba pada Inokulasi. Edisi
Kelima.Erlangga: Jakarta
Saraswati, H dan Seprianto. 2019. PETUNJUK PRAKTIKUM
MIKROBIOLOGI. PROGRAM STUDI BIOTEKNOLOGI FAKULTAS
ILMU-ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS ESA UNGGUL.
Rusdimin. 2003. Mikrobiologi Dasar Dalam Praktek. Jakarta: Pt Gramedia
Sumarsih, Sri. 2003. Mikrobiologi Dasar. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Tanah
UPN.
Yunita, M., Y. Hendrawan, dan R. Yulianingsih. 2015. Analisis Kuantitatif
Mikrobiologi Pada Makanan Penerbangan (Aerofood ACS)
Garuda Indonesia Berdasarkan TPC (Total Plate Count) Dengan
Metode Pour Plate. Jurnal Keteknikan Pertanian Tropis dan
Biosistem. 3(3):239