Anda di halaman 1dari 18

Perubahan Ketinggian Menyebabkan Kadar O2 dalam Darah Berubah

Cristofher Sitanggang
Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana
NIM : 102012281. E-mail : cristofher.sitanggang@yahoo.co.id Kelompok : E6

1. Pendahuluan
1.1 Latar belakang

Pernapasan adalah proses pertukaran dua jenis gas yaitu oksigen dan karbondioksida.
Oksigen diperlukan oleh tubuh untuk proses metabolisme yang menghasilkan energi dan
karbondioksida adalah hasil daripada proses metabolisme tersebut. Pada saat kita menghirup
udara, O2 akan masuk ke dalam paru-paru dan ketika menghembus nafas, CO2 akan
dikeluarkan dari paru-paru ke lingkungan luar tubuh.1 Pernapasan mencakup dua proses yaitu
pernapasan eksterna dan pernapasan internal.1 Proses pernapasan eksternal adalah proses
pertukaran oksigen antara atmosfer dan darah serta pertukaran karbondioksida antara darah
dengan atmosfer.1

Pernapasan internal adalah proses penggunaan O2 dan pembentukkan CO2 oleh sel serta
pertukaran gas di antara sel tubuh dan media cair di sekitarnya.1 Pertukaran gas pada vertebra
terjadi dalam tiga fase yaitu bernapas, transport gas melalui sistem sirkulasi, dan pertukaran
gas antara kapiler darah dengan sel-sel yang terdapat dalam tubuh badan.2 Struktur yang
membentuk sistem pernapasan dapat dibedakan menjadi struktur utama (principal structure)
dan struktur pelengkap (accessory structure). Yang termasuk struktur utama sistem
pernapasan adalah saluran udara pernapasan yang terdiri dari jalan napas dan saluran napas.

Yang disebut jalan napas adalah adalah nares, hidung bagian luar, hidung bagian dalam,
sinus paranasalis, faring, dan laring. Sedangkan yang disebut dengan saluran napas adalah
trakea, bronki, bronkioli, diafragma, dan pleura. Pusat pernapasan di otak yang
mengendalikan otot pernapasan, serta jaras dan saraf yang menghubungkan pusat pernapasan
dengan otot pernapasan. Asma adalah penyakit umum kronis inflamasi saluran nafas yang
ditandai dengan variabel dan gejala berulang, obstruksi aliran udara, dan bronkospasme.1,2

Meliputi mengi, batuk, sesak dada, dan sesak nafas. Serangan asma dapat dicegah
dengan menghindari faktor pemicu seperti alergi atau perubahan suhu yang cepat. Proses

1
ventilasi melibatkan sirkulasi pulmonal yang berfungsi untuk membawa gas hasil pertukaran
darah kapiler dan udara alveol selain berfungsi untuk menyaring udara. Sirkulasi bronkial
(sirkulasi sistemik) pula berfungsi menyediakan nutrisi bagi jaringan paru. Molekul surfaktan
memainkan peran yang penting dalam proses respirasi. Waktu alveol mengempis, molekul
surfaktan menurunkan tegangan permukaan,jadi alveol tidak kolaps. Molekul surfaktan juga
melawan regangan alveol yang berlebihan, mencegah alveol pecah, pada akhir inspirasi.1

1.2 Rumusan masalah


Seorang laki-laki 50 tahun merasa sesak dan sulit bernafas serta wajahnya membiru ketika
mendaki gunung.
1.3 Hipotesis
Perubahan ketinggian menyebabkan perubahan kadar O2 dalam darah sehingga
menyebakan wajah membiru.

2. Isi
Skenario 7:
Seorang mahasiswa laki-laki berusia 20 tahun ikut dengan temannya mendaki gunung.
Ditengah pendakian mehasiswa tersebut merasa sesak dan sulit bernafas disertai wajahnya
membiru. Oleh teman-temannya, dia disuruh berisitirahat dan tidak boleh melanjutkan
pendakian lagi. Setelah itu mahasiswa tersebut dibawa ke dokter untuk mendapatkan
pengobatan.

Struktur Makroskopis

 Hidung 1,2

Hidung bagian luar

Berbentuk pyramid. Ke arah inferior hidung memiliki 2 pintu masuk berbentuk bulat
panjang, yakni nares, yang terpisah oleh septum nasi. Penyangga hidung terdiri dari tulang
dan tulang rawan hialin. Rangka tulang terdiri dari os nasale, processus frontalis maxillaries,
bagian nasal ossis frontalis. Rangka tulang rawan terdiri dari cartilage septi nasi, cartilage
nasi lateralis, dan cartilage ala nasi major dan minor.

2
Rongga hidung

Terdiri dari 3 regio, yakni vestibulum, penghidu, dan pernapasan. Vestibulum dilapisi
kulit yang mengandung bulu hidung, berguna untuk menahan aliran partikel yang terkandung
di dalam udara yang dihisap. Ke arah atas dan dorsal vestibulum dibatasi oleh limen nasi,
yang sesuai dengan tepi atas cartilage ala nasi major. Region penghidu ada di sebelah cranial,
dimulai dari atap rongga hidung daerah ini meluas sampai setinggi concha nasalis superior
dan bagian septum nasi yang ada dihadapan concha tersebut. Regio pernapasan adalah bagian
rongga hidung selebihnya.2

Pembuluh nadi yang mendarahi rongga hidung :

(1) Aa. Ethmoidalis anterior dan posterior , cabang dari a. opthalmica, yang mendarahi
pangkal hidung, sinus ethmoidalis dan frontalis, (2) A.sphenopalatina, cabang dari a
maxillaries interna, mendarahi mukosa dinding lateral dan medial hidung, (3) A. palatine
major, cabang dari palatine descendens a. maxillaries interna , akan beranastomosis dengan a.
Sphenopalatina, (4) A. labialis superior , cabang a facialis, yang mendarahi septum nasi
daerah vestibulum, beranastomosis dengan a. sphenopalatina dan sering menjadi lakasi
kejadian epistaxis. Persarafan oleh cabang- cabnag N. trigeminus, otonom secretomotorik dan
vasomotorik serta N. Olfactorius.

 Pharynx 1,2

Pharynx membentang dari basis cranii- vertebra cervical 6 atau tepi bawah cartilage
cricoidea. Sebelah distal berbatasan dengan oesophagus , di dorsal dan lateral dikelilingi
jaringan longgar yang mengisi spatium peripharyngeale dan ventral berhubungan dengan
rongga hidung , rongga mulut dan larynx.

Pharynx terdiri dari 3 bagian, nasopharynx , oropharynx dan laryngopharynx.

 Laryngx 1-3

Pada laring, terdapat dua pasang lipatan lateral membagi rongga laring tersebut yaitu
pasangan bagian atas yang disebut lipatan ventrikular (pita suara palsu), tidak berfungsi pada
produksi suara, dan lipatan vocalis yang merupakan pita suara sejati. Pita suara sejati melekat
pada tulang rawan thyroid dan kartilago cricoid, serta aritenoid. Pembuka diantara pita ini
adalah glotis. Saat bernapas, pita suara terabduksi (tertarik membuka) oleh otot laring, dan

3
glotis membentuk triangular. Saat menelan, pita suara teraduksi (tertari menutup) dan glotis
membentuk celah sempit. Dengan demikian, kontraksi otot rangka mengatur ukuran
pembukaan glotis dan derajat ketegangan pita suara yang diperlukan untuk produksi suara.

 Trakea 2,3

Trakea adalah tuba yang terletak diatas permukaan anterior esofagus. Tuba ini
merentang dari laring pada area vetebra serviks ke enam sampai area vetebra toraks kelima,
tempatnya membelah menjadi dua bronkus utama. Trakea dapat tetap terbuka karena adanya
16 sampai 20 cincin kartilago berbentuk C. Ujung posterior mulut cincin dihubungkan onleh
jaringan ikat dan otot sehingga memungkinkan ekspansi esofagus.
Seperti yang telah disebutkan, pada vetebra toraks kelima, trakea akan bercabang
menjadi dua bronkus utama. Bronkus primer kanan dan bronkus primer kiri.bronkus primer
kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus dibandingkan bronkus primer kiri
karena arkus aorta membelokan trakea bawah kekanan. Objek asing yang masuk
kemungkinan akan masuk ke bronkus kanan.

Setiap bronkus primer nantinya akan bercabang menjadi bronkus sekunder dan tertier
dengan diameter semakin kecil. Saat tuba semakin menyempit, batang atau lempeng kartilago
mengganti cincin kartilago. Suatu bronkus disebut ekstrapulmonar, sampai memasuki paru-
paru. Setelah itu baru disebut intra pulmonar. Nantinya, percabangan bronki akan menjadi
struktur dasar paru-paru yaitu bronki, bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus
respiratorius, duktus alveolar, dan alveoli.

 Pleura 2,3

Pleura merupakan selaput serosa yang membentuk sebuah kantong tertutup yang
terinvaginasi oleh paru-paru. Bagian pleura yang melekat pada permukaan paru dan fisura-
fisura interlobaris paru disebut pleura visceralis atau pleura pulmonalis. Pleura yang melapisi
permukaan dalam separuh dinding thorax, menutupi sebagian besar diafragma dan struktur-
struktur yang menempati daerah tengah torak disebut pleura parietalis. Pleura pulmonalis dan
pleura parietalis saling berkesinambung di sekitar struktur hilux.

Pleura parietalis dinamai sesuai dengan bagian-bagian dinding yang diliputinya, yaitu
pleura costovertebralis (costalis), pleura diaphragmatica, pleura cervicalis, dan pleura
mediastinalis. Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang

4
berfungsi untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk
mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru. Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah
dari tekanan atmosfir, hal ini untuk mencegah kolap paru-paru.

 Diaphragma (sekat rongga badan) 1-3

Merupakan jaringan musculofibrosa yang berbentuk dua belah kubah, di antara rongga
thorax dan rongga perut. Terutama cembung, ke arah posterosuperior, yang menghadap
rongga thorax dan cekung, ke arah antero-inferior, yang menghadap rongga perut. Tempat
lekat diaphragma :

1) Processus xiphoideus
2) Ujung-ujung sternal iga dan tulang-tulang rawan iga 7-12
3) Processus transversus vertebra lumbar 1 dan corpus vertebra lumbal atas; perlekatan
pada daerah lumbal ini berlangsung melalui perantaraan :

 Ligamentum arcuatum mediale


 Ligamentum arcuatum laterale
 Crura diaphragmatica

Diaphragma harus memiliki lubang-lubang, agar struktur-struktur rongga thorax dapat


mencapai rongga perut atau sebaliknya. Lubang-lubang tersebut adalah :

1) Hiatus aorticus
2) Hiatus oesophagei
3) Hiatus venae cavae
4) Dua lubang yang lebih kecil, pada masing-masing crus diaphragma
5) Dua celah kecil, yakni antara tempat lekat bagian sternal dan bagian costal
diaphragm, dilintasi A. Epigastrica superior dan pembuluh-pembuluh getah
bening dinding perut dan hati.
6) Celah antara bagian costal diaphragma dan ligamentum arcuatum laterale, tertutup
oleh jaringan ikat jarang.

5
Percabangan bronkus 2

1. Bronkus primer (utama) kanan berukuran lebih pendek, lebih tebal, dan lebih lurus
dibandingkan bronkus primer kiri karena arkus aorta membelokkan trakea bawah ke
kanan. Objek asing yang masuk ke dalam trakea kemungkinan ditempatkan dalam
bronkus kanan
2. Setiap bronkus primer bercabang 9 sampai 12 kali untuk membentuk bronki
sekunder dan tertier dengan diameter yang semakin kecil. Saat tuba semakin
menyempit, batang atau lempeng kartilago mengganti cincin kartilago
3. Bronki disebut ekstrapulmonar sampai memasuki paru-paru, setelah itu disebut
intrapulmonary.
4. Struktur mendasar dari kedua paru-paru adalah percabangan brongkial yang
selanjutnya: bronki, bronkiolus, bronkiolus terminal, bronkiolus respiratorik, duktus
alveolar, dan alveoli. Tidak ada kartilago dalam bronkiolus; silia tetap ada sampai
bronkiolus respiratorik terkecil

 Paru 1-3

Bagian terakhir dari sistim pernapasan, yang merupakan organ repiratorik adalah paru-
paru. Paru-paru adalah sebuah organ berbentuk piramid seperti spons dan berisi udara,
terletak dalam rongga toraks. Paru-paru kanan memiliki tiga lobus sedangkan paru-paru kiri
memiliki dua lobus. Setiap paru memiliki sebuah apeks yang mencapai bagian atas iga
pertama, sebuah permukaan diafragmatik yang terletak diatas diafragma, sebuah permukaan
mediastinal yang terpisah dari paru lain oleh mediastinum, dan permukaan kostal yang
terletak diatas kerangka iga. Permukaan mediastinalnya sendiri memiliki hillus yang
merupakan tempat keluar masuknya pembuluh darah bronki, pulmonar, dan bronkial dari
paru.
Paru-paru diselimuti oleh selaput yang disebut pleura. Pleura terbagi menjadi pleura
parietal dan pleura viseral. Pleura parietal adalah bagian pleura yang melapisi rongga toraks
(kerangka iga, diafragma, dan mediastinum) sedangkan pleura viseral adalah bagian yang
melapisi paru dan bersambungan dengan pleura parietal dibagian bawah paru.

Bagian sistim pernapasan yang beruhubungan dengan pleura memiliki dua bangun
khusus yaitu rongga pleura dan resesus pleura. Rongga pleura adalah runag potensial antara
pleura parietal dengan pleura viseral yang mengandung lapisan tipis cairan pelumas. Cairan

6
ini disekresi oleh sel-sel pleural sehingga paru-paru dapat mengembang tanpa melakukan
friksi. Tekanan cairan agak negatif dibandingkan tekanan atmosfer. Bangun kedua adalah
resesus pleura. Resesus ini adalah area rongga pleura yang tidak berisi jaringan paru. Area ini
muncul saat pleura parieta bersilangan dari satu permukaan ke permukaan lain. Saat
bernapas, paru-paru bergerak keluar masuk area ini. Resesus pleura sendiri dibagi dua yaitu
resesus pleura kostomedial yang terletak di tepi anterior kedua sisi pleura, tempat pleura
parietal berbelok dari kerangka iga ke permukaan lateral mediastinum, dan resesua pleura
kostodiafragmatik, yang terletak di tepi posterior kedua sisi pleura diantara diafragma dan
permukaan kostal internal torak.

Struktur Mikroskopis organ respirasi.4

Hidung

Hidung terdiri atas kerangka tulang dan tulang rawan yang dibungkus jaringan ikat dan kulit.
Ia dibagi dalam rongga hidung (cavum nasale) kiri dan kanan oleh septum hidung ( septum
nasale). Rongga hidung terbuka di anterior pada nares dan diposterior ke dalam faring. Luas
permukaannya diperbesar oleh tiga tonjolan mirip gulngan dari dinding lateral, yang disebut
konka superior , mesia dan inferior. Kulit yang menutupi hidung dilapisi rambut sangat halus
dengan kelenjar sebasea besar-besar. Bagian dalam hidung dilapisi empat jenis epitel. Epitel
berlapis gepeng kulit berlanjut ke dalam nares kedalam vestibulum, dimana sejumlah rambut
kaku dan besar menonjol ke saluran udara. Mereka ini diduga membantu menahan partikel
debu yang besar dalam udara yang dihirup . Beberapa milimeter ke dalam vestibulum . Epitel
berlapis gepeng ini beralih menjadi kolumnar atau kuboid tanpa silia. Mereka ini berlanjut
menjadi epitel bertingkat kolumna bersiliia yang menutupi sisa dari rongga hidung, kecua;i
daerah kecil di dinding dorsal yang dilapisi epitel olfaktorius sensoris.

Epitel olfaktoria

Reseptor bagi sensai mencium terdapat di dalam epitelolfaktoria, daerah khusus pada mukosa
hidung, yang terdapat di atap rongga hing dan meluas ke bawah sampai 8-10 mikro meter
pada kedua sisi septum.dan sedikit ke atas konka nasalis superior. Daerah khusus pada epitel
ini tidak rata dan mencakup sekitar 500 mm2.

7
Epitel olfaktorius adalah epitel bertingkat tinggi dengan tebal sekitar 60 mikro meter. Ia
terdiri atas tiga jenis sel yaitu sel sustentakular, sel basal dan sel olfaktorius. Sel olfaktorius
adlah neuron bipolar , tersebar merata di antara sel-sel sustentakular. Inti bulatnya menempati
zona lebih rendah dari yang berasal dari sel-sel penyokong. Terdapat kompleks Golgi
supranuklear kecil dan beberapa elemen tubuvestibular dan retikulum endoplasma licin.
Bagian apikal sel menyempit menjadi juluran silindris yang halus yang meluas ke atas ke
permukaan epitel tempatnya berakhir dengan melebar yang disebut bulbus olfaktorius. Merka
sedikit menonjol di atas permukaan sel-sel penyokong sekitarnya dan mengandung badan-
badan basal daro enam sampai delapan silia olfaktoria yang memancardari paralel terhadap
permukaan epitel.

Dari rongga hidung sampai pharynx sebagian epitelnya adalah berlapis gepeng. Jenis epitel
ini terdapat pada bagian-bagian langsung berhubungan dengan aliran udara atau abrasi fisik
(misalnya, oropharynx, epiglottis, pita suara) karena ia memerlukan lebih banyak
perlindungan keausan daripada epitel berlapis gepeng. Hal yang sama, pada perokok, bagian
sel-sel bersilia diubah menjadi sel goblet dalam rangka untuk membantu membersihkan
partikel-partikel dan gas-gas kotor yang bertambah.

Sinus paranasalis

Sinus-sinus nasal tambahan yang berhubungan dengan rongga hidung dan ruang-ruang dalam
tulang-tulang adlah sinus frontalis, ethmoidalis, sphenoidale yang dibatasi oleh epitel
respirasi bagian bawah yang mengandung sedikit sel goblet. Lamina propia hanya
mengandung sedikit kelenjar-kelenjar kecil dan kontinyu dengan periosteum yang
berdekatan. Mukus yang dihasilkan dalam rongga-rongga ini dialirkan ke dalam rongga
hidung sebagai akibat aktivitas sel-sel epitel bersilia.

Nasopharynx

Nasopharynx merupakan bagian pertama pharynx, kebawah dilanjurkan dengan bagian oral
organ ini, oropharynx. Pada bagian yang berhubungan dengan palatum molle, ia dibatasi oleh
epitel respirasi

Larynx

Larynx merupakan tabung ireguler yang menghubungkan pharynx ke trakea. Dalam lamina
propia terdapat sejumlah rawan larynx, struktur yang paling rumit pada jalan pernafasan.

8
Rawan-rawan yang lebih besar (tiroid, krikoid, dan sebagian besar aritenoid) adalah rawan
hialin dan pada orang tua sebgaian dapat mengalami klasifikasi. Rawan yang lebih kecil
(epiglottis, cuneiformis, kornikulatum, dan ujung aritenoid) adalah rawan elastin.
Ligamentum-ligamentum menghubungkan rawan-rawan tersebut satu sama lain, sebagian
besar bersambung dengan otot-otot instrinsik larynx,dimana mereka sendiri bersambunagn
dengan otot lurik. Selain berperan sebgai penyokong (mempertahankan agar tetap jalan
udara tetap terbuka) rawa-rawan ini berperan sebagai katup untuk mencegah makanan cairan
yang ditelan masuk trakea. Mereka juga berperanan dalam pembentukan irama fonasi.
Epiglotis yang menonjol dari pinggir larynx, meluas ke pharynx dan karena itu mempunyai
permukaan yang mengahadap ke lidah dan pharynx. Dibawah epiglottis, mukosa 2 pasang
lipatan yang meluas ke dalam lumen larynx.pasangan ini merupakan pita palsu (atau lipatan
vestibular), dan merka mempunyai epitel respirasi yang dibawahnya terletak sejumlah
kelenjar serumukosa salam laminanya propianya.

Trakea

Trakea merupakan tabung berdinding tipis yang terletak dari basis larynx ( rawan krikoid) ke
tempat dimana trakea bercabang menjadi 2 bronkus primer. Trakea dibatasi oleh mukosa
respirasi. Dalam lamina propia terdapat 16-20 rawan hialin berbentuk seperti huruf C yang
berperanan mempertahankan lumen trakea agar tetap terbuka. Ligamentum fibroelastin
danberkaas-berkaas otot polos (m.trochealis) melekat pada perikondrium dan
menghubungkan ujung-ujung babas tulan rawan yang berbentuk huruf C tersebyt.
Ligamentum mencegah regangan lumen yang berlebihan, sementara itu otot
memungkinkannya rawan saling berdekatan. Kontraksi otot disertai dengan penyempitan
lumen trakea dan digunakan untuk respon batuk. Setelah berkontraksi, akibat penyempitan
lumen trakea akan menambah kecepatan udara ekspirasi, yang membantu membersihkan
jalan udara.

Bronkus

Lobulus paru-paru berbentuk piramid,dengan aspek mengarah ke permukaan paru-paru. Tiap-


tiap lobulus dibatasi oleh septum jaringan penyambung tipis yang paling baik terihat pada
fetus. Pada orang dewasa, septa ini seringkali tidak lengkap, mengakibatkan lobulus-lobulus
dibatasi tidak nyata. Pada lobulus dibatasi tidak nyata. Pada lobulus yang paling dekat dengan
pleura (pembatas luar paru-paru), lobulus seringkali batasnya tegas karena akibat
penimbunan partikel karbon dan mengendap pada jarinagn penyambung septa interloburalis.

9
Bronkiolus

Ini adalah segmen intraloburalis dengan garis tengah 1 mm atau kuarang. Bronkiolus tidak
mempunyai rawan atau kelenjar pada mukosanya dan hanya menunjukkan sel-sel goblet yang
tersebar dalam epitel segmen permulaan. Pada bronkiolusyang lebih besar , epitelnya
bertingkat toraks tinggi bersilia dan kekomplekkannya berkurang dan menjadi epitel kubis
bersilia pada bronkiolus terminalis.selain sel-sel barsilia , bronkus terminalis juga mempunyai
sel-sel cl;ara yang permukaan apikalnya berbentuk kubah yang menonjol ke dalam lumen.
Pemeriksaan pada sel-sel Clara manusia berkesimpulan bahwa meraka adalah sel-sel
sekretoris akan tetapi hingga sekarang fungsinya tidak diketahui.

Sebagian besar lamina propia adalah oto polos dan serabut-serabut elastin. Otot bronkus dan
bronkiolus dibawah pengawasan nervus vagus dan sistem simpatis. Perangsangan nervus
vagus mengurangi garis tengah susunan tersebut, sedangkan perangsangan simpatis
menimbulkan efek yang berlawanan.

Bronkiolus respiratorius

Tiap-tiap bronkiolus terminalis bercabang menjadi 2 bronkiolus atau lebih yang berperanan
sebagai daerah peralihan antara bagian konduksi dan respirasi sistem respirasi. Mukosa
bronkiolus respiratorius terminalis kecuali bahwa dindingnya diselilingi oleh banyak sakus
alveolaris. Bagian-bagian bronkiolus respiratorius dibatasi oleh epitel kubis bersilia, tetapi
pada pinggir lubang-lubang alveolaris, epitel bronkiolus dilanjutkan dengan epitel pembatas
alveolus, selapis gepeng. Makin ke distal bronkiolus , jumlah alveoli bertambah dgn nyata,
dan jarak antara alveoli jelas makin dekat. Antara alveoli, epitel bronkiolus terdiri atas epitel
kubis bersilia: akan tetapi, pada bagian yg lebih distal, silia mungkin tdk ada. Sepanjang
dinding yg sangat banyak mengandung alveoli, sifat bronkiolus hanya trdpt antara alveoli dan
terdiri atas sekelompok kubis-kubis yg terletak siatas pita otot poloss dan jaringan
penyambung elastin. Karna alveoli merupakan tempat pertukaran gas digunakan utk
menggambarkan fungsi ganda segmen jalan pernapasan ini.

Duktus Alveolaris

Duktus alveolaris dan alveoli dibatasi oleh sel-sel epitel selapis gepeng yg sangat tipis. Dalam
lamina propria sekitar pinggir alveoli merupakan suatu jala-jala sel-sel otot polos yg saling
menjalin. Berkas-berkas halus yg menyerupai sinkter ini tampak sbg tombol-tombol antara

10
alveoli yg berdekatan. Hanya matriks yg kaya akan serabut elastin dan kolagen yg
menyokong duktus dan alveolinya.

Duktus alveolaris bermuara ke dalam atria, ruang yg menghubungkan sakus multilokularis


alveoli, dua sakus alvelolaris atau lbh terbentyuk dari tia-tiap atrium. Serabut elastin dan
kolagen yg banyak sekali trdpt membentuk jaringan kompleks yg melingkari lubang2 atria,
sakus alveolaris, dan alveoli. Serabut2 elastin memungkinkan alveoli mengembang wkt
inspirasi dan secara pasif berkontraksi waktu ekspirasi. Kolagen berperanan sbg penyokong
yg mencegah peregangan berlebihan dan kerusakanbkapiler2 halus dan septa alveoli yg tipis.

Alveoli

Secara struktural, alveoli menyerupai kantong kecil yg terbuka pd salah satu sisinya, mirip
sarang tawon. Dalam struktur yg menyerupai mangkok ini, oksigen CO2 mengadakan
pertukaran antara udara dan darah.

Transport Gas O2 dan CO25

Selama mekanisme pernapasan berlangsung, jumlah oksigen yang diambil melalui udara
pernapasan tergantung pada kebutuhan tubuh. Kebutuhan oksigen dipengaruhi oleh jenis
pekerjaan, ukuran tubuh, serta jumlah maupun jenis bahan makanan yang dimakan.
Umumnya, manusia membutuhkan kurang lebih 300 cc oksigen dalam sehari (24 jam) atau
sekitar 0,5 cc tiap menit. Kebutuhan tersebut berbanding lurus dengan volume udara inspirasi
dan ekspirasi biasa kecuali dalam keadaan tertentu. Misalnya, konsentrasi oksigen udara
inspirasi berkurang atau karena konsentrasi hemoglobin darah berkurang. Proses pernapasan
dapat diuraikan sebagai berikut.5

A. Transport O2

Sekitar 97% oksigen dalain darah dibawa eritrosit yang telah berikatan dengan hemoglobin
(Hb), 3% oksigen sisanya larut dalam plasma.

1. Setiap molekul dalam keempat molekul besi dalam hemoglobin berikatan dengan satu
molekul oksigen untuk membentuk oksihemoglobin (Hb02) berwarna merah tua.
Ikatan ini tidak kuat dan reversibel. Hemoglobin tereduksi (111Th) berwarna merah
kebiruan.
2. Kapasitas oksigen adalah volume maksirnum oksigen yang dapat berikatan dengan
sejumlah hemoglobin dalam darah.

11
a. Setiap sel darah merah mengandung 280 juta molekul hemoglobin. Setiap gram
hemoglobin dapat mengikat 1,34 ml oksigen.
b. 100 ml darah rata-rata mengandung 15 gram hemoglobin untuk maksimum 20 ml
O2 per 100 ml darah (15 X 1,34). KonsentraSi hemoglobin ini biasanya
dinyatakan sebagai persentase volume dan merupakan jumlah yang sesuai dengan
kebutuhan tubuh.
3. Kejenuhan oksigen darah adalah rasio antara volume oksigen aktual yang terikat pada
hemoglobin dan kapasitas oksigen. Kejenuhan oksigen dibatasi oleh jumlah
hemoglobin atau PO2.
4. Kurva disosiasi oksigen-hemoglobin. Grafik memperlihatkan persentase kejenuhan
hemoglobin pada garis vertikal dan tekanan parsial oksigen pada garis horisontal.
a. Kurva berbentuk S (sigmoid) karena kapasitas pengisian oksigen pada
hemoglobin (afinitas pengikatan oksigen) bertambah jika kejenuhan bertambah.
Deinikian pula, jika pelepasan oksigennya (pelepasan oksigen terikat) meningkat,
kejenuhan oksigen darah pun meningkat. Hemoglobin dlkatakan 97% jenuh pada
PO2 100 mmHg, seperti yang terjadi pada udara alveolar.
b. Lereng kurva disosiasi ini menjadi tajam di antara tekanan 10 sampai 50 mmHg
dan mendatar di antara 70 sampai 100 mmHg. Dengan deinikian, pada tingkat PO2
yang tinggi, muatan yang besar hanya sedikit memengaruhi kejenuhan
hemoglobin.
c. Jika PO2 turun sampai di bawah 50 mmHg, seperti yang terjadi dalam jaringan
tubuh, perubahan PO2 ini walaupun sangat sedikit dapat mengakibatkan
perubahan yang besar pada kejenuhan hemoglobin dan volume oksigen yang
dilepas.
d. Dari arteri secara normal membawa 97% oksigen dan kapasitasnya untuk
melakukan hal tersebut. Oleh karena itu, pernapasan dalam atau menghirup
oksigen murni tidak dapat memberi ‘peningkatan yang berarti pada kejenuhan
hemoglobin dengan oksigen. Menghirup oksigen murni dapat meningkatkan
penghantaran oksigen ke dalam jaringan karena volume oksigen terlarut dalam
plasma darah meningkat.
e. Dalam darah vena, PO2 mencapai 40 mmHg dan hemoglobin masih 75% jenuh,
ini menunjukkan bahwa darah hanya melepas sekitar seperempat muatan
oksigennya saat melewati jaringan. Hal ml memberikan rentang keamanan yang

12
tinggi jika sewaktu-waktu pernapasan terganggu atau kebutuhan oksigen jaringan
meningkat.
B. Transport CO2

Karbon dioksida yang berdifusi ke dalam darah dan jaringan dibawa ke paru-paru melalui
cara berikut ini:

1. Sejumlah kecil karbon dioksida (7% sampai 8%) tetap terlarut dalam plasma.
2. Karbon dioksida yang tersisa bergerak ke dalam sel darah merah, di mana 25%-nya
bergabung dalam bentuk reversibel yang tidak kuat dengan gugus amino di bagian
globin pada hemoglobin untuk membentuk karbaminohemoglobin.
3. Sebagian besar karbon dioksida dibawa dalam bentuk bikarbonat, terutama dalam
plasma.
a. Karbon dioksida dalam sel darah merah benikatan dengan air untuk membentuk
asam karbonat dalam reaksi bolak-balik yang dikatalis oleh anhidrase karbonik.
b. Reaksi di atas berlaku dua arah, bergantung konsentrasi senyawa. Jika konsentrasi
CO2 tinggi, seperti dalam jaringan, reaksi berlangsung ke kanan sehingga lebih
banyak terbentuk ion hidrogen dan bikarbonat. Dalam paru yang konsentrasi C02-
nya lebih rendah, reaksi berlangsung ke kiri dan melepaskan karbon dioksida.

Pengaruh perubahan tekanan atmosfer

Pada suatu ketinggian diatas permukaan air laut maka tekanan atmosfer akan menurun,
penurunan tekanan atmosfer ini diikuti dengan penurunan tekanan O2.6

Komposisi udara alveolus tidak sama dengan komposisi udara atmosfer karena dua alasan.
Pertama, segere setelah udara atmosfer masuk ke saluran napas, pajanan ke saluran napas
yang lembab menyebabkan udara tersebut jenuh dengan H2O. Seperti gas lainnya, uap air
menimbulkan tekanan parsial. Pada suhu tubuh, tekanan parsial H2O adalah 47 mmHg.
Humidifikasi udara yang dihirup ini pada hakekatnya “mengencerkan” tekanan parsial gas –
gas inspirasi sebesar 47 mmHg. Karena jumlah tekanan – tekanan parsial harus sama dengan
760 mmHg. Dalam udara lembab, PH2O = 47 mmHg, PN2 = 53 mmHg dan PO2 = 150
mmHg.7

Kedua PO2 alveolus juga lebih rendah daripada PO2 atmosfer karena udara segar yang
masuk bercampur dengan sejumlah besar udara lama yang tersisa dalam paru dan dalam

13
ruang rugi pada akhir ekspirasi sebelumnya. Pada akhir inspirasi, kurang dari 15% udara di
alveolus adalah udara segar. Akibatnya pelembapan dan logis jika kita berpikir bahwa PO2
akan meningkat selama inspirasi karena datangnya udara segarb dan menurun selama
ekspirasi. Namun fluktuasi yang terjadi kecil saja karena dua sebab. Pertama, hanya sebagian
kecil dari udara alveolus total yang dipertukarkan setiap kali bernapas. Volume udara inpirasi
kaya O2 yang relative lebih kecil cepat bercampur dengan volume udara alveolus yang tersisa
dengan jumlah yang jauh lebih banyak. Karena itu, O2 udara inspirasi hanya sedikit
meningkatkan kadar PO2 alveolus total. Bahkan peningkatan PO2 yang kecil ini berkurang
oleh sebab lain. Oksigen secara terus menerus berpindah melalui difusi pasif menuruni
gradien tekanan parsialnya dari alveolus ke dalam darah. O2 yang tiba di alveolus dalam
udara yang baru diinpirasikan hanya mengganti O2 yang berdifusi keluar alveolus masuk ke
kapiler paru. Karena itu, PO2 alveolus relative konstan pada setiap 100 mmHg sepanjang
siklus pernapasan. Karena PO2 darah paru seimbang dengan PO2 alveolus, maka PO2 darah
yang meninggalkan paru juga cukup konstan pada nilai yang sama ini. Karena itu, jumlah O2
dalam darah yang tersedia ke jaringan hanya bervariasi sedikit selama siklus pernapasan.8

Tekanan oksigen di atmosfer saat kita hirup 20,96% dan setelah dikeluarkan menjadi 15
%, oksigen ini berkurang 5 % karena dipakai oleh tubuh untuk proses metabolisme,
sedangkan Tekanan karbondioksida ditmosfer saat dihirup 0,045 san setelah dikeluarkan
menjdi 5%, karbondioksida bertabah sekitar 5% berasal dari hasil metabolisme dari dalam
tubuh(modul). Begitu pula dengn gas nitrogen diatmofer sebasar 79% setelah dikeluarkan
tetap sebesar 79%. Semakin tinggu suhu semakin mudah hemoglobin melepskan oksigen ke
jaringan, Pada saat kekurangan oksigen kadar 2,3 DPG akan meningkat agar hemoglibin
segera melepaskan oksigennya supaya jaringan dapat menerima oksigen. Molekul ini berasal
dari hasil metabolisme karbohidrat khususnya dieritrosit. 2,3 DPG ini mempunyai sifat yang
membuat afinitas hemoglobin menurun terhadap oksigen sehingga oksigen bisa dilepakan ke
jaringan. Selain itu hb F mempunyai afinitas yang besar teradap oksigen, tetapi hb F ini
hanya ada pada fetus,diplacenta tekanan oksigen itu rendah, sehingga banyak oksigen
dilepaskan keplasenta, tetapi keran hb f pada fetus mempunyai afinitas yang tinggi tehadap
oksigen sehingga fetus dengan sendirinya mudah menerima oksigen.

Reduced hb adalah hb yang tidak ada oksigennya yng disebut sebagai deoksi hb yang
berwarna merah gelap, namun hb yang terikat dengan iksigen atau oksihb warnanya lebih
terang, jika terjadi penurunan oksigenasi didalam darah( sesak nafas) makaoksigenasi

14
terhadap darah menurun sehingga deoksi bh atau hb yang tidak mengikat oksigen akan
meningkat.

Larutan bufer asam dan basa

Larutan bufer, larutan dapar, larutan penyangga atau larutan penahan adalah larutan yang
dapat mempertahankan harga pH jika kedalam larutan tersebut ditambahkan sejumlah kecil
asam, basa atau dilakukan pengenceran. Merupakan larutan yang terbentuk dari hasil
pencampuran asam lemah atau basa lemah dengan garamnya.Kapasitas buffer menyatakan
kemampuan maksimum sistem buffer untuk mempertahankan pH. Fungsi sistem buffer
merupakan bagian dari mekanisme homeostastis tubuh untuk menjaga pH. Sistem buffer
dalam darah pH normal darah adalah 7,35-7,45. Jika pH > 7,45 disebut alkalosis sedangkan
pH < 7,35 disebut asidosis. Buffer yang terdapat dalam darah:7

1. Buffer bikarbonat
Sistem bufer bikarbonat merupakan pasangan asam karbonat H2CO3 dan basa
konjungasinya bikarbonat MHCO3 atau HCO3-

Dalam sitem buffer ini apabila kemasukan sedikit : 7

a) Asam kuat (misalnya HCL), ion hidrogen atau ion H+ dari asam kuat yang
berpotensi menurunkan pH ditangkap oleh basa konjugat HCO3- membentuk
asam lemah H2CO3 sehingga pH kembali ke pH semula dan hanya sedikit
bergeser ke sisi asam
b) Basa kuat (misalnya NaOH), ion hidoksil atau ion OH- yang berasal dari basa
kuat dan berpotensi menaikkan pH ditangkap oleh asam karbonat (H2CO3)
membentuk basa lemah HCO3- dan air sehingga pH kembali ke smula dan hanya
sedikit bergeser ke sisi biasa
2. Sistem bufer fosfat
Sistem bufer fosfat tersusun atas pasangan dihidrogen fosfat MH2PO4 atau H2PO4-
dan basa konjungasinya monohidrogen fosfat M2HPO4 atau HPO4-

Pada sistem bufer fosfat ini jika kontak dengan sedikit:7

15
a) Asam kuat (misalnya HCl), ion H+ hasil ionisasi asam kuat, yang berpotensi
menurunkan harga ph, ditangkap oleh HPO-4 membentuk asam yang sangat
lemah H2PO4-, karena penangkapan ion H+ ini, perubahan atau penurunan
pH-nya relatif kecil
b) Basa kuat (misalnya NaOH), ion OH- hasil ionisasi NaOH, yang berpotensi
menaikkan pH, diikat oleh H2PO4- membentuk basa yang sangat lemah
HPO4- sehingga hanya terjadi sedikit perubahan pH
3. Sistem buffer protein
Protein (HPr) dan garam natriumnya yaitu natrium proteinat (NaPr) dapat membentuk
pasangan sistem bufer, yang dapat menahan kelebihan asam atau kelebihan
basa.Seperti halnya sistem buffer bikarbonat dan sistem bufer fosfat, apbila pada
sistem bufer ini dimasukkan:7

a) Asam kuat (misalnya HCl), ion H= hasil ionisasi asam kuat ditangkap oleh
garam natrium proteinat, sehingga menahan perubahan pH
b) Basa kuat (misalnya NaOH), ion OH- hasil ionisasi NaOH yang berpotensi
menaikkan pH diikat oleh HPr membentuk NaPR sehingga hanya terjadi
sedikit perubahan pH
4. Sistem buffer hemoglobin
Sistem bufer Hemoglobin dikenal dua macam yaitu (a) pasangan asam lemah
hemoglobin (HHb) dengan basa konjugasihomlobin (Hb-) dan (b) pasangan asam
oksihemoglobin (HhbO2) dengan basa konjugasi oksihemoglobin (HbO2-).

Bertambahnya asam atau bertambahnya ion H= dalam butir-butir darah merah


(eritrosit) yang dapat menurunkan pH akan ditangkap oleh basa konjugasi hemoglobin
(Hb-) dan basa konjugasi oksihemoglobin (HbO2), menurut reaksi-reaksi sebagai
berikut: 8

H+ + Hb-  HHb

H+ +Hbo2-  HHbo3

Dengan ditangkapnya H+ oelh system buffer hemoglobin ini, dibantu oleh system
buffer yang lain, pH eritrosit dapat dipertahankan pada kondisi normal.

16
5. Sistem buffer plasma darah
Lebih dari sembilan puluh persen karbondioksida yang masuk plasma darah berdifusi
menuju eritrosit, sedangkan sisanya mungkin (a) larut dalam plasma (b) bereaksi
dengan air dalam plasma atau (c) diikat oleh potein plasma.

Karbon dioksida dalam plasma yang bereaksi dengan air membentuk asam karbonat
dalam jumlah yang sedikit terurai menjadi ion hydrogen dan ion bikarbonat. Protein
plasma dapat juga mengikat karbondiosida sehingga terbenty\uk protein karbamat
yang segera melepaskan ion hidrogennya. Ion hydrogen yang diperoleh dari peruraian
asam karbonat atau peruraian protein karbamat, ditangkap buffer protein dan buffer
fosfat, dengan ditangkapnya ion hydrogen oleh kedua system buffer ini, pH plasma
darah praktis tetap.7

6. Sistem buffer dalam eritrosit


Dalam eritrosit, sebagian karbondioksida yang berasal dari plasma, cepat bereaksi
dengan air oleh pengaruh enzim karbonat anhidrase, membentuk asam karbonat.
Asam karbonat tersebut segera terionisasi menjadi ion hydrogen dan ion bikarbonat.
Sebagian dari karbon dioksida beraksi dengan protein hemoglobin membentuk
karbamino hemoglobin yang segara melepaskan ion hidrogennya. Oleh karena itu,
karbon dioksida yang masuk ke akan dalam eritrosit terjadi penambahan ion hydrogen
yang dapat menurunkan ph. Sitem buffer fosfat dan system buffer hemoglobin dapar
mengembalikan pH menjadi normal, bahwa dalam eritrosit, ion hydrogen dapat juga
diikat oleh HBO2- menghasilkan HHb dan oksigen. Selanjutnya, oksigen yang
terbentuk masuk ke jaringan.7

Kesimpulan

Semakin tinggi tempat, maka tekanan atmosfer juga akan semakin berkurang. Oksigen juga
akan berkurang. Jadi, dalam paru-paru O2 tidak cukup, sehingga Hb tidak bisa mengikat O2
untuk dibawa ke jaringan. Sehingga dapat juga menyebabkan wajah membiru.

17
Daftar Pustaka

1. Sherwood L. Fisiologi manusia : dari sel ke sistem. Edisi 6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 2011.h.497-545.
2. Gunardi S. Anatomi sistem pernapasan. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas
Indonesia; 2007.
3. Veldman J. Anatomi dan fisiologi untuk pemula. Jakarta:EGC;2004.h.266-9
4. Carneiro J, Junqueira L.C. Histologi dasar. Edisi ke-5. Jakarta: EGC; 2001.h.358-371
5. Marks DB, Marks DA, Suyono J, editor. Biokimia kedokteran dasar : sebuah
pendekatan klinis. Jakarta: EGC; 2000.
6. Gabriel JF. Fisika Kedokteran. Jakarta: EGC; 1996.
7. Sumardjo.D. Pengantar Kimia. Jakarta: EGC; 2009.h.527-531.
8. Ganong FW.Buku ajar Fisiologi Kedokteran. Jakarta: penerbit EGC;2006.

18